Pilih mana: Halloween atau All Saints Day?

Halloween vs All Saints Day

all saints day Entah bagaimana awalnya, di abad ke-20 orang mulai gemar merayakan Halloween di Amerika ini, dan bahkan juga sudah mulai merambah ke seluruh dunia. Konon, saat itu mereka yang tidak merayakan All Saints Day ingin menjadikan perayaan tersebut sebagai perayaan umum, yang tidak berbau Kristen, makanya diubah menjadi Halloween. Entah budaya ini sudah menular ke Indonesia atau belum, yang jelas, merayakan Halloween sebenarnya merupakan suatu ‘tragedi’, walaupun sering dikemas dengan atraksi-atraksi menarik.

Di Amerika ini, Halloween dirayakan baik oleh anak-anak, halloweenorang muda maupun dewasa. Anak-anak memakai kostum yang bervariasi, umumnya dengan dandanan yang maksudnya ‘serem’ (tidak semua berhasil jadi ‘serem’), seperti tengkorak, bajak laut, vampire atau dracula. Tapi ada juga yang memakai kostum tokoh-tokoh film kartun, seperti spiderman, superman atau power ranger. Mereka lalu berkeliling dari rumah-ke rumah di sore hari, sambil berseru ‘trick or treat?’; lalu umumnya si pemilik rumah memilih ‘treat’ dengan memberi mereka coklat atau permen. Dan biasanya di akhir perjalanan keliling itu akhirnya anak-anak mengumpulkan sekantong plastik penuh isi permen dan coklat.

Demikianlah potret budaya Amerika yang cenderung konsumtif. Mungkin terlihat lucu dan seru, tetapi sesungguhnya memprihatinkan. Mungkin tak banyak (atau bahkan sedikit) dari mereka yang teringat untuk merayakan makna hari itu yang sesungguhnya: yaitu kita merayakan persekutuan para orang kudus di surga. Peringatan hari para orang kudus juga saudara-saudari kita yang telah meninggal dunia pada tanggal 1 dan 2 November seharusnya mengarahkan pandangan kita pada kehidupan kekal, bahwa hidup kita di dunia ini hanya sebentar dan hidup kita yang sesungguhnya adalah di surga kelak. Di sana kita akan berjumpa dengan para kudus dan saudara-saudari kita yang meninggal dalam Kristus. Maka, umumnya tema misa kudus selama bulan November adalah agar kita mengingat tujuan akhir hidup kita, dan agar kita berjaga-jaga sementara menantikan saat itu. “Hendaklah kamu siap sedia”, kata Yesus, “karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga” (Mat 24:44). Bukannya tanpa tujuan bahwa kita diingatkan untuk senantiasa berjaga-jaga, karena hanya dengan sikap demikian kita dapat mempersiapkan hari Natal pada bulan Desember, saat kita memperingati kelahiran Yesus, Penyelamat kita, yang olehNya kita memperoleh kehidupan kekal.

Sayangnya, mungkin orang lebih senang berpesta daripada berjaga-jaga dan berdoa. Contohnya saja, akhir minggu lalu sudah banyak orang mengadakan pesta Halloween di sini sampai dini hari. Akibatnya, mereka tidak bisa bangun untuk mengikuti Misa Kudus pada hari Minggu. Sepanjang pengamatan saya, Halloween di sini menjadi lebih popular ketimbang hari All Saints Day. Kesempatan Halloween dipakai untuk pesta dengan pakaian yang aneh-aneh. Rumah-rumah dihiasi dengan orang-orangan seperti nenek sihir, bahkan kue tart di supermarket dihiasi dengan bentuk kuburan! Sepertinya di sini pesan kematian lebih menarik daripada kehidupan? Ah… Amerika, Amerika, entah apa yang engkau cari…

Buang-buang energi untuk kesenangan vs berjuang untuk kekudusan

Untuk pesta Halloween, banyak orang di sini spesial meluangkan waktu, bahkan membuang-buang energi dan uang untuk itu, dengan menghias rumah, membuat dekorasi dari pumpkin (labu), memasang boneka hantu, membeli aneka kostum, permen dan kue. Sesuatu yang harusnya menjadi permenungan, apakah kita sudah meluangkan waktu, mengeluarkan energi dan uang untuk maksud bertumbuh dalam iman dan kekudusan? Contoh sederhana, jika kita mempunyai waktu luang, berapa persen dari waktu itu kita gunakan untuk kesenangan kita, dan berapa persen untuk Tuhan? Film yang kita tonton dan buku yang kita baca: berhubungan dengan fiksi atau iman? Jika kita punya uang tabungan untuk berlibur; kita memilih jalan-jalan atau ziarah/ retret? Bukan berarti bahwa kita tidak boleh rekreasi, namun mari kita dengan jujur melihat, sudah cukup adilkah kita membagi waktu, untuk diri kita dan untuk Tuhan?

Hantu diberi lipstick dan kutek, tapi tetaplah hantu!

halloween kids Melalui Halloween, sepertinya hantu dikemas menjadi sesuatu yang ‘cute’. Anak-anak adalah korban pertama dalam hal ini; mereka jadi berpikir hantu atau setan itu hanya dagelan. Cobalah lihat aneka tokoh kartun Jepang misalnya; monster dibuat jadi jagoan. Mereka didandani dengan accessories tertentu, kesannya jadi hebat. Pada permainan kartupun, ‘black hole’ atau ‘hell’ dapat tampil sebagai pemenang. Ini adalah bentuk kemasan ‘lipstick dan kutek’ pada hantu. Akibatnya sedikit demi sedikit anak-anak bisa kehilangan naluri salah dan benar, mana yang harus diikuti, mana yang harus dihindari. Memprihatinkan, tetapi begitulah, generasi jaman sekarang dihadapkan pilihan dunia yang kelihatannya menggiurkan: pesta hura-hura, film-film porno, drug, tinggal bersama sebelum nikah, perkawinan sesama jenis, dst. Mungkin hal itu tidak terjadi jika sejak awal anak-anak diajar bahwa meskipun hantu diberi lipstick, tetaplah hantu! Perbuatan salah sekalipun dikemas menarik dan kelihatannya OK, tetaplah perbuatan dosa.

Berani tampil beda untuk kebenaran

Saya mempunyai teman sekelas seorang biarawati di sini. Dia bercerita pada saya bahwa ia pernah diundang makan di restoran. Temannya yang mengundang dan suster itu tidak tahu bahwa ada pesta Halloween di restoran itu. Jadi waktu suster itu datang, ia dikira ‘suster gadungan’; yaitu orang biasa yang memakai kostum biarawati untuk datang ke pesta. Orang-orang menyambutnya dengan tawa, namun setelah suster itu berkata, “Well, I’m the real Sister…” (Saya suster sungguhan),  mereka berhenti tertawa.

Memang kadang dalam pergaulan, dibutuhkan keberanian untuk menunjukkan kebenaran dan iman kita. Contoh sederhana, jika kita pergi makan di tempat umum, beranikah kita berdoa membuat tanda salib sebelum dan sesudah makan? Atau bagi anda yang bekerja, jika ada ajakan ‘entertainment’ yang tidak sehat, beranikah anda menolaknya? Jika ada orang menawari anda uang suap, beranikah anda berkata ‘tidak’? Beranikah kita memilih kebenaran karena kita pengikut Kristus, walaupun taruhannya adalah: dunia tidak akan lagi bersahabat dengan kita…

Siapa tokoh idolamu?

Perayaan Halloween yang lebih disukai daripada perayaan orang kudus sebenarnya menggambarkan penurunan hasrat untuk belajar dari para orang kudus. Santo/santa tidak lagi dilihat sebagai teladan sehingga orang tertarik untuk membaca kisah hidup mereka. Peran mereka digantikan dengan tokoh film fiksi atau film kartun. Hal ini mungkin pantas kita renungkan: kita lebih tahu riwayat Mother Teresa atau cerita spiderman? Paus Yohanes Paulus II atau Harry Potter? Anak-anak lebih senang dibacakan cerita St. Francis atau dongeng Power ranger?

Culture of death vs Culture of life

Sebenarnya, ini adalah ucapan Paus Yohanes Paulus II tentang dunia sekarang ini. Dan sesungguhnya ini terlihat juga dalam perayaan Halloween, walaupun mungkin bagi kita tidak masuk akal: bagaimana sampai orang lebih tertarik merayakan kematian dari pada kehidupan kekal. Mungkin memang diperlukan usaha lebih keras untuk mempromosikan budaya kehidupan/ ‘culture of life’. Di Amerika ini ‘culture of death’ kelihatan nyata bukan saja dari pesta Halloween, tetapi juga dari realita masyarakat: angka aborsi yang tinggi karena dilegalkan pemerintah, belum lagi promosi penggunaan alat kontrasepsi bahkan terhadap anak-anak remaja. Betapa besar peran orang tua jaman sekarang, sebab mereka memiliki tanggung jawab mendidik anak-anak agar tidak terjatuh dalam ‘culture of death’ itu!

all saintsSepupu saya dan suaminya berjuang keras mendidik anak-anak untuk memilih ‘culture of life’. Mereka disekolahkan di sekolah Katolik yang tradisional, yang merayakan All Saints Day dan bukan Halloween. Anak-anak memakai kostum santa/ santo; dan di hadapan semua murid, setiap mereka diharuskan menceritakan riwayat hidup santa/ santo yang mereka pilih.

Sepupu saya dan suaminya dengan setia membacakan pada anak-anak kisah-kisah Kitab Suci setiap hari, dan mengajak anak-anak berdoa bersama sebelum tidur. Mereka berdoa bersama sebelum makan, keponakanbahkan mulai sedikit demi sedikit mengajar mereka doa spontan, walaupun mereka baru berumur 6, 4 dan 2 tahun. Cukup mengejutkan saya, bahwa keponakan saya yang baru berumur 4 tahun dapat berdoa “I pray for the end of abortion that kills babies…” (Saya berdoa agar tidak ada lagi praktek aborsi yang membunuh bayi-bayi). Keponakan saya itu tidak mengerti persis apa itu aborsi, tetapi dia sudah mengetahui bahwa itu perbuatan keji yang membunuh bayi.

Suatu permenungan adalah, sejauh mana kita telah berusaha mendidik anak-anak dalam iman? Jika anda belum berkeluarga, sejauh mana anda mempunyai niatan yang teguh untuk membentuk keluarga yang beriman? Sejauh mana aku berjuang untuk mendukung budaya kehidupan/ ‘culture of life’? Apakah aku menghargai kehidupanku sendiri? Apakah aku melihat anak-anak sebagai berkat atau beban?

All Saints Day, All Souls Day

Saudara dan saudariku, jangan sampai Halloween mengaburkan makna peringatan di awal bulan November ini. Mari kita memperingati hari para orang kudus dan hari arwah dengan sikap yang hormat. Peringatan ini harusnya membuat kita menyadari bahwa hidup kita di dunia hanyalah sementara, dan kita semua berjuang untuk menuju ke surga. Kita melihat kepada mereka yang terlebih dahulu sampai di sana, dan memohon doa pada Tuhan agar suatu hari kitapun berjumpa dengan mereka dalam kehidupan kekal. Kita mendoakan mereka yang masih dalam masa pemurnian di Api Penyucian, agar mereka dapat segera bergabung dalam kebahagiaan surgawi. Dan pada akhirnya, kita diingatkan untuk selalu bertumbuh di dalam iman dan pengharapan akan kehidupan kekal; yang dijanjikan bagi kita semua yang percaya kepada Allah di dalam nama Yesus Kristus. Kitab Wahyu 7:9-12 menyebutkan:

“Kemudian…aku melihat sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan tahta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Dan dengan suara nyaring mereka berseru: “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas tahta dan bagi Anak Domba!” Dan semua malaikat berdiri….; mereka tersungkur di hadapan tahta itu dan menyembah Allah…” Amin! Puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!”

Ya! Tujuan kita yang terakhir adalah untuk bergabung bersama Para Kudus di surga dalam memuji dan menyembah Tuhan. Sementara menunggu saat yang indah itu, mari kita melihat teladan hidup Para Kudus. Satu kalimat yang perlu kita ingat tentang hidup mereka adalah: Mereka menjadi kudus karena mengasihi… Siapa orang yang harus kukasihi hari ini? Para kudus di surga, doakanlah kami agar lebih dapat mengasihi Tuhan dan sesama kami…

5 3 votes
Article Rating
15 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
An
An
10 years ago

Damai Sejahtera bagi kita, Saya ingin menyampaikan beberapa pertanyaan, yaitu tentang roh jahat, setan, iblis, hantu. Misalnya seperti pada Mat 10:1 Yesus memberi kuasa kepada murid-muridnya untuk mengusir roh-roh jahat. Pada Mat 8:28-34 dikisahkan ada seseorang yang kerasukan setan, dan ketika Yesus akan mengusirnya, setan-setan itu minta dipindah pada sekawanan babi. Tentang iblis yaitu saat Yesus dicobai iblis. Sedangkan mengenai hantu, Matius dan Markus mengisahkan saat Yesus berjalan di atas air dan murid-muridnya mengiranya hantu, dan pada Lukas ketika Yesus menampakkan diri setelah kebangkitanNya, dan Yesus juga mengatakan bahwa hantu itu tidak ada daging dan tulangnya. Pertanyaannya adalah apa perbedaan… Read more »

Rm Didik Bagiyowinadi, Pr
Rm Didik Bagiyowinadi, Pr
Reply to  An
10 years ago

Saudara An yang terkasih, memang ada perbedaan istilah dalam teks asli Injil dalam bahasa Yunani: Yang diterjemahkan dengan Iblis (Mat 4:1: Luk 4:2; Yoh 8:44; 13:2) dalam bahasa Yunaninya: “diabolos”. Iblis yang dimaksudkan di sini agaknya bisa disejajarkan dengan penghulu/pemimpin setan (Yunaninya: daimonia; mis. Mat 9:34).Dia adalah bapa segala dusta (Yoh 8:44). Yang diterjemahkan dengan roh jahat (Mat 10:1; Mrk 1:23; 6:7;Luk 6:18 ) dalam bahasa Yunaninya adalah “pneuma akathartos” yang harafiahnya berarti roh najis/kotor; diyakini roh najis ini bisa merasuki seseorang, bahkan membuat orang menjadi sakit (Luk 13:11). Roh-roh najis ini mengenal siapakah Yesus itu (Mrk 1:24; 3:11; 5:7).… Read more »

Patricia
Patricia
10 years ago

Hai…saya dari Malaysia, terimakasih kerana mengongsikan artikel ini…ada satu ketika dulu budaya haloween in cuba dihidupkan oleh beberapa orang muda di kampung saya namun mendapat tentangan yang hebat sekali dari penduduk setempat dan kami bersyukur kerana setakat ini budaya tersebut tidak lagi dirayakan. Saya sangat mengharapkan agar ada di antara mereka yang cuba membawa budaya tersebut ke sini terbaca artikel ini.
Terima kasih Ingrid kerana penerangan-penerangan yang jelas sekali tentang doa kepada orang kudus..kerana saya juga sering keliru tentang hal ini..

andryhart
andryhart
13 years ago

Menurut saya, kita hanya berdoa kepada Allah dalam nama Yesus yang telah menebus dosa kita. Bersama orang kudus, kita berdoa kepada Allah di dalam perlombaan menuju Allah seperti dikatakan dalam Ibrani 12:1, “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” Kata para saksi dalam perikop ini, menurut pemikiran saya, mengacu kepada orang-orang kudus termasuk Bunda Maria yang telah dikuduskan Allah untuk menjadi tabut perjanjian baru. Karena orang kudus, khususnya Santo-Santa yang menjadi nama Katolik kita ketika kita… Read more »

Julius Santoso
Julius Santoso
13 years ago

Mengapa kita meminta didoakan(perantara) oleh orang kudus di surga?.Dan doa kepada St. Maria?
Mengapa tidak langsung berdoa kepada Tuhan?.
Tambahan
Maaf, jawaban yang sudah ada berdoa kepada orang kudus di web ini saya kurang puas.

Ali
Ali
13 years ago

hai, saya belum pernah ke Amrik. tapi kultur budaya semakin lama umur tradisi maka semakin ‘lari’ dari ‘inti’.
Contohnya di keluarga kami yang punya tradisi makan kue ondel pada setiap menjelang akhir tahun atau makan bak cang (ketupat khas Chinese). itupun dulu kita bikin bak cang susah sekali kalo 1 orang yang buat bisa tidak selesai 1 harian tetapi sekarang sudah gampang alias kita tinggal beli dan nikmati.
padahal inti dari moment itu yakni proses pembuatannya lah yang menjadi erat hubungan tali persaudaraan.
all saints day memang jatuh pada hari apa?. dan kegiatan apa yang dilaksanakan.
trims

Ali
Ali
Reply to  Ingrid Listiati
13 years ago

baik dan saya mengerti. kebetulan tgl 2 nop ini hari minggu. memang waktunya ke gereja. kalo tgl 1 Nov untuk santa/santo lalu berikutnya doa arwah ?. bukankah tiap minggu di gereja selalu kita doakan arwah yang sudah meninggal (biasa dibacakan oleh pastor tapi kalo semua umat cantumkan maka bisa – bisa lama selesainya dan selalu juga kita mohon dosa kita diampuni?. Mungkin karena moment nya yah?. Sampai sekarang saya juga mendoakan arwah ke2ortu saya setiap bulan 2 kali. usul ya, tolong diulas setiap santa/santo selama hidupnya. saya sangat suka sekali. saat ini yang ada di buku agak kurang lengkap. lebih… Read more »

Lia
Lia
Reply to  Ingrid Listiati
12 years ago

Kalau setahu saya bukannya org-org berpakaian seperti hantu karena memang 1 hari sebelum all saints day hantu-hantu keluar ke dunia sehingga mereka ingin para hantu tidak mengganggu mereka? Jadi bukan berarti Halloween menggantikan All Saints Day, tapi itu dua perayaan yang berbeda. Cuma memang di zaman sekarang Halloween sudah lebih mendunia karena tidak terlalu terpaku pada satu agama. Kalau All Saints Day kan merujuk pada agama Katolik. Sedangkan hantu dikenal oleh semua budaya di dunia. Jadi menurut saya bukan berarti Halloween menggantikan All Saints Day, tapi mmg All Saints Day kalah populer dengan Halloween karena “market target” nya lebih banyak.… Read more »

BUDI YOGA PRAMONO
BUDI YOGA PRAMONO
Reply to  Ingrid Listiati
12 years ago

Gereja sekarang sudah banyak dimasuki dengan berbagai ajaran sesat yang terselubung. Saya jadi ingat ;
1.Merpati Putih masuk gereja dgn mengajarkan bahwa manusia punya hawa murni/energi positif atau lainnya [saya tk tau] yg bisa memukul jarak jauh
2.Praktek penyembuhan seorg romo dgn pendulum di bogor atau purworejo.
3. Penyembuhan alternatif di sby , bedah cuma pake cutter , doanya pakai doa Bapa Kami, Salam Maria
4. Pawang hujan dgn pake patung Maria dgn mendaraskan Salam Maria
5. Doa malam/ tuguran? jum’at kliwon dgn mengambil air di sumur kramat di Yogya

saya jadi prihatin , inikah iman kita saat ini ?

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
15
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x