Home Blog Page 72

Tatapan Cinta

0

Alangkah terkejutnya hatiku mendengarkan suara isakan tangis dari seorang ibu. Dengan suara parau, ia mengatakan bahwa suaminya baru saja meninggal dunia. “Romo, tolong doakan aku dan suamiku” merupakan kata-kata yang hanya ia bisa ucapkan. Suaminya meninggal dunia secara mendadak dalam usia yang tergolong muda pada tanggal 16 Juli 2014. Ia meninggal ketika sedang menyetir mobil di Jalan Tol Bekasi menuju kantornya karena serangan jantung. Jantung suaminya itu memang sudah diberi dua ring sejak dua tahun silam.

Aku mengenal ibu itu dalam retret perutusan Kursus Evangelisasi Pribadi XVII Paroki Santo Yakobus – Kelapa Gading tanggal 27-29 Juni 2014. Ibu itu memintaku untuk berdoa bagi seorang anaknya dan suaminya yang sakit. Dalam acara adorasi yang aku pimpin, tanggal 09 Juli 2014 di Paroki yang sama dan dihadiri lebih dari dua ratus umat, ia mengangkat penyakit anak dan suaminya di hadirat Tuhan dalam Sakramen Mahakudus. Cucuran air matanya jelas mengungkapkan kegelisahan, kesedihan, dan terutama harapan bahwa tiada yang mustahil bagi Tuhan.

Retret dan adorasi telah meneguhkan imannya dalam menghadapi kejadian yang tak terduga ini seperti yang ia katakan. Tubuh dan jiwanya sempat lunglai mendengar kepergian suaminya, tetapi tidak sampai tergeletak karena ada tanggungjawab yang harus ia tanggung. Anak sulungnya yang mulai kuliah dan anak bungsunya yang memerlukan perhatian lebih membakar semangatnya. Ungkapan kata-katanya tentang kepergian suaminya sangat mengharukan: “Sesak dadaku ketika engkau mengembuskan nafas terakhirmu tanpa aku di sisimu. Engkau telah pergi sendirian untuk selamanya tanpa diriku, tanpa bisikan kata-kataku, tanpa kata-kata yang menguatkanmu, dan tanpa pegangan erat tanganku. Aku berada dalam impian dan kenyataan. Aku menangis tersedu-sedu seakan-akan dunia tidak lagi milikku ketika aku menyadari bahwa ini adalah sebuah kenyataan. Walaupun kini hidupku sangat pahit, aku harus melaluinya. Ada kewajiban yang telah kita ikrarkan bersama dalam janji nikah yang harus aku selesaikan setelah kepergianmu”.

Suaminya memang pergi ke hadapan Tuhan tanpa tanda-tanda sebelumnya. Akan tetapi, pada malam sebelumnya, suaminya itu memberi kenangan yang indah. Ketika ia sedang berusaha tidur, suaminya itu berkali-kali melihat wajahnya. Pandangan suaminya itu merupakan ungkapan cintanya yang sekuat baja dan selembut sutera yang senantiasa mengalir bagaikan air di sungai walaupun raganya tiada lagi bersamanya. Ungkapan kasih suaminya yang manis itu pasti terukir dalam jiwanya. Kenangan itu tak akan pernah hilang. Walaupun raga tak bersamanya lagi, tetapi hati suaminya itu tetap bersamanya.

Kenangan manis itu telah membuka lebar-lebar tentang makna cintanya kepada suaminya. Apa yang ada ternyata semakin berharga setelah tiada. Ia semakin menyayangi anak-anaknya. Tangan Tuhan menyertainya dalam menjalankan tugas sebagai seorang ayah dan sekaligus seorang ibu. Anugerah Tuhan, yaitu kekuatan-Nya, menjadi sangat terasa. Kenangan manis terhadap suaminya yang ia cintai tersimpan dalan jiwanya. Kenangan manis itu pelan-pelan mencairkan rasa duka. Kebahagiaan pun mengalir kembali dalam hati karena ia mengalami kesatuan hati yang abadi.

Pesan yang kita dapat dalam peristiwa ini sangat berarti dalam meniti kehidupan ini. Tataplah orang yang kita sayangi dengan perasaan cinta dari hati. Cinta adalah ikatan dua hati. Tatapan cinta dari hati pasti semakin mengalirkan perasaan indah yang mungkin terpendam dalam jiwa selama ini. Kehidupan pun dihiasi dengan cinta yang semakin murni. Ungkapannya adalah mengabdi terhadap orang-orang yang ditinggalkan pergi oleh orang yang dicintai. Cinta itu pun menjadikan dua hati tidak akan pernah mati: “Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina” (Kidung Agung 8:7)

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Kenangan Indah Bersamamu (Puisi Perpisahan Dengan Romo Toni)

0

Menjelang kepindahanmu,

Terputar kembali dalam otakku.

Kenangan indah bersamamu selama empat tahun di Paroki Odilia.

Kita telah melangkah bersama

Menapaki jalan pewartaan

Berjuang menegakkan iman dari Citra Raya sampai Cisoka.

Tertawa, gembira, pahit, dan getir menyertai kita.

Tantangan-tantangan tidak menghentikan langkah pelayananmu.

Tuhan menopangmu saat kau lelah.

Surat Cinta Ilahi, yaitu Firman Allah, yang kaurenungkan setiap malam

menjadi kekuatanmu dalam setiap langkah.

Kini, engkau, melangkah ke tempat tugas yang baru, di Paroki Santo Michael – Bandung, demi ketaatan.

Paroki Tua dan umat sudah tua pula

Pelayananmu setiap hari pasti banyak pemakaman.

Tapi, engkau pasti bahagia menghantar jiwa-jiwa ke surga.

Selamat jalan, Romo Toni.

Bagaikan sebuah gunung yang indah dipandang mata dari kejauhan.

Semakin jauh engkau berada, semakin indah dan semakin banyak inspirasi yang dapat kami lihat.

Berangkatlah dengan senyuman.

Senyuman yang menjadi kenangan yang tergores slamanya dalam hati umat Odilia.

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Mukjizat Luar Biasa dalam Sepotong Hosti Biasa

0

[Hari Minggu Biasa XVIII: Yes 55:1-3; Mzm 145:8-18; Rm 8:35,37-39-30; Mat14: 13-21]

Injil hari ini mengulas tentang salah satu mukjizat Tuhan Yesus yang terbesar. Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan, untuk memberi makan sedikitnya lima ribu orang laki-laki – belum termasuk perempuan dan anak-anak. Setelah mereka semua makan sampai kenyang, sisanya-pun masih begitu banyak: dua belas keranjang! Kita bisa membayangkan, betapa heboh-nya peristiwa itu. Tak mengherankan, keempat Injil mencatatnya. Maka kita tidak perlu terpengaruh pandangan para skeptik modern yang menganggap bahwa kemungkinan Yesus hanyamenyuruh orang banyak tersebut duduk berkelompok, lalu orang-orang itu sendiri yang saling berbagi makanan yang sudah mereka bawa. Bahwa orang-orang itu duduk memang disebutkan di sana, tapi tidak disebut bahwa mereka saling berbagi sendiri. Sebaliknya, jelas dikatakan bahwa Yesus mengambil lima roti dan dua ikan itu, lalu menengadah ke langit, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak (lih. Mat 14:19). Fakta bahwa setelah kejadian itu orang- orang mendesak Yesus agar menjadi raja bagi mereka, itu sendiri telah menunjukkan bahwa Yesus telah melakukan sesuatu yang luar biasa di hadapan mereka. Sebab bukankah mereka telah memperoleh makanan, tanpa bekerja dan tanpa membayar, dan mereka semua telah menjadi kenyang?

Seandainya saja mereka dapat menghubungkan mukjizat Yesus itu dengan nubuat Nabi Yesaya yang baru saja kita baca, tentunya mereka akan mengenali bahwa yang hadir di depan mereka bukan saja pantas untuk menjadi raja bagi mereka, namun Ia sungguh adalah Tuhan Allah mereka. Sebab, “Beginilah firman Tuhan, “… kamu yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah….tanpa membayar… Mengapa upah jerih payahmu kau belanjakan untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku, maka kamu akan mendapat makanan yang paling baik…. Sendengkanlah telingamu, dan datanglah kepada-Ku, dengarkanlah, maka kamu akan hidup!” (Yes 55:2-3) Namun sepertinya, orang banyak itu tidak dapat melihat kaitan antara tanda yang baru dibuat oleh Yesus itu dengan nubuat Nabi Yesaya. Maka Yesus berkata, “… Sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti dan kamu kenyang” (Yoh 6:26). Mata hati orang-orang itu tertuju kepada apa yang mengenyangkan secara jasmani. Padahal Tuhan Yesus tidak bermaksud hanya memberi sampai di situ. Ia bermaksud memberi yang lebih besar lagi. Ya, Tuhan Yesus mau memberikan kepada kita, makanan yang paling baik, agar kita memperoleh hidup yang kekal. Santapan itu adalah Diri-Nya sendiri. Yesus bersabda, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi…. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku….” (Yoh 6:35, 54-57).

Saat kita mendengarkan sabda Tuhan ini, mari kita mohon agar Roh Kudus membukakan mata dan telinga hati kita, agar kita memahami dan meresapkan kembali kedalaman makna sabda-Nya ini. Tuhan Yesus peduli dengan segala kebutuhan kita, namun terutama, Ia ingin memenuhi kebutuhan kita yang terpenting, yaitu agar kita memperoleh hidup yang kekal. Hidup kekal ini hanya mungkin kita peroleh, jika Allah sendiri yang memberikan hidup-Nya kepada kita. Karena maksud inilah, Kristus mau mengambil rupa manusia, dan menyerahkan hidup-Nya di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. Kini hidup-Nya itulah yang kita terima setiap kali kita menerima Dia, Sang Roti Hidup, dalam Ekaristi kudus. Melalui Ekaristi, kita menerima pemberian Diri-Nya yang sehabis-habis-Nya: Tubuh, Darah, Jiwa, dan ke-Allahan-Nya. Dalam Ekaristi, kita menerima keseluruhanKristus. Dalam Ekaristi, kita menerima mukjizat yang begitu besar dan luar biasa, dalam rupa sepotong hosti kecil dan begitu biasa. Ya, Tuhan, jangan biarkan mata rohaniku gagal melihat Engkau! Betapa seharusnya aku bersyukur, dan melambungkan pujian Mazmur, “Kecaplah betapa sedapnya Tuhan… betapa baiknya Tuhan itu…Engkau membuka tangan-Mu ya Tuhan, dan mengenyangkan kami” (Mzm 34:9; 145: 16).

Biarlah aku mengenali Engkau, sebagaimana para murid-Mu, di saat pemecahan roti, sehingga Komuni kudus ini menjadi terang yang menghalau kegelapan dalam jiwaku…. Tinggallah di dalamku, ya Tuhan Yesus, sebab hanya Engkaulah yang kurindukan, Kasih-Mu, Rahmat-Mu, Kehendak-Mu, Hati-Mu, Roh-Mu, sebab aku mengasihi- Mu dan aku tidak meminta yang lain, kecuali agar aku mengasihi Engkau, lebih dan lebih lagi. Amin.” (St. Padre Pio)

Apakah itu manusia raksasa/ nephilim (Kej 6:4)?

9

Penjelasan dari The Navarre Bible tentang ayat tersebut adalah sebagai berikut:

Dalam Kej 6:1-4 disebutkan istilah “anak-anak Allah”, yang cukup mengundang perdebatan. Sejumlah orang menganggap istilah itu mengacu kepada para malaikat yang berdosa (fallen angels). Namun arti ini tidak memungkinkan, mengingat kemudian disebutkan bahwa mereka menikahi anak-anak manusia. Sedangkan malaikat adalah mahluk rohani sehingga tidak dapat menikah dengan manusia. Karena itu ‘anak-anak Allah’ di perikop ini diartikan sebagai keturunan dari Set, yang kemudian menikahi para wanita keturunan Kain, yang disebut sebagai ‘anak-anak manusia’. Penjelasan ini diberikan oleh St. Augustinus (De civitate Dei, 15,23), St. Yohanes Krisostomus (Homiliae in Genesim, 22,4), St. Sirilus dari Aleksandria (Glaphyra in Genesim, 2,2) dan para Bapa Gereja lainnya. Pemerosotan moral dan nilai-nilai perkawinan menjadi penyebab terjadinya air bah.

Selanjutnya di ayat 4 tertulis, “Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.” (Kej 6:4)

‘Orang-orang raksasa’ di sini adalah terjemahan dari kata Ibrani נפלים, nephilim, yang berasal dari kata נפל, naphal, artinya “ia jatuh”.

Maka para ahli Kitab Suci mengartikan kata ini sebagai mereka yang telah jatuh dari ajaran agama yang benar. Kitab Septuaginta menerjemahkan kata nephilim ini dengan kata Yunani γιγαντες, yang secara literal artinya adalah ‘lahir dari bumi/ dunia’, yang kemudian diterjemahkan menjadi ‘raksasa’ yang sering dihubungkan dengan arti orang-orang yang berbadan besar, walaupun jika dilihat dari akar katanya tidak secara literal menyatakan demikian. Akar kata nephilim/ naphal ini (ia jatuh) justru menunjukkan kontras dengan anak-anak Allah. Nephilim ini mengacu kepada orang-orang yang lahir dari bumi, yang telah jatuh ataupun menyimpang, dengan pikiran yang jahat. Mereka adalah para keturunan Kain, yang dengan nafsu duniawi menguasai dunia. Sedangkan anak-anak Allah adalah keturunan Seth, yaitu mereka yang mengikuti Allah dan kehendak-Nya. Di sini kita melihat pertentangan antara para pendosa dengan orang-orang kudus; yang pertama, γιγαντες atau ‘lahir dari dunia’, sedangkan yang kedua, ἁγιοι, adalah orang-orang yang bukan dari dunia, atau dipisahkan dari dunia.

Namun demikian, beberapa ahli Kitab Suci lainnya, mengacu kepada temuan-temuan historis mengatakan bahwa ‘orang-orang raksasa’ tersebut memang mengacu kepada orang-orang zaman dulu yang relatif lebih besar perawakannya jika dibandingkan dengan orang-orang zaman sekarang. Mereka mengacu kepada beberapa teks dalam Kitab Suci yang menunjukkan hal ini, seperti ayat-ayat yang menuliskan tentang Goliat (1Sam 17:4), Og (Ul 3:11), dan anak-anak Enak (Bil 13:33) yang disebut sebagai ‘raksasa’, di mana orang-orang Israel melihat diri mereka seperti belalang jika dibandingkan dengan perawakan mereka.

Apapun interpretasi nephilim ini, tidak mempengaruhi fakta yang kemudian dituliskan di kitab Kejadian yaitu bahwa keturunan Seth kemudian menikah dengan keturunan Kain, dan keturunan mereka menghasilkan orang-orang perkasa. Dalam bahasa aslinya kata ‘perkasa’ adalah גברים  gibborim, yang mengacu kepada kata גבר  gabar, artinya ‘ia menang’. Dan kata אנשי השם anshey hashshem, “orang-orang kenamaan” diterjemahkan dalam Septuaginta, ανθρωποι ονομαστοι, artinya terkenal, ‘diberi nama dua kali’, yaitu nama aslinya dari orang tua dan nama julukan karena keberanian mereka. Baik diketahui bahwa terdapat tujuh kata Ibrani yang dapat diterjemahkan sebagai ‘raksasa’, yaitu: nephilim, gibborim, enachim, rephaim, emim, and zamzummim, yang artinya adalah orang-orang yang besar dalam hal pengetahuan, kesalehan, keberanian, namun juga dapat diartikan besar dalam hal kejahatan, jadi tidak saja selalu harus diartikan sebagai orang besar perawakannya.

 

 

Tuhan Pasti Sanggup

0

Retret para imam SS.CC tanggal 05-08 Juli 2014 di Batam, memutar kembali kenanganku sebagai pastor muda yang berkarya selama tujuh tahun di sana. Kenangan itu tak akan habis tertuang dalam novel kehidupan. Pengalaman blusukan ke ruli-ruli (rumah-rumah liar) untuk mencari umat terus membayangi hati nurani bagaimana seharusnya hidup sebagai seorang gembala. Pengalaman manis dan pahit, suka dan duka, tertawa dan airmata, telah menjadi bahan retret utama untuk mengalami kembali berkat Tuhan yang menyertai setiap langkah kehidupan. Berkat Tuhan memberi makna pada jiwa. Jiwa senantiasa hidup karena menimba berkat-Nya seperti mentari memberikan sinarnya pada rimbunan dedaunan.

Pengalaman seorang ibu, yang menemuiku bersama suami dan anaknya, tentang kesetiaan Tuhan, meneguhkan imanku. Ibu dan suaminya itu bersama-sama denganku melayani Tuhan dan umat-Nya di Paroki Santo Damian – Batam dengan setia. Ia sampai sekarang tetap aktif dalam pelayanan yang ikhlas di lingkungan, Legio Maria, dan Marriage Encounter (ME). Vonis kanker stadium tiga kepadanya dan telah menjalar ke getah bening pada bulan September 2012, tidak membuatnya marah dan menyalahkan Tuhan. Doanya sangat indah: “Tuhan, semoga aku tetap setia kepadamu di tengah penyakitku”. Ia menghadapi operasi bulan Februari 2013 dengan tenang dan damai. Tuhan diyakininya tidak akan meninggalkannya: “Penyakitku ini menjadi kekuatan imanku karena aku tetap mengimani bahwa Allah selalu bersamaku”. Ia bahkan bisa menangkap makna mengapa Tuhan mengijinkan penyakit ini datang kepadanya. Tuhan memperkenankannya untuk memperoleh pertumbuhan rohani dan anugerah Roh Kudus: “Kasih Tuhan kepadanya dan kasihnya kepada Tuhan dinyatakan melalui penyakit ini”. Ia bersama dengan suaminya, pada bulan April 2013, mengikuti retret di Cikanyere. Ia dan suaminya itu berdoa di depan Gua Maria di tempat retret tersebut. Mereka merasakan bahu bunga mawar walaupun bunga itu tidak ada di sana. Bunga Mawar melambangkan Bunda Maria. Suaminya tiba-tiba berbahasa Roh seperti mengucapkan kata-kata dalam bahasa Mandarin, yang tidak bisa diterjemahkan oleh ahli bahasa. Namun, ibu itu mengertinya. Intinya adalah ia harus berdoa kepada Tuhan untuk mohon kesembuhan melalui perantaraan Santo Josef Freinademetz (misionaris pertama SVD). Ketika ia mengadakan check up di Pinang, dokter menyatakan bahwa tidak ada penyebaran kanker dan ia disembuhkan secara total dari penyakit itu. Ia merasa sehat setelah satu tahun paska operasi tanpa kemoterapi. Pengalaman iman dalam menghadapi kanker membuat pelayanannya, khususnya melayani orang-orang sakit, semakin berbuah.

Setelah sharing pengalaman ini selesai, aku tanpa menyadari menyanyikan lagu “Tuhan Pasti Sanggup” dari Maria Shandy dan Mike Mohede dalam hati sebagai ungkapan kepercayaan bahwa Tuhan pasti sanggup mengangkat segala persoalan:

KUATKANLAH HATIMU
LEWATI SETIAP PERSOALAN
TUHAN YESUS S’LALU MENOPANGMU
JANGAN BERHENTI HARAP PADA-NYA

TUHAN PASTI SANGGUP
TANGAN-NYA TAK ’KAN TERLAMBAT ’TUK MENGANGKATMU
TUHAN MASIH SANGGUP
PERCAYALAH DIA TAK TINGGALKANMU

TUHAN PASTI SANGGUP
TANGAN-NYA TAK ’KAN TERLAMBAT ’TUK MENGANGKATMU
TUHAN MASIH SANGGUP
PERCAYALAH DIA MASIH SANGGUP
PERCAYALAH DIA TAK TINGGALKANMU

PERCAYALAH, PERCAYALAH (KITA HARU (KITA HARUS PERCAYA)
PERCAYALAH DIA ’KAN MENGANGKATMU

Pesan kehidupan yang dapat kita timba: Sukacita di dalam jiwa akan menghancurkan penyakit kita. Sukacita dapat kita temukan dalam kesetiaan kita dalam mengasihi Allah walaupun kita berada dalam kondisi yang sangat berat. Sukacita itu lahir dari sebuah pengharapan bahwa Tuhan memberikan mukjizat dalam berbagai bentuk bagi yang tidak menyerah kepada keadaan dan yang percaya kepadaNya. Tuhan tidak akan meninggalkan kita yang mau berjalan bersamaNya: “Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi” (Yosua 1:9).

Tuhan Memberkati

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Dahsyatnya Cinta

0

Tanpa cinta, hidup menjadi gersang. Tanpa cinta, hidup berjalan seadanya. Tanpa cinta, hidup seakan berada dalam liang lahat, gelap dan bergeliat di tempat. Tanpa cinta, hidup tanpa cita-cita, bisu dan kaku.

Cinta adalah harapan karena cinta mengenyahkan kepahitan. Cinta adalah kekuatan di tengah kelelahan. Cinta itu menjadi penopang seorang ibu, yang aku kunjungi tanggal 25 Mei 2014, di tengah kerapuhannya. Kanker stadium final telah menderanya selama sebelas tahun. Pada awalnya kanker itu hanya menyerang satu bagian dari tubuhnya. Kini penyakit itu telah menjalar ke beberapa bagian lain, seperti pada tulangnya. Kemoterapi telah dijalaninya selama tujuh puluh tiga kali. Penderitaan luar biasa ditanggungnya. Badan kurus merupakan efeknya. Kendati demikian, ia tetap bisa tersenyum terhadap keadaannya. Kekuatan yang tak kasat mata membuatnya bertahan sampai sekarang. Isi hatinya terungkap dalam rangkaian kata yang penuh makna: “Aku lelah sekali, seakan-akan tak sanggup menjalani kehidupan ini. Akan tetapi, setiap kelelahan datang, aku merasakan kekuatan yang memampukan aku menanggungnya. Namanya adalah cinta. Cinta itu berasal dari ketiga anakku dan suamiku. Setiap hari, aku menunggu kepulangan mereka dari sekolah dan kerja. Ketika mereka datang dan menghampiriku, hati ini terasa bahagia. Sapaan mereka ‘Mama’ membuat kelelahaku sirna seketika. Sakitnya badanku pun tak lagi terasa. Ungkapan cinta mereka sederhana, tetapi dahsyat. Cinta mereka membuatku menemukan sumber mata air cinta ilahi di dalam jiwa yang menyegarkan ketika semangat hidup hampir hilang. Aku ingin hidup selama Tuhan menginginkannya.”

Pengalaman iman ibu itu membawaku pada Firman Tuhan: “tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah”(Yesaya 40:31). Pengalaman cinta Tuhan membuat kita menanti-nantikan Tuhan. Menanti-nantikan Tuhan berarti senantiasa mencari, mempercayai dengan sepenuh hati, dan meletakkan pengharapan kepada Tuhan. Tuhan menjadi andalan. Ketika mengandalkan Tuhan, kita memperoleh kekuatan baru.

Kekuatan baru senantiasa mengalir dalam kesesakan ketika kita menaruh cinta Tuhan di dalam hati kita. Cinta Sejati itu lebih kuat daripada maut dan tak terpadamkan oleh kekuatan apapun: “Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api Tuhan ! Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina” (Kidung Agung 8:6, 7). Menaruh Cinta Tuhan dalam hati berarti hidup di dalam kasih Tuhan.

Pesan bagi kita yang ingin kuat dalam kesesakan: tempatkan cinta di dalam hati, maka cinta itu akan menjadi indah. Cinta akan menjadi kekuatan ilahi yang mengubah duri menjadi mawar, cuka menjadi madu. Cinta mengubah kesedihan menjadi kegembiraan. Cinta mengubah kemarahan menjadi keramahan. Cinta mengubah kecerewetan menjadi nyanyian. Cinta mengubah keputusasaan menjadi pengharapan. Cinta mengubah musibah menjadi berkat. Semua karena cinta Tuhan telah menjadi nahkoda jiwa dan raga. Hidup pun menjadi sebuah perjalanan indah dan tak karam kendati ombak menghantamnya.

Tuhan Memberkati

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab