Home Blog Page 323

Big bang dan manusia adalah percikan Allah?

15

Pertanyaan:

Sekedar sharing dari seorang pembelajar….

Manusia telah menjadi bukti paling otentik dari keberhasilan evolusi jagat raya. Sejak awal jagat raya, dari setitik big bang menjadi bilyunan bintang dan runtutan generasi semua makhluk dalam rentang bermilyar tahun.
Dan di tiap masa terjadilah lompatan genetik, menghasilkan evolusi dan seleksi alam seperti kondisi saat ini.
Adalah wajar bila ditiap generasi selalu ada sesuatu atau seseorang yang seolah melompat ke depan, seperti tidak hidup pada jamannya, bak tidak menginjak bumi, atau dianggap seperti datang dari planet lain. Karena itu menjadi hukum alam terjadinya lompatan genetik dari tiap jaman menuju evolusi dan kesempurnaan makhluk.
Di jaman purba ada Adam yang genetiknya melompat dari para makhluk purba. Teori Darwin bisa jadi memang benar (apalagi memang didukung bukti ilmiah). Sebagai makhluk berakal dan fakta bahwa hidup kita selama ini tergantung dan dipenuhi dengan fasilitas-fasilitas hasil sains dan ilmu pengetahuan, sudah sepatutnya kita respek dengan cara berpikir metoda ilmiah. Tapi disisi lain teori agama juga benar, ditilik dari bahasa agama yang biasanya penuh lambang dan multi tafsir, tidak ada yang benar-benar dapat membuktikan apakah Adam di surga itu ada di awang-awang atau sekedar symbol istilah hidup di suatu tempat di bumi juga, semisal di sebuah dataran tinggi yang subur bak surga. Tercipta dari tanah karena memang semua makhluk makan dari saripati tanah, yang mana dimakan lewat tumbuhan yang menyerapnya, dan memang kandungan tubuh kita pada dasarnya seperti unsur-unsur tanah juga: kalium, kalsium, zat besi, air, megnesium, etc. Jadi asal mula kita sebenarnya memang tanah, dan bumi adalah ibu kita yang sebenar-benarnya. Bumi dari pecahan matahari dan matahari dari pecahan galaksi dan galaksi dari pecahan big bang. Jadi memang kita adalah turunan ke sekian dari Big-bang…. Sebuah percikan ruh Tuhan. Karenanya semua dari kita mewarisi sifat-sifat Tuhan meski juga hanya sepercik “melihat”, sepercik “mendengar”, sepercik “mencipta”, sepercik “mengasihi”, dan lain-lain yang jauh dari sempurna. Dan gangguan lingkungan yang menyebabkan kadar sifat Tuhan dalam tiap individu jadi berbeda-beda.
Dan lompatan genetik di setiap generasi senantiasa ada. Adam, Nuh, Musa, Ibrahim, Isa, Sidharta, Muhammad, Tao, Einstein, Alfa Edison bahkan dijaman kita kini para peraih nobel di berbagai bidang juga mewakili para pelompat genetik, meski tidak dengan lompatan panjang.
Jadi……. janganlah kita terlalu berlebihan….. menerka sang tuhan adalah ini dan itu. Padahal tidak ada hal yang bersifat materi (masih dalam lingkup 3 dimensi + dimensi waktu) yang tidak dipengaruhi oleh pemikiran dan opini pada jaman atau peradaban tertentu. Dan biasanya yang berkuasa pada jaman tertentu adalah yang menentukan arah sejarah. Kadang arahnya sedikit melenceng, kadang menyimpang agak jauh. Kebenaran 100% hanya ada pada fakta itu sendiri. Fakta pada waktu yang telah lewat hanya upaya pendekatan. Dan kembali lagi… dari semua pendekatan, yang paling ilmiahlah yang akan bisa dipertanggung jawabkan, ia tidak akan goyah oleh arus jaman yang kian maju dalam menemukan cara untuk mempersempit deviasi fakta sejarah. Hingga kelak mungkin manusia nyata-nyata bisa menembus kerucut waktu supaya bisa melihat realitas masa lampau.
Mungkin Tuhan memang ada dimana-mana sejak pancaran awal dalam kejadian Big-bang, termasuk serpihannya tersemburat dalam diri kita dan semua makhluk di jagat raya. Hanya selama ini kita terlalu dibutakan bentuk materi yang kasad mata. Padahal semua bentuk 3 dimensi yang kita lihat kasad mata, ternyata masih jauh dari dimensi tuhan yang asli yang entah punya berapa dimensi. Bahkan bila ditambahpun oleh dimensi ke-4 (waktu), yang kata stephen Hawking berbentuk kerucut, yang bila kita berada di ujung kerucut akan melihat masa lalu-masa kini-masa depan, tetap saja belum menjangkauNya.

Jadi….. terus dan teruslah mencari.
Dan manusia senantiasa akan berevolusi menuju kesempurnaan. Karena memang mereka mewarisi sifat itu. Namun, karena hanya terdiri atas percikan-percikanNya belaka, maka prosesnya memerlukan waktu panjang. Tapi siapa nyana kalau dulu orang terbang hanya angan-angan sekarang kenyataan…. Kini ada teknologi super konduktor, laser, microchip, dunia atom (nano technology), penjelajahan antar tatasurya, kloning, dan kini juga sudah ada simulasi Big-bang dalam terowongan baja raksasa berdiameter 27km dibangun di Eropa.
Dan semua akan kembali pada asalnya saat big-bang kembali pada titik awal. (terbukti dari hasil teropong ilmuwan kalau galaksi kita sedang dalam proses memuai, jarak antar bintang makin menjauh). Lalu dari fenomena supernova, dapat disimpulkan setelah titik mengembangnya jenuh, galaksi akan menyusut menjadi black hole. Itulah awal sekaligus akhir.
Dan….. saat sekian milyar juta tahun lagi itu….
Kita akan bergabung menjadi satu………………..

Regards – My Soul

Jawaban:

Shalom my soul,

Terima kasih telah berkunjung ke katolisitas.org dan terimakasih untuk sharingnya. Tentu saja hal yang wajar kalau kita mempunyai pendapat yang berbeda. Dan mari kita mendiskusikannya. Saya mencoba membuat point-point, sehingga mudah untuk mengulasnya. Dalam ulasan my soul dikatakan bahwa:

  1. Manusia merupakan bukti otentik dari keberhasilan evolusi jagad raya, yang bersumber dari teori big bang. Dan tiap masa terjadi lompatan genetik, menghasilkan evolusi dan seleksi alam. Dan ini seperti yang dikemukakan oleh teori Darwin, yang kebenarannya didukung bukti ilmiah.
  2. Agama hanya dianggap sebagai suatu simbol, yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.
  3. Kita merupakan keturunan kesekian dari big bang, sebuah percikan Roh Tuhan, dan kita mewarisi sifat-sifat Tuhan, namun tidak sempurna karena terganggu lingkungan.
  4. Lompatan genetik termasuk: Adam, Nuh, Musa, Ibrahim, Isa, Sidharta, Muhammad, Tao, dll.
  5. Jadi jangan terlalu berlebihan untuk menerka Tuhan itu siapa.
  6. Sejarah dibentuk dari yang berkuasa, yang kadang menyimpang. Kebenaran hanya ada pada fakta. Jadi kesimpulannya, yang paling ilmiah yang paling dapat dipertanggungjawabkan.
  7. Teruslah mencari karena manusia berevolusi menuju kesempurnaan.

Itulah point-point yang disampaikan oleh my soul. Sekarang, marilah kita telusuri satu persatu.

 

Point 1: Big bang dan teori Darwin:

  1. Big bang masih menjadi suatu teori yang belum tentu terbukti kebenarannya, karena semua masih berupa hipotesa. Dan yang menjadi masalah dari point-point yang disebutkan di atas “apakah semua hipotesa tersebut mengakui adanya campur tangan Tuhan ataukah hanya merupakan suatu kebetulan semata.” Jika hanya merupakan kebetulan semata atau “blind chance”, maka inilah yang bertentangan dengan agama yang mengaku akan satu Tuhan. Bagaimana pandangan Gereja tentang hal ini? Semoga jawaban disini dapat membantu untuk menjelaskan pandangan Gereja tentang hal ini.
  2. Kalau manusia adalah merupakan produk “kebetulan”, maka sungguh sangat tragis bahwa kita semua adalah produk yang tidak diinginkan, namun hanyalah suatu kebetulan semata. Ini sama seperti anak lahir namun tidak pernah diinginkan oleh orang tuanya, dan terjadi karena suatu kecelakaan.

Point 2: Agama hanya suatu simbol, yang akhirnya kembali ke teori big bang.

  1. Agama tidak hanya suatu simbol-simbol yang sama sekali tidak mempunyai dasar ilmiah. Bahkan teologi dapat disebut suatu science. Itu semua tergantung dari definisi science. Di jaman modern ini, orang mencoba membatasi science sebagai “empirical science”, seperti biologi, matematik, fisika, dll. Dalam definisi ini, tentu saja teologi bukanlah empirical science. Namun Aristoteles memberikan pengertian yang lebih luas tentang science, dimana didefinisikan sebagai “an ordered body of knowledge of an object through its fundamental causes.” Dari definisi ini, maka teologi adalah suatu science, karena objeknya adalah Tuhan sendiri dan semua yang berhubungan dengan Tuhan; dan fundamental cause-nya juga adalah Tuhan sendiri.
  2. St. Thomas mengatakan bahwa teologi tidak mempunyai self-evident principles yang berdiri sendiri, seperti matematika. Namun, teologi merupakan subordinate science yang meminjam prinsip-prinsipnya dari science yang lebih tinggi, yaitu dari wahyu Tuhan, dan ini dinamakan Science of God (omniscience). Jadi science ini berdasarkan wahyu Allah sendiri kepada manusia, dan sebenarnya merupakan science yang paling pasti, karena berdasarkan dari kepastian akan pengetahuan Tuhan yang tidak mungkin salah. Sebagai contoh, arsitektur meminjam prinsip matematika (higher science) tanpa berusaha membuktikan kebenaran dari prinsip matematika tersebut. Dalam hal teologi meminjam prinsip dari the Highest Science yaitu dari wahyu Tuhan.
  3. Teologi mempelajari “first cause” untuk mencoba menemukan “the uncaused cause” dan “unmoved mover” yang invisible. Sedangkan “empirical science” mempelajari “secondary cause” dari suatu fenomena yang visible/sensible. Dan keduanya dapat tidak bertentangan, karena secondary cause dapat terjadi karena the first cause. Untuk membuktikan ini, maka sebenarnya manusia mempunyai kapasitas akal budi yang dapat membuktikan keberadaan Tuhan yang Satu. Dan semuanya dapat dibaca di artikel ini.
  4. Secondary cause yang dicari dalam empirical science tidak dapat menerangkan semuanya. Seperti dalam kasus big bang atau teori Darwin, perlu dipertanyakan apakah sebab utama dari big bang, apakah sebab dari sebab tersebut, sampai pada satu saat, manusia hanya dapat mengatakan bahwa ada sesuatu di luar dari semua itu yang menciptakan sesuatu dari ke-tidak ada-an, dimana keberadaannya tidak tergantung dari yang lain. Ia disebut sebagai “uncaused cause” atau “unmoved mover”, dan kaum beragama menyebut-Nya, Tuhan.
  5. Atau teori big bang yang merupakan blind chance tidak dapat menerangkan tentang “human aspiration“, seperti kerinduan manusia akan truth, goodness, and beauty, and love. Juga blind change tidak akan dapat menerangkan keindahan dari alam dan komposisi galaksi yang begitu teratur, yang diatur dengan intelligent design. Sungguh sangat sulit untuk dipahami, bahwa rangkaian big bang yang merupakan rangkaian “blind chance” dapat menciptakan suatu yang teratur dan indah. Ini sama saja mengatakan bahwa simfoni indah yang dibuat Mozart adalah suatu kebetulan dari permainan alat musik yang dimainkan secara sembarangan oleh anak-anak.

Point 3: Kita merupakan percikan Roh Allah:

  1. Dari rangkaian big bang, kemudian disimpulkan bahwa kita merupakan percikan Roh Allah. Pertanyaannya adalah, kalau kita semua merupakan percikan dari Roh Allah, maka Allah seperti apa yang dipercayai? Apakah Allah yang mempunyai pribadi atau Allah yang tidak berkepribadian, yang hanya merupakan suatu energi? Kalau Allah hanya merupakan suatu energi, maka sebenarnya sangat tragis, karena energi levelnya di bawah intellect and will. Energi tidak mempunyai keinginan bebas, tidak mempunyai akal budi. Dan berdasarkan prinsip “sesuatu tidak dapat memberikan apa yang dia tidak punya”, bagaimana Allah yang merupakan suatu energi dapat memberikan intellect and will kepada manusia?
  2. Pemikiran bahwa kita dan semua alam raya merupakan percikan Allah adalah pemikiran Pantheism (dari kata pan & theos yang berarti semua adalah Tuhan dan Tuhan adalah semua). Yang menjadi masalah dalam pemikiran Pantheism adalah bagaimanakah identitas dari Tuhan? Bagaimana Pantheism menjelaskan bahwa ada good and evil di dunia ini? Apakah ini berarti bahwa Tuhan yang ada di dalam diri manusia adalah jahat? Bagaimana gangguan lingkungan dapat menyebabkan kadar sifat Tuhan dalam tiap individu jadi berbeda-beda? Lingkungan seperti apa yang menyebabkan kadar Tuhan dalam individu tertentu lebih besar dari yang lain?
  3. Bagi orang Kristen, Allah merupakan suatu pribadi, yang mempunyai intellect and will, dan oleh karena itu, Allah dapat memberikan intellect and will kepada manusia. Dan terutama bukan merupakan suatu gambaran abstrak, namun Allah yang turun ke dunia, dalam diri Yesus Kristus yang hidup pada masa pemerintahan Pontius Pilatus, yang dicatat dalam sejarah, termasuk oleh sejarahwan Yahudi, Josephus.

Point 4: Lompatan genetik dalam generasi ke generasi

  1. Perlu diperjelas apa yang dimaksud dengan lompatan genetik disini. Apakah orang-orang yang disebutkan di point 4 hanya berbeda karena lompatan genetik? Dalam artikel: 1) Mengapa orang Kristen percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, 2) Inkarnasi adalah Immanuel, Allah yang beserta kita, 3) Kristus yang kita imani=Yesus menurut sejarah, 4) Yesus, Tuhan yang dinubuatkan para nabi, kami mencoba membuktikan bahwa Yesus bukan sekedar “lompatan genetik”, namun Yesus adalah Tuhan. Dan tentu saja Tuhan dan manusia bukan hanya berbeda dalam lompatan genetik, namun secara nature sungguh berbeda tak terbatas, seperti “nature” dan “grace” sungguh sangat /infinitely berbeda, yang bedanya lebih jauh dan infinite dibandingkan dengan perbedaan antara manusia dan cacing.

Point 5: Jangan terlalu berlebihan menerka Tuhan itu siapa

  1. Kalau menerka di sini mengakibatkan orang mencari, maka saya justru berpendapat bahwa adalah suatu hal yang sangat baik untuk mencari Tuhan, karena pencarian kebenaran lebih mulia daripada pencarian akan hal-hal lain. Kalau kita percaya bahwa jiwa kita adalah kekal, maka tidak ada yang lebih berharga untuk menemukan siapa yang menciptakan jiwa kita, dan mau kemana jiwa kita setelah kita meninggal. Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang begitu penting dalam kehidupan kita.
  2. Tanpa kita mencoba menerka, atau lebih tepatnya mencari siapa itu Tuhan, maka sebenarnya kita juga berpegang pada suatu prinsip tertentu tentang ke-Tuhanan, misalkan: mengambil sikap bahwa Tuhan itu tidak ada. Jadi untuk mengambil suatu sikap, baik Tuhan ada maupun tidak ada, manusia perlu membuktikannya, yang tidak semua dapat dibuktikan dengan empirical science.
  3. Apakah asumsi pertama dari teori big bang? bahwa Tuhan tidak ada? ini adalah suatu asumsi yang tidak valid, karena untuk dapat membuktikan bahwa Tuhan tidak ada, perlu suatu pembuktian. Kita tidak dapat menarik suatu kesimpulan berdasarkan suatu premise atau preposisi yang belum terbukti benar. Jadi tentu saja tidak benar kalau kita berkata:Premise 1: Tuhan tidak adaPremise 2: Teori big bang membuktikan bahwa segala sesuatu adalah merupakan kebetulan.Kesimpulan: Karena semua terjadi secara kebetulan, yang berarti tidak ada yang mengatur, maka Tuhan tidak ada.

    Untuk sampai pada kesimpulan yang benar, maka premise 1 dan 2 harus benar. Dan untuk itu, pertama harus membuktikan bagaimana seseorang dapat mengatakan bahwa Tuhan tidak ada.

Point 6: Sejarah dan fakta:

  1. Sejarah ditentukan oleh penguasa, dapat benar dan dapat juga tidak, dan hanya fakta yang berbicara. Namun pernyataan ini juga agak membingungkan, karena siapa yang dapat menentukan bahwa suatu fakta itu benar atau tidak. Dan tentu saja kita tidak dapat membatasi pada fakta yang hanya dapat dilihat dengan senses kita. Sebagai contoh, bagaimana kita dapat membuktikan bahwa kita adalah merupakan percikan Allah, seperti yang dipercayai oleh faham Pantheism.
  2. Bukankah dalam kehidupan kita, kita sering mempercayai sesuatu berdasarkan “trustwortiness of the witness”? Sebagai contoh, sebelum ditemukan DNA test, bagaimana seorang anakpercaya tentang keaslian ayahnya? Bagaimana membuktikannnya? kecuali dengan percaya akan perkataan ayah atau ibunya. Demikian juga dengan Agama Kristen, kita percaya karena saksi yang kita percayai, yaitu Tuhan sendiri. Dan ini juga dapat dibuktikan dengan “motive of credibility”, seperti yang dibahas dalam artikel: Mengapa orang Kristen percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Silakan juga membaca artikel Kristus yang kita imani = Yesus menurut sejarah, yang memaparkan akan trustwortiness of the witness.

Point 7: Terus mencari

  1. Pertanyaannya, sampai kapan proses pencarian harus dilakukan? Pencarian yang tanpa henti dan tidak tahu tujuannya adalah pencarian yang sia-sia. Kalau ditanya, apakah yang dicari? apakah semuanya dapat menemukan jati diri manusia dan dapat menemukan siapa pencipta manusia? Pertanyaan yang paling utama dalam proses pencarian adalah tujuan. Tanpa tujuan yang jelas, percuma untuk mencari, karena pencarian akan berakhir dengan kebingungan. Pencarian tanpa akhir tidak dapat membuat manusia bahagia, karena hanya pada saat manusia menemukan apa yang dicari, maka manusia dapat beristirahat dan menemukan kebahagiaan. Atau apakah tujuan akhir dari hal ini adalah persatuan dengan Sang Sumber Energi? Kalau semuanya dapat bersatu, bagaimana menjawab masalah ketidakadilan? Apakah ada orang-orang tertentu yang mungkin tidak dapat bersatu dengan Sang Sumber Energi ini?
  2. Dalam Kekristenan, pencarian kita melalui Yesus, yang adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Pencarian ini akan berakhir pada saat manusia bersatu dengan Tuhan di surga, pada saat manusia bertemu dengan Tuhan muka dengan muka. Dan itulah kebahagiaan sejati, yang telah dapat kita rintis sejak kita hidup di dunia dengan berpegang pada ajaran-ajaranNya. Dan keadilan ditegakkan pada saat Penghakiman Terakhir.

Demikianlah jawaban yang dapat diberikan atas beberapa point yang dikemukakan my soul. Semoga jawaban-jawaban tersebut dapat membantu my soul untuk melihat bahwa beriman kepada Tuhan yang satu adalah sungguh sesuatu yang paling masuk akal, bahkan sebaliknya tidak beriman kepada Tuhan adalah sesuatu yang tidak masuk akal, seperti yang dipaparkan dalam artikel: Bagaimana membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Dan saya berdoa agar dalam proses pencarian akan kebenaran, my soul dapat menemukan kebenaran itu sendiri, yaitu Tuhan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Magisterium, penciuman salib

5

Pertanyaan:

Hallo…
Aku baru nemuin situs ini ketika ingin cari artikel tentang Bunda Maria. Ga sangka banget! Begitu buka dan baca2, WoW! Artikel2nya sangat membantu menambah&memperluas wawasan, detail sekali, more than words can say lah….
Miss Ingrid & Mr. Stef, saya mau tanya :
1. Apa yang dimaksud Magisterium? Contohnya yang bagaimana?
2. Apa makna penciuman salib pada hari Jumat Agung? Apakah wajib bagi semua umat Katolik? Jika pada saat penciuman salib, maju tetapi tidak melakukan penciuman salib melainkan hanya memberi penghormatan dengan menundukkan kepala,pantaskah?
3. Apakah kata “pengantara” dan “perantara” yang sering digunakan memiliki makna sama? Misal : Yesus, Tuhan dan Pengantara Kami. Bunda Maria, Perantara doa….
Mohon jawabannya yaa… Terima kasih sebelumnya.
Tuhan memberkati kalian dan setiap karya2 kalian.
Salam kasih & salut ! – Mei

Jawaban:

Shalom Mei,
Terima kasih telah mengunjungi katolisitas.org dan juga atas dukungannya terhadap website ini. Ini adalah jawaban untuk beberapa pertanyaaan Mei:

1. Magisterium:

  1. Magisterium diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai Wewenang Mengajar Gereja. Katekismus Gereja Katolik no.100 menjelaskannya sebagai berikut: “Tugas untuk menjelaskan Sabda Allah secara mengikat, hanya diserahkan kepada Wewenang Mengajar Gereja, kepada Paus dan kepada para uskup yang bersatu dengannya dalam satu paguyuban“.
    Vatikan II dalam Lumen Gentium, Konstitusi tentang Gereja, 25 menjabarkan bahwa Wewenang Mengajar tersebut, jika dilakukan dalam kondisi “ex-cathedra” berada dalam pimpinan Roh Kudus sendiri, sehingga mempunyai ciri ‘tidak dapat sesat‘.” Ciri tidak dapat sesat itu ada pada Imam Agung di Roma (yaitu Bapa Paus), Kepala Dewan para Uskup, berdasarkan tugas beliau, bila selaku gembala dan guru tertinggi segenap Umat beriman, yang meneguhkan saudara-saudara beliau dalam iman (lih. Luk 22:32), menetapkan ajaran tentang iman atau kesusilaan dengan tindakan definitif. Oleh karena itu sepantasnyalah dikatakan, bahwa ketetapan-ketetapan ajaran beliau tidak mungkin diubah dari dirinya sendiri, dan bukan karena persetujuan Gereja. Sebab ketetapan-ketetapan itu dikemukakan dengan bantuan Roh Kudus, yang dijanjikan kepada Gereja dalam diri Santo Petrus. Oleh karena itu tidak membutuhkan persetujuan orang-orang lain, lagi pula tidak ada kemungkinan naik banding kepada keputusan yang lain. Sebab disitulah Imam Agung di Roma mengemukakan ajaran beliau bukan sebagai perorangan; melainkan selaku guru tertinggi Gereja semesta, yang secara istimewa mengemban kurnia tidak dapat sesat Gereja sendiri, beliau menjelaskan atau menjaga ajaran iman katolik. Sifat tidak dapat sesat yang dijanjikan kepada Gereja, ada pula pada badan para Uskup, bila melaksanakan wewenang tertinggi untuk mengajar bersama dengan pengganti Petrus.
  2. Jadi, Peran Wewenang Mengajar Gereja ini sangat penting dalam menjaga kemurnian ajaran Gereja, yang bersumber pada Alkitab dan Tradisi Suci. (Silakan baca: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan bagian ke- 3). Dalam sejarah Gereja, kita melihat Magisterium berperan untuk menjelaskan ataupun menjabarkan pengajaran yang bersumber pada Alkitab dan Tradisi Suci tersebut, termasuk meluruskan pengertian ajaran, terutama jika ada pengajaran sesat. Wewenang ini dapat dilakukan oleh Bapa Paus dan beserta para Uskup (misal berupa Konsili), atau oleh Bapa Paus sendiri selaku penerus Rasul Petrus. Contohnya, pada abad ke-3, ajaran sesat Arianisme (yang menyatakan Yesus bukan Tuhan dan tidak setara dengan Allah Bapa) diluruskan oleh Konsili Nicea, yang menegaskan bahwa Kristus sungguh-sungguh setara (consubstantial ) dengan Allah Bapa. Hal ini dapat kita lihat dari teks syahadat Nicea: “Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah benar…  Ia … sehakekat dengan Bapa.” Sedangkan contoh Wewenang Mengajar yang dilakukan oleh Bapa Paus, misalnya adalah Dogma Maria Dikandung tanpa Noda (Inneffabilis Deus) oleh Bapa Paus Pius IX, tanggal 8 Desember 1854. Selanjutnya silakan baca Maria Dikandung Tanpa Noda: apa maksudnya?

2. Penciuman Salib pada hari Jumat Agung

  1. Selama masa prapaskah, sebetulnya Gereja mengajak seluruh umat untuk merenungkan peristiwa iman yang menjadi dasar seluruh iman Katolik, yaitu Allah Bapa yang mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk datang ke dunia untuk menyelamatkan kita dari belenggu dosa. Dan kasih-Nya kepada umat manusia mencapai puncaknya pada hari Jumat Agung, hari dimana Yesus mengurbankan diri-Nya di kayu salib untuk keselamatan manusia. Dari pengorbanan di salib inilah, maka seluruh berkat dari Allah mengalir dan Roh Kudus juga tercurah kepada umat-Nya. Jadi kita melihat bahwa tanpa peristiwa wafat Yesus di salib atau Jumat Agung tidak akan ada kebangkitan atau Minggu Paskah. Untuk inilah salib menjadi tanda kemenangan dan kekuatan Allah (1 Kor 1:18). Penghormatan salib dalam liturgi Jumat Agung dimulai sekitar abad ke-4 di Yerusalem, yang kemudian berkembang ke seluruh dunia, sampai sekarang.
  2. Jadi penciuman salib adalah berakar dari tradisi yang mempunyai dasar teologi yang dalam. Kalau kita perhatikan semua yang dilakukan di dalam liturgi adalah merupakan ekspresi yang ada di dalam hati. Juga penciuman salib adalah suatu ekpresi yang keluar dari dalam hati, yaitu suatu ekpresi syukur dan kasih kepada Yesus yang telah terlebih dahulu mengasihi kita.
  3. Pertanyaannya apakah kita pantas untuk maju dan menghormat tanpa mencium salib? Boleh saja, sejauh hati kita benar-benar mengasihi Kristus dan menghormati dan mensyukuri pengorbanan Kristus. Namun bagi saya pribadi, saya memilih untuk mencium salib. Tidak ada penghormatan bagi Kristus Tuhan yang terlalu berlebihan. Semua penghormatan yang kita lakukan adalah selalu kurang dibandingkan apa yang seharusnya diterima oleh Yesus. Pada saat kita menghormati salib sebagai instrumen keselamatan kita, maka kita berdoa kepada-Nya yang telah menyelamatkan kita.

Pengantara dan perantara:

  1. Mengenai Yesus Pengantara, itu mengacu pada peran Yesus sebagai Mediator (Pengantara) antara Allah dan manusia. Yesus adalah satu-satunya Pengantara yang mendamaikan kita dengan Tuhan (1 Tim 2: 5), dengan wafatNya di salib dan kebangkitan-Nya. Sedangkan Maria menjadi perantara bagi kita dan Tuhan Yesus oleh karena doa-doanya. Oleh perannya ini Bunda Maria disebut sebagai Mediatrix. Mungkin ada baiknya, Mei melihat jawaban surat kami kepada Andry, tentang ikut Maria atau ikut Yesus, di sini (silakan klik). Pada intinya, perantaraan Maria tidak bertentangan dengan pengantaraan Yesus, melainkan mendukung pengantaraan Yesus tersebut. Sedangkan untuk Pengantaraan Yesus yang sifatnya inklusif, yaitu melibatkan anggota- anggota Tubuh-Nya yang lain, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

Demikianlah jawaban kami, semoga keterangan diatas dapat menjawab pertanyaan Mei. Mohon doa dari Mei agar katolisitas.org dapat menjadi alat Tuhan untuk mewartakan kebenaran Kristus.

Salam kasih dari https://katolisitas.org
stef & ingrid

Cara Mempersiapkan Diri Menyambut Ekaristi

61

Mengapa kita harus mempersiapkan diri

Sering kita mendengar, dan mungkin juga mengalami, bahwa mengikuti Misa Kudus dapat menjadi sesuatu yang rutin. Bukannya tidak mungkin bahwa di kalangan orang Katolik sendiri ada yang menganggap ikut Misa hanya kewajiban. Bahkan ada yang berkomentar misalnya, ‘misanya bikin ngantuk’ atau ‘khotbahnya kurang semangat’. Padahal kita semua mengetahui bahwa Ekaristi adalah sumber dan puncak ibadah kita, sebab Kristus sendiri hadir di dalamnya. Bagaimana seharusnya, supaya kita dapat lebih menghayati Misa Kudus? Artikel ini ditulis sebagai kelanjutan dari artikel “Sudahkah kita pahami Ekaristi?” dan “Ekaristi Sumber dan Puncak Spiritualitas Kristiani”. Berikut ini adalah langkah-langkah yang dapat kita renungkan agar sedapat mungkin (dan sebanyak mungkin) kita memperoleh rahmat Ekaristi; karena efek penerimaan rahmat tersebut tergantung juga dari sikap batin kita saat menerima Ekaristi. ((Sacrosanctum Concilium, 11, Vatikan II tentang Liturgi Suci menjabarkan pentinganya persiapan batin sebelum mengikuti liturgi, “Akan tetapi supaya hasil guna itu diperoleh sepenuhnya, Umat beriman perlu datang menghadiri liturgi suci dengan sikap-sikap batin yang serasi.”))

Jika perhatian utama kita dalam Misa Kudus adalah Tuhan Yesus, maka sesungguhnya kita mempunyai alasan yang kuat untuk mempunyai ketetapan hati yang sungguh untuk mempersiapkan hati sebelum menyambut Dia dalam Ekaristi. Dengan persiapan yang baik, kita akan lebih dapat menghayati dan mengalami efek yang lebih besar setelah menerima rahmat Ekaristi. Namun jika perhatian kita tertuju pada diri sendiri dan perasaan kita, maka akan sulit bagi kita untuk menghayati rahmat tersebut. Sebab yang kita harapkan adalah supaya kita ‘merasakan’ dan mengalami sesuatu, dan bukannya mengimani sesuatu –dalam hal ini adalah kehadiran Tuhan sendiri- yang tidak dapat kita lihat dan kita rasakan. Padahal, iman yang sejati adalah iman yang berdasarkan pada pengharapan (lih. Ibr 11:1) dan bukan pada perasaan.

Maka kini, mari kita mohon pada Tuhan agar kita beroleh karunia iman yang sejati, yang berpusat pada Tuhan (dan bukan pada perasaan kita). Dengan demikian kita dapat memiliki sikap hati yang benar, baik sebelum, pada saat dan sesudah menerima Ekaristi Kudus. Pada intinya, kita harus datang ke hadapan Tuhan dengan hati sebagai hamba, yang siap menerima dan memberikan juga jerih payah kita. Ingatlah bahwa dengan berpartisipasi dalam Ekaristi kita memenuhi tugas panggilan imamat bersama, yang kita terima pada saat Pembaptisan kita, saat kita menerima peran sebagai imam, nabi dan raja (lih. 1 Pet 2:9; dan juga silakan baca: Sudahkah kita diselamatkan?).

Prinsip dasar yang perlu kita ketahui tentang Misa Kudus

Pertama-tama, kita perlu mengetahui bahwa Misa Kudus terdiri dari 2 bagian, yaitu: Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Kedua bagian ini sangat berkaitan satu dengan lainnya dan membentuk satu kesatuan ibadat kita. ((Sacrosanctum Concilium, 56, “Misa suci dapat dikatakan terdiri dari dua bagian, yakni liturgi sabda dan liturgi Ekaristi. Keduanya begitu erat berhubungan, sehingga merupakan satu tindakan ibadat.”)) Hal ini berdasarkan pengajaran dari Yesus sendiri, yang menampakkan Diri setelah kebangkitan-Nya pada kedua muridNya yang berjalan ke Emaus (lih. Luk 24:13-35). Yesus menyatakan kehadiran-Nya pertama-tama dengan menjelaskan isi Kitab Suci, mulai dari kitab Musa dan kitab nabi-nabi. Mendengarnya, hati kedua murid itu berkobar-kobar, walaupun pada saat itu mereka belum menyadari bahwa Yesuslah yang sedang berkata-kata kepada mereka. Kemudian mereka meminta Yesus untuk tinggal dan makan bersama dengan mereka. Hanya pada saat Yesus mengambil roti, mengucap syukur dan memecah dan membagikannya, maka para murid itu mengenali Dia.

Maka, jika kita ingin menghayati Misa Kudus, kita harus menyadari kedua bagian ini dan berpastisipasi di dalamnya. Di bagian pertama, Liturgi Sabda, peran kita adalah aktif mendengarkan dan meresapkannya, dan di bagian kedua, Liturgi Ekaristi, kita aktif ikut mengucap syukur dan mempersembahkan korban kita. ‘Korban’ di sini bukan hanya terbatas pada korban roti dan anggur yang ada di tangan pastor- yang akan diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus, tetapi juga adalah korban yang kita bawa sebagai persembahan kita, yaitu diri kita sendiri dan segala yang ada dalam hati kita: suka duka, syukur, pergumulan, sakit penyakit, dst. Korban kita ini akan dipersatukan dengan korban Kristus, Sang Kepala, agar berkenan di mata Allah Bapa.

Petunjuk praktis

Persiapan sebelum Perayaan Ekaristi

  1. Baca dan renungkanlah Bacaan Misa Kudus hari itu sebelum menghadiri Misa, entah malam sebelumnya (doa malam) atau pagi hari (doa pagi). Keterangan bacaan Misa Kudus ini dapat diperolah dari website ini (silakan klik di sini) ataupun dari buku renungan harian yang berdasarkan Kalender Gereja. Awali permenungan akan Sabda Allah ini dengan doa syukur, demikian juga di akhir renungan. Jika semua anggota keluarga beragama Katolik, kita dapat merenungkannya bersama-sama sebagai satu keluarga: yaitu suami, istri dan anak-anak. Hal ini baik juga untuk menanamkan kebiasaan membaca dan merenungkan kitab suci pada anak-anak.
  2. Ambillah satu ayat yang dapat kita ingat untuk kita ulangi di dalam hati. Kita dapat mengulangi ayat ini dan meresapkannya di dalam hati. Atau renungkanlah beberapa tema kasih Tuhan berkaitan dengan Ekaristi Kudus, seperti: Yesus adalah Roti Hidup yang kuperlukan; Ekaristi adalah sumber suka cita dan kekuatanku; Komuni mempersiapkan aku untuk kebahagiaan Surgawi; Dalam Komuni aku berjumpa dengan Yesus Sahabat dan Tuhanku, dll.
  3. Periksalah batin, dan jika kita menemukan dosa yang cukup berat, akukanlah dosa tersebut di hadapan Tuhan dan juga buatlah ketetapan hati untuk mengaku dosa pada Pastor dalam sakramen Tobat; jika memungkinkan sebelum misa, namun jika tidak, secepatnya pada hari-hari berikutnya.
  4. Untuk persiapan Misa Kudus hari Minggu, persiapkan segala sesuatunya sebelumnya, supaya tidak tergesa-gesa. Misalnya, siapkanlah uang persembahan/ kolekte (baik jika dimasukkan di dalam amplop), siapkanlah anak-anak, terutama jika anak-anak sering membuat kita terlambat ke gereja. Bangunlah lebih pagi, jika perlu. Siapkanlah pakaian yang pantas dan sopan untuk kita pakai ke gereja. Contoh sederhana: jika kita punya sepatu, pakailah sepatu, bukan sandal, apalagi sandal jepit; jika kita punya baju berlengan, pakailah itu, dan jangan pakai baju tangan buntung. Ingatlah bahwa apa yang terlihat dari luar adalah cerminan dari isi hati. Lagipula, Sang Tamu Agung yang akan kita sambut adalah lebih mulia daripada seorang Presiden atau Raja!
  5. Persiapkanlah Kurban Rohani yang akan kita persembahkan kepada Tuhan.  Ingatlah bahwa setelah dibaptis, kita dipilih Tuhan sebagai bangsa pilihan, umat yang rajani, yang memiliki imamat bersama. Maka meskipun pemimpin Misa adalah imam yang telah ditahbiskan (imam jabatan) yang bertindak atas nama Kristus, namun itu bukan berarti kita hanya ‘menonton’.  Sebaliknya, kita juga harus mengambil bagian dalam kurban itu, sebagai anggota Tubuh Kristus yang menghantar persembahan kita bersama-sama dengan kurban Kristus sang Kepala. Kurban persembahan yang dapat kita persiapkan adalah kurban pujian dan syukur atas rahmat Tuhan yang kita terima, atau bahkan kurban hati yang hancur, jika kita sedang menghadapi pergumulan dan permasalahan. Persiapkanlah semua kurban itu di dalam hati kita agar dapat kita bawa ke hadapan-Nya.
  6. Janganlah makan atau minum dalam waktu 1 jam sebelum menerima Komuni ((Kitab Hukum Kanonik Gereja tahun 1983, can. 919 menyebutkan bahwa “Seseorang yang akan menerima Ekaristi Kudus harus berpuasa sedikitnya satu jam sebelum Komuni kudus, artinya tidak makan dan minum, kecuali air putih dan obat.” Sesungguhnya, peraturan ini tidaklah sukar karena hampir praktis artinya tidak makan dan minum dalam perjalanan ke gereja, jika jarak antara rumah dan gereja sekitar ½ jam, dan jika kita datang ke gereja sekitar 15 menit sebelum misa dimulai.)), untuk sungguh memberikan keistimewaan pada Kristus yang akan menjadi santapan rohani.
  7. Nyalakanlah kaset lagu rohani, atau lagu meditasi yang dapat mengarahkan hati kepada Tuhan, sebelum berangkat ke gereja. Sebaiknya di perjalanan kita hening dan sudah mulai mengarahkan hati kepada Tuhan. Kita dapat pula berdoa rosario di dalam perjalanan dari rumah ke gereja.
  8. Datanglah cukup awal, supaya setidaknya ada waktu untuk berdoa misalnya sekitar 10-15 menit sebelum misa dimulai, dan menenangkan hati dan pikiran sebelum mengikuti misa.

Pada saat di gereja: Tenangkanlah batin, dan dengarkanlah Tuhan

Pada saat kita memasuki gedung gereja, kita membuat tanda salib dengan air suci, yang mengingatkan kita pada janji Baptis kita, yaitu untuk selalu beriman kepada Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Katakanlah dalam hati, “Aku mengingat bahwa aku telah dibaptis di dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus,  aku telah dibebaskan dari dosa asal,  diberi kehidupan ilahi di dalam Kristus dan digabungkan di dalam Tubuh-Nya yaitu Gereja-Nya.”

Pada sebelum kita memasuki baris bangku gereja kita tunduk/ berlutut sejenak, menghormati tabernakel. Di dalam hati kita katakan, “Tuhan Yesus, aku menyembah Engkau yang hadir dalam Sakramen Maha Kudus.” Sesudahnya, duduklah tenang mempersiapkan diri dalam keheningan batin.Misa Kudus adalah saat kita bertemu dan bersatu dengan Tuhan dalam keheningan. Keheningan itu penting, karena dalam keheningan kita dapat melepaskan diri dari semua keterikatan pikiran dan kehendak kita; dan sepenuhnya mengarahkan hati kepada Tuhan. Musik, doa, dan renungan itu baik, namun seharusnya semua itu menghantar kita pada persatuan dengan Tuhan yang paling dalam, yaitu dalam keheningan batin, di mana tidak ada apa-apa lagi selain hanya Tuhan dan kita.

Untuk mencapai keheningan batin inilah kita semua berjuang, karena begitu kita mencoba, maka pada saat yang sama pikiran kita akan dipenuhi oleh pikiran-pikiran yang lain, mulai dari pekerjaan, masalah yang sedang kita hadapi, sampai hal-hal sepele; seperti mau makan apa sepulang misa, jalan-jalan sama teman atau ingatan akan film TV yang semalam baru ditonton! Jika pikiran kita melayang sedemikian, katakan pada diri sendiri: “Sekarang aku di sini. Aku hanya perlu melakukan satu hal: ikut serta sepenuh hati merayakan kehadiran Kristus dalam Ekaristi. Tuhan, bantulah aku mengarahkan hati dan mempersembahkan kurban kasihku kepadaMu.” Arahkanlah pandangan kepada salib Yesus atau Tabernakel, atau jika dipandang lebih mudah, tutuplah mata dan berdoalah dalam ketenangan. Ingatlah akan kurban yang hendak kita persembahkan bersama dengan kurban Kristus dalam Misa Kudus ini: misal, kurban syukur atas berkat yang kita terima, kurban pergumulan yang sedang kita hadapi, ataupun kurban doa syafaat untuk orang-orang yang kita kasihi. Sampaikanlah hal ini kepada Tuhan.

Begitu musik lagu pembukaan dinyanyikan, berdirilah, sambutlah kehadiran Tuhan. Ikutlah menyanyi dengan segenap hati. Ketika imam dan semua pelayan altar menunduk di hadapan altar, turutlah menunduk, dan katakan di dalam hati, “Ya Tuhan, aku hadir di sini, memenuhi panggilan-Mu.”

Ingatlah akan segala kekurangan kita, dan katakan dari hati “Tuhan kasihanilah kami, Kristus kasihanilah kami, Tuhan kasihanilah kami”. Ucapkanlah pujian yang keluar dari hati, memuliakan Tuhan dalam “Gloria”. Pada saat imam mengucapkan doa pembukaan, jadikanlah perkataan imam sebagai kata hati kita sendiri.

Liturgi Sabda

Sesaat sebelum memasuki Liturgi Sabda, tenangkan hati dan sungguh-sungguh pusatkan perhatian untuk mendengarkan pembacaan pertama Sabda Tuhan. Karena kita telah membaca sebelumnya, semoga kita dapat lebih meresapkannya pada saat kita mendengarkannya kembali. Demikian pula dengan Mazmur dan bacaan kedua. Nyanyikanlah Alleluia. Ingatlah bahwa Yesus dahulupun memuji Allah Bapa dengan nyanyian yang sama, Alleluia: Hallel, O Yahweh (Terpujilah O, Tuhan). Pada saat pembacaan Injil, kita mencoba merenungkan bahwa kita termasuk bilangan dari orang-orang yang menyaksikan sendiri perkataan/ perbuatan Yesus pada saat itu. Pujilah Kristus saat Injil selesai dibacakan.

Pada waktu homili, dengarkanlah pesan imam. Jika sampai pikiran kita melayang, katakanlah pada diri sendiri: “Aku hadir di sini untuk Kristus. Tuhan, bantulah aku…” Kemudian dengarkanlah kembali. (Sesungguhnya doa ini dapat kita ucapkan berkali-kali, setiap saat pikiran kita ‘berbelok’ dari fokus kepada Tuhan). Sedapat mungkin tariklah kaitan antara homili dengan Injil yang baru saja dibaca, serta pelajaran apa yang kita peroleh sehubungan dengan itu. Jika kenyataannya adalah kita benar-benar ‘mengantuk’ dan tidak dapat menangkap isi khotbah seluruhnya, jangan berkecil hati. Berdoalah pada Tuhan, agar Ia membantu kita mengingat minimal satu kalimat atau bahkan satu kata saja yang dapat berbicara kepada kita. Misalnya saja, kita menangkap kata: “Bertobat” atau “Percayalah”… hal itu adalah pesan bagi kita.

Pada saat mengucapkan Syahadat Aku Percaya, ucapkanlah dengan iman yang teguh. Yakinilah dengan iman bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi yang telah mengutus Putera-Nya Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita. Pada saat mengucapkan “… dan akan Yesus Kristus… yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria…” kita menundukkan kepala dengan hormat, sebab kita sungguh menyadari akan kasih Allah yang terbesar: bahwa Ia telah menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita.

Selanjutnya, ikutilah mengucapkan doa umat dalam hati, sadarilah bahwa kita merupakan bagian dari anggota Tubuh Kristus yang terdiri dari umat seluruh dunia. Doa kita sebagai anggota Tubuh yang satu akan menyumbangkan kebaikan buat anggota Tubuh yang lain.

Liturgi Ekaristi

Selanjutnya, kita memasuki Liturgi Ekaristi. Tibalah saatnya kita mempersembahkan segala sesuatu kepada Tuhan: persembahan kolekte yang telah kita siapkan, namun lebih dari itu adalah persembahan segenap kasih, kehendak, pikiran, pergumulan kita kepada Tuhan. Pada saat imam memberkati roti dan anggur di altar suci, pada saat itu pula kita turut mempersembahkan persembahan kita. Sadarilah bahwa pada saat itu, kita bukan sekedar ‘menonton’ apa yang dilakukan imam, melainkan kita sendiri ikut mengangkat hati dan mempersembahkan diri kita kepada Tuhan. Persembahan kita adalah korban syukur kita kepada Tuhan, atau, dapat juga berupa hati yang hancur, seperti dikatakan dalam Mzm 51:19: “Korban kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak Kaupandang hina, ya Allah.” Korban kita itu kita gabungkan dengan korban semua anggota Gereja (Tubuh Kristus) yang menjadi satu dengan korban Kristus (Sang Kepala), yang dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus. Korban ini mempersatukan kita dengan seluruh anggota Tubuh-Nya, baik yang masih berziarah di bumi, maupun yang sedang dimurnikan di Api Penyucian dan yang sudah berjaya di Surga.

Saat Doa syukur agung dibacakan, arahkanlah hati kepada Tuhan, sehingga kita sungguh mengatakan dengan iman, bahwa “sudah layak dan sepantasnya” bahwa kita mengagungkan Tuhan kita. Sebab sungguh layak dan kuduslah Tuhan, yang patut kita sembah dan kita muliakan. Maka pada saat Kudus, kudus, kudus dinyanyikan atau dibacakan, kita menggabungkan pujian kita dengan pujian seluruh isi surga, para malaikat dan seluruh anggota Gereja di manapun juga, memuji Allah segala kuasa, dan Kristus yang telah datang atas nama Tuhan. Ya, terpujilah Tuhan di surga!

Dengan hati penuh syukur, kita merenungkan kembali perkataan Yesus yang penuh kuasa. Bahwa sebelum menderita sengsara, Ia telah menetapkan perjamuan bersama para murid-Nya yang kini kita lakukan demi peringatan akan Dia. Konsekrasi adalah bagian yang utama dalam Misa Kudus, yaitu pada saat imam mengatakan, “Terimalah dan makanlah. Inilah Tubuhku yang dikurbankan bagimu.” Dan kemudian imam mengangkat roti hosti. Pandanglah hosti kudus itu dengan penuh syukur dan kasih sebab Kristus telah rela mati untuk menebus dosa kita. Kini, oleh kuasa Roh Kudus-Nya Ia menghadirkan kembali Misteri Paska di tengah kita. Oleh Sabda Allah yang dikatakan oleh imam, hosti itu bukan hosti lagi, melainkan Tubuh Kristus sendiri. Maka kita dapat memandang hosti itu sambil berkata seperti yang dikatakan oleh Rasul Thomas, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Demikian pada saat imam berkata, “Terimalah dan minumlah. Inilah piala darahKu, darah perjanjian baru dan kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku;” kita memandang piala yang diangkat itu, sambil mengatakan hal yang sama, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Kita dapat menundukkan kepala, tanda hormat dan syukur atas Misteri Kristus ini. Katakan dengan iman, “Terima kasih Yesus, Engkau telah mengasihi aku dan menyerahkan diriMu untuk aku” (Gal 2 :20).

Selanjutnya kita lambungkan madah anamnese, ”Wafat Kristus kita maklumkan, kebangkitanNya kita muliakan, kedatanganNya kita rindukan.” Dengan demikian kita menyatakan iman kita atas Misteri Kristus: Ia telah wafat, bangkit dan akan kembali. Dan sementara kita menantikan kembali kedatangan-Nya, kita dikuatkan oleh Kristus sendiri dalam Ekaristi. Di dalam Dia kita dipersatukan sebagai satu Tubuh, dalam pimpinan Bapa Paus dan para uskup. Kita juga dipersatukan dengan para saudara kita yang telah berpulang di dalam kerahiman Tuhan (pada saat ini kita boleh mendoakan saudara-saudari kita yang telah meninggal dunia). Kita juga dipersatukan dengan para kudus di surga, terutama dengan Bunda Maria dan para rasul. Sehingga bersama mereka kita dapat mengangkat pujian kepada Tuhan Allah Tritunggal Maha Kudus seiring dengan perkataan imam, “Dengan pengantaraan Kristus, bersama Dia dan dalam Dia, bagiMu, Allah Bapa yang mahakuasa, dalam persekutuan dengan Roh Kudus, segala hormat dan kemuliaan sepanjang segala masa.” Kita menjawab Amen, Amen. (Ya, kemuliaan bagi-Mu ya Tuhanku!).

Kini tibalah saatnya kita mengucapkan doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada kita, yaitu doa “Bapa Kami”. Bayangkanlah bahwa Yesus ada di hadapan kita melihat bagaimana kita mengucapkan doa yang diajarkan-Nya ini. Ucapkanlah dengan iman, setiap kata dalam doa ini. Bayangkanlah bahwa kita bersama dengan seluruh murid Yesus dipersatukan di dalam doa ini, dengan memuliakan Allah kita yang di dalam Kristus dapat kita panggil sebagai “Bapa Kami”.

Selanjutnya adalah doa damai. Saat memberikan salam damai, jangan sampai pusat perhatian kita bergeser dari Tuhan kepada orang-orang di sekitar kita. Walaupun mata kita memandang mereka saat memberi salam, namun yang terpenting adalah niatan di dalam hati kita untuk berdamai, tidak saja kepada mereka, tetapi juga kepada mereka yang menyakiti ataupun yang kita sakiti hatinya. Orang-orang di sekitar kita yang kita beri salam adalah sebagai wakil yang mengingatkan kita akan niatan hati kita itu. Ingatlah akan pesan Yesus, “…jika engkau mempersembahkan di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada di dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu…” (Mat 5:23). Maka salam damai yang kita nyanyikan harusnya bukan sekedar ‘basa-basi’, namun sesungguhnya membawa akibat perubahan yang besar, yaitu bahwa kita berketetapan hati untuk mengampuni orang (siapapun orang itu) yang menyakiti kita, dan meminta ampun kepada orang yang telah kita sakiti hatinya. Jika kita belum sempat melakukannya sebelum Misa, biarlah kita melakukannya sekembalinya kita dari Misa Kudus.

Hanya dengan hati yang dipenuhi damai inilah, maka kita dapat dengan lapang memandang Tuhan Yesus, Sang Anak Domba Allah. Pandanglah Kristus, dan kita akan belajar dari-Nya bagaimana caranya mengasihi dan mengampuni, sampai sehabis-habisnya. Dia telah menyerahkan DiriNya di kayu salib, sebagai bukti kasih-Nya yang tiada batasnya pada kita: Ia mau menderita, demi menebus dosa kita, Ia mau dihina sedemikian rupa, untuk menanggung akibat dosa kita. Ia rela berkorban, sampai seperti anak domba, yang tanpa melawan, menyerahkan nyawa-Nya. Pandanglah Kristus, dan akuilah segala kelemahan kita, bahwa kita sering tidak mau dan tidak dapat berkorban. Sekali lagi kita mohon belas kasihan dari-Nya dan mohon kekuatan atas niat kita untuk berdamai dan menjadi pembawa damai: “Anak Domba Allah, kasihanilah kami…. Berilah kami damai…”

Saat Kristus dalam rupa Hosti itu diangkat di hadapan kita, lihatlah bukti kerendahan hati Yesus yang tidak ada taranya: Setelah menjelma menjadi manusia dan wafat sebagai seorang hamba, Kristus yang adalah Putera Allah semesta alam, kini merendahkan diri, dengan mengambil rupa sepotong roti, supaya kita dapat menyambutNya, tanpa merasa canggung, takut dan malu. Ia menyembunyikan kemuliaan-Nya, agar kita dapat menghampiriNya. O, seandainya kita dapat mengatakan dengan iman seperti yang dikatakan oleh perwira itu, “Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya. Tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.” Semoga Tuhan melihat iman dalam hati kita, sehingga seperti Ia dahulu mengabulkan permohonan perwira itu, kini Ia-pun mengabulkan permohonan kita.

Kini tibalah saatnya kita menantikan saat yang suci itu: bahwa kita akan menyambut Komuni. Saat menunggu, maupun berjalan menghampiri altar suci, arahkan hati kepada Tuhan, “Tuhan, ini aku, datang menyambutMu…” atau “Tuhan, mari masuklah ke dalam hatiku…” Ucapkanlah, “Amin”, pada saat menerima “Tubuh Kristus”. Biarlah tubuh dan jiwa kita bersyukur tiada terhingga menyambut sang Tamu Agung: Raja Semesta Alam yang Ilahi masuk ke dalam diriku, bersatu dengan tubuh dan jiwaku! Salam, hai Engkau, Roti Surgawi, mari masuk dan tinggallah di hatiku”

Doa setelah menerima Ekaristi

Setelah menerima Ekaristi, kita kembali ke tempat duduk dan terus berdoa:

  1. Sembahlah Yesus yang bertahta di hati kita. Bayangkan kita mencium kaki Yesus dan tangan-Nya yang menunjukkan bekas luka-luka karena dipaku di kayu salib. Pandanglah Dia, dan serahkan diri kita kepadaNya. “Engkaulah Tuhanku, Engkaulah Rajaku, aku menyembahMu, Tuhan. Aku mengasihi Engkau.”
  2. Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia telah mengasihi kita, menghargai kita dengan mau datang dan masuk dalam diri kita melalui Komuni Kudus. Pujilah Tuhan, untuk segala kebaikanNya. Undanglah para malaikat, semua orang kudus, dan Bunda Maria untuk juga mengucap syukur bersama kita.
  3. Sekali lagi, mohonlah ampun untuk semua dosa dan kesalahan kita. Seperti Maria Magdalena yang bertobat dengan air mata, akuilah segala kelemahan kita: kegagalan kita untuk menekan keinginan berbuat dosa, kemalasan, tidak mau berkorban, cinta diri melebihi cinta kepadaNya dan sesama. “Tuhan, ajarilah aku untuk menghindari dosa demi kasihku kepada-Mu.”
  4. Mohonlah kepada-Nya, apa yang menjadi keinginan kita. Namun terutama, mari kita berdoa agar Tuhan menguduskan kita dan semua manusia. Kita mohon juga agar Tuhan memberikan kasih di dalam hati kita, supaya kita dapat mengasihi. Kita berdoa atas kebutuhan kita dan orang-orang yang kita kasihi. Jangan lupa berdoa bagi Gereja, bagi Bapa Paus, bagi para imam, terutama imam yang memimpin perayaan Ekaristi ini; dan juga berdoalah bagi pertobatan para pendosa. Di sini kita dapat menyebutkan doa-doa bagi orang-orang yang mohon doa-doa kita. Sebagai penutup, berdoalah agar Yesus dapat dikenal, dan dikasihi oleh sebanyak mungkin orang.

Setelah Misa Kudus selesai, pulanglah dengan membawa damai Tuhan. Baik jika sesudah misa-pun kita melanjutkan doa syukur. Sebaiknya kita tidak tergesa-gesa untuk pulang, sebab justru sesaat setelah menerima Komuni adalah saat yang terkudus. Adalah baik jika kita dapat berdoa dengan tenang, misal sampai sekitar 10 menit sesudah misa, untuk mengucapkan syukur bahwa Tuhan Yesus berkenan menjadikan kita Bait Allah yang hidup, sebab Ia telah memasuki tubuh kita. Karena itu kita dikuduskan, dikuatkan dalam iman, pengharapan dan kasih, serta dipersiapkan oleh Allah sendiri agar suatu saat nanti kita dapat bersatu denganNya di surga. Dengan penuh syukur, resapkanlah saat ini dekapan Allah yang mempersatukan Diri-Nya dengan kita. Biarlah seluruh hati kita dipenuhi oleh kasih-Nya: “Terima kasih, ya Tuhanku. Pujian, syukur, kemuliaan hanya bagi-Mu!”

Penutup

Saudara dan saudariku, mari kita tilik bersama bagaimana persiapan hati kita dalam menyambut Ekaristi. Sebab, jika kita menjalankan bagian kita dengan baik: mempersiapkan diri dan berpartisipasi aktif dalam Perayaan Ekaristi, sesungguhnya tidak mungkin kita ‘tidak mendapat apa-apa’ dari Perayaan Ekaristi. Jika kita merasa demikian, barangkali kita perlu dengan rendah hati mohon ampun kepada Tuhan, sebab itu berarti kita kurang menghargai karunia Tuhan Yesus yang terbesar, yaitu Diri-Nya sendiri. Ibaratnya, Tuhan telah memberikan segala-galanya, tapi kita masih ‘komplain‘ juga. Padahal jika kita diundang oleh seorang raja untuk makan bersama beliau di istana, tentu kita dengan serta merta menyiapkan diri, dan kita mungkin tidak terpikir untuk ‘komplain‘, bukan? Karena undangan sang raja itu sendiri adalah suatu berkat istimewa. Dalam Ekaristi, sesungguhnya kita menyambut Yesus, Raja di atas segala raja; dan Ia bukannya menjamu dengan santapan duniawi, tetapi dengan santapan surgawi, yaitu Diri-Nya sendiri, untuk membawa kita ke surga. O, betapa kita semua harus semakin menyadari hal ini! Semoga hari demi hari kita dapat semakin mensyukuri rahmat Ekaristi, dan semakin merindukannya….

Doa

“Ya Tuhan Yesus, terima kasih atas karunia Ekaristi-Mu. Bantulah aku agar selalu mensyukuri anugerah-Mu dan semakin hari semakin menghayati rahmat kudus-Mu itu. Biarlah aku menjadi alat bagi-Mu untuk menyampaikan kasih dan kebenaran, agar semakin banyak orang mengenal, mengasihi dan melayani Engkau sebagai Tuhan. Mampukanlah aku untuk mengikuti teladan-Mu dengan memberikan hidupku bagi sesama demi kasihku kepadaMu, sebab Engkau telah terlebih dahulu memberikan hidup-Mu kepadaku. Terpujilah Engkau, ya Tuhan selamanya.” Amin.

Kami mengasihimu, pastor!

147

Pendahuluan

Ada suatu percakapan antara dua orang ibu, Tina dan Suti. Tina bertanya kepada Suti “Anak kamu kalau sudah besar ingin menjadi apa?” Suti menjawab, anakku ingin menjadi dokter bedah. Bagaimana dengan anak kamu yang selalu juara, Tina?” Kemudian Tina menjawab “Anakku ingin menjadi pastor.” Suti terdiam, dan perlahan-lahan berkata “Ehm… sayang juga ya, pintar-pintar kok mau jadi pastor.”

Disinikah kita melihat, seolah-olah kalau yang bagus dan baik, jangan menjadi pastor. Padahal kita melihat di Alkitab bahwa hanya yang terbaik sajalah yang dipersembahkan kepada Allah. Kita melihat bagaimana pemilihan kurban bakaran selalu memilih kurban yang terbaik (Im 14:10). Minyak yang dipakai di bait Allah, juga minyak yang terbaik (Bil 18:12). Hanya yang terbaiklah yang dapat kita persembahkan kepada Tuhan, termasuk imam.

Kalau kita renungkan, kita dapat mengatakan bahwa keberhasilan suatu paroki dalam membina umatnya dapat diukur dari berapa banyak kaum muda yang menjawab panggilan menjadi pastor dari paroki yang bersangkutan. Semakin baik kehidupan spiritual paroki tersebut, maka akan semakin banyak kaum muda yang terpanggil menjadi pastor, karena keinginan untuk menjadi pastor dimulai dari keluarga dan juga dari lingkungan gereja. Jadi hal pertama yang perlu kita renungkan adalah: berapakah yang menjadi pastor dari parokiku? Kalau jawabannya tidak ada, maka perlu dipikirkan bagaimana untuk menggalakkan panggilan, sehingga putera-puteri yang terbaik dari paroki masing-masing dapat menjadi pastor atau suster.

Bukan engkau yang memilih-Ku, namun Aku yang memilihmu

Namun yang terbaik menurut ukuran kita, bukanlah yang terbaik untuk ukuran Tuhan. Jadi, kalau mau ditanya siapa yang layak untuk menjadi pastor? Jawabnya adalah “tidak ada yang layak.” Namun, di tengah ketidaklayakan inilah, Tuhan memilih mereka, sama seperti Tuhan memilih Daud (1 Sam 16:6-13). Nabi Samuel berfikir dan ingin mengambil keputusan berdasarkan penilaian panca indera. Namun dikatakan bahwa Tuhan melihat hati. Dan karena inilah, Tuhan memilih Daud, seorang yang berkenan di hati-Nya(1 Sam 13:14).

Imam dengan segala suka dukanya

Mungkin kita sering melihat ada beberapa imam yang sudah ditahbiskan yang tidak memberikan contoh yang baik kepada umatnya. Dan kita sering mengatakan bahwa mereka juga manusia biasa, yang tidak lepas dari dosa. Hal ini memang ada benarnya, sama seperti para rasul yang dipilih oleh Yesus sendiri, mereka juga manusia biasa, sederhana, namun dipilih oleh Tuhan secara khusus menjadi rasul. Apakah semua rasul-Nya setia? Tidak, karena Yudas terbukti menghianati Yesus. Demikian juga dengan para imam jabatan (pastor), yang dipilih oleh Tuhan secara khusus, ada dari mereka yang karena kelemahan mereka tidak dapat berpartisipasi secara baik dalam imamat Kristus. Namun apakah semuanya atau banyak imam yang demikian? Tentu tidak! Bahkan kita dapat melihat betapa banyak imam yang hidupnya tulus dan sungguh menjadi cerminan kasih Kristus. Mereka adalah tanda kehadiran Kristus yang menyertai Gereja-Nya dan pengorbanan mereka sungguh menjadi teladan bagi kita untuk juga mau berkorban dan menyerahkan diri kepada sesama.

Mari kita renungkan sejenak, kalau melihat takaran dunia, apa yang menarik dari kehidupan para imam? Mereka tidak boleh menikah, diberi uang saku ala kadarnya, harus menuruti perintah atasan. Kalau mereka sudah hidup baik dan menyesuaikan diri dengan orang-orang di parokinya, maka atasannya memindahkan mereka, bahkan kadang ke tempat yang terpencil, yang tidak ada listrik dan transportasi yang mencukupi. Kalau mereka tinggal di dalam komunitas, mereka tidak dapat memilih teman satu rumahnya, sedangkan kita minimal masih dapat memilih teman hidup. Kalau mereka jarang ngobrol dengan umat, dibilang pastornya menjaga jarak, namun kalau pastornya akrab dengan umat, dibilang bahwa pastornya cari perhatian atau malah digosipin dekat dengan seseorang. Kalau ada yang sakit parah, maka pastor harus bergegas memberikan sakramen perminyakan orang sakit, tidak peduli jam berapa. Bukankah serba susah untuk menjadi pastor? Kadang saya pikir-pikir, pelayanan ini jauh lebih sulit daripada orang yang bekerja di kantor. Apa rahasianya, sehingga mereka dapat melakukan hal yang demikian? Ya, karena rahmat dan kasih Allah! Dan memang, tanpa mengandalkan rahmat kasih Allah itu, sungguh sangat sulit untuk menjadi pastor. Tetapi bersama Allah, lihatlah, betapa indah dan ajaibnya buah hasil kerja mereka: banyak orang dapat menyadari akan kehadiran Allah yang hidup. Banyak orang tergerak untuk mengenal dan mengasihi Allah, yang mengantar mereka kepada keselamatan kekal! Manusia biasa tak akan sanggup melakukan hal ini, sebab urusan mengubah hati itu hanya pekerjaan Tuhan, namun berbahagialah para pastor yang dipakai Allah untuk menjadi alat-Nya yang istimewa untuk pekerjaan Tuhan ini.

Syukur kepada Tuhan, di tengah-tengah tantangan yang besar ini, banyak kaum muda yang menjawab panggilan Tuhan ini dengan besar hati. Memang, para imam hanya dapat bertahan kalau mereka benar-benar menyadari akan hakikat mereka sebagai orang-orang pilihan Tuhan. Sama seperti sakramen perkawinan yang hanya dapat bertahan jika suami istri mempunyai komunikasi yang baik, demikian juga dengan Sakramen Imamat, para pastor akan bertahan dalam berkat imamatnya, kalau mereka mereka mempunyai komunikasi yang baik dengan Tuhan. Tanpa bertekun dalam doa, dan berani memberikan dirinya untuk orang lain, maka pastor tidak akan dapat memenuhi pelayanannya sesuai dengan yang Tuhan percayakan kepada mereka.

Imam bersama dan Imam tertahbis

Mari sekarang kita melihat hakikat dari Sakramen Imamat. Di artikel pengakuan dosa bagian-2, telah dibahas tentang imam bersama dan imam tertahbis. Seperti yang kita tahu, bahwa dengan Sakramen Baptis, kita semua menjadi imam, nabi, dan raja (lihat artikel: Sudahkah kita diselamatkan?). Walaupun panggilan sebagai imam belaku untuk semua yang sudah dibaptis, namun Tuhan menunjuk orang-orang pilihan-Nya untuk menjadi imam tertahbis (imamat jabatan).[1]

Dalam Perjanjian Lama.

Kel 19:5-6, menyatakan bahwa Tuhan memerintahkan Musa untuk memberitahukan kepada seluruh umat Israel, bahwa kalau mereka berpegang pada perintah Tuhan, mereka akan menjadi umat kesayangan, kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Di samping mengangkat Israel sebagai kerajaan imam, Perjanjian Lama juga mengatakan bahwa suku Lewi dipersiapkan secara khusus sebagai imam (Bil 3:5-13). Apakah kedua ayat di atas bertentangan? Tidak, sebab secara umum memang bangsa Israel dipersiapkan Tuhan menjadi imam dan bangsa yang kudus, namun secara khusus, Tuhan juga menunjuk suku Lewi untuk menjadi imam dan menjalankan tugas yang berhubungan dengan korban dan persembahan. Suku Lewi yang ditunjuk secara khusus oleh Tuhan untuk menjadi imam (imamat jabatan) melayani umat yang lain atau imam secara umum (imamat bersama). Hal yang sama dapat diterapkan di dalam ajaran Gereja Katolik. Gereja Katolik mengenal adanya dua imamat: (1) Imamat jabatan dan (2) imamat bersama. Dimana imamat jabatan melayani imamat bersama.[2]

Dalam Perjanjian Baru

Yesus tidak pernah melarang perantaraan imam sejauh hal tersebut berpartisipasi dalam karya keselamatan Yesus. Pada saat Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta, Yesus menyuruh mereka untuk memperlihatkan diri mereka kepada para imam (Luk 17:12-14) agar para imam dapat menyatakan mereka tahir. Rasul Petrus juga mengajarkan tentang partisipasi dalam karya keselamatan Tuhan, yaitu setiap dari kita menjadi batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi imamat kudus (1 Pet 2:5). Lebih lanjut Rasul Petrus menegaskan bahwa semua umat Allah adalah bangsa terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, kepunyaan Allah sendiri (1 Pet 2:9). Pemilihan bangsa Israel sebagai bangsa pilihan untuk mendatangkan keselamatan pada bangsa-bangsa lain membuktikan bahwa Tuhan menggunakan ‘perantara’ untuk melaksanakan rencana-Nya.

Yesus adalah Imam yang sejati dan selamanya

Dari konsep imam di Perjanjian Lama dan Perjanjian baru, kita melihat bahwa imam di Perjanjian Lama adalah merupakan persiapan untuk imam yang lebih sempurna di Perjanjian Baru, yang dipenuhi di dalam diri Kristus, imam menurut peraturan Melkisedek, yang sempurna, yang berlangsung untuk selamanya (Ibr 5:1-10). Dengan pengorbanan Kristus di kayu salib, maka Yesus telah melengkapi semuanya, baik sebelum kedatangan-Nya, pada waktu kedatangan-Nya, dan setelah kedatangan-Nya. Pertanyaannya, apakah dengan mengakui Yesus sebagai Imam satu-satunya menutup kemungkinan adanya imam yang lain? Sama seperti penjelasan tentang imam jabatan di dalam Perjanjian Baru dan Perjanjian lama, maka imam-imam jabatan hanyalah menjadikan Imam yang abadi, yaitu Kristus untuk hadir kembali tanpa menghilangkan keunikan imamat Kristus. Imam-imam yang ditahbiskan hanyalah menjadi pelayan dari Imam satu-satunya, yaitu Kristus.[3]

Mungkin ada yang merasa berkeberatan dengan hal ini. Namun kita dapat melihat bahwa Yesus adalah satu-satunya perantara antara Allah dengan manusia. Jadi doa-doa yang kita panjatkan didaraskan dalam nama Yesus. Namun bukankah kita sering meminta seseorang yang kita anggap punya hubungan baik dengan Tuhan untuk juga mendoakan permasalahan kita? Apakah dengan demikian kita menghilangkan keagungan Yesus yang menjadi satu-satunya Perantara kita dengan Allah? Tentu saja tidak, karena semua orang yang mendoakan kita turut berpartisipasi dalam karya keselamatan Kristus. Jadi sampai tahap ini, kita menyetujui bahwa imam yang tertahbis tidak menghilangkan keagungan dan kebenaran bahwa Kristus adalah satu-satunya Imam Agung.

Dan berdasarkan pembuktian di atas dalam Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama, kita tahu bahwa Tuhan telah menjadikan seluruh umat Allah menjadi imam. Namun Yesus menunjuk secara khusus imam yang ditahbiskan untuk melanjutkan karya-Nya di dunia ini sampai akhir jaman, dan juga untuk melayani imam bersama.[4]

Apakah Sakramen Imamat?

Imamat jabatan:

Katekismus, 1536 menyebutkan bahwa Tahbisan adalah suatu Sakramen, di mana perutusan yang dipercayakan Kristus kepada Rasul-rasul-Nya, dilanjutkan sampai akhir zaman. Dari sini jelas, bahwa konsep Gereja bukan hanya tak kelihatan, namun juga kelihatan. Namun demikian, hal yang tak terlihat (spiritual) dan terlihat, tak dapat dipisahkan, sama seperti tubuh dan jiwa manusia tak terpisahkan. Dalam hal struktur yang terlihat (Sakramen) ini, terdapat bagian, yaitu: episkopat, presbiterat, dan diakonat.

Episkopat atau uskup adalah penerus dari para rasul, yang diutus oleh Yesus sendiri. Sama seperti Yesus menunjuk rasul Petrus, sebagai kepala dari para murid, maka uskup Roma menjadi penerus dari rasul Petrus menjadi kepala dari seluruh Gereja di seluruh dunia.[5] Sedang para uskup adalah pemimpin dari gereja lokal, yang dibentuk menurut gambaran Gereja universal (semesta) dan dalam kesatuan dengan Bapa Paus.[6] Dan pembantu dari uskup adalah para pastor (presbiterat), yang biasanya membawahi paroki. Sedangkan diakonat diperbantukan untuk membantu pelayanan para pastor dan uskup. Diakonat dan presbiterat ditahbiskan oleh uskup, sedangkan uskup ditahbiskan oleh para uskup yang lain dengan persetujuan dari uskup Roma, atau Paus. Dari sinilah, kita melihat bahwa seluruh tahbisan di Gereja Katolik saling terkait dan dapat ditelusuri sampai kepada para Rasul, yang diutus oleh Yesus sendiri. Karena inilah maka salah satu ciri Gereja Katolik adalah apostolik (berasal dari para Rasul).

Imamat bersama:

Pada saat kita dibaptis, maka kita juga dipanggil untuk menjadi imam, nabi dan raja. Melalui baptisan, kita juga harus menjadi imam, yaitu dengan menjadi saksi Kristus yang baik, hidup menurut iman, pengharapan, dan kasih. Melalui kesaksian hidup kita, maka kita akan menjadi pancaran terang kasih Kristus, sehingga secara tidak langsung, kita berpartisipasi untuk membawa umat yang lain kepada Sang Imam Agung, yaitu Kristus. Dan cara kedua untuk menjalankan imamat bersama adalah dengan mengikuti perayaan Ekaristi. Dimana dengan persiapan, dan partisipasi aktif, kita semua menyatukan persembahan kita, suka duka kita, dan kehidupan kita dalam kurban Ekaristi.

Imam Jabatan dan Imam bersama berjalan berdampingan untuk membangun Gereja.

Yang menjadi masalah adalah kalau ada orang yang mencoba mencampuradukkan kedua jenis imamat ini. Imam jabatan semakin ingin menyatu dengan umat, dan mengaburkan identitasnya. Dan imam bersama begitu antusias untuk berpartisipasi di pelayanan, sehingga juga mengerjakan pekerjaan-pekerjaan imam jabatan. Padahal, baik imam jabatan maupun imam bersama mempunyai identitas sendiri-sendiri dan keduanya mempunyai tujuan untuk membangun jemaat Allah. Imam bersama terjun ke masyarakat dan menjadi garam di tengah-tengah masyarakat yang nilai-nilainya belum tentu sesuai dengan nilai-nilai kristiani. Sedangkan imam jabatan membangun dan melayani imam bersama, sehingga imam bersama akan semakin dikuatkan untuk menjadi saksi yang hidup di tengah masyarakat.

Imam Jabatan yang melanjutkan tiga misi Kristus: Imam, Raja, dan Nabi

Sebagai Imam, para imam melanjutkan karya Kristus dengan merayakan sakramen dan memimpin umat di dalam liturgi, terutama di dalam liturgi Ekaristi. Di sinilah peran imam menjadi begitu jelas, yang mewakili Kristus (persona Christi) untuk menghadirkan kembali kurban Paskah Kristus. Mereka memberikan sakramen Baptis, Penguatan, Pengakuan Dosa, Sakramen Perminyakan, dan memberikan penguburan kepada yang meninggal. Dalam kesehariannya, mereka juga berdoa brevier, doa yang menjadi doa Gereja.

Sebagai Nabi, para imam melaksanakannya dengan berkotbah, mengajar di sekolah atau persiapan Pembaptisan. Secara prinsip seorang pastor harus menyampaikan kebenaran, yang bersumber pada Kitab Suci, Tradisi Suci, dan Magisterium. Imam yang menyampaikan ajaran yang dianggapnya benar namun tidak berdasarkan tiga pilar kebenaran di atas, sebenarnya tidak menjalankan fungsinya sebagai nabi. Karena sebagai nabi, dia hanyalah meneruskan Kebenaran kepada umat, bukan mengarang kebenaran, berdasarkan pendapat pribadi, atau berdasarkan suara umat, karena kebenaran tidak tergantung dari suara terbanyak.

Sebagai Raja, para pastor melaksanakannya dengan pelayanannya di bidang kepemimpinan umat, baik di paroki atau komunitas yang dipercayakan kepada mereka. Mereka bekerja sama dengan dewan paroki, sehingga kegiatan paroki dapat berjalan dengan baik

Uskup, Imam, dan diakon menurut Bapa Gereja

Mungkin ada yang berfikir bahwa uskup, imam dan diakon hanyalah karangan Gereja Katolik semata. Namun kalau kita melihat sejarah dan belajar dari para bapa Gereja, maka kita akan melihat, bahwa sebenarnya semua itu berakar pada tradisi.

  1. Ignasius dari Antiokia (AD. 110): “Sekarang, sungguh merupakan kehormatan bagiku untuk bertatap muka denganmu secara pribadi dengan uskup (bishop) yang diberkati Tuhan, Damas; dan juga bertemu secara pribadi dengan para imam (presbyters), Bassus dan Apollonius l dan teman satu pelayanan, diakon, Zotion. ..” (Letter to the Magnesians 2).
  2. Ignasius dari Antiokia (AD. 110): “Perhatikanlah untuk melakukan segala sesuatu selaras dengan Tuhan, dengan uskup menempati posisi Tuhan dan dengan para imam di posisi para murid, dan dengan para diakon, yang paling dekat denganku, yang dipercaya dengan pelayanan Kristus, yang berasal dengan Allah Bapa sejak permulaan dan yang pada akhirnya telah dinyatakan (ibid, 6:1).
  3. Ignasius dari Antiokia (AD. 110): “Perhatikanlah, untuk menyelaraskan diri dalam perintah-perintah Allah dan para murid, sehingga di dalam setiap perbuatanmu, kamu dapat berhasil, baik di dalam tubuh maupun jiwa, baik dalam iman dan kasih, dalam Putera, Bapa dan dalam Roh Kudus, di awal dan di akhir, bersama dengan yang terhormat uskupmu; dan dengan para imam, yang terjalin secara baik dalam mahkota rohani; dan dengan para diakon, putera-putera Allah. Tunduklah kepada uskup dan satu sama lain seperti Yesus Kristus taat kepada Allah Bapa, dan para murid kepada Kristus dan Allah Bapa … (ibid, 13:1-2).
  4. Ignasius dari Antiokia (AD. 110): “Memang, engkau harus tunduk kepada uskup seperti engkau tunduk kepada Yesus Kristus, sudahlah jelas bagiku bahwa engkau hidup bukan dengan cara manusia namun di dalam Kristus, yang telah wafat untuk kita… Dengan demikian adalah penting …bahwa engkau tidak melakukan segala sesuatu tanpa persetujuan uskup, dan engkau juga harus tunduk kepada para imam, seperti kepada para murid Kristus…Adalah penting juga bahwa para diakon, pemberi sakramen-sakramen Kristus, dalam segala sesuatu menyenangkan semua orang. .. (Letter to the Trallians 2:1-3).
  5. Ignasius dari Antiokia (AD. 110): ” Setiap orang yang menghormati para diakon menghormati Kristus, dan juga yang menghormati uskup menghormati Allah Bapa, dan menghormati para imam sebagai perwakilan Allah dan persekutuan para murid. Tanpa hal tersebut, maka tidak dapat dikatakan sebuah Gereja. (ibid., 3:1-2).
  6. Ignasius dari Antiokia (AD. 110): “Dia yang ada di dalam tempat kudus adalah kudus; tetapi dia yang berada di luar tempat kudus adalah tidak kudus. Dengan kata lain, seseorang yang bertindak tanpa uskup dan imam dan para diakon tidak mempunyai hati nurani yang bersih” (ibid., 7:2).
  7. Ignasius dari Antiokia (AD. 110): “…saya berbicara dengan suara yang keras, suara dari Tuhan: “Perhatikanlah uskup dan imam dan para diakon“. Sebagian orang mengira bahwa saya mengatakan hal ini karena saya tahu adanya perpecahan di antara beberapa orang; namun Dia, yang menjadi alasan mengapa saya dirantai, menjadi saksi bahwa saya tidak mengetahuinya dari manusia; melainkan dari Roh yang membuatku mengatakan hal ini, ‘Jangan melakukan sesuatu tanpa uskup, jagalah badanmu sebagai bait Allah, cintailah persatuan, jauhkanlah dari perpecahan, turutilah Kristus, seperti Dia telah menuruti Allah Bapa” (Letter to the Philadelphians 7:1-2).
  8. Clemens dari Alexandria (AD. 191): “Banyak nasehat-nasehat untuk orang-orang tertentu telah ditulis di dalam Kitab Suci: sebagian untuk para imam, sebagian untuk para uskup dan para diakon; … (The Instructor of Children 3:12:97:2).
  9. Clemens dari Alexandria (AD. 208): “Di dalam Gereja, gradasi dari para uskup, para imam, dan para diakon terjadi sebagai suatu gambaran, menurut pendapatku, dari kemuliaan malaikat dan dimana susunan tersebut, seperti yang dikatakan di dalam Alkitab, menantikan orang-orang yang telah mengikuti langkah-langkah dari para murid dan yang telah hidup di dalam kepenuhan kebenaran menurut Kitab Suci” (Miscellanies 6:13:107:2).
  10. Origen (AD.234): “Tidak hanya perzinahan, namun juga perkawinan membuat kita tidak pantas untuk penghormatan ekklesiastikal; karena tidak juga seorang uskup, juga imam, atau seorang diakon, …” (Homilies on Luke, number 17).
  11. Konsili Elvira (AD. 300): “Para uskup, para imam, dan para diakon tidak dapat meninggalkan tempat mereka untuk keperluan dagang, dan mereka juga tidak dapat bepergian ke daerah-daerah, atau jual-beli untuk keuntungan mereka sendiri” (canon 18).
  12. Konsili Nicea I (AD. 325): “Sinode yang kudus dan besar telah mengetahui bahwa di beberapa daerah dan kota, para diakon memegang Ekaristi untuk para imam, dimana tidak ada dalam kanonik atau kebiasaan yang memperbolehkan bahwa mereka tidak mempunyai hak untuk memberikan Ekaristi atau Tubuh Kristus kepada mereka yang melakukan persembahan (dalam hal ini imam). Dan juga menjadi perhatian, bahwa beberapa diakon sekarang menyentuh Ekaristi sebelum para uskup. Biarlah praktek-praktek seperti itu harus dihentikan, dan biarlah para diakon bertindak sesuai dengan wewenangnya, mengetahui bahwa mereka adalah para pelayan uskup dan lebih rendah dari para imam, dan biarlah mereka menerima Ekaristi sesuai dengan urutan mereka, setelah para imam, dan baik uskup atau imam memberikannya kepada mereka.” (Canon 18).

Kenapa imam tidak menikah

Dari penjabaran di atas, kita melihat bahwa uskup, imam, dan diakon merupakan suatu tradisi dari jemaat awal yang terus berlaku sampai sekarang. Hal lain yang menjadi pertanyaan banyak orang adalah mengapa imam tidak diperbolehkan untuk menikah? Apakah ini hanya merupakan karangan Gereja Katolik semata? Mari kita melihat bukti-bukti bahwa kaul kemurnian mempunyai dasar yang kuat:

  1. Para rasul telah menjalankan kaul kemurnian sebelum penderitaan Yesus, seperti yang dikemukakan oleh St. Petrus “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” (Mat 19:27). Dan Yesus menjawab “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, atau istri (istri termasuk dalam terjemahan Douay Rheims, Vulgate and King James Bible) anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal (Mat 19:29). Meninggalkan segalanya dan istri disini, ditafsirkan sebagai tindakan untuk tidak melakukan lagi hubungan badan. Kalau kita mempelajari riwayat Mahatma Gandhi, beliau juga pada umur tertentu tidak menggunakan haknya sebagai suami demi untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Jadi, hal ini bukanlah sesuatu yang aneh.
  2. Di dalam Gereja perdana, karena terbatasnya kandidat yang belum menikah untuk diakon, imam, dan uskup yang, maka mereka dapat menikah sebelum ditahbiskan (lih. 1 Tim 3:1-4), namun mereka dituntut untuk mempraktekkan kaul kemurnian setelah ordinasi.
  3. Dokumen pertama yang menyatakan secara explisit tentang hal ini adalah Konsili Elvira di Spanyol tahun 306 dan Carthage tahun 390, serta dekrit dari Paus Siricius dan Innocent, sekitar akhir abad ke-4 dan awal abad ke-5. Semuanya itu menunjukkan bahwa hidup selibat setelah ordinasi bukanlah inovasi semata, namun merupakan hal yang telah dijalankan oleh para murid, bapa gereja, dan menjadi bagian dari tradisi. Paus Siricius mengatakan bahwa peraturan untuk hidup selibat dimaksudkan untuk memberikan segenap jiwa dan raga untuk Tuhan dalam kaul kesucian mulai dari hari ordinasi. Dan Konsili Carthage menekankan hidup selibat untuk meneruskan ajaran dan praktek hidup selibat seperti yang telah dijalankan oleh para rasul.
  4. Gereja Timur tidak lagi mempraktekan tradisi apostolik ini karena perubahan yang dilakukan di Konsili Trullo (sekitar abad ke-7), namun disebutkan bahwa hanya imam yang tidak menikah yang dapat ditahbiskan menjadi uskup, dan seorang iman tidak dapat menikah setelah dia ditahbiskan.
  5. Yang menjadi motif dari Konsili Trullo adalah begitu banyak penyimpangan, seperti simoni, penyimpangan kehidupan seksual para iman, atau masih menggunakan hubungan suami-istri walaupun sudah ditahbiskan. Menanggapi hal itu, Gereja Latin dibawah kepemimpinan St. Gregory VII mengambil jalan untuk menjalankan peraturan secara ketat, sebaliknya Gereja Timur mengambil cara untuk memperlunak peraturan tersebut. Cara yang sungguh patut dipuji dari St. Gregory VII membuahkan hasil dengan meletakkan pondasi yang kokoh, sehingga membuat Gereja berkembang pesat di abad 12-13.
  6. Alasan yang utama dari kaul ketaatan adalah seorang imam secara sakramental mewakili Kristus sebagai mempelai pria dari Gereja, sehingga tidaklah pantas bahwa dia sendiri mempunyai istri bagi dirinya sendiri.
  7. Jalan yang ‘sulit’ yang ditempuh oleh Gereja Katolik menambahkan kepadanya “motive of credibility” sebagai Gereja yang sejati. Sebuah doktrin yang bertentangan dengan kecenderungan alami tidak dapat diharapkan untuk bertahan selama 2000 tahun tanpa bantuan dari yang Ilahi.

Dari segi kepraktisan, kita dapat melihat bahwa dengan tidak menikah maka seorang imam dapat mencurahkan segenap hati, jiwa, dan pikirannya untuk melayani Tuhan dan sesama. Rasul Paulus sendiri memberikan nasehat ” Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekuatiran. Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya” (1 Kor 7:32). Dengan hidup selibat, seorang imam hanya memikirkan apa yang terbaik bagi Tuhan dan umat yang dipercayakan kepadanya.

Siapakah yang berani menjawab panggilan suci ini?

Pada kesempatan ini, saya ingin memberikan tantangan kepada kaum muda. Kalau engkau ingin memberikan dirimu secara khusus kepada Tuhan, mempunyai hati untuk melayani sesama, mengasihi Tuhan dan Gereja-Nya, pertimbangkanlah untuk menjadi imam. Menjadi imam adalah suatu berkat yang istimewa; sebab imam menjadi gambaran nyata atas kasih Kristus yang hidup bagi Gereja dan dunia ini. Yesus sendiri menjanjikan kelimpahan berkat bagi mereka yang menjawab panggilan-Nya ini, dan jika Yesus sendiri yang menjanjikannya, pasti Ia akan memenuhinya.

Saya juga ingin membagikan cerita tentang pemain sepakbola yang terkenal, yaitu Chase Hilgenbrinck. Dia yang sedang mempunyai karir yang hebat dan cerah, kemudian memutuskan untuk meninggalkan karirnya untuk menjadi pastor. Diperlukan suatu keberanian untuk menjawab panggilan Tuhan. Namun kita percaya bahwa berkat dari Tuhan tercurah dengan melimpah bagi orang yang mau menjawab panggilan-Nya. Siapakah yang mau menjadi Chase-chase yang lain? Siapakah yang mau menjawab seruan Tuhan “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Siapa yang akan menjawab bersama nabi Yesaya “Ini aku, utuslah aku!” (Yes 6:8)

https://www.youtube.com/watch?v=aNgH_e8U0g8

Dan saya juga ingin mengundang seluruh pembaca untuk bersama-sama berdoa setiap hari untuk kekudusan para imam. Sebutlah satu-persatu imam yang kita kenal, dan mintalah Bunda Maria menuntun para imam agar mereka dapat semakin menyerupai Putera-Nya. Biarlah para imam dapat menjadi imam yang kudus, sehingga mereka dapat menjadi pancaran kasih Kristus.

Saya ingin mengutip puisi yang dibuat oleh Paus Yohanes Paulus ke-II dalam “Pastores Dabo Vobis“. Ia memohon agar Bunda Maria sendiri menjadi pelindung para imam:

O Mary,
Mother of Jesus Christ and Mother of priests,
accept this title which we bestow on you
to celebrate your motherhood
and to contemplate with you the priesthood
of, your Son and of your sons,
O holy Mother of God.

O Mother of Christ,
to the Messiah-priest you gave a body of flesh
through the anointing of the Holy Spirit
for the salvation of the poor and the contrite of heart;
guard priests in your heart and in the Church,
O Mother of the Savior.

O Mother of Faith,
you accompanied to the Temple the Son of Man,
the fulfillment of the promises given to the fathers;
give to the Father for his glory
the priests of your Son,
O Ark of the Covenant.

O Mother of the Church,
in the midst of the disciples in the upper room
you prayed to the Spirit
for the new people and their shepherds;
obtain for the Order of Presbyters
a full measure of gifts,
O Queen of the Apostles.

O Mother of Jesus Christ,
you were with him at the beginning
of his life and mission,

you sought the Master among the crowd,
you stood beside him when he was lifted
up from the earth
consumed as the one eternal sacrifice,
and you had John, your son, near at hand;
accept from the beginning those
who have been called,
protect their growth,
in their life ministry accompany
your sons,
O Mother of Priests.

Amen.


[1] Gereja Katolik , Katekismus Gereja Katolik, Edisi Indonesia., 787-796, 1268, 1546

[2] KGK, 1547.; Vatican II, Dogmatic Constitution on the Church: Lumen Gentium (Pauline Books & Media, 1965), 10.

[3] KGK, 1545, mengutip St. Thomas Aquinas dalam komentarnya di Ibrani 8:4.

[4] KGK, 1547

[5] KGK, 880-883.

[6] KGK 833, Lumen Gentium, 23.

Semua Ada Waktunya

13

Pendahuluan

Saat saya tinggal di Amerika, saya sering mengagumi pemandangan alamnya. Namun yang paling membekas di hati adalah pemandangan yang begitu berbeda pada pergantian musim. Pada waktu saya masih tinggal di Indonesia, saya masih belum dapat membayangkan seperti apakah kehidupan empat musim. Pergantian musim senantiasa membawa suatu nuansa hati yang berbeda.

Pertama kali saya datang ke Amerika untuk kuliah adalah bulan Juli. Saat itu adalah pertengahan musim panas. Saya menikmati udara yang bersih, langit biru, dan juga cuaca yang hampir sama dengan di Indonesia. Di musim summer inilah, anak-anak sekolah juga mendapatkan libur panjang selama hampir tiga bulan, sehingga mereka dapat bersantai dengan anggota keluarganya. Musim ini, begitu banyak kegiatan outdoor yang dilakukan baik oleh anak-anak sampai yang lanjut usia, seperti: berkebun, menghias taman dengan bermacam bunga, barbeque, santai di taman, main bola, berenang, dll. Namun, di musim panas, temperaturnya kadang begitu menyengat, sampai 35 derajat celsius, yang membuat baju basah karena keringat.

fall Namun musim panas akan berganti dengan musim gugur di bulan September. Pohon-pohon yang indah, dengan bunga yang berwarna-warni akan pudar. Daun-daun akan rontok satu persatu karena tiupan angin yang kencang dan hawa yang mulai dingin yang kadang dapat mencapai 4 derajat Celsius. Orang-orang mulai membatasi kegiatan luar, dan keluar dengan jaket. Namun ada suatu keindahan tersendiri di musim ini, daun-daun yang berwarna hijau, berubah warna menjadi kuning, oranye, dan kadang merah menyolok, sungguh suatu pemandangan yang begitu indah. Namun, daun-daun yang berwarna-warni pada akhirnya akan gugur semuanya, dan berganti dengan musim dingin.

winter Musim dingin yang dimulai bulan Desember, menjadi saat-saat yang mungkin paling tidak disukai oleh orang Indonesia, karena temperaturnya di tempat saya tinggal dapat mencapai -25 derajat celsius. Ya, itu bukan salah ketik, namun memang minus 25, yang nota bene jauh lebih dingin daripada masuk ke lemari es. Dan kemudian, salju, yang seperti kapas, akan turun menutupi segalanya. Namun, anak-anak dengan tertawa-tawa akan keluar, dilengkapi dengan jaket, penutup kepala, kaus tangan, sepatu boot, dan bermain dengan salju. Mereka membuat boneka salju, saling melempar salju, atau tiduran di salju dll. Pohon pinus yang masih berwarna hijau akan dihiasi dengan salju-salju, seperti yang kita lihat di hiasan pohon natal.

spring Namun, setelah tiga bulan hidup dalam temperatur rata-rata -10 derajat celsius, maka musim dingin inipun akan berlalu. Dan di bulan Maret, mulailah masuk musim semi. Inilah musim yang paling saya nantikan, karena tunas-tunas mulai muncul satu persatu. Setiap minggu, terlihat perkembangan tunas yang membesar, sampai akhirnya mulai terlihat bunga-bunga yang berwarna-warni. Pohon yang tidak berdaun, menjadi penuh dengan daun yang hijau.
Selamat datang kehidupan.

Semua ada waktunya

Saat tinggal di Amerika inilah, di negara empat musim, saya menjadi lebih mengerti akan apa yang dikatakan dalam kitab Pengkotbah “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya” (Pengkotbah 3:1). Dari gambaran di atas, kita melihat bahwa ada waktu musim panas, kemudian berganti dengan musim gugur, musim dingin, musim semi, dan kembali lagi ke musim panas. Semuanya ada waktunya.

Kalau kita merenungkan, bukankah semua ini sama seperti yang terjadi di dalam kehidupan kita? Ada saat dimana kita mengalami musim semi dan panas, saat saat-dimana semuanya terlihat begitu baik, rejeki berlimpah, teman senantiasa ada di dekat kita, tumbuh di dalam komunitas. Namun musim panas berganti menjadi musim gugur, saat-saat ketika usaha kita berguguran satu-persatu dan tertiup angin. Saat dimana apa yang kita perjuangkan terlihat gagal. Dan akhirnya musim gugur berganti menjadi musim dingin, saat-saat yang begitu sulit dalam hidup kita, saat dimana badai menerpa kehidupan kita, mungkin badai perkawinan, tidak lulus dalam ujian akhir, kecelakaan yang dialami, vonis dari dokter akan penyakit yang berbahaya, usaha yang bangkrut, uang yang amblas karena tertipu rekan bisnis, saham-saham yang berjatuhan, anak yang terlahir cacat, dan hal-hal lain yang tidak terduga. Dalam saat-saat sulit seperti ini, apakah yang harus kita lakukan? Apakah kita harus terbenam dalam kesedihan yang berkepanjangan?

Apa yang harus kita lakukan ketika badai menerpa kehidupan?

Yang pertama harus kita lakukan adalah merendahkan diri di hadapan Tuhan, dalam doa dan sakramen-sakramen, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat. Kita ingin meniru para murid yang diterpa badai, untuk datang lebih dekat kepada Yesus (Luk 8:22-25). Apapun yang terjadi dalam kehidupan, janganlah pernah terlepas dari Yesus, karena Yesus adalah pegangan satu-satunya yang dapat menyelamatkan. Mohonlah ampun kepada Yesus, kalau kesulitan yang dialami adalah akibat dari kesalahan atau dosa yang kita lakukan. Dan bergegaslah untuk pergi ke Sakramen Pengampunan Dosa untuk mendapatkan pengampunan dan kekuatan. Kalau badai tersebut datang bukan karena dosa kita, maka kita perlu terus merendahkan diri di hadapan Yesus dan terus berpegang kepada-Nya.

Hal yang lain adalah, setiap kesulitan, penderitaan, badai, hanyalah bersifat sementara, sama seperti musim gugur dan musim dingin hanya bersifat sementara. Namun kuncinya adalah, kita harus menghadapinya bersama dengan Yesus. Sama seperti taufan yang menerpa perahu para murid, maka Yesus sendiri yang akan meredakan taufan yang dashyat menjadi tenang. Dan bersama dengan Yesus yang sama, kita juga mempunyai pengharapan yang sama, bahwa Dia akan membantu kita melewati badai kehidupan kita. Kesulitan yang kita alami bukanlah akhir dari segalanya, karena ada saatnya kesulitan akan berubah menjadi kebahagiaan, sama seperti musim dingin berganti menjadi musim semi.

Kesadaran bahwa semuanya bersifat sementara dapat membuat kita menghadapi segalanya dengan lebih positif. Namun, lebih lagi kalau kita mempunyai kebijaksanaan untuk melihat lebih jauh lagi, bahwa semua yang ada di dunia ini adalah bersifat sementara. Bagi orang Kristen, dunia ini bukanlah rumah kediaman kita yang tetap, namun merupakan kediaman sementara, dimana kita semua menuju kepada kediaman rumah kita yang abadi, di rumah Bapa di surga. Rasul Paulus mengatakan bahwa jika kemah kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga buat kita, suatu tempat kediaman yang kekal (2 Kor 5:1-4). Itulah sebabnya mazmur mengatakan “ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Maz 90:12). Dengan berfokus pada tujuan akhir, maka kita tidak akan kehilangan arah.

Dengan berfokus pada tujuan akhir yang tak terlihat dengan mata biasa, namun dengan kacamata iman, maka kita akan mempunyai pengharapan yang teguh. Pengharapan inilah yang akan membantu kita untuk terus berjalan menghadapi kesulitan dengan kepala yang tegak. Inilah pengharapan sejati yang tidak gampang hilang dengan tiupan badai, maupun goncangan besar sekalipun.

Ingatlah bahwa semua ada waktunya ……

Marilah kita berdoa.

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus,
Yesus, sadarkanlah aku, bahwa semua yang di dunia ini bersifat sementara. Ajarilah aku untuk menjalani kehidupan dengan iman dan pengharapan yang teguh. Saat kegembiraan datang, jangan biarkan aku lupa diri, namun ingatkanlah aku bahwa semua berkat dan suka cita adalah pemberianMu. Saat kesusahan datang, biarlah aku menghadapinya dengan kekuatan yang berasal dariMu, dan ingatkan aku bahwa Engkau mengizinkan itu terjadi agar aku dapat belajar lebih bertumbuh di dalam iman dan agar aku beroleh hati yang bijaksana: yaitu untuk semakin menyadari bahwa Engkaulah yang terutama dalam hidupku. Ingatkanlah aku ya Tuhan, bahwa kesusahan dan penderitaan yang aku alami dapat membawaku ke dalam Kerajaan Surga, asalkan aku menghadapinya bersama Engkau. Dalam nama Yesus, aku naikkan doa ini. Amin.
Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus.

Menerapkan hukum kasih dalam konteks masyarakat yang majemuk

4

Pertanyaan:

Di kampus pernah ditanyakan begini :
Bagaimana menerapkan hukum kasih dalam konteks persodaraan di Indonesia? padahal di Indonesia banyak perbedaan dari suku,budaya,dan agama.
terimakasih. – Rani

Jawaban:

Shalom Rani,
Terimakasih atas pertanyaannya yang bagus. Memang Indonesia terdiri dari banyak sekali suku, budaya, dan agama. Oleh karena itu menjadi tantangan tersendiri untuk menerapkan hukum kasih. Mari sekarang kita melihat definisi kasih dan setelah itu baru kita melihat penerapannya.

  1. Pertama kita melihat dari hakikat kasih itu sendiri. Kasih bergembira melihat kebaikan yang ada di dalam diri seseorang dan kasih juga mengharapkan sesuatu yang terbaik terjadi untuk diri orang tersebut. Dengan definisi ini, maka kasih sebenarnya mengatasi segala perbedaan suku, budaya, dan agama. Manifestasi kasih yang bisa lihat lihat pada jaman kita adalah kasih yang ditunjukkan oleh yang terberkati Ibu Teresa dari Kalkuta.
  2. Kasih juga merupakan yang terbesar dari tiga theological virtue, yang terdiri dari iman, pengharapan, dan kasih (1 Kor 13:13). Dan tiga hal ini kita dapatkan pada waktu kita dibaptis. Jadi sebenarnya dengan pembaptisan, kita telah dilengkapi oleh rahmat Tuhan untuk dapat melakukan kasih. Dan kasih yang kita lakukan kepada sesama adalah didasarkan kepada kasih kita kepada Tuhan. Inilah yang menyebabkan Bunda Teresa dari Kalkuta sanggup untuk melakukan pelayanannya bersama dengan orang-orang miskin.
    Kalau kita membaca tentang mazmur kasih di 1 Korintus 13:1-13, kita akan melihat kedalaman pengertian kasih. Tanpa kasih, maka iman dan pengharapan, serta semua karunia adalah sia-sia.

Jadi bagaimana kita menerapkan kasih ini dalam masyarakat yang heterogen?

  1. Pertama kita harus menyadari bahwa untuk dapat menerapkan kasih, bukan berarti kita harus mengaburkan identitas kita, sehingga kita dapat masuk dalam masyarakat, atau komunitas tertentu. Kita tidak usah takut untuk menunjukkan identitas kita sebagai seorang Katolik yang baik. Tentu saja bukan dengan berteriak-teriak, mamun dilakukan secara bijaksana. Bunda Teresa yang melayani masyarakat yang heterogen di India mengatakan, orang lain mungkin mempunyai kepercayaan yang berbeda-beda ada yang Hindu, Islam, dll, namun bagi saya agama Katolik adalah pilihan saya dan saya mengasihi Yesus dan Gereja-Nya.
  2. Jadi untuk menerapkan kasih, kita dituntut untuk menunjukkan kasih mulai dari diri kita sendiri, yaitu mengasihi Tuhan lebih daripada apapun di dunia ini. Dari situ kita dikuatkan oleh Tuhan untuk mengasihi sesama kita. Kita mulai dari yang terdekat di sekitar kita, seperti keluarga, saudara-saudara kita, teman-teman di kampus, komunitas di sekitarnya, dll. Namun semua penerapan kasih bersumber pada kasih kita kepada Yesus.
  3. Hal yang paling nyata untuk menerapkan kasih adalah dengan hidup kudus. Karena kekudusan ini menjadi refleksi dari Yesus sendiri. Dengan hidup kudus berarti kita menjalankan misi khusus yang dikumandangkan di Alkitab juga di dalam Konsili Vatikan II. Kita percaya bahwa kebaikan akan menyebar dengan sendirinya atau “bonum diffusivum sui“. Dengan kita hidup kudus, maka orang akan melihat apa yang mendasari sikap hidup kita, yang pada akhirnya akan membawa orang kepada Sang Kebenaran, yaitu Kristus.
  4. Kita juga jangan menunggu untuk melakukan sesuatu yang besar, namun mulailah dari hal-hal yang kecil. Seperti Santa Teresia kanak-kanak Yesus mengatakan bahwa lakukanlah hal-hal yang kecil namun dengan didasari kasih yang besar kepada Yesus. Lihatlah dalam keluarga kita masing-masing, teman-teman kita, mungkin ada yang sedih, marah, kesepian, dll. Kesepian adalah kemiskinan yang lebih parah daripada kemiskinan jasmani. Hiburlah mereka, luangkan waktu untuk mendengarkan keluh kesah mereka, bawa mereka dalam doa harian, dll.
  5. Kesimpulannya, dengan semakin mendasarkan kasih kita kepada Yesus dan iman Kekatolikan kita, maka kita akan semakin dapat menerapkan kasih kepada sesama kita walaupun dalam masyarakat yang heterogen. Tanpa dasar kasih kita kepada Tuhan, maka apa yang kita lakukan adalah hanyalah suatu kerja atau karya sosial, yang tidak mempunyai karakter supernatural. Dan pada akhirnya, perbuatan kasih yang kita lakukan akan membawa orang kepada Sang Sumber Kasih itu sendiri, Yesus.

Setiap orang punya bagian masing-masing untuk menerapkan kasih. Rani, dan juga teman-teman di kampus mempunyai tantangan yang besar untuk menunjukkan kasih kepada teman-teman di kampus, yang hanya Rani maupun teman-teman Rani yang dapat melakukannya, karena pastor atau suster mungkin tidak dapat menjangkau mereka. Mari kita sama-sama menjalankan bagian kita masing-masing, sehingga kita dapat semakin menyenangkan hati Yesus dan membawa orang-orang di sekitar kita kepada Yesus.

Semoga uraian di atas dapat menjawab pertanyaan Rani.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab