Home Blog Page 85

Malas melihat cermin

1

Ada kalanya saya malas melihat cermin, yaitu saat badan sedang gemuk karena sering makan melebihi porsi yang sehat serta kurang berolahraga. Sepertinya dengan begitu saya sedang ingin melupakan penampakan keadaan fisik saya. Demikian juga dengan keadaan rohaniku. Karena pilihan-pilihanku sendiri yang kubuat di luar Allah, ada banyak keadaan mula-mula yang sebenarnya indah menjadi tidak ideal lagi sampai-sampai melihat bayangan diri sendiri pun enggan. Rasa percaya diri terkikis.

Entah berapa banyaknya rencana Tuhan yang indah buat kehidupan manusia telah berubah karena pilihan manusia untuk memutuskan sendiri apa yang dianggapnya baik. Minggu lalu ketika tugas kuliah mengharuskan kami membuat skema pohon keluarga, keluarga inti yang sejatinya terdiri dari skema sederhana yaitu satu pasang suami istri dengan anak-anak, menjadi rupa-rupa bentuk skemanya, rumit dan membingungkan, karena terjadi pernikahan kedua dan bahkan ketiga karena perceraian, kemudian ada pernikahan antar sesama jenis, sehingga di negara yang liberal mulai ada wacana untuk tidak menyebut orangtua anak-anak sebagai ‘mother and father’, tetapi sebaiknya dengan ‘parents’ saja karena ada kemungkinan kedua orangtuanya berjenis kelamin sama. Sudah mulai jamak bahwa nilai yang mulia dan ilahi dianggap aneh, sebaliknya nilai yang keliru dan menyimpang dianggap sebagai dinamika jaman dan toleransi kemanusiaan.

Tuhan telah mengajakku menjadi mitranya untuk menjadi duta-duta kasih & penyampai Kabar Keselamatan bagi dunia ini, tetapi karena dosa-dosaku, jati diriku yang mulia menjadi kabur dan penuh distorsi. Tugas indah yang Dia percayakan padaku tidak mampu kupikul dengan semestinya, karena diriku sendiri masih penuh dengan pelanggaran dan cinta diri. Kita memerlukan sebuah masa pertobatan sebagaimana masa Prapaskah ini sebagai kesempatan untuk memulihkan jati diri kita yang sejati, yang dikaruniakan Tuhan pada manusia sejak semula. Dikasihi secara personal oleh Kristus, diciptakan secara istimewa dengan berbagai keunikan, dan dipelihara dengan kasih Bapa yang kekal sejak semula. Aku telah diciptakan seturut gambaran Diri-Nya (Kejadian 1: 26-28). Dicintai tanpa syarat sebagaimana adanya diriku (Yohanes 3:16-17 dan Roma 5:8). Aku begitu berharga dan tak ternilai, ditebus dengan darah yang demikian kudus oleh Kristus (Mazmur 49: 7-8 dan 1 Petrus 1:19). Aku dibenarkan (Roma 5:1), dikuduskan (Ibrani 10:10, 1 Kor 1:2, 6:11). Aku anggota komunitas Kerajaan Allah (1 Pet 2:9), aku dijadikan anak Allah dan anggota keluarga Allah oleh karena iman (Yoh 1: 12 dan Efesus 1:1-7 serta Galatia 3:26).

Yah, sedemikianlah berharganya kita di hadapan Allah. Rancangan Allah yang Ia miliki bagi kita, mulia dan sempurna. Sayangnya, memilih untuk mengandalkan diri sendiri, menempatkan ego dan keinginan diriku di atas suara Tuhan yang selalu mengingatkan dengan halus dan lembut dalam nuraniku, membuat citra itu perlahan-lahan mengabur. Dan tahu-tahu inilah aku, rapuh dan tidak percaya diri lagi, karena tidak mengenali lagi siapa diriku yang sebenarnya di mata-Nya. Tetapi Allah bukanlah Tuhan yang mudah menyerah. Ia juga tidak pernah menyerah akan aku. Sekalipun dunia ciptaan-Nya mungkin telah terdistorsi begitu rupa oleh kejahatan manusia, Allah tetap mempercayai kita untuk melanjutkan karya agung-Nya. Melalui solidaritas teragung dalam sejarah umat manusia, Putera-Nya Yesus Kristus hadir ke dunia sebagai manusia, menunjukkan jalan untuk memulihkan kembali jati diri alam semesta dan seisinya sebagaimana citranya yang mula-mula. Solidaritas yang sedemikian mahal, yang dijalani Kristus dengan penderitaan salib yang sedemikian berat. Sama halnya dengan Kristus yang berjuang untuk menempuh jalan pemulihan itu, aku diajakNya untuk berjuang bersama dan di dalam Dia. Tidak ada yang mustahil bersamaNya, semuanya mungkin untuk menjadi baik kembali, dimulai dari diriku sendiri dan pilihan-pilihanku untuk menyangkal egoku dan memikul salib kecilku bersamaNya***

Kenapa Sih, Kita Mengalami Pencobaan?

0

[Hari Minggu Prapaskah I: Kej 2:7-9; 3:1-7; Mzm 51:3-17; Rm 5:12-19; Mat 4:1-11]

Minggu pertama masa Prapaska ini dibuka dengan permenungan tentang Tuhan Yesus yang dicobai iblis di padang gurun. Peristiwa ini terjadi di awal karya Yesus di hadapan publik yang kemudian memuncak dengan kurban salib-Nya dan kebangkitan-Nya dari kematian. Mungkin kita yang bertanya- tanya, mengapa, kok Tuhan Yesus mau-maunya membiarkan iblis mencobai Dia. Sungguh ini adalah misteri bagi kita, yang jawaban tuntasnya baru kita ketahui jika kelak kita bertemu dengan Tuhan Yesus di Surga. Namun sementara ini kita dapat belajar dari St. Yohanes Krisostomus, yang mengatakan demikian, “Sebab Tuhan Yesus melakukan segala sesuatu untuk memberikan pengajaran kepada kita, demikianlah  Ia membiarkan diri-Nya dicobai oleh iblis… Ia melakukan ini agar orang-orang yang sudah dibaptis tidak menjadi kecil hati, jika setelah Baptisan mereka mengalami pencobaan-pencobaan yang lebih besar…”

Yesus mau mengajarkan kepada kita dengan teladan-Nya bahwa tak seorangpun dapat berpikir bahwa dirinya kebal terhadap segala jenis godaan. Sebab godaan iblis yang ditujukan kepada Yesus sebenarnya juga dapat ditujukan kepada kita, tentu saja dalam bentuk yang berbeda, yang lebih cocok dengan keadaan kita. Iblis tidak akan menawarkan kepada kita seluruh kerajaan di dunia, sebab ini mungkin terlalu tinggi bagi kita. Tapi iblis dapat mencobai kita di titik kelemahan kita, yang tak terlalu tinggi, namun cukup untuk membuat kita jatuh. Godaan untuk mengejar kekayaan dan segala yang sedang nge-trend saat ini; godaan untuk tidak setia kepada suami atau istri; godaan untuk melihat gambar atau situs porno, atau bahkan berbagai bentuk kecanduan lainnya: kecanduan main game, nonton sinetron TV, belanja di mall, atau kecanduan rokok, minum alkohol dan makan-makan di restoran setiap hari. Atau bentuk godaan yang lebih halus, tetapi lebih berbahaya, yaitu godaan untuk merasa diri lebih hebat, lebih baik atau lebih suci. Semua godaan itu membuat kita semakin memusatkan perhatian pada diri sendiri dan menjauhkan diri dari Allah, yang dapat berujung pada kegelisahan dan keputusasaan. Tuhan Yesus memberikan teladan agar kita mampu mengalahkan godaan-godaan itu, yaitu: dengan kerendahan hati dan mengandalkan Allah.

Yesus sendiri telah melakukannya. Setelah berpuasa 40 hari, Yesus yang tentunya merasa lapar, dicobai iblis agar mengubah batu menjadi roti. Namun Yesus bukannya hanya menolak makanan yang sangat dibutuhkan-Nya itu, tetapi juga menolak godaan yang lebih besar, yaitu godaan untuk menggunakan kekuatan ilahi-Nya untuk melarikan diri dari kesulitan yang dihadapi. Betapa besar kerendahan hati Yesus saat Ia sepenuhnya mengambil keadaan sebagai manusia. Marilah berdoa agar kitapun dapat dengan teguh menjalani hidup, mau bekerja keras, dan tidak segan berkorban demi kasih kita kepada orang-orang yang kita kasihi. Di saat kita lelah dan lemah, kita perlu waspada terhadap godaan semacam ini. Semoga kita dapat meniru Kristus, agar tidak mudah melarikan diri dari kesulitan, tetapi menghadapinya dengan kekuatan yang dari Tuhan. Selanjutnya, Yesus digoda iblis untuk menjatuhkan diri dari bubungan bait Allah, agar Allah dapat mengutus para malaikat-Nya untuk menatang Yesus. Tuhan Yesus juga menolak cobaan ini. Ia menolak melakukan ‘show off’ mukjizat hanya untuk alasan yang sia-sia. Demikianlah, iblis-pun dapat mencobai kita dengan godaan serupa, supaya kita tertarik untuk tampil sebagai seorang yang hebat, bahkan untuk alasan yang sepertinya rohaniah. Tuhan Yesus mengajarkan kita agar kita jangan mencobai Tuhan, untuk alasan agar dikagumi orang. Di cobaan yang terakhir, iblis menawarkan Yesus segala kemuliaan dan kuasa di dunia, asalkan Yesus mau menyembahnya. Tuhan Yesus lalu mengusirnya. Demikianlah, iblis selalu mengarahkan kita untuk memutar pusat perhatian kita kepada sesuatu yang bukan Allah. Namun Yesus mengajarkan kita agar senantiasa mengarahkan hati kita kepada Allah dan mengandalkan Dia, sebab hanya Tuhan-lah yang dapat menyelamatkan kita.

Di sepanjang masa Prapaska ini, kita semakin disadarkan akan kelemahan kita sebagai manusia. Sebab dalam banyak kesempatan, kita masih mempunyai kecenderungan untuk meninggikan diri sendiri daripada meninggikan Tuhan. Atau kecenderungan untuk melakukan apa yang seharusnya tidak kita lakukan. Atau kecondongan untuk selalu memilih yang enak dan mudah dan enggan berkorban. Apapun pergumulan kita, marilah dengan kerendahan hati kita memohon kepada Tuhan, agar Ia menuntun kita untuk mengalahkan segala godaan. Sebab Ia mengizinkan itu terjadi, agar membantu kita menjadi seseorang yang lebih baik dari hari kemarin. So help me, God.

Dengarlah Matahariku

0

Biara tempat aku mengalami formasi awal ini masih berupa Postulat, yang dihuni oleh calon-calon dari berbagai tarekat maupun keuskupan. Oleh sebab itu, diadakan orientasi Tarekat. Setiap dua bulan sekali, aku mengikuti orientasi Tarekat agar lebih mengenal dan mendalami spiritualitas khas yang dimiliki tarekatku. Aku dan saudara se-tarekat menginap di salah satu biara Novisiat. Selama menginap di biara Novisiat ini, aku bertemu dengan beberapa orang yang kebetulan juga mengunjungi biara tersebut, Agung, drg. Nico, dan Sr. Galih. Dalam diri mereka masing-masing, aku bisa melihat benang merah karya Allah dalam hidupku.

Agung adalah seorang siswa SMK perhotelan dan bekerja di salah satu hotel di daerah dekat biara. Ia bukan seorang Katolik, namun ia sedang mengikuti pelajaran katekumen. Keluarganya juga bukan berasal dari latar belakang Katolik sehingga cukup sulit menerima keputusannya tersebut. Perjuangannya tentu tidak ringan karena harus menghadapi penolakan dari keluarganya. Akan tetapi, ia begitu bersemangat dan optimis dalam menjalani masa katekumennya. Ia mengingatkanku akan diriku sendiri ketika mulai memasuki Kristianitas. Masa katekumen aku jalani dengan semangat pula, sekalipun mendapat tentangan dari beberapa pihak. Karena rahmat Allah, aku dapat bertahan dan menjadi Katolik.

Drg. Nico adalah seorang pemuda sebayaku dan berprofesi sebagai dokter gigi. Ia berasal dari kota besar, namun saat ini bertugas di daerah terpencil berjarak 5 jam perjalanan dari biara. Tempat kerjanya yang terpencil bukan karena ia ditempatkan di situ oleh instansi tertentu. Ia sendiri yang memilih untuk melamar di tempat tersebut, yakni sebuah rumah sakit kecil yang dikelola oleh salah satu kongregasi suster. Bisa dibayangkan daerah tersebut akan sangat sepi, berbeda dengan daerah perkotaan yang lebih ramai. Selain itu, bayaran yang ia terima juga jauh lebih rendah. Jika usahanya tidak berakar pada niat yang tulus, tidak mungkin ia bertahan. Ia datang ke biara karena ingin berkonsultasi dan live-in selama sehari. Ia juga merasakan ada panggilan dalam dirinya untuk mengikuti Kristus melalui hidup membiara. Ia mengingatkanku ketika aku pertama kali menyadari bahwa Allah memberiku anugerah yang khusus. Anugerah ini sangat indah, namun menuntutku untuk melepaskan banyak hal, termasuk pekerjaan, kehidupan, dan cita-cita yang aku rencanakan. Sama seperti drg. Nico, ada sesuatu yang aku cari dalam hidup, dan aku merasa menemukannya dalam panggilan-Nya. Aku bertekad menjawab dan berusaha meretas jalan. Karena pertolongan Allah, berbagai kendala, terutama dari keluarga, dapat diatasi dengan baik dan aku menjalani hidup formasi di biara ini.

Sr. Galih adalah seroang novis dari sebuah kongregasi suster misionaris. Ia berasal dari kota asalku dan memiliki kepribadian yang menyenangkan. Sepanjang perjalanan mengunjungi stasi, tidak henti-hentinya kami tertawa dan bercanda bersama. Berbekal wajah berpulas senyum dan tubuh subur sebagai sasaran guyon, dia udah akrab dengan banyak orang, sekalipun ia baru mengenal mereka. Jika dipikir-pikir secara duniawi, lebih banyak orang yang seharusnya lebih bahagia daripada dia. Ia tidak punya uang, tidak menikah, dan harus patuh taat kepada superior seumur hidup. Tapi, wajahnya memancarkan kebahagiaan dan kegembiraan, walaupun jalan hidupnya berbeda dari kebanyakan orang. Justru, saat ini banyak orang kaya yang depresi, pasangan yang bertikai, dan orang yang terkurung dalam dirinya sendiri sekalipun bebas. Ia memancarkan kebahagiaan yang supernatural, yang datang bukan dari dirinya sendiri. Ia bahagia karena Yesus menjadi pusat kebahagiaannya. Yesus adalah Matahari hidupnya, pusat orbit hidupnya. Hidupnya berputar mengelilingi Yesus sehingga terpaan badai hidup tidak merenggut kebahagiaannya, sekalipun tetap menyakitkan. Ia tidak butuh hal lain lagi untuk bahagia.

Karena ia terlebih dahulu memasuki jenjang novis, Sr. Galih melambangkan harapan yang ada di masa depanku. Seperti Sr. Galih, sekiranya, demikian pula yang ingin aku capai. Aku ingin menjadi seorang religius yang riang dan bahagia. Jejak hidupku telah tergambar dalam ketiga pribadi tersebut. Aku pernah melewati apa yang sedang Agung perjuangkan. Aku pernah mempertanyakan apa yang drg. Nico cari. Akankah aku bahagia seperti Sr. Galih kendati cobaan menerpa? Kebahagiaanku juga harusnya berpusat pada Yesus. Hidupku harus mengitari Yesus, pusat tata surya hidupku.

Mencintai Allah adalah hal yang lebih besar daripada mengenal Dia.” – St. Thomas Aquinas.

Jangan Bertanya Mengapa

0

Setelah Misa Sabtu sore pada tanggal 14 Desember 2013, aku meluncur ke sebuah rumah sakit di Tangerang untuk mengunjungi seorang ibu. Ibu itu berusia lima puluh empat tahun. Ia menderita kanker usus stadium tiga dan telah menjalani operasi. Pengaruh kemoterapy membuatnya lemah dan terbaring di rumah sakit.

Aku terkejut dengan keadaannya yang sangat berbeda dari keadaannya dua tahun silam pada waktu aku bertemu dengannya dalam retret perutusan Kursus Evangelisasi Pribadi. Aku mengenalnya sebagai seorang wanita yang energik, cekatan, dan ceria. Di dalam benaknya hanya ingin berbuat sesuatu bagi sesamanya. Semuanya itu telah hilang dan berubah menjadi kemuraman. Wajahnya pucat dan matanya tak menyinarkan setitik harapan. Rupanya penyakit itu telah menghancurkan jiwanya.

Di dalam kesedihanku, aku menawarkan kepadanya Sakramen Pengampunan Dosa dan Sakramen Perminyakan Suci. Mukjizat terjadi setelah ia menerima kedua sakramen tersebut. Keceriaannya yang telah hilang muncul kembali. Wajahnya menjadi berbinar-binar. Pernyataannya menyentakkan aku: “Ketika aku menjadi tangan kanan bosku di perusahaan, aku tidak bertanya kepada Tuhan mengapa posisi ini dianugerahkan kepadaku. Saya kini juga tidak bertanya lagi kepada Tuhan mengapa penyakit kanker ini menderaku, tetapi bagaimana aku memandangnya sehingga aku tidak jatuh dalam keputusasaan”. Kuasa Allah telah membangkitkan imannya kembali. Kami pun menyanyikan lagu “Allah Kuasa Melakukan Segala Perkara” :

Allah kuasa melakukan segala perkara
Allahku Maha Kuasa
Dia ciptakan seisi dunia
Atur sgala masa
Allahku Maha Kuasa

Setelah menyanyikan lagu itu, ia mengungkapkan permenungannya dalam rangkaian kata-kata indah: “Penyakit kanker ini mengingatkan aku akan makna kehidupan. Kehidupan adalah perjalanan pulang ke rumah Allah Bapa. Semakin lama dalam menempuh perjalanan itu, aku menyadari banyak barang yang tak berguna yang memberatkan langkahku, yaitu dosa-dosaku selama ini. Aku mengikisnya dengan mohon pengampunan kepada Allah atas dosaku dan mengampuni orang-orang yang telah melukai aku. Kini kakiku sangat ringan, tanpa beban, dalam meniti setiap langkahku menuju rumah kekal”.

Tepat satu bulan kemudian, yaitu tanggal 14 Januari 2014, aku bertemu dia kembali dalam acara pengajaran “Bapa Kami” di Lingkungan Helena. Ia nampak sangat sehat walaupun masih menjalani proses kemoterapy. Katanya: “Kini aku tidak melihat kematian, tetapi kehidupan yang membahagiakan di Surga. Dalam masa penantian ini, aku melakukan pengabdian yang aku bisa, yaitu sebagai bendahara lingkungan, dengan ketulusan. Ketenangan jiwa menyirnakan segala ketakutan dan kesakitan karena aku tahu siapa yang aku tuju”. Ia kemudian memintaku untuk mendoakannya agar ketenangan jiwanya ini bertahan sampai pada kesudahannya.

Pesan bagi kita yang sedang dan mungkin akan menghadapi banyak masalah dalam kehidupan: Dengan menjalani hidup ini, baik suka maupun duka, kita telah menghargai kehidupan. Menghargai kehidupan nampak dalam mensyukuri apapun yang terjadi. Bersyukur mendatangkan kebahagiaan. Jika kita bahagia, kita akan senantiasa merasa baik. Nasihat Santo Petrus menguatkan kita: “Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya” (1 Petrus 5:10).

Tuhan memberkati.
Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC.

Sing Ditandur, Sing Diunduh (Yang Ditanam, Yang Dituai)

0

Rabu Malam, tanggal 12 Februari 2014, merupakan sejarah baru dalam pelayananku. Aku menyetir mobilku menuju lingkungan baru, yaitu Lingkungan Santo Mikael, Legok, Paroki Santa Odilia – Tangerang. Wajah-wajah lugu dan sederhana menyambut kedatanganku dengan rasa rindu. Kerinduan untuk berkumpul dalam doa bersama memang merupakan energi yang mempersatukan kalbu. Kebersamaan dalam kasih membuat Misa malam itu, yang beratapkan langit, penuh dengan keceriaan dari sekitar sembilan puluh umat yang hadir. Kelelahanku dalam perjalanan selama satu jam dengan melewati jalan-jalan tikus sirna seketika ketika melihat kegembiraan dan antusias mereka.

Ketika sedang berjabatan tangan dengan umat, seorang anak berusia tujuh tahun, kelas satu Sekolah Dasar, tiba-tiba menyodorkan secarik kertas kepadaku. Ia mengatakan : “Romo, doakan mamaku yang ulang tahun hari ini”. Aku terkejut karena ternyata kertas itu berisi intensi Misa yang ditulis dengan tangannya sendiri, tulisan tangan anak-anak. : “Ujud doa untuk mamanya Ega, agar selalu sehat, tambah sabar dengan bertambah usia”. Semua umat tertawa bangga atas perbuatan tak terbayangkan dari anak itu ketika mendengarkan intensinya aku bacakan. Mamanya mengatakan kepadaku : “Sebenarnya aku menasihatinya untuk tidak ikut Misa karena besok ada ulangan sekolah. Anakku tetap ingin ikut Ekaristi karena mau berjumpa Romo. Ternyata ia memberikan hadiah yang sangat mengejutkan untuk ulang tahunku yang ketigapuluh lima, yaitu doa yang sangat tulus. Aku sangat terharu dan tak akan pernah melupakan peristiwa ini seumur hidupku”. Aku tersenyum karena di dalam kertas itu ada uang coin Rp 500,- dari anak itu.

Kepedulian anak tersebut ternyata dihayati oleh umat sebagai suara dari surga untuk mewujudnyatakan tahun pelayanan. Umat bersepakat untuk melakukan pelayanan kasih, dengan gerakan bersama uang surga, Rp. 500,- per hari dan per keluarga. Gerakan uang surga ini memang merupakan gerakan seluruh umat Paroki Santa Odilia – Tangerang. Hasil dari uang surga ini akan dikumpulkan setiap bulan, didoakan, dan dibagikan kepada warga lingkungan sendiri dan masyarakat sekitar mereka (non katolik) yang paling membutuhkan. Mereka memberikan bukan dari kelimpahan, tetapi dari kekurangan mereka karena mereka sebagian besar bekerja sebagai buruh pabrik. Seorang ibu menjawab dengan tegas ketika aku bertanya mengapa ia rela mempersembahkan uang itu : “Ingkang dipun tandur injih punika ingkang badhe dipun unduh ‘Apa yang ditanam, itulah yang akan dituai’. Bilih nandur kasaenan, badhe ngunduh berkah saking Dalem Gusti, injih punika ayem ing manah ‘Bila kita menanam kebaikan, kita akan menuai berkat dari Tuhan, yaitu damai di hati’. Mila kula injih badhe maringi tulada kagem anak kula, awit saking alit supados gadah manah ingkang mulya ‘Karena itu, saya juga ingin memberikan teladan kepada anak saya sejak kecil, supaya mempunyai hati yang mulia’.

Pesan : Di dalam diri anak terhampar kotbah tentang cinta. Cinta tak akan pernah dapat dijelaskan dengan ribuan kata, tetapi dapat dirasakan dengan perbuatan : “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran “ (1 Yohanes 3:18). Cinta itu bukan apa yang terpikirkan dalam otak, tapi cinta adalah apa yang dirasakan oleh hati sehingga menggetarkan jiwa.

Tuhan Memberkati.

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Dipanggil untuk melayani

0

Permenungan Tahun Pelayanan dan PDDP 2014
Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Pada suatu hari, ada beberapa kelompok orang katolik berdiri di depan pintu gerbang surga. Mereka rupanya sedang bertengkar karena meributkan “siapa yang mempunyai hak untuk masuk surga lebih dahulu”. Kelompok itu ternyata kelompok para pastor, para ilmuwan, dan para dermawan dari Keuskupan Agung Jakarta.

Keributan itu begitu seru sampai terdengar di telinga malaikat. Malaikat itu pun mendatangi mereka untuk membantu menyelesaikan masalah mereka. Malaikat itu berkata : “Aku tahu apa yang kalian ributkan. Sekarang katakan alasan kalian mengapa kalian merasa mempunyai hak untuk masuk surga lebih dahulu”.

Kelompok para pastor : “Hai malaikat, tentu kami, para pastor ini, memiliki hak yang pertama memasuki surga. Berdasarkan data sudah jelas bahwa perkembangan umat di Keuskupan Agung Jakarta yang sampai berjumlah lebih dari 400.000, yang tergabung dalam 63 paroki dan berada dalam 8 dekenat, tentu merupakan hasil jerih payah pelayanan kami yang tanpa lelah”.

Kelompok ilmuwan : “Tuhan pasti sangat berkenan dengan ilmu-ilmu yang kami kembangkan dan bermanfaat bagi banyak orang. Tanpa ilmu-ilmu yang kami kembangkan banyak orang akan sengsara. Tanpa ilmu-ilmu yang bermanfaat dari kami, pasti kota Jakarta sudah terendam air. Banyak warga akan meninggal dalam umur muda”. Karena itu, jelaslah kami, para ilmuwan, mempunyai hak istimewa, untuk masuk surga lebih dahulu.”

Kelompok para dermawan: “He… he…. he…. kami, para dermawan, tentu yang mempunyai tiket pertama masuk surga. Alasannya : Tanpa sumbangan kami, Agama Katolik tidak mungkin berkembang. Bayangkan tanpa kolekte dari kami, mana mungkin Gereja bisa hidup. Tanpa sumbangan dari kami, mana mungkin gereja-gereja dibangun. Demikian juga, ilmu pengetahuan tidak akan berkembang tanpa donasi kami. Kami, para dermawan, ini selalu dicari ketika para pastor mau membuat kegiatan rohani dan para ilmuwan ingin mengembangkan sesuatu demi kebaikan sesama dan lingkungan.”

Malaikat itu manggut-manggut : “Wooo, kalian memang semua hebat karena membangun wajah Keuskupan Agung Jakarta yang semakin beriman, semakin bersaudara, dan semakin berbelarasa. Kalian, para pastor, telah mengembangkan iman. Kalian, para ilmuwan, telah mengembangkan persaudaraan dengan seluruh ciptaaan melalui ilmu-ilmu kalian. Kalian, para dermawan, telah berbuat kasih sehingga hidup manusia lebih baik. Ngomong-ngomong, siapa yang mengajari kalian bisa berbuat sedemikian baik?”

Ketiga kelompok itu menjawab : “Ibu kami, yang tak henti-hentinya mengajari kami agar bisa menjadi orang yang berguna, baik, dan murah hati”.

Kemudian malaikat itu mendatangi sekelompok ibu-ibu yang sejak tadi diam saja. Malaikat itu bertanya : “Hai, kalian dari kelompok apa ? Mengapa kalian tidak ikut berebutan masuk surga lebih dahulu ?”.

Ibu-ibu itu menjawab : “Kami ini adalah kelompok para ibu dari Keuskupan Agung Jakarta. Kami sudah bahagia melihat anak-anak kami berhasil dan berguna bagi sesamanya. Kami rela dan tulus, biar anak-anak kamilah yang masuk surga lebih dahulu daripada kami”.

Malaikat berkata : “Hai, ibu-ibu dari Keuskupan Agung Jakarta, kerelaan dan ketulusan hati kalian lebih dari segala jasa apapun. Kalian, telah membangun semangat gembala baik dan pelayanan yang murah hati. Karena itu, kalianlah yang mempunyai hak masuk surga yang pertama”.

Kesimpulan : “Kita dipanggil sebagai persekutuan “Communio”, untuk melayani dengan ketulusan hati sebagai ungkapan iman dan persaudaraan. Semangat yang kita hidupi adalah Gembala baik dan murah hati”.

Ayat emas : Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah (1 Yohanes 4:7).

Tuhan Memberkati

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab