Home Blog Page 283

Apakah gereja-gereja non-Katolik adalah bidah dan skisma?

16

Pertanyaan:

Shalom,

Berdasarkan penjelasan di atas, maka apakah bisa dikatakan bahwa:

1. Orang Protestan dan Gereja Protestan adalah bidah?
2. Orang Orthodox dan Gereja Orthodox adalah bidah?
3. Orang Protestan dan Gereja Protestan adalah skisma?
4. Orang Orthodox dan Gereja Orthodox adalah skisma?

Terima kasih sebelumnya.

Salam dalam Kasih Kristus,
Wirawan

Jawaban:

Shalom Wirawan,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang bidah dan skisma. Untuk menjawab hal ini, maka saya ingin mengutip definisi dari beberapa dokumen Gereja:

1) Katekismus Gereja Katolik (KGK, 2089) mengatakan “Ketidakpercayaan berarti tidak menghiraukan kebenaran yang diwahyukan atau menolak dengan sengaja untuk menerimanya. “Disebut bidah kalau menyangkal atau meragu-ragukan dengan tegas suatu kebenaran yang sebenarnya harus diimani dengan sikap iman ilahi dan katolik, sesudah penerimaan Sakramen Pembaptisan; disebut murtad kalau menyangkal iman-kepercayaan kristiani secara menyeluruh; disebut skisma kalau menolak ketaklukan kepada Sri Paus atau persekutuan dengan anggota-anggota Gereja yang takluk kepadanya” (CIC, can. 751).

2) Kitab Hukum Kanonik 751 mengatakan “Yang disebut bidaah (heresis) ialah menyangkal atau meragukan dengan membandel suatu kebenaran yang harus diimani dengan sikap iman ilahi dan katolik sesudah penerimaan sakramen baptis; kemurtadan (apostasia) ialah menyangkal iman kristiani secara menyeluruh; skisma (schisma) ialah menolak ketaklukan kepada Paus atau persekutuan dengan anggota-anggota Gereja yang takluk kepadanya.

3) KGK, 817 mengatakan “Dalam satu dan satu-satunya Gereja Allah itu sejak awal mula telah timbul berbagai perpecahan, yang oleh Rasul dikecam dengan tajam sebagai hal yang layak dihukum. Dalam abad-abad sesudahnya timbullah pertentangan-pertentangan yang lebih luas lingkupnya, dan jemaat-jemaat yang cukup besar terpisahkan dari persekutuan sepenuhnya dengan Gereja Katolik, kadang-kadang bukannya tanpa kesalahan kedua pihak” (UR 3). Perpecahan-perpecahan yang melukai kesatuan Tubuh Kristus (perlu dibedakan di sini bidah, apostasi, dan skisma)., tidak terjadi tanpa dosa manusia:“Di mana ada dosa, di situ ada keaneka-ragaman, di situ ada perpecahan, sekte-sekte dan pertengkaran. Di mana ada kebajikan, di situ ada kesepakatan, di situ ada kesatuan; karena itu semua umat beriman bersatu hati dan bersatu jiwa” (Origenes, hom. in Ezech. 9,1).

Dari beberapa definisi di atas, maka kita dapat menarik beberapa kesimpulan:

1) Skisma (schism) dan bidah (heresy) adalah dosa individual yang benar-benar mengeraskan hati, yang melukai persatuan Gereja dan juga menolak apa yang seharusnya dipercayai oleh umat beriman. Walaupun banyak orang memberikan beberapa gereja label ini karena alasan sejarah, namun secara prinsip (in the proper sense of the word), dosa skisma dan bidah adalah dosa individual. Hal ini dapat dilihat dari definisi di atas, dimana dikatakan “setelah menerima pembaptisan“. Penerimaan baptisan adalah secara individual bukan secara organisasi. Karena baptisan hanya diterima di dalam konteks kekristenan, maka kita tidak dapat mengatakan kepada umat Muslim atau Hindu, atau Budha bahwa mereka skismatik dan bidat, karena mereka tidak pernah menerima baptisan.

2) Wirawan mengajukan pertanyaan apakah gereja Protestan dan gereja Ortodox adalah skisma dan bidaah. Kalau kita mengacu kepada pengertian di atas, maka kita harus melihat secara individual, bukan kepada institusi. Untuk menjawab ini, kita harus mendefinisikan perkataan “setelah menerima pembatisan (post-baptismal)“. Apakah yang dimaksudkan di sini adalah semua baptisan yang sah/valid (dengan form, matter, intention yang benar), termasuk baptisan yang dilakukan oleh gereja-gereja lain – gereja Ortodox dan gereja-gereja Protestan? Atau, apakah baptisan di sini adalah baptisan yang dilakukan oleh Gereja Katolik?

a) Kalau kita mengasumsikan bahwa post baptismal (setelah pembaptisan) adalah baptisan yang sah, maka kita sebenarnya membuat semua orang yang dibaptis secara sah mempunyai posisi dan situasi dengan umat Katolik yang tergabung dalam Gereja Kristus yang satu, kudus, katolik dan apostolik, yang ada (subsist) di dalam Gereja Katolik. Padahal kita tahu, bahwa mereka yang telah dibaptis secara sah namun berada di luar Tubuh Mistik Kristus bukanlah tergabung secara penuh dalam Gereja Katolik. Oleh karena itu, saya pikir, baptisan sah di sini adalah baptisan yang dilakukan oleh Gereja Katolik. Konsili Vatikan II menjelaskan:

Gereja tahu, bahwa karena banyak alasan ia berhubungan dengan mereka (catatan dari saya: berhubungan bukanlah menjadi anggota secara penuh), yang karena dibabtis mengemban nama kristen, tetapi tidak mengakui ajaran iman seutuhnya (catatan dari saya: heresy/bidah) atau tidak memelihara kesatuan persekutuan dibawah Pengganti Petrus (catatan dari saya: schism / skisma)[28]. Sebab memang banyaklah yang menghormati Kitab suci sebagai tolak ukur iman dan kehidupan, menunjukkan semangat keagamaan yang sejati, penuh kasih beriman akan Allah Bapa yang mahakuasa dan akan Kristus, Putera Allah dan Penyelamat[29], ditandai oleh babtis yang menghubungkan mereka dengan Kristus, bahkan mengakui dan menerima sakramen-sakramen lainnya juga di Gereja-Gereja atau jemaat-jemaat gerejani mereka sendiri. Banyak pula diantara mereka yang mempunyai Uskup-uskup, merayakan Ekaristi suci, dan memelihara hormat bakti kepada Santa Perawan Bunda Allah[30]. Selain itu ada persekutuan doa-doa dan kurnia-kurnia rohani lainnya; bahkan ada suatu hubungan sejati dalam Roh Kudus, yang memang dengan daya pengudusan-Nya juga berkarya diantara mereka dengan melimpahkan anugerah-anugerah serta rahmat-rahmat-Nya, dan menguatkan beberapa dikalangan mereka hingga menumpahkan darahnya. Demikianlah Roh membangkitkan pada semua murid Kristus keinginan dan kegiatan, supaya semua saja dengan cara yang ditetapkan oleh Kristus secara damai dipersatukan dalam satu kawanan dibawah satu Gembala[31].. Untuk mencapai tujuan itu Bunda Gereja tiada hentinya berdoa, berharap dan berusaha, serta mendorong para puteranya untuk memurnikan dan membaharui diri, supaya tanda Kristus dengan lebih cemerlang bersinar pada wajah Gereja.” (LG, 15)

Dari sini kita melihat bahwa walaupun umat Kristen dipersatukan dengan Sakramen Baptis, namun tidak semua menjadi bagian penuh dalam Tubuh Mistik Kristus (lihat pembahasan tentang Tubuh Mistik Kristus – silakan klik). Oleh karena itu baptisan yang sah (valid) yang dilakukan oleh gereja-gereja lain tidak menjadikan orang yang terbaptis menjadi anggota penuh dari Gereja Katolik. Oleh karena itu, agak sulit untuk mengaplikasikan bidah dan skismatik kepada mereka gereja-gereja lain, karena mereka memang tidak pernah masuk secara penuh dalam Gereja Katolik, yang menjadi kondisi untuk skisma dan bidah.

b) Dari pengertian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa post-baptismal (setelah baptisan) di dalam KGK, 2089 merujuk kepada baptisan yang dilakukan oleh Gereja Katolik. Kitab Hukum Kanonik, 751 mengatakan “Yang disebut bidaah (heresis) ialah menyangkal atau meragukan dengan membandel suatu kebenaran yang harus diimani dengan sikap iman ilahi dan katolik sesudah penerimaan sakramen baptis; kemurtadan (apostasia) ialah menyangkal iman kristiani secara menyeluruh; skisma (schisma) ialah menolak ketaklukan kepada Paus atau persekutuan dengan anggota-anggota Gereja yang takluk kepadanya.

Kalau kita melihat buku “A Text and Commentary – The Code of Canon Law” commissioned by The Canon Law Society of Amerika, maka mereka memberikan keterangan pada kan. 751, yang mengartikan bahwa “Sakramen Baptis” mengacu kepada baptisan Katolik atau setelah seseorang diterima menjadi umat Gereja Katolik (misal: tanpa dibaptis, karena telah menerima baptisan sah dari gereja lain). Lebih lanjut dikatakan bahwa katekumen dan anggota gereja-gereja lain dan komunitas-komunitas gerejawi (ecclesial communities) tidak termasuk di dalamnya.

3) Kita harus juga membedakan antara orang-orang yang memang sebelumnya menjadi anggota gereja Katolik secara penuh – namun memisahkan diri atau menolak iman Katolik -, dan orang-orang yang dibesarkan beberapa generasi setelah skisma dan bidah. Untuk kategori pertama, yang memang sebelumnya berada dalam kesatuan penuh dengan Gereja Katolik dan kemudian memisahkan diri dari Tubuh Mistik Kristus sebenarnya telah mengambil resiko kehilangan keselamatan, karena dengan sadar mereka telah memisahkan diri dan memutuskan untuk tidak mengikuti dogma yang seharusnya dipercaya dengan iman Ilahi dan Katolik. Namun perpecahan yang telah berabad-abad membuat umat Kristen yang terpisah dari Gereja Katolik tidak sepenuhnya dapat dipersalahkan, karena mereka telah dididik dan dibesarkan dalam lingkungan non-Katolik dan tidak pernah masuk di dalam kawanan Gereja Katolik. Lebih lanjut konsili Vatikan II mengatakan:

Dalam satu dan satu-satunya Gereja Allah itu sejak awalmula telah timbul berbagai perpecahan[15]], yang oleh Rasul dikecam dengan tajam sebagai hal yang layak di hukum[16]]. Dalam abad-abad sesudahnya timbullah pertentangan-pertentangan yang lebih luas lingkupnya, dan jemaat-jemaat yang cukup besar terpisahkan dari persekutuan sepenuhnya dengan Gereja katolik, yang seringnya karena kesalahan orang- orang di kedua belah pihak. Tetapi mereka, yang sekarang lahir dan di besarkan dalam iman akan Kristus di jemaat-jemaat itu, tidak dapat dipersalahkan dan dianggap berdosa karena memisahkan diri. Gereja katolik merangkul mereka dengan sikap bersaudara penuh hormat dan cinta kasih. Sebab mereka itu, yang beriman akan Kristus dan dibaptis secara sah, berada dalam suatu persekutuan dengan Gereja katolik, baik perihal ajaran dan ada kalanya juga dalam tata-tertib, maupun mengenai tata-susunan Gereja, persekutuan gerejawi yang sepenuhnya terhalang oleh cukup banyak hambatan, diantaranya ada yang memang agak berat. Gerakan ekumenis bertujuan mengatasi hambatan-hambatan itu. Sungguhpun begitu, karena mereka dalam Baptis dibenarkan berdasarkan iman, mereka disaturagakan dalam Kristus[17]]. Oleh karena itu mereka memang dengan tepat menyandang nama kristen, dan tepat pula oleh putera-puteri Gereja katolik diakui selaku saudara-saudari dalam Tuhan[18]].” (unitatis Redintegratio, 3)

Cardinal Ratzinger dalam bukunya “The Meaning of Christian Brotherhood, pp. 87-88” mengatakan:

“The difficulty in the way of giving an answer is a profound one.  Ultimately it is due to the fact that there is no appropriate category in Catholic thought for the phenomenon of Protestantism today (one could say the same of the relationship to the separated churches of the East).  It is obvious that the old category of ‘heresy’ is no longer of any value.  Heresy, for Scripture and the early Church, includes the idea of a personal decision against the unity of the Church, and heresy’s characteristic is pertinacia, the obstinacy of him who persists in his own private way.  This, however, cannot be regarded as an appropriate description of the spiritual situation of the Protestant Christian.  In the course of a now centuries-old history, Protestantism has made an important contribution to the realization of Christian faith, fulfilling a positive function in the development of the Christian message and, above all, often giving rise to a sincere and profound faith in the individual non-Catholic Christian, whose separation from the Catholic affirmation has nothing to do with the pertinacia characteristic of heresy.  Perhaps we may here invert a saying of St. Augustine’s: that an old schism becomes a heresy.  The very passage of time alters the character of a division, so that an old division is something essentially different from a new one.  Something that was once rightly condemned as heresy cannot later simply become true, but it can gradually develop its own positive ecclesial nature, with which the individual is presented as his church and in which he lives as a believer, not as a heretic.  This organization of one group, however, ultimately has an effect on the whole.  The conclusion is inescapable, then: Protestantism today is something different from heresy in the traditional sense, a phenomenon whose true theological place has not yet been determined.

Dari text Cardinal Ratzinger, terlihat bahwa dia membedakan orang yang pada awalnya memang melakukan skisma dan bidah dengan orang yang memang telah dibesarkan dalam lingkungan tersebut selama berabad-abad.

4) Jadi kesimpulannya, cukup sulit untuk mengaplikasikan kata skismatik dan bidat kepada anggota gereja Protestan dan gereja Ortodoks. Konsili Vatikan II menggunakan kata “kesatuan penuh” dan “tidak dalam kesatuan penuh.” (lih. KGK, 817) Lebih lanjut KGK, 818 mengatakan “Tetapi mereka, yang sekarang lahir dan dibesarkan dalam iman akan Kristus di jemaat-jemaat itu, tidak dapat dipersalahkan dan dianggap berdosa karena memisahkan diri. Gereja Katolik merangkul mereka dengan sikap bersaudara penuh hormat dan cinta kasih… Sungguhpun begitu, karena mereka dalam Baptis dibenarkan berdasarkan iman, mereka disatu-ragakan dalam Kristus. Oleh karena itu mereka memang dengan tepat menyandang nama Kristen, dan tepat pula oleh putera-puteri Gereja Katolik diakui selaku saudara-saudari dalam Tuhan” (UR 3).”

a) Kalau kita mau menghubungkan hal ini dengan pengertian bidah dan skisma secara luas, maka kita dapat melihatnya dalam konteks material heresy dan formal heresy. Material heresy adalah penyangkalan tanpa disengaja/ tanpa pengetahuan penuh, atau dengan niat baik, sedangkan formal heresy adalah penyangkalan yang dilakukan dengan disengaja dan dengan pengetahuan penuh. Saya pribadi percaya bahwa banyak dari antara anggota-anggota gereja Protestan dan Ortodoks masuk dalam kategori material heresy, dimana kalau mereka dijelaskan dengan baik akan ajaran yang sebenarnya dari Gereja Katolik, maka mereka akan dapat menerimanya dan kembali kepada pangkuan Gereja Katolik. Kalaupun ada yang tidak mau menerima, maka kita serahkan kepada Tuhan, karena Tuhan yang tahu secara persis motivasi yang mendasari keputusan mereka.

b) Dan tentu saja Gereja Katolik dengan gereja Ortodoks mempunyai hubungan yang lebih dekat dibandingkan dengan gereja Protestant. Dikatakan “Sudah berabad-abad lamanya Gereja-Gereja Timur dan Barat menempuh perjalanan masing-masing, namun tetap berhubungan karena persekutuan persaudaraan dalam iman dan kehidupan sakramental. Sementara itu berdasarkan persetujuan Takhta di Roma ikut memainkan peranan, bila antara Gereja-Gereja itu timbul sengketa tentang iman dan tata-tertib. Konsili suci – diantara hal-hal lain yang penting sekali – berkenan mengingatkan kepada segenap umat beriman, bahwa di Timur banyaklah Gereja-Gereja khusus atau setempat yang berkembang dengan subur. Diantaranya yang terpenting ialah Gereja-Gereja patriarkal. Cukup banyak diantaranya membanggakan para Rasul sendiri sebagai asal-usulnya. Maka dari itu di kalangan Gereja-Gereja Timur telah dan masih tetap diutamakan usaha yang istimewa untuk melestarikan hubungan -hubungan kekerabatan dalam persekutuan iman dan cinta kasih, yang harus tetap terjalin antara Gereja-Gereja setempat, bagaikan antra saudari.” (UR, 14).

Sudah selayaknya kita memandang seluruh umat Kristen sebagai saudara di dalam Kristus. Bahwa memang ada perbedaan ajaran, memang itu adalah suatu kenyataan pahit dan menyedihkan yang harus kita terima. Menjadi tantangan bagi kita, umat Katolik, agar dapat merangkul mereka dengan penuh kasih. Kita dapat berdialog dengan mereka tentang perbedaan ajaran tanpa menyembunyikan dan mengaburkan kebenaran, namun harus tetap didasari semangat kasih. Intinya adalah, kita tidak dapat mentolerir ajaran yang salah, karena kita tidak dapat mengaburkan kebenaran. Namun, kita harus mengasihi orang-orang yang percaya akan ajaran yang berbeda dengan apa yang dipercayai oleh Gereja Katolik.

Apakah gereja Ortodoks termasuk dalam Tubuh Mistik Kristus?

26

Pertanyaan:

Shalom Ibu Ingrid, Bp. Stefanus, dan Romo Wanta,
Saya ada satu pertanyaan: Apakah Gereja Orthodox itu bagian dari Tubuh Mistik Kristus?
Salam dalam Kasih Kristus, – Wirawan

Jawaban:

Shalom Wirawan,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang apakah gereja Orthodoks termasuk dalam mystical body of Christ atau tubuh mistik Kristus. Untuk menjawab hal ini, kita harus mengerti tentang konsep Gereja sebagai “means” dan gereja sebagai “end“. Hirarki, struktur, sakramen, yang terlihat adalah contoh Gereja sebagai means dan ekaristi, kekudusan, Kerajaan Allah, yang tak terlihat adalah contoh Gereja sebagai “end”. Namun, means dan end tidaklah terpisahkan, sama seperti manusia yang mempunyai tubuh dan jiwa yang tak terpisahkan. Lumen Gentium, 8 menyatakan bahwa means dan end adalah tak terpisahkan sebagaimana Kristus mempunyai kodrat manusia dan kodrat Allah. Dikatakan bahwa:

Kristus, satu-satunya Pengantara, didunia ini telah membentuk Gereja-Nya yang kudus, persekutuan iman, harapan dan cinta kasih, sebagai himpunan yang kelihatan. Ia tiada hentinya memelihara Gereja[9]. Melalui Gereja Ia melimpahkan kebenaran dan rahmat kepada semua orang. Adapun serikat yang dilengkapi dengan jabatan hirarkis dan Tubuh mistik Kristus, kelompok yang nampak dan persekutuan rohani, Gereja didunia dan Gereja yang diperkaya dengan karunia-karunia sorgawi janganlah dipandang sebagai dua hal; melainkan semua itu merupakan satu kenyataan yang kompleks, dan terwujudkan karena perpaduan unsur manusiawi dan ilahi[10]. Maka berdasarkan analogi yang cukup tepat Gereja dibandingkan dengan misteri Sabda yang menjelma. Sebab seperti kodrat yang dikenakan oleh Sabda ilahi melayani-Nya sebagai upaya keselamatan yang hidup, satu dengan-Nya dan tak terceraikan daripada-Nya, begitu pula himpunan sosial Gereja melayani Roh Kristus, yang menghimpunkannya demi pertumbuhan Tubuh-Nya (lih Ef 4:16)[11].

Itulah satu-satunya Gereja Kristus yang dalam Syahadat iman kita akui sebagai Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik[12]. Sesudah kebangkitan-Nya Penebus kita menyerahkan Gereja kepada Petrus untuk digembalakan (lih. Yoh 21:17). Ia mempercayakannya kepada Petrus dan para rasul lainnya untuk diperluaskan dan dibimbing (lih. Mat 28:18 dsl), dan mendirikannya untuk selama-lamanya sebagai “tiang penopang dan dasar kebenaran” (lih. 1Tim 3:15). Gereja itu, yang didunia ini disusun dan diatur sebagai serikat, berada dalam Gereja katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para Uskup dalam persekutuan dengannya[13], walaupun diluar persekutuan itupun terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran, yang merupakan karunia-karunia khas bagi Gereja Kristus dan mendorong ke arah kesatuan katolik.

Untuk lebih jelas menangkap natur dari dari Gereja secara lebih mendalam, maka harus juga membaca ensiklik Mystici Corporis dari Paus Pius XII, dimana dikatakan bahwa Kristus adalah kepala dari Gereja dan Roh Kudus adalah jiwa dari Gereja. Dan dalam kaitannya dengan topik Tubuh Mistik Kristus, maka Paus Pius XII mengatakan bahwa Tubuh Mistik Kristus haruslah “something definite” dan “perceptible to the senses” atau dengan kata lain haruslah kelihatan.

14. That the Church is a body is frequently asserted in the Sacred Scriptures. “Christ,” says the Apostle, “is the Head of the Body of the Church.”[13] If the Church is a body, it must be an unbroken unity, according to those words of Paul: “Though many we are one body in Christ.”[14] But it is not enough that the body of the Church should be an unbroken unity; it must also be something definite and perceptible to the senses as Our predecessor of happy memory, Leo XIII, in his Encyclical Satis Cognitum asserts: “the Church is visible because she is a body.”[15] Hence they err in a matter of divine truth, who imagine the Church to be invisible, intangible, a something merely “pneumatological” as they say, by which many Christian communities, though they differ from each other in their profession of faith, are united by an invisible bond.

23. Nor must one imagine that the Body of the Church, just because it bears the name of Christ, is made up during the days of its earthly pilgrimage only of members conspicuous for their holiness, or that it consists only of those whom God has predestined to eternal happiness. it is owing to the Savior’s infinite mercy that place is allowed in His Mystical Body here below for those whom, of old, He did not exclude from the banquet.[20] For not every sin, however grave it may be, is such as of its own nature to sever a man from the Body of the Church, as does schism or heresy or apostasy. Men may lose charity and divine grace through sin, thus becoming incapable of supernatural merit, and yet not be deprived of all life if they hold fast to faith and Christian hope, and if, illumined from above, they are spurred on by the interior promptings of the Holy Spirit to salutary fear and are moved to prayer and penance for their sins.

Dari dokumen-dokumen di atas, maka Tubuh Mistik Kristus sangatlah jelas dan lebih bersifat obyektif, karena terlihat, seperti tubuh manusia yang terlihat. Dan unsur yang terlihat ini tidak dapat dipisahkan dengan unsur yang tak terlihat. Selain terlihat, Tubuh Mistik Kristus juga harus satu dan tak terceraikan, yang hanya mungkin berada di bawah kepemimpinan Paus, penerus St. Petrus, dimana Yesus sendiri yang menjanjikan untuk menjaga dan melindungi Gereja-Nya. Dengan pengertian ini, maka gereja Ortodoks, bukanlah termasuk dalam Tubuh Mistik Kristus. Namun perlu diketahui bahwa Gereja Timur Katolik adalah termasuk dalam Tubuh Mistik Kristus, karena mereka masuk dalam kesatuan yang terlihat.

Bertumbuh dan memperbaharui diri secara spiritual

24

Alergi kekudusan

Sadar atau tidak, kita ini hidup di zaman yang seolah anti terhadap kekudusan. Jangankan melakukannya, membicarakannya saja sudah dianggap aneh. Contohnya saja, mari kita bertanya kepada diri kita masing- masing, apakah umum bagi kita mendengar percakapan tentang kekudusan di rumah kita, saat kita berkumpul bersama- sama dengan keluarga?

Namun demikian, sesungguhnya banyak orang menginginkan kekudusan itu. Kami di katolisitas.org menerima cukup banyak pesan dan komentar dari para pembaca yang mengungkapkan kerinduan untuk mengenal lebih dalam pengajaran Gereja Katolik, dan untuk mencari kebenaran dan bertumbuh secara rohani. Kami menerima banyak pertanyaan tentang bagaimana caranya bertumbuh secara rohani. Walaupun pertanyaannya terdengar begitu sederhana, namun jawaban yang dibutuhkan sebenarnya cukup panjang. Kami yakin, kerinduan untuk bertumbuh dalam iman adalah kerinduan kita semua, yang sering terlintas di dalam pikiran kita. Namun, mungkin kita menjadi bingung untuk memulai dari mana. Ada juga pembaca yang melontarkan ide-ide yang nampak revolusioner untuk memperbaharui Gereja dan diri sendiri secara lebih dramatis, namun ada juga sebagian yang berfikir semuanya sudah cukup. Di dalam tulisan ini akan diulas, bagaimana sebenarnya pertumbuhan dan pembaharuan rohani yang harus kita usahakan dan lakukan; karena tanpa itu, kita dengan mudah terseret ke dalam arus dunia yang bertentangan dengan nilai-nilai kehidupan kristiani.

Apakah pertumbuhan dan pembaharuan?

Pertumbuhan adalah suatu proses, yang akan berakhir pada saat seseorang mencapai tujuan. Dalam kehidupan rohani, pertumbuhan adalah suatu proses untuk menjalani kehidupan rohani untuk mencapai tujuan, yaitu persekutuan dengan Allah. Karena persekutuan dengan Allah adalah kekudusan, maka pertumbuhan secara rohani senantiasa berkaitan dengan hidup kudus, bahkan kekudusan adalah tujuan dan buah dari pertumbuhan. Selanjutnya, pembaharuan juga mempunyai tujuan yang sama, yaitu kekudusan. Pembaharuan ataupun pertumbuhan bukanlah sesuatu yang berarti perombakan total sesuatu yang sudah ada, melainkan suatu proses perubahan menuju sesuatu yang lebih baik. Oleh karena itu, sebenarnya pertumbuhan dan pembaharuan adalah sama saja, dan proses-nya itu sendiri merupakan perjuangan untuk hidup kudus. Dengan demikian, kita tidak dapat memisahkan pembaharuan dan pertumbuhan rohani dengan kekudusan.

Apakah kekudusan itu?

1. Kekudusan adalah ciri khas Tuhan

Kekudusan adalah salah satu dari sifat utama Tuhan yang menjadi ciri khas-Nya. Kekudusan adalah kasih Allah yang sempurna, sehingga kekudusan dan kasih adalah sesuatu yang tidak terpisahkan, sebab Tuhan adalah Kudus (Im 19:2, Lk 1: 49, 1Pet 1:15) dan Kasih (1Yoh 4: 10,16).

2. Kekudusan adalah kehendak Allah bagi semua orang

Kekudusan adalah kehendak Allah untuk kita semua (1Tes 4:3, Ef 1:4; 1Pet 1:16) walaupun kita mempunyai jalan dan status kehidupan yang berbeda-beda. Kita semua, dipanggil untuk hidup kudus dengan menerapkan kasih kepada Tuhan dan sesama (Mat 22:37-39; Mrk 12:30-31), sehingga kita mencapai kepenuhan hidup Kristiani. ((Lihat Lumen Gentium (LG) 40, juga LG 42, “Maka semua orang beriman kristiani diajak dan memang wajib mengejar kesucian dan kesempurnaan status hidup mereka.”))

Konsili Vatikan II, di dalam dokumennya tentang Gereja (Lumen Gentium) menyerukan panggilan kekudusan untuk semua orang yang berkehendak baik:

“…Para pengikut Kristus dipanggil oleh Allah bukan berdasarkan perbuatan mereka, melainkan berdasarkan rencana dan rahmat-Nya. Mereka dibenarkan dalam tuhan Yesus, dan dalam babtis iman sungguh-sungguh dijadikan anak-anak Allah dan ikut serta dalam kodrat ilahi, maka sungguh menjadi suci. Maka dengan bantuan Allah mereka wajib mempertahankan dan mengembangkan dalam hidup mereka kesucian yang telah mereka terima. Oleh rasul mereka dinasehati, supaya hidup “sebagaimana layak bagi orang-orang kudus” (Ef 5:3); supaya “sebagai kaum pilihan Allah, sebagai orang-orang Kudus yang tercinta, mengenakan sikap belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah-lembutan dan kesabaran” (Kol 3:12); dan supaya menghasilkan buah-buah Roh yang membawa kepada kesucian (lih. Gal 5:22; Rom 6:22). Akan tetapi karena dalam banyak hal kita semua bersalah (lih. Yak 3:2), kita terus-menerus mebutuhkan belas kasihan Allah dan wajib berdoa setiap hari: “Dan ampunilah kesalahan kami” (Mat 6:12). Jadi bagi semua jelaslah, bahwa semua orang kristiani, bagaimanapun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan cinta kasih…” (LG, 40)

3. Kekudusan adalah persekutuan dengan Tuhan dan sesama dalam kasih

Persatuan atau persekutuan dengan Tuhan adalah inti dari kekudusan, ((Lihat Joseph Cardinal Ratzinger, Called to Communion, (Ignatius Press, San Francisco, 1996), p.33, “The ultimate goal…is perfect unity- it is “unification” with the Son, which at the same time makes it possible to enter into the living unity of God Himself so that God might be all in all (1Cor 15:28).”)) sebab Tuhan Allah Tritunggal sendiri adalah contoh dari persekutuan kasih antara Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Ia yang telah memanggil semua manusia kepada kekudusan, telah juga menanamkan kemampuan pada kita untuk mengasihi dan hidup di dalam persekutuan. ((Lihat Katekismus Gereja Katolik (KGK), 2331. “Allah itu cinta kasih. Dalam diri-Nya Ia menghayati misteri persekutuan cinta kasih antar pribadi (dalam hal ini Pribadi Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus). Seraya menciptakan umat manusia menurut citra-Nya sendiri… Allah mengukirkan panggilan dalam kodrat manusia pria dan wanita, dan karena itu juga kemampuan serta tanggung jawab untuk hidup dalam cinta dan dalam persekutuan.”)) Maka kekudusan adalah persekutuan dengan Allah dan sesama dalam kasih, dan dengan mengasihi inilah kita dapat menjadikan hidup kita berarti dan bahagia, sebab sejak semula memang untuk Allah menciptakan kita agar kita beroleh kebahagiaan.

Jadi, manusia yang diciptakan menurut gambaran Allah, baik itu para religius maupun kaum awam, yang menikah ataupun lajang, tua ataupun muda, semua dipanggil kepada kesempurnaan kasih yang disebut kekudusan ini. ((Lihat LG 39, “Jadi bagi semua jelaslah, bahwa semua orang kristiani, bagaimanapun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan cinta kasih.”)). Kekudusan ini diperoleh melalui pemenuhan hukum yang terutama, yaitu mengasihi Tuhan dan sesama (lih. Mrk 12:30-31). ((Lihat LG 40, “Kamu harus sempurna, seperti Bapamu yang di sorga sempurna adanya” (Mat 5:48). Sebab kepada semua diutus-Nya Roh Kudus, … supaya mengasihi Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi dan dengan segenap tenaga mereka (lih. Mrk 12:30), dan saling mencintai seperti Kristus telah mencintai mereka (lih. Yoh 13:34; 15:12). )) yang dicapai dengan mengikuti jejak Tuhan sesuai dengan karunia yang diberikan kepada tiap-tiap orang untuk memberi kemuliaan bagi Tuhan dan pelayanan kepada sesama. ((Lihat LG 40, “Untuk memperoleh kesempurnaan itu hendaklah kaum beriman mengerahkan tenaga yang mereka terima menurut ukuran yang dikurniakan oleh Kristus, supaya dengan mengikuti jejak-Nya dan menyerupai citra-Nya, dengan melaksanakan kehendak Bapa dalam segalanya, mereka dengan segenap jiwa membaktikan diri kepada kemuliaan Allah dan pengabdian terhadap sesama.”)) Mengapa? Sebab jika kita mengasihi Tuhan, kita didorong untuk mengasihi sesama, karena kita melihat Kristus di dalam sesama kita terutama yang lemah dan membutuhkan pertolongan (lih. Mat 25:40). Kasih kepada Tuhan dan sesama inilah yang menunjukkan bahwa kita adalah pengikut Kristus. ((Lihat LG 42, “Maka cinta kasih akan Allah maupun akan sesama merupakan ciri murid Kristus yang sejati.”)) Persekutuan yang erat dengan Tuhan juga mendorong kita menjadikan kehendak Tuhan sebagai kehendak kita sendiri, pikiran Tuhan sebagai pikiran kita sendiri. Dan karena Tuhan menghendaki segala sesuatu utuh dan sempurna, maka persekutuan dengan-Nya  juga membawa kita kepada persekutuan dengan sesama dan keutuhan diri sendiri.

4. Kekudusan itu dimulai dari hal- hal kecil dan sederhana

Dalam hal ini janganlah kita berpikir bahwa kekudusan adalah sesuatu yang terlalu tinggi yang tidak dapat diraih. Sebab, menurut Santa Teresia Kanak-kanak Yesus, kekudusan berawal dari hal-hal kecil dan sederhana yang dilakukan dengan motif kasih yang besar kepada Tuhan, karena “perbuatan kasih adalah jalan utama yang memimpin kita kepada Tuhan.” ((St. Therese of Lisieux, The Story of a Soul, The Autobiography of St. Therese of Lisieux, translated by John Clark, O.C.D., (ICS Publications, Washington DC., Third Edition 1996), p. 194)).  Contohnya, kita dapat bangun tidur lebih awal 10 menit untuk berdoa, kita dapat menyapa anggota keluarga, tetangga atau Pak Satpam dengan tersenyum, atau membantu membuang sampah pada tempatnya di rumah atau di tempat kerja. Singkatnya, dalam keseharian kita, kita menyadari akan kehadiran Tuhan, sehingga kita berusaha untuk menyenangkan hati-Nya dengan setiap perkataan dan perbuatan kita. Dimulai dari hal-hal kecil inilah, kemudian kita dibentuk oleh Kristus untuk menjadi semakin serupa dengan-Nya, yaitu mengikuti kerendahan hati-Nya dengan memikul salib kita sehari-hari, supaya kita dapat turut serta dalam kemuliaan-Nya (1 Pet 4: 13, LG 41).

5. Kekudusan itu adalah rahmat yang kita peroleh dari Kristus contoh dan sumber kekudusan

Walaupun kita dapat berusaha untuk mengejar kekudusan, namun tidak berarti bahwa kekudusan itu dapat diperoleh dari kekuatan kita sendiri. Sebab kekudusan itu sesungguhnya adalah rahmat Tuhan. Tuhan telah memberikan teladan kesempurnaan kasih dengan memberikan diri-Nya sendiri melalui Yesus Kristus Putera-Nya kepada kita (1Yoh 4:10). Di dalam Kristus, Tuhan memberitahukan kepada kita kesempurnaan kasih-Nya, yaitu kekudusan. Maka terdorong oleh Roh Kudus, dan dikuatkan oleh rahmat Tuhan yang kita terima pada saat Pembaptisan, kita dipanggil oleh Tuhan untuk mengikuti teladan-Nya, dengan memberikan diri kita kepada orang lain.

Maka kita tidak dapat mengandalkan kemampuan kita sendiri untuk mencapai kekudusan; sebab kita baru bisa menjadi kudus, jika kita menerima rahmat Allah dan bekerjasama dengannya. Gereja memberikan rahmat pengudusan Allah itu melalui sakramen-sakramennya; ((lih. KGK 1123: Sakramen-sakramen dimaksudkan untuk menguduskan manusia, membangun Tubuh Kristus, dan akhirnya mempersembahkan ibadat kepada Allah. Tetapi sebagai tanda, Sakramen juga dimaksudkan untuk mendidik. Sakramen tidak hanya mengandaikan iman, melainkan juga memupuk, meneguhkan dan mengungkapkannya dengan kata-kata dan tindakan. Maka juga disebut Sakramen iman” (Sacrosanctum Concilium 59).)) terutama sakramen Ekaristi dan sakramen Tobat.

Kristus, Sumber segala kekudusan, memanggil kita untuk mengambil bagian di dalam misteri KeselamatanNya, yaitu salib dan kebangkitanNya (1Pet 4:13). Dengan mengambil bagian dalam misteri Paska Kristus ini, yang dihadirkan oleh GerejaNya terutama di dalam sakramen Ekaristi, ((Lihat KGK 1085, “Di dalam liturgi Gereja, Kristus menyatakan dan melaksanakan misteri Paska-Nya…” dan 1088, “Ia (Kristus) hadir dalam kurban misa baik dalam pribadi pelayan (imam yang mempersembahkan misa)… maupun terutama dalam rupa Ekaristi.”))  kita dikuduskan oleh Allah dan kasihNya menjadi sempurna di dalam kita. Di dalam Kristus inilah, kita dapat mentaati Bapa dan menyembahNya di dalam Roh dan kebenaran (lih. Yoh 4:23-24).

Mengapa harus bertumbuh?

Setiap orang mungkin pernah mencoba untuk berlari di atas mesin lari atau treadmill. Hidup kita di dunia ini adalah seperti treadmill, yang berjalan terus dan tidak berhenti. Sayangnya hidup di dunia ini cenderung berjalan berlawanan arah dengan nilai-nilai kekristenan. Inilah sebabnya Pasul Yohanes mengingatkan kita, “15 Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. 16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia” (1 Yoh 2:15-16). Untuk dapat bertahan di dalam hiruk pikuk dunia ini yang menawarkan berbagai kenikmatan daging, kesenangan mata dan keangkuhan hidup, kita perlu berlari melawan arus tersebut yang semakin kencang. Ini berarti di dalam kehidupan rohani, kita harus memperbaharui kehidupan rohani kita dan terus bertumbuh, sehingga kita mempunyai kekuatan untuk berlari tanpa henti sampai ke tempat tujuan, yaitu persatuan dengan Tuhan selamanya di Sorga (lih. 1 Kor 9:24). Oleh karena itu, untuk terus hidup sesuai dengan perintah Tuhan, pertumbuhan bukanlah suatu pilihan, namun suatu keharusan. Sebagaimana kita akan jatuh kalau kita diam pada mesin treadmill, demikianlah, kitapun akan jatuh kalau kita tidak bertumbuh secara rohani di tengah-tengah kehidupan ini – yang berlawan dengan nilai-nilai kekristenan. Jika ini terjadi maka akibat sungguh fatal: yaitu kehilangan keselamatan kekal. Betapa seriusnya keharusan kita untuk terus bertumbuh dan tak boleh berhenti.

G.K. Chesterton mengungkapkannya dengan begitu indah dan sederhana, “A dead thing can go with the stream, but only a living thing can go against it.” ((G.K. Chesterton, Everlasting Man, 1925)) Orang yang bertumbuh dan memperbaharui diri menandakan bahwa dirinya adalah seseorang yang hidup, yang mampu untuk melawan arus dunia. Orang yang senantiasa berjalan sejalan dengan arus ini adalah orang-orang yang pada dasarnya mati.  Sebagai orang yang hidup, apalagi hidup di dalam Kristus – kita harus terus bertumbuh dan memperbaharui diri untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus walaupun untuk itu kita harus berjuang melawan arus.

Tujuan dari pembaharuan dan pertumbuhan

Pembaharuan adalah pertumbuhan dalam kekudusan dan merupakan karunia dari Allah. ((Douglas G. Bushman, S.T.L., In His Image: Faith enrichment for adult catholics, A program of renewal through education, An overview (San Francisco: Ignatius Press, 1989), 2)) Pembaharuan maupun pertumbuhan secara rohani adalah suatu proses untuk mencapai tujuan akhir, yaitu persatuan dengan Allah. Kalau persatuan dengan Allah hanya dapat dicapai dengan kekudusan (lih. Mt 5:48), maka pembaharuan dan pertumbuhan dalam kehidupan kita juga hanya dicapai dengan hidup kudus.

Dan inilah sebenarnya yang menjadi dasar dari semua inisiatif Allah di dalam Perjanjian Lama yang terpenuhi dalam Perjanjian Baru. Nabi Yeremiah mengatakan

31 Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, 32 bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN. 33 Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. 34 Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.” (Yer 31:31-34).

Semua janji Tuhan ini terpenuhi karena Tuhan Yesus menjadikan Diri-Nya Korban Perjanjian Baru. yang menggenapi janji Tuhan dalam Perjanjian Lama. Melalui pengorbanan Kristuslah, manusia memperoleh pengampunan dosa dan menerima Roh Kudus sebagai sumber kekudusan. Roh Kudus inilah yang memperbaharui hati manusia menjadi baru (lih. Mzm 51:10). Oleh sebab itu, Tuhan sendirilah yang menjadi sumber dari pembaharuan maupun pertumbuhan. Tuhan memberikan kepada kita hati yang rindu untuk bersekutu dengan-Nya dan pada saat yang sama, Tuhan juga memberikan jalan dan caranya, yaitu di dalam Yesus Kristus. ((Ibid, 3))

Cara untuk bertumbuh

Setelah kita melihat bahwa pertumbuhan dan pembaharuan rohani adalah suatu karunia dari Allah, maka untuk bertumbuh, kita harus bergantung pada rahmat Allah dan segala sesuatu yang membuat rahmat Allah dapat mengalir di dalam kehidupan kita. Hal-hal yang membuat kita dapat bertumbuh secara rohani adalah: 1) Kitab Suci, 2) doa, 3) sakramen-sakramen, 4) Gereja, 5) belajar. Mari sekarang kita melihat satu-persatu tentang kelima hal ini.

1. Kitab Suci

Kitab Suci adalah Sabda Allah sendiri yang dinyatakan dalam bahasa manusia. Di dalamnya, kita mengetahui rencana keselamatan Allah, kasih Allah, keadilan Allah, hubungan antara manusia dan Allah dan bagaimana untuk hidup sesuai dengan rencana Allah. Begitu pentingnya membaca Kitab Suci dalam kehidupan  rohani kita, sehingga St. Jerome/ Hieronimus mengatakan, “For ignorance of Scripture is ignorance of Christ“- terjemahannya: “Sebab pengabaian terhadap Kitab Suci adalah pengabaian terhadap Kristus”. ((St. Jerome, Commentary on Isaiah, Prol. PL 24,17)).

Oleh karena itu, Gereja telah menentukan dibacakannya secara garis besar keseluruhan Kitab Suci kepada umatnya dalam penanggalan liturgi yang berlaku dari tahun ke tahun. Gereja Katolik mempunyai kalendar liturgi yang terdiri dari tahun A, B, C untuk bacaan Mingguan; dan juga tahun I dan II, untuk bacaan harian. Kalau kita setia mengikuti bacaan Misa hari Minggu dan bacaan harian, maka dalam tiga tahun, kita seharusnya telah membaca hampir seluruh isi Kitab Suci secara garis besar. Begitu inginnya Gereja untuk mendukung umatnya untuk membaca Kitab Suci secara teratur, sampai Gereja memberikan indulgensi kepada orang yang membaca dan merenungkan Sabda Tuhan selama setengah jam setiap hari.

2. Doa

Doa adalah nafas dari kehidupan rohani kita. Sama seperti kita tidak dapat hidup tanpa nafas, maka tanpa doa, kita tidak mungkin dapat bertumbuh. Doa seharusnya menjadi suatu cara untuk hidup kudus. Namun, lebih dari sekedar cara, doa sesungguhnya adalah suatu tujuan, karena di dalam doa kita mengambil bagian dalam kehidupan Tuhan. Kalau Sorga adalah persatuan abadi dengan Tuhan, maka doa adalah suatu pandangan ke Sorga. Tidaklah heran, kalau St. Teresia Kanak-kanak Yesus mengatakan, “Bagiku doa adalah ayunan hati, satu pandangan sederhana ke Surga, satu seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan” ((Lih. KGK, 2558-2559)).

3. Sakramen-sakramen

Memang ada berbagai cara untuk menerima rahmat Tuhan, namun sakramen adalah cara yang diberikan oleh Kristus lewat Gereja-Nya, agar rahmat Tuhan mengalir kepada umat-Nya. Katekismus Gereja Katolik mengatakan bahwa sakramen-sakramen Gereja merupakan tanda yang kelihatan dari rahasia/ misteri Kristus -yang tak kelihatan- yang bekerja di dalam Gereja-Nya oleh kuasa Roh Kudus ((KGK, 774)), sehingga misteri Kristus dapat dihadirkan kembali saat ini dan memberikan buah- buahnya.  Betapa nyatanya ‘rahasia’ ini diungkapkan di dalam sakramen-sakramen Gereja, terutama di dalam Ekaristi Sungguh disayangkan kalau umat Katolik yang ingin bertumbuh mencoba dengan berbagai cara – termasuk mungkin pergi ke gereja-gereja non-Katolik – namun, melupakan apa yang sebenarnya telah diberikan oleh Kristus sendiri, yaitu sakramen, yang merupakan saluran rahmat Allah.

4. Gereja

Kalau ketujuh sakramen yang kita kenal mengungkapkan misteri Kristus dan memberikan rahmat sesuai dengan karakter dan tujuan dari sakramen tersebut, maka Gereja adalah misteri terbesar dari Kristus sendiri, sehingga Gereja menjadi sakramen keselamatan, yang menjadi tanda rahmat Allah dan sarana yang mempersatukan Allah dan manusia. ((Lih KGK 775, Lumen Gentium 1)) Kita sebagai umat Katolik sudah seharusnya bersyukur bahwa kita dipersatukan oleh Tuhan di dalam Gereja-Nya, yang mempunyai empat tanda: satu, kudus, katolik dan apostolik. Di dalam persekutuan Gereja inilah kita bersama-sama bertumbuh untuk memperoleh keselamatan. Bahkan St. Jerome (Hieronimus), St. Thomas Aquinas, St. Petrus Kanisius, St. Robert Bellarminus mengatakan bahwa Gereja adalah seperti perahu Nabi Nuh, di mana di dalamnya, orang mendapatkan keselamatan. Di dalam perahu keselamatan inilah seharusnya kita semua yang termasuk di dalamnya mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah. Pada waktu kita lemah, kita dapat menimba kekuatan dari komunitas- komunitas gerejawi, namun sebaliknya kita dapat memberi bantuan kepada yang lemah (lih Gal 6:2).

Gereja yang menjadi pilar dan dasar kebenaran (lih 1 Tim 3:15), merupakan tempat bagi kita untuk bertumbuh dalam kebenaran dan kasih. Kepenuhan kebenaran di dalam Gereja yang dinyatakan lewat doktrin dan dogma, membebaskan kita, karena kebenaran memerdekakan kita (lih. Yoh 8:32). Doktrin dan dogma seharusnya bukan dipandang sebagai suatu hal yang membatasi kebebasan kita, namun seharusnya menjadi pegangan bagi kita untuk bertumbuh dalam kekudusan. Kita juga harus bersyukur atas anugerah para gembala kawanan umat Allah yaitu Paus, para uskup, para imam, sebab Roh Kudus bekerja melalui mereka. Melalui merekalah, maka persatuan umat Allah dapat terjaga dan konsistensi doktrin dan dogma dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi dengan murni.

5. Belajar

Hal lain yang harus dilakukan untuk bertumbuh adalah belajar. Sama seperti seseorang yang ingin menjadi seorang arsitek, yang harus belajar begitu banyak hal, seperti matematika, mekanika teknik, menggambar, dan lain lain. Kalau di dalam kehidupan sehari-hari seseorang yang ingin mengetahui sesuatu harus belajar dan mencari, demikian juga dengan kehidupan rohani kita. Kita dapat belajar begitu banyak dari kakak kelas kita – yaitu para kudus, dari diktat/catatan kuliah – yaitu doktrin dan dogma, dari kuliah kerja nyata – yaitu hidup kudus, dari Yesus, Maria, dan seluruh jajaran para kudus.

Apakah buah-buah dari pertumbuhan dan pembaharuan?

Karena pertumbuhan dan pembaharuan tak terpisahkan dengan kekudusan, maka buah-buah dari pertumbuhan dan pembaharuan adalah buah-buah kekudusan. Dan buah-buah ini bukan hanya terlihat di Gereja, namun juga di dalam kehidupan sehari-hari, karena kekudusan berpengaruh terhadap seluruh sendi kehidupan. Berikut ini adalah buah-buah dari kekudusan yang ide besarnya disarikan dari buku In His Image. ((ibid, 3-4))

1. Kesadaran yang lebih tinggi akan kehadiran Tuhan

Karena kekudusan adalah persatuan yang sempurna dengan Tuhan, maka buah dari pembaharuan adalah bertumbuhnya kesadaran akan siapa Tuhan, kasih-Nya, kehadiran-Nya, kebijaksanaan-Nya, dan kebenaran-Nya. Dengan kesadaran inilah, seseorang dapat melihat kehadiran dan karya Tuhan dalam berbagai kesempatan, seperti: dalam berbagai ciptaan Tuhan, dalam pekerjaan sehari-hari, dalam diri teman-teman dan keluarga, dalam diri orang-orang yang miskin, juga dalam pencobaan dan penderitaan.

2. Kepekaan yang lebih tinggi akan panggilan hidup dan identitas diri

Karena kekudusan adalah berbagi kehidupan dengan Tuhan, maka seorang yang bertumbuh dalam kekudusan akan berjuang untuk menerapkan prinsip ajaran Tuhan dalam kehidupan-Nya. Ia akan menempatkan apa yang diinginkan oleh Tuhan dalam kehidupannya di atas kepentingan atau keinginan pribadi. Dengan mengenal Tuhan lebih dalam, maka seseorang dapat mengenal diri sendiri lebih dalam lagi, yang pada akhirnya seseorang mempunyai kepekaan akan panggilan hidupnya. Dan panggilan hidupnya sebagai seorang Kristen adalah berpartisipasi dalam tiga misi Kristus, yang terdiri dari nabi, imam dan raja. ((lih. KGK 784-786))

a) Identitas sebagai Nabi: mengasihi kebenaran

Seseorang yang bertumbuh di dalam kekudusan akan semakin terpanggil untuk mencari/ mempelajari kebenaran Kristus, berjuang untuk melaksanakannya dan akhirnya juga mengambil bagian dalam tugas perutusan Kristus untuk mewartakan kebenaran tersebut. Ia akan mengasihi kebenaran di atas kepentingannya sendiri. Kebenaran yang dinyatakan dalam doktrin dan dogma Gereja menjadi panduan hidupnya, kebenaran Sabda Allah menjadi pelita dalam hidupnya, dan keinginan untuk meniru kehidupan para kudus mewarnai kehidupannya. Ia akan menjadi begitu antusias dalam mewartakan iman.

b) Identitas sebagai imam: mengasihi Tuhan dan sesama

Persatuan yang begitu erat dengan Kristus membuat seseorang menyadari bahwa Kristus mengorbankan diri-Nya demi kasih-Nya kepada Bapa dan manusia. Setiap murid Kristus juga dipanggil untuk meniru jejak Kristus, yaitu untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, pikiran dan kekuatan; dan mengasihi sesama atas dasar kasih kepada Tuhan. Kehidupan seorang murid Kristus diwarnai dengan cara pandang dari Allah. Dia tidak terlalu kuatir tentang apa yang dikatakan oleh teman-teman, namun lebih kuatir tentang apa yang dikatakan oleh St. Matius, St. Markus, St. Lukas, St. Yohanes, St. Paulus, St. Petrus, dan terutama adalah Bunda Maria dan Tuhan Yesus.

c) Identitas sebagai raja: melayani sesama

Karena salah satu misi Kristus adalah untuk memperbaharui muka bumi, maka setiap murid Kristus juga dipanggil untuk melakukan karya ini, yaitu dengan melayani sesama- terutama yang menderita, miskin, dan yang membutuhkan pertolongan. Salah satu tanda dari kedewasaan kasih adalah memberikan talenta untuk membangun Gereja dari dalam dan dengan demikian melayani sesamanya di dalam kehidupan sebagai sesama murid Kristus.

3. Pertobatan

Salah satu buah yang menonjol dari pertumbuhan dan pembaharuan adalah pertobatan. Semakin seseorang mempunyai hubungan yang erat dengan Tuhan, maka ia akan menyadari akan kelemahan, kekurangan dan dosa-dosa yang dilakukannya. Ia akan menyadari dosa-dosanya sendiri, namun pada saat yang sama menyadari akan kebesaran dan kerahiman Tuhan yang mengampuninya; dan hal ini membuatnya menjadi rendah hati. Seseorang akan mengalami pertobatan yang terus menerus jika ia senantiasa menempatkan Tuhan dan kebenaran-Nya di atas kepentingan dan pendapat pribadi.

4. Kehidupan sakramental

Persatuan yang begitu erat dengan Allah, menyadarkan seseorang yang telah diperbaharui bahwa dia membutuhkan rahmat Allah untuk menjalankan kehidupan ini sesuai dengan perintah-perintah Allah. Karena Kristus sendiri yang memberikan sakramen-sakramen kepada umat-Nya dan menjamin rahmat-Nya mengalir, maka orang yang diperbaharui akan menyadari bahwa sakramen-sakramen, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat merupakan sarana baginya untuk memperoleh rahmat kekuatan dan pertumbuhan rohani. St. Thomas Aquinas memberikan argument of fittingness tentang ketujuh sakramen:

“Ada tujuh sakramen dari hukum yang baru…. Lima yang pertama diberikan untuk kesempurnaan kehidupan batin rohani dari seseorang; dua yang terakhir diberikan untuk mengatur dan menumbuhkan Gereja secara keseluruhan. Dengan Sakramen Baptisan, kita lahir lagi secara rohani dan dengan Sakramen Penguatan kita bertumbuh di dalam rahmat dan dikuatkan dalam iman. Dengan dilahirkan kembali dan dikuatkan, kita dipelihara dengan makanan Ilahi dari Sakramen Ekaristi. Jika karena dosa, kita menjadi sakit di dalam jiwa, kita disembuhkan secara rohani dengan Sakramen Tobat; kita juga disembuhkan di dalam roh dan tubuh sejauh itu baik untuk jiwa dengan Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Melalui Sakramen Imamat, Gereja diatur dan menerima pertumbuhan secara rohani; melalui Sakramen Perkawinan, dia [Gereja] menerima pertumbuhan badani.” ((DS 1311; D 695; Christian Faith 1306. Text Magisterium ini dapat dikaitkan dengan pembahasan St. Thomas “On the Articles of Faith and the Sacraments of the Church.” Lihat juga ST, III, q. 65, a. 1.))

5. Keinginan untuk kekudusan dan doa

Seseorang yang diperbaharui dan bertumbuh secara rohani akan menyadari dan mempunyai kepekaan akan kasih Allah. Kasih Allah inilah yang menjadi motivasi untuk membalas kasih-Nya dengan kembali mengasihi Allah dan menjalankan semua perintah-Nya (lih. Yoh 14:15). Dan hubungan kasih ini terbina, terpupuk dan menjadi suatu dialog di dalam doa. Oleh karena itu, doa bukan lagi menjadi suatu rutinitas, namun menjadi suatu kebutuhan. Doa ini juga yang menjadi kekuatan untuk bertumbuh dalam kekudusan.

6. Menyadari perlunya belajar

Seseorang yang telah diperbaharui dan terus bertumbuh dalam mengasihi Kristus. Semakin seseorang mengasihi, semakin dia ingin tahu segala sesuatu yang berhubungan dengan Yang dikasihi, yaitu Kristus. Sebab seseorang tidak dapat mengasihi apa yang tidak dikenalnya, namun sebaliknya setelah mengenalnya, maka dengan kasih ia akan semakin ingin mengenal yang dikasihinya dengan lebih lagi. Orang tersebut akan mempelajari Kitab Suci dengan sungguh-sungguh. Kitab Suci dan Katekismus Gereja Katolik adalah buku yang perlu dibaca untuk mengerti rencana Allah secara keseluruhan.

7. Perspektif kehidupan yang berbeda

Seseorang yang telah diperbaharui akan melihat kehidupan dengan cara yang berbeda. Kehidupan yang hiruk pikuk tidak membuatnya kehilangan fokus akan tujuan paling akhir dalam kehidupannya, yaitu persatuan dengan Tuhan di Surga. Dia telah mendefinisikan kebahagiaannya dengan mereferensikannya kepada Tuhan. Dengan demikian, orang yang telah diperbaharui tidak gentar dalam menghadapi kesulitan hidup, karena percaya akan belas kasih Tuhan dan mengerti bahwa kesulitan yang dialaminya bersifat sementara. Dia mengerti bahwa semua yang ada di dunia ini – harta, kekayaan, kehormatan, kekuasaan – hanyalah bersifat sementara, dan dia menaruh pengharapan yang besar akan kesempurnaan untuk selamanya di dalam Kerajaan Allah (lih. 1 Kor 13:12). Ia akan menyadari bahwa segala yang ada padanya sesungguhnya adalah pemberian Tuhan dan harus digunakan kembali untuk memuliakan nama-Nya.

8. Kepekaan akan komunitas

Kesadaran untuk mengasihi Tuhan dan sesama sebagai esensi dari kekudusan, membuat seseorang menjadi peka bahwa perjalanan yang harus dijalani di dunia menuju ke Sorga bukanlah perjalanan ‘sendirian’ atau hanya antara aku dengan Yesus, namun bersama-sama juga dengan saudara-saudari seiman. Kesadaran akan talenta dan keterbatasan diri mendorong seseorang untuk melibatkan diri dalam komunitas, sehingga dapat saling berbagi dan menguatkan. Di dalam persatuan iman dalam komunitas inilah, seseorang dapat terus bertumbuh, karena mempunyai nilai-nilai yang sama, iman yang sama, kebenaran yang sama, Gereja yang sama, dan Yesus yang sama.

Undangan untuk bersama-sama bertumbuh dan diperbaharui

Setelah kita mengetahui pengertian pertumbuhan atau pembaharuan, alasan, tujuan, cara, dan pernyataanya, maka yang harus kita lakukan adalah untuk berusaha terus bertumbuh secara rohani. Kemunduran kehidupan rohani akan membahayakan keselamatan kita karena dapat membuat kita terseret dalam arus dunia ini, yang berlawanan dengan nilai-nilai kekristenan. Tidak ada cara lain untuk bertumbuh secara rohani kecuali dengan terus berjuang setiap hari. Mari kita mengingat apa yang dikatakan oleh rasul Paulus “…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Fil 3:13-14).

Maka mari, janganlah takut untuk bertumbuh; dan jangan takut untuk hidup kudus. Sebab jika surga-lah tujuan kita, maka kita tidak mempunyai jalan lain untuk menuju ke sana, selain berjuang untuk hidup lebih kudus hari lepas hari, tentu dengan bantuan rahmat Tuhan.

Menikah atau selibat? (1 Kor 7 :1-40)

67

Menikah atau hidup selibat untuk Kerajaan Allah?

Mungkin pertanyaan seperti ini adalah pertanyaan yang harusnya direnungkan oleh para muda- mudi Katolik. Jaman sekarang, kita melihat dalam keadaan masyarakat, di mana terdapat kebebasan mass media dan gaya hidup yang bahkan seolah menganggap perkawinan yang tak terceraikan adalah sesuatu yang sukar, apalagi kehidupan selibat, yang dipandang lebih lagi sangat mustahil. Namun sebenarnya, tidaklah demikian jika kita berpegang pada pengajaran Rasul Paulus. Jaman dahulu situasi di Korintus mirip dengan kondisi kita sekarang, maka kitapun bisa belajar banyak dari pengajaran Rasul Paulus ini.

Dalam 1 Kor 7:1-40, Rasul Paulus mengajarkan tentang perkawinan dan kehidupan selibat. Pengajaran ini penting, terutama jika kita memahami kondisi jemaat di Korintus saat itu. Kota Korintus merupakan kota transit dan kota pelabuhan. Dengan kondisi ini maka kota tersebut mempunyai tingkat ke-asusilaan/ immorality yang tinggi. Di tengah lingkungan pagan yang sedemikian, maka kemungkinan ada beberapa jemaat di Korintus yang menanyakan kepada rasul Paulus, tentang bagaimana menyikapinya, apakah jadi sebaiknya semua orang Kristen harus hidup selibat, atau apakah perkawinan itu merupakan hal yang buruk. Maka bab tujuh ini menandai dimulainya bagian kedua dari surat pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus . Konteksnya adalah surat ini kemungkinan merupakan jawaban dari Rasul Paulus akan pertanyaan tersebut.

Dalam jawabannya ini Rasul Paulus mengajarkan tentang:

1. ay. 1-16 Perkawinan dan sifatnya yang tak terceraikan
2. ay. 17-24 Rasul Paulus menjelaskan bahwa menjadi murid Kristus tidak mutlak harus mengubah status hidup (misal: dari menikah menjadi selibat) ataupun mengubah keadaan eksternal. Maka perikop ini tidak mengajarkan secara keseluruhan konsep perkawinan Kristiani, sebab untuk melihat pengajaran yang lebih lengkap tentang perkawinan, kita harus membaca juga Ef 5: 22-33, di mana persatuan dan kasih suami istri dilambangkan dengan persatuan dan kasih Kristus kepada jemaat/ Gereja-Nya.

3. ay. 25-38 Kehidupan selibat yang dipandang sebagai sesuatu yang lebih tinggi karena menjadi tanda pengabdian dan kasih tanpa syarat kepada Tuhan dan sesama.
4. ay. 39- 40 Kehidupan menjanda yang dapat dijadikan kesempatan untuk melayani Tuhan dengan lebih penuh.

Berikut ini saya sampaikan uraian yang mengambil sumber utama dari  Commentary yang ada di The Navarre Bible, The Letters of St. Paul:

7:1-9 Rasul Paulus mengajarkan bahwa Perkawinan adalah sesuatu yang baik. Di sini dan di ayat 25-35, Raul Paulus ingin mengatakan bahwa bukan hanya kehidupan selibat yang dapat dilakukan oleh umat Kristiani. Maka ia menyatakan dua hal yang mendasar yaitu memang kehidupan selibat berada di tingkat yang lebih tinggi dari perkawinan, tetapi perkawinan adalah sesuatu yang baik dan kudus bagi mereka yang terpanggil untuk itu.

Dalam hal ini, Rasul Paulus melihat bahwa kehidupan perkawinan dan selibat itu harus dilihat berdampingan. Pengajaran ini dilanjutkan oleh St. Yohanes Krisostomus dengan indahnya, “Barangsiapa yang mengecam perkawinan, ia juga membuang kemuliaan yang ada pada kehidupan selibat; sedangkan barangsiapa yang memuliakan perkawinan, maka ia juga membuat kehidupan selibat menjadi menarik dan bersinar. Sesuatu yang kelihatannya baik hanya ketika dibandingkan dengan sesuatu yang buruk, tidaklah sungguh-sungguh berharga;  tetapi ketika hal itu lebih besar daripada hal-hal yang dihargai oleh semua orang, maka memang hal itu baik di tingkat yang sangat tinggi.” (St. Yohanes Krisostomus, De virginitate, 10, 1)

Jadi Rasul Paulus menjawab di sini bahwa adalah baik untuk hidup selibat, namun untuk itu seseorang memerlukan rahmat yang istimewa dari Tuhan (ay.7). Mengingat keadaan moral di Korintus yang sangat aktif dipengaruhi oleh ketidakmurnian sehingga dapat meningkatkan banyak godaan (ay. 2, 5, 9), maka lebih baik bagi mereka yang tidak mempunyai karunia untuk hidup selibat untuk menikah. Namun demikian tentu ia tidak bermaksud mengajarkan bahwa tujuan utama perkawinan adalah untuk membebaskan diri dari godaan. Sebab makna Perkawinan malah sangat luhur karena  kasih suami istri menjadi gambaran akan kasih Yesus kepada Gereja-Nya (lih. Ef 5:22-33). Di sini Rasul Paulus hanya menganjurkan agar bagi yang terpanggil untuk hidup selibat, namun bagi yang tidak terpanggil/ yang tidak mempunyai karunia untuk hidup selibat, agar tidak hidup selibat dan karenanya menanggung resiko tidak dapat mengatasi godaan tersebut.

7:3-6 Rasul Paulus mengajarkan bahwa kehidupan selibat bukan untuk semua orang. Jika untuk kondisi khusus suami dan istri hendak bertarak/ tidak berhubungan suami istri (perfect continence), mereka harus melakukannya atas kesepakatan bersama, dan hanya untuk sementara waktu, agar tidak memasukkan diri sendiri ke dalam godaan setan yang tidak perlu. Juga Rasul Paulus mengajarkan agar suami dan istri bukanlah pemilik dari tubuhnya sendiri, suami memiliki hak atas tubuh istri dan demikian pula sebaliknya.

7:7 Rasul Paulus sendiri hidup selibat. Ia menginginkan orang lainpun seperti dia, sehingga dapat mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah. Namun ia juga mengakui bahwa hidup selibat merupakan karunia istimewa dari Allah, seperti yang diajarkan Kristus (lih. Mat 19:11-12). Ini adalah tanggapan terhadap kasih yang telah dinyatakan oleh Yesus secara tak terbatas. Dan Rasul Paulus secara pribadi telah mengalaminya [dalam perjalanan ke Damsyik]. Rahmat dengan kekuatan ilahi meningkatkan kerinduan bagi orang-orang tertentu untuk mengasihi Allah dengan total, eksklusif, tetap dan selama-lamanya. Maka keinginan bebas untuk mengabdi sepenuhnya kepada Allah dengan hidup selibat selalu dianggap Gereja sebagai sesuatu yang menandai dan mendorong kasih (lih. Lumen Gentium / LG 42). Kehidupan selibat adalah bukti kasih tanpa syarat, dan mendorong kepada kasih yang terbuka kepada semua orang (Paus Paulus VI, Sacerdotalis caelibatus).

Maka ketika Rasul Paulus mengatakan “setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas”, artinya bahwa perkawinan juga merupakan karunia dari Tuhan (lih. LG 11). “Perkawinan adalah jalan ilahi di dunia…. Maksud perkawinan adalah untuk membantu pasangan menguduskan mereka sendiri dan orang lain. Untuk alasan ini mereka menerima rahmat istimewa di dalam sakramen Perkawinan. Mereka yang terpanggil untuk menikah akan, dengan rahmat Tuhan, menemukan di dalam kondisi mereka setiap hal yang mereka perlukan untuk hidup kudus dan untuk lebih mengikuti jejak Kristus setiap hari dan untuk menuntun semua yang hidup bersama mereka kepada Tuhan.” ((St. Josemaria Escriva, Conversations, 91))

7:10-11 Maka kehidupan selibat bagi Rasul Paulus bukan merupakan perintah, tetapi berupa anjuran. Sedangkan tentang perkawinan yang tak terceraikan itu merupakan perintah Tuhan, seperti yang telah diajarkan oleh Yesus (lih. Mat 19:6); dan suami ataupun istri tak dapat menceraikannya (Mat 5: 31-32; 19:3-23; Mk 10:12). Perkawinan yang tak terceraikan ini berakar dari kasih yang memberikan diri secara total dari pasangan suami istri, demi kebaikan anak-anak mereka. Maka perkawinan yang tak terceraikan ini menemukan kebenaran puncaknya di dalam rencana Allah yang menghendaki agar perkawinan yang tak terceraikan ini merupakan sebuah buah, tanda dan syarat dari kasih setia absolut yang Allah tujukan kepada manusia dan yang Yesus tujukan kepada Gereja…. ((lihat Paus Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio, 20))

7:12-16 Setelah mengajarkan tentang perkawinan yang tak terceraikan, Rasul Paulus menjelaskan tentang kasus yang umum ditemukan saat itu, yaitu perkawinan antar dua orang pagan, yang kemudian salah satunya menjadi Kristen. Dalam dunia pagan memang hukum memperbolehkan perceraian. Menurut tradisi Yahudi, jika seseorang pagan menjadi Yahudi, maka ia disunat dan harus mengikuti hukum Taurat Musa, termasuk  menghindari hubungan sosial dengan orang non-Yahudi (karena akan menjadi najis), sehingga ikatan perkawinan sebelumnya dengan orang non-Yahudi itu harus diceraikan.

Namun demikian, Rasul Paulus tidak memberikan solusi ini. Menurut Rasul Paulus, ikatan perkawinan tetap berlaku, sebab hukum kenajisan tidak berlaku/ telah diperbaharui oleh Kristus. Hanya saja jika pihak yang pagan tidak mau hidup dalam perdamaian, maka pihak yang sudah dibaptis dapat berpisah dengannya dan menikah kembali.

Maka dalam hal ini ada tiga hal penting yang harus diketahui:

1) Yesus Kristus tidak pernah bicara tentang hal ini; sehingga ini memang pengajaran dari Rasul Paulus. Maka ia bukan hendak membatalkan pengajaran Yesus tentang perkawinan yang tak terceraikan. Yang dilakukannya adalah, dengan inspirasi Roh Kudus, ia mengajarkan secara umum untuk menyikapi suatu kasus khusus.

2) Jika seorang pagan dibaptis, maka ia menguduskan anggota keluarga lainnya (suami/ istrinya dan anak-anak) (ay. 13-14). Maka pertobatannya bukan malah ‘merusak’ keutuhan keluarga, tetapi malah sesuatu yang membawa kebaikan bagi seluruh keluarga. Pembaptisan bukan sesuatu yang mengakibatkan perceraian, tetapi malah memperkuat dan menguduskan keluarga.

3) Hanya jika pasangan yang tetap tidak percaya (tetap pagan) mengganggu kehidupan keluarga atau tidak memperbolehkan pasangan yang Kristen tersebut untuk hidup sesuai dengan imannya, maka mereka boleh berpisah dan ia yang Kristen tersebut boleh menikah kembali.

Maka Gereja Katolik mengikuti solusi yang diajarkan oleh Rasul Paulus dan umum disebut sebagai “Pauline privilege” (lihat KHK kann. 1143-1147)

Namun ada catatan yang sangat penting di sini, bahwa, kondisi yang disebutkan oleh Rasul Paulus ini bukan kondisi pernikahan di mana salah satu pihaknya sudah Katolik, -yang menikah dengan pihak non- Katolik (kawin campur atau kawin beda agama). Pada kasus- kasus ini, Gereja Katolik mensyaratkan adanya komitmen dari pihak non- Katolik dan jika ini dilakukan maka pernikahan tetap sah dan tak terceraikan (lihat KHK kann. 1124- 1128).

7:17-24 Rasul Paulus mengajarkan bahwa pertobatan tidak perlu diikuti dengan perubahan total status hidup, “hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya” (lih. ay. 17, 20,24). Contoh yang diberikan misalnya soal sunat lahiriah dan hamba/ pekerja. (ay. 18-22). Jadi yang dipentingkan di sini adalah pertobatan rohaniah, dan bahwa kondisi sehari-hari, entah pekerjaan, keluarga, hubungan sosial, dst sekarang membantu kita untuk menuju kekudusan. Kehidupan kita harus mempunyai dimensi baru, sebab kita menyadari bahwa Tuhan membimbing kita untuk melakukan tugas-tugas yang dipercayakan oleh Tuhan kepada kita.

7:19 Penekanan bahwa yang lebih penting adalah menaati perintah Tuhan, maka dengan demikian, sunat atau tidak bersunat tidak lagi menjadi penting, hanya “iman yang bekerja oleh kasih” (Gal 5:6; lih. Gal 6:15).

7:21-23 Pada jaman Rasul Paulus, memang perbudakan masih ada, tetapi Rasul Paulus berkali-kali mengajarkan bahwa sebenarnya setiap manusia mempunyai martabat yang sama di hadapan Allah (lih. Gal 3:28-29 dan Filemon). Sesudahnya ketika ajaran Kristiani masuk ke dalam sendi-sendi  kemasyarakatan, maka perbudakan dihapuskan.

Bagaimana seseorang dapat hidup merdeka, pada saat ia masih hidup sebagai pelayan? Maka jawabannya, menurut St. Yohanes Krisostomus adalah ketika ia dapat hidup merdeka/ bebas dari nafsu dan pikiran yang tidak sehat. ((lihat St. Yohanes Krisostomus, Hom., on 1 Cor, 19, ad loc.))

Sedangkan yang benar adalah kita semua hidup sebagai pelayan Tuhan, dengan melihat kepada teladan Yesus sendiri (lih. 1 Kor 20:28) Maka jika kita melayani sesama demi kasih kita kepada Tuhan, itu adalah sesuatu yang sangat mulia. “Kita hidup memang harus melayani, suka atau tidak suka, sebab itulah yang dilakukan oleh kita manusia. Maka tiada yang lebih baik dari pada menyadari akan Kasih yang menjadikan kita pelayan Tuhan…. Dengan demikian kita mengerjakan segala sesuatu di dunia dengan sungguh-sungguh seperti orang-orang yang lain, namun dengan kedamaian di dalam hati kita. Kita bersuka cita dan selalu tenang di dalam menghadapi sesuatu, sebab kita tidak menaruh kepercayaan kepada hal yang sementara, tetapi pada hal yang tetap selamanya.” ((St. Josemaria Escriva, Friends of God, p.35))

7:25-35 Rasul Paulus menjelaskan keistimewaan kehidupan selibat dibandingkan dengan perkawinan. Magisterium Gereja Katolik juga mengajarkan demikian (lih. Trent, De Sacrum matrimonio, ca. 10; Pius XII, Sacra virginitas,11)). Rasul Paulus memang mengatakan bahwa untuk ajaran berikut ia tidak menerima perintah Allah namun hanya menganjurkan kehidupan selibat, dengan motivasi utama, yaitu kasih kepada Allah. “Ini adalah tujuan utama dan alasan utama bagi selibat Kristiani- untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada hal-hal surgawi, memberikan kepada hal-hal itu segenap perhatian dan kasih, memikirkan Dia senantiasa, dan mengkonsekrasikan diri kepada Tuhan sepenuhnya, tubuh dan jiwa. ((Pius XII, Sacra virginitas, 5))

Kehidupan selibat ini akan menuju kepada kehidupan yang penuh dan produktif sebab akan membuat seseorang dapat mengasihi sesama dengan lebih penuh dan mengabdikan diri kepada mereka dengan lebih total. Juga kehidupan selibat mengacu pada dimensi kehidupan di akhir jaman: tanda kebahagiaan surgawi (lih. Vatikan II, Perfectae caritatis, 12) dan mengacu pada kehidupan para kudus di surga.

Namun, meskipun selibat adalah tingkat yang lebih tinggi, perkawinan bukanlah sesuatu yang buruk. Mereka yang menikah tidak melakukan sesuatu yang salah (ay. 28), dan tidak perlu seseorang yang sudah menikah untuk hidup selibat (ay. 3-5) atau bercerai (ay. 27). “Kehidupan selibat demi Kerajaan Allah tidak hanya tidak berlawanan dengan martabat perkawinan, namun mensyaratkan dan meneguhkannya. Perkawinan dan kehidupan selibat adalah dua hal yang melambangkan dan mempraktekkan satu misteri perjanjian Allah dengan umat-Nya. Ketika perkawinan tidak dijunjung tinggi, maka kehidupan selibat tidak dapat eksis; ketika seksualitas manusia tidak dinilai sebagai sesuatu yang berharga yang diberikan oleh Sang Pencipta, maka pengorbanannya demi Kerajaan Allah menjadi kehilangan artinya.” ((Yohanes Paulus II, Familiaris Cansortio, 16))

7:28 “kesusahan badani” Ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan perkawinan. Hubungan suami istri dalam perkawinan di mana terjadi persatuan yang intim dan murni adalah suatu yang agung dan terhormat:….ini merupakan tindakan pemberian diri yang memperkaya pasangan dengan suka cita dan ucapan syukur. ((Lihat Vatican II, Gaudium et Spes, 49)).

7:33 “perkara duniawi”: menunjukkan bahwa mereka yang menikah tidak dapat mengabaikan kebutuhan- kebutuhan material dalam keluarga. Bahkan suami (kepala keluarga) tidak dapat menyenangkan Tuhan jika ia tidak memenuhi kebutuhan keluarganya. “Adalah suatu kesalahan jika mereka [suami dan istri] tidak memasukkan kehidupan keluarga bagi perkembangan rohani mereka. Kesatuan perkawinan, pendidikan anak dan usaha memenuhi kebutuhan keluaraga…. dan hubungan- hubungan dengan orang lain dalam komunitas- semua ini adalah keadaan umum manusiawi yang harus dikuduskan oleh pasangan suami istri. ((St. Josemaria Escriva, Christ is Pasiing by, 23)) Maka tidak benarlah jika seseorang terlalu aktif mengikuti kegiatan kerasulan awam, sampai menelantarkan keluarga dan kebutuhan keluarganya sendiri.

7:29-31 St. Paul mengingatkan pada kita bahwa hidup ini singkat (lih. Rom 13:11-14; 2 Pet 3:8; 1 Yoh 2:15-17) agar kita dapat menggunakan sebaik-baiknya dari waktu yang ada untuk melayani Tuhan. Maka kita harus tidak terikat pada hal-hal duniawi, supaya kita tidak diperbudak oleh apapun dan siapapun (lih. 1 Kor 7:23; Lumen Gentium 42), tetapi selalu mempunyai pandangan ke arah kehidupan kekal.

7:35 Ayat ini dimaksudkan oleh Rasul Paulus untuk menunjukka bahwa orang-orang yang tdiak menikah mempunyai kesiap-sediaan yang lebih untuk melayani Tuhan.

7:36-38 Terdapat dua teori untuk menjelaskan ayat-ayat ini: 1) Rasul Paulus mengacu kepada kebiasaan saat itu di mana seorang Kristen dapat menerima seorang perawan Kristen di rumahnya untuk mencegah keluarga perempuan itu yang masih pagan untuk memaksanya menikah. 2) Rasul Paulus menujukan ajaran ini kepada para bapa atau bapa angkat yang menurut kebiasaan saat itu mempunyai kuasa untuk memutuskan apakah anak perempuannya akan menikah atau tidak. Dalam hal ini, “baiklah mereka kawin”/ let them marry sebenarnya harus diterjemahkan sebagai “he can decide that she marry.”

Walaupun penyampaian dalam paragraf ini sepertinya tidak jelas, namun maksud utama Rasul Paulus tetap jelas, yaitu, bahwa perkawinan adalah baik dan kudus, tetapi tak seorang-pun wajib untuk menikah; mereka yang dengan panggilan ilahi  -“ia yang mempunyai keyakinan ini di dalam hatinya”- dipanggil untuk hidup selibat melakukan hal yang lebih baik (lih. ay. 38).

7:39-40 Mengikuti Rasul Paulus, Gereja selalu mengajarkan bahwa ikatan perkawinan hanya dapat dipisahkan oleh kematian salah satu dari pasangan, dan ia yang masih hidup dapat menikah lagi. Namun menurut anjuran Rasul Paulus, lebih baik bagi yang masih hidup itu untuk tetap tidak menikah, dan melayani Tuhan, jika itu kehendak Tuhan.

Kesimpulan

Melihat pentingnya makna kedua panggilan hidup ini, memang sebaiknya para pemuda/i Katolik merenungkannya sebelum membuat keputusan. Baik perkawinan maupun hidup selibat merupakan jalan yang dapat menuntun seseorang kepada kekudusan, namun perlu direnungkan secara khusus dalam kondisi kita masing-masing, “Apa kehendak Tuhan bagiku?” “Dengan cara apa aku dapat memuliakan Tuhan dengan lebih baik?” Dan jika kita sudah ‘terlanjur’ memilih jalan dan status hidup kita, kita tak perlu resah, karena setiap jalan dan keadaan kita, tetap dapat membawa kita kepada kekudusan, asalkan kita hidup sesuai dengan perintah-perintah-Nya, terutama perintah kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama.

1-1-1: Karena kasih, Allah Bapa mengutus Putera-Nya

10

Bacaan: Yoh 3:16; 1 Yoh 3:16, Rom 5:7-8

Renungan:

Kasih! Titik awal dari segalanya yang dilakukan Allah bagi kita adalah misteri kasih-Nya. Dengan kasih ini, Tuhan menghendaki agar kita dapat masuk ke dalam kehidupan-Nya sendiri yang sempurna dan penuh. Wahyu Ilahi menyingkapkan kasih ini. Dimulai dengan penciptaan, diteruskan melalui keseluruhan sejarah dari perjanjian-Nya dengan bangsa Israel, dan mencapai puncaknya di dalam kehidupan, kematian dan kebangkitan Putera-Nya dan pencurahan Roh Kudus, Tuhan telah mewahyukan Diri-Nya sebagai Allah yang mengasihi. Allah adalah Kasih (1 Yoh 4:8).

Pertama-tama kasih Allah diwujudkan di dalam penciptaan ketika Ia menciptakan manusia di dalam rupa dan gambaran-Nya. Hanya manusialah yang membawa dalam dirinya jejak/ stempel ini, cerminan khusus yang menggambarkan Pencipta-Nya. Ini adalah dasar dari martabat yang tak dapat dicabut dari setiap manusia. Mengapa Tuhan menciptakan manusia laki-laki dan perempuan di dalam rupa dan gambaran–Nya? Hanya karena Ia berkehendak untuk membagikan kehidupan-Nya sendiri dengan kita.

Kasih Tuhan tidak terhalangi oleh kelemahan manusia dan dosa yang menciptakan sebuah jurang antara Pencipta dan ciptaan. Kisah Alkitab sesudah kisah penciptaan adalah sejarah dari kasih Allah yang menyelamatkan. Sejarah kasih Tuhan adalah sejarah tentang Tuhan yang mencari manusia, bahkan sampai pada titik penjelmaan-Nya menjadi manusia. Seperti yang disampaikan saat ini dengan jelas dalam Kitab Suci, Allah Bapa mengutus Putera-Nya karena kasih.

Di dalam kebaikan dan kebijaksanaan-Nya Tuhan memilih untuk  menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, (lih. Ef 1:9) dan karenanya melalui Kristus, Sabda yang menjadi daging, manusia dapat, di dalam Roh Kudus mempunyai akses kepada Bapa dan dapat mengambil bagian di dalam kodrat ilahi (lih. Ef 2:18; 2 Pet 1:4). Oleh karena itu, melalui wahyu ini, Tuhan yang tidak kelihatan (lih. Kol 1:15; 1 Tim 1:17) karena kelimpahan kasih-Nya berkata-kata kepada manusia seperti sahabat (lih. Kel 33:11; Yoh 15:14-15) dan hidup di antara mereka (lih. Bar 3:38), sehingga Ia dapat mengundang dan membawa mereka ke dalam persahabatan dengan Diri-Nya (Vatikan II, Wahyu, 2).

Asal usul Gereja adalah kasih Allah, dan setiap hal mendasar dalam Gereja- sakramen-sakramen, wahyu dan kesatuan- adalah demi membawa orang-orang kepada hubungan dengan kasih itu dan demi memudahkan tanggapan kasih. Kasihlah yang membuat kesatuan dalam Trinitas sebagai sebuah persekutuan, sebuah pembagian kehidupan bersama yang penuh berdasarkan kebenaran dan yang diwujudkan melalui kasih dan belas kasihan. Mengambil bagian di dalam kehidupan Allah ini adalah yang membuat Gereja sebagai sebuah persekutuan. Dengan mengasihi kita, Tuhan memberikan Diri-Nya kepada kita dan membuat kita sebagai pengambil bagian di dalam kehidupan-Nya sendiri melalui rahmat. Kita menjadi anak-anak angkat-Nya dan dipanggil pula untuk mengambil bagian di dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Yesus Kristus, Putera Allah yang tunggal, Saudara dan Teladan kita, menyatakan kepada kita secara tepat, bagaimana manusia mengambil bagian di dalam kehidupan Allah. Persekutuan di dalam hidup ilahi ini menghasilkan persekutuan di dalam tindakan. Seperti Kristus setia kepada Allah Bapa, kudus dan berbelas kasih dengan Allah Bapa, maka kitapun dipanggil kepada kesetiaan, kekudusan dan belas kasihan. Seperti persekutuan dengan Allah Bapa ini mendorong Yesus untuk memenuhi misi-Nya sebagai Imam, Nabi dan Raja, maka juga, persekutuan kita dengan Tuhan diwujudkan di dalam ketiga bentuk misi ini.

Latihan untuk permenungan dan diskusi

  1. Bagaimana seseorang dapat yakin bahwa Tuhan sungguh-sungguh mengasihinya?
  2. Apakah yang menjadi bukti utama dari kasih Allah? Apakah yang menjadi tindakan kasih-Nya yang utama bagi kita?
  3. Mengapa Tuhan menciptakan kita di dalam rupa dan gambaran-Nya?
  4. Apakah dasar dari martabat manusia?
  5. Mengapa Gereja ada? Apakah yang memberikan arti dan keutamaan Gereja?
  6. Saat ini bahwa Yesus telah naik ke surga, bagaimana kasih Tuhan menjadi nyata dan berarti bagi orang-orang di masa sekarang?

Tambahan dari Katolisitas:

  1. Ceritakanlah pengalaman kasih Allah dalam hidup anda.
  2. Siapakah Kristus bagi anda?
  3. Apakah peran Gereja bagi anda?

1-1: Gereja melanjutkan Misi Yesus Kristus

7

Bagian 1, Minggu 1

bagan1
Silakan klik untuk memperbesar gambar

Bagan yang ada di permulaan buku ini merangkum kebenaran-kebenaran yang mendasar tentang Gereja, dan memperlihatkan hubungan-hubungan yang ada di antara satu kebenaran dan kebenaran lainnya.

Mungkin element yang paling penting adalah bahwa Gereja termasuk di dalam aliran misi dari Ketiga Pribadi Allah itu sendiri. Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa ketika sudah selesailah karya, yang oleh Bapa dipercayakan kepada Putera untuk dilaksanakan didunia (lih Yoh 17:4), diutuslah Roh Kudus pada hari Pentekosta, untuk tiada hentinya menguduskan Gereja. Dengan demikian umat beriman akan dapat mendekati Bapa melalui Kristus dalam satu Roh (lih Ef 2:18). (Lumen Gentium, 4). Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus adalah Satu dan sempurna- Mereka membentuk sebuah persekutuan Pribadi- di dalam kasih Mereka kepada Gereja. Ketika para orang beriman bekerja sama dengan Roh Kudus dan mencontoh teladan Kristus, Sang Imam, Nabi dan Raja, Gereja menjadi sebuah persekutuan orang-orang, yang mengambilbagian di dalam kehidupan Allah Trinitas.

Segalanya bermula dari Allah Bapa yang mengutus Putera-Nya untuk menebus dunia. (Hari Pertama) Asal mula dari Gereja adalah kasih Tuhan, dan bahwa kasih itu adalah inti dari Gereja dan segala yang dilakukannya, bahkan kasih adalah hakekat dari misi Kristus.

Putera Allah menyelesaikan misi-Nya sebagai seorang Nabi yang menyatakan kebenaran yang membebaskan, seorang Imam yang mempersembahkan kurban yang mendamaikan kita dengan Allah Bapa dan seorang Raja yang mendirikan Kerajaan Allah melalui kuasa kuasa dan pelayanan. (Hari Kedua)

Roh Kudus diutus untuk menjadi saksi bagi Kristus dan untuk tinggal di dalam hati umat beriman sehingga mereka dapat menjadi murid-murid-Nya yang sejati. (Hari Ketiga) Tidak saja para murid meniru Tuan-nya; namun di dalam Roh Kudus mereka bertindak dengan motivasi yang sama, dan dengan kasih yang sama. Melalui Roh Kudus, umat beriman mengambil bagian di dalam kehidupan dan kesatuan Allah Bapa dan Putera, dan karenanya mengambil bagian di dalam misi-Nya sebagai nabi, imam dan raja.

Gereja dimulai pada hari raya Pentakosta ketika Roh Kudus dan para murid Kristus memulai bekerja sama di dalam kesinambungan misi Allah Putera yang menyelamatkan. Roh Kudus dan para murid Kristus bekerja bersama-sama yang menghasilkan bahwa melalui mereka Kristus tetap hadir dan aktif di dalam dunia. Gereja melanjutkan misi Yesus Kristus yang menyelamatkan. (Hari Ke-empat) Atau, mungkin lebih baik, Kristus terus bertindak sebagai Imam, Nabi dan Raja di dalam dam melalui Gereja-Nya. Ketika para murid-Nya bekerja sama dengan Roh Kudus, Kristus sendiri-lah yang mengajar, memberikan kesaksian terhadap kebenaran sebagai Nabi, menguduskan dan mempersembahkan kurban sebagai Imam dan memperluas kerajaan Allah dan melayani sebagai Raja.

Gereja, tentu, bukan sebuah persekutuan pribadi yang murni seperti Allah Trinitas. Gereja juga adalah sebuah institusi dengan sebuah struktur. (Hari kelima) Persekutuan kita dengan Tuhan dan satu sama lain mensyaratkan dukungan, yang diberikan oleh Kristus di dalam sakramen-sakramen dan kebenaran-kebenaran wahyu. Tetapi apapun yang struktural itu ada untuk melayani kesinambungan misi Kristus, melayani persekutuan pribadi di dalam kasih dan kebenaran. Pembaharuan yang otentik di dalam Gereja harus menghormati struktur esensial Gereja yang ditentukan oleh Kristus dan menyesuaikan hal itu dengan kebutuhan-kebutuhan jaman.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab