Home Blog Page 41

Gerbang Surga

0

Sharing pelayanan oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Tuhan tidak pernah menutup diri untuk dikenali. Seorang ibu menelponku. Ia memintaku untuk membaptis papanya yang berusia sembilan puluh empat tahun. Papanya tidak mengenal Tuhan Yesus sebelumnya. Keadaaan papanya itu sekarang lemah. Matanya terus terpejam. Ia tidak mau makan.

Sebelum keadaaannya yang lemah ini, opa itu selama beberapa minggu terus berdoa di depan Gua Maria. Ia juga selalu memegang patung Bunda Maria dan patung Tuhan Yesus Kristus yang terletak di samping tempat tidurnya. Ibu itu tidak tahu dari mana papanya itu bisa mengenal Bunda Maria dan Tuhan Yesus. Ibu itu yakin bahwa papanya pasti mempunyai pengalaman iman. Ia pun bertanya kepadanya: “Apakah Papa mau menjadi Katolik?”. Papanya menjawab dengan mata terbuka lebar: “Saya mau menjadi Katolik”. Ibu itu ingin papanya memperoleh apa yang dirindukannya, yaitu menjadi murid Tuhan Yesus dan anak Bunda Maria, sebelum ia harus masuk dalam gerbang surga.

Aku membaptisnya pada tanggal 17 April 2015 dengan nama Antonius. Nama opa itu sekarang menjadi Antonius Ng Tjie Kiat. Mataku terbelalak melihat perubahan kondisinya setelah menerima pembaptisan. Kondisinya tiba-tiba membaik. Ia mulai membuka matanya. Ia berbicara kepadaku dalam bahasa HK atau Kek yang kuterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebisanya:

Walaupun mulutku diam, mataku terpejam, dan badanku terkulai lemah,

tetapi, hati dan jiwa ini sedang melihat masa hidupku di masa silam, sekarang, dan masa mendatang.

Di masa silam aku merasa mampu berjalan sendiri.

Aku merasa kuat menapaki hidupku sendiri.

Akibatnya, aku sering sampai pada jalan buntu dan gelap,

yang hampir menjatuhkan aku ke dalam jurang kehancuran.

Anehnya aku senantiasa menemukan Tangan yang membangkitkan kembali hidupku.

Di ambang Gerbang Surga,

Aku berteriak: “Tolonglah aku, bawa aku ke sana karena di masa silam aku tidak mengandalkan Engkau, Sang Pemilik Surga”.

Aku tersentak, ternyata Tangan Tuhan yang berkali-kali mengangkatku dari kesulitan dan sering kuabaikan itu, kini kembali terulur dengan kehangatan cinta.

Tangan Tuhan itu ada sebuah tulisan: ”Aku ada untuk engkau, anakku”.

Aku bahagia dengan menerima pembaptisan karena aku telah menyerahkan diriku

dalam rengkuhan tangan kasih-Nya.

Kini masa lalu aku syukuri dan masa depan tak perlu aku takuti.

Semuanya itu karena Dia ada bagiku dan Dia adalah segalanya bagiku.

Pesan dari cerita iman ini: Iman akan Tuhan Yesus dianugerahkan pada orang yang menyukai keheningan. Keheningan akan mengasah hati menjadi “bening” /terang/cerah sehingga dapat melihat keberadaan-Nya untuk kita. Kita hanya bisa memandangNya dengan doa penuh syukur “Tuhan, aku tak dapat hidup di luar kasih-Mu. Tinggallah selalu bersamaku. Tanpa Engkau, Tuhan, hidupku tak berarti”. Sabda Tuhan melalui Nabi Yesaya di bawah ini meneguhkan kita untuk senantiasa berdiam di dalam Tuhan demi menikmati kasih dan kekuatan-Nya: “Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”….” (Yesaya 30:15).

Tuhan Memberkati

Mendoakan Firman Tuhan: Mohon Kelembutan Ketika Suami Kasar

0

Sharing Penghayatan Kerahiman Ilahi Dalam Keluarga oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

1. Ayat Kitab Suci

Ketika suami kasar yang membuat hati istri dan anak-anak terluka, istri bisa mendoakan Firman Tuhan dari Amsal 25:15 : “Dengan kesabaran seorang penguasa dapat diyakinkan dan lidah lembut mematahkan tulang”.

2. Maksud Ayat Tersebut

Maksud Amsal 25:15 adalah kelemahlembutan merupakan sifat yang luar biasa menarik hati dan mengandung kekuatan. Orang yang lemah lembut mempuyai kekuatan karena memiliki sifat dari Allah. Salah satu sifat Allah adalah lemah lembut. Allah sangat menghargai kelemahlembutan kita karena sifat-Nya sendiri terwujudnyatakan: “tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah” (1 Petrus 3:4). Allah yang mahakuasa ini memperlihatkan kelemahlembutan-Nya secara sempurna dalam diri Tuhan Yesus. Tuhan Yesus juga meminta kita belajar kelemahlembutan dari diri-Nya: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan” (Matius 11:29-30). Hati-Nya penuh dengan kelemahlembutan dan kesabaran dalam menghadapi kekurangan dan kelemahan para murid-Nya ketika mereka berambisi atas kekuasaan dalam mengikuti-Nya. Kelemahlembutan-Nya telah memenangkan banyak jiwa.

Seruan Tuhan Yesus “untuk belajar kelemahlembutan dari-Nya” menjadi penghiburan yang menyegarkan bagi para istri yang mungkin tertekan dengan kekasaran suaminya. Banyak istri terhina dan terluka karena perkataan kasar yang keluar dari mulut suaminya seperti “bodoh, goblok, tolol, dan nama-nama penghuni kebun binatang”. Janganlah kekasaran suami dibalas dengan kekasaran karena situasi akan semakin menjadi lebih runyam. Ungkapan kekasaran suami dan istri itu sangat tidak baik bagi jiwa dan perilaku anak-anak. Anak-anak merasa tidak nyaman di rumahnya sendiri. Lebih bahaya lagi, anak-anak tanpa sadar akan terbiasa dengan kata-kata kasar dalam kehidupannya sehari-hari. Sebaliknya, para istri hendaknya menjadikan kekasaran suami sebagai sebuah kesempatan untuk mengejar kelemahlembutan: “Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan” (1 Timotius 6:11). Mengejar kelemahlembutan berarti istri menjadikan kekasaran suami sebagai sebuah kesempatan untuk belajar menjadi semakin lembut. Di balik kelembutan terdapat kekuatan baja. Besi tidak mampu menembus batu besar di sungai, tetapi air yang mengalir pelan-pelan pasti akan mampu menerobos batu yang kuat. Suara lembut dan halus dari istri pelan, namun pasti, akan mampu meredam gejolak emosi dari suami.

Bagaimana caranya istrinya mempertunjukkan kelemahlembutan terhadap suami yang kasar? Caranya adalah penuh pengertian dan hikmat: “Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan” (Yakobus 3:13). Istrinya berusaha memahami mengapa suaminya bersikap kasar. Suaminya bersikap kasar karena mungkin sedang mempunyai beban berat yang tidak dapat ia ungkapkan. Suami tidak mau mengungkapkan persoalannya kepada istrinya karena istri mungkin tanpa sadar sering menganggap enteng permasalahannya itu: “Ah soal itu gampang, kamu kan laki-laki, jangan cengeng”. Pelampiasan suaminya pun berbentuk kekasaran. Kalau penyebab kekasaran suami adalah sikap istri, istri hendaknya dengan rendah hati membisikkan kata-kata “maaf” dengan lembut di telinga suaminya: “Mas, maaf aku telah melukaimu”. Kelembutan istri pasti menghapus luka suami dan dirinya. Kelembutan istri menentramkan segala gundah dan gelisah suaminya dan dirinya sendiri. Suami pasti akhirnya akan membenamkan diri kembali ke dalam jiwa istrinya.

3. Doa

Doa Mohon Kelembutan, Ketika Suami Kasar

“Dengan kesabaran seorang penguasa dapat diyakinkan dan lidah lembut mematahkan tulang” (Amsal 25:15)

Allah Bapa Yang Mahabaik,

hatiku terluka,

diriku terhina,

karena sifat suamiku yang kasar.

Hati ini rasanya tidak tahan menghadapinya,

mau rasanya meninggalkanya.

Tetapi, itu pasti tidak akan menyelesaikan persoalan.

Bapa,

Beri aku kelembutan hati senantiasa.

Di balik kelembutan terdapat kekuatan baja.

Kelembutan itu seperti air tenang yang mampu melunakkan hati yang keras.

Kelembutan itu seperti angin sepoi-sepoi yang mampu menidurkan singa yang buas.

Kelembutanku pasti mampu menyembuhkan luka suamiku.

Kelembutanku akan menetramkan gundah dan gelisahnya.

Semuanya terjadi karena kelemahlembutan berbuah pengertian dan hikmat.

Kegelapan pun menjadi terang.

Yang tersirat menjadi terbaca.

Cinta dan kasih sayang yang melimpah kembali terlahirkan.

Senyuman menjadi hiasan indah dalam keluarga.

Amin.

Dalam kesederhanaan mewartakan pesan Injil

0
Sumber gambar: http://www.archindy.org/criterion/local/2013/05-10/kamwendo.html

[Hari Minggu Biasa ke XV:  Am 7:12-15; Mzm 85:9-14; Ef 1:3-14; Mrk 6:7-13]

“Jadi, apa yang menurut Romo merupakan tantangan bagi para imam di zaman ini?” demikian pertanyaan kami kepada seorang Romo paroki yang sesaat lagi akan dipindahtugaskan. Tadinya kami menduga, mungkin jawabannya adalah hidup selibat,  atau mungkin terlalu banyak tugas dan tuntutan dari umat, atau sejenisnya. Namun jawab Romo tersebut demikian, “Menurut saya, tantangan terbesar adalah bagaimana para imam zaman ini dapat hidup miskin…” Jawaban ini membuat kami merenung. Hidup miskin. Mungkin karena tak terdengar menarik maka dianggap tidak terlalu penting. Padahal bagi kehidupan rohani, kemiskinan merupakan salah satu sikap dasar yang diperlukan, agar kita dapat menempatkan Tuhan di atas segalanya. Walaupun kemiskinan yang dimaksud pertama-tama adalah kemiskinan rohani—ketidakterikatan kita dengan benda-benda duniawi— namun harus diakui, dunia sekarang ini menarik kita semua ke arah sebaliknya. Dewasa ini ada banyak sekali kemudahan, kecanggihan teknologi dan barang-barang yang mutakhir, yang berusaha memikat kita. Kendaraan, hp, laptop, berbagai peralatan, dan barang lainnya, yang seolah menjadi kebutuhan. Tak ada yang luput dari godaan ini, termasuk para imam dan para religius. Walaupun betul bahwa benda-benda tersebut dapat dipergunakan untuk menunjang tugas-tugas panggilan kita, namun pertanyaannya adalah, apakah kita menjadi begitu terikat dengan benda-benda itu? Sehingga membuat kita menginginkannya, yang lebih canggih, lebih baik, tanpa henti?

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini mengingatkan panggilan kita untuk tugas menjadi seorang nabi. Seperti Nabi Amos, kita dipanggil untuk mewartakan kebenaran kepada orang-orang di sekeliling kita. Tidak saja mewartakan dengan kata-kata, tetapi terlebih dengan perbuatan, sebab hanya dengan demikianlah, kita dapat semakin dekat dengan tujuan Allah menciptakan kita.  Sebab kata Rasul Paulus, “Allah telah memilih kita, sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya…  Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita…. untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu… ” (Ef 1:4,10). Di dalam Kristus, apakah maksudnya? Rasul Yohanes menjelaskannya demikian, “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia [Kristus], ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1Yoh 2:6). Itulah sebabnya, cara hidup dalam kasih dan kesederhanaan, atau “miskin” di hadapan Allah, menjadi penting. Sebab cara hidup seperti itulah yang dipilih oleh Kristus, ketika Ia mengambil rupa sebagai manusia. Ia hidup miskin dan sederhana untuk memberikan diri seutuhnya kepada Allah dan sesama, dan Ia mengajarkan hal serupa kepada para rasul-Nya. Hal inilah yang nampak jelas dalam diri para imam dalam Gereja Katolik. Mereka mengambil cara hidup Yesus sebagai cara hidup mereka sendiri, dan dengan demikian memberikan teladan yang lebih sempurna, tentang bagaimanakah arti hidup di dalam Kristus. Para imam itulah “in persona Christi”, yang bertindak sebagai Kristus secara khusus pada saat memberikan sakramen-sakramen Gereja. Saat mereka mempersembahkan Ekaristi, memberikan absolusi dalam sakramen Pengakuan dosa, mengurapi dalam sakramen Pengurapan orang sakit, dst, Tuhan Yesus sendirilah yang bertindak dalam diri mereka. Betapa kita perlu mendoakan dan mendukung para imam, agar mereka sungguh dapat hidup sesuai dengan tugas panggilan suci yang mereka terima! Tidak saja pada saat menerimakan sakramen-sakramen, tetapi juga dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Namun bukan berarti Injil hari ini hanya berkenaan dengan para imam. Sebab pesan pewartaan Injil juga diberikan kepada kita semua yang telah dibaptis. Injil hari ini mengatakan bahwa setelah mengutus para Rasul berdua-dua, Tuhan Yesus berpesan kepada mereka, agar jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka kecuali tongkat, jangan pula membawa bekal, uang, dan dua baju (lih. Mrk 6:7-8). St. Gregorius menjelaskan alasan para Rasul diutus berdua-dua, yaitu karena hal yang mereka wartakan, yaitu perintah untuk mengasihi, itu ada dua macam, yaitu kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama; dan cinta kasih tidak dapat diterapkan pada kurang dari dua orang. Dengan demikian, Kristus mau mengajarkan kepada kita, bahwa orang yang tidak mengasihi sesamanya, tidak dapat mengambil bagian dalam tugas mengajar (St. Gregory, Hom. in Evan., 17). Ini mengingatkan agar kita mengasihi dengan perbuatan, dan bukan semata dengan perkataan. Akan sulitlah orang untuk menerima pengajaran tentang kasih, kalau pengajarnya sendiri tidak mampu mengasihi, atau bahkan berseteru dengan orang-orang terdekatnya. Betapa kita perlu berdoa bagi para pengajar kita, dan juga memeriksa diri sendiri—jika kita adalah pengajar atau orangtua dalam keluarga—agar perkataan yang kita sampaikan sesuai dengan apa yang kita lakukan.

Selain itu, Injil hari ini mengingatkan kita untuk tidak menyusahkan diri dengan berbagai keterikatan dengan benda-benda ataupun harta milik. Singkatnya, hidup sederhana. Atau, hidup sederhana itu sendiri merupakan bagian dari pewartaan kita. Sebab dengan hidup sederhana, kita melatih diri untuk tidak mengarahkan hati kepada hal-hal yang ada di dunia ini, namun terlebih kepada hal-hal yang ada di atas (lih. Kol 3:1,2), yang merupakan tujuan akhir hidup kita. Dengan hidup sederhana kita menanggalkan keinginan kita sendiri, supaya dapat mengenakan kehendak Tuhan. Mungkin sulit, dan menjadi perjuangan seumur hidup, namun di sanalah sesungguhnya terletak kebahagiaan kita yang sejati. Untuk itu, marilah kita berdoa bersama St. Katharina dari Siena, “Ya, Allah, kehendak-Mu yang mulia dan kekal adalah agar kami menjadi kudus. Oleh karena itu, jiwa yang ingin menjadi kudus akan menanggalkan keinginannya sendiri dan mengenakan kehendak-Mu. Ya Tuhan, Kekasih jiwaku, kupikir inilah tanda sejati bagi orang-orang yang yang telah dipersatukan dengan Engkau: Mereka melaksanakan kehendak-Mu, seturut apa yang menyenangkan hati-Mu, dan tidak menurut kehendak mereka sendiri, sehingga mereka sungguh diselubungi oleh kehendak-Mu.…. Bantulah aku untuk berjuang, ya Tuhan, agar tanda sejati ini juga ada pada diriku. Amin.”

Apakah arti Kerajaan Allah?

0

Kerajaan Allah menurut pengajaran para Bapa Gereja memang dapat diartikan menjadi tiga hal, dan hal ini diajarkan oleh Paus Benediktus XVI dalam bukunya Jesus of Nazareth, yaitu: 1) Yesus sendiri, karena seperti diajarkan oleh Origen, Yesus adalah Kerajaan Allah yang menjelma menjadi manusia; 2) Kerajaan Allah ada di dalam hati manusia yang berdoa memohon kedatangan Kerajaan Allah itu; 3) Gereja yang merupakan perwujudan Kerajaan Allah di dalam sejarah manusia. (Joseph Ratzinger, Pope Benedict XVI, Jesus of Nazareth, (Double Day, New York, USA, 2007), p.49-50).

Kerajaan Surga adalah kepenuhan Kerajaan Allah di Surga kelak, yang sebenarnya adalah pemenuhan ketiga hal di atas sekaligus, sebab di Kerajaan Surga maka kita semua sebagai umat beriman yang tergabung dalam Gereja, akan bersatu dengan Kristus yang adalah Kepalanya, sehingga Kristus meraja di hati semua manusia. Silakan membaca ulasan mengenai hal ini di sini, silakan klik dan di sini, silakan klik.

Atau jika kita melihat bahwa Kerajaan Surga adalah Kerajaan Allah di Surga kelak, maka di sini pengertian “Kerajaan Allah” terlihat lebih luas artinya, karena mencakup Kerajaan-Nya yang masih mengembara di dunia ini, yaitu Gereja-Nya. Gereja sebagai Kerajaan Allah ini akan mencapai kesempurnaannya di dalam Kerajaan Surga. Maka Surga dan Kerajaan Surga itu sama, hanya penekanannya agak berbeda. Kata “Surga” biasanya dipakai untuk menyatakan tempat/ keadaan terberkati yang ilahi, biasanya untuk dikontraskan dengan neraka. Sedangkan Kerajaan Surga biasanya untuk menekankan kesempurnaan Kerajaan Allah, yang telah dibentuk Allah sejak awal mula, sejak dari masa Penciptaan, pembentukan bangsa Israel (Kerajaan Allah di PL), dan Gereja (Kerajaan Allah di PB) yang akan terus bertahan sampai akhir jaman, dan yang disempurnakan sebagai Kerajaan Surga. Silakan anda membaca lebih lanjut dalam artikel ini: Kesempurnaan Rancangan Keselamatan Allah, silakan klik

Dalam kelemahan kita Allah menyatakan kekuatan-Nya

0
Sumber gambar: https://www.lds.org/media-library/images/carpenters-son-39540?lang=eng

[Hari Minggu Biasa ke XIV:  Yeh 2:2-5; Mzm 122: 1-5; 2Kor 12:7-10; Mrk 6:1-6].

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini mengisahkan tentang bagaimana Allah menggunakan kelemahan manusia untuk menunjukkan kekuatan-Nya. Ini berlaku tidak saja bagi para nabi dan para Rasul-Nya, namun bahkan bagi Putera-Nya sendiri, ketika Ia mengambil rupa manusia. Dari Kitab Suci kita mengetahui betapa para nabi sering dilecehkan dan direndahkan oleh orang-orang di sekitar mereka. Para Rasul juga demikian, yang semuanya hidup miskin dan sederhana sampai pada akhir hidup mereka di dunia. Jika kita perhatikan, banyak dari para orang kudus di sepanjang sejarah Gereja, yang juga hidup seperti para Rasul itu. Namun justru melalui kelemahan mereka, kita dapat melihat besarnya kuasa Tuhan. Ini menggenapi sabda Tuhan, “… apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat” (1Kor1:27), sebab sabda-Nya juga, “dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2Kor 12:9).

Sungguh, Allah tidak memandang kelemahan manusia sebagai sesuatu yang menghalangi rencana-Nya. Ia sendiri bahkan memilih untuk menjadi manusia yang serba terbatas, ketika Ia turun ke dunia. Menjadi anak tukang kayu, dan dikenal sebagai tukang kayu (Mrk 6:3). Jika kita melihat tukang kayu atau pekerja bangunan yang juga ada di sekitar kita, yang mengerjakan proyek pembangunan baik di gedung-gedung tinggi, maupun yang memperbaiki rumah kita, terbukakah mata hati kita, bahwa dahulu Tuhan Yesus memilih untuk menjadi tukang seperti mereka? Allah yang empunya segala sesuatu, memilih untuk tidak mempunyai apa-apa menurut pandangan manusia. Ia memilih menjadi miskin, supaya melalui kemiskinan-Nya, kita semua menjadi kaya (lih. 2Kor 8:9). Bukan agar kita menjadi kaya dalam hal-hal duniawi yang bersifat sementara, tetapi “dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan”, agar kita “tidak kekurangan dalam suatu karunia pun” (1Kor 1:5,7).

Kita semua yang telah dibaptis, dipanggil untuk mengambil bagian dalam karya Kristus sebagai Imam, Nabi dan Raja (lih. KGK 783). Keadaan kita masing-masing berbeda, sehingga bagian kita dalam karya Kristus tidaklah sama. Namun apapun bagian kita, kita perlu mengingat bahwa yang berkenan di hadapan Tuhan adalah sikap kerendahan hati, yang tidak mudah berputus asa jika kita dihadapkan dengan kelemahan dan bahkan dosa-dosa kita sendiri. Sebab melalui kelemahan kita, kita diingatkan untuk selalu bertobat dan menggantungkan diri kepada Tuhan. Justru pada saat kita memasrahkan diri pada Tuhan inilah, malah Tuhan dapat berkarya dengan lebih nyata di dalam diri kita. Tidak demikian halnya, jika kita menutup diri dengan pemikiran dan pandangan kita sendiri, merasa sudah mengetahui segala sesuatu. Bukankah itu yang kita baca dalam Injil hari ini? Mata hati orang-orang sekampung Yesus di Nazaret begitu tertutup dengan anggapan mereka sendiri tentang Yesus sebagai seorang tukang kayu, sehingga mereka tak bisa melihat bahwa apa yang dilakukan-Nya sesungguhnya jauh melampaui apa yang dapat diperbuat oleh seorang tukang kayu. Bahkan melampaui apapun yang dapat dilakukan oleh seorang manusia. Di Injil Markus yang sama, di perikop-perikop sebelumnya, dikisahkan Yesus yang menyembuhkan begitu banyak orang sakit, mengusir roh-roh jahat, menghentikan angin ribut, dan membangkitkan orang mati—semuanya adalah tanda dan mukjizat yang seharusnya membuat mereka dapat mengenali Yesus sebagai Tuhan. Namun mereka malah terpaku oleh anggapan mereka bahwa Yesus tidaklah mungkin istimewa, karena telah sekian tahun mereka melihat Yesus sepertinya biasa-biasa saja, hidup di tengah mereka sebagai tukang kayu. Bahwa Yesus langsung dikenali sebagai tukang kayu (Mrk 6:3), artinya sebelum karya-Nya di hadapan publik, Yesus memang bekerja sebagai tukang kayu. Maka ayat ini sendiri menentang anggapan beberapa teori modern belakangan ini yang menduga bahwa Yesus “berjalan-jalan ke India ataupun Tibet” untuk menetap di sana sambil belajar menjadi guru dan membuat mukjizat. Ini adalah klaim yang baru dibuat di abad ke-19 oleh seorang pengarang cerita fiksi berkebangsaan Rusia, M. Notovich. [Klaim tersebut tak perlu dibahas di sini, sebab sudah dengan cukup baik ditanggapi oleh Prof. Max Muller, yang juga melakukan penelitian dan napak tilas kepada sumber dan narasumber yang diacu oleh Notovitch, namun jawaban yang diperolehnya tidak mendukung kebenaran klaim Notovitch. Selanjutnya silakan membaca di link ini: http://www.tertullian.org/rpearse/scanned/notovitch.htm]. Namun ada juga jenis ketertutupan hati yang lain, yang hanya dengan membaca ayat Mrk 6:3, lalu berkesimpulan bahwa Yesus pasti mempunyai saudara-saudari kandung. Orang yang beranggapan demikian, menutup diri dengan tak mau mendengarkan penjelasan dari para Bapa Gereja yang lebih memahami tata bahasa asli (Yunani) yang dengannya Injil ditulis. Semoga kita yang sudah Katolik tidak lekas terpengaruh jika ada seorang yang berkata demikian kepada kita. Sebab, kata “saudara” dalam bahasa Yunani mempunyai arti yang lebih luas, dan walaupun dapat diartikan sebagai saudara kandung, tapi juga berarti kerabat atau saudara dekat (Bdk. Kej 13:8; 14:16; 29:15), saudara sebangsa (Yer 34:9; Neh 5:7; Kis 7:26; 13:15; 22:1; 28:17; Rm 9:3), atau saudara seiman (Kis 1:12-15; 11:1; 15:3; 21:7). “Gereja Katolik selalu menafsirkan teks-teks itu (Mrk 3:31-35; 6:3; 1Kor 9:5; Gal 1:19) dalam arti, bahwa mereka bukanlah anak-anak lain dari Perawan Maria. Yakobus, dan Yosef yang disebut sebagai ‘saudara-saudara Yesus’ (Mat 13:55), merupakan anak-anak seorang Maria (Bdk. Mat 27:56) yang adalah murid Yesus dan yang dinamakan ‘Maria yang lain’ (Mat 28:1)” (KGK 500). Sebagaimana nampak dalam Tanya Jawab di situs ini, hal apakah Yesus mempunyai saudara-saudari kandung, memang cukup sering dipertanyakan oleh saudara-saudari kita yang non-Katolik, dan sudah pula ditanggapi di banyak artikel di situs ini, maka tak perlu lagi diulangi di sini. Mari kita, jika keadaannya memungkinkan, dengan rendah hati menjelaskan kepada mereka tentang kebenaran ajaran yang telah berabad-abad diimani dengan suara bulat oleh Gereja, setidaknya sejak abad ke-1 sampai sekitar abad ke-17. (Sebab bahkan para pendiri gereja Protestan di abad ke-16 pun percaya bahwa Bunda Maria tetap Perawan dan tidak mempunyai anak-anak lain selain Yesus Kristus). Hal bagaimana tanggapan orang yang mendengarkan penjelasan ini, entah mau menerima atau tidak, itu tidak lagi menjadi bagian kita. Bagian kita adalah menjelaskannya dengan lemah lembut dan hormat (1Ptr 3:15), namun jika yang mendengarkan tetap tidak dapat menerimanya, atau bahkan menolaknya, itu sudah bukan tugas kita lagi. Kita tidak dapat memaksakannya. Tentu saja, kebenaran yang harus kita wartakan tidak terbatas pada ajaran bahwa Yesus tak memiliki saudara-saudari kandung. Dewasa ini, dunia banyak dibingungkan oleh berbagai pandangan yang kabur sehubungan dengan ajaran iman dan moral. Contohnya saja, orang malah menganggap diri pandai kalau menjadi  atheis atau agnostik,  orang  mempertanyakan perkawinan Kristiani yang monogami dan tak terceraikan, sejumlah negara melegalkan  perkawinan sesama jenis, aborsi, mempromosikan alat-alat kontrasepsi, dan menganggap korupsi sebagai hal biasa. Kita sebagai umat Katolik dipanggil untuk menjadi nabi, untuk mewartakan dan melakukan hal yang benar. Bacaan Pertama hari ini memberikan penguatannya, jika ternyata pewartaan ini tidak dengan mudah diterima oleh orang-orang di sekitar kita. “Dan baik mereka mendengarkan atau tidak… mereka akan mengetahui bahwa seorang nabi ada di tengah-tengah mereka” (Yeh 2:6). Mungkin kita perlu bertanya kepada diri kita, pewartaan atau kesaksian iman apa yang perlu kita lakukan saat ini? Sesudah itu, walaupun kita menyadari bahwa kita tak luput dari kelemahan dan dosa, kita tetap diingatkan oleh sabda Tuhan hari ini, untuk terus berjuang memperbaiki kesalahan kita dan tetap berusaha mewartakan kebenaran Injil. Semoga Tuhan berbelas kasihan kepada kita, dan menyatakan kuat kuasa-Nya justru pada saat kita merasa lemah dan membutuhkan pertolongan-Nya!

Kesempurnaan Cinta

0

Kesaksian Iman oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Pada tanggal 09 Mei yang lalu aku kedatangan dua tamu. Tamu-tamu tersebut adalah seorang pria dan wanita yang masih muda. Pria itu berperawakan tegap dan wanitanya mengenakan penutup kepala karena rambutnya telah habis akibat efek kemoterapi. Ia baru saja menjalani operasi “angkat rahim”. Walaupun sehabis operasi, wanita itu tetap kelihatan tegar dan masih bisa bekerja karena telah menemukan Tuhan dan cinta sebagai kekuatannya. Ketika ia sakit, ia bermimpi bertemu dengan seorang pria berambut gondrong, berjanggut lebat, dan dadanya bersinar. Pria gondrong itu mengatakan kepadanya: “Aku akan menyembuhkan engkau”. Ia bertanya kepada pria, yang bersama-sama datang kepadaku itu, tentang siapa pria gondrong dan berjanggut tersebut. Pria tersebut mengenal orang yang dimaksud wanita itu karena ia beragama Katolik. Ia mengatakan bahwa Ia adalah Tuhan Yesus Kristus. Wanita itu kemudian selalu mengikuti Misa Kudus dan mendengarkan Oase Rohani Katolik di Radio Cakrawala untuk mengetahui iman Katolik. Aku membaptisnya karena ia telah mengalami Tuhan secara pribadi.

Wanita itu kini akan menikah dengan pria tersebut. Pria tersebut memiliki cinta yang sejati, cinta yang tanpa syarat: “Aku mencintainya bukan karena pesona raganya, tetapi air mata yang menampilkan ketegaran dalam derita. Aku sadar bahwa aku tidak akan memiliki keturunan karena ia tidak mempunyai lagi rahim. Tuhan telah mengambil rahimnya untuk dikuduskanNya agar melahirkan anak yang paling suci. Nama anak yang tersuci itu adalah cinta. Setiap cinta yang lahir akan menumbuhkan banyak cinta pula. Aku bahagia karena bisa berkorban dan melayani dia sepanjang hayatnya demi cinta. Aku yakin dia pun mencintaiku dari kedalaman hatinya. Cinta kami adalah cinta seutuhnya dan bukan sebutuhnya. Karena itu, cinta kami tak ternilai dengan apapun”. Wanita itu membalas ungkapan cinta calon suaminya: “Mas, aku akan mengukir namamu di dalam hatiku. Hatiku merupakan tempat yang indah dan layak bagimu yang telah mencintaiku. Cinta di dalam hati tidak akan terhempaskan oleh angin taufan yang menderu”.

Cinta membuat mereka itu, orang-orang biasa dan karyawan biasa, menjadi luar biasa. Mereka menjadi luar biasa karena mereka membawa cinta yang tulus di mana mereka berada. Cinta menjadi terang di tengah banyak kepalsuan dan pemberi harapan palsu (PHP).

Cinta memang mempunyai kekuatan yang luar biasa karena dapat mengubah segalanya. Orang yang melihat dan merasakan cinta hanya bisa diam penuh dengan kekaguman. Kedashyatan cinta dapat dirumuskan dalam kata-kata indah ini:

Cinta membuat yang sakit merasa sehat,

yang miskin merasa kaya,

yang lemah merasa gagah,

yang wajahnya biasa merasa mempesona,

yang tua merasa muda

yang menderita merasa bahagia.

Pesan yang dapat kita hayati dari cerita ini: Arti kesempurnaan cinta adalah mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna. Mencintai dengan cara yang sempurna itu berarti menerima ketidaksempurnaan orang yang kita cintai sebagai sebuah pilihan hati. Pilihan hati senantiasa memberikan kebahagiaan sejati. Karena itu, marilah kita menghadirkan Tuhan, Sang Sumber Kasih, dalam membangun cinta bersama: “Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!” (Kidung Agung 8:6).

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab