Home Blog Page 60

Apakah hubungan antara Api Penyucian dengan Pengadilan Khusus dan Pengadilan Terakhir?

0

Kita tahu bahwa segera setelah manusia meninggal dunia, maka dia akan diadili langsung oleh Kristus. Pengadilan ini disebut Pengadilan Khusus (lih. Ibr 9:27; Luk 16:19-31). Mereka yang meninggal dunia dalam kondisi rahmat, artinya tidak dalam dosa berat, namun belum sempurna dalam kasih, akan dimurnikan dahulu dalam Api Penyucian. Dengan demikian, Pengadilan Khusus memberikan keputusan bahwa sejumlah jiwa orang-orang yang meninggal dunia  akan masuk ke dalam Api Penyucian (atau ke Surga atau ke neraka).

Sedangkan Pengadilan Terakhir terjadi ketika kedatangan Kristus yang kedua atau akhir zaman (lih. Luk 8:17; Mat 25:32-33). Pada saat Pengadilan Terakhir ini, jiwa-jiwa di Api Penyucian yang belum terangkat ke Surga akan mendapatkan tubuh yang telah dibangkitkan dan kemudian diadili di hadapan seluruh umat manusia. Setelah itu, mereka akan masuk ke dalam Surga, tubuh dan jiwa-nya. Setelah Pengadilan Terakhir, Api Penyucian tidak ada lagi karena tidak diperlukan lagi proses pemurnian. Sebab segala sesuatu telah dinyatakan dengan sempurna, dan setiap orang telah memperoleh konsekuensi dari segala perbuatannya.

Apakah semua orang yang masuk ke Surga harus melalui Purgatorium terlebih dahulu?

0

Tidak semua orang yang masuk Surga harus melalui Purgatorium. Bagi yang meninggal dalam keadaan telah sempurna dalam kasih, seperti Bunda Maria dan sejumlah santo-santa, dan orang-orang yang suci hatinya, akan langsung masuk ke Surga tanpa melalui Purgatorium. Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Mat 5:8)

Bukankah pencuri yang disalibkan bersama Yesus langsung ke Firdaus dan tidak perlu melalui Purgatorium?

0

Prinsipnya adalah, pemurnian jiwa dapat terjadi di dunia ini maupun di kehidupan setelah kematian, di Purgatorium. Dalam kasus  si pencuri ini, nampaknya pemurnian ini terjadi di dunia, yang nyata terlihat dalam penderitaannya disalibkan di sisi Yesus. Maka tetaplah contoh tersebut tidak mengubah ajaran Gereja Katolik. Keselamatan kekal diperoleh karena karunia Allah, oleh iman yang bekerja oleh kasih (Ef 2:8; Gal 5:6); dan  keselamatan itu diperoleh melalui pertobatan, yang nyata dalam penerimaan Baptisan (Mrk 16:16; Kis 2:38). Dan  selanjutnya, seseorang tetap harus menjaga kekudusannya sampai akhir hidupnya di dunia, agar ia dapat  diselamatkan dan memandang Allah di Surga (Ibr 12:14).

Kasus penjahat yang bertobat yang disalibkan bersama Yesus adalah suatu contoh yang khusus/ istimewa, sebab apa yang terjadi atasnya juga begitu khusus bahkan langka. Sebab ia- lah satu-satunya orang yang bertobat menjelang ajal, ketika sedang disalibkan bersama Yesus. Maka sekalipun tidak menerima sakramen Baptis, ia menunjukkan  kerinduan akan Pembaptisan, yang tetap menghasilkan baginya buah-buah Pembaptisan (lih. KGK 1258). Penyesalan atas dosa-dosanya dan juga perbuatan kasih yang ditunjukkannya kepada Yesus sudah menjamin keselamatan yang tidak dapat ia terima melalui Sakramen Baptis (lih. KGK 1259). ‘Firdaus’, paradise atau dalam bahasa Yunani adalah parádeisos, yang salah satunya dapat diartikan sebagai satu ‘tempat’ bagi orang-orang beriman yang meninggal dunia sebelum kebangkitan Kristus. ‘Tempat’ ini disebut juga sebagai limbo of the just, the bosom of Abraham (Luk 16:23) atau terjemahannya, pangkuan Abraham, atau Hades (tempat penantian). Semua jiwa yang berada di tempat ini, akan menuju ke Surga secara langsung setelah kebangkitan Kristus. Dalam Syahadat Aku Percaya, kita mengatakan, bahwa kita percaya akan Yesus Kristus, Putera Allah yang Tunggal, …. “yang disalibkan, wafat, dan dimakamkan; yang turun ke tempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati….” Dalam jangka waktu tiga hari setelah kematian-Nya, Yesus datang ke tempat penantian untuk memberitakan wahyu Tuhan secara lengkap kepada jiwa-jiwa yang berada di sana. Di tempat penantian inilah si penjahat yang bertobat itu ada bersama Yesus pada hari itu, sebelum akhirnya Yesus membawanya ke Surga.

Apakah jiwa-jiwa yang ada di Purgatorium dapat masuk ke neraka?

0

Tidak. Ini adalah kabar gembira! Semua jiwa yang ada di Purgatorium, setelah mengalami pemurnian dan pada ‘saat’ yang dipandang tepat oleh Allah, akan dibebaskan dari Purgatorium dan hanya mempunyai satu tujuan: Surga. Jadi, tidak mungkin jiwa-jiwa di Purgatorium dapat masuk ke neraka.

Apakah Purgatorium semacam kesempatan kedua bagi kita untuk bertobat sehingga kita tidak jadi masuk neraka?

0

Purgatorium bukanlah semacam kesempatan kedua bagi umat Allah. Dalam suatu pengadilan khusus, setiap orang menerima hasil penghakiman yang menentukan ganjaran bagi jiwanya pada saat kematiannya. Katekismus (KGK 1022) mengajarkan, “Pada saat kematian setiap manusia menerima ganjaran abadi dalam jiwanya yang tidak dapat mati. Ini berlangsung dalam satu pengadilan khusus, yang menghubungkan kehidupannya dengan Kristus: entah masuk ke dalam kebahagiaan surgawi melalui suatu penyucian atau langsung masuk ke dalam kebahagiaan Surgawi ataupun mengutuki diri untuk selama-lamanya. “Pada malam kehidupan kita, kita akan diadili sesuai dengan cinta kita” (Yohanes dari Salib, Dichos 64).

Apakah percaya Purgatorium = tak percaya kesempurnaan karya penebusan Kristus?

0

Kita percaya akan kesempurnaan karya penebusan Kristus, karena karya tersebut dilakukan oleh Kristus yang adalah sungguh Allah. Kristus melakukannya atas dasar kasih yang sempurna, sampai rela menyerahkan nyawa- Nya untuk kita sahabat-sahabat-Nya (lih. Yoh 15:13). Namun, kesempurnaan penebusan Kristus tidak menjadikan kita, umat-Nya cukup berpangku tangan saja. Sebaliknya,  kita dipanggil untuk menjadi kawan sekerja Allah (lih. 1Kor 3:9). Rasul Paulus bahkan mengatakan, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat” (Kol 1:24).  Jadi, walaupun karya penebusan Kristus sungguh sempurna, namun kita semua dipanggil untuk turut mengambil bagian dalam penderitaan Kristus untuk pertumbuhan Gereja. Inilah sebabnya, seluruh umat Allah juga turut dipanggil untuk mendoakan anggota-anggota Gereja yang masih berada di dalam proses pemurnian di Purgatorium.

Alasan berikutnya adalah, karena kesempurnaan penebusan Kristus tidak otomatis diiringi dengan kesempurnaan kasih umat yang ditebus-Nya, yang harus diwujudkan dengan kasih kepada Allah dan sesama. Padahal, sudah menjadi kebijaksanaan ilahi bahwa Surga adalah kesempurnaan kasih. Dan karena Allah itu sempurna adanya, maka untuk bersatu dengan-Nya, kita-pun harus sempurna (lih. Mat 5:48). Dengan demikian, orang-orang yang meninggal dunia dalam keadaan rahmat, namun belum sempurna dalam kasih, masih perlu dimurnikan terlebih dahulu, sebelum dapat bersatu dengan Allah di Surga. Pemurnian ini disebut Purgatorium. Dengan demikian, Purgatorium bukanlah mencerminkan ketidaksempurnaan penebusan Kristus, namun sebaliknya,  justru menunjukkan kesempurnaan karya ilahi yang menyempurnakan manusia dari dalam sehingga pada saatnya, orang-orang pilihan ini dapat menjadi kudus seperti Kristus (lih. 1Yoh 3:2).

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab