Home Blog Page 136

Sekilas Tentang Konklaf

8

VATIKAN- Konklaf, ritual khas untuk memilih Sri Paus, sang Pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma, mulai berlangsungi Selasa ini, 12 Maret 2013, untuk memilih penerus Takhta Santo Petrus ke-265, setelah Paus Benediktus XVI secara resmi mengundurkan diri pada 28 Pebruari 2013 tepat jam 20.00 waktu Roma oleh karena umur dan kesehatan. Sejak itu Takhta Santo Petrus mengalami “sede vacante“ (Latin, artinya Takhta Kosong). Di dalam masa ini para Kardinal di seluruh dunia di bawah 80 tahun sejak sede vacante berkumpul di Vatikan untuk mengadakan konklaf.

Seperti yang telah diputuskan secara bersama-sama oleh para Kardinal pemilih,  ke-115 Kardinal Pemilih  memulai  konklaf hari ini pada jam 10.00 pagi dengan perayaan Misa mulia Pembukaan Konklaf di Basilika Santo Petrus, Vatikan, yang disebut dengan istilah “Pro Eligendo Romano Pontifice” (Misa pemilihan Paus Roma) dipimpin oleh Pemimpin Kollegium para Kardinal, yakni Kardinal Angelo Sodano. Perayaan Misa tersebut dihadiri oleh seluruh Kardinal Pemilih dan bukan pemilih, artinya yang sudah berumur di atas 80 tahun sejak sede vacante, dan terbuka untuk seluruh umat Katolik.

Di dalam Misa ini ujud utama yang dikedepankan adalah memohon bantuan Allah Tritunggal agar memberkati upacara konklaf dan memohon bantuanNya melalui penerangan Roh Kudus agar para Kardinal Pemilih dapat memilih seorang Paus yang sungguh-sungguh tepat sesuai kehendak Tuhan sendiri.

Sore hari, tepat pkl. 16.30 para Kardinal Pemilih berkumpul di Kapela Paulina di dalam Vatikan, lalu berarak dalam prosesi dan suasana doa menuju Kapel Sistina, di tengah-tengah bangunan Vatikan,  tempat konklaf berlangsung. Perarakan ini didahului oleh ajuda pemegang Salib dan diikuti oleh rombongan Koor Sistina yang terdiri dari anak laki-laki dan pria dewasa. Para Kardinal Pemilih mengenakan pakaian merah dengan segala perlengkapannya sebagai layaknya menghadiri sebuah peristiwa penting. Selama perarakan, para Pengawal Swiss dan Polisi Italia  mengawal dan memastikan bahwa tidak ada pihak luar yang berkontak dengan para Kardinal Pemilih atau sebaliknya.

Setibanya di dalam Kapel Sistina, para Kardinal memilih tempat duduk seperti yang sudah disediakan. Setelah acara doa selesai, Master Seremoni Papale, Monsignor Guido Marini, adalah orang pertama yang berbicara dengan kata-kata berikut: Extra Omnes, artinya semua yang bukan Kardinal Pemilih harus meninggalkan Kapel Sistina.

Kapel Sistina sendiri telah disiapkan sebelumnya, termasuk pembangunan cerobong asap, ofen pembakar kertas pilih, pencabutan segala jaringan telepon, internet, pembersihan surat-surat kabar dan perusakan signal handphone untuk menghindari kontak dengan dunia luar. Juga di tempat para Kardinal Pemilih menginap, Domus Sanctae Marthae (Rumah Santa Marta) di dalam Vatikan, segala bentuk alat komunikasi, baik cetak maupun elektronik, diamankan. Jendela-jendela kamar mereka disegel dan signal telepon genggam juga diblok. Tetapi tidak tertutup kemungkinan bagi para Kardinal untuk bersalaman satu dengan yang lain. Akan tetapi mereka harus mengelakan pembicaraan-pembicaraan yang berkaitan dengan calon kandidat pilihan mereka atau segala diskusi terkait.

Setelah diadakan pengecekan dan pasti bahwa hanya ada 115 Kardinal pemilih di dalam Kepel Sistina, pintu Kapel Sistina ditutup sebagai tanda penarikan diri mereka dari dunia luar secara sah dan konklaf secara resmi dapat dimulai. Sejak itu hanya ada 115 Kardinal berada di dalam Kapel Sistina dan mengurus segala sesuatu secara sendiri.

Di awal konklaf, Kardinal Kepala Kollegium memilih tiga Kardinal termuda sebagai tenaga-tenaga pelancar selama konklaf. Hari-hari berikutnya bisa dipilih tiga Kardinal muda lainnya.

Pada hari pertama, Selasa malam, pemilihan hanya terjadi satu putaran saja. Sedangkan pada hari-hari selanjutnya sebanyak empat kali, yakni dua putaran di pagi hari, dan dua putaran di sore hari.

Sebelum memulai dengan pemilihan, kepada masing-masing Kardinal dibagikan sebuah kertas pemilih berukuran seperempat dari selembar kertas dina 4, di atasnya tertera sebuah kalimat di dalam bahasa Latin: Eligo in Sumum Pontificem Meum, artinya: Saya memilih Pemimpin Tertinggiku, di bawahnya terdapat ruangan untuk menulis nama orang yang ingin dipilih.

Setelah semua Kardinal memilih, mereka diminta untuk beranjak dari tempat duduknya menuju Altar, di mana sudah disediakan sebuah tempayan atau piala, tempat mereka memasukkan kertas suara mereka. Mereka dipanggil menurut pangkat dan jabatan. Setiba di depan Altar, setiap Kardinal berdiri dengan posisi menghadap sidang Kardinal, mengangkat kertas pilihannya tinggi-tinggi untuk membuktikan bahwa dia telah memilih secara sah, kembali berdiri menghadap Altar lalu berlutut untuk berdoa. Bunyi doanya adalah: “Testor Christum Dominum, qui me iudicaturus est, me eum eligere, quem secundum Deum iudico eligi debere“ (Aku memanggil Kristus Tuhan sebagai hakimku untuk menjadi saksi bahwa saya telah memilih calon ini, yang saya yakin sungguh bahwa dia akan dipilih sesuai kehendak Tuhan). Setelah berdoa demikian, si Kardinal Pemilih bangun berdiri, melipatkan kertas pilihannya dua kali sehingga berukuran kecil sekitar 2×2 cm, lalu meletakkannya ke tempayan atau piala yang telah disediakan. Setelah itu dia kembali ke tempat duduk dan disusul oleh Kardinal lainnya hingga akhir.

Setelah ke-115 kardinal melakukan tahap ini, ketiga Kardinal termuda yang telah dipilih untuk melancarkan upacara pemilihan, menghitung kertas suara dan mengumpulkan suara, lalu mengumumkan hasil pemilihan. Kalau proses pemilihan sesuai dengan aturan yang berlaku, maka pemilihan dinyatakan sukses.

Untuk konklaf kali ini, berbasis pada motu proprio Paus Benediktus yang melengkapi peraturan konklaf dari pendahulunya, Paus Yohanes Paulus II, seandainya seorang calon terpilih dengan mayoritas 77 suara, artinya duapertiga dari jumlah seluruh pemilih, maka dengan itu seorang Paus sudah terpilih. Jika belum ada minimal mayoritas duapertiga,maka pemilihan akan dilanjutkan ke putaran berikutnya. Akan tetapi jika lebih dari putaran ke-30 dan belum juga terpilih seorang Paus, maka, sesuai motu proprio Paus Benediktus tahun 2007, dua kandidat dengan perolehan suara terbanyak, akan dipilih oleh para Kardinal, di mana kedua yang terpilih ini otomatis kehilangan hak memilih.

Di akhir sebuah putaran, kertas-kertas yang sudah terbuka akan dilobangkan dengan sebuah jarum lalu dibariskan pada seutas benang, kemudian dimasukan ke dalam ofen untuk dibakar. Kalau putaran tersebut belum menghasilkan seorang Paus, maka kertas-kertas itu dibakar dengan campuran zat kimia yang menghasilkan asap warna hitam. Hal ini memberikan isyarat kepada umat Katolik seluruh dunia bahwa Paus belum terpilih. Di berbagai sudut Vatikan sekitar 5000 wartawan cetak dan elektronik sudah siap untuk memantau cerobong asap selama masa konklaf dan sesegera mungkin mengabarkan isyarat ini ke seluruh dunia. Ribuan umat yang menanti sehari-hari di Lapangan Santo Petrus juga mengarahkan pandangan hanya ke satu titik, yakni ke cerobong asap.

Seandainya sebuah putaran telah menghasilkan mayoritas yang dibutuhkan, artinya seorang Paus sudah terpilih, maka Kardinal Dekan menanyakan kepada yang bersangkutan dalam keadaan berdiri, apakah dia menerima pemilihan tersebut. Ketika dia menjawab Ya sebagai tanda kesediaanya, maka kepadanya dilontarkan pertanyaan kedua: Apa nama yang digunakan sebagai Paus. Setelah memberikan jawaban kepada kedua pertanyaan ini dengan jelas, Paus baru dikenakan sebuah tanda khusus berupa sebuah pakaian kebesaran. Dulu, Paus terpilih dikenakan sebuah mahkota, tetapi tradisi ini sudah tidak berlaku lagi.

Setelah mengenakan pakaian khusus ini, Paus terpilih beranjak dari tempatnya menuju ke Altar, di mana di depan Altar tersebut sudah disediakan kursi khusus. Di hadapannya para Kardinal (saat itu berjumlah 114 orang) mengucapkan janji setia dan ketaatan mereka kepadanya. Setelah itu semua bertepuk tangan dan mengucapkan Selamat kepada Paus terpilih.

Pada saat itu pengurus pembakaran kertas pilihan memasukkan kertas-kertas yang sudah dideretkan pada seutas tali dan dibakar dengan campuran kimia yang menghasilkan asap warna putih, sebagai tanda bahwa Gereja Katiolik sudah memiliki seorang Paus. Asap putih dari cerobong di atas atap Kapel Sistina akan diiringi dengan bunyi lonceng gereja.

Pada saat yang sama, Paus baru dihantar menuju sebuah kamar di samping Altar yang disebut “camera lacrimatoria”, artinya Kamar Air Mata, di mana dia beristirahat, memikirkan apa yang harus dikatakan beberapa saat kemudian ketika diperkenalkan kepada dunia dari balkon Basilika Santo Petrus. Kamar itu dinamakan “Kamar Air Mata“ karena berbagai alasan, antara lain sebuah tempat khusus, di mana Paus baru meluapkan segala perasaanya, yang umumnya di dalam sejarah berupa deraian air mata kegembiraan atau keterharuan. Di sini pula Paus baru tersebut dikenakan pakaian lain untuk ditampilkan ke publik.

Dalam selang waktu antara 20 sampai 30 menit, ketika ratusan ribu umat dan peziarah bergegas menuju Lapangan Santo Petrus, Paus baru dihantar oleh rombongan Kardinal menuju Balkon Basilika Santo Paulus yang berbingkai merah dan ditutup dengan kain lebar berwarna merah pula. Dua ajuda mendamping seorang Kardinal Diakon yang akan mengumumkan kepada dunia nama Paus baru sebagai hasil konklaf. Kali ini, Kardinal Diakon yang akan mengumumkan nama Paus baru adalah Jean-Louis Kardinal Tauran, yang adalah juga Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama, tempat Penulis bekerja.

Kardinal Diakon tampil ke Balkon, diiringi dengan tepukan tangan dan teriakan histeris hadirin yang dipenuhi dengan rasa ingin tahu, lalu mengumumkan nama Paus baru dengan rumusan berikut: “Annuntio vobis gaudium magnum: Habemus Papam!“, artinya: “Saya mengumumkan kepada anda kalian sebuah kegembiraan besar: Kita mempunyai seorang Paus!“

Kardinal Diakon dan kedua ajuda mundur, lalu tampillah Paus baru sambil menyalami hadirin dan pemirsan di seluruh dunia dengan gestikulasi tangan khas. Setelah masa reda, beliau menyalami umat dan dunia dan membawakan sebuah wejangan singkat.

Setelah melakukan perkenalan dan sambutan ini, beliau kembali ke Domus Sanctae Marthae, menghuni sebuah kamar khusus yang sudah disediakan sekitar satu minggu sambil menanti pemberesan dan adaptasi istana kepausan untuk Paus baru. Setelah pengumuman resmi ini, para Kardinal pemilih boleh kembali ke ritme dan model hidup normal.

Beberapa hari kemudian, sebuah Misa instalasi Paus baru akan dilaksanakan dan terbuka untuk umat. Pada saat itu umat dipenuhi kegembiraan sekaligus rasa ingin tahu tentang apa yang akan disampaikan Paus baru di dalam kotbahnya, yang umumnya sudah menyiratkan kiat, visi, misi dan harapannya serta apa yang akan dilakukan di masa-masa mendatang di dalam era kepemimpinannya.***

Oleh: P Markus Solo SVD – Artikel ini dipublikasikan atas izin dari P. Markus Solo SVD, Staf Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama (Pontifical Council for Interreligious Dialogue) di Vatikan

Keamanan Vatikan dan Keadaan Darurat

1

korps-gendarmeSELAIN Garda Swiss  dengan seragam garis warna-warni, sistem keamanan Vatikan dikendalikan oleh Pasukan Keamanan Pusat Negara Kota Vatikan  (Central Security Corps of Vatican City State). Pasukan Keamanan Pusat yang lebih dikenal dengan sebutan Gendarme itu bertanggung jawab penuh atas keamanan dan ketertiban umum, tugas- tugas yang lazimnya diemban kepolisian  seperti mengontrol perbatasan, penanggulangan kejahatan, investigasi, mengatur lalu lintas, dan penegakan aturan keuangan dan perdagangan.
Saat ini anggota Gendarme berjumlah 160 orang, semuanya berwarganegara Italia. Di dalam korps ini turut bergabung para personil yang punya spesilisasi dalam hal antiterorisme dan antisabotase.
Kepala Korps Gendarme Vatikan, Domenico Giani, menyatakan korps yang dipimpinnya sudah bergabung dengan satuan kepolisian dunia, Interpol. Menurut kantor berita Zenit, korps Gendarme tercatat sebagai anggota Interpol yang ke-187.

Keadaan Darurat
Vatikan memiliki sejumlah personel terlatih untuk mengatasi keadaan darurat. Departemen yang paling handal dan mahal adalah Pemadam Kebakaran, yang dibentuk untuk menjaga warga, pengunjung, dan gedung-gedung Vatikan. Menyadari adanya berbagai karya seni tak ternilai di Vatikan, adalah wajar apabila dipasang sistem pengamanan terbaik mengatasi kebakaran. Di sekeliling Vatikan dipasang alat anti-api yang menjaga karya-karya tak ternilai serta dokumen-dokumen penting.
Di Vatikan terdapat pula dinas Pertolongan Pertama (First Aid) yang selalu siap menolong dan merawat ribuan pengunjung setiap hari. Tim Pertolongan Pertama berlokasi di museum-museum serta di pinggir Lapangan Santu Petrus. Terdapat pula dinas keadaan darurat untuk Paus dan para imam senior yang bertugas di Vatikan.
Selain itu di Vatikan terdapat sejumlah fasilitas dan sarana kesehatan. Mobil ambulans selalu siap menjalankan fungsinya apabila diperlukan untuk mengangkut pasien ke rumah sakit. Dalam bidang pelayanan kesehatan, Vatikan juga punya klinik. Poliklinik Gemelli, yang terletak di  utara Vatikan, menyediakan kamar khusus apabila Sri Paus harus dirawat. Sebelum wafat, Paus Yohanes Paulus II sempat beberapa kali dirawat di sana. ***

Oleh Jan Nabut – Dari berbagai sumber

Konklaf Berlangsung Mulai Selasa, 12 Maret 2013

0

konklaf-dimulaiVATIKAN – Konklaf, pemilihan Paus baru menggantikan Paus Benediktus XVI yang mengundurkan diri 28 Februari lalu– akan dimulai hari Selasa, 12 Maret 2013. Tanggal pelaksanaan konklaf itu diputuskan pada Jumat (8/3) dalam sebuah voting yang dilakukan para kardinal yang telah menggelar pertemuan selama sepekan membahas masalah yang dihadapi Gereja Katolik serta menentukan kualitas yang harus dimiliki calon pengganti Paus Benediktus XVI.

Juru bicara Vatikan, Pastor Federico Lombari SJ menyebut pertemuan prakonklaf itu memberikan para kardinal kesempatan untuk menyepakati profil karakteristik, serta kualitas yang harus dimiliki Paus yang baru. Kardinal Sean O’Malley, Uskup Agung Boston, menyebut tanpa pertemuan itu konklaf bisa berlangsung lama.

Dari 115 Kardinal Pemilih, lebih dari separo berasal dari Eropa, sebanyak 60 orang kardinal. Selebihnya, 19 orang kardinal dari kawasan Amerika Latin, 14 orang kardinal dari Amerika Utara, 11 orang kardinal dari Afrika, 10 orang kardinal dari Asia dan 1 kardinal dari kawasan Oceania.

Mustinya jumlah kardinal yangmengikuti sebanyak 117 kardinal. Tapi, kardinal asal Indonesia, Julius Darmaatmadja, absen lantaran kondisi kesehatannya sangat menurun. Sedangkan kardinal asal Skotlandia, Keith Michael Patrick O’Brien, mengundurkan diri lantaran diduga terlibat skandal seksual.

Sebanyak 67 orang Kardinal Pemilih yang akan mengikuti konklaf hari Selasa diangkat oleh Paus Emeritus Benediktus XVI. Sisanya dipilih oleh Paus Johannes Paulus II. Usia rata-rata Kardinal Pemilih kali ini 71 tahun.

Di abad 20 berlangsung delapan kali konklaf. Dari jumlah itu, cuma tiga konklaf yang berlangsung lebih dari tiga hari. Konklaf terlama dalam 200 tahun terakhir terjadi tahun 1830-1831, berlangsung 50 hari. Konklaf terpendek di abad ke-20 terjadi tahun 1939, ketika Eugenio Pacelli terpilih jadi Paus Pius XII setelah cuma tiga kali pemungutan suara, atau kurang dari satu hari.

Paus Benediktus XVI terpilih di putaran keempat pemilihan pada 2005, sehari setelah konklaf dimulai. Hal itu merupakan salah satu pemilihan Paus tercepat dalam sejarah. Pendahulunya, Paus Yohanes Paulus II terpilih setelah delapan putaran di hari ketiga konklaf pada 1978.

Konklaf hari Selasa mendatang diawali dengan perayaan Misa “pro eligendo Romano Pontifice” pada pagi hari. Kemudian, pada hari Selasa sore 115 Kardinal Pemilih berkumpul di Kapel Paulina untuk berdoa. Dari sana, para kardinal melakukan prosesi melalui ruangan yang disebut Sala Regia menuju Kapel Sistina sambil menyanyikan lagu “Veni Creator Spiritus” (“Datanglah ya Roh Kudus”), memohon bantuan Roh Kudus. (Reuters)

Kapel Sistina Siap Menyelenggarakan Konklaf

0

sistine-chapel-readyVATIKAN – Beberapa hari terakhir Kapel Sistina diubah dari sebuah tempat wisata yang terkenal di dunia menjadi ruang doa  di mana para kardinal pemilih akan memilih Paus baru. Sejak beberapa hari lalu, para pekerja Vatikan memasang karpet untuk menutupi lantai ubin mosaik, dan mimbar kecil diletakkan di atasnya bersama dengan sebuah altar. Para pekerja kemudian meletakkan meja dan kursi untuk 115 kardinal pemilih.

Seperti pada konklaf sebelumnya, cerobong asap dipasang untuk memunculkan warna asap (hitam dan putih) agar publik tahu apakah Paus baru sudah dipilih atau belum. Apabila asap putih muncul, berarti Sri Paus yang baru telah terpilih. Asap putih terbuat dari pembakaran surat suara dan beberapa zat kimia tambahan.

Menurut Pastor Federico Lombardi SJ, juru bicara Vatikan,  dalam rangka persiapan konklaf, kapel itu secara resmi ditutup bagi para wisatawan sejak 5 Maret.

Demi menjaga kerahasiaan, para kardinal  bersumpah dan para teknisi menjaga kapel dari pengintaian elektronik atau alat perekam sebelum konklaf. Pastor Lombardi mengatakan perangkat peredam digunakan untuk menonaktifkan sinyal ponsel.

Nama Kapel Sistina berasal dari Paus Sikstus IV, yang merestorasi Kapel Magna antara tahun 1477 hingga tahun 1480. Selama periode ini, sekelompok pelukis seperti Pietro Perugino, Sandro Botticelli, dan Domenico Ghirlandaio membuat beberapa lukisan dinding yang menggambarkan kehidupan Musa dan Yesus.

Lukisan-lukisan tersebut selesai tahun 1482, dan pada 15 Agustus 1483, Sikstus IV mengadakan misa pertama di kapel ini untuk merayakan peristiwa Bunda Maria diangkat ke Surga.

Sejak era Sikstus IV, kapel ini menjadi tempat kegiatan religius dan aktivitas kepausan, seperti tempat diadakannya konklaf untuk memilih Paus baru. (Reuters)

Unika Soegijapranata Semarang Pertahankan Akreditasinya

0

universitas-katolik-soegijapranataSEMARANG- Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, Jawa Tengah, tetap mempertahankan status akreditasinya. Status terakreditasi tersebut yang diberikan Badan Akreditasi Nasional-PerguruanTinggi (BAN-PT) beberapa waktu lalu, diberikan kepada Unika Soegijapranata bersama 28 perguruan tinggi negeri dan swasta lainnya, termasuk Unika Sanata Dharma, Unika Atmajaya Jakarta, UI dan UGM.

Ketua tim akreditasi Unika Soegijapranata Semarang Dr A. Ika Rahutami  belum lama ini menyebutkan, Unika Soegijapranata hingga kini berhasil mempertahankan statusnya sebagaimana yang pernah diterimanya tahun 2007. Pada waktu itu, status akreditasi tersebut telah membuat Unika Soegijapranata diberi anugerah sebagai salah satu dari 50 perguruan tinggi di Indonesia yang paling menjanjikan (the most 50 promising universities) oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Dengan isian borang baru yang lebih detail dan njlimet, kami berusaha menunjukkan capaian-capaian yang sudah dilakukan oleh Unika Soegijapranata dalam empat-lima tahun terakhir ini. Hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Meski tentu saja masih ada bidang-bidang tertentu yang masih bisa dikembangkan,” papar Ika, seperti dilansir kompas.com.

Dalam prosesnya, Unika Soegijapranata sudah berkembang dengan kecepatan yang bagus dari berbagai sisi. Baik secara akademik mau pun non akademik, hard skill dan soft skill, peningkatan jumlah doktor, kerja sama internasional dan kemampuan sumber daya tenaga kependidikan sesuai dengan tuntutan jaman.

Bagi Unika Soegijapranata, proses akreditasi institusi merupakan salah satu bukti pengakuan akan keseriusan pengelola perguruan tinggi di Indonesia untuk memberikan yang terbaik bagi generasi muda bangsa ini. Oleh karena itu harus tetap diadakan agar menjadi pembeda bagi mereka yang sepenuh hati mengelola institusinya dan yang hanya setengah hati melakukannya.

Menurut Ika, akreditasi dipahami sebagai penentuan standar mutu serta penilaian terhadap suatu lembaga pendidikan (dalam hal ini pendidikan tinggi) oleh pihak di luar lembaga pendidikan itu sendiri. Sebagai perguruan tinggi swasta di Semarang, Unika Soegijapranata kembali mendapatkan akreditasi dengan nilai B untuk akreditasi institusinya.

Akreditasi insitusi adalah salah satu tolok ukur pencapaian kinerja akademik dan non akademik dari suatu institusi pendidikan tinggi. Penilaian akreditasi institusi itu sendiri dilihat dari beberapa komponen antara lain yaitu komitmen inti pertama yaitu kapasitas institusi. Kapasitas institusi dicerminkan dalam ketersediaan dan kecukupan berbagai perangkat dasar yang diperlukan untuk menyelenggarakan pendidikan, seperti eligibilitas, integritas, visi, misi, tujuan, dan sasaran.***

Hidup dan Bekerja di Vatikan

1

bekerja-di-vatikanWalaupun berlokasi di jantung Kota Roma, Vatikan merupakan sebuah negara tersendiri. Vatikan memiliki kewarganegaraan bagi penduduknya, mempunyai korps diplomatik, dan sistem keamanan sendiri.

Kendati Paus adalah pemimpin negara kota ini, pekerjaan keseharian Vatikan dipercayakan kepada sejumlah badan negara serta individu, yang menjaga hubungan Vatikan dengan dunia luar dan menghasilkan keputusan-keputusan yang akan mempengaruhi kehidupan 1,2 miliar umat Katolik seluruh dunia. Adminstrasi Vatikan juga bergantung pada pekerja awam yang menjaga negara kecil ini berjalan. Para pekerja awam itu menjalankan berbagai tugas, di antaranya pemeliharaan bangunan, serta tugas-tugas lainnya.

Kehidupan awam di Vatikan jarang terlihat dunia. Namun, di luar upacara untuk publik, di balik kekayaan harta dan karya seni tak ternilai harganya, kehidupan negara kota ini berjalan seperti kota biasa. Para pekerja Vatikan bekerja tak henti-hentinya membersihkan dan memelihara gedung-gedung, merawat taman-taman, dan menjalankan program restorasi. Makanan disiapkan di kantin para staf, dan pakaian dicuci serta disiapkan untuk upacara Paus. Pada akhir tiap hari kerja, para pekerja berbelanja, memasak, bermain, dan beristirahat.

Sangat sedikit orang yang tahu bagaimana bekerja dan hidup di Vatikan. Bagi kebanyakan orang yang berkunjung ke sana, Vatikan adalah tempat yang menakjubkan, dan bahkan menggetarkan. Tapi, bagi mereka yang tinggal dan bekerja di Vatikan, terdapat perasaan kebersamaan.

Sebagian menjuluki Vatikan sebagai sebuah “kampung”, bahkan memang terdapat semacam gaya informal pada cara seorang Garda Swiss menghormati seorang klerus yang lewat, atau santainya seorang ibu rumah tangga membawa sekeranjang belanjaan yang dibeli di Anonna, supermarket di Vatikan. Para suster saling memberi salam ketika berpapasan, para kardinal berdiri di lapangan serius berdiskusi, dan seorang seminaris bersepeda ke kantor pos. Dari waktu ke waktu, serombongan mobil yang membawa para pejabat tinggi dan tamu, bergerak beriringan melewati gerbang Santa Anna menuju Istana Apostolik di belakang Basilika Santo Petrus, tempat Paus menunggu untuk menyambut mereka.

Sekitar 800 orang bekerja di Vatikan, dengan 450 orang di antaranya memiliki kewarganegaraan Vatikan. Seseorang dinugerahi kewarganegaraan Vatikan oleh kantor tempat ia bekerja. Tapi, status kewarganegaraannya dicabut setelah ia keluar atau pensiun. Agar lebih aman, kebanyakan warga negara Vatikan memiliki kewarganegaraan ganda, Vatikan dan negara ia berasal.

Mereka yang mengunjungi Vatikan untuk keperluaan resmi harus diperiksa secara ketat demi keamanan. Hal ini dilakukan untuk melindungi Vatikan dan warganya. Bagi semua orang yang bekerja dan hidup di Vatikan, terdapat perasaan loyalitas dan mengabdi kepada orang yang ditunjuk menjadi Paus, sang pengganti Santo Petrus.

Impor gas, listrik, dan air

Melihat kecilnya ukuran Vatikan apabila dibandingkan dengan Kota Roma, maka tak heran apabila Vatikan sangat tergantung pada kebaikan hati pemerintah Italia. Listrik, air, gas, dan keperluan lain harus diimpor, seperti halnya semua makanan, bahan bangunan, mesin, dan barang-barang-barang lain yang diperlukan untuk menjalankan suatu negara kota. Lokasi Vatikan yang terletak di jantung Kota Roma membuat semuanya harus melalui Roma untuk sampai ke Vatikan. Untungnya, hampir semua barang-barang berat dapat dikirim melalui kereta api via sebuah jalur kereta api yang menghubungkan keduanya.

Bangunan-bangunan bersejarah dan lapangan-lapangan luas di dalam tembok Vatikan membutuhkan perhatian dan perawatan yang terus menerus. Sebuah tim yang terdiri dari para pembangun dan perestorasi bekerja tanpa lelah untuk memperbaiki dan merawat bangunan-bangunan itu. Dalam pada itu, taman-taman dirawat oleh sebuah tim spesialis yang terdiri dari para ahli tanaman dan tukang kebun. ***

Oleh Jan Nabut – Dari berbagai sumber

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab