Pertanyaan:
Shalom, moderator katolisitas yang terkasih, sehubungan dengan peringatan arwah pada tanggal 02 November, saya ada sedikit pertanyaan yang agak menggangu, konsep kemanusiaan adalah terdiri dari 3 bagian, tubuh, jiwa dan roh. menurut pandangan umum bahwa setelah manusia meninggal badannya akan membusuk yang akhirnya menyatu dengan tanah, roh nya akan kembali kepada Sang Pencipta, bagaimana dengan jiwanya ? karena sebagaimana pengertian dalam kharismatik bahwa jiwa itu adalah perasaan atau emosional, contoh orang gila disebut sakit jiwa, karena umumnya mereka tidak lagi memiliki perasaan sebagaimana orang waras. bagaimana jiwa itu tetap hidup ketika seseorang itu meninggal, berarti mereka mereka yang meninggal masih memiliki perasaan / emosional, sedangkan dalam pengertian kristiani bahwa seseorang yang meninggal sudah tidak lagi memiliki hubungan emosional lagi; contoh-Lukas 20:29-35.
Mohon pencerahan, Tuhan memberkati, (Bong Felix)
Jawaban:
Shalom Felix,
Saya akan mencoba menjawab pertanyaan Felix, dalam beberapa butir berikut ini:
1) Manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh?
Menurut Gereja Katolik, yang mengambil pengajaran dari St. Thomas Aquinas, manusia terdiri tubuh dan jiwa. Namun jiwanya di sini adalah jiwa spiritual (rohani); yang menyebabkan manusia sebagai mahluk rational/ berakal budi. Sedangkan binatang mempunyai juga tubuh dan jiwa, namun jiwanya bukan rohani, sehingga disebut sebagai mahluk irrational/ tidak berakal budi. Jiwa binatang ini tidak abadi, jadi jiwanya mati jika tubuhnya mati. Nah, jiwa di dalam tubuh manusia merupakan “prinsip utama yang memberikan kehidupan” (Summa Theologica I, q. 75, a.1), sehingga jika jiwa ini tidak ada lagi di dalam tubuh maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh manusia. Ini yang terjadi pada kita meninggal.
Ayat surat kepada jemaat di Ibrani yang mengatakan bahwa firman Allah itu “hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua sekalipun; ia dapat menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh…” (Ibr 4:12) itu bukan untuk mengatakan bahwa kita punya jiwa dan roh yang berbeda satu sama lain; tetapi merupakan ekspresi yang menyatakan efek ‘ketajaman’ firman Allah yang memang dapat menegur kita dan mengetahui segala sesuatu, membedakan pertimbangan dan pikiran kita.
2) Apa yang terjadi dengan jiwa kita jika kita meninggal?
Jiwa spiritual kita tetap hidup (sebab jiwa kita bernilai abadi), sedangkan tubuh kita mati. Katekismus Gereja Katolik 997, 1005 mengajarkan bahwa pada saat kita mati, jiwa kita terpisah dari tubuh, tubuh akan mengalami kehancuran, sedangkan jiwa melangkah menuju Allah dan menunggu saat di mana kelak akan dipersatukan kembali dengan tubuh. Persatuan antara tubuh dan jiwa ini terjadi pada akhir jaman (Yoh 6:39-40; 44,54; 11:24; Lumen Gentium 48, KGK 1001).
3) Jiwa= perasaan?
Walaupun kedengarannya benar, namun dengan pengertian dalam point 1, jiwa memiliki nilai yang lebih dalam dari sekedar perasaan, dan dengan demikian perasaan dapat dikatakan merupakan bagian dari jiwa.
4) Bagaimana dengan orang yang sakit jiwa?
Manusia yang normal memiliki ratio/ akal budi dan kehendak bebas; yang ditandai dengan kemampuannya untuk mengetahui sesuatu dan mengasihi seseorang (knowing and loving). Untuk mengetahui sesuatu, manusia membentuk konsep sesuatu di dalam pikirannya, dan ini mensyaratkan adanya otak yang berfungsi dengan baik. Pada orang yang sakit jiwa/ gila, kita mengetahui bahwa mereka tetap memiliki akal budi dan kehendak bebas, namun otak mereka tidak berfungsi dengan semestinya. Maka, orang yang sakit jiwa tersebut, tetap memiliki martabat sebagai manusia, walaupun otaknya tidak normal, dan karenanya ia tidak dapat berpikir/ mengetahui sesuatu dengan baik.
5) Seseorang yang meninggal sudah tidak mempunyai perasaan? Pada Luk 20:29-35: dikatakan dalam kebangkitan orang mati di surga orang-orang ‘tidak kawin dan dikawinkan’.
Kita mengetahui bahwa Tuhan merencanakan perkawinan manusia sebagai lambang akan “Perjamuan kawin Anak Domba” antara Allah dan manusia di surga (Silakan baca: Indah dan dalamnya makna sakramen Perkawinan Katolik). Maka setelah orang sampai di surga dan bersatu dengan Allah sendiri, maka lambang yang menunjuk ke surga tidak diperlukan lagi. Yohanes Paulus dalam Theology of the Body mengatakan, “When Jesus say men and women will not be given to marriage in the resurrection, it is as if he is saying, “You no longer need a sign to point you to heaven, when you are in heaven“.”(TOB 66: 2)
Pada saat kita bersatu dengan Tuhan di surga, kita bersatu juga dengan orang-orang yang kita kasihi, dan juga dengan semua orang yang bersatu dengan Tuhan; dalam suatu persekutuan kasih yang tidak dapat dilukiskan lagi dengan kata-kata. Dengan demikian maka tidak ada lagi orang kawin/ dikawinkan di surga dalam pengertian kawin/ dikawinkan ala dunia. Di surga tidak ada lagi keinginan badan seperti di dunia. Yang ada hanya kasih yang meraja di dalam Tuhan yang adalah Kasih. Jadi kalau perasaan di sini diartikan sebagai naluri duniawi, tentu perasaan ini tidak ada lagi di surga, tetapi jika perasaan di sini diartikan perasaan mengasihi, wah, malah di surga perasaan kasihlah yang utama dan sempurna! Oleh sebab ini kita orang Katolik percaya bahwa kita dapat memohon agar para kudus di surga mendoakan kita; karena mereka sungguh telah dibenarkan oleh Allah karena kasih mereka, dan kini mereka bersatu dengan Tuhan dalam KasihNya, sehingga doa mereka besar kuasanya (Yak 5:16).
Demikian uraian saya, semoga dapat menjawab pertanyaan Felix.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- https://katolisitas.org

Akhirnya pertemuan kami ditutup dengan saling senyum dan saling berpegangan tangan dengan rosario kami berdua di dalam genggaman tangan kami…
Entah bagaimana awalnya, di abad ke-20 orang mulai gemar merayakan Halloween di Amerika ini, dan bahkan juga sudah mulai merambah ke seluruh dunia. Konon, saat itu mereka yang tidak merayakan All Saints Day ingin menjadikan perayaan tersebut sebagai perayaan umum, yang tidak berbau Kristen, makanya diubah menjadi Halloween. Entah budaya ini sudah menular ke Indonesia atau belum, yang jelas, merayakan Halloween sebenarnya merupakan suatu ‘tragedi’, walaupun sering dikemas dengan atraksi-atraksi menarik.
orang muda maupun dewasa. Anak-anak memakai kostum yang bervariasi, umumnya dengan dandanan yang maksudnya ‘serem’ (tidak semua berhasil jadi ‘serem’), seperti tengkorak, bajak laut, vampire atau dracula. Tapi ada juga yang memakai kostum tokoh-tokoh film kartun, seperti spiderman, superman atau power ranger. Mereka lalu berkeliling dari rumah-ke rumah di sore hari, sambil berseru ‘trick or treat?’; lalu umumnya si pemilik rumah memilih ‘treat’ dengan memberi mereka coklat atau permen. Dan biasanya di akhir perjalanan keliling itu akhirnya anak-anak mengumpulkan sekantong plastik penuh isi permen dan coklat.
Melalui Halloween, sepertinya hantu dikemas menjadi sesuatu yang ‘cute’. Anak-anak adalah korban pertama dalam hal ini; mereka jadi berpikir hantu atau setan itu hanya dagelan. Cobalah lihat aneka tokoh kartun Jepang misalnya; monster dibuat jadi jagoan. Mereka didandani dengan accessories tertentu, kesannya jadi hebat. Pada permainan kartupun, ‘black hole’ atau ‘hell’ dapat tampil sebagai pemenang. Ini adalah bentuk kemasan ‘lipstick dan kutek’ pada hantu. Akibatnya sedikit demi sedikit anak-anak bisa kehilangan naluri salah dan benar, mana yang harus diikuti, mana yang harus dihindari. Memprihatinkan, tetapi begitulah, generasi jaman sekarang dihadapkan pilihan dunia yang kelihatannya menggiurkan: pesta hura-hura, film-film porno, drug, tinggal bersama sebelum nikah, perkawinan sesama jenis, dst. Mungkin hal itu tidak terjadi jika sejak awal anak-anak diajar bahwa meskipun hantu diberi lipstick, tetaplah hantu! Perbuatan salah sekalipun dikemas menarik dan kelihatannya OK, tetaplah perbuatan dosa.
Sepupu saya dan suaminya berjuang keras mendidik anak-anak untuk memilih ‘culture of life’. Mereka disekolahkan di sekolah Katolik yang tradisional, yang merayakan All Saints Day dan bukan Halloween. Anak-anak memakai kostum santa/ santo; dan di hadapan semua murid, setiap mereka diharuskan menceritakan riwayat hidup santa/ santo yang mereka pilih.
bahkan mulai sedikit demi sedikit mengajar mereka doa spontan, walaupun mereka baru berumur 6, 4 dan 2 tahun. Cukup mengejutkan saya, bahwa keponakan saya yang baru berumur 4 tahun dapat berdoa “I pray for the end of abortion that kills babies…” (Saya berdoa agar tidak ada lagi praktek aborsi yang membunuh bayi-bayi). Keponakan saya itu tidak mengerti persis apa itu aborsi, tetapi dia sudah mengetahui bahwa itu perbuatan keji yang membunuh bayi.




