Pertanyaan:
Hai Bu Ingrid, Pak Stef, dan Romo Wanta. Saya mau tanya kenapa ajaran St. Ignatius dari Antiokhia (110), St. Yustinus Martir (150-160), St. Irenaeus (140-202), St. Cyril dari Yerusalem (315-386), St. Augustinus (354-430) yang dijadikan dasar pengajaran Katolik? Bukannya itu hanya pengajaran pribadi-pribadi mereka saja? Bukannya mereka hanyalah sebatas seorang Uskup? Bukannya Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa pengajaran infalible hanya keluar dari Paus dan Konsili.
Tolong dijawab yang rinci atas dasar apa kita mempercayai ajaran pribadi Uskup-Uskup tersebut. Karena saya belum pernah menemukan dasar yang tepat untuk mempercayai ajaran pribadi Uskup.
Thanks. – Andreas
Jawaban:
Shalom Andreas,
Terima kasih atas pertanyaannya tentang apa gunanya tulisan dari para Bapa Gereja. Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa Gereja Katolik senantiasa melihat pentingnya apa yang diajarkan oleh para Bapa Gereja.
1. Tradisi Suci adalah salah satu pilar kebenaran.
Kita tahu, rasul Paulus mengatakan “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2Tes 2:15). Dan Katekismus Gereja Katolik menjelaskan:
KGK, 76: Sesuai dengan kehendak Allah terjadilah pengalihan Injil atas dua cara:
– secara lisan “oleh para Rasul, yang dalam pewartaan lisan, dengan teladan serta penetapan-penetapan meneruskan entah apa yang mereka terima dari mulut, pergaulan, dan karya Kristus sendiri, entah apa yang atas dorongan Roh Kudus telah mereka pelajari”;
– secara tertulis “oleh para Rasul dan tokoh-tokoh rasuli, yang atas ilham Roh Kudus itu juga membukukan amanat keselamatan” (DV 7).
Dengan demikian, Alkitab sendiri mengatakan bahwa kita harus melihat warisan iman, bukan hanya secara tertulis (Kitab Suci), namun juga Tradisi Suci atau Tradisi yang hidup dari generasi ke generasi. Hubungan antara keduanya dikatakan sebagai berikut “Tradisi Suci dan Kitab Suci berhubungan erat sekali dan terpadu. Sebab keduanya mengalir dari sumber ilahi yang sama, dan dengan cara tertentu bergabung menjadi satu dan menjurus ke arah tujuan yang sama” (DV 9). Kedua-duanya menghadirkan dan mendaya-gunakan misteri Kristus di dalam Gereja, yang menjanjikan akan tinggal bersama orang-orang-Nya “sampai akhir zaman” (Mat 28:20).” (KGK, 80)
2. Tulisan dari Bapa Gereja adalah salah satu elemen dalam Tradisi.
Sekarang pertanyaannya, bagaimana kita mengerti Tradisi? Mungkin teks dari Yves Congar dapat membantu kita. Dia menuliskan “In the first place Tradition is something unwritten, the living transmission of a doctrine, not only by word, but also by attitudes, mode of action, and which includes written documents, documents fo the Magisterium, liturgy, patristic writings, catechisms, etc., a whole collection of things form the evidence or monuments of Tradition.” ((Yves, Congar, The Meaning of Tradition, First Edition, First Printing., The Twentieth Century Encyclopedia of Catholicism (Hawthorn Books, 1964), p.10)) atau “Pertama-tama, Tradisi adalah sesuatu yang tidak tertulis, pelimpahan yang berkesinambungan dari sebuah doktrin, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan sikap, pola tingkah laku, dan yang mencakup dokumen tertulis, dokumen Magisterium, liturgi, tulisan-tulisan patristik, katekismus, dll , seluruh koleksi hal-hal bentuk bukti atau karya besar dari Tradisi.” Dengan demikian, kita melihat peran dari tulisan-tulisan dari para Bapa Gereja (patristik), yang membentuk Tradisi.
3. Tulisan-tulisan para Bapa Gereja menjadi sumber yang dapat dipercaya
Kita dapat memakai prinsip “sesuatu yang semakin dekat ke sumber akan semakin mendapatkan efek yang lebih besar.” Sesuatu yang lebih dekat pada sumber panas akan mendapatkan efek yang lebih besar sesuai dengan sumbernya, dalam hal ini panas. Ini berarti kesaksian orang-orang yang lebih dekat ke sumber (baik waktu dan lokasi) dapat lebih dipercaya dibandingkan dengan kesaksian oleh orang yang terpisah jarak dan waktu. Contoh sederhana, kalau kita ingin mendengar cerita kakek buyut kita, maka kita akan lebih percaya cerita atau tulisan dari kakek kita – yang mengalami kehidupan kakek buyut kita -, daripada kesaksian saudara misan kita.
Jadi, kalau misalkan seseorang ahli Alkitab mengatakan bahwa Injil Yohanes tidak ditulis oleh Yohanes karena berdasarkan analisanya, yang mengatakan bahwa tidak mungkin seseorang yang tidak berpendidikan dapat menuliskan suatu buku yang mengandung filsafat yang begitu tinggi, maka salah satu cara untuk membuktikannya adalah:
a. Dengan apa yang tertulis di dalam Alkitab: bahwa Dia adalah murid yang dikasihi oleh Yesus (lih. Yoh 21:20) dan dia adalah satu dari duabelas murid, di mana dia hadir ketika Yesus yang telah bangkit menampakkan diri di danau Tiberias (lih. Yoh 21:1). Dia juga salah satu dari tiga orang (Petrus, Yohanes dan Yakobus) yang senantiasa dekat dengan Yesus, yang melihat Yesus dipermuliakan (lih. Mt 17:1-2) dan yang melihat sengsara Yesus yang dimulai di taman Getsemani (lih. Mt 14:33). Dari gaya penulisan, maka tidak mungkin Petrus yang menuliskan Injil Yohanes, karena terlihat gaya bahasa yang berbeda dengan surat rasul Petrus. Sedangkan Yakobus juga tidak mungkin menuliskan Injil Yohanes, karena Injil Yohanes ditulis menjelang tahun 100 dan rasul Yakobus diberitakan telah meninggal sekitar tahun 40 (lih Kis 12:2). Dan kita tahu juga dari Yoh 19:35 “Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya.” Dan akhirnya kita percaya bahwa Injil Yohanes ditulis oleh Yohanes, karena dia mengatakan “Dialah murid, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar.” (Yoh 21:24). Namun, tidak semua orang dapat menerima argumentasi ini. Dalam kondisi seperti ini, maka kesaksian dari para Bapa Gereja menjadi penting.
b. Dengan tulisan dari Bapa Gereja.
Menurut kesaksian St. Irenaeus (180 AD), yang menjadi murid dari St. Polycarpus, yang adalah murid Rasul Yohanes, dan murid St. Ignatius Martir yang adalah murid langsung dari Rasul Petrus dan Rasul Yohanes. Dengan demikian, kesaksian St. Irenaeus menjadi sangat penting tentang para penulis Injil. Dalam bukunya yang terkenal Against the Heresies, Buku III, bab 1,1 ia menggarisbawahi asal usul apostolik dari kitab Injil,
“Kita telah mengetahui bukan dari siapapun tentang rencana keselamatan kita kecuali dari mereka yang melaluinya Injil telah diturunkan kepada kita, yang pada suatu saat mereka ajarkan di hadapan publik, dan yang kemudian, sesuai dengan kehendak Tuhan, diturunkan kepada kita di dalam Kitab Suci, untuk menjadi dasar dan tonggak dari iman kita…. Sebab setelah Tuhan kita bangkit dari mati [para rasul] diberikan kuasa dari atas, ketika Roh Kudus turun [atas mereka] dan dipenuhi oleh semua karunia-Nya, dan mempunyai pengetahuan yang sempurna: mereka berangkat menuju ujung-ujung bumi, mengajarkan kabar gembira yang diberikan oleh Tuhan kepada kita…. Matius... menuliskan Injil untuk diterbitkan di antara orang Yahudi di dalam bahasa mereka, sementara Petrus dan Paulus berkhotbah dan mendirikan Gereja di Roma…. Markus, murid dan penerjemah Petrus, juga meneruskan kepada kita secara tertulis, apa yang biasanya dikhotbahkan oleh Petrus. Dan Lukas, rekan sekerja Paulus, juga menyusun Injil yang biasanya dikhotbahkan Paulus. Selanjutnya, Yohanes, murid Tuhan Yesus ….juga menyusun Injil ketika tinggal di Efesus, Asia Minor.”
Hal serupa dituliskan juga oleh Origen (185-254) tentang asal usul Injil, dalam In Matthew. I apud Eusebius, His eccl 6.25.3-6:
“[Injil] yang pertama dituliskan oleh Matius, yang adalah seorang publikan tetapi kemudian menjadi rasul Yesus Kristus, yang menerbitkannya untuk umat Yahudi, dituliskan dalam bahasa Ibrani. [Injil] kedua oleh Markus, yang disusun di bawah bimbingan St. Petrus, yang telah mengangkatnya sebagai anak… (1 Pet 5:17). Dan ketiga, menurut Lukas, yang menyusunnya untuk umat non-Yahudi, Injil yang dibawakan oleh Rasul Paulus; dan setelah semuanya itu, [Injil] menurut Yohanes.
Eusebius dalam bukunya Ecclesiastical History (6, 14,5-7) merujuk kepada kesaksian dari St. Clement of Alexandria, yang menuliskan bahwa Yohanes menuliskan Injil [Yohanes] setelah penulis Injil yang lain menuliskan Injil-Injil lain [Matius, Markus, Lukas].
Dari beberapa kesaksian Bapa Gereja ini, maka sangat terlihat bahwa iman kita bukan berdasarkan suatu khayalan, namun berdasarkan suatu fakta yang terjadi dalam sejarah kekristenan. Tulisan-tulisan tersebut dapat memberikan bukti otentik, yang mendukung apa yang telah dituliskan di dalam Alkitab.
4. Tulisan para Bapa Gereja bukanlah ajaran yang tidak mungkin salah, namun begitu penting.
Kita melihat bahwa para Bapa Gereja membentuk sejarah kekristenan. Mereka yang mempertahankan iman Katolik dan melawan ajaran-ajaran yang sesat. Mereka berjuang bukan hanya dengan kata-kata, namun mereka juga menyediakan hidup mereka demi kemuliaan Kristus. Mereka adalah orang-orang pilihan Alah yang dikaruniai rahmat iman yang begitu besar, intelektual yang begitu tinggi, namun mempunyai kerendahan hati. Namun, tidak semua hal yang ditulis oleh mereka adalah tidak mungkin salah. Di sisi lain, adalah suatu kenyataan bahwa mereka memberikan sumbangan tulisan-tulisan yang begitu penting sehingga Gereja Katolik melalui Magisterium Gereja yang dilindungi oleh Roh Kudus, dapat menyatakan suatu ajaran yang tidak mungkin salah dalam hal moral dan iman. Kalau kita melihat dokumen Gereja, maka kita akan melihat begitu banyak kutipan yang diambil dari tulisan para Bapa Gereja. Salah satu ciri dari tulisan para kudus adalah kerendahan hati mereka untuk menyerahkan semua tulisan mereka dalam keputusan Magisterium Gereja. Jadi, pada waktu kita membaca tulisan dari Bapa Gereja, kita juga harus melihat apa yang dikatakan oleh Magisterium Gereja tentang topik tersebut, terutama untuk isu-isu yang cukup kompleks. Dari sini, kita melihat kaitan yang erat antara Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Ketiganya adalah seumpama pilar yang kokoh yang menyangga kehidupan Gereja, sehingga tidak mudah diombang-ambingkan oleh dokrin-dokrin yang bertentangan dengan kebenaran.
Semoga tulisan di atas dapat menjawab pertanyaan anda.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
dear katolisitas,
saya sudah mengetik “apa yang diikat dan dilepas” pada mesin pencari. yang saya temukan antara lain adalah judul ini (apakah gunanya para bapa Gereja). padahal yang saya cari adalah apa maksud Kristus saat mengatakan pada Petrus: apa yang kamu ikat dan lepaskan di dunia akan diikat dan dilepaskan di surga. mohon tanggapan. Tq
[Dari Katolisitas: Tentang makna “mengikat dan melepaskan”: dapat dibaca di artikel Keutamaan Petrus: menurut Kitab Suci, silakan klik, silakan membaca khususnya di sub-judul: Petrus sebagai pemegang Kunci Kerajaan Allah dan diberi kuasa “mengikat dan melepaskan”]
Syaloom Pak Stef dan Bu Inggrid,
Kemarin ketika saya berdiskusi dengan teman non-Katolik, ketika menceritakan tentang Ekaristi, saya mengutip kata2 St Yohanes Rasul yang saya baca di Katolisitas.org. yang mengatakan kurang lebih “makanan yang ingin ku makan adalah Hosti,” saya lupa2 ingat tapi inti dari pernyataan St Yohanes Rasul yang saya mau sampaikan ke teman saya kalau sungguh Hosti itu Tubuh dan Darah Kristus bukan simbol.
Dan dia menjawab, kenapa itu tidak masuk ke Alkitab? Dari mana tau itu benar2 tulisan St Yohanes Rasul, karena pin banyak Injil2 palsu atau tulisan2 yg tidak diilhami Roh Kudus. Saya bingung dalam menjawabnya?
Mohon bantuannya
Terima Kasih
Shalom Leonard,
Terus terang saya dan Stef tidak tahu di mana anda mengutip tulisan seperti itu dalam situs ini, karena setahu kami, kami tidak pernah menuliskan seperti itu. Namun kami memang pernah mengulas tentang Roti hidup, dan mengapa kita umat Katolik merayakan Ekaristi. Mungkin artikel yang anda maksud adalah: Mengapa kita makan Tubuh Kristus, silakan klik dan juga – Roti Hidup dan Perjamuan Kudus, silakan klik
Perikop yang mengatakan bahwa Yesus adalah Sang Roti Hidup itu sudah tertulis di dalam Injil, yaitu Injil Yohanes 6. Silakan anda membaca di sana, dan temukanlah bahwa bukan Rasul Yohanes yang mengatakan tentang hal itu, tetapi Tuhan Yesus sendiri yang mengatakan, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi…. Akulah roti hidup…. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” (Yoh 6:35,48,51).
Gereja Katolik, melestarikan ajaran para rasul, memperingati perjamuan Tubuh dan Darah Kristus ini, sebagaimana yang dipesankan oleh Yesus dalam Luk 22:19. Kristus sendiri menghendaki ibadah seperti perayaan Ekaristi, ketika Ia sendiri melakukannya saat menampakkan diri kepada kedua murid-Nya dalam perjalanan ke Emaus (lih Luk 24: 13-34). Setelah kenaikan Kristus ke surga, para rasul juga melaksanakan ibadah sedemikian, yaitu yang terdiri dari pengajaran para rasul, persekutuan, memecah roti [Ekaristi] dan berdoa (Kis 2:42). Jadi apa yang dilakukan oleh Gereja Katolik sangatlah berdasarkan Kitab Suci, dan hal itu sudah dilakukan sejak Gereja di abad pertama sampai sekarang.
Injil Yohanes adalah Injil yang juga diterima dan ada di dalam Kitab Suci gereja Kristen non- Katolik. Jadi tidak ada yang dipalsukan di sini, dan anda tidak perlu bingung.
Silakan anda membaca artikel seri tentang Ekaristi, di sana sudah diulas dasar- dasarnya.
Sudahkah Kita Pahami Ekaristi
Ekaristi Sumber dan Puncak Kehidupan Kristiani
Sejarah yang Mendasari Pengajaran tentang Ekaristi
Cara Mempersiapkan Diri Menjelang Ekaristi
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Syaloom,,
Maaf maksud saya adalah perkataan dr St Ignatius dr Antiokhia murid St Yohanes Rasul
“…Di dalamku membara keinginan bukan untuk benda-benda materi. Aku tidak menyukai makanan dunia… Yang kuinginkan adalah roti dari Tuhan, yaitu Tubuh KRISTUS… dan minuman yang kuinginkan adalah Darah-Nya: sebuah makanan perjamuan abadi.”
Dia cuma berkata apakah benar2 asli tulisan2 itu? Dan sangat sulit utk menjelaskan kalau Hosti itu benar2 Tubuh dan Darah Kristus kepada yang Non-Katolik.. Jadi saya mengutip perkataan St Ignatius dr Anthiokhia. heehhee
Terima Kasih utk link2 nya
Damai Kristus bersertamu
Shalom Leo,
Kutipan itu diambil dari surat St. Ignatius dari Antiokhia kepada jemaat di Roma, bab ke 7, sebelum ia dibunuh sebagai martir karena membela imannya. Anda dapat membaca keseluruhan surat itu di link ini, silakan klik.
Berikut ini adalah kutipan lengkapnya di bab ke 7 itu:
“The prince of this world would fain carry me away, and corrupt my disposition towards God. Let none of you, therefore, who are [in Rome] help him; rather be on my side, that is, on the side of God. Do not speak of Jesus Christ, and yet set your desires on the world. Let not envy find a dwelling-place among you; nor even should I, when present with you, exhort you to it, be persuaded to listen to me, but rather give credit to those things which I now write to you. For though I am alive while I write to you, yet I am eager to die. My love has been crucified, and there is no fire in me desiring to be fed; but there is within me a water that lives and speaks, saying to me inwardly, Come to the Father. I have no delight in corruptible food, nor in the pleasures of this life. I desire the bread of God, the heavenly bread, the bread of life, which is the flesh of Jesus Christ, the Son of God, who became afterwards of the seed of David and Abraham; and I desire the drink of God, namely His blood, which is incorruptible love and eternal life.” (Terjemahannya: Aku tidak menyukai makanan dunia yang dapat rusak ataupun kesenangan dunia ini… Aku menginginkan roti Tuhan, Roti Surgawi yaitu Tubuh KRISTUS, Putera Allah…. dan aku menginginkan minuman Tuhan, yaitu Darah-Nya: yaitu kasih yang tak rusak, dan kehidupan kekal).
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Dear Katolisitas. Membaca mengenai topik ini, saya jadi ingat istilah “OKNUM” pada masa ORDE BARU. Jika ada pejabat negara yang korup, maka waktu itu ada istilah OKNUM. “Jangan salahkan sistem dan Ajaran Pancasila. Yang salah ialah orangnya (oknumnya)”. Menjadi aneh jika semua pejabat negara korupsi, maka jika begitu yang salah ialah sistemnya. Namun dalam kasus satu atau dua Paus yang tindakannya salah secara moral, tak bisa disebut bahwa seluruh sistem lalu salah. Sebaliknya, paus yang salah secara moral itu tetap salah dan mendapatkan sangsi. Namun ada catatan pula, bahwa walaupun salah secara tingkah laku moral, namun ajaran yang diucapkan dari mulut paus itu tentu tetap ajaran iman yang sama sejak para rasul. Ini saya kira lain sekali dengan pendeta protestan, yang melenceng dari ajaran Katolik, bahkan melenceng pula dari ajaran pendiri kaum protestan yaitu Calvin atau Luther atau Zwingli. Jadi, soal AJARAN IMAN, Katolik tetap konsisten, juga walaupun pausnya tingkah lakunya kurang terpuji. Yang melenceng ialah perilaku oknum paus yang hanya satu dan dua orang saja, namun ajaran paus-paus tetap konsisten. Tak ada paus yang moralnya buruk lalu mengajarkan bahwa boleh aborsi. Tak satupun saya kira. Demikianlah saya kalau boleh berkomentar. Terimakasih pada Pak Stef dan bu Ingrid yang selalu konsisten melayani pengetahuan kami yang awam ini. Salam saya: Isa Inigo.
Shalom,
Terimakasih kepada katolisitas yg selama ini menambah pengetahuan saya ttg iman katolik melalui artikel-artikelnya sehingga saya lebih mendalami dan mengasihi iman katolik. Maju terus katolisitas!
Saya mempunyai beberapa pertanyaan (saya tidak tau harus berkomentar di artikel yg mana, maaf kalau salah tempat).
Beberapa waktu yg lalu saya tertarik pada sebuah gambar profil facebook teman saya yang adalah John Calvin. Akhirnya obrolan kami berlanjut pada ajarannya, yaitu TULIP dan Institutio nya John Calvin. Perbincangan berlanjut dan setelah saya mendalami ajaran Calvin (sebelumnya saya tidak tahu banyak ttg Calvinisme) saya menemukan banyak ajarannya yang sangat bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik. Dari obrolan tersebut ada beberapa hal yg juga menjadi pertanyaan bagi saya :
1. Apakah ada Paus yg mempunyai sejarah gelap seperti punya usaha rumah bordil, punya istri simpanan,dll (pada abad pertengahan, menurut teman saya itu ada bukunya)? Dengan alasan ini, kelihatannya teman saya sulit menerima ajaran Tradisi Suci oleh Bapa Gereja karena perbuatan tercela yg dilakukan tersebut. Apakah para Bapa Gereja dinaungi Roh Kudus 24/7? Mengapa mereka masih bisa melakukan perbuatan yg demikian? Apakah orang-orang yg melakukan perbuatan demikian dapat dipercaya ajarannya?
2. Apakah Bapa Gereja dapat dipengaruhi oleh ajaran sesat? Melihat tulisan-tulisan Bapa Gereja yang menjadi dasar ajaran “meminta dukungan doa santo-santa” adalah diatas tahun 100 AD, maka pada tahun sebelumnya apakah bisa saja masuk ajaran sesat kepada ajaran Bapa Gereja tersebut?
Terimakasih
Shalom Krisma,
Terima kasih atas pertanyaannya tentang Bapa Gereja. Memang dalam hal ini, pandangan TULIP tidak sesuai dengan pengajaran dari Gereja Katolik. Apakah ada paus yang tidak menjadi pemimpin yang baik dalam sejarah Gereja? Paus Alexander VI (1492-1503) adalah contohnya. Paus Alexander VI memang merupakan salah seorang Paus yang paling kontroversial. Kepemimpinannya diwarnai banyak hal yang sangat negatif, misalnya mempunyai hubungan dengan wanita Roma sampai mempunyai empat orang anak. Oleh karena itu memang hidupnya tidak lurus, ia banyak berpihak melindungi anak-anaknya, terutama Cesare Borgia. Pada masa kepemimpinannya juga terjadi perang dan pembunuhan salah seorang anggota keluarganya, yaitu suami dari salah seorang anak perempuannya. Sampai seberapa jauh paus ini menyimpang? Ini masih menjadi bahan diskusi. Namun, bukankah ada begitu banyak Paus yang begitu baik dan kudus? Kalau mau dibandingkan, Yesus juga mempunyai satu rasul yang mengkhianati Dia. Apakah dengan demikian maka kita tidak mau lagi percaya akan ajaran Kristus dan para rasul?
Kalau alasan teman anda tidak dapat menerima tulisan Bapa Gereja karena ada paus yang tidak terpuji perbuatannya, maka hal ini sebenarnya sangat disayangkan. Tradisi Suci – yang salah satunya adalah tulisan-tulisan dari Bapa Gereja -, sebenarnya begitu membantu pemahaman kita akan pesan Kristus. Melalui tulisan-tulisan mereka, kita memperoleh kepastian akan keotentikan Alkitab, belajar bagaimana menentang bidaah, bertumbuh dalam kekudusan, belajar kehidupan doa, dll. Bapa Gereja bukanlah “tidak dapat salah”. Namun, para Bapa Gereja dapat melakukan kesalahan, namun disebut “material heresy“, yaitu mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran dari Magisterium Gereja. Namun, kalau mereka tahu bahwa ajarannya bertentangan dengan Magisterium Gereja, maka dengan dasar ketaatan, maka mereka tidak memaksakan pendapat mereka, melainkan mengikuti apa yang diajarkan oleh Magisterium Gereja Katolik. Coba lihat apa yang dikatakan oleh St. Thomas Aquinas sebelum dia dipanggil oleh Tuhan:
Dengan demikian, Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan bahwa Bapa Gereja tidak pernah salah. Yang diajarkan adalah Paus pada waktu berbicara ex-cathedra (lihat pembahasan di sini – silakan klik) tidak dapat salah, serta pengajaran-pengajaran dari Magisterium Gereja – yang biasanya dikeluarkan melalui konsili-konsili dalam persatuan dengan Paus – tidak dapat salah. Keyakinan ini adalah berdasarkan janji Kristus sendiri yang melindungi Gereja-Nya dari alam maut, dan apa yang diikat di dunia akan terikat di Sorga dan apa yang dilepaskan di dunia akan dilepaskan di Sorga (lih. Mt 16:16-19).
Kalau anda melihat, paus yang tidak benar hidupnya, tidak mengeluarkan ajaran-ajaran yang bersifat ex-cathedra. Silakan menyebutkan pengajaran-pengajaran yang diberikan oleh paus yang tidak baik hidupnya – kalau ada. Justru, kita melihat bahwa Yesus benar-benar melindungi Gereja-Nya, walaupun ada satu masa Gereja dipimpin oleh paus yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Gereja Katolik tetap utuh sampai saat ini, dengan pengajaran yang tidak berubah dan satu. Dengan demikian, tidaklah mendasar kalau kita tidak mempercayai Bapa Gereja karena ada segelintir orang yang tidak hidup menurut ajaran Kristus. Kita mempercayai ajaran Bapa Gereja karena tulisan-tulisan mereka yang membantu kita untuk menyingkap kebenaran dan tidak bertentangan dengan Alkitab. Saya rasa banyak tulisan dari St. Agustinus yang dipakai oleh pengikut John Calvin.
Kalau memang mereka sama sekali tidak menghargai Bapa Gereja, bagaimana pandangan mereka terhadap tulisan-tulisan John Calvin? Bukankah mereka juga sebenarnya menganggap John Calvin adalah seperti Bapa Gereja? Apakah mereka menganggap bahwa tulisan dari John Calvin tidak ada yang salah dan apakah parameter untuk menentukan salah dan benar? Dengan demikian, sebenarnya mereka juga mempunyai masalah yang sama dengan Gereja Katolik – kalau penghormatan terhadap Bapa Gereja dianggap sesuatu yang salah.
Namun Gereja Katolik mempunyai parameter yang jelas, apakah tulisan dari Bapa Gereja benar atau salah, yaitu apakah tulisan tersebut sesuai dengan pengajaran Magisterium Gereja dan tidak bertentangan dengan Alkitab. Dengan adanya Magisterium Gereja sebagai pemegang otoritas akan interpretasi dari Tradisi Lisan (Alkitab) dan Tradisi Suci (termasuk tulisan-tulisan Bapa Gereja), maka umat Allah mempunyai kepastian kebenaran. Pengajaran tentang “persekutuan para kudus” bukanlah hanya berdasarkan ajaran Bapa Gereja saja, namun juga bersumber pada Alkitab. telah didiskusikan secara cukup panjang lebar di sini – silakan klik (diskusi dengan Anton), diskusi dengan Esther dapat dilihat di sini – silakan klik dan diskusi dengan Machmud dapat dilihat di sini – silakan klik. Di diskusi tersebut, terlihat adanya kesinambungan antara apa yang tertulis dalam Alkitab dan apa yang ditulis oleh Bapa Gereja. Pertanyaan saya adalah mengapa dengan Alkitab yang sama, namun para Bapa Gereja menuliskan untuk boleh meminta doa kepada para kudus sedangkan kaum Protestant beserta dengan pendirinya menyatakan bahwa hal itu tidaklah boleh? Bagaimana kita dapat menarik kesimpulan bahwa kemungkinannya hanya Bapa Gereja yang mungkin sesat? Bagaimana dengan kemungkinan bahwa apa yang diajarkan oleh para pendiri Protestan tentang hal persekutuan para kudus adalah salah? Semoga jawaban dan pertanyaan-pertanyaan di atas dapat membantu untuk melihat para kudus di Sorga dalam konteks pengajaran Gereja Katolik.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Syalom Krisma,
Saya benar – benar kagum akan YESUS kita, MESKIPUN dia PAUS [Dari Katolisitas: Mungkin maksud anda, meskipun ada seorang PAUS], kalau hidupnya TIDAK BENAR, maka KUASA EX-CATHEDRApun tidak diberikan. [dari Katolisitas: ini keliru. Kuasa Ex Cathedra itu diberikan kepada semua Paus selaku penerus Petrus. Namun oleh kuasa perlindungan tangan Tuhan terhadap Gereja-Nya, maka para Paus yang hidupnya menyimpang/ tidak kudus tersebut, tidak menggunakan kuasa ex-cathedra tersebut]. itu adalah bukti YESUS yang MELINDUNGI gerejaNYA ( Gereja Katolik SAJA ). Sehingga SELURUH / SEMUA TRADISI SUCI dalam persekutuan dengan MAGISTERIUM dan ALKITAB benar – benar absolut 100% KUDUS dan bisa menuntun kita pada 100% kebenaran mutlak.
I Love You JESUS CHRIST
Shalom Budi Darmawan K.,
Ya memang benar, perlindungan Tuhan terhadap GerejaNya sangat nyata. Saya juga berpendapat demikian. Bahwa Sekalipun ada Paus yang hidupnya tidak lurus, ajaran Gereja tidak akan berubah melainkan tetap murni seperti yg diajarkan Yesus dan Para RasulNya. Saya hanya bertanya mengenai hal ini kepada orang yg lebih tahu dan lebih ahli di bidangnya (Pak Stef dan tim katolisitas) karena saya sendiri tidak/ belum mendapat referensi yg bisa dipercaya dari sejarah gelap Paus ini. Sekalipun memang benar ada Paus yg demikian, tidak mengubah keyakinan saya terhadap Gereja Katolik karena yg saya lihat adalah ajaranNya, bukan beberapa oknum didalamnya yang katanya melakukan kesalahan-kesalahan. Paus sekalipun juga adalah manusia bukan Tuhan, meskipun begitu ia memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada kita umat biasa. Maka baiklah jika kita mendoakan mereka. Saya menjadi mengerti mengapa Gereja Katolik sendiri mengajarkan kita untuk mendoakan Paus, Uskup, dan Imam seperti Alkitab sendiri yg mengajarkan kita untuk saling mendoakan. Selain itu saya juga jadi mengerti bahwa peran Magisterium Gereja Katolik sangatlah penting. Terimakasih untuk tim katolisitas karena dialog ini menambah wawasan dan memperkuat iman saya.
Pax Christi
Dear Budi Darmawan Kusumo. Saya kira kita tidak boleh hanya kagum pada Yesus, tetapi lebih dari itu kita harus menerimaNya sebagai juru selamat dalam hati kita dalam Gereja yang Dia dirikan yaitu Gereja Katolik. Begitulah ajaran Katolik. Salam saya: Isa Inigo.
[Dari Katolisitas: Mengamati komentar dari Budi Darmawan yang telah beberapa kali masuk ke redaksi Katolisitas, maka kami juga mengetahui bahwa Budi ini memang tidak hanya sekedar kagum kepada Tuhan Yesus, tetapi juga telah menerima Dia sebagai Juru Selamat dalam hatinya, dan telah juga menerima Gereja Katolik sebagai Gereja yang didirikan Yesus Kristus. Ya memang benar, kita tidak boleh hanya sekedar kagum kepada Yesus, tetapi harus juga membiarkan hidup kita diubah dan dipimpin oleh-Nya.]
Syalom Isa Inigo dan Tim Katolisitas,
Terima kasih untuk tim katolisitas. Memang BENAR bahwa saya SUDAH DIBABTIS di GEREJA KATOLIK pada tanggal 23 Desember 2007 pada umur 25 tahun saat itu dan menerima SAKRAMEN KRISMA pada HARI RAYA PENTAKOSTA serta IKUT BERPERAN dalam Komunitas Katholik Kharismatik di Surabaya.
Sebelumnya, sejak mulai dari umur 19 sampai 25 tahun itu saya melalang buana dari agama yang satu ke agama yang lain, beribadah di tempat mereka untuk MENCARI KEBENARAN SEJATI. Namun YESUS menghentikan pencarian saya pada Gereja Katolik. Namun hal ini tetap membuat saya semakin penasaran akan Gereja yang sudah Tuhan tunjukkan pada saya, yaitu Gereja Katolik.
Mungkin sama dengan pembaca – pembaca yang lain bahwa saya SERING RAGU akan kebenaran Gereja Katolik, karena bagi saya suatu kebenaran itu harus mempunyai DASAR YANG KUAT, oleh karena itu mohon maaf untuk tim katolisitas yang sering direpotkan oleh saya dengan pertanyaan – pertanyaan seputar Tradisi Suci ( yang bagi saya adalah dasar dari segala kebenaran dan alkitab itu sendiri = 1 Timotius 3 : 15 ).
Beberapa orang bilang kepada saya bahwa keraguan saya itu juga akibat karena OCD = Obsesif Compulsive Behavior ( kalau mau tahu, coba cari di google deh )
Sekarang saya aktif di persekutuan Katolik Kharismatik dan ikut menyebarkan artikel – artikel dari Katolisitas ( tentunya tetap mencantumkan nama katolisitas ) bagi seluruh anggota komunitas. Juga baru 3 kali aktif sebagai pembicara anak muda untuk mengenalkan kebenaran di Gereja Katolik alias pembicara teologi khatolik ( saya belajar sepenuhnya dari katolisitas dan tidak mengambil sekolah teologi ).
Jadi kesimpulannya, biarlah masing – masing dari kita menjalankan peran kita sesuai kehendak Tuhan. Salut untuk TUHAN YESUS yang telah memilih rasul – rasul online di katolisitas untuk membawa kebenaranNYA bagi seluruh umat di dunia. Amin
TUHAN YESUS MEMBERKATI & Bunda Maria selalu menuntun anda pada putraNYA
Syalom Krisma,
Tiba – tiba saya ada ide pada pertanyaan pertama anda. Sebenarnya, pertanyaan pertama itu bisa dinyatakan kembali kepada seluruh para pengikut aliran CALVINISME. Apakah mereka percaya pada khotbah – khotbah para pendetanya ? padahal saya YAKIN 100 % pendeta mereka [manusia] berdosa [Dari Katolisitas: kami edit]. Kalau mereka percaya bahwa khotbah pada pendetanya adalah dari TUHAN, apalagi kita yang berasal dari para BAPA GEREJA.
TUHAN YESUS MEMBERKATI & Bunda Maria selalu menuntun anda pada putraNYA
Pax Christi,
Raymundus membutuhkan info mengenai pengarang masing-masing kitab dalam alkitab. Apakah katolisitas memiliki info ini? Sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak.
Deus Benedicit Nos.
Shalom Raymundus,
Pertanyaan anda sangat baik, tetapi juga dibutuhkan banyak sekali waktu untuk menuliskan informasi mengenai pengarang tiap- tiap kitab dalam Kitab Suci, apalagi jika termasuk keterangan tentang latar belakangnya masing- masing. Silakan, jika anda berminat, silakan mengunjungi situs New Advent Catholic Encyclopedia, dan ketik nama kitabnya di bagian “search” dan nanti anda temukan informasi mengenai kitab tersebut. Misalnya, tentang kelima Kitab Musa (Pentateuch), silakan klik di sini, dan sesudah itu silakan anda ketik nama kitab- kitab lainnya, di fasilitas search di pojok kanan atas.
Mohon maaf pertanyaan ini belum dapat kami jawab sekarang, karena masih banyaknya pertanyaan yang lain dan terbatasnya waktu kami untuk menjawab. Namun anda dapat mengunjungi link di atas, untuk membaca informasi tentang kitab- kitab tersebut, hanya saja masih dalam bahasa Inggris.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Yth Stefanus Tay
Ada tulisan yang menyebutkan kalau Rasul Yohanes adalah seorang ahli filsafat, demikian kah? SIlahkan dilihat yah, thanks…!
Adolf Harnack juga menunjukkan “kelainan” pada Injil Yohanes jika dibandingkan dengan ketiga Injil lainnya. Pembahasannya menunjukkan pemikiran filosofis yang demikian tinggi yakni filsafat Yunani. Justru dengan inilah tidak mungkin Injil Yohanes tersebut berasal dari murid Yesus yang bernama Yohanes, seorang murid termuda diantara dua belas murid Yesus. Kalimat awal pada Injil “Yohanes” bukan murid Yesus itulah yang dijadikan dasar doktrin trinitas!
Mohon Tay bisa mengomentari?
Terima kasih sekali lagi…!
Shalom Maximillian Reinhart,
Silakan melihat jawaban di atas silakan klik, di point 3. Coba anda bandingkan argumentasi yang dikemukakan oleh Adolf Harnack dengan argumentasi di atas. Argumentas Adolf Harnack berdasarkan spekulasi, namun kesaksian dari para Bapa Gereja adalah tulisan-tulisan yang terjadi dalam sejarah Gereja, yang mendukung kesaksian bahwa Injil Yohanes ditulis oleh murid yang dikasihi Yesus, Yohanes.
Artikel ini – silakan klik, mungkin dapat membantu anda. Semoga dapat menjawab pertanyaan anda.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Hai Bu Ingrid, Pak Stef, dan Romo Wanta. Saya mau tanya kenapa ajaran St. Ignatius dari Antiokhia (110), St. Yustinus Martir (150-160), St. Irenaeus (140-202), St. Cyril dari Yerusalem (315-386), St. Augustinus (354-430) yang dijadikan dasar pengajaran Katolik? Bukannya itu hanya pengajaran pribadi-pribadi mereka saja? Bukannya mereka hanyalah sebatas seorang Uskup? Bukannya Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa pengajaran infalible hanya keluar dari Paus dan Konsili.
Tolong dijawab yang rinci atas dasar apa kita mempercayai ajaran pribadi Uskup-Uskup tersebut. Karena saya belum pernah menemukan dasar yang tepat untuk mempercayai ajaran pribadi Uskup.
Thanks.
[dari katolisitas; silakan melihat jawaban di atas – silakan klik]
Comments are closed.