Home Blog Page 324

Mengapa retret pohon keluarga dilarang?

46

Pertanyaan:

Saya mau tanya mengenai penyembuhan pohon keluarga (Healing of the family tree). Apakah ini sudah sesuai dengan ajaran dan tradisi Gereja Katolik? Mohon penjelasannya.

Jawaban:

Shalom Thomas, Memang penyembuhan pohon keluarga menjadi sesuatu yang kontroversial. Beberapa keuskupan – termasuk Keuskupan Agung Jakarta – telah melarang penyelenggaraan retret pohon keluarga, seperti yang telah dijelaskan di SURAT VIKEP KAJ ttg Pembaharuan Karismatik Katolik-KAJ: Jakarta, 27 Agustus 2003. Jadi kalau pihak keuskupan sudah melarang, sebaiknya kita mengikuti keputusan mereka, karena pasti ada alasan-alasan yang berguna untuk perkembangan iman umatnya. Tentu kita ingin tahu alasannya.Marilah kita lihat bersama-sama. Apakah yang dilakukan dalam penyembuhan pohon keluarga:

1) Mereka percaya bahwa dosa yang dilakukan oleh nenek moyang mereka diturunkan kepada generasi berikutnya. Sebagai contoh, kalau orang tua, atau nenek moyang mereka berjudi, punya kecenderungan untuk bunuh diri, dan hal-hal negatif yang lain, maka ini akan diturunkan kepada keturunannya, sehingga dosa ini perlu diputuskan. Dan pemutusan ini dengan cara doa dengan formula tertentu atau juga kadang berlangsung di misa.

2) Biasanya orang yang ingin disembuhkan dari pengaruh buruk pohon keluarga akan membawa grafik yang menunjukkan garis keturunan dan kemudian menuliskan pengaruh buruk yang dibawa dari setiap generasi.

3) Dasar dari penyembuhan pohon keluarga adalah: “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku“(Kel 20:5; Kel 34:6-7).

Dari konsep ini, maka ada beberapa hal yang secara teologi kurang dapat diterima:

1) Pada saat kita dibaptis, sebenarnya imam telah melakukan doa eksorsisme, untuk mengusir roh-roh yang jahat dan untuk keluar dari orang yang akan dibaptis dan memohon agar Yesus membuka telinga kita untuk mendengar Sabda-Nya dan mulut kita untuk menyampaikan kebenaran, memuji dan memuliakan Allah.Jadi pada saat kita dibaptis, kita telah dibersihkan dari dosa asal, dan juga dari pengaruh-pengaruh jahat yang telah diusir dalam proses eksorsisme di upacara pembaptisan. Kalau kita berpendapat bahwa masih ada dosa yang diturunkan dari nenek moyang kita, maka kita tidak percaya akan hakekat dari Sakramen Baptis.

2) Kalau kita percaya bahwa kita melakukan dosa karena pengaruh dari nenek moyang kita, maka dengan gampang sekali kita akan menimpakan kesalahan kepada nasib kita yang terlahir dari keturunan yang kurang baik. Padahal setiap orang bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya, karena setiap orang punya “keinginan bebas”.

3) Bagaimana untuk menjawab keluaran 20:5; 34:6-7 di atas? Ada banyak ayat yang mendukung bahwa setiap orang bertanggungjawab akan dosa yang dibuatnya sendiri, seperti ayat-ayat berikut ini: Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri (Ul 24:16; lihat juga Yer 31:30). Atau Yehezkiel mengatakan “Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya (Yeh 18:20). Bacalah Yehezkiel bab 18, disitu jelas sekali bahwa kalau anak yang bertobat akan diselamatkan walaupun orang tuanya berbuat dosa.

4) Mungkin ada yang berkata, bahwa saya ingin bertobat, namun seolah-olah saya tidak mempunyai kekuatan untuk bertobat karena ikatan pohon keluarga atau dosa dari nenek moyang saya. Dalam hal ini, mari kita percaya bahwa Yesus telah memberikan berkat yang cukup untuk semua orang, sehingga setiap orang dapat mengikuti Yesus, berjalan sesuai dengan perintah-Nya, dan bersatu dengan-Nya di dalam kerajaan surga. Dan berkat-berkat ini mengalir tanpa henti dalam setiap perjamuan Suci/ Ekaristi Kudus. Dan Tuhan sendiri telah memberikan Sakramen Pengakuan Dosa, sehingga umat beriman mendapatkan kekuatan untuk menolak perbuatan dosa dengan bantuan rahmat Tuhan. Bagaimana dengan orang-orang yang telah mengalami kesembuhan dan kelepasan setelah didoakan dalam kesembuhan pohon keluarga? Ini suatu misteri, karena karya Tuhan tidak dapat dibatasi oleh liturgi (Sacrosanctum Concilium, 12). Namun dapat kita lihat bahwa Tuhan melihat hati, karena hati menjadi tempat yang yang kudus dimana setiap orang bertemu dengan Tuhan. Orang yang datang di dalam retret kesembuhan pohon keluarga mungkin membawa hati yang remuk redam dan siap untuk bertobat, yang merupakan sikap yang paling berkenan di hadapan Tuhan (Maz 51:18). Kalau kita membawa sikap pertobatan dan kerinduan yang sama, dan bertumbuh dalam Ekaristi dan Sakramen Pengampunan Dosa, juga dibantu dengan spiritual director, maka kita juga akan mengalami kesembuhan. Jadi bagaimana kesimpulannya? Dengan dasar-dasar di atas, maka Gereja mempunyai alasan yang kuat untuk menolak penyembuhan pohon keluarga. Mari kita menerima dengan besar hati dan mengikuti kebijaksanaan Gereja. Dan Gereja juga telah memberikan sarana agar kita bertumbuh di dalam iman dan hidup dalam kekudusan.

Semoga penjelasan singkat ini dapat menjawab pertanyaan Thomas.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Dokumen:

Saya lampirkan juga surat dari B.S. Mardiatmadja, S.J – Vicarius Episcopalis-Keuskupan Agung Jakarta SURAT VIKEP KAJ ttg Pembaharuan Karismatik Katolik-KAJ: Jakarta, 27 Agustus 2003 Ytk Para saudari dan saudara dalam Pembaharuan Karismatik Katolik Di Jakarta, Pada tanggal 11 Agustus 2003, Romo Kardinal Julius Darmaatmadja, S.J., sebagai Uskup Agung Jakarta, memanggil Moderator, Ko-moderator dan beberapa petugas harian BPK-KAJ. Disyukuri, bahwa Roh Allah telah melimpahkan rahmat-Nya kepada Gereja Jakarta melalui ribuan orang, yang merasa dijamah oleh cinta-Nya dan bergabung dalam Persekutuan Doa. Roh Kudus memperkaya umat dengan iman yang lebih dihayati, hidup menggereja yang lebih gembira, penghormatan kepada Kitab Suci dengan sukacita, kesadaran persatuan secara lahir batin, kegairahan dalam merayakan sakramen-sakramen, dengan aneka sakramentalia, seperti rosario, jalan salib, ziarah, ibadat sabda dsb. Pada akhir pembicaraan, Bapak Uskup menugasi Vicarius Episcopalis (Vikep) Kategorial untuk menyampaikan sejumlah hal yang perlu diperhatikan oleh seluruh keluarga Pembaharuan Karismatik Katholik se-Keuskupan Agung Jakarta.

PERTAMA, bahwa Koordinator BPK dan Moderator BPK perlu bersatu dengan Pimpinan Keuskupan dalam kebijakan pastoral serta ikut melayani secara terpadu, sehingga umat melaksanakan kebijakan itu. Khususnya menjelang akhir Sinode Kedua KAJ ini, diharapkan bahwa iman akan Roh Kudus lebih difokuskan pada kehidupan dalam keluarga, untuk menghasilkan pembaharuan yang nyata positif.

KEDUA, harap diingat bahwa Sakramen Perkawinan menurut paham Katholik memusatkan keyakinan, bahwa pasang surut hidup keluarga, konflik dan rekonsiliasi dalam perjalanan keluarga, kesalahan dan pemulihan sepanjang hidup manusia berkeluarga sudah dirangkum dalam penebusan Tuhan Yesus, yang hidup dalam keluarga, wafat dan bangkit bagi kita semua; menghancurkan segala kekuatan setan, kutuk manusia dsb. Maka PKK-KAJ hendaklah tidak mendukung retret “Pohon Keluarga”, yang dalam prakteknya sekarang dinilai terlalu menyempitkan paham keluarga dengan determinisme psikologis. Kita harus mengembangkan ‘discernment’, untuk tidak menyamaratakan saja segala masalah, melainkan mampu membeda-bedakan manakah dalam keluarga merupakan masalah budaya yang perlu dicermati secara kultural, luka kejiwaan yang perlu disembuhkan secara psikologis, dan dosa yang perlu dimohonkan ampun dari Tuhan.

KETIGA, dalam Roh Kudus kita percaya bahwa Tuhan Yesus menyertai Gereja sampai ke akhir zaman dengan kekuasaan tanpa batas. Maka yang seyogianya dimana-mana dilihat oleh keluarga PKK-KAJ bukanlah kuasa gelap, melainkan kekuatan Allah. Banyak kesalahan, kesusahan, malapetaka atau kerisauan dalam hidup perseorangan maupun keluarga dapat disebabkan oleh keterbatasan fisik atau kejiwaan kita, keterikatan budaya serta kesulitan ekonomi maupun politis kita. PKK-KAJ diminta mau lebih menekuni dan memajukan ‘Discernment of Spirit’ daripada praktek ‘Deliverance’ yang dangkal dan sensional; apalagi dengan pola pengusiran setan yang gegabah. Kecuali itu, ‘exorcismus untuk mengusir setan yang sejati’ hanya boleh dilakukan oleh orang yang mendapat ijin tertulis Uskup.

KEEMPAT, para Pewarta dalam lingkungan PKK-KAJ harus lebih banyak mempelajari dan mewartakan Ajaran Gereja mengenai berbagai permasalahan rohani dan pewarta perlu mau dilayani oleh BPK dengan acara-acara penyegaran yang bermutu. Pegangan utama bagi semua pewarta adalah Buku Iman Katolik dari KWI dan Katekismus Gereja Katolik, serta Surat-surat Gembala Pemimpin Gereja, karena menerjemahkan Alkitab dalam konteks kita. Secara berkesinambungan para Pewarta perlu dievaluasi dan diperbarui pengutusannya oleh pimpinan BPK-KAJ, sebab pewartaan hanya berarti dalam konteks persekutuan iman, yakni Gereja. Maka perlu pengutusan resmi dari pimpinan Gereja. Pengutusan itu lebih penting, kalau seorang pewarta pergi ke luar Keuskupan Agung Jakarta. Uskup memberikan pengutusan utama kepada para imam, khususnya pastor paroki dan moderator. Orang lain mengambil bagian dalam pengutusan tersebut bila memenuhi syarat.

KELIMA, PKK-KAJ seyogianya mendukung ekumene dan dialog dengan agama lain dengan cara dialog hidup maupun dialog karya. Bentuknya : lebih memajukan hidup bertetangga secara baik dan karya sosial bersama. Namun diminta tidak mengadakan PD Ekumene. Pertemuan untuk pengajaran lintas Gereja hanya dilakukan dengan penugasan BPK dan sepengetahuan Keuskupan. Sebab untuk itu diperlukan sejumlah syarat mutu pengetahuan dan pengutusan jelas.

KEENAM, hendaknya lebih digarisbawahi lagi tradisi BPK-KAJ bahwa Persekutuan Doa tidak mengundang pemuka dari Gereja atau Agama lain untuk memberikan pengajaran. Kita juga menyadari, bahwa bahkan dalam ‘kesaksian’ suatu PD banyak pengajaran yang dapat terbawa masuk, yang dapat melemahkan iman Katolik umat. Sebab tim PD bertanggungjawab untuk mutu Katolik warganya.

KETUJUH, ditengah upaya-upaya agar pewartaan dalam PD di PKK-KAJ tampak menarik, diingatkan bahwa tetap berlaku kewajiban untuk sejak perencanaan membicarakan dengan Moderator apabila mengundang pewarta dari luar keuskupan, dan dengan Pimpinan Keuskupan bila undangan dari luar negeri. Tiap pewarta dari luar Keuskupan memerlukan pengutusan resmi dari pimpinannya, dari keuskupan/BPK, dan/atau dari tarekatnya. Sebab di dalam Gereja Katolik, setiap pewartaan membutuhkan pengutusan.

KEDELAPAN, PKK-KAJ makin mekar bila PD-PD Paroki dan kategorial subur. Dalam kaitan itu, BPK hendaknya sungguh membantu BPKM dan orang-orang muda hendaknya mau dibantu BPK agar sungguh melayani sesama orang muda secara terpadu dengan BPK-KAJ. Dianjurkan agar seluruh PKK-KAJ mau mempelajari cara-cara yang tepat guna membangun Persekutuan Doa Karismatik Katolik sebagaimana dianjurkan dalam Konvensi Nasional 2003. Di situ PD hendaknya menjadi komunitas basis dan bukan menekankan perayaan massal. Seyogianya dibentuk Badan Pelayanan Paroki., khususnya di paroki yang menjadi basis dari beberapa pelayanan karismatik.

KESEMBILAN, Persekutuan Doa perlu membaharui diri terus, terutama PD kategorial perlu mencermati visi/misi-nya, supaya jelas fokusnya. Jangan mudah mendirikan PD atau komunitas baru hanya karena tidak sejalan dengan petugas BPK atau dengan teman PD lainnya. Seperti Gereja Perdana, kita diajak untuk mengatasi pelbagai konflik dan perbedaan pandangan dengan pembicaraan bersama, bukan dengan memisahkan diri.

KESEPULUH, semua PD diminta untuk semakin menjadi persekutuan: disitu doa merupakan awal, isi dan tujuan semua kegiatan, dan bukan hanya parade nyanyian dan suasana hura-hura atau menonjolkan pertunjukan saja.

Kesepuluh butir itu penting dalam upaya kita menjadi persekutuan yang membaharui diri tanpa henti dan karena kita mau secara bersungguh-sungguh mewujudkan cita-cita bahwa iman akan Roh Kudus, doa, spiritualitas adalah nomor satu dalam PKK-KAJ. Bersatu dengan lembaga gerejawi dan pimpinan Keuskupan kita ingin menjadi jemaat yang secara nyata percaya akan Bapa Pencipta, Putra yang menebus kita serta Roh Kudus yang menghibur kita. Hendaknya umat menyatu dalam pelayanan BPK-KAJ yang dipadukan oleh Koordinator dan dipandu oleh Moderator dan Ko-moderator dalam naungan Gereja, yang satu kudus-katolik dan apostolik. Kita percaya bahwa Tuhan memberkati kita semua.

Bersatu dalam kasih Allah

B.S. Mardiatmadja, S.J
Vicarius Episcopalis-Keuskupan Agung Jakarta

Maria menyimpan semua perkara di dalam hatinya

12

Maria menyimpan segala perkara di dalam hati Menyimpan perkara di dakam hati. Ini adalah sikap Bunda Maria yang sederhana, namun artinya sangat dalam, dan bisa jadi, hal ini bukannya mudah untuk kita tiru. Mungkin sikap Bunda Maria yang tenang dan hening ini menyebabkan hanya sedikit bagian dari Injil yang menyebutkan dan menceritakan tentang dirinya. Padahal jika kita renungkan: betapa besar peran Bunda Maria dalam pemenuhan rencana keselamatan Allah pada kita. Oleh kesediaannya, Yesus Putera Allah berkenan menjelma menjadi janin di dalam kandungannya, dan kemudian lahir sebagai manusia. Terpikirkah oleh kita, bahwa tanpa persetujuan Maria, Yesus tidak jadi lahir ke dunia pada saat itu…?

Injil menceritakan tentang Bunda Maria, pertama-tama pada saat Malaikat Gabriel mengunjunginya dan memberitakan kelahiran Yesus (Luk 1: 26-38). Tak lama kemudian Bunda Maria mengunjungi Elizabeth saudaranya, yang menyebutnya sebagai ‘Ibu Tuhanku’ (Luk 1:43). Perkataan Bunda Maria yang terpanjang tertulis dalam Injil sebagai Nyanyian pujian kepada Tuhan: ‘Magnificat’ (Luk 1:46-55). Injil kemudian mencatat kelahiran Yesus. Saat para gembala dan para malaikat menyembah Yesus Sang Putera yang dilahirkan di kandang Betlehem (lih. Luk 2:19), di sanalah pertama kali kita membaca, bahwa Maria menyimpan segala perkara di dalam hatinya dan merenungkannya (Luk 2:51). Mungkin hati Maria juga tak berhenti merenungkan perkataaan nubuat nabi Simeon tentang Yesus dan dirinya (Luk 2:34-35). Dan Injil mencatat kedua kalinya Maria ‘menyimpan semua perkara di dalam hatinya’ saat ia dan Yusuf suaminya menemukan Yesus kembali di Bait Allah, pada saat Ia berumur 12 tahun (Luk 2:51). Pastilah, Maria terus ‘menyimpan segala perkara’ di dalam hatinya, sampai ia dapat tegak berdiri di kaki salib Yesus, mempersembahkan buah hatinya demi memenuhi rencana Keselamatan Allah Bapa.

Jika kita renungkan, ‘menyimpan perkara di dalam hati’, kita akan mengakui bahwa hal ‘menyimpan perkara’ adalah sesuatu yang gampang-gampang susah. Di dunia ini, kita seolah-olah terbiasa dengan segala sesuatu yang ‘go public’, segala sesuatunya diumumkan, entah benar atau tidak, itu urusan belakangan. Contoh umum, lihatlah betapa menjamurnya tabloid dan majalah yang menceriterakan kehidupan tokoh- tokoh publik. Keberadaan aneka majalah tersebut adalah gambaran bahwa ada banyak orang menyukai berita-berita semacam itu. Kalau kita lihat ke dalam diri kita sendiri dan lingkungan kita, kita juga akan dapat menemukan contoh lainnya, yaitu: betapa mudahnya untuk membicarakan orang lain, (terutama kekurangan mereka) dan betapa sulitnya untuk menyimpan segala perkara di dalam hati. Betapa mudahnya menceritakan diri sendiri, terutama jika itu kita pandang baik, dan betapa sulitnya untuk diam, dan menyimpan segala sesuatunya di dalam hati….

Mari kita tengok bersama: jika kita menghadapi masalah yang berat, apakah yang pertama dan utama kita lakukan? Curhat pada Tuhan atau curhat pada sahabat? Kita cenderung lebih dapat ‘bongkar muat’ uneg-uneg pada teman, daripada kepada Tuhan. Dunia sekeliling kita memang tidak ‘berteman’ pada keheningan. Hari-hari kitapun diisi dengan kesibukan dari pagi sampai malam, dari urusan keluarga, pekerjaan ataupun sekolah, dan ngobrol sana-sini dengan teman-teman, atau mungkin juga nonton TV. Betapa sedikitnya waktu yang kita habiskan bersama Tuhan. Betapa singkat waktu yang kita lalui dalam keheningan bersama Allah. Betapa sulit bagi kita untuk kembali ke dalam hati kita sendiri, dan menemukan Tuhan di sana. Kita perlu belajar dari Bunda Maria yang menyimpan segala perkara di dalam hati.

Mari kita bayangkan pergumulan di hati Bunda Maria, saat ia menjawab “YA” pada rencana Allah. Ia pada saat itu sudah bertunangan dengan Yusuf, mungkin mereka sedang merencanakan pernikahan. Walaupun demikian, Bunda Maria menyerahkan dirinya seutuhnya pada rencana Allah. Bunda Maria tidak lagi memikirkan rencananya sendiri. Imannya mengalahkan segala kekuatirannya: bagaimana caranya memberitahukan kabar malaikat kepada orang tuanya, bagaimana nanti reaksi Yusuf tunangannya, bagaimana nanti jika ia digossipkan oleh orang-orang sekampung, dan bahkan, bagaimana jika ia dituduh berzinah dan dapat dijatuhi hukuman rajam?

Dari sejak awal kita mengetahui, ‘menyimpan segala perkara di dalam hati’ telah menjadi bagian dari sikap Bunda Maria. Ia tidak banyak bicara, tidak pula berusaha menjelaskan segala sesuatunya pada Yusuf. Ia membiarkan Allah sendiri menjelaskan kepada Yusuf lewat mimpi. Selanjutnya, kejadian demi kejadian membentuk Bunda Maria untuk menimba kekuatan hanya di dalam Tuhan: saat ia harus melahirkan Yesus di kandang hewan karena tak ada yang mau memberikan tempat baginya dan Yusuf; saat ia melihat kemuliaan Tuhan di dalam kemiskinan yang ekstrim; saat para malaikat dan para gembala menyembah bayi Yesus; saat ia mendengar nubuat nabi Simeon, akan penderitaan yang harus dialaminya; saat ia bersama Yusuf dan bayi Yesus harus mengungsi ke Mesir. Maria menyimpan perkara di dalam hatinya, juga saat hari demi hari ia melihat Yesus bertambah besar… Ya, betapa Maria menyadari, bahwa meskipun Yesus adalah anaknya, namun Yesus tidaklah menjadi ‘milik’nya. Hari demi hari Maria melihat Tuhan yang Maha Besar mau merendahkan diri dan mau tinggal bersamanya sebagai anak yang menghormatinya. Ia adalah Sang Sabda yang menjadi manusia, dan tinggal satu atap dengannya. Kehidupan Maria adalah permenungan tanpa henti akan Sabda Tuhan yang hidup!

Mari kita tengok kehidupan kita, sudahkah kita belajar untuk menyimpan segala perkara di dalam hati kita? Apakah kita lebih cenderung untuk menceritakan problem kita kepada teman, ataukah kepada Tuhan? Sadarkah kita bahwa Allah menunggu kita agar kita menemui Dia di dalam hati kita? Mungkin sudah saatnya kita belajar untuk mengurangi pembicaraan tentang diri sendiri dan orang lain, dan menambah pembicaraan untuk kemuliaan Tuhan. Sudah saatnya bagi kita untuk mengurangi curhat kepada banyak orang dan menambah usaha untuk mencurahkan isi hati kepada Tuhan yang ada di dalam hati kita. Betapa lebih baik bagi kita untuk mengandalkan Sabda Tuhan daripada pendapat kita sendiri. Ya, saat kita kembali kepada Tuhan, di sanalah kita akan menemukan kekuatan dan penghiburan yang tak dapat kita dapatkan dari siapapun. Mari kita belajar dari Bunda Maria, untuk menyimpan segala perkara di dalam hati. Dengan iman mari kita yakini, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku” (Fil 4:13). Bunda Maria, doakanlah kami, agar dapat meniru teladanmu, untuk selalu kembali kepada Tuhan yang hadir di dalam hati kami, dan menimba kekuatan daripadaNya….

Pertanyaan untuk pemeriksaan batin:

  1. Tentang pembicaraanku hari ini:
    • Berapa banyak aku berbicara tentang diri sendiri kepada orang lain?
    • Berapa banyak aku berbicara tentang kekurangan orang lain?
    • Berapa banyak aku berbicara tentang Tuhan dan segala kebaikanNya kepada orang lain?
  2. Tentang ‘menyimpan segala perkara’:
    • Apakah aku banyak mengeluh/ ‘komplain’ hari ini?
    • Apakah aku cukup bersyukur atas rahmat Tuhan hari ini?
    • Apakah aku membocorkan rahasia orang lain?
    • Apakah merenungkan Sabda Tuhan hari ini? Ayat apa yang menguatkan/ menegur aku hari ini?
    • Apakah pikiranku tertuju kepada Tuhan hari ini?
    • Apakah aku menyediakan waktu untuk berdoa dan ‘hening’ di hadapan Tuhan?

Trinitas: Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi

227

Doa Pembukaan

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus,

Ya Allah Tritunggal Maha Kudus, kami memuji nama-Mu dan keajaiban kasih-Mu yang Engkau nyatakan di dalam Kristus Putera-Mu yang telah wafat dan bangkit bagi kami. Di dalam Kristuslah, kami mengenal kedalaman misteri kehidupan-Mu, yang adalah KASIH ilahi. Berikanlah kepada kami, ya Tuhan, rahmat pengertian akan misteri kasih-Mu itu, agar kami dapat memuliakan Engkau dan menyembah kesatuan Kasih Ilahi-Mu. Semoga oleh kuasa-Mu, hati kami dapat terbuka untuk melihat betapa besar dan dalamnya misteri Kasih itu. Di dalam nama Yesus Kristus kami naikkan doa ini. Amin.

Kesalahan persepsi dan tentang Trinitas (Allah Tritunggal Maha Kudus).

Banyak orang yang mempertanyakan ajaran tentang Trinitas, bahkan banyak orang yang bukan Kristen mengatakan bahwa orang Kristen percaya akan tiga Tuhan. Tentu saja hal ini tidak benar, sebab iman Kristiani mengajarkan Allah yang Esa. Namun bagaimana mungkin Allah yang Esa ini mempunyai tiga Pribadi? Untuk memahami hal ini memang diperlukan keterbukaan hati untuk memandang Allah dari sudut pandang yang mengatasi pola berpikir manusia. Jika kita berkeras untuk membatasi kerangka berpikir kita, bahwa Allah harus dapat dijelaskan dengan logika manusia semata-mata, maka kita membatasi pandangan kita sendiri, sehingga kehilangan kesempatan untuk melihat gambaran yang lebih luas tentang Allah. Jika kita berpikir demikian, kita bagaikan, maaf, memakai ‘kacamata kuda’: Kita mencukupkan diri kita dengan pandangan Allah yang logis menurut pikiran kita dan tanpa kita sadari kita menolak tawaran Allah agar kita lebih dapat mengenal DiriNya yang sesungguhnya.

Dari mana kita mengetahui bahwa Tuhan adalah Allah Tritunggal?

Walaupun kita mengetahui bahwa konsep Trinitas ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan akal, bukan berarti bahwa Allah Tritunggal ini adalah konsep yang sama sekali tidak masuk akal. Berikut ini adalah sedikit uraian bagaimana kita dapat mencoba memahami Trinitas, walaupun pada akhirnya harus kita akui bahwa adanya tiga Pribadi dalam Allah yang Satu ini merupakan misteri yang tidak cukup kita jelaskan dengan akal, sebab jika dapat dijelaskan dengan tuntas, maka hal itu tidak lagi menjadi misteri. St. Agustinus bahkan mengatakan, “Kalau engkau memahami-Nya, Ia bukan lagi Allah”. ((St. Agustinus, sermon. 52, 6, 16, seperti dikutip dalam KGK 230.)) Sebab Allah jauh melebihi manusia dalam segala hal, dan meskipun Ia telah mewahyukan Diri, Ia tetap tinggal sebagai rahasia/ misteri yang tak terucapkan. Di sinilah peran iman, karena dengan iman inilah kita menerima misteri Allah yang diwahyukan dalam Kitab Suci, sehingga kita dapat menjadikannya sebagai dasar pengharapan, dan bukti dari apa yang tidak kita lihat (lih. Ibr. 11:1-2). Agar dapat sedikit menangkap maknanya, kita perlu mempunyai keterbukaan hati. Hanya dengan hati terbuka, kita dapat menerima rahmat Tuhan, untuk menerima rahasia Allah yang terbesar ini; dan hati kita akan dipenuhi oleh ucapan syukur tanpa henti.

Mungkin kita pernah mendengar orang yang menjelaskan konsep Allah Tritunggal dengan membandingkan-Nya dengan matahari: yang terdiri dari matahari itu sendiri, sinar, dan panas. Atau dengan sebuah segitiga, di mana Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus menempati masing-masing sudut, namun tetap dalam satu segitiga. Bahkan ada yang mencoba menjelaskan, bahwa Trinitas adalah seperti kopi, susu, dan gula, yang akhirnya menjadi susu kopi yang manis. Penjelasan yang menggunakan analogi ini memang ada benarnya, namun sebenarnya tidak cukup, sehingga sangat sulit diterima oleh orang-orang non-Kristen. Apalagi dengan perkataan, ‘pokoknya percaya saja’, ini juga tidak dapat memuaskan orang yang bertanya. Jadi jika ada orang yang bertanya, apa dasarnya kita percaya pada Allah Tritunggal, sebaiknya kita katakan, “karena Allah melalui Yesus menyatakan Diri-Nya sendiri demikian”, dan hal ini kita ketahui dari Kitab Suci.

Doktrin Trinitas atau Allah Tritunggal Maha Kudus adalah pengajaran bahwa Tuhan adalah SATU, namun terdiri dari TIGA pribadi: 1) Allah Bapa (Pribadi pertama), 2) Allah Putera (Pribadi kedua), dan Allah Roh Kudus (Pribadi ketiga). Karena ini adalah iman utama kita, maka kita harus dapat menjelaskannya lebih daripada hanya sekedar menggunakan analogi matahari, segitiga, maupun kopi susu.

Dasar dari Kitab Suci dan pengajaran Gereja

Yesus menunjukkan persatuan yang tak terpisahkan dengan Allah Bapa, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30); “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa…” (Yoh 14:9). Di dalam doa-Nya yang terakhir untuk murid-murid-Nya sebelum sengsara-Nya, Dia berdoa kepada Bapa, agar semua murid-Nya menjadi satu, sama seperti Bapa di dalam Dia dan Dia di dalam Bapa (lih. Yoh 17: 21). Dengan demikian Yesus menyatakan Diri-Nya sama dengan Allah: Ia adalah Allah. Hal ini mengingatkan kita akan pernyataan Allah Bapa sendiri, tentang ke-Allahan Yesus sebab Allah Bapa menyebut Yesus sebagai Anak-Nya yang terkasih, yaitu pada waktu pembaptisan Yesus (lih. Luk 3: 22) dan pada waktu Yesus dimuliakan di atas gunung Tabor (lih. Mat 17:5).

Yesus juga menyatakan keberadaan Diri-Nya yang telah ada bersama-sama dengan Allah Bapa sebelum penciptaan dunia (lih. Yoh 17:5). Kristus adalah sang Sabda/ Firman, yang ada bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah, dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan (Yoh 1:1-3). Tidak mungkin Yesus menjadikan segala sesuatu, jika Ia bukan Allah sendiri.

Selain menyatakan kesatuan-Nya dengan Allah Bapa, Yesus juga menyatakan kesatuan-Nya dengan Roh Kudus, yaitu Roh yang dijanjikan-Nya kepada para murid-Nya dan disebutNya sebagai Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, (lih. Yoh 15:26). Roh ini juga adalah Roh Yesus sendiri, sebab Ia adalah Kebenaran (lih. Yoh 14:6). Kesatuan ini ditegaskan kembali oleh Yesus dalam pesan terakhir-Nya sebelum naik ke surga, “…Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus…”(Mat 28:18-20).

Selanjutnya, kita melihat pengajaran dari para Rasul yang menyatakan kembali pengajaran Yesus ini, contohnya, Rasul Yohanes yang mengajarkan bahwa Bapa, Firman (yang adalah Yesus Kristus), dan Roh Kudus adalah satu (lih 1 Yoh 5:7); demikian juga pengajaran Petrus (lih. 1 Pet:1-2; 2 Pet 1:2); dan Paulus (lih.  1Kor 1:2-10; 1Kor 8:6; Ef 1:3-14). Rasul Paulus

Dasar dari Pengajaran Bapa Gereja

Para Rasul mengajarkan apa yang mereka terima dari Yesus, bahwa Ia adalah Sang Putera Allah, yang hidup dalam kesatuan dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus. Iman akan Allah Trinitas ini sangat nyata pada Tradisi umat Kristen pada abad-abad awal.

1. St. Paus Clement dari Roma (menjadi Paus tahun 88-99):
“Bukankah kita mempunyai satu Tuhan, dan satu Kristus, dan satu Roh Kudus yang melimpahkan rahmat-Nya kepada kita?” ((St. Clement of Rome, Letter to the Corinthians, chap. 46, seperti dikutip oleh John Willis SJ, The Teachings of the Church Fathers, (San Francisco, Ignatius Press, 2002, reprint 1966), p. 145))

2. St. Ignatius dari Antiokhia (50-117) membandingkan jemaat dengan batu yang disusun untuk membangun bait Allah Bapa; yang diangkat ke atas oleh ‘katrol’ Yesus Kristus yaitu Salib-Nya dan oleh ‘tali’ Roh Kudus. ((St. Ignatius of Antiokh, Letter to the Ephesians, Chap 9, Ibid., p. 146))

“Ignatius, juga disebut Theoforus, kepada Gereja di Efesus di Asia… yang ditentukan sejak kekekalan untuk kemuliaan yang tak berakhir dan tak berubah, yang disatukan dan dipilih melalui penderitaan sejati oleh Allah Bapa di dalam Yesus Kristus Tuhan kita.” ((St. Ignatius, Letter to the Ephesians, 110))

“Sebab Tuhan kita, Yesus Kristus, telah dikandung oleh Maria seturut rencana Tuhan: dari keturunan Daud, adalah benar, tetapi juga dari Roh Kudus.” ((ibid., 18:2)).

“Kepada Gereja yang terkasih dan diterangi kasih Yesus Kristus, Tuhan kita, dengan kehendak Dia yang telah menghendaki segalanya yang ada.” ((St. Ignatius, Letter to the Romans, 110))

3. St. Polycarpus (69-155), dalam doanya sebelum ia dibunuh sebagai martir, “… Aku memuji Engkau (Allah Bapa), …aku memuliakan Engkau, melalui Imam Agung yang ilahi dan surgawi, Yesus Kristus, Putera-Mu yang terkasih, melalui Dia dan bersama Dia, dan Roh Kudus, kemuliaan bagi-Mu sekarang dan sepanjang segala abad. Amin.” ((St. Polycarp, Ibid., 146))

4. St. Athenagoras (133-190):
“Sebab, … kita mengakui satu Tuhan, dan PuteraNya yang adalah Sabda-Nya, dan Roh Kudus yang bersatu dalam satu kesatuan, –Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus.” ((St. Athenagoras, A Plea for Christians, Chap. 24, ibid., 148))

5. Aristides sang filsuf [90-150 AD] dalam The Apology
“Orang- orang Kristen, adalah mereka yang, di atas segala bangsa di dunia, telah menemukan kebenaran, sebab mereka mengenali Allah, Sang Pencipta segala sesuatu, di dalam Putera-Nya yang Tunggal dan di dalam Roh Kudus. ((Aristides, Apology 16 [A.D. 140]))

6. St. Irenaeus (115-202):
“Sebab bersama Dia (Allah Bapa) selalu hadir Sabda dan kebijaksanaan-Nya, yaitu Putera-Nya dan Roh Kudus-Nya, yang dengan-Nya dan di dalam-Nya, …Ia menciptakan segala sesuatu, yang kepadaNya Ia bersabda, “Marilah menciptakan manusia sesuai dengan gambaran Kita.” (( St. Irenaeus, Against Heresy, Bk. 4, Chap.20, Ibid., 148))

“Sebab Gereja, meskipun tersebar di seluruh dunia bahkan sampai ke ujung bumi, telah menerima dari para rasul dan dari murid- murid mereka iman di dalam satu Tuhan, Allah Bapa yang Mahabesar, Pencipta langit dan bumi dan semua yang ada di dalamnya; dan di dalam satu Yesus Kristus, Sang Putera Allah, yang menjadi daging bagi keselamatan kita, dan di dalam Roh Kudus, yang [telah] mewartakan melalui para nabi, ketentuan ilahi dan kedatangan, dan kelahiran dari seorang perempuan, dan penderitaan dan kebangkitan dari mati dan kenaikan tubuh-Nya ke surga dari Kristus Yesus Tuhan kita, dan kedatangan-Nya dari surga di dalam kemuliaan Allah Bapa untuk mendirikan kembali segala sesuatu, dan membangkitkan kembali tubuh semua umat manusia, supaya kepada Yesus Kristus Tuhan dan Allah kita, Penyelamat dan Raja kita, sesuai dengan kehendak Allah Bapa yang tidak kelihatan, setiap lutut bertelut dari semua yang di surga dan di bumi dan di bawah bumi ….” ((St. Irenaeus, Against Heresies, I:10:1 [A.D. 189])).

“Namun demikian, apa yang tidak dapat dikatakan oleh seorangpun yang hidup, bahwa Ia [Kristus] sendiri adalah sungguh Tuhan dan Allah … dapat dilihat oleh mereka yang telah memperoleh bahkan sedikit bagian kebenaran” ((St. Irenaeus, ibid., 3:19:1)).

7. St. Clement dari Alexandria [150-215 AD] dalam Exhortation to the Heathen (Chapter 1)
“Sang Sabda, Kristus, adalah penyebab, dari asal mula kita -karena Ia ada di dalam Allah- dan penyebab dari kesejahteraan kita. Dan sekarang, Sang Sabda yang sama ini telah menjelma menjadi manusia. Ia sendiri adalah Tuhan dan manusia, dan sumber dari semua yang baik yang ada pada kita” ((St. Clement, Exhortation to the Greeks 1:7:1 [A.D. 190])).

“Dihina karena rupa-Nya namun sesungguhnya Ia dikagumi, [Yesus adalah], Sang Penebus, Penyelamat, Pemberi Damai, Sang Sabda, Ia yang jelas adalah Tuhan yang benar, Ia yang setingkat dengan Allah seluruh alam semesta sebab Ia adalah Putera-Nya.” ((ibid., 10:110:1)).

8. St. Hippolytus [170-236 AD] dalam Refutation of All Heresies (Book IX)
“Hanya Sabda Allah [yang] adalah dari diri-Nya sendiri dan karena itu adalah juga Allah, menjadi substansi Allah. ((St. Hippolytus, Refutation of All Heresies 10:33 [A.D. 228]))

“Sebab Kristus adalah Allah di atas segala sesuatu, yang telah merencanakan penebusan dosa dari umat manusia …. ((ibid., 10:34)).

9. Tertullian [160-240 AD] dalam Against Praxeas
“Bahwa ada dua allah dan dua Tuhan adalah pernyataan yang tidak akan keluar dari mulut kami; bukan seolah Bapa dan Putera bukan Tuhan, ataupun Roh Kudus bukan Tuhan…; tetapi keduanya disebut sebagai Allah dan Tuhan, supaya ketika Kristus datang, Ia dapat dikenali sebagai Allah dan disebut Tuhan, sebab Ia adalah Putera dari Dia yang adalah Allah dan Tuhan.” ((Tertullian, Against Praxeas 13:6 [A.D. 216])).

10. Origen [185-254 AD] dalam De Principiis (Book IV)
“Meskipun Ia [Kristus] adalah Allah, Ia menjelma menjadi daging, dan dengan menjadi manusia, Ia tetap adalah Allah.” ((Origen, The Fundamental Doctrines 1:0:4 [A.D. 225])).

11. Novatian [220-270 AD] dalam Treatise Concerning the Trinity
“Jika Kristus hanya manusia saja, mengapa Ia memberikan satu ketentuan kepada kita untuk mempercayai apa yang dikatakan-Nya, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh 17:3). Bukankah Ia menghendaki agar diterima sebagai Allah juga? Sebab jika Ia tidak menghendaki agar dipahami sebagai Allah, Ia sudah akan menambahkan, “Dan manusia Yesus Kristus yang telah diutus-Nya,” tetapi kenyataannya, Ia tidak menambahkan ini, juga Kristus tidak menyerahkan nyawa-Nya kepada kita sebagai manusia saja, tetapi satu diri-Nya dengan Allah, sebagaimana Ia kehendaki agar dipahami oleh persatuan ini sebagai Tuhan juga, seperti adanya Dia. Karena itu kita harus percaya, seusai dengan ketentuan tertulis, kepada Tuhan, satu Allah yang benar, dan juga kepada Ia yang telah diutus-Nya, Yesus Kristus, yang, …tidak akan menghubungkan Diri-Nya sendiri kepada Bapa, jika Ia tidak menghendaki untuk dipahami sebagai Allah juga. Sebab [jika tidak] Ia akan memisahkan diri-Nya dari Dia [Bapa], jika Ia tidak menghendaki untuk dipahami sebagai Allah.” ((Novatian, Treatise Concerning the Trinity 16 [A.D. 235])).

12. St. Cyprian of Carthage [200-270 AD] dalam Treatise 3
“Seseorang yang menyangkal bahwa Kristus adalah Tuhan tidak dapat menjadi bait Roh Kudus-Nya …” ((St. Cyprian, Letters 73:12 [A.D. 253])).

13. Lactantius [290-350 AD] dalam The Epitome of the Divine Institutes
“Ia telah menjadi baik Putera Allah di dalam Roh dan Putera manusia di dalam daging, yaitu baik Allah maupun manusia. ((Lactantius, Divine Institutes 4:13:5 [A.D. 307]))

“Seseorang mungkin bertanya, bagaimana mungkin, ketika kita berkata bahwa kita menyembah hanya satu Tuhan, namun kita menyatakan bahwa ada dua, Allah Bapa dan Allah Putera, di mana penyebutan ini telah menyebabkan banyak orang jatuh ke dalam kesalahan yang terbesar … [yang berpikir] bahwa kita mengakui adanya Tuhan yang lain, dan bahwa Tuhan yang lain itu adalah yang dapat mati …. [Tetapi] ketika kita bicara tentang Allah Bapa dan Allah Putera, kita tidak bicara tentang Mereka sebagai satu yang lain dari yang lainnya, ataupun kita memisahkan satu dari lainnya, sebab Bapa tidak dapat eksis tanpa Putera dan Putera tidak dapat dipisahkan dari Bapa.” ((Lactantius, (ibid., 4:28–29))

14. St. Athanasius (296-373), “Sebab Putera ada di dalam Bapa… dan Bapa ada di dalam Putera…. Mereka itu satu, bukan seperti sesuatu yang dibagi menjadi dua bagian namun dianggap tetap satu, atau seperti satu kesatuan dengan dua nama yang berbeda… Mereka adalah dua,(dalam arti) Bapa adalah Bapa dan bukan Putera, demikian halnya dengan Putera… tetapi kodreat/ hakekat mereka adalah satu (sebab anak selalu mempunyai hakekat yang sama dengan bapanya), dan apa yang menjadi milik BapaNya adalah milik Anak-Nya.” ((St. Athanasius, Four Discourses Against the Arians, n. 3:3, in NPNF, 4:395.))

15. St. Agustinus (354-430), “… Allah Bapa dan Putera dan Roh Kudus adalah kesatuan ilahi yang erat, yang adalah satu dan sama esensinya, di dalam kesamaan yang tidak dapat diceraikan, sehingga mereka bukan tiga Tuhan, melainkan satu Tuhan: meskipun Allah Bapa telah melahirkan (has begotten) Putera, dan Putera lahir dari Allah Bapa, Ia yang adalah Putera, bukanlah Bapa, dan Roh Kudus bukanlah Bapa ataupun Putera, namun Roh Bapa dan Roh Putera; dan Ia sama (co-equal) dengan Bapa dan Putera, membentuk kesatuan Tritunggal. ” ((St. Augustine, On The Trinity, seperti dikutip oleh John Willis SJ, Ibid., 152.))

Dalam bukunya, On the Trinity (Book XV, ch. 3), St. Agustinus menjabarkan ringkasan tentang konsep Trinitas. Secara khusus ia memberi contoh beberapa trilogi untuk menggambarkan Trinitas, yaitu:
1) seorang pribadi yang mengasihi, pribadi yang dikasihi dan kasih itu sendiri.
2) trilogi pikiran manusia, yang terdiri dari pikiran (mind), pengetahuan (knowledge) yang olehnya pikiran mengetahui dirinya sendiri, dan kasih (love) yang olehnya pikiran dapat mengasihi dirinya dan pengetahuan akan dirinya.
3) ingatan (memory), pengertian (understanding) dan keinginan (will). Seperti pada saat kita mengamati sesuatu, maka terdapat tiga hal yang mempunyai satu esensi, yaitu gambaran benda itu dalam ingatan/ memori kita, bentuk yang ada di pikiran pada saat kita melihat benda itu dan keinginan kita untuk menghubungkan keduanya.

Khusus untuk point yang ketiga ini kita dapat melihat contoh lain sebagai berikut: jika kita mengingat sesuatu, misalnya menyanyikan lagu kesenangan, maka terdapat 3 hal yang terlibat, yaitu, kita mengingat lagu itu dan liriknya dalam memori/ ingatan kita, kita mengetahui atau memikirkan dahulu tentang lagu itu dan kita menginginkan untuk melakukan hal itu (mengingat, memikirkan-nya) karena kita menyukainya. Nah, ketiga hal ini berbeda satu sama lain, namun saling tergantung satu dengan yang lainnya, dan ada dalam kesatuan yang tak terpisahkan. Kita tidak bisa menyanyikan lagu itu, kalau kita tidak mengingatnya dalam memori; atau kalau kita tidak mengetahui lagu itu sama sekali, atau kalau kita tidak ingin mengingatnya, atau tidak ingin mengetahui dan menyanyikannya.

Pengajaran Gereja: Dogma tentang Tritunggal Maha Kudus

Syahadat ‘Aku Percaya’ menyatakan bahwa rahasia sentral iman Kristen adalah Misteri Allah Tritunggal. Maka Trinitas adalah dasar iman Kristen yang utama ((Gereja Katolik , Katekismus Gereja Katolik, Edisi Indonesia., 234, 261.)) yang disingkapkan dalam diri Yesus. Seperti kita ketahui di atas, iman kepada Allah Tritunggal telah ada sejak zaman Gereja abad awal, karena didasari oleh perkataan Yesus sendiri yang disampaikan kembali oleh para murid-Nya. Jadi, tidak benar jika doktrin ini baru ditemukan dan ditetapkan pada Konsili Konstantinopel I pada tahun 359! Yang benar ialah: Konsili Konstantinopel I mencantumkan pengajaran tentang Allah Tritunggal secara tertulis, sebagai kelanjutan dari Konsili Nicea (325) ((Konsili Nicea (325): Credo Nicea: “…Kristus itu sehakekat dengan Allah Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar …”)), dan untuk menentang heresies (ajaran sesat) yang berkembang pada abad ke-3 dan ke-4, seperti Arianisme (oleh Arius 250-336, yang menentang kesetaraan Yesus dengan Allah Bapa) dan Sabellianisme (oleh Sabellius 215 yang membagi Allah dalam tiga modus, sehingga seolah ada tiga Pribadi yang terpisah).

Dari sejarah Gereja kita melihat bahwa konsili-konsili diadakan untuk menegaskan kembali ajaran Gereja (yang sudah berakar sebelumnya) dan menjaganya terhadap serangan ajaran-ajaran sesat/ menyimpang. Jadi yang ditetapkan dalam konsili merupakan peneguhan ataupun penjabaran ajaran yang sudah ada, dan bukannya menciptakan ajaran baru. Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan semakin menyadari bahwa Tuhan Yesus sendiri menjaga Gereja-Nya: sebab setiap kali Gereja ‘diserang’ oleh ajaran yang sesat, Allah mengangkat Santo/Santa yang dipakai-Nya untuk meneguhkan ajaran yang benar dan Yesus memberkati para penerus rasul dalam konsili-konsili untuk menegaskan kembali kesetiaan ajaran Gereja terhadap pengajaran Yesus kepada para Rasul. Lebih lanjut mengenai hal ini akan dibahas di dalam artikel terpisah, dalam topik Sejarah Gereja.

Berikut ini adalah Dogma tentang Tritunggal Maha Kudus menurut Katekismus Gereja Katolik, yang telah berakar dari jaman jemaat awal:

  1. Tritunggal adalah Allah yang satu. ((Lihat KGK 253)) Pribadi ini tidak membagi-bagi ke-Allahan seolah masing-masing menjadi sepertiga, namun mereka adalah ‘sepenuhnya dan seluruhnya’. Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa; dan Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah dengan kodrat yang sama. Karena kesatuan ini, maka Bapa seluruhnya ada di dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Putera seluruhnya ada di dalam Bapa, dan seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Roh Kudus ada seluruhnya di dalam Bapa, dan seluruhnya di dalam Putera.
  2. Ketiga Pribadi ini berbeda secara real satu sama lain, yaitu di dalam hal hubungan asalnya: yaitu Allah Bapa yang ‘melahirkan’, Allah Putera yang dilahirkan, Roh Kudus yang dihembuskan. ((Lihat KGK 254))
  3. Ketiga Pribadi ini berhubungan satu dengan yang lainnya. Perbedaan dalam hal asal tersebut tidak membagi kesatuan ilahi, namun malah menunjukkan hubungan timbal balik antar Pribadi Allah tersebut. Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan keduanya. Hakekat mereka adalah satu, yaitu Allah. ((Lihat KGK 255))

Jadi bagaimana kita menjelaskan Trinitas?

Kita akan mencoba memahaminya dengan bantuan filosofi. Dengan pendekatan filosofi, maka diharapkan kita akan dapat masuk ke dalam misteri iman, sejauh apa yang dapat kita jelaskan dengan filosofi. Dengan demikian, filosofi melayani teologi. Untuk menjelaskan Trinitas, pertama-tama kita harus mengetahui terlebih dahulu beberapa istilah kunci, yaitu apa yang disebut sebagai substansi/ hakekat/ kodrat dan apa yang disebut sebagai pribadi/ hypostatis. Pengertian kedua istilah ini diajarkan oleh St. Gregorius dari Nasiansa. Kedua, bagaimana menjelaskan prinsip Trinitas dengan argumentasi kenapa hal ini sudah sepantasnya terjadi atau “argument of fittingness.” Ketiga, kita dapat menjelaskan konsep Trinitas dengan argumen definisi kasih. Berikut ini mari kita lihat satu persatu.

Arti ‘substansi/ hakekat’ dan ‘pribadi’

Mari kita lihat pada diri kita sendiri. ‘Substansi’ (kadang diterjemahkan sebagai hakekat/ kodrat) dari diri kita adalah ‘manusia’. Kodrat sebagai manusia ini adalah sama untuk semua orang. Tetapi jika kita menyebut ‘pribadi’ maka kita tidak dapat menyamakan orang yang satu dengan yang lain, karena setiap pribadi itu adalah unik. Dalam bahasa sehari-hari, pribadi kita masing-masing diwakili oleh kata ‘aku’ (atau ‘I’ dalam bahasa Inggris), di mana ‘aku’ yang satu berbeda dengan ‘aku’ yang lain. Sedangkan, substansi/ hakekat kita diwakili dengan kata ‘manusia’ (atau ‘human’). Analogi yang paling mirip (walaupun tentu tak sepenuhnya menjelaskan misteri Allah ini) adalah kesatuan antara jiwa dan tubuh dalam diri kita. Tanpa jiwa, kita bukan manusia, tanpa tubuh, kita juga bukan manusia. Kesatuan antara jiwa dan tubuh kita membentuk hakekat kita sebagai manusia, dan dengan sifat-sifat tertentu membentuk kita sebagai pribadi.

Dengan prinsip yang sama, maka di dalam Trinitas, substansi/hakekat yang ada adalah satu, yaitu Tuhan, sedangkan di dalam kesatuan tersebut terdapat tiga Pribadi: ada tiga ‘Aku’, yaitu Bapa. Putera dan Roh Kudus. Tiga pribadi manusia tidak dapat menyamai makna Trinitas, karena di dalam tiga orang manusia, terdapat tiga “kejadian”/ ‘instances‘ kodrat manusia; sedangkan di dalam tiga Pribadi ilahi, terdapat hanya satu kodrat Allah, yang identik dengan ketiga Pribadi tersebut.  Dengan demikian,  ketiga Pribadi Allah mempunyai kesamaan hakekat Allah yang sempurna, sehingga ketiganya membentuk kesatuan yang sempurna. Yang membedakan Pribadi yang satu dengan yang lainnya hanyalah terletak dalam hal hubungan timbal balik antara ketiganya. ((Lihat KGK 252.))

Argument of fittingness untuk menjelaskan Trinitas

Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang mempunyai akal budi. ((Dalam bukunya “Isagoge“, pengenalan akan kategori menurut Aristoteles, Filsuf Yunani Porphyry, mengemukakan bahwa Aristoteles membagi substansi atau “substance” berdasarkan “genus” yang mengindikasikan esensi dari sesuatu dan “a specific differences” yang merupakan kategory yang lebih detail dari genus tertentu.)) Akal budi yang berada dalam jiwa manusia inilah yang menjadikan manusia sebagai ciptaan yang paling sempurna, jika dibandingkan dengan ciptaan yang lain. Akal budi, yang terdiri dari intelek (intellect) dan keinginan (will) adalah anugerah Tuhan kepada umat manusia, yang menjadikannya sebagai ‘gambaran’ Allah sendiri.

Nah, intelek dan keinginan tersebut memampukan manusia melakukan dua perbuatan prinsip yang menjadi ciri khas manusia, yaitu: mengetahui dan mengasihi. Kemampuan mengetahui sesuatu tidaklah menunjukkan kesempurnaan manusia, karena kita menyadari bahwa komputer-pun dapat ‘mengetahui’ lebih banyak daripada kita, kalau dimasukkan program tertentu, seperti kamus atau ensiklopedia. Namun, yang membuat manusia istimewa adalah kerjasama antara intelek dan keinginan, jadi tidak sekedar mengetahui, tetapi dapat juga mengasihi. Jadi hal ‘mengasihi’ inilah yang menjadikannya sebagai mahluk yang tertinggi jika dibandingkan dengan hewan dan tumbuhan, apalagi dengan benda-benda mati.

Kita mengenal peribahasa “kalau tak kenal, maka tak sayang“. Peribahasa ini sederhana, namun berdasarkan suatu argumen filosofi, yaitu “mengetahui lebih dahulu, kemudian menginginkan atau mengasihi.” Orang tidak akan dapat mengasihi tanpa mengetahui terlebih dahulu. Bagaimana kita dapat mengasihi atau menginginkan sesuatu yang tidak kita ketahui? Sebagai contoh, kalau kita ditanya apakah kita menginginkan komputer baru secara cuma-cuma? Kalau orang tahu bahwa dengan komputer kita dapat melakukan banyak hal, atau kalaupun kita tidak memakainya, kita dapat menjualnya, maka kita akan dengan cepat menjawab “Ya, saya mau.” Namun kalau kita bertanya kepada orang pedalaman yang tidak pernah mendengar atau tahu tentang barang yang bernama komputer, maka mereka tidak akan langsung menjawab “ya”. Mereka mungkin akan bertanya dahulu, “komputer itu, gunanya apa?” Di sini kita melihat bahwa tanpa pengetahuan tentang barang yang disebut sebagai komputer, orang tidak dapat menginginkan komputer.

Nah, berdasarkan dari prinsip “seseorang tidak dapat memberi jika tidak lebih dahulu mempunyai” ((Prinsip ini sering disebut sebagai salah satu Prinsip yang tidak perlu dibuktikan (‘self-evident principles’), karena memang demikian halnya.)) maka Tuhan yang memberikan kemampuan pada manusia untuk mengetahui dan mengasihi, pastilah memiliki kemampuan tersebut secara sempurna. Jika kita mengetahui sesuatu, kita mempunyai konsep tentang sesuatu tersebut di dalam pikiran kita, yang kemudian dapat kita nyatakan dalam kata-kata. Maka, di dalam Tuhan, ‘pengetahuan’ akan Diri-Nya sendiri dan segala sesuatu terwujud di dalam perkataan-Nya, yang kita kenal sebagai “Sabda/ Firman”; dan Sabda ini adalah Yesus, Sang Allah Putera.

Jadi, di dalam Pribadi Tuhan terdapat kegiatan intelek dan keinginan yang terjadi secara sekaligus dan ilahi, ((Lihat KGK 259)) yang mengatasi segala waktu, yang sudah terjadi sejak awal mula dunia. Kegiatan intelek ini adalah Allah Putera, Sang Sabda (“The Word“). Rasul Yohanes mengatakan pada permulaan Injilnya, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh 1:1).

Selanjutnya, kesempurnaan manusia sebagai mahluk personal dinyatakan, tidak hanya melalui kemampuannya untuk mengetahui, namun juga mengasihi, yaitu memberikan dirinya kepada orang lain dalam persekutuannya dengan sesama. Maka ‘mengasihi’ di sini melibatkan pribadi yang lain, yang menerima kasih tersebut. Kalau hal ini benar untuk manusia pada tingkat natural, maka di tingkat supernatural ada kebenaran yang sama dalam tingkatan yang paling sempurna. Jadi Tuhan tidak mungkin Tuhan yang ‘terisolasi’ sendirian, namun “keluarga Tuhan”, dimana keberadaan-Nya, kasih-Nya, dan kemampuan-Nya untuk bersekutu dapat terwujud, dan dapat menjadi contoh sempurna bagi kita dalam hal mengasihi. Dalam hal ini, hubungan kasih timbal balik antara Allah Bapa dengan Putera-Nya (Sang Sabda) ‘menghembuskan’ Roh Kudus; dan Roh Kudus kita kenal sebagai Pribadi Allah yang ketiga.

Argumen dari definisi kasih.

Seperti telah disebutkan di atas, kasih tidak mungkin berdiri sendiri, namun melibatkan dua belah pihak. Sebagai contoh, kasih suami istri, melibatkan kedua belah pihak, maka disebut sebagai “saling” mengasihi. Kalau Tuhan adalah kasih yang paling sempurna, maka tidak mungkin Tuhan tidak melibatkan pihak lain yang dapat menjadi saluran kasih-Nya dan juga dapat membalas kasih-Nya dengan derajat yang sama. Jadi Tuhan itu harus satu, namun bukan Tuhan betul- betul sendirian. Jika tidak demikian, maka Tuhan tidak mungkin dapat menyalurkan dan menerima kasih yang sejati.

Orang mungkin berargumentasi bahwa Tuhan bisa saja satu dan sendirian dan Dia dapat menyalurkan kasih-Nya dan menerima balasan kasih dari manusia. Namun, secara logis, hal ini tidaklah mungkin, karena Tuhan Sang Kasih Ilahi tidak mungkin tergantung pada manusia yang kasihnya tidak sempurna, dan kasih manusia tidak berarti jika dibandingkan dengan kasih Tuhan. Dengan demikian, sangatlah masuk di akal, jika Tuhan mempunyai “kehidupan batin,” di mana Dia dapat memberikan kasih sempurna dan juga menerima kembali kasih yang sempurna. Jadi, dalam kehidupan batin Allah inilah Yesus Kristus berada sebagai Allah Putera, yang dapat memberikan derajat kasih yang sama dengan Allah Bapa. Hubungan antara Allah Bapa dan Allah Putera adalah hubungan kasih yang kekal, sempurna, dan tak terbatas. Kasih ini membuahkan Roh Kudus. ((Roh Kudus adalah buah dari operasi kasih antara Allah Bapa dan Allah Putera. Ini sebabnya bahwa setelah Pentakosta terjadi setelah Yesus wafat di kayu salib. Bapa mengasihi Putera-Nya, dan Putera-Nya menunjukkan kasih-Nya dengan sempurna di kayu salib. Buah dari pertukaran dan kasih yang mengorbankan diri inilah yang menghasilkan Roh Kudus. Sehingga dalam ibadat iman yang panjang (Nicene Creed), kita melihat pernyataan “….Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan; Ia berasal dari Bapa dan Putera….“)) Dengan hubungan kasih yang sempurna tesebut kita mengenal Allah yang pada hakekatnya adalah KASIH. Kesempurnaan kasih Allah ini ditunjukkan dengan kerelaan Yesus untuk menyerahkan nyawa-Nya demi kasih-Nya kepada Allah Bapa dan kepada kita. Yesus memberikan Diri-Nya sendiri demi keselamatan kita, ((John Paul II, Encyclical Letter on The Redeemer Of Man: Redemptor Hominis (Pauline Books & Media, 1979), no. 10 – Paus Yohanes Paulus II menekankan bahwa kasih yang sempurna adalah kasih yang dapat memberikan diri sendiri kepada orang lain. Dengan demikian, adalah “sesuai atau fitting” bahwa Tuhan, melalui Putera-Nya menjadi contoh yang snempurna bagaimana menerapkan kasih. Dengan demikian ini juga membuktikan bahwa Tuhan bukanlah Allah yang sendirian.)) agar kita dapat mengambil bagian dalam kehidupan-Nya oleh kuasa Roh-Nya yaitu Roh Kudus.

Trinitas adalah suatu misteri, dan Tuhan menginginkan kita berpartisipasi di dalam-Nya agar dapat semakin memahami misteri tersebut

Memang pada akhirnya, Trinitas hanya dapat dipahami dalam kacamata iman, karena ini adalah suatu misteri ((KGK 237.)), meskipun ada banyak hal juga yang dapat kita ketahui dalam misteri tersebut. Manusia dengan pemikiran sendiri memang tidak akan dapat mencapai pemahaman sempurna tentang misteri Trinitas, walaupun misteri itu sudah diwahyukan Allah kepada manusia. Namun demikian, kita dapat mulai memahaminya dengan mempelajari dan merenungkan Sabda Allah dalam Kitab Suci, pengajaran para Bapa Gereja dan Tradisi Suci yang ditetapkan oleh Magisterium (seperti hasil Konsili), juga dengan bantuan filosofi dan analogi seperti diuraikan di atas. Selanjutnya, pemahaman kita akan kehidupan Trinitas akan bertambah jika kita mengambil bagian di dalam kasih Trinitas itu, seperti yang dikehendaki oleh Tuhan.

Di sinilah pentingnya peran Sakramen dan doa: Sakramen Pembaptisan merupakan rahmat awal, ‘gerbang’ yang memungkinkan kita mengambil bagian dalam kehidupan ilahi (lihat artikel: Sudahkah kita diselamatkan?). Kemudian, Sakramen Ekaristi mengambil peranan utama, karena di dalamnya kita menyambut Kristus sendiri, dan dengan demikian kita mengambil bagian di dalam kehidupan Allah Tritunggal melalui Yesus (baca artikel: Ekaristi: Sumber dan Puncak Spiritualitas Kristiani). Di sinilah juga pentingnya peran penghayatan akan Sakramen Perkawinan, sebab di dalam Perkawinan, kita melihat bagaimana hubungan kasih antara suami dan istri yang direncanakan oleh Allah untuk menjadi gambaran akan kasih Allah Tritunggal (silakan baca: Indah dan Dalamnya Makna Sakramen Perkawinan Katolik). Demikian pula, kasih Allah Tritunggal pula yang mengilhami Sakramen Tahbisan Suci, karena melalui Tahbisan Suci, para imam dipanggil untuk meniru teladan hidup Yesus, terutama dalam hal mengasihi, yaitu dengan memberikan diri kepada Allah dan sesama secara total. Memang, pada dasarnya sakramen-sakramen adalah ‘sarana’ yang diberikan oleh Allah kepada kita, agar kita dapat mengambil bagian di dalam kehidupan ilahi-Nya (mohon dibaca: Sakramen: apa pentingnya dalam kehidupan kita?, terutama pada sub judul: Akibat utama penerimaan Sakramen). Akhirnya, kitapun perlu memeriksa kehidupan doa kita, apakah kita setia dalam menyediakan waktu untuk Tuhan dan menghayati kesatuan denganNya di dalam kehidupan rohani kita? Bagaimana sikap kita terhadap sakramen- sakramen yang dikaruniakan Allah? Adakah kita cukup menghargai dan merindukannya? Pertanyaan ini memang kembali kepada diri kita masing-masing.

Kesimpulan

Melihat begitu dalamnya kehidupan batin Allah, hati kita melimpah dengan ucapan syukur. Sebab kehidupan batin tersebut tidak hanya ‘tertutup’ bagi Allah sendiri, namun Ia ‘membuka’ kehidupan-Nya agar kita dapat mengambil bagian di dalamnya. Ya, Allah sesungguhnya tidak ‘membutuhkan’ kita, sebab kasihNya telah sempurna di dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus. Namun justru karena kasih yang sempurna itu, Ia merangkul kita semua, jika kita mau menanggapi panggilan-Nya. Mari bersama kita berjuang, agar lebih menghargai rahmat Allah yang terutama dinyatakan di dalam sakramen-sakramen, terutama sakramen Ekaristi, sehingga kita dapat semakin menghayati persatuan kita dengan Kristus, yang membawa kita kepada persatuan dengan Allah Tritunggal: Bapa, Putera dan Roh Kudus. Dengan persatuan dengan Allah ini, kita mencapai puncak kehidupan spiritualitas, di mana kita dimampukan oleh Allah untuk mengasihi Dia dan sesama.

Doa Penutup

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus,

Ya Allah, kami bersyukur untuk misteri kehidupan-Mu dalam Tritunggal Maha Kudus. Di dalam kehidupan batinMu, Engkau telah menyingkapkan kepada kami kedalaman kasih-Mu yang tiada batasnya. Ampunilah kami, jika kami sering tidak menyadari panggilan-Mu untuk mengambil bagian di dalam misteri kasih-Mu itu. Kami mohon, ya Tuhan, bantulah kami dengan rahmat-Mu agar kami dapat untuk turut mengambil bagian di dalam misteri Kasih itu, dengan mengambil bagian di dalam sakramen-sakramen yang Engkau berikan, dan bantulah aku untuk lebih setia di dalam kehidupan doaku, agar dengan kekuatan yang Engkau berikan, Engkau memampukan kami untuk mengasihi Engkau dan sesama kami. Di dalam nama Yesus Kristus kami naikkan doa ini. Amin.

Konsili Konstantinopel I (359): menegaskan kembali Credo Nicea. Konsili ini mengembangkan Credo Nicea, yang bersangkutan dengan Roh Kudus, sebagai, “Allah, Pemberi kehidupan, yang berasal dari Bapa, bersama Bapa dan Putera, disembah dan dimuliakan.” Seperti Allah Putera, Roh Kudus adalah satu dan sama hakekatnya (ousia).

Apakah Misa yang dipersembahkan seorang imam yang berdosa tetap sah?

5

Pertanyaan:

Yth. Sdr. Ingrid Listiati.
Ada seorang imam beberapa bulan tidak kelihatan dan kabar terakhir imam tersebut melepaskan jubahnya/keluar dan menikah. Sebelum menikah imam tersebut memberikan sakramen-2. Pertanyaan saya :
Jika seorang imam berada dalam keadaan dosa berat, dapatkah ia tetap mempersembahkan Misa dan memberikan pelayanan sakramen-sakramen? Apakah sakramen-sakramen yang ia rayakan tetap mendatangkan rahmat?

Terima kasih atas pencerahannya. – Julius

Jawaban:

Shalom Julius,
Di dalam sakramen, kita percaya yang bertindak adalah Kristus, melalui imam, maka, nilai sakramen tidak berubah walaupun dipersembahkan oleh imam yang berdosa. Berikut ini saya sertakan kutipan dari St. Thomas Aquinas dalam Summa Theologica III, q.82, a.5 & a.6, mengenai efek sakramen Ekaristi yang dipersembahkan oleh imam yang jahat/ berdosa (Ajaran ini dapat diterapkan juga untuk melihat efek sakramen yang lain).

  • St. Thomas yang mengutip St. Agustinus, mengatakan, bahwa: “Di dalam Gereja Katolik, dalam misteri Tubuh dan Darah Tuhan Yesus, tidak ada yang lebih yang dilakukan oleh imam yang baik (kudus), tidak ada yang kurang jika dilakukan oleh imam yang jahat (tidak kudus), sebab bukan karena jasa imam maka rahmat sakramen itu diperoleh, tetapi karena kuasa perkataan Yesus sendiri (yang diucapkan oleh imam tersebut), dan karena kuasa Roh Kudus”.
  • St. Thomas mengingatkan bahwa memang Kristus memiliki pelayan yang baik dan yang jahat (lih. Mat 24:45). Namun demikian, tidak berarti bahwa imam tidak perlu bertobat; malah sebaliknya, sebab seperti kata Paus Gelasius, …tidak seorangpun boleh menghampiri sakramen tersebut kecuali dengan hati nurani yang bersih.
  • Selanjutnya, St. Thomas mengatakan bahwa di dalam Misa terdapat dua hal, pertama hal sakramen dan hal doa. Dalam hal efek sakramen, tidak ada bedanya antara apakah dipersembahkan oleh pastor yang baik atau yang jahat/ berdosa. Namun dalam hal doa akan membawa efek yang berbeda. Sebab di dalam doa, imam itu menjalankan dua fungsi, pertama sebagai perantara yang mendoakan umat, dan sebagai wakil umat (Gereja). Nah dalam peran yang pertama sebagai perantara ini, maka imam yang baik (kudus) akan mendatangkan buah yang lebih limpah daripada imam yang berdosa, namun dari peran kedua, doa dari imam yang berdosapun tetap dapat berbuah, karena ia mewakili umat yang berdosa. Namun demikian, doa pribadi imam yang berdosa (tidak kudus) tersebut tidak menghasilkan buah, karena menurut Ams 28:9: “Siapa memalingkan telinganya untuk tidak mendengarkan hukum, juga doanya adalah kekejian.”

Selanjutnya, Kitab Hukum Kanonik Gereja can.916, menyatakan bahwa sebenarnya, imam yang berdosa berat dilarang mempersembahkan misa tanpa mengaku dosa sebelumnya, kecuali jika ada alasan yang sungguh dapat dipertanggungjawabkan, dan jika tidak ada kesempatan untuk mengaku dosa; dalam hal ini imam itu harus mengingat bahwa ia harus melakukan tindakan pertobatan, termasuk di dalamnya ketetapan hati untuk mengaku dosa secepat mungkin.

Jadi, imampun harus mengaku dosa.

Dalam kasus di atas, maka sakramen-sakramen yang dirayakan imam tersebut sebelum ia meninggalkan statusnya sebagai imam, tetap berlaku dan mendatangkan rahmat, sebab, sekali lagi, rahmat Kristus tersebut diberikan bukan atas jasa imam tersebut, tetapi atas kuasa Kristus sendiri dan kuasa Roh Kudus. Hal ini akan semakin membuat kita tunduk dan bersyukur, bahwa Tuhan selalu menepati janji-Nya, dan kuasa-Nya melebihi hambatan dari manusia (dalam hal ini imamNya).

Namun, setelah imam tersebut melepaskan status imamnya karena menikah, ia tidak dapat lagi menjalankan tugasnya sebagai imam dan menerimakan sakramen-sakramen. Hal ini dituliskan di dalam Kitab Hukum Kanonik cann. 194, 292. Namun perlu juga diketahui, bahwa sekali diberikan, Sakramen Tahbisan Suci tidak pernah dapat dikatakan ‘invalid’/ tidak sah(can 290), sebab Tahbisan suci memberikan materai pada jiwa imam itu (seperti halnya Permandian dan Penguatan), maka sering kita mendengar istilah sekali imam tetap imam di mata Tuhan. Jika imam itu menikah, maka yang ditinggalkan adalah status-nya sebagai imam, namun meterai dalam jiwa imam tersebut tetap ada. Maka tak mengherankan, jika para imam yang meninggalkan status imam mereka, dapat merasakan kehilangan yang sulit untuk dilukiskan.

Mari kita melihat kepada kasus di atas secara lebih rinci. Jika imam tersebut menikah diam-diam, sehingga tidak ada seorangpun yang tahu, dan tidak dapat tahu, maka jika antara waktu itu sampai surat resmi pencabutan ‘faculty’ imam tersebut oleh uskup setempat dikeluarkan, maka jika imam itu memberikan sakramen, misalnya pernikahan, dan pengakuan dosa, maka sakramen tersebut masih dapat dianggap sah. Hal ini disebutkan sebagai “Ecclesia supplet” dalam can. 144; yaitu Gereja memberikan kuasa eksekutif pada seseorang imam yang sesungguhnya telah kehilangan/ tidak memiliki kuasa tersebut pada keadaan yang terbatas. Namun perlu diingat bahwa kejadian ini sangatlah langka, (dan canon ini ada sesungguhnya untuk melindungi kepentingan umat) dan hanya berlaku jika tidak ada orang yang tahu dan tidak ada orang yang dapat tahu bahwa imam itu telah menikah. Jika ada satu orang saja yang tahu dari paroki/ komunitas, maka Ecclesia supplet tidak berlaku. Dengan demikian, umat yang menerima sakramen pernikahan itu misalnya, dapat meminta konfirmasi kepada pihak keuskupan untuk mengesahkan perkawinan tersebut, demikian pula yang mengaku dosa, dapat mengaku dosa kembali kepada imam yang lain, karena sakramen yang ia terima dari imam yang keluar tersebut tidak sah.

Mari kita mendoakan para imam dalam doa pribadi kita setiap hari, agar Tuhan menjaga dan melindungi mereka, dan agar mereka dapat melaksanakan tugas panggilan hidup mereka dengan setia dan dengan suka cita; serta dapat menjadi teladan kekudusan buat kita semua.

Salam kasih dari https://katolisitas.org
Ingrid Listiati

Dari seorang Atheis menjadi seorang Katolik

24

Dari editor

Berikut ini adalah kesaksian iman dari salah seorang pengajar kami di Institute for Pastoral Theology, Ave Maria University. Dr. Lawrence Feingold, STD adalah seorang Doktor Teologi yang sangat luar biasa, bukan saja dalam hal mengajar, tetapi juga dalam kesehariannya sebagai seorang Katolik. Ia sangat mendalami ajaran St. Thomas Aquinas, sehingga dapat mengajarkan kepada kami dengan begitu sangat menyakinkan tentang keberadaan Allah, Yesus Kristus, dan tentu saja, Gereja Katolik dan pengajaran Gereja. Di balik semua kelebihannya mengajar, Dr. Feingold ini adalah sosok pribadi yang sederhana, sangat rendah hati dan juga murah hati. Sungguh, ia hidup sesuai dengan apa yang diajarkannya. Semoga kesaksian imannya ini menjadi berkat buat kita semua.

Feingold Dari seorang Atheis menjadi seorang Katolik

Saya dibesarkan sebagai seorang atheis. Ayah saya adalah seorang Yahudi, dan ibu saya seorang Protestan, tetapi keduanya tidak pernah mempraktekkan iman mereka, meskipun sesekali kami pergi ke kebaktian gereja Unitarian. Meskipun ayah saya melepaskan agama Yahudi setelah masa Bar-Mitzvah (umur 13 tahun), saya dibesarkan dengan identitas sebagai seorang Yahudi, bersamaan dengan keluarga dari pihak ayah saya. Istri saya, Marsha, juga seorang Yahudi, yang walaupun dibesarkan di lingkungan Yahudi, namun akhirnya melepaskan agama Yahudi setelah kuliah. Kesaksian ini saya buat, untuk menjelaskan bagaimana sampai akhirnya saya dapat berdoa, untuk pertama kalinya, saat saya berumur dua puluh sembilan tahun, saat saya dan Marsha tinggal di kota kecil di Italia, Tuscany, pada saat saya menjadi seniman pematung batu marmer. Sejak saat itu hati saya terus dipenuhi keinginan untuk mengenal Tuhan, yang akhirnya membawa saya ke pangkuan Gereja Katolik.

Tuhan tentu dapat memakai segala cara untuk membuat kita tunduk di hadapan-Nya dan berdoa. Namun, yang paling umum adalah melalui kesulitan dan masalah yang kita alami, yang mengingatkan kita pada Salib, yang melaluinya Yesus telah menebus dunia. Dalam hidup kami, salib itu bukanlah hal yang terlalu besar dan istimewa. Kuasa Tuhan sering kali dinyatakan dengan mendatangkan hal-hal yang besar melalui hal yang sederhana. Tuhan sesungguhnya telah mempersiapkan saya tentang hal ini melalui studi dan pekerjaan saya sebagai seniman, meskipun pada saat itu saya tidak menyadarinya…

Saya beruntung dapat belajar Art History dari Norris K. Smith, seorang professor di Universitas Washington. Beliau mengajarkan agar kami melihat seni sebagai ekspresi tentang Tuhan, manusia dan dunia. Setiap karya seni yang baik menyatakan bentuk yang indah, pandangan dunia, dan juga realitas alam yang baik. Karya-karya seni yang terbaik didukung oleh realitas alam dan kemanusiaan yang baik dan seimbang, sedangkan keburukan karya seni sering berhubungan dengan penurunan nilai-nilai di jaman itu. Di jaman modern ini, terjadi penurunan nilai kemanusian yang tidak lagi melihat manusia sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki martabat yang tinggi, dan hal ini terlihat dari karya seni jaman modern yang arahnya menunjukkan kesemerawutan atau kekosongan yang ekstrim. Tanpa saya sadari refleksi ini mengendap di dalam pikiran saya. Saya menjadi semakin sadar bahwa ‘dehumanization’ di dalam Art/ karya seni modern itu disebabkan oleh menghilangnya iman Kristiani di dalam masyarakat karena akibat sekularism.

Saya ingat pada waktu saya mengunjungi kapel Sistina, sesaat sebelum saya bertobat, saya mengagumi lukisan ‘Penghakiman Terakhir’ di dalam kapel, padahal pada waktu itu saya masih seorang atheis! Saya (dan mungkin juga para turis lainnya) memandang lukisan tersebut tanpa mempertanyakan kebenaran yang dilukiskan di dinding kapel tersebut, seolah-olah lukisan itu hanyalah karya seni semata- mata. Harus saya akui, sedikit demi sedikit saya mulai mengagumi dan menyenangi karya seni Kristiani.

Namun demikian, kekagumanku akan karya seni Kristen tidak membuat saya bertobat, tanpa saya mengalami masalah pribadi. Pada tahun 1988, Marsha istriku mengandung anak kami yang pertama dan ia mengalami kecemasan-kecemasan yang di luar batas kewajaran tentang kehamilannya. Ia menjadi uring-uringan, dan pada suatu saat ia berkata pada saya bahwa ia tidak ingin hidup lagi. Saya tidak dapat memahami hal ini, dan saya mengalami bahwa saya tidak punya solidaritas di dalam hati saya terhadap kesulitan istriku ini. Hal tersebut membuat saya merenungkan akan keterbatasan kasih saya kepadanya, dan secara umum hal ini membawa saya menyadari akan terbatasnya kasih manusia. Betapa sesungguhnya manusia (dalam hal ini istri saya) merindukan untuk dikasihi sebagai mana adanya, dan saya sungguh hampir tidak dapat melakukannya!

Renungan ini membawa saya berpikir, bagaimana sampai kita sebagai manusia dapat mempunyai keinginan untuk dikasihi sampai sedemikian, jika tidak ada Tuhan? Jika tidak ada Tuhan yang dapat mengasihi kita seperti Bapa, maka kehausan kita untuk dikasihi dan mengasihi akan menjadi sia-sia dan percuma, sebab tidak akan dapat terpenuhi. Di sini pulalah saya menemukan arti kasih sejati sebagai pasangan, yaitu untuk melihat pasangan saya sebagai mana adanya, yang walaupun lemah namun layak dikasihi, dan hanya kasih sejati yang dapat melihat hal ini. Ya, istriku layak kukasihi, meskipun hal itu di atas kemampuanku untuk mengasihinya. Pemikiran ini membuat saya menyadari bahwa Tuhan harus ada, sebab hanya Tuhan saja yang dapat mengasihi setiap manusia sebagaimana adanya.

Jika Tuhan tidak ada maka keberadaan kita sebagai manusia tidak ada artinya. Tidak mungkin manusia itu hanya sebagai ‘produk kagetan’ yang dihasilkan oleh kebetulan yang buta, ataupun hasil ‘kecelakaan’ semata, seperti yang dinyatakan oleh tokoh-tokoh atheis seperti Jean-Paul Satre. Jadi, manusia pastilah merupakan hasil dari kasih ilahi, dan manusia direncanakan untuk mengambil bagian dalam kasih ilahi itu, asalkan mau menanggapi panggilan tersebut.

Saya menjadi sangat yakin bahwa Tuhan itu sungguh ada di dalam kehidupan manusia. Saya menjadi sadar bahwa kemampuan untuk mengasihi sesungguhnya datang dari Tuhan. Dan untuk memperoleh kemampuan untuk mengasihi itu saya harus berdoa. Sungguh, sampai saat inipun saya tidak dapat menjelaskan bagaimana saya memperoleh keyakinan seperti itu, selain percaya bahwa hal itu disebabkan karena rahmat Tuhan. Oleh rahmat itu, saya disadarkan bahwa manusia diciptakan sesuai dengan gambaran Allah sehingga dapat mengambil bagian di dalam sifat Allah yang paling khas, yaitu mengasihi.

Dengan keyakinan ini saya mencoba berdoa untuk pertama kalinya di dalam hidup saya. Ketika saya naik kereta api ke Florence untuk berdoa di Duomo yang dibangun oleh Brunelleschi, saya tidak membayangkan agama Kristen, tetapi saya juga tidak menentangnya. Di sana saya hanya berdoa: “…Tuhan, ajarilah aku mengasihi, ajarilah aku menjadi terang buat orang lain….” Saya tidak tahu kenapa saya berdoa demikian, namun sampai sekarangpun saya masih menyukai doa tersebut.

Tuhan ingin agar kita berdoa, dan jika kita berdoa, Ia melimpahkan rahmat-Nya pada kita. Setelah berdoa demikian, saya teringat akan Mazmur 2: “Engkau adalah Anak-Ku! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.” Meskipun saya seorang atheis, saya mengetahui Alkitab melalui kuliah Art dan studi perbandingan antar agama yang menjadi minat saya. Pada saat itu saya mengerti bahwa perkataan tersebut ditujukan oleh Tuhan Allah Bapa kepada Yesus PuteraNya, namun juga kepada saya (dan orang-orang lain) di dalam Kristus Putera-Nya, yang diangkat menjadi anak-anak angkat Allah.

Setelah berdoa demikian, saya tahu bahwa saya harus menjadi seorang Kristen. Sebelum saat itu, saya sesungguhnya sudah sangat menghormati figur Yesus, Kisah sengsaraNya, ajaran Delapan Sabda Bahagia dan khotbahNya di bukit, tetapi saya tidak dapat memahami hubungan-Nya dengan saya secara pribadi, hubungan-Nya dengan seluruh umat manusia, dan apakah Dia itu sungguh-sungguh Tuhan. Saya rasa sikap saya ini mirip dengan sikap kebanyakan orang Yahudi yang kebetulan membaca Kitab Perjanjian Baru.

Namun setelah doa ini, hubungan saya dengan Yesus menjadi sangat berbeda. Saya seolah-olah diperkenalkan dengan misteri kasih Allah Bapa dan Allah Putera, yang sesungguhnya berkaitan dengan keinginan semua orang untuk dikasihi sebagai anak-anak Allah. Allah Putera sesungguhnya telah menjadi manusia yang berkebangsaan Yahudi, wafat di salib, sehingga semua orang, baik Yahudi maupun bangsa lain, dapat menerima karunia kasih-Nya dan diangkat menjadi anak-anak Allah. Meskipun pada saat itu saya belum mengerti sepenuhnya, namun kesadaran dan pengalaman saya bahwa kasih-Nya mengangkat saya menjadi anak-Nya, merupakan sesuatu yang tak terlupakan. Pengalaman tersebut menjadikan saya seperti ‘lahir baru’, membawa saya pada pertobatan akan dosa-dosa saya dan mendatangkan suka cita yang tak terlukiskan!

Saya membagikan pengalaman ini kepada istri saya, Marsha, dan kami sepakat untuk menjadi Kristen. Namun demikian, tidak jelas bagi kami saat itu, kami harus masuk ke Gereja mana. Keraguan kami berlangsung sampai 6 bulan. Pikiran saya terombang- ambing antara iman Gereja Katolik dan pendapat umum gereja Protestan yang menolak institusi Gereja, seperti yang sering saya dengar sejak kecil.

Lagi-lagi, seni dan kebudayaan Kristen membantu saya untuk membuat keputusan. Sekitar satu bulan setelah pengalaman awal pertobatan saya, saya mengikuti Misa kudus di paroki dekat kami tinggal. Homili pada waktu itu disampaikan oleh Archbishop dari Pisa, untuk menghormati Bunda Maria, yang lukisannya pada waktu itu dipajang di gereja. Homili tersebut menceritakan Bunda Maria sebagai Hawa yang baru, yang oleh ketaatannya memulihkan ketidaktaatan Hawa, dan karenanya membuka gerbang bagi Inkarnasi Tuhan Yesus. Inilah yang melahirkan devosi kepada Bunda Maria.

Namun, walaupun saya telah menerima rahmat dalam Misa tersebut, saya masih bergumul dengan kepercayaan saya terhadap kehadiran Yesus yang nyata di dalam Ekaristi. Tanpa saya sadari, pendapat gereja Protestan cukup mempengaruhi saya. Ada saatnya saya percaya pada pengajaran Gereja Katolik, dan hati saya dipenuhi oleh syukur dan suka cita, namun ada juga saatnya saya meragukannya, dan hati saya menjadi sangat sedih karena itu. Di satu sisi saya percaya bahwa Kristus tidak akan pernah meninggalkan Gereja dan membiarkannya disesatkan oleh manusia, namun harus kuakui saya kadang ragu, apakah penyertaan-Nya dinyatakan di dalam Ekaristi. Pergumulan saya ini terjadi berkali-kali: suka cita datang karena iman kepada Gereja Katolik, dan duka cita pada saat saya masih meragukan iman tersebut.

Demikianlah, meskipun dalam pergumulan, saya terus merasa bahwa melalui Gereja, Tuhan terus bekerja di dalam sejarah manusia. Lambat laun saya percaya bahwa karya Tuhan tersebut dinyatakan di dalam sakramen, terutama Ekaristi. Tanpa Gereja, dunia ini sudah ‘ditinggalkan’, karena Alkitab memang menceritakan tentang teladan Yesus dan segala perbuatan-Nya, namun kehadiran-Nya dan pengudusan-Nya secara nyata terdapat di dalam Gereja. Dengan keyakinan ini, akhirnya saya dan Marsha memutuskan untuk dibaptis, dan kami memilih dibaptis di gereja Anglikan. Kemudian saya menjajaki kemungkinan untuk menjadi imam/ pastor Anglikan atau Episkopalian.

Namun rupanya Tuhan berkehendak lain. Tak lama setelah dibaptis, saya datang ke British Library di Florence, dan saya melihat buku yang berjudul the Newman Reader, yaitu koleksi tulisan-tulisan Kardinal John Henry Newman. Begitu saya mulai membaca, saya langsung tertarik. Saya membaca autobiografi Kardinal Newman, Apologia pro vita sua, dan tulisannya yang terkenal, Essay on the Development of Christian Doctrine, yaitu tulisan yang menghantarkannya untuk beralih dari seorang pemeluk Anglikan menjadi seorang Katolik.

Pada saat itu, saya mulai mempelajari Katekismus Gereja Katolik, yang ditulis oleh Fr. Hardon. Dengan membaca kedua buku ini, saya berketetapan untuk menjadi seorang Katolik. Saya segera memberitahukan hal ini kepada Marsha. Ia cukup terkejut, namun akhirnya iapun setuju untuk bersama-sama masuk ke Gereja Katolik. Maka, saya menghubungi Pastor paroki kami di Long Island, pada tanggal 8 Desember 1988, yaitu hari raya Bunda Maria dikandung Tanpa Noda. Akhirnya kami resmi menjadi Katolik pada tanggal 25 Maret 1989, pada Perayaan Ekaristi Malam Paskah.

Orang mungkin bertanya, pernyataan Kardinal Newman yang mana yang membawa saya pada iman Katolik? Seingat saya adalah prinsip yang disebutnya sebagai “dogmatic principle”: bahwa terdapat kepenuhan kebenaran yang objektif yang datangnya dari Tuhan sendiri dan bukan dari manusia. Dan untuk sampai ke sana, kita tidak saja harus memohon dan berdoa dengan tekun, tetapi juga dengan menerimanya dengan ketaatan. Kedua, Kardinal Newman mengatakan bahwa Gereja perlu dibekali oleh otoritas dogmatik yang kelihatan agar dapat terhindar dari gerbang neraka dan serangan manusia yang skeptis dan yang mengikuti keinginan sendiri. Tanpa hal ini, karya Tuhan menjadi tidak lengkap, karena dengan sangat mudah Gereja akan terbawa arus jaman. Jika Tuhan sudah mau berpayah-payah menjadi manusia untuk menyatakan kebenaran-Nya yang menyelamatkan, dan wafat di salib untuk semua orang, tentunya Ia-pun mau berpayah-payah menjaga kehadiran-Nya di dunia, dan menjaga agar ajaran-Nya tidak disesatkan oleh manusia.

Lalu, otoritas mengajar yang mana yang ditetapkan Yesus? Hal ini tentu tidak sulit ditemukan, jika hati kita mau terbuka. Jika Tuhan mendirikan Gereja-Nya atas Petrus, maka otoritas mengajar ini diberikan kepada Petrus dan semua penerusnya; sebab Yesus berjanji, “Engkau adalah Petrus (batu karang), dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya.” Organisasi mana yang dapat meng-klaim sebagai Gereja yang didirikan di atas Petrus? Hanya Gereja Katolik yang mempunyai klaim demikian, dengan bukti sejarah selama 2000 tahun, melalui rantai kepemimpinan Paus yang tak terputus, yang memimpin Gereja atas dasar iman para rasul. Hal ini hanya dimungkinkan oleh bantuan istimewa dari Allah sendiri.

Dan, jika Kristus telah mendirikan otoritas Gereja, apakah yang harus kita lakukan selain dari tunduk mentaatinya? Jika tidak demikian, bukankah artinya kita memberontak dari Allah dan menolak karunia terang iman dari Allah? Setelah memasuki Gereja Katolik pada tanggal 25 Maret 1989, dengan rahmat Tuhan, saya menjadikan perkataan Kardinal Newman sebagai perkataan saya sendiri:

Sejak saya menjadi Katolik, saya tidak punya lagi sejarah mengenai pendapat religius secara pribadi. Bukan berarti pikiran saya jadi berhenti, atau saya tidak lagi memikirkan hal-hal Theologis, tetapi saya tidak perlu merekam perubahan-perubahan ajaran, dan saya tidak lagi merasa gelisah karena apapun juga. Saya selalu ada dalam damai dan puas, karena saya tidak lagi merasa ragu…. Saya seperti kapal yang kembali ke pelabuhan setelah melalui badai di lautan; dan kebahagiaanku karenanya tetap tak terputuskan sampai pada hari ini.

Kedamaian di hati yang sedemikian dialami oleh semua orang yang memasuki atau yang kembali ke pangkuan Gereja Katolik, asalkan mereka terus berjuang memahami “dogmatic principle” tersebut. Kami memasuki Gereja Katolik karena yakin bahwa inilah Gereja yang didirikan oleh Tuhan sendiri. Kami percaya akan segala ajaran Gereja, karena Gereja mengajarkannya dengan otoritas penuh yang diberikan oleh Allah, dan karenanya, Gereja berbicara atas nama Tuhan, sebagai kelanjutan dari misi Kristus di dunia.

Kata orang, banyak orang Yahudi yang menjadi Katolik merasa sedih sebab mereka menganggap tradisi Yahudi sebagai suatu pengkhianatan terhadap Yesus. Kami tidak pernah mengalami hal ini. Sebaliknya, saya malah mengalami ketertarikan pada tradisi Yahudi yang tak pernah saya alami sebelumnya. Saya tidak pernah mempelajari bahasa Ibrani semasa kanak-kanak, namun sekarang, saya menikmatinya setelah saya menjadi Kristen, karena dengan bahasa Ibrani, bahasa yang digunakanoleh Bangsa Pilihan, saya dapat mendaraskan Kitab Mazmur.

Dalam tahun pertama setelah Pembaptisan saya, banyak orang bertanya, mengapa saya menjadi pemeluk Kristen Katolik, kenapa bukan agama Yahudi, Buddha, Islam atau Protestan. Pertanyaan demikian sesungguhnya ada dalam kerangka religious liberalism, seolah- olah agama hanya merupakan pilihan pribadi. Namun bagi kami, bukan karena kami yang memilih, namun Tuhan yang telah memilih untuk menyelamatkan kita melalui Inkarnasi dan Penebusan dosa oleh Yesus Kristus di kayu salib, yang kini diteruskan dan dihadirkan kembali di dalam Gereja Katolik. Tuhanlah yang memanggil kami untuk memasuki bahtera keselamatan-Nya tersebut. Kita semua yang telah diberikan rahmat untuk mendengar dan menerima Dia, tanpa jasa kita sendiri, memiliki tugas untuk berdoa bagi mereka yang belum memperoleh rahmat itu…

Yesus mengajarkan kekerasan? (Mt 10:34)

5

Pertanyaan:

Sdr, Stefanus Tay yang kami banggakan.
Saya mohon penjelasannya khususnya Matius 10:34 karena ayat ini dipakai perbandingan oleh banyak orang untuk melegalkan perbuatannya karena Yesus sendiri memberi contoh. Dan ayat ini sebagai bahan cemooh di banyak tulisan kepada orang Kristen.
* Matius 10:32 Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. 10:33 Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.”
10:34 “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.
Terima kasih atas penjelasannya. – Julius

Jawaban:

Shalom Julius,

Terima kasih atas pertanyaannya. Mat 10:34 mengatakan “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” Bagaimana kita mengartikan ayat ini? Apakah dengan ini Yesus mengajarkan kekerasan? Mari kita menganalisanya bersama-sama:

  1. Yesus tidak pernah mengajarkan kekerasan. Di dalam keseluruhan Alkitab, dari nubuat di Perjanjian Lama dan juga di dalam Perjanjian baru, Sang Mesias yang terpenuhi dalam diri Yesus tidak pernah mengajarkan kekerasan, namun kasih. Kasih inilah yang membawa-Nya kepada kematian-Nya di kayu salib. Kematian-Nya di kayu Salib untuk menebus dosa manusia adalah bukti yang nyata bahwa Yesus datang ke dunia bukan untuk menghakimi, namun untuk menyelamatkan manusia (Yoh 3:17; Yoh 12:47). Ketika Petrus memotong telinga dengan pedangnya pada waktu serdadu hendak menangkap Yesus, maka Yesus yang sama mengatakan kepada Petrus “Masukkan pedang itu kembali kepada sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirimkan lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu aku?” (Mat 26:52-53)
  2. Perkataan pedang dari Mat 10:34 mengingatkan kita akan Ibr 4:12 yang mengatakan “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” Jadi pedang di Mat 10:34 bukan merujuk kepada kekerasan, namun ingin mengatakan bahwa doktrin atau ajaran Kristus seringkali tidak dapat diterima oleh banyak orang, seperti pengajaran tentang Salib. Rasul Paulus mengatakan bahwa dia memberitakan Kristus yang disalibkan, yang bagi orang Yahudi merupakan batu sandungan dan bagi orang Yunani adalah suatu kebodohan (1 kor 1:23).
    • Berapa banyak orang yang tidak dapat menerima bahwa Yesus adalah Immanuel, Allah yang beserta kita?
    • Atau berapa banyak orang yang mengalami kesulitan karena ingin menerapkan prinsip-prinsip ajaran Kristus di tempat kita bekerja, di masyarakat?
    • Berapa banyak orang yang dianggap sok suci, kalau dia berusaha untuk hidup sesuai dengan Firman Tuhan?
    • Berapa banyak para pastor dan suster yang menyalibkan kedagingan mereka untuk mengikuti jejak Kristus secara lebih sempurna? Dan sering orang menganggap bahwa ini adalah suatu kebodohan tanpa menyadari bahwa dengan melakukan hal itu para pastor dan suster telah memilih bagian yang terbaik.
  3. Jadi Yesus datang ke dunia ini bukan dengan pedang di tangan yang dapat menoreh daging, namun Dia datang ke dunia ini, dengan kasih yang dapat menoreh hati manusia, sehingga manusia dapat bertobat dan memperoleh keselamatan.
  4. Akhirnya, kita harus belajar dari Kristus, bahwa memang kadang kita harus berdiri teguh, namun dengan penuh kasih untuk mewartakan kebenaran, walaupun tentu saja mempunyai resiko. Namun diperlukan suatu sikap yang bijak untuk mewartakan kebenaran. Cara yang paling efektif adalah mewartakan kebenaran dengan kehidupan kita yang memancarkan kasih Kristus, atau dengan hidup kudus.

Semoga uraian di atas dapat menjawab pertanyaan Julius. Mari kita sama-sama berbangga akan Kristus dan juga Gereja-Nya, dan terlebih lagi, mari kita sama-sama mengasihi Kristus dan Gereja-Nya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef –  https://katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab