Home Blog Page 43

Paus Fransiskus: Jangan takut, Bapa mengasihi kita!

0

Berikut adalah homili Paus Fransiskus pada Hari Raya Malam Natal 2013:

1. “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar“ (Yes 9:1)
Nubuat Yesaya ini tidak pernah berhenti menyentuh kita, terutama ketika kita mendengarnya diwartakan dalam liturgi Malam Natal. Hal ini bukan hanya merupakan masalah emosional atau sentimental. Ini menggerakkan kita karena hal itu menyatakan realitas mendalam apa itu kita: suatu bangsa yang berjalan, dan semua di sekitar kita – dan di dalam diri kita juga – ada kegelapan dan terang. Malam ini, saat roh kegelapan membungkus dunia, di sana terjadi lagi peristiwa yang selalu mengherankan dan mengejutkan kita: bangsa yang berjalan itu melihat terang yang besar. Sebuah cahaya yang membuat kita merenungkan misteri ini: misteri berjalan dan melihat.
Berjalan. Kata kerja ini membuat kita merefleksikan perjalanan sejarah itu, perjalanan panjang yang merupakan sejarah keselamatan, mulai dengan Abraham, bapa iman kita, yang suatu hari Tuhan panggil untuk berangkat, keluar dari negerinya menuju tanah yang Dia akan tunjukkan kepadanya. Sejak saat itu, identitas kita sebagai orang percaya telah menjadi suatu bangsa yang sedang melakukan peziarahan menuju tanah yang dijanjikan. Sejarah ini selalu disertai oleh Tuhan! Dia selalu setia pada perjanjian-Nya dan pada janji-janji-Nya. Karena Dia setia, “Allah adalah terang dan di dalam Dia tidak ada kegelapan sama sekali” (1 Yoh 1:5). Namun pada sebagian bangsa ada saat-saat keduanya, baik terang maupun kegelapan, kesetiaan dan perselingkuhan, ketaatan dan pemberontakan; saat-saat menjadi bangsa peziarah dan saat-saat menjadi bangsa yang terapung-apung.

Dalam sejarah pribadi kita juga, ada keduanya baik momen-momen terang dan gelap, bercahaya dan berbayang. Jika kita mengasihi Allah dan saudara-saudari kita, kita berjalan di dalam terang; tetapi jika hati kita tertutup, jika kita didominasi oleh kesombongan, kebohongan, keegoisan, maka kegelapan jatuh di dalam diri kita dan di sekitar kita. “Barangsiapa membenci saudaranya – tulis Rasul Yohanes – ia berada di dalam kegelapan; ia berjalan dalam kegelapan, dan tidak tahu jalan ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya” (1 Yoh 2:11). Suatu bangsa yang berjalan sebagai bangsa peziarah yang tidak ingin tersesat.

2. Pada malam ini, seperti ledakan dari cahaya cemerlang, di sana terdengar keluar pewartaan Rasul itu: “kasih karunia Allah telah terungkap, dan itu telah memungkinkan keselamatan bagi seluruh umat manusia” (Tit 2:11).
Rahmat yang terungkap di dunia kita adalah Yesus, yang lahir dari Perawan Maria, manusia sejati dan Allah sejati. Dia telah memasuki sejarah kita; Dia telah berbagi perjalanan kita. Dia datang untuk membebaskan kita dari kegelapan dan memberikan kita terang. Dalam Dia terungkap rahmat, belas kasihan, dan kelembutan kasih Bapa: Yesus adalah jelmaan Kasih. Dia bukan semata-mata seorang guru kebijaksanaan, Dia bukan seorang idaman yang bagiNya kita berusaha keras sementara tahu bahwa kita dengan putus asa menjauh dari itu. Dia adalah makna hidup dan sejarah, yang telah mendirikan kemah-Nya di tengah-tengah kita.

3. Para gembala adalah yang pertama melihat “kemah” ini, untuk menerima berita kelahiran Yesus. Mereka adalah yang pertama karena mereka termasuk di antara yang terakhir, yang terbuang. Dan mereka adalah yang pertama karena mereka terjaga, terus mengawasi di malam hari, menjaga ternak mereka. Peziarahan terikat oleh kewajiban untuk terus berjaga-jaga dan para gembala melakukannya secara tepat. Bersama dengan mereka, mari kita berhenti sejenak di hadapan sang Anak, mari kita berhenti sejenak dalam keheningan. Bersama dengan mereka, marilah kita bersyukur kepada Tuhan karena telah memberikan Yesus kepada kita, dan dengan mereka mari kita naikkan dari lubuk hati kita puji-pujian karena kesetiaan-Nya: Kami memuliakan Engkau, Tuhan Allah yang Maha Tinggi, yang merendahkan diri-Mu sendiri demi kami. Engkau yang Maha Besar, namun Kau buat diri-Mu sendiri kecil; Engkau yang Kaya, namun Kau buat diri-Mu sendiri miskin; Engkau yang Maha Kuasa, namun Kau buat diri-Mu sendiri rentan.

Pada malam ini mari kita berbagi sukacita Injil: Allah mengasihi kita, Dia begitu mengasihi kita sehingga Dia mengaruniakan Putera-Nya untuk menjadi saudara kita, untuk menjadi terang dalam kegelapan kita. Kepada kita Tuhan berulang kata: “Jangan takut!” (Luk 2:10). Sebagaimana malaikat berkata kepada para gembala: “Jangan takut!”. Dan saya juga ulangi kepada kalian semua: Jangan takut! Bapa kita sabar, Dia mengasihi kita, Dia memberi kita Yesus untuk membimbing kita di jalan yang mengarah ke tanah terjanji. Yesus adalah terang yang mencerahkan kegelapan. Dia berbelas kasihan: Bapa selalu mengampuni kita. Dialah damai sejahtera kita. Amin.

(AR)

Paus Fransiskus,
Basilika Vatikan, 24 Desember 2013

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

Paus Fransiskus: Apa yang sudah kita lakukan dengan waktu yang kita miliki?

0

Berikut adalah homili Paus Fransiskus pada Hari Raya Maria Bunda Allah 2013:

Rasul Yohanes menjelaskan waktu sekarang ini dengan cara yang tepat: “[waktu] ini adalah waktu yang terakhir” (1 Yoh 2:18). Pernyataan ini – yang terulang kembali dalam Misa 31 Desember [2013] – berarti bahwa dengan kedatangan Allah ke dalam sejarah, kita sudah berada dalam waktu-waktu “terakhir”, yang setelah itu tahap akhirnya akan menjadi Kedatangan Kristus yang kedua dan definitif. Tentu saja di sini kita berbicara tentang kualitas waktu, bukan tentang kuantitas. Dengan Yesus “kepenuhan” waktu, kepenuhan makna dan kepenuhan keselamatan telah datang. Dan tidak akan ada wahyu baru melainkan manifestasi penuh dari apa yang Yesus telah ungkapkan. Dalam hal ini kita berada pada “jam terakhir”; masing-masing dan setiap momen dalam hidup kita bukanlah sementara, itu adalah permanen, dan setiap tindakan kita dibebankan dengan kekekalan. Bahkan, respon yang kita berikan hari ini kepada Allah, yang mengasihi kita dalam Yesus Kristus, mempunyai hubungan dengan masa depan kita.

Visi waktu dan sejarah yang alkitabiah dan Kristiani adalah bukan siklikal melainkan linear: itu adalah sebuah perjalanan yang bergerak menuju penyelesaian. Setahun yang telah berlalu, maka, tidak membawa kita kepada sebuah realitas yang berakhir tetapi kepada sebuah realitas yang digenapi, itu adalah sebuah langkah lebih lanjut menuju tujuan yang menantikan kita: tujuan pengharapan dan tujuan kebahagiaan, karena kita akan berjumpa dengan Allah, yang merupakan alasan atas pengharapan dan sumber kebahagiaan kita.
Saat 2013 berakhir, kita kumpulkan, bagai dalam sebuah keranjang, hari-hari, minggu-minggu dan bulan-bulan yang telah kita lalui dalam upaya untuk mempersembahkan semuanya kepada Tuhan. Dan marilah kita dengan berani bertanya kepada diri kita sendiri: bagaimana kita lalui waktu yang telah Dia karuniakan kepada kita itu? Apakah kita menggunakannya terutama untuk diri kita sendiri, untuk kepentingan-kepentingan kita sendiri, ataukah kita juga berusaha untuk menghabiskannya pada orang lain? Berapa banyak waktu yang telah kita sediakan untuk berada bersama Allah, dalam doa, dalam keheningan, dalam adorasi?

Dan kemudian kita berpikir, kita warga Roma, kita berpikir tentang Kota Roma ini. Apa yang telah terjadi tahun ini? Apa yang sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi? Bagaimana kualitas hidup di Kota ini? Hal ini tergantung pada semua dari kita! Bagaimana kualitas “kewarganegaraan” kita? Tahun ini, apakah kita telah berkontribusi dalam cara “kecil” kita sendiri untuk membuatnya lebih ramah, tertib, menyambut? Sebenarnya, wajah dari sebuah kota ialah seperti sebuah mosaik yang tesserae-nya (kepingan-kepingan kotak kecil) adalah semua orang yang hidup di sana. Tentu saja, mereka yang dilengkapi dengan otoritas memiliki tanggung jawab yang lebih besar, tetapi masing-masing dari kita ikut bertanggung jawab, sehubungan dengan yang lebih baik atau lebih buruk.

Roma adalah sebuah kota keindahan yang unik. Warisan spiritual dan budayanya yang luar biasa. Namun demikian di Roma ada begitu banyak orang yang ditandai dengan kemiskinan material dan moral, orang-orang miskin, tidak bahagia, menderita, yang menantang hati nurani setiap warganegaranya. Mungkin di Roma kita merasakan kekontrasan ini lebih kuat disebabkan oleh kekontrasan antara pemandangan megah dan kekayaan keindahan artistik, dan keresahan sosial dari mereka, terutama yang sedang berjuang. Roma adalah sebuah kota yang penuh dengan wisatawan, tapi juga penuh dengan para pengungsi. Roma penuh dengan orang-orang yang bekerja, tetapi juga dengan orang-orang yang tidak dapat menemukan pekerjaan atau bekerja dengan bergaji rendah dan kadang kala tidak bermartabat, dan setiap orang memiliki hak untuk diperlakukan sama dengan sebuah sikap akseptasi dan kewajaran, karena semua orang adalah pembawa martabat manusia.
Ini adalah hari terakhir dari tahun ini. Apa yang seharusnya kita lakukan, bagaimana kita harusnya bertindak di tahun mendatang dalam upaya untuk membuat kota kita sedikit lebih baik? Di tahun yang baru, Roma akan memiliki sebuah wajah yang bahkan lebih indah jika ia lebih kaya dalam kemanusiaan, lebih ramah dan menyambut, dan jika kita semua bertenggang rasa dan bermurah hati kepada mereka yang dalam kesulitan; jika kita bekerja sama dengan sebuah semangat yang konstruktif dan peduli bagi kebaikan semua. Roma di tahun yang baru akan lebih baik jika orang-orang tidak mengamati itu bagai “dari kejauhan”, di kartu pos, jika mereka tidak hanya menonton berlalunya kehidupan “dari balkon” tanpa menjadi terlibat dalam banyak masalah manusia, dalam masalah-masalah para pria dan wanita, yang pada akhirnya … dan dari awalnya, apakah kita menyukainya atau tidak, adalah saudara-saudara kita. Dari perspektif ini, Gereja Roma merasa berkomitmen untuk membuat kontribusi sendiri kepada kehidupan dan masa depan dari kota ini- itu adalah tugasnya! Ia merasa berkomitmen dan terinspirasi oleh ragi Injil ini untuk menjadi sebuah tanda dan sarana belas kasihan Allah.

Malam ini marilah kita menutup tahun 2013 dengan memberikan rasa syukur dan juga dengan memohon pengampunan. Keduanya bersama-sama: mengucap syukur dan memohon pengampunan. Mari kita bersyukur atas segala berkat yang Allah telah anugerahkan pada kita, terutama atas kesabaran-Nya dan kesetiaan-Nya, yang nyata melampaui perjalanan waktu, namun dengan sebuah cara tunggal dalam kepenuhan waktu-Nya, ketika “Allah mengutus Putera-Nya, yang lahir dari seorang perempuan “(Gal 4:4). Semoga Bunda Allah, yang dalam namanya besok kita mulai sebuah babak baru dari peziarahan duniawi kita, mengajarkan kita untuk menyambut Allah yang menciptakan manusia, sehingga setiap tahun, setiap bulan, setiap hari semoga dipenuhi dengan Kasih-Nya yang kekal. Maka jadilah itu!

(AR)

Paus Fransiskus,
Basilika Vatikan, 31 Desember 2013

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

Ikut serta dalam karya Allah yang menyelamatkan

0
Sumber gambar: http://rolgospel.com/2012/06/10/mark-5-21-43/

[Hari Minggu Biasa ke XIII:  Keb 1:13-24; Mzm 30:2-13; 2Kor 8:7-15; Mrk 5:21-43].

Buku karangan Fr. Albert J. Hebert itu berjudul: Saints who raised the dead (Para orang kudus yang membangkitkan orang-orang mati). Sungguh, apa yang tertulis di sana membuatku terpana dan tak putusnya memuji Tuhan. Ada sekitar 400 kasus yang belum pernah kudengar, di mana orang-orang mati dibangkitkan oleh para Santo dan Santa dalam sejarah Gereja, dalam nama Tuhan Yesus. Aku disadarkan akan kuasa mukjizat Tuhan yang terus menyertai Gereja-Nya, walaupun memang, iman kita akan Tuhan tidak tergantung dari mukjizat-mukjizat itu. St. Vincentius Ferrer, St. Fransiskus Xaverius, St. Patrick, St. Yohanes Bosco, St. Antonius dari Padua, St. Katarina dari Siena, St. Teresa dari Avila, St. Elizabeth dari Hungaria, St. Rosa dari Lima, Beata Margaret dari Castello…. dst, dengan kekhususan masing-masing menunjukkan bahwa dalam kemiskinan mereka, mereka menjadi “kaya dalam pelayanan kasih” (lih. 2Kor 8:7). Mereka menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk “membebaskan dan menyelamatkan” umat-Nya, sebagaimana kita dengar dalam Mazmur hari ini. Sebab Tuhan kita adalah Allah yang menghidupkan, dan Ia menghendaki agar kita semua menemukan keselamatan (lih. Keb 1:14).

Demikianlah juga yang kita dengar dalam Bacaan Injil hari ini. Tuhan Yesus menyembuhkan seorang wanita yang sakit perdarahan, dan kemudian membangkitkan anak perempuan Yairus dari kematian. Mungkin kisah mukjizat itu sendiri membuat kita takjub, namun rasa takjub itu tidak cukup. Sebab tujuan kisah itu ditulis dalam Injil adalah agar kita percaya akan Kristus dan percaya bahwa Ia adalah Allah yang menghidupkan dan menyelamatkan kita. Pertolongan dan mukjizat Tuhan yang terjadi dalam hidup kita dimaksudkan agar membantu kita semakin mengimani Dia. Demikianlah kita mengetahui dari tulisan Nikodemus, bahwa sang wanita yang disembuhkan dari sakit perdarahan itu, adalah wanita yang dikenal dengan nama Veronika, yang kemudian membasuh wajah Yesus sewaktu Yesus memanggul salib-Nya ke Golgota. Dan walau tak dicatat dalam Injil, kita dapat menduga bahwa Yairus—sang kepala rumah ibadat Yahudi—itu pun akhirnya percaya kepada Kristus, yang telah membangkitkan anaknya dari kematian. Injil hari ini selayaknya menggugah hati kita, untuk mengikuti teladan iman wanita itu, ataupun iman Yairus, yang artinya “ia yang diterangi”. Oleh imannya, wanita itu disembuhkan, hanya dengan menyentuh ujung jubah Yesus. Oleh iman Yairus, anaknya yang telah wafat dibangkitkan oleh Yesus. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri, adakah kita memiliki iman seperti mereka? Jika dengan menyentuh ujung jubah Yesus saja, wanita itu mengalami mukjizat kesembuhan, betapa lebih lagi kita dapat mengalami kesembuhan dengan menyambut Tubuh dan Darah Tuhan Yesus dalam Ekaristi! Jika Tuhan Yesus berbelas kasihan kepada Yairus, maka tentulah Yesus pun berbelas kasihan kepada kita! Semoga dengan merenungkan Injil hari ini, kita dapat menjadi seperti Yairus, yaitu menjadi “ia yang diterangi” oleh sabda Allah. Sebab sabda-Nya mengingatkan kita bahwa Allah masih terus menolong dan melakukan mukjizat-mukjizat-Nya untuk kita.

Mukjizat dan pertolongan Allah bagi kita itu pertama-tama dimaksudkan bukan semata untuk kebaikan jasmani, tetapi untuk mengarahkan kita kepada keselamatan kekal. Sebab, sebagaimana dikatakan dalam sabda Tuhan hari ini, kita diciptakan untuk kebakaan (lih. Keb 1:15). Karena itu, setelah kita menerima mukjizat dan pertolongan Allah, kitapun dipanggil untuk menjadi alat-Nya untuk melakukan pelayanan kasih kepada sesama, agar sesama kitapun beroleh keselamatan kekal. Sebab sama seperti bahwa kita dapat menerima mukjizat dan pertolongan Tuhan melalui bantuan dan kehadiran sesama, demikianlah kitapun dapat menjadi alat Tuhan untuk menyampaikan mukjizat dan pertolongan Allah kepada sesama kita. Dengan demikian, panggilan untuk berbagi kepada sesama, baik itu iman, perkataan, pengetahuan, kesungguhan untuk menolong dan mengasihi (lih. Keb 1:7), itu tidak hanya tertuju kepada para Santo dan Santa, tetapi tertuju kepada kita juga. Singkatnya, kita diberkati untuk memberkati. Dengan pertolongan rahmat Tuhan dan kuasa Roh Kudus, Tuhan akan memampukan kita untuk menyentuh kehidupan sesama kita, walaupun mungkin dengan cara yang lebih sederhana. Kita dapat saling mengingatkan bahwa Tuhan kita Yesus Kristus adalah Allah yang hidup, yang telah mengalahkan kematian untuk menyelamatkan kita. Karena itu, kita pun mempunyai pengharapan akan hari esok yang lebih baik, dan khususnya, akan kehidupan yang kekal.

Ya, Tuhan Yesus, aku percaya akan janji-Mu, bahwa barangsiapa  percaya kepada-Mu, akan tetap hidup meskipun ia sudah mati. Kumohon, teguhkanlah imanku akan kebangkitan, dan buatlah aku menjadi murid-Mu yang sejati, yang mengharapkan kemuliaan kebangkitan yang melampaui kematian. Sehingga dengan demikian, bahkan dalam keadaan sulit sekalipun, selalu ada kekuatan, penghiburan dan suka cita di hatiku yang dapat kubagikan kepada sesamaku. Amin.”

Siapakah ke-tiga majus dari Timur?

0

Fr. William Saunders, Dean Notre Dame Graduate School of Christendom College, kata “majus” sendiri berasal dari kata “magos/ magio” (bahasa Yunani) kemungkinan adalah anggota dari kalangan imam Persia kuno, yang dapat menginterpretasikan bintang. Di jaman Alkitab ditulis, di Persia memang pengetahuan astrologi dan astronomi cukup berperan. Heredotus, seorang ahli sejarah di abad 5 BC juga membuktikan adanya peran astrologi yang kuat pada kalangan imam di Persia). Berikut ini adalah ringkasan dari yang dituliskan oleh Fr.Saunders, selengkapnya, silakan klik di sini

Kunjungan para majus ini telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama, Bileam menubuatkan kedatangan Mesias yang akan ditandai oleh bintang: “Aku melihat Dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang Dia tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub; tongkat kerajaan timbul dari Israel….” (Bil 24:17), demikian juga Mzm 72:10-11, “… kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan; kiranya raja-raja dari Sheba dan Seba menyampaikan upeti. Kiranya semua raja sujud menyembah kepada-Nya, dan segala bangsa menjadi hamba-Nya!” Pernyataan serupa juga dinubuatkan oleh Nabi Yesaya dalam Yes 60:6.

Kita sudah umumnya berpikir bahwa ada tiga orang majus, karena disebutkannya tiga kawasan pada Mazmur 72. Namun sebenarnya tradisi awal Gereja tidak secara konsisten menyebutkan demikian. Para Bapa Gereja di Barat, seperti Origen, St. Leo Agung dan St. Maximus dari Turin- menyatakan ada tiga orang majus. Sedangkan pada karya seni Kristen di Roma yang ada di kuburan St, Petrus dan St, Marcellinus menggambarkan dua orang majus; di kuburan St, Domitilla, empat orang majus dan tradisi gereja Timur, dua belas orang.

Yang sekarang ini dikenal di Gereja Katolik Roma berasal dari tradisi yang diperoleh sejak abad 7, tentang adanya 3 orang majus, dengan nama Melchior, Caspar dan Balthasar. St. Bede (735) menulis tentang hal ini dalam Excerpta et Collectanea, “Orang majus adalah mereka yang memberikan persembahan-persembahan kepada Allah. Yang pertama dikatakan bernama Melchior, seorang yang tua dengan rambut putih dan jenggot yang panjang… yang mempersembahkan emas kepada Tuhan sebagai raja. Yang kedua bernama Casper, muda dan tidak berjenggot, ber-bintik-bintik kemerahan… dengan persembahan kemenyan, persembahan yang ditujukan kepada Sang Ilahi. Ketiga, berkulit hitam dan berjenggot lebat, bernama Balthasar… dengan persembahan mur yang menandai bahwa Anak Manusia itu yang akan wafat.

Pranala luar:

  • http://www.newadvent.org/cathen/09527a.htm

“Marilah kita bertolak ke seberang…”

0
Sumber gambar: http://kingdomdynamics.org/2013/05/16/sleeping-through-the-storm/

[Hari Minggu Biasa ke XII:  Ayb 38:1, 8-11; Mzm 107:23-31; 2Kor 5:14-17; Mrk 4:35-40].

Belum lama ini kami mendengar kabar kurang baik dari sepupu kami. Ibunya yang selama ini selalu sehat, terkena serangan jantung mendadak. Kelep jantungnya melemah, dan ketiga arteri jantungnya menyempit. Penyempitannya cukup parah, 90%, 90% dan 75%. Selain itu, di beberapa tempat lainnya di pembuluh darah juga ditemukan penyempitan yang cukup serius. Dokter menganjurkan operasi, sebab tanpa operasi keadaan akan menjadi semakin parah. Namun untuk melakukan operasi dibutuhkan  biaya yang cukup besar. Seluruh keluarga besar turut berdoa dan memohon agar Tuhan berbelas kasihan dan membuka jalan yang terbaik, bagi Tante kami dan keluarganya itu.

Demikianlah, di dalam hidup ini, kadang Tuhan mengizinkan adanya badai menerjang kapal kehidupan kita. Nampaknya, kita tak perlu berpayah- payah mencari contoh yang cocok dengan kisah Injil hari ini, sebab tiap-tiap kita mengalaminya. Atau kalau belum, suatu saat nanti akan mengalaminya. Entah kita mengalami penyakit, masalah keluarga, kehilangan pekerjaan ataupun harta milik, ataupun kehilangan orang yang paling kita kasihi. Ketika badai itu datang, ada kemungkinan, atau besar kemungkinannya, kita bersikap seperti para rasul itu. Panik. Atau menyalahkan Tuhan. Atau menjadi tidak percaya, dan menyangka kita akan tenggelam. “Tuhan, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” (Mrk 4:38) Padahal, seandainya  kita memiliki iman sedikit saja, kita akan dapat menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan ini: Mungkinkah Tuhan itu tenggelam? Mungkinkah Tuhan tidak peduli terhadap sahabat-sahabat-Nya yang sedang dalam kesulitan?  Mungkinkah Tuhan tidak menepati perkataan-Nya?  Sebab Tuhan Yesus ada dalam perahu kehidupan kita. Bukankah Ia sendiri berkata, “Marilah kita bertolak ke seberang” (Mrk 4:35)? O, seandainya saja kita selalu menyimpan perkataan-Nya ini di dalam hati kita! Ya, meskipun kita menghadapi badai yang hebat sekalipun, Tuhan Yesus tidak meninggalkan kita. Sebab Ia berjanji akan membawa kita sampai di seberang.

Mazmur hari ini mengingatkan kita, bahwa kadangkala Tuhan menguji iman kita, dengan mengizinkan terjadinya gelombang-gelombang yang besar menerpa kehidupan kita (Lih. Mzm 107:25). Hal itu selayaknya membuat kita menjadi sadar bahwa kita tidak sepenuhnya dapat mengatur kehidupan kita sendiri. Sebaik-baiknya kita membuat rencana, namun adakalanya segala sesuatunya terjadi di luar perencanaan kita itu. Kita tak dapat berbangga bahwa kita mempunyai kuasa untuk menentukan segala sesuatu dalam kehidupan ini, sebab sesungguhnya Tuhanlah yang berkuasa atas semua ciptaan-Nya. Karena itu, badai hidup yang kita alami dapat menjadi jalan bagi Tuhan untuk membentuk kita menjadi orang yang rendah hati. Bukankah ini yang kita baca dalam Kitab Ayub hari ini, “Di sinilah gelombang-gelombangmu yang congkak akan dihentikan?” (Ayb 38:11) Sebab justru melalui badai itu, Tuhan membuka mata hati kita, bahwa kita tak dapat mengandalkan kekuatan kita sendiri. Tuhan menghendaki agar kita mengandalkan Dia, sebab hidup dan masa depan kita sepenuhnya ada di tangan-Nya. Ia adalah Allah yang mengatasi segalanya, namun juga adalah Allah yang dekat dan peduli akan segala permasalahan kita. Ia tidak akan membiarkan kita binasa, asalkan kita datang kepada-Nya dengan kerendahan hati, dan “berseru-seru dalam kesesakan” (Mzm 107:28). Tuhan akan mengeluarkan kita dari kecemasan, dan akan membuat badai itu diam, dan akan menuntun kita ke pelabuhan yang kita tuju (lih. Mzm 107:28-30).

Jangan menyerahkan dirimu kepada keputusasaan. Kita adalah umat Kebangkitan dan Alleluia adalah senandung kita.” (St. Yohanes Paulus II)

Jadikanlah Hati-Mu Hatiku

0

[Hari Raya Hati Kudus Yesus: Hos 11:1-9; Yes 12:2-6; Ef 3:8-19; Yoh 19:31-37].

Setelah Minggu lalu kita merenungkan rahmat Allah yang terbesar dalam Ekaristi, Minggu ini kita merenungkan kasih Allah dalam Hati Kudus Yesus, yang menjadi sumber dari segala kasih karunia-Nya. Hati adalah lambang cinta kasih, maka hari ini, saat kita memandang Hati Kudus Yesus, kita merenungkan kasih-Nya kepada kita. “Lihatlah Hati ini yang telah begitu mengasihi manusia…” kata Tuhan Yesus kepada St. Margaret Mary. Biarlah perkataan ini menggema di dalam hati kita, setiap kali kita memandang gambar Yesus yang menunjuk kepada Hati Kudus-Nya, yang terluka karena dosa-dosa kita. Hati itu selalu menanti kita, mencari jiwa-jiwa agar dapat menyelamatkannya. Hati Kudus Yesus selalu ada dalam Ekaristi, untuk memuaskan jiwa kita yang lapar dan haus akan Dia. Dalam Hati Kudus-Nya itu kita menimba kekuatan untuk menjalani kehidupan ini. Adalah mustahil bagi kita untuk menghapus semua dukacita dalam hidup ini, tetapi jika kita hidup bagi Yesus, dan menimba kekuatan dari Hati Kudus-Nya, jiwa kita akan beroleh ketenangan dan damai sejahtera.

Injil hari ini mengisahkan tentang ketika prajurit itu menikam lambung Yesus untuk memastikan bahwa Ia telah wafat. Dari tikaman yang terarah ke hati-Nya itu, keluarlah darah dan air yang melambangkan sakramen- sakramen Gereja. Dari Hati Kudus Yesus itu mengalirlah kehidupan bagi Gereja-Nya yang adalah mempelai-Nya. Dengan demikian, Gereja dibentuk dari Hati Kudus Yesus, sebagaimana Hawa dibentuk dari tulang rusuk Adam. Namun tidak seperti Hawa yang menjadi ibu bagi kehidupan yang fana, Gereja menjadi ibu bagi kehidupan ber-rahmat yang kekal. Sebab yang disampaikan oleh Gereja adalah kehidupan ilahi yang mengalir dari Kristus, yang keluar dari Hati-Nya yang Mahakudus. Dalam Hati Kudus Kristus itulah tersimpan “kekayaan Kristus yang tidak terduga”, suatu “rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah” (Ef 3:8-9). Betapa kita  bersyukur, bahwa Kristus telah menyatakan dan mencurahkan kepada kita, kasih-Nya yang tiada terduga dan tiada terselami itu…

Mari kita berdoa bersama dengan St. Bonaventura, agar kita dapat semakin meresapkan rahasia kasih Allah yang tersembunyi di dalam Hati Kudus Yesus itu:

Ya Yesus, oleh izin-Mu, seorang prajurit menikam lambung-Mu yang kudus. Ketika darah dan air memancar keluar, harga keselamatan kami pun tertumpah, yang mengalir dari mata air Hati Kudus-Mu yang penuh rahasia. Dan Engkau memberi kuasa kepada sakramen-sakramen Gereja, untuk mencurahkan kehidupan rahmat, dan menjadi bagi mereka yang hidup di dalam Engkau, air hidup yang menyelamatkan, yang terus terpancar sampai kehidupan kekal….

O Yesus, kini saat aku telah dibawa ke dalam Hati Kudus-Mu, dan sungguh betapa indahnya berada di sini, aku tak mau dengan mudahnya terpisah darinya. O, betapa indah dan menyenangkan untuk tinggal di dalam Hati-Mu! Hati-Mu, ya Yesus, adalah harta yang sungguh kaya, bagaikan mutiara berharga, yang kutemukan di dalam rahasia tubuh-Mu yang ditusuk, bagaikan dalam tanah ladang yang dibajak. Siapa yang akan mengabaikan mutiara ini? Sebaliknya, aku akan menyerahkan semua mutiara di dunia, aku akan menukarkan semua pikiran dan kesenanganku dengannya, dan aku akan membelinya bagiku. Aku akan menyerahkan semua perhatian dan kekuatiranku kepada Hati-Mu, o Yesus yang baik… Aku telah menemukan Hati-Mu… Hati Rajaku, Saudaraku, Sahabatku. Tersembunyi dalam Hati-Mu, apakah yang tidak dapat kuminta dari-Mu? Aku mau meminta, agar Hati-Mu menjadi hatiku juga. Jika Engkau, Yesus adalah Kepalaku, tidak dapatkah aku berkata bahwa Hati-Mu itu adalah milikku, selain bahwa itu adalah milik-Mu? Bukankah mata dari kepalaku juga adalah mataku? Maka, Hati dari Kepala rohaniku adalah juga Hati-ku. Betapa ini membuatku bersuka cita! Engkau dan aku memiliki satu hati. Setelah kutemukan Hati yang ilahi, yang adalah Hati-Mu dan hatiku, O Yesus yang termanis, kumohon kepada-Mu, O Tuhanku, terimalah doa-doaku dalam tempat kudus itu di mana Engkau memperhatikannya. Dan terlebih lagi, tariklah aku sepenuhnya, ke dalam Hati Kudus-Mu. Amin(St. Bonaventura).

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab