Home Blog Page 137

Vatikan Punya Hak Memiliki Armada Laut

0

vatikan-armySebagai negara merdeka dan berdaulat, Vatikan memiliki simbol, lagu kebangsaan, bendera,  dan konstitusi sendiri. Meskipun tidak memiliki angkatan bersenjata, negara ini dilindungi oleh Konvensi Denhaag sejak 14 Mei 1954. Konvensi yang menjamin serta menjaga Vatikan apabila terjadi suatu konflik bersenjata.

Vatikan juga memiliki hak untuk membentuk armada kendati negara ini tidak punya akses langsung ke laut. Hak istimewa ini diperoleh dalam Konvensi Barcelona 1921. Tapi, Vatikan lebih memilih untuk tidak memiliki armada laut.

Lagu kebangsaan Vatikan adalah Mars Kepausan gubahan Charles Gounod. Semula mars ini untuk menghormati Paus Pius XI (1846-1878). Kemudian mars itu dijadikan lagu kebangsaan Vatikan oleh Paus Pius XII pada tahun 1949. Lagu ini dinyanyikan pada Pesta Natal dan Paskah serta upacara-upacara pengting lain yang dihadiri Bapa Suci.

Vatikan punya media sendiri, baik cetak maupun elektronik. Bahkan, memiliki kantor pos, perangko dan mencetak uang sendiri. Karena tidak memiliki arta yasa, Vatikan membayar negara Italia untuk mencetak koin dan uang kertas.

Koin euro pertama Vatikan diluncurkan tahun 2002, bergambar Paus Yohannes Paulus II. Koin Vatikan sangat diburu para kolektor. Mereka rela berantre panjang selama berjam-jam sebelum koin-koin itu dirilis.

Sejak tahun 1929 Vatikan menerbitkan perangko untuk memperingati berbagai peristiwa dan peringatan ulang tahun. Perangko-perangko itu dihargai tinggi oleh para filatelis. Di saat-saat pelelangan, perangko-perangko Vatikan memiliki nilai tinggi, terutama perangko-perangko terbitan hari pertama. Salah satu bagian di Museum Vatikan diperuntukkan bagi perkembangan filateli di Tahkta Suci, dan menyimpan semua contoh perangko yang pernah diterbitkan, dan juga sketsa awal dari para seniman.

Administrasi sehar-hari Vatikan dipercayakan kepada Presiden Komisi Kardinal Kepausan Kota Vatikan, dan berkantor di Palazzo del Covernatorate, bangunan besar yang terletak di belakang Basilika Santo Petrus. Sejumlah kardinal diangkat Paus untuk jangka waktu lima tahun demi melayani dewan komisi ini. Kantor ini mengatur semua urusan internal Vatikan.***

Naskah Jan Nabut – Dari berbagai sumber

Vatikan, Kecil-kecil Berpengaruh

2

Vatikan merupakan negara berdaulat paling kecil di dunia. Terbentang dekat pinggiran Sungai Tiber, luas wilayah di dalam temboknya sekitar 44 hektar, termasuk Lapangan Santo Petrus. Hampir separo wilayah Vatikan dipenuhi taman. Batas-batas wilayahnya mengikuti tembok perlindungan yang dibangun pada abad ke-16. Barisan granit yang merupakan pinggiran luar Lapangan Santo Petrus menjadi tanda perbatasan antara Vatikan dan Kota Roma.

Selain di dalam tembok, wilayah Vatikan yang lain terdapat di luar tembok, menyebar di beberapa tempat lain baik di dalam maupun di luar Kota Roma. Wilayah-wilayah ekstrateritorial itu mencakup sejumlah kantor Vatikan di Via della Conciliazione, dan Kongregasi untuk Evangelisasi Bangsa-bangsa yang terletak dekat Tangga Spanyol. Vatikan juga mempunyai tiga basilika besar di Roma, yakni Basilika Santo Yohanes Lateran yang merupakan gereja katedral Roma, tempat Vikaris yang diangkat oleh Paus bertahta; Santa Maria Maggiore merupakan basilika abad ke-5 yang cukup penting, salah satu tempat yang paling ramai dikunjungi wisatawan; dan Basilika Santo Paulus yang dibangun di atas kuburan Santo Paulus.

Vila di Kastil Gandolfo yang terletak di selatan Kota Roma, juga menjadi milik Vatikan. Vila ini dibeli pada abad ke-16, menjadi tempat kediaman musim panas Paus. Paus tinggal di sana selama tiga bulan dalam setahun.

Negara Vatikan berdiri tanggal 11 Februari 1929, setelah pemerintah Italia dan Tahta Suci menandatangani Perjanjian Lateran. Perjanjian yang mengakiri ketegangan yang sudah berlangsung selama 60 tahun setelah pendudukan Roma oleh pasukan Viktor Emmanuel II dari Italia. Perjanjian itu mengakui status internasional Tahta Suci, dan menetapkan otoritas Paus atas Vatikan. Dalam perjanjain itu juga pemerintah Italia melakukan penggantian keuangan properti-properti yang pernah disita dari gereja, dan memberi status esktrateritorial pelbagai bangunan di Kota Roma. Pada pihak lain, Vatikan mengakui legitimasi pemerintah Italia.

Vatikan merupakan monarki non-turun temurun paling tua di dunia. Kepala negara yang berdaulat ini adalah Paus. Di samping menjadi kepala negara Vatikan, Paus juga menjadi uskup Keuskupan Roma (Tahta Suci). Paus dipilih oleh Kolegialitas Kardinal.

Para Paus telah berdiam di Roma selama 2000-an tahun sejarah kekristenan, dan Italia memainkan peran besar dalam kehidupan Vatikan. Sebagian besar tenaga kerja yang bertanggung jawab untuk menjalankan kelangsungan Vatikan berasal dari Italia. Negara ini juga mempercayakan kepada pemerintah Italia beberapa kebutuhan mendasar, seperti listrik dan air.  Hubungan ini didasarkan pada rasa saling menghargai. Vatikan tidak bisa bertahan tanpa bantuan Italia dan orang-orang Italia mengakui peran penting Vatikan bagi industri  pariwisata yang sangat menguntungkan Italia.

Dewasa ini, negara kecil ini menjadi rumah spiritual bagi sekitar 1,2 miliar umat Katolik seluruh dunia, dan merupakan salah satu dari tempat-tempat penyimpanan termasyhur kesenian Barat di dunia.

Kendati kecil, negara Vatikan sangat berpengaruh. Suaranya didengar oleh setiap bangsa, termasuk negara  adidaya seperti Amerika Serikat.***

Oleh Jan Nabut – Dari berbagai sumber

Paus Mendatang Berkulit Hitam?

4

SELASA, 12 Maret 2013, konklaf – pemilihan Paus baru pengganti Paus Benediktus XVI – dimulai. Mungkinkah Paus mendatang  orang non-Eropa ? Apakah orang Amerika atau Amerika Latin? Afrika atau Asia? Atau, kembali ke tangan putera Eropa?

Setelah Paus Johannes Paulus II dari Polandia dan Paus Benediktus XVI asal Jerman menduduki Takhta Suci, jabatan mulia yang dulu hanya diduduki orang Italia itu, kini terbuka untuk semua bangsa. Tidak lagi memandang asal-usul dan warna kulit. Kulit putih dan hitam sama-sama berpeluang. Terpenting adalah profil kandidat yang diyakini oleh para kardinal yang memilihnya dalam konklaf mendatang, merupakan sosok terbaik untuk memimpin Gereja Katolik universal ke depan.

Pertanyaannya, apakah pengganti Paus Benediktus XVI seorang kulit hitam, atau kulit berwarna? Dua pejabat senior Vatikan baru-baru ini secara gamblang menyebut nama calon pengganti Paus Benediktus XVI dari kawasan Amerika Latin. “Saya kenal banyak uskup dan kardinal dari Amerika Latin, yang pantas mengemban tanggung jawab memimpin Gereja universal,” tutur Uskup Agung Gerhard Mueller yang  memimpin Kogregasi Ajaran Iman di Vatikan di masa kepemimpinan Paus Benediktus XVI.

“Gereja universal mengajarkan bahwa Kristianitas tidak berpusat di Eropa,” lanjut uskup agung kelahiran Jerman itu beberapa saat sebelum Natal 2012 , seperti dilansir koran Rheinische Post terbitan Duesseldorf.

Di waktu hampir bersamaan, kardinal asal Swiss, Kurt Koch, presiden Dewan Kepausan untuk Persatuan Umat Kristiani di masa bakti Paus Benediktus XVI, kepada harian Tagesanzeiger di Zurich mengemukakan, masa depan Gereja Katolik bukan di Eropa. “Alangkah baik jika ada kandidat-kandidat dari Amerika Latin, Afrika, atau Asia pada konklaf mendatang,”ungkapnya.

Data statistik menyebutkan, sebanyak 42 persen dari 1.2 miliar umat Katolik di seluruh dunia, tinggal di wilayah Amerika Latin. Menjadi kawasan terbesar yang dihuni umat Katolik, dibandingkan dengan 25 persen yang tinggal di Eropa.

Ada beberapa nama memang dari Amerika Latin  yang sangat diunggulkan untuk menjadi Paus baru. Di antaranya, Kardinal Odilo Scherer, uskup agung Sao Paolo, Brasil. Pria berusia 63 tahun ini dipandang sebagai calon terkuat dari Amerika Latin. Ia memimpin sebuah dioses  paling besar di negara mayoritas Katolik. Di Brasil ia dipandang konservatif, tetapi diakui sebagai seorang moderat di belahan dunia lain. Satu-satunya persoalan yang bisa mengganjal kansnya menduduki Takhta Suci adalah pertumbuhan gereja Protestan yang begitu cepat di Brasil belakangan ini.

Calon kuat lainnya, Leonardo Sandri dari Argentina. Pria berdarah campuran Italia – Argentina ini berusia 69 tahun. Ia sempat menduduki posisi tertinggi ketiga di Vatikan saat menjadi kepala staf Vatikan tahun 2000-2007. Tapi, ia tidak punya pengalaman pastoral. Dan, jabatan yang didudukinya saat ini sebagai  prefek Kongregasi Gereja-gereja Timur bukanlah posisi penting.

Sekitar separo dari kardinal yang mengambil bagian dalam konklaf  mendatang berasal dari Eropa. Namun, cuma beberapa nama yang diunggulkan dari kawasan itu. Yang paling favorit, menurut para pengamat Vatikan, adalah Kardinal Angelo Scola dari Milan. Berusia 71 tahun, kardinal Scola seorang ahli bioetik, dan sosok yang sangat mengerti tentang Islam karena ia memimpin yayasan yang mempromosikan hubungan Muslim-Kristen. Tapi, ia dinilai lemah dalam berkomunikasi, salah satu penentu bagi pemimpin Takhta Suci yang karismatik.

Kardinal Gianfranco Ravasi, calon kuat lainnya dari Eropa. Pria asal Italia berusia 70 tahun ini berlaku sebagai ‘menteri’ kebudayaan Vatikan sejak tahun 2007 dan menjadi wakil Gereja di bidang seni, ilmu pengetahun, dan budaya. Tapi, untuk menjadi Paus dibutuhkan sosok gembala yang berpengalaman, dan itu tidak dimiliki Kardinal Ravasi.

Dari Amerika Serikat, nama Kardinal Timothy Dolan diunggulkan. Pria berusia  62 ini ditunjuk sebagai uskup agung New York tahun 2009 oleh Paus Benediktus XVI. Selain sangat vokal, ia humoris dan dinamis. Tapi, para kardinal dalam konklaf sangat hati-hati terhadap “ Paus superpower” dan gayanya yang sering ‘menampar dari belakang’.

Ada pula calon dari Kanada. Yaitu, Kardinal Marc Ouellet yang  berusia 68 tahun, kepala Kongregasi Para Uskup di Vatikan. Walau hubungannya di dalam Curia begitu baik, tetapi sekularisme yang begitu subur di kampung halamannya, Quebec, bisa menjadi hambatan.

Siapakah calon dari Asia dan Afrika? Dari Asia, nama Kardinal Luis Tagle sering disebut. Pria asal Filipina berusia 55 tahun ini sangat karismatik. Dalam hal yang satu ini ia sering dibandingkan dengan Mendiang Paus Johannes Paulus II. Ia juga sangat dekat dengan Paus Benediktus XVI setelah keduanya bekerja di Komisi Theologi Internasional. Fans Kardinal muda ini juga banyak. Tapi terbilang baru ia dilantik menjadi kardinal, seumur jagung, pada konsistori November 2012. Para peserta konklaf sangat hati-hati memilih kandidat muda.

Calon terkuat dari kawasan Afrika adalah Kardinal Peter Turkson. Pria asal Ghana berusia 64 tahun ini presiden Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian, dan mendukung reformasi finansial dunia. Tapi, dalam sebuah video ia terlihat pernah mengritik Islam, mengundang keraguan bagaimana seharusnya ia memandang Islam jika terpilih menduduki Takhta Suci.

Pastor James Bretzke, profesor teologi moral dari Boston College, Amerika Serikat, mengemukakan, Paus mendatang haruslah lebih muda dan lebih energetik, dan kurang lebih memiliki pemahaman teologi yang sama dengan Paus Benediktus XVI. “Dan, sosok seperti itu sebetulnya ada di Gereja sedang berkembang di kawasan Afrika, Asia dan Amerika Latin,” ungkap Bretzke.

Bretzke sependapat bahwa Kardinal Turkson calon paling favorit dari kawasan Afrika. Ia pun menyebut Kardinal Antonio Tagle dari Filipina sebagai calon paling kuat dari kawasan Asia. “Dia terlalu muda, 55 tahun? Tapi, dia paling dihormati,” Bretzke mengatakan.

Di kawasan Amerika  Latin, Bretzke menambahkan satu nama, yaitu Kardinal Jorge Mario Bergoglio — uskup agung Buenos Aires, Argentina.” Ia sangat dihormati di Amerika Latin dan kandidat unggulan dalam konklaf tahun 2005,” ungkap Bretzke.

Sederetan nama calon favorit  sudah disebut. Tapi, kepastian akan ditentukan dalam konklaf yang mulai berlangsung hari Selasa mendatang. Ditinjau dari populasi, jumlah umat Katolik di kawasan Afrika dan Asia memang tidak sebanyak di Amerika Latin dan Eropa. Walau begitu, banyak kemungkinan bisa terjadi. Bilamana Roh Kudus bekerja, apa yang menurut manusia tidak mungkin, akan menjadi mungkin. (dari berbagai sumber)

Pastor Neles Dapat Penghargaan dari Korea Selatan

0

pastor-nelesJAYAPURA -Imam asal Papua, Pastor Neles Kebadabi Tebay dianugerahi penghargaan oleh Yayasan Keadilan dan Perdamaian Tji Haksoon yang berbasis di Korea Selatan (Korsel) karena dinilai berjasa dalam upaya memperjuangkan perdamaian dan perlindungan HAM di Papua.

Penghargaan ini resmi diberikan kepada pencetus Jaringan Damai Papua (JDP) ini pada 13 Maret mendatang di Seoul, Korsel.

Menanggapi penghargaan ini, Pastor Neles mengatakan, tidak percaya dirinya dipilih karena merasa tidak pantas. Ia juga mengaku tidak mengetahui kriteria yang digunakan untuk menentukan pemenang.

“Masa saya dipilih sebagai penerima penghargaan keadian dan perdamaian, sementara pembicaraan damai (peace talk) antara pemerintah Indonesia dan kelompok separatis Papua, sebagaimana yang diperjuangkan oleh JDP dan semua pendukung dari berbagai pihak, belum juga terlaksana,” terangnya dalam pernyataan tertulis yang diterima UCAN Indonesia.

Meski demikian, ia mengatakan, penghargaan ini meneguhkan komitmen orang Papua dan pemerintah Indonesia untuk bertemu, duduk bersama dan melakukan pembicaraan damai guna mencari solusi yang konstruktif dan adil bagi kedua belah pihak.

Ia juga menjelaskan, penghargaaan ini juga memperlihatkan bahwa dukungan terhadap dialog Jakarta-Papua untuk menyelesaikan konflik Papua juga datang dari negara lain, termasuk masyarakat sipil di Korsel.

Penulis buku Angkat Pena Demi Dialog Papua ini menambahkan, “penghargaan ini ditujukan bukan hanya kepada saya pribadi tetapi kepada semua pihak, baik individu maupun lembaga, yang selama ini telah mendukung dialog sebagai jalan terbaik untuk mencari dan menemukan solusi terbaik dan adil terhadap konflik Papua.”

Pastor Neles yang lahir di Godide, Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua pada 13 Februari 1964 merupakan pengajar sekaligus Ketua Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura.

Ia aktif sebagai anggota Forum Konsultasi Para Pimpinan Agama (FKPPA) di Tanah Papua, anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua dan terlibat di Persekutuan Gereja-Gereja Papua (PGGP).

Sejak 2010 hingga kini, dia diangkat sebagai anggota Komisi Teologi pada Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Untuk periode 2013-2016, dia dipilih menjadi anggota Komisi Karya Misioner KWI. ***

Presiden Chavez Menerima Sakramen Sebelum Wafat

0

chavez-crossCARACAS- Sebuah sumber terpercaya di Caracas, Venezuela, mengatakan bahwa sebelum Presiden Hugo Chavez meninggal dunia, ia telah menerima bimbingan rohani dan sakramen-sakramen di hari-hari terakhirnya.  Sementara kantor berita  CNA melaporkan, selama minggu-minggu terakhir hidupnya, Chavez meminta bimbingan rohani dan minta untuk diberikan sakramen.

Sejak  meraih kekuasaan tahun 1999, Chavez memiliki hubungan kurang baik dengan Gereja Katolik terkait  peringatan para uskup tentang risiko dan dampak agenda Sosialisnya. Tahun 2002, Chavez menuduh para uskup Venezuela menjadi “tumor” untuk tujuan revolusionernya dan meminta Vatikan tidak ikut campur tangan dalam urusan internal negaranya.

Tapi  Chavez mengejutkan media pada April 2012 ketika ia muncul di sebuah gereja Katolik di kampung halamannya di Barinas untuk menghadiri Misa selama Pekan Suci. Dia mengenakan rosario di lehernya dan berdoa untuk mohon kekuatan  melawan penyakit kanker yang dideritanya. Juli lalu, Chavez membuat permintaan secara publik untuk bertemu dengan para uskup.

Setelah Chavez wafat, Keuskupan Agung Caracas, yang dipimpin oleh  Jorge Kardinal Urosa yang saat ini sedang berada di Vatikan untuk konklaf, mengirim ucapan belasungkawa dan meminta agar seluruh bangsa membangun perdamaian dan harmoni. Dalam pada itu, Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Venezuela, Mgr Jesus Gonzalez de Zarate, menyerukan persatuan nasional. “Pada kesempatan ini marilah kita semua mengemukakan sentimen terbaik kita,” katanya dalam sebuah wawancara di televisi Venezuela.

“Kematian bukanlah akhir dari kehidupan kita,” tambahnya. “Kematian hanya membuka jalan untuk hidup kebahagiaan kekal, di sisi Allah Bapa kita.” (Reuters)

Apakah tugas Akolit (misdinar)?

28

Akolit merupakan panggilan pelayanan. Namun pertama-tama harus disadari bahwa akolit merupakan anggota umat beriman. Dalam persekutuan liturgis tersebut ia merupakan bagian dari umat Allah. Ia harus hadir sebagai umat dengan tujuan utama merayakan peristiwa keselamatan dalam liturgi.  Bersama dengan umat Allah, seorang akolit dipanggil untuk melaksanakan tugas pelayanan khusus yakni mendampingi pemimpin perayaan pada saat-saat tertentu demi memperlancar tugas pemimpin. Dengan demikian secara tidak langsung akolit melayani juga umat yang datang untuk merayakan liturgi di bawah pimpinan selebran utama. Seluruh pelayanan akolit harus menjadi doa, bukan semata-mata satu pelayanan teknis.

Dalam liturgi Gereja, kita mengenal macam-macam pelayan khusus. Ada pelayan yang menjalankan tugasnya berdasarkan tahbisan seperti diakon, imam, uskup, paus. Tetapi  ada juga pelayan tak tertahbis. Pelayan tak tertahbis mengemban tugas khusus berdasarkan imamat rajawi yang mereka terima pada saat pembaptisan. Pelayan tak tertahbis itu antara lain pemimpin koor, pembawa bahan persembahan, akolit, dan lektor.

Inti dari seluruh perayaan liturgi adalah menghadirkan misteri keselamatan. Seluruh umat Allah merayakan misteri keselamatan. Dalam perayaan tersebut, semua tugas pelayanan membantu mengarahkan perhatian umat kepada inti misteri keselamatan. Dengan pelayanan para akolit serta pelayan liturgi lainnya, diharapkan umat menghayati atau mengalami inti misteri yang dirayakan. Pusat perhatian harus diberikan kepada inti misteri. Hendaknya akolit menarik perhatian umat kepada inti misteri bukan kepada dirinya sendiri. Ia mesti berusaha agar umat dapat lebih bersatu dengan inti misteri yang sedang dirayakan. Oleh karena itu seluruh sikap atau gerak-gerik dan perhatian dari akolit harus diarahkan atau dipusatkan kepada inti misteri itu. Seperti semua pelayan liturgi lain, seorang akolit harus ikhlas, jujur, wajar. Ia harus mampu mengungkapkan misteri Allah dengan anugerah-Nya dan keterbukaan manusia terhadap misteri itu. Penampilan yang jujur dan ikhlas perlu sekali. Ia harus memelihara dan menjaga seluruh gestikulasi yang berhubungan erat dengan mata, wajah, tangan, kaki. Dengan kata lain ia harus memelihara disiplin tubuhnya dan tentu saja disiplin hati. Tubuh dan hati yang punya disiplin akan jauh lebih mudah mengarah kepada sumber keutuhan dan disiplin itu sendiri yaitu Tuhan. Dengan cara itu ia menarik perhatian umat kepada inti misteri perayaan, kepada Tuhan dan karya-karya-Nya yang agung.

Berdasarkan pemahaman ini, dapat dilihat bahwa pelayanan seorang akolit memiliki tiga dimensi. Pertama, dengan pelayanannya seorang akolit membantu menghadirkan misteri keselamatan yang datang dari Allah. Di sini seorang akolit melayani Allah. Kedua, seorang akolit pun melayani umat dalam arti membantu mengarahkan perhatian umat kepada inti misteri keselamatan. Ketiga, secara teknis seorang akolit melayani imam atau diakon, yang bersama-sama bertugas untuk melayani Allah dan umat Allah.

Pelaksanaan Tugas Akolit

Peran akolit yang mendapat perhatian kita di sini adalah fungsi teknisnya untuk membantu imam ataupun diakon. Walaupun dikatakan bahwa ini fungsi teknis, pelaksanaan fungsi inilah yang merangkum ketiga dimensi dari fungsi seorang akolit. Melalui pelayanannya kepada imam atau diakon, seorang akolit melayani kehadiran Allah dan juga melayani umat dalam memberikan tanggapan terhadap sapaan Allah. Dengan menjalankan sebaik-baiknya tugas pelayanan yang sifatnya teknis itu, ia mengarahkan seluruh perhatian kepada inti misteri yang dirayakan.  Seluruh sikap gerak geriknya mesti mengarah pada inti misteri dan menarik perhatian umat ke sana. Fungsi akolit tak terlaksana bila dengan gerak geriknya ia menarik perhatian umat kepada dirinya atau kepada hal lain.  Dalam hal ini akolit harus memiliki disiplin diri: disiplin hati dan budi, disiplin gerak, disiplin mata.

Akolit sesuai dengan fungsinya selalu bersama pemimpin liturgi. Ia melayani pemimpin liturgi mulai dari sakristi hingga kembali ke sakristi. Ia melayani pemimpin upacara supaya pemimpin liturgi itu dapat menjalankan fungsinya dengan baik dan lancar.

Berikut ini diuraikan tugas-tugas akolit menurut tahap-tahap perayaan liturgi khususnya Ekaristi. Agar memudahkannya, tahapan ini dibedakan ke dalam Ritus Pembuka, Liturgi Sabda, Persiapan Persembahan, Doa Syukur Agung, Komuni, dan Ritus Penutup.

Ritus Pembuka:

Ritus Pembuka dimulai dari sakristi dan diteruskan dengan perarakan menuju ke altar sementara koor atau umat menyanyikan Lagu Pembuka.

Tugas akolit di sini adalah sebagai berikut:

  1. Berjalan bersama imam, berarak bersama mendahului imam. Dengan seluruh sikapnya akolit turut membantu menyiapkan seluruh umat mengambil bagian dalam perayaan sambil mewartakan bahwa Tuhan sedang mendatangi umat-Nya dan mau tinggal di tengah mereka. Para akolit membawa serta sejumlah peralatan liturgis yang secara simbolis mengungkapkan penghormatan kepada Tuhan yang datang ke tengah umat. Peralatan peralatan itu antara lain (khususnya dalam perayaan meriah):
    1. Api dalam stribul (wiruk) dan kemenyan untuk pedupaan.
    2. Salib yang diapit lilin-lilin bernyala.
    3. Bejana dengan air berkat dan alat percik
    4. Lonceng, bila perlu, untuk memberi tanda bahwa perayaan akan segera dimulai.
    5. Tongkat kegembalaan dan mitra uskup (dalam perayaan meriah yang dipimpin Uskup).
  2. Di depan altar akolit bersama pemimpin memberi hormat kepada Allah yang hadir di dalam tempat ibadah. Sesudahnya akolit meletakkan peralatan liturgis di tempatnya yang tepat. Misalnya, lilin dapat diletakkan di dekat atau di atas altar, salib dapat dipancangkan di sebelah kiri altar (terutama kalau tak ada salib besar yang menghadap umat) atau dibawa ke sakristi. Pembawa pedupaan mendekati altar dan melayani imam untuk mendupai altar dan salib. Sementara itu akolit yang lain berdiri di tempat yang telah disediakan. Kalau pernyataan tobat dibuat dengan percikan air berkat, akolit atau putra-putri altar membantu membawa air berkat sambil menghantar imam untuk mereciki umat.
  3. Akolit dapat melayani imam dengan memegang buku misa di dekat kursi imam agar dapat dibaca oleh pemimpin dengan mudah dan dengan sikap tangan yang sesuai. Akolit dapat juga membantu imam atau diakon untuk mempersiapkan buku misa di altar.

Liturgi Sabda:

  • Pada waktu Mazmur tanggapan hampir selesai dibawakan, akolit mengambil pedupaan untuk dibakar oleh imam.
  • Bila ada perarakan Kitab Suci, pembawa pedupaan dan lilin mengambil bagian dalam perarakan itu. Tempat mereka ada di depan perarakan .
  • Akolit pembawa lilin mendekati mimbar sabda lalu berdiri di sampingnya.
  • Di depan mimbar Sabda pembawa pedupaan melayani diakon atau imam untuk mendupai buku bacaan Injil (Evangeliarium).
  • Setelah bacaan Injil, para akolit meletakkan peralatan liturgi di tempatnya dan kembali ke tempat duduk masing-masing.

Persiapan Persembahan dan Doa Syukur Agung (DSA)

Pada waktu persiapan persembahan dan DSA tugas dari para akolit adalah:

  • Menghantar wakil-wakil umat yang membawa bahan-bahan persembahan ke altar.
  • Menyiapkan stribul (wiruk) dan kemenyan.
  • Membantu imam menyiapkan altar.
  • Menyiapkan altar ( kalau tidak ada diakon, dan kalau mendapat persetujuan dari imam, jadi harus ada konsultasi lebih dulu dengan imam): menghamparkan kain corporale di tengah altar dan meletakkan di atas kain korporale peralatan-peralatan Ekaristi seperti piala dengan pala (penutup piala), patena dengan hosti besar, sibori dengan hosti kecil di dalamnya, kain purifikator (kain pembersih piala).
  • Melayani pemimpin untuk mencuci tangan dengan membawa air dan kain lavabo (untuk mengeringkan tangan yang basah). Bila ada pendupaan, ritus cuci tangan ini dibuat sesudah pendupaan. Ketika mengambil pedupaan akolit tunduk di depan altar. Api dalam stribul (wiruk) harus sedang membara agar mudah terjadi pembakaran kemenyan bila dicampur dalam api yang akan menghasilkan kepulan asap dan bau harum mewangi. Hendaknya kemenyan tidak dicampur dengan tepung lilin atau bahan lain yang mengurangkan atau menghilangkan keharumannya.
  • Membantu imam dalam pendupaan, mendupai imam pemimpin (lalu konselebran kalau ada) dan mendupai umat. Sebelum pendupaan para konselebran dan umat baiklah diberi tanda supaya mereka berdiri dan  menundukkan kepala lalu akolit mendupai mereka. Pendupaan dibuat 3 x 3.
  • Membunyikan lonceng kecil atau alat bunyian lain (sesuai kebiasaan setempat) pada saat awal epiklesis, awal kisah institusi dan sesudah kata-kata konsekrasi.
  • Membuat pendupaan di depan altar pada saat hosti dan anggur yang kudus dihunjukkan.

Komuni

  • Akolit dapat juga menjalankan fungsi pelayanan komunio (membagi komunio). Akolit dengan tugas khusus ini disebut “pelayan komuni tak lazim”.
  • Bila disetujui oleh imam akolit dapat membersihkan dan merapihkan perlengkapan misa sesudah komunio di altar atau di meja credens.
  • Memberikan komuni pada orang sakit yang bisa dilakukan sesudah misa.

Ritus Penutup

  • Memberikan penghormatan di depan altar.
  • Mengantar imam kembali ke sakristi.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab