Home Blog Page 4

Mengaku dosa tapi tidak melakukan penitensi, apakah dosanya diampuni?

0

Ada yang bertanya, kalau saya sudah mengaku dosa, tapi tidak melakukan penitensi, apakah dosa saya diampuni?

Hi saya Stefanus Tay. Selamat datang di katolisitas.

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus tahu syarat agar suatu sakramen dapat disebut sah, yaitu: materi dan forma haruslah terpenuhi. Sebagai contoh, dalam Sakramen Baptis, materinya adalah air dan formanya adalah “Aku membaptis engkau…. [disebutkan namanya] dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus; serta disertai dengan intensi sebagaimana intensi Gereja untuk membaptis, yaitu untuk mendatangkan rahmat keselamatan kekal”. Nah dalam Sakramen Tobat, materinya bukanlah satu materi yang dapat kita sentuh dengan panca indera kita. Maka materinya disebut sebagai “quasi matter”, atau “seperti/ menyerupai materi”. Jadi, materi dalam sakramen Tobat adalah tindakan dari yang mengaku dosa, yang terdiri dari: penyesalan (contrition), pengakuan (confession) dan penitensi (satisfaction). Sedangkan formanya adalah perkataan imam yang bertindak sebagai Kristus, yaitu: “…. Aku mengampuni engkau…”

Penyesalan atau contrition berasal dari bahasa latin, contritio, yang artinya dihancurkan. Di Kitab Suci tertulis, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mzm 51:17) Jadi penyesalan yang baik, setidaknya harus disertai rasa benci akan dosa dan kesedihan jiwa (compunction of heart) karena telah berdosa dan gagal mengasihi Allah, serta niat yang teguh untuk tidak berbuat dosa lagi. Penyesalan ini, yang disebabkan oleh kesadaran telah menyedihkan hati Allah, dan yang diikuti niat untuk mengaku dosa dalam sakramen Tobat, disebut sesal sempurna. Sedangkan penyesalan yang dilatarbelakangi ketakutan akan hukuman Allah, disebut sesal yang tidak sempurna.

Tentu saja, hendaknya kita sungguh menyesali dosa-dosa kita, dan mengakui dosa-dosa tersebut di depan seorang imam dalam Sakramen Tobat. Lalu imam akan memberi nasehat dan penitensi. Nah, pertanyaannya: apakah kalau seseorang telah menyesal (walaupun tidak sempurna) dan telah mengakukan dosanya di depan imam, tetapi kemudian tidak melakukan penitensinya, apakah dosanya tetap diampuni? Jawaban singkatnya adalah: Ya dosanya diampuni walaupun tidak melakukan penitensi. Hal ini disebabkan karena pengampunan datang dari Tuhan dan bukan dari penitensi.

Pengakuan dan penyesalan atas dosa memberikan efek utama, yaitu penghapusan siksa dosa selamanya di neraka. Sedangkan, penitensi memberikan efek sekunder, yaitu penghapusan dari siksa dosa sementara entah sebagian atau seluruhnya, yang bisa terjadi di dunia ini dan atau di Api Penyucian. Sebagai analogi, pengakuan dan penyesalan disertai pengampunan yang diberikan imam, seperti mencabut panah dari tubuh seseorang. Kalau tidak dicabut akan menyebabkan kematian. Namun, walaupun sudah tercabut, bekas dan luka perlu disembuhkan. Nah, penyembuhannya adalah dengan melakukan penitensi.

Untuk memperjelas, pengakuan dan penyesalan dari peniten, yang kemudian diampuni dalam Sakramen Tobat, meluputkan orang itu dari hukuman kekal, walaupun orang tersebut tidak melakukan penitensi. Tetapi karena tidak melakukan penitensi, hukuman temporal akan tetap ditanggung, yang bisa terjadi di dunia ini atau kalau belum selesai, akan diselesaikan di Api Penyucian. Dan tambahan lagi, orang tersebut sebenarnya juga melakukan dosa yang baru, yaitu tidak melakukan penitensi yang diberikan oleh imam.

Namun, cara terbaik ketika kita berdosa adalah mempunyai penyesalan yang sempurna, mengakukan dosa di depan imam dengan jujur, dan melakukan penitensi yang diberikan imam dengan sungguh-sungguh sebagai tanda penyesalan dan pertobatan kita.

Bunda Maria tidak sakit ketika melahirkan Tuhan Yesus

0

Salah satu permenungan yang indah tentang Natal adalah misteri kelahiran Tuhan Yesus ketika mengambil rupa manusia. Kelahiran-Nya begitu agung, tanpa merusak keutuhan ibu-Nya, Bunda Maria. Bagaimana kita memahami hal ini? Mari kita bahas ya.

Hai! Salam Katolisitas! Saya Ingrid Tay.

Mungkin tidak begitu sulit bagi kita untuk menerima bahwa konsepsi Tuhan Yesus—ketika mengambil rupa manusia—tidak melibatkan campur tangan laki-laki. Artinya Bunda Maria tetap perawan ketika mengandung Kristus. Tetapi kemudian, mungkin orang bertanya-tanya, bagaimana mungkin Bunda Maria tetap perawan pada saat melahirkan Kristus? Sungguh, kebanyakan orang merasa sulit untuk menerima hal ini, karena menghubungkannya dengan apa yang umumnya terjadi pada manusia biasa. Kalau kita berpikir seperti ini, sebenarnya kita menganggap Tuhan Yesus dan Bunda Maria berdosa, karena proses kelahiran yang menimbulkan rasa sakit itu terjadi sebagai akibat dari dosa asal, sebagaimana tertulis di Kejadian 3:16. Padahal nyatanya baik Tuhan Yesus maupun Bunda Maria, tidak berdosa, maka keduanya tidak tunduk pada hukum kodrati ini. Kristus tidak berdosa tertulis dalam Ibr 4:15; 1Ptr 2:22. Dan karena Allah menghendaki bahwa Kristus harus tanpa noda dan terpisah dari orang-orang berdosa (Ibr 7:26), maka ibu yang mengandung dan melahirkan-Nya juga mesti tanpa noda dosa—dan karena itu, tidak mengalami sakit melahirkan yang merupakan konsekuensi dosa.

Lagipula, Bunda Maria yang melahirkan Kristus tanpa sakit juga merupakan penggenapan sempurna nubuat Nabi Yesaya,

“Sebelum menggeliat sakit, ia sudah bersalin, sebelum mengalami sakit beranak, ia sudah melahirkan anak laki-laki” (Yesaya 66:7).

Memang ayat ini, kalau dihubungkan dengan ayat ke 12, dapat diartikan sebagai kiasan pertobatan bangsa-bangsa, yang seolah-olah dilahirkan secara tiba-tiba oleh Jemaat Allah yang disebut juga Sion atau Yerusalem. Tetapi secara lebih penuh dan bukan lagi kiasan, ayat ini tergenapi dalam diri Kristus, yang memang kedatangan-Nya adalah untuk mempertobatkan semua orang, semua bangsa. Kristus dilahirkan ke dunia oleh seorang perempuan yaitu seorang Putri Sion, yang tidak mengalami sakit bersalin.

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan,

“Pendalaman iman akan keperawanan Bunda Maria membuat Gereja mengakui keperawanan Bunda Maria yang sejati dan kekal, bahkan dalam tindakan melahirkan Putra Allah yang menjadi manusia. Bahkan, kelahiran Kristus “tidak mengurangi keperawanan Bunda-Nya, tetapi menguduskannya.”…. (KGK 499).

St. Thomas Aquinas telah lebih dahulu menjelaskan tentang cara kelahiran Kristus (lih. Summa Theologica III, q. 35, a. 6). Mengutip St. Agustinus, ia berkata tentang Bunda Maria,

“Ketika mengandung, engkau murni, ketika melahirkan, engkau tidak merasakan sakit.”

Rasa sakit saat melahirkan disebabkan oleh bayi yang membuka jalan keluar dari rahim. Kristus keluar dari rahim Bunda-Nya yang tertutup, dan, karena itu, tanpa membuka jalan keluar. Akibatnya tidak ada rasa sakit saat melahirkan itu, karena tidak ada kerusakan; sebaliknya, ada banyak sukacita di dalamnya karena Allah yang menjadi manusia

“dilahirkan ke dunia”….

Rasa sakit saat melahirkan pada wanita juga terjadi karena akibat hubungan seksual. Karena itu di Kejadian 3:16, setelah kata-kata,

“dengan susah payah engkau akan melahirkan anak,”

ditambahkan:

“dan engkau akan berada di bawah kekuasaan suamimu.”

Akan tetapi…kita harus mengecualikan St. Perawan Maria; yang,

“karena ia mengandung Kristus tanpa pencemaran dosa, dan tanpa noda pergaulan seksual, maka ia melahirkan-Nya tanpa rasa sakit, tanpa melanggar keperawanannya, tanpa merusak kemurnian keperawanannya.”

Lagipula, dalam Lukas 2:7 dikatakan Bunda Maria sendirilah yang

“membungkus dengan lampin”

Anak yang telah dilahirkannya,

“dan membaringkannya di palungan.”

Akibatnya, narasi dalam kitab apokrif itu tidak benar. [Kitab Apokrif yang dimaksud kemungkinan adalah Protoevangelium of James] St. Hieronimus berkata (Adv. Helvid. iv): “Tidak ada bidan di sana… Ia [Sang Perawan Maria] adalah ibu sekaligus bidan.

“Ia membungkus Anak itu dengan lampin, dan membaringkannya di palungan.”

Selanjutnya St. Thomas mengajarkan (lih. Summa Theologica, III, q.28, a. 2),

“Tanpa ragu sedikit pun, kita harus menegaskan bahwa Bunda Kristus adalah perawan bahkan pada saat kelahiran Kristus: karena nabi Yesaya tidak hanya berkata: “Lihatlah, seorang perawan akan mengandung,” tetapi menambahkan: “dan akan melahirkan seorang anak laki-laki.” Jadi ini memang pantas karena tiga alasan.

Pertama, ini sesuai dengan sifat Kristus, sebagai Sang Firman/ Perkataan Allah. Karena perkataan tidak hanya dikandung dalam pikiran tanpa kerusakan, tetapi juga keluar dari pikiran tanpa kerusakan. Oleh karena itu, untuk menunjukkan bahwa tubuh itu—maksudnya tubuh yang dilahirkan itu—adalah tubuh Firman Allah sendiri, sudah sepantasnya tubuh itu dilahirkan oleh perawan yang tidak rusak. Oleh karena itu, dalam khotbah Konsili Efesus… dikatakan:

“Barangsiapa melahirkan daging belaka, tidak lagi menjadi perawan. Tetapi karena ia melahirkan Firman yang menjadi daging, Allah menjaga keperawanannya untuk menyatakan Firman-Nya. Karena melalui Sang Firman itu, Allah menyatakan diri-Nya sendiri. Karena sama seperti perkataan kita, ketika dilahirkan/ dikeluarkan, tidak merusak pikiran; maka Tuhan, Sang Perkataan Firman yang hakiki, yang berkenan dilahirkan, tidak menghancurkan keperawanan.”

Kedua, ini sesuai dengan dampak dari Inkarnasi Kristus: karena Kristus datang untuk tujuan menghapuskan kerusakan kita, maka tidaklah tepat kalau dalam Kelahiran-Nya Ia merusak keperawanan Ibu-Nya. St. Agustinus berkata:

“Tidaklah benar bahwa Ia [Kristus] yang datang untuk menyembuhkan kerusakan, dengan kedatangan-Nya melanggar keutuhan.”

Ketiga, sudah sepantasnya bahwa Ia yang memerintahkan kita untuk menghormati ayah dan ibu kita, tidak boleh dalam Kelahiran-Nya mengurangi penghormatan yang seharusnya diberikan kepada Ibu-Nya.

Semoga kita punya sikap batin sebagaimana dimiliki oleh para Bapa Gereja, yang merenungkan misteri kelahiran Kristus Sang Sabda Allah dengan sikap khidmat dan hormat. Semoga Tuhan Yesus memberikan rahmat-Nya kepada kita agar kita dapat dibawa masuk ke dalam misteri ilahi yang demikian luas tak terbatas, yang sempurna tanpa cacat cela, termasuk yang berkenaan dengan kelahiran-Nya ke dunia. Sebab Yesus Kristus Penyelamat kita, adalah Allah yang sempurna dan kudus, dan kesempurnaan ini sampai kepada perwujudannya dalam proses perkandunganNya, kelahiran-Nya, dan seterusnya, sampai akhir hidup-Nya di dunia.

Selamat merayakan Natal, teman-teman semuanya. Semoga terang Kristus yang menyinari dunia, menyinari pikiran dan hati kita untuk menerima dengan rasa syukur misteri kelahiran Kristus di tengah kita, yang begitu agung dan sempurna. Terpujilah Kristus!

Belajar Mengaku Dosa Dari Santa Faustina

0

Ada pertanyaan, mengapa pertobatan itu penting dan bagaimana mewujudkannya? Mari kita belajar dari St. Faustina tentang hal ini

Hai, Salam Katolisitas!

Saya Ingrid Tay. Pertobatan itu penting, karena dengan pertobatan itulah dosa-dosa kita diampuni Tuhan. Pengampunan itu sendiri merupakan bukti nyata akan belas kasih Tuhan. Nah, maka pertobatan berkaitan erat dengan Kerahiman Allah karena Tuhan Yesus berkata, kalau kita bertobat, kita akan mengalami mukjizat kerahiman ilahi-Nya secara sepenuhnya. Pertobatan yang dimaksud adalah penyesalan yang sungguh atas dosa-dosa kita, dan permohonan agar Tuhan mengampuni kita. Ini secara khusus diwujudkan dalam penerimaan sakramen Baptis, dan setelah Baptisan, melalui penerimaan sakramen Tobat. 

Kata Yesus kepada St. Faustina,“Tulislah, berbicaralah tentang kerahiman-Ku. Tunjukkanlah kepada jiwa-jiwa di mana mereka harus mencari penghiburan; yakni dalam Sidang Kerahiman [yaitu Sakramen Tobat]. Di sana mukjizat yang terbesar terjadi, [dan] tak henti-hentinya diulangi. Untuk mengalami sendiri mukjizat ini, tidak perlu orang pergi menempuh perjalanan ziarah yang jauh atau melaksanakan sejumlah upacara lahiriah; cukuplah ia datang ke kaki wakil-Ku dan dengan penuh iman mengungkapkan kepapaannya [yaitu dosa-dosanya]; maka mukjizat Kerahiman Ilahi pun akan tampak sepenuhnya. 

Meskipun suatu jiwa tampaknya sudah seperti mayat yang membusuk sehingga dari sudut pandang manusia tidak ada [harapan untuk] pemulihan … tidaklah demikian dengan Allah. Mukjizat kerahiman Ilahi sepenuhnya memulihkan jiwa itu. Oh, betapa memprihatinkan mereka yang tidak memanfaatkan mukjizat kerahiman Allah ini! Kalian akan berteriak dengan sia-sia, tetapi semua itu sudah terlambat.” (BHSF 1448)

Teman-teman terkasih, Dari perkataan ini, kita tahu bahwa Tuhan Yesus menghendaki kita mengalami mukjizat kerahiman-Nya dalam sakramen Tobat. Jangan sampai, kita—seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus—-termasuk dalam golongan orang-orang yang tidak memanfaatkan mukjizat Kerahiman Ilahi-Nya, sehingga kelak akan menyesal karena segalanya sudah terlambat. Tuhan Yesus mau agar kita datang kepada para wakil-Nya—yaitu para imam—untuk mengakukan dosa-dosa kita, dengan penuh kerendahan hati. Kalau kita memiliki sikap tobat seperti ini, maka bahkan andaikan kita memiliki dosa yang paling berat sekalipun, kita akan menerima pengampunan Allah. 

Sebab Tuhan Yesus bermaksud menguduskan kita melalui pertobatan kita. Rahmat pengampunan-Nya akan dapat membantu kita bertumbuh dalam kasih, yang membuat kita bisa menjadi alat belas kasih Tuhan bagi orang lain.

Santa Faustina memberikan tiga sikap utama untuk mengaku dosa dengan baik. Yang pertama: Ketulusan dan keterbukaan penuh. Tanpa ketulusan dan hati yang terbuka untuk mengakui dosa-dosa kita, seseorang tidak dapat bertumbuh secara rohani. Tuhan Yesus sendiri tidak akan memberikan diri-Nya pada tingkat yang lebih tinggi, kepada jiwa yang seperti ini. 

Yang kedua adalah kerendahan hati. Jiwa yang sombong tidak akan dapat memetik manfaat dari sakramen Tobat. Jiwa itu tidak tahu dan tidak ingin memeriksa dengan cermat dosa-dosa dan kesalahannya. 

Ketiga, ketaatan. Jiwa yang tidak taat tidak akan memperoleh kemenangan, bahkan kalau Tuhan Yesus sendiri secara pribadi yang mendengarkan pengakuan dosanya. Jiwa yang tidak taat, juga tidak akan memperoleh kemajuan dalam kehidupan rohani (lih. BHSF 113). 

Artinya apa?

1) Saat mengaku dosa, kita harus terbuka, dan tidak menyembunyikan dosa kita;

2) Kita harus rendah hati mengakui kesalahan kita, dan tidak menyalahkan orang lain atau keadaan.

3) Kita juga taat melakukan nasihat dan penitensi yang diberikan oleh imam, yang di dalam sakramen, bertindak sebagai Kristus sendiri.

Selanjutnya, St. Faustina memberikan semacam tips untuk mengaku dosa, sebagaimana yang dilakukannya sendiri. Katanya:

“Aku akan memilih apa yang paling sulit diakui dan paling merendahkan diriku. Kadang-kadang sesuatu yang sepele lebih sulit diakui daripada sesuatu yang besar. Dalam setiap pengakuan dosa, aku akan mengingat-ingat Sengsara Yesus untuk membangkitkan penyesalan dalam hatiku. Aku akan selalu mengupayakan sesal sempurna, dan meluangkan lebih banyak waktu untuk penyesalan ini. Sebelum masuk ke kamar pengakuan, aku akan lebih dahulu masuk ke dalam Hati Juru Selamat yang terbuka dan maharahim. Ketika meninggalkan kamar pengakuan, aku akan membangkitkan dalam jiwaku rasa syukur yang mendalam kepada Allah Tritunggal yang mahakudus atas mukjizat kerahiman yang mengagumkan dan tak terselami yang terjadi dalam jiwaku….” (BHSF 225)

Jadi tahapannya adalah:

  1. Sebelum masuk ke dalam kamar pengakuan dosa, kita renungkan sengsara Kristus dan kasih-Nya yang begitu besar kepada kita, sampai Ia rela menyerahkan nyawa-Nya demi menebus dosa-dosa kita, termasuk dosa-dosa yang sebentar lagi akan kita akui. Kita renungkan ini dengan sungguh-sungguh dan tidak terburu-buru. Kita dapat memandang Salib Kristus… Di sanalah Ia tergantung demi menebus dosa-dosa kita. Semoga permenungan ini menambah rasa sesal kita akan segala dosa kita hingga kita punya sesal sempurna. Dengan penyesalan ini, kita masuk ke dalam Hati Yesus yang Mahakudus dan berlindung dalam naungan sinar kerahiman-Nya.
  2. Pada saat mengaku dosa dalam sakramen Tobat, kita mengakui dosa-dosa kita dengan tulus dan rendah hati, mulai dari dosa-dosa yang paling memalukan. Kita dengarkan nasihat imam dengan penuh perhatian, sebab Kristus sendiri yang berbicara kepada kita melalui dia.
  3. Setelah menerima absolusi, kita bersyukur kepada Allah atas kerahiman-Nya yang baru saja kita terima.
  4. Kita pun taat melakukan nasihat dan penitensinya, serta berusaha agar tidak jatuh dalam dosa yang sama.
  5. Selanjutnya, kita wartakan kerahimanNya kepada orang-orang di sekitar kita. 

Semoga dengan demikian, pengakuan dosa yang kita lakukan berkenan kepada Allah dan mendatangkan buahnya, yaitu kita dibawa semakin dekat dengan Kristus dan semakin siap menyambut kedatangan-Nya. 

Teman-teman, yuk kita ikuti tahapan ini dan jangan ragu untuk bertobat dan menerima sakramen Tobat.

Kenapa perlu mengaku dosa melalui imam dalam Sakramen Tobat?

0

Hai, salam Katolisitas! Aku Stefani

Pernah ga sih temen-temen bertanya-tanya, kenapa ya umat Katolik perlu mengaku dosa di hadapan imam? Kenapa ga langsung aja ke Tuhan? Kan semua imam itu manusia biasa aja sama kaya kita, yang sangat bisa berdosa juga? Nah pertanyaan ini sering aku denger nih. Kita bahas sama-sama yuk! Kenapa sih perlu mengaku dosa melalui imam dalam Sakramen Tobat?

Pertama-tama, yang perlu kita tau adalah bahwa mengaku dosa di hadapan imam itu beda sama ngaku dosa di hadapan manusia lainnya, yang bukan imam. Karena kuasa pengampunan dosa yang ada pada para imam itu asalnya dari Tuhan Yesus sendiri. Kita tau dari mana sih? Karena dalam Mat 18:18 dan Yohanes 20:23, Tuhan Yesus memberikan kuasa mengikat dan melepaskan dan kuasa mengampuni dosa hanya kepada para rasulNya. Dan para rasul ini kemudian meneruskan kuasa mengampuni dosa ke para penerus mereka setelahnya. Jadi kuasa mengikat dan melepaskan, kuasa mengampuni dosa, cuma dimiliki oleh orang-orang yang nerima penerusan kuasa dari para rasul Kristus, yaitu mereka yang ditahbiskan menjadi imam.

Prinsip perlunya perantaraan imam buat memohon penghapusan dosa ke Tuhan ini pun sebenernya udah diterapin dari sejak jaman Perjanjian Lama. Peristiwa di Perjanjian Lama ini penting dan relevan dengan keadaan sekarang ini, karena apa yang terjadi di Perjanjian Lama itu adalah gambaran dari peristiwa-peristiwa Perjanjian Baru dimana pas Perjanjian Baru, gambaran-gambaran itu digenapi oleh Kristus, termasuk juga salah satunya yaa prinsip perantaran imam ini. Penggenapan oleh Kristus ini artinya bukan menerapkannya sama persis dengan apa yang di Perjanjian Lama, tetapi menerapkannya menurut apa yang dikehendaki dan dinyatakan oleh Kristus.

Waktu Yesus nyembuhin 10 orang penyakit kusta, dalam Luk 17:12-14, Yesus menyuruh mereka buat menunjukkan diri ke imam yang menyatakan kalo orang yang tadinya sakit kusta ini udah sembuh. Karena Kristus datang ke dunia bukan buat membatalkan apa yang diatur dalam hukum Perjanjian Lama, melainkan buat menggenapinya, makanya prinsip perantaraan imam buat menyatakan seseorang udah tahir atau udah terlepas dari dosanya ini, juga tetep berlaku, yaitu dengan memberikan kuasa ini ke para rasulNya.

Selain itu, dalam Perjanjian Lama juga udah ada perbedaan antara peran imamat bersama dan imamat jabatan. Allah memilih bangsa Israel sebagai kerajaan imam, dikatakan dalam Kel 19:5-6, tapi di tengah bangsa itu, Allah secara khusus memilih suku Lewi buat menjadi imamNya, buat ngejalanin tugas mempersembahkan kurban. Penugasan khusus suku Lewi ini dinyatakan dalam Bil 3:5-13 dan Yos 18:17. Dalam Perjanjian Baru, penggenapan imamat bersama dituliskan dalam surat Rasul Petrus, yaitu bahwa umat beriman menjadi “batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus” dalam 1Ptr 2:5, dan sebagai “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri” dalam 1Ptr 2:9.

Sedangkan penggenapan imamat jabatan dinyatakan oleh Rasul Paulus dalam suratnya pada jemaat di Korintus, bahwa pelayanan pendamaian telah dipercayakan kepada para rasul (2Kor 5:18). Dan diajarin juga oleh Rasul Yakobus dalam suratnya (Yak 5:14-15) bahwa para penatua saat itu dipercaya buat mendoakan orang sakit, dan juga mengampuni dosa orang tersebut.

Dengan landasan biblis ini, sebenernya udah bisa dipahami betapa pentingnya Sakramen Tobat bagi kehidupan rohani kita. Sakramen Tobat adalah salah satu sakramen yang Tuhan Yesus sendiri ciptain, demi kepentingan kita. Karena kita masih manusia yang punya badan, bukan cuma jiwa doang, jadi walaupun kita bisa mengakui dosa-dosa kita dalam doa pribadi, Tuhan mau ngasih kepastian buat kita, bahwa kita udah bener-bener dilepasin dari belenggu dosa kita.

Aku sendiri ngerasain betapa berartinya Sakramen Tobat buatku, karena seringkali walaupun udah minta ampun dalam hatiku, tetep aja kadang rasanya masih ngeganjel gitu, seolah aku cuma say sorry aja tapi belom denger tanggapan dari Tuhan. Tapi begitu ke Sakramen Tobat dan mengakui dosaku di hadapan imam sebagai wakil dari kehadiran Tuhan dalam sakramen itu, dan begitu imam melepaskan dosaku dengan absolusi, rasanya langsung bener-bener plong, karena ada konfirmasi bahwa Tuhan udah bener-bener ngampunin dosaku. Imam juga menjadi wakil dari Gereja atau sesama kita yang mungkin udah kita lukai dengan dosa-dosa kita, maka absolusi itu memulihkan hubungan kita dengan Tuhan, Gereja dan sesama.

Jadi setelah menyadari betapa indahnya Sakramen Tobat yang udah Tuhan sendiri kasih buat kita, jangan sungkan lagi buat dateng ke Sakramen Tobat ya temen-temen! Karena Tuhan pun selalu mau memeluk anak-anakNya yang mau kembali ke Tuhan, seperti bapa dalam kisah Anak yang Hilang, yang menyambut kembali kedatangan anak bungsunya, dengan penuh sukacita.

Bagaimana cara mempersiapkan diri untuk mengikuti Ekaristi dengan baik?

0

Hai, salam Katolisitas! Aku Stefani

Di video sebelumnya tentang kenapa Ekaristi itu penting buat hidup kita sebagai murid Kristus, kita sama-sama bahas kalo Ekaristi itu ngasih ke kita buah-buah rahmat yang sangat baik buat hidup kita, terutama kalo kita mempersiapkan diri dengan baik sebelom mengikuti Ekaristi. Di video ini kita bakal bahas nih, cara persiapan yang baik supaya kita siap mengikuti Ekaristi dan bisa menerima buah-buah Ekaristi dengan lebih maksimal.

Pertama-tama, sebelom mengikuti Ekaristi, kita mesti memeriksa batin kita dan kalo misalnya ada dosa berat, kita mengakui dosa itu di hadapan Tuhan dan menetapkan hati buat mengaku dosa dalam Sakramen Tobat, kalo memungkinkan sebelom misa, tapi kalo ga memungkinkan, bisa dilakuin secepatnya dalam hari-hari berikutnya. Pengakuan dosa ini penting karena kita mau kasih tempat yang terbaik buat kita menerima Tuhan sendiri dalam diri kita.

Terus yang kedua, kita bisa membaca dan merenungkan bacaan Misa Kudus sebelom dateng Misanya, terus kita ambil satu ayat yang menyentuh hati kita buat kita resapi dan kita hayati.

Selain itu yang ketiga, kita juga bisa nyiapin diri untuk menyambut Tuhan Yesus dalam Ekaristi. Persiapan ini ada dua macem. Yang pertama, persiapan jasmani, misalnya dengan berpakaian yang rapi, siapin uang persembahan atau kolekte, dan ga makan dan minum selama 1 jam sebelom terima Komuni. Kedua, persiapan rohani, yaitu kita nyiapin hati kita, misalnya, sebelom mulai misa kita doa rosario dulu. Jadi sebaiknya, jangan mepet mepet dateng misanya.

Dan terakhir, kita juga mempersiapkan kurban rohani buat kita persembahin kepada Tuhan dalam perayaan Ekaristi. Jadi kita dateng misa tuh bukan cuma kaya nonton doang ngang ngong planga plongo gitu, tapi bener-bener terlibat dalam setiap bagian Ekaristi, termasuk juga ikut nyanyi dan menjawab waktu bagian umat menjawab. Nah yang penting buat kita sama-sama tau, Kristus bukan cuma hadir pas Komuni aja, tapi dalam keseluruhan misa, dari awal sampe akhir, dari lagu pembuka sampe lagu penutup tuh Kristus sungguh hadir. Jadi ga boleh tuh cuma dateng pas Komuni aja, sampe makan pulang, jangan begitu ya temen-temen!

Setelah kita mengetahui tentang begitu istimewanya Ekaristi dalam hidup kita, yuk kita lebih setia lagi buat mengikuti Ekaristi setiap minggu, atau bahkan kalo bisa ya setiap hari. Supaya rahmat dari Ekaristi yang kita terima, bisa sungguh-sungguh nguatin kita dalam bertahan hidup di dunia ini. Sampe ketemu lagi di video lainnya ya teman-teman. Terima kasih dan Tuhan memberkati, babaaii

6 Kesalahpahaman infalibilitas Paus

0

Paus khan manusia, mengapa Gereja Katolik mengajarkan bahwa Paus infalibel (tidak dapat sesat)? Bukankah ini tidak sesuai dengan Kitab Suci yang mengatakan bahwa semua manusia telah berdosa? Ingin tahu jawabannya?

Hi, saya Stefanus Tay selamat datang di katolisitas. Ada begitu banyak kesalahpahaman akan topik pengajaran tentang infalibilitas Paus. Kebanyakan kesalahpahaman ini muncul karena, kata infalibilitas (infallibility) dikacaukan dengan kata impekalibitas (impeccability) yang artinya tidak dapat berdosa. Tentu saja ini keliru. Sebab infalibilitas bukan berarti tidak berdosa. infalibilitas juga bukan hanya karisma yang melekat pada Paus, tetapi juga pada persekutuan para uskup ketika bersama-sama dengan Paus, menyatakan suatu pengajaran sebagai kebenaran. Karisma ini dasarnya adalah sabda Yesus sendiri, yang menjanjikannya kepada para murid dan penerus mereka,

“Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku.” (Luk 10:16).

Sekarang mari kita lihat 6 kesalahpahaman sehubungan dengan infalibilitas Paus ini:

1. Karena infalibel, Paus adalah manusia tidak berdosa dan semua perkataannya benar.

Ini keliru, karena Paus adalah manusia biasa, yang tidak sempurna, maka, tentu saja ia dapat berbuat dosa. Sejarah mencatat bahwa ada sejumlah Paus yang hidupnya tidak baik, tidak sesuai dengan panggilannya sebagai pemimpin Gereja. Jadi infalibilitas ada bukan karena manusianya—dalam hal ini Paus—yang tidak dapat berbuat salah, melainkan karena janji Kristus sendiri yang memberikan kuasa kepada Rasul Petrus dan penerusnya untuk mengajar tanpa kesalahan. Kristus memberi kuasa kepada Rasul Petrus, untuk mengikat dan melepas kan serta memberinya kunci Kerajaan Surga  (Mat 16:16-18). 

Karena itu, infalibilitas Paus tidaklah berlaku untuk semua aspek kehidupan Paus dan semua perkataan Paus. Ada tiga kondisi yang harus dipenuhi, agar pengajaran Paus dapat dikatakan infalibel yaitu: (1) Kalau Paus berbicara dari kursi Petrus, artinya bukan dalam kapasitas pribadi, namun dalam kapasitas sebagai penerus Rasul Petrus, yang mengeluarkan pengajaran secara resmi dan definitif, baik secara luar biasa—atau disebut ex-cathedra— maupun secara biasa dan universal (2) Kalau pengajarannya berkenaan tentang iman dan moral. Jadi ketika Paus berbicara tentang hal finansial, sosial ekonomi, musik, bisa saja pernyataannya salah atau tidak tepat; (3) Kalau pengajaran tersebut diberlakukan bagi Gereja seluruh dunia, jadi bukan hanya untuk satu negara atau wilayah saja.

2. Kesalahpahaman kedua adalah: Karena infalibel, Paus mempunyai kuasa tak terbatas.

Santo Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa Anda akan terkejut bahwa sebenarnya kuasa Paus tidaklah sebesar yang Anda kira. Sebagai contoh dalam surat apostoliknya, Ordinatio Sacerdotalis, St. Paus Yohanes Paulus II menulis bahwa Gereja tidak mempunyai wewenang apapun untuk melakukan pentahbisan imam kepada wanita. Sebagai Paus, ia tidak mempunyai kuasa untuk mengubah pengajaran yang terus dipercaya oleh Gereja sejak awal mula. Maka, ketika ditanya tentang apakah Gereja akan mempertimbangkan tahbisan untuk wanita, Paus Fransiskus, mengacu kepada ajaran Paus pendahulunya, mengatakan

“Gereja telah berbicara dan mengatakan TIDAK… Pintu itu telah tertutup.” 

3. Karena Infalibel, maka Paus dapat mengeluarkan pengajaran yang bertentangan dengan Kitab Suci. 

Ini juga pernyataan yang salah. Paus tidak dapat mengeluarkan pengajaran yang bertentangan dengan Kitab Suci dan Tradisi Suci. Untuk dapat mengeluarkan pernyataan yang mengikat umat beriman, maka Paus harus mempunyai dasar dari Kitab Suci, baik eksplisit maupun implisit. Ini juga harus diteguhkan bahwa pengajaran ini tidak muncul tiba-tiba, namun sesungguhnya telah diajarkan oleh jemaat awal, yang dapat kita lihat dari tulisan-tulisan para Bapa Gereja. Juga, pernyataan ini  tidak dapat bertentangan dengan pengajaran dan dogma Gereja Katolik yang lain, karena sifat kebenaran adalah tidak boleh bertentangan.

4. Karena infalibel, Paus banyak sekali mengeluarkan pernyataan ajaran ex-cathedra.

Ini pernyataan yang keliru, sebab kita hanya menemukan sedikit pengajaran yang termasuk dalam kategori ini. Sebagai contoh: Paus Pius IX mengeluarkan pernyataan ex-cathedra perihal dogma tentang Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda pada tahun 1854 dan Paus Pius XII mengeluarkan dogma tentang Bunda Maria Diangkat ke Surga pada tahun 1950.

5. Paus hanya bisa mengajar lewat pernyataan ex-cathedra.

Nah ini juga kesalahpahaman umum. Pengajaran yang mengikat umat Katolik bukan hanya pernyataan ajaran secara ex-cathedra atau luar biasa. Sebab selain secara luar biasa,  pengajaran Magisterium dapat diberikan secara biasa. Pengajaran secara luar biasa dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu pernyataan ex-cathedra dari Paus atau pengajaran dari para uskup, termasuk Paus, yang berkumpul dalam suatu konsili. Sedangkan; cara yang biasa dapat dilakukan Paus lewat surat-surat apostolik dan ensikliknya. Tapi ini tidak berarti bahwa semua pernyataan Paus dalam surat apostolik maupun ensikliknya bersifat infalibel. Yang infalibel hanyalah beberapa pernyataan yang umumnya didahului dengan frasa,

“Dengan wewenang yang diberikan Kristus kepada Petrus dan para penerusnya, dan dalam persekutuan dengan para Uskup Gereja Katolik, saya menegaskan bahwa….”

atau

“seperti yang telah ditegaskan oleh magisterium Gereja dalam banyak kesempatan….”

Intinya, pernyataan tersebut mengacu kepada ajaran yang telah dinyatakan oleh para Paus pendahulunya.

6. Paus dapat saja mengeluarkan dogma secara lisan.

Pernyataan ini tidak benar. Sebab pernyataan dogma Gereja, walau dapat bersumber dari Tradisi Lisan para rasul, sebenarnya telah dirumuskan secara tertulis oleh Gereja.  Sebenarnya yang disebut sebagai Tradisi Lisan di abad-abad awal, juga sekarang dapat ditelusuri dari tulisan-tulisan para Bapa Gereja. Jadi, semua ajaran Paus, dapat dibaca dari dokumen-dokumen Gereja yang telah dikeluarkan. 

Lagipula, pernyataan dogma harus memenuhi syarat pernyataan ex-cathedra. Sebagai contoh:  dalam Konstitusi Apostolik Ineffabilis Deus, tentang Dogma Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, Paus Pius IX, berkata:


Dengan inspirasi Roh Kudus, untuk kemuliaan Allah Tritunggal, untuk penghormatan kepada Bunda Perawan Maria, untuk meninggikan iman Katolik dan kelanjutan agama Katolik, dengan kuasa dari Yesus Kristus Tuhan kita, dan Rasul Petrus dan Paulus, dan dengan kuasa kami sendiri …[Frasa ini menyatakan bahwa saat menyatakan dogma ini, Paus berbicara dalam kapasitasnya sebagai penerus Rasul Petrus. Selanjutnya Paus berkata]: Kami menyatakan, mengumumkan, dan mendefinisikan bahwa doktrin yang mengajarkan bahwa Bunda Maria yang terberkati, seketika pada saat pertama ia terbentuk sebagai janin, oleh rahmat yang istimewa dan satu-satunya yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Besar, oleh karena jasa-jasa Kristus Penyelamat manusia, dibebaskan dari semua noda dosa asal, adalah doktrin yang dinyatakan oleh Tuhan [frasa ini menyatakan bahwa ajaran tersebut adalah ajaran iman yang diwahyukan oleh Tuhan dan secara definitif dinyatakan oleh Gereja] dan karenanya harus diimani dengan teguh dan terus-menerus oleh semua umat beriman. [Frasa ini menyatakan bahwa pengajaran ini berlaku untuk seluruh dunia]

Jadi, pernyataan dogma ini sangat jelas memenuhi 3 persyaratan pengajaran ex-cathedra. Oleh karena itu, pernyataan ini mengikat semua umat Katolik. Artinya sebagai umat Katolik kita menerima dogma ini sebagai suatu kebenaran yang diwahyukan oleh Allah, dan karena itu kita mengimaninya.

Apa kesimpulannya?

Infalibilitas Paus merupakan bukti nyata akan karya Roh Kudus dalam Gereja. Melalui karunia ini, Gereja dihindarkan dari kesalahan dalam mengartikan dan mewartakan Injil. Mari kita senantiasa memohon bimbingan Roh Kudus agar dapat memahami ajaran Gereja dengan benar dan hidup seturut kehendak Allah. Dan jangan lupa juga untuk mendoakan Bapa Paus kita.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab