Home Blog Page 62

Apa yang Kubuat Dengan Talenta yang Ada Padaku?

1
Sumber gambar: http://headofschooldesk.blogspot.com/2011/11/unearth-your-talents-s-unday-13-revised.html

[Minggu Biasa ke XXXIII: Ams 31:10-13,19-20,30-31; Mzm 128:1-5; 1Tes 5:1-6; Mat 25:14-30 ]

Bacaan Injil hari ini mengingatkan kepadaku satu hal penting, yaitu bahwa Allah mengaruniakan kepada tiap- tiap orang, talenta dengan jumlah yang berbeda-beda, sesuai dengan kesanggupan masing-masing (lih. Mat 25:15). Sebab dulu aku pernah berpikir, bahwa mestinya kalau Tuhan adil, Ia akan memberikan kepada setiap orang, talenta dengan jumlah yang sama. Namun perikop Injil hari ini menyingkapkan keadilan Tuhan yang melampaui pemikiran manusia. Allah telah mengetahui kemampuan setiap kita, maka talenta yang diberikan-Nya kepada kita adalah sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Bagiku, kesadaran akan hal ini sangatlah melegakan. Sebab dengan demikian, aku belajar untuk menghargai apa yang Tuhan sudah percayakan kepadaku, tanpa perlu iri hati kepada apa yang dimiliki orang lain. Aku tak perlu iri hati kepada Mozart atau Pierluigi da Palestrina, misalnya, karena mereka diberi talenta musik yang luar biasa. Sebab dari mereka, Tuhanpun menuntut lebih banyak (lih. Luk 12:48). Syukurlah mereka dapat mengembalikan talenta mereka untuk kemuliaan nama Tuhan, dengan menyusun gubahan musik gerejawi yang sangat indah dan agung. Demikian pula, dalam hal rohani, aku dapat menerima dengan suka cita, keberadaan Bunda Maria dan para orang kudus, yang menerima lebih banyak karunia rohani daripada yang kuterima, karena tugas- tugas mereka yang lebih besar dalam rencana keselamatan Allah. Maka, aku dapat memandang mereka seperti seorang adik kelas memandang kakak kelasnya, berusaha -walaupun jatuh bangun- meniru teladan hidup mereka agar kelak, akupun dapat lulus dalam mengarungi ujian kehidupan dengan memelihara iman, harap dan kasih, sampai akhir.

Jadi, sepertinya tak terlalu penting bagiku untuk mempersoalkan berapa banyak talenta yang ada padaku. Entah satu atau dua, tidaklah menjadi soal, sebab yang terpenting adalah bagaimana mengembangkannya. Dalam perikop Injil hari ini, hamba yang menerima satu talenta itu berbuat kesalahan, karena mengubur talentanya itu. Ia tidak percaya bahwa tuannya mempercayakan talenta itu sesuai dengan kesanggupannya. Ia kurang berterima kasih, kurang menghargai pemberian tuannya; atau dengan kata lain, kurang mengasihi tuannya. Karena ia tidak memiliki kasih, maka ia tidak terdorong untuk melakukan apapun untuk menyenangkan hati tuannya itu. Kenyataan ini membuatku bertanya kepada diriku sendiri, sejauh mana aku telah mengasihi Tuhanku? Sebab jika aku mengasihi Tuhan, tentunya aku akan berjuang sekuat tenaga untuk menyenangkan hati-Nya, dengan menghargai dan menggunakan pemberian-Nya, bahkan mengembangkannya, agar dapat kupersembahkan kembali kepada-Nya. Tuhan memberikan kesempatan kepadaku untuk mengembangkan talenta itu di  sepanjang hidupku, dan di akhir nanti Ia akan melihat apakah aku sudah melakukannya. O, betapa kumohon, agar Tuhan membantuku mengembangkan talenta itu sehingga kelak Ia memperolehnya kembali dengan bunganya!

Bacaan Kitab Suci hari ini, mengingatkan kita akan panggilan ini, yaitu untuk mengembangkan  talenta yang ada pada kita, entah itu berkat- berkat jasmani, rezeki, bakat, karunia-karunia rohani dan terutama karunia cinta kasih, untuk memuliakan nama Tuhan. Sebab talenta itu adalah ‘barang titipan’ dari Tuhan, bukan milik kita sendiri, dan kita hanyalah pengelolanya saja.  Di waktu usia hidup kita yang terbatas ini, kita dapat memilih untuk menggunakan berkat-berkat ini untuk melayani Tuhan dan sesama, atau kita menguburkannya saja, supaya tidak usah repot- repot. Sebab untuk mengelola talenta itu, diperlukan pengorbanan, sebagaimana seorang wanita yang rajin bekerja demi kasihnya kepada suami dan anak-anaknya (lih. Ams 31:12-13), ataupun sebagaimana seorang ayah yang meskipun telah lelah bekerja, namun tetap dengan giat mendidik anak-anaknya, agar mereka mengenal ajaran dan nasihat Tuhan (lih. Ef 6:4).

Sabda Tuhan hari ini juga mengingatkan kita untuk terus berjaga-jaga, sambil terus bekerja mengembangkan talenta yang Tuhan sudah percayakan kepada kita. Sebab seberapapun kita menyiapkan diri untuk kedatangan Tuhan di saat kematian kita, namun saat itu akan datang dengan tiba-tiba, seperti pencuri di waktu malam (1Tes 5:2). Kita memang tak dapat mengetahui, kapan saat itu datang, namun kita dapat mengusahakan untuk mengisi hari-hari hidup kita sampai saat itu tiba. Jangan sampai, kita sesungguhnya diberi banyak talenta, tetapi karena kemalasan kita, kita kubur semuanya. Jangan sampai kita hanya memiliki sedikit kasih di dalam hati kita, sehingga kita menjalani hidup dengan berat hati, dan pekerjaan melayani mendatangkan bagi kita rasa lelah tak terperi. Mari kita memohon kepada Tuhan, agar kita memiliki semangat kasih yang berkobar, supaya kita dengan hati riang dan ringan, menggunakan talenta kita untuk melayani Tuhan dan sesama.

Ya, Tuhan, bantulah aku mengelola talenta yang Engkau percayakan kepadaku dengan sukacita, agar kelak dengan suka cita pula, Engkau menerimanya kembali dengan bunganya.”

Apa yang dikatakan oleh Paus Fransiskus tentang Evolusi?

4

Belakangan ini ramai diberitakan orang bahwa Paus Fransiskus menyetujui teori evolusi, sehubungan dengan pidatonya di hadapan Pontifical Academy of Sciences (PAS), tanggal 27 Oktober yang lalu. Benarkah demikian? Berikut ini adalah laporan dari apa yang dikatakan oleh Paus Fransiskus, sebagaimana tertulis dalam CNA (Catholic News Agency), yang teks aslinya selengkapnya dapat dibaca di sini, silakan klik:

Saat meresmikan patung Paus Benediktus XVI di Casina Pio IV, dalam sesi PAS, Paus Fransiskus mengakui kebesaran Paus Benediktus dalam hal akal budinya, dan sumbangsihnya dalam hal teologi, dan kasihnya kepada Gereja dan segenap umat manusia, dan dalam hal kebajikan dan kesalehannya. Paus Fransiskus mengatakan,

“Seperti kamu ketahui, kasihnya (Paus Benediktus) akan kebenaran tidak hanya terbatas pada teologi dan filosofi, tetapi juga keterbukaannya kepada ilmu pengetahuan.” Paus Fransiskus juga mengingatkan bahwa Paus Benediktus-lah yang telah ditunjuk oleh akademi tersebut dan ia telah mengundang presiden PAS untuk menghadiri sinoda tahun 2012 tentang evangelisasi baru, [karena] “sadar akan pentingnya ilmu pengetahuan dalam budaya modern…”

Kembali ke topik tentang Evolusi dan konsep alam, Paus Fransiskus mendorong PAS “untuk mengejar kemajuan ilmu pengetahuan dan untuk mengembangkan kehidupan bangsa-bangsa, terutama yang termiskin….”

“Ketika kita membaca dalam kitab Kejadian tentang Penciptaan, kita dapat menduga/ membayangkan Allah seperti seorang tukang sulap, dengan sebuah tongkat untuk membuat apapun. Tetapi itu tidaklah demikian,” kata Paus.

“Ia [Allah] menciptakan mahluk ciptaan dan memperbolehkan mereka berkembang menurut hukum internal yang diberikan kepada masing-masing, sehingga mereka dapat berkembang dan mencapai kepenuhan keberadaannya. Ia memberikan otonomi kepada ciptaannya di alam semesta, di saat yang sama Ia menjamin mereka akan keberadaan-Nya yang terus menerus, memberikan keberadaan kepada setiap realitas. Dan ciptaan terus ada selama berabad-abad, milenium demi milenium, sampai menjadi seperti yang kita ketahui sekarang, justru karena Allah bukan seorang ‘demiurge‘ atau tukang sulap, tetapi Pencipta yang memberikan keberadaan kepada segala sesuatu.”

Paus Fransiskus melanjutkan, “Awal dunia bukanlah karya yang kacau (chaos), yang berasal dari sesuatu yang lain, tetapi diperoleh langsung dari seorang Pencipta Tertinggi yang mencipta karena kasih.”

The Big Bang, yang dewasa ini diasumsikan sebagai asal usul dunia, tidak bertentangan dengan tindakan Allah dalam penciptaan, malah sebaliknya, mensyaratkan hal itu [tindakan ilahi tersebut]. Evolusi alam tidak bertentangan dengan pandangan tentang penciptaan, sebab evolusi mensyaratkan penciptaan mahluk yang berevolusi.”

“Namun demikian, tentang manusia, terdapat sebuah perubahan dan sesuatu yang baru.”

“Ketika pada hari ke-enam menurut Kitab Kejadian, manusia diciptakan, Tuhan memberikan umat manusia sebuah otonomi yang lain, sebuah otonomi yang berbeda dengan yang ada pada alam, yaitu, kebebasan [kehendak bebas],” ujar Paus.

Ketika Tuhan memerintahkan manusia “untuk memberi nama pada segala sesuatu dan untuk mengarungi sejarah,” Paus berkata, “ini membuat manusia bertanggung jawab terhadap ciptaan, sehingga ia dapat mengelolanya agar dapat mengembangkannya sampai akhir zaman.”

“Karena itu para ilmuwan, secara khusus ilmuwan Kristen, harus mengambil pendekatan dengan mempertanyakan masalah masa depan kemanusiaan dan bumi, dan secara bebas dan bertanggungjawab, membantu untuk mempersiapkannya dan menjaganya, untuk mengurangi resiko-resiko bagi lingkungan dari baik kodrat alam maupun kodrat manusia. Tetapi, pada saat yang sama, para ilmuwan, harus didorong oleh keyakinan bahwa dalam mekanisme yang terus berubah, alam menyembunyikan kemungkinan bagi akal budi dan kebebasan untuk menemukan dan menyadari, untuk mencapai perkembangan yang ada did alam rencana Sang Pencipta.”

Paus Fransiskus menyebutkan bahwa tindakan-tindakan manusia sebagai partisipasi dalam kuasa Allah, dengan menambahkan bahwa umat manusia dapat membangun sebuah dunia yang sesuai dengan kehidupan jasmani dan rohaninya; untuk membangun dunia yang manusiawi bagi seluruh umat manusia, bukan hanya bagi sekelompok tertentu dari orang-orang yang beruntung.

“Harapan dan kepercayaan akan Allah ini… dan akan kapasitas semangat manusia, dapat menawarkan kepada para peneliti sebuah energi baru dan ketenangan yang mendalam,” menurut Paus.

“Tetapi juga benar, bahwa tindakan manusia -ketika kebebasan menjadi otonomi- maka ini bukan kebebasan tetapi otonomi- merusak ciptaan dan manusia mengambil tempat sebagai pencipta. Dan ini adalah dosa yang berat melawan Allah Sang Pencipta.”

Mengakhiri pidatonya, Paus Fransiskus mendorong anggota-anggota PAS untuk melanjutkan karya mereka dan inisiatif mereka untuk kebaikan seluruh manusia.

Walaupun perkataan Paus ini ramai dibicarakan di mass media, seolah-olah Paus telah mengatakan sesuatu yang baru tentang evolusi, namun sebenarnya tidak demikian. Hal ini dijelaskan oleh seorang astronomer ternama di Vatikan, Bro. Guy Consolmagno. Ia menjelaskan di media yang sama (CNA) -teks selengkapnya, silakan klik di link ini.

Dalam khotbahnya Paus menyebutkan tentang Big Bang dan evolusi, sehingga banyak headline di media massa mengatakan bahwa Paus secara resmi telah mengadakan perubahan terhadap posisi Gereja terhadap teori evolusi dan Big Bang. Terhadap pernyataan Paus ini,  Br. Consolmagno mengingatkan bahwa kedua teori tersebut adalah hasil karya dari imam Katolik: Basis genetika dari teori evolusi modern diambil dari karya Gregor Mendel, seorang rahib Katolik; dan teori Big Bang, pertama kali diperkenalkan oleh Georges Lemaitre, seorang imam Katolik.

Br. Consolmagno menyatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Paus Fransiskus itu tetap sesuai dengan apa yang dikatakan juga oleh para paus lainnya, termasuk St. Paus Yohanes Paulus II, dalam pidatonya di depan PAS yang berjudul “Kebenaran tidak akan menentang Kebenaran” dan suratnya di tahun 1988 kepada direktur Vatican Observatory on Science and Religion.

Hal penting untuk diketahui tentang topik-topik ini adalah, “Gereja tidak mengambil posisi-posisi tertentu dalam hal-hal ilmu pengetahuan,” kata astronomer tersebut. Karena itu, “ilmu pengetahuan dapat dengan bebas mengajukan penjelasan dan penjabaran tentang terjadinya dunia ini secara alami, dengan mengetahui bahwa tidak ada satupun dari penjabaran ini adalah kata akhir (the final word) dan semua itu adalah berdasarkan asumsi dari alam semesta yang keberadaannya tergantung dari tindakan penciptaan Tuhan.”

Kebingungan atas perkataan Paus mencuat, ketika ia berkata, “Ketika kita membaca dalam Kitab Kejadian tentang Penciptaan, kita dapat menduga bahwa Allah itu seperti tukang sulap, dengan tongkat yang dapat membuat segala sesuatu.” Setelah pernyataan ini, Paus mengatakan bahwa Allah memperbolehkan ciptaan dan mahluk ciptaan untuk berkembang di sepanjang sejarah menurut hukum internal yang diberikan Allah pada saat permulaan penciptaan, dan karena itu, “Allah bukan seorang ‘demiurge‘ atau tukang sulap, tetapi Pencipta yang memberikan keberadaan kepada segala sesuatu.” Sebagai tanggapan kepada mereka yang mengartikan perkataan Paus bahwa Allah bukan sesuatu yang ilahi, Br. Consolmagno menjelaskan bahwa yang dimaksudkan Paus adalah bahwa pandangan Kristiani tentang Allah itu tidak sama dengan pandangan pagan tentang sang ilahi. Penggunaan kata ‘demiurge‘ itu berasal dari tradisi gnostik yang telah dianggap sebagai aliran sesat sejak zaman Romawi kuno. Pandangan ini menggambarkan Allah sebagai seorang ‘pengrajin’ yang membentuk dunia dari material yang sudah ada, yang pada dasarnya adalah pandangan yang sama seperti para dewa-dewi pagan yang dipandang sebagai pengawas segala kegiatan alam. Maka Paus mengatakan pandangan Kristiani tentang Allah bukanlah Allah yang semacam itu.

Umat Katolik, “merangkul pandangan tentang hukum-hukum alam untuk menjelaskan bagaimana alam bekerja- ilmu pengetahuan- sebab, kita tidak mengacaukan tindakan-tindakan hukum-hukum itu dengan tindakan-tindakan Allah.”

Allah adalah alasan mengapa alam semesta ini ada, termasuk waktu dan ruang, dan mengapa ada hukum-hukum alam; dan ilmu pengetahuan semata-mata mencari bagaimana menjabarkan bagaimana hukum-hukum ini bekerja…”

Kesimpulan

Dari pernyataan di atas, kita ketahui bahwa Paus Fransiskus tidak menyampaikan sesuatu yang baru tentang evolusi. Paus hanya menyebutkan bahwa dewasa ini, Big Bang, yang diasumsikan sebagai asal usul dunia, itupun tidak menentang keberadaan penciptaan ilahi oleh Allah. Big bang itu malah mensyaratkannya [jika ilmu pengetahuan membuktikan bahwa memang Big Bang itulah asal dunia].

Akan menjadi bertentangan dengan ajaran iman Kristiani, jika dikatakan bahwa Big bang itu terjadi dengan sendirinya, dari keadaan chaos alam raya, sebagaimana diklaim oleh sejumlah evolusionists, sebab mereka tidak percaya akan keberadaan “Allah/ Sang Pencipta”. Namun tentang hal ini Paus Fransiskus jelas menyatakan, “Awal dunia bukanlah karya yang kacau (chaos), yang berasal dari sesuatu yang lain, tetapi diperoleh langsung dari seorang Pencipta Tertinggi yang mencipta karena kasih.”

Selanjutnya tentang pernyataan Paus, bahwa Allah “memperbolehkan mereka [ciptaan] berkembang menurut hukum internal yang diberikan kepada masing-masing, sehingga mereka dapat berkembang dan mencapai kepenuhan keberadaannya” ini juga secara implisit lebih mengacu kepada evolusi mikro, yaitu evolusi yang berkenaan dengan masing-masing kelompok ciptaan tersebut. Evolusi mikro memang adalah fakta yang dapat diamati, sehingga Gereja Katolik menyetujuinya. Yang masih dalam tahap penyelidikan para ilmuwan adalah evolusi makro (dari species yang satu ke species lainnya) yang dapat mempunyai implikasi bahwa manusia diperkirakan berasal dari mahluk hidup lainnya. Tentang asal usul manusia, Gereja Katolik tidak pernah menyatakan bahwa manusia berasal dari mahluk hidup lainnya.

Sebab tentang manusia, jelas Paus Fransiskus mengatakan, “Namun demikian, tentang manusia, terdapat sebuah perubahan dan sesuatu yang baru.”

Untuk penjelasan selanjutnya, mari kita tunggu saja pernyataan resmi dari kepausan, jika memang dipandang perlu dan apakah memang benar ada pernyataan yang memperjelas posisi Gereja tentang hal ini. Namun jika mengacu kepada pidato Paus Fransiskus yang baru lalu ini, kita tahu bahwa sesungguhnya tidak ada sesuatu pernyataan yang baru sehubungan dengan pandangan Gereja soal evolusi dan Big Bang. Inilah yang dikonfirmasi oleh ilmuwan Vatican Observatory, Br. Guy Consolmagno, S.J. dalam wawancaranya dengan CNA (Catholic News Agency) tanggal 29 Oktober 2014 yang lalu.

Apakah ayat Kel 22:16 bisa mendukung poligami?

0
sumber gambar: https://www.flickr.com/photos/rogersmith/2412096496/

Ada sejumlah orang berpikir bahwa ayat Kel 22:16 dapat dipakai sebagai dasar pembenaran perbuatan poligami, karena menginterpretasikan ‘seseorang (’iyš)’ yang disebut di ayat tersebut sebagai laki-laki dalam status apapun, termasuk yang sudah menikah. Ayat tersebut berbunyi:

“Apabila seseorang membujuk seorang anak perawan yang belum bertunangan, dan tidur dengan dia, maka haruslah ia mengambilnya menjadi isterinya dengan membayar mas kawin.” (Kel 22:16)

Ayat ini ada dalam perikop yang menjelaskan tentang adanya konsekuensi yang harus ditanggung oleh pihak pencuri/ seseorang yang mengambil milik orang lain dengan tidak sah. Maka konteks ayat ini adalah mengajarkan tanggung jawab yang harus diambil oleh seorang laki-laki yang telah mengambil keperawanan seorang wanita. Memang di sana tidak tertulis, apakah seseorang itu adalah laki-laki yang lajang, atau termasuk yang sudah beristri. Namun Gereja dan para ahli Kitab Suci tidak menginterpretasikannya sebagai dasar pembenaran bagi poligami umat Kristen. Demikian pula, adanya ayat-ayat lain dalam Perjanjian Lama, yang menyebutkan bahwa sejumlah patriarkh dan raja yang mempunyai lebih dari satu istri, juga tidak menjadi dasar bahwa umat Kristen boleh meniru untuk mempunyai lebih dari satu istri. Mengapa?

1. Suatu ayat Kitab Suci tidak dapat diinterpretasikan terlepas dari ayat-ayat yang lain.

Karena membaca satu ayat saja dan melepaskan dari konteksnya dan ayat-ayat yang lain, dapat menghantar kepada pengertian yang keliru. Apa yang tertulis jelas sebagai ketentuan dalam Perjanjian Lama, kemudian diperbaharui oleh Kristus dalam Perjanjian Baru, dengan ketentuan yang berbeda, untuk menyampaikan kesempurnaan hukum Allah yang digenapi di dalam Kristus. Jika sudah diperbaharui dan disempurnakan dalam PB, maka menjadi keliru jika kita kembali mengikuti hukum PL yang tidak sempurna. Sebab Allah menghendaki agar kita menjadi sempurna, seperti Ia sempurna adanya (lih. Mat 5:48) dan Allah mempersiapkan umat-Nya secara bertahap untuk mencapai kesempurnaan itu, yang tercapai di dalam Kristus. Maka tidak mungkin, setelah Kristus menyempurnakannya, kemudian Allah kembali menyetujui hukum yang belum sempurna itu, seperti yang tertulis dalam Perjanjian Lama, seolah Kristus belum datang untuk menyempurnakannya.

Contoh: Prinsip ‘mata ganti mata’ dalam PL (lih. Im 24:20; Kel 21:24; 19:21; kemudian diperbaharui oleh Yesus, dalam PB (Mat 5:38-42). Prinsip sunat jasmani PL (Kej 17:10) digenapi dalam PB menjadi sunat rohani (Rm 2:29). Prinsip hari Sabat dalam PL menjadi hari Tuhan dalam PB. Demikian pula, hukum perkawinan yang belum sempurna di zaman PL (sebab saat itu masih dimungkinkan adanya poligami dan perceraian) telah disempurnakan oleh Kristus dalam PB, menjadi perkawinan yang monogam dan tak terceraikan (Mat 19:5-6), sebagaimana dikehendaki Allah sejak awal penciptaan (Kej 2:24).

Seperti halnya kita sebagai umat Kristiani tidak bisa kembali menyetujui prinsip ‘mata ganti mata’, demikianlah kita juga tidak dapat kembali menyetujui poligami dan perceraian, walaupun hal-hal tersebut diperbolehkan dalam PL [karena kekerasan hati manusia], sebab Tuhan Yesus sudah memperbarui ketentuan-ketentuan tersebut dalam PB. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

2. Allah tidak mungkin menentang diri-Nya sendiri (lih. 2 Tim 2:13).

Allah mengambil gambaran perkawinan, yaitu hubungan kasih suami istri, sebagai penggambaran kasih-Nya dengan umat pilihan-Nya. Dalam PL, diajarkan bahwa Allah menyebut bangsa Israel sebagai isteri/mempelai-Nya (lih. Yeh 16:3-14; Yes 54:6-dst; 62:4-dst; Yer 2:2; Hos 2:19; Kid 1-dst). Allah setia kepada bangsa Israel, sebagaimana sang suami terhadap istrinya. Bangsa Israel-lah yang kerap tidak setia, dengan melakukan berbagai penyembahan berhala, yang kerap disamakan dengan perzinahan di hadapan Allah (lih. Yeh 23:1-49, khususnya ay. 37). Di sepanjang PL, tercantum perjuangan jatuh bangunnya bangsa Israel dalam hal penyembahan berhala, yaitu bahwa mereka menyembah allah-allah lain. Namun, Allah sendiri tidak membalas perlakuan umat-Nya Israel dengan berpaling dari umat pilihan-Nya ini. Allah tetap memilih untuk mengutus Putera-Nya sebagai keturunan bangsa Israel ini.

Dalam Perjanjian Baru, Kristus memperbarui ketentuan ini. Gereja menjadi umat pilihan-Nya yang baru. Kasih suami istri yang menjadi penggambaran kasih Allah kepada umat Israel kini digenapi dengan gambaran kasih antara Kristus dan Gereja (lih. Ef 5:22-32). Kristus hanya mendirikan satu Gereja (Mat 16:18) yaitu Gereja yang didirikan di atas Rasul Petrus, dan Iapun menghendaki Gereja-Nya tetap satu agar menjadi saksi hidup bagi kesatuan antara Diri-Nya dengan Allah Bapa (Yoh 17:20-23). Sama seperti Kristus tidak mungkin menyangkal kesatuan antara Diri-Nya dengan Allah Bapa, Kristus juga tidak mungkin menyangkal  kesatuan antara Diri-Nya dengan Gereja yang didirikan-Nya. Kristus juga tidak mungkin mendirikan banyak Gereja, sebab itu tidak sesuai dengan ajaran-Nya tentang perkawinan, yaitu bahwa seorang pria (a man) akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya (his wife, bukan wives/ istri-istrinya), sebagaimana jelas disebutkan dalam Mat 19:5, yang merupakan pengulangan dari apa yang telah ditentukan Allah sejak semula dalam Kej 2:24:

“Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Mat 19:5-6)

Demikianlah, dari ayat ini diketahui bahwa dalam perkawinan hanya dimungkinkan persatuan antara seorang suami dan seorang istri, yang keduanya akan menjadi satu. Keduanya tidak dapat diceraikan manusia, entah dengan memberikan surat cerai, atau dengan tindakan poligami, yang menentang makna perkawinan ‘antara seorang laki-laki dan seorang perempuan’. Tindakan menceraikan istri dan kawin dengan wanita lain disebut sebagai perzinahan, dan pria yang kawin dengan perempuan yang diceraikan juga berbuat zinah, demikian pula perempuan tersebut  (lih. Luk 16:18, Mrk 10:12). Dan jika dalam Mat 19:9, disebutkan adanya kekecualian, maksudnya adalah dalam kasus seseorang yang menikah secara tidak sah (seperti yang umum terjadi di masa itu, yaitu entah karena menikah kedua kali padahal pasangan yang terdahulu masih hidup, atau karena perkawinan incest atau menikah dengan istri saudaranya sendiri, seperti kasus raja Herodes), maka ia haruslah menceraikan istri yang tidak sah tersebut, agar dapat kembali kepada istrinya yang sah (St. Klemens dari Aleksandria (150-216) mengajarkan maksud ajaran Yesus pada ayat Mat 5:32, 19:9, “Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zinah…” Zinah di sini artinya adalah perkawinan antara mereka yang sudah pernah menikah namun bercerai, padahal pasangannya yang terdahulu itu belum meninggal. (Jadi, dalam hal ini, Yesus mengakui perkawinan yang pertama sebagai yang sah, dan perkawinan kedua itulah yang harusnya diceraikan agar pihak yang pernah menikah secara sah dapat kembali kepada pasangan terdahulu).” Maka bahwa Kitab Suci menasihati perkawinan, dan tidak pernah mengizinkan lepasnya ikatan tersebut, telah nyata dalam hukum: ‘Kamu tidak dapat menceraikan istrimu, kecuali karena alasan zinah.’ Dan dianggap sebagai perzinahan, perkawinan dari sebuah pasangan, di mana pihak yang diceraikan oleh salah satu dari pasangan itu, masih hidup. ‘Barangsiapa menceraikan istrinya, berbuat zinah,’ …; sebab ‘barangsiapa menceraikan istrinya, merusaknya’, sebab ia memaksa istrinya itu untuk melakukan perzinahan. Tidak saja ia [suaminya yang terdahulu] yang menceraikannya menjadi sebab dari hal ini, tetapi juga ia [pria yang kemudian mengawininya] yang mengambil wanita itu dan memberikan kepadanya kesempatan untuk berbuat dosa; sebab jika ia tidak mengambilnya, wanita itu akan kembali kepada suaminya.’ (St. Clement of Alexandria, Miscellanies 2:23:145:3; Christ the Educator, Bk. 2, Chap.23).

Seperti halnya di PL, dalam PB juga disebutkan bahwa dosa ketidakmurnian/ impurity (perzinahan dan percabulan) adalah sama dengan penyembahan berhala (lih. Kol 3:5). Dan perbuatan perzinahan ini bahkan dapat dimulai di dalam hati dengan memandang perempuan dan menginginkannya (lih. Mat 5:27-28); dan dengan demikian dosa perzinahan tidak terbatas hanya pada perbuatan yang sudah diwujudkan dalam perbuatan. Jika memandang dan menginginkan wanita saja sudah merupakan dosa perzinahan, apalagi mencemarinya dalam perbuatan perzinahan. Selanjutnya, firman Tuhan dalam PB juga mengajarkan bahwa orang-orang yang yang berbuat cabul dan berzinah ini “tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah” (1Kor 6:9).

3. Kitab Suci harus diinterpretasikan dalam kesatuan dengan Gereja yang melaluinya kita memperoleh Kitab Suci.

Telah sejak abad-abad awal, Gereja mengartikan Mat 19:5-6 tersebut sebagai dasar dari perkawinan yang monogami dan tak terceraikan. Praktek ini dilestarikan sampai sekarang dalam Gereja Katolik. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa walaupun perkawinan monogam ini diyakini oleh sebagian besar umat Kristen, namun dalam sejarahnya terdapat sejumlah orang yang mempertanyakannya. Ada sejumlah orang yang menyebut dirinya Kristen, namun menganut paham poligami/ polygyny, seperti kaum Anabaptists (abad ke-16) dan Mormonism (abad ke-19). Akal sehat menunjukkan bahwa kesaksian jemaat awal yang lebih dekat dengan zaman Kristus dan para Rasul adalah lebih kuat daripada pandangan pribadi sejumlah orang yang terpisah sekian abad dari para Rasul. Sebab jemaat perdana yang menjadi saksi bagi pengajaran Kristus, para rasul dan para penerus mereka, secara tak terputus meyakini hal perkawinan monogam adalah ajaran Kristus yang tidak dapat diubah dan ditawar-tawar. Itulah sebabnya, secara umum umat Kristen tetap berpegang kepada perkawinan yang monogami, justru karena hal itu yang secara jelas terungkap dalam keseluruhan ayat Kitab Suci.

Paham poligami/polygyny yang menentang ajaran ini, setidak-tidaknya menentang 3 hal:
1) martabat perkawinan, yang menjadi gambaran akan kasih Kristus kepada Gereja-Nya; 2) persamaan martabat antara pria dan wanita, yang dalam perkawinan memberikan diri mereka secara total, dan karena itu unik dan eksklusif, hanya untuk pria dan wanita yang bersangkutan, sebab jika ada pihak lain, maka cinta yang diberikan itu terbagi, dan tidak bisa disebut sebagai cinta yang total;
3) otoritas mengajar Gereja, menempatkan dirinya sendiri di atas para penerus Rasul yang diberi wewenang oleh Kristus untuk menginterpretasikan Kitab Suci, dalam hal ini berkenaan dengan ajaran tentang hakekat perkawinan.

Dengan kata lain, mereka yang menentang monogami, membaca Kitab Suci dan mengartikannya sendiri sesuai kehendak dan pengertiannya sendiri, sehingga sampai pada pengertian yang asing yang tidak diajarkan oleh Kristus, para Rasul dan para penerus mereka.

Akhirnya juga perlu kita sadari bahwa poligami adalah paham yang bertentangan dengan hukum kodrat. Ini nyata dari efeknya yang negatif, tidak saja bagi keluarga-keluarga yang bersangkutan (terutama akan menghambat proses pendidikan anak secara sehat dan wajar), tetapi juga bagi masyarakat luas. Itulah sebabnya praktek tersebut ditolak -terutama oleh kaum wanita sendiri- di manapun- jika mereka boleh memilih, termasuk di Indonesia. Secara umum, para wanita yang normal tidak menginginkan dirinya dimadu, dan ini sudah menunjukkan suatu kebenaran kodrati bahwa hukum ini melanggar martabat manusia, dalam hal ini martabat wanita.

Nyanyian Kehidupan

0

Seorang bapak datang kepadaku di Pastoran Gereja Santa Odilia Tangerang tanggal 27 April 2014 malam. Ia ditemani oleh istrinya tercinta. Bapak itu bernama Antonius Agung Sistan dan istrinya adalah Isabella Lauerentia Evielyn Mondong. Ia mohon didoakan agar pengobatan atas penyakit kankernya itu berjalan lancar. Satu kata “doa” itu mengandung sejuta makna. Makna rohani yang mendalam. Di dalam kepedihannya memancarkan ketabahan, harapan, dan iman kepada Tuhan. Ketabahan, harapan, dan imannya itu lahir dari kehidupan doanya yang kuat.

Ketabahan, harapan, dan imannya terungkap dalam doanya ketika aku menumpangkan tangan di atas kepalanya.

Tuhan, aku percaya bahwa Engkau pasti mengangkatku ketika aku menderita.

Terimakasih Tuhan, karena kekuatan-Mu itulah yang membuat aku tetap berdiri tegak sampai hari ini dalam menghadapi penyakitku ini.

Ketabahan, harapan, dan imannya itu tak terhempas dengan penyakit yang semakin menggerogoti tubuhnya. Ia senantiasa mengikuti acara-acara doa bagi orang-orang sakit.

Penyakit yang dideritanya telah membentuknya menjadi seorang pribadi yang semakin peka terhadap penderitaan sesamanya. Ia yakin bahwa Tuhan adalah sumber ketenangan bagi orang-orang yang menderita: “Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku” (Mazmur 62:6). Ia pun membentuk sebuah komunitas para penderita sakit yang tak kunjung sembuh dengan mengkoordinir Misa bagi mereka.

Tuhan akhirnya menganugerahinya untuk meninggal dunia dalam keadaan berahmat. Sebelum menghadap Allah Bapa, ia datang ke tempat ziarah Bunda Maria. Ia mampu menyelesaikan jalan salib di tempat suci itu. Ia juga menerima Sakramen Perminyakan Suci sebagai bekal masuk ke dalam Kerajaan Allah. Pada tanggal 30 Oktober 2014 jam 15.00 aku berdoa dan menyanyikan lagu-lagu rohani lewat telepon yang didekatkan pada telinganya. Ia pulang ke Rumah Bapa pukul 20.45, dalam usia empat puluh dua tahun, dengan iringan doa dan pegangan tangan dari istrinya dan seorang imam, yaitu Rm Anton Gunawan, Ocarm. Ia meninggal pada bulan Rosario dan dua hari menjelang Hari Raya Semua Orang Kudus.

Mendengar berita kepergiannya, aku bergegas pergi ke kamar jenasah pada pukul 23.00, setelah mengajar PIKAT (Pendalaman Iman Katolik) di Paroki Santa Monika Serpong. Ketika mendoakan jenasahnya, aku terkenang dengan perbuatannya yang luhur dan perkataannya yang mengandung makna spiritual. Ia memberikan kepadaku monstrans (tempat pentahtaan Sakramen Maha Kudus) yang indah dengan pesan: “Romo semoga melalui adorasi dengan monstrans ini, banyak jiwa-jiwa menikmati kasih Tuhan”. Selain itu, ia menyampaikan sebuah pesan bagaimana seharusnya menghadapi kehidupan kekal. Pesannya itu ia sampaikan setelah memberikan kesaksian di Persekutuan Doa Pembaharuan Karismatik Katolik Santo Lukas pada tanggal 21 September 2014. Isi pesannya: “Hidup harus diakhiri dengan nyanyian”. Aku terkejut ternyata apa yang dikatakannya itu telah disampaikan oleh Santo Fransiskus Asisi sebelum ia meninggal dunia: “Aku tidak bisa berhenti bernyanyi karena sebentar lagi Aku sudah masuk ke dalam kebahagiaan Allahku”. Lagu “Here I am Lord” merupakan lagu favoritnya karena menggambarkan jalannya menuju kehidupan kekal.

Banyak orang menangisi kepergiannya. Kesedihan itu nampak dari air mata ratusan umat yang hadir dalam Misa Penutupan Peti. Misa Penutupan Peti itu bertepatan dengan Hari Peringatan Arwah Orang Beriman pada tanggal 02 November 2014. Deraian air mata itu tidak hanya mengungkapkan perkabungan, tetapi lebih-lebih merupakan keharuan atas jejak imannya dalam menanggung penyakitnya. Kesetiaan imannya mengingatkanku akan Firman Tuhan: “Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita!…. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan” (Wahyu 2:10).

Pada akhir Misa itu, aku sebenarnya ingin membacakan puisi yang aku buat baginya. Akan tetapi, dadaku terlalu sesak menahan kesedihan sehingga aku memutuskan untuk tidak membacanya. Puisi itu berjudul “Secercah Kenangan”.

Secercah Kenangan

(Puisi bagi Antonius Agung Sistan Yang Telah Berpulang Ke Runah Bapa)

Aku tertegun membaca berita dalam SMS tentang kepergianmu.

Tak terasa air mata ini jatuh tak tertahankan.

Air mata itu adalah air mata kesedihan untuk melepaskanmu.

Untaian kata-kata ketegaran dalam menghadapi penyakitmu terputar kembali dalam otakku.

Senyuman yang senantiasa engkau hadirkan bagi siapa saja dan kapan saja sungguh terpatri di dalam hati.

Banyak hati terkagum dengan ketegaran dan semangat yang engkau torehkan.

Ketegaran, semangat, dan senyumanmu itu menjadi bait-bait “Nyanyian Kehidupan”.

Nyanyian kehidupan itu engkau kumandangkan untuk menyongsong kebahagiaan kekal.

Nyanyian kehidupan itu tak akan lenyap ditelan waktu,

karena telah menjadi kenangan indah dan mengharukan.

Selamat jalan, sobat, untuk mengenakan mahkota surgawi.

Terimakasih atas “Nyanyian Kehidupan” yang engkau wariskan bagi kami.

Pesan yang perlu kita renungkan dalam hati: Kematian pasti akan terjadi. Tak seorang pun sanggup menghindari. Kematian adalah jalan kehidupan yang indah bagi yang mempersiapkan diri.

Tuhan Memberkati

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Kekuatan Doa Rosario

3

Pengantar dari Editor:
Romo Andi Suparman, MI kembali berbagi pengalaman iman dengan kita semua, kali ini mengenai kekuatan Doa Rosario. Pengalaman yang membahagiakan yang dialami seorang ibu yang beliau ceritakan di dalam kisah ini, lahir dari iman yang dalam akan kuasa kasih dan penyertaan Bunda Maria kepada umat Tuhan dalam suka duka tantangan hidup ini, dan dari keterbukaannya kepada sapaan kasih Allah, sebagaimana teladan Bunda Maria yang senantiasa mengatakan ‘ya’ kepada kehendak Allah.

KEKUATAN DOA ROSARIO, SEBUAH KISAH NYATA…

Meninggalkan Bulan Rosario ini, mengundangku untuk kembali bermenung, bagaimana Tuhan menolongku dan mengabulkan doa-doaku melalui pertolongan dan perantaraan Bunda Maria. Dan ternyata masih banyak juga yang lain yang mengalami hal serupa, dalam pengalaman yang berbeda, tetapi semuanya karena kekuatan Doa Rosario….

Setahun yang lalu, aku bertemu seorang ibu muda yang mengisahkan liku-liku perjalanan imannya. Beberapa kali, air matanya menetes dan suara isak tangisnya terdengar saat dia menceritakan kisah ziarah hidupnya yang tidak mudah itu.

Ibu ini berasal dari keluarga Katolik, dan bertumbuh sebagai wanita Katolik. Namun kehendak Tuhan memang mungkin berbeda-beda jalan-Nya untuk setiap orang termasuk dia. Dalam usia yang muda, dia menjadi yatim piatu, karena orang tuanya meninggalkan dia dan saudara-saudaranya dalam usia yang muda. Karena kesulitan hidup, perjalanan imannya menjadi susah…

Kesulitan ekonomi membuatnya hanya mampu menyelesaikan pendidikan hingga SMA, lalu ia bekerja seadanya. Kemudian dia bertemu dengan seorang laki-laki yang berbeda agama dengannya. Cinta memang sering tak bisa dipahami dengan akal. Karena laki-laki itu bekerja baik, dan awalnya kelihatan sebagai seorang yang berhati lembut dan penyayang, maka dia pun memutuskan untuk mengikuti suaminya, dan meninggalkan imannya.

Namun ternyata semuanya berubah setelah ia menikah dan meninggalkan imannya. Pelan-pelan sifat suaminya berubah dan yang aslinya muncul. Ternyata dia seorang yang keras dan fanatik dengan agamanya. Lalu, pekerjaan suaminya juga mulai mengalami kegagalan karena berbagai hal. Ketika dia mulai memiliki anak, kebutuhan keluarga bertambah namun penghasilan keluarga berkurang, sementara dia hanya menjadi ibu rumah tangga sejak menikah. Dengan semua kesusahan hidupnya, ibu muda ini pun hanya bisa pasrah.

Namun rencana Tuhan memang lain. Dalam ketidakpastian hidup dan masa depan keluarga, tiba-tiba dia rindu kembali ke Gereja, mengikuti Misa, dan menerima Komuni. Dia hanya mengurung niat itu dalam hatinya, karena ia takut suaminya marah. Sampai suatu waktu, dia menyampaikan niatnya itu kepada suami, dan ternyata benar suaminya marah dan menolak. Mendengar itu, dia semakin sedih dan takut. Namun hatinya tetap mengatakan untuk tidak menyerah. Lalu ia mulai berdoa Rosario sendirian. Malam hari saat suaminya tidur atau waktu lain ketika dia sendirian di rumah.

Suatu malam suaminya bermimpi. Dalam mimpi itu, dia melihat seorang perempuan berpakaian putih berkilau, berparas cantik sekali, dan wajahnya yang berseri-seri mendatanginya. Dia kaget melihatnya, namun juga terkagum-kagum. Tiba-tiba dia terbangun, dan memandang istrinya yang berbaring di sampingnya, namun tidak berkata apa-apa. Ketika bangun pagi, dia mengatakan kepada istrinya, bahwa dia tidak berkeberatan istrinya ke gereja. Beberapa hari kemudian, dia mengantar istrinya ke gereja. Dan di sana dia sempat melihat patung Bunda Maria di dalam gereja. Selesai Misa, dia menjemput kembali istrinya pulang ke rumah. Di rumah dia bertanya, patung perempuan siapa yang ada di dalam gereja itu. Istrinya hanya menjawab, itu patung Bunda Maria, Ibu Yesus…dan ia pun hanya terdiam.

Dalam perjalanan waktu, ibu itu menceritakan kisah hidupnya kepada pastor paroki, dan menyampaikan niatnya untuk kembali aktif ke gereja dan menerima komuni. Pastornya lantas meminta dia untuk meresmikan pernikahannya dalam Gereja Katolik. Mendengar itu hatinya bagai ditusuk pedang, karena takut bagaimana reaksi suaminya kelak. Setiba di rumah, dia menceritakan niatnya itu kepada suaminya, dan meminta suaminya untuk merestui pernikahan mereka di gereja. Suaminya marah sekali mendengar hal itu, namun ibu itu tidak menyerah. Terus menerus dia berdoa Rosario, memohon pertolongan Bunda Maria.

Suatu waktu suaminya bermimpi lagi dikunjungi oleh perempuan berpakaian putih, berparas cantik itu, mendatangi dia. Ia tersentak kaget dan bangun dari tidurnya. Waktu itu, pikirannya mulai berubah. Ada sebuah rasa dan pikiran aneh dalam dirinya karena dia menghalangi niat itsrinya. Di waktu pagi, ia menceritakan mimpi itu kepada istrinya. Dia bertanya lagi, “Siapa perempuan di gereja itu?” Istrinya menjawab, Itu Bunda Maria, Ibu Yesus. Akhirnya sang suami itu pun menceritakan mimpinya, bahwa ini yang kedua kali dia bermimpi didatangi perempuan berpakaian putih dan berparas cantik itu. Dia mengakui bahwa perempuan itu tidak berkata apa-apa, tetapi dia kagum melihatnya. Dan dia hanya kaget saja, mengapa perempuan itu datang, dan mengapa dia bermimpi setiap kali dia menghadapi tantangan berat sehubungan dengan permintaan istrinya itu untuk kembali ke gereja dan menikah secara Katolik.

Lalu istrinya menceritakan siapa Bunda Maria itu dalam Gereja Katolik. Bahwa Bunda Maria itu adalah Bunda Yesus yang dihormati di dalam Gereja Katolik dan umat sering juga meminta pertolongan dan doa-doanya kepada Tuhan, untuk kebutuhan mereka. Bunda Maria itu seperti ibu bagi umat Katolik, yang selalu menolong mereka melalui doa dan perantaraannya kepada Tuhan di Surga. Ibu itu pun menceritakan kepada suaminya kalau dia juga selalu berdoa memohon pertolongan Bunda Maria melalui Doa Rosario. Suaminya pun heran, dan menjadi berubah. Suaminya meminta kepada istrinya, untuk terus mendoakan keluarga mereka dan meminta pertolongan Bunda Maria itu untuk kebutuhan keluarga mereka. Istrinya sangat bahagia mendengar perkataan dan perubahan sikap suaminya.

Setelah peristiwa itu, suaminya memutuskan untuk menyetujui niat istrinya merestui pernikahan mereka dalam Gereja. Setelah melewati persiapan yang cukup panjang, mereka pun menikah di gereja, walau suaminya tetap memeluk agamanya sendiri. Sejak saat itu, semuanya berjalan baik adanya. Pelan-pelan, keluarga suaminya mengetahui bahwa ia sudah kembali ke gereja, dan mereka pun lama kelamaan bisa menerima kenyataan itu.

Tak lama kemudian, dia mendapat pekerjaan, walau sederhana tapi bisa menghidupi keluarganya, berkat pengumuman yang diperolehnya di gereja. Suaminya pun mengalami banyak perubahan. Sejak saat itu, dia berjanji untuk mengantar dan menjemput istrinya di gereja, dan bahkan menunggu di luar gereja sampai Misa selesai. Kemudian, karena pengalaman pertolongan Bunda Maria itu, ibu ini mulai aktif ke gereja setiap hari Minggu, dan Misa Jumat Pertama, lalu mengikuti Legio Maria. Suaminya selalu mendukungnya, dan setia mengantar dan menjemputnya. Dia selalu berpesan, “Jangan lupa doakan keluarga kita dan terus meminta Sang Bunda itu untuk menolong kita, ya Ma..” Pesan itu selalu membuat istrinya terharu, dan membuat dia semakin bersemangat dalam imannya dan berdoa Rosario.

Tahun lalu, ketika aku menemuniya, sudah lebih dari dua tahun ibu itu kembali ke Gereja, dan keluarganya pelan-pelan berubah. Suaminya pun mulai memiliki usahanya sendiri dan berjalan lancar. Ibu ini pun tak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan dan kepada Bunda Maria. Dan Sabda Bahagia yang dicapkan Yesus pun terngiang di hati kita, “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” (Matius 5: 4-6)

Semoga pertolongan doa Bunda Maria pun selalu menyertai kita sekalian. Marilah kita semakin tekun berdoa Rosario, dan juga mengikuti Misa Kudus, untuk menerima Kristus melalui santapan Tubuh dan Darah-Nya setiap hari, amin.

Oleh Romo Andi Suparman, MI

Bagaimana Sikapku Terhadap Bait Allah?

2

[Minggu Pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran: Yeh 47:1-2,8-9,12; Mzm 46:2-9;1Kor 3:9-17; Yoh 2:13-22]

Basilika St. Yohanes Lateran adalah salah satu gereja pertama yang dibangun oleh jemaat di tengah-tengah penganiayaan di abad-abad awal. Basilika tersebut didedikasikan oleh Paus Sylvester di tahun 324. Awalnya perayaan ini dirayakan hanya di Roma, namun kini dirayakan di seluruh Gereja, sebagai tanda kesatuan dengan Tahta suci. Gereja ini disebut sebagai ‘ibu semua gereja di Roma dan di seluruh dunia’. Peringatan pemberkatan gedung gereja adalah suatu tradisi yang telah dicatat dalam Kitab Suci, sebagaimana dilakukan oleh bangsa Yahudi, yang memperingati Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem, setelah kemenangan Yudas Makabe atas Raja Antiokhus (lih. Yoh 10:22, 1Mak 4:36-59). Demikian pula-lah, setiap tahun seluruh Gereja merayakan pemberkatan gereja Basilika Lateran. Di samping perayaan ini, setiap keuskupan merayakan pemberkatan katedralnya, dan setiap paroki juga memperingati saat pemberkatan gerejanya secara istimewa.

Kitab Suci menjabarkan Bait Allah sebagai tempat kediaman Allah, di mana Allah hadir di tengah umat-Nya. Kita melihat di bait Allah-lah nabi Musa bertemu dengan Allah bagaikan dengan seorang sahabat, dan Allah hadir ditandai dengan tiang awan (lih. Kel 33:7-11). Raja Salomo-pun sujud di hadapan mezbah, saat pentahbisan bait suci, dan Allah menerima segala doa dan kurban persembahan umat-Nya dan menyatakan kehadiran-Nya di sana (lih 1Raj 8:27- 9:3). St. Paus Yohanes Paulus II juga mengajarkan demikian, “Bangunan gereja manapun adalah rumahmu dan rumah Tuhan. Hargailah tempat itu sebagai tempat di mana kita dapat berjumpa dengan Bapa kita bersama” (Homily, 3 Nov 1982). Maka bangunan gereja merupakan simbol bagi Gereja yang dibangun dari batu-batu yang hidup, dengan Kristus sebagai batu penjurunya. Dalam gedung gerejalah, kita berkumpul, mendengarkan sabda Tuhan, mengangkat doa-doa kita, dan merayakan misteri iman kita. Sakramen Mahakudus yang tersimpan di dalamnya, menjadi tanda kehadiran Kristus di tengah umat-Nya. Altar, imam, hosti dan umat yang merayakan perjamuan surgawi juga menandakan kurban Kristus yang satu dan sama itu yang dihadirkan kembali mengatasi ruang dan waktu, untuk menyertai umat-Nya sampai akhir zaman.

Maka marilah kita memasuki rumah Tuhan dengan penuh khidmat dan hormat, sebab tak ada tempat di dunia ini yang lebih layak untuk dihormati, daripada rumah Tuhan. Tiada tempat lain di dunia ini, di mana peristiwa surgawi dapat dihadirkan, di mana Tuhan kita yang mengatasi segala sesuatu memilih untuk mengambil rupa hosti yang kecil dan sangat sederhana, untuk menjadi satu dengan kita. Maka, jika kita memandang gedung gereja kita yang indah ini, semoga rasa kagum kita tidak berhenti hanya sampai di mata atau di mulut, tetapi sampai ke hati. Biarlah kekaguman ini tercermin juga dalam sikap kita. Biarlah penghormatan kita menjadi nyata, saat kita memasuki rumah-Nya, seraya mengambil air suci dan membuat Tanda Salib yang mengingatkan kita akan rahmat Baptisan kita. Biarlah ini menjadi tindakan iman yang memancar keluar dari hati kita, yaitu: saat kita berlutut menghormati tabernakel-Nya, saat kita ikut serta secara aktif dalam perayaan ibadah, mendengarkan firman Tuhan yang dibacakan, turut mengucapkan doa dan nyanyian pujian kepada Tuhan dengan sungguh- sungguh, dan saat kita turut serta mempersembahkan segenap pikiran dan hati kita kepada Allah dalam kesatuan dengan kurban Kristus yang sedang kita rayakan. Semoga kitapun bersegera membuat Tanda Salib dengan penuh syukur, setiap kali kita melewati gedung-gedung gereja Katolik di manapun, sebab di sanalah Kristus hadir dalam sakramen Mahakudus-Nya. Semoga kita memasuki gereja dengan sikap hormat, berpakaian yang layak dan sopan, tidak ngobrol sendiri, tidak makan dan minum, tidak memainkan Hp, dst… sebab kita sadar sepenuhnya bahwa kita sedang berada di rumah Allah, dan menghadap-Nya di hadapan tahta kudus-Nya.

Akhirnya, mari kita meresapkan makna bacaan Injil hari ini. Yaitu bahwa bait Allah yang sejati, sesungguhnya bukanlah sekedar bangunan yang dibuat oleh tangan manusia. Injil menyatakan bahwa Tubuh Yesus adalah Bait Allah yang baru. “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali”. Sang Pengarang Injil menjelaskan, “Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah adalah tubuh-Nya sendiri” (Yoh 2:20-21). Maka jika Tubuh Yesus adalah Bait Allah, demikian jugalah Gereja, yang adalah Tubuh Mistik-Nya. Ya, kita semua, anggota-anggota Gereja, adalah Bait Allah. Ke manapun kita pergi, dan di manapun kita berada, marilah kita selalu mengingat bahwa tubuh kita ini adalah bait kediaman Allah Tritunggal yang Mahakudus. Semoga dengan demikian kita dapat menjalani hidup ini dengan kehendak yang kuat untuk selalu hidup dalam keadaan rahmat, dan lebih bersungguh- sungguh menghindari dosa yang merusak bait Allah ini dan melukai persahabatan kita dengan Allah.

Ya, Tuhan, biarlah kehadiran-Mu di jiwaku menjadi undangan bagiku untuk terus menerus bertumbuh dalam keeratan kasih dengan Engkau. Engkau, yang mencariku di kedalaman jiwaku setiap saat, mari, terimalah sembah sujud dan kasihku yang tidak sempurna ini, dan dalam belas kasihan-Mu, kumohon, sempurnakanlah, ya Tuhan!

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab