Apakah Gereja Katolik mengakui Alkitab King James Version?
Memang secara umum sampai sekitar 100 tahun yang lalu, Alkitab berbahasa Inggris yang dipakai umat Protestan adalah versi King James, sedangkan Alkitab yang dipakai oleh umat Katolik adalah Alkitab versi Douay- Rheims yang merupakan terjemahan dari Alkitab Latin Vulgate. Alkitab King James Version (KJV) yang kita kenal sekarang memang tidak memasukkan kitab-kitab Deuterokanonika, dan catatan kaki dan commentary/ penjelasan-nya tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Alkitab KJV ini juga dikenal sebagai Authorized Version (AV) yang dibuat atas perintah Raja/ King James di tahun 1611.
Menjelang abad 17 memang sudah terdapat banyak terjemahan Alkitab dalam Bahasa Inggris, yaitu Tyndale’s Bible (1525); Coverdale’s Bible (1535); Matthews’ Bible (1537); Cromwell’s, or the “Great Bible” (1539), the Geneva Bible (1557-60); and the Bishop’s Bible (1568). Terjemahan ini memang tidak mengambil Vulgate sebagai dasarnya, namun langsung kepada bahasa aslinya yaitu Ibrani dan Yunani. Versi terjemahan Alkitab ini terus bertambah sampai sekarang. Sebenarnya kita perlu mengagumi kerja keras dan niat para penerjemah ini, namun sayangnya banyak dari hasil terjemahannya yang memuat juga agenda-agenda tertentu yang tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Sebab biar bagaimanapun juga, terjemahan literal dari bahasa asalnya tetap memerlukan pemahaman konteksnya agar makna ayat Alkitab dapat dipahami sebagaimana mestinya. Di sinilah kita melihat adanya ketidak sesuaian antara pengajaran Gereja Katolik dan Protestan, misalnya:
1. Pertama diterbitkan, Alkitab KJV ini sebenarnya memuat kitab-kitab Deuterokanonika, walaupun seiring dengan berjalannya waktu, terdapat usulan-usulan dari pihak gereja-gereja Protestan untuk mencoretnya. Baru pada abad ke 19 kitab-kitab Deuterokanonika tersebut benar-benar dicoret dari Aklitab KJV. Dengan dicoretnya kitab Deuterokanonika dari KJV, maka secara objektif versi KJV yang ada sekarang berbeda dengan kanon Kitab Suci yang telah ditetapkan oleh Gereja Katolik sejak abad ke-4 yaitu oleh Paus Damasus di Sinode Roma (382), dan Konsili Hippo (393) dan Konsili Carthage (397). Silakan anda membaca lebih lanjut mengenai sejarah kanon Kitab Suci di sini, silakan klik, untuk melihat secara obyektif bahwa bukan Gereja Katolik yang ‘menambah Alkitab’ dengan kitab Deuterokanonika, tetapi gereja Protestan yang mencoretnya dari kanon Kitab Suci.
2. Terdapat terjemahan ayat- ayat yang tidak sesuai dengan interpretasi Gereja Katolik. Contoh yang paling jelas adalah misalnya pada ayat Luk 1: 28. Menurut KJV dan banyak versi Protestan sekarang, sapaan malaikat kepada Maria adalah, “Highly favoured” sedangkan menurut Douay- Rheims, sesuai dengan Vugate adalah “full of grace.” Ungkapan ini sangat penting, sebab bagi para Bapa Gereja, ucapan inilah yang mendasari pengajaran mereka bahwa karena kepenuhan rahmat Allah di dalam diri Maria (yang tidak pernah diberikan kepada ciptaan lainnya), maka ia dibebaskan dari dosa asal. Maka, walaupun kata “kecharitomene” yang digunakan berkaitan dengan kata Yunani “charis” / kharisma yang mengundang ‘favor’; sehingga dapat bermakna ganda, “favor” atau “grace”, namun yang lebih tepat terjemahannya di sini adalah ‘grace’. Sebab jika diartikan “favor” maka yang dipentingkan adalah kharisma Maria, seolah Maria berbuat sesuatu terlebih dahulu baru dipilih Tuhan, dan ini malah mirip prinsip ajaran sesat Pelagianism yang percaya pada keselamatan diperoleh karena usaha perbuatan manusia. Maka yang lebih tepat sebenarnya adalah “full of grace/ gratiae plena”; seperti yang diajarkan oleh para Bapa Gereja, juga St. Jerome yang menerjemahkan Vulgate, dan beberapa terjemahan awal-awal Alkitab Protestan. Berikut ini adalah contohnya:
Wyclif’s Version [1380] said “Full of Grace”
Tyndale’s Version [1534] said “Full of Grace”
Cranmer’s Version [1539] said “Full of Grace”
Geneva [1599] said in the Margin Notes “might be rendered, ‘full of favour and grace, ” [ The Link is to a Scan from a 1608 Printing of the Geneva Bible]
Authorized Version or KJV [1611] said in the Margin notes “Much Graced”
Polyglott Bible [1838] said in the Margin notes “or Much Graced”
Revised Version [1885] said in the Margin Notes: “Endowed with Grace”.
American Standard Version [1901] said in the Margin Notes: “or Endowed with Grace”.
Scofield Edition [1909, revised in 1914] said in the Margin Notes “or Endued with Grace”
New Standard Reference Bible [1934] said in the Margin notes “Much Graced”
The Amplified [1958] in the verse (In brackets) “endowed with grace” with a foot note that says “literal translation”
Seorang ahli bahasa Yunani dari gereja Protestan, sebenarnya mengakui bahwa terjemahan yang lebih tepat adalah “endowed with grace…..full of grace…”/penuh rahmat. ((Lihat Robertson, Archibald T., Word Pictures in the New Testament, Nashville: Broadman Press, 1930, 6 volumes, vol. 2, p.13))
Sedangkan KJV sendiri dalam sekitar 129 kali menterjemahkan kata “kecharitomene” sebagai “grace”/ rahmat, dari 150 kata tersebut yang ada di Alkitab. Maka suatu permenungan adalah, mengapa pada peristiwa kabar gembira malaikat kepada Maria, terjemahan KJV yang digunakan sekarang adalah “highly favor”, dan bukannya “full of grace”?
Terutama pada kasus-kasus ayat semacam inilah, maka ada baiknya kita membaca lebih dari satu jenis terjemahan dan sebaiknya terjemahan yang disetujui oleh Gereja Katolik, sehingga kita dapat lebih memahami maksud sesungguhnya dari ungkapan dalam Kitab Suci tersebut.
3. Alkitab KJV sendiri mengalami berkali-kali revisi dari saat diterbitkannya tahun 1611 sampai sekarang. Tidak dapat dipungkiri, bahwa ada terjemahan-terjemahan tertentu yang dapat di-interpretasikan secara berbeda-beda, sehingga dari dasar variasi versi KJV, dapat lahir sekte Mormon dan Saksi Yehova yang mempunyai Teologi yang berbeda dengan pengajaran para rasul.
Dengan melihat fakta di atas, maka sebaiknya umat Katolik membaca Alkitab yang memuat terjemahan dan ajaran yang sesuai dengan ajaran Magisterium Gereja Katolik. Atau jika kita mau membaca KJV sekalipun, tetaplah kita berpegang pada pengajaran Magisterium Gereja Katolik untuk memahami ayat -ayat yang dimaksud. Sekarang ini memang terdapat banyak sekali versi terjemahan Kitab Suci dalam bahasa Inggris. Namun yang dianjurkan oleh Gereja Katolik untuk Alkitab bahasa Inggris adalah sebagai berikut:
1. The Douay- Rheims
Versi ini adalah terjemahan Alkitab Latin Vulgate. Commentary yang terkenal baik adalah Haydock Study Bible, atau yang dikeluarkan oleh TAN, yaitu A Practical Commentary on Holy Scripture. Kelemahan dari versi ini adalah, karena ini ditulis lebih dari seabad yang lalu, maka bahasa yang dihunakan adalah bahasa kuno/ Old English, jadi banyak menggunakan istilah “doth, hath” yang kurang familiar di telinga kita sekarang.
2. The Revised Standard Version- Catholic Edition (RSV- CE)
3. The New American Bible (NAB)
4. The Jerusalem Bible
5. Untuk studi yang lebih mendalam, commentary yang dapat digunakan adalah the Navarre Bible, yang memuat pengajaran dari para Bapa Gereja dan Pujangga Gereja. Selanjutnya, A Catholic Commentary on Holy Scripture yang diedit oleh Dom Bernard Orchard OSB.
Sedangkan untuk Alkitab bahasa Indonesia, yang disetujui oleh MAWI adalah yang dikeluarkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia.
Maka kembali ke pertanyaan anda, Gereja Katolik memang tidak pernah mengeluarkan pernyataan tertulis yang melarang umat Katolik membaca Kitab Suci KJV, namun sebaiknya kita secara bijak memilih versi Alkitab yang disetujui/ sesuai dengan pengajaran Magisterium Gereja Katolik. Ini semua adalah demi perkembangan iman kita sendiri sebagai umat Katolik, agar kita mendapatkan pengajaran dan interpretasi yang murni seperti yang diajarkan oleh para rasul dan para Bapa Gereja, sejak dari jemaat awal, dan terus dijaga oleh Magisterium Gereja Katolik sampai sekarang.
Mengapa Allah memberikan hal baik dan jahat (Pkh 7:14)?
Pertanyaan:
Syalom
Mohon tanya :
Mengapa Allah memberikan hal-hal yang baik dan yang jahat didalam kehidupan kita ?
Seperti yang ditulis di dalam : Pengkhotbah 7 : 14.
Dan bagaimana kita menyelesaikan semuanya itu ?
Aaron
Jawaban:
Shalom Aaron,
Dalam Pkh 7:14 memang dikatakan adanya hari-hari mujur dan malang, dan kita selayaknya mengingat bahwa kedua hari tersebut dijadikan oleh Tuhan. Memang kata-kata manusia agak terbatas dalam menjelaskan, bahwa karena Tuhan Maha-Tahu maka tak ada sesuatupun yang tidak diketahui oleh Tuhan sejak awal mula. Ia mengetahui akan adanya hari-hari mujur dan hari-hari ‘malang’ dalm kehidupan kita, walaupun bukan Ia yang secara aktif merencanakan hari-hari malang tersebut. Dengan pemikiran ini, maka kita umat Katolik tidak mempercayai adanya takdir, jika diartikan Allah menentukan segala sesuatu yang baik dan buruk untuk terjadi dalam hidup kita, dan kita ini hanya seperti “robot” saja. Pembahasan mengenai takdir ini dapat dibaca di sini, silakan klik.
Sebab Tuhan berfirman:
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yer 29:11).
Namun adakalanya, Tuhan mengizinkan adanya ujian terjadi dalam hidup ini, bahkan adakalanya Ia “menguji” iman kita dengan mengizinkan terjadinya pencobaan dalam hidup kita. Namun, maksud Allah ini harus tetap kita pandang demi kebaikan, sebab dikatakan, “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibr 12:6). Tanya jawab tentang apakah Tuhan mencobai umat-Nya, telah dituliskan di sini, silakan klik.
Dengan mengetahui bahwa di dalam hidup kita, kita akan mengalami ujian, maka kita dapat memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa tidak semua hal ada di bawah kuasa/ kontrol kita. Kita harus mengakui bahwa bisa terjadi banyak hal yang tidak sesuai dengan kehendak kita diijinkan oleh Tuhan terjadi, supaya kita belajar bekerja keras, bangkit dari kesalahan dan kelemahan kita, dan mempercayakan segala sesuatunya kepada Tuhan. Dengan cara inilah kita bertumbuh di dalam iman, sebab dengan demikian kita mengasihi Tuhan bukan karena berkat-berkat-Nya yang kita terima, tetapi mengasihi Tuhan karena Ia adalah Bapa kita. Maka, dalam setiap keadaan, baik senang maupun susah, kita tetap percaya kepada-Nya, karena mengetahui bahwa Tuhan mempunyai rencana yang indah bagi kita, yang belum sepenuhnya kita ketahui.
Ayat Rom 8:28 sebaiknya menjadi pegangan kita,
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Rom 8:28)
Maka pertanyaannya adalah, sudahkah kita mengasihi Allah, sebab jika kita mengasihi Dia, maka janji ini akan digenapi. Sebab apapun masalahnya, pasti dipakai Tuhan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.
Mari kita menyikapi hari-hari mujur dan malang dengan iman dan kebijaksanaan. Karena jika kita mempunyai sikap iman yang benar, mungkin kita tak perlu menyebutnya sebagai “hari malang”/ sial, sebab kita mengetahui bahwa meskipun kelihatannya berat, namun Tuhan akan mendatangkan kebaikan bagi kita, jika kita setia bersandar kepada-Nya.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org
Samuel, Saul, dan perempuan pemanggil arwah di En-Dor
[Dari Admin Katolisitas: Berikut ini adalah artikel yang ditulis untuk menjawab pertanyaan Sdr. Machmud, mengenai interpretasi perikop 1 Sam 28, yaitu tentang bagaimana Saul dan perempuan pemanggil arwah di En-Dor, yang memanggil arwah Samuel. Diskusi sebelumnya tentang topik ini sudah pernah ada di tanya jawab ini, silakan klik. Namun karena kelihatannya masih perlu diperlukan penjelasan tambahan, maka kami memutuskan untuk memisahkan tulisan ini di artikel tersendiri. Artikel ini ditulis oleh Pembimbing bidang Kitab Suci situs Katolisitas, yaitu Dr. David Twellman, D. Min., Th.M., dan diterjemahkan oleh Ingrid Listiati M.T.S. Artikel ini disampaikan pertama dalam bahasa Indonesia, namun teks bahasa Inggrisnya disertakan berikutnya, agar para pembaca dapat membaca langsung dari tulisan Dr. Twellman. Semoga penjelasan ini berguna bagi kita semua.]
Catatan Interpretasi Katolik pada teks yang membingungkan (1 Sam 28)
ditulis oleh: David Twellman diterjemahkan oleh Ingrid Listiati
Kisah Saul dan perempuan pemanggil arwah di En-Dor (1 Samuel 28) telah selalu membingungkan para penafsir Alkitab, oleh sebab alasan yang nyata bahwa perikop ini menggambarkan Tuhan seolah-olah bekerjasama dengan kejahatan. Dalam hal ini, di satu sisi perikop ini menjadi mirip seperti ungkapan bahwa Tuhan mengeraskan hati Firaun (Kel 4:21; 7:3), penglihatan Mikha bin Yimla (1 Raj 22:19-23), atau bahkan rencana Yakub mengelabui Ishak (Kej 27), perang untuk menduduki tanah Kanaan (Yos 10,11) dan [bahkan] penyaliban Tuhan Yesus (Mat 27:33-46; Mrk 15:22-41; Luk 23:33-49; Yoh 19:17-30). Tetapi pembacaan perikop- perikop ini dengan seksama menunjukkan bahwa Tuhan kadang-kadang mengizinkan niat jahat dari orang-orang tertentu untuk membuahkan konsekuensi yang penuh, supaya kebaikan yang lebih besar dapat dinyatakan.
Terdapat beberapa kebenaran secara teologis yang harus dikenali oleh umat Katolik dalam menginterpretasikan 1 Samuel 28:
- Orang mati tidak mengetahui apa yang terjadi di dunia melalui pengetahuan kodrati mereka. (Summa Theologica/ ST I, q. 89, a.8)
- Meskipun demikian, jiwa-jiwa para kudus yang telah meninggal [‘yang terberkati’] dapat mengetahui hal-hal di dunia melalui pengalaman mereka akan terang ilahi. Namun mereka tidak menderita duka cita sebagai akibatnya, ataupun meng-intervensi, kecuali sesuai/ menurut dengan keadilan Tuhan (ST, I q. 89 a. 8 repl. obj. 2).
- Samuel [pada saat itu] belum termasuk dalam ‘yang terberkati’, oleh karena itu, jika itu adalah Samuel yang menampakkan diri kepada Saul, Tuhan menyatakan kepada jiwa Samuel, kebenaran tentang masa depan Saul sebagai sebuah nubuatan. Namun ini bukan perilaku jiwa-jiwa yang terberkati di surga saat ini (ST II-II q. 174 a. 5 repl. obj. 4)
- Tuhan membenci ilmu gaib [hal pemanggilan arwah, peramal, dst], yang adalah sebuah dosa yang najis (Im 19:31; 20:6, 27; Ul 18:11; KGK 2116)
- Saul dan perempuan pemanggil arwah di En-Dor keduanya melakukan dosa peramalan/ nujum dengan cara ilmu gaib (1 Sam 28; ST II-II q. 95 a. 4 repl. obj. 2, yang menghasilkan penampakkan diri yang sesungguhnya [dari Samuel] atau “penampakan pura-pura.”
- Tradisi Katolik mengizinkan bahwa perikop ini dapat diinterpretasikan sebagai :1) kejadian deskripsi naratif dari penampakan diri jiwa Samuel yang sesungguhnya, atau 2) penampakan itu dihasilkan oleh setan (ST I q. 89 a. 8 repl. obj. 2).
- Tidak semua penampakan adalah pekerjaan setan. Meskipun beberapa penampakan adalah pekerjaan setan (ST II-II q. 85 a. 3), Tuhan kadang-kadang mengizinkan penampakan yang ajaib dari orang-orang yang sudah meninggal kepada mereka yang masih hidup dengan dispensasi yang istimewa, demi maksud penyelamatan-Nya yang seluruhnya bijaksana (ST I q. 89 a. 8 repl. obj. 2).
Berdasarkan point-point ini, dan dengan mempertimbangkan Sirakh 46:20 [23] dan kitab Septuagint LXX tentang 1 Twkh 10:13, nampaknya bagi saya bahwa jemaat purba memahami perikop ini bahwa Samuel benar-benar menampakkan diri, meskipun maksud untuk memanggilnya (baik oleh Saul dan perempuan pemanggil arwah itu) jelas-jelas perbuatan jahat. Tuhan mengizinkan hal ini terjadi sebab itu merupakan hal yang layak/ ‘fitting‘ untuk menyatakan kepada Saul bahwa esok harinya ia akan mati (1 Samuel 31:6). Keistimewaan dari prediksi ini dan penggenapannya adalah sangat penting di dalam raja-raja pada masa Samuel (lihatlah tabel yang terlampir di akhir tulisan ini). Saya pikir, pengertian ini terhadap teks tersebut adalah [interpretasi] yang terbaik, sebab memperhitungkan pembacaan secara terus terang dari perikop ini, dan ini konsisten dengan perikop-perikop Alkitab lainnya dan tradisi teologis Gereja.
Berikut ini adalah catatan singkat dari St. Thomas Aquinas tentang kejadian ini:
“[Kelihatannya, menurut perikop ini, bahwa para kudus dapat dipanggil sebagai nabi setelah mereka wafat. Tetapi] Samuel belum mencapai tingkat yang terberkati. Mengapa meskipun karena kehendak Allah jiwa Samuel mengatakan kepada Saul tentang hal perang itu yang dinyatakan kepadanya oleh Tuhan, ini berkaitan dengan kodrat nubuatan. Ini tidak sama dengan para kudus yang kini sudah berada di surga. Juga ini tidak berbeda, jika ini dikatakan dihasilkan oleh perbuatan setan (demon’s art), sebab meskipun setan tidak dapat memanggil jiwa seorang kudus, atau untuk memaksanya melakukan sesuatu tindakan, hal ini dapat dilakukan dengan kuasa Tuhan; sehingga ketika setan yang ditanya/ diajak berunding, Tuhan sendiri yang menyatakan kebenaran dengan melalui pembawa kabarNya: seperti ketika Ia memberikan jawaban yang benar melalui Elia kepada para utusan Raja yang diperintahkan untuk bertanya kepada Baal-Zebub, allah di Ekron (4[2] Raj 1). Dapat dijawab pula bahwa itu adalah bukan jiwa Samuel, tetapi setan yang menyamar menjadi Samuel; dan bahwa sang pengarang kitab memanggilnya [sebagai] Samuel, dan menjabarkan prediksinya sebagai nubuatan, sesuai dengan pikiran-pikiran Saul tersebut dan para pengamat yang memegang pendapat ini.” (ST II-II q. 174 a. 5 repl. obj. 4).
Kita mengetahui bahwa ilmu gaib dipraktekkan di Israel (2 Raj 21:6; Yes 8:10), namun itu: 1) tidak efektif, 2) efektif sebagai hasil dari penggunaan tipuan, atau 3) efektif sebagai hasil pemanggilan setan-setan (di mana di kasus ini seseorang akan mengharapkan penyusutan atau kekurangan dalam bentuk penampakan). Menurut pendapat saya, perempuan pemanggil arwah di En-Dor kemungkinan terkenal sebagai seorang yang berpengalaman dan ahli nujum yang efektif (jika tidak, Saul tidak akan mendengar tentangnya, atau berkunjung kepadanya), tetapi, pengalamannya yang terdahulu “memanggil orang mati” kemungkinan menggunakan tipuan atau perbuatan setan (oleh karena itu, ia ketakutan ketika Samuel benar-benar menampakkan diri dengan cara yang ia (perempuan itu) tidak terbiasa: sepenuhnya sangat meyakinkan dan bukan dari setan (non-demonic) [1Sam 28:12]).
Jadi, kesimpulannya, meskipun penjelasan “kegiatan demonik” diperkenankan [dalam arti bahwa yang menampakkan diri bukan roh Samuel tetapi roh setan] di dalam interpretasi Katolik tentang ayat ini, namun interpretasi yang terbaik, nampaknya adalah bahwa Saul dan perempuan pemanggil arwah di En-Dor keduanya bersalah atas dosa ilmu gaib, tetapi walaupun demikian, Tuhan meng-intervensi dengan tindakan istimewa untuk mewahyukan, mengizinkan jiwa yang telah meninggal, yaitu jiwa Samuel yang sesungguhnya untuk bertindak sebagai suara nubuat yang melampaui kubur.
Nubuat-nubuat dan penggenapannya dalam Kitab Samuel dan Raja-raja (Tabel Ringkasan)
David Twellman ©2009
Nubuat |
Penggenapan |
| 1 Sam 2:31, 33 | 1 Sam 4:18 |
| 1 Sam 2:34 | 1 Sam 4:11 |
| 1 Sam 3:12 | 1 Sam 4:19-21 |
| 1 Sam 10:2 | 1 Sam 10:9 |
| 1 Sam 10:5 | 1 Sam 10:10 |
| 1 Sam 10:6 | 1 Sam 10:10 |
| 1 Sam 11:9 | 1 Sam 11:11 |
| 1 Sam 12:17 | 1 Sam 12:18 |
| 1 Sam 15:28 | 1 Sam 28:17 |
| 1 Sam 28:19 | 1 Sam 31:1 |
| 1 Sam 28:19 | 1 Sam 31:6 |
| 2 Sam 7:12 | 1 Raj 1:48 |
| 2 Sam 7:13 | 1 Raj 5:5 |
| 2 Sam 7:13 | 1 Raj 8:20; 1 Raj 8:25; 1 Raj 9:5; 1 Mak 2:57 |
| 2 Sam 12:11; 2 Sam 12:12 | 2 Sam 16:22 |
| 2 Sam 12:13 | |
| 2 Sam 12:14 | 2 Sam 12:18 |
| 1 Raj 11:11 | 1 Raj 11:26 |
| 1 Raj 11:12 | 1 Raj 12:15 |
| 1 Raj 11:13 | 1 Raj 12:16-17 |
| 1 Raj 13:2 | 2 Raj 23:16 |
| 1 Raj 13:3 | 1 Raj 13:5 |
| 1 Raj 13:22 | 1 Raj 13:30 |
| 1 Raj 13:32 | 2 Raj 23:15-20 |
| 1 Raj 14:10; 1 Raj 14:11; 1 Raj 14:14 | 1 Raj 15:28-29 |
| 1 Raj 14:12 | 1 Raj 14:17 |
| 1 Raj 14:13 | 1 Raj 14:18 |
| 1 Raj 14:16 | 2 Raj 17:22-23 |
| 1 Raj 16:3-4 | 1 Raj 16:11-12 |
| Yos 6:26 | 1 Raj 16:34 |
| 1 Raj 17:1; 1 Raj 18:1 | 1 Raj 18:1 |
| 1 Raj 20:13 | 1 Raj 20:20-21 |
| 1 Raj 20:28 | 1 Raj 20:29-30 |
| 1 Raj 20:36 | 1 Raj 20:36 |
| 1 Raj 21:19 | 1 Raj 22:38 |
| 1 Raj 21:21; 2 Raj 9:7; 2 Raj 9:8-9 | 2 Raj 10:11; 2 Raj 10:17 |
| 1 Raj 21:23; 2 Raj 9:10 | 2 Raj 9:35; 2 Raj 9:36 |
| 1 Raj 21:29 | 1 Raj 22:40; 2 Raj 1:17; 2 Raj 9:24-26 |
| 2 Raj 1:4 ‘ | 2 Raj 1:17 |
| 2 Raj 2:3 | 2 Raj 2:11-12 |
| 2 Raj 3:16-17 | 2 Raj 3:20 |
| 2 Raj 3:18 | 2 Raj 3:24 |
| 2 Raj 4:16 | 2 Raj 4:17 |
| 2 Raj 4:43 | 2 Raj 4:44 |
| 2 Raj 5:10 | 2 Raj 5:14 |
| 2 Raj 7:1 | 2 Raj 7:16 |
| 2 Raj 7:2 | 2 Raj 7:17 |
| 2 Raj 8:10 | 2 Raj 8:14 |
| 2 Raj 8:10 | 2 Raj 8:15 |
| 2 Raj 8:12 | 2 Raj 8:15 . |
| 2 Raj 9:26 | |
| 2 Raj 10:30 | 2 Raj 15:8; 2 Raj 15:12 |
| 2 Raj 13:17; 2 Raj 13:19 | 2 Raj 13:25 |
| 2 Raj 14:25 | |
| 2 Raj 19:7; 2 Raj 19:28; 2 Raj 19:32-33 | 2 Raj 19:36 |
| 2 Raj 19:29 | |
| 2 Raj 20:5 | 2 Raj 20:12-13 |
| 2 Raj 20:10 | 2 Raj 20:11 |
| 2 Raj 20:17 | 2 Raj 24:12-13; 2 Raj 25:13-17 |
| 2 Raj 21:13-14; 2 Raj 22:17; 2 Raj 23:27 | 2 Raj 24:2 |
| 2 Raj 22:20 | 2 Raj 23:29-30 |
Keselamatan dan hubungannya dengan Baptisan
Pertanyaan:
Shalom !
Untuk Baptisan Darah dan Baptisan Rindu, ada di kitab suci bagian mana supaya saya dapat pahami ? Yang mutlak buat keselamatan baptisan yang mana pak ? Darah , Rindu atau Air ? Bagaimana Gereja tidak tahu cara lain untuk memperoleh keselamatan ?
Yoh 3 : 15 supaya setiap orang yang PERCAYA kepadaNYA beroleh hidup yang kekal.
Yoh 3 : 16 supaya setiap orang yang PERCAYA kepadaNYA tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal
Yoh 3 : 18 barangsiapa PERCAYA kepadaNYA, ia tidak akan dihukum
Roma 10 : 9 Sebab kija kamu MENGAKU dengan mutmu, Bahwa Yesus adalah Tuhan
dan PERCAYA dalam hatimu bahwa Allah……………maka kamu akan diselamatkan.
Ef 2 : 8 Sebab karena KASIH KARUNIA kamu diselamatkan oleh IMAN…….
Dan masih masih banyak ayat-ayat lagi mengenai satu-satu nya cara memperoleh keselamatan, yaitu PERCAYA / IMAN kepada Anak Allah yang Hidup yaitu YESUS KRISTUS Tuhan kita.
Kenapa ayat2 tersebut diatas tidak menyebutkan kata Baptis ? Kalau memang Baptisan mutlak untuk keselamatan ?
Mohon penjelasan pak .
God bless – Anton.
Jawaban:
Shalom Anton,
Terima kasih atas pertanyaan dan tanggapannya tentang baptisan. Gereja Katolik mengenal adanya Sakramen Baptis (Baptisan Air), Baptis Rindu, dan Baptis darah. Baptisan secara sakramental (Baptisan air) adalah cara yang umum untuk menerima rahmat Tuhan, karena Baptisan secara sakramental menjamin rahmat Kristus mengalir, selama form (bentuk) dan matter (materi) dan intensi dari baptisan sah. Sedangkan pada Baptisan rindu dan Baptisan darah, hanya Tuhan yang tahu secara persis apakah seseorang menerimanya ataukah tidak. Dalam hubungannya dengan keselamatan, Tuhan telah mengikat keselamatan pada Sakramen Pembaptisan, namun Dia sendiri tidak terikat pada Sakramen-sakramen-Nya, seperti yang diungkapkan di dalam Katekismus Gereja Katolik, 1257:
“Tuhan sendiri mengatakan bahwa Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan (Bdk. Yoh 3:5.). Karena itu, Ia memberi perintah kepada para murid-Nya, untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa (Bdk. Mat 28:19-20; DS 1618; LG 14; AG 5.). Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan orang-orang, kepada siapa Injil telah diwartakan dan yang mempunyai kemungkinan untuk memohon Sakramen ini (Bdk. Mrk 16:16.). Gereja tidak mengenal sarana lain dari Pembaptisan, untuk menjamin langkah masuk ke dalam kebahagiaan abadi. Karena itu, dengan rela hati ia mematuhi perintah yang diterimanya dari Tuhan, supaya membantu semua orang yang dapat dibaptis, untuk memperoleh “kelahiran kembali dari air dan Roh”. Tuhan telah mengikatkan keselamatan pada Sakramen Pembaptisan, tetapi Ia sendiri tidak terikat pada Sakramen-sakramen-Nya.“
1) Dari kutipan di atas, Gereja tidak mengenal sarana lain selain Baptisan untuk menjamin seseorang masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kutipan yang dipakai oleh Anton dari Yoh 3:15-19 tentang perlunya “percaya” dan Rm 10:9 tentang perlunya “mengaku“, serta Efesus 2:8 akan perlunya “iman” dalam keselamatan. Namun semua yang disebutkan di atas, yaitu: percaya, mengaku, iman, harus dimanifestasikan dalam Baptisan, karena Tuhan sendiri mengatakan “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Yoh 3:5). Bagaimana kita mengartikan ayat tersebut, yang dengan jelas-jelas mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah kalau dia tidak dilahirkan dari air dan Roh. Gereja Katolik mematuhi pesan Kristus mewartakan pentingnya Sakramen Baptisan untuk keselamatan, seperti yang Yesus sendiri perintahkan “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mt 28:19-20).
a) Dari perintah Yesus yang terakhir, sebenarnya cukup jelas akan pentingnya Baptisan. Yesus tidak mengatakan bahwa jadikan semua bangsa murid-Nya, dan biarlah mereka percaya, mengaku, dan mempunyai iman. Yang ditekankan oleh Yesus adalah menjadikan seluruh bangsa menjadi murid-Nya dan membaptis mereka. Setelah itu, mengajarkan agar mereka juga mentaati semua perintah Yesus.
b) Mari kita meneliti lebih jauh tentang beberapa kata kunci: percaya, mengaku, iman. Apakah dengan percaya saja cukup untuk mendapatkan keselamatan? Tidak, karena kalau mau dibilang setan juga percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. (lih. Mk 1:24). Kalau orang benar-benar percaya akan Kristus, maka dia harus juga untuk menjalankan semua perintah-Nya, termasuk untuk hidup kudus dan menerima Sakramen Baptis.
Apakah dengan mengaku dengan mulut maka orang akan mendapatkan keselamatan? Memang Roma 10:9 mengatakan “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Bandingkan dengan Yoh 3:5, yang mengatakan “Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Bandingkan pernyataan antara “kamu akan diselamatkan” di Rm 10:9 dan “ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” di Yoh 3:5. “Kamu akan diselamatkan” dapat mempunyai konotasi ada cara lain bagi seseorang untuk diselamatkan, namun “ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga” mempunyai konotasi bahwa kalau seseorang tidak melakukan apa yang disyaratkan, maka seseorang tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Oleh karena itu, Sakramen Baptis diperlukan untuk memperoleh keselamatan.
Apakah dengan iman saja maka seseorang akan mendapatkan keselamatan? Tidak, karena rasul Yakobus mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati (lih. Yak 2:17-18, 20, 26). Namun iman memang penting untuk sampai kepada Baptisan. Bahkan, Gereja Katolik menyatakan bahwa Baptisan adalah Sakramen iman (lih. KGK, 1253). Namun, iman yang benar bukanlah iman yang memilih, namun iman yang taat terhadap apa yang diwahyukan, termasuk kepada Gereja – karena Kristus telah memberikan kuasa kepada Gereja untuk mewariskan ajaran Kristus secara murni dari satu generasi ke generasi yang lain. Oleh karena kita harus beriman terhadap apa yang Gereja imani, maka dalam ritual Baptisan, para katekumen (yang akan dibaptis) dan walinya diberi pertanyaan “Apa yang kamu minta dari Gereja Allah?” Dan lalu para katekumen/katekumen akan menjawab “Iman“.
2) Begitu pentingnya Baptisan untuk keselamatan manusia, sehingga Yesus memberikan amanat agung kepada para muridnya sebelum Dia diangkat ke Sorga. Sekali lagi, kita perlu merenungkan, mengapa perintah Yesus yang terakhir tidak menyebutkan untuk “percaya”, “mengaku”, atau “iman”? Karena semuanya itu terangkum dalam Baptisan. Baptisan mensyaratkan seseorang untuk percaya, karena untuk percaya seseorang harus mengetahui apa yang terjadi dalam Baptisan, dan percaya akan Tuhan yang memberikan perintah. “Mengaku” juga terjadi di dalam upacara Baptisan (dalam baptisan bayi, pengakuan diwakili oleh orang tua. Namun, seseorang yang mengikuti perayaan Ekaristi, selalu mengakukan dosa dan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan). Iman yang benar juga diwujudkan dalam bentuk Baptisan. Iman yang benar tidak hanya berhenti begitu saja, namun diwujudkan dalam tindakan, terutama untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Kristus, yang salah satunya adalah memberikan diri untuk dibaptis.
3)Namun ada banyak kondisi, dimana seseorang, karena bukan karena kesalahannya sendiri (invincible ignorance), tidak sampai mengalami Baptisan secara sakramental. Gereja Katolik menyebutkan bahwa orang-orang ini sebenarnya telah mengalami baptisan berupa Baptisan Rindu. Dan bagi orang yang diberi rahmat untuk mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk bersaksi tentang iman, maka orang-orang ini telah menerima Baptisan Darah.
a) Katekismus Gereja Katolik mengatakan “Bagi para katekumen yang mati sebelum Pembaptisan, kerinduan yang jelas untuk menerima Pembaptisan, penyesalan atas dosa-dosanya, dan cinta kasih sudah menjamin keselamatan yang tidak dapat mereka terima melalui Sakramen itu.” (KGK, 1259). Kita dapat melihat apa yang Yesus katakan di dalam Injil Yohanes “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.” (Yoh 14:23) Cinta kasih yang sempurna, yang tentu saja mensyaratkan penyesalan, kerinduan untuk hidup dalam Tuhan, membuat seseorang menerima baptisan rindu.
b) Untuk Baptisan darah, Gereja Katolik mengatakan “Gereja sudah sejak dahulu yakin bahwa orang-orang yang mengalami kematian karena iman, tanpa sebelumnya menerima Pembaptisan, telah dibaptis untuk dan bersama Kristus oleh kematiannya. Pembaptisan darah ini demikian pula kerinduan akan Pembaptisan menghasilkan buah-buah Pembaptisan walaupun tidak merupakan Sakramen.” (KGK, 1258). Kita juga melihat di dalam Injil Matius, yang mengatakan “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” (Mt 10:32) Lebih lanjut, Yesus mengatakan “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Mt 10:39). Pengajaran tentang Baptisan Darah telah dikenal oleh jemaat awal, seperti yang dapat kita lihat dalam tulisan-tulisan Tertullian (on Baptism, 16), St. Cyprian (Epistle 73), St. Augustine (City of God, 13.7; Tractate 74 on the Gospel of John), dll. (lihat New Advent – klik di sini).
4) Setelah kita melihat akan mutlaknya Sakramen Baptisan untuk keselamatan serta kita mengenal sakramental Baptisan (Baptisan Air), Baptisan Rindu, dan Baptisan Darah, pertanyaannya adalah baptisan mana yang mutlak untuk keselamatan? Untuk menjawab hal ini, sebenarnya tergantung definisi dari “mutlak”. Kalau kita ingin melihatnya dengan kasat mata, dengan kepastian yang jelas, maka Baptisan Air yang mutlak untuk keselamatan. Hal ini disebabkan banyak unsur obyektif, yang dapat kita ukur, seperti: matter, form, dan intensi. Sebagai catatan, Gereja Katolik mengakui Baptisan yang dilakukan oleh gereja lain, selama mempunyai matter (yaitu air), form (diibaptis dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus), intensi (seperti intensi Gereja). Oleh sebab itu, Gereja Katolik memenuhi perintah Kristus secara aktif memberitakan Injil dan membawa umat manusia kepada Sakramen Baptis.
Namun, ada orang-orang yang bukan karena kesalahannya sendiri (invincible ignorance) tidak sampai kepada Sakramen Baptis. Kita mengingat apa yang dikatakan oleh Yesus “Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” (Lk 12:48). Dari perkataan Yesus ini, kita tahu bahwa kondisi dari orang-orang dapat dihubungkan dengan jenis baptisan mana yang menyelamatkan.
a) Baptisan sakramental (Baptisan Air) adalah mutlak bagi orang-orang yang telah mengenal Kristus dan mengenal Gereja-Nya, yaitu Gereja Katolik. Dan juga dapat dikatakan mutlak bagi semua orang, karena Baptisan ini memberikan kepastian mengalirnya rahmat yang diperlukan untuk keselamatan manusia. Dan ini seharusnya menjadi pacuan bagi kita semua untuk memberitakan Kristus kepada semua orang. Namun, walaupun Kristus telah mengikat keselamatan dalam Sakramen Pembaptisan, namun Dia tidak terikat pada Sakramen-sakramen.
b) Katekismus Gereja Katolik menegaskan “Sebab karena Kristus telah wafat bagi semua orang, dan panggilan terakhir manusia benar-benar hanya satu, yakni bersifat ilahi, kita harus berpegang teguh, bahwa Roh Kudus membuka kemungkinan bagi semua orang, untuk bergabung dengan cara yang diketahui oleh Allah dengan misteri Paska itu” (GS 22) (Bdk. LG 16; AG 7.). Setiap manusia yang tidak mengenal Injil Kristus dan Gereja-Nya, tetapi mencari kebenaran dan melakukan kehendak Allah sesuai dengan pemahamannya akan hal itu, dapat diselamatkan. Orang dapat mengandaikan bahwa orang-orang semacam itu memang menginginkan Pembaptisan, seandainya mereka sadar akan peranannya demi keselamatan.” (KGK, 1260).
Kita tahu bahwa ada banyak orang yang mencoba mencari kebenaran dengan segenap kekuatannya dan melakukan kehendak Allah sesuai dengan pemahamannya, namun tidak sampai pada Sakramen Baptisan. Yang menjadi masalah dalam kasus ini adalah kita tidak tahu, apakah seseorang benar-benar telah mencari kebenaran dengan segenap hati, segenap pikiran, dan segenap kekuatannya, namun tetap tidak sampai kepada kebenaran yang penuh, sehingga tidak mengalami baptisan secara sakramental. Kalau memang orang tersebut telah mencari kebenaran dengan segala kekuatannya – tanpa adanya motivasi yang mementingkan diri sendiri – maka, orang-orang ini masuk dalam kategori invincible ignorance. Hal ini disebabkan, bila ada orang yang dapat menerangkan mereka tentang pentingnya Sakramen Baptis untuk keselamatan, maka orang tersebut akan menerimanya dan menerima Sakramen Baptis. Namun, apakah seseorang masuk dalam kondisi invincible ignorance, hanya Tuhan saja yang tahu. Oleh karena itu, hanya Tuhan saja yang tahu apakah orang tersebut benar-benar memperoleh Baptisan Rindu. Tentang apa itu Baptisan Rindu, silakan klik di sini
c) Baptisan darah adalah baptisan martir, mempunyai kondisi yang sama seperti di point 4b dalam hal persyaratan untuk keselamatan. Yang perlu disoroti di sini adalah tindakan untuk menjadi martir – mati untuk mempertahankan iman – mensyaratkan kasih yang sempurna, dalam tingkatan yang begitu tinggi. Kita melihat pada masa awal kekristenan, dimana ada banyak orang Kristen yang mungkin belum dibaptis, namun mengorbankan dirinya demi imannya.
Dari pemaparan di atas kita melihat bahwa Baptisan adalah gerbang keselamatan, dimana memungkinkan kita untuk menerima rahmat kekudusan, sehingga kita dapat berkenan di hadapan Allah, dan membuat kita dapat hidup di dalam Kristus. Baptisan air memberikan kepastian akan hal ini. Namun, Tuhan tidak dibatasi oleh Sakramen-sakramen, sehingga ada orang yang dapat diselamatkan dengan Baptisan Rindu dan Baptisan Darah. Apakah seseorang telah menerima Baptisan Rindu dan Darah, tidak ada orang yang tahu secara persis, dan hanya Tuhan yang tahu, karena Tuhan yang menilik hati seseorang.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org


Douglas Bushman, Director, Professor IPT – Ave Maria University




