Home Blog Page 160

Bagaimana menghilangkan perasaan bersalah setelah dosa diampuni?

2

Pertanyaan:

syalom ibu/bpk pengasuh katolisitas

Pandangan awam seperti saya mengenai indulgensi adalah bagaimana menghapus rasa bersalah dalam diri seseorang.

Semua orang adalah berdosa dan mewarisi dosa asal dari adam. Oleh karena itu ada adam kedua. Statement ini sudah sering di bahas dalam media ini.

Kalau boleh saya ingin tau dari ibu/bpk pengasuh, mungkin ada dari sejarah gereja atau tulisan bersejarah lainnya, bagaimanakah caranya Rasul Paulus mengatasi rasa bersalahnya, ketika dahulu dia membunuh banyak pengikut Kristen, sebelum ia menjadi Rasul Kristus.

Terimakasih atas perhatiannya.
Pardohar

Jawaban:

Shalom Pardohar,

Rasa bersalah (guilty) pada saat setelah kita melakukan dosa/ perbuatan yang salah di hadapan Tuhan, adalah sesuatu yang positif, sebab rasa bersalah tersebut dapat menghantar kepada pertobatan. Namun setelah dosa kita diampuni oleh Tuhan, maka kita tidak selayaknya membiarkan rasa bersalah itu menghantui kita, sebab hal itu malah dapat menghalangi kita untuk bertumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih. Seseorang yang membiarkan dirinya dipenuhi rasa bersalah, harus berhati-hati agar jangan sampai ia terjebak kepada perasaan putus asa dan berpandangan bahwa Tuhan tidak berkuasa mengampuni dosanya yang telah sedemikian besar. Ini malah menjadi dosa yang jauh lebih serius dari dosa yang telah dilakukannya, sebab termasuk dalam katagori dosa menghujat Roh Kudus, yang tidak dapat diampuni, karena ia sendiri tidak percaya bahwa Tuhan dapat mengampuni, bahkan dosa yang terberat sekalipun, asalkan ia yang melakukannya sungguh-sungguh bertobat.

Selanjutnya tentang apa itu dosa menghujat Roh Kudus, silakan klik di sini.

Pengalaman pertobatan Rasul Paulus merupakan pengalaman rohani yang istimewa, saat Kristus sendiri menghampirinya dalam rupa cahaya dalam perjalanannya ke Damsyik, dan menyapanya dengan perkataan, “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” (Kis 9:4); sebab pada saat ia belum mengenal Kristus, Rasul Paulus bahkan menganiaya para pengikut Kristus. Pengalaman rohani perjumpaan dengan Kristus membawa perubahan total/ pertobatan yang luar biasa dalam hidup Saulus. Ia kemudian bertobat, dibaptis, dan kemudian bahkan menjadi salah satu Rasul Kristus yang banyak menulis surat-surat pengajarannya kepada jemaat/ Gereja.

Sepanjang pengetahuan saya, Kitab Suci tidak menyebutkan secara spesifik bagaimana cara Rasul Paulus menghilangkan rasa bersalahnya setelah pertobatannya. Hanya, kita mengetahui bahwa pertobatannya tersebut membawa pengaruh yang besar dalam kehidupannya selanjutnya: 1) Rasul Paulus begitu berapi-api mewartakan kasih Kristus yang telah menyerahkan nyawa-Nya untuk mengampuninya (lih. Gal 2:20; 1Kor1:23;  2:2); 2) Rasul Paulus dengan rendah hati mengakui kesalahannya yang dulu di hadapan jemaat (lih. 1Kor 15:9); 3) Rasul Paulus menyadari sepenuhnya akan kelemahan dan ketergantungannya atas rahmat Allah dan terus mendisiplinkan dirinya untuk mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar (1Kor 2:3; Flp 2:12); 4) Rasul Paulus tidak takut menghadapi tantangan dan penderitaan yang menyertainya sebagai seorang Rasul (2Kor 11:23-29). 5) Rasul Paulus melupakan apa yang telah terjadi di belakangnya, dan mengarahkan pandangannya kepada apa yang ada di hadapannya (Flp 3:13).

Jika mengikuti teladan Rasul Paulus, maka yang perlu kita lakukan jika jatuh ke dalam dosa adalah, bertobat dengan tulus di hadapan Tuhan. Perjumpaan dengan Kristus yang mengampuni itu terjadi dalam Sakramen Tobat, yang melaluinya kita menerima rahmat pengampunan Allah yang memperbaharui kita menjadi manusia yang baru. Maka pertobatan ini harus terjadi secara terus menerus dalam kehidupan kita, bukan hanya satu kali saja, agar kita senantiasa mengalami rahmat pengampunan Allah yang memerdekakan kita dari keterikatan dosa dan perasaan bersalah.

Semoga setelah menerima pengampunan Allah, kita tidak terus merasa bersalah. Sebaliknya kita malah harus menumbuhkan dalam diri kita rasa syukur yang tanpa henti atas kebaikan-Nya yang tak terbatas, atas pengampunan yang kita terima; dan berjuang semampu kita untuk membalas kebaikan-Nya itu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Paus yang tak dapat bersalah adalah doktrin manusia?

24

Ada banyak orang mempertanyakan doktrin infallibility of the Pope atau ketidakdapatsesatan Paus. Bagaimana mungkin Paus, yang juga manusia tidak mungkin salah? Namun sebenarnya doktrin ini bukan karangan Gereja, namun justru mempunyai dasar yang kuat, baik dari Kitab Suci maupun Tradisi Suci.

Doktrin Katolik tentang Paus tidak mungkin salah harus dimengerti dengan benar, karena sebenarnya tidak mencakup semua tindakan dan perkataan Paus tidak mungkin salah. Yang tidak mungkin salah adalah kalau Paus mengeluarkan pengajaran hanya dalam kondisi Ex-Cathedra, yang harus memenuhi beberapa persyaratan. Mari kita melihatnya satu persatu.

  1. Ex-Cathedra dalam arti harafiahnya adalah “dari tahta”, namun dalam teologi hal ini merupakan suatu dokrin atau ajaran oleh Paus. Dan kata ini mulai didefinisikan dalalm Konsili Vatikan I (1869-1870), Sess, IV, Const. de Ecclesia Christi, c.iv, yang intinya mengatakan bahwa adalah merupakan suatu dogma yang diwahyukan oleh Tuhan bahwa penerus Rasul Petrus, dalam hal ini adalah Paus, kalau Paus berbicara “ex cathedra”, maka tidak akan pernah salah. Hal ini sering disalahartikan oleh orang-orang yang mungkin tidak tahu secara persis pengajaran ini dan kemudian mengatakan bahwa bagaimana mungkin seorang Paus, yang juga manusia tidak pernah salah. Maka mari kita melihat keberatan-keberatan ini:
  2. Doktrin ex-cathedra ini berdasarkan akan janji Yesus sendiri di Mat 16:16-20 “Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” Penerus dari Petrus adalah Paus, dan dengan janji yang sama maka kunci kerajaan surga juga diteruskan oleh penerus Rasul Petrus, yaitu para Paus. Oleh karena kita percaya bahwa janji Yesus adalah YA dan AMIN, kita juga harus menyakini bahwa pada saat seorang Paus berbicara ex-cathedra, maka Tuhan sendiri yang akan melindunginya dari kesalahan.
  3. Bayangkan seorang direktur yang akan meninggalkan perusahaannya ke luar negeri, dan kemudian dia mendelegasikan wewenangnya dan kekuasaannya kepada seseorang. Semua orang tidak akan bertanya-tanya tentang hal ini kalau orang tersebut menggunakan kekuasaannya sebagai seorang direktur agar perusahaan tersebut dapat berjalan dengan lancar. Demikian juga dengan Yesus yang tahu bahwa Dia akan meninggalkan dunia ini, Dia memberikan kekuasaan-Nya kepada rasul Petrus, agar Gereja yang mengembara di dunia dapat mencapai tujuan akhir, yaitu surga.
  4. Dengan demikian Paus juga merupakan tanda kesatuan dari seluruh umat beriman. Tanpa adanya seseorang yang berada di puncak pimpinan, maka gereja akan tercerai berai. Kalau misalkan ada sesuatu ketidak-setujuan tentang suatu ajaran di Alkitab, maka siapa yang akhirnya dapat menentukan mana yang benar? Apakah pendeta di gereja tersebut, sidang gereja lokal, atau siapa? Bagaimana kita bisa tahu bahwa seseorang atau sidang gereja mengajarkan sesuatu yang pasti benar? Nah, di dalam Gereja Katolik, Yesus memberikan kuasa ini kepada Paus, dan juga para uskup dalam persatuan dengan Paus, terutama dalam konsili- konsili. Pada saat mereka menentukan pengajaran yang bersifat Ex-Cathedra, seluruh umat Katolik akan berkata Amin, kami semua percaya. Ini adalah suatu misteri iman yang berdasarkan janji Kristus sendiri, untuk melindungi Gereja-Nya sampai akhir jaman. Dan selama dua ribu tahun lebih, tidak ada ajaran Ex-Cathedra yang menyimpang dari pengajaran Kristus.
  5. Apakah persyaratan seorang Paus dapat memberikan pernyataan Ex-Cathedra? Ada 3 persyaratan: 1) Seorang Paus berbicara di atas kursi Petrus, atau dalam kapasitasnya sebagai seorang Paus.Jadi kalau seorang Paus berbicara dalam kapasitas pribadi, dia tidak berbicara ex- cathedra. 2) Kalau Paus berbicara dalam masalah iman dan moral. Jadi seorang Paus dapat salah kalau dia berbicara tentang science, art, dll. 3) Kalau Paus memberikan doktrin yang berlaku universal atau untuk umat Katolik di seluruh dunia.Jadi kalau Paus hanya memberikan pengajaran di keuskupan atau negara tertentu, maka dia tidak berbicara ex- cathedra. (Lihat: Katekismus Gereja Katolik/KGK, 891, Lumen Gentium/LG, 25).

II. Doktrin ini telah diajarkan dari jemaat awal.

  1. Pada tahun 80 AD, Gereja di Korintus menyingkirkan pemimpin Gereja yang sah. Dan kemudian Paus Clement I, Paus yang ke-4 dipanggil untuk menyelesaikan permasalahan ini, walaupun Yohanes Rasul masih hidup di saat itu dan tinggal di tempat yang lebih dekat ke Korintus daripada Roma ke Korintus. Kemudian Paus Clement I menuliskan “Engkau, dengan demikian meletakkan pondasi pemberontakan, turutilah presbiter dan dimurnikan dengan pertobatan, bertekuk lututlah dalam semangat kerendahan hati.” (First Letter to the Corinthians, 57,1; Jurgens, p.12, #27). Lebih lanjut dia mengatakan, “Kalau seseorang tidak menurut dalam segala sesuatu akan apa yang dikatakannya melalui kami, biarlah mereka tahu bahwa mereka akan melibatkan diri dalam dosa dan tidak dalam bahaya yang kecil.” (First Letter to the Corinthians, 59,1; Jurgens, p.12, #28a).
  2. Sekarang kita melihat St. Irenaeus, uskup Lyons (180-200 AD). Dalam bukunya Against Heresies, dia mengatakan “….lihatlah penerus dari para uskup dari yang terbesar dan dari gereja yang paling terdahulu yang diketahui oleh semua orang, didirikan dan diatur di Roma oleh dua rasul yang terbesar, Petrus dan Paulus; Gereja, di mana mempunyai tradisi dan iman yang terus-menerus diturunkan kepada kami setlah diberitahukan kepada semua orang oleh para rasul. Bersama dengan Gereja ini, karena kebesaran asalnya, semua gereja harus setuju, yaitu, semua umat beriman di seluruh dunia; Dan di dalam Gereja inilah, seluruh umat beriman dimanapun berada telah memelihara apostolik tradisi. (2,2,3; Jurgens, p.90, #210). Kemudian St. Irenaeus memberikan daftar nama-nama Paus dari St. Petrus sampai ke Paus di waktu itu, yang kesemuanya terdiri dari 12 paus. Sampai sekarang, dari Paus pertama, rasul Petrus, sampai Paus Benediktus XVI, berjumlah 265 paus, dan tidak pernah terputuskan.
  3. Pada zaman penganiayaan Gereja sampai sekitar tahun 200, semua paus dihukum mati, kecuali satu orang. Hal ini membuktikan bahwa kerajaan Roma tahu siapa pemimpin dari Gereja, yaitu Paus.

Dari uraian di atas, kita melihat bukti-bukti dari sejarah, bahwa infallibility, Ex-Cathedra, dan bahwa Paus tidak mungkin salah (sejauh memenuhi persyaratan yang disebutkan di atas) adalah doktrin yang bersumber pada ajaran Kristus sendiri dan terbukti juga dari tulisan-tulisan bapa Gereja. Hanya dengan infallibility of the Pope, maka kita dapat mempunyai kepastian iman. Tanpa adanya wewenang mengajar Gereja yang tidak mungkin salah ini, Gereja akan terpecah-pecah menjadi kelompok-kelompok yang meyakini pahamnya sendiri-sendiri, sebagaimana terjadi pada banyaknya denominasi non-Katolik.

 

Apakah yang harus diperhatikan dalam Meditasi Kristiani?

4

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam meditasi Kristiani menurut dokumen CDF yang berjudul Orationis Formas -Tentang beberapa aspek dalam meditasi Kristiani (silakan klik):

1. Meditasi Kristiani = salah satu bentuk doa yang adalah komunikasi antara manusia dengan Tuhan

Dewasa ini dikenal banyak cara meditasi, terutama yang mengetengahkan cara-cara meditasi Timur yang non- Kristiani. Lalu timbul pertanyaan, dapatkah cara-cara tersebut memperkaya meditasi Kristiani. Untuk menjawabnya, perlu dipahami pengertian doa, yang selalu berhubungan dengan iman Kristiani yang memancarkan kebenaran akan Tuhan dan mahluk ciptaan-Nya. Doa melibatkan sikap pertobaan, yaitu, meninggalkan diri dengan cara hidup yang lama untuk menuju Tuhan dalam hidup yang baru. Dengan pengertian ini maka segala teknik yang tidak melibatkan hubungan pribadi dengan Tuhan, namun yang berkonsentrasi kepada diri sendiri tidaklah sesuai dengan ajaran iman Kristiani (lih. OF 3).

2. Kitab Suci mengajarkan bagaimana cara berdoa

Kitab Suci memberikan banyak contoh doa, sebagaimana yang tercatat dalam kitab Mazmur dan kitab-kitab lainnya baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Gereja mengacu kepada kitab-kitab tersebut dalam doa-doanya, sebagaimana ada dalam liturgi dan ibadat hariannya. Secara khusus dalam kitab Perjanjian Baru, Allah mewahyukan diri-Nya dengan lebih jelas di dalam Kristus melalui Inkarnasi sebagaimana tercatat dalam Injil.

Itulah sebabnya mengapa Gereja menganjurkan pembacaan Sabda Allah sebagai sumber doa Kristiani, dan selalu sepanjang zaman mendorong semua orang untuk menemukan makna Kitab Suci secara lebih mendalam melalui doa (lih. OF 6).

3. Doa harus dilakukan dalam kesatuan dalam kehidupan Allah Trinitas

Dengan pengertian doa sebagai komunikasi antara manusia dengan Allah, dan penggabungannya ke dalam kehidupan Allah, maka doa ditentukan oleh apa yang terjadi di dalam kehidupan ilahi Allah itu sendiri. Kehidupan ilahi ini dinyatakan dengan gerakan kasih Allah, yaitu bahwa Kristus, Sang Putera Allah telah datang ke dunia oleh kuasa Roh Kudus, untuk menyelamatkan dunia; dan oleh kuasa Roh Kudus yang sama, Ia kembali kepada Bapa setelah melakukan kehendak Bapa melalui wafat dan kebangkitan-Nya (lih. OF 7).

Itulah sebabnya doa yang sempurna yang diajarkan dalam Injil adalah doa Bapa Kami, yang menyatakan persatuan antara kita dengan Kristus dan sesama, sebab di dalam Kristus kita dapat menyapa Allah sebagai Bapa, dan di dalam Dia kita dapat menyapa Allah Bapa sebagai “Bapa Kami” bersama-sama dengan sesama yang mengimani Kristus. Dengan penghayatan akan kebersamaan kita sebagai anggota-anggota Kristus dalam kesatuan dengan Kristus, maka semua doa yang kita haturkan, walaupun didoakan secara pribadi dan rahasia, merupakan “doa-doa bagi kebaikan Gereja, di dalam Roh Kudus, bersama-sama dengan semua orang kudus-Nya” (OF 7). Dengan demikian, doa tidak dapat dipisahkan dengan Kristus dan Gereja-Nya.

4. Waspadalah terhadap dua penyimpangan doa: Pseudognosticism dan Messalianism

Namun demikian, walaupun Kitab Suci telah banyak mengajarkan tentang doa, sejak abad-abad awal telah muncul adanya bentuk-bentuk doa yang keliru. Dua penyimpangan fundamental dalam hal doa adalah (lih. OF 8-9):

1) Pseudognosticism yang menekankan pada ‘pengetahuan tingkat tinggi/ gnosis‘. Pandangan ini menganggap tubuh/ apapun yang berkenaan dengan materia sebagai sesuatu yang najis/ jahat, sehingga doa dianggap harus melepaskan manusia dari segala sesuatu yang berkenaan dengan materia. Untuk memerangi hal ini para Bapa Gereja meneguhkan bahwa materia diciptakan oleh Tuhan dan karena itu tidak jahat. Rahmat Allah menyempurnakan materia (Grace perfects nature) dan menguduskannya. Maka pengetahuan yang tertinggi bukan dari upaya melepaskan diri dari materia, tetapi dari menghasilkan buah-buah doa, yaitu kasih Kristiani.

2) Messalianism yang menekankan kepada ‘pengalaman’.
Sebagaimana kesempurnaan kasih tak dapat diukur dari pengetahuan/ gnosis sebagai dasar, kasih juga tak dapat diukur dari pengalaman psikologis. Para Bapa Gereja mengajarkan bahwa persatuan jiwa dengan Tuhan dalam doa terjadi secara rahasia dan secara khusus dalam sakramen-sakramen Gereja, bahkan secara khusus dalam pengalaman desolasi, saat seseorang mengambil bagian di dalam keadaan sengsara Kristus, yang menjadi teladan dalam doa.

5. Waspada terhadap tahapan “meninggalkan diri/ mengosongkan diri”

Dengan pengaruh metoda meditasi Timur yang masuk ke dalam dunia Kristen dan komunitas gerejawi maka kita dihadapkan dengan keadaan pembaharuan yang perlu diwaspadai, agar tidak menyimpang. Sebab beberapa orang menggunakan metoda-metoda tersebut dan berusaha mencapai pengalaman rohani seperti yang dialami oleh para mistik Katolik. Bahkan ada yang tanpa ragu menempatkan Sang Ilahi tanpa gambaran, yang disetarakan dengan Allah yang diwahyukan oleh Kristus. Menurut paham ini, persatuan dengan Sang Ilahi diperoleh melalui meninggalkan diri/ pengosongan diri yang total, dan peleburan diri ke dalam Sang Ilahi.

Jika ini dilakukan maka tanpa disadari, masuklah prinsip meditasi non-Kristiani yang tidak sesuai dengan prinsip meditasi Kristiani. Hal inilah yang harus diwaspadai oleh umat Katolik yang melakukan doa meditasi, sebagaimana dikatakan dalam dokumen CDF tersebut. Berikut ini kutipannya:

“Metoda-metoda meditasi …., termasuk yang memiliki titik tolak pada perkataan dan perbuatan Yesus, mencoba sedapat mungkin untuk mengalihkan segala sesuatu yang bersifat duniawi, yang dapat dirasakan ataupun dipikirkan…. Maka hal tersebut merupakan upaya untuk melampaui atau menenggelamkan diri sendiri ke dalam lingkup ilahi, yang dengan demikian, tidak berhubungan dengan dunia, tidak dapat dirasa oleh indera ataupun dapat dikonsepkan di dalam pikiran.” (OF, 11)

Maka keadaan yang perlu diwaspadai adalah kecenderungan untuk ‘menghadirkan’ keilahian dan usaha-usaha untuk mendekatinya. Untuk mencapai hal ini, beberapa metoda meditasi Timur digunakan sebagai persiapan, yang sifatnya mendatangkan ketenangan secara fisik dan psikologis. Persiapan ini nampak tidak berbahaya, namun yang perlu dihindari adalah prinsip yang menolak segala sesuatu yang berhubungan dengan materia/ dunia, termasuk meditasi tentang karya keselamatan Allah yang digenapi di dalam penjelmaan Kristus menjadi manusia, dan akan keberadaan Allah Tritunggal, demi menenggelamkan diri ke dalam ‘lautan ilahi yang tak terbatas’ yang tidak dikenal. Maka proposal yang memadukan meditasi Kristiani dan teknik meditasi Timur harus selalu diperiksa/ dievaluasi agar jangan sampai terjadi sinkretisme yaitu pencampuran nilai-nilai religius yang menghasilkan suatu paham yang bertentangan dengan iman Kristiani (lih. OF, 12)

Melalui pernyataan ini, jelaslah bahwa apapun bentuk meditasi Kristiani yang menggunakan teknik meditasi Timur, dengan pengulangan mantra (baik diucapkan atau tidak diucapkan) dalam metoda pernafasan, ‘mengosongkan diri/ pikiran’ dst, tetap harus dievaluasi agar tidak meninggalkan prinsip doa menurut ajaran iman Kristiani.

Maka tahap ‘meninggalkan/ mengosongkan diri’ harus diartikan menurut iman Kristiani. Hal ini memang dapat diartikan sebagai pengosongan dari pikiran-pikiran yang mengganggu, agar kekosongan itu dapat diisi dengan perhatian kasih kepada Allah. Namun kekosongan ini sebenarnya tidak untuk diartikan kekosongan terhadap apapun sehubungan dengan tubuh/ materia, sampai kita tidak dapat merasakan apa-apa lagi. ‘Mengosongkan diri’ yang dimaksud di sini adalah meninggalkan segala kecondongan terhadap dosa dan keegoisan diri, seperti diajarkan oleh Rasul Paulus dan St. Ignatius dari Loyola (lih. OF 18).

Selanjutnya, St. Agustinus mengajarkan agar jika kita ingin menemukan Tuhan kita harus meninggalkan dunia luar dan masuk kembali ke dalam diri sendiri, tetapi tidak berhenti sampai di situ. Sebab jika berhenti sampai di jiwa kita saja, maka kita tak akan menemukan Tuhan di sana. Tuhan dapat ditemukan melalui mahluk ciptaan-Nya sebab melalui mereka, kita mengetahui kesempurnaan Tuhan yang tak kelihatan (Rom 1:20). Tuhan memang ada di dalam diri kita, namun demikian, di dalam misteri-Nya, Ia mengatasi kita, dan lebih dalam dari kedalaman hati kita. (lih. OF 19)

6. Tak mungkin ada “peleburan manusia ke dalam Sang Ilahi”

Perlu diingat bahwa “manusia pada dasarnya adalah mahluk ciptaan dan akan tetap demikian sampai kekekalan, sehingga sebuah “peleburan manusia ke dalam Sang Ilahi” tidak pernah mungkin terjadi, tidak juga di dalam tingkatan rahmat yang tertinggi” (OF 14).

7. Ekaristi= Persatuan manusia dengan Tuhan

Misteri persatuan antara Tuhan dan manusia adalah misteri yang tak terpahami, di mana manusia disatukan dengan Allah tanpa manusia menjadi Allah, ataupun dilebur/ ditiadakan di dalam Allah (lih. OF 15). Menurut ajaran iman Kristiani, persatuan antara Allah dan manusia dimungkinkan karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, dan menerima hidup ilahi melalui Pembaptisan, dan sakramen-sakramen lainnya, dan puncaknya adalah sakramen Ekaristi, di mana Kristus memberikan diri-Nya untuk kita, dan membuat kita mengambil bagian di dalam hidup ilahi-Nya, tanpa meniadakan kodrat kita sebagai manusia, yaitu kodrat yang dikenakan-Nya juga saat Ia menjelma menjadi manusia (lih. OF 14).

8. Persatuan antara Allah dan manusia diperoleh karena rahmat Tuhan, dan bukan semata atas usaha/ teknik yang dilakukan oleh manusia.

Maka persatuan antara Allah dan manusia menurut iman Kristiani tidak ada hubungannya dengan teknik meditasi, melainkan selalu adalah karunia pemberian Allah.  Orang-orang yang menerima karunia ini adalah mereka yang menyadari bahwa diri mereka sendiri tidak layak menerimanya (lih. OF 23,31). Persatuan mistik ini tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui proses yang panjang, yang dimulai dengan pertobatan/ pemurnian diri, yaitu meninggalkan kecondongan terhadap dosa dan cinta diri, yang terus diterangi oleh kehidupan di dalam Kristus, yang dimulai dari Pembaptisan dan sakramen-sakramen lainnya dan oleh kehidupan doa oleh tuntunan Roh Kudus.

Maka proses ‘pengosongan diri’ menurut ajaran iman Kristiani adalah proses membuang dosa-dosa dari hati kita, agar kita dapat menyediakan ruang untuk Tuhan. Semakin sempurna seseorang menyediakan ruang hatinya untuk Tuhan, semakin siaplah ia menerima karunia persatuan dengan Tuhan. Nah, menurut ajaran iman Kristiani, tidaklah mungkin seseorang menerima kasih Tuhan, jika ia mengabaikan kasih yang diberikan oleh Tuhan melalui Kristus, yang telah wafat dan bangkit untuk memberikan hidup ilahi-Nya kepada kita (lih. OF 20).

Selain itu, karena merupakan karunia, maka persatuan mistik dengan Allah ini dapat diberikan oleh Allah menurut kebijaksanaan-Nya, dan kita tidak dapat memaksakannya. Karunia tersebut, yang secara khusus diberikan kepada para santa/santo ataupun para pendiri institut gerejawi untuk kebaikan Gereja, tidak untuk dikejar-kejar sedemikian, [seolah-olah karunia ini juga harus diberikan kepada setiap orang] bahkan oleh anggota-anggota dalam institut/ kongregasi yang sama (lih. OF 24). Karunia tersebut tidak sama dengan sapta karunia Roh Kudus yang disebutkan dalam Yes 11:1-3, dan juga tidak sama dengan karunia karismatik Roh Kudus yang disebutkan dalam Rom 12:3-21. Dalam hal ini kesatuan dengan pimpinan Gereja adalah penting, sebab merekalah yang bertugas untuk mengarahkannya, tidak untuk memadamkan Roh, tetapi untuk memeriksa segala sesuatu dan untuk berpegang kepada apa yang baik (lih. Lumen Gentium, 12).

9. Waspadalah terhadap simbolisme psiko-fisik

Meditasi Timur mementingkan simbolisme psiko-fisik yaitu pernafasan ataupun detak jantung. Latihan “Doa Yesus” yang mengadaptasi ritme pernafasan, mungkin memang dapat menimbulkan ketenangan yang sungguh membantu bagi banyak orang. Namun simbolisme ini tidak dapat dijadikan sebagai segala-galanya, sebab jika demikian dapat menjadi penghalang bagi jiwa kita untuk naik kepada Tuhan. Juga, kesadaran akan tubuh sebagai simbol tidak dapat disamakan dengan doa, sebab hal ini dapat mengakibatkan kultus tubuh yang mengartikan apapun perasaan yang dialami tubuh [rasa tenang/ relax, hangat, terang] sebagai pengalaman spiritual (lih. OF 27,28), dan tentu seharusnya tidaklah demikian. Menganggap perasaan-perasaan tersebut sebagai karunia Roh Kudus, adalah pemahaman yang keliru tentang kehidupan rohani.

Namun demikian, bukan berarti bahwa semua praktek meditasi yang diambil dari cara meditasi Timur tersebut sama sekali tidak berguna. Cara-cara tersebut dapat membantu, namun harus diingat bahwa persatuan dengan Tuhan mensyaratkan hati yang senantiasa berjaga agar tak jatuh dalam dosa, dan hati yang selalu memohon bantuan ilahi, yang disebut sebagai “berdoa yang tak kunjung henti” bahkan di tengah-tengah karya pelayanan terhadap sesama. Maka kehidupan doa Kristiani yang otentik adalah kehidupan doa yang dibarengi dengan perbuatan kasih dalam kerjasama dengan misi Gereja untuk melayani sesama demi kemuliaan nama Tuhan (lih. 1Kor 10:31, OF 28).

10. Buah kontemplasi Kristiani = kerendahan hati yang membuahkan kasih.

Telah disampaikan di atas, bahwa kasih Allah yang menjadi satu-satunya obyek kontemplasi Kristiani adalah suatu realitas yang tak dapat dikuasai oleh metoda atau teknik apapun (lih. OF 31).

Semakin dekat seseorang kepada Tuhan, semakin besar penghormatannya di hadapan Allah Tritunggal. St. Agustinus mengatakan, “Engkau (Tuhan) memanggilku sahabat, [namun] aku menyadari diriku sebagai seorang pelayan.” Atau kita mengenal perkataan yang diucapkan oleh Bunda Maria, sebagai seseorang yang dikaruniai tingkat keintiman yang tertinggi dengan Tuhan, “Sebab Ia [Tuhan] telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya” (Luk 1:48, OF 31).

Kesimpulan

Meditasi Kristiani adalah salah satu bentuk doa yang harus dilakukan dalam kesatuan dengan Kristus dan Gereja-Nya. Sebab hanya dalam kesatuan dengan Kristus, seseorang dapat mencapai tahap kontemplasi akan Allah sebagaimana dikehendaki oleh-Nya. Seseorang yang mengalami kontemplasi akan Allah, semakin melihat kasih Allah yang dinyatakan dalam kerendahan hati-Nya, dengan penjelmaan Kristus Sang Putera Allah menjadi manusia, dan wafat dengan cara yang sedemikian rendah, untuk mengangkat derajat manusia yang dikasihi-Nya. Pengalaman ini akan membuka mata hati orang itu, untuk melihat dengan jujur, betapa kecil kasih yang dimilikinya jika dibandingkan dengan kasih Allah, betapa kecil dirinya jika dibandingkan dengan Allah yang tiada terbatas.

Maka kerendahan hati menjadi buah yang menandai keotentikan kontemplasi Kristiani, yang membedakannya dengan meditasi sekular. Meditasi yang dilakukan tanpa melibatkan pemahaman akan Allah Trinitas, atau yang menekankan adanya energi ilahi (Sang Ilahi tanpa pribadi) di dalam diri manusia, yang akan meleburkan manusia menjadi satu dan sama dengan Sang Ilahi tersebut, akan beresiko menghasilkan buah yang sebaliknya, atas pengertian bahwa manusia dapat mencapai keilahian, melalui usahanya sendiri dengan melakukan suatu teknik tertentu. Hal ini sungguh berbeda dengan ajaran Kristiani yang melihat persatuan antara manusia dengan Allah sebagai suatu karunia yang diberikan oleh Allah secara cuma-cuma, seturut  kebijaksanaan-Nya.

Semoga melalui pengajaran dari CDF ini, kita dapat mengenali cara-cara meditasi yang baik, yang menghantarkan kita untuk lebih dekat dengan Tuhan yang mewahyukan diri-Nya di dalam Kristus yang menjelma menjadi manusia, dan bukannya menggantikan wahyu Allah itu dengan gambaran yang asing tentang Allah, yang berbeda dengan ajaran Kristiani.

Apakah Benar Bunda Maria Menyerupai Kristus?

0

Ada orang yang mengutip Katekismus Gereja Katolik (KGK 966) dan kemudian mengatakan bahwa tidak seharusnya Bunda Maria menyerupai Kristus (conformed to Christ). Untuk dapat melihat konteksnya, maka mari kita baca bersama apa yang tertulis dalam Katekismus tersebut:

KGK 966    “Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat memasuki kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut” (LG 59, Bdk. Pengumuman dogma mengenai Maria diangkat ke surga oleh Paus Pius XII, 1950: DS 3903). Terangkatnya Perawan tersuci adalah satu keikutsertaan yang istimewa pada kebangkitan Puteranya dan satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain.

“Pada waktu persalinan engkau tetap mempertahankan keperawananmu, pada waktu meninggal, engkau tidak meninggalkan dunia ini, ya Bunda Allah. Engkau telah kembali ke sumber kehidupan, engkau yang telah menerima Allah yang hidup dan yang akan membebaskan jiwa-jiwa kami dari kematian dengan doa-doamu” (Liturgi Bisantin, pada Pesta Kematian Maria 15 Agustus).

Sebenarnya kalau kita meneliti lebih jauh KGK di atas, maka tidak ada yang perlu dipertentangkan. To be ‘conformed’ to Christ (menjadi serupa dengan Kristus), itu adalah kehendak Allah bagi kita semua umat beriman. Sebab dikatakan dalam Rom 8:29, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung dari banyak saudara.” Jika Allah telah menentukan Bunda Maria, sebagai yang pertama dari semua orang, yang dipilih-Nya sejak semula, untuk menjadi serupa dengan Kristus, itu adalah kebijaksanaan Allah, yang menentukan Bunda Maria sebagai ibu yang mengandung dan melahirkan Yesus Putera-Nya.

Maka, keserupaan di sini tidak untuk menunjukkan kesetaraan. Sebab dalam kata ‘serupa’ itu saja artinya pasti tidak sama. Maka ada pepatah yang mengatakan, ‘serupa tapi tak sama’, karena dua hal yang serupa itu tidak akan persis sama ataupun setara. Demikianlah, iman Kristiani tidak pernah mengajarkan bahwa kita manusia itu setara dengan Allah, walaupun diciptakan menurut ‘gambar dan rupa’ Allah (lih. Kej 1:26). Khusus tentang Bunda Maria, keserupaannya dengan Kristus memang sangatlah istimewa, karena memang hanya ia satu-satunya di sepanjang sejarah manusia, yang telah dipilih dan dikuduskan oleh Allah, untuk mengandung dan melahirkan Putera-Nya, sehingga tak mengherankan jika Allah meninggikan Bunda Maria setelah ia menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia.

Mengapa doa Bunda Maria tidak mungkin ditolak oleh Tuhan sendiri?

24

Sesungguhnya doa dari setiap kita tidak ada yang ditolak oleh Tuhan. Maka kalau dikatakan bahwa “semua doa kita tidak mungkin ditolak oleh Kristus”, itu tidak otomatis mengatakan bahwa kita sejajar dengan Kristus. Allah selalu menerima doa setiap orang, namun tentang hal pengabulan doa, memang Tuhan yang menentukan, sesuai dengan kehendak-Nya, yang kadang tidak sama dengan kehendak orang yang berdoa.

Nah, tentang doa Bunda Maria [dan doa para orang kudus di surga], memang ada kekhususannya tersendiri, sebab mereka telah bersatu sepenuhnya dengan Allah dan menjadi sama seperti Dia (lih. 1 Yoh 3:2), sehingga kehendak mereka sama dengan kehendak Allah. Dengan demikian, maka Allah mengabulkan doa-doa mereka, sebab yang dimohonkan sesuai dengan kehendak-Nya. Bunda Maria dan para orang kudus itu dapat turut mendoakan kita, dan dengan demikian turut mendukung Perngantaraan Kristus kepada Allah Bapa, untuk mendatangkan yang terbaik demi keselamatan kita.

Maka bahwa kuasa doa Bunda Maria [dan para kudus di surga] sangat besar, itu sungguh terbukti. Sebab Kitab Suci mengajarkan, “Doa orang benar besar kuasanya” (Yak 5:16), dan ini tergenapi di dalam diri Bunda Maria [dan para kudus di surga] yang telah dibenarkan oleh Allah. Secara istimewa, Bunda Maria telah dipilih dan dikuduskan Allah sejak semua untuk menjadi ibu bagi Putera-Nya Yesus Kristus, yang taat setia kepada-Nya sampai akhir. Maka ia dibenarkan Allah, dan besarlah kuasa doanya. Namun besarnya kuasa doa Bunda Maria tidak menjadikannya sejajar dengan Allah, sebab pada dasarnya, yang mengabulkan doa manusia tetaplah Allah saja. Bunda Maria hanya turut menyampaikan doa permohonan kita, dan mempercayakan hal pengabulannya kepada Allah, sebagaimana yang dilakukannya dalam perjamuan perkawinan di Kana (lih. Yoh 2:1-11). Maka jika Allah mengabulkan doanya, itu adalah karena kebijaksanaan Allah.

Marilah kita menghormati kebijaksanaan-Nya itu, yang memang mengizinkan para orang kudus-Nya untuk turut mengambil bagian dalam karya keselamatan-Nya. Sebab demikianlah kehendak Allah, Ia berkarya di dalam diri manusia-manusia ciptaan-Nya, dalam keterbatasan mereka sebagai manusia, namun justru dalam kelemahan inilah kuasa Tuhan menjadi sempurna (lih. 2 Kor 12:9); sehingga tergenapilah kehendak-Nya: “Allah menjadi semua di dalam semua” (1Kor 15:28). Jadi dalam rencana keselamatan Allah itu, Pengantaraan Kristus juga melibatkan para anggota-Nya yang lain, sebagaimana Kepala melibatkan anggota-anggota Tubuh-Nya.

Selanjutnya tentang Pengantaraan Kristus yang bersifat inklusif, silakan klik di sini.

Apakah Paulus berbohong untuk mendatangkan kemuliaan Tuhan (Rom 3:7)?

44

Ada sebagian orang menggunakan Roma 3:7 untuk menyatakan bahwa Paulus adalah seorang pendusta. Untuk mengerti ayat ini, maka kita harus menganalisanya dari: (1) Konteks tanya jawab, (2) Kecaman untuk orang yang menghalalkan segala cara dan yang mengeraskan hatinya. Mari kita menganalisanya satu persatu.

1. Konteks tanya jawab.

Mari kita melihat teks Rom 3:1-8 sebagai berikut:

1.  Jika demikian, apakah kelebihan orang Yahudi dan apakah gunanya sunat?
2.  Banyak sekali, dan di dalam segala hal. Pertama-tama: sebab kepada merekalah dipercayakan firman Allah.
3.  Jadi bagaimana, jika di antara mereka ada yang tidak setia, dapatkah ketidaksetiaan itu membatalkan kesetiaan Allah?
4.  Sekali-kali tidak! Sebaliknya: Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong, seperti ada tertulis: “Supaya Engkau ternyata benar dalam segala firman-Mu, dan menang, jika Engkau dihakimi.”
5.  Tetapi jika ketidakbenaran kita menunjukkan kebenaran Allah, apakah yang akan kita katakan? Tidak adilkah Allah–aku berkata sebagai manusia–jika Ia menampakkan murka-Nya?
6.  Sekali-kali tidak! Andaikata demikian, bagaimanakah Allah dapat menghakimi dunia?
7.  Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?
8.  Bukankah tidak benar fitnahan orang yang mengatakan, bahwa kita berkata: “Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya.” Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman.

Dari ayat-ayat di atas, maka kita dapat melihat bahwa rasul Paulus menggunakan dinamika tanya-jawab untuk memberikan pengajaran. Dalam pengajaran di atas, rasul Paulus seolah-olah sedang bertanya-jawab dengan penuduh atau orang-orang Yahudi. Untuk mempermudah, pertanyaan dari orang-orang Yahudi ini saya beri warna merah. Mengikuti konteks ini, maka rasul Paulus bukannya menyatakan dia berbohong, namun yang menyatakan adalah orang-orang Yahudi yang menuduh dia. Tuduhan di bab 3 adalah merupakan kelanjutan dari tuduhan-tuduhan yang dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan di bab 2 atau bab sebelumnya (Pertanyaan 1 (ay.3-10) – Apakah Tuhan yang baik tidak menghukum dosa manusia; Pertanyaan 2 (ay.11-24) – Apakah Taurat dapat melindungi bangsa Israel dari keadilan Allah? ; Pertanyaan 3 (ay.25-29) – Apakah sunat dapat menyelamatkan?) Setelah tiga pertanyaan tersebut dijawab oleh rasul Paulus di bab 2, maka di bab 3 pertanyaan-pertanyaan ini dilanjutkan sebagai berikut:

Pertanyaan 4 (ay.1-2): Apakah kelebihan orang-orang Yahudi (yang mempunyai taurat dan tanda sunat) dibandingkan dengan bangsa lain? Rasul Paulus menjawab bahwa bangsa Yahudi mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan bangsa lain, terutama dipercaya akan Firman Tuhan, yang telah disampaikan oleh Tuhan dengan perantaraan para nabi seperti yang tertulis di dalam Perjanjian Lama.

Pertanyaan 5 (ay.3-4): Kalau ada dari bangsa Yahudi tidak setia, apakah kemudian kesetiaan Allah menjadi batal? Kita mengingat bahwa Allah telah memilih bangsa Yahudi sebagai bangsa pilihan dan Allah telah mengikat perjanjian dengan bangsa Yahudi. Dan Allah senantiasa benar dan tidak mungkin berbohong, yang berarti Dia tidak pernah mengingkari perjanjian yang telah diikat-Nya dengan bangsa Yahudi. Namun, sebaliknya, manusialah yang selalu lemah dan sering mengingkari (berbohong) perjanjian dengan Allah, dengan tidak setia terhadap Allah dan perintah-perintah-Nya. Kesetiaan Allah di tengah-tengah ketidaksetiaan manusia ditegaskan oleh rasul Paulus di 2Tim 2:13 yang mengatakan “Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.

Pertanyaan 6 (ay.5-8): Apakah dengan demikian manusia dapat bertindak tidak benar untuk menunjukkan kebenaran Allah? Rasul Paulus menjawab bahwa orang yang menyatakan hal ini sudah selayaknya mendapatkan hukuman (ay.6,8)

II. Kecaman untuk orang yang menghalalkan segala cara dan mengeraskan hatinya

Pernyataan ke-6 di atas adalah pertanyaan dari orang yang mengeraskan hati, yang membuat begitu banyak pembenaran diri. Dia membuat alasan, bahwa dengan ketidakbenarannya, maka Alah dapat menyatakan kebenaran-Nya. Rasul Paulus menegaskan bahwa orang seperti ini layak mendapatkan murka Allah (ay.6) dan layak mendapatkan hukuman (ay.8). Kemudian rasul Paulus menggunakan logika dari si penuduh, yaitu kalau memang demikian – bahwa orang berdosa atau yang mengeraskan hati dapat bermegah terhadap dosanya karena dengan demikian Tuhan dapat semakin menyatakan kemuliaan-Nya – maka bagaimana Tuhan akan memberikan keadilan kepada mereka. Itu berarti orang-orang jahat ini tidak dapat menerima hukuman, karena mereka justru memberikan kemuliaan bagi nama Tuhan.

Dan dengan menggunakan logika yang sama, rasul Paulus berkata “Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?” (ay.7) Ayat ini bukan mengatakan bahwa Paulus berbohong, namun untuk membuktikan kesalahan penuduh dengan menggunakan logika sang penuduh. Jadi, kalau memang benar, bahwa karena bangsa Yahudi harus bermegah dengan kesalahan atau dosanya sehingga Tuhan dapat semakin dimuliakan, maka seharusnya Paulus – yang dianggap seorang pendusta (berpindah dari agama Yahudi ke Kristen) – seharusnya dengan kesalahan Paulus maka kemuliaan Tuhan semakin nampak. Namun bukankah rasul Paulus masih terus dihakimi dan dikejar-kejar dan bahkan hendak dibunuh oleh bangsa Yahudi?

Ide pemikiran untuk membenarkan diri akan kesalahan demi semakin memuliakan nama Tuhan sungguh tidak benar dan rasul Paulus kembali menegaskan bahwa ini adalah suatu fitnahan dan layak mendapatkan hukuman. (ay.8)

Semoga dua point di atas dapat memberikan bukti yang kuat bahwa ayat Rom 3:7 bukanlah merupakan bukti bahwa rasul Paulus adalah pembohong, namun sebaliknya, rasul Paulus ingin membuktikan kesalahan pemikiran dari sebagian orang Yahudi yang mengeraskan hati mereka. Untuk memperoleh pemahaman yang benar tentang hal ini, kita harus melihat konteks dari ayat tersebut serta prinsip bahwa tujuan tidak dapat dicapai dengan menghalalkan segala cara. Semoga dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab