Home Blog Page 42

Doa Firman : Suami Cuek, Istri merengek (Jadikan Diriku Rumah Ternyaman Bagi Pasanganku)

0

Sharing Refleksi Pelayanan Oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

1. Ayat Kitab Suci

Ketika suasana hati seorang istri kering karena suaminya kehilangan romantisme, ia bisa mendoakan Firman Tuhan dari Amsal 3:3-4 : “Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu, maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia”.

2. Makna Ayat Kitab Suci itu

Maksud Amsal 3:3-4: kasih dan setia harus nyata di dalam sikap dan perbuatan. Kasih dan setia itu harus lahir dari hati. Kasih dan setia itu harus dikalungkan pada leher kita supaya kelihatan dengan jelas bagi orang lain. Artinya: perbuatan kita harus menyatakan kasih dan setia. Kasih dan setia sangat dibutuhkan di dalam seluruh aspek kehidupan kita. Kasih yang setia adalah kasih yang teruji dan sejati. Setia yang penuh kasih merupakan kesetiaan yang tidak kering, melainkan penuh dengan kehangatan, antusiasme, dan romantisme. Kasih dan setia juga harus dituliskan pada loh hati kita. Maksudnya: kasih dan setia itu merupakan perkara batiniah kita. Kita harus memeliharanya agar tetap memberikan kehangatan dalam jiwa kita.

Kasih dan setia berharga di mata Tuhan dan di mata manusia. Ketika seseorang memiliki kasih dan setia, maka ia mendapatkan penghargaan di hadapan manusia karena ia dapat membangun relasi yang baik dengan orang lain. Ia juga mendapatkan penghargaan dari Tuhan karena kita telah mewujudkan diri sebagai gambaran Allah di mana sifat-Nya adalah kasih: “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1 Yohanes 4:8). Karena itu, ketika kita menjadi seorang Katolik/seorang Kristiani, kita masuk “Sekolah Kasih”. Pemilik Sekolah tersebut: Allah Bapa. Kristus menjadi Kepala Sekolahnya. Roh Kudus menjadi Guru (Pengajar) kita. Kitalah murid-murid-Nya. Sertifikat kelulusan kita adalah ketika Allah berkata: Engkaulah hamba-Ku yang baik dan setia karena engkau telah menjadi pelaku kasih.

Kasih dan setia itu harus menjadi dasar dalam relasi suami dan istri. Kasih dan setia itu harus dipelihara, misalnya, dengan menjaga romantisme, agar relasi mereka tidak hambar. Sekarang ini banyak istri mengeluhkan suaminya yang kehilangan keromantisannya. Ketika suami kehilangan romantisme, istrinya merengek untuk diperhatikan: “Pa, mengapa engkau tidak pernah lagi memujiku? Dulu engkau bisa berlaku romantis, sekarang sudah tidak bisa lagi, sikapmu seperti es batu, dingin… ”. Jawaban suaminya seperti ini: “Ma, sadarlah kita sudah tambah tua, anak sudah besar, nggak usahlah seperti anak muda yang sedang pacaran yang suka merayu…. Ingat Ma, kita sudah tidak muda lagi…”. Istrinya akan menjawab: “Apakah pasangan umur empat puluhan seperti kita sudah tidak layak untuk romantis lagi Pa? Kita ini belum terlalu tua…”.

Sumber keluhan istri bahwa suaminya telah kehilangan romantisme adalah perasaan diri “dicuekin” oleh suaminya. Ketika istri sedang berduaan dengan suami di rumah dan melihat suami sibuk melakukan aktivitas di komputer atau handphone, istri akan berpikir, “Mengapa aku dicuekin begini? Sudah dia super sibuk, jarang di rumah, begitu di rumah malah asyik dengan aktivitasnya sendiri. Mungkin dia sudah tidak sayang lagi padaku….” Padahal yang ada di dalam pikiran suami adalah, “Ada kamu di sini saja, aku sudah senang dan tenang”. Istrinya juga berpikir: “Kenapa asyik dengan laptop atau handphone saat berduaan dengan aku? Engkau kan bisa melakukan itu saat di kantor. Mengapa engkau tidak peduli kepadaku?” . Sementara suami berpikir, “Kenapa harus nungguin aku yang lagi kerja di laptop? Kamu kan bisa mengerjakan hal lain, nonton TV, membaca koran atau buku atau apapunlah yang menyenangkanmu…”

Keluhan dan rengekan istri lama kelamaan akan berubah menjadi tuntutan. Tanggapan suaminya biasanya tersinggung dan membela diri, karena merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Istri menuduh suami tidak peka, tidak romantis, dan tidak pengertian, sedangkan suami menuduh istri banyak menuntut dan mencari-cari masalah. Akibatnya, pertengkaran pun terjadi karena saling menyalahkan. Padahal, sang istri akan merasa bahagia kalau ada usaha sedikit saja dari suaminya untuk memberi perhatian: “Ma, aku tadi sudah mau membelikan mama Pizza kesukaan Mama, tetapi sampai di sana tempatnya sudah tutup”. Sebaliknya, sikap suaminya yang nampaknya cuek itu adalah ungkapan bahwa ia sudah merasa aman dan nyaman mempunyai istri yang luar biasa dan setia.

Bagaimana para istri mengembalikan romantisme suaminya? Ingat peranan istri adalah penolong bagi suaminya dalam segala hal. Langkah yang dapat dilakukan oleh para istri adalah jangan membandingkan suaminya dengan sesuatu atau orang lain. Sang suami pasti tidak senang dibanding-bandingkan.

a. Istri jangan membandingkan suaminya dengan robot karena akan menyakiiti hatinya.

Istri : “Papa itu seperti robot, monoton. Robot kan tidak bisa romantis”.

Suami : “Tidak masalah, engkau menganggap aku sama dengan robot. Yang penting engkau tidak ribut meminta aku romantis…”

b. Jangan membandingkan suami anda dengan binatang karena itu lebih menyakitkan.

Istri : “Papa tahu angsa kan? Angsa itu binatang yang sangat romantis. Angsa itu binatang monogami, yang setia kepada pasangannya selama bertahun-tahun, bahkan kesetiaan angsa itu bisa seumur hidup. Masak Papa kalah sama angsa….”.

Suami : “Ya sudah, Mama nikah sana sama angsa, biar romantis….”

c. Jangan membandingkan suami anda dengan sinetron atau film, karena itu bukan kejadian nyata.

Istri : “Pa, Suami yang romantis itu adalah suami seperti yang di sinetron atau film-film.. Mereka sangat mesra kepada istrinya…”

Suami : “Aku juga akan seperti itu kalau menjadi bintang film, karena di film para artis itu tidak main dengan istrinya. Ia bisa romantis karena teman mainnya itu bukan istrinya sendiri”.

d. Jangan pula membandingkan suami anda dengan suami orang lain karena akibatnya lebih fatal.

Isteri : “Papa, jadi suami itu yang romantis gitu loh.. Seperti pak Imung, suami bu Karina, tetangga depan rumah kita. Setiap pagi selalu memeluk bu Karina sebelum berangkat kerja. Papa coba seperti Pak Imung dong….”

Suami : “Aku sih mau saja seperti pak Imung, tetapi bu Karina mau gak sama aku?”

Cara yang jitu istri untuk mengembalikan keromantisan suaminya adalah memberikan contoh. Para istri tidak jemu-jemunya memberikan ucapan, sapaan, dan tindakan yang romantis kepada suaminya. Suami itu akan belajar mengimbangi, walaupun pada awalnya dengan penuh kekuan. Akhirnya, suaminya akan mengerti apa yang dimaksud dengan romantisme oleh istrinya. Pada suatu hari pasti sang istri akan dikejutkan dengan tindakan romantisme yang tak terduga dari suaminya dengan ucapan selamat ulang tahun beserta tas kecil sebagai hadiahnya. Sang istri pun akan bernyanyi: “Bagai rajawali terbang tinggi”.

3. Doa

Doa: Jadikan Diriku Rumah Ternyaman Bagi Pasanganku

(Ketika Suami Cuek, Istri Merengek)
Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

“Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu,
maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia” ( Amsal 3:3-4).

Bapaku yang baik,

Terimakasih kuucapkan kepadaMu

atas suamiku yang telah menjadi teman perjalanan hidupku.

Ia sangat istimewa dalam hidupku.

Ia telah membuat jiwaku semakin hidup.

Setiap tindakan dan ucapannya sangat romantis,

menjadi memori indah.

Aku merasa sangat istimewa.

Dalam perjalanan waktu,

suamiku menjadi cuek.

Kehangatan yang terungkap dalam keromantisannya di masa lalu

telah hilang tanpa bekas.

Suamiku lebih suka memperhatikan pekerjaaannya daripada diriku.

Aku merasa tak disayangnya lagi.

Aku merengek untuk diperhatikannya.

Bukannya romantisme yang aku dapatkan dari suamiku.

Suamiku justru menjadi marah karena tidak suka terlalu dipaksa dengan tuntutan.

Bapaku,

Jangan biarkan aku membandingkan suamiku dengan orang lain atau sesuatu yang romantis.

Jadikan aku menjadi sarana pembelajaran keromantisan suamiku.

Beri aku semangat untuk senantiasa memberikan teladan dalam kehangatan bagi suamiku.

Aku yakin pasti suamiku akan membalasnya walaupun awalnya pasti kaku dan berat.

Akan tetapi, suamiku pada akhirnya akan menjadi seorang suami yang pandai mengungkapkan perhatiannya kepadaku.

Kasih dan kesetiaan kami pun tentu semakin diteguhkan dan semakin mantap.

Kami pun dalam hati akan mengatakan:

“Aku adalah rumah ternyaman bagimu”.

Amin

Paus Fransiskus: Allah selalu berinisiatif untuk berjumpa dengan manusia!

0

Berikut adalah homili Paus Fransiskus pada penerimaan calon katekumen dan para katekumen di penutupan Tahun Iman:

Para Katekumen terkasih,

Momen penutupan Tahun Iman ini menjumpai kalian berkumpul di sini, dengan para katekis dan anggota keluarga kalian, juga perwakilan banyak kaum pria dan wanita lainnya di seluruh dunia yang berada di jalan iman kalian yang sama. Secara spiritual, kita semua terhubung pada momen ini. Kalian datang dari berbagai negara, dari tradisi-tradisi budaya dan pengalaman-pengalaman yang berbeda. Namun malam ini kita merasa kita memiliki begitu banyak kesamaan di antara kita. Kita terutama memiliki satu: keinginan kepada Allah. Keinginan ini dibangkitkan oleh kata-kata pemazmur: “Seperti rusa yang merindukan sungai yang mengalir, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat wajah Allah?” (Mzm 42:1-2). Hal ini sangat penting untuk menjaga keinginan hidup ini, kerinduan untuk melihat Tuhan dan mengalami Dia, untuk mengalami Kasih-Nya, untuk mengalami Rahmat-Nya! Jika seseorang tidak lagi haus kepada Allah yang hidup, iman berada dalam bahaya menjadi sebuah kebiasaan, ia beresiko padam, seperti api yang tidak diberi makan. Ini beresiko menjadi “tengik”, tidak berarti.

Penjelasan Injil ini (bdk. Yoh 1:35-42) menunjukkan kita Yohanes Pembaptis yang menunjukkan Yesus sebagai Anak Domba Allah kepada murid-murid-Nya. Dua dari mereka mengikuti Gurunya, dan kemudian, pada gilirannya, menjadi para “mediator” yang memungkinkan orang lain untuk menjumpai Tuhan, mengenal Dia dan mengikutiNya. Ada tiga momen dalam narasi ini yang mengingatkan pengalaman katekumenat. Pertama, ada momen mendengarkan. Kedua murid itu mendengarkan kesaksian Pembaptis. Kalian juga, para katekumen terkasih, telah mendengarkan orang-orang yang telah berbicara kepada kalian tentang Yesus dan menyarankan agar kalian mengikutiNya dengan menjadi murid-murid-Nya melalui Baptisan. Di tengah hiruk-pikuk dari banyaknya suara yang menggema di sekitar kalian dan di dalam diri kalian, kalian telah mendengarkan dan menerima suara yang menunjukkan Yesus sebagai Seseorang yang dapat memberikan makna penuh untuk hidup kita.

Momen ke-dua adalah perjumpaan. Kedua murid itu menjumpai Gurunya dan tinggal bersamaNya. Setelah perjumpaannya dengan Dia, segera mereka melihat sesuatu yang baru di dalam hati mereka: kebutuhan untuk menyampaikan sukacita mereka kepada orang lain, supaya mereka juga bisa bertemu denganNya. Andreas, pada kenyataannya, menemui Simon saudaranya dan membawa dia kepada Yesus. Betapa baiknya hal itu untuk kita renungkan! Hal ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak menciptakan kita untuk menjadi sendirian, tertutup pada diri kita sendiri, tetapi dalam upaya untuk dapat menjumpai Dia dan membuka diri kita sendiri untuk menjumpai orang lain. Allah pertama kali datang kepada masing-masing dari kita; dan ini luar biasa! Dia datang untuk bertemu dengan kita! Dalam Alkitab, Allah selalu muncul sebagai Seseorang yang mengambil inisiatif dalam perjumpaan-Nya dengan manusia: Dialah yang mencari manusia, dan biasanya Dia mencarinya justru ketika manusia berada dalam momen kepahitan dan tragis karena mengkhianati Allah dan melarikan diri dari-Nya. Allah tidak menunggu dalam pencarian-Nya: Dia mencarinya keluar dengan segera. Dia adalah Pencari yang sabar, Bapa kita! Dia pergi sebelum kita dan Dia menunggu kita selalu. Dia tidak pernah lelah menantikan kita, Dia tidak pernah jauh dari kita, tetapi Dia memiliki kesabaran untuk menunggu momen yang terbaik untuk memenuhi masing-masing dari kita. Dan ketika perjumpaan itu terjadi, hal itu tidak pernah tergesa-gesa, karena Allah ingin tetap akhirnya dengan kita untuk menopang kita, untuk menghibur kita, untuk memberi kita sukacita-Nya. Allah bergegas menemui kita, tapi Dia tidak pernah tergesa-gesa meninggalkan kita. Dia tetap bersama kita. Seperti kita merindukan Dia dan menginginkan Dia, maka Dia juga berkeinginan untuk berada bersama kita, bahwa kita boleh menjadi milik-Nya, kita merupakan”milik”-Nya, kita adalah makhluk ciptaan-Nya. Dia, juga, kita dapat katakan, haus akan kita, untuk menemui kita. Allah kita haus akan kita. Dan ini merupakan hati Allah. Adalah demikian indah mendengar hal ini.

Bagian terakhir narasi adalah berjalan. Kedua murid-Nya berjalan menuju Yesus dan kemudian berjalan terus menerus bersama-sama dengan Dia. Ini adalah ajaran penting bagi kita semua. Iman ialah berjalan dengan Yesus. Ingat ini selalu: iman ialah berjalan dengan Yesus; dan itu adalah berjalan yang berlangsung seumur hidup. Pada akhirnya akan ada perjumpaan yang definitif itu. Tentu saja, pada beberapa momen di perjalanan itu kita merasa lelah dan bingung. Tapi iman memberi kita kepastian akan kehadiran konstan Yesus dalam setiap situasi, bahkan yang paling menyakitkan atau sulit dipahami sekalipun. Kita dipanggil untuk berjalan dalam upaya untuk bisa masuk semakin dalam ke dalam misteri kasih Allah, yang memerintah atas kita dan memungkinkan kita untuk hidup dalam ketenangan dan pengharapan.

Para Katekumen yang terkasih, hari ini kalian memulai perjalanan katekumenat. Permohonan saya bagi kalian adalah untuk mengikuti itu dengan sukacita, tentunya dengan dukungan keseluruhan Gereja, yang mengawasi kalian dengan kepercayaan yang besar. Semoga Maria, murid yang sempurna, menemani kalian: adalah indah untuk memiliki dia sebagai Ibu kita dalam iman! Saya mengundang kalian untuk menjaga antusiasme dari momen pertama itu di mana Dia membuka mata kalian dengan terang iman; untuk mengingat, sebagaimana murid yang dikasihiNya, hari, jam di mana untuk pertama kalinya kalian tinggal bersama Yesus, merasakan tatapan-Nya pada kalian. Jangan pernah lupa tatapan Yesus pada kalian; pada kalian, pada kalian … Jangan pernah lupa tatapan-Nya! Itu adalah sebuah tatapan kasih. Dan dengan demikian kalian akan berada selamanya pasti di antara kasih setia Tuhan. Dia setia. Yakinlah: Dia tidak akan pernah mengkhianati kalian!

(AR)

Paus Fransiskus,
Basilika Vatikan, 23 November 2013

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

Paus Fransiskus: Yang paling dicari Yesus adalah para pendosa besar!

0

Berikut adalah homili Paus Fransiskus pada hari Minggu Adven Pertama 2013:

Dalam Bacaan Pertama kita dengar Nabi Yesaya berbicara kepada kita tentang sebuah perjalanan, dan dia mengatakan bahwa dalam hari-hari terakhir, di akhir perjalanan itu, gunung Bait Tuhan akan berdiri sebagai gunung tertinggi. Dia mengatakan hal ini untuk memberitahu kita bahwa hidup kita adalah sebuah perjalanan: kita harus melakukan perjalanan ini untuk tiba di gunung Tuhan itu, untuk berjumpa dengan Yesus. Hal yang paling penting yang dapat terjadi pada seseorang adalah untuk bertemu dengan Yesus: perjumpaan dengan Yesus yang mengasihi kita, yang telah menyelamatkan kita, yang telah memberikan hidupnya untuk kita. Perjumpaan dengan Yesus. Dan kita sedang melakukan perjalanan dalam upaya untuk bertemu Yesus.

Kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri pertanyaan ini: Tapi kapan aku bertemu Yesus? Hanya di saat akhir? Tidak, tidak! Kita bertemu Dia setiap hari. Bagaimana? Dalam doa, ketika kalian berdoa, kalian bertemu Yesus. Ketika kalian menerima Komuni, kalian bertemu Yesus dalam Sakramen-sakramen. Ketika kalian membawa anak kalian untuk dibaptis, kalian bertemu Yesus, kalian menemukan Yesus. Dan hari ini, kalian yang akan menerima Konfirmasi, kalian juga akan menjumpai Yesus; maka kalian akan bertemu Dia dalam Komuni. “Dan kemudian, Bapa, setelah Konfirmasi, Selamat tinggal?”, karena mereka mengatakan Konfirmasi disebut “sakramen selamat tinggal”. Apakah ini benar atau tidak? … Setelah Konfirmasi kalian tidak pernah lagi kembali ke Gereja: benar atau salah? … begini, begini! Bagaimana pun, setelah Konfirmasi bahkan, seluruh hidup kita merupakan sebuah perjumpaan dengan Yesus: dalam doa, ketika kita pergi ke Misa, dan ketika kita melakukan perbuatan-perbuatan baik, ketika kita mengunjungi orang sakit, ketika kita membantu kaum miskin, ketika kita berpikir tentang orang lain, ketika kita tidak egois, ketika kita mengasihi … dalam hal-hal ini kita selalu bertemu Yesus. Dan perjalanan hidup itu tepatnya ialah hal ini: melakukan perjalanan dalam upaya untuk bertemu Yesus.

Dan hari ini, itu juga merupakan sebuah sukacita bagi saya untuk datang dan mengunjungi kalian, karena hari ini dalam Misa ini kita semua seharusnya bertemu Yesus, dan kita akan menjalani sebuah bagian dari perjalanan itu bersama-sama. Ingatlah selalu hal ini: hidup adalah sebuah perjalanan. Ini adalah sebuah jalan, sebuah perjalanan untuk bertemu Yesus. Pada akhirnya, dan selamanya. Sebuah perjalanan di mana kita tidak berjumpa dengan Yesus bukanlah sebuah perjalanan Kristiani. Itu bagi orang Kristen adalah untuk terus berjumpa dengan Yesus, untuk memperhatikan Dia, untuk membiarkan dirinya dijaga oleh Yesus, karena Yesus mengawasi kita dengan kasih; Dia mengasihi kita demikian sangat, Dia sangat mengasihi kita dan Dia akan selalu menjaga kita. Untuk berjumpa dengan Yesus juga berarti membiarkan dirinya sendiri ditatap oleh-Nya. “Tapi, Bapa, engkau tahu,” salah satu dari kalian mungkin berkata, “engkau tahu bahwa perjalanan ini mengerikan bagiku, aku adalah semacam seorang pendosa, aku telah melakukan banyak dosa … bagaimana aku dapat berjumpa dengan Yesus?” Dan kalian tahu bahwa orang-orang yang paling dicari Yesus adalah para pendosa paling besar; dan mereka telah mencela Dia untuk hal ini, dan orang-orang itu – mereka yang telah percaya diri mereka sendiri layak – akan mengatakan: ini bukan nabi yang sesungguhnya, lihatlah persahabatan yang menyenangkan seperti apa yang Dia jaga! Dia berada dengan para pendosa … Dan Dia berkata: Aku datang bagi mereka yang membutuhkan keselamatan, yang membutuhkan penyembuhan. Yesus menyembuhkan dosa-dosa kita. Dan sepanjang jalan itu Yesus datang dan mengampuni kita – semua dari kita para pendosa, kita semua adalah para pendosa – bahkan ketika kita melakukan sebuah kesalahan, ketika kita berbuat sebuah dosa, ketika kita berdosa. Dan pengampunan yang kita terima dalam Pengakuan dosa ini merupakan sebuah perjumpaan dengan Yesus. Kita selalu berjumpa dengan Yesus.

Jadi mari kita maju dalam hidup seperti ini, sebagaimana Nabi itu katakan, ke gunung itu, sampai hari itu ketika kita akan mencapai perjumpaan terakhir itu, ketika kita akan dapat memandang tatapan indah Yesus itu, itu begitu indah. Ini adalah kehidupan Kristiani: berjalan, bergerak maju, bersatu sebagai saudara dan saudari, mengasihi satu sama lain. Berjumpa dengan Yesus. Apakah kalian setuju, sembilan dari kalian? Apakah kalian ingin bertemu Yesus dalam hidup kalian? Ya? Hal ini penting dalam kehidupan Kristiani. Hari ini, dengan meterai Roh Kudus, kalian akan memiliki kekuatan yang lebih besar untuk perjalanan itu, untuk perjumpaan dengan Yesus itu. Ambil keberanian, jangan takut! Hidup adalah perjalanan ini. Dan hadiah yang paling indah adalah untuk bertemu Yesus. Majulah, beranilah!

Dan sekarang, mari kita lanjutkan dengan Sakramen Penguatan.

(AR)
Paus Fransiskus,
Paroki Romawi Santo Sirilus dari Alexandria, 1 Desember 2013

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

Paus Fransiskus: Mereka yang menerima Firman Allah dan taat kepada Roh-Nya sampai ke tujuan!

0

Berikut adalah homili Paus Fransiskus pada Misa Kepausan untuk Arwah Para Uskup dan Kardinal:

Dalam suasana spiritual di bulan November ini, yang ditandai dengan kenangan akan umat beriman yang telah meninggal, kita mengingat saudara kita para Kardinal dan para Uskup dari seluruh dunia yang telah kembali ke Rumah Bapa dalam tahun lalu. Sebagaimana kita persembahkan Ekaristi Kudus ini untuk masing-masing dari mereka, mari kita mohon kepada Tuhan untuk memberikan mereka pahala surgawi yang telah dijanjikan kepada hamba-hamba-Nya yang baik dan setia.

Kita telah mendengarkan kata-kata St Paulus: “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun semua ciptaan lainnya, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah dalam Kristus Yesus, Tuhan kita “(Rm 8:38-39).
Rasul menyajikan kasih Allah sebagai alasan menarik yang terdalam dan terutama bagi kepercayaan dan pengharapan Kristiani. Dia mencatat kekuatan-kekuatan yang berlawanan dan misterius yang dapat mengancam perjalanan iman. Tapi segera dia menyatakan dengan keyakinan bahwa bahkan jika seluruh hidup kita dikelilingi oleh ancaman-ancaman, tidak ada yang akan dapat memisahkan kita dari kasih Kristus sendiri yang telah diperoleh bagi kita dengan pemberian total diri-Nya. Bahkan kekuatan-kekuatan setan, yang memusuhi manusia, berdiri tak berdaya di hadapan persatuan mesra dari kasih yang terjalin antara Yesus dan siapa saja yang menerima Dia di dalam iman.

Realitas kasih setia yang Allah punya untuk masing-masing dari kita ini membantu kita untuk menghadapi perjalanan hidup sehari-hari, yang kadang-kadang berlalu dengan cepat dan pada waktu lain adalah lambat dan melelahkan, dengan ketenangan dan kekuatan.
Hanya dosa manusia dapat mematahkan ikatan ini, namun bahkan dalam hal ini Allah akan selalu mencari manusia, Dia akan mengejarnya dalam upaya membangun kembali sebuah persatuan dengan Dia yang bertahan bahkan setelah kematian; memang, sebuah persatuan yang mencapai puncaknya di akhir perjumpaan dengan Bapa. Kepastian ini memberikan arti baru dan penuh kepada kehidupan duniawi dan membuka kita kepada pengharapan akan kehidupan setelah kematian.

Pada kenyataannya, setiap kali kita dihadapkan dengan kematian dari seorang yang dicintai atau seseorang yang kita kenal dengan baik, muncul pertanyaan dalam diri kita: “Apa yang akan terjadi dalam hidupnya, karyanya, pelayanannya dalam Gereja?” Kitab Kebijaksanaan memberitahu kita: mereka berada di tangan Allah! Tangan-Nya merupakan sebuah tanda sambut kedatangan dan perlindungan, itu adalah sebuah tanda dari sebuah hubungan pribadi dari rasa hormat dan kesetiaan: memberikan tangan, menjabat tangan seseorang. Sekarang, para pastor yang giat bersemangat ini yang telah mendedikasikan hidup mereka untuk melayani Allah dan saudara-saudara mereka, berada di tangan Allah. Semua yang yang memprihatinkan mereka dirawat dengan baik dan tidak akan berkarat oleh kematian. Semua hari-hari mereka, yang ditenun oleh mereka dengan sukacita dan penderitaan, pengharapan dan perjuangan, kesetiaan kepada Injil dan kepenuhan hasrat bagi keselamatan rohani dan materi dari kawanan yang dipercayakan kepada mereka, berada di tangan Allah.

Bahkan dosa-dosa mereka, dosa-dosa kita, berada di tangan Allah; tangan-tangan-Nya yang penuh belas kasihan, tangan-tangan-Nya yang “terluka” demi kasih. Hal tersebut bukanlah secara kebetulan bahwa Yesus berniat memelihara luka-luka itu di tangan-Nya untuk memungkinkan kita mengetahui dan merasakan belas kasihan-Nya. Dan ini adalah kekuatan kita, pengharapan kita. Kenyataan ini, kepenuhan pengharapan, adalah harapan dari akhir kebangkitan-Nya, dari kehidupan kekal yang kepadanya “keadilan” itu, mereka yang menerima Firman Allah dan taat kepada Roh-Nya, sampai pada tujuan.

Hal ini adalah bagaimana kita ingin mengingat saudara kita, para Kardinal dan Uskup yang telah meninggal dunia. Ketika para pria telah mengabdikan dirinya kepada panggilan mereka dan kepada pelayanan mereka untuk Gereja, yang telah mengasihi sebagai seseorang yang mengasihi seorang mempelai. Dalam doa mari kita percayakan mereka kepada belas kasihan Tuhan, melalui perantaraan Bunda Maria dan St Yusuf, agar semoga Ia menerima mereka ke dalam Kerajaan terang dan damai-Nya, di mana keadilan dan mereka yang menjadi saksi setia Injil, hidup abadi. Dan marilah kita juga berdoa untuk diri kita sendiri, semoga Tuhan mempersiapkan kita untuk perjumpaan ini. Kita tidak tahu tanggalnya, tapi kita tahu benar bahwa perjumpaan itu akan datang.

(AR)

Paus Fransiskus,
Basilika Vatikan, 4 November 2013

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

Paus Fransiskus: Kita berhutang banyak kepada Bunda Maria!

0

Berikut adalah khotbah Paus Fransiskus pada Doa Malam bersama dengan Komunitas Benediktin Calmadolese:

Mari kita renungkan seseorang yang mengenali dan mencintai Yesus [sedemikian rupa] seakan tiada lagi makhluk lain sepertinya. Injil yang telah kita dengar mengungkapkan cara mendasar Maria mengekspresikan kasihnya bagi Yesus: dengan melakukan kehendak Allah. “Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga dialah saudara-Ku laki-laki, dan saudara-Ku perempuan, dan ibu-Ku” (Mat 12:50). Dengan kata-kata ini Yesus meninggalkan kita sebuah pesan penting: kehendak Allah adalah hukum tertinggi yang menetapkan dengan setia milik-Nya. Itulah bagaimana Maria membina sebuah ikatan kekeluargaan dengan Yesus bahkan sebelum melahirkanNya. Dia pantas menjadi murid dan ibu bagi Sang Putera pada saat dia menerima kata-kata dari Malaikat dan berkata: “Sesungguhnya, aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Kata “jadilah” ini adalah bukan hanya merupakan sikap menerima, tetapi juga sebuah keterbukaan dengan penuh kepercayaan akan masa depannya. Kata “jadilah” ini adalah pengharapan!

Maria adalah ibu pengharapan, ikon yang paling sepenuhnya mengekspresikan pengharapan Kristiani. Keseluruhan hidupnya adalah serangkaian episode pengharapan, yang dimulai dengan “ya”-nya pada saat menerima kabar gembira. Maria tidak tahu bagaimana dia bisa menjadi seorang ibu, tetapi dia telah mempercayakan dirinya secara total kepada misteri yang hendak dipenuhi, dan dia menjadi wanita harapan dan pengharapan. Kemudian kita lihat dia di Betlehem, di mana Seseorang yang telah dinyatakan kepadanya sebagai Juruselamat Israel dan sebagai Mesias lahir dalam kemiskinan. Yang belakangan, ketika dia berada di Yerusalem untuk memperlihatkanNya di dalam Bait Allah di tengah kegembiraan Simeon tua dan Anna, sebuah tanda akan terjadinya sesuatu juga dibuat bahwa sebuah pedang akan menembus hatinya dan seorang penubuat meramalkan bahwa Dia akan menjadi sebuah tanda pertentangan. Maria menyadari bahwa misi dan identitas yang luar biasa dari Sang Putera ini melebihi keibuannya sendiri. Kita lalu sampai pada episode Yesus yang hilang di Yerusalem dan kemudian dipanggil kembali: “Puteraku, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami?” (Luk 2:48), dan pada jawaban Yesus yang menghapus kecemasan keibuan Maria dan mencurahkan [isi hati] hal-hal tentang Bapa Surgawi-Nya.

Namun dalam menghadapi semua kesulitan dan kejutan dalam rencana Allah ini, pengharapan sang Perawan [Maria] tidak pernah goyah! Wanita pengharapan. Hal ini memberitahu kita bahwa pengharapan dipelihara dengan pendengaran, kontemplasi, dan kesabaran, sampai waktu dari Tuhan itu matang. Selain itu pada pesta perkawinan di Kana, Maria adalah ibu pengharapan, yang memberi perhatian dan kecemasannya terhadap urusan-urusan manusia. Dengan permulaan dari pelayanan publik-Nya, Yesus menjadi Guru dan Mesias: Bunda Maria memandang misi Puteranya dengan kegembiraan yang sangat besar tetapi juga dengan kekuatiran akan terjadi sesuatu, karena Yesus menjadi semakin jelas menandakan pertentangan yang diramalkan oleh Simeon tua itu. Di kaki Salib [Kristus], dia ialah wanita berduka dan sekaligus [wanita] harapan yang hati-hati terhadap sebuah misteri yang jauh lebih besar daripada kesedihan yang akan segera dipenuhi. Tampaknya bahwa segala sesuatu telah berakhir; setiap pengharapan bisa dikatakan telah padam. Maria juga, pada saat itu, yang mengingat janji-janji Khabar Sukacita bisa mengatakan: mereka tidak menjadi kenyataan, aku tertipu. Tapi Maria tidak mengatakan ini. Dan oleh karena itu dia yang diberkati karena dia telah percaya, melihat bunga dari imannya sebuah masa depan yang baru dan menantikan hari esok Allah dengan harapan. Kadang-kadang saya pikir: tahukah kita bagaimana untuk menunggu hari esok Allah? Atau apakah kita menginginkan hal itu hari ini? Bagi Maria hari esok Allah adalah sang fajar dari Paskah di pagi hari, sang fajar di hari pertama dalam minggu itu. Hal ini akan menjadikan kita baik untuk berpikir, dalam kontemplasi, akan pelukan ibu dan Puteranya. Satu-satunya cahaya yang menyala di makam Yesus adalah pengharapan ibu-Nya, yang pada saat itu merupakan pengharapan dari semua manusia. Saya bertanya pada diri sendiri dan saya bertanya pada kalian: apakah cahaya ini masih menerangi dalam biara-biara? Dalam biara-biara kalian apakah kalian sedang menunggu hari esok Allah?

Kita berhutang begitu banyak kepada Ibu ini! Dia hadir di setiap saat dalam sejarah keselamatan, dan di dalam dirinya kita melihat sebuah kesaksian teguh terhadap pengharapan. Dia, ibu pengharapan, mendukung kita di saat-saat kegelapan, kesulitan, keputusasaan, [di saat-saat] yang tampaknya kalah atau manusia sejati kalah. Semoga Maria, pengharapan kita, menolong kita untuk membuat hidup kita sebuah persembahan yang menyenangkan Bapa Surgawi, dan sebuah karunia yang penuh sukacita bagi para saudara-saudari kita, di dalam sebuah sikap yang selalu sangat mengharapkan hari esok.

(AR)

Paus Fransiskus,
Biara Santo Anthony Abbas, 21 November 2013

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

Paus Fransiskus: Tuhan selalu memberi lebih dari apa yang kita minta!

0

Berikut adalah homili Paus Fransiskus pada Hari Raya Yesus Kristus Raja Semesta Alam 2013:

 

Kekhidmatan hari ini dari Tuhan kita Yesus Kristus, Raja Semesta, penobatan tahun liturgi, juga menandai penutupan Tahun Iman yang dibuka oleh Paus Benediktus XVI, yang kepadanya pikiran-pikiran kita kini berubah dengan kasih sayang dan rasa syukur atas karunia ini yang Dia telah berikan kepada kita. Dengan inisiatif yang sudah menjadi kehendak Tuhan ini, Dia telah memberi kita sebuah kesempatan untuk menemukan kembali keindahan dari perjalanan iman yang telah dimulai pada hari Pembaptisan kita, yang membuat kita menjadi anak-anak Allah dan saudara-saudari dalam Gereja-Nya. Sebuah perjalanan yang tujuan akhirnya perjumpaan penuh kita dengan Allah, dan yang melaluinya Roh Kudus memurnikan kita, mengangkat kita dan menyucikan kita, sehingga kita boleh masuk ke dalam kebahagiaan yang dirindukan oleh hati kita.

Saya sampaikan sebuah salam hangat dan persaudaraan kepada para pemimpin dan para Uskup Agung Gereja Katolik Timur yang hadir. Pertukaran perdamaian yang akan saya bagikan dengan mereka adalah yang terutama sekali sebuah tanda apresiasi dari Uskup Roma untuk komunitas-komunitas ini yang telah mengakui Nama Kristus dengan kesetiaan yang patut menjadi teladan, sering kali dengan harga yang tinggi. Dengan sikap ini, melalui mereka, saya ingin mencapai semua umat Kristiani yang tinggal di Tanah Suci, di Suriah dan di seluruh wilayah Timur, dan memperoleh bagi mereka karunia perdamaian dan kerukunan itu.

Bacaan-bacaan Alkitab yang diwartakan kepada kita memiliki tema bersama mereka Sentralitas Kristus. Kristus berada di pusatnya, Kristus adalah pusatnya. Kristus adalah pusat penciptaan, Kristus adalah pusat dari umat-Nya dan Kristus adalah pusat dari sejarah.

1. Rasul Paulus, dalam bacaan ke-dua, yang diambil dari surat kepada jemaat Kolose, menawarkan pada kita sebuah visi yang mendalam dari Sentralitas Yesus. Dia menunjukkan Kristus kepada kita sebagai anak sulung dari semua ciptaan: dalam Dia, melalui Dia, dan untuk Dia segala sesuatu diciptakan. Dia adalah pusat dari segala sesuatu, Dia adalah awal: Yesus Kristus, Tuhan. Allah telah memberikanNya kepenuhan-Nya, totalitas-Nya, supaya dalam Dia segala sesuatu dapat didamaikan (lih. Kol 1:12-20). Dia adalah Tuhan dari penciptaan, Dia adalah Tuhan dari rekonsiliasi.

Gambaran ini memungkinkan kita melihat bahwa Yesus adalah pusat dari penciptaan; dan ketika sikap itu telah menuntut kita sebagai orang-orang percaya yang setia, untuk mengakui dan menerima dalam hidup kita sentralitas Yesus Kristus, dalam pikiran-pikiran kita, dalam kata-kata kita dan dalam karya-karya kita. Dan juga pikiran-pikiran kita akan menjadi pikiran-pikiran Kristiani, pikiran-pikiran Kristus. Karya-karya kita akan menjadi karya-karya Kristiani, karya-karya Kristus; dan kata-kata kita akan menjadi kata-kata Kristiani, kata-kata Kristus. Tapi ketika pusat ini hilang, ketika ia digantikan oleh sesuatu yang lain, [maka] hanya kerugian yang dapat berakibat bagi segala sesuatu di sekitar kita dan bagi diri kita sendiri.

2. Selain menjadi pusat penciptaan dan pusat rekonsiliasi, Kristus adalah pusat dari umat Allah. Hari ini, Dia berada di sini di tengah-tengah kita. Dia berada di sini sekarang dalam Firman-Nya, dan Dia akan berada di sini pada altar-Nya, hidup dan hadir di tengah-tengah kita, umat-Nya. Kita melihat hal ini dalam bacaan pertama yang menggambarkan saat ketika suku-suku bangsa Israel datang untuk mencari Daud dan mengurapi dia menjadi raja Israel di hadapan Tuhan (lih. 2 Sam 5:1-3). Dalam mencari seorang raja yang ideal, orang-orang seakan sedang mencari Allah sendiri: seorang Allah yang akan dekat dengan mereka, yang akan menemani mereka dalam perjalanan mereka, yang akan menjadi seorang saudara bagi mereka.

Kristus, keturunan Raja Daud, ialah benar-benar “saudara” yang di sekelilingnya umat Allah datang bersama-sama. Dialah yang peduli akan umat-Nya, akan semua dari kita, bahkan dengan harga yang tinggi dari hidup-Nya. Dalam Dia kita semua adalah satu, satu bangsa, yang bersatu dengan Dia dan yang berbagi sebuah perjalanan tunggal, sebuah kepastian tunggal. Hanya dalam Dia, dalam Dia sebagai pusatnya, sungguh kita menerima identitas kita sebagai suatu bangsa.

3. Akhirnya, Kristus adalah pusat dari sejarah kemanusiaan dan juga pusat dari sejarah setiap individu. KepadaNya kita dapat bawa segala kegembiraan dan pengharapan, segala penderitaan dan masalah yang merupakan bagian dari hidup kita. Ketika Yesus adalah pusatnya, cahaya bersinar bahkan di tengah saat-saat yang paling kelam dari hidup kita; Dia memberi kita pengharapan, seperti yang Dia lakukan terhadap pencuri yang baik hati dalam Injil hari ini.

Sementara semua orang lain memperlakukan Yesus dengan hina – “Jika Engkau adalah Kristus Raja Mesias, selamatkan diri-Mu dengan turun dari salib!” – Pencuri yang sesat dalam hidupnya tapi sekarang bertobat itu, melekat pada Yesus yang disalibkan dan memohon Dia: “Ingatlah akan aku, apabila Engkau datang ke dalam Kerajaan-Mu” (Luk 23:42). Yesus berjanji kepadanya: “[Sesungguhnya] hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (ayat 43), dalam kerajaan-Nya. Yesus berbicara hanya sebuah kata pengampunan, bukan [kata] kutukan; setiap saat siapa saja menemukan keberanian untuk memohon pengampunan ini, Tuhan tidak akan membiarkan sebuah permohonan semacam itu tidak didengar-Nya.

Hari ini kita semuanya bisa memikirkan sejarah kita sendiri, perjalanan kita sendiri. Masing-masing dari kita memiliki sejarahnya sendiri: kita memikirkan kesalahan kita, dosa-dosa kita, masa-masa baik kita dan masa-masa suram kita. Kita akan melakukannya dengan baik, masing-masing orang dari kita, pada hari ini juga, untuk berpikir tentang sejarah pribadi kita sendiri, untuk menatap Yesus dan terus mengatakan padaNya, secara tulus dan tenang: “Ingatlah aku, Tuhan, bila Engkau berada di dalam kerajaan-Mu! Yesus, ingatlah aku, karena aku ingin menjadi baik, namun aku hanya tidak memiliki kekuatan itu: aku adalah seorang pendosa, aku adalah seorang pendosa. Tapi ingatlah aku, Yesus! Engkau dapat mengingat aku karena Engkau berada di pusat, Engkau benar-benar berada dalam kerajaan-Mu! “Betapa indahnya hal ini! Mari kita semua lakukan hal ini hari ini, masing-masing orang dari kita dalam hatinya sendiri, lagi dan lagi. “Ingatlah aku, Tuhan, Engkau yang berada di pusat, Engkau yang berada di dalam kerajaan-Mu”.

Janji Yesus kepada pencuri yang baik itu memberi kita pengharapan besar: hal itu memberitahu kita bahwa rahmat Allah selalu lebih besar dari doa yang diminta. Tuhan selalu memberikan lebih, Dia begitu murah hati, Dia selalu memberikan lebih dari apa yang telah dimohonkan dariNya: Kalian mohon padaNya untuk mengingat kalian, dan Dia akan membawa kalian ke dalam kerajaan-Nya!

Mari kita mohon Tuhan untuk mengingat kita, dalam kepastian itu bahwa dengan rahmat-Nya kita akan mampu berbagi kemuliaan-Nya di surga. Mari kita maju bersama-sama pada jalan ini!
Amin!

(AR)

Paus Fransiskus,
Lapangan Santo Petrus, 24 November 2013

Diterjemahkan dari : www.vatican.va

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab