Home Blog Page 70

O, Salam, Tubuh yang Mulia, di Kayu Salib itu….

1

[Hari Minggu Biasa XXII: Yer 20:7-9; Mzm 63:2-9; Rm 12:1-2; Mat 16:21-27]

Ku mau s’perti-Mu Yesus, disempurnakan s’lalu, dalam seg’nap jalan-Mu, memuliakan nama-Mu...!” demikian sepenggal lirik lagu yang mungkin cukup akrab di telinga kita. Memang adalah kerinduan hati kita untuk selalu disempurnakan oleh Tuhan. Namun bagaimana caranya, itulah yang mungkin perlu kita renungkan bersama. Sebab lirik lagu itu sudah berhenti sampai di situ, seolah membiarkan kita menemukan sendiri bagaimana Tuhan menyempurnakan diri kita masing-masing. Namun syukur kepada Tuhan, firman-Nya menunjukkan kepada kita jalan menuju kesempurnaan itu.

Bacaan Kitab Suci Minggu ini, mengajarkan agar kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup kepada Tuhan, dan dengan demikian mempersembahkan “apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Rom 12:2). Mempersembahkan tubuh kita? Bagaimana caranya? Mungkin karena saking simpel-nya, malah kita lupa bahwa dalam setiap apa yang kita lakukan, sesungguhnya kita melibatkan tubuh kita. Dengan jiwa, kita menginginkan atau tidak menginginkan, namun dengan tubuh-lah kita melaksanakannya. Dengan tubuh kita melakukan dosa, atau sebaliknya, melakukan kasih. Maka perbuatan baik yang kita lakukan tidak hanya hasil dari kehendak jiwa kita, tetapi juga tubuh kita. Demikianlah kita melibatkan mulut untuk tersenyum dan menghibur orang lain, tangan dan kaki untuk bekerja ataupun menolong sesama, dan mata untuk menatap dengan kasih. Dalam semua itu, Tuhan memberi kesempatan bagi kita untuk mempersembahkan tubuh kita, yaitu untuk mengasihi Tuhan dan sesama, dan untuk menghindari dosa.

Dewasa ini di tengah zaman yang cenderung menekankan hal-hal yang sensasional, hal kemurnian tubuh seolah tidak lagi menjadi perhatian. Sabda Tuhan hari ini menegur kita, untuk meninggalkan berbagai bentuk kenikmatan duniawi yang menjauhkan kita dari rencana Allah. Kaum muda dipanggil untuk menjaga kemurnian tubuh, demikian pula  pasangan suami istri. Suami istri yang memutuskan untuk tidak menggunakan alat-alat kontrasepsi merupakan contoh hidup di zaman ini, yang mempersembahkan tubuh mereka untuk Tuhan demi menjaga kesucian perkawinan sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan. Sebab Tuhan menghendaki agar pasangan suami istri menjadi gambaran akan kasih Tuhan yang total dan tanpa syarat, kepada umat manusia; dan sebagai gambaran akan kasih Kristus kepada Gereja-Nya. Betapa kita semua perlu memandang salib Kristus, untuk melihat betapa sempurnanya kasih yang sudah dicurahkan-Nya untuk menyelamatkan kita. Kristus tidak memikirkan apa yang dikehendaki orang pada umumnya, seperti kenyamanan, kemudahan dan jalan pintas untuk mencapai tujuan-Nya. Kristus memilih salib, penderitaan, pengorbanan, dan pengosongan diri untuk menebus dosa- dosa kita dan untuk menunjukkan kasih-Nya kepada kita. Ia memilih untuk kehilangan nyawa-Nya agar memperolehnya kembali dalam kemuliaan-Nya. Dengan memandang Tubuh-Nya yang mulia yang tergantung di kayu salib, kitapun didorong dan dikuatkan untuk menghindari dosa dan untuk mengasihi, dengan tubuh kita. Pengorbanan-Nya di kayu salib menjadi contoh bagi kita, agar kita tidak takut menghadapi berbagai tantangan dan pengorbanan, untuk mengalahkan kelemahan kita dan menyatakan kasih kita kepada Tuhan dan kepada orang-orang di sekitar kita. Ya, mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup kepada Tuhan memang melibatkan pengorbanan dan pengendalian diri, namun di atas semua itu, kasih kepada Tuhan. Kalau kita sungguh mengasihi Tuhan, kita akan memikirkan apa yang dipikirkan Tuhan, dan bukan apa yang dipikirkan orang kebanyakan. Maka pertanyaannya adalah: “Seberapa miripkah pikiranku dengan pikiran Tuhan?” Ya, Tuhan, ampunilah aku, jika apa yang kupikirkan jauh berbeda dengan apa yang Kau pikirkan! Seperti Rasul Petrus dalam bacaan Injil hari ini, kitapun cenderung memikirkan apa yang kita kehendaki dan bukan yang Tuhan kehendaki. Tapi syukurlah, bahwa Tuhan dapat mengubah kita, seperti Ia telah mengubah Petrus. Ia dapat menjadikan kita seperti Petrus, yang disempurnakan selalu, hingga akhirnya bahkan dimampukan untuk menyerahkan hidupnya seutuhnya untuk Tuhan.

Kupandang salib Kristus yang tergantung di dinding kamarku. Kini semakin kupahami mengapa di salib kita umat Katolik ada Corpus-nya. Tubuh Yesus yang tergantung di situ, mengingatkan kita bahwa kemenangan-Nya atas maut diperoleh-Nya melalui pengorbanan dan penderitaan yang tiada terukur dan tiada terpahami. Oleh bilur-bilur di Tubuh-Nya itu, kita disembuhkan (1Ptr 2:24). Tiba-tiba, lagu karangan Mozart itu menyampaikan makna baru ke dalam hatiku:

Ave, Verum Corpus, Salam, Tubuh yang Mulia,
natum de Maria Virgine, yang dilahirkan oleh Perawan Maria
Vere passum, immolatum, yang sungguh menderita
In cruce pro homine, disalibkan di kayu salib untuk umat manusia ….

Salam, ya Tubuh yang mulia,  bantulah aku untuk mempersembahkan tubuhku sebagai persembahan yang hidup, yang berkenan kepada-Mu!

Apakah Rm 9:6-29 dapat dijadikan dasar bagi paham Double Predestination?

0

Dewasa ini ada sejumlah orang beranggapan bahwa perikop Rom 9:6-29 dapat dijadikan dasar paham bahwa Allah sejak awal mula telah menentukan sejumlah orang ke Surga dan sejumlah lainnya ke neraka (double predesination). Benarkah? Penjelasan dari buku tafsir Kitab Suci menurut ajaran iman Katolik, tidak mengartikan perikop tersebut demikian.

Berikut ini adalah penjelasan yang kami sarikan dari A Catholic Commentary on Holy Scripture, gen.ed. Dom Orchard, OSB, tentang ayat-ayat tersebut:

Perikop tersebut merupakan bagian dari ketiga bab dalam surat Rasul Paulus (Rom 9 s/d 11) yang menjelaskan keterpisahan antara bangsa Israel dari Gereja Tuhan. Dalam ketiga bab ini, Rasul Paulus menjabarkan bagaimana Injil tidak dapat meyakinkan bangsa Israel. Bagaimana Injil yang menjadi penggenapan sejati akan janji-janji Mesianis, dengan ajaran intinya yang menyatakan bahwa Yesus dari Nazaret, bahkan ditolak oleh bangsa Israel sendiri yang kepadanya Allah telah menjanjikan Mesias. Dengan mengacu kepada jawaban Rasul Paulus, haruslah dilihat bahwa ia membahas tentang tidak masuknya Israel secara keseluruhan [sebagai bangsa] dari keselamatan Sang Mesias dan hal itu terjadi di sini dan saat ini, yaitu di Gereja di dunia. Maka akan menjadi kesalahpahaman yang besar untuk berpikir bahwa topik yang dibicarakan adalah tidak masuknya bangsa Israel ke Surga di Pengadilan Terakhir, karena penghakiman itu tidak bersifat kolektif melainkan perorangan [penghakiman itu tidak mengadili Israel secara kolektif sebagai bangsa, namun mengadili setiap orang secara individu].

Rm 6:29 menjabarkan penjelasan dasar tentang kesetiaan dan keadilan Allah dalam hal tidak masuknya bangsa Israel di saat itu dalam Keselamatan Injil.

Rasul Paulus menanggapi keberatan-keberatan yang diajukan oleh kaum Israel yang mengatakan bahwa Injil telah keliru, sebab menurut mereka Allah telah menjanjikan kepada bangsa Israel, berkat-berkat Mesianis. Jika Allah tidak memasukkan bangsa Israel, maka mereka menganggap bahwa Allah tidak menggenapi janji-Nya, dan ini tidak mungkin. Karena itu orang-orang Israel itu menganggap bahwa Mesias belum datang, dan apa yang ada dalam Injil umat Kristen dianggap salah, sehingga menurut mereka, mereka berhak untuk menolaknya

Terhadap argumen ini, Rasul Paulus mengatakan dalam perikop di atas, sebagai berikut:

1. Allah berhak menentukan siapa umat pilihan-Nya yang sejati

Ay. 6-13 menjabarkan penjelasan tentang kesetiaan Allah yang mendukung hal tidak masuknya bangsa Israel pada saat itu dalam Keselamatan Injil. Di sini disampaikan tanggapan terhadap keberatan kaum Israel tentang kebenaran Injil, sebab jika Injil itu benar, maka menurut mereka, Allah telah mengingkari janji-Nya terhadap bangsa Israel. Menanggapi hal ini, Rasul Paulus mengatakan bahwa karena janji Mesianis telah diberikan kepada bangsa Israel, maka penggenapannya juga datang kepada Israel. Namun demikian ada kesalahan dalam rumusan keberatan tersebut. Kesalahannya ada pada definisi umum tentang bangsa Israel, yang dipahami sebagai suku keturunan Abraham. Rasul Paulus menolak definisi ini. Sebab janji-janji Tuhan tidak diberikan kepada semua keturunan Abraham. Baik Ismail maupun Esau adalah keturunan Abraham, namun keduanya tidak menerima berkat-berkat dari Abraham bapa mereka, juga dari Ishak. Sebagaimana yang terjadi pada anak-anak Abraham dan Ishak, demikianlah yang terjadi pada sejarah Umat Pilihan Allah. Tuhanlah yang berhak memilih Israel/bangsa pilihan-Nya yang sejati [jadi tidak otomatis atas dasar keturunan jasmani dari Abraham saja]. Aku mengasihi Yakub tetapi membenci Esau… (Rm 9:13; Mal 1:2-3)

2. Allah bertindak dengan bebas untuk menentukan pilihan-Nya

Menurut Rasul Paulus, dalam kasus Esau dan Yakub terlihat bahwa Allah bertindak dengan bebas memilih siapa-siapa yang dikehendaki-Nya untuk menjadi anggota bangsa Israel pilihan-Nya. Menurut Kej 25:23, Yakub dipilih dan Esau ditolak ketika mereka belum lahir. Kalau pemilihan dan penolakan ini terjadi di kemudian hari setelah mereka hidup, maka perbuatan moral dapat dikatakan sebagai sesuatu yang mengakibatkan perbedaan ini. Namun bahwa pemilihan terjadi sebelumnya, maka pesan yang ingin disampaikan Kitab Suci adalah, kebebasan Tuhan untuk memilih, yang tidak tergantung dari keturunan Abraham maupun dari perbuatan-perbuatan manusia (lih. ay. 10-12).

3. Kesimpulan dari ajaran Paulus

Maka kesimpulan dari ajaran Rasul Paulus adalah: tentang Israel yang kepada mereka janji-janji Mesianis diberikan, kita harus membedakan antara bangsa Israel yang adalah keturunan Abraham hanya dari garis keturunan fisik dan bangsa Israel oleh karena pilihan istimewa Allah, seperti Ishak dan Yakub. Hanya yang terakhir inilah Israel yang sejati. Dengan demikian, tidak masuknya mayoritas bangsa Israel dari Kristianitas tidaklah menjadikan Injil bertentangan dengan janji-janji Allah yang tak pernah berubah, yang telah dijanjikan dalam Perjanjian Lama.

Interpretasi yang keliru dari ayat Rom 9:6-13

Argumen Rasul Paulus dalam Rom 9:6-13 telah sering salah dikutip sebagai bukti alkitabiah yang mendukung double predestination, atau preditinasi absolut dalam artian takdir kekal setiap orang telah ditentukan oleh dekrit Allah. Terhadap kesimpulan yang keliru ini, harus diingat:

1. Dua teks Kitab Suci yang dikutip dalam Rom 9:13 tidak berkaitan dengan keselamatan kekal dari Esau dan Yakub, namun hanya berkaitan dengan kehidupan mereka di dunia [Esau tidak memperoleh berkat ayahnya, sedang Yakub memperolehnya]. Dan juga Paulus mendiskusikan di sini pemilihan sehubungan dengan janji-janji Mesianis kepada Israel, namun bukan pemilihan untuk masuk Surga atau neraka.

2. Ekspresi “Aku membenci” di ayat 13 tidak untuk dianggap sebagai sesuatu yang perlu ditekankan, sebab istilah itu adalah bagian dari kutipan. Lagipula, ketika dikontraskan dengan “aku mengasihi” itu merupakan peribahasa (‘idiom‘) Yahudi, yang jika diterjemahkan adalah “Aku mengasihi lebih sedikit” (“I have loved less“), atau Aku tidak memilih, lih. Kej 29:30-dst, Luk 14:26; Ul 21: 15-17; Hak 14:16; Ams 14:20.

Selain kesalahan interpretasi sebagaimana disebutkan di atas, ada pula kesalahan lain yang menganggap bahwa ay. 10-12 adalah dasar bagi tidak adanya kaitan antara predestinasi dari perbuatan-perbuatan, sebab Esau telah ditolak sebelum ia dapat melakukan apapun untuk menolak Allah. Beberapa ahli Kitab Suci berusaha menjelaskan hal ini dengan mengatakan bahwa Allah telah mengetahui lebih dulu akan dosa-dosa maupun kebajikan-kebajikan Yakub maupun Esau. Pembedaan antara predestinasi sebelum dan sesudah perbuatan baik dilakukan, memang benar dan berguna untuk memahami hal ini, namun apakah hal ini sudah ada di pikiran Rasul Paulus ketika menuliskan Rom 9:10-12, itulah yang tidak dapat dipastikan. Maka nampaknya lebih sederhana dan lebih setia kepada teks, jika kita mengesampingkan spekulasi teologis dalam ayat-ayat Rom 9:6-13 tentang predestinasi ke Surga atau neraka, sebab hal itu ada di luar jangkauan argumen yang diutarakan oleh Rasul Paulus. Sebab di sana Paulus sedang mempersoalkan klaim Israel tentang janji-janji Mesianis sebagai sebuah bangsa; dan Paulus tidak menarik diskusi ini keluar dari batas-batas ini. Tidak termasuknya (Ismail dan) Esau dari janji-janji Mesianis, membuktikan bahwa klaim-klaim tersebut keliru dan inilah yang ingin dibuktikan oleh Rasul Paulus. Rasul Paulus tidak bermaksud membuktikan apakah Esau tidak dapat memperoleh keselamatan jiwanya karena ia tidak termasuk dalam Bangsa Pilihan Allah.

Ay. 14-29 adalah tentang penjelasan tentang keadilan Allah yang mendukung tidak masuknya bangsa Israel pada saat itu dalam Keselamatan Injil.

Keberatan di paragraf ini adalah berdasarkan dari tanggapan Paulus terhadap paragraf yang sebelumnya. Jika Kristianitas menganggap bahwa rahmat adalah satu-satunya keadaan yang terpenting bagi orang-orang terpilih, yaitu Gereja, maka keadilan yang dahsyat akan menjadi milik mereka yang berada di luar Gereja. Ajaran ini mengarah kepada ‘divine favouritism‘ yang bertentangan dengan keadilan Tuhan.

Kita selayaknya menerima bahwa Allah Mahabesar dan Mahakuasa dan karena itu bertindak sesuai dengan kebesaran dan kuasa-Nya, dan sebagai manusia kita tidak dapat menentang kebijaksanaan-Nya (lih Rm 9:19-21). Allah pasti memiliki alasan tersendiri, mengapa Ia memanggil untuk menjadi bagian dari umat pilihan-Nya, orang-orang yang bukan Yahudi, yaitu dari banga-bangsa lain (lih. Rm 9:22-26), dan hanya sejumlah orang Israel -disebut sisa Israel- yang akan masuk dalam keselamatan yang ditawarkan dalam Injil.

Selanjutnya, Paulus menjabarkan bahwa tidak masuknya bangsa Israel saat itu dari keselamatan yang datang dari Sang Mesias disebabkan karena kesalahan mereka sendiri (lih. Rom 9:30- 10:21). Artinya, jika bangsa Israel saat itu ada di luar Gereja, itu bukan karena kesalahan Allah, tetapi karena kesalahan bangsa Israel itu sendiri.

Sudahkah Kutaati Sang Pemegang Kunci yang Telah Ditunjuk Yesus?

1
http://en.wikipedia.org/wiki/Confession_of_Peter#mediaviewer/File:Christ_Handing_the_Keys_to_St._Peter_by_Pietro_Perugino.jpg

[Hari Minggu Biasa XXI: Yes 22:19-23; Mzm 138:1-8; Rm 11:33-36; Mat 16:13-20]

Stef dan Ingrid, kami titip anak-anak ya…. Kami akan pulang minggu depan. Ini kunci rumah kami. Silakan mengatur anak-anak selama kami pergi.  Kalau ada yang nakal boleh kalian beri konsekuensi, seperti yang kalian tahu kami lakukan kepada mereka, kalau mereka nakal. Semoga anak-anak baik-baik saja selama kami tak ada di rumah...!” demikian pesan adik sepupu kami. Selama beberapa hari berikutnya, kami menjadi wakil papa dan mama bagi keempat orang keponakan kami. Kami berusaha menerapkan segala sesuatu yang biasa dilakukan oleh sepupu kami dan suaminya kepada anak-anak mereka. Demikianlah kami menyiapkan dan mendampingi keponakan kami untuk makan, belajar, bermain, berdoa, tidur, dst, sampai orang tua mereka kembali pulang ke rumah.

Ini adalah suatu pengalaman sederhana yang mengingatkan kami akan peran Rasul Petrus, dan para penerusnya, yang menjadi wakil Kristus untuk memimpin Gereja-Nya di dunia ini. Setelah kenaikan-Nya ke Surga, memang Kristus tidak lagi hadir dalam rupa manusia, seperti ketika Ia hidup di tengah para murid-Nya. Namun Yesus tidak meninggalkan kita umat-Nya sebagai yatim piatu. Ia mengutus Roh Kudus-Nya untuk menyertai umat-Nya dan juga telah menunjuk wakil-Nya untuk memimpin dan membimbing umat-Nya, yaitu Gereja-Nya di sepanjang sejarah, sampai kelak Ia datang kembali di akhir zaman. Dewasa ini, ada banyak orang yang dengan mudah mengakui bahwa Yesus telah mengutus Roh Kudus-Nya kepada orang-orang yang mengimani Dia. Namun tak semua orang Kristen mengakui bahwa Yesus telah menunjuk Rasul Petrus dan para penerusnya sebagai wakil-Nya untuk memimpin Gereja-Nya di dunia ini. Bukankah sikap ini merupakan  ironi, karena dalam kenyataan hidup sehari-hari, kita mengakui adanya kebiasaan umum jika seorang pemimpin pergi, maka ia akan mempercayakan orang-orang yang dipimpinnya kepada wakilnya atau orang kepercayaannya. Jika kita manusia saja tahu akan pentingnya menunjuk wakil bagi kita, mengapakah kita berpikir bahwa Tuhan tidak melakukannya? Apalagi Kitab Suci jelas mengajarkan kepada kita akan hal ini, ketika Yesus berkata, “… Engkau adalah Petrus (Kefas), dan di atas batu karang (Kefas/Petrus) ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku, dan alam maut tak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga” (Mat 16: 18-19; bdk Yoh 21:15-17). Tuhan Yesus telah mempercayakan kunci Rumah-Nya kepada Petrus, dan memberikan kuasa kepadanya untuk mengikat dan melepaskan, yaitu untuk mengatur umat-Nya di dunia ini. Peran Rasul Petrus ini telah digambarkan samar- samar dalam Perjanjian Lama, oleh peran Elyakim bin Hilkia, yang dipilih Allah dan diberi kuasa untuk menjadi bapa bagi kaum Yehuda. Elyakim ditunjuk menjadi kepala rumah tangga Raja Daud, yang memegang kunci kerajaannya dan dengan demikian menentukan siapa-siapa yang dapat masuk ke dalam kerajaan itu, tentu dengan ketentuan sang empunya kerajaan (lih. Yes 22: 20-23).

Kitab Suci tidak menyatakan bahwa kunci kerajaan itu dipercayakan kepada orang-orang kebanyakan, namun kepada orang tertentu yang dipilih-Nya. Mari sejenak kita merenungkan hal ini.  Jika Tuhan Yesus sudah memberikan kuasa ini kepada Rasul Petrus dan para penerusnya yaitu para Paus, karena janjiNya yang akan selalu menyertai Gereja sampai akhir zaman (Mat 28:19-20), maka bukankah sepantasnya kita menaati ajaran Bapa Paus dan para uskup serta para imam yang membantunya untuk memimpin Gereja? Jika kita sungguh menghormati Kristus, maka selayaknya kita menghormati juga para wakil-Nya di dunia. Sebab dengan demikian kita memenuhi kehendak Kristus, yaitu agar semua orang yang percaya kepada-Nya menjadi satu (lih. Yoh 17:21). Sebab penolakan akan kepemimpinan Paus itulah yang menjadikan ada begitu banyaknya denominasi gereja sampai saat ini. Mari kita, sebagai umat Katolik, mensyukuri rahmat kesatuan di bawah pimpinan Rasul Petrus dan para penerusnya yang telah menjaga Gereja Katolik tetap satu sampai 2000 tahun ini, walaupun menghadapi berbagai tantangan dari dalam maupun dari luar Gereja. Betapa kita perlu melihat hal ini sebagai penggenapan janji Kristus bahwa Ia tidak akan membiarkan Gerejanya punah dikuasai oleh alam maut.

Maka kalau dewasa ini kita membaca tentang berbagai tuduhan negatif kepada Paus Fransiskus, berbagai klaim wahyu pribadi yang mendiskreditkan Gereja Katolik, ataupun komentar-komentar miring tentang ajaran Gereja, mari kita menyikapinya dengan bijaksana. Jika kita percaya akan kuasa firman Tuhan, kita tidak perlu risau.  Sebab Kristus pasti menepati janji-Nya bahwa Ia akan menyertai Gereja-Nya dan tak akan membiarkannya musnah. Mari kita menghormati dan menaati ajaran Bapa Paus, Uskup dan imam, sebab kepada merekalah Kristus telah mempercayakan pengajaran iman dan moral. Jangan sampai, oleh karena kepicikan kita, malah kita menyangka mereka hanya mengajarkan ajaran manusia. Mereka itu telah diberi kuasa oleh Allah untuk melanjutkan kepemimpinan Kristus untuk menggembalakan kita; maka mari kita menaati pengajaran mereka demi hormat dan kasih kita kepada Kristus yang menghendakinya demikian.

Bagaimana “Melakukan Hal-hal Kecil dengan Cinta yang Besar”?

0

St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus yang mengajarkan ‘Jalan Kecil’ dan ‘Jalan Cinta Kasih’, mengajarkan agar kita melakukan segala sesuatu demi cinta kepada Yesus dan untuk menyenangkan hati-Nya. Dengan pikiran yang terarah kepada Yesus kita dapat melakukan sabda Tuhan ini, “Dan dalam segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita” (Kol 3:17).

Dengan pikiran yang selalu terarah kepada Kristus, St. Theresia dapat berkata, “Tidak ada 3 menit berlalu tanpa aku berpikir tentang Kristus.” Ketika saudarinya, Marie, mengatakan bagaimana itu mungkin terjadi? Maka St. Theresia hanya menjawab sambil tersenyum, “Jika orang mencintai, hal itu mungkin.” Maka di sini St. Theresia sebenarnya hanya menghayati dan menghidupi apa yang dikatakan Yesus, “Di mana hartamu, di situ juga hatimu berada” (Mat 6:21, Luk 12:34).

Keeratannya dengan Kristus membuat ia memiliki suatu kerinduan yang begitu besar untuk turut mengambil bagian di dalam karya Kristus untuk menyelamatkan dunia, sehingga ia lebih banyak berdoa dan bermatiraga untuk mendoakan pertobatan dunia, dan mendoakan para imam, misionaris dan seluruh Gereja. Dengan demikian, saat melakukan segala pekerjaannya di biara, entah itu membersihkan biara, menyiapkan makanan, ataupun kegiatan yang lain, St. Theresia selalu melakukannya seolah-oleh ia melakukannya untuk Tuhan Yesus, sebagai bagian yang dapat dipersembahkannya untuk mendukung karya Kristus. Maka ia melakukan semua pekerjaan yang dipercayakan kepadanya dengan sebaik-baiknya. Saat mengepel lantai, St. Theresia membayangkan ia sedang membasuh darah Yesus yang tercecer saat Ia didera, saat memasak dan menyajikan makanan, ia membayangkan bahwa ia sedang mempersembahkan bunga-bunga rohani kepada Kristus, doa-doanya bagi keselamatan jiwa-jiwa, dst.

Kerinduannya untuk melakukan hal-hal kecil demi namun dengan kasih yang besar, juga berhubungan dengan jalan yang dipilihnya, yang kerap dikenal dengan ‘Jalan Kecil St. Theresia’. Tentang hal ini St. Theresia mengatakan kepada kakaknya:

“Engkau bertanya kepadaku apakah mungkin mencintai Allah seperti aku mencintai Dia. Kerinduanku untuk kemartiran itu bukan apa-apa dan bahwa aku mempunyai kepercayaan yang luar biasa kepada Allah bukan karena kerinduan untuk kemartiran…. engkau mengatakan bahwa keinginanku untuk kemartiran itu merupakan tanda dari cinta kasih-ku? Aku merasa bukan itu yang menyebabkan jiwaku berkenan kepada Allah. Yang berkenan kepada-Nya ialah bahwa Dia mel;ihat aku mencintai kekecilan dan kepapaan serta kepercayaanku kepada kerahiman-Nya. Inilah hartaku satu-satunya. Mengapa harta ini tidak menjadi hartamu juga? Oh, kakakku, cobalah mengerti aku. Cobalah mengerti, bahwa untuk mencintai Yesus, untuk menjadi kurban dari cinta-Nya sehingga dibakar oleh Api Cinta Kasih itu, orang justru harus semakin lemah dan papa. Keinginan untuk menjadi kurban bakaran, itu sudah cukup. Akan tetapi, untuk itu orang harus sungguh-sungguh mau tinggal miskin dan tidak berdaya….

Karena itu marilah kita menjauhkan diri dari segala yang gemerlapan. Marilah kita mencintai kekecilan kita, merasa senang untuk dianggap bukan apa-apa. Dengan demikian kita akan memiliki semangat kemiskinan itu dan Yesus akan datang mengambil kita… di tempat kita berada. Dia akan membakar dan mengubah kita dalam nyala kasih-Nya. O, betapa aku rindu untuk membuat engkau mengerti apa yang ada di dalam hatiku. Kepercayaan… dan bukan yang lain daripada kepercayaan… yang harus membawa kita kepada Sang Cinta Kasih….”

[Dari berbagai sumber tentang riwayat hidup St. Theresia Kanak-kanak Yesus]

Hidup Sebagai Orang Merdeka, Bagaimana Caranya?

0
sumber: http://farrygunawan.blogspot.com/2013/08/menikmati-panorama-gunung-cikuray-yang.html

[Hari Kemerdekaan Republik Indonesia: Sir 10:1-8; Mzm 101:1-7; 1Ptr 2:13-17; Mat 22:15-21]

Belakangan ini mungkin ada kecenderungan yang lebih besar pada kita untuk menonton televisi, dan menyimak apakah yang terjadi, sehubungan dengan keadaan politik di negeri ini. Hal ini wajar, sebab rasa ingin tahu juga menunjukkan bahwa kita peduli akan masa depan bangsa kita. Kita semua mengharapkan kemajuan bagi negara kita, dan mendambakan keadaan masyarakat yang semakin sejahtera. Maka di hari peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ini, kita sebagai anggota Gereja Katolik berkumpul bersama dalam perayaan Ekaristi, untuk mengucap syukur untuk segala berkat dan penyertaan Allah bagi negara yang kita cintai ini. Kita juga memohon penyertaan Tuhan selanjutnya, terutama bagi  Presiden dan Wakil Presiden terpilih agar beroleh kearifan untuk memimpin bangsa kita, untuk menciptakan ketertiban dan kesejahteraan bagi masyarakat (lih. Sir 10:1,3).

Hari ini kita merayakan peringatan Kemerdekaan RI yang ke-69. Suatu angka yang sepertinya tidak terlalu muda, jika dibandingkan dengan usia manusia, namun dapat dikatakan muda, untuk usia sebuah negara. Kemerdekaan yang telah susah payah dicapai oleh para bapa bangsa kita, tentunya harus dipertahankan dan diisi dengan sebaik-baiknya. Mungkin banyak dari kita bertanya, bagaimanakah cara kita mengisinya? Mungkin setiap orang mempunyai jawaban yang berbeda untuk menanggapi pertanyaan ini. Namun bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini menuliskan dasar bagi semua upaya untuk membangun negeri. Dasarnya, tak lain dan tak bukan, pertama-tama adalah cinta kasih, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama. “Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah…” (lih. 1Ptr 2:17). Pertanyaannya sekarang adalah sejauh mana kita sudah melihat semua orang sebagai ‘saudara-saudara’ kita. Sebab jika kita sudah melihat bahwa kita semua adalah sesama saudara di dalam Tuhan dan sesama saudara sebangsa dan setanah air, maka kita akan berjuang mengusahakan kebaikan bersama.

Untuk mengusahakan kebaikan bersama inilah, sabda Tuhan mengingatkan kita, “Jangan menaruh benci kepada sesamamu, apa pun juga kesalahannya, dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu…. Kecongkakan dibenci oleh Tuhan maupun manusia…” (Sir 10:6,7). Maka, di tengah kemajemukan bangsa ini, kita dipanggil untuk mengusahakan persatuan atas dasar kasih, pengampunan, penguasaan diri dan kerendahan hati. Sebab dengan sikap seperti inilah, kita dimerdekakan dari rasa cinta diri dan segala hal yang membuat kita marah dan tertekan. Walaupun sepertinya nampak mudah, namun kenyataannya tidak sesederhana itu, jika sudah menyangkut kelompok- kelompok masyarakat yang lebih luas yang mempunyai kepentingan masing-masing. Apa umumnya reaksi kita, jika tetangga yang sedang membangun rumahnya kemudian malah membuat rumah kita bocor, atau banjir, karena limpahan pasir dan semen bangunan tetangga itu mengakibatkan tersumbatnya talang saluran air hujan di rumah kita? Apa tanggapan kita kepada orang-orang yang datang kepada kita mengaku sebagai pekerja yayasan ini itu, lalu meminta sejumlah uang? Apa yang kita lakukan jika kita disrempet motor ketika sedang berjalan di pinggir jalan? Atau ketika kita membeli suatu barang, tetapi begitu sampai di rumah, barang itu rusak atau palsu? Agaknya untuk menyelesaikan potensi konflik karena perbedaan kepentingan, dibutuhkan kebijaksanaan, dan di atas semuanya itu, dibutuhkan cinta kasih, agar kita tidak melulu melihat dari sisi kita tetapi juga dari sisi orang lain. Melihat dari sisi orang lain, terutama yang miskin dan lemah, akan memudahkan kita untuk mempunyai sikap berbela rasa. Ini terlihat misalnya, agar kita turut juga memikirkan kepentingan pembantu rumah tangga kita, pegawai kita, atau juga kepada orang-orang miskin dan sakit yang ada di sekitar kita.

Juga untuk mengusahakan kebaikan bersama inilah, kita berpegang kepada perintah Tuhan selanjutnya, yaitu, “…Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja … maupun kepada wali-wali yang ditetapkannya…” (1Ptr 2:13-14). Artinya, kita diminta untuk taat kepada pemerintah dan para pemimpin kita yang sah. Betapa ini menjadi relevan bagi kita sekarang, yang dalam waktu dekat ini akan memperoleh konfirmasi akan hasil pilpres melalui keputusan Mahkamah Konstitusi. Apapun keputusan MK, jika sudah disahkan layaklah kita taati. Demikianlah kita melakukan apa yang dikehendaki Allah. Kristus sendiri mengajarkan agar kita memberikan kepada pemimpin negara apa yang menjadi haknya, dan tidak mempertentangkannya dengan kewajiban kita untuk memberikan kepada Allah, apa yang menjadi hak Allah (lih. Mat 22:21). Tentu Allah-lah yang patut kita hormati di tempat pertama, namun hal itu tidak meniadakan penghormatan kita kepada para pemimpin kita, baik kepada pemimpin negara, maupun juga kepada pemimpin Gereja yang meneruskan kepemimpinan Kristus dan para Rasul di dunia ini.

Di hari proklamasi kemerdekaan negara kita ini, mari kita mengucap syukur kepada Tuhan atas kemerdekaan bangsa kita. Mari kita memohon rahmat Tuhan untuk juga mengisinya dengan baik, sebagaimana telah kita kidungkan di Mazmur hari ini, “Kamu dipanggil untuk kemerdekaan, maka abdilah satu sama lain dalam cinta kasih….”

Maria Diangkat ke Surga Adalah Kabar Gembira Bagi Kita!

6

[Hari Raya St. Perawan Maria diangkat ke Surga: Why 11:19a,12:1-6,10; Mzm 45:10-12,16; 1Kor 15:20-26; Luk 1:39-56]

Di layar TV terpampang gambar seorang gadis kecil yang bertutur, “Ibuku … membuat kincir di bawah air bertenaga bulan…, ibuku membuat kereta api yang bersahabat dengan lingkungan…, ibuku bekerja di XX [nama perusahaan yang di-iklankan].” Ini adalah potret sederhana tentang kebanggaan seorang anak terhadap apa yang telah dicapai oleh ibunya. Ia bangga dan gembira, karena ibunya telah berhasil melaksanakan tugas yang besar di suatu perusahaan yang besar pula. Aku bertanya kepada diriku sendiri, apakah aku- pun mempunyai perasaan semacam itu… Bunda Maria, ibuku, telah diangkat ke Surga! Ia yang telah diberikan Kristus untuk menjadi ibuku, telah melakukan tugasnya yang begitu besar yang dipercayakan Allah kepadanya, dan Allah memberikan penghargaan kepadanya dengan mengangkatnya ke tempat yang termulia.  “Alleluia, alleluia… Maria diangkat ke Surga… para malaikat bergembira… Alleluia, alleluia!” demikianlah seruan Bait Pengantar Injil hari Minggu ini. Sungguhkah kita, seperti para malaikat itu, turut bergembira merayakannya pada hari ini?

Bacaan pertama dan kedua Minggu ini menyampaikan sejumlah ayat Kitab Suci yang mendasari ajaran Gereja Katolik bahwa Bunda Maria diangkat ke Surga. Pertama, sebab dalam Kitab Wahyu, Bunda Maria digambarkan sebagai Tabut Perjanjian di bait suci Allah di Surga; sebagai seorang perempuan berselubungkan matahari; yang kemudian melahirkan seorang Anak laki-laki yang menggembalakan semua bangsa. Jika Anak laki-laki ini adalah gambaran Kristus, maka sang perempuan yang melahirkan-Nya adalah Bunda Maria. Kedua, Rasul Paulus mengajarkan bahwa kita yang percaya, setelah kita meninggal akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus, tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya. Jika Kristus adalah yang sulung dari orang-orang yang meninggal, maka urutan kedua tentu adalah ibu-Nya, Maria. Sebab Maria adalah anggota Gereja yang pertama, yang hidup mendengarkan dan melaksanakan firman Tuhan dengan sempurna, sehingga rencana Tuhan dapat terlaksana. Oleh ketaatan dan persetujuan Maria-lah, Allah dapat mengutus Kristus Putera-Nya ke dunia.

Maka tak mengerankan jika sejak awal, Gereja telah menghormati Bunda Maria, dan meyakini bahwa ia telah berada di Surga. Di sana, ia turut mendukung pengantaraan Kristus dengan doa-doa syafaatnya. Teks papyrus Mesir di tahun 250-an menjadi saksi bahwa Gereja sejak awal telah memohon dukungan doa Bunda Maria, “Di bawah belas kasihmu kami berlindung, O Bunda Tuhan. Jangan menolak permohonan kami dalam kesesakan, tetapi bebaskanlah kami dari mara bahaya, engkaulah yang suci dan terberkati…” Walau teks ini tidak secara literal mengatakan bahwa Maria diangkat ke Surga, namun yang tertulis di sana mencerminkan iman Gereja akan persatuan yang erat antara dia dengan Kristus di Surga, sehingga Gereja memohon perlindungannya, seperti permintaan seorang anak kepada ibunya. Maka sebenarnya, apa yang dinyatakan Paus Pius XII di tanggal 1 November 1950, bukanlah ajaran baru, sebab Gereja telah sejak dulu meyakininya. Paus hanya merumuskannya, untuk menegaskan iman Gereja tentang bagaimana Bunda Maria bisa berada di Surga: “…dengan otoritas dari Tuhan kita Yesus Kristus, dari Rasul Petrus dan Paulus yang terberkati, dan oleh otoritas kami sendiri, kami mengumumkan, menyatakan dan mendefinisikannya sebagai dogma yang diwahyukan Allah: bahwa Bunda Tuhan yang tak bernoda, Perawan Maria yang tetap perawan, setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi” (Munificentissimus Deus, 44).

Jika kita, seperti Rasul Yohanes, melaksanakan kehendak Tuhan Yesus agar menerima Bunda Maria sebagai Bunda kita juga, pantaslah kita turut bergembira merayakan peristiwa pengangkatannya ke Surga. Sebab bukankah kalau ibu kita menerima penghargaan, kitapun pantas bersukacita? Bukankah Rasul Paulus berkata, “ … jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita…”? (1Kor 12:26) Sebagai anggota Tubuh Kristus, mari kita bersukacita, karena Tuhan telah berkenan melakukan perbuatan- perbuatan besar kepada Bunda Maria, Bunda kita! Sebab Tuhan telah menggenapi dalam diri Bunda Maria, janji keselamatan kekal yang dijanjikan-Nya kepada semua orang yang mengimani Dia. Bukankah penggenapan janji Tuhan dalam diri Bunda Maria merupakan sesuatu yang kita nantikan agar terjadi pada diri kita juga? Maka peristiwa Bunda Maria diangkat ke Surga adalah peringatan pengharapan kita akan keselamatan dan kebangkitan badan kita di akhir zaman. Yaitu, jika kita hidup setia dan taat kepada Allah sampai akhir -seperti halnya Bunda Maria- kitapun akan mengalami apa yang dijanjikan Allah itu. Jiwa dan tubuh kita akan diangkat ke Surga, untuk bersatu dengan Tuhan dalam kemuliaan surgawi. Allah akan “mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia… “ (Flp 3:21). Maka, dogma Maria diangkat ke Surga, tubuh dan jiwanya, bukan semata-mata ajaran untuk menghormati Maria, tetapi untuk meneguhkan pengharapan iman kita. Bukankah ini adalah kabar gembira?

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab