Home Blog Page 322

Perbedaan tubuh, jiwa dan roh

43

Pertanyaan:

Shalom, moderator katolisitas yang terkasih, sehubungan dengan peringatan arwah pada tanggal 02 November, saya ada sedikit pertanyaan yang agak menggangu, konsep kemanusiaan adalah terdiri dari 3 bagian, tubuh, jiwa dan roh. menurut pandangan umum bahwa setelah manusia meninggal badannya akan membusuk yang akhirnya menyatu dengan tanah, roh nya akan kembali kepada Sang Pencipta, bagaimana dengan jiwanya ? karena sebagaimana pengertian dalam kharismatik bahwa jiwa itu adalah perasaan atau emosional, contoh orang gila disebut sakit jiwa, karena umumnya mereka tidak lagi memiliki perasaan sebagaimana orang waras. bagaimana jiwa itu tetap hidup ketika seseorang itu meninggal, berarti mereka mereka yang meninggal masih memiliki perasaan / emosional, sedangkan dalam pengertian kristiani bahwa seseorang yang meninggal sudah tidak lagi memiliki hubungan emosional lagi; contoh-Lukas 20:29-35.
Mohon pencerahan, Tuhan memberkati, (Bong Felix)

Jawaban:

Shalom Felix,
Saya akan mencoba menjawab pertanyaan Felix, dalam beberapa butir berikut ini:

1) Manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh?
Menurut  Gereja Katolik, yang mengambil pengajaran dari St. Thomas Aquinas, manusia terdiri tubuh dan jiwa. Namun jiwanya di sini adalah jiwa spiritual (rohani); yang menyebabkan manusia sebagai mahluk rational/ berakal budi. Sedangkan binatang mempunyai juga tubuh dan jiwa, namun jiwanya bukan rohani, sehingga disebut sebagai mahluk irrational/ tidak berakal budi. Jiwa binatang ini tidak abadi, jadi jiwanya mati jika tubuhnya mati. Nah, jiwa di dalam tubuh manusia merupakan “prinsip utama yang memberikan kehidupan” (Summa Theologica I, q. 75, a.1), sehingga jika jiwa ini tidak ada lagi di dalam tubuh maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh manusia. Ini yang terjadi pada kita meninggal.
Ayat surat kepada jemaat di Ibrani yang mengatakan bahwa firman Allah itu “hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua sekalipun; ia dapat menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh…” (Ibr 4:12) itu bukan untuk mengatakan bahwa kita punya jiwa dan roh yang berbeda satu sama lain; tetapi merupakan ekspresi yang menyatakan efek ‘ketajaman’ firman Allah yang memang dapat menegur kita dan mengetahui segala sesuatu, membedakan pertimbangan dan pikiran kita.

2) Apa yang terjadi dengan jiwa kita jika kita meninggal?
Jiwa spiritual kita tetap hidup (sebab jiwa kita bernilai abadi), sedangkan tubuh kita mati. Katekismus Gereja Katolik 997, 1005 mengajarkan bahwa pada saat kita mati, jiwa kita terpisah dari tubuh, tubuh akan mengalami kehancuran, sedangkan jiwa melangkah menuju Allah dan menunggu saat di mana kelak akan dipersatukan kembali dengan tubuh. Persatuan antara tubuh dan jiwa ini terjadi pada akhir jaman (Yoh 6:39-40; 44,54; 11:24; Lumen Gentium 48, KGK 1001).

3) Jiwa= perasaan?
Walaupun kedengarannya benar, namun dengan pengertian dalam point 1, jiwa memiliki nilai yang lebih dalam dari sekedar perasaan, dan dengan demikian perasaan dapat dikatakan merupakan bagian dari jiwa.

4) Bagaimana dengan orang yang sakit jiwa?
Manusia yang normal memiliki ratio/ akal budi dan kehendak bebas; yang ditandai dengan kemampuannya untuk mengetahui sesuatu dan mengasihi seseorang (knowing and loving). Untuk mengetahui sesuatu, manusia membentuk konsep sesuatu di dalam pikirannya, dan ini mensyaratkan adanya otak yang berfungsi dengan baik. Pada orang yang sakit jiwa/ gila,  kita mengetahui bahwa mereka tetap memiliki akal budi dan kehendak bebas, namun otak mereka tidak berfungsi dengan semestinya. Maka, orang yang sakit jiwa tersebut, tetap memiliki martabat sebagai manusia, walaupun otaknya tidak normal, dan karenanya ia tidak dapat berpikir/ mengetahui sesuatu dengan baik.

5) Seseorang yang meninggal sudah tidak mempunyai perasaan? Pada Luk 20:29-35: dikatakan dalam kebangkitan orang mati di surga orang-orang ‘tidak kawin dan dikawinkan’.
Kita mengetahui bahwa Tuhan merencanakan perkawinan manusia sebagai lambang akan “Perjamuan kawin Anak Domba” antara Allah dan manusia di surga (Silakan baca: Indah dan dalamnya makna sakramen Perkawinan Katolik). Maka setelah orang sampai di surga dan bersatu dengan Allah sendiri, maka lambang yang menunjuk ke surga tidak diperlukan lagi. Yohanes Paulus dalam Theology of the Body mengatakan, “When Jesus say men and women will not be given to marriage in the resurrection, it is as if he is saying, “You no longer need a sign to point you to heaven, when you are in heaven“.”(TOB 66: 2)
Pada saat kita bersatu dengan Tuhan di surga, kita bersatu juga dengan orang-orang yang kita kasihi, dan juga dengan semua orang yang bersatu dengan Tuhan; dalam suatu persekutuan kasih yang tidak dapat dilukiskan lagi dengan kata-kata. Dengan demikian maka tidak ada lagi orang kawin/ dikawinkan di surga dalam pengertian kawin/ dikawinkan ala dunia. Di surga tidak ada lagi keinginan badan seperti di dunia. Yang ada hanya kasih yang meraja di dalam Tuhan yang adalah Kasih. Jadi kalau perasaan di sini diartikan sebagai naluri duniawi, tentu perasaan ini tidak ada lagi di surga, tetapi jika perasaan di sini diartikan perasaan mengasihi, wah, malah di surga perasaan kasihlah yang utama dan sempurna! Oleh sebab ini kita orang Katolik percaya bahwa kita dapat memohon agar para kudus di surga mendoakan kita; karena mereka sungguh telah dibenarkan oleh Allah karena kasih mereka, dan kini mereka bersatu dengan Tuhan dalam KasihNya, sehingga doa mereka besar kuasanya (Yak 5:16).

Demikian uraian saya, semoga dapat menjawab pertanyaan Felix.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- https://katolisitas.org

Apakah protestan lebih banyak menggunakan Perjanjian Lama?

2

Pertanyaan:

Saya ingin bertanya kepada Bu Ingrid sekalipun pertanyaan ini mungkin tidak terkait dengan doa bersama orang kudus. Apakah benar bahwa sekalipun memakai Perjanjian Baru, para pengikut agama Kristen reformasi lebih menggunakan Perjanjian Lama sehingga nama-nama mereka lebih banyak mengikuti nama-nama dalam Kitab Perjanjian Lama seperti Yoab, Rebecca dll.? Apakah benar bahwa para pengikut agama Kristen Katolik dan ortodoks lebih menggunakan Injil Paulus dan Perjanjian Baru ketimbang Perjanjian Lama? Pertanyaan ini saya ajukan karena pengalaman saya menunjukkan bahwa orang Katolik kurang menguasai Perjanjian Lama dibandingkan Kristen reformasi seperti Protestan atau Pentakosta. Untuk Perjanjian Baru, saya pikir penganut Agama Katolik maupun Kristen reformasi sama-sama menguasainya sehingga mereka dapat berdiskusi tanpa banyak masalah.
Salam – Andryhart

Jawaban:

Shalom Andry,

  1. Bahwa banyak dari saudara-saudari kita dari Kristen Protestan mempunyai nama-nama yang diambil dari Perjanjian Lama, saya rasa bukan karena mereka menitik-beratkan iman mereka pada Perjanjian Lama. Jangan lupa bahwa Yesus yang sama-sama kita imani ada dalam Perjanjian Baru yang merupakan pemenuhan Perjanjian Lama. Saya kira (saya tidak tahu persis) alasan mereka mengambil nama-nama Perjanjian Lama adalah lebih karena mereka ingin mengambil nama-nama yang ada di Kitab Suci, yang tidak terkesan mengambil nama Santa/ Santo, sebab mereka tidak mengimani adanya persekutuan orang kudus, dalam artian yang sama seperti yang diimani oleh Gereja Katolik.
  2. Tidak benar bahwa Gereja Katolik lebih menggunakan Injil Paulus dan Perjanjian Baru daripada Perjanjian Lama. Hal ini kita lihat secara nyata, bahwa jika kita mengikuti bacaan Misa Kudus harian dan hari Minggu, liturgi tahun A, B, C, kita dapat membaca hampir seluruh Kitab Suci dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Gereja Katolik selalu melihat Perjanjian Lama sebagai persiapan Perjanjian Baru. Hal ini dikatakan dalam Dei Verbum 3, Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi, dan Lumen Gentium 2, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Vatikan II.
    Maka kalau kita perhatikan juga bacaan Alkitab di dalam misa kudus Minggu umumnya, bacaan pertama dan Mazmur di ambil dari Perjanjian Lama, bacaan kedua dari surat- surat para Rasul Perjanjian Baru, dan bacaan Injil dari salah satu dari keempat Injil Perjanjian Baru. Sedangkan pada misa harian, bacaan pertama diambil dari Perjanjian Lama atau surat-surat para rasul dari Perjanjian Baru, Mazmur dari Perjanjian Lama, dan Injil dari Perjanjian Baru.
    Perlu kita ketahui, bahwa Perjanjian Baru tidak terpisah dari Perjanjian Lama. Makna Gereja sebagai Umat Baru Pilihan Allah (the new People of God) hanya dapat dimengerti dengan baik jika kita melihat kepada bangsa Israel pada Perjanjian Lama yang menjadi bangsa pilihan Allah (Lumen Gentium 9), demikian juga keberadaan sakramen-sakramen seperti Baptis untuk memperbaharui makna sunat dan menyempurnakannya, sakramen Imamat (jabatan) menyempurnakan imamat suku Lewi pada bangsa Israel.
    Di atas semua itu, jangan lupa bahwa 2/3 bagian Kitab Suci adalah Perjanjian Lama, yang dipenuhi dalam Perjanjian Baru. Yesus sendiri adalah Allah Immanuel yang telah dinubuatkan oleh para nabi (silakan klik), dan nubuat-nubuat ini tercantum dalam Perjanjian Lama.
    Di PL, yang ada adalah roti manna yang turun dari langit; di PB adalah Roti Hidup, Yesus yang turun dari surga.
    Di PL, yang ada tabut Perjanjian Lama berisi 5 kitab Taurat Musa, roti manna, dua loh batu 10 Perintah Allah; di PB adalah Bunda Maria sebagai tabut Perjanjian Baru, yang mengandung Yesus Kristus, Sang Sabda yang menjadi Manusia, sang Roti Hidup yang turun dari surga.
    Yesus sendiri mengatakan, “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Mat 5:17). Karena Perjanjian Lama mengacu kepada pemenuhannya pada Pernjanjian Baru oleh Yesus Kristus, maka Gereja Katolik tidak pernah dan tidak akan pernah meniadakannya atau menganggapnya tidak penting.
  3. Bahwa banyak orang Katolik yang kurang menguasai Perjanjian Lama harusnya menjadi tantangan bagi kita untuk lebih mendalami Kitab Suci, termasuk untuk mengetahui arti Perjanjian Lama dalam terang Perjanjian Baru, sebab kita mengetahui maksud Perjanjian Lama ditulis adalah untuk mengarahkan kita kepada Perjanjian Baru dan Kekal yang dipenuhi oleh dan dalam Kristus. Mengenai gereja Orthodox, saya kurang mengetahui, namun saya rasa hampir sama dengan Gereja Katolik, sebab mereka memiliki jalur apostolik juga, hanya saja mereka tidak mengakui otoritas Bapa Paus.

Demikian keterangan dari saya, semoga bermanfaat.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – https://katolisitas.org

Apakah merokok berdosa?

42

Ada banyak orang mengatakan bahwa merokok adalah berdosa, namun ada orang yang mempunyai sikap yang berbeda. Jadi, bagaimana kita harus menanggapi tentang hal ini? Orang sering membuat argumentasi bahwa merokok adalah berdosa, karena merusak tubuh, sedangkan tubuh kita adalah Bait Allah. Kita dapat melihat beberapa dasar pengajaran Katolik di dalam Katekismus Gereja Katolik sebagai berikut:

KGK, 2289 “Kehidupan dan kesehatan merupakan hal-hal yang bernilai, yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Kita harus merawatnya dengan cara yang bijaksana dan bersama itu juga memperhatikan kebutuhan orang lain dan kesejahteraan umum.Perawatan kesehatan para warga menuntut bahwa masyarakat ikut membantu menciptakan situasi hidup, sehingga manusiadapat mengembangkan diri dan menjadi matang: pangan dan sandang, perumahan, pelayanan kesehatan, pendidikan dasar, lapangan kerja, dan bantuan sosial.”

KGK, 2290: “Kebajikan penguasaan diri menjauhkan segala bentuk keterlaluan: tiap penggunaan makanan, minuman, rokok, dan obat-obatan yang berlebihan. Siapa yang dalam keadaan mabuk atau dengan kecepatan tinggi membahayakan keamanan orang lain dan keamanannya sendiri di jalan, di air, atau di udara, membuat dosa besar.”

Dari keterangan di atas, kita dapat menarik beberapa kesimpulan. Kita sebetulnya harus merawat tubuh kita, karena tubuh kita telah dikuduskan oleh Allah, dengan Yesus sendiri mengambil kodrat manusia yang terdiri dari tubuh dan jiwa, dan tubuh kita juga menjadi bait Allah (1 Kor 6:19-20). Namun merawat tubuh kita juga tidak boleh lebih tinggi derajatnya daripada memberikan perawatan kepada kehidupan rohani kita (KGK, 2289). Misalkan kita berolahraga setiap hari, namun tidak memperhatikan kehidupan doa kita maupun pelayanan.

KGK, 2290 menekankan akan pentingnya kebajikan penguasaan diri (the virtue of temperance) termasuk dalam merokok. Pertanyaanya, apakah merokok jadi berdosa? Saya tidak dapat mengecap semua orang yang merokok itu berdosa, karena merokok yang bersifat untuk rekreasi (dalam artian sekali-sekali) adalah tidak berdosa, namun kalau dilakukan dengan beberapa kondisi yang keluar dari jalur kebajikan penguasaan diri, seperti: (1) Merokok yang berlebihan sehingga dapat menyebabkan ketagihan; (2) terlalu banyak merokok sehingga membahayakan kesehatan tubuh, dengan resiko kanker, jantung, dll. Apalagi dalam kasus seorang wanita yang melahirkan, sehingga membahayakan kesehatan bayi yang dikandungnya; (3) Yang dilakukan di sekitar anak-anak, atau orang lain, sehingga menyebabkan orang lain menjadi terganggu, baik kesehatan maupun kenyamanan; (4) membeli rokok yang berlebihan, sehingga menghabiskan uang yang banyak yang seharusnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Hal ini mungkin masih dapat diperdebatkan, yang terpenting adalah orang harus menjalankan kebajikan penguasaan diri (temperance) dan kebijaksanaan (prudence). Kita jangan lupa juga, beberapa hal yang kelihatannya sepele, namun sebetulnya jelas-jelas berdosa, misalnya: pemakaian kontrasepsi, kebohongan kecil, kemalasan, dll. Atau beberapa hal yang mungkin mirip dengan kasus merokok: Bagaimana dengan menonton televisi, main video, game, internet yang berlebihan? rekreasi yang berlebihan: nonton bioskop, makan di restoran, makan yang menyebabkan kita sakit, misal: sakit kencing manis karena terlalu banyak gula, sakit lever karena terlalu banyak makan yang mempunyai kadar pengawet yang tinggi, dll. Kita tidak dapat mengatakan semua orang yang senang makan coklat berdosa, namun kalau terlalu berlebihan, maka dapat menjadikan orang tersebut sakit, dan ini yang salah.

Namun karena merokok mempunyai resiko membuat orang ketagihan, maka menurut hemat kami, kita tidak perlu mencobanya sama sekali. Kalau orang perlu untuk rekreasi, maka dapat mencari rekreasi yang lain yang lebih berguna dan tidak mempunyai potensi membahayakan tubuh. Mari kita bersama-sama berjuang untuk dapat mengendalikan diri kita dalam hal apapun sehingga kita dapat berjalan sesuai dengan perintah Tuhan. Yang terutama adalah kita berdoa dan menerima sakramen-sakramen, sehingga berkat Tuhan mengalir dan kita dikuatkan oleh Tuhan untuk dapat mengendalikan diri kita.

Bahasa Kasih

22

Pada suatu saat, Ingrid dan saya mengunjungi rumah “Missionary of Charity” atau rumah orang tua ordo cinta kasih Ibu Teresa di Singapura bersama dengan teman-teman. Saya melihat seorang suster menceritakan tentang bagaimana Tuhan menyelamatkan nabi Nuh dan keluarganya dari banjir besar. Saya juga melihat beberapa orang yang berkunjung ke sana dan membantu para orang tua. Ada yang membantu mereka untuk berjalan, ada yang mendorong kursi roda seorang kakek tua ke arah taman. Semua melakukan kegiatan yang berbeda, namun satu hal sama adalah bagaimana suasana kasih meliputi seluruh kegiatan tersebut.

Kini tibalah giliran kami untuk mengisi acara, yaitu dengan acara pujian dan doa. Kami bernyanyi bersama dengan opa dan oma di sana, bertepuk tangan bersama, perpegangan tangan, dan tertawa bersama. Setelah itu, kami membagikan makanan kecil yang telah kami siapkan dan setiap anggota tim duduk dengan opa dan oma sambil makan bersama.

Dan saya lalu mengobrol dengan seorang kakek tua dengan topi biru yang kelihatanya tegang. Saya mendekatinya, dan kemudian duduk di hadapannya. Saya tidak tahu kalau ternyata kakek ini tidak terlalu baik pendengarannya. Kemudian terjadilah percakapan sebagai berikut (setelah diterjemahkan dari bahasa Inggris logat Singapura):

Saya: Hai Opa, selamat pagi, Opa namanya siapa? (Hi, good morning uncle, what is your name?)

Opa: Hari ini cerah sekali ya … (Haiya.. what a good weather…)

Saya : Iya, Opa senang ya kalau cuacanya cerah? (Yes, are you happy if the weather is beatiful like this?)

Opa : Hujan lebat bikin disana-sini pada basah…. (Raining, raining, it is all wet…)

Saya : Iya, memang hujannya lebat sekali kemarin. Trus Opa kemarin tidur saja dong.. (Yes, it was raining very hard yesterday. So, did you sleep all day yesterday, uncle?)

Opa : (Opa tersebut terdiam dengan mata yang menerawang). Trus dia berkata “Kadang-kadang Opa jalan-jalan ke situ (sometimes, I take a walk overthere, nice ma)“ (sambil tangannya menunjuk ke arah taman)

Saya : Wah enak dong kek bisa jalan-jalan, siapa yang nemenin Opa? (That is good uncle, who usually take you to walk?)
(Saya sudah mulai gelisah, kok ngomongnya nggak nyambung….)

Opa : Opa lihat monyet, harimau di kebun binatang. Opa sama teman-teman kadang kesana. Wah enak lho disana …. (Oh, ya ya, I saw monkeys, tigers at the zoo. My friends and I sometimes go there. Haiya…. Very good.. ma)

Saya : (Menggaruk kepala yang tidak gatal… sambil berdoa “Tuhan bagaimana caranya supaya ngomongnya nyambung…”)

(Kemudian saya melihat rosario yang dipakai oleh Opa itu. Dan kemudian tanpa berkata apapun, saya menyentuh rosario Opa itu sambil tersenyum)

Opa : Ini rosario saya dan saya senang berdoa rosario… (This is my rosary and I like to pray rosary lo…)

(Opa itu mengambil rosario yang terkalung di lehernya, trus ditunjukkannya kepada saya)

Saya : (Tanpa berkata, Saya mengeluarkan rosario saya, kemudian saya tempelkan rosario itu dengan rosarionya)

Saya: (Tersenyum dengan lebar….)

Opa : (Menjawab senyumanku dengan senyum yang lebih lebar, sehingga terlihat giginya yang ompong).

tanda kasih Akhirnya pertemuan kami ditutup dengan saling senyum dan saling berpegangan tangan dengan rosario kami berdua di dalam genggaman tangan kami…

Terima kasih Bunda Maria, yang telah membantu kami untuk berbicara dengan bahasa kasih lewat rosario.

Di dalam hati, saya mengucapkan terimakasih kepada Tuhan yang sudah mengajarkan begitu banyak kepada saya… mengajarkan bahasa cinta kasih. Bahasa kasih, bahasa yang universal, yang mampu menembus dinding umur, dinding bahasa, dan dinding kata-kata. Terimakasih Opa, buat senyum yang lebar, tanpa gigi, senyum dengan kasih…

Dan pada saat kasih meraja, kata-katapun tidak diperlukan lagi.

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. (1 Kor 13:4-7).

Pilih mana: Halloween atau All Saints Day?

15

Halloween vs All Saints Day

all saints day Entah bagaimana awalnya, di abad ke-20 orang mulai gemar merayakan Halloween di Amerika ini, dan bahkan juga sudah mulai merambah ke seluruh dunia. Konon, saat itu mereka yang tidak merayakan All Saints Day ingin menjadikan perayaan tersebut sebagai perayaan umum, yang tidak berbau Kristen, makanya diubah menjadi Halloween. Entah budaya ini sudah menular ke Indonesia atau belum, yang jelas, merayakan Halloween sebenarnya merupakan suatu ‘tragedi’, walaupun sering dikemas dengan atraksi-atraksi menarik.

Di Amerika ini, Halloween dirayakan baik oleh anak-anak, halloweenorang muda maupun dewasa. Anak-anak memakai kostum yang bervariasi, umumnya dengan dandanan yang maksudnya ‘serem’ (tidak semua berhasil jadi ‘serem’), seperti tengkorak, bajak laut, vampire atau dracula. Tapi ada juga yang memakai kostum tokoh-tokoh film kartun, seperti spiderman, superman atau power ranger. Mereka lalu berkeliling dari rumah-ke rumah di sore hari, sambil berseru ‘trick or treat?’; lalu umumnya si pemilik rumah memilih ‘treat’ dengan memberi mereka coklat atau permen. Dan biasanya di akhir perjalanan keliling itu akhirnya anak-anak mengumpulkan sekantong plastik penuh isi permen dan coklat.

Demikianlah potret budaya Amerika yang cenderung konsumtif. Mungkin terlihat lucu dan seru, tetapi sesungguhnya memprihatinkan. Mungkin tak banyak (atau bahkan sedikit) dari mereka yang teringat untuk merayakan makna hari itu yang sesungguhnya: yaitu kita merayakan persekutuan para orang kudus di surga. Peringatan hari para orang kudus juga saudara-saudari kita yang telah meninggal dunia pada tanggal 1 dan 2 November seharusnya mengarahkan pandangan kita pada kehidupan kekal, bahwa hidup kita di dunia ini hanya sebentar dan hidup kita yang sesungguhnya adalah di surga kelak. Di sana kita akan berjumpa dengan para kudus dan saudara-saudari kita yang meninggal dalam Kristus. Maka, umumnya tema misa kudus selama bulan November adalah agar kita mengingat tujuan akhir hidup kita, dan agar kita berjaga-jaga sementara menantikan saat itu. “Hendaklah kamu siap sedia”, kata Yesus, “karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga” (Mat 24:44). Bukannya tanpa tujuan bahwa kita diingatkan untuk senantiasa berjaga-jaga, karena hanya dengan sikap demikian kita dapat mempersiapkan hari Natal pada bulan Desember, saat kita memperingati kelahiran Yesus, Penyelamat kita, yang olehNya kita memperoleh kehidupan kekal.

Sayangnya, mungkin orang lebih senang berpesta daripada berjaga-jaga dan berdoa. Contohnya saja, akhir minggu lalu sudah banyak orang mengadakan pesta Halloween di sini sampai dini hari. Akibatnya, mereka tidak bisa bangun untuk mengikuti Misa Kudus pada hari Minggu. Sepanjang pengamatan saya, Halloween di sini menjadi lebih popular ketimbang hari All Saints Day. Kesempatan Halloween dipakai untuk pesta dengan pakaian yang aneh-aneh. Rumah-rumah dihiasi dengan orang-orangan seperti nenek sihir, bahkan kue tart di supermarket dihiasi dengan bentuk kuburan! Sepertinya di sini pesan kematian lebih menarik daripada kehidupan? Ah… Amerika, Amerika, entah apa yang engkau cari…

Buang-buang energi untuk kesenangan vs berjuang untuk kekudusan

Untuk pesta Halloween, banyak orang di sini spesial meluangkan waktu, bahkan membuang-buang energi dan uang untuk itu, dengan menghias rumah, membuat dekorasi dari pumpkin (labu), memasang boneka hantu, membeli aneka kostum, permen dan kue. Sesuatu yang harusnya menjadi permenungan, apakah kita sudah meluangkan waktu, mengeluarkan energi dan uang untuk maksud bertumbuh dalam iman dan kekudusan? Contoh sederhana, jika kita mempunyai waktu luang, berapa persen dari waktu itu kita gunakan untuk kesenangan kita, dan berapa persen untuk Tuhan? Film yang kita tonton dan buku yang kita baca: berhubungan dengan fiksi atau iman? Jika kita punya uang tabungan untuk berlibur; kita memilih jalan-jalan atau ziarah/ retret? Bukan berarti bahwa kita tidak boleh rekreasi, namun mari kita dengan jujur melihat, sudah cukup adilkah kita membagi waktu, untuk diri kita dan untuk Tuhan?

Hantu diberi lipstick dan kutek, tapi tetaplah hantu!

halloween kids Melalui Halloween, sepertinya hantu dikemas menjadi sesuatu yang ‘cute’. Anak-anak adalah korban pertama dalam hal ini; mereka jadi berpikir hantu atau setan itu hanya dagelan. Cobalah lihat aneka tokoh kartun Jepang misalnya; monster dibuat jadi jagoan. Mereka didandani dengan accessories tertentu, kesannya jadi hebat. Pada permainan kartupun, ‘black hole’ atau ‘hell’ dapat tampil sebagai pemenang. Ini adalah bentuk kemasan ‘lipstick dan kutek’ pada hantu. Akibatnya sedikit demi sedikit anak-anak bisa kehilangan naluri salah dan benar, mana yang harus diikuti, mana yang harus dihindari. Memprihatinkan, tetapi begitulah, generasi jaman sekarang dihadapkan pilihan dunia yang kelihatannya menggiurkan: pesta hura-hura, film-film porno, drug, tinggal bersama sebelum nikah, perkawinan sesama jenis, dst. Mungkin hal itu tidak terjadi jika sejak awal anak-anak diajar bahwa meskipun hantu diberi lipstick, tetaplah hantu! Perbuatan salah sekalipun dikemas menarik dan kelihatannya OK, tetaplah perbuatan dosa.

Berani tampil beda untuk kebenaran

Saya mempunyai teman sekelas seorang biarawati di sini. Dia bercerita pada saya bahwa ia pernah diundang makan di restoran. Temannya yang mengundang dan suster itu tidak tahu bahwa ada pesta Halloween di restoran itu. Jadi waktu suster itu datang, ia dikira ‘suster gadungan’; yaitu orang biasa yang memakai kostum biarawati untuk datang ke pesta. Orang-orang menyambutnya dengan tawa, namun setelah suster itu berkata, “Well, I’m the real Sister…” (Saya suster sungguhan),  mereka berhenti tertawa.

Memang kadang dalam pergaulan, dibutuhkan keberanian untuk menunjukkan kebenaran dan iman kita. Contoh sederhana, jika kita pergi makan di tempat umum, beranikah kita berdoa membuat tanda salib sebelum dan sesudah makan? Atau bagi anda yang bekerja, jika ada ajakan ‘entertainment’ yang tidak sehat, beranikah anda menolaknya? Jika ada orang menawari anda uang suap, beranikah anda berkata ‘tidak’? Beranikah kita memilih kebenaran karena kita pengikut Kristus, walaupun taruhannya adalah: dunia tidak akan lagi bersahabat dengan kita…

Siapa tokoh idolamu?

Perayaan Halloween yang lebih disukai daripada perayaan orang kudus sebenarnya menggambarkan penurunan hasrat untuk belajar dari para orang kudus. Santo/santa tidak lagi dilihat sebagai teladan sehingga orang tertarik untuk membaca kisah hidup mereka. Peran mereka digantikan dengan tokoh film fiksi atau film kartun. Hal ini mungkin pantas kita renungkan: kita lebih tahu riwayat Mother Teresa atau cerita spiderman? Paus Yohanes Paulus II atau Harry Potter? Anak-anak lebih senang dibacakan cerita St. Francis atau dongeng Power ranger?

Culture of death vs Culture of life

Sebenarnya, ini adalah ucapan Paus Yohanes Paulus II tentang dunia sekarang ini. Dan sesungguhnya ini terlihat juga dalam perayaan Halloween, walaupun mungkin bagi kita tidak masuk akal: bagaimana sampai orang lebih tertarik merayakan kematian dari pada kehidupan kekal. Mungkin memang diperlukan usaha lebih keras untuk mempromosikan budaya kehidupan/ ‘culture of life’. Di Amerika ini ‘culture of death’ kelihatan nyata bukan saja dari pesta Halloween, tetapi juga dari realita masyarakat: angka aborsi yang tinggi karena dilegalkan pemerintah, belum lagi promosi penggunaan alat kontrasepsi bahkan terhadap anak-anak remaja. Betapa besar peran orang tua jaman sekarang, sebab mereka memiliki tanggung jawab mendidik anak-anak agar tidak terjatuh dalam ‘culture of death’ itu!

all saintsSepupu saya dan suaminya berjuang keras mendidik anak-anak untuk memilih ‘culture of life’. Mereka disekolahkan di sekolah Katolik yang tradisional, yang merayakan All Saints Day dan bukan Halloween. Anak-anak memakai kostum santa/ santo; dan di hadapan semua murid, setiap mereka diharuskan menceritakan riwayat hidup santa/ santo yang mereka pilih.

Sepupu saya dan suaminya dengan setia membacakan pada anak-anak kisah-kisah Kitab Suci setiap hari, dan mengajak anak-anak berdoa bersama sebelum tidur. Mereka berdoa bersama sebelum makan, keponakanbahkan mulai sedikit demi sedikit mengajar mereka doa spontan, walaupun mereka baru berumur 6, 4 dan 2 tahun. Cukup mengejutkan saya, bahwa keponakan saya yang baru berumur 4 tahun dapat berdoa “I pray for the end of abortion that kills babies…” (Saya berdoa agar tidak ada lagi praktek aborsi yang membunuh bayi-bayi). Keponakan saya itu tidak mengerti persis apa itu aborsi, tetapi dia sudah mengetahui bahwa itu perbuatan keji yang membunuh bayi.

Suatu permenungan adalah, sejauh mana kita telah berusaha mendidik anak-anak dalam iman? Jika anda belum berkeluarga, sejauh mana anda mempunyai niatan yang teguh untuk membentuk keluarga yang beriman? Sejauh mana aku berjuang untuk mendukung budaya kehidupan/ ‘culture of life’? Apakah aku menghargai kehidupanku sendiri? Apakah aku melihat anak-anak sebagai berkat atau beban?

All Saints Day, All Souls Day

Saudara dan saudariku, jangan sampai Halloween mengaburkan makna peringatan di awal bulan November ini. Mari kita memperingati hari para orang kudus dan hari arwah dengan sikap yang hormat. Peringatan ini harusnya membuat kita menyadari bahwa hidup kita di dunia hanyalah sementara, dan kita semua berjuang untuk menuju ke surga. Kita melihat kepada mereka yang terlebih dahulu sampai di sana, dan memohon doa pada Tuhan agar suatu hari kitapun berjumpa dengan mereka dalam kehidupan kekal. Kita mendoakan mereka yang masih dalam masa pemurnian di Api Penyucian, agar mereka dapat segera bergabung dalam kebahagiaan surgawi. Dan pada akhirnya, kita diingatkan untuk selalu bertumbuh di dalam iman dan pengharapan akan kehidupan kekal; yang dijanjikan bagi kita semua yang percaya kepada Allah di dalam nama Yesus Kristus. Kitab Wahyu 7:9-12 menyebutkan:

“Kemudian…aku melihat sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan tahta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Dan dengan suara nyaring mereka berseru: “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas tahta dan bagi Anak Domba!” Dan semua malaikat berdiri….; mereka tersungkur di hadapan tahta itu dan menyembah Allah…” Amin! Puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!”

Ya! Tujuan kita yang terakhir adalah untuk bergabung bersama Para Kudus di surga dalam memuji dan menyembah Tuhan. Sementara menunggu saat yang indah itu, mari kita melihat teladan hidup Para Kudus. Satu kalimat yang perlu kita ingat tentang hidup mereka adalah: Mereka menjadi kudus karena mengasihi… Siapa orang yang harus kukasihi hari ini? Para kudus di surga, doakanlah kami agar lebih dapat mengasihi Tuhan dan sesama kami…

Wahyu pribadi

33

Pertanyaan:

Yth. Sdr/ Stef Tay dan Sdr. Ingrid L.
Ini adalah buku penampakan Tuhan yang dialami oleh Tinny MA, bagaimana pendapat Sdr. Stefanus Tay dan menurut ajaran Gereja Katolik?. (Roh Kudus disebut Nafiri. Saya sdh baca garis besarnya di iternet, secara keseluruhan belum dapat bukunya). – Julius

Jawaban:

Shalom Julius,
Di dalam Gereja Katolik, kita mengenal adanya wahyu publik/umum dan wahyu pribadi. Wahyu umum ini telah selesai di dalam Kristus, yang diberitakan oleh para murid-Nya (DV, 4, KGK, 65-67). Namun, Gereja telah menerima begitu banyak wahyu-wahyu pribadi dari masa awal sampai sekarang. Jadi bagaimana kita menyikapi wahyu-wahyu?

  1. Umat beriman terikat oleh wahyu umum, seperti yang diberitakan lewat Kitab Suci, Tradisi Suci. Dan Magisterium yang menginterpretasikan wahyu-wahyu umum tersebut. Dan sebagai orang Katolik, kita harus mengikutinya.
  2. Wahyu pribadi tidak mengikat umat beriman untuk mengikutinya. Ada yang telah diakui oleh Gereja, seperti penampakan di Lourdes dari St. Bernadette Soubirous, stigmata yang dialami oleh Padre Pio, devosi kerahiman Ilahi yang diberikan melalui St. Faustina Kowalska, dll. Namun ada juga yang belum diakui dan tidak diakui oleh pihak Gereja.
  3. Biasanya kebenaran dari wahyu-wahyu pribadi akan terlihat dengan perjalanan waktu. Dan oleh sebab itu Gereja benar-benar berhati-hati untuk sampai menyetujui bahwa wahyu pribadi tersebut otentik (benar) dan tidak bertentangan dengan pesan Kristus.

Prinsipnya:

KGK 67 Dalam peredaran waktu terdapatlah apa yang dinamakan “wahyu pribadi”, yang beberapa di antaranya diakui oleh pimpinan Gereja. Namun wahyu pribadi itu tidak termasuk dalam perbendaharaan iman. Bukanlah tugas mereka untuk “menyempurnakan” wahyu Kristus yang definitif atau untuk “melengkapinya”, melainkan untuk membantu supaya orang dapat menghayatinya lebih dalam lagi dalam rentang waktu tertentu. Di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja, maka dalam kesadaran iman, umat beriman tahu membedakan dan melihat dalam wahyu-wahyu ini apa yang merupakan amanat otentik dari Kristus atau para kudus kepada Gereja.Iman Kristen tidak dapat “menerima” wahyu-wahyu yang mau melebihi atau membetulkan wahyu yang sudah dituntaskan dalam Kristus. Hal ini diklaim oleh agama-agama bukan Kristen tertentu dan sering kali juga oleh sekte-sekte baru tertentu yang mendasarkan diri atas “wahyu-wahyu” yang demikian itu.

Jadi kesimpulannya:

  1. Untuk wahyu yang dialami Tinny atau yang lain, saya tidak mau menanggapi apakah wahyu tersebut benar atau tidak, karena saya tidak pernah membaca bukunya, dan saya tidak pada posisi untuk menghakimi apakah wahyu tersebut benar terjadi atau tidak. Namun, satu hal yang dapat menjadi tolok ukur, yaitu kalau wahyu tersebut bertentangan dengan ajaran Kristus, dan juga ajaran Gereja (termasuk sakramen-sakramen dan devosi-devosi lain yang sudah disetujui Gereja), maka kita dapat katakan bahwa wahyu tersebut adalah palsu.
  2. Kalau apa yang diwahyukan Tuhan kepada Tinny atau siapa saja sesuai dengan pengajaran Kristus dan Gereja-Nya, maka “menurut saya”, adalah bijaksana untuk menunggu sikap dari Gereja. Kita tidak usah terburu-buru menghakimi. Wahyu-wahyu yang otentik dari Tuhan akan mengembalikan orang kepada pertobatan, mengasihi Kristus dan Gereja-Nya, termasuk lebih mempunyai devosi terhadap sakramen-sakramen yang Yesus berikan kepada Gereja-Nya, meningkatkan hubungan pribadi dengan Tuhan dengan doa dan puasa, dll.
  3. Keaslian wahyu tersebut dapat dilihat apakah yang menerima wahyu tunduk terhadap hirarki Gereja. Karena kalaupun wahyu tersebut benar dan pihak hirarki melarang pada saat wahyu tersebut diberikan, namun wahyu tersebut akan tersingkap kebenarannya pada tahun-tahun berikutnya, seperti devosi kerahiman Ilahi atau stigmata dari Padre Pio.

Semoga uraian tersebut dapat membantu. Mari kita berfokus kepada Kristus dan sakramen-sakramen yang sudah jelas kebenarannya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab