Home Blog Page 3

Kalau Tuhan ada, kenapa ada penderitaan?

0

Hai, salam Katolisitas! Aku Stefani

Aku pernah ditanya sama temenku,

“Kalo Tuhan beneran ada, terus kenapa ada penderitaan? Kenapa orang hidupnya ga hepi hepi semua aja?”

Abis itu mereka berargumen,karena manusia hidupnya banyak yang menderita, berarti ya ga ada Tuhan, karena kalo ada Tuhan ga mungkin ada penderitaan. Nah tapi sebenernya ini asumsi yang salah, karena sebenernya Tuhan ga nyiptain penderitaan, tapi memang Tuhan bisa izinkan penderitaan terjadi dengan tujuan yang baik. Yuk kita bahas sama-sama!

Jadi, sejak awal mula Allah menciptakan segala sesuatu dengan baik dan teratur. Dalam kitab Kejadian 1:31 dituliskan,

“Allah melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik”.

Allah yang adalah Sang Kebaikan dan Kasih, ga mungkin menciptakan dunia yang jahat dan ga mungkin juga Allah menjadi sumber kejahatan moral, karena hal itu bertentangan dengan kodratNya. Jadi ga mungkin Allah melakukan atau menghendaki sesuatu yang jahat bagi umat manusia, dan karena itu juga, Allah ga nyiptain dosa dan penderitaan. Ga mungkin Allah sengaja nyuruh manusia berdosa. Justru sebaliknya, manusia-lah yang dengan kehendak bebasnya, memilih berbuat dosa dan menolak taat sama Allah.

Tapi keputusan manusia buat berdosa pun, ga lepas dari pengetahuan Allah. Allah tau manusia akan berbuat dosa dan karena itulah, Allah udah siapin rencana yang luar biasa buat nyelamatin manusia yang jatuh dalam dosa, yaitu dengan mengutus PutraNya, Tuhan kita Yesus Kristus, buat menyelamatkan manusia dari dosa, karena Allah amat sangat mengasihi manusia dan ga akan biarin manusia jatuh dalam dosa dan mati begitu aja.

Allah nggak menciptakan dosa dan penderitaan, dan Ia juga nggak ngedorong manusia supaya jatuh ke dalam dosa dan penderitaan, tapi Allah mengizinkan penderitaan terjadi pada manusia, karena Allah udah punya rencana yang lebih besar, yang bisa nyelamatin manusia dari dosa dan penderitaannya. Umumnya penderitaan adalah akibat dosa manusia, entah dosa orang yang bersangkutan atau dosa orang lain. Tetapi kalau sampai Tuhan izinkan itu terjadi, itu adalah karena Tuhan dapat mendatangkan kebaikan yang lebih besar kepada orang itu, maupun juga kepada orang-orang lain.

Jadi pertama-tama Allah mengizinkan kita ngalamin penderitaan sebagai bentuk pendisiplinan dan pengudusan, seperti apa yang dialami oleh Rasul Paulus yang dituliskan dalam suratnya, 2 Kor 12:7-10. Dan kedua, Allah juga menggunakan penderitaan kita buat menjadi berkat bagi sesama, supaya membantu sesama sampai pada keselamatan kekal. Penderitaan yang kita terima dengan iman bisa menjadi kesaksian buat membawa orang-orang di sekitar kita supaya mereka juga bisa mengenal Kristus yang nguatin kita dalam penderitaan kita. Rasul Paulus juga menuliskan tentang ini dalam Gal 4:13. Dengan kita sharing gimana kita bisa ngelewatin penderitaan kita bersama Kristus, kita juga bisa membawa orang lain menyadari kalo mereka pun bisa ngelewatin penderitaan mereka bersama Kristus yang mengasihi dan nguatin mereka.

Selain itu, St. Paus Yohanes Paulus II juga menulis tentang arti penderitaan dalam surat apostoliknya, Salvifici Doloris. Ia mengajar kita melihat penderitaan seperti Ayub melihat penderitaan yang dialaminya, karena memang penderitaan itu bisa terjadi pada orang-orang yang ga bersalah dengan tujuan buat pertobatan dan membangun kembali kebaikan dalam diri orang yang ngalamin penderitaan itu. Kita cuma bisa memahami misteri penderitaan dalam terang Kristus dan kalo kita bisa merasakan kasih Tuhan yang begitu besar, barulah kita bisa mengerti alasan dari penderitaan yang kita alami. Karena Tuhan Yesus pun ngalamin penderitaan yang begitu luar biasa, mulai dari difitnah, dicaci maki, bahkan juga penderitaan fisik, dicambuk, disuruh manggul salib, dan bahkan sampe akhirnya wafat di kayu salib. Semua itu karena kasihNya yang begitu besar buat kita, sampe Ia mau nyerahin diri sehabis-habisnya dan menderita dengan begitu besar demi menebus dosa-dosa kita. Sebenernya pengorbanan Yesus ini lah yang akhirnya juga tercermin dalam diri para rasul, dan para martirNya, yang dengan heroik, demi cinta pada Tuhan dan sesama, mereka mau nyerahin diri sehabis-habisnya.

Kita pun juga bisa belajar dari kasih Tuhan ini, dengan menerima dengan lapang hati, setiap penderitaan yang Tuhan izinin terjadi di hidup kita, karena Ia punya rencana yang besar buat masing-masing dari kita. Sesuai janji Tuhan sendiri, yang dikatakan dalam Yer 29:11, yaitu bahwa rancangan Tuhan itu adalah

“rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

Sampe ketemu lagi di video lainnya ya temen-temen, terima kasih dan Tuhan memberkati, babaii

Yubelium 2025: Peziarah pengharapan

0

Tema dari Yubelium 2025 adalah Peziarah Pengharapan. Apa maksudnya?

Hi, selamat datang di Katolisitas.

Dalam bulla Yubelium yang berjudul Spes non Confundit (Pengharapan tidak mengecewakan), Paus mengajak semua umat beriman untuk selalu berharap, di tengah ketidakpastian dunia dan masa depan. Kita diajak untuk memperbarui harapan

“karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus” (Rm 5:1-2,5).

Pengharapan ini lahir dari kasih Allah dan didasarkan pada kasih Allah yang memancar dari hati Tuhan Yesus yang tertikam di kayu salib. Pengharapan ini selalu hidup, karena kurban Kristus itu selalu hidup dan hadir di tengah Gereja-Nya.

Nah, sekarang pertanyaannya, pengharapan apa yang dimaksud oleh Paus?

Pertama, pengharapan akan perdamaian dunia. Kita berdoa dan berharap agar para pemimpin dunia membuat langkah-langkah konkret untuk melakukan diplomasi untuk perdamaian dunia.

Kedua, berharap untuk memiliki semangat hidup dan kemauan untuk berbagi. Keterbukaan terhadap kehidupan dari pasangan suami istri yang bertanggungjawab adalah rencana Allah, yang perlu didukung oleh negara melalui undang-undangnya, dan juga oleh komunitas umat beriman dan masyarakat. Sebab tanpa hal ini, negara pada akhirnya akan mengalami penurunan angka kelahiran yang mengkhawatirkan. Kita perlu mengusahakan masa depan yang diisi oleh tawa bayi dan anak-anak, menemukan kembali sukacita kehidupan dan tidak membatasi keinginan hanya untuk memenuhi kebutuhan material.

Ketiga, kita dipanggil untuk menjadi tanda harapan bagi saudara-saudari kita yang mengalami berbagai kesulitan, contohnya, para tahanan, orang-orang sakit, mereka yang berkebutuhan khusus.

Keempat, kita dipanggil untuk mendukung kaum muda, yang merupakan perwujudan pengharapan, tidak saja bagi Gereja, tapi juga dunia. Gereja perlu menjangkau kaum muda dan peduli kepada mereka. Kaum muda perlu didukung untuk mencapai masa depan yang baik, agar mereka tidak lekas menyerah, melarikan diri ke narkoba dan kesenangan-kesenangan sesaat yang merusak diri sendiri.

Kelima, kita dipanggil untuk menyambut dan menghormati martabat para migran, yang meninggalkan tanah air mereka untuk mencari kehidupan yang lebih baik ataupun menghindari perang dan kekerasan. Mereka tetap perlu diberikan akses kepada pekerjaan dan pendidikan.

Keenam, kita dipanggil untuk memberikan perhatian dan dukungan kepada para lansia, yang dari mereka diperoleh pengalaman, kebijaksanaan dan kontribusi yang masih dapat mereka berikan. Semoga komunitas Kristiani dan masyarakat dapat bekerjasama memperkuat hubungan antar generasi.

Ketujuh, kita dipanggil untuk memberikan harapan kepada kaum miskin yang jumlahnya milyaran, yang berkekurangan dalam kebutuhan pokok. Kita didorong untuk lebih aktif terlibat untuk meringankan beban mereka. Sebab orang miskin selalu ada di sekitar kita, maka kita dipanggil untuk bermurah hati kepada sesama yang membutuhkan bantuan.

Paus Fransiskus menyatakan bahwa kita sebagai umat Kristiani mempunyai dasar kuat untuk berharap, karena Kristus lah yang memberikan kehidupan kekal sebagai kebahagiaan kita. Tanpa dasar yang ilahi ini dan harapan kehidupan kekal, maka segala kesulitan hidup, penderitaan dan kematian dapat membuat orang berputus asa. Tetapi kalau kita punya pengharapan yang menyelamatkan, kita dapat memandang bahwa sejarah kehidupan kita tidak dimaksudkan untuk mencapai jalan buntu tetapi untuk mengalami perjumpaan dengan Kristus yang mulia.

Kristus yang telah wafat dan bangkit inilah yang menjadi dasar pengharapan kita, sebab di dalam Dia lah kita telah dikuburkan dalam Pembaptisan, dan memperoleh anugerah kehidupan baru yang menghantarkan kita kepada hidup kekal. Dalam pengharapan ini kita akan tetap dapat menghadapi realitas kematian dari orang-orang yang kita kasihi, sebab kita percaya akan kehidupan kekal, dan berharap kelak kita akan dipertemukan kembali dengan mereka, dalam kebahagiaan kekal. Para martir adalah para saksi yang terkuat akan pengharapan kehidupan kekal. Mereka memilih melepaskan hidup mereka di dunia daripada mengkhianati Tuhan, karena hati mereka terarah pada kehidupan kekal.

Tetapi tidak terpisah dari kematian dan kehidupan kekal adalah penghakiman Allah. Dalam pengadilan ini kita akan mengenal misteri kemurahan hati Allah, di mana kita akan melihat kebenaran dan kasih Allah dinyatakan. Semua kejahatan yang telah diperbuat setiap orang tidak bisa disembunyikan, dan semua ini perlu dimurnikan sebelum ia dapat mengalami perjumpaan yang definitif dengan Allah. Di sinilah kita melihat perlunya doa-doa kita bagi semua orang yang telah beralih dari dunia ini, karena kita semua sebagai anggota Tubuh Kristus saling terhubung dalam persekutuan para kudus yang saling mendoakan satu sama lain. Indulgensi Yubelium dimaksudkan secara khusus bagi mereka yang telah mendahului kita, agar mereka dapat memperoleh belas kasihan sepenuhnya.

Indulgensi yang di zaman dulu juga sering diartikan sebagai belas kasihan merupakan ungkapan pengampunan Tuhan yang tak terbatas. Tapi tentu pengampunan diperoleh bagi orang yang bertobat, dan disinilah pentingnya Sakramen Tobat. Dalam sakramen Tobat kita memperoleh pengampunan dosa, di mana tergenapi teks Mazmur ini,

“Dialah [Tuhan] yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat … Tuhan adalah Penyayang dan Pengasih…” (Mzm 103: 3-4, 8).

Di sakramen ini kita mengizinkan Tuhan menghapus dosa-dosa kita dan memulihkan kita, memeluk kita kembali, mendamaikan kita dengan diri-Nya dan menikmati pengampunan-Nya.

Namun meski sudah diampuni, setiap dosa meninggalkan bekasnya. Karena setiap dosa mempunyai konsekuensi, bahkan dosa ringan, karena mengandung keterikatan yang tidak sehat pada makhluk ciptaan. Karena itu, kita masih perlu disucikan, entah semasa kita hidup di dunia atau kelak setelah kematian. Di sinilah, perolehan indulgensi dapat membantu kita.

Setelah kita sadari bahwa kita menerima belas kasih Tuhan melalui indulgensi ini, kita pun dipanggil untuk berbelas kasih kepada sesama kita. Kita perlu memaafkan orang lain yang bersalah kepada kita. Sebab dengan demikian kita dapat menjalani masa depan dengan kehidupan yang lebih baik, bebas dari kemarahan dan permusuhan.

Akhirnya, Paus mengajak kita semua melihat teladan Bunda Maria yang merupakan saksi yang paling mulia bagi pengharapan. Pada saat berdiri di kaki salib Yesus itu, ia mengingat kembali apa yang pernah dinubuatkan oleh Simeon, bahwa Putranya itu akan menjadi tanda perbantahan dan bahwa suatu pedang akan menembus jiwanya. Walau hatinya diliputi kesedihan yang sangat mendalam karena menyaksikan Putranya disiksa sampai wafat, Bunda Maria tetap berharap pada Allah.

Tahun Yubelium ini adalah tahun suci yang ditandai pengharapan kita di dalam Tuhan. Melalui kesaksian kita, semoga pengharapan menyebar kepada semua orang yang mencarinya. Semoga kekuatan pengharapan mengisi hari-hari kita sementara kita menantikan kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus. Bagi-Nya pujian dan kemuliaan, sekarang dan selamanya!

Pintu Suci: Misteri dan Simbolisme Yubileum

0

Banyak orang mungkin bertanya, apa hubungannya Yubelium dengan Pintu Suci? Apakah simbolisme dan misteri yang terkandung dalam perayaan Yubelium ini?


Hi, selamat datang di Katolisitas.

Teman-teman, meski secara resmi Tahun Yubelium diperingati Gereja sejak tahun 1300, praktek membuka Pintu Suci sebagai bagian dari perayaan Yubelium baru dimulai oleh Paus Martinus V di tahun 1423.  Itulah pertama kalinya Pintu Suci dibuka secara seremonial untuk menandai dimulainya Tahun Yubelium. Pintu Suci tersebut  melambangkan pembukaan jalan menuju keselamatan dan rahmat, yang mengundang umat beriman untuk masuk dalam pertobatan dan pembaruan rohani. Atau dalam perkataan St. Paus Yohanes Paulus II,  Pintu Suci menandai 

“perjalanan dari dosa menuju kasih karunia yang harus dilakukan oleh setiap orang Kristiani. Dalam Injil, Yesus berkata: ‘Akulah pintu’ (Yohanes 10:7), untuk memperjelas bahwa tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Dia.  Yesuslah Juruselamat yang diutus oleh Bapa. Yesus, satu-satunya jalan menuju keselamatan. Dalam Yesuslah Mazmur ini tergenapi secara penuh: ‘Inilah pintu Tuhan, tempat orang-orang benar dapat masuk’ (Mazmur 118:20).”  (Incarnationis Mysterium, 8)

Jadi masuk melalui pintu—menurut Paus—adalah mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan. Dengan ini, iman kita akan Dia dikuatkan, supaya kita dapat hidup sebagai anak-anak Allah. Yaitu untuk berani meninggalkan dosa dan hidup yang lama, karena tahu, yang kita peroleh adalah hidup ilahi (Mat 13:44-46). 


Selanjutnya, Paus Fransiskus menjelaskan tentang makna Pintu Suci ini dalam Bulla Spes Non Confundit.

Pertama, Pintu Suci mempunyai arti Teologis sebagai gambar atau simbol Kristus sebagai Gerbang Keselamatan.  Kristus sering disebut sebagai “pintu” atau “gerbang” menuju keselamatan. Ini disebut dalam Yohanes 10:9. Yesus menyatakan,

“Akulah pintu; jika seseorang masuk melalui Aku, ia akan diselamatkan.”

Tindakan membuka Pintu Suci selama Yubelium adalah pernyataan yang jelas akan kebenaran ayat ini. Umat beriman diundang untuk memasuki hubungan yang lebih dalam dengan Kristus.


Kedua, Pintu Suci  melambangkan undangan untuk pertobatan dan pembaruan:

Yubelium adalah waktu untuk pertobatan dan pembaruan rohani. Pintu Suci mewakili batas antara kehidupan lama dalam dosa dan kehidupan baru dalam rahmat. Melewati pintu adalah tindakan iman dan pertobatan, melambangkan keinginan umat beriman untuk meninggalkan dosa di masa lalu dan merangkul komitmen baru untuk hidup sesuai Injil.


Ketiga, Pintu Suci adalah simbol rahmat Tuhan. Paus Fransiskus menekankan Yubelium sebagai waktu untuk mengalami rahmat Tuhan yang tak terbatas. Pintu Suci adalah simbol yang mengingatkan akan rahmat Tuhan ini, yang membukakan kesempatan unik bagi umat beriman untuk menerima rahmat pengampunan dan rekonsiliasi. Ini adalah panggilan kepada kita untuk percaya akan kasih Tuhan dan meneruskan rahmat itu kepada orang lain.


Keempat, Ziarah memasuki Pintu Suci memiliki dimensi komunal dan Gerejawi.

Sebab ziarah ke Pintu Suci bukan hanya merupakan perjalanan individu tetapi juga perjalanan komunal, bersama komunitas. Ini mencerminkan kesatuan Gereja dan perjalanan iman bersama. Yubelium mendorong umat beriman untuk bersatu sebagai komunitas, saling mendukung dalam pertumbuhan rohani dan komitmen untuk menjalani nilai-nilai Injil.


Kelima, Pintu Suci melambangkan harapan yang mengundang umat beriman untuk  mempercayai janji-janji Tuhan dan untuk menemukan tujuan dan arah baru dalam hidup mereka. Judul bulla Spes Non Confundit berarti “Harapan Tidak Mengecewakan,” menekankan Yubelium sebagai waktu harapan dan pembaruan. Selalu ada pintu pengharapan bagi orang beriman. 


Keenam, Pintu Suci mengingatkan kita akan panggilan untuk membawa  perubahan di dunia, mewujudkan nilai-nilai Injil dalam kehidupan sehari-hari. Paus Fransiskus menyerukan agar Yubelium menjadi waktu untuk bertindak, waktu untuk memasuki keadaan di mana umat beriman melakukan prinsip-prinsip keadilan, perdamaian, dan rekonsiliasi. 

Ketujuh, Pintu Suci adalah simbol dari misteri kasih Tuhan, yang  menawarkan sekilas tentang kedalaman belas kasih Tuhan dan undangan untuk berpartisipasi dalam kehidupan ilahi-Nya. Pintu melambangkan undangan untuk masuk ke dalam. Yubelium mengundang umat beriman untuk merenungkan lebih dalam, misteri kasih Tuhan yang mampu mengubah segala sesuatu.

Sebagai kesimpulan, Pintu Suci, sebagai simbol sentral dari Yubelium, merangkum misteri dan simbolisme dari waktu suci ini. Kita sebagai umat beriman diundang untuk memulai perjalanan iman, melakukan pertobatan, pembaruan diri, dan mewujudkannya dalam tindakan nyata. Kita diingatkan bahwa perayaan Yubelium tetap aktual dan relevan di saat ini, sebab olehnya kita diundang untuk mengalami kekuatan rahmat dan kasih Tuhan yang mampu mengubah hidup kita dan orang-orang di sekitar kita menjadi lebih baik.

Sejarah Tahun Yubileum

0

Ada pertanyaan: Apa sih yang mendasari adanya Tahun Yubelium? Apa ini hanya inovasi Gereja Katolik? Yuk kita bahas…


Hai! Salam Katolisitas!
Tahun Yubelium atau Yobel berakar dari sejarah bangsa Israel yang dicatat dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, khususnya di Kitab Imamat bab 25. Tahun Yobel  dirayakan setiap 50 tahun sekali, yang ditandai dengan bermacam ketentuan untuk memperbaiki keadaan sosial dan ekonomi, agar tercapailah keadilan dan keseimbangan dalam komunitas Israel. Ciri utama tahun Yobel ini adalah pengembalian tanah kepada pemilik aslinya, penghapusan hutang dan pembebasan budak Israel. Ketentuan ini dianggap sebagai perintah Allah untuk mencegah pemusatan kekayaan dan kekuasaan pada segelintir orang, supaya tidak ada orang-orang yang miskin selamanya; ataupun yang kehilangan tanah leluhurnya. Prinsip dasarnya adalah bahwa Allah-lah pemilik tanah dan segala segala sesuatunya, sedangkan  manusia hanya pengelolanya saja. Karena itu, tak seorang pun dapat mengklaim kepemilikan secara eksklusif yang dapat menyebabkan ketidakadilan dalam masyarakat. 

Yobel sendiri dirayakan pada hari Pendamaian, yaitu saat komunitas mencari pengampunan dan rekonsiliasi dengan Allah. Dalam Tradisi Yahudi, selama berabad-abad tahun Yobel dirayakan dengan penekanan pentingnya peran komunitas dan kebersamaan untuk memberikan kebebasan dan hak milik kembali kepada orang-orang miskin. Tahun Yobel menjadi kesempatan yang mengingatkan bangsa Israel akan Kerahiman Allah dan pentingnya keadilan sosial, yaitu bahwa komunitas harus peduli kepada anggota-anggotanya yang miskin/ lemah.

Dalam sejarah Gereja, Tahun Yubelium pertama kali dirayakan pada tahun 1300 oleh Paus Bonifasius VIII. Perayaan ini didahului oleh beberapa peristiwa pemberian kemurahan hati untuk memperoleh pengampunan dosa, seperti yang dilakukan oleh Paus St. Celestinus V bagi para peziarah yang mengunjungi Basilika St. Maria di Collemaggio di Aquila, tanggal 28 dan 29 Agustus tahun 1294, atau bahkan sebelumnya tahun 1216,  ketika Paus Honorius III mengabulkan permohonan St. Fransiskus Asisi untuk memberikan indulgensi kepada umat yang mengunjungi Porziuncola pada tanggal 1 dan 2 Agustus. Juga di tahun 1222, Paus Callistus II menetapkan bagi para peziarah ke Santiago de Compostela, bahwa Yubelium dapat dirayakan ketika Pesta Rasul Yakobus jatuh pada hari Minggu (lih. Spes non Confundit, 5). Perayaan Yubelium ini kemudian dirayakan Gereja Katolik setiap 25 tahun sekali.

Selain ziarah, dalam tradisi Kristiani, Yobel/ Yubelium diartikan  sebagai masa rahmat, pertobatan dan rekonsiliasi.  Menjelang tahun 2000, Paus Yohanes Paulus II, dalam surat apostoliknya Tertio Millennio Adveniente, mengatakan,

“Bagi Gereja, Yubelium secara jelas  merupakan ‘tahun rahmat Tuhan’, tahun pengampunan dosa dan hukuman sementara yang harus dijalani karenanya, tahun rekonsiliasi antara pihak-pihak yang berselisih, dan tahun pertobatan …  Tradisi tahun-tahun Yubelium melibatkan pemberian pengampunan dosa dalam skala yang lebih besar daripada waktu-waktu lainnya.” (Tertio Millennio Adveniente, 14)

Jadi Tahun Yubelium adalah waktu untuk pembaruan rohani, pengampunan dosa, dan perayaan belas kasih Allah. Paus menghubungkan praktek tahun Yobel dalam Perjanjian Lama  dengan penggenapannya dalam Perjanjian Baru yaitu dalam ajaran iman tentang keselamatan dan penebusan melalui Kristus. Selama Tahun Yubelium, kita umat Katolik memperoleh kesempatan yang lebih luas untuk pertobatan dan melakukan penitensi yang  berguna bagi pertumbuhan rohani kita, dan juga bagi kesejahteraan sesama, terutama mereka yang miskin dan tersingkir. 

Paus Fransiskus melanjutkan tradisi ini, dengan menekankan Tahun Yubelium sebagai waktu untuk mengalami belas kasih Tuhan dan harapan. Setelah menyebut dua Tahun Yubelium sebelumnya yaitu tahun 2000 dan 2015, Paus berkata,

“Sekarang saatnya telah tiba untuk Yubelium baru, ketika sekali lagi Pintu Suci akan terbuka lebar untuk mengundang setiap orang kepada pengalaman yang mendalam akan kasih Allah yang membangkitkan dalam hati harapan pasti akan keselamatan dalam Kristus. Tahun Suci juga akan membimbing langkah kita menuju perayaan mendasar lainnya bagi semua orang Kristen: tahun 2033, yang  akan menandai peringatan dua ribu tahun penebusan yang dimenangkan oleh sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan Yesus” (Spes non Confundit, 6). 

Itulah sebabnya tahun Yubelium ini disebut sebagai Tahun Yubelium Pengharapan.

Paus Fransiskus menekankan perlunya Gereja menjadi tempat penyambutan dan penyembuhan, terutama bagi mereka yang terpinggirkan oleh masyarakat. Tahun Yubelium adalah kesempatan bagi Gereja untuk mewujudkan belas kasih Allah secara nyata dan mendorong tindakan amal dan belas kasih kepada sesama yang membutuhkan. Juga, Yubelium memberi kesempatan untuk berefleksi, baik pribadi maupun kelompok,  untuk mempertimbangkan apa yang dapat dilakukan untuk ikut  menciptakan keadaan masyarakat yang lebih adil dan merata.  Maka nilai inti  Yubelium adalah pengampunan, pemulihan, kesediaan berbagi kepada sesama yang membutuhkan. Prinsipnya, kita yang menerima kemurahan hati Tuhan mesti juga bermurah hati kepada sesama. 

Jadi teman-teman, tahun Yubelium bukan sesuatu yang tiba-tiba diadakan oleh Gereja Katolik. Tahun Yubelium adalah praktek yang sudah diajarkan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, dan telah diterapkan oleh bangsa Israel. Gereja—sebagai bangsa pilihan Allah yang baru—melanjutkan tradisi  tahun Yubelium sebagai cerminan belas kasih Allah, keadilan dalam hubungan antarmanusia dan  rekonsiliasi. Konsep Yubelium tetap relevan dan dapat membawa dampak positif dalam kehidupan religius dan sosial. Mari kita renungkan tanggung jawab kita terhadap Allah dan sesama, demi tatanan masyarakat yang lebih adil dan merata, yang dipenuhi semangat kasih dan persaudaraan. Selamat merayakan Tahun Yubelium 2025!

Kalau Adam dan Hawa Tidak Berdosa, Apakah Yesus Tetap Datang?

0

Hi, Salam Katolisitas! Aku Xenia

Penasaran ga sih, kalo seandainya nih ya, Adam dan Hawa engga berdosa, Yesus akan tetap datang ke dunia ga ya?

Coba kita liat teks Pujian Paskah (Exultate)

Bahwasanya perlu dosa Adam, untuk memperoleh Kristus, yang dengan wafat-Nya meniadakan dosa itu. Sungguh mujurlah kesalahan itu, sebab memberi kita Penebus yang demikian ini!

NAH LOH PERLU DOSA ADAM! KALO GAADA DOSA ADAM GIMANAA?

Sejujurnya ga ada jawaban definitif dari Gereja soal ini. Yang diajarkan oleh Gereja, dan tertulis di teks liturgi di atas adalah: karena dosa Adamlah Kristus datang ke dunia untuk menebus dosa manusia itu. Kitab Suci membandingkan Adam dengan Kristus, begini:

..jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. (Rm 5:15).

Nah, tapi tentang bagaimana kalo ngga ada dosa Adam, apakah Kristus tetap akan datang? –Mari kita melihat ke argumen dari orang-orang kudus! Argumen pertama datang dari St. Thomas Aquinas. Ia berpendapat bahwa kalau Adam dan Hawa tidak berdosa, ya Kristus tidak perlu menjadi manusia, karena Inkarnasi adalah respon dari kejatuhan manusia ke dalam dosa. Kristus datang untuk menyelamatkan pendosa. Kalau tidak ada pendosa, siapa yang diselamatkan? Ibaratnya, kalau orangnya ngga sakit, ya buat apa dikasi obat?

Tapi ada argumen lain dari Beato John Duns Scotus! Ia berpendapat bahwa Kristus akan tetap menjadi manusia bahkan apabila Adam, dan bahkan Iblis (note: malaikat yang berbuat dosa, menentang Allah, now is called iblis) sekalipun, tidak berdosa. Mengenai ini, Paus Benediktus ke-16 menjelaskan kalau maksud Beato Scotus adalah bahwa inkarnasi itu karya Allah yang terbesar dan paling indah dalam sejarah keselamatan! Juga bahwa inkarnasi adalah aksi dari kemauan Allah untuk menyatukan seluruh ciptaan-Nya dengan Diri-Nya lewat pribadi dan daging Putra-Nya [yang mengambil rupa manusia]. Nah lewat argumen ini, ditunjukkan kalau alasan Yesus datang ke dunia itu bukan cuma untuk menyelamatkan pendosa, tapi juga untuk bersatu dengan alam ciptaan-Nya.

Sekarang, kita liat bahwa buah dari Inkarnasi adalah pengampunan dosa manusia dan karena itu, kita bisa ambil bagian dalam kodrat ilahi (2 Petrus 1:4). Sebab lewat pengorbanan-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya, Kristus telah memberikan hidup ilahi-Nya kepada kita.

The Word became man, and the Son of God became the Son of man: so that man, by entering into communion with the Word and thus receiving divine sonship, might become a son of God – St. Irenaeus

Dengan mengambil bagian dalam kodrat ilahi-Nya itu, kita tidak menjadi sama dengan Kristus, melainkan, kita diangkat oleh Allah menjadi anak-anak-Nya di dalam Kristus Putra-Nya. Untuk maksud inilah Kristus datang ke dunia. Luar biasa banget, kan. Terpujilah Tuhan kita!

Siapa penulis Kitab Suci? Siapa yang mengumpulkan Kitab Suci?

0

Beberapa waktu lalu, aku dapet beberapa pertanyaan tentang siapa sih yang nulis Kitab Suci dan gimana prosesnya sampe Kitab Suci itu bisa terbentuk jadi satu buku kaya yang kita kenal sekarang. Tapi sebelom kita bahas ke sana, kenapa sih kita perlu tau lebih dalem tentang Kitab Suci?

Ada pepatah yang mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang” dan inilah kenapa aku mau ajak temen-temen, buat kita mengenali lebih dalam tentang Kitab Suci, dimana dengan mengenali Kitab Suci, kita bisa lebih mengenal tentang Allah, tentang PutraNya yang menjelma menjadi manusia, yaitu Yesus Kristus, dan tentang Pribadi Allah yang diutus ke dalam Gereja dan ke dalam hati kita, yaitu Roh Kudus. Tentunya dengan semakin mengenal Allah Tritunggal, semoga kita juga bisa semakin mengasihi Allah yang udah nyiptain kita semua.

Kitab Suci atau dalam bahasa Inggris bible, berasal dari kata Yunani yaitu biblos atau biblon. Di abad ke-4, St. Hieronimus menyebutnya ta biblia atau the Books atau the Holy Books, yang mengacu pada kitab-kitab yang dikenal sebagai Sabda Allah yang merupakan satu kesatuan dalam kesinambungan ilahi.

Karena Kitab Suci adalah Sabda Allah sendiri, maka Penulis utama Kitab Suci, tentunya, adalah Tuhan. Katekismus ngajarin ke kita bahwa, “Allah adalah Penyebab Kitab Suci.” Tapi, Allah ngelibatin orang-orang yang Ia pilih buat menulis Kitab Suci, dikatakan dalam Katekismus juga, “Allah memberi inspirasi kepada manusia penulis Kitab Suci.” Jadi dalam penulisan Kitab Suci, ada dua pengarang, yaitu Allah dan manusia, di mana Allah adalah penulis utama atau principle author dan manusia yang nulisin Kitab Suci adalah penulis yang dipakai Allah atau instrumental author. Karena Penulis utamanya adalah Allah, jadi manusia menuliskan Kitab Suci, seperti apa yang diinginkan Allah buat ditulis.

Dalam kitab-kitab Perjanjian Lama, 5 kitab pertama, yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan, dituliskan oleh Nabi Musa atau oleh penerusnya sesuai dengan ajaran Nabi Musa yang diteruskan secara lisan. Penerusan ajaran secara lisan ini bakal kita bahas lebih dalem setelah ini. Selain itu juga ada kitab-kitab nubuat para nabi yang dituliskan oleh nabi yang bersangkutan, misalnya ada Kitab Yesaya yang ditulis oleh Nabi Yesaya, atau Kitab Amos yang ditulis oleh Nabi Amos. Dalam Perjanjian Baru sendiri, ada 4 Injil yang dituliskan oleh Matius Rasul, Markus, Lukas, dan Yohanes Rasul. Dan ada banyak surat-surat para rasul, seperti surat-surat Rasul Paulus, Rasul Petrus, dan lain-lain.

Nah tadi aku juga mention ya, kalo Kitab Suci itu ga langsung jadi kaya yang kita kenal sekarang. Karena di jaman duluuuu banget, belom umum media tulis kaya yang kita kenal sekarang. Kalo sekarang kan kita udah biasa texting, atau nyatet sesuatu di notes. Nah tapi jaman dulu tuh belom ada media tulis, jadi mereka banyak berkomunikasi dengan cara lisan dan sangat ngandalin kekuatan memori mereka. Begitupun juga dengan ajaran-ajaran dan hukum-hukum yang ada saat itu, diterusin secara lisan, dengan banyak cara, misalnya dalam bentuk kisah narasi, atau disampein dengan pola-pola tertentu, kaya dengan ritme atau puisi bersajak, rangkaian kata-kata bijak yang sederhana, atau pengulangan kata tertentu yang sama, supaya lebih mudah diinget. Jadi kalo bahasa kita tuh kaya semacam bikin “jembatan keledai” gitu.

Mungkin buat kita ini satu hal yang kaya rada mustahil ya, ga mungkin orang bisa nginget ajaran full sampe sedetail itu, apalagi ini kan ajarannya panjang banget ya. Tapi buat masyarakat di zaman itu tuh termasuk normal banget, sejalan sama budaya, spiritualitas, dan sastra di masyarakat saat ini. Karena pada masa itu, masyarakat terbiasa buat berbicara dengan fasih berdasarkan kemampuan mereka nginget suatu fakta atau kebenaran dan sistem pendidikannya saat itu ya supaya para murid punya ingatan yang kaya sumur, yang ga membiarkan setetes pun dari ajaran gurunya hilang.

Nah dari mengetahui tentang kondisi masyarakat di zaman itu, kita bisa bilang kalo memang pada zaman itu, wajar aja kalo penerusan ajaran dilakukan secara lisan, walaupun memang masih ada elemen tertulis, seperti dalam kitab Yosua disebutin adanya “Kitab Orang Jujur”, yaitu dalam Yosua 10:13. Tapi elemen tertulis ini sifatnya adalah sebagai alat bantu buat nginget, sebelom kemudian dikompilasi jadi kitab-kitab kaya yang kita kenal sekarang. Nah bahkan sampe jaman Gereja perdana pun, jemaat awal masih berpegang pada ajaran lisan ini, kaya St. Papias, Uskup Hierapolis di Phyrgia negasin bahwa ia lebih menghargai suara atau ajaran lisan para rasul yang udah hidup dan berakar dalam Gereja. Tapi akhirnya, demi kepentingan membimbing orang-orang yang nerusin kitab Injil, dan buat tujuan menghindari penyimpangan, kesalahan, dan distorsi, akhirnya Injil ditulisin.

Sekarang gimana ceritanya Kitab Suci yang terdiri dari banyak kitab-kitab itu bisa dikompilasi jadi satu buku?

Sebenernya kanon Perjanjian Lama udah ada jauh sebelom kanon Perjanjian Baru, bisa diliat dari udah adanya Kitab Suci yang dipake oleh umat Yahudi saat itu. Para ahli memperkirakan bahwa Yesus dan para rasul menggunakan kitab Septuaginta, yaitu terjemahan kitab-kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani yang ditulis sekitar abad ke-2 dan ke-3 sebelom Masehi. Ini ngebuktiin udah adanya kanon Perjanjian Lama dari sejak zaman Yesus.

Selanjutnya, Kitab Suci yang kita tau sekarang, yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dibentuk pertama kali menurut kanon yang ditetapkan oleh Paus Damasus I di tahun 382, diteguhkan dalam Konsili Hippo tahun 393, Konsili Karthago tahun 397, dan Konsili Kalsedon tahun 451, dan juga diteguhkan dalam banyak konsili sampai Konsili Trente tahun 1545 sampai 1563.

Maka Kitab Suci yang kita kenal sekarang dibentuk oleh Magisterium Gereja, yang atas ilham Roh Kudus, menentukan kitab-kitab mana aja yang diinspirasikan oleh Roh Kudus, jadi bisa masuk dalam Kitab Suci. Dari saat pertama kali ditentuin oleh Paus Damasus I, kanon Kitab Suci terdiri dari 73 kitab, yaitu 46 kitab Perjanjian Lama termasuk dengan kitab-kitab yang sekarang disebut Deuterokanonika, dan 27 kitab Perjanjian Baru. Karena Gereja baru nentuin kanon Kitab Suci ini menjelang akhir abad ke-4, jadi sebelom ada kanon Kitab Suci, Gereja ngandalin Tradisi Suci, yaitu pengajaran lisan dari Kristus dan para rasul. Ini bukti bahwa Gereja-lah tiang penopang dan dasar kebenaran, sesuai yang dituliskan dalam 1Tim 3:15. Oleh kuasa Roh Kudus yang adalah jiwa dari Gereja, Gereja nentuin kanon Kitab Suci. Maka Gereja punya otoritas buat nginterpretasiin Kitab Suci sesuai maksud yang mau disampein oleh Roh Kudus yang mengilhami penulisan Kitab Suci itu.

Setelah kita memahami bahwa Magisterium Gereja-lah yang membentuk Kitab Suci dan bahwa sebelom ada Kitab Suci, Gereja berpegang erat pada pengajaran lisan Kristus dan para rasul, yaitu dalam Tradisi Suci, semoga kita memahami juga pentingnya Tradisi Suci dan peran Magisterium Gereja yang juga adalah pilar-pilar pokok kebenaran iman Gereja Katolik. Sampai ketemu lagi di video lainnya ya teman-teman, terima kasih dan Tuhan memberkati, babaii

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab