Home Blog Page 63

Ajaran St. Paus Yohanes Paulus II tentang Maria yang Tetap Perawan

0
Sumber gambar: http://radiodeon.com/swiety-jan-pawel-ii-to-byl-najszybszy-proces-kanonizacyjny-w-historii-posluchaj-co-mowi-o-swietosci-jpii-kardynal-stanislaw-dziwisz-dzwiek/

Keperawanan Maria selamanya [Perpetual Virginity of Mary] adalah topik dari katekese Bapa suci di saat Audiensi Umum, Rabu, 28 Agustus 1996. Teks-teks yang paling kuno dan jemaat awal, kata Paus, meneguhkan bahwa Gereja selalu mengakui kepercayaan bahwa Bunda Maria tidak pernah berhenti menjadi perawan.

Tidak ada dasar untuk berpikir bahwa keinginan untuk tetap perawan yang dinyatakan oleh Maria pada saat menerima Kabar Gembira, sesudahnya diubah.

1. Gereja telah selalu mengakui kepercayaannya akan keperawanan Maria selamanya (perpetual virginity). Teks-teks yang paling kuno, ketika mengacu kepada konsepsi Yesus, menyebut Maria sebagai “perawan”, untuk menyatakan bahwa mereka menganggap keistimewaan ini sebagai fakta permanen/tetap yang menyangkut seluruh hidupnya.

Jemaat Kristen awal menyatakan keyakinan iman ini dalam kata Yunani, aeiparthenos— “tetap perawan”— yang diciptakan untuk menjabarkan pribadi Maria dengan cara yang unik dan efektif dan untuk mengekspresikan dalam satu kata, iman Gereja akan keperawanannya yang tetap selamanya. Kita menemukan istilah ini digunakan dalam pernyataan iman kedua yang disusun oleh St. Epiphanus di tahun 374, dalam hubungan dengan Inkarnasi: Putera Allah “menjelma, yaitu ia dilahirkan dengan cara sempurna oleh Maria, yang tetap Perawan terberkati, melalui Roh Kudus” (Ancoratus, 119,5; DS 44).

Ungkapan “tetap perawan” diambil oleh Konsili kedua Konstantinopel (553), yang menegaskan: Sabda Tuhan, “menjelma dari Bunda Allah yang kudus dan mulia dan tetap Perawan Maria, dilahirkan olehnya” (DS 422). Ajaran ini diteguhkan oleh Konsili Ekumenis lainnya, Konsili ke-empat Lateran (1215) (DS 801) dan Konsili kedua Lyons (1274) (DS 852), dan dengan teks mengenai definisi dogma Maria diangkat ke Surga (1950) (DS 3903) di mana keperawanan Maria yang tetap selamanya dijadikan sebagai salah satu alasan mengapa ia diangkat tubuh dan jiwanya ke kemuliaan surgawi.

Maria adalah perawan, sebelum, pada saat dan setelah melahirkan.

2. Dalam rumusan yang ringkas, Gereja secara tradisional menampilkan Maria sebagai “perawan sebelum, pada saat dan setelah melahirkan”, untuk menegaskan, dengan mengindikasikan ketiga tahap ini, bahwa ia tidak pernah berhenti menjadi perawan.

Dari ketiganya, penegasan tentang keperawanannya “sebelum melahirkan” adalah, tak diragukan lagi, yang terpenting, sebab itu mengacu kepada konsepsi Yesus dan secara langsung menyentuh secara khusus, misteri Inkarnasi. Sejak awal, hal ini telah selalu hadir dalam iman Gereja.

Keperawanannya “pada saat dan setelah melahirkan”, meskipun implisit dalam gelar perawan yang telah diberikan kepada Maria sejak masa awal Gereja, menjadi obyek studi ajaran yang mendalam sebab sejumlah orang mulai secara eksplisit meragukannya. Paus St. Hormisdas [450-523] menjelaskan, “Anak Allah menjadi Anak manusia, lahir dalam waktu dengan cara seorang manusia, dengan membuka rahim ibu-Nya untuk lahir [lih. Lk 2:23] dan, melalui kuasa Tuhan, tidak merusak keperawanan ibu-Nya” (DS 368). Ajaran ini diteguhkan oleh Konsili Vatikan II, yang menyatakan bahwa Putera sulung Maria “tidak mengurangi keutuhan keperawanan ibunya, melainkan menyucikannya” (Lumen gentium, 57). Mengenai keperawanannya setelah melahirkan, pertama-tama perlu ditegaskan bahwa tidak ada alasan untuk berpikir bahwa keinginan untuk tetap perawan, yang dinyatakan oleh Maria pada saat menerima Kabar Gembira (Lih. Luk 1:34) kemudian diubah. Lagipula arti langsung dari perkataan: “Ibu, ini anakmu!”, “Ini ibumu” (Yoh 19:26) yang dikatakan Yesus kepada Maria dan kepada murid yang dikasihi-Nya, menunjukkan bahwa Maria tidak mempunyai anak-anak lainnya.

Mereka yang menyangkal keperawanannya setelah melahirkan berpikir mereka telah menemukan argumen yang meyakinkan melalui istilah “sulung”, yang ditujukan kepada Yesus dalam Injil (Luk 2:7), hampir sepertinya kata ini bermaksud mengatakan bahwa Maria melahirkan anak-anak lain setelah Yesus. Tetapi kata “sulung” secara literal berarti “seorang anak yang tidak didahului oleh yang lain”, dan dengan sendirinya tidak mengacu kepada adanya anak-anak lain. Lagipula, sang pengarang Injil menekankan karakter Anak yang satu-satunya ini, sebab kewajiban-kewajiban tertentu sesuai dengan hukum Yahudi dikaitkan dengan kelahiran anak sulung, tidak tergantung dari apakah ibunya akan melahirkan anak-anak lagi atau tidak. Maka setiap anak tunggal [juga] tunduk pada aturan-aturan ini sebab ia “dilahirkan yang pertama” (lih. Luk 2:23).

Beberapa tingkatan hubungan yang dimaksudkan dengan istilah ‘saudara’

3. Menurut sejumlah orang, keperawanan Maria setelah melahirkan disangkal oleh teks Injil yang mencatat adanya “saudara-saudara Yesus”: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas (Mat 13:55-56; Mrk 6:3) dan beberapa saudari perempuan.

Harus diingat bahwa tidak ada istilah khusus dalam bahasa Ibrani dan Aram untuk menyatakan kata “sepupu”, dan maka istilah “saudara” dan “saudari”, memiliki arti yang lebih luas yang dapat termasuk beberapa derajat hubungan. Kenyataannya, frasa “saudara-saudara Yesus” mengindikasikan “anak-anak” dari Maria yang adalah murid Yesus (lih.Mat 27:56) dan yang lebih jelas dijabarkan sebagai Maria yang lain (Mat 28:1). “Mereka adalah kerabat dekat Yesus, menurut ekspresi Perjanjian Lama” (KGK 500)

Karena itu, Maria yang tersuci adalah “tetap perawan”. Hak istimewanya adalah konsekuensi dari keibuannya yang ilahi, yang secara total dipersembahkannya kepada misi penyelamatan Kristus.

 

Diterjemahkan dari:
L’Osservatore Romano
Weekly Edition in English
4 September 1996, page 11

yang tercantum di situs EWTN, http://www.ewtn.com/library/papaldoc/jp2bvm31.htm

L’Osservatore Romano adalah koran dari Tahta Suci.

Kelegaan Jiwa

0

Retret Penyembuhan Luka Batin Paroki Thomas Rasul – Jakarta
Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

“Mukjizat Nyata Bagi Orang Percaya” merupakan tema retret luka batin yang dikoordinir oleh PDPKK Santo Thomas Rasul –Jakarta. Retret ini kudampingi bersama keluarga Boy Rahardja (Pak Boy, Ibu Antje, dan Rayner) tanggal 12 – 14 September 2014.

Hatiku tersentak karena Tuhan memberikan kepadaku pandangan bahwa ternyata ada orang yang sungguh-sungguh percaya akan kuasa-Nya. Dalam Misa Pembukaan, aku melihat seorang ibu penuh semangat menyanyikan lagu “Menikmati Kasih” pada saat homili. Ia bukan orang dari Jakarta karena para peserta retret lainnya belum mengenalnya. Ia mengambil tempat paling depan sendirian. Ia datang dari Flores-NTT. Nama ibu itu adalah Ibu Herlina Wea. Ibu itu telah menderita kanker payudara stadium final.

Ibu itu mengalami mukjizat Tuhan bukan terutama penyembuhan dari penyakitnya, seperti yang ia sharingkan kepadaku dan kepada para peserta retret. Mukjizat yang ia syukuri adalah undangan Tuhan untuk datang ke retret tersebut. Ia mendapatkan tiket pesawat ke Jakarta tanpa ia tahu siapa pengirimnya.

Undangan Tuhan itu memberikan kelegaan baginya. Tuhan mengerti bahwa ia telah menghabiskan segalanya untuk pengobatan secara medis dan tradisional. Ketika ia tak berdaya dalam mengatasi penyakitnya, Tuhan menuntunnya secara ajaib untuk mengalami kasih-Nya.

Kasih Tuhan itu nyata dalam suasana indah yang melingkupi batinnya. Suasana batin yang indah itu ia dapatkan ketika ia tersungkur di depan Sakramen Mahakudus pada saat adorasi. Ia dengan deraian air mata terus menerus menyanyikan lagu “Di depan-Mu aku Sujud Menyembah”. Ia merasakan kehadiran Tuhan Yesus yang menemaninya dalam menanggung sakitnya. Suara Tuhan Yesus, seperti dalam lagu pada saat penyembahan Salib, “Aku beri engkau hati yang mengampuni” lembut terdengar di telinganya. Ia kemudian memperoleh kekuatan untuk mengampuni semua orang yang menyebabkan luka batin sejak kecil dan yang ia bawa sampai berumahtangga. Hatinya pun penuh dengan kegembiraan. Kegembiraan hatinya menghilangkan rasa sakit di kepala dan payudaranya. Kejang-kejang di kaki, tangan, dan biji matanya juga lenyap. Hilangnya rasa sakit akibat penyakit kanker itu ia tuliskan di atas kertas. Ia mengatakan pengalamannya: “Luka hati ternyata lebih sakit daripada penyakit kanker. Kelegaan hati meringankan penderitaan dari penyakit ganas ini. Semuanya adalah anugerah dari kerelaan untuk mengampuni seperti Tuhan Yesus sendiri”.

Pengalaman imannya atas mukjizat Tuhan yang ia alami terangkum dalam sebuah doa. Doa itu ada dalam suratnya yang diberikan kepadaku sebelum ia meninggalkan tempat retret:

O Yesus Juru Selamatku, yang lembut hati dan manis.

Jangan lewatkan aku, dengarlah isak tangisku selagi Engkau memanggil yang lain, jangan lewatkan aku, Tuhan.

Biarkan aku datang di bawah tahta kemurahan-Mu.

Biarkan aku mendapat mahkota keindahan-Mu.

Apa pun yang terjadi dalam hidupku tak pernah aku ragukan kasih-Mu, Tuhan.

Tak ada yang mustahil bagi-Mu, Tuhan.

Korban salib-Mu, jauh lebih menderita dari pada sakitku ini.

Terima kasih Tuhan aku boleh mengalami sakit ini.

Tuhan, curahlanlah Roh Kudus-Mu ke dalam hatiku semoga Roh Kudus itu berkarya di dalam hatiku serta memurnikan jasmani dan rohaniku.

Biarlah di dalam penderitaanku, aku turut ambil bagian dalam penderitaan Salib-Mu.

Tuhan, jangan biarkan aku letih, layu, lemah.

Berikan aku kesegaran untuk memulai hidup baru, berkarya untukMu kapan dan di mana Engkau menghendaki.

Pakailah aku, Tuhan, aku siap menjadi alat-Mu seumur hidupku.

Terimakasih Tuhan untuk pengorbanan Salib-Mu yang menyelamatkan aku dari lubang kubur, mencopot kegelisahanku, dan memberikan kepadaku kelegaan lahir dan batin.

Terimakasih Tuhan, Engkau selalu hadir di saat aku membutuhkan bantuan.

Amin

Pesan yang indah bagi kita dari pengalaman ibu itu: Mukjizat adalah kekuatan ketika berada dalam puncak pergumulan. Kekuatan di tengah pergumulan menjadikan air mata sebagai awal sukacita. Sukacita itu lahir dari sebuah pengharapan yang muncul dari sebuah doa. Pengharapan itu memberikan kelegaan lahir dan batin: Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku (Mazmur 94:19).

Tuhan memberkati

Mendoakan Firman Tuhan : Doa Ketika Masa Depan Kita Nampak Suram

0

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

1. Ayat Kitab Suci

Ketika kita takut akan masa depan karena banyak keterbatasan yang kita miliki, kita bisa mendoakan Firman Tuhan dari Yeremia 29:11: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”.

2. Maksud Ayat-Ayat Itu

Yeremia 29:11 merupakan ayat dari Nabi tersebut yang ditujukan kepada para nabi, tua-tua, para imam, dan seluruh orang Israel yang berada dalam pembuangan di Babel. Ayat tersebut merupakan sebuah nasihat dalam bentuk sebuah nubuat yang meneguhkan. Tuhan senantiasa menyertai bangsa Israel dalam masa pembuangan yang membuat mereka mengalami banyak penderitaan. Bangsa Israel harus yakin bahwa masa depan mereka berada dalam tangan Tuhan. Tuhan pasti akan memulihkan mereka sesuai dengan janji-Nya, yaitu masa depan yang cerah, ketika mereka melakukan beberapa hal. Pertama: Percaya bahwa hari esok berada dalam tangan Tuhan. Kedua: Mengimani dan memegang janji Tuhan bahwa Ia akan memberikan masa depan yang penuh harapan. Ketiga: Melakukan Firman Tuhan sebagai sumber kebenaran. Kebenaran dari Firman Tuhan akan menumbuhkan damai sejahtera: “Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketentraman untuk selama-lamanya” (Yesaya 32:17).

Kita kadang-kadang melihat masa depan kita suram karena kita tidak memiliki sesuatu yang dapat diandalkan, seperti pendidikan yang cukup dan uang untuk modal usaha. Karena merasa tidak lagi ada harapan, banyak di antara kita mencari jawabannya kepada dukun, peramal, atau paranormal. Dukun, peramal, atau paranormal itu menawarkan jasanya untuk melihat secara cepat jalan kehidupan. Sungguh aneh bahwa banyak di antara kita mencari petunjuk kepada mereka. Padahal, mereka sendiri tidak tahu masa depan mereka. Akan tetapi, kita sebagai orang percaya tetap yakin bahwa masa depan kita tetap ada: “…masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang” (Amsal 23:18). Tuhan adalah setia dan tidak ada janji-Nya yang tidak ditepatiNya. Kesetiaan Tuhan itu menjadi dasar pengharapan kita. Tuhan tentu menyediakan apa yang kita pelukan dan butuhkan karena kita adalah anak-anak-Nya. Karena kita adalah anak-anak-Nya, Tuhan menjadi bagian kita, menjadi Penjamin masa depan kita: “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepadaNya” (Ratapan 3:24).

Dari surat Yeremia itu, kita bisa meyakini bagaimana kita dapat memperoleh masa depan yang cerah dari Tuhan. Kita dapat melakukan enam hal agar mendapatkan masa depan yang baik. Pertama: Dalam kekurangan apapun, kita harus yakin bahwa Tuhan adalah Penentu masa depan kita. Kedua: Kita menjaga iman kita bahwa Tuhan pasti pada waktunya akan mewujudkan janji-Nya, yaitu memberikan masa depan yang baik bagi kita. Ketiga: Percaya dan menjalani apa yang telah disabdakan Tuhan dalam Kitab Suci. Keempat: kita rendah hati di hadapan Tuhan: “Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati” (Mazmur 37:11). Kelima: Kita tetap tulus dan jujur dalam melakukan sesuatu: “Perhatikanlah orang yang tulus dan lihatlah kepada orang yang jujur, sebab pada orang yang suka damai akan ada masa depan” (Mazmur 37:37). Keenam: Kita tetap terlibat dalam pelayanan: “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyang, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Kor 15:58).

Sekarang kita semakin yakin bahwa di dalam Tuhan ada masa depan yang cerah. Tuhan membuat kita menjadi kepala bukan ekor. Dia membuat kita naik dan bukan turun. Bersama dengan Tuhan kita cakap melakukan perkara besar.

3. Doa :

Doa Ketika Masa Depan Nampak Suram

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Allah Bapa, aku menghadap Engkau dengan perasaan seperti terdampar dalam laut lepas.

Hidupku terombang-ambing ombak tanpa melihat satu pulau pun yang menjadi tempat tujuan.

Masa depan hidupku semakin jauh dan tak terlihat mata.

Masa depanku nampak suram

Semakin aku memikirkan masa depanku,

Aku semakin terperosok di dalam keputusasaan.

Semakin hari aku semakin tak mengerti diriku sendiri.

Kini aku datang untuk menghaturkan hatiku yang sesak, perih, dan sedih ke dalam tangan-Mu.

Aku percaya bahwa janji-Mu pasti nyata.

Engkau akan mengubah air mataku menjadi sorak-sorai, kesesakanku menjadi kelegaan, kesedihanku menjadi sukacita.

Bapa, aku pecaya bahwa Engkau telah menyediakan yang terbaik bagi masa depanku.

Aku mengimani janji-Mu melalui Nabi Yeremia : “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11).

Amin.

Dari Dunia Fana Menuju Surga Abadi

7
Sumber gambar: http://www.photoburst.net/travel-photography/2013/11/all-souls-day-dhaka-bangladesh-canon-eos-5d-mark-ii-ef24-105mm-usm-saud-a-faisal/#.VE-bb_mUcYE

[Hari Peringatan Mulia Arwah Semua Orang Beriman: 2Mak 12:43-45; Mzm 130:1-8; 1Kor 15:12-34; Yoh 6:37:40]

Di tanggal 1 dan 2 November ini, dan bahkan sepanjang bulan ini, Gereja mengajak kita untuk secara khusus mengarahkan pandangan ke Surga. Supaya, kita mengingat bahwa hidup kita di dunia ini adalah sementara, karena kehidupan kita yang sesungguhnya adalah kehidupan yang kekal bersama Allah di Surga. Maka, mengawali permenungan kita di hari pertama bulan ini, kita merayakan hari para orang kudus di Surga, sedangkan hari yang kedua- yaitu hari ini- kita merayakan jiwa-jiwa orang beriman yang telah wafat. Sebab bagi kita orang beriman, kematian bukanlah akhir dari segalanya. Karena dengan mengimani Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat serta setia menjalankan perintah-Nya, kita dapat memperoleh hidup yang kekal, dan tubuh kita akan dibangkitkan oleh-Nya di akhir zaman (lih. Yoh 6:40). Demikianlah, sekalipun kita wafat, jiwa kita akan tetap hidup (lih. Yoh 11:25), karena dengan kebangkitan-Nya, Kristus telah menaklukkan kuasa maut itu (lih. 1Kor 15: 26-27).

Betapa janji Tuhan ini  memberikan kepada kita pengharapan, namun juga mendorong kita agar tidak memusatkan diri kepada hidup kita di dunia ini saja, tetapi juga mempersiapkan diri untuk kehidupan kita setelah dari dunia ini. Sebab memang Allah telah menjanjikan kehidupan kekal di Surga kepada kita yang percaya kepada-Nya. Namun, untuk memperoleh penggenapan janji-Nya itu, kita-pun harus bekerjasama dengan rahmat-Nya. Kerjasama ini nyata dalam perbuatan kasih yang kita lakukan atas dasar iman kita kepada-Nya. Sebab kasih-lah yang menjadikan kita serupa dengan Allah, yang adalah Sang Kasih (1Yoh 4:8). Namun sayangnya, sering kita masih jatuh bangun dalam hal ini. Maka dapat terjadi, kita didapati oleh Allah belum sepenuhnya sempurna dalam kasih, ketika kita wafat. Mungkin hal ini juga dialami oleh saudara-saudari kita yang telah mendahului kita. Betapapun kita berharap bahwa mereka telah bersatu dengan Tuhan di Surga, namun karena dalam keterbatasan kita, kita tidak dapat mengetahuinya dengan pasti, maka Gereja menganjurkan kita untuk mendoakan jiwa-jiwa tersebut. Khususnya di tanggal 2 November, dan juga di hari-hari selanjutnya, kita diajak untuk mendoakan jiwa-jiwa yang telah mendahului kita ini, terutama jiwa orang tua, ataupun anak kita yang telah meninggal, sebagai tanda kasih kita kepada mereka. Ini membuktikan iman kita akan kehidupan kekal dan juga akan kuasa kasih Kristus yang melampaui maut, sehingga kita sebagai anggota- anggota-Nya, baik yang masih hidup, maupun yang telah meninggal, tetap terikat di dalam kasih Kristus.

Gereja bahkan memberikan Indulgensi Penuh yang dapat diperoleh untuk setiap hari, antara tanggal 1 sampai dengan 8 November, dan Indulgensi Sebagian pada hari-hari lainnya. Dalam buku Pedoman tentang Indulgensi, yang dikeluarkan oleh  Sacred Apostolic Penitentiary, 1968, dikatakan bahwa indulgensi dapat diberikan untuk jiwa-jiwa di Api Penyucian yang kita doakan, jika kita mengunjungi kubur dan berdoa bagi jiwa-jiwa yang telah meninggal, bahkan doa yang diucapkan di dalam hati, bagi mereka yang telah wafat tersebut. Untuk memperoleh Indulgensi Penuh di awal bulan November ini, ada empat syarat yang harus dipenuhi, di samping mengunjungi makam dan berdoa bagi jiwa-jiwa yang telah meninggal. Empat syarat itu adalah: 1) Melakukan pengakuan dosa dalam sakramen Pengakuan dosa. Sekali Pengakuan dosa dapat cukup untuk memperoleh beberapa Indulgensi Penuh, tetapi Komuni harus diterima dan doa bagi intensi Bapa Paus harus didaraskan bagi perolehan setiap Indulgensi Penuh; 2) Menerima Komuni (Ekaristi) kudus; 3) Berdoa bagi intensi Bapa Paus. Doa bagi intensi Bapa Paus dapat dipenuhi dengan mendaraskan satu kali Bapa Kami, satu kali Salam Maria; namun kita-pun dapat mendaraskan doa-doa lainnya dengan penuh kesalehan dan devosi; 4) Akhirnya, syarat yang terpenting ini juga harus dipenuhi, yaitu semua keterikatan dosa, bahkan dosa ringan, tidak ada. Jika sikap batin yang terakhir ini kurang sempurna, atau ketiga persyaratan di atas tidak terpenuhi, maka Indulgensi yang diperoleh hanya Indulgensi Sebagian.

St. Paus Yohanes Paulus II mengajarkan, “Dasar dari ajaran Gereja tentang indulgensi adalah keberlimpahannya belas kasih Allah, yang dinyatakan oleh Salib Kristus. Tuhan Yesus yang tersalib, merupakan “indulgensi terbesar” yang telah ditawarkan  Allah Bapa kepada umat manusia, melalui pengampunan dosa dan kemungkinan untuk hidup sebagai anak-anak Allah (lih. Yoh 1:12-13) di dalam Roh Kudus (lih. Gal 4:6; Rm 5:5; 15-16). Namun demikian…, karunia ini tidak sampai kepada kita tanpa penerimaan dan tanggapan kita… yang melibatkan usaha pribadi setiap orang dan karya sakramental Gereja.” (Audiensi Umum, 29 Sept 1999, par.2).  Mari, kita bersyukur kepada Tuhan dan menerima belas kasih-Nya dengan sepenuh hati.  Di awal bulan November ini, mari kita menanggapi belas kasih Allah dengan mempersembahkan doa-doa dan perbuatan kasih kita bagi saudara- saudari kita yang telah meninggal dunia. Semoga dengan demikian, kita semakin menyadari bahwa hidup kita di dunia ini hanyalah awal dari suatu kehidupan kekal yang dijanjikan Allah, di mana kelak kita akan memandang Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya (1 Yoh 3:2), di dalam Kristus dan dalam kesatuan dengan saudara-saudari seiman yang telah mendahului kita, dalam kebahagiaan yang tanpa akhir.

Apa Tanggapan KWI terhadap Prokreasi Artifisial?

0

Berikut ini adalah ketentuan dalam Pedoman Pastoral Keluarga yang dikeluarkan oleh KWI (Konferensi WaliGereja Indonesia) yang ditandatangani oleh Mgr. Martinus Situmorang OFM. Cap, tanggal 15 November 2010, tentang Prokreasi Artifisial:

“63. Yang dimaksud dengan prokreasi artifisial adalah upaya menurunkan anak dengan cara-cara buatan (tidak alamiah). Berdasarkan metodanya, tindakan ini dapat dibedakan antara teknik prokreasi yang membantu hubungan seksual dan teknik prokreasi yang menggantikan hubungan seksual. Kedua jenis ini mempunyai pertimbangan etis yang berbeda.

a. Teknik pertama adalah cara dan sarana yang dilakukan dengan tujuan untuk membantu hubungan seksual pasangan suami-istri agar mendapatkan keturunan, misalnya cara dan sarana yang meningkatkan fertilitas hubungan seksual suami-istri. Karena metoda ini tidak memisahkan sifat unitif dan prokreatif dari hubungan seksual suami-istri, teknik ini sah dan tidak bertentangan dengan prinsip moral Katolik. Contoh dari cara dan sarana ini adalah dengan pemberian obat kesuburan kepada suami atau istri.

b. Teknik kedua adalah cara dan sarana yang menggantikan hubungan seksual suami-istri agar mereka mendapatkan keturunan. Mengingat hubungan seksual suami-sitri bersifat unitif dan prokreatif dan keduanya tidak boleh dipisahkan maka cara-cara yang menggantikan hubungan seksual itu tidak dapat diterima secara moral Katolik. Contoh dari cara dan sarana ini adalah In Vitro Fertilization (pembuahan dalam tabung), baik dari pasangan suami-istri maupun dari donor.

64. Berikut ini adalah keberatan-keberatan, baik secara umum maupun secara khusus terhadap teknik kedua ini.

1. Keberatan umum

  • Hubungan seksual suami-istri harus bersifat unitif dan prokreatif sekaligus. Dalam prokreasi secara artifisial, adanya anak bukan merupakan buah dari hubungan suami istri, sehingga di sana prokreasi terlepas dari unifikasi suami-istri. Karena itulah, cara tersebut ditolak oleh Gereja Katolik.
  • Pada dasarnya, pembuahan itu terjadi secara kodrati oleh karena hubungan seksual antara suami istri, sehingga keduanya menjadi “satu daging” (Kej 2:24 dan Mat 19:5 par.) dan menerima tugas untuk berkembang biak (Kej 1:28). Dengan demikian, hubungan seksual itu mempunyai dua dimensi penting yang tidak boleh dipisahkan, yakni persatuan suami-istri dan terbuka kepada keturunan. Oleh karena itu, seturut kehendak Allah, manusia berkembang biak melalui hubungan seksual. Maka hubungan seksual itu menjadi penting dalam proses kelahiran anak. Berdasarkan Sabda Allah ini, suatu teknik pembuahan yang menggantikan hubungan seksual dalam prokreasi tidak dibenarkan dan tidak dapat diterima oleh Gereja.
  • Anak adalah anugerah Allah dan bukan hasil produk dari sebuah teknik. Allah mengangkat suami-istri menjadi rekan kerja-Nya dalam karya penciptaan dengan cara melahirkan kehidupan baru. Pemberian diri timbal balik antara suami-istri yang terjadi melalui hubungan seksual itu menghasilkan buah cinta kasih, yaitu anak yang adalah juga mahkota perkawinan. Maka Gereja selalu menekankan bahwa anak adalah anugerah dari Allah yang harus disambut dengan sukacita. Banyak orang berpikir bahwa pasangan suami-istri mempunyai hak untuk mempunyai hak untuk mempunyai anak. Yang benar adalah anak bukanlah hak, tetapi anugerah Allah, karena Ia menghendaki pasangan suami-istri yang diberkati untuk melakukan prokreasi (Kej 1:28). Oleh karena itu, mempunyai anak bukan pertama-tama hak, tetapi suatu perutusan. Jikalau hak, orang boleh menuntutnya. Akan tetapi, karena ini merupakan perutusan dari Allah maka sejak awal perkawinan suami-istri harus terbuka pada kelahiran anak.
  • Reproduksi artifisial, baik yang homolog (sprema atau ovum berasal dari suami-istri itu sendiri) maupun yang heterolog (sperma atau ovum berasal dari donor dan bukan dari pasangan suami-istri sendiri) tidak bisa diterima secara moral Katolik karena anak yang muncul darinya bukan menjadi buah dari hubungan seksual ayah dan ibunya.

2. Keberatan khusus

Berikut ini adalah beberapa praktek reproduksi artifisial yang ditolak oleh Gereja Katolik:

  • Inseminasi buatan homolog :ditolak karena bersifat menggantikan hubungan suami-istri.
  • Inseminasi buatan heterolog: ditolak karena selain bersifat menggantikan hubungan suami-istri juga mengaburkan genealogi (garis keturunan) dari anak yang lahir.
  • In Vitro Fertilization (IVF– pembuahan dalam tabung) dan Embryo Transfer (ET– pemindahan embrio) adalah teknik pembuahan di dalam cawan (petri disk) yang dilanjutkan dengan pemindaha embrio ke dalam rahim: ditolak karena selain menggantikan hubungan seksual suami istri juga memuat seleksi embrio berdasarkan kriteria manusia dan memungkinkan kematian banyak embrio.
  • In Vitro Fertilization (IVF) dan Embryo Transfer (ET) ke dalam rahim surrogate mother (ibu yang meminjamkan atau menyewakan rahim) ditolak karena selain menggantikan hubungan seksual suami-istri dan memuat seleksi embrio berdasarkan kriteria manusia serta memungkinkan kematian banyak embrio, juga mengaburkan identitas dan peran ibu dari anak yang lahir. Namun, menghadapi surrogate mother yang bertindak dalam rangka menyelamatkan janin yang sudah ada dan beresiko gugur, melihat nilai moral dari tindakan tersebut, Gereja dapat menerimanya.

65. Berikut ini adalah beberapa contoh kasus khusus yang berhubungan erat dengan prokreasi artifisial dan prinsip moral Katolik, yang juga perlu diketahui oleh umat Katolik:

1. Penyimpanan (bank) ovum, sperma dan zygot

Penyimpanan biasanya dilakukan dengan cara pembekuan baik ovum, sperma maupun zygot (embrio). Pembekuan embrio bertentangan dengan hakekat dan martabat manusia. Sebab, embrio itu harus diperlakukan sebagai seorang pribadi manusia dan tidak boleh dibahayakan hidupnya.

2. Embrio yang tersisa (spared embryo)

Jika ada embrio yang tersisa dari proses prokreasi artifisial, embrio tersebut tidak boleh dimusnahkan ataupun dipakai sebagai bahan riset atau penelitian. Embrio harus diperlakukan sebagai seorang pribadi dan harus dijauhkan dari pemusnahan (pembunuhan) ataupun ancaman yang membahayakan hidupnya.

3. Manipulasi embrio

Manipulasi atau rekayasa embrio hanya bisa dibenarkan sejauh untuk kepentingan terapeutik atau karena tuntutan korektif bagi embrio itu sendiri, dan bukan untuk kepentingan embrio yang lain. Contoh: embrio yang cacat genetik boleh dimanipulasi agar cacat genetik itu dapat diminimalkan atau bahkan ditiadakan.

4. Mengandung dan melahirkan anak untuk dijadikan donor.

Mengandung dan melahirkan anak semata-mata dengan tujuan untuk dijadikan donor berarti bahwa anak itu dilahirkan bukan demi dirinya sendiri, tetapi untuk kepentingan atau tujuan lain. Tindakan ini merupakan bentuk instrumentalisasi manusia (manusia hanya dijadikan sarana saja) maka ditolak oleh Gereja Katolik.

5. Prokreasi artifisial post mortem (sesudah kematian pasangan dari yang masih hidup)

Dengan adanya bank sperma dan bank ovum, seorang suami atau istri dimungkinkan untuk mempunyai anak, walaupun pasangannya sudah meninggal. Namun, secara moral tindakan ini tidak dibenarkan. Selain keberatan yang berhubungan dengan cara prokreasi artifisial pada umumnya, masih ada keberatan lain yang berhubungan dengan masalah etis yang ditimbulkannya oleh kenyataan bahwa anak itu adalah anak dari orang yang sudah meninggal, sehingga ia dilahirkan tanpa memiliki ayah atau ibu.

6. Membuat janin melalui In Vitro Fertilization dengan tujuan hanya untuk percobaan

Tindakan ini tidak bisa diterima secara moral sebab janin tersebut sengaja diciptakan untuk sesuatu yang lain, yang berada di luar dirinya sendiri, bukan demi dirinya sendiri. Tindakan ini adalah bentuk instrumentalisasi manusia, bahkan sama dengan pembunuhan.

66. Gereja menghimbau pelbagai pihak yang berkepentingan dalam hal ini, yakni tenaga medis, pasangan suami-istri dan orangtua untuk menghormati hukum Allah yang tersurat di dalam kodrat manusia.

1. Pasangan suami-istri yang tidak mempunyai anak, hendaknya jangan merasa putus asa. Tidak mempunyai keturunan bukan berarti gagal dalam perkawinan dan hidup berkeluraga, sebab perkawinan dan hidup berkeluarga masih mempunyai bermacam-macam nilai dan tujuan yang lebih banyak lagi selain untuk menurunkan anak.

2. Para tenaga kesehatan yang berkecimpung dalam dunia kesehatan reproduksi hendaknya menghormati norma-norma moral yang berkaitan dengan prokreasi manusia.

3. Hendaknya semua pihak memahami bahwa penolakan Gereja terhadap prokreasi artifisial itu bukan hanya karena caranya yang tidak kodrati, tetapi lebih-lebih karena cara prokreasi itu bertentangan dengan prinsip-prinsip moral Katolik, terutama yang berhubungan dengan harkat dan martabat manusia dan berhubungan dengan Allah sebagai Sang Pemberi kehidupan.”

Bunda Maria, Model Evangelisasi

0

Apa itu Evangelisasi?

Cara yang paling sederhana untuk memahami apakah arti evangelisasi, adalah mengacu kepada pengajaran Paus Paulus VI tentangnya. Paus kurang lebih mengatakan bahwa evangelisasi berarti membawa Kabar Baik tentang Yesus kepada setiap orang dalam segala situasi dan berusaha membawa mereka -baik secara perorangan maupun kelompok- kepada pembaruan, oleh kuasa ilahi dari pesan Injil itu sendiri.[1] Maka inti dari evangelisasi adalah pernyataan keselamatan di dalam Yesus Kristus dan tanggapan dari orang yang menerima pewartaan Injil itu dalam iman, yang keduanya adalah karya Roh Kudus. Oleh karena pusat evangelisasi adalah Kristus, maka evangelisasi harus secara langsung berhubungan dengan Kristus. Karena itu Paus Paulus VI berkata, “Tidak ada evangelisasi yang sejati, kalau tidak diwartakan nama Yesus dari Nazaret, Sang Putera Allah, ajaran-Nya, hidup-Nya, janji- janji-Nya, Kerajaan-Nya dan misteri-Nya.”[2]

Atas dasar pengertian ini St. Paus Yohanes Paulus II merumuskannya dengan lebih sederhana, sebagaimana diajarkan dalam Konsili Vatikan II, yaitu evangelisasi itu berkenaan dengan masuknya kita dalam misteri kasih Allah, yang mengundang setiap orang ke dalam hubungan yang pribadi dengan Kristus.[3] Karena itu, evangelisasi bukan semata penerusan ajaran, ataupun suatu pengetahuan tentang iman yang dipahami di kepala, tetapi lebih dalam daripada itu. Evangelisasi menyangkut perubahan keseluruhan hidup kita, atau yang lebih dikenal dengan istilah ‘pertobatan’. Perubahan itu terjadi karena perjumpaan kita dengan Kristus, yang mengundang kita untuk masuk dalam kehidupan-Nya sendiri, ke dalam misteri kasih-Nya yang tak terpahami, sebab dengan demikian kita menjadikan segala pemikiran dan kehendak Kristus sebagai pemikiran dan kehendak kita sendiri. Dengan demikianlah, kita kelak dapat menerima janji keselamatan kekal dalam Kerajaan Allah, sebagaimana dijanjikan-Nya.

Ajaran serupa juga disampaikan oleh Paus Fransiskus. Ketika menjelaskan tentang terang iman, Paus Fransiskus mengajarkan bahwa kebenaran yang diungkapkan iman adalah kebenaran yang berpusat pada perjumpaan dengan Kristus, pada permenungan tentang hidup-Nya dan pada kesadaran akan kehadiran-Nya.[4] Evangelisasi adalah yang merupakan penyampaian Kabar Baik itu, mensyaratkan terlebih dahulu dari orang yang mewartakan, sebuah perjumpaan pribadinya dengan Kristus yang mengubah seluruh hidupnya. Ibaratnya, untuk membawa orang lain agar berjumpa dengan Kristus, seseorang harus terlebih dulu berjumpa dengan Kristus.

Mengapa kita melakukan Evangelisasi?

Bagi yang sudah mengikuti KEP (Kursus Evangelisasi Pribadi), tentunya masih ingat akan ayat Mat 28:19-20, yang disebut sebagai amanat agung, pesan Yesus yang terakhir sebelum Ia naik ke Surga. “…Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:19-20). Ayat ini menjadi acuan akan pentingnya evangelisasi dalam kehidupan umat Kristiani. Sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk mewartakan Kristus yang telah mengubah kita, karena Kristus menghendaki agar semua orang dapat diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (lih 1 Tim 2:4).

Apa itu prinsip Evangelisasi?

Atas dasar pengertian di atas, kita mengetahui bahwa ada tiga prinsip yang harus ada dalam evangelisasi, yaitu, pertama adalah mengalami Kristus, kedua, mengikuti Kristus sebagai murid-Nya, dan yang ketiga adalah membagikan Kristus, baik melalui perkataan maupun perbuatan dalam kehidupan kita. Untuk melaksanakan ketiga prinsip ini, diperlukan kerendahan hati dan totalitas, agar evangelisasi itu dapat berdaya guna, baik bagi kita yang melakukannya, maupun bagi orang-orang yang menerima pewartaan Injil-Nya.

Bunda Maria, Model Evangelisasi

Untuk maksud melaksanakan tugas evangelisasi inilah, kita melihat kepada Bunda Maria sebagai teladan kita. Sebab dalam diri Bunda Maria, ketiga prinsip evangelisasi dapat kita lihat secara nyata dan sempurna dalam kehidupannya. Oleh karena itu, kita menyebut Bunda Maria sebagai Mobdel Evangelisasi, sebab ia telah mendahului kita dalam hal melaksanakan perintah Tuhan untuk mewartakan Kristus melalui teladan hidupnya.

Bunda Maria mengalami Kristus

Dengan dipilihnya sejak awal mula, bahwa Bunda Maria menjadi ibu yang mengandung dan melahirkan Kristus, Bunda Maria telah mengalami kepenuhan rahmat Allah, sejak terbentuknya dalam kandungan ibunya. Malaikat Gabriel diutus Allah untuk menyampaikan Kabar Gembira ini menyatakan hal ini dengan mengatakan, “Salam, hai engkau yang dikaruniai (full of grace / ‘kecharitomene’), Tuhan menyertai engkau” (Luk 1:28). Salam sang malaikat itu, yang mengatakan kepada Maria, “Salam, hai engkau yang dipenuhi rahmat…” (lih. Luk 1:28), menyatakan penghormatan yang istimewa kepada Bunda Maria. Pertama, karena perkataan “Salam”, atau, “Hail” (χαίρω/chaírō) ini bukan ungkapan salam biasa seperti kata ‘selamat pagi’. Kata “Salam/ Hail” ini hanya muncul lagi dalam Injil, sebagai salam penghormatan kepada Kristus (lih. Mat 26:49, 27:29; Mrk 15:18; Yoh 19:3). Tentu penggunaan kata “Salam” kepada Bunda Maria ini, tidak menyatakan kesetaraannya dengan Kristus, namun kita mengetahui bahwa ucapan “Salam” tersebut adalah ungkapan penghormatan yang istimewa. Kedua,  tidak pernah ada satupun tokoh manusia dalam Kitab Suci, entah dari Perjanjian Lama ataupun Perjanjian Baru, yang diberi salam hormat oleh malaikat utusan Tuhan. Yang umum terjadi adalah sebaliknya: manusia menghormati malaikat, seperti ketika Abraham sujud sampai ke tanah untuk menghormati ketiga orang tamunya (lih. Kej 18:2) yang datang dengan menyampaikan perkataan janji Tuhan akan kelahiran anak laki-laki baginya (lih. Kej 18:10). Atau, Yakub yang meminta malaikat itu untuk memberkatinya (lih. Kej 32:26).  Juga, Tobit dan Tobia yang sujud di hadapan malaikat Rafael ketika mereka mengetahui bahwa ia ternyata bukanlah salah seorang kerabat mereka, namun adalah malaikat yang diutus Tuhan (lih. Tob 12:13-16). Maka jika malaikat Tuhan datang kepada Bunda Maria, dan kemudian memberikan salam hormat yang belum pernah diucapkan sebelumnya kepada siapapun, tentu kita mengetahui bahwa Bunda Maria adalah seseorang yang istimewa.

Kecharitomene’ sendiri artinya adalah ‘engkau yang telah dan tetap dikaruniai rahmat dengan sempurna, sepenuhnya’. Para Bapa Gereja, terutama mereka yang berbahasa Yunani, seperti St. Gregorius Thaumaturgus (205-270), St. Yohanes Sang Teolog (400), dan St. Theodotus dari Ancyra (awal abad 5), mengartikan kepenuhan rahmat Allah ini sebagai kekudusan yang sempurna, sehingga tidak ada lagi ruang bagi dosa. St. Theodotus mengajarkan: “Perawan yang tak berdosa, tidak bernoda, tanpa cacat, tanpa tersentuh, tanpa cela, kudus dalam tubuh dan jiwa, seperti bunga lili yang mekar di antara semak duri …. Bahkan sebelum kelahiran Kristus, ia telah dikuduskan bagi Allah … Murid yang kudus, … bijaksana di dalam pikiranmu, bersatu dengan Tuhan di dalam hatimu, perkataanmu layak dipuji, tetapi terlebih lagi perbuatanmu….”[5] Ajaran para Bapa Gereja dari Yunani ini, menegaskan apa yang telah diajarkan oleh para Bapa Gereja pendahulu mereka, seperti St. Irenaeus (180), St. Hippolytus (235), Origen (244), St. Ephraim (361), St. Athanasius (373), St. Ambrosius (387), St. Gregorius (390), yang telah mengajarkan tentang kekudusan dan ketaatan Bunda Maria. Bunda Maria disebut sebagai Hawa yang baru yang bekerjasama dengan Kristus sebagai Adam yang baru, dan Tabut Perjanjian Baru yang mengandung Kristus, sebagai penggenapan Perjanjian Lama.

Warta Kabar Gembira, yang disampaikan oleh malaikat kepada Bunda Maria, juga menyatakan karya Allah Tritunggal dalam rencana-Nya untuk mengutus Kristus Putera-Nya ke dunia. “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” (Luk 1:35) Dalam peristiwa Inkarnasi Kristus, Bunda Maria dinaungi oleh kuasa Allah Bapa; dan ia menerima Roh Kudus yang turun atasnya; sehingga ia mengandung dan melahirkan Kristus Sang Putera Allah. Dengan ketaatannya, Bunda Maria menerima Sang Putera Allah, yaitu Sang Sabda sehingga Sabda itu dapat menjelma menjadi manusia. Karena ketaatan Maria itulah, maka dapat dikatakan bahwa Bunda Maria pertama- tama menerima Sang Sabda itu di dalam hatinya, sebelum ia mengandung Kristus di dalam rahimnya.

Maka, sungguh tak terkatakan persatuan yang erat antara Bunda Maria dengan Kristus. Selama sembilan bulan Bunda Maria mengandung Kristus, yang didalamnya terkandung kepenuhan ke-Allahan (Kol 2:9). Bunda Maria melahirkan Kristus, membesarkan-Nya, hidup di bawah satu atap dengan-Nya selama sekitar 30 tahun. Bunda Maria menyertai Dia dalam tiga tahun karya publik-Nya, sampai pada saat kematian Yesus di kayu salib.  Bunda Maria selalu ada dalam persekutuan dengan Puteranya sejak awal kehidupan-Nya sebagai manusia di dunia ini, sampai saat wafat-Nya, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Surga. Setelah itu, Bunda Maria terus menyertai para rasul-Nya dan berdoa bersama-sama mereka, saat menantikan turunnya Roh Kudus di hari Pentakosta, yang menyatakan kelahiran Gereja. Maka Bunda Maria, adalah anggota pertama Gereja, yang mengalami kepenuhan Kristus dengan cara yang istimewa dan satu-satunya.

Pertanyaan bagi kita adalah: Sudahkah kita mengalami kehadiran Kristus di dalam hidup kita? Melalui kejadian hidup sehari-hari, kita dapat mengalami kehadiran-Nya. Kehadiran Tuhan Yesus yang paling nyata bagi kita umat Katolik adalah melalui Ekaristi kudus. Dengan menerima Ekaristi kita juga mengalami kehadiran-Nya dalam tubuh dan jiwa kita. Dengan demikian, kita dijadikan serupa -walau tentu tidak sama- dengan Bunda Maria, yang juga bersatu dengan Kristus, dalam tubuh dan jiwa. Yesus juga hadir dalam doa-doa kita, dalam permenungan Sabda-Nya dalam Kitab Suci dan dalam perjumpaan kita dengan sesama. Karena itu, besarlah peran doa permenungan misteri kehidupan Kristus, seperti dalam doa-doa Rosario, Jalan Salib, atau dalam doa-doa devosi lainnya. Doa-doa tersebut mengangkat kita untuk masuk dalam kehidupan Kristus sendiri, dan dengan demikian mengalami kasih-Nya dengan begitu nyata semasa kita hidup di dunia. St. Paus Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa doa Rosario adalah “ringkasan Injil” yang merupakan salah satu doa yang diarahkan untuk kontemplasi akan wajah Kristus. Pengalaman perjumpaan dengan Kristus ini, yang sejatinya dialami dalam keheningan dan doa, kemudian menjadi dasar bagi perkembangan kita untuk semakin mengenal Kristus, agar kita dapat hidup mengikuti kehendak-Nya dan mewartakan kasih-Nya. [6]

Bunda Maria mengikuti Kristus

Pemilihan Bunda Maria sebagai seorang wanita yang melahirkan Kristus memang terjadi atas inisiatif Allah, yang memberikan kepenuhan rahmat kepadanya, namun rahmat tersebut juga ditanggapi dengan sempurna oleh Bunda Maria. Bunda Maria adalah seorang perempuan yang taat kepada hukum Taurat (lih. Gal 4:4). Karena ketaatannya kepada Allah, Bunda Maria menerima Sabda Allah yang disampaikan kepada-Nya oleh malaikat Gabriel, dan kemudian menaatinya. Itulah sebabnya Kristus mengatakan demikian tentang ibu-Nya, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:21)

Belajar dari teladan Bunda Maria, sudah saatnya kita bertanya kepada diri kita sendiri, “Sudahkah aku setia mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya?” Setia mendengarkan sabda Tuhan berawal dari hal kecil dan sederhana, yaitu, setia membaca Kitab Suci setiap hari dan merenungkannya. Apakah hal ini sudah kita lakukan? Sebab untuk melaksanakan sabda Tuhan, kita perlu untuk mengetahuinya terlebih dahulu, entah dengan cara mendengarkan ataupun membaca sabda-Nya itu; dan kemudian meresapkannya, supaya menjadi kesatuan dengan hati dan pikiran kita. Sungguh ini merupakan undangan dan sekaligus tantangan bagi kita semua!

Bunda Maria membagikan Kristus

Menyampaikan Kristus kepada dunia

Oleh ketaatan Bunda Maria, Kristus Sang Sabda dapat menjelma menjadi manusia. Karena itu, betapa dalamlah makna perkataan Bunda Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Sebab dengan perkataan ini, Maria menyatakan kesempurnaan kehendak bebasnya, dan menyerahkan diri seutuhnya kepada kehendak Allah, dan tergenapilah rencana Allah untuk menjadikannya sebagai Bunda yang melahirkan Kristus Putera-Nya. Dengan kesediaan Bunda Maria ini, ia menyampaikan Kristus kepada dunia, dan dunia kepada Kristus.

Sesungguhnya kitapun dipercaya oleh Allah untuk tugas ini, yaitu untuk menyampaikan menyampaikan Kristus kepada dunia di sekitar kita. Pertanyaannya, sudahkah kita melakukannya? Sudahkah kita ikut serta mengambil bagian dalam karya evangelisasi ke seluruh dunia? Melalui doa dan karya kerasulan kita?

Menyampaikan Kristus kepada mereka yang membutuhkan

Secara khusus, Bunda Maria mempunyai kepekaan untuk memperhatikan dan menolong mereka yang sedang membutuhkan pertolongan. Setelah menerima Kristus di dalam hatinya dan di dalam rahimnya, Bunda Maria segera mengunjungi Elisabet saudaranya, yang sedang mengandung dalam usia yang lanjut. Kedatangan Bunda Maria membawa sukacita, bukan saja bagi Elisabet, namun juga kepada anak di dalam kandungannya, yaitu Yohanes Pembaptis. Bukankah demikian yang dikatakan oleh Elisabet kepada Bunda Maria, “Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.” (Luk 1:44)

Maka pengalaman kita berjumpa dengan Kristus adalah suatu pengalaman yang diberikan untuk dibagikan. Sebab pengalaman kebersamaan kita dengan Kristus adalah pengalaman yang mendatangkan suka cita, dan dapat mendatangkan suka cita juga bagi mereka yang menerima pewartaan kita. Sudahkah kita memberi kegembiraan kepada anggota keluarga, lingkungan ataupun komunitas, paroki, dan sesama kita yang lain? Sudahkah kita menerima Kristus dalam Ekaristi dan membagikan Kristus kepada pada orang-orang di sekitar kita, terutama mereka yang sedang membutuhkan bantuan?

Bunda Maria juga menunjukkan kepekaannya akan kebutuhan sesamanya dalam peristiwa perkawinan di Kana. Ia melihat  kebutuhan tuan rumah yang mengundangnya: “Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.” (Yoh 2:3) Bunda Maria senantiasa melihat setiap orang yang tersisih dan berkekurangan. Ia bersegera menolong dan menyampaikan kebutuhan tersebut kepada Yesus Puteranya.

Bunda Maria memberikan teladan kepada kita, agar kita menemukan, adakah orang yang tersisih dalam keluarga ataupun lingkungan kita? Apakah yang sudah kita lakukan untuk mereka? Mari belajar dari Bunda Maria untuk menjadi orang yang peka akan kebutuhan sesama dan bergegas pula menawarkan pertolongan, entah dengan tindakan, perkataan, atau doa.

Teladan Bunda Maria dalam evangelisasi

Kerendahan hati Bunda Maria

Sebagai hamba Tuhan

Peran serta Bunda Maria di awal kehidupan Kristus di dunia diawali dengan kerendahan hatinya, saat ia mengatakan, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Bunda Maria menempatkan diri sebagai hamba Tuhan, walaupun telah dipilih untuk menjadi Bunda Putera Allah yang Mahatinggi. Bunda Maria telah terlebih dahulu melaksanakan apa yang kemudian diajarkan oleh Tuhan Yesus, “Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” (Luk 17:10)

Apakah dalam setiap kehidupan sehari-hari: di rumah, di tempat kerja, di komunitas dan paroki, kita telah menempatkan diri sebagai hamba Allah? Apakah kita sudah menjadi orang yang rendah hati dan tidak sombong?

Tidak minta diistimewakan

Kerendahan hati Bunda Maria juga nampak dari kesediaannya untuk melakukan segala ketentuan yang berlaku, tanpa meminta keistimewaan, walaupun sesungguhnya keadaannya adalah khusus dan istimewa. Bunda Maria tetap mengikuti ketentuan Taurat Musa tentang seorang wanita yang baru melahirkan, “Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan” (Luk 2:22).

Menjadi permenungan bagi kita, teladan kerendahan Bunda Maria ini. Sebab terdapat kecenderungan manusiawi bahwa seseorang yang istimewa menuntut perlakuan istimewa. Namun di sini Bunda Maria menunjukkan teladan yang sebaliknya. Walaupun ia telah dipilih oleh Allah Pencipta untuk mengandung dan melahirkan Putera-Nya dengan kuasa Roh Kudus -dan karena itu ia sesungguhnya tetap murni dan tak memerlukan pentahiran- namun Bunda Maria tetap memenuhi ketentuan Taurat Musa, karena ia tidak menuntut perlakuan istimewa, tidak ingin meninggikan diri ataupun menarik perhatian. Bunda Maria menempatkan diri sebagai hamba Allah yang tersembunyi, dan tidak dikenal secara istimewa oleh orang-orang sezamannya.

Menjadi pertanyaan bagi kita: Apakah kita menuntut keistimewaan ketika kita melayani? Apakah kita mau mengikuti aturan yang berlaku dan menjalankannya dengan sukacita?

Menyimpan segala perkara dalam hati dan merenungkannya

Selain dari tidak menuntut perlakukan istimewa, teladan kerendahan hati Bunda Maria nampak dari kesederhanaannya dan kesediaannya untuk menyimpan segala perkara di dalam hatinya. “Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk 2:19,51). Di dalam proses menyimpan di dalam hati inilah, kita melihat bahwa Bunda Maria menerima segala perkara yang terjadi dalam kehidupannya dan merenungkan maknanya. Bunda Maria menerima keadaannya yang sederhana dan miskin, tak mengeluh saat harus melahirkan di kandang yang hina dan ditolak oleh sanak saudaranya. Namun ia juga mengalami penghiburan dari Tuhan, saat para gembala dan orang majus menyembah Putera-nya dan para malaikat menyanyikan kidung pujian bagi-Nya. Saat mempersembahkan Yesus di bait Allah, Bunda Maria merenungkan nubuat Simeon, bahwa kelak pedang akan menembus jiwanya. Bersama Yusuf suaminya, Bunda Maria harus mengungsi ke tanah Mesir dengan membawa bayi Yesus. Sekembalinya dari tanah Mesir, mereka hidup sebagai keluarga kecil dan sederhana di Nazaret. Bunda Maria juga mengalami kekhawatiran luar biasa saat kehilangan Yesus di bait Allah saat Ia berumur 12 tahun, dan mungkin juga keterkejutan ketika menemukan-Nya, Yesus malah berkata bahwa Ia harus selalu berada dalam rumah Bapa-Nya, dan dengan demikian mengatakan bahwa bait Allah itulah rumah-Nya yang sesungguhnya. Namun di antara semua pengalaman hidupnya, Bunda Maria selalu menyimpannya di dalam hati dan merenungkannya. Ia menghayatinya bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan bagian dari rencana Allah yang terbesar, dan ia menyediakan dirinya untuk mengambil bagian dalam rencana Allah itu.

Apakah kita juga menyimpan di dalam hati dan merenungkan segala hal yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita? Maukah kita menerima ajaran iman kita: belajar dan merenungkan misteri iman Katolik dan mengambil bagian di dalamnya?

Menghantar sesama kepada Kristus

Akhirnya, kerendahan hati Bunda Maria juga ditunjukkan dengan bagaimana ia mengarahkan sesamanya kepada Kristus. Dalam pesta perkawinan di Kana, saat ia mengetahui bahwa tuan rumah kehabisan anggur, ia berkata kepada para pelayan, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh 2:5). Bunda Maria tidak mengarahkan perhatian orang kepada dirinya yang menemukan keadaan kekurangan itu, tetapi mengarahkan perhatian kepada Puteranya. Bunda Maria menyadari sepenuhnya bahwa ia adalah seorang hamba Tuhan, dan tugasnya adalah menyampaikan kebutuhan sesamanya kepada Puteranya, yang dapat melakukan segala sesuatu. Dalam kerendahan hati, Bunda Maria mengandalkan Tuhan Yesus, dan ia percaya bahwa Puteranya itu mampu menolong mereka yang sedang berkekurangan itu. Dan mukjizat Tuhan diperoleh dengan diikutinya perintah Yesus, dan Ia mengubah air yang telah ditempatkan di tempayan-tempayan itu menjadi anggur. Dan dengan demikian Kristus menyatakan kemuliaan-Nya dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.

Mari kita merenungkan dalam keseharian kita, apakah kita sudah membawa sesama kita kepada Kristus? Atau malah sebaliknya, kita sering mencari pujian dan perhatian kepada diri kita sendiri? Apakah kita telah melayani Tuhan dengan motivasi untuk memuliakan Tuhan?

Totalitas Bunda Maria

Dengan kesediaannya menjadi ibu yang mengandung, melahirkan Kristus dan membesarkan-Nya, Bunda Maria mempersembahkan seluruh hidup-Nya kepada rencana Allah. Ia selalu menyertai Kristus, sejak kelahiran-Nya sampai wafat-Nya. “Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya …” (Yoh 19:25). Bunda Maria tetap setia menyertai Kristus saat hampir semua murid-Nya meninggalkan Dia, ketika Ia diperlakukan sebagai penjahat dan dijatuhi hukuman mati, padahal Ia sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun. Bunda Maria tetap percaya bahwa Puteranya tidak seperti yang dituduhkan. Bunda Maria tetap percaya akan janji Tuhan meskipun ia melihat seolah kebalikan dari apa yang dikatakan oleh malaikat itu kepadanya. Di kaki salib itu, Bunda Maria mempersembahkan segalanya -termasuk Puteranya- kepada Allah Bapa.

Penyerahan total Bunda Maria kepada rencana Allah, membuat kita memeriksa batin: “Tetap setiakah aku kepada Kristus, terutama di saat-saat sulit dalam hidupku? Di saat segala sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan harapanku, apakah aku tetap percaya akan janji Tuhan bahwa ia akan memberikan yang terbaik kepadaku? Apakah aku telah mempersembahkan diriku seluruhnya kepada Tuhan?”

Bunda Maria, teladan evangelisasi, tuntunlah kami kepada Kristus

Evangelisasi intinya adalah menyampaikan Kristus kepada sesama agar mereka mengalami perjumpaan dengan Kristus. Oleh karena itu, Bunda Maria menjadi teladan kita, karena ia-lah yang paling pertama yang telah melakukannya, dan ia telah melakukannya dengan sempurna. Oleh ketaatannya, rencana keselamatan Allah dapat terlaksana. Bunda Maria lah yang telah mengalami Kristus, mengikuti-Nya sebagai murid-Nya yang pertama, dan yang membagikan Kristus kepada dunia, sehingga dunia dapat percaya dan datang kepada Kristus. Dengan kerendahan hati dan pemberian diri yang total, Bunda Maria telah turut mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah.

Kita masing-masing pun dipanggil untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah itu, yaitu agar kita mengalami Kristus, mengikuti Dia dan membagikan-Nya kepada sesama, agar semakin bayak orang percaya, mengenal Kristus dan mengasihi Dia. Semoga Tuhan Yesus membantu kita, agar kita dapat melakukannya dengan cara kita masing-masing.

[1] Lih. Paus Paulus VI, Ekshortasi Apostolik, Evangelii Nuntiandi, 18.

[2] Paus Paulus VI, Evangelii Nuntiandi, 22.

[3] St. Paus Yohanes Paulus II, Redemptoris Missio, 44

[4] Lih. Paus Fransiskus, Lumen Fidei, 30

[5] Theodotus, Homily 6:11 dalam Fr. Luigi Gambero, Mary and the Fathers of the Church, (Ignatius Press, 2006), p. 268.

[6] Lih. St. Paus Yohanes Paulus II, Surat Apostolik, Rosarium Virginis Mariae, 18.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab