Home Blog Page 84

Hati Allah Bersinar di Dalam Hati Kita (Menghidupi Tahun Pelayanan )

0

Kita, umat Paroki Santa Odilia – Cikupa, merupakan bagian dari Keuskupan Agung Jakarta. Kita sedang berziarah menuju sebuah communio (persekutuan/ persaudaraan) yang sejati. Wajah persekutuan sejati nampak dalam hidup yang semakin hari semakin beriman, semakin, semakin bersaudara, dan semakin berbelarasa. Dua tahun berturut-turut kita berusaha untuk membangun sebuah persekutuan yang semakin beriman dan bersaudara. Persaudaraan menyatu dengan iman. Tak ada persaudaraan yang abadi tanpa iman. Tak ada iman yang sempurna tanpa persaudaraan. Kita memang dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi satu tubuh dan mensyukurinya : “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah” (Kolose 3:15). Iman dan persaudaraan hendaknya berbuah belarasa, yaitu pelayanan kasih. Tanpa kasih kita tidak mengenal Allah karena Allah adalah Kasih : “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8).

Dasar dari pelayanan kasih adalah kita telah diciptakan, dipelihara, dan diselamatkan oleh Allah karena Ia mengasihi kita: “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa (Roma 5:8). Kita diselamatkan di dalam Kristus untuk Dia pakai menjadi utusan-utusan-Nya dalam menyalurkan kasih-Nya di tengah dunia. Melayani semata-mata merupakan kasih karunia-Nya. Pelayanan kasih merupakan pemberian kasih karunia Allah seperti yang diyakini oleh Rasul Paulus : “Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya (Efesus 3:7). Karena pelayanan kasih semata-mata merupakan karunia dari Tuhan, kita tidak perlu membuktikan prestasi, keunggulan, ketangguhan, dan kekayaan kita sebelum kita melakukan pelayanan itu. Tuhan telah menganugerahkan kepada kita karunia-karunia sebelum memanggil kita untuk melayani dengan kasih: “Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus” (Efesus 4:7). Jadi, pelayanan kasih merupakan ungkapan kasih kita kepada Tuhan yang telah memelihara dan menyelamatkan kita. Pelayanan kasih yang merupakan ungkapan kasih kita kepada Tuhan dan sesama akan membawa sukacita.

Pelayanan kasih harus nyata. Santo Yohanes dalam suratnya menasihati kita dalam hal ini : “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1 Yohanes 3:18). Tuhan Yesus Kristus mengekspresikan kasih-Nya dengan tindakan nyata : “Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu” (Yohanes 13:4-5). Tindakan nyata dalam tahun pelayanan kasih di paroki kita adalah gerakan uang surga Rp. 500 per hari dan per keluarga. Hasil dari uang surga ini akan dikumpulkan setiap bulan dan dibagikan kepada warga lingkungan/komunitas sendiri dan masyarakat sekitar mereka (non Katolik) yang paling membutuhkan. Selain itu, ada suatu program yang akan dilaksanakan oleh sie pendidikan, yaitu les bahasa Inggris untuk anak-anak pra sekolah/usia lima tahun dari keluarga sederhana. Les bahasa Inggris ini akan dilakukan dengan cara permainan sehingga anak nanti sudah mengenal bahasa Inggris sejak awal dan terutama tidak takut untuk masuk sekolah. Sekolah is fun (Sekolah adalah menyenangkan). Pada tahap awal akan dididik delapan atau sepuluh anak. Setelah setengah tahun berjalan, program ini akan ditingkatkan. Ketika semakin banyak anak yang membutuhkan, sie pendidikan akan mengkader beberapa orang lagi untuk dapat berpartisipasi dalam menangani progam ini. Program ini akan dimulai tanggal 21 Maret 2014, pukul 16.00 – 17.30 di Gedung Santo Damian – Paroki Santa Odilia. Program uang surga, Rp 500,- dan les bahasa Inggris ini menambah sumringah/semangat pelayanan kasih yang sudah ada, seperti poliklinik umum dan poliklinik gigi bagi umat yang kurang mampu.

Pelayanan kasih yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh akan membuat banyak orang melihat dan mengalami Tuhan yang ada dalam hidup kita. Hati kita merupakan tempat hati Allah untuk menyinarkan kasih-Nya: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5:16). Semakin kita menggunakan berkat dari Tuhan bagi pelayanan kasih, Tuhan akan senantiasa menambahkannya kepada kita: “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu !” (Ratapan 3:22-23). Karena itu, jangan pernah sesali apa yang tidak kita miliki, tetapi sesalilah apa yang tidak kita hargai dari apa yang kita miliki. Menghargai dari apa yang kita miliki adalah menggunakannya untuk kemuliaan Tuhan dengan melakukan pelayanan kasih secara tulus: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati“ (Lukas 6:36). Mari kita renungkan : “Kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan sediakan bagi kita untuk melakukan pelayanan kasih karena pelayanan kasih adalah kasih karunia Allah.

Tuhan Memberkati

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Menjadi Manusia berarti Menjadi Pengasuh Bagi Satu Sama Lain!

0

Berikut adalah homili Paus Fransiskus dalam misa untuk Perdamaian:

“Dan Allah melihat bahwa semuanya itu baik” (Kej 1:12, 18, 21, 25).

Kisah Alkitab tentang awal sejarah dunia dan umat manusia berbicara kepada kita tentang Allah yang melihat ciptaan, dalam artian merenungkan hal itu, dan menyatakan: “Itu baik”. Hal ini, saudara-saudari terkasih, memungkinkan kita untuk masuk ke dalam hati Allah dan, dengan tepat dari dalam diri-Nya, untuk menerima pesan-Nya.

Kita dapat bertanya kepada diri sendiri: apa artinya pesan ini? Apa yang dikatakan kepada saya, kepada kalian, kepada semua dari kita?

1. Yang dikatakan kepada kita secara sederhana bahwa ini, dunia kita, di hati dan pikiran Allah, adalah “rumah harmonis dan damai”, dan bahwa itu adalah ruang di mana setiap orang dapat menemukan tempat mereka yang tepat dan merasa “di rumah”, karena hal itu”baik”. Semua ciptaan membentuk persatuan yang harmonis dan baik, tetapi di atas semua umat manusia, diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, adalah satu keluarga, di mana hubungan-hubungan relasi ditandai dengan sebuah persaudaraan sejati yang tidak hanya dalam kata-kata: orang lain adalah saudara atau saudari untuk kasih, dan hubungan relasi kita dengan Allah, yang adalah kasih, kesetiaan dan kebaikan, mencerminkan setiap hubungan relasi manusia dan membawa keharmonisan pada keseluruhan ciptaan-Nya. Dunia Allah ialah sebuah dunia di mana setiap orang merasa bertanggung jawab atas yang lain, atas kebaikan dari yang lain. Malam ini, dalam refleksi, puasa dan doa, masing-masing dari kita jauh di lubuk hati harus bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah ini benar-benar dunia yang aku inginkan? Apakah ini benar-benar dunia yang kita semua bawa dalam hati kita? Apakah dunia yang kita inginkan itu benar-benar sebuah dunia harmonis dan damai, dalam diri kita sendiri, dalam relasi-relasi kita dengan orang lain, dalam keluarga-keluarga, di kota-kota, di dalam dan di antara bangsa-bangsa? Dan apakah kebebasan yang bukan sebenarnya berarti yang memilih cara-cara di dunia ini yang menuntun pada kebaikan dari semua dan dibimbing oleh kasih?

2. Tapi kemudian kita bertanya-tanya: Apakah ini dunia yang di mana kita sedang hidup? Ciptaan mempertahankan keindahannya yang memenuhi kita dengan perasaan kagum dan itu tetap menjadi sebuah karya baik. Tapi ada juga “kekerasan, perpecahan, perselisihan, perang”. Hal ini terjadi ketika seseorang, ciptaan-Nya yang tertinggi, berhenti merenungkan keindahan dan kebaikan, dan menarik diri ke dalam keegoisannya sendiri.

Ketika seseorang hanya memikirkan dirinya sendiri, kepentingan-kepentingannya sendiri dan menempatkan dirinya di pusat, ketika ia mengizinkan dirinya terpikat oleh berhala-berhala kekuasaan dan kekuatan, ketika ia menempatkan dirinya di tempat Allah, maka semua hubungan-hubungan relasi dirusak dan segala sesuatunya hancur; kemudian pintu terbuka kepada kekerasan, ketidakpedulian, dan konflik. Hal ini adalah tepat dengan kutipan dalam Kitab Kejadian upayakan untuk mengajar kita dalam kisah Kejatuhan: manusia masuk ke dalam konflik dengan dirinya sendiri, dia menyadari bahwa dia telanjang dan dia menyembunyikan dirinya sendiri karena dia takut (lih. Kejadian 3: 10), dia takut akan pandangan sekilas Allah, dia menuduh wanita itu, yang adalah daging dari dagingnya (lih. ay 12); dia merusak keharmonisan dengan ciptaan, dia mulai mengangkat tangannya melawan saudaranya untuk membunuhnya. Dapatkah kita katakan bahwa dari keharmonisan dia meneruskan kepada “ketidakharmonisan”? Tidak, tidak ada hal semacam seperti “ketidakharmonisan”; yang ada adalah keharmonisan atau kita jatuh ke dalam kekacauan, di mana terdapat kekerasan, argumen, konflik, ketakutan ….

Justru itu tepatnya dalam kekacauan ini bahwa Allah menanyakan hati nurani manusia: “Di mana Habel, saudaramu itu?” Dan Kain menjawab: “Aku tidak tahu; apakah aku penjaga saudaraku?” (Kej 4:9). Kita juga ditanyakan [dengan] pertanyaan ini, yang akan menjadi baik bagi kita untuk bertanya pada diri sendiri juga: Apakah aku adalah benar-benar penjaga saudaraku? Ya, kalian adalah penjaga saudara kalian! Menjadi manusia berarti saling menyayangi satu sama lain! Tapi ketika keharmonisan rusak, sebuah metamorfosis terjadi: saudara yang seharusnya diperhatikan dan dikasihi itu menjadi musuh untuk bertarung, untuk membunuh. Kekerasan apa yang terjadi pada momen itu, berapa banyak konflik, berapa banyak perang telah menandai sejarah kita!
Kita hanya perlu melihat penderitaan dari begitu banyak saudara dan saudari [kita]. Hal ini bukan soal kebetulan, tapi kebenarannya: kita menyebabkan kelahiran kembali Kain dalam setiap tindakan kekerasan dan dalam setiap perang. Semua dari kita! Dan bahkan saat ini kita melanjutkan sejarah konflik di antara saudara-saudara ini, bahkan saat ini kita mengangkat tangan kita terhadap saudara kita. Bahkan saat ini, kita membiarkan diri kita dibimbing oleh berhala-berhala, oleh keegoisan, oleh kepentingan-kepentingan kita sendiri, dan sikap ini terus berlangsung. Kita telah menyempurnakan senjata-senjata kita, hati nurani kita telah jatuh tertidur, dan kita telah mempertajam ide-ide kita untuk membenarkan diri kita sendiri. Seolah-olah itu normal, kita terus menabur kehancuran, kepedihan, kematian! Kekerasan dan perang hanya menyebabkan kematian, mereka berbicara tentang kematian! Kekerasan dan perang adalah bahasa kematian!

Setelah kekacauan banjir, saat hujan berhenti, pelangi muncul dan burung merpati itu datang kembali dengan ranting zaitun. Hari ini, saya membayangkan juga pohon zaitun yang mewakili berbagai agama itu yang ditanam di Plaza de Mayo di Buenos Aires pada tahun 2000, yang meminta agar tidak ada lagi kekacauan, yang meminta agar tidak ada lagi perang, yang meminta perdamaian.

3. Dan pada titik ini saya bertanya pada diri sendiri: Apakah itu mungkin untuk melangkah pada jalan damai? Dapatkah kita keluar dari spiral kesedihan dan kematian ini? Dapatkah kita belajar sekali lagi untuk berjalan melangkah dan menjalani hidup dengan cara-cara damai? Meminta pertolongan Allah, di bawah tatapan keibuan dari Salus Populi Romani, Ratu Damai, saya katakan: Ya, itu mungkin bagi setiap orang! Dari setiap sudut dunia malam ini, saya ingin mendengar kita berseru: Ya, itu mungkin bagi setiap orang! Atau bahkan lebih baik, saya ingin untuk masing-masing orang dari kita, dari yang terkecil sampai yang terbesar, termasuk mereka yang dipanggil untuk memerintah negara-negara, untuk menanggapi: Ya, kami menginginkannya! Iman Kristiani saya mendesak saya untuk melihat kepada kayu Salib. Bagaimana saya berharap bahwa semua pria dan wanita yang berkehendak baik akan melihat kepada Salib itu walau hanya untuk sesaat! Di sana, kita bisa melihat jawaban Allah: kekerasan tidak dijawab dengan kekerasan, kematian tidak dijawab dengan bahasa kematian. Dalam keheningan Salib, kegaduhan senjata-senjata berhenti dan bahasa rekonsiliasi, pengampunan, dialog, dan perdamaian diucapkan.

Malam ini, saya meminta kepada Tuhan bahwa kita umat Kristiani, dan saudara-saudari kita dari agama-agama lain, dan setiap pria dan wanita yang berkehendak baik, berseru kuat: kekerasan dan perang tidak pernah merupakan jalan menuju perdamaian! Biarkan setiap orang tergerak untuk melihat ke kedalaman hati nuraninya dan mendengarkan kata itu yang mengatakan: Tinggalkan ke belakang kepentingan sendiri yang mengeras hati kalian, atasi ketidakpedulian yang membuat hati kalian tidak peka terhadap orang lain, taklukkan penalaran kalian yang mematikan, dan buka diri untuk dialog dan rekonsiliasi. Memandang kesedihan saudara kalian – saya memikirkan anak-anak: pandang hal-hal ini … tatap kesedihan saudara kalian, diamkan tangan kalian dan jangan tambahkan kepadanya, bangun kembali keharmonisan yang telah hancur itu, dan semua ini dicapai bukan dengan konflik tetapi dengan perjumpaan! Semoga kebisingan senjata berhenti! Perang selalu menandai kegagalan perdamaian, itu selalu merupakan sebuah kekalahan bagi kemanusiaan. Biarkan kata-kata Paus Paulus VI bergema lagi: “Tidak ada lagi satu melawan yang lain, tidak ada lagi, tidak pernah! … perang tidak pernah lagi, tidak pernah lagi perang! “(dialamatkan kepada PBB, 1965). “Perdamaian mengekspresikan dirinya hanya dalam damai, sebuah perdamaian yang bukan terpisah dari tuntutan-tuntutan keadilan melainkan yang dipupuk oleh pengorbanan pribadi, grasi, belas kasihan dan kasih” (Pesan Hari Perdamaian Sedunia, 1975). Saudara dan saudari sekalian, pengampunan, dialog, rekonsiliasi – ini adalah kata-kata perdamaian, yang terkasih di Suriah, di Timur Tengah, di seluruh dunia! Mari kita berdoa malam ini untuk rekonsiliasi dan perdamaian, mari kita bekerja untuk rekonsiliasi dan perdamaian, dan mari kita semua menjadi, di setiap tempat, pria dan wanita rekonsiliasi dan perdamaian! Maka semoga terjadi demikian.

(AR)
Paus Fransiskus,
Lapangan Santo Petrus, 7 September 2013

Diterjemahkan dari: www.vatican.va

Mencontoh Santo Fransiskus : Hubungan Akrab dengan Yesus, Berserah kepada Yesus, Berdamai dengan Semua!

1

Berikut adalah homili Paus Fransiskus pada pesta Santo Fransiskus dari Assisi:

“Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi ini, karena semuanya itu telah Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi juga [Engkau] nyatakan mereka kepada orang kecil” (Mat 11:25).

Damai dan semua hal baik untuk masing-masing dan setiap orang dari kalian! Dengan kata sambutan Fransiskan ini saya ucapkan terima kasih atas kehadiran kalian di sini, di Lapangan yang begitu penuh sejarah dan iman ini, untuk berdoa bersama.

Hari ini, saya juga telah datang, seperti tak terhitung banyaknya para peziarah lain, untuk bersyukur kepada Bapa atas semua yang Dia telah ingin nyatakan kepada satu dari “orang-orang kecil” yang disebutkan dalam Injil hari ini: Fransiskus, putra seorang pedagang kaya dari Assisi. Perjumpaannya dengan Yesus menuntunnya untuk melucuti dirinya dari kehidupan yang mudah dan bebas cemas dalam upaya untuk bersatu dengan “Bunda Kemiskinan” dan hidup sebagai seorang putera dari Bapa surgawi kita. Keputusan Santo Fransiskus ini adalah sebuah cara yang radikal dalam meniru Kristus: dia telah mengenakan pakaian baru, mengenakan Kristus, yang, meskipun Ia kaya, menjadi miskin agar kita kaya oleh karena kemiskinan-Nya (2 Kor 8:9). Dalam semua kehidupan Fransiskus, kasih bagi orang miskin dan meniru Kristus dalam kemiskinan-Nya yang tak terpisahkan bersatu, seperti dua sisi mata uang yang sama.
Kesaksian apa yang Santo Fransiskus beritahukan kita hari ini? Apa yang dia katakan kepada kita, tidak hanya dengan kata-kata – yang cukup mudah – tetapi dengan kehidupannya?

1. Hal pertama yang ia beritahu kita adalah hal ini: bahwa menjadi seorang Kristen berarti memiliki hubungan relasi yang hidup dengan pribadi Yesus; itu artinya mengenakan Kristus, menjadi serupa denganNya.

Di mana perjalanan Fransiskus kepada Kristus berawal mula? Ini telah berawal mula dengan tatapan pada Yesus yang tersalib. Dengan membiarkan Yesus menatap kita pada saat itu bahwa Ia memberikan hidup-Nya bagi kita dan membawa kita kepada diri-Nya. Fransiskus mengalami hal ini dengan cara yang khusus di Gereja San Damiano, saat dia berdoa di hadapan salib yang saya juga akan mendapat kesempatan itu untuk menghormatiNya. Pada salib itu, Yesus digambarkan bukan sebagai yang mati, tetapi Yang hidup! Darah mengalir dari tangan, kaki dan bagian samping tubuh-Nya yang terluka, tetapi darah itu berbicara tentang kehidupan. Mata Yesus tidak tertutup melainkan terbuka, terbuka lebar: dia menatap kita dengan cara yang menyentuh hati kita. Salib tidak berbicara kepada kita tentang kekalahan dan kegagalan; melainkan sebaliknya, hal itu berbicara kepada kita tentang kematian yang hidup, kematian yang memberikan kehidupan, karena itu berbicara kepada kita tentang kasih, kasih Allah yang berinkarnasi, sebuah kasih yang tidak mati, melainkan yang menang atas kejahatan dan kematian. Ketika kita membiarkan Yesus yang tersalib menatap kita, kita diciptakan kembali, kita menjadi “ciptaan baru”. Segala sesuatu yang lain dimulai dengan ini: pengalaman rahmat yang mengubah, pengalaman dicintai tanpa jasa kita sendiri, meski keberadaan kita sebagai pendosa. Itulah sebabnya Santo Fransiskus dapat berkata mengikuti Santo Paulus: “Jauhlah kiranya bagiku untuk bermegah, kecuali dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus” (Gal 6:14).

Kami berpaling kepadamu, Fransiskus, dan kami minta padamu: Ajarilah kami untuk tetap berada di hadapan salib itu, untuk membiarkan Kristus yang tersalib menatap kami, untuk membiarkan diri kami diampuni, dan diciptakan kembali oleh kasih-Nya.

2. Dalam Injil hari ini kita mendengar kata-kata ini: “Datanglah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat 11:28-29).

Ini adalah kesaksian kedua yang Fransiskus berikan kepada kita: bahwa setiap orang yang mengikuti Kristus menerima damai sejati, damai yang Kristus sendiri dapat berikan, damai yang dunia ini tidak bisa berikan. Banyak orang, ketika mereka mengingat Santo Fransiskus, mengingat damai; namun sangat sedikit orang menuju lebih dalam. Damai apa yang Fransiskus telah terima, alami dan jalani, dan yang dia teruskan kepada kita? Ini adalah damai Kristus, yang lahir dari kasih terbesar-Nya dari semuanya itu, kasih dari salib itu. Ini adalah damai yang Yesus yang Bangkit berikan kepada para murid-Nya ketika Ia berdiri di tengah-tengah mereka (bdk. Yoh 20:19-20).

Damai Fransiskan bukanlah sesuatu yang terasa sangat manis. Bukan! Itu bukan Santo Fransiskus sesungguhnya! Juga bukan semacam keharmonisan panteistik [red-yang percaya bahwa Tuhan adalah segala sesuatu dan bahwa segala sesuatu adalah Tuhan] dengan kekuatan kosmos … Itu bukan Fransiskan yang baik pula! Itu bukan Fransiskan, melainkan gagasan yang beberapa orang telah temukan! Damai Santo Fransiskus adalah damai Kristus, dan ditemukan oleh orang-orang yang “memikul” “kuk” mereka, yaitu perintah Kristus: saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu (lih. Yoh 13:34; 15:12). Kuk ini tidak dapat ditanggung dengan kesombongan, praduga atau kebanggaan, tetapi hanya dengan kelembutan dan kerendahan hati.

Kami berpaling kepadamu, Fransiskus, dan kami minta padamu: Ajarilah kami untuk menjadi “alat-alat damai”, dari damai yang bersumber pada Tuhan itu, damai yang Yesus telah bawa kepada kita itu.

3. Fransiskus memulai Kidung Segala Makhluk Ciptaan dengan kata-kata ini: “Terpujilah Engkau, Yang Maha Tinggi, Allah yang Maha Kuasa, Tuhan yang baik … oleh semua makhluk ciptaan-Mu (FF, 1820). Kasih bagi semua ciptaan, bagi keharmonisannya. Santo Fransiskus dari Assisi menjadi saksi akan perlunya rasa hormat kepada semua yang Allah telah ciptakan dan sebagaimana Ia telah ciptakan itu, tanpa memanipulasi dan menghancurkan ciptaan; melainkan untuk membantu itu tumbuh, untuk menjadi lebih indah dan untuk lebih merupai apa yang Allah telah ciptakan itu demikian adanya. Dan di atas semua, Santo Fransiskus bersaksi untuk menghormati semua orang, dia bersaksi bahwa setiap dari kita dipanggil untuk melindungi sesama kita, bahwa manusia adalah pusat ciptaan, di tempat di mana Allah – Pencipta kita – telah menghendaki yang kita seharusnya. Tidak pada belas kasihan dari berhala-berhala yang telah kita buat! Keharmonisan dan perdamaian! Fransiskus adalah seorang yang harmonis dan damai. Dari Kota Damai ini, saya ulangi dengan segala kekuatan dan kelembutan kasih: Marilah kita hormati ciptaan, marilah kita tidak menjadi alat-alat kehancuran! Marilah kita hormati setiap manusia. Semoga di situ ada akhir dari konflik bersenjata yang menutupi bumi dengan darah; semoga bentrokan senjata berhenti; dan semoga di mana ada kebencian di situ ada kasih, di mana ada luka di situ ada pengampunan, dan di mana ada perpecahan di situ ada persatuan. Mari kita dengarkan teriakan semua orang yang menangis, yang menderita dan yang sekarat karena kekerasan, terorisme atau perang, di Tanah Suci, tempat yang dikasihi Santo Fransiskus, di Suriah, di seluruh Timur Tengah dan di mana-mana di dunia.

Kami berpaling kepadamu, Fransiskus, dan kami minta padamu: Perolehlah bagi kita karunia Allah akan keharmonisan, perdamaian dan penghormatan bagi ciptaan!

Akhirnya, saya tidak bisa lupakan fakta itu bahwa saat ini Italia merayakan Santo Fransiskus sebagai santo pelindungnya. Saya menyapa semua orang Italia, yang diwakili oleh Kepala Pemerintahan, yang hadir di antara kita. Persembahan tradisional minyak untuk lampu nazar, yang tahun ini diberikan oleh Daerah Umbria, adalah sebuah ekspresi dari hal ini. Marilah kita berdoa bagi Italia, agar setiap orang akan selalu bekerja untuk kebaikan bersama, dan melihat lebih kepada apa yang menyatukan kita, daripada apa yang memisahkan kita.

Saya buat sendiri doa Santo Fransiskus Assisi ini, untuk Italia dan dunia: “Aku berdoa kepadaMu, Tuhan Yesus Kristus, Bapa belas kasihan: Jangan pandang rasa tidak berterima kasih kami, tapi selalu ingat akan kebaikan tak tertandingi yang Engkau telah tunjukkan kepada Kota ini. Berilah yang itu boleh selalu menjadi tempat tinggal dari pria dan wanita yang mengenal Engkau dalam kebenaran dan yang memuliakan nama Engkau yang Maha kudus dan mulia, sekarang dan untuk selama-lamanya. Amin “(Cermin Kesempurnaan, 124: FF, 1824).

(AR)
Paus Fransiskus,
Lapangan Santo Fransiskus, Assisi, 4 Oktober 2013

Diterjemahkan dari: www.vatican.va

Di Salib Ada Cinta

0

(Rekoleksi Pembina BIA Sedekenat Tangerang )
Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Suatu kehormatan bagiku bahwa aku diberi kesempatan untuk memberi rekoleksi kepada lebih dari dua ratus lima puluh pembina Bina Iman Anak se-dekenat Tangerang. Mereka datang dari dua belas paroki. Rekoleksi dilaksanakan tanggal 23 Februari 2014 di Aula Santo Damian, Paroki Santa Odilia Tangerang. Rekoleksi dengan tema “Kuasa Allah Bekerja Dalam Pelayanan” rupanya menyulutkan kembali semangat yang agak redup dan lebih menggelorakan api pelayanan. Nasihat Santo Paulus “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan” (Roma 12:11) menggetarkan jiwa mereka.

Semangat dalam pelayanan itu terungkap dalam sharing kelompok. Sharing ini berceritera tentang “pengalaman yang paling membahagiakan dalam pelayanan Bina Iman Anak”. Pengalaman kebahagiaan pasti membekas dan menelan segala kepahitan. Tampak setiap pribadi sangat antusias saling membagikan pengalamannya tentang “Kuasa Allah” dan saling menerimanya. Semua merasa dikuatkan dalam perjalanan pelayanannya. “Satu dalam pelayanan” terasa mengikat jiwa ketika mereka saling memberikan tanda salib di dahi mereka. Tanda salib itu menandakan bahwa mereka kini berjalan bersama karena mereka mengenakan pikiran Kristus. Tuhan Yesus Kristus adalah “Bossnya” bersama.

Suatu kebahagiaan bagiku karena aku mendapatkan suatu kesempatan mendengarkan secara pribadi, pengalaman hidup dan pelayanan dari seorang gadis yang berusia dua puluh tiga tahun. Ia adalah seorang pembina Bina Iman Anak dari Paroki Santo Agustinus, Karawaci. Di dalam wajahnya memantulkan kecerdasan, kegembiraan, dan ketulusan. Ia menjadi seorang pembina Bina Iman Anak sejak duduk di Sekolah Menengah atas. Dalam perjalanan hidup dan pelayanannya ini, pembentukan Tuhan baginya terasa sangat indah. Ia berasal dari keluarga sederhana. Ia hidup hanya bersama ibunya yang bekerja apa saja, serabutan, untuk menopang ekonomi rumah tangga. Keluarga besarnya tidak ada yang Katolik. Ia dibaptis ketika berusia sebelas tahun, kelas lima Sekolah Dasar. Ia tidak tahu mengapa ia bisa dibaptis walaupun orangtuanya belum Katolik saat itu. Ia mensyukurinya sebagai anugerah Tuhan. Anugerah Tuhan itu juga diterima ibunya dengan dibaptis ketika ia duduk di Sekolah Menengah Pertama. Karena keluarganya adalah keluarga yang sederhana, ia harus belajar sungguh-sungguh. Banyak orang menasihatinya untuk berhenti melayani supaya bisa fokus pada sekolahnya. Ia beruntung tidak berhenti dalam pelayanan. Tuhan memberkatinya dengan berkat-berkat tak terduga. Sekolahnya berjalan sangat baik. Ia sebenarnya sulit untuk bisa mendapatkan kesempatan kuliah mengingat keadaan keuangan keluarganya. Kalau Tuhan berkehendak, tidak ada sesuatupun yang dapat menghalanginya. Ia melamar untuk mendapatkan beasiswa PPA (Program Pendidikan Akuntasi BCA). Ia diterima dalam program itu dan berhasil menyelesaikannya. Ini mukjizat Tuhan yang boleh ia alami. Ada delapan ribu orang yang melamar PPA ini dan yang memenuhi syarat lima ribu orang. Setelah menjalani test saringan, delapan puluh orang diterima dalam program itu. Dari delapan puluh orang itu, hanya enam puluh sembilan orang, temasuk dirinya, yang lulus PPA setelah mengikutinya selama dua setangah tahun. Ia lulus dengan IPK, 4.9. “Aku tidak akan pernah pensiun dari pelayanan dalam Bina Iman Anak ini karena Tuhan amat baik, sungguh teramat baik”, katanya penuh dengan antusias.

Kebaikan Tuhan itu direnungkan dalam pentahtaan dan penciuman salib yang terinspirasi dari semangat Ordo Salib Suci (OSC). Di Salib ada derita, di Salib ada ketaatan, di Salib ada belas kasih dan pengampunan kerahiman ilahi. Di Salib ada pengorbanan total dan tanpa pamrih. Di Salib ada kasih Allah yang tak terbatas. Ketika Tuhan Yesus Kristus dipaku di Kayu Salib, aliran air hidup abadi memancar dari sisi-Nya, yaitu air dan darah kehidupan yang membasahi dunia. Banyak peserta diam dalam haru karena merasakan betapa besar kasih Kristus sampai wafat di salib demi keselamatan manusia. Mereka kemudian menatap Salib Kristus yang aku angkat tinggi-tinggi sambil memegang lilin yang bernyala. Aku berkata : “Siapa yang akan Aku utus ?” Mereka menjawab : “Ini aku, utuslah aku”. Hal ini mengingatkan akan peristiwa Musa meninggikan ular tembaga di padang gurun di mana yang memandangnya akan selamat ketika ular tedung memagutnya. Sekarang Yesus yang ditinggikan di salib menjadi tanda kemenangan dan keselamatan. Kini mereka akan membawa Kristus, Sang Terang, bagi anak-anak yang merupakan masa depan Gereja.

Pesannya : Pandanglah Salib Tuhan, Sang Sumber Cinta, maka cinta kita akan mengalir dari hati yang tulus. Mencintai dengan tulus tidak akan pernah lelah untuk bertahan dan dan tak pernah berhenti untuk berjuang karena cinta pasti akan menemukan kebahagiaan. Setetes cinta yang kita persembahkan kepada Tuhan akan mengubah yang lemah menjadi kuat, yang loyo menjadi gagah, dan yang patah semangatnya menjadi berkobar-kobar. Kemenangan cinta bersumber dari Salib Suci di Golgota. Tetesan-tetesan cinta yang mengalir bersama air dan darah-Nya dari atas Salib-Nya telah membawa keselamatan di empat penjuru dunia.

Terimakasih atas Salib-Mu Tuhan

Apa yang terjadi di Konsili Nicea (325)?

4

Konsili Ekumenis pertama di Nicea yang diadakan tahun 325, diadakan sebagai tanggapan Gereja universal terhadap  ajaran sesat dari Arius dari Gereja Aleksandria, di Mesir, sekitar tahun 319.

1. Latar belakang diadakannya Konsili Nicea (325)

Di semua ajaran sesat yang terjadi dalam sejarah Gereja, terdapat usaha untuk merasionalisasi ajaran iman Katolik dengan menghilangkan sejumlah misteri iman yang dianggap sulit diterima oleh akal. Paham Arianisme merupakan contoh yang sempurna tentang hal ini. (Paham Arianisme merupakan ajaran sesat yang mengguncang Gereja, yang tadinya dalam keadaan damai, setelah penganiayaan terhadap Gereja dihentikan, karena dikeluarkannya Edict Milan (313) oleh pihak penguasa Romawi). Arius berusaha menyederhanakan misteri yang terbesar dalam ajaran Kristiani yaitu tentang Trinitas -Allah yang satu dalam tiga Pribadi- karena ia menganggap ajaran itu merupakan skandal bagi pemikiran manusia.

Selanjutnya tentang apakah yang diajarkan oleh paham Arianisme, silakan klik di sini.

Menanggapi ajaran sesat di wilayahnya, Patriarkh Aleksandria, St. Aleksander mengadakan konsili di Aleksandria sekitar tahun 321, yang dihadiri oleh sekitar 100 uskup dari Mesir dan Lybia, dan mereka mengecam ajaran Arius tersebut. Namun Arius mempunyai kemampuan politik yang tinggi, untuk memperoleh dukungan dari mereka yang mempunyai kedudukan, baik di pemerintahan maupun pejabat Gereja. Pendukungnya yang terpenting adalah dua orang Uskup yang bernama Eusebius. Yang pertama adalah Eusebius Uskup Kaisarea, Palestina, yang juga penulis buku sejarah Gereja, History of the Church; yang kedua adalah Uskup Eusebius dari Nikomedia, yang kemudian menjadi pemimpin partai Arian dan pelindung Arius. Uskup Nikomedia ini adalah sahabat Konstantia, kakak perempuan Kaisar Konstantin.

Setelah diekskomunikasi oleh Konsili Aleksandria, Arius pergi ke Palestina dan kemudian ke Nikomedia. Sementara itu, St. Aleksander menerbitkan surat yang berjudul, “Epistola encyclica“, yang kemudian ditanggapi oleh Arius, dan timbullah pertentangan antara kedua kubu yang mengakibatkan pergolakan dalam masyarakat. Kekacauan itu kemudian diperparah dengan pertikaian antara Kaisar Konstantin dan Licinius, di tahun 322-323. Setelah Kaisar Konstantin menang dan menjadi penguasa tunggal, ia mempunyai kepentingan untuk mengembalikan keadaan damai di daerah kekuasaannya. Untuk itulah ia menulis surat kepada St. Aleksander dan kepada Arius, dengan maksud agar keduanya membuat semacam persetujuan secepatnya. Untuk itulah ia bermaksud mengadakan Konsili Ekumenis untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Kaisar Konstantin kemudian menulis surat kepada para uskup di seluruh negeri untuk datang ke Nicea. Maka para Uskup itu (dari Mesir, Persia, Asia, Syria, Yunani, Thrace) datang ke Konsili di Nicea. Tidak diketahui secara historis apakah atas namanya sendiri Kaisar Konstantin memprakarsai Konsili, ataukah ia bertindak bersama dengan/ atas nama Paus saat itu. Namun demikian, mengingat banyaknya Uskup yang hadir dengan fokus utama pembahasan doktrinal sehubungan dengan tanggapan Gereja terhadap ajaran sesat Arianisme, dan ke-20 Kanon yang khusus membahas tentang ketentuan Gerejawi, menunjukkan besarnya kemungkinan bahwa Kaisar Konstantin dan Paus Sylvester I bertindak dalam persetujuan bersama untuk memprakarsai Konsili itu.

2. Konsili Ekumenis pertama di Nicea (325)

Akhirnya, di musim panas tahun 325 diadakanlah Konsili Nicea. Menurut catatan St. Athanasius, jumlah Uskup yang hadir dalam Konsili Nicea adalah sekitar 300 orang, (dalam suratnya, Ad Afros, ia menyebutkan jumlah 318 orang, sedangkan Eusebius menyebutkan 250 orang), mayoritas dari wilayah timur kerajaan. Pandangan Arius ditolak oleh mayoritas Uskup yang hadir. Hanya ada dua orang (yaitu Theonas dari Marmarica dan Secundus dari Ptolemais) bersama Arius sendiri, yang akhirnya menolak untuk menandatangani teks Syahadat Nicea yang dirumuskan oleh Konsili tersebut. Sebab teks syahadat itu merumuskan dengan jelas, bahwa Kristus “sehakekat dengan Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar.”

Sayangnya fakta ini diselewengkan. Buku Dan Brown yang terkenal itu, Da Vinci Code, mengutip pandangan yang menyatakan bahwa sebelum Konsili Nicea Yesus dianggap sebagai nabi biasa, dan baru dinobatkan sebagai ‘Putera Allah’ oleh Konsili Nicea, yang diperoleh melalui voting dengan kemenangan tipis. Ini tidak sesuai kenyataan. Ajaran tentang Trinitas itu sudah sejak awal diimani oleh Gereja. Walaupun kata “Trinitas” tidak secara eksplisit tertulis dalam Kitab Suci, namun prinsipnya jelas diajarkan dalam Kitab Suci. Para Bapa Gereja sebelum tahun 325 juga telah mengajarkan tentang Trinitas, sebagaimana pernah diulas di artikel ini, silakan klik.

3. Tentang siapa yang memimpin Konsili

Kaisar Konstantin sebagai tuan rumah di Nicea membuka Konsili, dan kemungkinan iapun hadir dalam sesi-sesi Konsili. Namun melihat hasil konsili yang jelas membahas hal-hal doktrinal dan disiplin Gereja yang khas, maka adalah lebih masuk akal bahwa pemimpin sesi-sesi Konsili itu adalah pihak otoritas Gereja, (dalam hal ini adalah Hosius dari Kordova dibantu perwakilan Paus, yaitu Vitus dan Vincentius, ataupun Patriarkh Aleksander dari Aleksandria atau Eustathius dari Antiokhia) dan bukan Kaisar Konstantin itu sendiri. Silakan klik di link ini, untuk membaca tentang hasil Konsili Nicea, yang mencakup pernyataan iman dari ke 318 Bapa Gereja, dan ke 20 Kanon yang ditetapkan, beserta surat kepada umat di Mesir, termasuk kecaman kepada Arius, Theonas dari Marmarica dan Secundus dari Ptolemais, yang menolak untuk menandatangani pernyataan iman para Bapa Gereja di Konsili Nicea.

4. Pernyataan Iman Konsili Nicea

We believe in one God, the Father Almighty, maker of all things visible and invisible; and in one Lord Jesus Christ, the Son of God, the only-begotten of his Father, of the substance of the Father, God of God, Light of Light, very God of very God, begotten (γεννηθέντα), not made, being of one substance (ὁμοούσιον, consubstantialem) with the Father. By whom all things were made, both which be in heaven and in earth. Who for us men and for our salvation came down [from heaven] and was incarnate and was made man. He suffered and the third day he rose again, and ascended into heaven. And he shall come again to judge both the quick and the dead. And [we believe] in the Holy Ghost.
And whosoever shall say that there was a time when the Son of God was not (ἤν ποτε ὅτε οὐκ ἦν), or that before he was begotten he was not, or that he was made of things that were not, or that he is of a different substance or essence [from the Father] or that he is a creature, or subject to change or conversion — all that so say, the Catholic and Apostolic Church anathematizes them.

Terjemahannya dalam bahasa Indonesia:

Kami percaya akan satu Allah, Bapa yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan; dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah yang tunggal, yang dari Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa; segala sesuatu dijadikan oleh-Nya. Untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita, Ia turun dari surga dan menjelma menjadi manusia, menderita dan bangkit pada hati ketiga, Ia naik ke surga, Ia akan datang kembali untuk mengadili orang hidup dan yang mati. Dan [aku percaya akan] Roh Kudus…

Dan barang siapa yang berkata bahwa ada waktunya ketika Putera Allah tidak ada, atau sebelum Ia lahir Ia tidak ada, atau Ia diciptakan dari benda-benda yang tadinya tidak ada, atau bahwa Ia berasal dari hakikat yang berbeda dengan Bapa, atau bahwa Ia adalah mahluk ciptaan, atau Ia dapat berubah atau bertobat- semua yang serupa itu, Gereja Katolik dan Apostolik meng-anathema mereka.

Catatan:

– ‘Anathema’ artinya menyatakan bahwa seseorang/ sejumlah orang yang mengajarkan ajaran yang menyimpang tersebut, sebagai orang-orang di luar Gereja.

– Syahadat Nicea yang kita kenal sekarang (tercatat dalam buku Puji Syukur no.2) adalah hasil Konsili Nicea (325) dan Konstantinopel (381).

Pengharapan akan Terang di saat gelap datang

5

[Hari Minggu Prapaskah II: Kej 12:1-4; Mzm 33:4-22; 2Tim 1:8-10; Mat 17:1-9]

Injil hari ini mengisahkan tentang Yesus yang dimuliakan di atas gunung, enam hari setelah Ia memberitahukan para murid-Nya bahwa Ia akan menanggung banyak penderitaan, dibunuh oleh karena para imam kepala dan orang Farisi, namun akan dibangkitkan pada hari ketiga (lih. Mat 16:21). Perkataan Yesus tentang sengsara dan wafat-Nya ini sangatlah membuat para murid berduka, dan mungkin juga bertanya-tanya. Namun kemudian Yesus mengajak Rasul Petrus, Yakobus dan Yohanes untuk berdoa bersama-Nya di gunung Tabor. Di sana mereka melihat Yesus berubah rupa, dimuliakan dalam terang yang mengagumkan, bersama dengan Nabi Musa dan Elia. Para rasul itu tidak pernah melupakan kenangan manis ini yang diberikan oleh Yesus di tengah kegalauan hati mereka. Bahkan bertahun-tahun kemudian, Rasul Petrus menuliskan kenangan ini dalam suratnya kepada  Gereja, sebagai kesaksian untuk meneguhkan iman jemaat: “Kami menyaksikan…. suara dari yang Maha mulia… “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (lih.2 Pet 1:17-18). Maka Gereja memiliki pengharapan bahwa Kristus akan datang kembali dalam kemuliaan. Tak mengherankan jika St. Leo Agung mengajarkan, “Tujuan utama dari Transfigurasi adalah untuk menghalau kegelisahan dalam jiwa para murid akan kekejaman penyaliban Kristus.”

Pandangan akan kemuliaan Tuhan, memberikan kebahagiaan kepada para Rasul itu. Saking bahagianya, Rasul Petrus ingin membangun tiga buah tenda bagi Yesus, Nabi Musa dan Elia, mungkin agar kebahagiaan itu berlangsung lebih lama. Namun, Injil Lukas yang juga memuat kisah ini, menyatakan, “Tetapi Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya itu.” (Luk 9:33). Mungkin baru setelah kebangkitan Yesus, kenaikan-Nya ke Surga dan atas bimbingan Roh Kudus, para Rasul mengetahui bahwa kebahagiaan sesungguhnya tidak tergantung dari berada di tempat ini atau itu, namun pada keterpautan jiwa kita dengan Tuhan Yesus. Jika kita berpaut pada Yesus, tidaklah menjadi masalah, apakah hidup kita sedang berjalan mulus, atau tidak; apakah kita sedang sehat, atau sedang sakit. Tuhan Yesus menopang kita, dan akan selalu menyertai dan menghibur kita. Ia menghendaki agar pengharapan akan kemuliaan surgawi yang dijanjikan-Nya, dapat memberi semangat kepada kita, untuk menjalani hidup ini. Kristus menghendaki agar kita menajamkan mata rohani kita, supaya kita dapat melihat Dia dalam diri orang-orang di sekeliling kita: suami, istri, anak- anak kita; ataupun dalam diri orang-orang yang kita jumpai setiap hari, dan terutama, yang membutuhkan pertolongan kita. Sukacita yang dialami dalam doa bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk melarikan diri dari tugas dan kesulitan sehari-hari. Justru maksud Tuhan adalah agar kita memperoleh kekuatan baru untuk menghadapinya bersama dengan Dia, dan menemukan makna hidup kita.

Mungkin baik di sini kita belajar dari seorang yang bernama Martha Robin (1902- 1981). Ia adalah seorang wanita kelahiran Châteauneuf-de-Galaure, Perancis, yang sangat taat dan beriman. Di usia 16 tahun ia jatuh sakit yang membuatnya koma selama 20 bulan. Setelah sadar, penyakitnya malah memburuk, dan membuatnya lumpuh, sampai wafatnya. Ia bahkan tidak dapat menelan sehingga tidak dapat makan dan minum. Adalah suatu misteri tersendiri bahwa Martha dapat hidup tanpa makanan selama 50 tahun, kecuali dari Ekaristi. Kondisinya ini kemudian diperiksa oleh beberapa dokter, salah satunya seorang dokter atheis, bernama Paul Louis Chouchoud. Dr. Chouchoud mendapat izin dari uskup setempat untuk menyelidiki keadaan Martha. Setelah mengamati dengan seksama, Dr. Chouchoud mengkonfirmasi bahwa Martha memang mengalami lumpuh total sehingga tidak dapat menelan air walaupun hanya setetes saja. Namun yang tak dapat dijelaskan adalah, tulis Dr. Chouchoud, saat Martha menerima Komuni kudus. Dia tidak dapat menelan ‘Hosti’ tersebut, sebab otot tenggorakannya tidak dapat bergerak, namun Hosti itu dapat lewat secara misterius melalui bibirnya yang tertutup menuju saluran kerongkongannya. Martha tidak dapat makan makanan atau minuman duniawi apapun, namun ia tidak dapat hidup tanpa Ekaristi.

Bagi Martha, menerima Ekaristi adalah sesuatu yang terpenting. Setelah Komuni, ia tenggelam dalam keadaan suka cita yang tak terkatakan. Martha mengalami penghiburan Terang Tuhan dalam Ekaristi, yang menghalau kegelapan hidupnya sebagai seseorang yang nampak tak berdaya. Kristus memampukan Martha untuk mempersembahkan hidupnya untuk mendoakan ribuan orang yang mengunjunginya. Kata-kata sederhana yang keluar dari bibirnya yang nyaris tidak dapat bergerak itu dapat mengubah hidup mereka. Martha membawa banyak orang kepada Kristus. Kesaksian hidupnya menunjukkan bahwa tidak ada suatu penyakit, kesesakan, atau kuasa apapun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus (lih. Rom 8:35-39), yang suatu saat nanti akan menyambut kita dalam Terang-Nya yang abadi.

Mungkin kita tidak lumpuh, dan masih bisa menelan dengan normal…, tapi apakah mata hati kita terbuka seperti Martha, sehingga kita dapat mengalami Terang Tuhan yang memberi pengharapan, dalam Ekaristi?

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab