Home Blog Page 61

Apakah mereka yang berada di Purgatorium mengalami penderitaan badan?

0

Purgatorium adalah pemurnian setelah kematian, bagi jiwa-jiwa yang mengasihi Kristus namun belum mencapai kesempurnaan kasih, sehingga oleh karena itu, mereka belum dapat memandang Allah dan bersatu dengan-Nya di Surga. Jadi, yang dimurnikan di dalam Purgatorium adalah jiwa, bukan badan (badan mereka telah terpisah dari jiwa oleh karena kematian). Dengan demikian, tidak ada penderitaan badan di Purgatorium, karena hanya jiwa-jiwa yang berada di sana. Namun demikian, dengan cara yang hanya diketahui oleh Tuhan, mungkin saja terjadi penderitaan rasa (pain of sense) yang sangat riil, seperti yang dialami oleh indera tubuh, pada jiwa. Bagaimana hal ini dapat terjadi, hanya Tuhan yang mengetahuinya.

Apakah Api Penyucian sesungguhnya seperti tempat yang penuh dengan api yang berkobar?

0

Rasul Petrus menekankan sifat api yang memurnikan, dengan berkata, “Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu– yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurnian-nya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.” (1Ptr 1:7). Demikian pula, Rasul Paulus menggunakan kata api, yaitu untuk menguji dan memurnikan sehingga ia mengatakan, “… sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api” (1Kor 3:13-15). Dari beberapa ayat ini, terdapat dua interpretasi. Pertama, beberapa Bapa Gereja mengartikan bahwa ada api yang bersifat fisik untuk memurnikan jiwa. Namun, sejumlah teolog berpendapat bahwa api di Purgatorium adalah api yang tidak bersifat fisik seperti api yang sehari-hari kita kenal, melainkan merupakan kata kiasan. Apapun interpretasinya, Gereja Katolik tetap mengajarkan bahwa ada permurnian yang harus dialami oleh jiwa-jiwa di Api Penyucian. Apakah api itu bersifat material atau hanya kiasan, tidak didefinisikan sebagai dogma oleh Magisterium Gereja Katolik. Yang secara definitif diajarkan oleh konsili-konsili adalah adanya hukuman yang memurnikan (poena purgatoriae).

Apakah para Bapa Gereja di masa-masa awal mempercayai Purgatorium?

0

Apa yang ditulis oleh para Bapa Gereja, terutama di zaman awal kekristenan menjadi salah satu dasar ajaran Gereja Katolik. Tulisan mereka yang menyebutkan adanya Purgatorium menjadi bukti nyata bahwa Purgatorium telah diajarkan Gereja sejak abad-abad awal. Di makam- makam jemaat awal sejak abad pertama, di berbagai monumen dan ukiran di katakomba, tertulis doa-doa bagi para arwah orang beriman. Di abad ke-2 sampai abad ke-4, Tertulianus, St. Sirilius dari Yerusalem, St. Yohanes Krisostomus mengajarkan agar kita membantu jiwa-jiwa yang telah meninggal dunia dengan mendoakan mereka. St. Agustinus di abad ke-4 juga mengajarkan bahwa hukuman sementara akibat konsekuensi dosa dapat terjadi di dunia ini maupun setelah kematian, namun ini bukanlah penghukuman kekal. Hukuman sementara setelah kematian terjadi di Purgatorium. St. Gregorius Agung yang hidup di abad-6 mengajarkan adanya Purgatorium/ Api Penyucian sebelum Pengadilan Terakhir. Kita juga melihat praktek para rahib mendoakan jiwa rekan-rekan mereka yang meninggal dengan mendaraskan Mazmur dan mempersembahkan Misa kudus. Hal ini menunjukkan bahwa ajaran untuk mendoakan mereka yang telah meninggal seperti yang diajarkan oleh para Bapa Gereja bukanlah hanya sekedar teori, namun juga telah dipraktekkan dalam kehidupan Gereja, sejak abad-abad awal.

Apakah Perjanjian Lama juga mengajarkan tentang Purgatorium?

0

Perjanjian Lama, yang kita yakini sebagai Sabda Allah memberikan penjelasan tentang bagaimana Yudas Makabe mempersembahkan korban penghapus dosa di bait Allah, bagi sesama saudara sebangsanya yang meninggal dunia di pertempuran (2Mak 12:38-45). Dikatakan di perikop itu bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan yang sangat baik dan tepat, karena Yudas memikirkan kebangkitan (lih. 2Mak 12:43). Korban penghapus dosa atau doa-doa bagi orang-orang yang telah meninggal menyatakan secara implisit adanya Api Penyucian, yaitu keadaan di mana jiwa-jiwa yang telah wafat tersebut dimurnikan dari dosa-dosa yang masih membebani mereka. Sebab walaupun semasa hidupnya mereka tidak sepenuhnya meninggalkan Allah, namun mereka wafat dalam keadaaan tidak sempurna dalam kasih kepada Allah.

Apakah Purgatorium disebutkan dalam Kitab Suci?

0

Pertama, Kitab Suci sendiri tidak mengajarkan bahwa pilar kebenaran adalah Kitab Suci, namun Gerejalah (jemaat/ ekklesia) yang disebut sebagai “tiang penopang dan dasar kebenaran” (lih. 1Tim 3:15). Rasul Paulus juga menegaskan bahwa kita harus berpegang kepada pengajaran lisan dan tertulis dari para Rasul (lih. 2Tes 2:15). Itulah sebabnya, Gereja Katolik senantiasa mendasarkan semua pengajaran pada Kitab Suci, Tradisi Suci para Rasul dan Magisterium Gereja.

Kedua, kalau yang dituntut dari pertanyaan tersebut adalah perkataan persis “Purgatorium” atau “Api Penyucian”, maka kita akan pernah menemukannya, sama seperti kita tidak pernah menemukan kata “Trinitas”. Namun, bukan berarti kalau tidak disebutkan secara eksplisit, maka kita tidak perlu mempercayainya. Faktanya, kita mempercayai dogma Trinitas walaupun tidak ada perkataan “Trinitas” di dalam Kitab Suci. Kalau kita menyimak Kitab Suci, maka kita akan dapat melihat pengajaran tentang adanya Api Penyucian, yang diajarkan dalam beberapa ayat berikut ini:

  • Kej 3:23-24; 2Sam 12:13-14; Bil 20:12; Luk 1:20; Mzm 99:8; 2Taw 6:23: Dosa membawa konsekuensi. Maka, walaupun kita telah mendapatkan pengampunan, namun kita juga harus tetap menanggung konsekuensi dosa, yang bisa ditanggung di dunia ini atau di dunia yang akan datang.
  • 1Yoh 5:16-17; Yak 1:14-15: Perbedaan dosa ringan dan dosa berat. Dosa berat mendatangkan maut atau neraka, sedangkan dosa ringan mendatangkan penghukuman/ ganjaran namun bukan neraka.
  • Ef 2:8; Tit 2:11, 3:7; Yak 2:17,24,26, Gal 5:6, Why 21:27; Ibr 12:14: Kita diselamatkan karena kasih karunia, iman dan perbuatan kasih. Namun, walaupun kita diberi karunia oleh Tuhan serta mempunyai iman, tapi jika tidak sempurna dalam kasih, maka setelah kita meninggal, kita tidak dapat langsung masuk Surga dan memandang Allah. Sebab, tanpa kekudusan tak seorangpun dapat masuk Sorga. Secara implisit hal ini menunjukkan bahwa, bagi mereka yang wafat dalam keadaan belum sempurna dalam kasih, perlu dimurnikan atau disempurnakan terlebih dahulu, dan pemurnian ini disebut Purgatorium (Api Penyucian).
  • Mat 12:32: Ada dosa yang tidak dapat diampuni di dunia ini dan di dunia akan datang. Pernyataan ini menunjukkan bahwa ada dosa yang dapat diampuni di dunia yang akan datang.
  • 1Kor 3:11-15: Pekerjaan setiap orang yang mengimani Kristus, akan diuji,  namun orang itu akan diselamatkan, seperti dari dalam api. Pengujian ini tidak terjadi di Surga, karena di Surga segalanya telah sempurna sehingga tidak diperlukan pengujian. Demikian pula, ujian ini juga tidak terjadi di neraka, karena neraka merupakan ‘tempat’ penghukuman kekal bagi mereka yang telah menolak Kristus, maka semua yang berada di sana tidak dapat beroleh keselamatan dan beralih ke Surga. Sedangkan dikatakan di 1Kor 3:15 bahwa setelah diuji, jiwa tersebut akhirnya dapat memperoleh keselamatan.
  • 1Ptr 1:7: Iman kita akan diuji kemurniannya oleh api.
  • 1Ptr 4:6: Injil diberitakan kepada orang-orang mati.
  • 2Mak 12:38-45: Yudas Makabe memberikan korban penghapus dosa bagi sesamanya yang sudah meninggal. Ini hanya mungkin kalau mereka percaya bahwa ada satu kondisi di mana kondisi itu bukan Sorga dan juga bukan neraka.
  • Ibr 9:27; Luk 16:19-31: Pengadilan Khusus: sesaat setelah kita wafat.
  • Luk 8:17; Mat 25:32-33: Pengadilan terakhir: di akhir zaman.
  • 2Tim 1:16-18: Rasul Paulus mendoakan sahabatnya Onesiforus, yang telah meninggal.

Apakah Purgatorium hanyalah karangan Gereja Katolik saja?

0

Memang ada sebagian umat Kristen non-Katolik yang menganggap bahwa Purgatorium atau Api Penyucian adalah karangan Gereja Katolik belaka. Namun, anggapan ini tidak benar, sebab terdapat  ayat-ayat di dalam Kitab Suci, baik dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, yang mengajarkan tentang keberadaan suatu proses pemurnian setelah kematian, yang menjadi prinsip Api Penyucian. Tulisan para Bapa Gereja juga menunjukkan bahwa jemaat awal telah percaya akan keberadaan Api Penyucian, sehingga tanpa ragu mereka justru menganjurkan agar jemaat yang masih hidup di dunia mendoakan jiwa-jiwa yang telah meninggal dunia. Hal ini juga terlihat dari teks doa bagi yang wafat di berbagai monumen/ batu nisan jemaat awal – contohnya makam Abercius dari Hieropolis di Phrygia (abad ke-2) dan di gereja-gereja bawah tanah/ katakomba, dan teks doa-doa yang dipanjatkan oleh jemaat perdana dalam perayaan Ekaristi bagi jiwa-jiwa yang telah dipanggil Tuhan. Kita tahu bahwa doa-doa ini hanya bermakna kalau Api Penyucian itu sungguh ada, karena jiwa-jiwa yang di Sorga tidak membutuhkan doa-doa dari kita karena telah sampai di Surga; sedangkan jiwa-jiwa di neraka tidak dapat memperoleh manfaat dari doa-doa kita, karena mereka telah memperoleh penghukuman untuk selamanya, atas pilihan mereka sendiri.

Fakta juga menunjukkan bahwa bukan hanya umat Katolik yang percaya akan adanya pemurnian akhir setelah kematian. Umat Kristen Orthodoks, dan juga umat Yahudi Orthodoks juga mempercayai hal ini, walaupun mereka tidak menggunakan istilah Purgatorium. Sampai sekarang ini, umat Yahudi mendoakan sesama anggota mereka -orang tua, anak, suami atau istri, ataupun saudara- yang meninggal dunia, dengan doa yang dikenal dengan sebutan “the Mourner’s Qaddish”,  Kaddish Sang Peratap. Kaddish itu didoakan setiap hari dalam jemaat selama tiga puluh hari, atau selama sebelas bulan untuk kematian orang tua, demi mendoakan pemurnian jiwa mereka. Karena ajaran tentang Purgatorium ini telah diyakini oleh umat Yahudi -baik sebelum zaman Kristus maupun setelahnya- umat Kristen Orthodoks dan umat Katolik sejak awalnya, tidak ada orang yang menolak ajaran ini, sampai pada masa Reformasi Protestan. Nyatanya, kini hampir semua agama mengajarkan agar umatnya mendoakan jiwa-jiwa orang-orang yang sudah meninggal dunia, dan hanya umat Kristen Protestan yang menolak ajaran ini.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab