Home Blog Page 314

Maria adalah perempuan yang disebutkan di dalam Kitab Kejadian

8

Ada surat yang masuk ke katolisitas, yang mempertanyakan bagaimana Gereja Katolik menginterpretasikan ayat Kejadian 3:15 sebagai Maria. Surat tersebut berbunyi demikian:

Bunda Maria sudah dinubuatkan, ‘benih dari perempuan ini akan menjadi penyelamat dunia, dan bahwa iblis akan bertekuk lutut di kakinya” (Kej 3:15) Atas dasar apa sdr. Maria menyimpulkan bahwa perempuan tsb adalah Maria? Kesamaan apa yang ada pada Maria dgn “perempuan” yg disebut dalam ayat tsb? Apakah dia perempuan…. banyak perempuan di Israel… apakah dari benih perempuan? Kita juga dari benih perempuan.. Dan di akhir dunia, seperti disebutkan di kitab Wahyu, Bunda Maria dimahkotai di surga (Why 12: 1) yang melahirkan Sang Penyelamat Wahyu 12:1 : ….. Seorang perempuan berselubungkan……. Atas dasar apa sdr. Maria menyimpulkan bahwa perempuan tsb. adalah Maria? Disebutkan juga yang dilahirkan bukanlah Juru Selamat melainkan Seorang “Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi” karena kelahiran Juru Selamat sudah digenapi. Perempuan itu adalah Mempelai Wanita dari Mempelai Pria Sorgawi. Apakah Maria yang menjadi Mempelai Wanita? Ibu & Anak yang pernah dilahirkan akan menikah?! Very funny.
Salam – Samuel.

Memang ayat Kej 3:15 bukan ayat yang mudah dimengerti, jika kita tidak merenungkannya lebih lanjut, dan mempelajarinya berdasarkan apa yang diyakini oleh Gereja sejak awal. Maka Gereja Katolik mendasarkan arti ayat tersebut pada pemahaman para Bapa Gereja. Menurut para Bapa Gereja,  kata “perempuan” yang dimaksud di sini bukanlah Hawa, tetapi Hawa yang baru (’New Eve’). Uraian yang lebih lengkap ada dalam artikel Bunda Maria dikandung tanpa noda, apa maksudnya? (silakan klik). Para Bapa Gereja membaca ayat ini sebagai nubuatan akan kelahiran Yesus (Adam yang baru) melalui Bunda Maria (Hawa yang baru). Hal ini sudah menjadi pengajaran Gereja sejak abad ke-2 oleh Santo Yustinus Martir, Santo Irenaeus dan Tertullian, yang lalu dilanjutkan oleh Santo Agustinus (abad ke -5). Sayangnya, memang dalam terjemahan bahasa Indonesia, pada ayat ini dikatakan ‘perempuan ini’, seolah-olah menunjuk kepada Hawa, namun sebenarnya adalah ‘the woman’ (bukan this woman) sehingga artinya adalah sang perempuan, yang tidak merujuk kembali ke lakon yang baru saja dibicarakan. Ungkapan ‘woman‘ atau ‘perempuan’ ini yang kemudian kerap diulangi pada ayat Perjanjian Baru, misalnya pada mukjizat di Kana (Yoh 2:4), dan di kaki salib Yesus, saat Ia menyerahkan Bunda Maria kepada Yohanes murid kesayanganNya (Yoh 19:26) dan pada Kitab Wahyu (Why 12). Pada kesempatan tersebut, Yesus mau menunjukkan bahwa Maria adalah ’sang perempuan’ yang telah dinubuatkan pada awal mula dunia sebagai ‘Hawa yang baru’.

‘Hawa yang baru’ ini berperan berdampingan dengan Kristus sebagai ‘Adam yang baru’. Santo Irenaeus (abad ke-2), mengatakan, “Ikatan yang disebabkan oleh ketidak-taatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria” sehingga selanjutnya dikatakan, “maut (karena dosa) didatangkan oleh Hawa, tetapi hidup (karena Yesus) oleh Maria.” Oleh karena itu, Allah membuat Bunda Maria tidak tercemar sama sekali oleh dosa, supaya ia, dapat ditempatkan bersama Yesus di tempat utama dalam pertentangan yang total melawan Iblis (Kej 3:15).

Dalam Kitab Wahyu, Bunda Maria disebut sebagai “perempuan” yang melahirkan seorang Anak laki-laki, yang menggembalakan semua bangsa, yang akhirnya mengalahkan naga yang adalah Iblis (Why 12: 1-6). Kemenangan Bunda Maria atas Iblis ini dimungkinkan karena dalam diri Maria tidak pernah ada setitik dosa pun yang menjadi ‘daerah kekuasaan Iblis’. Memang di sini tidak dikatakan secara eksplisit bahwa anak laki-laki ini adalah Juruselamat, tetapi sesungguhnya hal ini merupakan interpretasi yang paling umum yang dipegang oleh para Bapa Gereja dan para ahli Kitab Suci. Interpretasi lain dari ‘anak laki-laki yang menggembalakan semua bangsa’ adalah Gereja. Dalam kedua interpretasi ini tidak mengubah kenyataan bahwa Maria adalah sang “perempuan”itu, sebab dengan melahirkan Yesus yang sebagai Kepala Gereja, maka Maria melahirkan Gereja yang merupakan Tubuh Kristus (sebab tidak mungkin seseorang dilahirkan hanya kepalanya saja, melainkan dengan tubuhnya juga).

Walaupun demikian, pengajaran di atas tidak bertentangan dengan pengajaran bahwa Maria, mewakili Gereja, adalah mempelai wanita dari Anak Domba (Kristus) yang disebutkan juga di Kitab Wahyu, sebab pengertian ‘perjamuan kawin’ Anak Domba yang disebutkan di Kitab Wahyu (Why 19:7) tidak sama dengan arti perkawinan di dunia, walaupun keagungan dan nilai persatuannya telah sedikit digambarkan melalui sakramen perkawinan, seperti yang telah diajarkan oleh Yesus di dalam Ef 5:22-32. Yesus mengajarkan agar para suami menyerahkan diri bagi istrinya, sama seperti Ia menyerahkan diri-Nya bagi Gereja-Nya. Karena Maria merupakan Bunda Gereja, dan sekaligus juga anggota Gereja (karena ialah orang pertama yang menjadi murid Kristus dengan kesediaannya menjadi Ibu Yesus), maka Maria adalah sekaligus Bunda Kristus dan Mempelai Kristus. Sekali lagi, ‘Mempelai Kristus’ di sini tidak dapat disamakan artinya dengan arti mempelai dalam arti duniawi, sebab kedalaman artinya jauh melebihi pemikiran manusia. Rasul Paulus menyebut hubungan kasih antara Kristus dan GerejaNya sebagai “rahasia besar” (Ef 5:32), yang tentu akan mencapai pemenuhan sempurnanya pada akhir zaman, namun yang sekarang telah mulai dinyatakan dalam persatuan Kristus dengan Gereja-Nya melalui sakramen Ekaristi, dimana Gereja dipersatukan oleh Kristus dengan menyambut Tubuh, Darah, Jiwa dan Ke-Allahan-Nya di dalam Ekaristi.

Pada akhirnya, memang diperlukan kerendahan hati untuk menerima ajaran yang sangat mendalam ini, sebab jika kita hanya mengandalkan pengertian kita yang terbatas pada istilah duniawi, maka kita dapat terjebak dalam mengartikan misteri Tuhan sesuai dengan kehendak dan pengertian kita, dan bukannya berusaha memahami misteri Tuhan sesuai dengan yang dinyatakan oleh Allah.

Apakah Petrus sebagai batu karang?

5

Berikut ini adalah salah satu diskusi tentang “Batu Karang” di Mat 16:16. Seorang pembaca menuliskan komentar sebagai berikut:

Kristus berkata kepada Petrus “Di atas batu karang ini saya akan dirikan GerejaKu”, dan “Dia akan selalu beserta kita/GerejaNya sampai akhir” (Mat 16:18) Pertanyaan saya apakah yang diajarkan oleh rasul Petrus sama dengan yang diajarkan oleh gereja Katholik saat ini? Jika ya… berarti penghapusan dosa melalui surat penghapus dosa juga diajarkan oleh rasul Petrus? Jika ya… berarti rasul Petrus tidak konsisten dengan ajarannya mengenai keselamatan. Saya rasa tidak. Mungkin sdr Maria harus membaca ayat ini dengan seksama. Kenapa Tuhan Yesus menyebutkan memberikan nama Petrus kepada Simon? Apakah dia karena dia akan mendirikan gereja? TIDAK melainkan karena pengakuannya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”. Jika Simon tidak mempunyai pengakuan ini tentu dia tidak akan mendapatkan nama Petrus. Tuhan mungkin akan memberikan nama ini kepada Yohanes atau rasul yang lain yang memberikan pengakuan tsb. Jadi menurut saya, jemaat yang dibangun di atas batu karang dalam ayat tsb adalah jemaat yang didirikan di atas dasar pengakuan Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup. Perhatikan juga pada ayat2 berikutnya, yaitu pada ayat 23 dimana Yesus menyebut dia sebagai iblis. Jika kembali kepada pengertian sdr. Maria, bagaimana mungkin Yesus mendirikan jemaatNya di atas iblis?! Apakah semua persatuan berasal dari Allah, kita lihat agama-agama lain seperti Islam, Budha, Hindu.. mereka juga memiliki ajaran yang sama. Apakah kemudian anda mengatakan itu dari Allah? Persatuan memang penting karena itu tujuan akhir dari gereja Tuhan yaitu pembentukan tubuh Kristus tetapi itu bukan oleh Katholik, bukan oleh Protestan tetapi semata-mata pekerjaan Firman Allah dan Roh Kudus. Gereja memang harus dibangun di atas dasar batu karang, yaitu batu karang rohani yang adalah Kristus (I Kor 10:4)
Salam – Samuel.

Dan berikut ini adalah jawaban yang diberikan oleh katolisitas.

I. Ajaran Kristus, Rasul Petrus, dan Gereja Katolik.

Samuel mempertanyakan apakah ajaran Gereja Katolik yang ada sekarang adalah sama seperti yang diajarkan oleh Rasul Petrus yang menerima mandat dari Kristus, dimana di atas Rasul Petrus, Kristus mendirikan Gereja-Nya.

Saya telah menjelaskan tentang indulgensi yang bersumber pada Alkitab di diskusi sebelumnya. Bahkan saya berani mengatakan bahwa semua doktrin Gereja Katolik bersumber pada Alkitab, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja, dan ketiganya tidaklah bertentangan.Cardinal Newman, dalam bukunya “The Development of Christian Doctrines”, meneliti bahwa Gereja yang mempunyai pengajaran yang benar adalah Gereja yang perkembangan ajarannya dapat ditelusuri sampai kepada jaman awal kekristenan, yang bersumber pada Yesus sendiri. Ini berarti harus ada konsistensi dalam pengajaran, sama seperti perkembangan pohon kecil ke pohon yang besar. Yang dimaksudkan dari kecil ke besar adalah ajaran yang sama, namun perkembangannya hanya untuk memperjelas pengertian bukan mengubah ajaran. Hal inilah yang ditemukan oleh Kardinal Newmann dalam Gereja Katolik, sehingga untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, dia berpindah dari Anglikan ke Gereja Katolik.

Namun inilah yang menjadi masalah dari gereja-gereja yang lain, yang ajarannya sulit untuk ditelusuri sumbernya. Mungkin bagi pemeluk denominasi-denominasi akan mengatakan semuanya bersumber pada Alkitab. Namun mari kita melihat contoh doktrin tentang Perawan Maria. Kalau ditanya umat Kristen sekarang, yang mengatakan bahwa semuanya bersumber pada Alkitab, maka mereka akan mengatakan bahwa Maria tidak lagi perawan setelah melahirkan Yesus.Mari kita melihat apa yang dikatakan oleh Martin Luther dan John Calvin dan para pendiri denominasi Kristen tentang keperawanan Maria:

Martin Luther
(1483-1546): “Sudah menjadi iman kita bahwa Maria adalah Ibu Tuhan dan tetap perawan…. Kristus, kita percaya, lahir dari rahim yang tetap sempurna (‘a womb left perfectly intact’)”[13]

John Calvin (1509-1564):
“Ada orang-orang yang ingin mengartikan dari perikop Mat 1:25 bahwa Perawan Maria mempunyai anak-anak selain dari Kristus, Putera Allah, dan bahwa Yusuf berhubungan dengannya kemudian, tetapi, betapa bodohnya pemikiran seperti ini! Sebab penulis Injil tidak bermaksud merekam apa yang terjadi sesudahnya; ia hanya mau menyampaikan dengan jelas hal ketaatan Yusuf dan untuk menyatakan bahwa Yusuf telah diyakinkan bahwa Tuhanlah yang mengirimkan malaikatNya kepada Maria. Yusuf tidak pernah berhubungan dengan Maria …(He had therefore never dwelt with her nor had he shared her company)…Dan selanjutnya Tuhan kita Yesus Kristus dikatakan sebagai yang sulung. Hal ini bukan berarti bahwa ada anak yang kedua dan ketiga, tetapi karena penulis Injil ingin menyampaikan hak-hak yang lebih tinggi (precedence). Alkitab menyebutkan hal ’sulung’ (firstborn), baik ada atau tidaknya anak yang kedua.”[14] John Calvin bahkan mengecam Helvidius, yang mengatakan bahwa Maria mempunyai banyak anak.[15]

Ulrich Zwingli (1484-1531):
“Saya yakin dan percaya bahwa Maria, sesuai dengan perkataan Injil, sebagai Perawan murni melahirkan Putera Allah dan pada saat melahirkan dan sesudahnya selalu tetap murni dan tetap perawan (’forever remained a pure, intact Virgin’).”[16]

John Wesley
(1703-1791)menulis: “Saya percaya bahwa Dia (Tuhan Yesus) telah menjadi manusia, menyatukan kemanusiaan dengan keilahian dalam satu Pribadi; dikandung oleh satu kuasa Roh-Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria yang terberkati, yang setelah melahirkan-Nya tetap murni dan tetap perawan tak bernoda.”[17]

Pertanyaan saya adalah, mengapa para pendiri Kristen denominasi, yang mendasarkan ajarannya dari Kitab Suci dan mengajarkan Maria tetap perawan, namun umat Kristen pada saat ini, sebagian besar mengajarkan bahwa Maria tidak lagi perawan? Alkitab yang dipakai sama, namun kenapa ajarannya berbeda?Untuk topik Maria tetap perawan, silakan membaca artikel lengkapnya disini (silakan klik).Hal inilah yang menjadi perhatian Cardinal Newman. Suatu ajaran tidak dapat berubah dari ada menjadi tidak ada, atau sebaliknya. Namun doktrin yang benar adalah hanya memperjelas, bukan membuat sesuatu yang baru. Dalam teologi, kita tidak dapat membuat suatu inovasi yang baru, namun bersumber pada teologi sebelumnya, sehingga dari pohon kecil menjadi pohon yang besar, dan bukan menjadi pohon yang berbeda sama sekali dan keluar dari pohon yang ada.

II. Petrus, sang batu karang.

Samuel mengatakan bahwa di Mat 16:18, Batu karang mengacu kepada pengakuan Petrus. Dan lebih lanjut dikatakan bahwa Yesus memberikan nama Petrus, karena Petrus mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan. Mari kita melihat tentang hal ini, dimana ayat ini juga merupakan dasar dari kepausan dan salah satunya dari ayat ini, Gereja Katolik mengatakan bahwa Yesus membangun Gereja Katolik. Nanti kalau ada waktu, maka saya akan menulis tentang hal ini secara tersendiri.

Dalam Mat 16:18 dikatakanLAI:Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.”NASB: “I also say to you that you are Peter, and upon this rock I will build My church; and the gates of Hades will not overpower it.

RSV: And I tell you, you are Peter, and on this rock I will build my church, and the powers of death shall not prevail against it.

Dari kalangan Protestan banyak yang mengartikan bahwa dalam bahasa Yunani, dikatakan bahwa Petrus adalah “Petros” dan batu karang adalah “petra“. Dan ini berarti bahwa Petros dan Petro tidak sama, sehingga tidak mungkin Yesus mendirikan Gereja-Nya di atas Petrus, melainkan di atas pengakuan Petrus.

Dari tata bahasa Yunani: Penggunaan Petros dan Petra adalah karena tata bahasa Yunani, yang mengenal masculin dan feminim, yang diterapkan bukan hanya terhadap manusia, namun juga terhadap benda-benda. Jadi, dalam hal ini diterjemahkan “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petros dan di atas Petra ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.”Jadi kata Petra tidak dapat digunakan untuk menggantikan nama Petrus, karena kalau demikian sama saja dengan memakai nama Michelle untuk Michael atau Fransiska untuk Fransiskus.Namun pada jaman Yesus, bahasa yang dipakai adalah bahasa Aram, sehingga menjadi “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Kefas dan di atas Kefas ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Yesus memberikan nama Kefas (Petrus) kepada Simon jauh sebelum pengakuan ini, yaitu pada waktu Yesus bertemu dengan Petrus, dimana Yesus berkata “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).” (Yoh 1:42).

Dari segi kelogisan kalimat: Kalau kita menafsirkan bahwa Petros adalah Petrus dan kemudian Petra adalah pengakuan Petrus, maka akan terlihat tidak logis dan kira-kira seperti berikut ini:Yesus berkata kepada Petrus: engkau adalah Petrus dan di atas pengakuanmu aku akan mendirikan Gereja-Ku…Dua kalimat tersebut tidak berhubungan. Dan kalau kita melihat dari bahasa Greek, dikatakan “Engkau adalah Petrus, dan (memakai “kai“) di “taute” (this very) batu karang ini, Aku akan mendirikan Gereja-Ku”. Kai (dan) mengindikasikan bahwa kata benda yang dipakai harus merujuk kepada kata benda sebelumnya.

Dari Bapa Gereja, kita tahu bahwa Petrus menjadi pondasi dari Gereja.

St. Clement kepada Yakobus.”Be it known to you, my lord, that Simon [Peter],who, for the sake of the true faith, and the most sure foundation of his doctrine, was set apart to be the foundation of the Church, and for this end was by Jesus himself, with his truthful mouth, named Peter, the first fruits of our Lord, the first of the apostles; to whom first the Father revealed the Son; whom the Christ, with good reason, blessed; the called, and elect” (Letter of Clement to James 2 [A.D. 221]).

St. Jerome mengatakan “‘But,’ you [Jovinian] will say, ‘it was on Peter that the Church was founded’ [Matt. 16:18]. Well . . . one among the twelve is chosen to be their head in order to remove any occasion for division“(Against Jovinian 1:26 [A.D. 393]).

Dan masih begitu banyak kutipan dari Bapa Gereja yang lain, yang mempertegas posisi ini.

Di dalam artikel “Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan (Bagian 2)“, dikatakan:

Yesus mendirikan GerejaNya di atas Rasul Petrus
(Kepha, Petros) -yang artinya batu karang- (Mat 16:18) dan memberikan kuasa yang khusus kepadanya di atas para rasul yang lain, untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh 21:5-7). Walaupun Kristus juga memberikan kuasa kepada rasul-rasul yang lain (Mat 18:18), hanya kepada Petruslah Ia memberikan kunci- kunci Kerajaan Surga (Mat 16:19) yang melambangkan kuasa untuk memimpin GerejaNya di dunia.Yesus sang Gembala yang Baik mempercayakan domba-dombaNya kepada Petrus dan mempercayakan tugas untuk meneguhkan iman para rasul yang lain, agar iman Gereja jangan sampai sesat (Luk 22:3-32). Petruslah yang kemudian menjadi pemimpin para rasul setelah hari Pentakosta, mengabarkan Injil, membuat keputusan dan pengarahan (Kis 2:1-41, 15:7-12). Para penerus Rasul Petrus ini dikenal sebagai uskup Roma, yang dipanggil sebagai ‘Paus’ yang artinya Papa/ Bapa.Jelaslah bahwa secara struktural, Paus (penerus Rasul Petrus)

memegang kepemimpinan tertinggi, diikuti oleh para uskup (penerus para rasul lainnya) di dalam persekutuan dengan Paus. Para uskup ini dibantu oleh para imam dan diakon. Dalam hal ini, para Paus memegang kuasa Rasul Petrus, yang menerima perintah dari Yesus sendiri, dan karenanya tidak mungkin sesat. Perlu diketahui, bahwa kepemimpinan Paus -dan para uskup di dalam persekutuan dengannya- yang tidak mungkin sesat (‘infallible’) ini- hanya berlaku di dalam hal pengajaran iman dan moral.[7]

Hal ini sungguh membuktikan kemurnian pengajaran Gereja, karena ajarannya bukan merupakan hasil demokrasi manusia, melainkan diturunkan dari Yesus sendiri, dan Bapa Paus tidak punya kuasa untuk mengubahnya.

III. Kenapa Yesus menghardik Petrus dengan sebutan Setan (Mat 16:23)?

Perkataan Yesus di Mat 16:23 tidak merubah kenyataan bahwa Yesus mendirikan Gereja di atas Petrus (Mat 16:18). Sama seperti kita telah menjadi anak Allah melalui Sakramen Baptis, namun kemudian kita berbuat dosa lagi. Yang terpenting adalah Petrus berbalik kepada Allah, dan kemudian setelah Pentekosta, Petrus yang berbicara kepada banyak orang, sehingga banyak orang diselamatkan (Kis 2).

Kalau demikian apakah Yesus mendirikan Gereja-Nya di atas Iblis (karena Yesus berkata “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Mat 16:23)?  Tentu saja tidak demikian, dengan beberapa alasan sebagai berikut:

Perhatikan ayat 22, dimana dikatakan “Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” (Mat 16:23).Disini Petrus berbicara kepada Yesus secara pribadi dan sungguh berbeda dengan pernyataan Petrus yang dibuat secara terbuka di ayat 15-16 “Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”

Mat 16:16  Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” .Dan Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa semua yang dikatakan oleh Petrus dan penerusnya, para Paus tidak mungkin salah (infallible). Infallibility atau tidak mungkin salah bagi Paus harus memenuhi syarat sebagai berikut: 1) Seorang Paus berbicara di atas kursi Petrus, atau dalam kapasitasnya sebagai seorang Paus. Jadi kalau seorang Paus berbicara dalam kapasitas pribadi, dia tidak berbicara ex cathedra. 2) Kalau Paus berbicara dalam masalah iman dan moral. Jadi seorang Paus dapat salah kalau dia berbicara tentang science, art, dll. 3) Kalau Paus memberikan doktrin yang berlaku universal atau untuk umat Katolik di seluruh dunia.

Untuk keterangan lebih lanjut tentang hal ini, silakan membaca jawaban ini (silakan klik).

Para rasul pada saat itu tidak ada yang benar-benar mengerti apa yang dikatakan oleh Yesus tentang Kerajaan Kristus dan hubungannya dengan sengsara dan kematian Kristus. Dan para murid mulai mengerti pada waktu Yesus bangkit dan pada waktu Yesus sendiri mengirimkan Roh-Nya pada Pentekosta, dimana secara berani Petrus berbicara kepada orang banyak mengenai misteri Paskah.

Kalau Yesus menjanjikan sesuatu kepada Petrus untuk menjadi batu karang dimana Gereja didirikan, maka Dia akan memampukannya. Hal ini bukan karena Petrus yang paling kuat imamnya dari antara para rasul, namun kepercayaan ini adalah berdasarkan janji Kristus. Kristus yang menjanjikan untuk berdoa bagi Petrus, sehingga Petrus dapat memberi kekuatan bagi para rasul yang lain (Lk 22:31-32). Yesus juga yang memberikan kuasa kepada Petrus untuk menggembalakan kawanan domba-Nya (Yoh 21:15-17). Dan Yesus, melalui kuasa Roh Kudus, memilih Petrus untuk berkotbah tentang rencana keselamatan yang telah dirancang oleh Allah dan terpenuhi dalam diri Kristus (Kis 1:14-47). Dan dengan kuasa yang diberikan oleh Kristus, rasul Petrus berbicara dengan otoritas untuk menyelesaikan perselisihan di konsili Yerusalem (Kis 15:6-8). Dan Petrus akhirnya memenuhi nubuat Yesus yang dikatakannya di Yoh. 21:18-19, dengan meninggal di kayu salib secara terbalik di Roma.

Jadi, sama seperti kita yang dipilih oleh Allah menjadi anak-anak Allah, Petrus-pun dipilih Allah seturut dengan kebijaksanaan-Nya menjadi Paus yang pertama. Di dalam kelemahannya dan juga semua penggantinya, Kristus tetap setia untuk mendampingi Gereja sampai akhir jaman, sehingga alam maut tidak menguasainya. Cobalah pikirkan, dimana dan doktrin apa yang dikeluarkan oleh seorang Paus pada saat dia berbicara Ex-Cathedra (di tahta Petrus) yang tidak sesuai dengan Alkitab atau yang dulunya benar sekarang dianggap salah atau sebaliknya.

Demikian jawaban yang dapat saya berikan. Semoga kita sama-sama belajar bahwa Kristus memilih orang-orang yang sesuai dengan kebijaksanaan-Nya. Petrus memang lemah, namun dia dipilih oleh Kristus secara khusus untuk menjadi Paus pertama untuk menggembalakan domba-domba-Nya.

Merenungkan kehidupan Yesus secara keseluruhan

4

Pertanyaan:

Saya ingin merenungi kehidupan Kristus secara keseluruhan…. Jika kita ingin merenungi kehidupan Kristus secara keseluruhan, mulailah intim dengan Tuhan melalui membaca Firman Allah dan berdoa. Lakukanlah Firman Allah maka kita akan mengenal Tuhan dengan benar. “Membasuh kaki” menurut kebudayaan Yahudi bisa diterima sebagai kerendahan hati tetapi apakah mempunyai arti yang sama bagi bangsa-bangsa lain? Apakah bunda Theresa melakukan itu? Menurut saya dia melakukan Firman Allah dan hasilnya …. Luar biasa! Saya pernah membaca kata-kata bijaknya yang dijual di toko-toko buku & tidak pernah mengatakan Maria menjadi inspirasinya untuk berbuat demikian. Hanya JESUS. Salam – Samuel.

Jawaban:

Shalom Samuel, Berikut ini adalah jawaban saya untuk point J.
I. Bagaimana seseorang dapat merenungkan Kristus secara keseluruhan?

  1. Seseorang dapat merenungkan kehidupan Kristus secara keseluruhan dengan menjadi seorang Katolik yang baik, seperti yang dicontohkan oleh para kudus. Karena keseluruhan kebenaran ada di Gereja Katolik, maka merenungkan kehidupan Kristus secara menyeluruh hanya terdapat di Gereja Katolik, baik melalui Kitab Suci, Tradisi Suci, Magisterium Gereja, Sakramen-Sakrament, dll.
  2. Seseorang dapat merenungkan Kristus secara keseluruhan dengan menjalankan semua perintahnya, seperti yang diajarkan oleh Kristus sendiri yang mengatakan “…ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu…..”Ini juga berarti seseorang harus mencari apakah Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus. Kalau orang tersebut tahu dan yakin bahwa Gereja Katolik adalah didirikan oleh Kristus, maka orang tersebut harus masuk di dalam-Nya.Semua perintah Kristus juga termasuk menerima sakramen-sakramen yang diberikan sendiri oleh Kristus. Bagi Gereja Katolik, Sakramen Ekaristi adalah merupakan puncak kehidupan dan doa kristiani.
  3. Selain Firman Tuhan, seorang Katolik menerima berkat-berkat yang mengalir dari doa, sakramen-sakramen, terutama adalah Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat. Dan seorang Katolik yang baik juga dituntut untuk berbuat kasih yang mengalir dari iman dan pengharapan akan Kristus.
  4. Dan kalau umat Katolik menjalankan semua hal tersebut di atas, maka semua akan menjadi para kudus, seperti yang telah dibuktikan dengan bagitu banyak orang kudus. Para kudus merupakan contoh yang nyata bagaimana seharusnya menjadi murid Kristus yang baik, dan bagaimana merenungkan kehidupan Kristus secara keseluruhan.

II. Ekaristi dan Membasuh kaki

  1. Saya ingin menyarankan Samuel untuk membaca beberapa artikel tentang pengertian liturgi dan Sakramen-sakramen di dalam Gereja Katolik:Liturgi tak perpisahkan dengan sakramen. Ada 7 sakramen dalam Gereja Katolik. Dari tujuh sakramen Gereja, 3 yang pertama – Baptis, Ekaristi (1, 2, 3), Penguatan – adalah sakramen inisiasi yang menjadi sakramen-sakramen dasar bagi kehidupan orang Kristen. Sakramen Urapan Orang Sakit dan Sakramen Tobat (bagian 1, 2, 3, 4), diberikan untuk kesembuhan baik fisik maupun rohani. Dan akhirnya, Sakramen Perkawinan (bagian 1, 2) dan Imamat diberikan untuk menguatkan kita dalam menjalankan misi di dunia ini dalam mencapai tujuan akhir, yaitu Kristus.
  2. Membasuh kaki adalah merupakan suatu bahasa tubuh yang universal, dimana seseorang merendahkan diri sedemikian rupa untuk melayani seseorang. Dan apa yang diajarkan oleh Kristus untuk membasuh kaki para murid dilakukan oleh para imam setiap perayaan Kamis Putih. Namun tentu saja, setiap umat Katolik dituntut untuk juga membasuh kaki sesama, dalam artian untuk melayani dan berbuat kasih, seperti yang diperintahkan oleh Kristus sendiri, yang berkata “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu” (Yoh 13:14).

III. Yang terberkati Bunda Teresa dari Kalkuta Samuel lebih lanjut memberikan contoh tentang Bunda Teresa dari Kalkuta, bagaimana dia melakukan Firman Tuhan. Mungkin suatu saat, kalau waktunya memungkinkan, saya akan menambahkan beberapa kalimat yang diucapkan oleh yang terberkati Ibu Teresa dari Kalkuta. Namun karena keterbatasan waktu, saya sertakan saja beberapa foto tentang Ibu Teresa dan semoga dapat berbicara lebih banyak tentang Ibu Teresa.

  1. Yang terberkati Bunda Teresa dari Kalkuta adalah sebagai contoh nyata orang Kudus yang hidup di jaman kita, yang menimba kekudusan dari doa: hening dan rosario di depan Sakramen Maha Kudus, Sakramen-Sakramen yang diberikan oleh Kristus dan dipercayakan kepada Gereja Katolik.
  2. Bunda Teresa memang menjalankan Firman Tuhan, terutama adalah ” Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; 36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.” (Mat 25:35-36).
  3. Namun dia juga mengatakan beberapa hal berikut ini, yang saya kutip dari buku “Raghu Rai and Navin Chawla, Faith and Compassion: The Life and Work of Mother Teresa (Element Books Ltd, 1996).”
    • P.25: Her day begins with Mass at 6 Am. She has often said that this is the spiritual food that sustain her, without which she could not get through an hour, or even a single minute, of her life.Harinya dimulai dengan Misa pada jam enam pagi. Dia sering mengatakan bahwa ini [Ekaristi] adalah makanan rohani yang menopangnya, dimana tanpa hal tersebut, dia tidak dapat melalui hidupnya selama satu jam, atau malah satu menit.
    • Dia tidak akan mau untuk melayani di suatu negara, kalau tidak ada pastor yang dapat mempersembahkan Ekaristi, karena Ekaristi adalah sumber kekuatan baginya untuk melayani sesama. Oleh karena itu, dia menerimanya setiap hari sebelum melayani sesama.
    • Bunda Teresa juga yang melakukan dan menyarankan untuk berdoa rosario setiap hari. Ini dilakukannya dapat setiap perjalanan dan pelayanannya. Di rumah ordo cinta kasih, setiap hari orang akan mendengar para suster dengan mengerjakan tugas, seperti memasak, mencuci, melayani, sambil berdoa rosario.Ibu Teresa mengatakan bahwa Rosario adalah doa meditasi yang menjadi sumber cahaya dan inspirasi baginya dan menjadi doanya setiap hari. Meditasi yang dibuatnya dapat dibaca dalam bukunya “Rosary Meditations from Mother Teresa of Calcuta” – Loving Jesus with the heart of Mary.Dengan berdoa rosario, berdoa bersama Bunda Maria, akan membawa seseorang lebih dekat kepada Yesus.

Demikian jawaban yang dapat saya berikan tentang bagaimana untuk merenungkan kehidupan Kristus secara keseluruhan, yang telah dicontohkan oleh para kudus, juga termasuk yang terberkati Ibu Teresa dari Kalkuta. Mari kita semua mencontoh pelayanannya yang bersumber pada Kristus, dalam Sakramen Ekaristi. Salam kasih dalam Kristus Tuhan, stef – www.katolisitas.org

Perjamuan Kudus di Gereja Protestan

33

Pertanyaan:

Gereja Protestan juga mengartikan bahwa roti dan anggur yang diterima waktu di kebaktian, adalah simbol belaka untuk mengenang Kristus, tanpa ada arti yang lebih lanjut. Jika ada gereja yang beranggapan demikian tidak berarti semua gereja Protestan demikian karena saya pernah mengikuti Perjamuan Kudus di GKI dan GRII di Indonesia. Mereka mengatakan bahwa ini adalah benar-benar darah dan daging Yesus sesuai yang tertulis dalam Alkitab dan memang demikianlah yang benar.
Salam – Samuel.

Jawaban:

Shalom Samuel,

Untuk lebih jelasnya mengenai Ekaristi menurut ajaran Gereja Katolik, silakan membaca juga tulisan “Sudahkah engkau pahami tentang Ekaristi?” dan Ekaristi sumber dan puncak spiritualitas Kristiani (silakan klik)

Terdapat dua hal mendasar yang membedakan makna Ekaristi dengan Perjamuan Kudus yang diadakan di gereja-gereja Protestan, meskipun ada gereja Protestan yang juga percaya bahwa roti dan anggur tersebut telah diubah menjadi Tubuh dan Darah Yesus, yaitu:

  1. Apostolic Succession (Jalur Apostolik): Gereja Katolik, menerapkan apa yang telah menjadi Tradisi Suci Gereja sejak awal, mensyaratkan adanya sakramen Imamat untuk dapat menjadikan sakramen Ekaristi sebagai sakramen yang sah. Artinya, perkataan konsekrasi atau “kata-kata/ doa Yesus untuk merubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus oleh kekuatan Roh Kudus” harus dilakukan oleh imam yang ditahbiskan oleh Uskup yang mempunyai jalur apostolik, yang kalau ditelusuri maka rahmat tahbisan yang diperoleh dari penumpangan tangan ini adalah berasal dari para rasul, yang menerima mandat dari Yesus sendiri. Dengan demikian, Gereja Katolik tidak dapat mengakui keabsahan Ekaristi dari gereja lain, kecuali dari Gereja Timur Ortodox yang juga mempunyai tahbisan yang sah (mempunyai jalur apostolik), sehingga sakramen yang dilakukan dalam gereja mereka juga sah. Gereja Anglikan, juga gereja Protestan kehilangan jalur apostolik ini, sehingga Gereja Katolik tidak mengakui keabsahan sakramen Ekaristi mereka.
    Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

    KGK 1400    Persekutuan-persekutuan Gereja yang muncul dari Reformasi, yang terpisah dari Gereja Katolik, “terutama karena tidak memiliki Sakramen Tahbisan, sudah kehilangan hakikat misteri Ekaristi yang otentik dan sepenuhnya” (UR 22). Karena alasan ini, maka bagi Gereja Katolik tidak mungkin ada interkomuni Ekaristi dengan persekutuan-persekutuan ini. “Kendati begitu, bila dalam Perjamuan Kudus mereka mengenangkan wafat dan kebangkitan Tuhan, mereka mengimani, bahwa kehidupan terdapat dalam persekutuan dengan Kristus, dan mereka mendambakan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan” (UR 22).

  2. Transubstantiation (Trans-substansiasi) dan Consubstantiation (Konsubstansiasi): Gereja Katolik mengajarkan bahwa roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus setelah konsekrasi (disebut: trans-substansiasi). Ini artinya, bahwa yang termakan atau sisa dari Roti yang sudah dikonsekrasi adalah benar-benar Tubuh Kristus. Ini menyebabkan Gereja Katolik menyimpannya dalam tabernakel, dan juga ada doa Adorasi, yaitu doa di depan Sakramen Maha Kudus. Beberapa gereja Protestan mengakui konsubstansiasi, yang berarti roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus setelah dikonsekrasi dan dimakan/diminum. Jadi bagi gereja Protestan, sisa roti dan anggur yang tidak termakan/terminum bukanlah tubuh dan darah Kristus, namun hanya roti dan anggur biasa.

Adalah suatu kenyataan yang memang layak kita renungkan bersama, mengapa sampai terjadi banyak perbedaan yang cukup esensial dalam hal ajaran di antara gereja-gereja Protestan. Dalam hal ini memang secara obyektif pula kita lihat pentingnya peran kepemimpinan yang memegang kata akhir, yang di dalam Gereja Katolik dipegang oleh Bapa Paus yang merupakan penerus Rasul Petrus. Beliaulah yang menjadi wakil Rasul Petrus, yang berbicara atas nama Gereja. Beliau memiliki tanggung jawab yang sangat besar di hadapan Allah, karena tidak dapat mengubah segala sesuatu yang sudah ditentukan oleh Kristus dan para rasul sejak semula ataupun menyesuaikannya dengan kehendak pribadi atau tuntutan jaman. Oleh kepemimpinan Paus inilah maka Gereja Katolik dapat mempertahankan keutuhan ajaran Yesus sebagaimana yang diturunkan kepada para rasul.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – www.katolisitas.org

Bagaimana mungkin Maria dikandung tanpa noda?

6

Pertanyaan:

Luk 1:28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Atas dasar apa sdr Maria mengartikan bahwa kata-kata tsb. mengandung makna bahwa rahmat Tuhan sendirilah yang membuatnya tanpa dosa sehingga Maria adalah orang suci yang tidak ada dosa? SALAH! Maria tetap orang berdosa yang membutuhkan rahmat / anugrah penebusan dari Tuhan Yesus. Jika sdr. Maria membaca dengan seksama bahwa keterlibatan Maria disebutkan sangat sedikit, hanya di awal kelahiran. Setelah itu Yesuslah yang ditonjolkan bahkan dalam kitab Suratan dan kitab2 yang lain dalam Perjanjian Baru tidak menonjolkan Maria.
Salam – Samuel

Jawaban:

Shalom Samuel,

Sebenarnya, ada banyak dasar mengapa Gereja Katolik mengajarkan bahwa Maria dikandung tanpa noda, bukan hanya atas dasar Luk 1:28, yang mengatakan bahwa ketika Malaikat menyapa Maria dengan perkataan “Salam, hai engkau yang dikaruniai…” (Hail, full of grace ). Silakan membaca uraian yang lebih lengkap di artikel Maria dikandung tanpa noda: apa maksudnya? (silakan klik). Jika kita perhatikan, memang di seluruh Kitab Suci, tidak ada nabi/ orang lain yang disapa Allah dengan panggilan ‘full of grace‘, bahkan seolah sebagai nama orang tersebut; sapaan itu hanya diberikan kepada Bunda Maria.

Namun, selain dari ayat Kitab Suci, Gereja Katolik melihat bahwa pengajaran Maria tanpa noda tersebut sudah merupakan hal yang diyakini oleh Gereja sejak abad awal, seperti dinyatakan oleh Santo Ephraem (abad ke-4) dan Santo Agustinus (abad ke-5) dengan dasar pemikiran dari Santo Irenaeus (abad ke-2). Maka hal Maria dikandung tanpa noda bukan merupakan pendapat pribadi Maria Brownell atau orang-orang Katolik secara pribadi dalam mengartikan ayat Luk 1:28; melainkan itu sudah menjadi iman para Bapa Gereja sejak zaman Gereja awal. Bagi kami umat Katolik, kami menerima dengan rendah hati apa yang diwahyukan kepada Gereja, sebab kita mempercayai bahwa Kitab Suci tidak untuk diinterpretasikan berdasarkan pendapat dan kehendak pribadi, sesuai dengan yang dikatakan rasul Petrus dalam 2 Pet 1:20. Orang Katolik percaya bahwa Roh Kudus bekerja menuntun para Bapa Gereja dari sejak awal, dan ilham Roh Kudus ini tidak mungkin keliru, sebab jika demikian, hal ini tidak akan dapat bertahan selama berabad-abad.

Namun demikian, Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa Bunda Maria tidak memerlukan Yesus sebagai Juru Selamatnya. Malah sebaliknya, Gereja Katolik mengajarkan bahwa Maria dikandung tanpa noda hanya mungkin karena rahmat dan jasa Kristus. Jangan lupa bahwa rahmat Keselamatan oleh salib Tuhan Yesus bersifat mengatasi ruang dan waktu; sebab dapat dipandang sebagai berkat bagi seluruh umat manusia dari sejak Adam dan Hawa sampai generasi akhir jaman. Dan Bunda Maria termasuk di dalamnya. Bunda Maria menerima rahmat keselamatan itu terlebih dahulu sebelum terjadinya penyaliban dan kebangkitan Kristus. Hal ini dimungkinkan karena Tuhan Yesus adalah Allah yang tidak terbatas, dan Ia dapat berbuat segala sesuatu yang dipandangnya bijak untuk rencana keselamatan-Nya kepada manusia.

Jadi, walaupun kelihatannya peran utama Bunda Maria ‘hanya’ kecil di awal untuk melahirkan Yesus ke dunia; sesungguhnya Bunda Maria telah mengambil peran yang terbesar dan terpenting. Sebab tanpa kesediaannya, Yesus tidak jadi dilahirkan ke dunia pada saat itu. Apalagi jika kita merenungkan Kitab Suci dengan lebih mendalam, kita dapat melihat, bahwa peran Bunda Maria bukan saja terlihat pada saat awal hidup Yesus di dunia ini, melainkan sepanjang hidup Yesus, bahkan setelah kenaikan Yesus ke surga, Bunda Maria menyertai para rasul. Memang Maria tidak  ditonjolkan di dalam Kitab Suci (dan memang sudah seharusnya demikian, sebab jika tidak, orang dapat menjadi bingung akan siapa sebenarnya tokoh yang ingin ditonjolkan); namun Alkitab menyatakan bahwa Bunda Maria selalu hadir di saat-saat yang penting di dalam hidup Yesus sebagai manusia. Pada saat Yesus menjelma menjadi janin (Luk 1:26-38), kelahiranNya (Luk 2:1-6); saat Ia dipersembahkan di bait Allah (Luk 2:21-38); saat Yesus diungsikan ke Mesir untuk menghindari pembunuhan bayi oleh raja Herodes (Mat 2:13-15); saat Yesus mencapai usia akil balig (Luk 2:41-52); saat Yesus mengadakan mukjizat pertama di Kana (Yoh 2: 1-11); saat Yesus mengajar (Mrk 3:31-35); saat Yesus di salibkan, pada saat hampir semua murid-Nya meninggalkan Dia (Yoh 19: 25-27); dan saat para rasul menanti-nantikan Roh Kudus (Kis 1:14), yang berarti Bunda Maria menyertai para rasul pada saat terbentuknya Gereja awal pada hari Pantekosta.

Tentang peran Maria yang khusus sebagai Ibu Tuhan dan keperawanan Maria, sesungguhnya diakui tidak hanya oleh orang-orang Katolik; sebab para pendiri gereja Protestan, seperti Martin Luther, John Calvin, Zwingli dan John Wesley juga mengakui hal ini. Ulasan yang lebih lengkap ada di artikel Bunda Maria tetap perawan, mungkinkah? (silakan klik). Beberapa kutipannya adalah sebagai berikut:

1. Martin Luther (1483-1546): “Sudah menjadi iman kita bahwa Maria adalah Ibu Tuhan dan tetap perawan…. Kristus, kita percaya, lahir dari rahim yang tetap sempurna (‘a womb left perfectly intact’)”

2. John Calvin (1509-1564): “Ada orang-orang yang ingin mengartikan dari perikop Mat 1:25 bahwa Perawan Maria mempunyai anak-anak selain dari Kristus, Putera Allah, dan bahwa Yusuf berhubungan dengannya kemudian, tetapi, betapa bodohnya pemikiran seperti ini! Sebab penulis Injil tidak bermaksud merekam apa yang terjadi sesudahnya; ia hanya mau menyampaikan dengan jelas hal ketaatan Yusuf dan untuk menyatakan bahwa Yusuf telah diyakinkan bahwa Tuhanlah yang mengirimkan malaikatNya kepada Maria. Yusuf tidak pernah berhubungan dengan Maria …(He had therefore never dwelt with her nor had he shared her company)… Dan selanjutnya Tuhan kita Yesus Kristus dikatakan sebagai yang sulung. Hal ini bukan berarti bahwa ada anak yang kedua dan ketiga, tetapi karena penulis Injil ingin menyampaikan hak-hak yang lebih tinggi (precedence). Alkitab menyebutkan hal ’sulung’ (firstborn), baik ada atau tidaknya anak yang kedua.”

John Calvin bahkan mengecam Helvidius, yang mengatakan bahwa Maria mempunyai banyak anak.

3. Ulrich Zwingli (1484-1531): “Saya yakin dan percaya bahwa Maria, sesuai dengan perkataan Injil, sebagai Perawan murni melahirkan Putera Allah dan pada saat melahirkan dan sesudahnya selalu tetap murni dan tetap perawan (’forever remained a pure, intact Virgin’).”

4. John Wesley (1703-1791)menulis: “Saya percaya bahwa Dia (Tuhan Yesus) telah menjadi manusia, menyatukan kemanusiaan dengan keilahian dalam satu Pribadi; dikandung oleh satu kuasa Roh-Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria yang terberkati, yang setelah melahirkan-Nya tetap murni dan tetap perawan tak bernoda.”

Maka, kita mengetahui bahwa Bunda Maria bukan hanya sembarang ‘alat’ saja, namun memang sungguh-sungguh dipersiapkan oleh Allah untuk menjadi Ibu dari Putera-Nya, Yesus Kristus. Pendapat yang mengatakan bahwa Bunda Maria bukan orang yang secara istimewa dipilih Allah malah merupakan pendapat yang tidak berakar pada apa yang dipercayai oleh Gereja sejak awal dan yang dipertahankan sampai berabad-abad berikutnya, bahkan sampai sekarang.

Tanggapan tentang New Age Movement: Reiki, yoga?

89

Pertama-tama perlu kita ketahui terlebih dahulu apa sebenarnya yang disebut sebagai New Age Movement (NAM), baru setelah itu kita bahas mengenai yoga dan reiki. Menurut Paus Yohanes Paulus II dalam bukunya “Crossing the Treshold of Hope“,  NAM sebetulnya memiliki kemiripan dengan heresi/ ajaran sesat di abad pertama yaitu Gnosticism. Gnosticism kuno sebenarnya telah ada sebelum Kristus. Gnosticism tidak secara khusus mempunyai hirarki dan lembaga yang jelas, tetapi ia ‘menyusup’ pada agama-agama yang sudah ada, menggunakan struktur agama tersebut sambil mengaburkan apa yang menjadi kepercayaan agama tersebut dan ajaran aliran Gnosticism sendiri. Hal serupa terjadi pada NAM. Ciri-ciri Gnosticsm yang mencoba merasuki iman Kristiani:

  1. Percaya pada Allah yang sama sekali tak dapat diketahui oleh orang biasa, kecuali dengan pengetahuan rahasia (‘gnosis‘). Allah ini memancarkan allah yunior (aeons) yang menjembatani antara dunia material dan Allah. Salah satu dari allah yunior ini disebut Demiurge (allah pencipta). Demiurge ini menciptakan dunia material.
  2. Demiurge ini menciptakan dunia material yang jahat. Jadi kejahatan bukan akibat dosa asal, tapi karena pengaruh dunia material.
  3. Menurut para gnostics, Yesus adalah salah satu dari allah yunior ini. Karena para gnostics itu membenci tubuh/ dunia material, maka mereka menolak Inkarnasi (Allah menjelma menjadi manusia/ mengambil bentuk tubuh manusia) dan kehadiran Kristus yang nyata dalam Ekaristi. Menurut mereka, Yesus datang untuk membebaskan manusia dari pengaruh Demiurge.
  4. Karena membenci tubuh yang berupa materi, maka pengajaran yang mereka tawarkan adalah ‘pembebasan’ dari tubuh, melalui praktek Gnosticism.
  5. Bagi mereka, pengajaran Yesus hanya diberikan kepada sebagian pengikut-Nya, dan keselamatan diperoleh bukan dengan rahmat Tuhan, melainkan dengan mempelajari ‘pengetahuan rahasia’ tersebut.

Pada jaman para rasul, sudah ada pengaruh Gnosticism yang ingin ‘mengaburkan’ kebenaran Injil. Maka pada surat kepada jemaat di Kolose Rasul Paulus memperingati mereka untuk tidak mengikuti ‘roh-roh dunia’/ cosmic powers (Kol 2:8), dan Rasul Yohanes juga memperingatkan jemaat terhadap ajaran sesat yang tidak mengakui bahwa Kristus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia (1Yoh 4:2).

Sekarang ini prinsip Gnosticism terdapat dalam NAM, yang sesungguhnya berakar dari agama-agama Timur, terutama Hindu Pantheism dan Buddha. Kepercayaan NAM adalah bahwa segala sesuatu adalah Satu (Brahman) dan Satu adalah Tuhan. Dunia yang kita ketahui sekarang adalah ilusi. Jadi tujuan hidup bagi penganut NAM adalah untuk menemukan kesatuan dan keilahian di dalam segala sesuatu. Maka tujuan dari latihan rohani NAM adalah untuk menemukan keilahian dalam setiap orang, bahwa setiap kita adalah Tuhan! Maka setiap kita akan kehilangan jati diri sebagai individu, dan terserap di dalam kesatuan yang disebut Nirwana. Kesatuan tersebut bukan pribadi, namun suatu Energi universal. Jadi Allah di sini digambarkan sebagai Energi.

Bagaimana mengatur/ mengarahkan ‘energi’ inilah yang diajarkan oleh reiki, dan juga sesungguhnya oleh yoga, dengan aneka gerakan. Pada tahap awal,  mempelajari gerakan-gerakan ini sepertinya tidak berbahaya, namun pada tahap lanjut mengarah kepada suatu meditasi pengosongan diri dan mantra-mantra tertentu. Praktek seperti demikian tidak sesuai dengan ajaran Kristiani, dan karenanya sesungguhnya tidak boleh diikuti oleh umat Katolik. Sesungguhnya mengikuti gerakan yoga sebatas olah raga tidak menjadi masalah, asalkan jangan sampai mendalami ke tahap yang lebih dalam. Namun jika dapat dihindari, tentunya hal itu lebih baik; sebab sesungguhnya dapat saja dipilih bentuk olah raga yang lain yang tidak mengarah kepada NAM. Karena semakin yoga/ reiki dituruti, semakin ada tingkatan tertentu yang jika diikuti terus tidak sesuai dengan iman Katolik, sebab:

  1. Kita percaya bahwa Allah bukan merupakan “Energi”, tetapi merupakan “Pribadi” dalam hal ini Pribadi Trinitas Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Jangan lupa bahwa bagaimanapun dashyatnya energi, tetaplah kapasitasnya berada di bawah mahluk spiritual. Jadi adalah semacam kontradiksi, jika manusia diciptakan oleh “energi”, yang tidak dapat berpikir, tak dapat merasa, apalagi mengasihi. Bagi kita, tidak mungkin manusia yang merupakan mahluk spiritual diciptakan oleh “Energi”, berdasarkan prinsip akal sehat, bahwa tidak mungkin sesuatu yang lebih rendah menciptakan yang lebih tinggi, atau seseorang tak mungkin memberikan sesuatu yang tidak lebih dahulu dipunyainya. (Lihat artikel: Bagaimana membuktikan bahwa Tuhan itu ada)
  2. NAM percaya akan adanya kesatuan yang abstrak, yang mengarah pada tidak adanya individu lagi, tidak ada lagi perbedaan antara yang jahat dan baik, semua dipandang sebagai ilusi. Hitler akan dipandang sama saja dengan Bunda Teresa. Tentu saja hal ini bertentangan dengan akal sehat; dan sama saja dengan menolak akal sehat.
  3. Iman Kristiani tidak pernah mengajarkan bahwa tubuh (dunia material) itu jahat (evil), bahkan dikatakan bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus (lihat 1 Kor 6:19; 3:16). Maka ajaran NAM agar kita membebaskan diri dari tubuh adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan iman Kristen.
  4. Iman Kristiani malah mengajarkan kebangkitan badan pada akhir jaman nanti, di mana tubuh akan bersatu kembali dengan jiwa. Jadi ajaran NAM berupa ‘pembebasan’ manusia dari tubuh sebagai prinsip keselamatan juga tidak sesuai dengan ajaran iman Kristen.
  5. Dengan mengikuti latihan-latihan NAM, seperti yoga dan reiki, apalagi jika mencapai tingkatan tertentu, maka pusat dan fokus latihan rohani adalah diri sendiri, dan bukannya Allah. Jika pada awalnya mungkin seolah-olah diperbolehkan untuk merenungkan Allah, namun pada tahap tertentu tidak demikian lagi halnya.
  6. Tanpa disadari, mereka yang mengikuti latihan-latihan tersebut akan lebih mengandalkan latihan pengaturan ‘energi’ tersebut daripada bersandar pada doa dan menimba kekuatan dari Tuhan sendiri.

Saya menganjurkan, jika ada orang Katolik yang tertarik melakukan meditasi, silakan mempelajari meditasi yang diajarkan oleh Para Orang Kudus yang sesuai dengan tradisi iman Katolik, seperti meditasi ala St. Theresia dari Avila, St. Franciskus de Sales, atau St. Ignatius dari Loyola, dan St. Yohanes Salib. Fokus meditasi tersebut adalah Allah dan bukan “mengosongkan diri”. Meditasi yang dianjurkan Gereja adalah meditasi dengan merenungkan Sabda Allah, yang disebut “Lectio divina”, atau sering juga dikenal dengan sebutan ‘berdoa dengan Sabda Tuhan’. Meditasi ini jelas berbeda dengan meditasi ala NAM.

Pihak Vatikan pernah mengeluarkan dokumen mengenai tanggaan Gereja terhadap New Age Movement, yang pada dasarnya menolak paham NAM tersebut, dan aneka bentuk penggabungan antara NAM dan iman Kristiani. Silakan membaca dokumen-nya di sini: Pontifical Council for Culture, Pontifical Council for Inter-religious Dialogue, Jesus Christ the Bearer of the Water of Life: A Christian reflection on the “New Age”(silakan klik) dan Presentations of Holy See’s document on “New Age”. (silakan klik)

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab