Home Blog Page 284

Program pertumbuhan dan pembaharuan

20

Pendahuluan

Beberapa kali Ingrid dan saya diundang ke Madison – USA, untuk bertemu dengan para mahasiswa Katolik yang sedang belajar di University of Wisconsin (UW), Madison. Namun, mulai tahun 2009 ini, mereka meminta kami untuk mendampingi mereka secara konsisten, yaitu pertemuan satu bulan sekali. Kemudian, mereka membentuk kelompok kecil yang bertemu satu minggu sekali. Saya berfikir, ini adalah ide yang sangat bagus. Ini adalah suatu cara yang baik, sehingga para mahasiswa yang belajar di UW Madison dapat benar-benar mendalami iman Katolik dengan baik dan tidak terseret oleh pengaruh-pengaruh dari sekular maupun paham atau kepercayaan yang berbeda dengan Gereja Katolik.

Yang menjadi pertanyaan, bahan seperti apakah yang harus dipakai untuk menunjang pertumbuhan rohani? Apakah hanya sekedar “Bible sharing” atau juga diperkenalkan dengan ajaran dari Gereja Katolik? Setelah merenungkan hal ini, akhirnya saya berpendapat bahwa pertemuan harus diisi dengan kombinasi Bible sharing dengan didasari pengajaran Gereja Katolik, sehingga peserta dapat bertumbuh dalam iman seperti apa yang dipercayai oleh Gereja Katolik, namun pada saat yang bersamaan peserta juga mempunyai kesempatan untuk merefleksikan pengajaran Gereja Katolik ini di dalam hidupnya, sehingga pengajaran iman bukan berhenti pada pengajaran, namun dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah-tengah keterbatasan pelayanan di website katolisitas.org, maka saya mencoba mencari bahan-bahan yang cocok untuk mencapai tujuan ini. Namun, keterbatasan waktu akhirnya membuat saya mencoba untuk menemukan bahan yang telah ada, dengan parameter: bahan tersebut mempunyai isi yang berbobot, sesuai dengan pengajaran Gereja Katolik, cukup mudah dimengerti dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, cocok diterapkan dalam diskusi kecil. Akhirnya, saya menemukan satu set buku yang berjudul “In His Image” – Faith Enrichment for Adult Catholics, A Program of Renewal through Education, yang ditulis oleh salah satu professor kami di IPT, Ave Maria University, Prof. Douglas Bushman, S.T.L. Beliau adalah professor yang begitu luar biasa, rendah hati, sering memberikan retret ke pastor-pastor dan juga uskup-uskup. Setelah mengadakan kontak dengan beliau dan juga penerbit Ignatius Press, maka kami mendapatkan ijin untuk menterjemahkan buku panduan ini.

Menggunakan internet, sebagai media untuk bertumbuh

Setelah mempelajari akan adanya kelompok-kelompok kecil yang akan dibentuk oleh mahasiswa Katolik di UW Madison, maka saya berfikir bahwa alangkah baiknya jika bahan-bahan yang dipakai dalam kelompok kecil juga dapat ditayangkan di website katolisitas.org, sehingga kelompok-kelompok kecil yang lain atau individu-individu, yang mempunyai keinginan yang sama, dapat juga memakai bahan yang ada. Dan melalui website ini, kelompok-kelompok kecil ini juga dapat memberikan hasil diskusi dalam kelompoknya untuk dibagikan dengan kelompok yang lain. Dengan cara ini, maka terbuka juga kesempatan bagi semua orang untuk dapat belajar bersama dan bertumbuh secara spiritual, mengasihi Yesus dan juga Gereja-Nya, beserta dengan Maria dan seluruh jajaran orang-orang kudus.

Bahan panduan: In His Image

In His Image, adalah suatu program terpadu untuk pertumbuhan iman umat Katolik dewasa, yang menekankan pada pembaharuan melalui edukasi. Melalui program ini, semua peserta diajak untuk menemukan arti sebenarnya dari pembaharuan, yang sering sekali dimengerti sebagai sesuatu yang salah dan dangkal. Program ini mengimplementasikan dan mengajarkan arti pembaharuan seperti yang diserukan oleh Konsili Vatikan II, yaitu hidup kudus, karena hanya kekudusan-lah yang dapat benar-benar memperbaharui Gereja Katolik dan seluruh muka bumi. Kekudusan dapat didefinisikan sebagai mengasihi Tuhan dan sesama atas dasar kasih kita kepada Tuhan, atau kesempurnaan kasih. Namun, kita juga dapat mendefinisikan kekudusan sebagai hidup menurut dokrin dan dogma. Hal ini hanya dimungkinkan kalau seseorang mengerti secara benar apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik dan bagaimana menerapkan ajaran tersebut di dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tidak ada ‘gap’/ kesenjangan antara doktrin dan kehidupan sehari-hari.

Secara garis besar, program ini dapat dijabarkan dalam bagan berikut ini:

bagan1
klik pada gambar untuk memperbesar

Dari bagan di atas, maka kita melihat bahwa program pertumbuhan dan pembaharuan ini benar-benar menempatkan karya keselamatan Allah dalam hubungannya dengan Trinitas yang tidak terlepas dari Gereja, sebagai persekutuan para murid Kristus dan Tuhan sendiri, dimana Roh Kudus menjadi jiwa dari Gereja. Dan tiap-tiap anggota Gereja dipanggil untuk berpartisipasi dalam tiga misi keselamatan Allah, yaitu sebagai nabi, iman dan raja.

Terima kasih kepada Profesor Douglas Bushman dan Ignatius Press, yang telah memberikan ijin kepada kami untuk menerjemahkan buku “In His Image”, sehingga memungkinkan banyak umat Katolik Indonesia untuk bertumbuh dalam iman dan mengalami pembaharuan, agar pada akhirnya nama Tuhan akan semakin dipermuliakan. Kami mengundang seluruh pembaca katolisitas.org untuk turut berpartisipasi dalam program ini, dan turut menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam program ini.

Bunda Maria dan para kudus di Sorga, doakanlah kami, sehingga kami, umat Allah yang masih mengembara di dunia ini dapat semakin mengenal dan mengasihi Yesus dan Gereja-Nya. Amin.

Tentang penulis “In His Image”, Profesor Douglas Bushman, S.T.L.

bushmanDouglas Bushman, Director, Professor IPT – Ave Maria University
Education: S.T.L., University of Fribourg.
Courses: Spirituality, Ecclesiology, Pastoral Theology, Catechesis, John Paul II and Vatican II.

Before joining Ave Maria University, Mr. Bushman served as a parish Lay Theologian and a diocesan Coordinator of Education, directing programs of adult religious education, catechist formation and formation for permanent deacons. Most recently, Professor Bushman spent nine years developing a highly successful graduate program in Religious and Pastoral Studies. His work in this field has been recognized from coast to coast, and he brings significant expertise and resources to Ave Maria University.

Besides numerous articles in Catholic magazines, he is the author of In His Image: Program of Renewal Through Education (1990), introductions to a new publication of The Sixteen Documents of Vatican II (1999) and several articles in the Catholic Encyclopedia of Apologetics and Evangelization (2002).

His academic work is complemented by appearances on Catholic radio and television, and participation in several education-related apostolates, including; ProLife Minnesota, the Image of God religion textbook series, and the Millennium Evangelization Project. He gives lectures and retreats on a wide range of theological and spiritual topics for various groups, such as parents, parish staffs, young adults, catechists, seminarians and teachers.

Professor Bushman and his wife, JoAnn, home school their six children in Green Bay, Wisconsin.”

PROGRAM “IN HIS IMAGE”

Pengarang: Prof. Douglas Bushman, S.T.L.
Diterjemahkan oleh: katolisitas.org
dengan seijin Ignatius Press, USA.

Catatan: tidak diperkenankan mengutip bagian ini
tanpa seijin katolisitas.org

SESSION 1

Minggu 1

[catlist ID=509 order=ASC numberposts=10]

Minggu 2

[catlist ID=572 order=ASC numberposts=10]

Apakah Gereja Katolik mengakui Alkitab King James Version?

31

Memang secara umum sampai sekitar 100 tahun yang lalu, Alkitab berbahasa Inggris yang dipakai umat Protestan adalah versi King James, sedangkan Alkitab yang dipakai oleh umat Katolik adalah Alkitab versi Douay- Rheims yang merupakan terjemahan dari Alkitab Latin Vulgate. Alkitab King James Version (KJV) yang kita kenal sekarang memang tidak memasukkan kitab-kitab Deuterokanonika, dan catatan kaki dan commentary/ penjelasan-nya tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Alkitab KJV ini juga dikenal sebagai Authorized Version (AV) yang dibuat atas perintah Raja/ King James di tahun 1611.

Menjelang abad 17 memang sudah terdapat banyak terjemahan Alkitab dalam Bahasa Inggris, yaitu Tyndale’s Bible (1525); Coverdale’s Bible (1535); Matthews’ Bible (1537); Cromwell’s, or the “Great Bible” (1539), the Geneva Bible (1557-60); and the Bishop’s Bible (1568). Terjemahan ini memang tidak mengambil Vulgate sebagai dasarnya, namun langsung kepada bahasa aslinya yaitu Ibrani dan Yunani. Versi terjemahan Alkitab ini terus bertambah sampai sekarang. Sebenarnya kita perlu mengagumi kerja keras dan niat para penerjemah ini, namun sayangnya banyak dari hasil terjemahannya yang memuat juga agenda-agenda tertentu yang tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Sebab biar bagaimanapun juga, terjemahan literal dari bahasa asalnya tetap memerlukan pemahaman konteksnya agar makna ayat Alkitab dapat dipahami sebagaimana mestinya. Di sinilah kita melihat adanya ketidak sesuaian antara pengajaran Gereja Katolik dan Protestan, misalnya:

1. Pertama diterbitkan, Alkitab KJV ini sebenarnya memuat kitab-kitab Deuterokanonika, walaupun seiring dengan berjalannya waktu, terdapat usulan-usulan dari pihak gereja-gereja Protestan untuk mencoretnya.  Baru pada abad ke 19 kitab-kitab Deuterokanonika tersebut benar-benar dicoret dari Aklitab KJV. Dengan dicoretnya kitab Deuterokanonika dari KJV, maka secara objektif versi KJV yang ada sekarang berbeda dengan kanon Kitab Suci yang telah ditetapkan oleh Gereja Katolik sejak abad ke-4 yaitu oleh Paus Damasus di Sinode Roma (382), dan Konsili Hippo (393) dan Konsili Carthage (397). Silakan anda membaca lebih lanjut mengenai sejarah kanon Kitab Suci di sini, silakan klik, untuk melihat secara obyektif bahwa bukan Gereja Katolik yang ‘menambah Alkitab’ dengan kitab Deuterokanonika, tetapi gereja Protestan yang mencoretnya dari kanon Kitab Suci.

2. Terdapat terjemahan ayat- ayat yang tidak sesuai dengan interpretasi Gereja Katolik. Contoh yang paling jelas adalah misalnya pada ayat Luk 1: 28. Menurut KJV dan banyak versi Protestan sekarang, sapaan malaikat kepada Maria adalah, “Highly favoured” sedangkan menurut Douay- Rheims, sesuai dengan Vugate adalah “full of grace.” Ungkapan ini sangat penting, sebab bagi para Bapa Gereja, ucapan inilah yang mendasari pengajaran mereka bahwa karena kepenuhan rahmat Allah di dalam diri Maria (yang tidak pernah diberikan kepada ciptaan lainnya), maka ia dibebaskan dari dosa asal. Maka, walaupun kata “kecharitomene” yang digunakan berkaitan dengan kata Yunani “charis” / kharisma yang mengundang ‘favor’; sehingga dapat bermakna ganda, “favor” atau “grace”, namun yang lebih tepat terjemahannya di sini adalah ‘grace’. Sebab jika diartikan “favor” maka yang dipentingkan adalah kharisma Maria, seolah Maria berbuat sesuatu terlebih dahulu baru dipilih Tuhan, dan ini malah mirip prinsip ajaran sesat Pelagianism yang percaya pada keselamatan diperoleh karena usaha perbuatan manusia. Maka yang lebih tepat sebenarnya adalah “full of grace/ gratiae plena”;  seperti yang diajarkan oleh para Bapa Gereja, juga St. Jerome yang menerjemahkan Vulgate, dan beberapa terjemahan awal-awal Alkitab Protestan. Berikut ini adalah contohnya:

Wyclif’s Version [1380] said “Full of Grace”
Tyndale’s Version [1534] said “Full of Grace”
Cranmer’s Version [1539] said “Full of Grace”
Geneva [1599] said in the Margin Notes “might be rendered, ‘full of favour and grace, ” [ The Link is to a Scan from a 1608 Printing of the Geneva Bible]
Authorized Version or KJV [1611] said in the Margin notes “Much Graced”
Polyglott Bible [1838]  said in the Margin notes “or Much Graced”
Revised Version [1885] said in the Margin Notes: “Endowed with Grace”.
American Standard Version [1901] said in the Margin Notes: “or Endowed with Grace”.
Scofield Edition [1909, revised in 1914] said in the Margin Notes “or Endued with Grace”
New Standard Reference Bible [1934]  said in the Margin notes “Much Graced”
The Amplified [1958] in the verse (In brackets) “endowed with grace” with a foot note that says “literal translation”

Seorang ahli bahasa Yunani dari gereja Protestan, sebenarnya mengakui bahwa terjemahan yang lebih tepat adalah “endowed with grace…..full of grace…”/penuh rahmat. ((Lihat Robertson, Archibald T., Word Pictures in the New Testament, Nashville: Broadman Press, 1930, 6 volumes, vol. 2, p.13))

Sedangkan KJV sendiri dalam sekitar 129 kali menterjemahkan kata “kecharitomene” sebagai “grace”/ rahmat, dari 150 kata tersebut yang ada di Alkitab. Maka suatu permenungan adalah, mengapa pada peristiwa kabar gembira malaikat kepada Maria, terjemahan KJV yang digunakan sekarang adalah “highly favor”, dan  bukannya “full of grace”?

Terutama pada kasus-kasus ayat semacam inilah, maka ada baiknya kita membaca lebih dari satu jenis terjemahan dan sebaiknya terjemahan yang disetujui oleh Gereja Katolik, sehingga kita dapat lebih memahami maksud sesungguhnya dari ungkapan dalam Kitab Suci tersebut.

3. Alkitab KJV sendiri mengalami berkali-kali revisi dari saat diterbitkannya tahun 1611 sampai sekarang. Tidak dapat dipungkiri, bahwa ada terjemahan-terjemahan tertentu yang dapat di-interpretasikan secara berbeda-beda, sehingga dari dasar variasi versi KJV, dapat lahir sekte Mormon dan Saksi Yehova yang mempunyai Teologi yang berbeda dengan pengajaran para rasul.

Dengan melihat fakta di atas, maka sebaiknya umat Katolik membaca Alkitab yang memuat terjemahan dan ajaran yang sesuai dengan ajaran Magisterium Gereja Katolik.  Atau jika kita mau membaca KJV sekalipun,  tetaplah kita berpegang pada pengajaran Magisterium Gereja Katolik untuk memahami ayat -ayat yang dimaksud. Sekarang ini memang terdapat banyak sekali versi terjemahan Kitab Suci dalam bahasa Inggris. Namun yang dianjurkan oleh Gereja Katolik untuk Alkitab bahasa Inggris adalah sebagai berikut:

1. The Douay- Rheims
Versi ini adalah terjemahan Alkitab Latin Vulgate. Commentary yang terkenal baik adalah Haydock Study Bible, atau yang dikeluarkan oleh TAN, yaitu A Practical Commentary on Holy Scripture. Kelemahan dari versi ini adalah, karena ini ditulis  lebih dari seabad yang lalu, maka bahasa yang dihunakan adalah bahasa kuno/ Old English, jadi banyak menggunakan istilah “doth, hath” yang kurang familiar di telinga kita sekarang.

2. The Revised Standard Version- Catholic Edition (RSV- CE)
3. The New American Bible (NAB)
4. The Jerusalem Bible
5. Untuk studi yang lebih mendalam, commentary yang dapat digunakan adalah the Navarre Bible, yang memuat pengajaran dari para Bapa Gereja dan Pujangga Gereja. Selanjutnya, A Catholic Commentary on Holy Scripture yang diedit oleh Dom Bernard Orchard OSB.

Sedangkan untuk Alkitab bahasa Indonesia, yang disetujui oleh MAWI adalah yang dikeluarkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia.

Maka kembali ke pertanyaan anda, Gereja Katolik memang tidak pernah mengeluarkan pernyataan tertulis yang melarang umat Katolik membaca Kitab Suci KJV, namun sebaiknya kita secara bijak memilih versi Alkitab yang disetujui/ sesuai dengan pengajaran Magisterium Gereja Katolik. Ini semua adalah demi perkembangan iman kita sendiri sebagai umat Katolik, agar kita mendapatkan pengajaran dan interpretasi yang murni seperti yang diajarkan oleh para rasul dan para Bapa Gereja, sejak dari jemaat awal, dan terus dijaga oleh Magisterium Gereja Katolik sampai sekarang.

Mengapa Allah memberikan hal baik dan jahat (Pkh 7:14)?

5

Pertanyaan:

Syalom

Mohon tanya :

Mengapa Allah memberikan hal-hal yang baik dan yang jahat didalam kehidupan kita ?
Seperti yang ditulis di dalam : Pengkhotbah 7 : 14.
Dan bagaimana kita menyelesaikan semuanya itu ?

Aaron

Jawaban:

Shalom Aaron,

Dalam Pkh 7:14 memang dikatakan adanya hari-hari mujur dan malang, dan kita selayaknya mengingat bahwa kedua hari tersebut dijadikan oleh Tuhan. Memang kata-kata manusia agak terbatas dalam menjelaskan, bahwa karena Tuhan Maha-Tahu maka tak ada sesuatupun yang tidak diketahui oleh Tuhan sejak awal mula. Ia mengetahui akan adanya hari-hari mujur dan hari-hari ‘malang’ dalm kehidupan kita, walaupun bukan Ia yang secara aktif merencanakan hari-hari malang tersebut. Dengan pemikiran ini, maka kita umat Katolik tidak mempercayai adanya takdir, jika diartikan Allah menentukan segala sesuatu yang baik dan buruk untuk terjadi dalam hidup kita, dan kita ini hanya seperti “robot” saja. Pembahasan mengenai takdir ini dapat dibaca di sini, silakan klik.

Sebab Tuhan berfirman:

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yer 29:11).

Namun adakalanya, Tuhan mengizinkan adanya ujian terjadi dalam hidup ini, bahkan adakalanya Ia “menguji” iman kita dengan mengizinkan terjadinya pencobaan dalam hidup kita. Namun, maksud Allah ini harus tetap kita pandang demi kebaikan, sebab dikatakan, “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibr 12:6). Tanya jawab tentang apakah Tuhan mencobai umat-Nya, telah dituliskan di sini, silakan klik.

Dengan mengetahui bahwa di dalam hidup kita, kita akan mengalami ujian, maka kita dapat memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa tidak semua hal ada di bawah kuasa/ kontrol kita. Kita harus mengakui bahwa bisa terjadi banyak hal yang tidak sesuai dengan kehendak kita diijinkan oleh Tuhan terjadi, supaya kita belajar bekerja keras, bangkit dari kesalahan dan kelemahan kita, dan mempercayakan segala sesuatunya kepada Tuhan. Dengan cara inilah kita bertumbuh di dalam iman, sebab dengan demikian kita mengasihi Tuhan bukan karena berkat-berkat-Nya yang kita terima, tetapi mengasihi Tuhan karena Ia adalah Bapa kita. Maka, dalam setiap keadaan, baik senang maupun susah, kita tetap percaya kepada-Nya, karena mengetahui bahwa Tuhan mempunyai rencana yang indah bagi kita, yang belum sepenuhnya kita ketahui.

Ayat Rom 8:28 sebaiknya menjadi pegangan kita,

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Rom 8:28)

Maka pertanyaannya adalah, sudahkah kita mengasihi Allah, sebab jika kita mengasihi Dia, maka janji ini akan digenapi. Sebab apapun masalahnya, pasti dipakai Tuhan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.

Mari kita menyikapi hari-hari mujur dan malang dengan iman dan kebijaksanaan. Karena jika kita mempunyai sikap iman yang benar, mungkin kita tak perlu menyebutnya  sebagai “hari malang”/ sial, sebab kita mengetahui bahwa meskipun kelihatannya berat, namun Tuhan akan mendatangkan kebaikan bagi kita, jika kita setia bersandar kepada-Nya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Samuel, Saul, dan perempuan pemanggil arwah di En-Dor

20

[Dari Admin Katolisitas: Berikut ini adalah artikel yang ditulis untuk menjawab pertanyaan Sdr. Machmud, mengenai interpretasi perikop 1 Sam 28, yaitu tentang bagaimana Saul dan perempuan pemanggil arwah di En-Dor, yang memanggil arwah Samuel. Diskusi sebelumnya tentang topik ini sudah pernah ada di tanya jawab ini, silakan klik. Namun karena kelihatannya masih perlu diperlukan penjelasan tambahan, maka kami memutuskan untuk memisahkan tulisan ini di artikel tersendiri. Artikel ini ditulis oleh Pembimbing bidang Kitab Suci situs Katolisitas, yaitu Dr. David Twellman, D. Min., Th.M., dan diterjemahkan oleh Ingrid Listiati M.T.S. Artikel ini disampaikan pertama dalam bahasa Indonesia, namun teks bahasa Inggrisnya disertakan berikutnya, agar para pembaca dapat membaca langsung dari tulisan Dr. Twellman. Semoga penjelasan ini berguna bagi kita semua.]

Catatan Interpretasi Katolik pada teks yang membingungkan (1 Sam 28)

ditulis oleh: David Twellman diterjemahkan oleh Ingrid Listiati

Kisah Saul dan perempuan pemanggil arwah di En-Dor (1 Samuel 28) telah selalu membingungkan para penafsir Alkitab, oleh sebab alasan yang nyata bahwa perikop ini menggambarkan Tuhan seolah-olah bekerjasama dengan kejahatan. Dalam hal ini, di satu sisi perikop ini menjadi mirip seperti ungkapan bahwa Tuhan mengeraskan hati Firaun (Kel 4:21; 7:3), penglihatan Mikha bin Yimla (1 Raj 22:19-23), atau bahkan rencana Yakub mengelabui Ishak (Kej 27), perang untuk menduduki tanah Kanaan (Yos 10,11) dan [bahkan] penyaliban Tuhan Yesus (Mat 27:33-46; Mrk 15:22-41; Luk 23:33-49; Yoh 19:17-30). Tetapi pembacaan perikop- perikop ini dengan seksama menunjukkan bahwa Tuhan kadang-kadang mengizinkan niat jahat dari orang-orang tertentu untuk membuahkan konsekuensi yang penuh, supaya kebaikan yang lebih besar dapat dinyatakan.

Terdapat beberapa kebenaran secara teologis yang harus dikenali oleh umat Katolik dalam menginterpretasikan 1 Samuel 28:

  1. Orang mati tidak mengetahui apa yang terjadi di dunia melalui pengetahuan kodrati mereka. (Summa Theologica/ ST I, q. 89, a.8)
  2. Meskipun demikian, jiwa-jiwa para kudus yang telah meninggal [‘yang terberkati’] dapat mengetahui hal-hal di dunia melalui pengalaman mereka akan terang ilahi. Namun mereka tidak menderita duka cita sebagai akibatnya, ataupun meng-intervensi, kecuali sesuai/ menurut dengan keadilan Tuhan (ST, I q. 89 a. 8 repl. obj. 2).
  3. Samuel [pada saat itu] belum termasuk dalam ‘yang terberkati’, oleh karena itu, jika itu adalah Samuel yang menampakkan diri kepada Saul, Tuhan menyatakan kepada jiwa Samuel, kebenaran tentang masa depan Saul sebagai sebuah nubuatan. Namun ini bukan perilaku jiwa-jiwa yang terberkati di surga saat ini (ST II-II q. 174 a. 5 repl. obj. 4)
  4. Tuhan membenci ilmu gaib [hal pemanggilan arwah, peramal, dst], yang adalah sebuah dosa yang najis (Im 19:31; 20:6, 27; Ul 18:11; KGK 2116)
  5. Saul dan perempuan pemanggil arwah di En-Dor keduanya melakukan dosa peramalan/ nujum dengan cara ilmu gaib (1 Sam 28; ST II-II q. 95 a. 4 repl. obj. 2, yang menghasilkan penampakkan diri yang sesungguhnya [dari Samuel] atau “penampakan pura-pura.”
  6. Tradisi Katolik mengizinkan bahwa perikop ini dapat diinterpretasikan sebagai :1) kejadian deskripsi naratif dari penampakan diri jiwa Samuel yang sesungguhnya, atau 2) penampakan itu dihasilkan oleh setan (ST I q. 89 a. 8 repl. obj. 2).
  7. Tidak semua penampakan adalah pekerjaan setan. Meskipun beberapa penampakan adalah pekerjaan setan (ST II-II q. 85 a. 3), Tuhan kadang-kadang mengizinkan penampakan yang ajaib dari orang-orang yang sudah meninggal kepada mereka yang masih hidup dengan dispensasi yang istimewa, demi maksud penyelamatan-Nya yang seluruhnya bijaksana (ST I q. 89 a. 8 repl. obj. 2).

Berdasarkan point-point ini, dan dengan mempertimbangkan Sirakh 46:20 [23] dan kitab Septuagint LXX tentang 1 Twkh 10:13, nampaknya bagi saya bahwa jemaat purba memahami perikop ini bahwa Samuel benar-benar menampakkan diri, meskipun maksud untuk memanggilnya (baik oleh Saul dan perempuan pemanggil arwah itu) jelas-jelas perbuatan jahat. Tuhan mengizinkan hal ini terjadi sebab itu merupakan hal yang layak/ ‘fitting‘ untuk menyatakan kepada Saul bahwa esok harinya ia akan mati (1 Samuel 31:6). Keistimewaan dari prediksi ini dan penggenapannya adalah sangat penting di dalam raja-raja pada masa Samuel (lihatlah tabel yang terlampir di akhir tulisan ini). Saya pikir, pengertian ini terhadap teks tersebut adalah [interpretasi] yang terbaik, sebab memperhitungkan pembacaan secara terus terang dari perikop ini, dan ini konsisten dengan perikop-perikop Alkitab lainnya dan tradisi teologis Gereja.

Berikut ini adalah catatan singkat dari St. Thomas Aquinas tentang kejadian ini:

“[Kelihatannya, menurut perikop ini, bahwa para kudus dapat dipanggil sebagai nabi setelah mereka wafat. Tetapi] Samuel belum mencapai tingkat yang terberkati. Mengapa meskipun karena kehendak Allah jiwa Samuel mengatakan kepada Saul tentang hal perang itu yang dinyatakan kepadanya oleh Tuhan, ini berkaitan dengan kodrat nubuatan. Ini tidak sama dengan para kudus yang kini sudah berada di surga. Juga ini tidak berbeda, jika ini dikatakan dihasilkan oleh perbuatan setan (demon’s art), sebab meskipun setan tidak dapat memanggil jiwa seorang kudus, atau untuk memaksanya melakukan sesuatu tindakan, hal ini dapat dilakukan dengan kuasa Tuhan; sehingga ketika setan yang ditanya/ diajak berunding, Tuhan sendiri yang menyatakan kebenaran dengan melalui pembawa kabarNya: seperti ketika Ia memberikan jawaban yang benar melalui Elia kepada para utusan Raja yang diperintahkan untuk bertanya kepada Baal-Zebub, allah di Ekron (4[2] Raj 1). Dapat dijawab pula bahwa itu adalah bukan jiwa Samuel, tetapi setan yang menyamar menjadi Samuel; dan bahwa sang pengarang kitab memanggilnya [sebagai] Samuel, dan menjabarkan prediksinya sebagai nubuatan, sesuai dengan pikiran-pikiran Saul tersebut dan para pengamat yang memegang pendapat ini.” (ST II-II q. 174 a. 5 repl. obj. 4).

Kita mengetahui bahwa ilmu gaib dipraktekkan di Israel (2 Raj 21:6; Yes 8:10), namun itu: 1) tidak efektif, 2) efektif sebagai hasil dari penggunaan tipuan, atau 3) efektif sebagai hasil pemanggilan setan-setan (di mana di kasus ini seseorang akan mengharapkan penyusutan atau kekurangan dalam bentuk penampakan). Menurut pendapat saya, perempuan pemanggil arwah di En-Dor kemungkinan terkenal sebagai seorang yang berpengalaman dan ahli nujum yang efektif  (jika tidak, Saul tidak akan mendengar tentangnya, atau berkunjung kepadanya), tetapi, pengalamannya yang terdahulu “memanggil orang mati” kemungkinan menggunakan tipuan atau perbuatan setan (oleh karena itu, ia ketakutan ketika Samuel benar-benar menampakkan diri dengan cara yang ia (perempuan itu) tidak terbiasa: sepenuhnya sangat meyakinkan dan bukan dari setan (non-demonic) [1Sam 28:12]).

Jadi, kesimpulannya, meskipun penjelasan “kegiatan demonik” diperkenankan [dalam arti bahwa yang menampakkan diri bukan roh Samuel tetapi roh setan] di dalam interpretasi Katolik tentang ayat ini, namun interpretasi yang terbaik, nampaknya adalah bahwa Saul dan perempuan pemanggil arwah di En-Dor keduanya bersalah atas dosa ilmu gaib, tetapi walaupun demikian, Tuhan meng-intervensi dengan tindakan istimewa untuk mewahyukan, mengizinkan jiwa yang telah meninggal, yaitu jiwa Samuel yang sesungguhnya untuk bertindak sebagai suara nubuat yang melampaui kubur.

Nubuat-nubuat dan penggenapannya dalam Kitab Samuel dan Raja-raja (Tabel Ringkasan)

David Twellman ©2009

Nubuat

Penggenapan

1 Sam 2:31, 33 1 Sam 4:18
1 Sam 2:34 1 Sam 4:11
1 Sam 3:12 1 Sam 4:19-21
1 Sam 10:2 1 Sam 10:9
1 Sam 10:5 1 Sam 10:10
1 Sam 10:6 1 Sam 10:10
1 Sam 11:9 1 Sam 11:11
1 Sam 12:17 1 Sam 12:18
1 Sam 15:28 1 Sam 28:17
1 Sam 28:19 1 Sam 31:1
1 Sam 28:19 1 Sam 31:6
2 Sam 7:12 1 Raj 1:48
2 Sam 7:13 1 Raj 5:5
2 Sam 7:13 1 Raj 8:20; 1 Raj 8:25; 1 Raj 9:5; 1 Mak 2:57
2 Sam 12:11; 2 Sam 12:12 2 Sam 16:22
2 Sam 12:13
2 Sam 12:14 2 Sam 12:18
1 Raj 11:11 1 Raj 11:26
1 Raj 11:12 1 Raj 12:15
1 Raj 11:13 1 Raj 12:16-17
1 Raj 13:2 2 Raj 23:16
1 Raj 13:3 1 Raj 13:5
1 Raj 13:22 1 Raj 13:30
1 Raj 13:32 2 Raj 23:15-20
1 Raj 14:10; 1 Raj 14:11; 1 Raj 14:14 1 Raj 15:28-29
1 Raj 14:12 1 Raj 14:17
1 Raj 14:13 1 Raj 14:18
1 Raj 14:16 2 Raj 17:22-23
1 Raj 16:3-4 1 Raj 16:11-12
Yos 6:26 1 Raj 16:34
1 Raj 17:1; 1 Raj 18:1 1 Raj 18:1
1 Raj 20:13 1 Raj 20:20-21
1 Raj 20:28 1 Raj 20:29-30
1 Raj 20:36 1 Raj 20:36
1 Raj 21:19 1 Raj 22:38
1 Raj 21:21; 2 Raj 9:7; 2 Raj 9:8-9 2 Raj 10:11; 2 Raj 10:17
1 Raj 21:23; 2 Raj 9:10 2 Raj 9:35; 2 Raj 9:36
1 Raj 21:29 1 Raj 22:40; 2 Raj 1:17; 2 Raj 9:24-26
2 Raj 1:4 2 Raj 1:17
2 Raj 2:3 2 Raj 2:11-12
2 Raj 3:16-17 2 Raj 3:20
2 Raj 3:18 2 Raj 3:24
2 Raj 4:16 2 Raj 4:17
2 Raj 4:43 2 Raj 4:44
2 Raj 5:10 2 Raj 5:14
2 Raj 7:1 2 Raj 7:16
2 Raj 7:2 2 Raj 7:17
2 Raj 8:10 2 Raj 8:14
2 Raj 8:10 2 Raj 8:15
2 Raj 8:12 2 Raj 8:15 .
2 Raj 9:26
2 Raj 10:30 2 Raj 15:8; 2 Raj 15:12
2 Raj 13:17; 2 Raj 13:19 2 Raj 13:25
2 Raj 14:25
2 Raj 19:7; 2 Raj 19:28; 2 Raj 19:32-33 2 Raj 19:36
2 Raj 19:29
2 Raj 20:5 2 Raj 20:12-13
2 Raj 20:10 2 Raj 20:11
2 Raj 20:17 2 Raj 24:12-13; 2 Raj 25:13-17
2 Raj 21:13-14; 2 Raj 22:17; 2 Raj 23:27 2 Raj 24:2
2 Raj 22:20 2 Raj 23:29-30

Keselamatan dan hubungannya dengan Baptisan

26

Pertanyaan:

Shalom !

Untuk Baptisan Darah dan Baptisan Rindu, ada di kitab suci bagian mana supaya saya dapat pahami ? Yang mutlak buat keselamatan baptisan yang mana pak ? Darah , Rindu atau Air ? Bagaimana Gereja tidak tahu cara lain untuk memperoleh keselamatan ?

Yoh 3 : 15 supaya setiap orang yang PERCAYA kepadaNYA beroleh hidup yang kekal.
Yoh 3 : 16 supaya setiap orang yang PERCAYA kepadaNYA tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal
Yoh 3 : 18 barangsiapa PERCAYA kepadaNYA, ia tidak akan dihukum
Roma 10 : 9 Sebab kija kamu MENGAKU dengan mutmu, Bahwa Yesus adalah Tuhan

dan PERCAYA dalam hatimu bahwa Allah……………maka kamu akan diselamatkan.
Ef 2 : 8 Sebab karena KASIH KARUNIA kamu diselamatkan oleh IMAN…….

Dan masih masih banyak ayat-ayat lagi mengenai satu-satu nya cara memperoleh keselamatan, yaitu PERCAYA / IMAN kepada Anak Allah yang Hidup yaitu YESUS KRISTUS Tuhan kita.
Kenapa ayat2 tersebut diatas tidak menyebutkan kata Baptis ? Kalau memang Baptisan mutlak untuk keselamatan ?

Mohon penjelasan pak .
God bless – Anton.

Jawaban:

Shalom Anton,

Terima kasih atas pertanyaan dan tanggapannya tentang baptisan. Gereja Katolik mengenal adanya Sakramen Baptis (Baptisan Air), Baptis Rindu, dan Baptis darah. Baptisan secara sakramental (Baptisan air) adalah cara yang umum untuk menerima rahmat Tuhan, karena Baptisan secara sakramental menjamin rahmat Kristus mengalir, selama form (bentuk) dan matter (materi) dan intensi dari baptisan sah. Sedangkan pada Baptisan rindu dan Baptisan darah, hanya Tuhan yang tahu secara persis apakah seseorang menerimanya ataukah tidak. Dalam hubungannya dengan keselamatan, Tuhan telah mengikat keselamatan pada Sakramen Pembaptisan, namun Dia sendiri tidak terikat pada Sakramen-sakramen-Nya, seperti yang diungkapkan di dalam Katekismus Gereja Katolik, 1257:

Tuhan sendiri mengatakan bahwa Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan (Bdk. Yoh 3:5.). Karena itu, Ia memberi perintah kepada para murid-Nya, untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa (Bdk. Mat 28:19-20; DS 1618; LG 14; AG 5.). Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan orang-orang, kepada siapa Injil telah diwartakan dan yang mempunyai kemungkinan untuk memohon Sakramen ini (Bdk. Mrk 16:16.). Gereja tidak mengenal sarana lain dari Pembaptisan, untuk menjamin langkah masuk ke dalam kebahagiaan abadi. Karena itu, dengan rela hati ia mematuhi perintah yang diterimanya dari Tuhan, supaya membantu semua orang yang dapat dibaptis, untuk memperoleh “kelahiran kembali dari air dan Roh”. Tuhan telah mengikatkan keselamatan pada Sakramen Pembaptisan, tetapi Ia sendiri tidak terikat pada Sakramen-sakramen-Nya.

1) Dari kutipan di atas, Gereja tidak mengenal sarana lain selain Baptisan untuk menjamin seseorang masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kutipan yang dipakai oleh Anton dari Yoh 3:15-19 tentang perlunya “percaya” dan Rm 10:9 tentang perlunya “mengaku“, serta Efesus 2:8 akan perlunya “iman” dalam keselamatan. Namun semua yang disebutkan di atas, yaitu: percaya, mengaku, iman, harus dimanifestasikan dalam Baptisan, karena Tuhan sendiri mengatakan “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Yoh 3:5). Bagaimana kita mengartikan ayat tersebut, yang dengan jelas-jelas mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah kalau dia tidak dilahirkan dari air dan Roh. Gereja Katolik mematuhi pesan Kristus mewartakan pentingnya Sakramen Baptisan untuk keselamatan, seperti yang Yesus sendiri perintahkan “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mt 28:19-20).

a) Dari perintah Yesus yang terakhir, sebenarnya cukup jelas akan pentingnya Baptisan. Yesus tidak mengatakan bahwa jadikan semua bangsa murid-Nya, dan biarlah mereka percaya, mengaku, dan mempunyai iman. Yang ditekankan oleh Yesus adalah menjadikan seluruh bangsa menjadi murid-Nya dan membaptis mereka. Setelah itu, mengajarkan agar mereka juga mentaati semua perintah Yesus.

b) Mari kita meneliti lebih jauh tentang beberapa kata kunci: percaya, mengaku, iman. Apakah dengan percaya saja cukup untuk mendapatkan keselamatan? Tidak, karena kalau mau dibilang setan juga percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. (lih. Mk 1:24). Kalau orang benar-benar percaya akan Kristus, maka dia harus juga untuk menjalankan semua perintah-Nya, termasuk untuk hidup kudus dan menerima Sakramen Baptis.

Apakah dengan mengaku dengan mulut maka orang akan mendapatkan keselamatan? Memang Roma 10:9 mengatakan “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Bandingkan dengan Yoh 3:5, yang mengatakan “Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.Bandingkan pernyataan antara “kamu akan diselamatkan” di Rm 10:9 dan “ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” di Yoh 3:5. “Kamu akan diselamatkan” dapat mempunyai konotasi ada cara lain bagi seseorang untuk diselamatkan, namun “ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga” mempunyai konotasi bahwa kalau seseorang tidak melakukan apa yang disyaratkan, maka seseorang tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Oleh karena itu, Sakramen Baptis diperlukan untuk memperoleh keselamatan.

Apakah dengan iman saja maka seseorang akan mendapatkan keselamatan? Tidak, karena rasul Yakobus mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati (lih. Yak 2:17-18, 20, 26). Namun iman memang penting untuk sampai kepada Baptisan. Bahkan, Gereja Katolik menyatakan bahwa Baptisan adalah Sakramen iman (lih. KGK, 1253). Namun, iman yang benar bukanlah iman yang memilih, namun iman yang taat terhadap apa yang diwahyukan, termasuk kepada Gereja – karena Kristus telah memberikan kuasa kepada Gereja untuk mewariskan ajaran Kristus secara murni dari satu generasi ke generasi yang lain. Oleh karena kita harus beriman terhadap apa yang Gereja imani, maka dalam ritual Baptisan, para katekumen (yang akan dibaptis) dan walinya diberi pertanyaan “Apa yang kamu minta dari Gereja Allah?” Dan lalu para katekumen/katekumen akan menjawab “Iman“.

2) Begitu pentingnya Baptisan untuk keselamatan manusia, sehingga Yesus memberikan amanat agung kepada para muridnya sebelum Dia diangkat ke Sorga. Sekali lagi, kita perlu merenungkan, mengapa perintah Yesus yang terakhir tidak menyebutkan untuk “percaya”, “mengaku”, atau “iman”? Karena semuanya itu terangkum dalam Baptisan. Baptisan mensyaratkan seseorang untuk percaya, karena untuk percaya seseorang harus mengetahui apa yang terjadi dalam Baptisan, dan percaya akan Tuhan yang memberikan perintah. “Mengaku” juga terjadi di dalam upacara Baptisan (dalam baptisan bayi, pengakuan diwakili oleh orang tua. Namun, seseorang yang mengikuti perayaan Ekaristi, selalu mengakukan dosa dan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan). Iman yang benar juga diwujudkan dalam bentuk Baptisan. Iman yang benar tidak hanya berhenti begitu saja, namun diwujudkan dalam tindakan, terutama untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Kristus, yang salah satunya adalah memberikan diri untuk dibaptis.

3)Namun ada banyak kondisi, dimana seseorang, karena bukan karena kesalahannya sendiri (invincible ignorance), tidak sampai mengalami Baptisan secara sakramental. Gereja Katolik menyebutkan bahwa orang-orang ini sebenarnya telah mengalami baptisan berupa Baptisan Rindu. Dan bagi orang yang diberi rahmat untuk mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk bersaksi tentang iman, maka orang-orang ini telah menerima Baptisan Darah.

a) Katekismus Gereja Katolik mengatakan “Bagi para katekumen yang mati sebelum Pembaptisan, kerinduan yang jelas untuk menerima Pembaptisan, penyesalan atas dosa-dosanya, dan cinta kasih sudah menjamin keselamatan yang tidak dapat mereka terima melalui Sakramen itu.” (KGK, 1259). Kita dapat melihat apa yang Yesus katakan di dalam Injil Yohanes “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.” (Yoh 14:23) Cinta kasih yang sempurna, yang tentu saja mensyaratkan penyesalan, kerinduan untuk hidup dalam Tuhan, membuat seseorang menerima baptisan rindu.

b) Untuk Baptisan darah, Gereja Katolik mengatakan “Gereja sudah sejak dahulu yakin bahwa orang-orang yang mengalami kematian karena iman, tanpa sebelumnya menerima Pembaptisan, telah dibaptis untuk dan bersama Kristus oleh kematiannya. Pembaptisan darah ini demikian pula kerinduan akan Pembaptisan menghasilkan buah-buah Pembaptisan walaupun tidak merupakan Sakramen.” (KGK, 1258). Kita juga melihat di dalam Injil Matius, yang mengatakan “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” (Mt 10:32) Lebih lanjut, Yesus mengatakan “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Mt 10:39). Pengajaran tentang Baptisan Darah telah dikenal oleh jemaat awal, seperti yang dapat kita lihat dalam tulisan-tulisan Tertullian (on Baptism, 16), St. Cyprian (Epistle 73), St. Augustine (City of God, 13.7; Tractate 74 on the Gospel of John), dll. (lihat New Advent – klik di sini).

4) Setelah kita melihat akan mutlaknya Sakramen Baptisan untuk keselamatan serta kita mengenal sakramental Baptisan (Baptisan Air), Baptisan Rindu, dan Baptisan Darah, pertanyaannya adalah baptisan mana yang mutlak untuk keselamatan? Untuk menjawab hal ini, sebenarnya tergantung definisi dari “mutlak”. Kalau kita ingin melihatnya dengan kasat mata, dengan kepastian yang jelas, maka Baptisan Air yang mutlak untuk keselamatan. Hal ini disebabkan banyak unsur obyektif, yang dapat kita ukur, seperti: matter, form, dan intensi. Sebagai catatan, Gereja Katolik mengakui Baptisan yang dilakukan oleh gereja lain, selama mempunyai matter (yaitu air), form (diibaptis dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus), intensi (seperti intensi Gereja). Oleh sebab itu, Gereja Katolik memenuhi perintah Kristus secara aktif memberitakan Injil dan membawa umat manusia kepada Sakramen Baptis.

Namun, ada orang-orang yang bukan karena kesalahannya sendiri (invincible ignorance) tidak sampai kepada Sakramen Baptis. Kita mengingat apa yang dikatakan oleh Yesus “Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” (Lk 12:48). Dari perkataan Yesus ini, kita tahu bahwa kondisi dari orang-orang dapat dihubungkan dengan jenis baptisan mana yang menyelamatkan.

a) Baptisan sakramental (Baptisan Air) adalah mutlak bagi orang-orang yang telah mengenal Kristus dan mengenal Gereja-Nya, yaitu Gereja Katolik. Dan juga dapat dikatakan mutlak bagi semua orang, karena Baptisan ini memberikan kepastian mengalirnya rahmat yang diperlukan untuk keselamatan manusia. Dan ini seharusnya menjadi pacuan bagi kita semua untuk memberitakan Kristus kepada semua orang. Namun, walaupun Kristus telah mengikat keselamatan dalam Sakramen Pembaptisan, namun Dia tidak terikat pada Sakramen-sakramen.

b) Katekismus Gereja Katolik menegaskan “Sebab karena Kristus telah wafat bagi semua orang, dan panggilan terakhir manusia benar-benar hanya satu, yakni bersifat ilahi, kita harus berpegang teguh, bahwa Roh Kudus membuka kemungkinan bagi semua orang, untuk bergabung dengan cara yang diketahui oleh Allah dengan misteri Paska itu” (GS 22) (Bdk. LG 16; AG 7.). Setiap manusia yang tidak mengenal Injil Kristus dan Gereja-Nya, tetapi mencari kebenaran dan melakukan kehendak Allah sesuai dengan pemahamannya akan hal itu, dapat diselamatkan. Orang dapat mengandaikan bahwa orang-orang semacam itu memang menginginkan Pembaptisan, seandainya mereka sadar akan peranannya demi keselamatan.” (KGK, 1260).

Kita tahu bahwa ada banyak orang yang mencoba mencari kebenaran dengan segenap kekuatannya dan melakukan kehendak Allah sesuai dengan pemahamannya, namun tidak sampai pada Sakramen Baptisan. Yang menjadi masalah dalam kasus ini adalah kita tidak tahu, apakah seseorang benar-benar telah mencari kebenaran dengan segenap hati, segenap pikiran, dan segenap kekuatannya, namun tetap tidak sampai kepada kebenaran yang penuh, sehingga tidak mengalami baptisan secara sakramental. Kalau memang orang tersebut telah mencari kebenaran dengan segala kekuatannya – tanpa adanya motivasi yang mementingkan diri sendiri – maka, orang-orang ini masuk dalam kategori invincible ignorance. Hal ini disebabkan, bila ada orang yang dapat menerangkan mereka tentang pentingnya Sakramen Baptis untuk keselamatan, maka orang tersebut akan menerimanya dan menerima Sakramen Baptis. Namun, apakah seseorang masuk dalam kondisi invincible ignorance, hanya Tuhan saja yang tahu. Oleh karena itu, hanya Tuhan saja yang tahu apakah orang tersebut benar-benar memperoleh Baptisan Rindu. Tentang apa itu Baptisan Rindu, silakan klik di sini

c) Baptisan darah adalah baptisan martir, mempunyai kondisi yang sama seperti di point 4b dalam hal persyaratan untuk keselamatan. Yang perlu disoroti di sini adalah tindakan untuk menjadi martir – mati untuk mempertahankan iman – mensyaratkan kasih yang sempurna, dalam tingkatan yang begitu tinggi. Kita melihat pada masa awal kekristenan, dimana ada banyak orang Kristen yang mungkin belum dibaptis, namun mengorbankan dirinya demi imannya.

Dari pemaparan di atas kita melihat bahwa Baptisan adalah gerbang keselamatan, dimana memungkinkan kita untuk menerima rahmat kekudusan, sehingga kita dapat berkenan di hadapan Allah, dan membuat kita dapat hidup di dalam Kristus. Baptisan air memberikan kepastian akan hal ini. Namun, Tuhan tidak dibatasi oleh Sakramen-sakramen, sehingga ada orang yang dapat diselamatkan dengan Baptisan Rindu dan Baptisan Darah. Apakah seseorang telah menerima Baptisan Rindu dan Darah, tidak ada orang yang tahu secara persis, dan hanya Tuhan yang tahu, karena Tuhan yang menilik hati seseorang.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Lanjutan diskusi:

silahkan klik

Bunda Maria, Co- Redemptrix

16

Pendahuluan

Sewaktu saya tinggal di Singapura, saya pernah mengikuti retret di Sabah, Malaysia. Di sana saya berkenalan dengan teman yang tidur sekamar dengan saya. Ia seorang warga negara Singapura keturunan India, dan sebelum menjadi Katolik adalah seorang Hindu. Lalu saya bertanya, apa yang membuatnya terpanggil menjadi Katolik. Dia menjawab dengan senyumnya yang tak akan pernah saya lupakan, “Mother Mary has called me to follow Christ her Son” (Bunda Maria telah memanggil saya untuk mengikuti Kristus Puteranya.”) Baru kemudian dia menceritakan pengalamannya saat ia bergumul dengan penyakitnya, dan memperoleh kekuatan melalui doa di gereja Novena, melalui perantaraan Bunda Maria. Pada mulanya, sebagai seorang non-Katolik, ia hanya ingin tahu dan datang ke gereja Novena itu yang memang selalu ramai dikunjungi orang. Namun setelah mengikuti ibadah di sana, ia tahu bahwa bukan Bunda Maria yang utama, melainkan Yesus Kristus Puteranya-lah yang dapat menyelamatkan dan menyembuhkan. Setelah teman saya ini sembuh dari penyakitnya, ia mempelajari agama Katolik, dibaptis, dan selanjutnya sampai sekarang menjadi sahabat saya. Kesaksian imannya membuka mata saya, bahwa sungguh Bunda Maria tidak pernah mengambil kemuliaan bagi dirinya sendiri: ia hanya mengatakan, “Perbuatlah apa yang dikatakan Yesus kepadamu” (lih. Yoh 2:5). Pada akhirnya, semua yang datang kepadanya akan diarahkannya kepada Yesus, dan dengan demikian ia membawa banyak orang kepada keselamatan.

Co-Redemptrix, apa maksudnya?

Menurut arti bebasnya, Co- artinya adalah ‘dengan’. Maka menurut definisinya yang dikenal dalam Mariologi, Co-Redemptrix mengacu kepada partisipasi Bunda Maria yang tidak langsung namun sangat penting dalam karya keselamatan Allah bagi manusia. Dalam arti inilah Bunda Maria bekerja sama dengan Yesus dalam rencana Keselamatan Allah. Namun, partisipasi Maria dalam karya keselamatan ini sepenuhnya tergantung dan berada di bawah peran Kristus Putera-Nya.

Maka, dengan mengatakan Maria sebagai Co-Redemptrix, kita tidak menjadikan Bunda Maria sejajar dengan Yesus dalam karya Keselamatan. Bunda Maria sendiri tetap memerlukan Yesus sebagai Juru Selamatnya, dalam hal ini untuk menjadikannya kudus tanpa noda sejak dalam kandungan, dan karena itu tidak mungkin Bunda Maria memiliki kedudukan yang sama dengan Yesus.

Bagaimana Maria melakukannya?

Bunda Maria dikatakan sebagai Co- Redemptrix karena dua hal utama, yaitu atas ketaatannya pada saat menerima kabar gembira, dan ketaatan selama hidupnya, yang memuncak di kaki salib Yesus. Saya ingin mengutipnya dari tulisan pakar Mariologi yang bernama Mark Miravalle, S.T.D, yang mengajarkan: ((Lihat Mark Miravalle, S.T.D, Introduction to Mary, The Heart of Marian Doctrine and Devotion, (Santa Barbara, CA: Queenship Publishing Company, 1993), p. 68-70)).

1. Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel, yang berupa sebuah ‘undangan’ untuk mengambil bagian dalam karya Keselamatan Allah, dengan menjadi ibu bagi Yesus sang Penyelamat. Maria menanggapi undangan ini dengan kesediaannya mengizinkan penjelmaan Yesus menjadi manusia ini mengambil tempat di dalam rahimnya. Para Bapa Gereja di abad-abad awal mengajarkan bahwa Inkarnasi dan Karya keselamatan sebagai suatu kesatuan tindakan Allah untuk menyelamatkan manusia. Maka terlihat di sini peran Maria yang sangat penting sebab oleh ketaatannya, ia membawa Kristus Sang Penyelamat ke dunia, melalui Inkarnasi. Oleh Maria, maka ayat ini tergenapi, “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita.” (Yoh 1:14)

Dengan demikian Maria menjadi Hawa yang baru. Sebab oleh ketidak taatan Hawa yang pertama, umat manusia jatuh ke dalam dosa, sedangkan oleh ketaatan Maria (Hawa yang baru) umat manusia memperoleh Sang Penyelamatnya. St Irenaeus (180) berkata, “Ikatan yang disebabkan oleh ketidak-taatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria; apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh perawan Maria karena imannya.” ((St. Irenaeus, Adversus Haereses, III, 22, 4: S. Ch. 211. 438-44, Lumen Gentium, 56, note 6)). Dan karena tubuh Yesus, sebagai alat Keselamatan  (lih. Ibr 10:10) diberikan kepada Yesus oleh Maria saat Ia terbentuk dalam rahimnya, maka Maria sebagai Ibu Yesus memiliki peran yang sangat istimewa dalam keselamatan manusia, yang tidak dapat dibandingkan dengan semua ciptaan lainnya.

Paus Yohanes Paulus mengatakan bahwa pada saat mengatakan “YA”/ Fiat pada kabar Malaikat itu, maka iman Maria dapat disejajarkan dengan iman Bapa Abraham yang menandai permulaan Perjanjian Lama antara Tuhan dengan umat-Nya. Iman Maria menandai dimulainya Perjanjian Baru. Seperti halnya Bapa Abraham yang percaya “sekalipun tidak ada dasar untuk berharap” (Rom 4:18) bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa padahal pada saat janji itu diberikan ia belum mempunyai keturunan, maka Mariapun juga percaya, bahwa meskipun ia tetap perawan (tidak bersuami), ia akan melahirkan seorang Anak atas kuasa Roh Kudus, dan “Anaknya itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Luk 1:35). ((Paus Yohanes Paulus II, Surat Ensiklik, Redemptoris Mater, 14)).

2. Maria secara unik berpartisipasi dalam kurban salib Yesus demi keselamatan umat manusia. Di kaki salib Kristus, Bunda Maria mempersembahkan kepada Allah hak-haknya sebagai ibu, segala belas kasih, dan penderitaannya yang tak terlukiskan melihat Putera-Nya sendiri disiksa sampai wafat.

Di kayu salib inilah, menurut Paus Yohanes Paulus II, Bunda Maria melihat seolah-olah kebalikan dari perkataan Malaikat di saat menerima kabar gembira, “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” (Luk 1:32-33) Di kayu salib ini, terpampang di hadapan matanya kenyataan yang begitu memilukan, “Ia (Yesus) dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan…. (Yes 53:3-5). Betapa besarnya ketaatan Maria yang menyerahkan diri seutuhnya, segala “akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang keputusan dan jalan-jalan-Nya tak terselami! (Lih. Rom 11:33). Dengan cara inilah Maria berpartisipasi dalam “pengosongan diri” yang dilakukan oleh Yesus di kayu salib (lih. Flp 2: 5-8). Ini mungkin adalah suatu bentuk “pengosongan diri” yang terdalam sepanjang sejarah manusia. Di sinilah terpenuhi nubuat Simeon, “suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri…” (Luk 2:35). ((Paus Yohanes Paulus II, Surat Ensiklik, Redemptoris Mater, 18))

Para Bapa Gereja membandingkan iman Maria di kaki salib Kristus ini dengan iman Bapa Abraham yang mempersembahkan Ishak anaknya sebagai persembahan kepada Tuhan.

Dasar Kitab Suci

Sebenarnya, tidak sulit untuk menerima ajaran bahwa Bunda Maria disebut sebagai “Co- Redemptrix” kalau kita dapat menerima pengajaran sebagai berikut:

1. 1 Kor 3:9: “Karena kami adalah kawan sekerja Allah ….” Jika kita semua saja adalah kawan sekerja Allah dalam rencana Keselamatan, tentulah Bunda Maria yang membawa Kristus ke dunia adalah kawan sekerja Allah yang begitu istimewa. Sebab tanpa ketaatannya melalui kehendak bebasnya, maka Yesus tidak lahir ke dunia.

2. Kolose 1:24: Rasul Paulus mengajarkan, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” Maka dengan penderitaannya, yang dipersatukan dengan penderitaan Kristus di kayu salib, Bunda Maria turut mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah.

Memang korban penebusan Kristus telah digenapi dengan sempurna di Golgota, namun demikian, penerapan korban penebusan ini kepada semua manusia masih berlanjut sepanjang sejarah manusia. Itulah sebabnya, di dalam hidup kita sebagai anggota Tubuh Kristus di dunia, kita masih mengalami penderitaan. Maka kita layak untuk mencontoh teladan Bunda Maria yang menyerahkan segala penderitaannya dan mempersatukannya dengan korban Yesus di kayu salib, agar dengan demikian kitapun, dengan porsinya masing-masing, mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah.

3. Yoh 2:5: Maria Ibu Yesus berkata…. “Apa yang dikatakan kepadamu, (oleh Yesus) buatlah itu!”
Sebagaimana yang terjadi di Kana, Bunda Maria sangat memperhatikan kebutuhan umat beriman. Namun apa yang dikatakannya selalu mempunyai Kristus sebagai pusatnya, dan ia membawa para beriman untuk menaati perintah Yesus.

Maria, Co- Redemptrix menurut Bapa Gereja

Walaupun sampai saat ini pengajaran bahwa Maria sebagai Co-Redemptrix belum diangkat secara definitif menjadi Dogma, namun sebenarnya, dasar pengajaran ini telah ada sejak lama. St. Yustinus (100)  adalah Bapa Gereja yang pertama yang mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah Hawa yang baru. Kemudian, murid Rasul Yohanes, St. Irenaues (180), juga mengajarkan tentang peran Maria sebagai Hawa yang baru, yang berkerjasama dengan Adam yang baru yaitu Kristus untuk menyelamatkan dunia. Ia mengkontraskan ketidaktaatan Hawa dengan ketaatan Maria. Kesaksian St. Irenaeus tentu sangat penting, karena ia adalah murid dari St/ Polycarpus, yang adalah murid Rasul Yohanes, yang kepadanya Yesus telah mempercayakan Bunda Maria di saat ajal-Nya di kayu salib. (Yoh 19:25). Kesaksian St. Irenaeus ini banyak dikutip oleh para Bapa Gereja, dan dikutip pula dalam dokumen Konsili Vatikan II. ((Lihat Lumen Gentium 56))

Tertullian (abad ke 3), juga mengajarkan Bunda Maria sebagai Hawa yang baru. Ia mengkontraskan bahwa Hawa percaya pada perkataan sang ular/Iblis, sedangkan Maria percaya kepada perkataan Malaikat. ((Lihat Tertullian, On the Flesh of Christ, Chap 17)) Selanjutnya, St. Agustinus (354-430), St, Yohanes Damascene (754-787) dan St. Thomas Aquinas (1225-1274), mengajarkan hal yang sama, diikuti oleh banyak para kudus lainnya. Dengan prinsip Maria sebagai Hawa yang baru, maka tidak sulit untuk memahami mengapa Bunda Maria disebut sebagai Co-Redemptrix.

Pengajaran para Paus

Berikut ini adalah pengajaran para Bapa Paus tentang Maria sebagai Co- Redemptrix: ((Lihat Mark Miravalle, Ibid., p. 70-72))

1. Paus Pius Benediktus XV (1918) dalam Surat Apostoliknya mengatakan, “Pada tingkat yang tak terlukiskan, Maria menderita dan hampir mati dengan Anak-nya yang menderita dan mati, dan dengan demikianlah ia menyerahkan segala hak-hak keibuannya demi keselamatan manusia…. sehingga kita dapat berkata bahwa ia bersama-sama dengan Kristus menyelamatkan umat manusia.” ((Paus Pius Benediktus XV, Surat Apostolik, Inter Sodalicia))

2. Paus Pius XI (1922- 1939) menyebutkan Maria sebagai Co-Redemptrix sebanyak sekurang-kurangnya 6 kali dalam dokumen-dokumen kepausan-nya. Ia mengajarkan, “O, Bunda kekudusan dan belas kasih, yang ketika Anakmu menyelesaikan karya Keselamatan manusia di kayu salib,  sungguh mengemban sengsara dengan Dia dan sebagai seorang Co-Redemptrix, menjaga di dalam kita buah berharga dari karya Keselamatan ini, dan dari belas kasihmu.” ((Paus Pius Xi, Penutupan tahun Yubelium 1935, L’Observatore Romano, April 29, 1935))

3. Paus Pius XII (1939-1958) menyebutkan Maria sebagai “rekan sejawat yang terkasih dari Sang Penyelamat” mengajarkan, “Oleh kehendak Tuhan, Perawan Maria yang terberkati bersatu tak terpisahkan dengan Kristus di dalam menyelesaikan karya Keselamatan, sehingga keselamatan kita mengalir dari kasih Yesus Kristus dan penderitaan-Nya secara erat bersatu dengan kasih dan dukacita Ibu-Nya.” ((Paus Pius XII, Haurietis Aguas, no.2))

4. Konsili Vatikan II, mengajarkan, “Demikianlah Santa Perawan juga melangkah maju dalam peziarahan iman. Dengan setia ia mempertahankan persatuannya dengan Puteranya hingga di salib, ketika ia sesuai dengan rencana Allah berdiri di dekatnya (lih. Yoh 19:25). Disitulah ia menanggung penderitaan yang dashyat bersama dengan puteranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya ia menggabungkan diri dengan korban-Nya, yang penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya.” ((Lumen Gentium 58))

5. Paus Yohanes Paulus II, dalam surat Ensikliknya, mengajarkan, “Betapa besar, dan betapa heroiknya ketaatan iman yang ditunjukkan Maria di hadapan kebijaksanaan Allah yang tak terpahami! Betapa lengkapnya ia menyerahkan dirinya kepada Tuhan tanpa syarat, “menyerahkan kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah” kepada Ia yang segala jalan-jalan-Nya yang tak terselami! (lih. Rom 11:33). Melalui iman ini Maria secara sempurna bersatu dengan Kristus dalam hal pengosongan diri…. Di kaki salib Kristus, Maria mengambil bagian melalui iman di dalam misteri pengosongan diri yang tragis ini. Ini mungkin merupakan merupakan sebuah kenosis/ pengosongan diri yang terdalam sepanjang sejarah manusia. Melalui iman Bunda Maria mengambil bagian di dalam kematian Kristus, di dalam kematian-Nya yang menyelamatkan…” ((Paus Yohanes Paulus II, Redemptoris Mater, 18))

Di tahun 1985, dalam sebuah pernyataan kepausan yang lain, Paus Yohanes Paulus mengajarkan bahwa gelar Co-Redemptrix berkaitan dengan penyaliban rohani yang dialami Maria di kaki salib Kristus: “Disalibkan secara rohani dengan Putera-Nya yang tersalib (lih. Gal 2:20), ia [Maria] memandang dengan kasih yang heroik kematian Tuhannya, “dengan hati keibuannya ia menggabungkan diri dengan korban-Nya, dengan penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya.” ((Lumen Gentium 58))… seperti ia berada di dalam cara yang istimewa di dekat kayu salib Kristus, ia juga pasti mempunyai pengalaman istimewa dalam Kebangkitan-Nya. Nyatanya, peran Maria sebagai Co-Redemptrix tidak berhenti dengan kemuliaan Putera-Nya.” ((Paus Yohanes Paulus II, Allocution at the Sanctuary of Our Lady of Alborada in Quayaquil, Jan 31, 1985, dikutip dari L’Observatore Romano, March 11, 1985, p.7 ))

Kesimpulan

Jika kita melihat rencana Keselamatan Allah yang melibatkan kehendak bebas manusia, maka selayaknya kita mempunyai penghormatan yang besar kepada Bunda Maria. Sepertihalnya Abraham, Bunda Maria telah menunjukkan ketaatan iman yang sangat istimewa. Bunda Maria merupakan teladan bagi kita semua orang beriman untuk mempersatukan diri dengan Kristus, dalam setiap langkah kehidupan kita. Ketaatan Maria yang tanpa syarat sungguh merupakan contoh bagi semua murid Kristus. Dengan melihat kepada Bunda Maria, kita dapat melihat bagaimana seharusnya kita menjadi “kawan sekerja Allah”. Sebab dalam arti sesungguhnya, “kawan sekerja” ini tidak saja berupa kawan yang menyertai di saat kemuliaan Yesus, tetapi juga dengan mengambil bagian di dalam penderitaan-Nya. Sebab suka cita kebangkitan Yesus tak terlepas dari korban salib-Nya; kemuliaan Yesus tidak terlepas dari “pengosongan diri”-Nya. (Flp 2:5-11)

Perihal suatu hari Co- Redemptrix diangkat menjadi Dogma, atau tidak, tidak terlalu menjadi masalah bagi kita yang mengetahui prinsip ajarannya. Persatuannya dengan Kristus sepanjang hidupnya, menjadikan Maria layak disebut ‘rekan sekerja Allah’, namun karena perannya yang istimewa dengan ketaatan imannya sebagai ibu Yesus sejak menerima kabar gembira sampai berdiri di kaki salib Kristus, ia memang layak disebut Co- Redemptrix. Kita mengetahui sebutan Co-Redemptrix ini tidak untuk menyamakan peran Maria dengan peran Yesus, namun di saat yang sama kita mengakui dengan rendah hati bahwa memang peran Maria tidak akan pernah sama dengan peran manusia manapun dalam menjadi ‘rekan sekerja Allah’ dalam karya Allah menyelamatkan dunia.

Tuhan Yesus, bukakan mata hati kami untuk melihat betapa layaklah kami belajar dari teladan Ibu-Mu, untuk dengan taat menyerahkan diri kami seutuhnya kepada-Mu, agar kamipun dapat Engkau jadikan ‘kawan sekerja-Mu’ untuk menyelamatkan dunia ini.  Amin.”

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab