Home Blog Page 316

Apakah Eden sama dengan Surga?

17

Pertanyaan:

Ibu Ingrid,
menurut penjelasan ibu bahwa taman eden tidak sama dengan surga. Bisa dijelaskan lebih lanjut apa itu taman eden dan apa itu surga? Penjahat yang disalib, di samping Yesus, bertobat dan dikatakan oleh Yesus bahwa hari ini juga dia akan bersama Yesus di firdaus. Taman firdaus = taman eden atau taman firdaus = surga? Terima kasih, Chandra.

Jawaban:

Shalom Chandra,

Taman Eden tidak sama dengan Surga, walaupun memang lokasi taman Eden tidak secara persis dijelaskan di dalam Alkitab. Pada kitab Kejadian, dengan disebutkannya suatu sungai yang terbagi menjadi empat cabang sungai (Kej 2:10), maka para ahli kitab suci memperkirakan Taman Eden terletak di sekitar Mesopotamia (sekarang Irak) [lihat peta berikut, yang menunjukkan adanya 4 cabang sungai di sekitar Ur. Catatan: ini adalah hanya salah satu penafsiran]. Walaupun tentu, ada perbedaan yang sangat menyolok antara Taman Eden sebelum jatuhnya Adam dan Hawa ke dalam dosa asal dengan lokasi tersebut di jaman sekarang.

Peta diambil dari: http://www.mega.nu:8080/ampp/eden/roots.html

Firdaus yang dijanjikan oleh Yesus kepada pencuri yang bertobat yang disalibkan di sisi-Nya itu tidak sama dengan Taman Eden, dan juga tidak sama dengan Surga. Firdaus di sini adalah berupa keadaan jiwa-jiwa orang-orang baik yang berada di pangkuan Bapa Abraham (the limbo of the just). Maka si pencuri yang bertobat itu akan digabungkan bersama-sama dengan para jiwa yang menantikan kedatangan Yesus, yaitu para orang benar yang telah meninggal sebelum Kristus. Para jiwa ini akan dibawa serta oleh Yesus masuk Surga, saat Ia naik ke Surga dan membuka pintu Surga bagi mereka. Silakan membaca lebih lanjut mengenai hal ini pada jawaban Stef yang ada di sini, terutama point 3 dan 4 (silakan klik).
Saat ini Kristus dan Bunda Maria ada di Surga, yaitu dengan jiwa dan badan mereka yang telah dimuliakan, bagaikan berada di suatu tempat tertentu. Namun ‘tempat’ ini tak dapat dijelaskan secara empiris, dan karenanya tak ada gunanya kita terlalu menyelidiki mengenai hal ini.
Surga inilah yang dikatakan oleh Rasul Paulus sebagai “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1 Kor 2:9). Atau, suatu keadaan dimana kita akan memandang Allah “dalam keadaan-Nya yang sebenarnya” (1Yoh 3:2).
Kini Kristus ada di Surga, setelah kebangkitan-Nya dari kematian dan kenaikan-Nya ke Surga. Mengikuti jejak Kristus, kitapun menantikan saatnya masuk Surga (tentu jika kita setia beriman dan menjaga kekudusan), jiwa dan badan, setelah kebangkitan badan dan Pengadilan Terakhir di akhir zaman.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- https://katolisitas.org.

Apakah menerima Komuni di tangan diperbolehkan?

16

Sebenarnya, jika kita mempelajari tradisi umum penerimaan Ekaristi, kita akan menemukan dua cara, langsung ke mulut atau di tangan. Memang, pada sampai sebelum Vatikan II, penerimaan Ekaristi dilakukan langsung ke mulut, namun pada tahun 1969, Roma mengeluarkan surat Instruksi yang memperbolehkan dua cara penerimaan Ekaristi, yaitu di tangan dan di mulut, dengan memberikan anjuran agar sedapat mungkin dipertahankan tradisi pemberian Ekaristi langsung ke mulut, walau tidak menutup kemungkinan pemberian ke tangan, jika itu diputuskan oleh konferensi para uskup di tempat yang bersangkutan, asal tetap menjaga penghayatan dan penghormatan yang layak kepada Ekaristi. Selengkapnya, silakan baca dokumen Instruksi resmi yang dikeluarkan oleh Paus Paulus VI, “Memoriale Domini“, the Instruction on the Manner of Administering Holy Communion, The Congregation for Divine Worship on 29 Mei 1969 – silakan klik.

Sedikit kutipannya adalah sebagai berikut:

“After he had considered the observations and the counsel of those whom “the Holy Spirit has placed as bishops to rule” (11) the Churches, in view of the seriousness of the matter and the importance of the arguments proposed, the Supreme Pontiff judged that the long received manner of ministering Holy Communion to the faithful should not be changed.
(Menurut Bapa Paus, cara lama menyampaikan Komuni Kudus kepada umat [yaitu langsung ke mulut] seharusnya tidak diubah)

The Apostolic See therefore strongly urges bishops, priests, and people to observe zealously this law, valid and again confirmed, according to the judgment of the majority of the Catholic episcopate, in the form which the present rite of the sacred liturgy employs, and out of concern for the common good of the Church.

If the contrary usage, namely, of placing Holy Communion in the hand, has already developed in any place, in order to help the episcopal conference fulfill their pastoral office in today’s often difficult situation, the Apostolic See entrusts to the conferences the duty and function of judging particular circumstances, if any. They may make this judgment provided that any danger is avoided of insufficient reverence or false opinions of the Holy Eucharist arising in the minds of the faithful and that any other improprieties be carefully removed.
(Jika sebaliknya, yaitu penerimaan Komuni Kudus di tangan, sudah berkembang di suatu tempat, maka untuk membantu konferensi para uskup menunaikan tugas pastoral pada situasi yang kadang sulit, maka pihak Kepausan menyerahkan kepada konferensi [para uskup] tugas dan untuk menimbang keadaan tertentu, jika ada. Mereka boleh menerapkan kebijaksanaan asalkan bahaya apapun dihindari yaitu yang berkenaan dengan dengan kurangnya penghormatan atau pendapat yang salah tentang Ekaristi kudus yang timbul di pikiran umat dan segala hal yang tidak layak dapat dihilangkan)

In these cases, moreover, in order to govern this usage properly, the episcopal conferences should undertake the appropriate deliberations after prudent study; the decision is to be made by a two-thirds majority by secret ballot…”

Maka kita mengetahui bahwa secara objektif, cara yang terbaik yang sebenarnya dianjurkan oleh Bapa Paus adalah menerima Ekaristi langsung di mulut, sebab dikatakan bahwa penerimaan langsung ke mulut lebih menunjukkan penghormatan yang lebih tinggi kepada Yesus yang hadir di dalam rupa hosti. KGK 1377 mengatakan, bahwa Kristus hadir dalam Ekaristi “mulai dari saat konsekrasi dan berlangsung selama rupa Ekaristi ada. Di dalam setiap rupa, dan di dalam setiap bagiannya tercakup seluruh Kristus, sehingga pemecahan roti tidak membagi Kristus.” Penerimaan Komuni langsung ke mulut dapat menghindari tercecernya serpihan-serpihan hosti yang kita percayai mengandung seluruh Kristus. Maka jika Komuni diberikan di tangan, maka perhatian khusus harus diberikan agar tidak ada serpihan hosti yang tercecer. Dan tak kalah penting, adalah tetap dengan hormat menerima Tubuh Kristus dengan sikap batin yang baik.
Dari segi kepraktisan, penerimaan komuni lewat mulut akan menghindari kemungkinan orang-orang yang ingin mendapatkan hosti untuk maksud-maksud yang tidak baik.

Penerimaan hosti (Sang Sabda yang menjadi daging) langsung ke mulut juga sesuai dengan ‘penerimaan Sabda Tuhan’ yang diberikan kepada nabi Yehezkiel (lih. Yeh 2:1,8,9,3: 1-3).

Sejarah menunjukkan, bahwa sebenarnya penerimaan Ekaristi langsung ke mulut inilah yang dianjurkan oleh sebagian besar Bapa Gereja dan para orang kudus, seperti berikut:

  1. Paus St. Leo Agung (440-461) mengajarkan Yohanes bab 6 dengan mengatakan, “Seseorang menerima di mulut apa yang dipercayainya dengan iman.”
  2. Paus St. Gregorius Agung (590-604), dalam dialognya (Roman 3, c.3) menyebutkan bagaimana Paus St. Agapito melakukan mukjizat pada misa kudus, saat ia memberikan Ekaristi di mulut seseorang. Hal ini juga dikatakan oleh Yohanes Diakon.
  3. Konsili Rouen (650): “Jangan memberikan Ekaristi di tangan orang awam, melainkan di mulut.”
  4. Konsili Trullo (692) bahkan melarang pemberian Ekaristi di tangan.
  5. St. Thomas Aquinas (1225-1274) menekankan pentingnya sakramen Tahbisan suci untuk menyentuh dan membagikan Komuni suci.
  6. Bunda Teresa yang terberkati mengatakan bahwa masalah yang terbesar di dunia ini, menurut beliau, adalah bukan kelaparan, wabah, penyakit, perceraian, pemberontakan terhadap Tuhan, korupsi, bahaya nuklir, dst, tetapi bahwa umat menerima Komuni di tangan.

Mereka yang mendukung penerimaan Komuni di tangan, biasanya mengutip St. Sirilus/ Cyril (315-386) dari Yerusalem yang mengatakan, “Umat menerima Komuni dengan tangan kanan mendukung tangan kiri, dengan telapak yang membentuk cekungan; dan pada saat Tubuh Kristus diberikan, umat menjawab, Amen.” Atau juga St Basil (330-379) yang memperbolehkan pemberian Komuni di tangan pada zaman penindasan, yaitu pada saat tidak ada diakon/ imam yang dapat memberikan Komuni.

Lebih lanjut mengenai hal Komuni di tangan maupun langsung ke mulut dapat dilihat dilink ini – silakan klik.

Sebagai anggota Gereja Katolik di Indonesia, maka kita menghormati keputusan konferensi para uskup Indonesia, yang memperbolehkan penerimaan Ekaristi di tangan; walaupun sesungguhnya, kita dapat saja tetap menerima Ekaristi langsung di mulut, seperti yang dianjurkan oleh Bapa Paus. Bahkan pada Peringatan Corpus Christi yang baru lalu, di Vatikan, Bapa Paus Benedict XVI hanya memberikan Komuni langsung ke mulut pada umat yang menerimanya dengan berlutut. Kita membacanya di sini – silakan klik.

Di atas semua itu, perlu kita ingat, bahwa yang terpenting adalah penghayatan kita akan apa yang kita sambut; yaitu Kristus sendiri dalam rupa hosti. Cara penerimaan Komuni merupakan hal disiplin, yang jangan sampai mengaburkan makna Ekaristi itu sendiri. Jadi, walaupun kita dapat menerima Komuni dengan tangan, namun sudah seharusnya kita juga tetap dapat menerima Ekaristi langsung ke mulut jika dikehendaki, yang sebenarnya merupakan cara yang lebih baik untuk menerima Ekaristi – berdasarkan dari tradisi Gereja yang telah berlangsung sejak lama.

Kesembuhan ibu mertua Petrus (Mk 1:29-39)

5

Pertanyaan:

Dalam Injil Markus 1:29-39 yang dibacakan dan kemudian dibahas dalam kotbah pada Misa hari Sabtu, dikatakan bahwa ibu mertua Simon yang sakit demam disembuhkan oleh Yesus, kemudian dia melayani mereka (Yesus, Yakobus, Yohanes).

Pada Pertemuan Ibadah Lingkungan sehari sebelumnya, kebetulan Injil Markus 1:29-39 diatas juga dibacakan. Pada pertemuan itu ditekankan (sambil diminta untuk diamini) bahwa Ibu mertua Simon sembuh karena imannya kepada Yesus. Ditambahkan pula bahwa kalau kita beriman, kita sudah sembuh 50%.

A) Benarkah Ibu mertua Simon sembuh karena imannya sendiri atau karena solidaritas iman Yakobus dan Yohanes yang mengantar Yesús kepadanya?

B) Benarkah kalau kita beriman berarti kita sudah sembuh 50%?
C) Mengapa Yesús menolak menemui orang-orang yang mencari Yesús dan men-jawab: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya
di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang?” Mengapa Yesus menolak menemui orang-orang itu. Bukankah mereka juga ingin mendengar berita baik (injil) dari Yesus?

Terimakasih
Yohanes K.

Jawaban:

Shalom Yohanes K.
Terima kasih atas pertanyaannya. Maaf saya baru dapat menampilkannya sekarang, karena kesibukan kuliah. Mari kita membahas pertanyaan Yohanes.
Beberapa prinsip yang perlu kita pegang:

  1. Dalam rahmat kesembuhan yang diberikan oleh Tuhan, kita harus membedakan antara kesembuhan jasmani dan kesembuhan Rohani. Yesus datang ke dunia ini bukan untuk memberikan kesembuhan jasmani, namun Dia datang untuk memberikan kesembuhan rohani, yaitu pembebasan manusia dari belenggu dosa. Supremasi rohani dari jasmani tentu saja terlihat jelas bahwa jiwa manusia lebih berharga daripada tubuh, karena jiwa sifatnya kekal, sedangkan tubuh tidak kekal. Kalaupun Yesus menunjukkan mukjijat kesembuhan jasmani, ini dilakukan-Nya sebagai suatu tindakan untuk menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan, yang menjadi pemenuhan nubuat para nabi (Yes 35:6), dan juga untuk mendukung pengajaran yang akan diberikan, seperti yang terjadi pada penggandaan roti dan ikan untuk menjelaskan tentang Ekaristi (Yoh 6).
  2. Mukjijat kesembuhan fisik adalah untuk membawa orang kepada kesembuhan rohani. Kalaupun seseorang mendapatkan kesembuhan fisik, maka orang tersebut juga akan meninggal. Kesembuhan fisik yang tidak membawa seseorang kepada Tuhan adalah tidak berguna. Kesembuhan rohanilah yang akan membawa orang ke surga. Dan inilah maksud utama dari Inkarnasi, yaitu memberikan kesembuhan rohani, yaitu dengan karya penebusan Kristus, sehingga berkat-berkat dicurahkan dan membuat orang mampu untuk berkata tidak terhadap dosa.

A. Apakah yang menyebabkan ibu mertua Simon sembuh?

  1. Diceritakan bahwa Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus, karena diberi tahu oleh Yakobus dan Yohanes (Mk 1:29-31). Di dalam Alkitab tidak diceritakan bahwa ibu mertua Petrus sembuh karena dia mempunyai iman yang teguh kepada Yesus. Namun itu menjadi sesuatu yang sangat masuk diakal, karena Petrus adalah murid Yesus, sehingga mungkin ibu mertuanya telah tahu atau mendengar tentang Yesus.
  2. Namun di dalam kejadian ini, kita dapat belajar bagaimana Yesus sering menggunakan orang-orang untuk menjadi perantara dalam kesembuhan seseorang – dalam kejadian ini, Yohanes dan Yakobus yang memberi tahu Yesus. Hal ini sering kita lihat, misalkan: pelayan dari perwira yang disembuhkan oleh Yesus karena iman dari perwira tersebut (Mt 8:5-13), orang lumpuh disembuhkan oleh Yesus karena iman orang-orang yang membawa si sakit (Mk 2:5).
    Dari sinilah, kita juga belajar, bagaimana para santa dan santo dapat membantu kita yang di dunia ini untuk mendapatkan kesembuhan, baik fisik maupun rohani.
  3. Kalau ditanya, Ibu mertua Simon sembuh karena imannya atau karena iman dari Yakobus dan Yohanes yang membawa Yesus kepadanya? Kita tidak tahu persis, bisa salah satunya, atau dua-duanya, karena tidak diceritakan dalam Alkitab. Dan ini bukan sesuatu yang utama. Kalau dalam kasus pelayan dari perwira (Mt 8:5-13), yang membawa kesembuhan bagi pelayan itu adalah sang perwira.
  4. Yang lebih penting di dalam perikop ini adalah bahwa setelah sembuh, wanita tersebut melayani Yesus. Inilah yang menjadi inti dari mukjijat kesembuhan fisik maupun rohani, yaitu mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan (yang didahului oleh pertobatan), dan kemudian melayani Tuhan sebagai bentuk balasan kasih kita kepada Tuhan.

B. Apakah kalau kita beriman berarti kita telah sembuh 50%?

  1. Dalam kesembuhan fisik, semuanya terserah Tuhan, karena Tuhan yang tahu persis apakah dengan kesembuhan tersebut akan mendatangkan keselamatan (kesembuhan rohani). Baik seseorang percaya hanya 10% atau 100% tidak otomatis bahwa seseorang akan mendapatkan kesembuhan fisik. Tentu saja orang yang beriman dan percaya akan lebih besar kemungkinannya untuk mendapatkan kesembuhan tersebut. Namun Tuhan juga dapat menyembuhkan seseorang dari penyakit fisik, walaupun orang tersebut kurang beriman, sejauh itu baik untuk keselamatan orang tersebut atau orang lain.
    Kita dapat belajar dari para orang kudus, seperti St. Teresa kanak-kanak Yesus, yang dengan tabah menghadapi penyakit tuberculosis. Yang terberkati Ibu Teresa dari Kalkuta dengan tabah mengalami operasi beberapa kali karena sakit jantung, sesak nafas, patah tulang. Kalau kita introspeksi, kita tidak mempunyai iman sebesar mereka. Namun para santa dan santo tahu, bahwa bukan kesembuhan fisik yang terutama, namun kehidupan spiritual mereka. Dalam penderitaan mereka, para santa dan santo menyatukannya dengan penderitaan Yesus di kayu salib. Kita juga diundang untuk melakukan hal yang sama.
    Jadi, kita harus mengingat kembali, bahwa kesembuhan fisik tidak akan berarti apa-apa tanpa kesembuhan rohani.
  2. Namun satu hal yang pasti, walaupun Tuhan tidak memberikan mukjijat kesembuhan fisik kepada semua orang, namun Tuhan menginginkan semua orang mengalami kesembuhan rohani, yang mengantar orang kepada kehidupan kekal. Dan ini hanya dapat dicapai dengan hidup kudus, seperti yang diperintahkan oleh Kristus sendiri yang berkata “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat 5:48).

C. Yesus menolak menemui orang-orang (Mk 1:38)?

  1. Setelah Yesus mengajar di Kapernaum, dimana semua orang kagum karena Yesus mengajar dengan penuh kuasa (Mk 1:21-22) dan dibuktikan dengan begitu banyak mukjijat yang dilakukan oleh Yesus (Mk 1:23-34), maka Yesus telah memberitakan Injil kepada mereka.
  2. Dan karena Yesus diutus untuk memberitakan Injil bukan hanya kepada orang-orang di Kapernaum, namun kepada semua orang, maka Yesus pergi ke tempat yang lain, sehingga banyak orang juga dapat percaya kepada Yesus dan memperoleh keselamatan. Ini juga diperlihatkan oleh para rasul yang menjalankan perintah Yesus “”Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kis 1:8)
  3. Kita melihat perkataan Yesus “…supaya Aku memberitakan Injil..” (Mk 1:38), bukan mengatakan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Pesan dan ajaran Kristuslah yang terpenting, bukan kesembuhan jasmani. Kalau mau, Yesus dengan satu kata saja dapat menyembuhkan semua orang di seluruh Israel, namun Dia tidak melakukannya, karena Dia diutus Bapa untuk menebus penyakit yang paling berbahaya, yaitu dosa.

Demikian jawaban yang dapat saya berikan dan semoga dapat menjawab pertanyaan Yohanes.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Perbedaan Gereja Katolik dan gereja Presbyterian

3

Pertanyaan:

Hello there..,
Kakak saya memberitahukan website ini 1 minggu yg lalu, dan ternyata sangat menarik. Saya belum menelusuri semua isinya, saya baru membukanya hari ini.
Sudah lama saya ingin menanyakan apakah perbedaan pengajaran dari gereja Katolik dan gereja Presbyterian, karena saya tidak tahu siapa yang bisa saya tanyakan, mungkin anda bisa membantu ?
terima kasih.
Margs

Jawaban:

Shalom Margs,
Terimakasih atas pertanyaannya dan dukungannya terhadap katolisitas.org. Mari kita melihat pertanyaan Margs tentang perbedaan Presbyterian dan Gereja Katolik:

  1. Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus. Gereja Katolik berjuang terus untuk memelihara kesatuan Gereja sesuai dengan amanat Yesus, sebelum Yesus mengalami penderitaan (Lih Yoh 17). Dalam artikel “Mengapa memilih Gereja Katolik“, saya mencoba memaparkan bahwa perpecahan telah terjadi pada jemaat awal dari: Docetism (90-451), Gnosticism (100), Manichaeism (250) dan seterusnya. Ini terus berkembang dengan perpecahan gereja: Gereja Timur Orthodox (1054),Gereja Anglikan di Inggris (abad ke 16), didirikan oleh Raja Henry VIII,Lutheran dan Calvinis di Jerman (abad ke 16), didirikan oleh Luther dan Calvin,Methodis di Inggis (1739), didirikan oleh John Wesley,Kristen Baptis (1639), didirikan oleh Roger Williams, Anabaptis (1521), didirikan oleh Nicolas Stork, Presbyterian di Skotlandia (1560), Mormon di Amerika (1830), didirikan oleh Joseph Smith, Saksi Yehovah di Amerika (1852-1916), didirikan oleh Charles Taze Russell,Unification Church di Korea (1954), didirikan oleh Rev. Sun Myung Moon, dll.
  2. Dan karena Presbyterian berdasarkan teologi dari Calvin, maka ada begitu banyak ajaran yang berbeda dengan ajaran Gereja Katolik, sebagai contoh Presbyterian mengajarkan:
    • Otoritas: Sola Scriptura atau Alkitab saja.
      Gereja Katolik mengajarkan tiga pilar kebenaran: Alkitab, Tradisi Suci, dan Magisterium (dapat dilihat di pembahasan ini).
    • Kitab Suci terdiri dari 39 PL dan 27 PB, sehingga ada 66 buku.
      Katolik mengajarkan ada 46 PL dan 27 PB atau 73 buku. Untuk pembahasan tentang kitab deuterokanonika dapat dilihat di jawaban ini (silakan klik).
    • Akibat dari dosa adalah manusia menjadi “totally corrupt“, sehingga tidak mempunyai kebebasan untuk berbuat baik dan hanya mempunyai kehendak bebas untuk berbuat dosa.
      Gereja Katolik mengajarkan bahwa setelah dosa asal, manusia mempunyai concupiscience atau kecenderungan berbuat dosa, namun manusia masih mempunyai kebebasan untuk menjawab panggilan Tuhan atau menolaknya. Untuk pembahasan tentang hal ini silakan melihat jawaban ini (silakan klik).
    • Dalam konsep keselamatan, mereka mengajarkan “double predestination“, dimana Tuhan telah memilih sebagian orang masuk surga dan sebagian orang masuk neraka.
      Gereja Katolik mengajarkan akan “predestination“, bahwa Tuhan mengajarkan semua manusia masuk surga, namun karena sebagian manusia tidak mau bekerjasama dengan rahmat Allah, maka mereka kehilangan keselamatannya.
      Lihat jawaban lebih detail disini (silakan klik).
    • Mengajarkan “sekali selamat tetap selamat”.
      Gereja Katolik mengajarkan bahwa keselamatan adalah sesuatu yang lalu, sekarang, dan akan datang, sehingga kita harus berjuang dalam kekudusan sampai akhir hayat kita. Keselamatan dapat hilang karena dosa berat.
    • Tidak percaya akan tujuh sakramen seperti yang dipercayai oleh Gereja Katolik.
    • Tidak mempunyai imam seperti yang dikenal di Gereja Katolik.
    • Tidak percaya akan transubstantiation, seperti yang dipercayai oleh Gereja Katolik. Lihat artikel ini: Ekaristi (1, 2, 3).
    • Tidak mengakui otoritas Paus, seperti yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Lihat jawaban ini (silakan klik).
    • Dan masih begitu banyak isu-isu yang lain, seperti: purgatory, doa bersama dengan orang Kudus, penghormatan terhadap Maria, pengakuan dosa, dll.
  3. Saya ingin menganjurkan agar Margs dapat membeli buku “Rome Sweet Home”, karangan Professor Scott Hahn, yang dulunya seorang pastor Presbyterian kemudian menjadi Katolik, karena menemukan “kepenuhan kebenaran” di Gereja Katolik. Buku tersebut telah dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia. Dengan membaca buku tersebut Margs dapat melihat secara persis apa yang diajarkan oleh gereja Presbyterian dan perbedaannya dengan ajaran Gereja Katolik.

Demikian jawaban yang dapat saya berikan, semoga dapat menjawab pertanyaan Margs.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Apakah semua denominasi sama dan apa bedanya dengan Gereja Katolik?

8

Pertanyaan:

Tapi saya tidak setuju dengan isi article tsb. yang menyatakan seolah-olah aliran Protestan salah dan Katholik yang benar. Kita harus obyektif bahwa tidak semua aliran protestan mengajarkan apa yg diceritakan dalam artikel.
Salam – Samuel.

Jawaban:

Shalom Samuel,

Berikut ini adalah jawaban untuk point C, dimana Samuel menyatakan ketidaksetujuan pernyataan bahwa aliran Protestan salah dan Katolik yang benar. Dan lebih lanjut Samuel mengatakan bahwa tidak semua aliran protestan mengajarkan apa yang diceritakan dalam artikel “Thank you Lord, I am Home.”

I. Banyak denomasi mengajarkan doktrin yang berbeda-beda

  1. Saya setuju dengan pernyataan Samuel bahwa tidak semua aliran Protestan mengajarkan beberapa hal yang diceritakan oleh Lia. Namun, inilah point yang sangat penting, dimana begitu banyak ajaran yang berbeda, sampai begitu sulit untuk menelusuri sumber dari suatu ajaran. Sebagai contoh, berapa sakramen yang Yesus dirikan? Apakah roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus atau hanya merupakan simbol belaka? Siapakah yang berwenang untuk menentukan ajaran atau doktrin kalau terjadi ketidaksetujuan?Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana dapat terjadi perbedaan- perbedaan dasar pemahaman antara dua orang (atau lebih) yang masing-masing mengklaim bahwa dialah yang mengerti doktrin yang benar?Berpegang pada Alkitab semata sebagai satu-satunya pegangan tidak akan dapat menyelesaikan segala pertanyaan tersebut. Hal ini terjadi karena kekurangan dari setiap individu untuk menafsirkan Alkitab dengan benar. Dan inilah yang ditegaskan oleh Rasul Petrus, dimana dia mengingatkan jemaat Kristen bahwa ada perkataan-perkataan dari Rasul Paulus yang sulit dimengerti dan dapat dibelokkan oleh orang-orang (lih. 2 Pet 3:15-17; 2 Pet 1:20-21). Kalau kita melihat ada banyak hal di dalam Alkitab yang memang sulit untuk dicerna, dan ketidakhati-hatian akan penafsiran akan mendatangkan kesalahan yang fatal. Berapa banyak kita mendengar dari agama lain, yang menggunakan Alkitab untuk menyanggah kebenaran iman Kristen, seperti tentang ajaran Tritunggal Maha Kudus,Yesus adalah Tuhan. Dan kalau kita meneliti lebih lanjut, hanya berpegang pada Alkitab saja mendatangkan begitu banyak perpecahan.

    Oleh sebab itu, Gereja Katolik mempunyai tiga pilar kebenaran yang juga menjadi pilar pemersatu, yaitu terdiri dari: Kitab Suci (Sacred Scripture), Tradisi Suci (Sacred Tradition), dan wewenang mengajar (Sacred Magisterium). Untuk lebih jelasnya, silakan melihatnya di jawaban ini (silakan klik).

  2. Kita tidak dapat mengatakan bahwa semua gereja benar. Argumentasi ini akan menjadi lebih mudah, kalau semua gereja mengajarkan hal yang sama. Namun kenyataannya, seperti yang Samuel katakan, tidak semua gereja mengajarkan hal yang sama. Kalau seseorang bertanya berapakah A+B? Dan satu orang menjawab C dan yang lain menjawab D, sedangkan C dan D tidaklah sama atau malah bertentangan, maka salah satu dari C atau D, atau jawaban lain yang benar. Tidak mungkin kita mengatakan C dan D sama-sama benar.Jadi kalau kita applikasikan dalam gereja, maka tidak mungkin semua gereja benar, karena semuanya banyak yang mengajarkan ajaran atau doktrin yang berbeda-beda. Bagaimana seseorang tahu mana gereja yang mengajarkan doktrin yangbenar dan mana yang tidak? Dan bagaimana seseorang membuktikan hal tersebut, apalagi semua gereja mengatakan bahwa Alkitab adalah sumber kebenaran mereka. Kalau salah satu benar, tidak mungkin semuanya benar. Dalam tulisan “Mengapa kita memilih Gereja Katolik“, saya mencoba membuktikan bahwa Yesus sendiri yang mendirikan Gereja Katolik. Namun kebenaran bahwa Gereja Katolik sebagai Gereja yang didirikan oleh Kristus tidak membuat Gereja Katolik menjadi sombong, namun senantiasa berjuang untuk hidup kudus. Bukan juga Gereja Katolik tidak ada toleransi terhadap agama lain, namun kesadaran bahwa Gereja Katolik didirikan oleh Kristus, justru semakin memacu Gereja Katolik untuk terus merangkul gereja-gereja lain, dan dengan jujur dan rendah hati belajar mendalami Firman Tuhan seperti para saudara-saudari dari gereja-gereja non-Katolik.

II. Bukankah Gereja Katolik tidak sempurna?

  1. Untuk menjawab ini, kita harus mengetahui hakekat dari Gereja itu sendiri, yaitu sebagai Tubuh mistik Kristus. Karena hanya ada satu kepala Gereja, yaitu Kristus, maka hanya ada satu Tubuh Kristus. Dan Tubuh Kritus ini tidaklah terpecah-pecah, yang berarti Tubuh Kristus bukanlah terdiri dari banyak gereja yang mempunyai pengajaran yang berlainan.
  2. Gereja juga mempunyai dualitas, yaitu: terlihat dan tak terlihat, cara (means) dan tujuan (end). Ingrid pernah menulis artikel “Gereja tonggak kebenaran dan tanda kasih Tuhan – bagian 2” (silakan klik). Di dalam artikel tersebut dijelaskan lebih mendetil tentang dualitas Gereja. Jadi kalau Gereja Katolik mengatakan bahwa Gereja adalah Kudus, itu dikarenakan oleh Kepala dari Gereja, yaitu Kristus adalah kudus. Namun Gereja juga terdiri dari orang-orang berdosa, sehingga diperlukan pertobatan yang terus-menerus.
  3. Memang ada masa-masa dimana otoritas Gereja kurang dapat mencerminkan kasih Kristus. Namun ini juga menjadi suatu bukti bahwa Kristus setia dengan janjinya untuk melindungi Gereja-Nya sampai akhir jaman dan tidak akan membiarkan maut berkuasa atasnya. Tanpa perlindungan dari Kristus, Gereja Katolik mungkin sudah tidak ada lagi di muka bumi ini. Namun kenyataannya, sampai saat ini, Gereja Katolik tetap berdiri,  dengan pengajaran yang sama, ibadah yang sama, dengan lebih dari satu milyard anggota di seluruh dunia.

Demikianlah apa yang dapat saya sampaikan untuk menjawab point C. Dari point ini, minimal Samuel dapat merenungkan, mengapa ada begitu banyak gereja dengan pengajaran yang berbeda-beda.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Nama Katolik tidak ada di Alkitab?

15

Pertanyaan:

Saya juga tidak menemukan nama gereja Katholik, Protestan dan yang lainnya disebutkan dalam Alkitab. Ada beberapa jemaat yang disebut seperti jemaat Korintus, jemaat Efesus, jemaat Smirna dlsb tetapi tidak ada yang menyebutkan sebagai salah satu golongan di atas. Kalaupun nantinya berkembang menjadi suatu aliran saya tidak tahu tetapi yang pasti pada waktu kitab / surat itu dibuat, tidak ada penekanan mengenai suatu aliran tertentu. Yang ditekankan adalah bagaimana kita yang sudah diselamatkan oleh anugrah melalui keselamatan Yesus Kristus itu mengerjakan keselamatan tsb. dengan sebaik-baiknya. Sekali lagi saya ingin menekankan bahwa gereja bahkan agama tidak menyelamatkan. Hanya Jesus yang menyelamatkan. Itulah bedanya kita dengan agama lain yang mencari keselamatan dengan melakukan perbuatan baik. Walaupun kita ada dalam suatu gereja yang sangat kudus tetapi kita sendiri tidak mau taat, dengar-dengaran terhadap Firman Tuhan, keselamatan yang sudah kita peroleh juga akan hilang (Ibr 6:4-6)
Salam – Samuel

Jawaban:

Shalom Samuel,

Berikut ini adalah jawaban untuk point B.

I. Perkataan Katolik ada di dalam Alkitab.

  1. Sesungguhnya kata ‘Katolik’ berasal dari bahasa Yunani, katholikos, yang artinya “keseluruhan/ universalwholeness” atau “komplit/ lengkapfullness“. Jadi dalam hal ini kata katholik mempunyai dua konotasi: bahwa Gereja yang didirikan Yesus ini bukan hanya milik suku tertentu atau kelompok eksklusif yang terbatas; melainkan mencakup ‘keseluruhan‘ keluarga Tuhan yang ada di ‘seluruh dunia‘, yang merangkul semua, dari setiap suku, bangsa, kaum dan bahasa (Why 7:9). Kata ‘katolik’ juga berarti bahwa Gereja tidakdapat memilih-milih doktrin yang tertentu asal cocok sesuai dengan selera/ pendapat kita, tetapi harus doktrin yang setia kepada ‘seluruh‘ kebenaran. Rasul Paulus mengatakan bahwa hakekatnya seorang rasul adalah untuk menjadi pengajar yang ‘katolik’ artinya yang “meneruskan firman-Nya (Allah) dengan sepenuhnya…. tiap-tiap orang kami nasihati  dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kol 1:25, 28)
  2. Kata Gereja Katolik yang ditulis dalam bahasa Yunani dalam Kitab Suci sebagai “Ekklesia Kata Holos/Kath olos” (asal mula kata katholikos) ada di Kis 9:31:
    “Ἡ μὲν οὖν ἐκκλησία καθ’ ὅλης τῆς Ἰουδαίας καὶ Γαλιλαίας καὶ Σαμαρίας εἶχεν εἰρήνην, οἰκοδομουμένη καὶ πορευομένη τῷ φόβῳ τοῦ κυρίου, καὶ τῇ παρακλήσει τοῦ ἁγίου πνεύματος ἐπληθύνετο.”Yang dalam bahasa Indonesia adalah:
    “Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.” Di sini kata” Ekklesia Kata holos (Kath olos) atau katholikos” dalam bahasa Indonesia adalah ‘Jemaat/ umat Seluruh/ Universal atau Gereja Katolik’, sehingga kalau ingin diterjemahkan secara konsisten, maka Kis 9:31, bunyinya adalah, “Selama beberapa waktu Gereja Katolik Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Gereja itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.”
  3. Memang ada bukti lain disamping Kitab Suci, yaitu tulisan St. Ignatius dari Antiokia (murid St. Yohanes Rasul) kepada jemaat di Smyrna 8 (106 AD), yang dipakai untuk membedakan umat Kristen dari para heretik pada saat itu yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia, yaitu heresi/ bidaah Docetism dan Gnosticism. Dengan surat ini St. Ignatius mengajarkan tentang hirarki Gereja, imam, dan Ekaristi yang bertujuan untuk menunjukkan kesatuan Gereja dan kesetiaan Gereja kepada ajaran yang diajarkan oleh Kristus. Demikian penggalan kalimatnya,”…Di mana uskup berada, maka di sana pula umat berada, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, maka di sana juga ada Gereja Katolik.“Di sinilah baru Gereja Katolik memiliki arti yang kurang lebih sama dengan yang kita ketahui sekarang, bahwa Gereja Katolik adalah Gereja universal di bawah pimpinan para uskup yang mengajarkan doktrin yang lengkap, sesuai dengan yang diajarkan Kristus.

II. Tidak ada penekanan akan adanya suatu aliran di Alkitab.

  1. Sebenarnya kalau kita cermati, ada beberapa referensi di Alkitab yang menekankan persatuaan jemaat Allah. Terjadinya perpecahan karena pandangan-pandangan yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Kristus.Kristus yang berdoa secara khusus untuk persatuan Gereja, sehingga dunia percaya bahwa akan Kristus (Yoh 17:1-25).Permasalahan tentang bagaimana menyikapi kekristenan dalam hubungannya dengan adat Yahudi, yang diselesaikan pada konsili Yerusalem yang pertama (Kis 15:1-21).St. Petrus mengirimkan surat kepada Timotius untuk berpegang kepada ajaran Kristus. 1 Tim 4:1-3, itu adalah ayat-ayat yang memang sangat baik untuk mengingatkan kita agar berpegang pada ajaran yang benar dan tidak mengikuti ajaran sesat. Konteks ayat-ayat ini adalah untuk menentang ajaran Gnosticism yang pada waktu itu berkembang pada abad-abad awal. Para Gnostics membenci tubuh, dan menganggap tubuh dan segala sesuatu yang berupa materi (termasuk makanan) adalah dosa. Sehingga perkawinan yang dianggap sebagai cara ‘mendatangkan tubuh/ bayi’ yang baru, dianggap sebagai perbuatan dosa. Maka para Gnostics ‘membenci’ perkawinan. Hal ini tentu saja bertentangan dengan ajaran Kristus, karena perkawinan malah dijadikan oleh Kristus sebagai lambang kasihNya kepada Gereja-Nya (Ef 5:22-32).
  2. Dari hal tersebut di atas, kita melihat ada benih-benih perpecahan yang terjadi pada masa jemaat awal. Dan para rasul memberikan penekanan untuk senantiasa bersatu dalam satu jemaat. Bahkan Rasul Paulus bagaimana untuk hidup dalam persatuan sebagai keluarga Allah, yakni Gereja dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran (1 Tim 3:15). Jadi banyaknya gereja-gereja yang sekarang ada, yang mengajarkan doktrin yang berbeda-beda, tidak menjawab doa Yesus, seperti yang dikatakan-Nya di Yoh 17.
  3. Salah satu cara untuk menelusuri apakah benar-benar dokrin dari suatu gereja berasal dari Kristus adalah dengan melihat perkembangannya secara organik. Cardinal Newman, dalam bukunya “The Development of Christian Doctrines”, meneliti bahwa Gereja yang mempunyai pengajaran yang benar adalah Gereja yang mempunyai perkembangan ajarannya dapat ditelusuri sampai kepada jaman awal kekristenan, yang bersumber pada Yesus sendiri. Ini berarti harus ada konsistensi dalam pengajaran, sama seperti perkembangan pohon kecil ke pohon yang besar. Yang dimaksudkan dari kecil ke besar adalah ajaran yang sama, namun perkembangannya hanya untuk memperjelas pengertian bukan mengubah ajaran. Hal inilah yang ditemukan oleh kardinal Newmann dalam Gereja Katolik, sehingga untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, dia berpindah dari Anglikan ke Gereja Katolik.
  4. Saya mengusulkan, cobalah Samuel untuk melihat salah satu doktrin “double predestination” atau “sekali selamat pasti selamat“. Dan kemudian cobalah untuk menelusuri perkembangan doktrin tersebut. Apakah yang dikatakan oleh Alkitab, Yesus, Rasul Paulus, Rasul Petrus, dll. Bagaimana Bapa Gereja mengatakan hal tersebut. Karena tidak mungkin sebuah doktrin yang ada dari awalnya, kemudian menjadi tidak ada, dan menjadi ada lagi. Di dalam teologi, doktrin yang satu berpegang pada doktrin yang lain, yang telah ada. Sebuah doktrin yang merupakan suatu penemuan tiba-tiba dan tidak dapat ditelusuri perkembangannya, bukan merupakan suatu perkembangan doktrin yang bersifat otentik dan organik, seperti yang dikatakan oleh Cardinal Newman.

II. Ada banyak kata yang tidak ada di Alkitab.

  1. Memang tidak semua kata terkandung di dalam Alkitab, seperti contohnya adalah Trinitas. Namun apakah kalau tidak ada perkataan tersebut, kemudian kita tidak percaya? Contoh yang lain adalah bagaimana kita tahu bahwa Yesus mempunyai dua keinginan dan bukan satu?Apakah original sin atau dosa asal benar-benar merusak manusia secara total atau tidak? Konsep tentang predestination: apakah double predestination ataukah predestination? Berapa sakramen yang Yesus berikan? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang membutuhkan permenungan dan analisa yang mendalam.
  2. Ini adalah sebagai sebuah contoh bahwa Alkitab memerlukan Tradisi Suci dan juga Magisterium Gereja. Kitab Suci saja sebenarnya tidaklah Alkitabiah. Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa Alkitablah satu-satunya sumber kebenaran. Silakan melihat pembahasan akan hal ini disini (silakan klik).

Demikian jawaban saya untuk point B.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab