Home Blog Page 44

Ekaristi adalah Emanuel yang menyatukan kita dengan-Nya

0
Sumber gambar: http://www.corpuschristibaltimore.org/

[Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus: Kel 24:3-8; Mzm 116:12-18; Ibr 9:11-15; Mrk 14:12-16, 22-26].

Kita bersama telah menjalani tahun liturgi yang mengarahkan kita, dari permenungan akan peristiwa-peristiwa kehidupan Tuhan Yesus, sampai kepada permenungan akan Allah Tritunggal Mahakudus, yang kita rayakan Minggu lalu. Melalui perjalanan rohani tersebut, Yesus Kristus telah membawa kita kepada Allah Tritunggal, dan sepertinya hari ini, Allah Tritunggal membawa kita kembali kepada Kristus. Demikianlah perjalanan rohani jiwa seorang Kristiani: dari mengenal Kristus, kita mengenal Allah Bapa (lih. Yoh 14:6), dan mengenal Roh Kudus dalam kesatuan Allah Tritunggal Mahakudus. Demikian pula, dari mengenal Allah Tritunggal, kita dibawa kembali untuk lebih mengenal Kristus. Gereja mengetahui bahwa kehidupan rohani kita ada di dalam Kristus, maka Gereja senantiasa mengarahkan kita kepada Kristus, yang sungguh-sungguh hadir dalam sakramen Mahakudus. Maka, perayaan Corpus Christi bukan hanya kenangan sejarah akan Perjamuan Terakhir yang terjadi sekitar 2000 tahun yang lalu. Sebaliknya, perayaan ini mengingatkan kita akan kenyataan kehadiran Kristus yang selalu hidup di tengah-tengah kita. Dengan kehadiran Kristus dalam sakramen Mahakudus, tergenapilah sabda-Nya kepada kita, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu” (Yoh 14:18). Sebab Ia tetap tinggal selamanya di tengah kita, dalam kepenuhan kemanusiaan dan keilahian-Nya. Dalam rupa roti, hadirlah Tubuh, Darah, Jiwa dan Ke-Allahan Kristus. Di dalam sakramen itu, yang kita kenal dengan sebutan Ekaristi, Yesus sungguh adalah Emanuel: Allah yang menyertai kita.

Namun Ekaristi bukan hanya bermakna bahwa Yesus hadir di tengah kita, tapi juga bahwa Yesus menjadi santapan rohani bagi kita. Antifon Pembuka hari ini mengingatkan kita bahwa Kristus adalah penggenapan nubuat dalam Perjanjian Lama. Yaitu bahwa Allah telah memberi kepada bangsa pilihan-Nya, gandum yang terbaik, dan madu dari gunung batu. Ini adalah suatu gambaran yang sangat samar akan Ekaristi, yaitu bahwa oleh kuasa Roh Kudus-Nya, Allah memberi makan kita umat-Nya, dengan Roti yang turun dari Surga (lih. Yoh 6:48-51,54). Dengan demikian, kita dapat memperoleh hidup yang kekal. Kristus mau menjadi santapan bagi kita agar Ia dapat mengubah kita menjadi semakin serupa dengan Dia, dan membuat kita hidup di dalam-Nya, sebagaimana Ia hidup di dalam Bapa-Nya. Ekaristi menjadi sakramen pemersatu, dan sekaligus bukti yang paling jelas dan paling meyakinkan, bahwa Allah memanggil kita kepada kesatuan yang erat dengan-Nya. Sang Emanuel itu tak hanya menyertai kita tetapi menyatukan kita dengan-Nya.

O jiwaku, bagaimana engkau dapat tahan untuk tidak menenggelamkan dirimu semakin dalam ke dalam kasih Kristus yang tidak pernah melupakanmu… tetapi yang rela memberikan diri-Nya sendiri seutuhnya kepadamu, dan menyatukan kita dengan diri-Nya sendiri selamanya?” (St. Angela dari Foligno)

Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus!

0
Sumber gambar: http://www.wikiart.org/en/peter-paul-rubens/the-trinity-adored-by-the-duke-of-mantua-and-his-family

[Hari Raya Tritunggal Mahakudus: Ul 4:32-40; Mzm 33:4-22; Rm 14:17; Mat 28:16-20].

Sejak masa Adven sampai hari Minggu ini, Gereja mengajak kita untuk merenungkan belas kasih Allah yang begitu besar kepada kita. Melalui Inkarnasi, Allah telah mengutus Kristus Putra-Nya yang tunggal. Melalui Penebusan oleh pengorbanan Kristus, Allah menebus dosa-dosa kita. Melalui Pentakosta, Allah mengaruniakan Roh Kudus-Nya untuk menyertai kita. Dan di hari Minggu ini, Gereja mengarahkan kita untuk merenungkan sumber dari semua karya dan rahmat Allah ini, yaitu diri-Nya sendiri: Allah Tritunggal Mahakudus.

Dalam bacaan doa brevir—Ibadah Harian Gereja—hari ini, salah satu antifonnya berbunyi, “Allah Bapa adalah kasih, Putera adalah rahmat, dan Roh Kudus adalah yang menyatukan, O Tritunggal Mahakudus!” Kepada kita, kasih Bapa dan rahmat Kristus, disatukan dan disampaikan oleh Roh Kudus. Karena itu, hidup kita di dunia ini merupakan sebuah perjalanan untuk semakin disempurnakan dalam kasih dan rahmat Allah, dalam kesatuan dengan Roh-Nya. Betapa setiap kali kita pantas bersyukur, seperti yang diajarkan oleh nabi Musa dalam Bacaan Pertama hari ini, karena Allah kita adalah Allah yang selalu menyertai kita. Betapa kita perlu menajamkan mata hati kita, agar mampu melihat penyertaan Allah! Allah kita yang esa dan melampaui segalanya, demikian mengasihi kita, sehingga menghendaki kita mengambil bagian dalam kehidupan ilahi-Nya. Oleh karena itu, Allah mengutus Kristus Putera-Nya untuk menjadi manusia seperti kita, turut mengalami segala hal yang kita alami sebagai manusia. Setelah sengsara, wafat, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Surga, Allah mengaruniakan Roh-Nya, yang menjadikan kita anak-anak-Nya, sehingga kita dapat memanggil-Nya: “Bapa” (lih. Rm 8:15). Bukankah ini adalah suatu rahmat yang sangat besar? Senada dengan perkataan nabi Musa, bukankah kita pun layak bertanya, “Pernahkah ada suatu bangsa yang dapat memanggil Allah sebagai Bapanya?” Ya, kita semua, sebagai Gereja, bangsa pilihan Allah yang baru, patut bersyukur atas karya keselamatan Allah. Sungguh besarlah kasih Allah Bapa yang dinyatakan di dalam Kristus Putera-Nya, oleh kuasa Roh Kudus, yang kita rayakan hari ini! Jika kita telah mengalami kasih-Nya ini, maka amanat Kristus sebelum kenaikan-Nya ke Surga, juga menjadi kerinduan kita. Sebab sudah sepantasnya, semakin banyak orang dapat mengenal dan mengalami kasih Allah, yang menyatukannya dengan Allah sendiri dan dengan sesamanya.

Marilah kita berdoa memuliakan Allah Tritunggal Mahakudus bersama St. Katarina dari Siena:

O, Allah Tritunggal Mahakudus, Engkau bagaikan sebuah lautan yang dalam; di mana semakin kucari, semakin kutemukan, semakin kutemukan, semakin kucari agar aku lebih mengenal-Mu. Engkau mengisi jiwa kami yang senantiasa tak terpuaskan, sebab di hadapan-Mu yang tak bertepi, jiwa kami selalu lapar akan Engkau, ya Allah Tritunggal Mahakudus! Jiwa kami rindu untuk memandang kebenaran dalam terang-Mu….

O, kedalaman yang tak terselami! O Allah yang kekal! …. Apa yang lebih lagi, yang dapat Kauberikan kepadaku selain daripada diri-Mu? Engkau adalah  Sang Api yang selalu berkobar …. Dengan api-Mu Engkau menghanguskan cinta diri dalam jiwa. Engkaulah Api yang menghalau kebekuan, dan menerangi pikiran dengan terangnya. Dan dengan terang ini Engkau telah membuatku mengenal kebenaran-Mu. Sungguh terang ini adalah sebuah lautan yang memberi makan pada jiwa sampai seluruhnya tenggelam di dalam Engkau. O lautan damai sejahtera, Allah Tritunggal yang kekal!…..

Engkau adalah Kebaikan yang tertinggi dan tiada terbatas, kebaikan di atas semua kebaikan, kebaikan yang menggembirakan, tak terpahami, tak terukur. Engkaulah keindahan yang mengatasi segala keindahan yang lain, kebijaksanaan yang melampaui semua kebijaksanaan, sebab Engkau adalah Sang Kebijaksanaan itu sendiri …. Lingkupilah aku, ya Allah Tritunggal Mahakudus, lingkupilah aku dengan diri-Mu sendiri, supaya aku dapat melewati hidupku di dunia ini, dalam ketaatan yang sejati, dan dalam terang iman yang kudus, yang dengannya, Engkau telah menghidupkan dan menggembirakan jiwaku.

Datanglah, ya Roh Kudus!

0
Sumber gambar: http://www.patheos.com/blogs/lisahendey/2014/06/sweet-tweets-for-60614-encounter/

[Hari Raya Pentakosta: Kis 2:1-11; Mzm 104:1,24-34; Gal 5:16-25; Yoh 15:26-27, 16:12-15].

Pentakosta adalah kepenuhan rahmat Allah kepada manusia. Di hari raya Natal, Allah mengaruniakan Yesus Kristus Putera-Nya yang tunggal kepada dunia, agar dapat membawa umat manusia kepada-Nya. Di masa Pekan Suci, Kristus memberikan diri-Nya seluruhnya kepada kita, melalui wafat-Nya di kayu salib. Di saat Paskah, Ia bangkit dari kematian. Kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Surga, menjadi janji kemuliaan yang akan Tuhan berikan kepada kita. Dengan kebangkitan dan kenaikan-Nya, Kristus pergi kepada Bapa untuk mempersiapkan tempat bagi kita, sebab di dalam Kristus dan bersama Dia, kita menjadi bagian dari keluarga Allah, yang ditentukan-Nya untuk memperoleh kehidupan kekal. Namun pemberian Tuhan tidak hanya berhenti sampai di sini. Dengan kenaikan-Nya ke Surga, Yesus dalam kesatuan dengan Allah Bapa, mengutus Roh-Nya, yaitu Roh Kudus, kepada kita.

Allah Bapa dan Roh Kudus begitu mengasihi kita, sehingga mengaruniakan Sabda-Nya—yaitu Kristus—kepada kita, melalui Inkarnasi. Allah Bapa dan Putra begitu mengasihi kita sehingga mengaruniakan Roh-Nya sendiri kepada kita. Demikianlah ketiga Pribadi dalam diri Allah memberikan diri-Nya kepada kita yang kecil dan lemah ini, agar kita dapat dibebaskan dari dosa, dan dikuduskan untuk masuk dalam persekutuan yang erat dengan-Nya. Roh Kudus—yang menerima, memeteraikan dan memahkotai kasih timbal balik antara Allah Bapa dan Putra—diberikan kepada kita! Ya, Roh Kasih Allah itu, yang turun atas para Rasul, juga turun atas kita. Betapa seharusnya kita pun dapat mengalami pengalaman serupa yang dialami oleh para Rasul itu, sebab Roh yang diutus adalah Roh Allah yang sama. Semoga kita, seperti para Rasul itu, juga diubah oleh Roh Kasih Allah itu, sehingga kita dapat semakin menampakkan dalam kehidupan kita, buah Roh Kudus, yaitu: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, sikap lemah lembut dan penguasaan diri” (Gal 5:22). Dengan demikian kita hidup dipimpin oleh Roh-Nya “ke dalam seluruh kebenaran” (Yoh 15:13).

Kita memang telah menerima Roh Kudus melalui Baptisan, dan bahkan telah diteguhkan dalam sakramen Krisma. Namun itu tidak berarti bahwa Roh Kudus tidak lagi dapat dicurahkan kepada kita. Sebaliknya, Roh Kudus tetap dapat diutus untuk kita, agar semakin mengukuhkan persatuan kita dengan Allah. Sebab Allah tiada terbatas, demikian pula Kasih-Nya, yang terus tercurah bagi kita. Di hari yang istimewa ini, mari kita menaikkan doa  yang disusun oleh St. Carmela dari Roh Kudus, OCD:

“O Roh Kudus, Sang Kasih antara Allah Bapa dan Putra, turunlah atasku bagaikan Pentakosta baru. Dan bawalah bagiku kelimpahan karunia-Mu, buah-buah-Mu, dan rahmat-Mu. Persatukanlah diri-Mu dengan aku, sebagai Kekasih bagi jiwaku. Aku menyerahkan diriku sepenuhnya kepada-Mu…. jadikanlah aku milik-Mu. Jadilah bagiku terang yang menembus akal budiku, gerakan yang mendorong kehendakku, kekuatan yang menguatkan tubuhku. Sempurnakanlah dalam diriku, karya pengudusan-Mu dan kasih-Mu. Jadikanlah aku murni, sederhana, tulus, damai, lemah lembut, tenang bahkan dalam menghadapi penderitaan, dan berkobar dalam kasih, baik terhadap-Mu maupun sesamaku….

Jadikanlah aku taat, ya Tuhan, supaya aku tidak lagi dipimpin oleh kesombonganku, tetapi hanya oleh dorongan ilahi. Dengan demikian, semua yang ada padaku akan digerakkan oleh kasih, supaya ketika aku bekerja, aku bekerja oleh karena kasih; dan ketika aku menderita, aku dapat menanggungnya oleh karena kasih. Buatlah ya Tuhan, agar hal-hal surgawi dapat menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharianku, yang menggerakkan jiwaku.

Buatlah aku menjadi penurut dan peka untuk mengikuti dorongan Roh-Mu…. Jadikanlah aku menjadi semakin mawas diri, lebih menyukai keheningan, lebih berserah kepada pimpinan ilahi-Mu, lebih peka terhadap sentuhan-Mu. Doronglah aku kepada kedalaman hati-ku, di mana Engkau tinggal berdiam.

Datanglah, O, Roh yang menghidupkan, kepada dunia yang malang ini dan perbaharuilah muka bumi… berilah kami damai sejahtera-Mu yang tak dapat diberikan oleh dunia….”

Marilah bersama seluruh Gereja kita nyanyikan Mazmur hari ini:

Utuslah, Roh-Mu, ya Tuhan, dan jadi baru seluruh muka bumi….
Allahku, nama-Mu hendak kupuji, Engkau amat agung
berdandan sinar kebesaran….
Utuslah, Roh-Mu, ya Tuhan, dan jadi baru seluruh muka bumi….

Satu dengan Gereja agar dikuduskan dalam kebenaran

0
Sumber gambar: http://www.romannews.com/religion/st-peters-square-crowded-with-catholics-upon-canonization-of-two-popes/

[Hari Minggu Paskah VII, Hari Minggu Komunikasi sedunia: Kis 1:15-26; Mzm 103 1-20; ; 1Yoh4:11-16; Yoh 17:11-19 ]

Belum lama ini aku mendengarkan CD kisah kesaksian Diakon Alex Jones, yang membuatku takjub. Kisahnya menggambarkan perjalanan iman seseorang yang dengan tulus mencari kebenaran, dan yang kemudian menemukannya dan mengikutinya. Sebelum menjadi Diakon tetap di Gereja Katolik, Jones adalah seorang pendeta Pentakostal, dari gereja Maranatha, di Detroit, USA. Suatu waktu di tahun 1998, ia meminta waktu satu bulan kepada jemaatnya untuk menyelidiki bentuk pujian dan penyembahan seperti apa yang dilakukan oleh jemaat perdana. Jones kemudian membaca banyak tulisan para Bapa Gereja abad-abad awal, seperti St. Yustinus Martir, St. Ignatius dari Antiokhia, dst. Ia tidak menyangka bahwa penyelidikannya itu membawanya semakin dekat dengan Gereja Katolik. Sebab ia menemukan bahwa cara Gereja perdana berdoa adalah dengan liturgi, dalam kesatuan dengan Uskup di wilayah masing-masing. Setelah penemuannya itu, Jones mulai membagi kebaktian yang dipimpinnya menjadi dua bagian, yaitu liturgi Sabda dan liturgi Ekaristi. Ia mulai mengadakan perjamuan kudus seminggu sekali, sangat berlainan dengan para pendeta Pentakostal umumnya yang hanya mengadakan perjamuan kudus dua kali dalam setahun, atau paling sering, sebulan sekali. Pertanyaan berikut yang mengusiknya adalah bagaimana dengan kesatuan dengan Uskup? Jones menyadari bahwa gerejanya tidak mempunyai uskup, sebab dia sendirilah pemimpinnya. Hal ini terus mengusik hatinya. Singkat kata, setelah melalui pergumulan yang panjang, dan melalui doa-doa, Jones memutuskan untuk menutup gereja yang dipimpinnya sejak tahun 1982, untuk menjadi Katolik. Ia pun membawa serta sejumlah jemaat yang dipimpinnya untuk bergabung dengan Gereja Katolik. Suatu keputusan besar yang tidak mudah, namun tetap dilakukannya. Jones mengalami pertentangan dari banyak orang, termasuk kerabat dan sahabat-sahabatnya yang mempertanyakan keputusannya itu. Namun jawabnya sederhana, “Aku harus melakukannya. Sebab sejak masa kecilku, aku mencari kebenaran yang sejati. Kini saat aku sudah menemukannya, aku harus mengikutinya.”

Injil hari ini, mengingatkan kita akan doa Tuhan Yesus sendiri bagi Gereja-Nya, agar menjadi satu, sama seperti Ia dan Bapa adalah satu (lih. Yoh 17:11). Sebagai umat Katolik, mari kita bertanya kepada diri sendiri, sejauh mana kita juga mendoakan hal yang sama ini, seperti yang dikehendaki Tuhan Yesus? Kesatuan Gereja dan kesatuan dengan Uskup, yang adalah para penerus Rasul, adalah bukti yang nyata bahwa kita menjaga kesatuan kasih di antara kita sebagai sesama anggota Tubuh Kristus. Jika kita percaya bahwa Allah adalah kasih, maka kita selayaknya tetap hidup di dalam kasih agar Allah tetap berada di dalam kita (lih. 1Yoh 4:16). Betapa nyatanya hal ini dalam kehidupan keluarga, dan juga dalam kehidupan menggereja. Jika kita mengasihi, maka keluarga dan Gereja kita akan semakin kuat bersatu. Perceraian yang marak terjadi di zaman ini, adalah bukti kegagalan untuk membina cinta kasih di antara pasangan suami istri. Perpecahan gereja juga adalah bukti dari kegagalan untuk menerapkan kasih di antara sesama jemaat. Segala bentuk perpecahan adalah kegagalan untuk menaati firman Tuhan yang menghendaki kita semua menjadi satu. Allah menghendaki Gereja-Nya menjadi satu, dan juga agar kita dikuduskan dalam kebenaran. Oleh karena itu, kita mengetahui bahwa kebenaran-Nya adalah kebenaran yang mempersatukan. Walaupun nampaknya perjalanan masih panjang, bagi semua murid Kristus untuk bersatu secara penuh, namun kita tetap menaruh harap dan terus berdoa, agar suatu saat kesatuan ini dapat terwujud. Menjelang hari Pentakosta, marilah kita memohon kepada Roh Kudus, yaitu Roh Allah yang sama, yang dahulu telah turun atas para Rasul dan Gereja perdana, agar terus menyertai Gereja-Nya dan mengarahkan semua murid Kristus agar merindukan kesatuan sebagaimana yang dikehendaki oleh Kristus sendiri.

Mari kita berdoa agar semakin banyak orang dapat mengalami indahnya kesatuan yang ada dalam Gereja Katolik. Semoga kita dapat terus memelihara kesatuan kasih ini, baik dalam keluarga maupun dalam kehidupan menggereja, agar sungguh “Allah tetap di dalam kita dan kasih-Nya sempurna di dalam kita” (1 Yoh 4:12).

Roh Kudus, kami menantikan Engkau, untuk memperkuat kesatuan kasih di antara kami, agar dengan kesatuan ini Engkau menguduskan kami dalam kebenaran-Mu. Amin.

Yesus, Engkaulah Karunia terbesar yang dapat kuterima

0
Sumber gambar: http://aaog.blogspot.com/2011/07/jesus-and-children.html

[Hari Minggu Paskah VI: Kis 10: 25-48; Mzm 98:1-4; 1Yoh4:7-10; Yoh 15:9-17 ]

Akhir pekan ini adalah saat yang istimewa bagi Nicholas, anak baptis kami. Bersama-sama dengan teman-temannya sekelasnya, ia akan menerima Komuni Pertama. Dalam kepolosannya, kami melihat sukacita tak terkira dalam hati Nicholas yang berumur 7 tahun ini. Sungguh, kami pun belajar dari kesederhanaan imannya, yang mengingatkan kami akan sabda Tuhan, “… Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat 18:3). Demikian tulis Nicholas dalam lembaran buku-nya beberapa hari yang lalu:

“When I was three years old, I wanted to receive the Holy Communion. But, my uncle said, I couldn’t. He said, I had to wait until I am older. So then, every time I have a birthday I am happier, because I know that in a while I can receive Communion. When I receive Communion, I receive Jesus in my heart. I am happy. But my heart must be cleansed before I can receive Jesus. I have to go to Confession, to confess my sins and ask the Lord to forgive me. Before going to Confession, I pray that God will help me remember my sins. Then, I go to find a priest to have Confession. After Confession, I am happy because God has taken my sins away. Then I pray, “Lord Jesus, Thank you for taking my sins away. Help me never sin again. Everyday help me be good.

In a week or so, I will receive my First Holy Communion. My Mom and my Dad invited my aunt and uncle to my house. They are my Godparents. They come from Indonesia. They are here to go to my First Holy Communion. Now, while waiting for my First Communion, I pray:

“Lord Jesus, I thank You for giving Yourself to me. You are the greatest Gift I can receive. Help me receive You with love, because You have loved me first. I love You, Jesus. Amen.”

On the day of my First Holy Communion this is what I am going to do. After receiving Communion I am going to my pew and pray to Jesus. I will pray for 15 minutes.

“Lord Jesus, I thank You that now You are in my body, my soul and my heart. I love You, Jesus. You can always have my heart. Amen.”

Aku terhenyak membaca tulisan ini. Perlahan-lahan, kubaca ulang doanya, dan kujadikan juga sebagai doa yang keluar dari dalam hatiku. “Lord Jesus, …. You are the greatest Gift I can receive. Help me receive You with love, because You have loved me first. I love You, Jesus… Tuhan Yesus, Engkaulah Karunia terbesar yang dapat kuterima. Bantulah aku untuk menerima Engkau dengan kasih, sebab Engkau telah mengasihiku terlebih dahulu. Aku mengasihi Engkau, Yesus… ”

Injil Minggu ini mengingatkan kita akan besarnya kasih Tuhan Yesus kepada kita. Dalam amanat perpisahan-Nya, Yesus berkata demikian kepada para murid-Nya: “Tiada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat- sahabatnya…” (Yoh 15:13). Dengan perkataan ini, Yesus mempersiapkan para murid untuk memahami betapa besar kasih-Nya yang akan dinyatakan-Nya dengan menyerahkan nyawa-Nya bagi mereka dan seluruh umat manusia, di kayu salib. Suatu pengorbanan kasih yang melaluinya Kristus membukakan bagi kita kehidupan kekal. Yaitu kehidupan oleh Dia yang dengan wafat dan kebangkitan-Nya, telah mengalahkan kuasa dosa dan maut. “Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1 Yoh 4:9-10).

Hidup oleh Kristus, secara khusus kita terima dalam Komuni kudus. Saat menerima Komuni kudus, semoga kita semakin menyadari bahwa itulah cara yang dipilih oleh Kristus untuk menyampaikan kasih-Nya yang terbesar kepada kita. Sebab dalam Komuni kudus itu, Yesus menyerahkan Diri-Nya sendiri kepada kita, agar kita dapat memperoleh hidup-Nya.

Tuhan Yesus, Engkaulah Karunia terbesar yang dapat kuterima. Terima kasih yang tak terhingga kuucapkan kepada-Mu. Aku mengasihi Engkau, Yesus. Terimalah aku sebagai milik-Mu, ya Tuhan.

Air Mata Wanita, Sejuta Makna

0

Sharing Pelayanan Pst Felix Supranto, SS.CC dari Seminar “Memahami Hati Wanita” di Paroki Yohanes Penginjil, Jakarta

Kebahagiaanku tak terumuskan dalam kata ketika aku memberikan seminar “Memahami Hati Wanita” di Paroki Santo Yohanes Penginjil Blok B – Jakarta. Kurang lebih dua ratus umat menghadiri seminar itu karena ingin mendapatkan pencerahan. Para wanita mengharapkan semakin bersyukur atas panggilannya sebagai wanita dalam menolong suaminya sebagai imam keluarga dan mendidik anak-anaknya di jalan yang benar. Para suami semakin terbuka matanya atas pendampingan dan pengorbanan istrinya. Sang istri disadari oleh suaminya sebagai mukjizat yang terdekat dan terindah karena di dalam hati wanita bertahtalah hati Allah. Di dalam hati wanita ada kekuatan dan kasih Allah.

Wanita sebagai mukjizat itu nyata dalam diri seorang ibu yang terus menangis selama adorasi berlangsung. Aku doakan ibu itu dengan menopangkan tanganku di atas kepalanya. Dengan sesenggukan, ia mengungkapkan sebuah peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya belum lama ini. Aku rumuskan ungkapan hatinya dalam rangkaian kata berikut:

Belum lama ini, suamiku meninggal dunia.

Ia meninggal secara mendadak dalam tugas pekerjaan di tempat lain.

Hatiku tersayat-sayat bahwa ia pergi tanpa kata “sayang” dariku.

Kata “sayang” itu senantiasa aku ucapkan kepadanya sebelum ia pergi kerja.

Kepergiannya membuat hidupku terasa hambar:

“Bisakah aku hidup dalam dunia yang luas tanpa cintanya”.

Ketika kupejamkan mata, kenangan akan suamiku memenuhi memoriku.

Perlahan-lahan air mataku pasti membasahi pipiku.

Semakin ku mengingat ketulusan hatinya,

air mata ini semakin deras keluar.

Kurasakan betapa pahitnya hidup ini tanpa suamiku yang telah bersatu jiwa.

Air mataku yang deras membuatku tak bergairah melanjutkan hidupku.

Semuanya nampak begitu suram.

Tak terbayangkan betapa beratnya,

membesarkan dua anakku yang masih kecil,

tanpa tangan suami yang biasa menopangnya

Di tengah kelunglaian, syair dari lagu “Karena Salib-Mu” :

ENGKAULAH SUMBER PENGHARAPAN, KUASA-MU SANGGUP MENYEMBUHKAN
JIWAKU PUN BERSERAH HANYA KEPADAMU, YESUS KAULAH SEGALANYA
”, dalam adorasi,
telah menegakkan kembali pengharapanku kepada Tuhan

Pengharapan itu membuatku bertahan walau badai menghadang.

Semuanya demi masa depan yang cemerlang untuk anak-anak tercinta.

Gunung tinggi dan bebatuan akan aku daki demi mewujudkan cita-cita mereka.

Aku akan terus melangkah bersama Tuhan yang setia:

Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya,….” (2 Petrus 3:9)

Aku yakin bahwa air mata kesedihan ini tak akan berderai lagi.

Itulah air mata wanita. Air mata wanita mengandung sejuta makna, yaitu kesedihan, kegembiraan, kekuatan, dan pengharapan. Semua rasa dalam diri wanita terungkap dalam deraian air mata.

Pesan dari sharing ibu itu: Kita sendiri adalah penentu kebahagiaan pada akhir cerita kehidupan kita. Kebahagiaan akan teraih ketika kita tidak terlalu lama berduka pada saat merana. Senantiasa ada hikmat di balik peristiwa kesedihan. Hikmat itu menjadi kekuatan untuk terus melangkah, tanpa goyah, bersama Tuhan yang menyertai kita. Tuhan, Sang Sutradara Kehidupan, akan memberikan mahkota kebahagiaan bagi yang tidak pernah menyerah: “Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah” (Mazmur 16:8).

Terimakasih kepada Persekutuan Doa Pembaharuan Karismatik Santo Yohanes Penginjil yang telah manjadi saluran berkat Tuhan dengan menjadi panitia seminar ini. Tangan Anda telah menjadi Tangan Tuhan yang membalut luka dan menyembuhkan.

Tuhan Memberkati

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab