Home Blog Page 71

Mendoakan Firman Tuhan : Doa Dalam Masa yang Sulit dan Melelahkan

1

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

1. Ayat Kitab Suci

Masa yang sulit dalam kehidupan kita bisa menyebabkan kelelahan dalam jiwa dan raga kita. Ketika berada dalam masa yang sulit itu, kita bisa mendoakan Firman Tuhan dari Yesaya 40:29, 31: “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah”.

2. Maksud Ayat ini

Bangsa Israel mulai ragu atas diri mereka sebagai bangsa pilihan ketika berada dalam pembuangan di Babel yang berlangsung sangat lama. Yerusalem, yang merupakan kebanggaan dan pusat kehidupan mereka, sudah porak poranda. Mereka mengalami kehidupan yang sangat sulit. Mereka menganggap bahwa Allah telah melupakan mereka dan membiarkan mereka hancur: “Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: “Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?” (Yesaya 40:27). Yesaya sangat kecewa melihat semangat keagamaan bangsa Israel yang telah turun. Kekecewaannya nampak dalam pertanyaannya kepada bangsa Israel: “Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya” (Yesaya 40:28). Pertanyaan Yesaya ini mengandung penekanan tentang sifat Allah, yaitu Mahakuasa. Kemahakuasaan Allah ini juga diungkapkan oleh Nabi Yeremia: “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untukMu!” (Yeremia 32:17). Dengan menunjukkkan kepada mereka sifat Yahwe, yaitu Mahakuat dan Mahakuasa, Yesaya mau mengilhami umat Israel untuk senantiasa percaya kepada Dia. Yahwe pasti dapat melepaskan mereka dan menegakkan kerajaan-Nya untuk selama-lamanya. Umat Allah tidak boleh kuatir bahwa persoalan-persoalan dan kesulitan-kesulitan tidak dapat diselesaikanNya. Kuasa Allah adalah sangat hebat untuk dapat mengatasi persoalan-persoalan mereka. Allah memberikan secara berlimpah apa yang diperlukan bagi anak-anak-Nya yang kurang stamina dan kekuatan untuk terus bertumbuh dan mencapai kemajuan rohani. Syaratnya adalah mereka menanti-nantikan Dia dengan senantiasa berharap dan berdoa. Inilah yang dimaksudkan dalam Yesaya 40:31 “tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah”. Rajawali senantiasa membangun sarangnya di puncak Gunung. Puncak gunung melambangkan kedekatan dengan Tuhan. Rajawali yang membangun sarangnya di puncak gunung berarti orang yang membangun relasi dengan Tuhan akan selalu mendapatkan kekuatan untuk menerjang badai kehidupan dan berakhir dengan kemenangan.

Selama kita hidup di dalam dunia, kita pasti pernah bahkan sering menghadapi banyak masalah. Masalah itu bisa berupa masalah keuangan, keluarga, atau sakit penyakit. Bentuk masalah itu bisa masalah yang sederhana atau masalah yang pelik. Masalah itu juga bisa masalah yang baru muncul atau yang sudah lama dihadapi dan belum terselesaikan walaupun sudah berusaha dan berdoa. Persoalan-persoalan tersebut bisa menurunkan kekuatan kita baik secara fisik atau jiwa. Melemahnya kekuatan kita justru akan membuat kita semakin tidak berdaya dalam menghadapi persoalan yang ada. Kita akhirnya bisa kehilangan pengharapan dan bahkan merasa Tuhan sudah tidak peduli lagi kepada kita.

Kunci dalam menghadapi berbagai masalah adalah dengan menanti-nantikan Tuhan. Menanti-nantikan Tuhan berarti kita harus terus menerus berharap kepadaNya, mengarahkan hati kepadaNya, berdoa kepadaNya, membaca dan merenungkan Firman-Nya, menaati perintah-Nya, serta tetap teguh dalam iman kepadaNya.

Ketika kita datang kepada Tuhan Yesus Kristus dan senantiasa menanti-nantikan Dia, Dia akan memberi kekuatan baru kepada kita. Kekuatan baru itu akan memampukan kia menjalani hidup kita di tengah banyak persoalan. Kita menjadi bagaikan rajawali yang tak pernah lelah pada saat terbang. Artinya, kita tidak lelah dengan kehidupan kita yang dipenuhi dengan banyak kesusahan yang berat. Kita bahkan tidak menyadari bahwa kita secara ajaib telah melewati persoalan-persoalan kita berkat kekuatan baru yang Tuhan telah anugerahkan kepada kita.

3. Doa

Doa Dalam Masa Sulit dan Melelahkan

“Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yesaya 40:29, 31)

Tuhan, terlalu banyak persoalan yang melilitku (Sebutkan persoalan….) Persoalan-persoalan itu telah membuatku lelah dan capek dalam menjalani hidup ini karena sudah terlalu lama tiada solusi yang dapat memecahkannya. Berikan aku kekuatan dan semangat baru sehingga aku tetap dapat menjalani kehidupanku yang penuh dengan masalah berat ini. Dengan semangat dan kekuatan baru itu, hidupku tidak lumpuh. Semangat dan kekuatan baru itu akan memampukan aku keluar dari masalah-masalah yang ada. Dengan semangat dan kekuatan baru itu, aku yakin bahwa aku akhirnya menjadi pemenang atas persoalan-persoalan yang telah menghantamku sampai kehidupan jiwa dan ragaku berantakan. Kini aku dengan penuh kepercayaan atas kemahakuasaan-Mu berseru kepadaMu di tengah kelelahan dalam kehidupanku seperti nabi Yeremia: “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untuk-Mu!” (Yeremia 32:17). Aku yakin bahwa pengharapan kepadaMu tidak akan pernah sia-sia.


Tuhan Memberkati

Berdoa Mohon Kesembuhan dari Penyakit (Mendoakan Firman Tuhan Pada Saat Sakit)

2

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

1. Ayat Kitab Suci

Ketika kita atau orang-orang yang kita kasihi sedang sakit, kita bisa mendoakan Firman Allah dari Kitab Keluaran 15:26 : “….Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau”.

2. Maksud Keluaran 15:26

“….Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau” (Keluaran 15:26) menunjukkan bahwa janji Allah adalah Ia lebih ingin menyembuhkan daripada menimpakan penyakit dan kesusahan atas umat-Nya. Penyakit merupakan sebuah kepahitan. Penyakit yang tak kunjung sembuh bisa menyebabkan kelelahan dan bahkan keputusasaan. Kepahitan itu dilambangkan dengan singgahnya bangsa Israel di Mara setelah tiga hari perjalanan dari Mesir menuju ke tanah terjanji, yaitu Kanaan. Tanah itu disebut Mara karena rasa airnya pahit.

Tuhan Allah mempunyai cara untuk menolong bangsa Israel supaya mereka tidak mati kehausan. Tuhan Allah mengubah air yang pahit menjadi manis. Ia memerintahkan Musa untuk melemparkan kayu yang ditunjukkan-Nya itu ke dalam air tersebut: “Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis. Di sanalah diberikan TUHAN ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan kepada mereka dan di sanalah TUHAN mencoba mereka,” (Keluaran 15:25).

Kayu yang dilemparkan Musa itu sekarang menjadi nyata dalam salib Tuhan Yesus. Tuhan Yesus rela mati di kayu salib untuk menanggung kepahitan, termasuk segala jenis penyakit kita. Tuhan Yesus sanggup mengubah yang yang pahit menjadi manis melalu korban salib-Nya. Syaratnya adalah kita mematuhi perintah-Nya. Pendek kata, Allah akan menjadi bagi kita Yehovah Rõpekã, “Tuhanlah yang menyembuhkan engkau”, bagi kita orang yang taat kepadaNya.

Bagi kita yang taat kepada Tuhan Allah, penderitaan karena sakit merupakan kesempatan untuk lebih mendekatkan diri kepadaNya. Semakin kita sakit, kita semakin bersungguh-sungguh dalam berdoa: “Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa!” (Yakobus 5:13). Semakin kita bersungguh-sungguh di dalam doa, kita semakin yakin bahwa Allah tidak akan berubah kepada kita. Kita memiliki masa depan bersama dengan Allah, betapapun buruknya keadaan kita. Kebersamaan dengan Allah memberikan kebahagiaan kepada kita. Kebahagiaan itu tak terungkapkan dalam rangkaian kata-kata. Kebahagiaan rohani mengalahkan rasa sakit. Kalaupun Allah menunda kesembuhan kita, kita tidak akan putus asa karena kebahagiaan kekal, yang bebas dari rasa sakit, telah menjadi suatu impian kita. Bersatu dengan Allah dalam doa menjadi suatu kerinduan kita. Sembuh atau tidak sembuh secara fisik tidak akan lagi menjadi masalah bagi kita. Kita meyakini bahwa Tuhan Allah tahu yang terbaik bagi kita. Inilah kesembuhan rohani atau jiwa. Kesembuhan rohani mempengaruhi segala kehidupan. Ketika kita mengalami kesembuhan rohani, kita tidak akan lagi mengeluarkan keluhan-keluhan dan kemarahan karena sakit kita. Dengan demikian, doa-doa kita pada saat sakit menjadi pujian yang tulus kepada Allah karena membawa kita masuk ke hadirat-Nya.

Penderitaan kita sebagai sebuah pujian kepada Allah akan meluas dari diri kita menjadi pujian dari banyak orang. Semakin hari akan semakin banyak orang yang berdoa lebih tekun bagi kesembuhan kita. Semakin banyak orang berharap akan kuasa Allah bagi kita. Hasilnya mereka semakin dekat dengan Allah. Mereka semakin beriman karena mengakui kemahakuasaan-Nya. Dengan demikian, sakit kita menjadi sebuah pewartaan, yaitu membawa banyak orang kepada Tuhan dan menyandarkan hidupnya kepadaNya.

Nilai rohani yang kita dapatkan dari pergumulan dengan penyakit kita: kalau kita harus mengalami Mara, kita boleh mengharapkan penghiburan dari Elim yang akan mengikutinya “If we have to experience Marah, we may well expect that the rest and consolation of Elim will follow” (H.L. Ellison. The Daily Study Bible : Exodus. P. 86). Elim adalah suatu daerah yang mempunyai dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma: “Sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma, lalu berkemahlah mereka di sana di tepi air itu (Keluaran 15:27). Dua belas dan tujuh puluh melambangkan sesuatu yang besar, sempurna, dan tak terbatas. Ketika kita menyatukan diri dengan Tuhan Allah dalam menghadapi penyakit kita, Ia akan mengubah Mara kita, kepahitan dan sakit kita, menjadi Elim, kebahagiaan yang tak terbatas.

3. Doa

Doa Kesembuhan

“….Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau” (Keluaran 15:26)

Ya, Allah, Engkaulah Penyembuhku. Aku mengangkat penyakitku (sebut penyakitnya) ke hadirat-Mu. Aku memohon kepadaMu untuk mengenyahkannya jika Engkau berkenan. Aku percaya bahwa Engkau pasti dapat menyembuhkanku karena Engkau adalah Allah yang murah hati. Aku percaya bahwa kehendak-Mu pasti terbaik bagiku. Jika Engkau tidak menyembuhkan aku sekarang seturut cara dan waktu yang aku inginkan, aku yakin bahwa Engkau akan membebaskan aku dari penderitaan akibat penyakitku ini dengan jalan lain yang dapat lebih memuliakanMu. Yang dapat aku lakukan sekarang ini berteriak seperti Nabi Yeremia: “Sembuhkanlah aku, ya TUHAN, maka aku akan sembuh; selamatkanlah aku, maka aku akan selamat, sebab Engkaulah kepujianku !” (Yeremia 17:14). Semuanya aku serahkan kepada kebijaksanaan-Mu. Amin

Catatan : Jika kita ingin berdoa bagi penyembuhan orang lain, kita tinggal mengganti kata aku seperti Ya, Allah, Engkaulah yang menyembuhkan ….. (Sebut nama). Aku mengangkat penderitaannya……

Sumber Bacaan :

1. Alfred Mcbride. Opraem. Images of Jesus : Mengalami 10 Rahasia Pribadi Yesus.Obor. Jakarta.2003.

2. Joyce Meyer. The Power of Simple Prayer. FaithWord. New York. 2013.

3. H.L. Ellison. The Daily Study Bible : Exodus. The Saint Andrew Press. Edinburgh. 1985.

4. Stormie Omaritan. Doa yang Mengubah Segala Sesuatu : Kuasa Tersembunyi Dalam Pujian. Emmanuel. Jakarta. 2006

Doa Pengampunan dari Firman Tuhan Yesus Kristus : “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34)

0

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Firman Allah adalah sangat kaya. Firman Allah dipenuhi dengan kebijaksanaan, arahan, kebenaran, dan segala yang kita perlukan untuk hidup penuh kuasa, harapan, dan keberhasilan. Ketika kita mendoakan Firman Allah sama seperti yang tertulis dalam Kitab Suci, kita masuk ke dalam apa yang Ia telah lakukan dan firmankan.

Walaupun ada banyak doa dalam Kitab Suci, seperti dalam Mazmur, doa dari Sabda Tuhan Yesus menempati yang pertama. Doa dari Firman Tuhan Yesus Kristus menempati urutan pertama karena di dalam Firman-Nya mengandung apa yang penting bagi Allah untuk keselamatan jiwa umat-Nya. Doa pengampunan dari Firman Tuhan Yesus “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34) merupakan salah satu yang penting bagi Allah demi keselamatan umat yang dicintaiNya.

1. Doa Pengampunan dari Firman Tuhan Yesus Kristus dalam Kitab Suci: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34).

2. Makna Doa Pengampunan dari Tuhan Yesus Kristus itu

Doa Pengampunan dari Tuhan Yesus Kristus “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34) merupakan ucapan-Nya yang pertama di antara ketujuh sabda-Nya yang terakhir di kayu salib. Ucapan Tuhan Yesus itu dikatakanNya antara jam 9 pagi sampai tengah hari. Pengampunan Tuhan Yesus terhadap yang menganiayaNya itu menunjukkan kasih-Nya yang besar kepada kita. Kasih yang sejati nampak dalam pengampunan kepada mereka yang membuatNya menderita. Tuhan Yesus Kristus, di atas kayu salib dengan tubuh yang terkoyak, darah bercucuran, dan dalam penantian akan maut yang memalukan, tidak melontarkan kata-kata makian, hujatan, dan balas dendam terhadap orang-orang menghabisi hidup-Nya. Sebaliknya, ia mendoakan mereka agar Bapa-Nya memberikan pengampunan kepada mereka. Tuhan Yesus Kristus melaksanakan apa yang telah Ia sabdakan sendiri: “Kamu telah mendengar Firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:43-44).

Kasih pengampunan Tuhan Yesus itu terhadap orang-orang yang menganiayaNya merupakan kasih yang hendak menyelamatkan manusia berdosa. Kasih yang menyelamatkan dari Tuhan Yesus Kristus itu dapat dipahami dengan dua salib di sampingNya. Kedua salib di samping Tuhan Yesus Kristus itu adalah salib kedua penjahat yang disalibkan bersama Dia. Kedua penjahat yang disalibkan itu mewakili kita, manusia yang berdosa ini. Kita kadang-kadang bertindak seperti seorang penjahat, pencuri, dan perampok. Penyaliban Tuhan Yesus Kristus ini memenuhi nubuatan Nabi Yesaya: “Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak” (Yesaya 53:12).

Tuhan memberikan rahmat belas kasih-Nya kepada seorang penjahat yang bertobat pada saat-saat terakhir akhir kehidupannya. Penjahat itu menunjukkan pertobatannya dengan rendah hati dan mengakui bahwa dirinya adalah orang yang berdosa dan mengakui bahwa Yesus adalah orang benar. Ia pantas disalibkan, tetapi Tuhan Yesus Kristus tidak pantas menerima hukuman yang sama dengan dirinya. Kerendahan hati dan pengakuannya terhadap Yesus sebagai orang yang tak bersalah nampak dalam ucapannya kepada penjahat lain: “Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah” (Lukas 23:41). Perkataannya itu juga merupakan ajakan kepada penjahat lainnya untuk juga bertobat.

Setelah mengatakan hal itu, si penjahat yang bertobat itu mengungkapkan pengakuan imannya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai pemilik Kerajaan kekal: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Lukas 23:42). Discernment (pembedaan Roh) yang dilakukannya sangat mengagumkan. Mengakui Yesus sebagai Tuhan ketika Ia melakukan mukjizat adalah biasa, tetapi mengakui Yesus Kristus sebagai Raja ketika Ia diolok-olok, dihina, dan akan mengalami kematian secara tragis adalah luar biasa. Penjahat yang bertobat ini dengan mata hati yang tajam mampu melihat keilahian Tuhan Yesus Kristus ketika ia sedang tergantung di kayu salib dan sangat menderita. Imannya kepada Tuhan Yesus tidak dicerahkan dengan mukjizat-Nya yang luar biasa, tetapi cukup melihat kesabaran Tuhan Yesus Kristus ketika Ia mendoakan orang-orang yang telah menganiayaNya secara keji. Imannya ini memberanikan diri untuk berharap atas belas kasihan Tuhan Yesus Kristus ketika Ia memasuki kerajaan-Nya. Ia menyadari diri tidak pantas untuk masuk kerajaan-Nya yang indah. Ia hanya bisa merindukannya. Penjahat itu hanya mohon kepada Tuhan Yesus Kristus agar mengingatnya saja ketika sebagai Raja dalam kerajaan-Nya dengan memberikannya tempat di sudut Surga. Akan tetapi, penjahat yang bertobat itu justru menjadi penghuni Surga yang pertama karena ia menerima rahmat penebusan-Nya yang pertama pula. Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Lukas 23:43). Penjahat yang bertobat masuk surga tanpa api penyucian.

Uraian tentang penjahat yang bertobat ini mengingatkan kita bahwa tidak benar kalau seseorang yang sudah menjalani hidupnya yang penuh dosa akan diselamatkan hanya dengan pertobatan instan atau pertobatan pada menit-menit terakhir nafasnya. Orang yang berdosa akan diselamatkan ketika ia mengakui segala dosanya, meninggalkan masa lampaunya, dan mengandalkan belas kasih Tuhan agar diperkenankan masuk dalam kerajaan-Nya.

Tuhan Yesus Kristus telah memberikan teladan dalam pengampunan terhadap orang-orang yang membunuhNya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti pernah mengalami disakiti. Kita mungkin telah disakiti oleh pasangan kita, orang tua kita, mertua kita, anak-anak kita, dan sahabat-sahabat kita. Karena kita telah mendapatkan dengan cuma-cuma pengampunan dari tebusan darah dan daging-Nya, kita harus mengampuni orang-orang yang telah melukai kita tanpa syarat pula.

Pengampunan terhadap orang lain membuat kita terbebas dari kenangan pahit di masa lalu. Tanpa pengampunan, jiwa kita akan senantiasa tersiksa dengan kemarahan dan kebencian. Kemarahan dan kebencian akan menjadi rintangan hubungan kita yang akrab dengan Allah. Kemarahan dan kebencian adalah sebuah dosa yang membuat kita memisahkan diri dari Tuhan Allah dan Dia tidak mendengarkan Doa kita: “yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu” (Yesaya 59:2). Sebaliknya, pengampunan kepada sesama membuat batin kita merasakan kemerdekaan dan kedamaian. Kedamaian dan kemerdekaan hati membangun hubungan yang lebih hangat, terbuka, dan utuh.

3. Doa Pengampunan kepada sesama

Doa Pengampunan

Tuhan Allah, aku bersyukur karena Engkau telah mengampuni dosa-dosaku. Jadikan aku sebagai seorang pengasih dan pengampun seperti Engkau sendiri adalah Allah yang kaya akan pengampunan, kasih, dan kemurahan. Mampukan aku untuk mengampuni mereka yang telah bersalah kepadaku (sebutkan nama yang perlu kita ampuni) dan mendoakannya seperti doa Putera-Mu: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34). Dengan pengampunan yang aku berikan kepadanya, aku pasti mengalami kelegaan karena tidak lagi dikuasai dengan ikatan masa lampau yang penuh kemarahan dan kebencian. Dengan demikian, hubunganku dengan Engkau semakin hangat dan mesra. Amin.

Bersambung

Doa Mohon Allah Mendengarkan Doa Kita (Doa dalam pergumulan hidup yang berat)

0

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

1. Ayat Kitab Suci

“TUHAN telah mendengar permohonanku, TUHAN menerima doaku” (Mazmur 6:10).

2. Maksud Ayat ini

“TUHAN telah mendengar permohonanku, TUHAN menerima doaku” (Mazmur 6:10) merupakan doa keyakinan Daud bahwa Tuhan pasti memperhatikan setiap tetesan air matanya ketika ia menghadapi pergumulan hidupnya. Pergumulannya tidak otomotis lenyap setelah Daud berdoa dan menangis. Doanya ini merupakan keyakinannya bahwa semua musuhnya akan lari tunggang langgang dalam sekejap karena Tuhan berada di pihaknya.

Keyakinan Daud itu menjadi kekuatan batinnya dalam menghadapi pergumulan hidupnya. Tangisan Daud berubah menjadi kekuatan. Tangisan merupakan lambang kelemahan. Akan tetapi, Tuhan mampu mengolah kelemahan menjadi kekuatan. Di hadapan Tuhan, air mata dukacita akan berubah menjadi air sukacita yang mengalir tanpa habis-habismya.

Dalam kehidupan ini, kita sering mengalami pergumulan yang berat. Pergumulan kita itu bisa berupa persoalan keluarga, seperti penyakit yang memerlukan banyak biaya, ditipu, piutang tak dibayar, kebangkrutan usaha, dan ditinggalkan oleh pasangan hidup. Persoalan-persoalan yang datang bertubi-tubi itu tentu sangat memukul dan melukai jiwa kita. Persoalan yang datang silih berganti itu tentu bisa menjadi sebuah ketakutan yang menerornya.

Di dalam pergumulan hidup yang sangat mencekam dan menakutkan serta belum jelas pemecahannya, kita tidak boleh ragu untuk menghampiri Tuhan. Jika beban hidup kita sudah terlalu berat, kita bisa menangis di hadapan-Nya. Jadikan air mata kita sebuah doa tanpa kata. Air mata kita akan berbicara banyak di hadapan Tuhan. Doa “air mata” akan memberikan kelegaan dan kekuatan bagi kita karena kita yakin bahwa Tuhan tidak akan pernah menutup telinga-Nya terhadap kesesakan kita: “TUHAN telah mendengar permohonanku, TUHAN menerima doaku” (Mazmur 6:10). Telinga Tuhan senantiasa terbuka bagi kita yang berteriak meminta tolong dan menyembahNya dengan sungguh-sungguh. Keajaiban Tuhan tidak akan pernah berakhir bagi kita orang yang percaya.

3. Doa :

Doa Mohon Tuhan Mendengarkan Doa Kita”

(Doa di dalam Kesesakan)

“TUHAN, Engkau telah mendengar permohonanku, Engkau menerima doaku” (Mazmur 6:10). Engkaulah tempat tumpahan air mataku. Air mata yang mengalir dari banyaknya persoalan yang mencekam dan menakutkan aku (Sebutkan persoalanmu). Aku yakin bahwa Engkau pasti membebaskan aku dari pergumulan hidupku yang mencekik leherku. Ya Allah, tariklah aku dari persoalan-persoalanku. Aku percaya bahwa Engkau adalah Allah yang tidak menutup mata terhadap penderitaan umat-Mu. Janji-Mu adalah nyata dan itu memberikan kekuatan dan kelegaan dalam hatiku. Aku senantiasa berpengharapan kepadaMu. Tiada gunanya bagiku memburu pertolongan di tempat lain karena hanya membuat batinku tertekan. Inilah doaku, sebuah doa tanpa banyak kata, tetapi yang terlontar dengan air mata. Tuhan dengarkan doaku.

Doa Novena kepada St. Rita dari Cascia

1

St Rita, Tuhan memberikan engkau kepada kami sebagai teladan kebaikan dan kesabaran, dan mengaruniakan kepadamu bagian dari Sengsara Putera-Nya. Aku bersyukur kepadaNya untuk banyaknya berkat yang telah Tuhan karuniakan kepadamu sepanjang hidupmu, khususnya selama pernikahanmu yang tidak bahagia dan selama engkau menderita sakit di dalam biara.

Semoga teladanmu menguatkan aku untuk memikul salibku dengan sabar dan untuk hidup lebih kudus. Dengan melayani Tuhan sebagaimana teladanmu, kiranya aku boleh menyenangkan Dia dengan iman dan perbuatan-perbuatanku.

Aku gagal oleh karena kelemahan-kelemahanku. Berdoalah kepada Tuhan bagiku sehingga Ia boleh memulihkan aku pada cinta-Nya melalui rahmat-Nya dan menolongku dalam jalanku menuju keselamatan.

Dalam kebaikanmu dengarkanlah doaku dan mohonkanlah kepada Tuhan untuk mengaruniakan kepadaku permohonan ini jika ini adalah kehendak-Nya (sebutkan permohonan Anda)

Kiranya doamu menolongku untuk hidup dalam kesetiaan kepada panggilan hidupku sebagaimana teladanmu dan membawaku kepada cinta yang lebih dalam kepada Tuhan dan sesamaku hingga aku mencapai kehidupan kekal di Surga. Amin.

Diterjemahkan secara bebas dari teks berikut ini:

Novena Prayer
St Rita, God gave you to us as an example of charity and patience, and offered you a share in the Passion of His Son. I thank Him for the many blessings He bestowed upon you during your lifetime, especially during your unhappy marriage and during the illness you suffered in the convent.

May your example encourage me to carry my own Cross patiently and to live a holier life. By serving God as you did, may I please Him with my faith and my actions.

I fail because of my weakness. Pray to God for me that He may restore me to His love through His grace and help me on my way to salvation.

In your kindness hear my prayer and ask God to grant me this particular request if it be His will: (mention your request).

May your prayers help me to live in fidelity to my calling as you did and bring me to the deeper love of God and my neighbor until I reach eternal life in heaven. Amin.

Nihil Obstat: Francis J.McAree, S.T.D, Censor Librorum
Imprimatur: Patrick J. Sheridan, D.D, Vicar General, Archdiocese of New York

Novena Singkat pada St Rita

Doakanlah doa ini selama sembilan hari berturut-turut

Hari pertama, ke-empat, dan ke-tujuh

St Rita yang paling berbelaskasih, Penasehat Dari Masalah-masalah yang Membawa Keputusasaan, pertimbangkanlah dengan kebaikan, doa-doa dari sebuah hati yang pedih dan mohon perolehkanlah bagiku rahmat yang amat aku butuhkan.
Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan

Hari ke-dua, ke-lima, ke-delapan

St Rita yang paling berbelaskasih, Penasehat Dari Masalah-masalah yang Membawa Keputusasaan, aku telah memohon pertolongan darimu karena aku yakin kepada kekuatan perantaraan doamu. Mohon terimalah permohonanku dan persembahkanlah permohonanku itu kepada Tuhan.
Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan

Hari ke-tiga, ke-enam, dan ke-sembilan

St Rita yang paling berbelaskasih, tempat pertolongan terakhir dalam masalah-masalah yang mendesak, kupercayakan diriku kepadamu dengan iman dan cinta. Dalam situasi yang telah kuterangkan kepadamu, engkau adalah tempat pelarianku yang terakhir. Kasihanilah aku, melalui Sengsara Kristus yang engkau alami begitu eratnya!
Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan

Diterjemahkan secara bebas dari teks berikut ini:
Short Novena To St Rita

Recite the following prayers for nine successive days

1st, 4th, and 7th day
Most compassionate St Rita, Advocate of Desperate Cases, consider with benevolence the prayers of an anguished heart and please obtain for me the grace that I need so much.
Our Father, Hail Mary, Glory Be

2nd, 5th, and 8th day
Most compassionate St Rita, Advocate of Desperate Cases, I have recourse to you because I am certain of the power of your intercession. Please receive my request and present it to God yourself.
Our Father, Hail Mary, Glory Be

3rd, 6th, and 9th day
Most compassionate St Rita, last recourse in urgent cases, I entrust myself to you with faith and love. In the situation that I have explained to you, you are my ultimate refuge. Have pity on me, through the Passion of Christ in which you shared so intimately!
Our Father, Hail Mary, Glory Be

Nihil Obstat: Francis J.McAree, S.T.D, Censor Librorum
Imprimatur: Patrick J. Sheridan, D.D, Vicar General, Archdiocese of New York

Yuk, main ping-pong !!

0

Hidup itu seperti ping-pong,” kata si romo pengakuan dengan tenang setelah mendengar pengakuan dosaku. Aku agak kaget dan bingung dengan analogi si romo sehingga bertanya,“Maksudnya, Mo?” Beliau lalu menjelaskan bahwa hidup pertobatan tidak lepas dari perjuangan melawan godaan dan cobaan. Seringkali, manusia memandang kedua hal ini dengan tatapan ngeri atau benci, seolah berharap tatapan mereka bisa mengusir jauh-jauh kedua hal ini. Wajarlah. Siapa juga yang mau mendapat cobaan atau godaan?

Terus, si romo menganjurkan agar aku mengubah sudut pandangku. “Main ping-pong itu butuh lawan. Bayangkan kalau kamu main ping-pong, tapi nggak ada lawannya. Nggak seru kan? Begitu juga hidup. Cobaan dan godaan itu ibarat lawan tanding kita main ping-pong.” Aku mengangguk-angguk sambil membayangkan permainan ping-pong. Pas sekali analogi ping-pong si romo. Olahraga ini baru aku pelajari ketika berada dalam biara ini. Ternyata, lumayan seru juga ya. Sebelumnya, paling aku cuma jadi penonton setia. Kalau hidup seperti ping-pong, berarti aku harus menerima setiap cobaan dan godaan sebagai “partner” bermain “ping-pong hidup” ini. Belajar menikmati pergumulan akibat cobaan dan godaan yang datang.

Kemudian, aku bertanya,”Lah, Romo, masak kita menikmati godaan? Dosa terus dong?” “Yo ndak to, Nak”, jawabnya cepat. “Kan waktu kamu main ping-pong, kamu selalu berjuang menjadi lebih baik dan menikmati perjuanganmu itu. Kamu menikmati proses berjuang melatih diri sekaligus mengalahkan lawan. Kalau main cuma untuk asal pukul dan nggak jadi lebih pinter, buat apa main ping-pong?” Aku manggut-manggut lagi, tanda mengerti. “Bener juga ya, Mo.

Tapi, beliau mengingatkanku untuk tetap percaya dan berusaha. “Seringkali, ketika kita belum mampu mengalahkan satu lawan, kita frustasi. Lalu, kita putus asa dan merasa kita nggak mungkin bisa pinter main ping-pong. Akhirnya, kita berhenti main sama sekali karena merasa telah gagal.” Aku kaget (lagi), tertusuk kata-kata beliau. Memang, aku sering putus asa dan merasa tidak mungkin mampu menjadi orang kudus. Ternyata, aku harus tetap percaya dan berusaha. Ia sendiri yang memintaku untuk menjadi sempurna seperti Bapa-Nya (Mat 5.48). Ia pasti menyertai aku dalam perjalanan pertobatan ini.

Ketika satu lawan berhasil dikalahkan”, lanjut si romo,”akan ada lawan lain lagi yang lebih tangguh.” Aku mendengarkan sambil membayangkan perkembangan permainanku sendiri. Awalnya, mengembalikan bola aja aku nggak bisa. Lalu, perlahan aku mulai belajar servis, mengarahkan bola, hingga belajar smash. Nggak terasa, sekarang aku bisa. Paling nggak, aku tidak malu-maluin amat. Begitu pula, aku akan semakin kudus dan kudus berkat rahmat Allah, yang memurnikan aku melalui cobaan dan godaan yang datang dan pergi. “Yang penting, kamu tetap sabar dan menikmati proses. Nggak ada yang instan. Tuhan nggak pakai cara instan, termasuk ketika menebus kita. Dia sampai menderita begitu payah. Wong, mie instan aja tetep musti dimasak dulu,” si romo menutup penjelasannya dengan senyum lebar.

Aku harus banyak berlatih ping-pong kehidupan ini. Jelas, aku tidak mungkin menghilangkan partner-partnerku. Keduanya memiliki tujuan yang berbeda. Cobaan datang untuk menguji kesetiaanku, sedangkan godaan datang dari Setan untuk menjatuhkan dan menjauhkan aku dari Allah. Tapi, keduanya diizinkan Allah untuk memurnikan aku. Aku ini hanya pemintal gulali yang tidak berpengalaman main ping-pong. Semoga Tuhan sudi mengajarku bermain ping-pong kehidupan.

Aku begitu tak berdaya untuk memanjat tebing terjal tangga kesempurnaan. Namun, dalam Kitab Suci, aku menemukan ayat-ayat Kebijaksanaan Abadi yang mengatakan : ‘Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah kemari…’” – St. Therese Lisieux.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab