Pertanyaan:
Gereja Protestan tidak memberikan penghormatan khusus kepada Bunda Maria. Secara pribadi saya setuju dengan ajaran ini karena Tuhan bisa memakai siapa saja untuk dijadikan alatnya walaupun kita tetap harus menghormati semua alatNya. Tuhan juga selama hidupnya didunia tidak memberikan penghormatan khusus kepada Maria (Yoh 2:4, Mat 12:48-50). Sesuai dengan alkitab, hanya satu orang dimana Yesus memberikan pujian yang luar biasa, yaitu Yohanes Pembaptis (Yoh 11:11). Mengenai penampakan Maria ataupun para santo yang tubuhnya masih utuh walaupun sudah mati ratusan tahun yang lalu terus terang tidak membawa dampak yang berarti buat saya pribadi. Semuanya harus diuji dulu karena iblispun bisa melakukan hal yang dahsyat (II Kor 11:14). Apakah anda yakin bahwa yang menampakkan itu Maria? Darimana anda yakin itu Maria, apakah karena dia berkata,” Saya Maria!”. Mungkin saja itu Maria… tetapi jika kemudian Maria yang lebih menonjol dari Tuhan sendiri. Saya berani katakana,” itu dari setan! Sekarang ini menurut saya ada hal yang lebih dahsyat lagi dimana ada beberapa hamba Tuhan mengatakan dia pernah ke sorga bahkan ke neraka. Di neraka itu ngeri lho… makanya anda harus bertobat. Apakah kemudian anda juga akan memberikan penghormatan khusus seperti kepada Maria? Karena ada orang juga yang bertobat karena pemberitaannya. Saya tidak menjumpai di alkitab dimana para rasul dan jemaat bertobat karena penampakan atau karena melihat hal fenomenal tapi karena Jesus sendiri yang datang dalam kehidupan orang tersebut dan melalui pekerjaan Firman Allah dan Roh Kudus. Apakah santo-santo tsb. lebih besar dari Yohanes Pembaptis, lebih besar dari Paulus terus terang saya tidak merasakan hasil pekerjaan dari santo-santo yang masih utuh badannya tsb.
Salam – Samuel.
Jawaban:
Shalom Samuel,
Sebenarnya alasan Gereja Katolik memberikan penghormatan khusus kepada Bunda Maria adalah karena Allah-lah yang pertama-tama menghormatinya secara khusus. Hal ini pernah saya tuliskan di artikel Maria, Bunda Allah (silakan klik). Prinsipnya, Maria bukan hanya sekedar ‘alat’ saja yang sama dengan para nabi atau para pengkhotbah jaman sekarang. Karena harus diakui, ia adalah seorang yang dipilih sejak semula untuk melahirkan Tuhan Yesus. Jadi beberapa alasan Gereja Katolik menghormati Maria secara khusus dapat kita lihat sebagai berikut:
1. Maria adalah Tabut Perjanjian Baru, yang merupakan pemenuhan dan penyempurnaan tabut Perjanjian Lama. Alkitab menyebutkan bahwa tabut Perjanjian Lama yang berisi Kitab Taurat Musa, dua loh batu kesepuluh Perintah Allah, roti manna dan tongkat Harun; sangat dikuduskan Allah. Semua itu diperintahkan Allah untuk diletakkan di tempat yang disebut sebagai tempat Mahakudus dalam kemah/ bait Allah, dan hanya imam agung yang dapat masuk ke tempat tersebut. Jika imam itu masuk ke sana dalam keadaan tidak kudus maka ia akan mati (Im 22:9). Hal ini dijabarkan dengan sangat mendetail dalam Kitab Perjanjian Lama. Kita membaca Kitab Perjanjian Lama, yang menjabarkan betapa Allah begitu sangat spesifik mensyaratkan bagaimana tabut Perjanjian Lama harus dibuat (Kel 25-31), berapa ukurannya, bahannya, seniman yang membuatnya (Kel 31:1-6), dst . Belum lagi pada waktu tabut perjanjian itu hilang dan kemudian diketemukan pada jaman raja Daud, maka ketika orang yang menopang tabut itu secara tak sengaja menyentuh tabut itu, langsung ia dihukum mati oleh Tuhan, sebab orang itu tidak kudus (2 Sam 6:6-7).Nah, sekarang Maria adalah Tabut Perjanjian Baru. Ia mengandung Sabda yang menjadi manusia (Yoh1:14). Kristuslah Sabda kasih Allah yang tidak lagi tertulis di atas batu, melainkan Sabda yang menjadi daging. Ialah Roti hidup (Yoh 6:35) yang melebihi roti manna. Dengan demikian, tidak mungkin Bunda Maria itu sama seperti orang biasa, Ia pasti dikuduskan Allah yang dengan kekudusan yang lebih sempurna dengan tabut Perjanjian Lama yang berisi ‘benda mati’. Maria dikuduskan oleh karunia rahmat Allah, dan memang demikianlah halnya, seperti yang kita ketahui dalam sapaan malaikat Gabriel saat menyampaikan kabar gembira kepada Maria, “Salam, hai engkau yang dikaruniai (Hail, full of grace)…. engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah… Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah yang Maha Tinggi akan menaugi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah (Luk 1:28, 30, 35).Jadi, jika kita semua mau jujur, seperti apapun orang yang dipakai Tuhan, apakah itu nabi terbesar atau pengkhotbah manapun yang melakukan mukjizat, atau yang mendapatkan penglihatan ke neraka dan surga sekalipun, tidak ada yang dapat melebihi Maria, yang mengandung Tuhan Yesus, Sang Allah Putera yang menjelma menjadi manusia. Mereka yang menjadi alat Tuhan (entah itu nabi, pengkhotbah, dst) ‘hanya mengandung’ Kristus secara spiritual, namun tidak juga secara jasmani rohani seperti Bunda Maria, sebagai ibu-Nya.
2. Maria adalah ‘murid’ Yesus yang pertama, yang dengan ketaatan dan kesediaannya menjadi ibu Yesus, melaksanakan kehendak Bapa. Mat 12:48-50 yang mengatakan, “Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku? (Who is my mother, and who is my brethern/ brothers?) … Siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-ku perempuan, dialah ibu-Ku,” malah sebenarnya bermaksud memuji Maria sebagai “yang melakukan kehendak Bapa.” Di sini kita ketahui Yesus mempunyai dua maksud, bahwa: Yang pertama, Ia lebih mementingkan hubungan yang bukan sekedar hubungan darah, melainkan hubungan spiritual yang melebihi hubungan darah. Kedua, Ia juga memuji Maria, sebagai ibu-Nya yang mentaati kehendak Bapa; sebab Ia menggunakan kata tunggal “Ibu (mother)”, bukan seperti kata jamak kepada saudara-saudara-Nya (brethern/brothers). Jika posisi Maria tidak istimewa, atau sama dengan semua perempuan lain yang melakukan kehendak Bapa, maka Ia akan mengatakan, “Siapa ibu-ibu-Ku?” (‘My mothers‘)
3. Keistimewaan Maria juga dilihat dari perannya untuk membawa orang lebih dekat kepada Yesus. Pada peristiwa perkawinan di Kana, saat Bunda Maria mengatakan pada Yesus bahwa mereka kehabisan anggur, dan Yesus sepertinya awalnya tidak bermaksud mengadakan mukjizat, namun oleh permohonan Maria, Yesus melakukannya juga (Yoh 2:1-11). Perkataan Yesus kepada Maria pada saat itu diterjemahkan dalam Alkitab bahasa Indonesia sebagai, “Mau apakah engkau daripadaKu, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Sedangkan pada Jerusalem Bible yang diakui oleh semua orang Kristen, kalimat sesungguhnya adalah, “Woman, why have you turn to Me? My hour has not yet come.” Jadi seharusnya bukan ‘ibu’, tetapi ‘perempuan’. Sapaan ini tentu bukan sapaan lazim seorang anak kepada ibunya. Namun, kata ‘perempuan’/ ‘woman’ di sini adalah untuk menunjukkan bahwa Maria adalah seorang ‘perempuan’ yang dijanjikan oleh Allah sejak semula untuk mengandung Yesus yang akan mengalahkan Iblis (Kej 3:15); dan Maria adalah seorang ‘perempuan’ yang dipercayakan Yesus sebelum wafat-Nya di kayu salib kepada murid yang dikasihi-Nya (Yoh 19:26). Maria adalah ‘perempuan’ yang disebutkan di dalam kitab Wahyu (Why 12). Maka jika Yesus adalah Adam yang baru; Maria adalah Hawa yang baru, yang dipercayakan Kristus menjadi ibu para murid yang dikasihi-Nya, yaitu sebagai Bunda Gereja.
4. Gereja Katolik sangat berhati-hati untuk menyatakan penampakan Bunda Maria di suatu tempat itu termasuk yang otentik (sungguh terjadi) atau tidak. Penampakan di Lourdes (1858) misalnya membutuhkan waktu empat tahun baru diakui oleh pihak Gereja setempat (1864), setelah memang terjadi banyak mukjizat di tempat itu. Pada penampakan ini, Bunda Maria menyatakan dirinya sebagai “Immaculate Conception” (Perawan yang dikandung tidak bernoda), kepada Bernadette Soubirous, seorang gadis desa yang buta huruf. Ini merupakan konfirmasi dari doktrin Maria yang dikandung tidak bernoda, yang dikeluarkan Gereja Katolik oleh Bapa Paus Pius IX pada tahun 1854. Lebih lanjut mengenai makna doktrin ini telah saya tuliskan di artikel Maria dikandung tanpa noda: apa maksudnya? (silakan klik).Penghormatan kepada Maria tidak pernah menjadi lebih utama dari pada penghormatan kepada Yesus. Karena Gereja Katolik selalu melihat Bunda Maria sebagai Bunda yang menghantar kita kepada Yesus. Hal ini sesuai dengan sikap Maria yang selalu mengarahkan kita kepada Yesus Puteranya, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu.” (Yoh 2:5).Jika Samuel pernah mengunjungi Lourdes, anda akan melihat bahwa ada banyak bukti mukjizat kesembuhan yang sangat luar biasa terjadi di sana, (dokumennya dapat dilihat oleh para turis) yang telah dikonfirmasi oleh pihak dokter sebagai sesuatu ‘mukjizat’ yang tidak dapat dijelaskan secara medis (karena tempat berziarah berdekatan dengan rumah sakit yang dapat menguji kesembuhan tersebut, sehingga bukan rekayasa). Ini tentunya suatu kenyataan yang cukup menguatkan; bandingkan dengan menjamurnya video kesembuhan para pengkhotbah ternama di u-tube yang ternyata merupakan rekayasa. Sekarang tinggal berpulang kepada penilaian kita, manakah yang dapat kita katakan sebagai buah pekerjaan Tuhan, mana yang bukan. Sebab, memang saya juga setuju bahwa Iblis juga dapat melaksanakan hal yang dashyat (2 Kor 11:14).
5. Demikian halnya dengan para Santa dan Santo (Orang kudus). Mereka memang manusia biasa seperti kita, namun mereka menjalankan hukum kasih sampai ke tahap ‘heroic‘ degree. Mereka orang yang rela ‘mati’ terhadap diri sendiri, demi kasih kepada Yesus dan sesama. Jika kita membaca riwayat hidup orang kudus, contoh riwayat Fransiskus dari Asisi, Bernadette, Theresia dari Avilla, Bunda Teresa, Padre Pio, dll, kita akan melihat bagaimana mereka adalah orang-orang yang telah meninggalkan segala-galanya untuk mengikuti Yesus, mengikuti ajaran Yesus kepada orang muda yang kaya raya itu (lihat Mrk 10:21). Memang, dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita secara rohani masih sangat jauh jika dibandingkan dengan para kudus itu. Jika kenyataannya ada orang yang tidak terinspirasi oleh hidup mereka, tidak mengaburkan kenyataan bahwa kehidupan iman mereka merupakan kesaksian hidup akan bagaimana seseorang dapat meninggalkan segala sesuatunya untuk Tuhan dan bagaimana Tuhan dapat berkarya di dalam hidup mereka untuk membawa banyak orang kepada keselamatan di dalam Yesus Kristus. Tak jarang dari para kudus itu (contohnya St. Theresia dari Avila, Faustina) juga diberi penglihatan tentang neraka. jadi penglihatan seperti itu bukan hal yang baru terjadi sekarang ini. Para orang kudus yang masih utuh jasadnya memang tidak lebih besar daripada Yohanes pembaptis, ataupun para rasul, namun mereka sungguh dipilih oleh Tuhan menerima berkat mukjizat ini untuk membuka mata kita akan perbuatan Tuhan yang dinyatakan-Nya kepada para hamba-Nya, bahkan sampai sekarang ini. Bahwa hal ini tidak istimewa bagi sebagian orang, tidak menghapus kenyataan bahwa keutuhan jasad mereka merupakan hal yang istimewa dan tidak terjadi pada semua orang.
6. Maka perbedaan yang mendasar antara Gereja Katolik dan gereja Protestan memang adalah dalam hal pengantaraan (mediation). Keduanya memegang bahwa Kristus adalah pengantara yang esa dan satu-satunya (1 Tim 2:5) namun Gereja Katolik tidak memandang pengantaraan Yesus sebagai sesuatu yang eksklusif, melainkan yang inklusif/ melibatkan juga pengantaraan Maria, para kudus dan bahkan semua umat beriman dengan derajat yang berbeda-beda. (Bukankah kita semua juga dapat dipakai untuk menjadi alat perantaraan sesama untuk datang kepada Yesus?) Perantaraan mereka (para kudus) itu bukan ‘saingan’ pengantaraan Yesus, melainkan mendukung ‘pengantaraan Yesus’ yang esa dan satu-satunya itu. Lebih lanjut mengenai hal ini silakan baca Doa dan devosi (silakan klik). Pandangan ini umumnya tidak merupakan pandangan gereja Protestan.
Demikianlah yang dapat saya tuliskan tentang Maria dan para kudus (Santa/ Santo). Semoga hal di atas dapat menjadi bahan masukan bagi Samuel tentang pandangan Gereja Katolik tentang Maria dan Para Orang Kudus, yang semuanya mendukung karya Penyelamatan Kristus.



