Home Blog Page 315

Penghormatan terhadap Maria, Santa dan Santo

22

Pertanyaan:

Gereja Protestan tidak memberikan penghormatan khusus kepada Bunda Maria. Secara pribadi saya setuju dengan ajaran ini karena Tuhan bisa memakai siapa saja untuk dijadikan alatnya walaupun kita tetap harus menghormati semua alatNya. Tuhan juga selama hidupnya didunia tidak memberikan penghormatan khusus kepada Maria (Yoh 2:4, Mat 12:48-50). Sesuai dengan alkitab, hanya satu orang dimana Yesus memberikan pujian yang luar biasa, yaitu Yohanes Pembaptis (Yoh 11:11). Mengenai penampakan Maria ataupun para santo yang tubuhnya masih utuh walaupun sudah mati ratusan tahun yang lalu terus terang tidak membawa dampak yang berarti buat saya pribadi. Semuanya harus diuji dulu karena iblispun bisa melakukan hal yang dahsyat (II Kor 11:14). Apakah anda yakin bahwa yang menampakkan itu Maria? Darimana anda yakin itu Maria, apakah karena dia berkata,” Saya Maria!”. Mungkin saja itu Maria… tetapi jika kemudian Maria yang lebih menonjol dari Tuhan sendiri. Saya berani katakana,” itu dari setan! Sekarang ini menurut saya ada hal yang lebih dahsyat lagi dimana ada beberapa hamba Tuhan mengatakan dia pernah ke sorga bahkan ke neraka. Di neraka itu ngeri lho… makanya anda harus bertobat. Apakah kemudian anda juga akan memberikan penghormatan khusus seperti kepada Maria? Karena ada orang juga yang bertobat karena pemberitaannya. Saya tidak menjumpai di alkitab dimana para rasul dan jemaat bertobat karena penampakan atau karena melihat hal fenomenal tapi karena Jesus sendiri yang datang dalam kehidupan orang tersebut dan melalui pekerjaan Firman Allah dan Roh Kudus. Apakah santo-santo tsb. lebih besar dari Yohanes Pembaptis, lebih besar dari Paulus terus terang saya tidak merasakan hasil pekerjaan dari santo-santo yang masih utuh badannya tsb.
Salam – Samuel.

Jawaban:

Shalom Samuel,

Sebenarnya alasan Gereja Katolik memberikan penghormatan khusus kepada Bunda Maria adalah karena Allah-lah yang pertama-tama menghormatinya secara khusus. Hal ini pernah saya tuliskan di artikel Maria, Bunda Allah (silakan klik). Prinsipnya, Maria bukan hanya sekedar ‘alat’ saja yang sama dengan para nabi atau para pengkhotbah jaman sekarang. Karena harus diakui, ia adalah seorang yang dipilih sejak semula untuk melahirkan Tuhan Yesus. Jadi beberapa alasan Gereja Katolik menghormati Maria secara khusus dapat kita lihat sebagai berikut:

1. Maria adalah Tabut Perjanjian Baru, yang merupakan pemenuhan dan penyempurnaan tabut Perjanjian Lama. Alkitab menyebutkan bahwa tabut Perjanjian Lama yang berisi Kitab Taurat Musa, dua loh batu kesepuluh Perintah Allah, roti manna dan tongkat Harun; sangat dikuduskan Allah. Semua itu diperintahkan Allah untuk diletakkan di tempat yang disebut sebagai tempat Mahakudus dalam kemah/ bait Allah, dan hanya imam agung yang dapat masuk ke tempat tersebut. Jika imam itu masuk ke sana dalam keadaan tidak kudus maka ia akan mati (Im 22:9). Hal ini dijabarkan dengan sangat mendetail dalam Kitab Perjanjian Lama. Kita membaca Kitab Perjanjian Lama, yang menjabarkan betapa Allah begitu sangat spesifik mensyaratkan bagaimana tabut Perjanjian Lama harus dibuat (Kel 25-31), berapa ukurannya, bahannya, seniman yang membuatnya (Kel 31:1-6), dst . Belum lagi pada waktu tabut perjanjian itu hilang dan kemudian diketemukan pada jaman raja Daud, maka ketika orang yang menopang tabut itu secara tak sengaja menyentuh tabut itu, langsung ia dihukum mati oleh Tuhan, sebab orang itu tidak kudus (2 Sam 6:6-7).Nah, sekarang Maria adalah Tabut Perjanjian Baru. Ia mengandung Sabda yang menjadi manusia (Yoh1:14). Kristuslah Sabda kasih Allah yang tidak lagi tertulis di atas batu, melainkan Sabda yang menjadi daging. Ialah Roti hidup (Yoh 6:35) yang melebihi roti manna. Dengan demikian, tidak mungkin Bunda Maria itu sama seperti orang biasa, Ia pasti dikuduskan Allah yang dengan kekudusan yang lebih sempurna dengan tabut Perjanjian Lama yang berisi ‘benda mati’. Maria dikuduskan oleh karunia rahmat Allah, dan memang demikianlah halnya, seperti yang kita ketahui dalam sapaan malaikat Gabriel saat menyampaikan kabar gembira kepada Maria, “Salam, hai engkau yang dikaruniai (Hail, full of grace)…. engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah… Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah yang Maha Tinggi akan menaugi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah (Luk 1:28, 30, 35).Jadi, jika kita semua mau jujur, seperti apapun orang yang dipakai Tuhan, apakah itu nabi terbesar  atau pengkhotbah manapun yang melakukan mukjizat, atau yang mendapatkan penglihatan ke neraka dan surga sekalipun, tidak ada yang dapat melebihi Maria, yang mengandung Tuhan Yesus, Sang Allah Putera yang menjelma menjadi manusia. Mereka yang menjadi alat Tuhan (entah itu nabi, pengkhotbah, dst) ‘hanya mengandung’ Kristus secara spiritual, namun tidak juga secara jasmani rohani seperti Bunda Maria, sebagai ibu-Nya.

2. Maria adalah ‘murid’ Yesus yang pertama, yang dengan ketaatan dan kesediaannya menjadi ibu Yesus, melaksanakan kehendak Bapa. Mat 12:48-50 yang mengatakan, “Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku? (Who is my mother, and who is my brethern/ brothers?) … Siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-ku perempuan, dialah ibu-Ku,” malah sebenarnya bermaksud memuji Maria sebagai “yang melakukan kehendak Bapa.” Di sini kita ketahui Yesus mempunyai dua maksud, bahwa: Yang pertama, Ia lebih mementingkan hubungan yang bukan sekedar hubungan darah, melainkan hubungan spiritual yang melebihi hubungan darah. Kedua, Ia juga memuji Maria, sebagai ibu-Nya yang mentaati kehendak Bapa; sebab Ia menggunakan kata tunggal “Ibu (mother)”, bukan seperti kata jamak kepada saudara-saudara-Nya (brethern/brothers). Jika posisi Maria tidak istimewa, atau sama dengan semua perempuan lain yang melakukan kehendak Bapa, maka Ia akan mengatakan, “Siapa ibu-ibu-Ku?” (‘My mothers‘)

3. Keistimewaan Maria juga dilihat dari perannya untuk membawa orang lebih dekat kepada Yesus. Pada peristiwa perkawinan di Kana, saat Bunda Maria mengatakan pada Yesus bahwa mereka kehabisan anggur, dan Yesus sepertinya awalnya tidak bermaksud mengadakan mukjizat, namun oleh permohonan Maria, Yesus melakukannya juga (Yoh 2:1-11). Perkataan Yesus kepada Maria pada saat itu diterjemahkan dalam Alkitab bahasa Indonesia sebagai, “Mau apakah engkau daripadaKu, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Sedangkan pada Jerusalem Bible yang diakui oleh semua orang Kristen, kalimat sesungguhnya adalah, “Woman, why have you turn to Me? My hour has not yet come.” Jadi seharusnya bukan ‘ibu’, tetapi ‘perempuan’. Sapaan ini tentu bukan sapaan lazim seorang anak kepada ibunya. Namun, kata ‘perempuan’/ ‘woman’ di sini adalah untuk menunjukkan bahwa Maria adalah seorang ‘perempuan’ yang dijanjikan oleh Allah sejak semula untuk mengandung Yesus yang akan mengalahkan Iblis (Kej 3:15); dan Maria adalah seorang ‘perempuan’ yang dipercayakan Yesus sebelum wafat-Nya di kayu salib kepada murid yang dikasihi-Nya (Yoh 19:26). Maria adalah ‘perempuan’ yang disebutkan di dalam kitab Wahyu (Why 12). Maka jika Yesus adalah Adam yang baru; Maria adalah Hawa yang baru, yang dipercayakan Kristus menjadi ibu para murid yang dikasihi-Nya, yaitu sebagai Bunda Gereja.

4. Gereja Katolik sangat berhati-hati untuk menyatakan penampakan Bunda Maria di suatu tempat itu termasuk yang otentik (sungguh terjadi) atau tidak. Penampakan di Lourdes (1858) misalnya membutuhkan waktu empat tahun baru diakui oleh pihak Gereja setempat (1864), setelah memang terjadi banyak mukjizat di tempat itu. Pada penampakan ini,  Bunda Maria menyatakan dirinya sebagai “Immaculate Conception” (Perawan yang dikandung tidak bernoda), kepada Bernadette Soubirous, seorang gadis desa yang buta huruf. Ini merupakan konfirmasi dari doktrin Maria yang dikandung tidak bernoda, yang dikeluarkan Gereja Katolik oleh Bapa Paus Pius IX pada tahun 1854. Lebih lanjut mengenai makna doktrin ini telah saya tuliskan di artikel Maria dikandung tanpa noda: apa maksudnya? (silakan klik).Penghormatan kepada Maria tidak pernah menjadi lebih utama dari pada penghormatan kepada Yesus. Karena Gereja Katolik selalu melihat Bunda Maria sebagai Bunda yang menghantar kita kepada Yesus. Hal ini sesuai dengan sikap Maria yang selalu mengarahkan kita kepada Yesus Puteranya, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu.” (Yoh 2:5).Jika Samuel pernah mengunjungi Lourdes, anda akan melihat bahwa ada banyak bukti mukjizat kesembuhan yang sangat luar biasa terjadi di sana, (dokumennya dapat dilihat oleh para turis) yang telah dikonfirmasi oleh pihak dokter sebagai sesuatu ‘mukjizat’ yang tidak dapat dijelaskan secara medis (karena tempat berziarah berdekatan dengan rumah sakit yang dapat menguji kesembuhan tersebut, sehingga bukan rekayasa).  Ini tentunya suatu kenyataan yang cukup menguatkan; bandingkan dengan menjamurnya video kesembuhan para pengkhotbah ternama di u-tube yang ternyata merupakan rekayasa. Sekarang tinggal berpulang kepada penilaian kita, manakah yang dapat kita katakan sebagai buah pekerjaan Tuhan, mana yang bukan. Sebab, memang saya juga setuju bahwa Iblis juga dapat melaksanakan hal yang dashyat (2 Kor 11:14).

5. Demikian halnya dengan para Santa dan Santo (Orang kudus). Mereka memang manusia biasa seperti kita, namun mereka menjalankan hukum kasih sampai ke tahap ‘heroicdegree. Mereka orang yang rela ‘mati’ terhadap diri sendiri, demi kasih kepada Yesus dan sesama. Jika kita membaca riwayat hidup orang kudus, contoh riwayat Fransiskus dari Asisi, Bernadette, Theresia dari Avilla, Bunda Teresa, Padre Pio, dll, kita akan melihat bagaimana mereka adalah orang-orang yang telah meninggalkan segala-galanya untuk mengikuti Yesus, mengikuti ajaran Yesus kepada orang muda yang kaya raya itu (lihat Mrk 10:21). Memang, dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita secara rohani masih sangat jauh jika dibandingkan dengan para kudus itu. Jika kenyataannya ada orang yang tidak terinspirasi oleh hidup mereka, tidak mengaburkan kenyataan bahwa kehidupan iman mereka merupakan kesaksian hidup akan bagaimana seseorang dapat meninggalkan segala sesuatunya untuk Tuhan dan bagaimana Tuhan dapat berkarya di dalam hidup mereka untuk membawa banyak orang kepada keselamatan di dalam Yesus Kristus. Tak jarang dari para kudus itu (contohnya St. Theresia dari Avila, Faustina) juga diberi penglihatan tentang neraka.  jadi penglihatan seperti itu bukan hal yang baru terjadi sekarang ini. Para orang kudus yang masih utuh jasadnya memang tidak lebih besar daripada Yohanes pembaptis, ataupun para rasul, namun mereka sungguh dipilih oleh Tuhan menerima berkat mukjizat ini untuk membuka mata kita akan perbuatan Tuhan yang dinyatakan-Nya kepada para hamba-Nya, bahkan sampai sekarang ini. Bahwa hal ini tidak istimewa bagi sebagian orang, tidak menghapus kenyataan bahwa keutuhan jasad mereka merupakan hal yang istimewa dan tidak terjadi pada semua orang.

6. Maka perbedaan yang mendasar antara Gereja Katolik dan gereja Protestan memang adalah dalam hal pengantaraan (mediation). Keduanya memegang bahwa Kristus adalah pengantara yang esa dan satu-satunya (1 Tim 2:5) namun Gereja Katolik tidak memandang pengantaraan Yesus sebagai sesuatu yang eksklusif, melainkan yang inklusif/ melibatkan juga pengantaraan Maria, para kudus dan bahkan semua umat beriman dengan derajat yang berbeda-beda. (Bukankah kita semua juga dapat dipakai untuk menjadi alat perantaraan sesama untuk datang kepada Yesus?) Perantaraan mereka (para kudus) itu bukan ‘saingan’ pengantaraan Yesus, melainkan mendukung ‘pengantaraan Yesus’ yang esa dan satu-satunya itu. Lebih lanjut mengenai hal ini silakan baca Doa dan devosi (silakan klik). Pandangan ini umumnya tidak merupakan pandangan gereja Protestan.

Demikianlah yang dapat saya tuliskan tentang Maria dan para kudus (Santa/ Santo). Semoga hal di atas dapat menjadi bahan masukan bagi Samuel tentang pandangan Gereja Katolik tentang Maria dan Para Orang Kudus, yang semuanya mendukung karya Penyelamatan Kristus.

Adakah Tempat Bagi-Nya di Hatimu pada Hari Natal

27
Selamat Datang Sang Penyelamat

“Ketika mereka di situ, tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” (Luk 2:6-7)

Natal di kandang…

Bau kandang. Itulah yang menjadi kesan pertama saya, ketika menghadiri tunil Natal yang diadakan oleh para suster Fransiskan di Alabama – USA, pada tahun 2006. Ya, mereka mengadakan tunil tersebut di sebuah gudang, yang telah ‘disulap’ menjadi kandang. Betul-betul kandang: dengan binatang-binatang, seperti kuda, sapi, kerbau dan domba, dan dengan aroma yang ‘alamak’ tak terlupakan. Herannya, semua binatang tersebut tidak berisik, seolah mereka tahu bahwa malam itu ada pertunjukan yang sangat khusuk. Para penonton yang jumlahnya sekitar 30 orang datang dan duduk di bangku panjang tanpa sandaran yang telah ditutupi jerami, demikian pula dengan seluruh permukaan lantai. Mereka semua duduk tanpa ribut-ribut. Hanya mungkin sebagian anak-anak yang dengan penuh rasa ingin tahu menghampiri pagar ternak yang letaknya cukup berdekatan dengan tempat duduk mereka, dan hewan-hewan itupun sedikit melenguh sesekali. Selebihnya, hanya keheningan.

Pertunjukan Natal berlangsung sangat indah. Para suster menyanyi dengan sangat merdu, demikian dengan cara penuturan kisah Natal. Tapi bukan hal itu yang paling menarik perhatian saya. Sebab, saya terhenyak oleh kenyataan ini: Ya, di tempat seperti inilah Tuhan Yesus lahir 2000 tahun yang lalu. Ia yang adalah empunya Kerajaan Surga dan seluruh semesta alam, merendahkan diri, untuk mengambil rupa seorang hamba. Karena kasih-Nya kepada anda dan saya, Yesus melepaskan segala sesuatu, bahkan kemuliaan-Nya sebagai Allah, untuk menjelma menjadi manusia, seorang bayi tak berdaya, dan lahir di tempat yang paling hina: sebuah kandang hewan!

Kesederhanaan dan kemiskinan yang dipilih Allah

Natal memang merupakan gambaran nyata tentang bagaimana Allah memilih kemiskinan dan kesederhanaan untuk menyapa manusia yang dikasihi-Nya. Dari kandang Natal, kita melihat bagaimana Kristus sendiri memenuhi ajaran pertama yang diajarkan-Nya pada khotbah di bukit, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat 5:3). Pertanyaannya, adalah apakah arti ‘miskin di hadapan Allah’ ini? Banyak orang menghubungkannya dengan ketidak-terikatan kita dengan harta duniawi, kemewahan dan kekayaan. Maka tak jarang orang berpendapat, ini hanya mampu dilakukan oleh para biarawan biarawati. Padahal tidak demikian halnya, sebab dalam kondisi kita masing-masing kita dapat menerapkan ‘ketidak-terikatan’ kepada kekayaan. Suatu permenungan adalah, misalnya, jika kita dihadapkan pilihan untuk menggunakan uang kita yang terbatas, maka apakah kita memilih untuk kenyamanan kita, ataukah untuk menolong orang lain yang lebih membutuhkan? Jika kita bisa membeli barang yang mahal, apakah kita serta-merta membelinya, atau kita berpikir untuk membeli barang yang lebih murah dan sederhana, dan menggunakan sisa uangnya untuk menyumbang aksi sosial gereja, misalnya? Apakah kita bijaksana menggunakan kekayaan kita untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak begitu perlu, namun hanya untuk koleksi saja, atau demi mengikuti ‘mode’? Mampukah kita bersuka cita selalu, meskipun dalam keadaan kekurangan? Ini adalah suatu renungan kita semua, sebab jika kita sangat terikat pada harta milik kita, maka sesungguhnya di hati kita tidak ada ruang buat Tuhan.

Namun sebenarnya, ‘miskin’ di hadapan Allah juga berarti bahwa kita mengakui bahwa Allah-lah yang memberikan segala sesuatu kepada kita. Jadi, segala sesuatu yang kita pikir kita miliki, sesungguhnya dari Allah, dan sudah selayaknya kita pergunakan untuk memuliakan Dia. Kesehatan, pekerjaan, bakat dan kepandaian, harta milik, keluarga, dan seterusnya semestinya kita arahkan untuk memuji Tuhan, sebab semuanya itu adalah pemberian Tuhan. Mari kita bertanya pada diri kita sendiri: Siapkah kita jika suatu saat, Tuhan mengizinkan sesuatu terjadi sehingga kita tidak lagi memiliki semua itu? Masih dapatkah kita bersyukur kepada-Nya? Sebab, justru pada saat kita kehilangan ‘milik’ kita, kita akan dibawa pada suatu kesadaran bahwa yang terpenting bagi kita adalah Tuhan sendiri. Karena Tuhan-lah yang menjadi sebab mengapa kita hidup, dan Dia-lah juga yang menjadi tujuan akhir hidup kita. Ia melimpahi kita dengan rahmat, agar kita dapat menggunakan hidup ini untuk memberitakan kasih dan kebaikan-Nya agar semakin banyak orang mengenal dan mengasihi-Nya. Ia menciptakan kita untuk tujuan yang mulia, untuk mengangkat kita menjadi milik-Nya dan bersatu dengan-Nya dalam Kerajaan Surga. Inilah yang menjadi alasan mengapa Allah mengirimkan Yesus Putera-Nya yang kita peringati pada hari Natal. Di dalam Yesus, Allah merendahkan diri, agar kita semua ditinggikan. Dengan kerendahan hati-Nya, Allah menunjukkan pada kita betapa Ia mengasihi kita semua, agar kitapun dapat belajar untuk mengasihi-Nya dan mengasihi sesama kita.

Dengan melihat ke kandang Natal, kita sungguh dapat melihat betapa dengan kerendahan hati-Nya, Yesus menghancurkan dosa pertama Adam, yaitu kesombongan. Dan sesungguhnya, Ia-pun mengundang kita untuk meninggalkan kesombongan kita. Mari kita tengok ke dalam hati kita masing-masing: apakah masih ada kesombongan di sana? Misalnya, menganggap berkat yang ada pada kita sebagai hasil karya sendiri? Atau menganggap diri paling baik, dan paling benar? Atau berkeras dengan pandangan sendiri, dan paling cepat menghakimi orang lain? Atau menganggap diri lebih mengetahui segala sesuatu daripada Tuhan? Bahkan menciptakan sendiri gambaran tentang Allah? Juga, marilah dengan jujur kita melihat, apakah kita memiliki kasih akan Tuhan yang melebihi dari semuanya? Mari, pada hari Natal ini, kita memandang ke palungan di mana Yesus dibaringkan, dan merenungkan misteri kasih Allah ini: Tuhan meninggalkan segala sesuatu untuk datang kepada anda dan saya. Apakah anda dan saya juga rela meninggalkan segala sesuatu yang mengikat kita untuk datang kepada-Nya?

Mari melihat teladan Bunda Maria dan Santo Yosef

Teladan kesederhanaan itu sesungguhnya kita lihat begitu nyata pada Bunda Maria dan Santo Yosef. Saya membayangkan seandainya saya mengikuti perjalanan Bunda Maria dan Santo Yosef dari Nazareth ke Bethlehem, ikut berjalan di belakang keledai mereka. Saya membayangkan, pasti mereka sungguh sangat lelah. Hari sudah malam, namun dari penginapan satu ke penginapan yang lain, tidak ada yang bersedia menerima mereka. Alangkah tragisnya, bahwa kelahiran Tuhan semesta alam ditolak oleh umat ciptaan-Nya, sampai Ia harus lahir di kandang yang bau. Namun, kelihatannya hal itu tidak mengambil suka cita Bunda Maria, Yosef, dan para gembala. Oleh kabar malaikat, para gembalapun datang menghampiri dan menyembah bayi Yesus yang dibaringkan di dalam palungan. Nampaknya memang Allah memilih orang-orang yang sederhana dan miskin untuk menerima kabar sukacita ini: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus…”(Luk 2:11). Mereka yang miskin hatinya di hadapan Allah itulah yang dapat melihat kemuliaan Allah di dalam kesederhanaan. Dan bagi mereka yang membuka hatinya, mereka dapat menerima misteri Allah yang menjelma menjadi manusia. Kelahiran seorang bayi mungil di dalam kandang disertai oleh penampakan sejumlah besar bala tentara surga yang memuliakan Allah dengan kidung pujian, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk 2:14). O, betapa kemiskinan manusia telah dipakai Tuhan untuk menyatakan kemuliaan-Nya dan sukacita yang besar!

Dalam kesederhanaan, Bunda Maria memandang Yesus Puteranya yang terbaring di palungan. Mungkin ia melihat wajah bayi yang tak berdaya itu dengan kasih sayang dan hormat. Ada perasaan yang tak terlukiskan di sana. Sang bayi itu adalah anak yang lahir dari rahimnya, namun bayi itu juga adalah Tuhan yang menyelamatkannya. Mungkin ia mengingat kembali perkataan malaikat Gabriel, bahwa bayinya yang dilahirkan di tempat yang miskin ini akan menjadi raja, dan Kerajaan-Nya tidak berkesudahan… Mungkin ia mencium kaki dan wajah bayi itu, dan merenungkan betapa ia telah mencium kaki dan wajah Tuhan… Ya, dalam keheningan malam itu, “Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkan-Nya” (Luk 2:19)…. akan segala perbuatan Tuhan yang dinyatakan kepadanya, dan yang akan dinyatakan kepadanya di masa yang akan datang….

Mari seperti Bunda Maria kita merenung sejenak di masa Natal ini. Bahwa Allah hadir di dalam kesederhanaan dan kemiskinan. Cukuplah sudah karunia Allah bagi kita, sebab justru di dalam kelemahanlah kuasa Tuhan menjadi sempurna (2 Kor 12:9). Maka, seperti Bunda Maria, mari kita bersuka cita di dalam kelemahan kita dan dengan sikap demikian kita dapat sungguh-sungguh berbahagia (lih. Luk 1:47-48).

Mary, did you know?

Kesyahduan Natal membawa ingatan saya kembali ke tunil Natal di kandang Alabama. Mata saya terpejam saat merenungkan lagu, “Tahukah engkau, Maria?” Lirik lagu ini sangat menyentuh hati saya, karena menggambarkan betapa dalamnya misteri kasih Allah untuk menyelamatkan manusia yang secara nyata dimulai dari penjelmaan-Nya menjadi manusia di kandang Natal. Bunda Maria memberikan dirinya bagi pelaksanaan mukjizat ini: yaitu melalui kesediaannya, Allah menjelma menjadi manusia. Allah melaksanakan rencana keselamatan-Nya dengan melibatkan ketaatan Maria untuk mengikuti kehendak-Nya. “Maria, tahukah engkau, bahwa anak yang ada di dalam pelukanmu, adalah Tuhan yang Maha Besar?”, demikianlah akhir dari lagu itu…

Mari kita mohon kepada Tuhan, agar kita dapat memiliki sikap hati seperti Maria: sederhana serta memiliki hati terbuka dan taat untuk menerima rencana Tuhan. Semoga kita dapat belajar semakin merendahkan hati di hadapan Tuhan, agar kita dapat melihat dengan mata iman, bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita, betapapun sederhananya, merupakan anugerah istimewa dari Tuhan: suatu kesempatan bagi kita untuk turut mengambil bagian di dalam rencana keselamatan Allah. “Selamat Ulang Tahun ya Yesus. Terima kasih atas kasih-Mu yang besar, sehingga Engkau mau lahir di dunia ini. Mari, tinggallah di hatiku, dan perbaharuilah aku di dalam iman, pengharapan dan kasih….”

Selamat Natal dan Tahun Baru 2009 kepada semua saudara- saudari dalam Kristus. Semoga kelahiran-Nya kembali di hati kita membawa damai dan suka cita!

Teriring salam kasih dari https://katolisitas.org

Mary, did you know
that your baby boy will one day walk on water?
Did you know
that your baby boy will save our sons and daughters?
Did you know
that your baby boy has come to make you new?
This child that you’ve delivered
Will soon deliver youMary, did you know
That your baby boy will give sight to a blind man?
Did you know
That your baby boy will calm a storm with his hand?
Did you know
That your baby boy has walked where angels trod?
And when you kiss your little boy
You’ve kissed the face of GodMary, did you know?
The blind will see
The deaf will hear
And the dead will live again
The lame will leap
The dumb will speak
The praises of the Lamb

Mary, did you know
That your baby boy is lord of all creation?
Did you know
That your baby boy will one day rules the nations?
Did you know
That your baby boy is Heaven’s perfect Lamb?
This sleeping child you’re holding
Is the Great “I am”

Maria, tahukah engkau
Bahwa kelak puteramu akan berjalan di atas air?
Tahukah engkau
Bahwa puteramu akan menyelamatkan putera dan puteri kami?
Tahukah engkau
Bahwa puteramu datang untuk memperbaharui engkau?
Anak ini yang kau lahirkan
Kelak akan membebaskan engkauMaria, tahukah engkau
Bahwa puteramu akan menjadikan orang buta melihat?
Tahukah engkau
Bahwa puteramu akan meredakan badai dengan tangan-Nya?
Tahukah engkau
Bahwa puteramu telah berjalan di tempat para malaikat berpijak
Dan pada saat engkau mencium anakmu
Engkau telah mencium wajah TuhanMaria, tahukah engkau?
Orang buta akan melihat
Orang tuli akan mendengar
Dan orang mati akan hidup kembali
Orang lumpuh akan melompat
Orang bisu akan berkata-kata
Pujian kepada Anak Domba Allah

Maria, tahukah engkau
Bahwa puteramu adalah Tuhan segala ciptaan?
Tahukah engkau
Bahwa puteramu kelak akan memerintah semua bangsa?
Tahukah engkau
Bahwa puteramu adalah Anak Domba Surgawi yang sempurna?
Anak ini yang tertidur dipelukanmu
adalah, “Allah yang Besar” ….

Martin Luther menentang Gereja Katolik

5

Pertanyaan:

Saya juga ingat waktu SMP mendapat pelajaran sejarah bagaiman Martin Luther menentang gereja Katholik karena tidak sesuai dengan Firman Allah mengenai surat penghapusan dosa. Apakah Tuhan akan mengatakan demikian,”Kamu boleh melanggar Firman Allah karena kamu Katholik?” Saya rasa tidak. Firman Allah di atas segala aliran gereja.
Salam – Samuel.

Jawaban:

Shalom Samuel,

Berikut ini adalah jawaban dari saya untuk point E.

Tuhan memang tidak pernah dan tidak akan pernah mengatakan bahwa kamu boleh melanggar Firman Allah karena kamu Katolik. Bahkan bukanlah Gereja Katolik, kalau ajaran dan doktrin Gereja Katolik bertentangan dengan Kitab Suci. Kitab Suci, seperti yang saya coba jelaskan adalah satu dari tiga pilar kebenaran Gereja, yang terdiri dari: Alkitab, Tradisi Suci, dan Magisterium Gereja. Dan ketiga hal tersebut tidaklah bertentangan, bahkan saling melengkapi, dimana yang satu tidak akan lengkap tanpa yang lain.

Mari sekarang kita melihat kasus penyelewengan tentang surat penghapusan dosa.

Saya pernah menjawab tentang apa yang dipertentangkan oleh Martin Luther tentang indulgensi di sini (silakan klik), dimana saya menjawabnya sebagai berikut:

I. Apakah indulgensi (penghapusan siksa dosa).

  1. Pertama-tama saya akan memberikan arti apa sebenarnya arti indulgensi. Hal ini disebutkan di dalam Katekismus Gereja Katolik 1471 “Ajaran mengenai indulgensi [penghapusan siksa dosa] dan penggunaannya di dalam Gereja terkait erat sekali dengan daya guna Sakramen Pengampunan. Indulgensi adalah penghapusan siksa-siksa temporal di depan Allah untuk dosa-dosa yang sudah diampuni. Warga beriman Kristen yang benar-benar siap menerimanya, di bawah persyaratan yang ditetapkan dengan jelas, memperolehnya dengan bantuan Gereja, yang sebagai pelayan penebusan membagi-bagikan dan memperuntukkan kekayaan pemulihan Kristus dan para kudus secara otoritatif.”
  2. Untuk mengenai pernyataan di atas, kita harus mengetahui akan akibat ganda dari dosa, yaitu: 1) dosa berat membawa kita kepada siksa dosa abadi di neraka, 2) dosa ringan membawa kita kepada siksa dosa sementara. Silakan membaca Sakramen Pengampunan Dosa (bagian 1, 2, 3, 4) . Setelah dibaptis, seorang Katolik dapat mengakukan dosanya dan terlepas dari siksa dosa abadi di neraka, namun siksa dosa sementara tinggal yang pada akhirnya akan membawa pendosa kepada api penyucian (topik ini akan ditulis tersendiri di kemudian hari).
  3. Kenapa Gereja mempunyai otoritas untuk mengampuni dosa? Karena otoritas ini diberikan oleh Kristus sendiri yang mengatakannya kepada Petrus “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat 16:19). Dan kepada para rasul, Ia memberikan kuasa untuk mengampuni dosa, dan apa yang terikat di dunia akan terikat di surga, dan yang dilepaskan di dunia akan terlepas juga di surga (lih Mat 18:18). Dan Yesus yang mengunjungi para rasul, setelah kebangkitan-Nya, memberikan kuasa kepada mereka untuk mengampuni dosa (lih. Yoh 20:23).
  4. Dengan indulgensi, maka Gereja memberikan suatu tanda kasih kepada umat-Nya, yaitu suatu “spiritual goods”, agar umatnya dapat terlepas dari siksa dosa sementara. Ini sama saja kalau di dalam keluarga, kalau orang tua mempunyai kekayaan duniawi, maka mereka akan berusaha membagikannya kepada anak-anaknya. Dalam hal ini, Gereja mempunyai kekayaan rohani, yang dititipkan sendiri oleh Kristus. Yang menjadi masalah adalah kalau Gereja tidak mendapatkan mandat dari Kristus, namun memberikan indulgensi. Namun dalam kenyataannya, Kristus sendiri yang memberikan mandat kepada Gereja. Dan setia kepada mandat ini, Gereja memberikan indulgensi kepada umatnya.
  5. Saya harap sampai tahap ini, Samuel setuju bahwa Gereja diberi kuasa oleh Yesus untuk memberikan indulgensi. Dan Martin Luther sendiri tidak terlalu menentang doktrin ini, yang paling ditentangnya adalah praktek dari indulgensi di masa itu.

II. Bagaimana seseorang mendapatkan indulgensi dan penerapannya di abad pertengahan:

  1. Sekarang mari kita melihat, bagaimana sebetulnya seseorang mendapatkan indulgesi. Tidak pernah Gereja mengajarkan bahwa indulgensi dapat diperoleh dengan uang. Gereja senantiasa mengajarkan bahwa indulgensi tidak dapat dibeli. Gereja mengajarkan bahwa seseorang mendapatkan indulgensi dengan: 1) perbuatan kasih, 2) perbuatan baik: doa, berpuasa, dan memberikan sedekah. dan semuanya harus dilakukan dengan disposisi hati yang benar. Memberikan uang tidak dapat membeli indulgensi, memberi uang dengan dasar kasih membuat seseorang mendapatkan indulgensi. Kita melihat contoh bagaimana Yesus sendiri memuji persembahan janda miskin (Mk 12:41-44; Lk 21:1-4). Yesus memujinya bukan karena janda miskin memberikan uang, namun karena disposisi hatinya. Sebaliknya Gereja juga tidak memberikan indulgensi kalau seseorang memberikan uang, namun sebagai ungkapan kasih. Semuanya tergantung dari disposisi hati. Kalau diperhatikan, semua indulgensi selalu mencantumkan “disposisi hati yang benar“.
  2. Mari kita lihat prakteknya di abad pertengahan, yang pada waktu itu Gereja sedang membangun Gereja St. Petrus. Memang ada penyalahgunaan penerapan indulgensi dalam prakteknya, namun ini tidak menghapus akan kebenaran bahwa Gereja mempunyai kuasa untuk memberikan indulgensi.
  3. Paus Leo X (1513-1521), memberikan indulgensi kepada orang-orang yang memberikan sumbangan untuk pembangunan Gereja St. Petrus, namun bukan karena mereka memberi uang, tetapi karena sebagai ungkapan perbuatan baik. Dan bukan itu saja, yang ingin mendapatkan indulgensi harus memenuhi kondisi yang disebutkan diatas, seperti: doa, berpuasa, dan sedekah, yang semuanya harus dilakukan dengan disposisi hati yang benar.
  4. Dan kemudian beberapa konsili, the Councils of Fourth Lateran [1215], Lyons [1245 and 1274] and Vienne [1311-1312], The Council of Trent [1545-1563] melarang dan mengecam akan praktek-praktek indulgensi yang menyalahi ajaran Gereja.
  5. Jadi memang ada yang melakukan penyelewengan dalam praktek memberikan indulgensi, namun adalah tidak benar dengan menyalahkan seluruh Gereja Katolik, dan juga ajaran Gereja Katolik tentang hal ini, yang sebenarnya bersumber kepada Alkitab. Ini sama saja dengan menyalahkan negara Indonesia karena beberapa warga negara Indonesia membuat kesalahan, walaupun kesalahan itu juga tidak sesuai dengan undang-undang negara Indonesia.

Demikianlah apa yang dapat saya sampaikan kepada Samuel tentang doktrin indulgensi. Gereja Katolik, oleh kuasa yang diberikan oleh Kristus,  memberikan indulgensi, agar umat-Nya dapat bertumbuh di dalam kekudusan dan dapat mencapai kebahagiaan abadi di surga. Semoga keterangan di atas dapat menjawab keberatan Samuel.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Tidak ada gereja yang sempurna dan masing-masing adalah bait Allah

0

Pertanyaan:

Bingung memilih gereja Protestan mana yang benar? Saya yakin tidak ada satupun didunia gereja yang sempurna, pasti ada kesalahan yang bisa ditemukan. Yang sempurna adalah Tuhan Yesus sendiri dan firmanNya. Alkitab adalah suatu alat ukur untuk mengukur kebenaran jadi selama gereja berdiri di atas kebenaran firman Allah gereja itu benar. Dan ingat kita sendiri adalah gereja (Bait Roh Kudus) seperti tertulis dalam I Kor 6:19-20. “Gereja” inilah yang paling penting untuk dibangun karena bangunan gereja secara fisik bisa rusak, bisa hancur dan tidak kekal. Hal ini bukan berarti kita tidak usah bersekutu dengan umat Tuhan yang lain karena persekutuan merupakan ciri khas dari gereja yang dimulai oleh para rasul untuk saling menguatkan. Namun kita sendiri harus mengukur apakah persekutuan yang kita ikut sesuai dengan Firman Allah atau tidak. Jika tidak, kitapun harus menjauhi persekutuan tsb.
Salam – Samuel.

Jawaban:

Shalom Samuel,

Berikut ini adalah jawaban dari saya untuk point D.

A. Gereja yang benar.

Samuel mengatakan bahwa tidak ada Gereja satupun di dunia ini yang sempurna, dan pasti senantiasa ada kesalahan yang bisa ditemukan. Dan yang sempurna adalah Yesus.

  1. Pertanyaannya adalah, kalau tidak ada gereja satupun di dunia ini yang sempurna, maka bagaimana kita harus memilih gereja? Gereja manakah yang harus kita ikuti? Kalau semua gereja tidak ada yang sempurna (di sini perlu dijelaskan lebih lanjut apa artinya sempurna), maka tidak ada bedanya kita ke gereja yang satu atau ke gereja yang lain. Apakah yang satu lebih sempurna dari yang lain, ataukah lebih sesuai dengan keinginan kita, atau lebih cocok dengan selera atau perasaan kita. Kalau memang hanya Yesus yang penting, berarti seseorang tidak perlu memilih gereja, karena gereja yang lain juga mengajarkan tentang Yesus. Kalau begitu, apakah kriteria seseorang memilih gereja?
  2. Kalau memang Yesus yang menjadi fokus utama, maka seseorang harus benar-benar mencari apakah Yesus mendirikan satu Gereja atau banyak gereja. Tanpa pencarian ini, maka perlu dipertanyakan apakah benar prioritas dari seseorang adalah Yesus.
  3. Lihatlah jawaban di Point C, dimana Gereja Katolik, Gereja yang didirikan oleh Kristus mempunyai empat tanda: satu, kudus, katolik, dan apostolik. Dan untuk lebih jelasnya, silakan membaca beberapa artikel yang berhubungan dengan hal ini: 1, 2 (silakan klik).

B. Alkitab adalah alat ukur untuk mengukur kebenaran.

  1. Kalau memang Alkitab sebagai alat ukur untuk mengukur kebenaran, bagaimanakah terjadi begitu banyak perpecahan, sehingga ada sekitar 28,000 denominasi setelah revolusi gereja oleh Martin Luther, yang mendasarkan ajarannya kepada “Sola Scriptura“. Saya telah memberikan jawaban di sini (silakan klik) bahwa Alkitab saja tidaklah Alkitabiah, yang intinya adalah: Alkitab tidak dapat menafsirkan sendiri, Gereja telah ada sebelum Alkitab terbentuk,hanya Alkitab sebagai satu-satunya pilar kebenaran menyebabkan perpecahan gereja.
  2. Di Alkitab juga tidak ada yang mengatakan bahwa Alkitab adalah satu-satunya alat ukur kebenaran. Banyak orang menggunakan 2 Tim 2:16 untuk membuktikan hal ini. Namun ayat tersebut tidak membuktikan bahwa Alkitab adalah satu-satunya pilar kebenaran. Bahkan Alkitab sebalik mengatakan bahwa tiang dasar kebenaran adalah Gereja, the Church of the living God (1 Tim 3:15).
  3. Samuel mengatakan “Namun kita sendiri harus mengukur apakah persekutuan yang kita ikut sesuai dengan Firman Allah atau tidak. Jika tidak, kitapun harus menjauhi persekutuan tsb.” Kita perhatikan, bahwa untuk mengukur segala sesuatu, walaupun berdasarkan Alkitab, namun tidak lepas dari interpretasi “kita“. Inilah yang membuat ukuran yang diterapkan tidak sama untuk masing-masing orang. Jika yang menjadi tolak ukur untuk memilih Gereja yang benar adalah diri kita sendiri berdasarkan Alkitab saja, maka kita tidak akan pernah menemukan kebenaran tersebut.Dalam Gereja Katolik kata “kita” yang digunakan oleh Samuel, dipercayakan kepada Magisterium Gereja, yang mengukur dan menginterpretasikan Alkitab (tradisi yang tertulis) dan Tradisi Suci. Tanpa ketiga hal tersebut, maka semua penafsiran akan menjadi subyektif.

C. Masing-masing adalah bait Allah dan gereja.

  1. Sangat disesalkan bahwa pengertian gereja sebagai masing-masing pribadi akan membawa kepada perpecahan dan sudah dibuktikan oleh sejarah. Memang setiap orang dapat mengatakan “saya adalah warga negara Indonesia”, namun setiap orang tidak dapat mengatakan “saya adalah negara Indonesia”. Karena dalam kehidupan berbangsa, ada hukum, dimensi sosial, dan hal-hal lain untuk mencapai tujuan bersama (common good).
  2. Samuel mengutip 1 Kor 619-20 yang mengatakan “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu.”Kita masing-masing memang menjadi bait Allah pada saat kita dibaptis dan pada saat kita terus bertumbuh di dalam Kristus, dengan terus mengamalkan kasih, sehingga Tritunggal Maha Kudus tinggal di dalam kita sebagai yang terkasih atau “the beloved“.

    Namun untuk menjadikan gereja hanya sebagai masing-masing pribadi, maka dimensi sosial dan tatanan sosial di dalam Gereja (supernatural society) akan hilang. Ini berarti setiap orang akan bebas untuk berbuat apa saja, termasuk masing-masing pribadi dapat mendirikan gereja. Dalam artikel “Mengapa kita memilih Gereja Katolik”, saya mencoba menegaskan bahwa kita tidak dapat membuat gereja. Gereja sebagai tanda kasih Allah hanya dapat diterima. Kalau kita mendirikan gereja, padalah Kristus sendiri telah mendirikan Gereja, maka kita tidak menghargai pemberian Kristus atau tanda kasih Kristus.

  3. Gereja jauh lebih besar daripada masing-masing pribadi, karena Kristus sendiri yang mendirikan Gereja (Mat 16:18), dimana Gereja menjadi tiang dasar kebenaran (1 Tim 3:15), sehingga Gereja menjadi Sakramen Keselamatan bagi seluruh bangsa. Gereja lahir pada saat darah dan air keluar dari lambung Kristus di kayu salib, dan dimanifestasikan secara penuh pada hari Pentekosta, yang karyanya di dunia ini diteruskan oleh Gereja Katolik (silakan untuk mempelajari sejarah Gereja).Para kudus di surga adalah Gereja yang telah jaya, para jiwa yang ada di api penyucian (silakan baca artikel Api Penyucian) adalah Gereja yang sedang dimurnikan, dan kita semua yang masih berada di dunia ini adalah Gereja yang mengembara. Dan ketiganya diikat oleh Kristus, sebagai kepala Gereja menjadi satu tubuh, karena tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, tidak juga kematian (Rm 8:38-39).
  4. Kita masing-masing pribadi tidak dapat menjadi tiang dasar kebenaran, karena masing-masing dari kita sering salah, sering memilih apa yang kita anggap baik karena sesuatu menyenangkan bagi kita.

Demikian apa yang dapat saya sampaikan untuk menjawab point D. Semoga kita bersama-sama dapat benar-benar menggunakan segala kemampuan kita untuk menemukan Tubuh Mistik Kristus yang benar, yang jauh lebih tinggi dari pada masing-masing pribadi, sehingga kita dapat juga bersatu di dalam Tubuh Kristus, dengan Kristus sendiri sebagai Kepala-Nya. Dan bagi umat Katolik, Tubuh Mistik Kristus adalah Gereja Katolik yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Sekali selamat tetap selamat – tidak Alkitabiah

9

pertanyaan:

Iman Protestan, adalah bahwa setelah seseorang “menerima Tuhan Yesus di dalam hati”, seseorang langsung dijamin masuk surga. Walaupun nantinya berbuat dosa lagi. Alkitab mengatakan bahwa oleh percaya (iman) kepada Tuhan Yesus yang sudah berkorban untuk menghapus dosa dunia, kita diselamatkan (Kis 4:12, Rom 5:8-10,18, Rom 8:10, 1 Kor 15:2-3) dan bukan oleh perbuatan (Rom 4 ) seperti hal nya agama-agama lain. Apakah orang bisa masuk ke sorga jika belum sempat melakukan perbuatan baik hanya percaya kepada Kristus? Bisa… lihat di Luk 23:40-43 dimana seorang penjahat yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus percaya kepadaNya. Penjahat tsb. masuk sorga walaupun ia tetap menerima hukuman sebagai penjahata. Inilah mengapa keselamatan kita adalah “anugrah” dan bukan karena perbuatan kita. Tapi perhatikan bahwa tidak semua mendapatkan anugrah tsb. sb penjahat yang satunya lagi tidak mendapat anugrah tsb. Sekali lagi saya tekankan, bukan iman Protestan atau iman Katholik yang menyelamatkan tetapi iman kepada Tuhan Yesus lah yang menyelamatkan. Dan apakah kemudian kita bisa hidup seenak nya saja setelah mendapatkan anugrah keselamatan itu? Tentu tidak.. Kita harus kerjakan keselamatan itu (Fil 2:12). Mengerjakan keselamatan berarti ada pekerjaan yang harus dilakukan untuk inilah iman harus disertai dengan perbuatan. Apakah rasul-rasul berbuat baik karena untuk mendapatkan keselamatan? TIDAK… mereka sudah diselamatkan dan mereka mengerjakan keselamatan tsb dengan semaksimal mungkin untuk kemuliaan Allah.
Salam – Samuel.

Jawaban:

Shalom Samuel,
Berikut ini adalah jawaban saya untuk point F.

I. Dokrin sekali selamat tetap selamat adalah tidak Alkitabiah.

  1. Samuel mengatakan di point F “Iman Protestan, adalah bahwa setelah seseorang “menerima Tuhan Yesus di dalam hati”, seseorang langsung dijamin masuk surga. Walaupun nantinya berbuat dosa lagi.”Bandingkan dengan perkataan Samuel di point B “Walaupun kita ada dalam suatu gereja yang sangat kudus tetapi kita sendiri tidak mau taat, dengar-dengaran terhadap Firman Tuhan, keselamatan yang sudah kita peroleh juga akan hilang“.
    Pernyataaan samuel di point B dan F adalah saling bertentangan. Jadi manakah pernyataan yang benar?
  2. Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan bahwa seseorang diselamatkan karena hasil perbuatannya. Keselamatan adalah suatu anugerah dari Tuhan, yang mengalir karena penebusan Kristus. Saya telah menjawab hal ini secara panjang lebar di jawaban ini (silakan klik). Gereja katolik mengajarkan bahwa keselamatan adalah suatu yang telah (past), sedang (present), dan akan datang (future):
    • Telah diselamatkan (Rom 8:24; Ef 2:5,8; 2 Tim 1:9; Tit 3:5).
    • Sedang dalam proses (1 Kor 1:18; 2 Kor 2:15; Fil. 2:12; 1 Pet 1:9).
    • Akan diselamatkan (Mt 10:22, 24:13; Mk 13:13; Mk 16:16; Kis 15:11; Rm 5:9-10; Rm 13:11; 1 Kor 3:15; 2 Tim. 2:11-12; Ibr. 9:28).
  3. saya ingin bertanya kepada Samuel hal berikut ini:
    1. Kalau kita berkata bahwa semua yang tidak mengenal Kristus masuk neraka, coba terangkan hal berikut ini: Bagaimana kita begitu yakin bahwa seseorang setelah kedatangan Kristus, yang tinggal di pedalaman Irian Jaya, Kalimantan, dan sampai akhir hayatnya orang tersebut masih tidak mengenal Kristus, pasti masuk neraka. Pertanyaannya, dimanakan keadilan Tuhan? Bukan kesalahan mereka bahwa mereka tidak mengenal Kristus. Kalau saja orang tersebut mendengar tentang Kristus, ada sebagian dari mereka juga akan percaya.
    2. Kalau kita berkata bahwa semua yang tidak mengenal Kristus masuk neraka, coba terangkan hal berikut ini: Bagaimana kita begitu yakin bahwa orang-orang seperti Mahatma Gandhi masuk neraka? Apakah dasarnya? Atau ada yang lebih ekstrim lagi mengatakan bahwa  Bunda Teresa yang terberkati dari Kalkuta masuk neraka, karena beliau tidak maju di dalam “altar call” dan menerima Yesus di depan umum seperti yang terjadi di altar call.
    3. Kalau kita berkata bahwa semua yang telah menerima Kristus pasti masuk surga, coba terangkan hal berikut ini:Orang-orang Kristen atau Katolik yang hidupnya bergelimang dengan dosa sampai akhir hayatnya. Bagaimana seseorang dengan yakin mengatakan “sekali selamat pasti selamat.”

II. Penjahat yang bertobat sebagai bukti akan keselamatan karena percaya kepada Kristus.

saya pernah menjawab pertanyaan tentang hal ini disini (silakan klik). Ada beberapa hal yang saya ingin tekankan.

  1. Penjahat yang bertobat, seperti yang diceritakan di Luk 23:40-43, tidak secara langsung masuk surga. “Firdaus” disini adalah “Limbo of the just“, suatu tempat dimana orang-orang yang tidak masuk neraka sebelum kedatangan Kristus, dan mereka juga belum dapat masuk surga, karena pintu surga belum terbuka. Pintu surga terbuka karena penebusan Kristus. Jadi, setelah kedatangan Kristus, bagi orang-orang yang berada di limbo of the just, mereka dapat masuk Surga atau masuk ke Api Penyucian.
  2. Samuel memberikan perbandingan antara penjahat yang bertobat dan penjahat yang tidak bertobat. Saya ingin menanyakan, apakah yang membuat penjahat yang satu bertobat dan yang lain tidak? Apakah rahmat Tuhan berbeda untuk dua penjahat tersebut? Apakah rahmat Tuhan untuk penjahat yang tidak bertobat kurang, sehingga tidak mengantar kepada pertobatan? Atau apakah Tuhan sendiri yang memilih mana yang akan diselamatkan? Kalau memang Tuhan sendiri yang memilih mana yang diselamatkan, apakah kriterianya, dan bukankah hal tersebut menjadikan kita bertanya-tanya kenapa Tuhan memilih yang satu bukan yan lain?
  3. Saya tahu tentang konsep “common grace” dan “particular grace“, dimana banyak gereja Protestan beranggapan bahwa particular grace, yang menyelamatkan hanya diberikan untuk orang-orang terpilih, sedangkan common grace tidaklah menyelamatkan. Namun hal ini berarti Tuhan telah menentukan sebagian orang masuk surga dan sebagian masuk neraka. Dan inilah yang disebut “double predestination“. Double predestination bertentangan dengan Tuhan yang Maha Adil.Gereja Katolik mengenal “predestination“, dimana Tuhan pada awal dunia ini telah menginginkan semua orang untuk bersatu dengan Tuhan (Ef 1:4). Namun dosa dan keinginan bebas, membuat orang dapat berkata “ya” atau “tidak” terhadap panggilan Tuhan.
  4. Gereja Katolik percaya bahwa Tuhan memberikan rahmat yang cukup bagi semua orang, sehingga semua orang kalau menjawab rahmat Tuhan dengan baik akan dapat masuk Surga. Jadi, dengan kehendak bebas, setiap orang mempunyai kemampuan untuk menjawab “ya” atau “tidak” terhadap panggilan Tuhan. Dalam kasus dua pencuri yang disalibkan bersama dengan Yesus, pencuri yang bertobat memberikan tanggapan yang baik, sedangkan yang tidak bertobat tidak memberikan jawaban ya terhadap rahmat Tuhan.Kesalahan siapakah bahwa penjahat yang satu tidak memperolah pertobatan? Jawabannya adalah kesalahan penjahat itu sendiri, karena Tuhan telah memberikan rahmat yang cukup bagi penjahat tersebut. Kalau begitu kenapa penjahat yang satu bertobat? Karena Tuhan memberikan rahmat yang cukup dan penjahat ini menjawab rahmat Tuhan dengan baik.Hal ini juga sama ketika kita “menerima Yesus dalam hati” (meminjam istilah Samuel), seseorang harus secara sadar menjawab panggilan Tuhan. Orang tersebut punya pilihan menerima atau menolak. Kalau orang tersebut tidak mempunyai pilihan, maka orang tersebut tidak lagi mempunyai keinginan bebas.

III. Bukan iman Katolik atau Protestan, namun Iman kepada Yesus yang menyelamatkan.

  1. Tentu saja dengan menjadi Katolik, seseorang tidak dapat secara otomatis diselamatkan. Gereja Katolik mengajarkan bahwa keselamatan adalah sesuatu yang lampau, sekarang, dan akan datang, sehingga menyebabkan anggota Gereja Katolik untuk berjuang terus sampai saatnya dipanggil oleh Tuhan.Lihat juga jawaban bagaimana kaitan antara memilih agama dengan keselamatan di point A (silakan klik).
  2. Namun kalau Samuel mengatakan bahwa sekali selamat tetap selamat, maka pertanyaannya adalah “Apakah seseorang yang telah menerima Kristus di dalam hati (meminjam istilah Samuel), dapat kehilangan keselamatannya karena dosa yang dibuatnya?“Kalau Samuel menjawab bahwa keselamatan tidak mungkin hilang, mengapa rasul Paulus mengatakan “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (1 Kor 9:27), dan “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir.” (Fil 2:12).Kalau memang rasul Paulus mengajarkan bahwa sekali selamat pasti selamat, kenapa rasul Paulus mengatakan “jangan aku sendiri ditolak” dan “kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.”
  3. Mengapa rasul-rasul berbuat baik? Lebih tepatnya adalah berbuat kasih. Mereka berbuat kasih karena itulah yang diajarkan oleh Kristus (Yoh 13:34; 1 Yoh 3:23; 1 Yoh 4:7, 11-12). Dan mereka tahu bahwa dengan berbuat kasih yang berdasarkan iman dan pengharapan kepada Kristus, maka mereka juga akan mendapatkan keselamatan dan juga tentu saja kasih mereka adalah merupakan suatu jawaban atas kasih Tuhan (1 Yoh 4:11). Jadi perbuatan kasih tidak dapat terlepas dari konsep keselamatan, namun juga tidak terlepas dari motivasi untuk memuliakan Tuhan. Dan bagi orang yang mengenal Allah, perbuatan kasih kepada sesama adalah berlandaskan kasih kepada Tuhan. Dan inilah yang disebut kasih yang mempunyai sifat supernatural, yang kita terima pada saat kita dibaptis.

Mari kita bersama-sama percaya bahwa Tuhan memberikan rahmat yang cukup bagi semua orang untuk bersatu dengan Tuhan, karena Tuhan adalah Maha Adil.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan
stef – www.katolisitas.org

Apakah makan makanan yang terbuat dari darah itu najis?

5

Pertanyaan:

Shalom katolisitas

Kami pernah membaca disalah satu web katolik tentang darah.-
Memang dalam Perjanjian Lama cukup banyak ayat yang menyatakan larangan makan darah antara lain Kej 9:4, Im 7:26-27, Im 17:12, Ul 12:23 dan akan tetapi, itu Perjanjian Lama.-
Ada larangan lain dalam Perjanjian Lama yang tidak diindahkan lagi misalnya Kel 35:3 janganlah kamu memasang api dimanapun dalam tempat kediamaanmu pada hari Sabat.”
Im 19:19 kamu harus berpegang kepada ketetapan-Ku.Janganlah kawinkan dua jenis ternak dan janganlah taburi ladangmu dengan dua jenis benih, dan janganlah pakai pakaian yang dibuat dari pada dua jenis bahan dan banyak lagi seperti Im 19:9-10, Im 3:17, Im 7:23-25
Lebih daripada itu,larangan-larangan yang disebutkan diatas sebelumnya tidak pernah dicabut secara eksplisit dalam Perjanjian Baru. Namun,Kol 2 :16 karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat.-terus Mat 15:11=(Mrk 7:15,18) dengar dan camkanlah : bukan yang masuk kedalam mulut yang menajiskan orang,melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.-
Ok, sampai disini kami setuju namun ada teman kami yang bertanya :
1. ini pertanyaan dari agama lain, bagaimana kalau yang masuk kemulut itu nakorba seperti : ektasi,ganja,morfin dll ??
2. tentang darah dan makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dimana diangkat kembali dalam Perjanjian Baru Kis 15:29 kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan,Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini,kamu berbuat baik,sekianlah,selamat.”
Demikianlah pertanyaan kami, mohon pencerahaannya.-
Terima kasih sebelumnya.-

Salam kasih,
K.Paulus J.C

Jawaban:

Shalom Paulus,

  1. Kita memang harus bijaksana dalam hal menyikapi ayat Mat 15:11, yaitu “…bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.”
    Pertama, kita harus memakai akal sehat kita, untuk menilai apakah makanan tersebut benar-benar makanan yang berguna untuk tubuh kita. Dalam kasus ganja. morfin, ekstasi, dll, silakan kita bertanya kepada diri sendiri, apakah barang tersebut adalah makanan yang layak dimakan. Mungkin  bagi orang yang terkena kanker stadium lanjut, morfin pada kadar tertentu dapat dipakai sebagai obat penahan sakit; namun bagi orang sehat dan normal, kita tahu dengan akal sehat, morfin bukanlah suatu makanan. Jadi tentu kita tidak makan morfin, ganja, ekstasi, dsb berdasar atas pertimbangan akal sehat.
    Kedua, kita harus menyikapi ayat tersebut justru dalam kaitannya dengan: ‘ apa yang keluar dari mulut kita, itulah yang menajiskan kita‘. Karena jika kita memakan barang tersebut, kita dapat terjebak dalam perbuatan dosa. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa orang yang makan narkoba, akan terjerat dalam bermacam dosa lainnya, entah berbohong, marah-marah jika tidak dapat mendapatkan narkoba (dosa dengan mulut), belum termasuk dosa lainnya (baik di pikiran maupun perbuatan) seperti halusinasi, percabulan, pencurian, perbuatan kekerasan, dst. Maka jika kita benar bijaksana, maka kita tidak mencoba makan narkoba tersebut, sebab kita tahu akibatnya yang pasti menajiskan kita.
  2. Tentang makanan sembahyangan, sudah pernah saya bahas dalam tulisan ini (silakan klik). Pada prinsipnya, kita memang harus menghindari makan makanan sembahyangan, walaupun pada kondisi yang sangat terpaksa (di sini maksudnya jika tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh untuk menghindarinya tanpa menjadi batu sandungan bagi orang tua/ diusir dari keluarga, dst), kita dapat memakannya, dengan kondisi:1) kita tidak ikut sembahyangan dengan cara mereka ataupun makan dalam upacara sembahyangan mereka, 2) agar tidak menjadi batu sandungan, kita tidak makan makanan tersebut di muka umum, namun hanya di depan orang tua yang meminta kita memakannya; 3) memakai kesempatan itu untuk memperkenalkan Kristus kepada orang tua tersebut.
    Jujur saja, kondisi terpaksa seperti diusir dari keluarga dst. karena tidak mau makan makanan sembahyangan juga tidak sering terjadi, bahkan belum pernah saya dengar. Umumnya dari yang saya ketahui, kita dapat menjelaskan dengan kasih kepada orang tua, bagaimana pandangan iman kita tentang makanan sembahyangan tersebut. Dan mereka umumnya mengerti. Asalkan memang dalam kenyataan-nya anak yang beriman pada Kristus lebih mengasihi orang tuanya, sehingga tidak makanan makanan sembahyangan tidak menjadi hal yang terlalu ‘besar’ sebab perbuatan kasih yang terbesar sudah dilakukan oleh sang anak kepada orang tuanya.
  3. Mengenai makan darah dalam Perjanjian Lama itu termasuk “Ceremonial Law”/ hukum seremonial, yang dimaksudkan untuk mempersiapkan umat Israel pada kedatangan Yesus, yang mempersembahkan Tubuh dan Darah-Nya untuk keselamatan umat pilihan-Nya. Maka pada Perjanjian Lama, umat Israel dilarang minum darah, agar mereka dipisahkan dari kebiasaan bangsa-bangsa lain, dan juga agar mereka dapat dipersiapkan untuk menghargai “Darah Perjanjian Baru”, yaitu Darah Kristus. Menurut St. Thomas Aquinas, Kristus merupakan pemenuhan hukum Perjanjian Lama, yang terdiri dari Hukum Moral, hukum Seremonial dan hukum Yuridis. Setelah kedatangan Kristus di Perjanjian Baru, Hukum Moral Perjanjian Lama yaitu Sepuluh Perintah Allah, tetap berlaku, sedangkan hukum Seremonial dan hukum Yuridis tidak lagi berlaku. Lebih lanjut tentang hal ini silakan baca tulisan berikut ini (silakan klik).
  4. Di Konsili Yerusalem (Kis 15), para rasul memang mengajarkan agar umat menjauhkan diri dari makanan yang dicemarkan oleh berhala-berhala … dan dari darah (Kis 15:20). Maksud larangan tersebut bukanlah karena makanan itu haram atau najis, sebab Yesus sudah menyatakan bahwa yang menajiskan orang bukanlah makanan atau apa yang masuk ke mulut (lih. Mat 15:11, bdk. Kis 10:15; 1Tim 4:4). Maka konteks larangan itu adalah agar jemaat tidak menjadi sandungan bagi kaum Yahudi. Sebab disebut di ayat berikutnya, “Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat” (Kis 15:21). Diperlukan hikmat, agar jangan pesan Injil ditolak, karena jemaat melakukan sesuatu yang tidak bermakna apapun menurut iman Kristen, namun dianggap larangan besar oleh kaum Yahudi.
    Nah, dalam hukum Musa, ada hal-hal tertentu yang dianggap besar dan penting; contohnya, soal sunat, Sabat, dan larangan makan darah ini. Berdasarkan sabda Yesus, para rasul telah menetapkan bahwa sunat jasmani dalam PL telah diperbaharui oleh Kristus dengan Baptisan (lih. Kol 2:11-12). Juga, hari Sabat (hari Sabtu) sebagai hari ibadah kepada Tuhan telah diperbaharui menjadi hari Minggu, yaitu hari pertama minggu (lih. 1Kor 16:2) mengikuti hari Kebangkitan Yesus (lih. Mat 28:1; Mrk 16:2,9, Yoh 20:1, 19). Maka Sunat dan Sabat memiliki arti yang baru bagi umat Kristen. Dan setelah memiliki arti yang baru, ketentuan yang lama tentang hal tersebut tidak mengikat bagi umat Kristen. Meski demikian, agar tidak menjadi batu sandungan, Rasul Paulus menyuruh Timotius agar disunat, “karena orang-orang Yahudi di daerah itu” (Kis 16:3) ketika Rasul Paulus membawa serta Timotius dalam perjalanan mewartakan Injil.
    Dengan memerintahkan demikian, bukan berarti Paulus masih memegang hukum Taurat. Rasul Paulus jelas menyatakan bahwa hukum Taurat maksudnya adalah sebagai penuntun sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Setelah iman itu datang, kita tidak lagi berada di bawah pengawasan penuntun [yaitu hukum Taurat] itu. (lih. Gal 3:23-25).
    Demikianlah juga dengan hal memakan darah binatang itu. Sesungguhnya makan atau tidak makan suatu makanan tertentu, tidak ada pengaruhnya terhadap iman kita (lih. 1Kor 8:8-9); “Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur” (1Tim 4:4).
    Demikianlah kita ketahui bahwa larangan untuk makan makanan tertentu di zaman para Rasul dimaksudkan agar jemaat tidak menjadi batu sandungan bagi pewartaan Injil, dan bukan karena jemaat berada di bawah kuasa hukum Taurat, atau masih terikat hukum Taurat, yaitu dalam hal ini yang menyangkut hukum seremonialnya. Sebab hidup Kristiani adalah hidup dalam Roh Kristus, dan bukan menurut daging/ ketentuan yang menyangkut jasmani. Tentang hal ini Rasul Paulus berkata, “Adakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena pemberitaan Injil? Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah telah memulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?” (Gal 3:2-3)
    Yesus telah memberikan makna rohani pada segala ketentuan jasmani di hukum Taurat. Mari kita tidak lagi kembali kepada ketentuan jasmani itu, seolah-olah Yesus belum menggenapinya dengan memberikan makna rohani yang sesungguhnya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – https://katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab