Home Blog Page 40

Paus Fransiskus: Tuhan menyelamatkan kita dari konspirasi halus keduniawian

0
Sumber gambar: http://www.huffingtonpost.com/bruce-davis-phd/pope-francis-on-the-bridg_b_4689880.html

Mengambil inspirasi dari bacaan dalam Kitab Makabe, Paus Fransiskus memperingatkan umat beriman untuk menjadi perhatian dalam pencarian gaya hidup sekuler dan kesenangan – yang sering menyerang Gereja dan menerapkan aturan-aturan yang tidak adil terhadap umat Kristiani.

Mengacu pada bacaan pertama hari ini [18-11-2013], Paus berbicara tentang kutipan pendek yang menggambarkan upaya orang-orang Yahudi untuk mendapatkan kembali identitas budaya dan agama mereka setelah Antiokhus IV Epifanes telah menekan ketaatan hukum-hukum Yahudi dan menodai kuil itu setelah meyakinkan umat Allah untuk meninggalkan tradisi-tradisi mereka.

Tuhan, Paus berdoa, berikan aku kearifan (discernment) untuk mengenali konspirasi halus keduniawian yang menghantar kita kepada negosiasi nilai-nilai kita dan iman kita.

Dalam homilinya, Paus Fransiskus memperingatkan para umat beriman terhadap apa yang dia sebut sebagai sebuah “keseragaman yang diglobalisasikan” yang merupakan hasil dari keduniawian sekuler.

Seringkali ia mengatakan, umat Allah lebih memilih untuk menjauhkan diri dari Tuhan mendukung proposal-proposal duniawi. Dia mengatakan keduniawian adalah akar kejahatan dan dapat mengarahkan kita untuk meninggalkan tradisi-tradisi kita dan menegosiasikan kesetiaan kita kepada Allah yang selalu setia. Ini – Paus menasihati – disebut murtad (pengingkaran), yang menurutnya merupakan bentuk “penyelewengan (perselingkuhan)” yang terjadi ketika kita menegosiasi esensi dari keberadaan kita itu: kesetiaan kepada Tuhan.
Dan Paus Fransiskus memperingatkan bahwa hal ini terjadi saat ini. Tergerak oleh semangat keduniawian, orang-orang menegosiasikan kesetiaan mereka kepada Tuhan, mereka menegosiasikan identitas mereka, dan mereka menegosiasikan persekutuan sanak keluarga mereka yang Allah kasihi.

Dan dia berbicara tentang kontradiksi yang melekat pada kenyataan bahwa kita tidak siap untuk menegosiasikan nilai-nilai, tetapi kita menegosiasikan loyalitas. Sikap ini – katanya – “adalah buah iblis yang membuat jalannya ke depan dengan semangat keduniawian sekuler”.
Dan merujuk lagi kepada kutipan pendek dalam Kitab Makabe, di mana semua bangsa mematuhi keputusan raja dan mengadopsi adat kebiasaan asing dengan budaya mereka, Paus menunjukkan bahwa ini “adalah bukan sebuah globalisasi yang indah, persatuan dari semua bangsa, masing-masing dengan adat kebiasaan-kebiasaan mereka sendiri tetapi dipersatukan, tetapi keseragaman globalisasi hegemonik, itu adalah – katanya – pikiran tunggal: hasil dari keduniawian sekuler ”

Dan dengan mengacu pada sebuah novel abad ke-20 “Lord of the World” [Tuhannya Dunia] yang berfokus pada semangat keduniawian yang mengarah ke kemurtadan, Paus Fransiskus memperingatkan terhadap keinginan untuk “menjadi seperti orang lain” dan apa yang disebutnya sebuah”peremajaan progresivisme”. “Bagaimana menurut kalian?” – katanya pahit – “bahwa saat ini pengorbanan-pengorbanan manusia tidak dibuat? Banyak, banyak orang membuat pengorbanan-pengorbanan manusia dan ada hukum-hukum yang melindungi mereka”.
Apa yang menghibur kita – ia menyimpulkan – adalah bahwa Tuhan tidak pernah menyangkal Diri-Nya kepada kesetiaan-Nya. “Dia menunggu kita, Dia mengasihi kita, Dia mengampuni kita. Mari kita berdoa semoga kesetiaan-Nya dapat menyelamatkan kita dari roh duniawi yang menegosiasikan semuanya. Mari kita berdoa semoga Dia melindungi kita dan memungkinkan kita untuk maju, menuntun kita dengan tangan-Nya, seperti seorang ayah dengan anaknya. Dengan memegang tangan Tuhan kita akan selamat”.

(AR)

Paus Fransiskus,
Domus Sanctae Marthae, 18 November 2013

Diterjemahkan dari: www.news.va

Paus Fransiskus : Semangat keingintahuan menjauhkan orang dari Allah

0
Sumber gambar: http://www.huffingtonpost.com/bruce-davis-phd/pope-francis-on-the-bridg_b_4689880.html

Semangat keingintahuan menimbulkan kebingungan dan menjauhkan sebuah pribadi dari Roh kebijaksanaan, yang membawa damai, kata Paus Fransiskus dalam homilinya saat Misa Kamis pagi [14-11-2013] di Casa Santa Marta.

Paus memulai homilinya dengan mengulas tentang bacaan pertama dari Kitab Kebijaksanaan, yang menggambarkan “keadaan jiwa dari pria dan wanita yang rohani”, dari umat Kristiani sejati, yang hidup “dalam kebijaksanaan Roh Kudus. Dan kebijaksanaan ini membawa mereka maju dengan Roh yang cerdas, suci, tunggal, beraneka ragam dan halus ini”.

“Hal ini merupakan peziarahan dalam hidup dengan Roh ini: Roh Allah, yang membantu kita untuk menilai, untuk membuat keputusan-keputusan sesuai dengan hati Allah. Dan Roh ini memberikan kita damai, selalu! Ini adalah Roh damai, Roh kasih, Roh persaudaraan. Dan kekudusan adalah hal ini tepatnya. Hal yang Allah minta dari Abraham-‘Berjalan di hadapan-Ku dan jadilah tak tercela’-adalah hal ini: damai ini. Mengikuti pergerakan Roh Allah dan [Roh] Kebijaksanaan ini. Dan pria dan wanita yang menjalani jalur ini, kita dapat katakan mereka adalah para pria dan wanita bijaksana … karena mereka mengikuti pergerakan kesabaran Allah.”

Dalam Injil, Paus menggarisbawahi, “kita menemukan diri kita di hadapan roh yang lain, yang bertentangan dengan kebijaksanaan Allah: [yaitu] semangat keingintahuan”.

“Dan ketika kita ingin menjadi para master dari proyek-proyek Allah, dari masa depan, dari benda-benda, untuk mengetahui segala sesuatu, untuk memiliki segalanya di tangan … orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus,” Kapankah Kerajaan Allah akan datang?’ [sekedar] ingin tahu! Mereka ingin tahu tanggalnya, harinya … Semangat keingintahuan memberikan kita jarak dari Roh kebijaksanaan karena semua yang menarik bagi kita adalah rincian-rincian, berita-berita, cerita-cerita kecil keseharian. Oh, bagaimana hal ini akan terjadi? Ini adalah [tentang] bagaimananya: hal itu adalah roh bagaimana! Dan semangat keingintahuan bukanlah sebuah roh yang baik. Ini adalah semangat yang mengacaukan, [semangat] pemberian jarak diri seseorang dari Allah, semangat berbicara terlalu banyak. Dan Yesus juga memberitahu kita sesuatu yang menarik: semangat keingintahuan ini, yang adalah duniawi, menuntun kita kepada kebingungan ”
Keingintahuan, Paus melanjutkan, mendorong kita untuk ingin merasa bahwa Tuhan ada di sini atau lebih tepatnya di sana, atau menuntun kita untuk berkata: “Tapi aku tahu seorang visioner [yang memiliki penglihatan], yang menerima surat-surat dari Bunda Maria, pesan-pesan dari Bunda Maria”. Dan Paus berkomentar: “Tapi, lihat, Bunda kita adalah Bunda semua orang! Dan dia mencintai semua dari kita. Dia bukanlah kepala kantor pos, yang mengirimkan pesan-pesan setiap hari.”

Semacam tanggapan-tanggapan terhadap situasi-situasi ini, ia menegaskan, “memberikan kita jarak dari Injil, dari Roh Kudus, dari kedamaian dan kebijaksanaan, dari kemuliaan Allah, dari keindahan Allah.”

“Yesus berkata bahwa Kerajaan Allah tidak datang dengan cara yang menarik perhatian: hal itu datang dengan kebijaksanaan.”
“Kerajaan Allah ada di antara kamu,” kata Yesus, dan itu adalah tindakan dari Roh Kudus ini, yang memberikan kita kebijaksanaan dan kedamaian. Kerajaan Allah tidak datang dalam (sebuah keadaan dari) kebingungan, sama seperti Allah tidak berbicara kepada nabi Elia dalam angin, dalam badai (tapi) Dia berbicara dalam tiupan sepoi-sepoi yang lembut, tiupan sepoi-sepoi kebijaksanaan.”

“Santa Teresa dari Kanak-kanak Yesus mengatakan bahwa dia harus selalu menghentikan dirinya di hadapan semangat keingintahuan itu,” katanya. “Ketika dia berbicara dengan saudari-saudari yang lain dan saudari ini sedang bercerita tentang keluarganya, tentang orang-orang, kadang-kadang subyeknya berubah, dan dia menjadi ingin tahu akhir dari cerita itu. Tapi dia merasa bahwa ini adalah bukan Roh Allah, karena itu adalah sebuah semangat yang mengacaukan, [semangat] keingintahuan.

“Kerajaan Allah ada di antara kita: jangan mencari hal-hal aneh, jangan mencari hal-hal baru dengan keingintahuan yang duniawi ini. Mari kita biarkan Roh Kudus untuk memimpin kita maju dalam kebijaksanaan itu, yang adalah seperti sebuah tiupan sepoi-sepoi yang lembut,” katanya. “Ini adalah Roh Kerajaan Allah, yang darinya Yesus tunjukkan. Maka jadilah itu.”

(AR)

Paus Fransiskus,
Domus Sanctae Marthae, 14 November 2013

Diterjemahkan dari: www.news.va

Paus Fransiskus: Korupsi adalah proses pembusukan yang tertutupi dari makam kuburan kesalahan yang ditutupi

0
Sumber gambar: http://www.huffingtonpost.com/bruce-davis-phd/pope-francis-on-the-bridg_b_4689880.html

Mereka yang tidak benar-benar bertobat dan hanya berpura-pura menjadi orang Kristen merusak Gereja. Ini adalah kata-kata Paus Fransiskus pada Misa Senin pagi [11-11-2013] di Santa Marta Vatikan.

Paus Fransiskus memfokuskan homilinya pada nasihat Tuhan untuk mengampuni saudara-saudara kita yang telah berdosa. Yesus, katanya, tidak pernah lelah memaafkan, dan demikian pula kita seharusnya. Seperti yang Injil katakan, jika saudara kita menganiaya kita tujuh kali dalam satu hari, dan bertobat setiap kali, kita harus memaafkannya.

Namun, Paus Fransiskus mengingatkan, ada perbedaan antara menjadi seorang pendosa dan seorang yang korup. Mereka yang berbuat dosa dan bertobat, yang meminta pengampunan, adalah rendah hati di hadapan Tuhan. Tetapi mereka yang terus berbuat dosa, sambil berpura-pura menjadi Kristen, menjalani sebuah kehidupan ganda, mereka korup. Seorang Kristen yang dermawan, Paus Fransiskus mengatakan, yang memberikan kepada Gereja dengan satu tangan, tapi mencuri dengan tangan yang lain dari negaranya, dari orang miskin, adalah tidak adil. Dan Yesus berkata: “Akan lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan dililitkan ke lehernya dan dia dibuang ke laut”. Hal ini karena, Paus menjelaskan, orang itu berdusta, dan “di mana ada tipu daya, yang pasti bukan Roh Allah”.

“Kita semua harus menyebut diri kita sendiri para pendosa”, Paus Fransiskus mengatakan, tetapi mereka yang korup tidak memahami kerendahan hati. Yesus menyebut mereka makam-makam yang dikapur putih (baca: kuburan kesalahan yang ditutupi): mereka tampil cantik, dari luar, tapi di dalam mereka penuh dengan tulang-tulang mati dan pembusukan. Dan seorang Kristen yang membanggakan tentang menjadi Kristen, tetapi tidak menjalani sebuah kehidupan Kristen, adalah korup.

Kita semua tahu orang-orang seperti itu, Paus Fransiskus katakan, dan mereka merusak Gereja karena mereka tidak hidup dalam semangat Injil, tetapi dalam semangat keduniawian. St Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma jelas mendesak mereka untuk tidak masuk ke dalam kerangka kerja itu, ke dalam mentalitas keduniawian, karena itu mengarah kepada kehidupan ganda ini.

Kehidupan korup adalah sebuah”pembusukan yang tertutupi”, kata Paus Fransiskus. Yesus tidak mengatakan bahwa orang-orang yang korup adalah para pendosa, tetapi Ia mengatakan mereka adalah orang-orang yang munafik. Mari kita minta Roh Kudus, Paus Fransiskus mengakhiri, akan rahmat untuk mengakui bahwa kita adalah para pendosa, tetapi tidak korup.

(AR)

Paus Fransiskus,
Domus Sanctae Marthae, 11 November 2013

Diterjemahkan dari: www.news.va

Paus Fransiskus: Gereja milik semua orang

1
Sumber gambar: http://www.huffingtonpost.com/bruce-davis-phd/pope-francis-on-the-bridg_b_4689880.html

Di hati Kristianitas itu adalah sebuah undangan ke pesta Tuhan. Itu merupakan pesan Paus Fransiskus pada Misa pagi ini [05-11-2013] di Casa Santa Marta. Paus mengatakan bahwa Gereja “tidak hanya untuk orang-orang baik;” undangan itu menjadi sebuah bagian yang menyangkut semua orang. Dan ia menambahkan bahwa, pada Hari Raya Tuhan kita harus “berpartisipasi penuh” dan dengan semua orang; kita tidak bisa memilih-milih. Umat Kristen, kata dia, tidak bisa puas dengan hanya berada di daftar tamu – yang tidak berpartisipasi sepenuhnya seperti tidak ikut serta.

Bacaan-bacaan hari ini, Paus katakan, [menunjukkan] identitas orang Kristen itu. Dia menekankan bahwa “pertama-tama dari semua, esensi orang Kristen itu adalah undangan: kita hanya menjadi umat Kristen jika kita diundang.” Ini adalah sebuah “undangan bebas” dari Allah untuk berpartisipasi. Kalian tidak dapat membayar untuk masuk ke dalam pesta itu, ia memperingatkan: “kalian diundang atau kalian tidak bisa masuk” Jika “dalam hati nurani kita,” katanya, “kita tidak memiliki kepastian diundang ini” maka “kita belum mengerti apa seorang Kristen itu”:

“Seorang Kristen adalah seorang yang diundang. Diundang untuk apa? Ke toko? Untuk berjalan-jalan? Tuhan ingin memberitahu kita sesuatu yang lebih: Kalian diundang untuk ikut serta dalam pesta itu, kepada sukacita karena diselamatkan, kepada sukacita karena ditebus, kepada sukacita karena berbagi hidup dengan Kristus. Ini adalah sukacita! Kalian dipanggil ke sebuah pesta! Pesta adalah sebuah pertemuan orang-orang yang bercakap-cakap, tertawa, merayakan, bahagia bersama-sama. Saya belum pernah melihat seorang pun berpesta sendirian. Itu akan membosankan, bukan? Membuka sebotol anggur… itu bukan pesta, itu sesuatu yang lain. Kalian harus berpesta dengan orang lain, dengan keluarga, dengan teman-teman, dengan orang-orang-orang yang telah diundang, karena aku diundang. Menjadi Kristen berarti persekutuan, persekutuan dalam tubuh ini, dalam orang-orang yang telah diundang ke pesta itu. Ini adalah persekutuan Kristiani”

Beralih ke Surat Kepada Jemaat di Roma, Paus kemudian menegaskan bahwa pesta ini adalah sebuah “pesta persatuan.” Dia menggarisbawahi kenyataannya bahwa semua [orang] diundang, “yang baik dan yang buruk.” Dan yang pertama yang diundang adalah yang terpinggirkan:

“Gereja bukan merupakan Gereja yang hanya untuk orang-orang baik. Apakah kita ingin menjelaskan siapa yang termasuk Gereja, pesta ini? Para pendosa. Semua dari kita para pendosa yang diundang. Pada poin ini ada sebuah komunitas yang memiliki karunia-karunia beragam: seseorang memiliki karunia bernubuat, karunia lainnya dalam pelayanan, seseorang yang mengajar … Kita semua memiliki kualitas-kualitas dan kekuatan-kekuatan. Tetapi masing-masing dari kita membawanya ke pesta sebuah hadiah bersama. Masing-masing dari kita dipanggil untuk berpartisipasi secara penuh dalam pesta itu. Eksistensi Kristiani tidak dapat dipahami tanpa partisipasi ini. “Aku pergi ke pesta itu, tapi aku tidak melampaui lebih jauh lagi, karena aku hanya ingin berada dengan tiga atau empat orang yang aku kenal … “Kalian tidak bisa melakukan ini dalam Gereja! Kalian berpartisipasi secara penuh atau kalian tetap berada di luar. Kalian tidak dapat memilih-milih: Gereja adalah untuk semua orang, dimulai dengan yang saya sudah sebutkan, [yaitu] yang paling terpinggirkan. Ini adalah Gereja semua orang! “

Berbicara tentang perumpamaan di mana Yesus mengatakan beberapa [orang] yang diundang mulai berdalih [mencari-cari alasan], Paus Fransiskus berkata: ” Mereka tidak menerima undangan itu! Mereka mengatakan ‘ya’, tapi tindakan mereka mengatakan ‘tidak.’” Orang-orang ini, katanya, “adalah umat Kristen yang puas untuk berada di daftar tamu itu … Orang-orang Kristen pilihan”. Tapi, ia memperingatkan, hal ini tidak cukup, karena jika kalian tidak berpartisipasi kalian bukan seorang Kristen. “Kalian berada dalam daftar,” katanya, tapi ini tidak cukup untuk keselamatan! Ini adalah Gereja: mengambil bagian dalam Gereja adalah sebuah rahmat; mengambil bagian dalam Gereja adalah sebuah undangan.” Dan hak ini, lanjutnya, tidak bisa dibeli … “Mengambil bagian dalam Gereja,” tambahnya,” adalah menjadi bagian dari sebuah komunitas, komunitas Gereja. Mengambil bagian dalam Gereja adalah untuk berpartisipasi dalam semua kebajikan-kebajikan, kualitas-kualitas yang Tuhan telah berikan kepada kita dalam pelayanan kita dari satu orang untuk yang lain.” Paus Fransiskus melanjutkan, “Mengambil bagian dalam Gereja berarti menjadi bertanggung jawab untuk hal-hal yang Tuhan minta dari kita” Pada akhirnya, ia berkata, “mengambil bagian dalam Gereja adalah mengambil bagian dalam Umat Allah ini, dalam perjalanannya menuju keabadian.” Tidak seorang pun, dia peringatkan, adalah protagonis Gereja: … tapi kita punya SATU,” yang telah melakukan segalanya. Allah “adalah protagonis itu! “Kita adalah pengikut-pengikut-Nya … dan “dia yang tidak mengikutiNya adalah seorang yang mencari-cari alasan dirinya” dan tidak pergi ke pesta itu:

Tuhan sangat murah hati. Tuhan membuka semua pintu. Tuhan juga mengerti mereka yang berkata kepadaNya, “Tidak, Tuhan, aku tidak ingin datang kepadaMu.’ Ia mengerti dan menunggu mereka, karena Ia penuh belas kasihan. Tetapi Tuhan tidak suka mereka yang berkata ‘ya’ namun melakukan yang sebaliknya; yang berpura-pura berterima kasih untuk semua hal yang baik; yang memiliki perilaku yang baik, tapi pergi dengan cara mereka sendiri dan tidak mengikuti jalan Tuhan: mereka yang selalu berdalih [mencari-cari alasan] sendiri, mereka yang tidak tahu sukacita, yang tidak mengalami sukacita dari persekutuan. Mari kita mohon kepada Tuhan atas rahmat pengertian ini: betapa indahnya diundang ke pesta, betapa indahnya untuk mengambil bagian di dalamnya dan berbagi kualitas-kualitas seseorang, betapa indahnya untuk bersamaNya dan betapa salahnya untuk bimbang antara ‘ya’ dan ‘tidak,’ mengatakan ‘ya’, tapi terpuaskan hanya dengan menjadi seorang Kristen pada nama saja.

(AR)

Paus Fransiskus,
Domus Sanctae Marthae, 5 November 2013

Diterjemahkan dari: www.news.va

Kesetiaan dalam hal-hal kecil

0
Sumber gambar: http://allart.biz/photos/image/vasily_nesterenko_51_miraculous_multiplication_of_loaves.html

[Hari Minggu Biasa ke XVII: 2Raj 4:42-44; Mzm 145: 10-18; Ef 4:1-6; Yoh 6:1-15]

Injil Minggu ini mengisahkan salah satu mukjizat Tuhan Yesus yang terbesar, yaitu mukjizat pergandaan roti. Tentulah mukjizat ini sangat membekas di hati para Rasul dan para murid mereka, sehingga kisah ini kemudian ditulis dalam ke-empat Injil.  Yaitu bagaimana Tuhan Yesus dapat memberi makan lima ribu orang laki-laki—belum termasuk para wanita dan anak-anak—dengan lima roti dan dua ikan. Tentulah hal ini sangat lah luar biasa, dan bahkan melampaui akal kita, maka sejumlah komentator modern menduga bahwa yang terjadi adalah Yesus hanya mengumpulkan orang-orang untuk saling berbagi bekal yang mereka bawa sendiri-sendiri. Suatu interpretasi yang tidak didasari atas apa yang tertulis dalam teks, dan bahkan dapat dikatakan tidak masuk akal; karena kalau hanya saling berbagi sendiri, tentulah hal itu bukan mukjizat yang besar, dan orang-orang itu tidak akan datang kepada Yesus untuk menjadikan Dia sebagai raja secara paksa (lih. Yoh 6:15). Lagipula, kalau kita memaknai bahwa mukjizat pergandaan roti dilakukan Yesus untuk mempersiapkan orang banyak terhadap pengajaran-Nya tentang Roti Hidup, maka mukjizat pergandaan roti itu tentulah diberikan oleh Kristus, dan bukan oleh manusia itu sendiri. Bukankah kemudian Kristus berkata, “Kamu mencari Aku… karena kamu telah makan roti itu dan menjadi kenyang…. Bekerjalah … untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia” (Yoh 6:26-27).

Namun selain merenungkan makna mukjizat itu sendiri, mari kita perhatikan perkataan Tuhan Yesus setelah melakukan mukjizat tersebut. “Kumpulkanlah potongan-potongan  yang lebih supaya tidak ada yang terbuang” (Yoh 6:12). Di sini Tuhan mengajarkan kita suatu keteraturan, kebersihan dan kesempurnaan dalam melakukan pekerjaan sampai tuntas. Artinya, Tuhan melihat dan menghargai hal-hal yang nampak sederhana. Permintaan-Nya agar para murid mengumpulkan sisa potongan roti, nampaknya memang kecil jika dibandingkan dengan mukjizat pergandaan roti. Namun makna perkataan tersebut tentu tidaklah kecil, sebab perkataan tersebut diucapkan oleh Tuhan sendiri, dan ditulis dalam Injil.

Bagaimana dengan kita? Mungkin kita cenderung mengabaikan hal-hal yang kecil dan sederhana dalam hidup kita. Padahal keseluruhan hidup kita terdiri dari berbagai hal yang nampaknya kecil dan sederhana—begitu biasa dan rutin. Injil hari ini mengingatkan kita untuk menaruh perhatian kepada hal-hal biasa tersebut. Contoh, menepati janji dan tepat waktu; memelihara dan tidak ceroboh menggunakan benda-benda di sekitar kita; bersikap ramah dan bersahabat; berdedikasi kepada pasangan, anak-anak dan sahabat-sahabat kita…. dan seterusnya. Bukankah ini merupakan hal-hal yang nampaknya kecil dan biasa-biasa saja? Tetapi Tuhan Yesus menghendaki kita tetap setia melaksanakannya. Kita diingatkan agar tidak terjebak rutinitas, namun untuk selalu melihat keseharian kita sebagai kesempatan untuk melaksanakan tugas kita dengan sebaik-baiknya, sampai tuntas. Dengan prinsip ini, semoga kita dapat melihat setiap perjumpaan dengan sesama, sebagai kesempatan yang membangun: memberi penghiburan, mendengarkan dengan perhatian meskipun yang sedang dibicarakan tidak menarik perhatian kita, menyapa orang yang paling tidak diperhatikan, mengucapkan terima kasih, dan memberi perhatian ataupun pertolongan tanpa diminta. Hal-hal ini dapat menyentuh hati orang-orang di sekitar kita, dan membuat mereka dikasihi dan dihargai. Bukankah firman Tuhan mengingatkan kita agar kita tidak melupakan hal-hal yang nampaknya kecil ini? “Siapa yang mengabaikan hal-hal kecil akan jatuh sedikit demi sedikit” (Sir 19:1, DRB).

Demikianlah, hal-hal kecil dapat berarti besar, jika kita melakukannya dengan sentuhan kasih. Tuhan mengingatkan kita tentang hal ini di Bacaan Kedua. “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu” (Ef 4:2). Jika kita bertanya, “Tuhan, siapakah orang yang Kau-inginkan agar kubantu hari ini?”, mungkin kita akan menemukan makna dalam hidup keseharian kita. Semoga kita memiliki kepekaan untuk memberi tempat duduk kepada orang yang lebih tua daripada kita, tersenyum saat melayani orang lain, mempersiapkan dan melakukan dengan sungguh-sungguh tugas yang menjadi tanggung jawab kita, dan seterusnya. Injil hari ini mengingatkan kita bahwa perbuatan tersebut yang nampak sangat biasa, jika dilakukan dengan kesetiaan dan kasih, dapat bernilai ilahi, karena sedikit demi sedikit memampukan kita untuk melihat Kristus dalam diri orang-orang yang kita jumpai. Dengan demikian, kita tidak membuang kesempatan-kesempatan yang diberikan Tuhan kepada kita untuk berbuat baik.
Tuhan Yesus, Engkau telah melakukan berbagai mukjizat yang besar. Kumohon, bantulah aku melanjutkannya dengan  perbuatan-perbuatan sederhana atas dasar kasih, yang dapat membawaku semakin dekat dengan Engkau. Amin.”

Beristirahat sebagaimana Tuhan menghendakinya

0

[Hari Minggu Biasa ke XVI:  Yer 23:1-6; Mzm 23:1-6; Ef 2:13-18; Mrk 6:30-34]

“Aduh capek banget rasanya badan ini…. Pengen tidur, tapi tugas belum selesai. Aduh… seandainya saja satu hari ini lebih dari 24 jam….” Jujur saja, sekali-kali keluhan macam ini muncul di hatiku. Tetapi aku agak lega mendengar Injil hari ini, sebab sepertinya pengalaman serupa juga dialami oleh para rasul dan bahkan oleh Kristus sendiri. “Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat…” (Mrk 6:31). Bisa dibayangkan betapa banyaknya orang yang mengelilingi Tuhan Yesus dan para rasul-Nya, entah mohon disembuhkan, ataupun sekedar ingin mendengarkan pengajaran mereka. Sampai mereka bahkan tidak sempat makan. Mungkin saja, dalam keadaan yang berbeda, kita semua pernah mengalami keadaan semacam ini. Sibuk dalam tugas-tugas kita sendiri, entah itu pekerjaan di kantor, tugas studi, pekerjaan di rumah, ataupun pelayanan gerejawi. Melalui semua kesibukan itu, sesungguhnya kita melakukan tugas pelayanan, sesuai dengan panggilan hidup kita masing-masing.  Jika kita merasa lelah, mari mengingat apa yang dikatakan Tuhan Yesus, “Marilah ke tempat yang sunyi, …. dan beristirahatlah” (Mrk 6:31). Artinya, beristirahat adalah sesuatu yang penting, sebab tanpa istirahat, badan kita menjadi lemah, atau malah sakit. Bukan itu saja, kurang istirahat dapat membuat kita menjadi kurang fokus, kurang sabar, dan lekas marah. Akibatnya orang-orang di sekitar kita dapat menjadi korban, entah itu suami, istri, anak-anak, teman sekelas, rekan se-kantor atau rekan se-pelayanan. Maka pesan Injil hari ini menjadi relevan bagi kita.

Masalahnya, kadang kita mencari tempat yang salah atau cara yang salah untuk beristirahat. Karena itu, setelah beristirahat, rasa segarnya tidak bertahan lama. Kita mesti jujur melihat bagaimana biasanya kita beristirahat. Apakah di tempat yang sunyi untuk menimba kekuatan dari Tuhan? Atau di tempat yang ramai untuk memuaskan diri dan mengikuti kesenangan daging? Beristirahat bersama dengan anggota keluarga atau teman-teman yang dapat membangun iman? Atau bersama orang-orang yang bahkan malah melemahkan iman kita? Injil hari ini mengajarkan kita cara yang terbaik untuk beristirahat. Yaitu, menyendiri bersama Tuhan, dan bersama dengan orang-orang yang dapat menguatkan kita untuk kembali melayani Tuhan. Supaya ketika kita kembali melakukan tugas-tugas kita, kita memperoleh kekuatan, kesegaran dan semangat yang baru yang bersumber dari Tuhan sendiri. Bukankah Mazmur mengatakan, “Tuhan adalah Gembalaku…. Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku….” (Mzm 23:1-2). Tuhan Yesus—yang pernah mengalami kelelahan seperti kita—pasti  memahami keadaan kita dan akan menolong kita. Sebab Ia berjanji, “Marilah kepadaku, kamu yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28). Kelegaan kita pertama-tama datang dari Tuhan, dan bukan dari siapa-siapa atau apa-apa yang lain. Karena itu, St. Agustinus mengatakan bahwa jika jiwa berpaling kepada cara-cara lain dan bukan kepada Tuhan, jiwa itu akan menemukan kepedihan, kesakitan  (Confession, 4,10,15). Sedikitnya, kepedihan karena telah menyingkirkan Tuhan, Sumber air hidup yang sejati. Bukankah kita memiliki begitu banyak contoh nyata dalam kehidupan yang menunjukkan hal ini? Banyak orang mencari istirahat di tempat yang salah, yang bukannya memberi kelegaan jiwa, tetapi malah mendatangkan resiko kebinasaan jiwa. Kecanduan obat, minuman keras, dugem, seks bebas ataupun pornografi, hanya sebagian contohnya. Terhadap hal ini kembali St. Agustinus mengatakan, “Apa maksudmu untuk bersusah-susah menjalani cara-cara yang menyakitkan itu? Tak ada istirahat di mana kamu mencarinya. Silakan terus mencari, tapi jangan di tempat di mana kamu  mencarinya. Kamu mencari hidup bahagia di tempat kematian… Sebab bagaimana dapat ditemukan kebahagiaan hidup, di tempat di mana bahkan tidak ada kehidupan?” (Confession, 4,12,18). Mungkin saja, istirahat kita tidak “se-ekstrim” contoh di atas. Bisa saja, istirahat kita hanyalah tidur, atau makan di rumah makan, nonton film, jalan-jalan ke mall, atau sekedar berkunjung ke rumah teman. Tapi pertanyaannya adalah, apakah istirahat semacam itu sudah cukup?

Oleh karena itu, sebenarnya hari libur atau istirahat bukanlah waktu yang dimaksudkan agar kita bersantai tidak melakukan apapun, asalkan badan merasa enak. Saat istirahat memang kita melepas kelelahan jasmani, namun sebenarnya kita pun perlu memberi perhatian kepada kelelahan rohani. Sebab pada dasarnya, istirahat merupakan waktu pemulihan, untuk menimba kekuatan, membentuk cita-cita, dan membuat rencana untuk menghadapi hari-hari selanjutnya. Dengan demikian, waktu istirahat adalah waktu untuk memperkaya jiwa, untuk memberi kesempatan kasih Allah berkarya di dalam kita, agar kita dapat menumbuhkan kembali devosi-devosi yang dapat menghantar kita kepada keeratan hubungan kasih dengan Tuhan. Dengan demikian kita mempunyai kekuatan untuk melakukan perbuatan-perbuatan kasih kepada sesama, baik yang paling sederhana sekalipun, maupun yang tersulit karena berlawanan dengan tendensi kita sebagai manusia. Contohnya, untuk tersenyum dan menyapa terlebih dahulu orang yang telah menyakiti hati kita, dan mendoakannya. Tanpa kekuatan yang dari Tuhan, tak mungkin kita dapat melakukan hal semacam ini. Namun dengan  kekuatan dari-Nya, tak ada yang mustahil.

Seberapapun pentingnya istirahat bagi kita, namun Injil hari ini juga mengingatkan satu hal yang lain. Yaitu agar kita tetap menempatkan kepentingan orang lain terlebih dahulu, di atas kepentingan kita untuk beristirahat. Sebab demikianlah yang dilakukan oleh Kristus dan para rasul-Nya, ketika melihat begitu banyaknya orang yang datang kepada mereka, karena mereka “seperti domba yang tidak mempunyai gembala” (Mrk 6:34). Hari itu baik Yesus maupun para murid-Nya tidak jadi beristirahat.  Mengikuti teladan Yesus, adakalanya kita pun harus menunda istirahat kita, demi melayani orang-orang yang membutuhkan perhatian dan pertolongan kita. Jika kita mengalami keadaan ini, marilah kita dengan siap sedia melakukannya. Mungkin saja ini merupakan kesempatan yang diberikan Tuhan untuk melatih agar kita tidak mengandalkan rencana kita sendiri, tetapi menyerahkan segalanya ke dalam rencana-Nya. Termasuk dalam hal kapan dan bagaimana caranya Tuhan akan menyegarkan kita.

Tuhan Yesus, Engkaulah Gembalaku. Aku tak akan berkekurangan. Kumohon, bimbinglah aku ke air yang tenang, dan segarkanlah jiwaku. Amin.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab