Sebenarnya, jika kita mempelajari tradisi umum penerimaan Ekaristi, kita akan menemukan dua cara, langsung ke mulut atau di tangan. Memang, pada sampai sebelum Vatikan II, penerimaan Ekaristi dilakukan langsung ke mulut, namun pada tahun 1969, Roma mengeluarkan surat Instruksi yang memperbolehkan dua cara penerimaan Ekaristi, yaitu di tangan dan di mulut, dengan memberikan anjuran agar sedapat mungkin dipertahankan tradisi pemberian Ekaristi langsung ke mulut, walau tidak menutup kemungkinan pemberian ke tangan, jika itu diputuskan oleh konferensi para uskup di tempat yang bersangkutan, asal tetap menjaga penghayatan dan penghormatan yang layak kepada Ekaristi. Selengkapnya, silakan baca dokumen Instruksi resmi yang dikeluarkan oleh Paus Paulus VI, “Memoriale Domini“, the Instruction on the Manner of Administering Holy Communion, The Congregation for Divine Worship on 29 Mei 1969 – silakan klik.
Sedikit kutipannya adalah sebagai berikut:
“After he had considered the observations and the counsel of those whom “the Holy Spirit has placed as bishops to rule” (11) the Churches, in view of the seriousness of the matter and the importance of the arguments proposed, the Supreme Pontiff judged that the long received manner of ministering Holy Communion to the faithful should not be changed.
(Menurut Bapa Paus, cara lama menyampaikan Komuni Kudus kepada umat [yaitu langsung ke mulut] seharusnya tidak diubah)
The Apostolic See therefore strongly urges bishops, priests, and people to observe zealously this law, valid and again confirmed, according to the judgment of the majority of the Catholic episcopate, in the form which the present rite of the sacred liturgy employs, and out of concern for the common good of the Church.
If the contrary usage, namely, of placing Holy Communion in the hand, has already developed in any place, in order to help the episcopal conference fulfill their pastoral office in today’s often difficult situation, the Apostolic See entrusts to the conferences the duty and function of judging particular circumstances, if any. They may make this judgment provided that any danger is avoided of insufficient reverence or false opinions of the Holy Eucharist arising in the minds of the faithful and that any other improprieties be carefully removed.
(Jika sebaliknya, yaitu penerimaan Komuni Kudus di tangan, sudah berkembang di suatu tempat, maka untuk membantu konferensi para uskup menunaikan tugas pastoral pada situasi yang kadang sulit, maka pihak Kepausan menyerahkan kepada konferensi [para uskup] tugas dan untuk menimbang keadaan tertentu, jika ada. Mereka boleh menerapkan kebijaksanaan asalkan bahaya apapun dihindari yaitu yang berkenaan dengan dengan kurangnya penghormatan atau pendapat yang salah tentang Ekaristi kudus yang timbul di pikiran umat dan segala hal yang tidak layak dapat dihilangkan)
In these cases, moreover, in order to govern this usage properly, the episcopal conferences should undertake the appropriate deliberations after prudent study; the decision is to be made by a two-thirds majority by secret ballot…”
Maka kita mengetahui bahwa secara objektif, cara yang terbaik yang sebenarnya dianjurkan oleh Bapa Paus adalah menerima Ekaristi langsung di mulut, sebab dikatakan bahwa penerimaan langsung ke mulut lebih menunjukkan penghormatan yang lebih tinggi kepada Yesus yang hadir di dalam rupa hosti. KGK 1377 mengatakan, bahwa Kristus hadir dalam Ekaristi “mulai dari saat konsekrasi dan berlangsung selama rupa Ekaristi ada. Di dalam setiap rupa, dan di dalam setiap bagiannya tercakup seluruh Kristus, sehingga pemecahan roti tidak membagi Kristus.” Penerimaan Komuni langsung ke mulut dapat menghindari tercecernya serpihan-serpihan hosti yang kita percayai mengandung seluruh Kristus. Maka jika Komuni diberikan di tangan, maka perhatian khusus harus diberikan agar tidak ada serpihan hosti yang tercecer. Dan tak kalah penting, adalah tetap dengan hormat menerima Tubuh Kristus dengan sikap batin yang baik.
Dari segi kepraktisan, penerimaan komuni lewat mulut akan menghindari kemungkinan orang-orang yang ingin mendapatkan hosti untuk maksud-maksud yang tidak baik.
Penerimaan hosti (Sang Sabda yang menjadi daging) langsung ke mulut juga sesuai dengan ‘penerimaan Sabda Tuhan’ yang diberikan kepada nabi Yehezkiel (lih. Yeh 2:1,8,9,3: 1-3).
Sejarah menunjukkan, bahwa sebenarnya penerimaan Ekaristi langsung ke mulut inilah yang dianjurkan oleh sebagian besar Bapa Gereja dan para orang kudus, seperti berikut:
- Paus St. Leo Agung (440-461) mengajarkan Yohanes bab 6 dengan mengatakan, “Seseorang menerima di mulut apa yang dipercayainya dengan iman.”
- Paus St. Gregorius Agung (590-604), dalam dialognya (Roman 3, c.3) menyebutkan bagaimana Paus St. Agapito melakukan mukjizat pada misa kudus, saat ia memberikan Ekaristi di mulut seseorang. Hal ini juga dikatakan oleh Yohanes Diakon.
- Konsili Rouen (650): “Jangan memberikan Ekaristi di tangan orang awam, melainkan di mulut.”
- Konsili Trullo (692) bahkan melarang pemberian Ekaristi di tangan.
- St. Thomas Aquinas (1225-1274) menekankan pentingnya sakramen Tahbisan suci untuk menyentuh dan membagikan Komuni suci.
- Bunda Teresa yang terberkati mengatakan bahwa masalah yang terbesar di dunia ini, menurut beliau, adalah bukan kelaparan, wabah, penyakit, perceraian, pemberontakan terhadap Tuhan, korupsi, bahaya nuklir, dst, tetapi bahwa umat menerima Komuni di tangan.
Mereka yang mendukung penerimaan Komuni di tangan, biasanya mengutip St. Sirilus/ Cyril (315-386) dari Yerusalem yang mengatakan, “Umat menerima Komuni dengan tangan kanan mendukung tangan kiri, dengan telapak yang membentuk cekungan; dan pada saat Tubuh Kristus diberikan, umat menjawab, Amen.” Atau juga St Basil (330-379) yang memperbolehkan pemberian Komuni di tangan pada zaman penindasan, yaitu pada saat tidak ada diakon/ imam yang dapat memberikan Komuni.
Lebih lanjut mengenai hal Komuni di tangan maupun langsung ke mulut dapat dilihat dilink ini – silakan klik.
Sebagai anggota Gereja Katolik di Indonesia, maka kita menghormati keputusan konferensi para uskup Indonesia, yang memperbolehkan penerimaan Ekaristi di tangan; walaupun sesungguhnya, kita dapat saja tetap menerima Ekaristi langsung di mulut, seperti yang dianjurkan oleh Bapa Paus. Bahkan pada Peringatan Corpus Christi yang baru lalu, di Vatikan, Bapa Paus Benedict XVI hanya memberikan Komuni langsung ke mulut pada umat yang menerimanya dengan berlutut. Kita membacanya di sini – silakan klik.
Di atas semua itu, perlu kita ingat, bahwa yang terpenting adalah penghayatan kita akan apa yang kita sambut; yaitu Kristus sendiri dalam rupa hosti. Cara penerimaan Komuni merupakan hal disiplin, yang jangan sampai mengaburkan makna Ekaristi itu sendiri. Jadi, walaupun kita dapat menerima Komuni dengan tangan, namun sudah seharusnya kita juga tetap dapat menerima Ekaristi langsung ke mulut jika dikehendaki, yang sebenarnya merupakan cara yang lebih baik untuk menerima Ekaristi – berdasarkan dari tradisi Gereja yang telah berlangsung sejak lama.