Home Blog Page 282

Mengapa Yesus mengutuk pohon ara?

11

Dikatakan di dalam Injil Matius “19. Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. Kata-Nya kepada pohon itu: “Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!” Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu. 20. Melihat kejadian itu tercenganglah murid-murid-Nya, lalu berkata: “Bagaimana mungkin pohon ara itu sekonyong-konyong menjadi kering?” (Mt 21:19-20).

1. Mengapa Yesus mengutuk pohon ara?

Yesus tahu bahwa pada saat itu memang belum musim buah ara, seperti yang ditulis di injil Markus “Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara.” (Mk 11:13). Kalau Yesus tahu bahwa Dia tidak dapat menemukan buah pohon ara, mengapa Yesus mengutuk pohon ara yang tidak bersalah?

a. Dalam kejadian ini, Kristus ingin memberikan pelajaran kepada para murid. Dan pola pengajaran ini juga digunakan di dalam Perjanjian Lama, seperti:Yes 20:1-6; Yer 13:1-11; Yer 27:1-11.

b. Kalau kita melihat secara literal, maka kita tidak mendapatkan pengertian apapun, karena memang secara alami pohon ara tersebut belum berbuah karena belum musimnya, dan oleh karena itu tidak dapat dipersalahkan. Kalau kita mau meneliti lebih lanjut, maka kita dapat mengatakan bahwa perbuatan Yesus yang menunjukkan kuasa atas alam adalah untuk kepentingan para murid, sehingga para murid mengerti akan identitas Kristus dengan lebih baik. Dengan kuasa-Nya, Yesus dapat melakukan suatu tindakan untuk menjadi raja, namun Dia memilih untuk disalibkan, sehingga Yesus dapat meraja di dalam hati seluruh umat manusia.

c. Dalam kejadian pohon ara yang dikutuk oleh Yesus, Dia ingin menegaskan kembali tentang orang-orang yang akan mendapatkan hukuman karena tidak memberikan buah-buah yang baik. Hal ini ditegaskan di dalam Lk 13:6-9, yang mengatkan “6 Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: “Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. 7 Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! 8 Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, 9 mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!

2. Penjelasan Venerable Bede tentang perikop ayat ini:

Sebagaimana dikutip oleh St. Thomas Aquinas dalam Catena Aurea, demikianlah penjelasan Ven. Bede, yang sering dikutip oleh para ahli Kitab Suci Katolik:

“Seperti Ia berbicara dengan perumpamaan, demikian juga perbuatan-Nya juga menunjukkan perumpamaan; demikianlah dikatakan bahwa Ia lapar dan mencari buah dari pohon ara, meskipun Ia tahu bahwa musimnya belum tiba. Namun Ia mengutuknya sehingga tak dapat berbuah selamanya, supaya dapat menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi tidak dapat diselamatkan hanya dengan berdaun, artinya memiliki kata-kata kebenaran, tetapi tanpa buah, yaitu perbuatan-perbuatan baik, sehingga harus dibuang dan dilemparkan ke dalam api.

Maka kelaparan Yesus di sini adalah keinginannya bagi keselamatan umat manusia. Ia melihat kepada pohon ara, yaitu bangsa Yahudi, yang mempunyai daun-daun, atau kata-kata/hukum taurat dan para Nabi, dan Ia mencari daripadanya buah, yaitu perbuatan-perbuatan baik, dengan mengajarkan mereka, menegur mereka dan mengerjakan mukjizat-mukjizat, namun Ia tidak menemukan buah pada pohon itu, sehingga Ia mengutuknya. Demikianlah kamu, kamu akan dihukum oleh Kristus di hari penghakiman, berhati-hatilah jangan menjadi pohon yang tidak berbuah, tetapi persembahkanlah kepada Kristus, buah kesalehan yang disyaratkan-Nya.”

3. Apa artinya bagi kita?

Ini berarti, kejadian ini dapat memacu kita semua, sebagai murid Kristus untuk dapat menghasilkan buah-buah yang baik. Kita yang telah diberi berbagai macam talenta oleh Kristus harus dapat mempergunakan talenta untuk semakin memuliakan nama Tuhan (lih. Mt 25:14-30). Kita yang telah masuk dalam kawanan Gereja Katolik yang mempunyai kepenuhan kebenaran dituntut untuk lebih menghasilkan buah-buah yang berlimpah.

Pertanyaan yang lain tentang Yesus mengatakan untuk menuai gandum yang masih hijau ada di mana ya?

Semoga uraian di atas dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Mengapa aborsi itu dosa

82

“Tolong, jangan tusuk saya!”

Saya pernah menonton suatu program TV yang menunjukkan proses aborsi pada bayi usia 6 bulan. Dokter dengan sarung tangan memegang gunting dan pisau untuk ‘membuka’ perut ibu. Beberapa menit kemudian, bagian perut sudah tersayat, dan dalam sekejap, saya melihat suatu adegan yang membuat jantung saya hampir berhenti berdetak: keluarlah sebuah tangan kecil dari perut itu memegangi ujung gunting itu, seolah berteriak, “Tolong, jangan menusuk saya!” Namun mungkin para dokter itu sudah terbiasa melakukan “pekerjaan” itu. Tak lama kemudian hancurlah sudah tubuh manusia kecil dan tak berdaya itu. Bayi kecil itu mati terpotong-potong. Tidak sebagai manusia, namun hanya sebagai ‘benda’ yang dibuang karena dianggap mengganggu dan tidak diharapkan….

Pro Choice vs Pro-life

Di Amerika dewasa ini, terdapat isu yang cukup hangat, yang tak jarang mengundang perdebatan, yaitu mengenai aborsi. Umumnya mereka yang setuju aborsi menyebut diri sebagai ‘pro- choice‘ -karena mengacu kepada hak ibu untuk ‘memilih’ nasib dirinya dan bayi yang dikandungnya; sedangkan yang tidak setuju menyebut diri ‘pro-life‘. Gereja Katolik sendiri selalu ada dalam posisi “pro-life” karena Gereja Katolik selalu mendukung kehidupan manusia, tak peduli seberapa muda usianya, termasuk mereka yang masih di dalam kandungan.

Sebenarnya secara objektif terminologi yang dipakai sudah rancu, karena ‘pro-choice‘ sebenarnya bukan ‘choice‘, sebab pilihan yang diambil dalam hal ini hanya satu, yaitu membunuh bayi yang masih dalam usia kandungan. Sang bayi yang kecil dan lemah itu tidak membuat pilihan, sebab ia ditentukan untuk mati. Tragisnya, yang menentukan kematiannya adalah ibunya sendiri yang mengandungnya.

Kapan kehidupan manusia terbentuk?

Gereja Katolik ‘pro- life‘ karena Tuhan mengajarkan kepada kita untuk menghargai kehidupan, yang diperoleh manusia sejak masa konsepsi (pembuahan) antara sel sperma dan sel telur. Kehidupan manusia terbentuk pada saat konsepsi, karena bahkan dalam ilmu pengetahuan-pun diketahui, “Sebuah zygote adalah sebuah keseluruhan manusia yang unik.” ((Landrum B. Shettles, M.D. and David Rorvik, “Human Life Begins at Conception,” in Rites of Life (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1983) cited in Abortion: Opposing Viewpoints (St. Paul, MN: Greenhaven Press, 1986), p.16)) Pada saat konsepsi inilah sebuah kesatuan sel manusia yang baru terbentuk, yang lain jika dibandingkan dengan sel telur ibunya, ataupun sel sperma ayahnya. Pada saat konsepsi ini, terbentuk sel baru yang terdiri dari 46 kromosom (seperti halnya  sel manusia dewasa) dengan kemampuan untuk mengganti bagi dirinya sendiri sel-sel yang mati. ((Lihat Bob Larson, Larson’s Book of Family Issues (Wheaton, IL: Tyndale House, 1986), p. 297)) Analisa science menyimpulkan bahwa fertilisasi bukan suatu “proses” tetapi sebuah kejadian yang mengambil waktu kurang dari satu detik. Selanjutnya, dalam 24 jam pertama, persatuan sel telur dan sperma bertindak sebagai sebuah organisme manusia, dan bukan sebagai sel manusia semata-mata. Selengkapnya, untuk melihat pandangan para scientists tentang kapan hidup manusia dimulai, silakan membaca di link ini, silakan klik.

Masalahnya, orang-orang yang “pro-choice” tidak menganggap bahwa yang ada di dalam kandungan itu adalah manusia, atau setidaknya mereka menghindari kenyataan tersebut dengan berbagai alasan. Padahal science sangat jelas mengatakan terbentuknya sosok manusia adalah pada saat konsepsi (pembuahan sel telur oleh sel sperma). Pada saat itulah Tuhan ‘menghembuskan’ jiwa kepada manusia baru ciptaan-Nya, yang kelak bertumbuh dalam rahim ibunya, dapat lahir dan berkembang sebagai manusia dewasa. Adalah suatu ironi untuk membayangkan bahwa kita manusia berasal dari ‘fetus’ yang bukan manusia. Logika sendiri sesungguhnya mengatakan, bahwa apa yang akan bertumbuh menjadi manusia layak disebut sebagai manusia.

Dasar Kitab Suci

1. Kitab suci juga mengajarkan bahwa manusia sudah terbentuk sebagai manusia sejak dalam kandungan ibu:

Yes 44:2: “Beginilah firman TUHAN yang menjadikan engkau, yang membentuk engkau sejak dari kandungan dan yang menolong engkau…”

Allah sendiri mengatakan telah membentuk kita sejak dari kandungan, artinya, sejak dalam kandungan kita sudah menjadi manusia yang telah dipilih-Nya.

Ayb 31: 15: “Bukankah Ia, yang membuat aku dalam kandungan, membuat orang itu juga? Bukankah satu juga yang membentuk kami dalam rahim?”

Ayub menyadari bahwa ia dan juga orang-orang lain telah diciptakan/ dibentuk oleh Allah sejak dalam kandungan.

Yes 49, 1,5: “….TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku…. Maka sekarang firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya…”

Nabi Yesaya mengajarkan bahwa Allah telah memanggilnya sejak ia masih di dalam kandungan (sesuatu yang tidak mungkin jika ketika di dalam kandungan ia bukan manusia).

2. Kitab Suci mengajarkan bahwa setiap kehidupan di dalam rahim ibu adalah ciptaan yang unik, yang sudah dikenal oleh Tuhan:

Yer 1:5: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.”

Mazmur 139: 13, 15-16: “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku…. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.”

Gal 1:15-16: “Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia”

Luk 1:41-42: “Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus lalu berseru, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.”

Di dalam kisah ini, Yohanes Pembaptis yang masih berada dalam kandungan Elisabet dapat melonjak gembira pada saat mendengar salam Maria. Lalu Elisabet-pun mengucapkan salam kepada Maria dan kepada Yesus yang ada dalam kandungan Bunda Maria sebagai ‘buah rahim’-nya. Tentulah ini menunjukkan bahwa kehidupan janin di dalam kandungan sudah menunjukkan kehidupan seorang manusia, yang sudah dapat turut melonjak karena suka cita, dan layak untuk ‘diberkati’ sebagai manusia. Janin di dalam kadungan bukan hanya sekedar sepotong daging/ fetus tanpa identitas. Sejak di dalam kandungan, Allah telah membentuk kita secara khusus, memperlengkapi kita dengan berbagai sifat dan karakter tertentu agar nantinya dapat melakukan tugas-tugas perutusan kita di dunia.

3. Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk memperhatikan dan mengasihi saudara-saudari kita yang terkecil dan terlemah, sebab dengan demikian kita melakukannya untuk Kristus sendiri.

Mat 25:45: “… sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.”

Aborsi yang pada akhirnya membunuh janin, entah di dalam atau di luar kandungan, adalah tindakan pembunuhan yang bertentangan dengan perintah Yesus untuk memperhatikan dan mengasihi saudari-saudari kita yang terkecil dan terlemah.

4. Kitab Suci menuliskan bahwa kita tidak boleh membunuh, atau jika mau dikatakan dengan kalimat positif, kita harus mengasihi sesama kita.

Kel 20: 13; Ul 5:17; Mat 5:21-22; 19:18: “Jangan membunuh.”

Mat 22:36-40; Mrk 12:31; Luk 10:27; Rom 13:9, Gal 5:14: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”

1 Yoh 3:15 “Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.”

Jika di dunia ini mulai banyak kampanye untuk melindungi binatang-binatang, (terutama binatang langka), maka adalah suatu ironi, jika manusia  malahan melakukan aborsi yang membunuh sesama manusia, yang derajatnya lebih tinggi dari binatang. Apalagi jika aborsi dilegalkan/ diperbolehkan secara hukum. Maka menjadi suatu ironi yang mengenaskan: ikan lumba-lumba dilindungi mati-matian, tetapi bayi-bayi manusia dimatikan dan tidak dilindungi.

Suatu permenungan: seandainya kita adalah janin itu, tentu kitapun tak ingin ditusuk dan dipotong-potong sampai mati. Maka, jika kita tidak ingin diperlakukan demikian, janganlah kita melakukannya terhadap bayi itu. Atau, kalau kita mengatakan bahwa kita mengimani Kristus Tuhan yang hadir di dalam mahluk ciptaan-Nya yang terkecil itu, maka sudah selayaknya kita tidak menyiksanya apalagi membunuhnya! Kita malah harus sedapat mungkin memeliharanya dan memperlakukannya dengan kasih.

5. Kitab Suci menuliskan, bahwa jika kita tidak peduli akan nasib saudara-saudari kita yang lemah ini, kita sama dengan Kain, yang pura-pura tidak tahu nasib saudaranya sendiri.

Kel 4: 9 Firman Tuhan kepada Kain, “Di mana Habel adikmu itu?” Ia (Kain) menjawab, “Aku tidak tahu.” Padahal tidak mungkin ia tidak tahu sebab Kain sendirilah yang memukul Habel adiknya hingga ia mati (lih. Kel 4:8).

Adalah suatu fakta yang memprihatinkan, yang menyangkut Presiden Barrack Obama yang terkenal oleh kebijakannya memperbolehkan aborsi. Pada suatu kesempatan dalam wawancara tanggal 16 Agustus 2008 (pada saat itu ia masih menjadi senator Illinois), ia ditanya oleh Pastor Rick Warren, “Jadi kapan menurut anda seorang bayi memperoleh hak azasinya?” Ini adalah pertanyaan yang menyangkut iman dan bagaimana iman itu bekerja dalam hati nurani dan kebijaksanaan sang (calon) Presiden. Namun sayangnya jawaban Obama adalah, “Answering that question with specificity, you know, is above my pay grade.” (Menjawab pertanyaan itu dengan detailnya, kamu tahu, itu melampaui batas gaji/ penghasilan saya). Suatu jawaban yang kelihatan sangat enteng untuk pertanyaan yang sangat serius. Ini sungguh mirip dengan jawaban Kain, “Aku tidak tahu.” Padahal, tentu bukannya tidak tahu, tetapi lebih tepatnya tidak mau tahu. Sebab fakta science dan bahkan akal sehat sesungguhnya telah begitu jelas menunjukkan kapan manusia terbentuk sebagai manusia.

Alkitab menunjukkan dan bahkan ilmu pengetahuan membuktikan bahwa kehidupan manusia berawal dari masa konsepsi. Satu sel ini kemudian berkembang menjadi janin yang sungguh sudah berbentuk manusia, walaupun masih di dalam kandungan. DNA dan keseluruhan 46 kromosom terbentuk saat konsepsi. Jantung janin telah berdetak di hari ke-18, keseluruhan struktur syaraf terbentuk di hari ke- 20. Di hari ke 42, semua tulang sudah lengkap, gerak refleks sudah ada. Otak dan semua sistem tubuh terbentuk di minggu ke-8. Semua sistem tubuh berfungsi dalam 12 minggu. Hanya orang yang menutup diri terhadap semua fakta ini dapat berkata, “aku tidak tahu” kapan kehidupan manusia dimulai, dan apakah janin itu seorang manusia atau bukan.

Pengajaran Bapa Gereja

1. Didache: Pengajaran dari kedua belas Rasul (80- 110) ((Lihat J. Tixeront, A Handbook of Patrology))
Mungkin tak banyak orang mengetahui bahwa larangan aborsi sudah berlaku sejak abad ke-1. Dalam Didache, yang merupakan katekese moral, aborsi dan mungkin juga kontrasepsi (yang dikatakan dalam istilah “magic” atau “drug“) ((Lihat John Hardon, S.J., “The Catholic Tradition on the of Contraception” on line http://www.therealpresence.org/archives/Abortion_Euthanasia/Abortion_Euthanasia_004.htm Ia menulis: Istilah ini ‘mageia‘ dan ‘pharmaka‘ dimengerti berkaitan dengan ritus-ritus magis dan/ atau minuman/ obat untuk kontrasepsi dan sebagai dosa besar, yang umum dilakukan oleh orang-orang pagan:

“Thou shalt not commit sodomy, thou shalt not commit fornication; thou shalt not steal; thou shalt not use magic; thou shalt not use drug; thou shalt not procure abortion, nor commit infanticide. ((Didache, II, 1-2))

2. Konsili Elvira (305) dan Konsili  Ancyra (314) mengecam aborsi, silakan melihat teks lengkapnya di link ini, silakan klik.

3. Beberapa Bapa Gereja yang mengajarkan larangan aborsi:

The Apocalypse of Peter (ca. 135)
Tertullian (c.160-240)
Athenagoras (d. 177)
Minucius (3rd Century AD)
Basil (c.329-379)
Ambrose (c.340-397)
Jerome (347-420)
John Chrysostom (347-407)
Augustine of Hippo (354-430)
St. Caesarius, Bishop of Arles (470-543)
Theodorus Priscianus (c.4th-5th century AD)
Justinian (527-565)
Gregory the Great (540-604)
Disciple of Cassiodorus (after 540 AD)
Apocalypse of Paul
The Apostolic Constitutions
The Letter of Barnabas
Hippolytus

Teks lengkapnya dari masing-masing Bapa Gereja tersebut, silakan klik di link ini.

Pengajaran Magisterium Gereja Katolik

Maka, Magisterium Gereja Katolik dengan teguh menjunjung tinggi kehidupan manusia dan menentang aborsi, karena memang demikianlah yang sudah diajarkan oleh para rasul dan diimani Gereja sepanjang sejarah.

1. Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes 27, “Selain itu apa saja yang berlawanan dengan kehidupan sendiri, misalnya bentuk pembunuhan yang mana pun juga, penumpasan suku, pengguguran (aborsi), eutanasia atau bunuh diri yang disengaja; apa pun yang melanggar keutuhan pribadi manusia, …. apa pun yang melukai martabat manusia, seperti kondisi-kondisi hidup yang tidak layak manusiawi, pemenjaraan yang sewenang-wenang, pembuangan orang-orang, perbudakan, pelacuran, perdagangan wanita dan anak-anak muda; begitu pula kondisi-kondisi kerja yang memalukan, sehingga kaum buruh diperalat semata-mata untuk menarik keuntungan…. itu semua dan hal-hal lain yang serupa memang perbuatan yang keji. Dan sementara mencoreng peradaban manusiawi, perbuatan-perbuatan itu lebih mencemarkan mereka yang melakukannya, dari pada mereka yang menanggung ketidak-adilan, lagi pula sangat berlawanan dengan kemuliaan Sang Pencipta.”

2. Paus Paulus VI dalam surat ensikliknya, Humanae Vitae 13 mengutip Paus Yohanes XXIII mengatakan, “Hidup manusia adalah sesuatu yang sakral, dari sejak permulaannya, ia secara langsung melibatkan tindakan penciptaan oleh Allah.” Maka manusia tidak mempunyai dominasi yang tak terbatas terhadap tubuhnya secara umum; manusia tidak mempunyai dominasi penuh atas kemampuannya berkembang biak justru karena pemberian kemampuan berkembang biak itu ditentukan oleh Allah untuk memberi kehidupan baru, di mana Tuhan adalah sumber dan asalnya.

Dalam surat ensiklik yang sana Paus Paulus VI juga menyebutkan kedua aspek perkawinan yaitu persatuan (union) dan penciptaan kehidupan baru (pro-creation). Maka “usaha interupsi/ pemutusan terhadap proses generatif yang sudah berjalan, dan terutama, aborsi yang dengan sengaja diinginkan, meskipun untuk alasan terapi, adalah mutlak tidak termasuk dalam cara-cara yang diizinkan untuk pengaturan kelahiran.” ((Paus Paulus VI, Humanae Vitae 14, mengutip Roman Catechism of the Council of Trent, Part II, ch. 8, Paus Pius XI, ensiklik Casti Connubii: AAS 22 (1930), pp. 562-64; …. Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, 51: AAS 58, 1966, p. 1072)).

3. Congregation for the Doctrine of the Faith, Declaration on Procured Abortion: (18 November 1974), nos 12-13, AAS (1974), 738:

“…from the time that the ovum is fertilized, a life is begun which is neither that of the father nor the mother; it is rather the life of a new human being with his own growth. It would never be made human if it were not human already. This has always been clear, and … modern genetic science offers clear confirmation. It has demonstrated that from the first instant there is established the programme of what this living being will be: a person, this individual person with his characteristic aspects already well determined. Right from fertilization the adventure of a human life begins, and each of its capacities requires time-a rather lengthy time-to find its place and to be in a position to act.”

Karena hidup manusia dimulai saat konsepsi/ fertilisasi, maka manusia harus dihormati dan diperlakukan sebagai manusia sejak masa konsepsi dan karenanya, sejak saat konsepsi, hak-haknya sebagai manusia harus diakui, terutama haknya untuk hidup. ((lihat Congregation for the Doctrine of the Faith, Instruction on Respect for Human Life in its Origin and on the Dignity of Procreation Donum Vitae: (22 February 1987), I, No. 1, AAS 80 (1988), 79))

4. Yohanes Paulus II dalam surat ensikliknya, Evangelium Vitae menekankan bahwa Injil Kehidupan (the Gospel of Life) yang diterima Gereja dari Tuhan Yesus sebenarnya telah menggema di hati semua orang. Setiap orang yang terbuka terhadap kebenaran dan kebaikan akan mengenali hukum kodrat yang tertulis di dalam hatinya (lih. 2:14-15) tentang kesakralan kehidupan manusia dari sejak awal mula sampai akhirnya; dan dengan demikian dapat mengakui adanya hak dari setiap orang untuk dapat hidup. Sesungguhnya atas dasar pengakuan akan hak untuk hidup inilah setiap komunitas manusia dan komunitas politik didirikan. ((Lihat Yohanes Paulus II, Evangelium Vitae, 2))

Paus Yohanes Paulus II kemudian menyebutkan adanya hubungan yang dekat antara kontrasepsi dan aborsi. Kontrasepsi menentang kebenaran sejati tentang hubungan suami istri, sedangkan aborsi menghancurkan kehidupan manusia. Kontrasepsi menentang kebajikan kemurnian di dalam perkawinan, sedangkan aborsi menentang kebajikan keadilan dan merupakan pelanggaran perintah “Jangan membunuh” ((Lihat Evangelium Vitae, 13)). Maka keduanya sebenarnya berasal dari pohon yang sama, berakar dari mental hedonistik yang tidak mau menanggung akibat dalam hal seksualitas, berpusat pada kebebasan yang egois, yang menganggap ‘pro-creation‘ sesuatu beban untuk pencapaian cita-cita/ personal fulfillment.

Paus Yohanes Paulus II menyebutkan mentalitas sedemikian mendorong bertumbuhnya “culture of death” di dalam masyarakat, yang pada dasarnya menentang kehidupan. ((Lihat Evangelium Vitae 24, 26, 28)) Dalam mentalitas ini, bayi/ anak-anak maupun orang tua yang sakit-sakitan dianggap sebagai ‘beban’ sehingga muncullah budaya aborsi dan euthanasia. Suatu yang sangat menyedihkan! Padahal seharusnya, manusia memilih kehidupan seperti yang diperintahkan Allah, “Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi Tuhan Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut kepada-Nya….” (Ul 30:19-20).

Akhirnya, berikut ini adalah pengajaran definitif dari Paus Yohanes Paulus II yang menolak aborsi ((Evangelium Vitae 62)):

“Therefore, by the authority which Christ conferred upon Peter and his Successors, in communion with the Bishops-who on various occasions have condemned abortion and who in the aforementioned consultation, albeit dispersed throughout the world, have shown unanimous agreement concerning this doctrine-I declare that direct abortion, that is, abortion willed as an end or as a means, always constitutes a grave moral disorder, since it is the deliberate killing of an innocent human being. This doctrine is based upon the natural law and upon the written Word of God, is transmitted by the Church’s Tradition and taught by the ordinary and universal Magisterium.”

Efek-efek negatif dari aborsi

Tidak mengherankan, karena aborsi adalah perbuatan yang menentang hukum alam dan hukum Tuhan, maka tindakan ini membawa akibat- akibat negatif, terutama kepada ibu dan ayah bayi, maupun juga kepada para pelaku aborsi dan masyarakat umum, terutama generasi muda, yang tidak lagi melihat kesakralan makna perkawinan.

Ibu yang mengandung bayi, terutama menanggung akibat negatif, baik bagi fisik maupun psikologis, yaitu kemungkinan komplikasi fisik, resiko infeksi, perdarahan, atau bahkan kematian. Selanjutnya, penelitian dalam Journal of the National Cancer Institute di Amerika juga menunjukkan wanita yang melakukan aborsi meningkatkan resiko 50% terkena kanker payudara. Sebab aborsi membuat terputusnya proses perkembangan natural payudara, sehingga jutaan selnya kemudian mempunyai resiko tinggi mengalami keganasan. Selanjutnyapun kehamilan berikutnya mempunyai peningkatan resiko gagal 45%, atau komplikasi lainnya seperti prematur, steril, kerusakan cervix. Selanjutnya tentang hal ini dapat anda lihat di link ini, silakan klik.

Di atas semua itu adalah tekanan kejiwaan yang biasanya dialami oleh wanita- wanita yang mengalami aborsi. Tekanan kejiwaan ini membuat mereka depresi, mengalami kesedihan yang berkepanjangan, menjadi pemarah, dikejar perasaan bersalah, membenci diri sendiri, bahkan sampai mempunyai kecenderungan bunuh diri. Menurut studi yang diadakan oleh David Reardon yang memimpin the Elliot Institute for Social Sciences Research di Springfield Illinois (di negara Obama menjadi senator): 98% wanita yang melakukan aborsi menyesali tindakannya, 28% wanita sesudah melakukan aborsi mencoba bunuh diri, 20% wanita post-aborsi mengalami nervous breakdown, 10% dirawat oleh psikiatris.

Ini belum menghitung adanya akibat negatif dalam masyarakat, terutama generasi muda. Legalisasi aborsi semakin memerosotkan moral generasi muda, yang dapat mempunyai kecenderungan untuk mengagungkan kesenangan seksual, ataupun memikirkan kepentingan diri sendiri, tanpa memperhitungkan tanggung jawab. Suatu mentalitas yang sangat bertentangan dengan ajaran Kristiani.

Bagi yang telah melakukan aborsi

Paus Yohanes Paulus II dengan kebapakan mengatakan bahwa Gereja menyadari bahwa terdapat banyak faktor yang menyebabkan seorang wanita melakukan aborsi. Gereja mengajak para wanita yang telah melakukan aborsi untuk menghadapi segala yang telah terjadi dengan jujur. Perbuatan aborsi tetap merupakan perbuatan yang sangat salah dan dosa, namun juga janganlah berputus asa dan kehilangan harapan. Datanglah kepada Tuhan dalam pertobatan yang sungguh dalam Sakramen Pengakuan Dosa. Percayakanlah kepada Allah Bapa jiwa anak yang telah diaborsi, dan mulai sekarang junjunglah kehidupan, entah dengan komitmen mengasuh anak-anak yang lain, atau bahkan menjadi promotor bagi banyak orang agar mempunyai pandangan yang baru dalam melihat makna kehidupan manusia. ((Lihat Evangelium Vitae 99)). Anjuran ini juga berlaku bagi para dokter, petugas medis atau siapapun yang pernah terlibat dalam tindakan aborsi, entah dengan menganjurkannya ataupun dengan melakukan/ membantu proses aborsi itu sendiri. Semoga semakin banyak orang dapat melihat kejahatan aborsi, sehingga tidak lagi mau melakukannya.

Kesimpulan

Pengajaran Alkitab dan Gereja Katolik menyatakan, “Kehidupan manusia adalah sakral karena sejak dari awalnya melibatkan tindakan penciptaan Allah” ((Evangelium Vitae 53)). Kehidupan, seperti halnya kematian adalah sesuatu yang menjadi hak Allah ((lihat Evangelium Vitae, 39, lihat Ayub 12:10)), dan manusia tidak berkuasa untuk ‘mempermainkannya’. Perbuatan aborsi menentang hukum alam dan hukum Allah, maka tak heran, perbuatan ini mengakibatkan hal yang sangat negatif kepada orang-orang yang terlibat di dalamnya. Aborsi adalah tindakan pembunuhan manusia, walaupun ada sebagian orang yang menutup mata terhadap kenyataan ini. Gereja Katolik tidak pernah urung dalam menyatakan sikapnya yang “pro-life“/ mendukung kehidupan, sebab, Gereja menghormati Allah Pencipta yang memberikan kehidupan itu. Tindakan melindungi kehidupan ini merupakan bukti nyata dari iman kita kepada Kristus, yang adalah Sang Hidup (Yoh 14:6) dan pemberi hidup itu sendiri.

Mari, di tengah-tengah budaya yang menyerukan “kematian”/ culture of death, kita sebagai umat Katolik dengan berani menyuarakan “kehidupan”/ culture of life. Mari kita melihat di dalam setiap anak yang lahir, di dalam setiap orang yang hidup maupun yang meninggal, gambaran kemuliaan Tuhan Pencipta yang telah menciptakan manusia sesuai dengan gambaran-Nya. Dengan demikian, kita dapat menghormati setiap orang, dan memperlakukan setiap manusia sebagaimana mestinya demi kasih dan hormat kita kepada Tuhan yang menciptakannya.

Mari bersama kita mewartakan Injil Kehidupan, yang menyatakan kepenuhan kebenaran tentang manusia dan tentang kehidupan manusia. Semoga kita dapat memiliki hati nurani yang jernih, sehingga kita dapat mendengar seruan Tuhan untuk memperhatikan dan mengasihi sesama kita yang terkecil, yakni mereka yang sedang terbentuk di dalam rahim para ibu. Sebab Yesus bersabda, “Apa yang kau lakukan terhadap saudaramu yang paling kecil ini, engkau lakukan untuk Aku…” (lih. Mat 25:45).

Tiga misi keselamatan Kristus: sebagai nabi, imam dan raja

8

Pertanyaan:

salom
Dear, aku mau nanya: bagaimana penjelasan paham dan ciri pelayanan profetis/kenabian dalam Gereja katolik?

Jawaban:

Shalom Chrsnt,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang ciri pelayanan kenabiaan dalam Gereja Katolik. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus mengerti definisi dari nabi, tiga misi keselamatan Kristus (three fold mission of Christ), dan Gereja yang melanjutkan 3 misi Kristus ini sampai akhir jaman, dan juga tugas semua orang orang yang telah dibaptis juga mengemban tiga misi ini, yaitu: sebagai nabi, imam, dan raja.

1) Secara prinsip seorang nabi dapat didefinisikan sebagai seseorang yang mewartakan kebenaran dari Allah, yang dapat menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan masa depan dan juga memberitakan kebenaran Allah lewat pengajaran. Hal ini dapat kita lihat bagaimana Tuhan berbicara dengan perantaraan para nabi untuk memberitakan kedatangan Sang Mesias. Kita juga melihat tugas lain dari nabi di dalam Perjanjian Lama yang tugasnya adalah mengajarkan kebenaran. Pada waktu bangsa Israel tersesat dan menyimpang dari jalan Allah, maka seorang nabi yang benar-benar di utus oleh Tuhan senantiasa mencoba mengembalikan bangsa Israel ke jalan Tuhan. Dikatakan bahwa Yohanes Pemandi adalah nabi terakhir dari Perjanjian Lama.

KGK, 523: “Yohanes Pembaptis adalah perintis Tuhan yang langsung (Bdk. Kis 13:24.); ia diutus untuk menyiapkan jalan bagi-Nya (Bdk. Mat 3:3.). Sebagai “nabi Allah yang mahatinggi” (Luk 1:76) Ia menonjol di antara semua nabi (Bdk. Luk 7:26.). Ia adalah yang terakhir dari mereka (Bdk. Mat 11:13.) dan sejak itu Kerajaan Allah diberitakan (Bdk. Kis 1:22; Luk 16:16.). Ia sudah bersorak gembira dalam rahim ibunya mengenai kedatangan Kristus (Bdk. Luk 1:41.) dan mendapat kegembiraannya sebagai “sahabat mempelai” (Yoh 3:29), yang ia lukiskan sebagai “Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29). Ia mendahului Yesus “dalam roh dan kuasa Elia” (Luk 1:17) dan memberikan kesaksian untuk Dia melalui khotbahnya, pembaptisan pertobatan, dan akhirnya melalui mati syahidnya (Bdk. Mrk 6:17-29.).

KGK, 719: “Yohanes itu “lebih daripada nabi” (Luk 7:26). Di dalam dia, Roh Kudus menyelesaikan “tutur sapa-Nya melalui para nabi”. Yohanes adalah yang terakhir dari mata rantai para nabi yang dimulai dengan Elia (Bdk. Mat 11:13-14.). Ia mengumumkan bahwa penghibur Israel sudah dekat; ia adalah “suara” penghibur yang akan datang (Yoh 1:23) (Bdk. Yes 40:1-3.). Sebagaimana kemudian Roh kebenaran, ia pun datang sebagai “saksi untuk memberi kesaksian tentang terang” (Yoh 1:7) (Bdk. Yoh 15:26; 5:33.). Dengan demikian di depan mata Yohanes, Roh memenuhi apa yang dicari para nabi dan dirindukan para malaikat (Bdk. 1 Ptr 1:10-12.): “Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Dia inilah Anak Allah… Lihatlah Anak Domba Allah” (Yoh 1:33-36).

2) Dari Katekismus Gereja Katolik, 523 dan 719, kita dapat menyimpulkan bahwa Yohanes Pembaptis adalah nabi terakhir dari Perjanjian Lama. Dan kemudian kita melihat bagaimana Kristus menjadi pemenuhan dari semua yang dikatakan oleh para nabi di Perjanjian Lama. Kristus datang ke dunia ini dengan tiga misi utama, yaitu sebagai nabi, imam dan raja. Yesus datang ke dunia untuk menjadi nabi, yang mewartakan kebenaran, karena Dia sendiri adalah kebenaran (lih. Yoh 14:6). Yesus juga datang ke dunia, sebagai imam yang menyediakan Diri-Nya sendiri sebagai Korban dan sekaligus Imam Agung dengan kematiannya di kayu salib. Yesus juga datang sebagai raja, yang memperbaharui kerajaan Daud – bukan sebagai raja di dunia ini, namun sebagai Raja di setiap hati umat manusia dan juga menjadi Raja di dalam Kerajaan Sorga. Katekismus Gereja Katolik mengatakan “Yesus Kristus diurapi oleh Bapa dengan Roh Kudus dan dijadikan “imam, nabi, dan raja“. Seluruh Umat Allah mengambil bagian dalam ketiga jabatan Kristus ini, dan bertanggung jawab untuk perutusan dan pelayanan yang keluar darinya (Bdk. RH 18-21.).” (KGk, 783; lihat juga KGK, 1241, 1546, 1581, 436).

3) Karena Kristus sendiri yang mendirikan Gereja Katolik, maka tiga tugas utama ini terus dijalankan oleh Gereja Katolik. Sebagai nabi, maka Gereja Katolik harus terus mewartakan kebenaran Kristus, mewariskan harta pusaka kebenaran ini dari satu generasi ke generasi secara murni. Tugas pewartaan ini termasuk evangelisasi, katekese, dll. Tugasnya sebagai imam terutama adalah dengan terus memberikan sakramen-sakramen, sehingga Gereja dapat terus membantu umat Allah untuk senantiasa memperoleh rahmat Allah. Sedangkan tugasnya sebagai raja adalah dengan terus melayani umat dan mengatur Gereja, yang memang mempunyai dimensi hirarki dan institusional.

4) Pada waktu seseorang menerima Sakramen Baptis, maka seseorang telah diperbaharui di dalam Kristus dan menerima Roh Kristus. Oleh karena itu, tiga tugas utama Kristus, sebagai nabi, imam dan raja juga diberikan kepada umat Allah. Sebagai umat Allah, kita harus menjalankan tugas sebagai nabi dengan terus berpegang pada kebenaran dan hidup menurut kebenaran yang telah ditetapkan oleh Kristus melalui Gereja-Nya. Umat Katolik juga diajak untuk turut aktif dalam setiap karya pewartaan, baik melalui katekese, kesaksian hidup, dll. Sebagai imam, umat Allah diajak untuk terus berpartisipasi dalam kehidupan sakramen dan liturgi, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat. Dan umat Allah juga dapat turut serta dalam tugasnya sebagai imam dengan hidup kudus – yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesama atas dasar kasih terhadap Allah. Sebagai raja, umat Allah diajak dalam tugas pelayanan (diakonia), pelayanan pastoral, persaudaraan (koinonia) dll.

5) Oleh karena itu, tugas kenabian di dalam Gereja Katolik tidak diartikan secara sempit. Orang sering mengartikan tugas kenabian sebagai seseorang yang dapat melihat masa depan. Namun, Gereja Katolik percaya bahwa tidak ada lagi wahyu publik setelah kematian rasul Yohanes, yang menuliskan Kitab Wahyu. Tuhan telah mengungkapkan seluruh misteri keselamatan kepada umat manusia melalui Kristus dan seluruh tradisi, baik lisan maupun tertulis. Semua pengajaran yang ada hanya menjelaskan semua warisan iman ini kepada seluruh manusia. Katekismus Gereja Katolik menjelaskan:

KGK, 66: “Tata penyelamatan Kristen sebagai suatu perjanjian yang baru dan definitif, tidak pernah akan lenyap, dan tidak perlu diharapkan suatu wahyu umum baru, sebelum kedatangan yang jaya Tuhan kita Yesus Kristus” (DV 4). Walaupun wahyu itu sudah selesai, namun isinya sama sekali belum digali seluruhnya; masih merupakan tugas kepercayaan umat Kristen, supaya dalam peredaran zaman lama kelamaan dapat mengerti seluruh artinya.

KGK, 67: “Dalam peredaran waktu terdapatlah apa yang dinamakan “wahyu pribadi”, yang beberapa di antaranya diakui oleh pimpinan Gereja. Namun wahyu pribadi itu tidak termasuk dalam perbendaharaan iman. Bukanlah tugas mereka untuk “menyempurnakan” wahyu Kristus yang definitif atau untuk “melengkapinya”, melainkan untuk membantu supaya orang dapat menghayatinya lebih dalam lagi dalam rentang waktu tertentu. Di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja, maka dalam kesadaran iman, umat beriman tahu membedakan dan melihat dalam wahyu-wahyu ini apa yang merupakan amanat otentik dari Kristus atau para kudus kepada Gereja. Iman Kristen tidak dapat “menerima” wahyu-wahyu yang mau melebihi atau membetulkan wahyu yang sudah dituntaskan dalam Kristus. Hal ini diklaim oleh agama-agama bukan Kristen tertentu dan sering kali juga oleh sekte-sekte baru tertentu yang mendasarkan diri atas “wahyu-wahyu” yang demikian itu.

Oleh karena itu, kita sebagai  umat beriman dapat menjadi nabi dengan terus mewartakan kebenaran yang telah diberikan oleh Kristus melalui Gereja-Nya. Dan kita mengasihi Allah kalau kita dapat melaksanakan seluruh perintah-Nya dengan segenap hati, pikiran dan kekuatan kita. Pembahasan tentang tiga misi keselamatan ini akan dibahas secara mendalam dalam program pertumbuhan dan pembaharuan, yang dapat dilihat di sini (silakan klik). Saya mengundang Chrsnt dan seluruh pembaca katolisitas.org untuk turut berpartisipasi dalam program ini, dengan turut merenungkan dan menjawab pertanyaan yang diberikan.

Semoga uraian di atas dapat menjawab pertanyaan Chrsnt.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Mengapa ada bermacam agama, Adam & Hawa berdosa dan alam semesta diciptakan, ttg. tulisan Anthony de Mello?

23

Pertanyaan:

Syalom,
Saya telah menjadi Katolik sejak bayi,namun ada beberapa pertanyaan yang kadang membuat saya agak tidak perduli akan agama walau saya masih mengimani Yesus Kristus sebagai Tuhan dan mencoba untuk hadir ke Gereja setiap hari Minggu.
1. Kenapa Tuhan mengijinkan adanya agama dan bermacam-macam pula. Bukankah Yesus hadir untuk mengajarkan Ajaran Cinta Kasih dan mendirikan Gereja bukan membuat agama?
2. Kenapa Allah mengijinkan setan memperdaya Adam dan Hawa sehingga menjadi berdosa,bukankah Allah begitu mencintai manusia ciptaan-Nya?
3. Mengapa Allah menciptakan manusia dan alam semesta beserta isinya.Apakah maksud sebenarnya dari karya Penciptaan Allah tesebut?
4. Saya pernah membaca beberapa buku karangan Anthony de Mello SJ.Namun setelah membaca buku-buku tersebut saya makin penasaran akan arti keberadaan agama. Menurut anda,apakah isi buku-buku tersebut masih sesuai dengan ajaran Katolik?
Demikian beberapa pertanyaan saya,mohon bimbingan dan penjelasannya. GBU.

Thomas

Jawaban:

Shalom Thomas Windu,

1. Ya: Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia dengan mendirikan Gereja, yang menjadi sakramen keselamatan itu; dan melalui Gereja, Yesus membuka jalan keselamatan dengan sakramen Pembaptisan dan Ia menyampaikan semua ajaran dan perintah-perintah-Nya (lihat Mat 28:10-20)terutama Ajaran Cinta Kasih seperti yang tertulis dalam Injil.

Maka agama-agama yang ada di dunia ini diijinkan ada oleh Tuhan sebagai persiapan akan ajaran Injil. Katekismus Gereja Katolik, mengutip Lumen Gentium 16, Nostra Aetate 2, Evangelii Nuntiandi 53 mengatakan,

KGK 843    Gereja mengakui bahwa agama-agama lain pun mencari Allah, walaupun baru “dalam bayang-bayang dan gambaran”. Ia memang belum dikenal oleh mereka, namun toh sudah dekat, karena Ia memberi kepada semua orang kehidupan, napas, dan segala sesuatu, dan Ia menghendaki agar semua manusia diselamatkan. Dengan demikian Gereja memandang segala sesuatu yang baik dan benar yang terdapat pada mereka sebagai “persiapan Injil dan sebagai karunia Dia, yang menerangi setiap orang, supaya akhirnya memperoleh kehidupan.”

Selanjutnya tentang keselamatan, saya mempersilakan anda membaca rubrik tanya jawab (TJ) tentang Keselamatan yang ada cukup banyak di situs ini. Jika masih ada pertanyaan silakan anda menuliskannya di bawah salah satu tanya jawab tersebut.

2. Kenapa Allah mengijinkan setan memperdaya Adam dan Hawa sehingga menjadi berdosa, bukankah Allah begitu mencintai manusia ciptaan-Nya? Jawabnya adalah karena kasih-Nya, maka Allah tidak mau menjadikan manusia hanya seperti robot. Maka Allah memberikan akal budi dan kehendak bebas kepada manusia, yang memungkinkan manusia memilih sendiri apa yang dikehendaki olehnya. Sebenarnya kehendak bebas inilah yang memungkinkan seseorang untuk mengasihi dalam arti yang sesungguhnya. Sebab kalau orang mengasihi hanya karena ‘dipaksa’/ ‘dibuat sedemikian rupa sehingga mengasihi’ itu sebenarnya bukan mengasihi. Allah menginginkan agar manusia mengasihi Dia atas kehendak kita sendiri, bukan karena dipaksa. Maka memang Ia memberi kehendak bebas kepada manusia, walaupun ini mempunyai resiko juga.

Resiko yang ditanggung oleh Allah adalah, bahwa manusia dapat memilih untuk tidak mengasihi Dia, tidak percaya kepada-Nya dengan lebih mempercayai perkataan Iblis. Dan inilah yang terjadi pada saat manusia pertama, Adam dan Hawa, berdosa. Mereka lebih memilih mempercayai Iblis daripada Tuhan. Maka sebenarnya kejatuhan Adam dan Hawa dimungkinkan oleh kehendak bebas mereka yang Tuhan berikan karena kasih-Nya kepada mereka. Namun Allah tidak membiarkan umat manusia hancur oleh kejatuhan mereka di dalam dosa. Karena kasih Allah tetap selamanya, maka Allah kemudian mengirimkan bantuan-bantuan kepada manusia agar manusia dapat kembali kepada-Nya dan hubungan kasih dengan manusia yang telah dirusak oleh dosa dapat diperbaiki. Di sepanjang sejarah manusia, kita mengenal Allah mengutus para nabi sampai akhirnya mengutus Putera-Nya sendiri, Yesus Kristus, untuk menyelamatkan kita dari belenggu dosa.

Jadi, walaupun Tuhan mengizinkan manusia pertama jatuh dalam dosa, yang membawa semua umat manusia ke dalam dosa, namun kemudian Tuhan juga menyediakan jalan bagi umat manusia untuk kembali bersatu dengan-Nya melalui Yesus Putera-Nya. Untuk kembalinya kita kepada Tuhan, memang diperlukan rahmat Tuhan, namun juga kehendak bebas kita untuk bertobat dan memilih menaati Tuhan, daripada berbuat dosa. Maka dengan kehendak bebas manusia berdosa, namun dengan kehendak bebas pula manusia dapat bertobat dan kembali kepada Tuhan.

3. Tuhan menciptakan alam semesta dan segala isinya, untuk membagikan kebaikan-Nya kepada ciptaan-Nya. Allah adalah kasih dan sifat utama kasih adalah memberi, membagi, menginginkan yang baik terjadi pada yang dikasihi. Maka, Allah menciptakan manusia, sebagai mahluk tertinggi yang dikasihi-Nya, dan memberikan alam semesta kepada manusia, agar dapat dikelola dan dikuasai dengan baik demi kebaikan manusia; dan agar melalui alam semesta tersebut manusia dapat mengenali Sang Pencipta.
Selanjutnya tentang tujuan Penciptaan sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

4. Tentang tulisan Rm Anthony de Mello.

Saya juga sudah membaca tulisan-tulisan R. Anthony de Mello, memang ada banyak yang baik. Tetapi jika kita terus membaca karya-karyanya, lama kelamaan secara implisit kita dapat menangkap, seolah-olah pencerahan itu dapat diperoleh sendiri secara pribadi dalam keheningan, dan bukan melalui Kristus. Kardinal Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI) pernah secara khusus menulis komentar tentang karya R. Mello, pada tahun 1998,yang ada di link http://www.vatican.va/roman_curia/congregations/cfaith/documents/rc_con_cfaith_doc_19980624_demello_en.html

Kardinal Ratzinger mengatakan bahwa di awal karyanya R. Mello memang masih setia dengan pengajaran Katolik, tapi lama kelamaan cenderung menyimpang, dengan memperkenalkan sosok Tuhan sebagai ‘pure void’/ ‘kosong’, yang bukan berupa ‘Pribadi Ilahi’. Dengan demikian spiritualitas yang diajarkan R. Mello meninggalkan konsep Allah Tritunggal (Allah yang satu dengan tiga Pribadi); figur Kristus-pun disejajarkan dengan tokoh agama lain; lalu agama dipandang sebagai penghalang untuk menemukan kebenaran. Hal-hal ini yang bertentangan dengan Spiritualitas Katolik.

Pada akhirnya, kekatolikan kita dinyatakan jika kita mempunyai Roh dan semangat Kristus, menerima dengan taat pengajaranNya yang disampaikan oleh Gereja Katolik (Lumen Gentium 14). Jadi, suara Gereja tentang tulisan R. de Mello harusnya mengarahkan sikap kita terhadap tulisan-tulisan beliau. Kita menerima dengan rendah hati pandangan Gereja, yang pasti telah didahului dengan segala penelitian akan semua karya-karya R. Mello. Sedangkan yang kita baca mungkin hanya sebagian saja.

Maka anda benar jika dalam sebagian karya-karya R. de Mello ini ada yang membingungkan seolah mengatakan agama tidak penting, atau bahkan Kristus tidak penting. Dan inilah yang dianggap menyimpang oleh pihak Magisterium. Maka kita sebagai umat Katolik harus waspada saat kita membaca karya-karya beliau, agar kita dapat memilah: yang baik boleh kita terima, namun yang tidak sesuai dengan ajaran Katolik, tentu tidak kita terima.

Demikian tanggapan saya atas pertanyaan anda, semoga bermanfaat bagi anda.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Apakah binatang pertama dalam Why 13= Gereja Katolik?

36

Pertanyaan:

shalom….

Tadi saya ke bilik teman saya, dia menunjukkan mengenai satu video. Setelah saya check di YOUTUBE, video itu ada…tajuknya ” Binatang Pertama dalam Wahyu 13 dinyatakan” .

video itu memaparkan penafsiran “WAHYU 13?….Jadi saya ingin menanya,apakah sebenarnya makna firman TUHAN dalam wahyu 13 tersebut. supaya saya boleh menjelaskan kepada kwan saya yang berpendapat bahawa GEREJA KATOLIK tidak boleh dipercayai..dan saya tidak dapat menerima apa yang dikatakan nya…sebab itu saya ingin penjelasan lebih kukuh supaa saya boleh menjelaskan kepada kwan sy.

Thanks.. Monica

Jawaban:

Shalom Monica,
Memang perlu disadari terdapat perbedaan interpretasi antara Gereja Katolik dengan gereja Protestan mengenai beberapa perikop di Kitab Wahyu. Sebab menurut tafsiran Gereja Katolik, sebagian dari kitab Wahyu sebenarnya sudah terjadi, dan tidak semuanya mengacu kepada akhir jaman. Maka tentu saja cara menafsirkannya jadi berbeda. Perlu diketahui bersama, bahwa Alkitab Wahyu itu memang kaya dengan simbol-simbol, dan karena itu tidak mengherankan dapat terjadi bermacam interpretasi, bahkan di kalangan para ahli Kitab Suci.

1.  Penjelasan Why 13:18

Berikut ini adalah penjelasan Wahyu 13:18, yang saya ringkas dari A Catholic Commentary on Holy Scripture, ed. by Dom Orchard, p. 1203- 1205:

1. Seekor binatang yang keluar dari dalam laut dengan 7 kepala dan 10 tanduk adalah Kerajaan Kota Roma [yang ada pada jaman kitab Wahyu tersebut ditulis].  Tujuh kepala di sini bermakna ganda: 1) 7 gunung di Roma 2) 7 raja-raja Romawi, mulai dari Kaisar Agustus, Tiberius, Gaius, Claudius dan Nero(n), dilanjutkan oleh Vespasian dan Titus. Domitian adalah yang ke-8, ialah yang hidup pada jaman Rasul Yohanes menuliskan kitab Wahyu, dan ialah yang dikenal sebagai “Kaisar Nero yang hidup kembali” karena kekejamannya yang menyerupai Nero.
Kesepuluh tanduk di sini (seperti yang juga disebutkan dalam Dan 7:7) adalah kerajaan-kerajaan sekutu Roma.

2. Hujat yang disebutkan (ay.5) oleh kaisar ini (contohnya Domitian) adalah menganggap dirinya Allah.

3. Binatang lain yang disebutkan pada ay. 11 adalah kekuasaan sipil dan religius di Asia.

4. Tanda-tanda yang dashyat pada ay. 13-15: Menurut hasil penemuan patung-patung Mithraic, ditemukan tabung-tabung di dalam patung tersebut yang membuat seolah patung-patung itu mengeluarkan api. Alexander Abonoteichos, orang Asia yang hidup dalam jaman Rasul Yohanes, membuat patung naga yang besar, dengan topeng yang membuatnya seolah-olah dapat berbicara.

5. ay. 16. Semua orang Yahudi yang tunduk pada kaisar pada waktu itu diberi tanda cap dewa Dionysos. Ini adalah tanda yang menjadi lawan kontras dari tanda cap di jiwa kita yang kita terima melalui Pembaptisan.

6. ay. 17. Orang Kristen yang tidak mempunyai cap tersebut, dikucilkan/ diboykot.

7. ay. 18. Arti angka 666 tidak terlepas dari kenyaaan bahwa huruf Yunani dan Ibrani juga menunjukkan angka. Contohnya alpha/ aleph =1, beta/ beth=2, dst. Maka nama Yesus atau IESOUS menurut huruf Yunani jika dijumlahkan adalah 888. Nah 666 menunjuk jumlah huruf Kaisar Neron (666:  yang terdiri dari huruf-huruf  NRWN QSR, Nun dalam bahasa Yunani = 50, Resh 200, Waw 6, qoph 100, samech 60, maka NRWN QSR (666) dihitung jumlahnya 666).
Nah menurut arti angka dalam Kitab Suci, 7 adalah angka sempurna, namun 8 adalah angka yang jauh melebihi kesempurnaan yang merupakan angka Messianic. Diulangnya 3 kali itu untuk menunjukkan kepenuhan/ tingkat kelengkapan. Maka angka 666 diartikan sebagai angka yang tidak sempurna, ketidak sempurnaannya diperkuat dengan pengulangan sebanyak 3 kali; walaupun kelihatannya mendekati sempurna. Angka 666 diartikan sebagai angka Anti-Kristus, yang mengacu pada Kaisar Neron dan Kaisar Domitian yang diberi julukan sebagai ‘Kaisar Nero yang hidup kembali’ karena kekejamannya menyerupai Nero. Maka, angka 666 melambangkan juga untuk semua kaisar, penindas, atau siapapun yang mengambil peran sebagai Anti-Kristus sepanjang jaman.

Tafsiran yang menyebut binatang itu adalah Gereja Katolik menurut saya adalah tafsiran yang selain kejam juga tidak berdasar.  Karena tafsiran itu malah bertentangan dengan Injil dan janji Yesus Kristus sendiri. Kita ketahui bahwa Yesus mendirikan Gereja-Nya di atas Rasul Petrus (lih. Mat 16: 18), dan Ia akan menyertai Gereja-Nya sampai akhir jaman (lih. Mat 28:19-20). Gereja yang didirikan Yesus di atas Petrus ini adalah Gereja Katolik, sebab Gereja Katolik adalah Gereja yang dipimpin oleh para penerus Rasul Petrus, yang secara turun temurun menjaga kemurnian ajaran para rasul. Menuduh bahwa Gereja Katolik adalah “binatang yang keluar dari dalam laut” dan bahkan “anti-kristus” dari Why 13 itu sendiri adalah suatu sikap yang tidak mempercayai janji Kristus yang akan menyertai Gereja yang didirikan-Nya sampai akhir jaman, atau lebih tepatnya, menuduh/ menganggap bahwa Tuhan Yesus ingkar janji.

Jika anda mempelajari sejarah, maka anda akan mengetahui bahwa yang dianiaya sepanjang sejarah manusia adalah Gereja Katolik dan bukannya sebaliknya. Aniaya itu sudah ada di abad-abad awal, di jaman Kaisar Nero, dan bahkan sampai sekarang, misalnya di negara-negara komunis dan di negara-negara kaum ekstrimist. Sejarah sendiri mencatat betapa banyak “orang-orang kudus” yaitu para martir dari Gereja Katolik yang dibunuh demi mempertahankan iman mereka.

2. Tentang Inkuisisi (inquisition)

Kejadian inkuisisi (Inquisition) di abad ke- 13 harus dilihat dengan kacamata obyektif. Inkuisisi ini dimulai atas perintah Paus Gregorius IX tahun 1231, untuk memerangi ajaran sesat Albigensian juga dikenal sebagai Cathars.  Ajaran sesat Albigensian ini, seperti heresi Manichaeisme, mengajarkan konsep dualisme, roh dan tubuh; roh itu baik, namun “matter“/ tubuh adalah asal dari segala kejahatan, dan karenanya, menentang Inkarnasi dan Keselamatan [di dalam Kristus, Sabda yang menjelma menjadi ‘daging’/ tubuh manusia]. Dengan demikian, heresi ini tidak saja menentang inti iman Kristiani tetapi juga inti basis kemasyarakatan, sebab mereka 1) menentang perkawinan legal sebab perkawinan dikatakan dapat menghasilkan kehidupan fisik/ tubuh yang baru; 2) mengajarkan bahwa bunuh diri adalah sesuatu yang baik, karena mengakhiri kehidupan tubuh; 3) homoseksualitas adalah lebih baik daripada heteroseksualitas,  karena tidak ‘menghasilkan’ tubuh/ fisik yang baru; 4) menganggap bahwa kitab Perjanjian Lama termasuk ke 10 perintah Allah sebagai pekerjaan setan. Nah, tak mengherankan, heresi ini berakibat menghasilkan kebingungan dan kekacauan dalam kehidupan bermasyarakat.

Jadi maksud inkuisisi/ inquisition adalah untuk mempertahankan kemurnian iman Kristiani dan memberikan hukuman eks-komunikasi pada orang-orang yang tidak mau bertobat. Cara inkusisi diambil karena pendekatan persuasif melalui khotbah pengajaran iman yang benar yang dilakukan oleh St. Dominikus dan para biarawan Dominikan tidak sepenuhnya efektif. Order Dominikan kemudian mendapat tugas untuk menangani inkusisi yang didahului oleh semacam pengadilan di hadapan juri yang terdiri dari sedikitnya 20 orang, yang menjadi permulaan dari sistem juri dalam pengadilan modern.
Dalam bukunya yang berjudul Characters of the Inquisition, William Thomas Walsh mengisahkan beberapa Chief Inquisitors, di antaranya Bernard of Gui. Dikatakan bahwa mereka adalah “far from being inhuman, …men of spotless character and sometimes of truly admirable sanctity….” ((cf. Joseph Blotzer, Catholic Encyclopedia, 1914, “Inquisition” online at http://www.newadvent.org/cathen/080261.htm )).  Setelah itu, mereka yang tidak juga mau bertobat diserahkan kepada pemerintah. Selanjutnya, memang ada kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh oknum-oknum di dalam inkuisisi, terutama dengan melakukan kekerasan, walaupun pada awalnya hal ini dilarang. Sekarang, mari kita melihat apa yang terjadi dalam inkuisisi yang dilakukan oleh Gereja dan yang dilakukan oleh pemerintah sekular pada abad 13-14, dan jumlah korban umat manusia di abad- abad berikutnya.

Sebagai contohnya, di Touluose, dari 1308-1323 hanya 42 orang dari 930 yang diadili dinyatakan sebagai “unpenitent heretics“/ bidat yang tak menyesal, dan diserahkan kepada pihak pemerintah sekular.
Spanish Inquisition, dalam 30 tahun pemerintahan ratu Isabel, ada sekitar 100,000 orang yang dikirim ke inkuisisi, dan 80,000 dinyatakan tidak bersalah. 15,000 dinyatakan bersalah, namun setelah mereka menyatakan iman secara publik, maka mereka dibebaskan kembali. Hanya ada sekitar 2,000 orang yang meninggal karena keputusan inkuisisi sepanjang pemerintahan  Ratu Isabella, dan 3000 orang kemudian dari tahun 1550 – 1800. Sedangkan, sebagai perbandingan,  hanya dalam waktu 20 hari, Revolusi Perancis (1794), yang dimotori oleh gerakan “Enlightenment”, meng-eksekusi pria dan wanita sebanyak 16,000- 40,000. Jumlah korban ini, jauh lebih banyak daripada korban inkuisisi dalam 30 tahun pemerintahan Ratu Isabella.

Menurut Raphael Molisend, seorang sejarahwan Protestan, Henry VIII membunuh 72,000 umat Katolik. Orang yang meninggal selama beberapa tahun pada masa pemerintahan Henry VIII dan anaknya Elizabeth I, jauh melebihi apa yang terjadi pada inkuisisi di Spanyol dan Roma selama 3 abad. Dari Geneva, Calvin mengirimkan utusan kepada England (Inggris) dengan pesan untuk membunuh orang-orang Katolik: “Siapa yang tidak mau membunuh para pengikut Paus, adalah pengkhianat.” Kebijakan ini dikenal tidak hanya oleh orang-orang Inggris yang setia kepada Roma, tetapi juga orang- orang Irlandia, yang hidup dan hak asasinya diambil (sampai 1913), demikian juga tanah mereka. Tahun  1585 parlemen Inggris mengeluarkan dekrit “hukuman mati bagi para warga Inggris yang kembali ke Inggris setelah ditahbiskan menjadi imam Katolik, dan semua orang yang menghubungi mereka.” (Black Legends of the Church by Vittorio Messori, ch. 6, nr. 36)

Bandingkan juga dengan Perang Dunia I dan II, yang membunuh 50 juta orang. 40 juta orang meninggal dalam masa pemerintahan Stalin di Rusia. 80 juta orang meninggal di Cina karena revolusi komunis dan 2 juta di Kamboja.

Tentu saja ada kesalahan yang dilakukan oleh putera/i Gereja yang tidak menerapkan hukum kasih selama dalam proses inkuisisi ini. Inilah sebabnya Paus Yohanes Paulus II meminta maaf atas nama mereka, menjelang perayaan tahun Yubelium 2000. Di satu sisi, kita seharusnya melihat keberanian dari Gereja Katolik untuk mengakui kesalahan ini dan dengan berani meminta maaf. Silakan membandingkan dengan agama atau gereja lain, apakah ada yang pernah melakukan hal yang sama, untuk meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan oleh putera dan puteri mereka di masa yang lalu?

Maka tidak benar jika Gereja Katolik membunuh ‘orang-orang kudus’. Pelaksana eksekusi adalah pemerintah sekular, setelah melalui pengadilan inkuisisi para heretik/ bidaat itu dinyatakan bersalah dan tetap berkeras dalam heresi yang bertentangan dengan ajaran Kristiani yang murni yang berasal dari para rasul. Jika kita melihat butir-butir pengajaran Albigensian, yang sangat mirip dengan Manichaeism, maka sesungguhnya kita dapat dengan obyektif melihat bahwa merekalah yang ‘menyimpang’.

3. Paus dan para imam Katolik mengaku sebagai ‘Kristus’?

Sekarang tentang tuduhan, bahwa Paus ataupun para imam Katolik mengaku sebagai “Kristus”. Paus sebagai penerus Rasul Petrus, memang adalah wakil Kristus di dunia, namun Paus sendiri tidak pernah menyatakan diri sendiri sebagai Tuhan “Penyelamat”/ Mesias dunia. Paus memimpin Gereja sebagai seorang pelayan, mengikuti teladan Yesus sendiri. Ini sangat berbeda dengan klaim yang dibuat oleh kaisar Nero yang menanggap diri sendiri sebagai tuhan, atau yang dibuat oleh Karl Marx dengan mengagungkan sistem komunisme sebagai tuhan/ mesias, dan menolak agama.

Bahwa Gereja Katolik mengklaim dapat mengampuni dosa, itu adalah karena kuasa yang diberikan oleh Yesus sendiri kepada para rasul (lih. Yoh 20:23), dan yang kemudian diteruskan oleh para penerus mereka, yaitu para imam. Karena Gereja Katolik memiliki Tradisi suci yang dapat ditelusuri berasal dari para rasul dan Kristus sendiri, maka klaim itu dapat dibuat oleh Gereja Katolik.

Lalu tentang imam yang diberi kuasa untuk mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus dalam Ekaristi, itu juga merupakan sesuatu yang berakar dari pengajaran Kristus dan para rasul. Yesus sendiri yang memerintahkan para murid untuk melaksanakan peringatan perjamuan kudus tersebut (Mat 26:26-29; Mrk 14:22-25; Luk 22:15-20); di mana Ia mau sungguh-sungguh hadir kembali, sehingga mereka yang tidak dengan layak makan Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya dalam Ekaristi ini, mendatangkan hukuman terhadap dirinya sendiri (lih. 1 Kor 11:23-30). Jadi Tradisi Perjamuan Kudus/ Ekaristi sudah ada sejak jaman para rasul (lih. Kis 2:42) dan ini dimungkinkan karena Kristus memberi kuasa kepada para imam-Nya untuk bertindak dan berkata-kata atas nama-Nya untuk menghadirkan Diri-Nya di tengah Gereja yang dikasihi-Nya, yang kepadanya Yesus telah mengorbankan Diri di kayu salib.

Jadi menurut saya, tuduhan di klip itu, bahwa para imam adalah antikristus karena melaksanakan peran “in persona Christi” pada saat memberikan sakramen-sakramen, adalah bentuk penghinaan kepada Kristus yang memberikan kuasa kepada mereka. Para imam hanya dapat melakukan tugas imamat mereka karena kuasa yang mereka terima dari Kristus, sehingga yang mereka lakukan tersebut adalah “perpanjangan” karya Kristus di dunia. Mereka tidak mencari kemuliaan diri sendiri, mereka tidak melakukan tugas imamat mereka di luar persatuan mereka dengan Kristus, sehingga mereka tidak dapat dikatakan sebagai Anti-kristus.

Monica, saya ingin menghimbau kepada anda, agar anda sedapat mungkin bertumbuh di dalam persekutuan seiman (Katolik) terlebih dahulu; terutama jika setelah anda menyampaikan pandangan anda ini, teman-teman anda yang non- Katolik itu tidak mau mendengarkan secara obyektif. Apalagi jika sampai mereka menganjurkan untuk tidak mendengarkan ajaran Gereja Katolik. Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus sendiri, dan ajaran Gereja Katolik berasal dari Kristus dan para rasul, sehingga  anjuran untuk tidak mendengarkan Gereja Katolik atau menolak Gereja Katolik sebenarnya bertentangan dengan ajaran Yesus Kristus sendiri. Sebab Yesus berkata kepada para rasul dan muridNya, “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” (Luk 10:16).

Gereja Katolik sendiri tidak pernah menolak saudara- saudari kita yang Kristen Protestan atau mengatakan bahwa gereja mereka tidak boleh dipercayai. Gereja Katolik mengajarkan bahwa saudara-saudari kita yang Kristen non- Katolik adalah saudara- saudari kita dalam Kristus, walaupun mereka tidak bersatu sepenuhnya di dalam Gereja Katolik  (lih. Lumen Gentium 15, Unitatis Redintegratio 3). Saya mengajak anda untuk membaca keseluruhan dokumen Konsili Vatikan II  Dekrit tentang Ekumenisme, silakan klik, agar anda dapat melihat bagaimana sikap Gereja Katolik terhadap umat Kristen non-Katolik. Semoga anda dapat melihat hikmat kebijaksanaan yang terdapat di dalam ajaran tersebut yang didasari atas kasih dan kebenaran Kristus.

Demikianlah tanggapan saya atas pertanyaan anda. Semoga anda dapat melihat bahwa sebagai sesama murid Kristus, tidak selayaknya kita saling menuduh tanpa alasan yang benar. Sebab itu bertentangan dengan hukum Kristus yang utama, yaitu: “Kasihilah sesamamu.” Sebab dengan mengasihi sesama kita membuktikan kasih kita kepada Tuhan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Tanggapan tentang fakta negatif yang terjadi di Gereja Katolik

22

Pertanyaan:

saya adalah, seorang yang tetap percaya akan Gereja Katolik Roma, nama Saya Aquilino Amaral

yang ingin tanyakan adalah:

Sejauh ini, semua golongan dari agama lain telah mencemooh tentang kredibilitas katolik di masa sekarang tentang pelecehan seksual  di Amerika, dan masalah lain seperti munculnya agama Yahawe. Bagaimana tanggapan dari pihak gereja katolik Roma tentang hal itu?? agar gereja katolik tetap tegar dan teguh dalam menyikapi semua kritikan yang tidak mendasar itu. Amin. Semoga bisa memuaskan para kaum islam dan aliran lain.

Jawaban:

Shalom Aquilino Amaral,

Ya, tidak dapat dipungkiri bahwa memang terjadi kejadian-kejadian negatif yang dilakukan oleh orang-orang Katolik, yang baru-baru ini memuncak dengan adanya kasus-kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh beberapa imam di Amerika. Ini harus diakui sebagai sesuatu yang salah, dosa, dan sangat menyedihkan. Namun kita selayaknya melihat segala sesuatunya dengan obyektif dan berimbang, agar kita dapat menyikapinya dengan lebih baik. Maka tuduhan-tuduhan dari pihak non- Katolik, dan juga munculnya ajaran-ajaran dari sekte-sekte tertentu, tidak seharusnya membuat kita resah.

1. Kejadian-kejadian serupa ini membuat kita menyadari adanya “dimensi manusiawi” dalam Gereja Katolik. Gereja tidak hanya terdiri dari hal-hal ilahi, tetapi juga terdiri dari para manusia yang lemah. Maka dari segi ilahi, Gereja Katolik yang didirikan Kristus sebagai Tubuh-Nya, memang merupakan Gereja yang kudus, karena Yesus yang menjadi Kepala-Nya adalah Kudus. Namun dari segi manusiawi, Gereja Katolik juga terdiri dari manusia-manusia yang berdosa. Oleh karena itu, Gereja harus terus-menerus bertobat dan memperbaiki diri. Hal ini selayaknya menjadikan kita lebih rendah hati, untuk mengakui bahwa meskipun terdapat kepenuhan kebenaran di dalam Gereja Katolik, namun pada tingkat pelaksanaannya, tidak dapat dikatakan bahwa kebenaran itu dilaksanakan dengan baik oleh semua orang. Kenyataan ini menjadi panggilan bagi kita agar kita berusaha supaya jangan sampai kita menjadi “batu sandungan” bagi orang lain.

2. Ingatlah pepatah: “Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin.” (It is better to light a candle than to curse the darkness). Hanyut dalam kesedihan/ kekesalan akan kejadian-kejadian yang menyedihkan tersebut tidak akan mengubah keadaan. Yang terpenting sekarang, setelah kita mengetahui bahwa yang salah bukan Gereja-Nya/ajarannya tetapi ‘orang-orang’- nya, maka mari kita melihat kepada diri sendiri untuk menentukan akan apa yang dapat kita perbuat secara positif untuk membangun Gereja dari dalam. Tuhan sudah memberikan talenta kepada kita masing-masing; mari kita menggunakannya untuk membangun Gereja. Harapannnya, dengan melakukan hal-hal positif kita dapat menjadi saksi Kristus, sehingga 1) orang-orang yang mengalami kasih Kristus melalui perbuatan kita dapat melihat kebenaran iman yang kita yakini di dalam Gereja Katolik dan 2) mereka tidak lagi berfokus pada hal-hal negatif yang dilakukan oleh sebagian orang-orang Katolik.

3. Berfokus-lah pada hal-hal positif. Mari kita melihat kenyataan bahwa kejadian buruk tersebut merupakan kasus minoritas, sebab secara mayoritas, masih banyak imam menjalankan tugasnya sebagai imam dengan sangat baik dan setia. Lihatlah pengorbanan para misionaris dan para imam lain yang bekerja tak mengenal lelah untuk melayani umat dan membawa kabar Kerajaan Allah kemanapun; tanpa mengharapkan imbalan materi, tanpa mengejar kesuksesan dan kesenangan duniawi. Ini sebenarnya merupakan bukti yang sangat nyata akan besarnya kuasa Roh Kudus yang menyertai Gereja Katolik. Karena kalau bukan karena kuasa Roh Kudus, tidak ada orang yang mau dan mampu meninggalkan segalanya untuk mengikuti Kristus, seperti yang kita lihat terjadi pada para imam, biarawan-biarawati, para misionaris, dan para awam yang mengabdikan diri sepenuhnya pada karya kerasulan awam.

Mari kita melihat juga bahwa pihak pimpinan Gereja dalam hal ini Paus Benediktus XVI  (sebelumnya Paus Yohanes Paulus II) juga sudah menangani masalah ini. Mari kita serahkan ke dalam tangan Tuhan, perihal kelanjutannya. Melalui  masalah pelecehan seksual ini, Gereja Katolik di Amerika mengalami masa pemurnian. Dan kabar baiknya adalah, bahwa justru pada tahun-tahun sekarang ini jumlah panggilan imamat di Amerika mulai menunjukkan peningkatan, setelah sekian tahun mengalami penurunan. Maka oleh rahmat Allah, kejadian negatif ini malah dipakai untuk menghasilkan buah-buah positif bagi pertumbuhan Gereja Katolik di Amerika. Dan semoga hal-hal kebaikan lainnya dapat dihasilkan oleh Gereja Katolik di seluruh dunia.

4. Tengoklah juga apakah kita sudah cukup mendoakan para pemimpin Gereja, yaitu para imam, uskup dan Paus. Jika belum, mulailah berdoa mulai hari ini, dengan lebih setia dan lebih bersungguh-sungguh. Di situs ini kami menyediakan teks doa rosario bagi para imam, silakan anda mendoakannya setiap hari, silakan klik. Mari kita berdoa memohon kepada Tuhan Yesus agar Ia menjadikan imam-imam-Nya kudus dan dapat menjadi teladan bagi umat-Nya.

5. Pelajarilah juga iman Katolik kita setiap hari dan berakarlah di dalam doa dan sakramen. Karena hanya dengan berdoa dan mempelajari iman kita, maka kita dapat menghayatinya dengan lebih baik. Dengan penghayatan yang baik inilah kita dapat menyikapi apapun ajaran- ajaran yang ada di sekitar kita. Kita akan mempunyai semacam “instinct” untuk membedakan mana pengajaran yang dari Tuhan, mana yang bukan.

6. Akhirnya, mari kita sadari bahwa tujuan kita menjadi saksi Kristus dan membangun Gereja adalah untuk mengasihi Tuhan; dan bukannya untuk memuaskan pihak-pihak atau agama-agama tertentu yang mengkritik kita. Motivasi perbuatan kasih kita itu hanya tertuju kepada Tuhan, dan bukan yang lain. Maka kita tidak akan menjadi sedih dan kecewa, jika misalnya, pihak-pihak yang lain tetap tidak puas. Sebab bukan kepada mereka kita harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita di Hari Penghakiman/ akhir jaman nanti. Kita harus berhadapan dengan Tuhan sendiri, dan karenanya, fokus utama perbuatan kita harus ditujukan demi kasih dan iman kita kepada-Nya. Semoga, memang, setelah kita melakukan segala sesuatu dengan motif kasih kepada Tuhan, maka harapannya adalah orang lain dapat melihat ketulusan hati kita, dan tidak lagi berpikir negatif tentang kita.

Demikianlah yang dapat saya tuliskan untuk menanggapi pertanyaan anda. Mari tetaplah berpikir positif. Harus kita akui memang banyak ‘pernyataan-pernyataan negatif’ ataupun kesalah pahaman yang ditujukan terhadap Gereja Katolik. Hal ini jangan sampai menurunkan semangat kita, tetapi malah harus mendorong kita untuk hidup lebih baik dan kudus. Semoga Tuhan berbelas kasihan kepada Gereja-Nya dan kepada kita semua sebagai anggota-anggotanya; sehingga kita dimampukan oleh-Nya untuk menjadi saksi Kristus yang memancarkan kasih dan kebenaran, supaya di tengah-tengah kegelapan dunia, terang Kristus dapat bersinar.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab