Home Blog Page 64

Apakah Gereja yang Otentik adalah “Gereja yang Tidak Kelihatan”?

2

Sejumlah orang ada yang berpandangan bahwa Gereja itu tidak perlu atau tidak usah kelihatan karena Tuhan Yesus menghendakinya demikian, yaitu Gereja sebagai jemaat yang diikat oleh iman saja, dan tak perlu secara kelihatan keanggotaannya dan praktek pelaksanaannya. Pertanyaannya, benarkah demikian? Berikut ini adalah beberapa hal yang menunjukkan bahwa tidak mungkin Tuhan Yesus menghendaki Gereja-Nya tidak kelihatan. Demikian beberapa dasarnya:

1. Gereja kelihatan, sebab Kristus yang adalah Kepalanya, juga kelihatan.

Pertama-tama, mari kita sadari bahwa Gereja itu tidak terpisahkan dari Kristus, sebab Kristus adalah Kepala, dan Gereja adalah Tubuh-Nya (lih. Ef 5:23). Maka jika Kristus itu sendiri adalah Allah yang mengambil rupa manusia untuk menjadi ‘kelihatan’ -dapat dilihat oleh manusia, maka konsekuensinya, Gereja yang adalah Tubuh-Nya juga harus kelihatan. Maka hal Gereja yang ‘kelihatan’, itu bukan untuk diartikan sebagai organisasi yang tidak ada kaitannya dengan ‘jiwa’-nya yang tak kelihatan, tetapi bahwa kedua hal itu, baik yang tak kelihatan maupun kelihatan, adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Sebab Kristus-pun demikian. Rasul Yohanes menuliskan tentang Kristus sebagai Firman Allah yang hidup dan kelihatan, di awal suratnya:

“Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup- itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami.” (1 Yoh 1:1-2)

Kristus adalah Terang dunia (Yoh 8:12), dan Ia mengajarkan bahwa terang pelita itu tidak untuk disembunyikan dan ditaruh di kolong/ bawah gantang, tetapi di atas kaki dian, untuk menerangi semua orang (Luk 11:33). Kita dipanggil juga untuk meneruskan terang Kristus, yang bersinar bagi semua orang, agar terlihat, bagaikan kota yang terletak di atas gunung, yang tidak tersembunyi (Mat 5:14).

2. Gereja Katolik mengacu kepada Gereja yang kelihatan, yang bersatu dengan uskupnya, dalam kesatuan dengan Gereja Roma.

Telah sejak abad awal, istilah Gereja Katolik, digunakan untuk membedakannya dengan klaim-klaim sejumlah orang yang menamakan dirinya sebagai jemaat/ gereja, namun yang tidak mengajarkan ajaran yang lengkap/ seluruhnya dari Kristus dan para Rasul. Tentang hal ini sudah pernah dijabarkan di artikel ini, silakan klik. Sejak saat itu, istilah Gereja Katolik mengacu kepada arti Gereja yang setia kepada keseluruhan ajaran para Rasul, sebagaimana diajarkan oleh para penerus Rasul Petrus yang juga disebut sebagai Paus atau Uskup Roma.

Dengan demikian kata ‘katolik’ bagi Gereja, tidak hanya mengacu sebagai kata sifat, yang artinya adalah umum/ universal yang boleh saja diperuntukkan bagi semua jemaat yang tak kelihatan. Sebab universal, itu juga berarti ‘merupakan kesatuan/ satu hal yang diterima oleh semua’. Nah kita ketahui, arti ini tidak berlaku pada semua denominasi gereja-gereja. Sebab nyatanya denominasi-denominasi tersebut tidak mempunyai ajaran yang sama, antara satu dengan yang lain. Sebab kalau sama, maka tidak ada alasan memisahkan diri dan membentuk suatu denominasi baru.

3. Otoritas dalam Gereja mensyaratkan Gereja harus kelihatan

Kitab Suci dan akal sehat menunjukkan bahwa Gereja membutuhkan otoritas, dan hal ini yang tidak ada jika pada ‘gereja yang tidak kelihatan’ itu. Sebab jika ada perbedaan pendapat atau perselisihan paham tentang suatu ajaran/ pemahaman Kitab Suci, kemanakah orang harus meminta arahan atau koreksi? Kalau dua orang atau lebih mempunyai pandangan yang bertentangan, darimana kita tahu mana yang benar, kalau tidak ada otoritas yang kelihatan yang bisa mengambil peran sebagai penengah ataupun penentu? Fakta bahwa Kristus menghendaki Gereja-Nya satu (lih. Yoh 17:20-23), kelihatan (lih. Mat 5:14) dan dipimpin oleh seseorang dengan otoritas (lih. Mat 16:18-19; Yoh 21:15-19), tidak mendukung paham bahwa ‘Gereja itu tidak kelihatan’.

Mari kita lihat secara khusus tentang doa Yesus bagi Gereja-Nya:

“Dan bukan untuk mereka [para rasul] ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yoh 17:20-21)

Di sini kita mengetahui bahwa Yesus menghendaki Gerejanya menjadi benar-benar satu, supaya dapat menjadi tanda bukti bagi dunia tentang kesatuan-Nya dengan Bapa. Nah, agar dunia dapat melihat kesatuan ini, maka Gereja harus dapat dilihat, dan bukan hanya bermakna spiritual murni. Bahwa Gereja mempunyai dimensi spiritual/ ilahi, itu benar, tetapi itu bukan satu-satunya dimensi dalam Gereja. Gereja harus kelihatan dan mempunyai otoritas, agar dunia dapat mengenalinya.

Selain itu, pada kenyataannya, Gereja yang kelihatan-lah yang menentukan kitab-kitab mana sajakah yang termasuk dalam Kitab Suci. Selain itu fakta bahwa di antara sesama umat beriman dapat terjadi adanya perbedaan interpretasi Kitab Suci, membuktikan bahwa Kitab Suci itu tidak dapat menjelaskan dirinya sendiri. Rasul Petrus-pun sudah memperingatkan tentang hal ini (2Pet 3:16). Maka memang harus ada sumber otoritas lain di luar Kitab Suci yang dapat menginterpretasikan Kitab Suci dengan benar. Otoritas itu adalah otoritas yang menulis dan yang menyusun Kitab Suci itu sendiri, dan ini adalah Gereja.

4. Kitab Suci menyatakan bahwa Gereja mempunyai otoritas

Sebelum naik ke Surga, Tuhan Yesus memberikan kuasa kepada para murid-Nya (Mat 28:18-20). Kuasa ini adalah: kuasa mengampuni dosa (Yoh 20:23), kuasa mempersembahkan kurban Tubuh dan Darah-Nya (1Kor 11:23-24), kuasa untuk berbicara dalam nama-Nya (Luk 10:16), kuasa untuk mengatur/menentukan hukum (Mat 18:18) dan menjatuhkan sanksi (Mat 18:17). Dari sudut pandang akal sehat, apakah point-nya mendirikan Gereja, kalau ia tidak diberi otoritas? Sebab kalau begitu, ia hanya merupakan kumpulan orang-orang percaya, tapi tidak ada siapapun yang bisa mengatur kalau ada dari mereka yang menyimpang. Dalam kondisi ini, siapapun dapat mengklaim tetap sebagai anggota Gereja, meskipun kenyataannya ia menyangkal semua hukum dan ajaran Gereja! Tentu bukan Gereja seperti ini yang dikehendaki oleh Kristus.

5. Empat tanda Gereja: satu, kudus, katolik, apostolik.

Demikianlah maka ada empat tanda Gereja yang otentik, yaitu Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik.

Keempat tanda Gereja ini adalah konsekuensi logis dari kehendak Yesus, agar Gereja-Nya mempunyai kuasa, kelihatan/ dapat terlihat, dan dibangun di atas dasar para Rasul (Ef 2:20) sebagai sarana yang umum untuk keselamatan, yang harus eksis di sepanjang zaman. Sebab jika tidak kelihatan, bagaimana orang dapat menemukan Gereja yang sejati, yang dapat diyakini sebagai Gereja yang sungguh-sungguh didirikan oleh Kristus sendiri di atas para Rasul tersebut?

Gereja yang kelihatan ini merupakan ‘perpanjangan tangan’ Kristus untuk menjangkau umat-Nya di sepanjang zaman sampai kedatangan-Nya kembali. Itulah sebabnya Gereja yang kelihatan itu, seperti halnya Kristus Kepalanya, yang juga kelihatan saat Ia hidup di dunia, menyampaikan rahmat Tuhan yang tidak kelihatan. Gereja menyampaikannya melalui sakramen-sakramen, yang menjadi tanda dan sarana keselamatan, untuk menyampaikan rahmat Allah kepada umat-Nya, untuk menuntun mereka sampai kepada hidup yang kekal.

Apakah Gereja Katolik Mengajarkan Adanya Iblis/ Setan?

12

Ya, karena Tuhan Yesuspun mengajarkan demikian (lih. Mat 4:1-11; 12:22-30; Mrk 1:34; Luk 10:18;22:31; Yoh 8:44). Maka Gereja Katolik selalu mengajarkan bahwa iblis itu ada, dan bukan hanya mitos.

Konsili Lateran yang ke-empat (1215), dalam dekritnya yang mengecam ajaran sesat Manichaeism yang mengajarkan dualisme, dan Catharist. Konsili tersebut mengajarkan bahwa “iblis dan roh-roh jahat lainnya diciptakan baik pada awalnya, hanya mereka menjadi jahat oleh karena tindakan mereka sendiri”. Ini adalah pernyataan Gereja untuk meluruskan ajaran sesat yang mengajarkan dualisme yang mengajarkan keberadaan dua Tuhan: yaitu Tuhan yang baik dan Tuhan yang jahat (iblis) sejak awal mula.

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan demikian:

KGK 391   Di balik keputusan nenek moyang kita untuk membangkang terdengar satu suara penggoda yang bertentangan dengan Allah (Bdk. Kej 3:1-5)., yang memasukkan mereka ke dalam maut karena iri hati (Bdk. Keb 2:24). Kitab Suci dan tradisi melihat dalam wujud ini seorang malaikat yang jatuh, yang dinamakan setan atau iblis (Bdk. Yoh 8:44; Why 12:9). Gereja mengajar bahwa ia pada mulanya adalah malaikat baik yang diciptakan Allah. “Setan dan roh-roh jahat lain menurut kodrat memang diciptakan baik oleh Allah, tetapi mereka menjadi jahat karena kesalahan sendiri” (Konsili Lateran IV, 1215: DS 800).

KGK 2851 … kejahatan bukanlah hanya satu pikiran, melainkan menunjukkan satu pribadi, setan, si jahat, malaikat yang berontak terhadap Allah. “Iblis” [diabolos] melawan keputusan ilahi dan karya keselamatan yang dikedakan di dalam Kristus.

Ajaran Gereja Katolik tentang keberadaan iblis/ setan sangat jelas terlihat dalam liturgi. Pada perayaan Baptisan, mereka yang dibaptis diminta untuk menyatakan penolakan terhadap setan, dan perbuatan-perbuatannya, dan janji-janjinya yang kosong. Gereja Katolik juga menyediakan ritus resmi pengusiran setan (eksorsisme), sehingga ini menunjukkan bahwa Gereja percaya bahwa setan itu ada.

St. Thomas Aquinas yang dianggap sebagai guru besar dalam sistematika Teologi Katolik dalam bukunya Summa Theology, juga menjabarkan tentang keberadaan iblis/ setan ini. Mereka disebut sebagai para malaikat yang jatuh dalam dosa, dan St. Thomas menjelaskan artinya (lih. Summa Theology Part I, q.63, a.1-9).

Tahun 1975, Kongregasi Suci untuk Penyembahan Ilahi mengeluarkan dokumen yang disebut Christian Faith and Demonology. Dokumen ini mengutip ajaran Paus Paulus VI tentang setan:

“Adalah suatu penyimpangan dari gambaran yang diberikan oleh Kitab Suci dan ajaran Gereja, [suatu paham] yang menolak untuk mengenali keberadaan setan; untuk menganggapnya sebagai…. sebuah konsep dan personifikasi imajiner (tak nyata) dari sebab-sebab yang tak diketahui dari kemalangan kita…. Para ahli Kitab Suci dan Teologi harus tidak menjadi tuli untuk mendengar peringatan ini.”

St. Paus Yohanes Paulus II, dalam General Audience tanggal 13 Agustus 1986, menjelaskan tentang asal usul setan, demikian:

“Ketika, oleh sebuah tindakan kehendak bebasnya, ia menolak kebenaran bahwa ia mengenal tentang Allah, setan menjadi “pembohong dan bapa segala kebohongan” (lih. Jn 8:44) melampaui ruang dan waktu. Karena alasan ini, ia hidup dalam penyangkalan radikal dan tak dapat dibalikkan lagi, terhadap Allah, dan berusaha untuk memaksakan pengaruh kepada ciptaan – kepada semua mahluk yang diciptakan menurut gambar Allah dan secara khusus manusia- kebohongan dirinya sendiri yang tragis tentang apa yang baik yaitu Tuhan.”

 

Apa Perbedaan antara Penitensi dan Indulgensi?

1

1. Definisi

Pertama-tama mari kita lihat definisi masing-masing dari Katekismus Gereja Katolik:

Penitensi

KGK 1459    Banyak dosa menyebabkan kerugian bagi sesama. Orang harus sedapat mungkin mengganti rugi (umpamanya mengembalikan barang yang dicuri, memperbaiki nama baik orang yang difitnah, memberi silih untuk penghinaan). Keadilan sendiri sudah menuntut ini. Tetapi di samping itu dosa melukai dan melemahkan pendosa sendiri, denukian pula hubungannya dengan Allah dan dengan sesama. Absolusi menghapuskan dosa, namun tidak mengatasi semua ketidak-adilan yang disebabkan oleh dosa (Bdk. Konsili Trente: DS 1712). Setelah pendosa mengangkat diri dari dosa, ia masih harus mendapat kesehatan rohani yang penuh. Ia harus “membuat silih”, untuk dosa-dosanya, harus memperbaiki kesalahan atas suatu cara yang cocok. Penyilihan ini juga dinamakan “penitensi”.

KGK 1460    Penitensi yang diberikan bapa Pengakuan, harus memperhatikan keadaan pribadi peniten dan melayani kepentingan rohaninya. Sejauh mungkin harus sesuai dengan berat dan kodrat dosa yang dilakukannya. Penitensi dapat terdiri dari doa, derma, karya amal, pelayanan terhadap sesama, pantang secara sukarela, berkorban, dan terutama dalam menerima dengan sabar salib yang harus kita pikul. Karya penitensi macam ini sangat membantu untuk menyerupai Kristus, yang telah menjalankannya sendiri untuk dosa-dosa kita satu kali untuk selama-lamanya (Bdk. Rm 3:25; 1 Yoh 2:1-2). Ia menjadikan kita ahli waris bersama Kristus yang telah bangkit “jika kita menderita bersama-sama dengan Dia” (Rm 8:17,Bdk. Konsili Trente: DS 1690).

Penyilihan ini, yang kita lakukan untuk dosa-dosa kita, bukanlah milik kita sepenuhnya, seakan-akan tidak melalui Yesus Kristus; karena kita, yang dari diri sendiri tidak mampu apa-apa, mampu melakukan segala-galanya (Bdk. Flp 4:13) dalam kerja sama dengan Dia yang menguatkan kita. Dengan demikian manusia tidak mempunyai apa-apa yang dapat ia banggakan; tetapi seluruh kebanggaan kita ada dalam Kristus… di dalam Siapa kita melakukan penyilihan, kalau kita menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan (Luk 3:8; Mat 3:8), yang mendapat kekuatannya dari Dia, dipersembahkan kepada Bapa oleh Dia, dan diterima oleh Bapa melalui Dia” (Konsili Trente: DS 1691).

Indulgensi

KGK 1471    Ajaran mengenai indulgensi [penghapusan siksa dosa] dan penggunaannya di dalam Gereja terkait erat sekali dengan daya guna Sakramen Pengakuan.

Apakah Itu Indulgensi ?
Indulgensi adalah penghapusan siksa-siksa temporal di depan Allah untuk dosa-dosa yang sudah diampuni. Warga beriman Kristen yang benar-benar siap menerimanya, di bawah persyaratan yang ditetapkan dengan jelas, memperolehnya dengan bantuan Gereja, yang sebagai pelayan penebusan membagi-bagikan dan memperuntukkan kekayaan pemulihan Kristus dan para kudus secara otoritatif”.”Ada indulgensi sebagian atau seluruhnya, bergantung dari apakah ia membebaskan dari siksa dosa temporal itu untuk sebagian atau seluruhnya.” Indulgensi dapat diperuntukkan bagi orang hidup dan orang mati (Paulus VI, Konst. Ap. “Indulgentiarum doctrina” normae 1-3).

Perbedaan antara penitensi dan indulgensi

Jadi dengan kata lain, penitensi adalah suatu tindakan yang didasari oleh iman, yang dilakukan sebagai silih bagi dosa, untuk memperbaiki hubungan antara kita (sang peniten) dengan Tuhan. Setelah kita menerima absolusi dari sakramen Pengakuan dosa dan melakukan penitensinya, maka dosa-dosa kita dihapuskan, kesehatan rohani kita dipulihkan, dan kita dibebaskan dari siksa dosa kekal -yaitu neraka atau keterpisahan dari Tuhan. Namun demikian, dapat terjadi penitensi tersebut belum seluruhnya menghapus siksa dosa sementara/ temporal, sebagai akibat dari dosa kita. Sebab walaupun sudah diberikan sesuai dengan berat atau tidaknya dosa, seringkali penitensi ini tidak/ belum seluruhnya mengubah kita untuk menjadi seperti Kristus. Jika kita meninggal dunia dalam keadaan seperti ini, maka akan masih ada siksa dosa temporal ataupun konsekuensi dosa yang harus kita tanggung untuk sementara, dalam proses pemurnian setelah kematian, sebelum kita dapat bersatu dengan Allah yang kudus sempurna dalam Kerajaan Surga. Nah, karena itulah kita memerlukan indulgensi, sebab indulgensi adalah penghapusan siksa-siksa dosa temporal, baik seluruhnya atau sebagian, untuk dosa-dosa yang sudah diampuni dalam sakramen Pengakuan dosa. Dengan kata lain, indulgensi dapat menghapuskan seluruhnya atau sebagian dari siksa dosa yang masih harus kita tanggung setelah kematian dalam proses pemurnian (yang dikenal sebagai Api Penyucian). Nah, karena ditujukan untuk penghapusan/ pengurangan siksa dosa di Api Penyucian inilah, maka indulgensi juga dapat diperoleh selain untuk jiwa kita sendiri, juga untuk jiwa-jiwa orang lain yang telah meninggal yang kita doakan. Karena bukan hanya kita sendiri saja yang memerlukan penghapusan ini, namun juga terutama jiwa-jiwa yang lain yang telah mendahului kita, yang sedang menjalani proses pemurnian setelah kematian, sebelum mereka dapat bersatu dengan Tuhan di Surga.

Selanjutnya tentang Indulgensi dan Api Penyucian, silakan membaca artikel berikut ini:

Indulgensi, Harta Kekayaan Gereja
Bagaimana Agar Memperoleh Indulgensi?
Bersyukurlah ada Api Penyucian

 

Kasih itu Membuahkan Sukacita!

4
Sumber gambar: http://pewartaekbis.com/wp-content/uploads/2014/10/jkw2.png

[Hari Minggu Biasa XXX: Kel 22:21-27; Mzm 18:2-4,47,51; 1Tes 1:5-10; Mat 22:34-40] 

Masih lekat di hati dan pikiran kita, rasa syukur dan suka cita atas terpilihnya dan dilantiknya Presiden dan Wakil Presiden kita yang baru. Ribuan atau bahkan mungkin jutaan rakyat bergegap gempita menghadiri konser syukuran rakyat yang diadakan di lapangan Monas tanggal 20 Oktober yang lalu. Atau kalau tidak hadir, rakyat menyimak acara tersebut melalui televisi. Namun di tengah acara yang riuh rendah itu, ada satu peristiwa singkat yang cukup mengharukan bagi saya. Yaitu ketika Presiden Jokowi memberikan potongan tumpeng yang pertama, kepada seorang supir taksi wanita. Ia memilih melakukan profesi tersebut yang menuntut kerja keras dan pengorbanan, untuk menghidupi kedua anaknya yang masih kecil. Ibu itu rela melakukan pekerjaan yang umumnya dilakukan oleh para pria, dan tidak takut menanggung resiko keamanan bagi dirinya sendiri, demi kasihnya kepada anak-anak yang dipercayakan oleh Tuhan kepadanya. Betapa dengan caranya sendiri, ibu tersebut memberikan kesaksian akan kasih sejati sebagaimana ditulis dalam Injil hari ini. Dan teladan kasih sang ibu, menjadi berkat yang membawa suka cita bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebab melalui kesaksian hidupnya, kita semua diingatkan dan dikuatkan untuk terus bersemangat melakukan kerja keras kita masing-masing di dalam hidup ini. Sebab jika dilakukan dengan motivasi kasih, maka kerja keras kita akan membuahkan kebahagiaan dan suka cita. Bukankah hati kita semua terhenyak kagum melihat semangat kasih yang ditunjukkan oleh sang ibu tersebut, dan turut bersuka cita, ketika ia menerima penghargaan dari sang Presiden?

Sungguh, pengorbanan atas dasar kasih, selalu menjadi inspirasi bagi kita, sebab kepada hal itulah kita semua dipanggil. Kita diciptakan untuk mengasihi, bahkan mengasihi sehabis-habisnya, seperti yang telah dilakukan Allah kepada kita, melalui Yesus Kristus Putera-Nya. Sebab dengan demikian, kita manusia menemukan arti hidup kita yang sesungguhnya, dan hati kita akan bergembira karenanya. Bukankah demikian yang dikatakan dalam antifon pembuka hari ini, “Bergembiralah kamu semua yang mencari Tuhan!” Sungguh berbahagialah kita, jika kita mencari Tuhan dan mengasihi Dia. Sebab Tuhan yang adalah sumber kekuatan kita, akan menjadikan hidup kita aman dalam lindungan-Nya (lih. Mzm 18:2-3). Ia akan membantu dan menopang kita untuk melaksanakan hukum yang terbesar: yaitu hukum kasih. Sebab Kristus yang memberikan perintah agar kita mengasihi Allah dan mengasihi sesama (Mat 22:37-39), telah terlebih dahulu menggenapinya dengan sempurna dengan menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib bagi kita, sesuai dengan kehendak Allah Bapa. Kristus memberikan contoh kepada kita untuk tidak menyerah dalam mengasihi, bahkan dalam keadaan penindasan ataupun kesulitan yang terberat sekalipun, sebab kasih itu akan membuahkan ‘sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus’ (lih. 1Tes 1:6). Dalam sukacita itulah kita menantikan saatnya kedatangan Kristus kembali, yaitu di saat Penghakiman Terakhir, di mana segala hal akan dinyatakan: yang baik akan menerima penghargaan, dan yang jahat akan menerima penghukuman. Betapapun ada rasa gentar untuk membayangkan adanya Penghakiman yang sedemikian ini, kita dihibur oleh firman Tuhan pada hari ini. Yaitu bahwa Ia akan menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya (Mzm 18:51). Kepada kita semua yang telah dibaptis dan menerima urapan Krisma, Allah menujukan janji-Nya ini. Maka, asalkan kita juga turut berjuang di dalam hidup ini, untuk mengasihi-Nya dan mengasihi sesama kita sebagai bukti dari iman kita, maka Allah juga akan berbelas kasih kepada kita dan menyelamatkan kita. Bukankah ini adalah kabar suka cita?

Maka mari kita periksa batin kita: sudahkah kita memiliki suka cita ini di dalam hati kita? Apakah sebaliknya, malah hati kita murung? St. Thomas Aquinas mengajarkan kepada kita bahwa kemurungan di dalam hati itu datang dari rasa cinta diri yang berlebihan (ST II-II, q.28, a.4). Cinta diri yang berlebihan ini menyebabkan orang selalu merasa kurang nyaman, kurang dapat bersyukur, enggan melakukan yang sukar dan malas berkorban untuk menyatakan kasih kepada orang lain. Kemurungan ini dapat diumpamakan sebagai akar pohon yang sakit, sehingga buah yang dihasilkan menjadi pahit. Jiwa yang berpusat pada dirinya sendiri, dan yang gagal untuk memandang kepada Kristus, beresiko akan kehilangan kasih sejati, dan karenanya dapat dirundung rasa murung dan sedih. Sungguh, jika ini yang kita alami, kita perlu memohon rahmat kasih Tuhan. Sebab yang kita butuhkan agar kita berbahagia dan bersuka cita, bukanlah semata hidup yang mudah dan enak, namun hati yang dipenuhi kasih. Sebab jika kita memiliki kasih, hati kita akan terus dipenuhi oleh suka cita, walaupun kita menghadapi banyak tantangan dan kesulitan hidup. Sebaliknya jika tidak ada kasih, walaupun kita hidup enak sekalipun, tetap saja hati kita murung. Mari, kita memohon rahmat Tuhan, agar hati kita dipenuhi oleh kasih yang dari Tuhan, sehingga hati kita senantiasa dipenuhi oleh sukacita!

Pandangan Para Paus tentang Ilmu Pengetahuan (Sains)

4

Meskipun sejumlah orang berpandangan bahwa Gereja adalah anti sains, namun faktanya tidak demikian. Sejarah mencatat betapa banyak ahli sains Katolik yang menyumbangkan penelitian mereka yang memberikan dasar bagi ilmu pengetahuan sampai sekarang. Sebut saja, tokoh-tokoh sains seperti Rene Descartes (dalam geometrik analit), Blaise Pascal (penemu mesin hidrolik, teori probabilitas dalam matematika), Gregor Mendel seorang imam Agustinian (penemu teori modern genetika), Louis Pasteur (penemu mikrobiologi, vaksin untuk rabies dan anthrax), Copernicus yang mempelopori penelitian tentang kemungkinan bumi mengelilingi matahari dst, termasuk banyaknya para imam Jesuit yang secara khusus terlibat dalam pencapaian pengembangan ilmu sains dalam berbagai bidang. Kebanyakan orang yang berpandangan bahwa Gereja Katolik anti-sains, adalah karena mereka hanya berfokus pada kasus Galileo. Namun sejujurnya, dalam kasus inipun, sesungguhnya Gereja Katolik tidak anti sains, dan karena itu meminta Galileo untuk membuktikan argumennya dengan standar sains pada saat itu. Selanjutnya tentang hal Galileo, dapat dibaca di artikel ini, silakan klik.

Nah, maka Gereja Katolik tidak anti ilmu pengetahuan/ sains. Beberapa kutipan pengajaran para Paus tentang ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut:

Paus Leo XIII (1810-1903)

“Gereja dan para pastornya tidak menentang ilmu pengetahuan yang sejati dan solid, entah itu ilmu pengetahuan manusiawi ataupun ilahi, tetapi bahwa mereka merangkulnya, mendorongnya dan memajukannya dengan dedikasi sepenuh mungkin.”  (Ut Mysticam, March 14, 1891, dalam pendirian kembali Vatican Observatory).

Paus Pius XII (1939-1958)

“… Ilmu pengetahuan sejati menemukan Allah dalam derajat yang terus bertambah- seperti seakan-akan Allah sedang menanti di belakang setiap pintu yang dibukakan oleh ilmu pengetahuan” (Address to the Pontifical Academy of Sciences, November 22, 1951, 2)

“…. Filosofi dan ilmu pengetahuan berkembang dengan analogi dan metoda yang kompatibel, dengan mengambil keuntungan dari elemen-elemen empiris dan masuk akal dengan tolok ukur yang berbeda dan bekerjasama bersama dalam kesatuan yang selaras menuju penyingkapan kebenaran…  Ilmu pengetahuan, yang menemukan Sang Pencipta dalam jalannya, filosofi, dan lebih lagi, wahyu, dalam kerjasama yang selaras, sebab semua dari ketiganya adalah alat-alat kebenaran, seperti berkas-berkas sinar dari matahari yang sama, mengkontemplasikan hakekat, menyatakan garis-garis besarnya, menggambarkan detail dari Sang Pencipta yang sama.” (Audience granted to the Plenary Session of the Academy and to the Study Week on “The Question of Microseisms”)

St. Paus Yohanes Paulus II (1920-2005)

St. Paus Yohanes Paulus II mengajarkan adanya hubungan yang tak terpisahkan antara iman dan akal budi, antara Theologi dan filosofi.

“Iman dan akal budi adalah seperti dua sayap yang atasnya roh manusia naik menuju kontemplasi kebenaran; dan Allah telah menempatkan di dalam hati manusia keinginan untuk mengenali kebenaran – dengan kata lain, mengenali dirinya sendiri- sehingga dengan mengenali dan mengasihi Allah, baik para pria dan wanita juga dapat mendekati kepenuhan kebenaran tentang diri mereka sendiri (lih. Kel 33:18; Mzm 27:8-9; 63:2-3; Yoh 14:8; 1Yoh 3:2- Fides et Ratio, 1)

“Ilmu pengetahuan dapat memurnikan agama dari kesalahan dan tahyul; agama dapat memurnikan ilmu pengetahuan dari pemberhalaan dan kemutlakan yang salah. Masing-masing dapat memperoleh dari yang lain, dunia yang lebih luas, dunia di mana keduanya dapat mencapai puncaknya.” (Surat kepada Rev. George V. Coyne., SJ, Direktur dari the Vatican Observatory)

Namun demikian, St. Paus Yohanes Paulus II juga memperingatkan kita akan ancaman scientism:

“… [Scientism] adalah pandangan filosofis yang menolak untuk menerima validitas dari bentuk-bentuk ilmu pengetahuan yang lain daripada ilmu pengetahuan positif (positive science); dan [pandangan ini] membuang pengetahuan religius, theologis, etis dan estetis ke ranah fantasi semata. Di masa lalu, ide serupa muncul di positivism dan neo-positivism, yang menganggap pernyataan-pernyataan metafisik sebagai sesuatu yang tidak berarti. Penilaian epistemologi -cabang ilmu filosofi yang meneliti asal usul, kodrat, cara dan batasan-batasan ilmu pengetahuan manusia- yang kritis telah menampik klaim tersebut, tetapi sekarang kita lihat hal ini hidup kembali dalam nama samaran scientism, yang membuang nilai-nilai [kebajikan] sebagai produk emosi dan menolak pengertian ‘being‘/ keberadaan, agar melapangkan jalan menuju faktualitas -keadaan faktual- yang murni dan sederhana. Karena itu, ilmu pengetahuan diposisikan untuk mendominasi semua aspek kehidupan manusia melalui kemajuan teknologi…

Sayangnya,… scientism menyerahkan segala yang berkenaan dengan pertanyaan tentang arti kehidupan ke ranah hal imajiner dan tidak rasional. Tidak kalah mengecewakan adalah caranya yang olehnya pandangan ini mendekati masalah filosofi, yang jika tidak diabaikan, ditundukkan pada analisa yang didasari oleh analogi-analogi yang superfisial, yang kekurangan semua dasar akal budi. Ini mengarahkan kepada pemiskinan pemikiran manusia, yang tidak lagi membahas pertanyaan-pertanyaan tertinggi yang manusia…, telah selalu merenungkannya secara terus menerus sejak mulai adanya waktu. Dan karena ilmu pengetahuan tidak meninggalkan ruang bagi kritik yang diberikan oleh penilaian etis, mentalitas sains telah berhasil mengarahkan banyak orang untuk berpikir bahwa jika sesuatu itu secara teknis mungkin terjadi, maka sesuatu itu dapat diterima secara moral.” (Fides et Ratio, 88)

Paus Benediktus XVI (2005-2013)

Paus Benediktus XVI lebih lanjut juga menjelaskan tentang pandangan Gereja Katolik tentang sains:

“[Tradisi Katolik] telah selalu menolak prinsip ‘fideism‘, yaitu keinginan untuk percaya tanpa akal budi …. Memang, meskipun merupakan sebuah misteri, Tuhan tidak ngawur/ (absurd) … Kalau, dalam mengkontemplasikan misteri, akal budi melihat hanya kegelapan, ini bukan berarti bahwa misteri tidak mengandung terang, tetapi karena [misteri itu] mengandung terlalu banyak terang. Seperti ketika kita menatang mata kita langsung ke matahari, kita hanya dapat melihat bayangan -siapa yang dapat berkata bahwa matahari tidak terang? Iman memperbolehkan kita memandang ‘sang matahari’ itu, yaitu Tuhan, sebab iman menyambut wahyu-Nya dalam sejarah…. Tuhan telah mencari manusia dan membuat Diri-Nya dapat dikenal, dengan membawa Diri-Nya ke dalam keterbatasan akal budi manusia…

“Hubungan yang benar antara ilmu pengetahuan dan iman juga adalah berdasarkan interaksi yang berdayaguna antara pemahaman dan kepercayaan. Penelitian ilmiah mengarahkan kepada pengetahuan akan kebenaran-kebenaran baru tentang manusia dan kosmos. Kebaikan sejati manusia, yang dapat dicapai melalui iman, menunjukkan arah yang harus diikuti oleh jalan penyingkapannya. Oleh karena itu, adalah penting untuk mendorong, misalnya, penelitian yang melayani kehidupan dan yang berusaha memerangi penyakit. Penyelidikan rahasia-rahasia planet kita dan alam semesta juga penting untuk alasan ini, dalam pengetahuan bahwa manusia ditempatkan di puncak penciptaan, bukan untuk mengeksploitasinya tanpa perasaan, tetapi untuk melindungi dan menjadikannya dapat dihuni.

“Dengan cara ini, iman tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan tetapi bekerjasama dengannya, dengan menawarkan kriteria fundamental untuk memastikan bahwa ilmu memajukan kebaikan universal, dan hanya meminta bahwa ilmu pengetahuan berhenti dari inisiatif-inisiatif itu yang, bertentangan dengan rencana awal Tuhan, dapat menghasilkan akibat-akibat yang menentang manusia itu sendiri. Alasan lainnya yang masuk akal untuk dipercaya adalah ini: jika ilmu pengetahuan adalah rekan pendukung yang bernilai bagi iman dalam pemahaman kita akan rencana Tuhan bagi alam semesta, iman juga mengarahkan kemajuan ilmu pengetahuan menuju kebaikan dan kebenaran tentang manusia, yang setia kepada rencana awal itu….” (General Audience, Nov 21, 2012)

Apakah Onesiforus Sudah Wafat Menurut 2Tim 1:16-18?

6

Walaupun tidak dikatakan secara eksplisit dalam ayat-ayat tersebut, namun dapat disimpulkan bahwa Rasul Paulus berdoa untuk Onesiforus yang sudah wafat (2 Tim 1:16-18, 2 Tim 4:19).

Berikut ini adalah keterangan yang saya sarikan tulisan Dave Amstrong di link ini, silakan klik:

Hal ini [Onesiforus sudah wafat] bukan hanya menurut ajaran Gereja Katolik. Sebab beberapa ahli Kitab Suci Protestan juga memperkirakan bahwa kemungkinan Onesiforus ini sudah meninggal pada saat surat kepada Timotius itu ditulis. Hal ini dapat dibaca di ISBE, New Bible Commentary. Para ahli Kitab Suci dari Kristen non-Katolik juga mengatakan demikian, seperti A.T. Robertson dari Kristen Baptis, Begel dari Lutheran dan Alford dari Anglikan. Memang dari teksnya saja  (2 Tim 1:16-18) tidak dapat diketahui dengan pasti apakah Onesiforus itu pasti sudah mati pada saat surat itu dituliskan. Namun sebaliknya, ayat itu juga tidak menunjukkan dengan pasti bahwa Onesiforus masih hidup. Kendati demikian, di antara dua kemungkinan ini lebih masuk akal jika Onesiforus sudah wafat pada saat surat kepada Timotius ditulis.

Marcus Dods (1834-1909, dari Free Church, Scotlandia) memberikan alasan mengapa perkataan dalam surat ini ditujukan kepada Onesiforus yang sudah meninggal dunia:

“Pastilah bahwa kemungkinan yang seimbang berpihak kepada pandangan bahwa Onesiforus sudah wafat ketika Paulus menuliskan kata- kata ini. Bukannya hanya fakta bahwa di sini ia [Paulus] mengatakan “keluarga Onesiforus” dalam hubungannya dengan saat ini, dan tentang Onesiforus sendiri hanya dalam hubungannya dengan saat lampau. Ada juga fakta yang lebih jelas bahwa pada salam terakhir, ketika salam- salam ditujukan kepada Prisca dan Aquila, dan dari Ebulus, Pudens, Linus dan Klaudia, namun sekali lagi hanya ‘keluarga Onesiforus’, dan bukannya Onesiforus sendiri yang diberi salam. Gaya bahasa ini hanya dapat sepenuhnya dimengerti jika Onesiforus tidak lagi hidup di dunia ini, tetapi masih memiliki istri dan anak- anak yang masih hidup di Efesus. Tetapi adalah tidak mudah untuk menjelaskan referensi ini kepada keluarga Onesiforus, jika ia [Onesiforus] sendiri masih hidup…..

“Juga terdapat karakter tertentu dari doa Sang Rasul. Mengapa ia membatasi harapannya agar Tuhan menunjukkan kemurahan-Nya pada Hari-Nya (Hari Tuhan adalah istilah yang dipakai untuk menjelaskan Hari Penghakiman/ akhir dunia- Yes 13:6; Yl 1:15, 2:1,11; Ams 5:20; Ob1:15; Zef 1:7,14; Luk 21:34; Kis 2:20; 1 Kor 1:8; 3:13, 5:5; 2 Kor 1:14; 1 Tes 5:2; 2 Tes 2:2; 2 Tim1:12; Ibr 10:25; 2 Pet 3:10). Mengapa ia [Paulus] tidak juga berdoa agar rahmat Tuhan dicurahkan kepadanya [Onesiforus] di dalam kehidupan ini? Perkataan Rasul Paulus ini akan terdengar janggal jika Onesiforus masih hidup, namun menjadi lebih masuk akal jika Onesiforus sudah wafat.

Tentang hal yang kedua, nampaknya tidak ada alasan untuk meragukannya bahwa perkataan Rasul Paulus itu merupakan sebuah doa…. bahwa Sang Hakim pada Hari Penghakiman Terakhir akan mengingat semua perbuatan baik yang dilakukan Onesiforus, yang tidak dapat dibalas oleh Rasul Paulus, dan menempatkannya [semua kebaikan itu] sebagai miliknya. Paulus tidak dapat membalasnya, tetapi berdoa agar Tuhan melakukannya dengan menunjukkan rahmat belas kasihan kepadanya [Onesiforus] pada Hari Terakhir itu.” (Marcus Dods, Robert Alexander Watson, Frederic William Farrar, An Exposition on the Bible: a series of expositions covering all the books of the Old and New Testament, Volume 6 [Hartford, Conn.: S.S. Scranton Co., 1903, p. 464)

Mari kita baca keseluruhan ayat yang tersebut:

“Tuhan kiranya mengaruniakan rahmat-Nya kepada keluarga Onesiforus yang telah berulang-ulang menyegarkan hatiku. Ia tidak malu menjumpai aku di dalam penjara. Ketika di Roma, ia berusaha mencari aku dan sudah juga menemui aku. Kiranya Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepadanya pada hari-Nya. Betapa banyaknya pelayanan yang ia lakukan di Efesus engkau lebih mengetahuinya dari padaku.” (2 Tim 1:16-18)

Kalimat tersebut menjadi kurang logis, jika kita mengartikan bahwa Onesiforus masih hidup namun hanya berpisah dengan keluarganya untuk sementara, seperti interpretasi sejumlah orang. Sebab jika Onesiforus masih hidup, mengapa Rasul Paulus hanya memohon rahmat Tuhan untuk keluarga Onesiforus?  Sedangkan kepada Onesiforus sendiri, Rasul Paulus hanya memohon rahmat Tuhan ‘pada hari-Nya’, yang dalam banyak ayat lainnya dalam Kitab Suci mengacu kepada hari Penghakiman? Bukankah kalau Onesiforus masih hidup, akan lebih logis jika Rasul Paulus akan memohon rahmat Tuhan baginya untuk setiap hari, dan bukan hanya rahmat pada hari Penghakiman? Namun faktanya adalah Rasul Paulus memohon rahmat Allah bagi sahabatnya itu pada ‘hari-Nya’, yang berkonotasi pada penghakiman setelah kematian. Interpretasi ini diperkuat oleh ayat berikutnya. Yaitu bahwa Rasul Paulus ingat akan segala perbuatan baik Onesiforus, dan karena itu berharap Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepada Onesiforus di hari Penghakimannya. Sebab setiap orang akan mati, dan sesudah itu dihakimi (Ibr 9:27), menurut perbuatannya (Why 20:12). Tentu saja kalau diasumsikan Onesiforus masih hidup saat itu, maka korelasi dan koherensi antara ayat ke 16 dan 18 menjadi kabur. Ayat itu menjadi dua ayat yang tidak berhubungan satu sama lain. Yang satu adalah permohonan doa untuk keluarga seorang sahabat. Dan yang lain adalah permohonan untuk belas kasihan Allah pada seorang sahabat untuk hari kematiannya, padahal ia masih hidup.

Melihat kepada penjabaran ini,  adalah lebih masuk akal, jika disimpulkan bahwa Onesiforus sudah wafat ketika Rasul Paulus menuliskan suratnya kepada Timotius. Maka ayat  2 Tim 1:16-18 ini menjadi salah satu dasar dari Kitab Suci yang mengajarkan bahwa adalah baik bagi kita yang masih hidup untuk mendoakan jiwa- jiwa orang yang sudah meninggal dunia. Sebab selain hal itu diajarkan dalam Kitab Makabe (2 Mak 12:38-45), hal itu juga telah diajarkan dan dilakukan oleh Rasul Paulus, kepada sahabatnya, Onesiforus.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab