Home Blog Page 274

Ekaristi sebagai sakramen pemersatu

2

Pertanyaan:

terima kasih romo atas jawabanya? Tuhan sayang kita semua. ini saya mau tanya lagi:

1. apa sih Unsur-unsur pemersatu dalam Ensiklik Eclesia de Eucharisti art 23 gimana?
2. apa yang dimaksud dengan Ekaristi sebagai sakramen pemersatu?

Fr. Yarid

Jawaban:

Shalom Frater Yarid,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang Ekaristi. Mari kita melihat Ecclesia de Eucharistia (EE / Gereja Ekaristi), secara khusus EE, 23, dimana dikatakan:

23. Eucharistic communion also confirms the Church in her unity as the body of Christ. Saint Paul refers to this unifying power of participation in the banquet of the Eucharist when he writes to the Corinthians: “The bread which we break, is it not a communion in the body of Christ? Because there is one bread, we who are many are one body, for we all partake of the one bread” (1 Cor 10:16-17). Saint John Chrysostom’s commentary on these words is profound and perceptive: “For what is the bread? It is the body of Christ. And what do those who receive it become? The Body of Christ – not many bodies but one body. For as bread is completely one, though made of up many grains of wheat, and these, albeit unseen, remain nonetheless present, in such a way that their difference is not apparent since they have been made a perfect whole, so too are we mutually joined to one another and together united with Christ”.42 The argument is compelling: our union with Christ, which is a gift and grace for each of us, makes it possible for us, in him, to share in the unity of his body which is the Church. The Eucharist reinforces the incorporation into Christ which took place in Baptism though the gift of the Spirit (cf. 1 Cor 12:13, 27).

The joint and inseparable activity of the Son and of the Holy Spirit, which is at the origin of the Church, of her consolidation and her continued life, is at work in the Eucharist. This was clearly evident to the author of the Liturgy of Saint James: in the epiclesis of the Anaphora, God the Father is asked to send the Holy Spirit upon the faithful and upon the offerings, so that the body and blood of Christ “may be a help to all those who partake of it … for the sanctification of their souls and bodies”.43 The Church is fortified by the divine Paraclete through the sanctification of the faithful in the Eucharist.

Maaf, saya tidak mempunyai terjemahan Bahasa Indonesianya, mungkin Fr. Yarid telah punya dokumen tersebut dalam edisi Bahasa Indonesia. Nanti saya coba cari terjemahan resmi Bahasa Indonesia dari dokumen ini dan kemudian saya akan masukkan di sini. Dari paragraf di atas, maka kita dapat melihat beberapa hal yang penting, seperti: 1) Ekaristi sebagai pemersatu antara Kristus dan Gereja atau Tubuh Kristus, 2) Ekaristi mempersatukan masing-masing anggota di dalam Gereja, 3) Di dalam Ekaristi, Gereja dipersatukan dengan Tritunggal Maha Kudus. Dengan demikian jelas sekali, mengapa Sakramen Ekaristi disebut Sakramen Pemersatu, karena mempersatukan Gereja dengan Kristus, Trinity, dan antara anggota. Hal ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

1) Ekaristi sebagai pemersatu tubuh Kristus dapat dilihat juga dari definisi Sakramen Ekaristi sebagai kurban Gereja, dimana Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1368) mengatakan

Ekaristi adalah juga kurban Gereja. Gereja, Tubuh Kristus, mengambil bagian dalam kurban Kepalanya. Bersama Dia ia sendiri dipersembahkan seluruhnya. Ia mempersatukan diri dengan doa syafaat-Nya kepada Bapa untuk semua manusia. Di dalam Ekaristi, kurban Kristus juga menjadi kurban anggota-anggota tubuh-Nya. Kehidupan umat beriman, pujian, kesengsaraan, doa dan karyanya dipersatukan dengan yang dimiliki Kristus dan dengan penyerahan diri-Nya secara menyeluruh, sehingga mendapat satu nilai baru. Kurban Kristus yang hadir di atas altar memberi kemungkinan kepada semua generasi Kristen, untuk bersatu dengan kurban-Nya.Di dalam katakombe, Gereja sering digambarkan seperti wanita yang sedang berdoa, dengan Lengan terbuka lebar, dalam sikap seorang Orante [sikap seorang berdoa]. Ia mengurbankan diri seperti Kristus, yang merentangkan tangan di salib, oleh Dia, bersama Dia, dan dalam Dia, dan mendoakan kepentingan semua manusia. (llih. KGK, 618, 2031, 1109)”

Dari KGK, 1368 dan EE, 23, maka kita dapat melihat bahwa di dalam Ekaristi terjadi persatuan kurban antara Gereja, sebagai Tubuh Mistik Kristus dan Kristus sendiri, sebagai kepala Gereja. Dengan demikian persatuan Kurban ini menjadikan Kristus dan Gereja sebagai kurban yang tak terpisahkan, dimana Kristus sendiri membawa Gereja – sebagai mempelai wanita yang kudus dan tak bercela. Dan ini ditegaskan oleh rasul Paulus, yang mengatakan “supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.” (Ef 5:27).

Dan kalau Ekaristi adalah menghadirkan kembali misteri Paskah Kristus, maka kita juga mengingat bahwa Gereja lahir pada waktu darah dan air mengalir dari lambung Kristus. ((lih. Pius XII, Mystici Corporis Christi, 26, Christ began the building of the mystical body of Christ by His preaching of the kingdom of God and His precepts; He completed it on the cross; manifested and proclaimed it when He sent the Holy Spirit on the day of Pentecost. Thus in the cross, when the blood and water flows from His side, the Church is already conceived, and later finds its full manifestation in the Pentecost.)) Oleh karena itu, Gereja yang dilahirkan dari misteri Paskah Kristus tidak akan mungkin hancur dan terpisahkan dari Kristus, karena Kristus sendiri berjanji untuk melindungi Gereja-Nya, sehingga alam maut tidak akan menguasainya (lih. Mt 16:18).

2) Ekaristi juga mempersatukan masing-masing umat dalam Gereja. Persatuan masing-masing anggota tubuh Gereja, yang diumpakan sebagai tubuh yang mempunyai banyak anggota (lih. 1 Kor 12:12), hanya mungkin terjadi karena seluruh anggota diikat oleh Sang Kepala, yaitu Kristus. Hal ini sama seperti seluruh tubuh manusia diatur dari kepala. Oleh karena itu, semua umat yang berpartisipasi dalam Kurban yang sama, makan dan minum dari piala yang sama, diikat oleh Kristus sendiri. Rasul Paulus menegaskan “Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.” (1 Kor 10:17).

Dan KGK, 1396 menegaskan “Siapa yang menerima Ekaristi, disatukan lebih erat dengan Kristus. Olehnya Kristus menyatukan dia dengan semua umat beriman yang lain menjadi satu tubuh: Gereja. Komuni membaharui, memperkuat, dan memperdalam penggabungan ke dalam Gereja, yang telah dimulai dengan Pembaptisan. Di dalam Pembaptisan kita dipanggil untuk membentuk satu tubuh (Bdk. 1 Kor 12:13.). Ekaristi melaksanakan panggilan ini: “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu” (1 Kor 10:16-17):
“Kalau kamu Tubuh Kristus dan anggota-anggota-Nya, maka Sakramen yang adalah kamu sendiri, diletakkan di atas meja Tuhan; kamu menerima Sakramen, yang adalah kamu sendiri. Kamu menjawab atas apa yang kamu terima, dengan “Amin” [Ya, demikianlah] dan kamu menandatanganinya, dengan memberi jawaban atasnya. Kamu mendengar perkataan “Tubuh Kristus”, dan kamu menjawab “Amin”. Jadilah anggota Kristus, supaya Aminmu itu benar” (Agustinus, serm. 272).

3) Dalam Sakramen Ekaristi, Gereja dipersatukan dengan Tritunggal Maha Kudus. Karena Ekaristi adalah misteri paskah yang sama 2000 tahun yang lalu, maka penderitaan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus dihadirkan kembali di dalam waktu, pada saat ini. Oleh karena misteri Paskah adalah merupakan persembahan Yesus kepada Allah Bapa, yang didasari oleh kasih yang sempurna, maka persembahan ini menjadi pertukaran kasih antara Allah Bapa dan Allah Putera. Dan pertukaran kasih yang sempurna, yang dimanifestasikan di kayu salib melahirkan Roh Kudus, yang dimanifestasikan secara nyata pada peristiwa Pentakosta. Oleh karena itu, kalau Gereja, sebagai Tubuh Mistik Kristus turut mengambil bagian dalam Kurban Kristus dan dipersatukan oleh Kristus dalam setiap Korban Ekaristi, maka Gereja juga dipersatukan dengan Tritunggal Maha Kudus. Persatuan Gereja dengan Allah Roh Kudus terjadi karena Kristus. Kalau Kristus adalah Kepala Gereja, maka Roh Kudus adalah jiwa Gereja. Sama seperti Pentakosta terjadi setelah misteri paskah (penderitaan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus), maka Roh Kudus senantiasa tercurah kepada seluruh umat Allah pada saat mereka berpartisipasi dalam setiap perayaan Ekaristi.

Dari keterangan di atas, maka sangatlah jelas, bahwa persatuan 1) Gereja dengan Kristus, 2) antara anggota Gereja, 3) Gereja dengan Tritunggal Maha Kudus, hanya dimungkinkan karena Kristus sendiri melalui misteri Paskah Kristus. Dan karena Sakramen Ekaristi menghadirkan kembali misteri paskah ini, maka persatuan yang disebutkan di atas terjadi dalam setiap perayaan Ekaristi. Semoga keterangan ini dapat membantu. Silakan juga membaca beberapa artikel di sini (silakan klik). Semoga Tuhan senantiasa memberkati perjalanan Fr. Yarid sehingga dapat menjadi pastor yang kudus.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

NB: Saya bukan seorang Romo, namun seorang awam.

Kepemimpinan seorang imam menurut Vatikan II (Presbyterorum Ordinis)

0

Pertanyaan:

selamat berapa saja untuk Rm. Wanta, Pr. ada beberapa pertanyaan berhubungan dengan tesis saya:
1. Kepemimpinan seorang imam yang berpihak kepada kaum miskin itu yang bagaimana? saya bertolak dari PO no. 6.
2. manakah pokok-pokok penting PO no.6 yang berhubungan dengan kepemimpinan seorang imam dengan kaum miskin.

Salam – Fr. Yarid K. Munah

Jawaban:

Shalom Frater Yarid,

Terima kasih atas kunjungan dan pertanyaannya sehubungan dengan kepemimpinan seorang imam. Dalam keterbatasan saya, saya akan coba jawab pertanyaan ini, berhubung Romo Wanta menjawab hal-hal yang berkaitan dengan Kitab Hukum Gereja. Mari kita membahas pertanyaan-pertanyaan ini yang berhubungan dengan dokumen Vatikan II – Dekrit tentang pelayanan dan kehidupan para iman (Presbyterorum Ordinis, 6). Dua pertanyaan berikut ini saya gabung, karena kedua pertanyaan ini hampir sama.

1. Kepemimpinan seorang imam yang berpihak kepada kaum miskin itu yang bagaimana? saya bertolak dari PO no. 6.

2. Manakah pokok-pokok penting PO no.6 yang berhubungan dengan kepemimpinan seorang imam dengan kaum miskin.

1) Mungkin ada baiknya kita perlu mendefinisikan tentang kata “kemiskinan”. Apakah kemiskinan di sini adalah miskin secara jasmani ataukah miskin juga secara rohani. Saya melihat bahwa kemiskinan di sini tidak dibatasi pada kemiskinan jasmani, namun terutama adalah rohani. Seorang imam bukanlah seorang pekerja sosial yang bertugas untuk meningkatkan kualitas hidup komunitas secara material. Namun, secara spesifik, seorang imam harus mampu membawa umat kepada Yesus dan mengantar seluruh umat yang dipercayakan kepadanya ke dalam Kerajaan Sorga dengan selamat.

2) Oleh karena itu, seorang imam harus meneruskan tiga misi Kristus: sebagai nabi, imam dan raja yang dipercayakan kepada Gereja-Nya, Tubuh Mistik Kristus. Imam mengemban tiga tugas ini secara spesial, karena imam juga bertindak dalam nama Kristus (in persona Christi), terutama dalam Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat. Dan seorang imam juga harus membantu seluruh umat beriman untuk menjalankan tiga misi Kristus ini dalam kapasitas mereka masing-masing.

3) Di dalam PO, 4-6 dijabarkan tentang tugas para imam sebagai nabi (PO, 4), imam (PO, 5), dan raja (PO, 6). Dalam kaitannya tugas imam sebagai raja, maka seorang imam harus terlebih dahulu menjadi nabi dan imam. Hal ini disebabkan sebagai raja, yang pemimpin umat, harus dilandasi pada tugas imam sebagai nabi yang mewartakan kebenaran dan tugas imam sebagai imam yang membawa umat kepada Kristus, terutama lewat sakramen-sakramen. Seorang imam tidak dapat melayani umat tanpa berlandaskan kebenaran dan sakramen-sakramen. Bahkan tugasnya sebagai raja harus membawa umat kepada kebenaran dan kepada sakramen-sakramen, karena keduanya bermuara dan bersumber pada Kristus sendiri.

4) Dalam hubungan imam yang harus bertindak sebagai pemimpin dan kaum miskin, maka berikut ini adalah pokok-pokok yang dapat saya pikirkan:

a) Kalau kita mendefinisikan kemiskinan tidak terbatas pada kemiskinan jasmani, namun termasuk kemiskinan rohani, maka kita akan dapat mengupasnya dengan lebih baik. Kemiskinan adalah satu kekurangan. Dalam kemiskinan jasmani, maka seseorang kurang akan hal-hal yang berhubungan dengan badani, material. Namun, kemiskinan rohani adalah jauh lebih parah, karena senantiasa berhubungan dengan jiwa, yang bersifat kekal dan spiritual, yang lebih utama daripada sesuatu yang bersifat jasmani. Kemiskinan rohani senantiasa akan berkaitan dengan dosa.

b) Dalam kaitannya dengan dosa inilah, maka semua orang pada dasarnya adalah miskin di hadapan Allah. Bahkan St. Agustinus mengatakan bahwa kita semua adalah pengemis di hadapan Allah. Untuk itulah, sebagai pemimpin umat, imam harus mengantar umat kepada Allah Bapa, dengan kuasa rohani yang diberikan untuk membangun umat. Sebagai pemimpin yang baik, maka seorang imam harus menyatakan kebenaran tanpa kompromi, walaupun harus disertai dengan kebijaksanaan dalam menyampaikannya.

c) Sebagai pemimpin, maka seorang imam harus dapat melihat semua potensi yang ada di dalam komunitasnya, sehingga masing-masing umat dapat berpartisipasi dalam pertumbuhan kehidupan kristiani. Dalam kapasitasnya yang harus membela yang miskin, maka seorang imam harus memotivasi orang-orang yang kaya (baik dari sisi materi, waktu, maupun bakat) untuk membantu orang-orang yang miskin. Dan semua dinamika ini adalah untuk mengantar semua umat kepada kekudusan atau kedewasaan kristiani.

d) Paragraf 3 dari PO, 6 menyinggung tentang bagaimana seorang imam harus bertanggung jawab terhadap kaum miskin dan lemah. Dan lebih lanjut di paragraf yang sama, menekankan perlunya perhatian kepada kaum muda, dll. Intinya adalah semua elemen dalam komunitas harus saling membantu dan tugas dari imam adalah untuk memotivasi agar semua bagian dari komunitas turut membangun Gereja berdasarkan cinta kasih.

e) Dengan dasar yang sama, maka seorang imam juga harus melihat kaum miskin dan kaum yang tertindas dan dikesampingkan bukan hanya di dalam lingkungan komunitasnya (gereja lokal), namun juga gereja secara global, karena semuanya adalah terikat dalam Tubuh Kristus yang sama.

f) Yang dapat juga digolongkan dalam kaum miskin adalah orang-orang yang berada di dalam katekumen dan baptisan baru, karena mereka masih belum tahu secara persis kebenaran Kristus dan Gereja-Nya atau masih perlu bimbingan untuk dapat menerapkan pengajaran Gereja Katolik dalam hidup sehari-hari. Oleh karena itu, seorang imam harus memberikan perhatian yang lebih kepada mereka.

g) Dan akhirnya, PO, 6 kembali menekankan bahwa semua kegiatan komunitas harus bersumber pada perayaan Ekaristi Kudus, karena Ekaristi Kudus adalah merupakan sumber dan puncak kehidupan kristiani. Inilah sebabnya untuk dapat melaksanakan tugasnya sebagai raja yang baik, imam harus dapat melaksanakan tugasnya sebagai imam dan nabi dengan baik.

h) Kekudusan bersumber pada Ekaristi Kudus. Oleh karena itu, semakin besar partisipasi umat dalam Ekaristi Kudus dan sakramen-sakramen yang lain, maka semakin umat terbina dalam kekudusan. Dan pada akhirnya kekudusan ini adalah cara yang paling efektif dalam menyebarkan Kristus kepada seluruh lapisan masyarakat. Seorang imam dengan kapasitasnya sebagai imam harus memberikan pelayanan kepada imam bersama atau umat yang telah dibaptis (silakan lihat Lumen Gentium), sehingga imam bersama mendapatkan kekuatan untuk dapat menjadi saksi Kristus yang efektif dalam komunitasnya masing-masing.

i) Paragraf terakhir daro PO, 6 menekankan sekali lagi akan supremasi spiritual dibandingkan dengan badani, yaitu dengan menekankan pentingnya seorang imam untuk dapat menjadi gembala yang baik dan membawa domba-domba kepada Kristus, Sang Gembala Agung.

Semoga uraian di atas dapat membantu Frater Yarid. Ada baiknya juga untuk membaca beberapa dokumen: 1) St. Gregory I the Great, Pope (540-604) dalam tulisannya “The Pastoral Rule“, 2) Pope John Paul II – Pastores Dabo Vobis. Mohon doa juga dari Frater Yarid, agar katolisitas.org dapat menjadi alat Tuhan untuk menyebarkan kebenaran Kristus dan Gereja-Nya. Doa saya dan seluruh tim, agar Frater Yarid dapat terus bertekun, sehingga Frater dapat menjadi seorang imam yang kudus.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – https://katolisitas.org

Tentang Novena Tiga Salam Maria

115

Pertanyaan:

Shalom,
Saya seorang Katolik yang boleh dikatakan “KTP”, mungkin dikarenakan status saya yang telah dibaptis semenjak bayi. Saya mempunyai pacar seorang Protestan, yang menurut saya sejak bersama dia, iman saya semakin bertambah, saya menjadi semakin dekat dengan Tuhan dan Gereja Katolik. Melalui setiap pertanyaan dan pemikiran dari padanya mengenai agama Katolik yang harus dapat saya jawab. Dengan harapan dia juga bisa merasa terpanggil untuk masuk gereja Katolik dan bersama membangun keluarga Katolik yang bahagia. Banyak artikel dari web ini yang begitu membantu saya, sehingga saya dapat memahami agama Katolik yang saya yakini dengan lebih baik lagi. Pada kali ini, kendala yang saya hadapi yaitu mengenai Novena Tiga Salam Maria.

Pacar saya menanyakan:
1. mengapa di doa novena itu sedemikian panjangnya dan mengapa doa salam maria harus diulang sebanyak itu? Bukankah dalam sebuah doa itu yang terpenting adalah keyakinan dan keteguhan hati?
2. mengapa dalam doa novena sampai harus disebutkan nama santo-santa yang mengenalkan doa novena tersebut? Apakah ini menjadi hal yang penting?

Menghadapi pertanyaan tersebut saya hanya bisa mengibaratkan bahwa doa novena laiknya kita melakukan upacara bendera… Mungkin banyak dalam prosesi tersebut yang tidak kita ketahui maknanya namun tetap kita lakukan karena itu sudah menjadi bagian dari prosesi tersebut. Namun dia dan saya pribadi juga merasa kurang puas terhadap jawaban yang sudah saya berikan. Kiranya Bu Inggrid / Pak Stef / Rm. Wanta bisa memperjelasnya.
Terima kasih, Tuhan memberkati. Bernardus

Jawaban:

Shalom Bernardus,

Kami bersyukur jika website ini dapat membantu anda untuk dapat semakin mengenal iman Katolik. Berikut ini adalah yang dapat saya sampaikan tentang pertanyaan anda/ pacar anda:

1. Mengapa doa novena Tiga Salam Maria itu panjang dan mengapa doa Salam Maria diulang-ulang?  Bukankah dalam sebuah doa itu yang terpenting adalah keyakinan dan keteguhan hati?

Menurut ajaran Gereja Katolik, doa pada dasarnya adalah “Ayunan hati, suatu pandangan sederhana ke surga, satu seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan.” (KGK, 2558-2559, mengutip St. Teresia kanak-kanak Yesus). Dari definisi ini, maka disposisi/ sikap hati menjadi suatu yang penting. Maka selain dari keyakinan dan keteguhan hati, yang terpenting sebenarnya adalah kasih di dalam hati kita kepada Tuhan. Kasih kepada Tuhan inilah yang mendasari setiap devosi. Jika kita mengasihi Kristus, maka ada dorongan yang kuat di dalam hati kita untuk mengasihi pula setiap anggota Tubuh Mistik-Nya, yaitu khususnya para orang kudus yang telah bersatu dengan-Nya di surga, dan terutama di sini adalah Bunda Maria, yang telah diberikan oleh Yesus untuk menjadi ibu kita juga (Yoh 19: 26- 27).

Maka meskipun kelihatannya panjang, Novena Tiga Salam Maria itu sebenarnya tidak panjang bagi orang yang mendoakannya dengan kasih. Sama seperti jika anda menghabiskan waktu yang panjang dengan pacar anda untuk berbincang-bincang hal yang sama (misalnya tentang bagaimana anda mengasihinya) dan tidak bosan, demikian pula di dalam doa, meskipun panjang, namun kalau didoakan dengan kasih, seharusnya tidak terasa panjang dan membuat bosan. Perkataan yang ada jangan dianggap sebagai perkataan dalam”upacara”, karena jika dihayati maksudnya adalah kita mengucapkan ketergantungan kita kepada Allah dan kepada dukungan doa dari Bunda Maria. Diucapkan berulang, maksudnya juga antara lain melatih kita untuk berdoa dengan setia, dan untuk menunjukkan kesungguhan hati kita. Dalam doa novena, memang biasanya boleh disebutkan ujud permohonan, dan sebenarnya pengulangan penyebutan permohonan tersebut menyadarkan kita akan segala keterbatasan dan kelemahan kita dan bahwa kita sungguh membutuhkan pertolongan dari Allah.

Selanjutnya tentang doa berulang, silakan membaca di jawaban ini, silakan klik

2. Mengapa dalam doa novena sampai harus disebutkan nama santo-santa yang mengenalkan doa novena tersebut? Apakah ini menjadi hal yang penting?

Sebenarnya doa bagi umat Katolik adalah komunikasi dengan Allah. Namun karena doa tersebut pada hakekatnya adalah “Ayunan hati dan pandangan ke surga”, maka, kita mengetahui bahwa di surga itu Allah dikelilingi oleh para kudus-Nya. Maka pandangan kita ke surga juga sebenarnya tak lepas dari pandangan kita kepada persekutuan para kudus yang memang tak henti-hentinya berdoa bagi kita yang masih berziarah di dunia. Diskusi lebih lanjut tentang persekutuan para kudus ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik, dan di sini, silakan klik.

Maka penyebutan akan nama Santo dan Santa yang menyebarkan devosi Tiga Salam Maria di dalam doa itu sendiri maksudnya adalah untuk mengingat jasa mereka yang mengajarkan doa novena ini, yang akhirnya banyak membantu banyak orang menerima pertolongan dari Tuhan melalui doa- doa Bunda Maria. Juga penyebutan nama-nama mereka sebenarnya untuk mengingatkan kita bahwa merekapun adalah para sahabat kita yang akan turut mendoakan kita. Bersama dengan mereka kita menghormati Bunda Maria, yang akan membawa ujud doa kita ke hadapan Tuhan.

Sebenarnya, jika kita bisa melihat para kudus itu sebagai para sahabat Yesus yang bekerjasama dengan Yesus untuk membawa banyak jiwa kepada keselamatan, maka kita akan dapat semakin memahami dan menghargai ajaran mengenai persekutuan para kudus ini. Sebab sebenarnya Tuhan Yesus tidak hanya menghendaki kita membatasi diri pada hubungan pribadi diri kita masing-masing dengan Dia (“hanya aku dengan Tuhan”) tetapi Ia menghendaki agar kita, selain datang sebagai pribadi, kita juga datang kepada-Nya dalam kesatuan bersama-sama dengan saudara/i seiman, sebagai sesama anggota Tubuh-Nya (“kami dengan Tuhan”). Itulah sebabnya dalam mengajarkan cara berdoa kepada para rasul, Yesus mengajar kita memanggil Allah sebagai “Bapa Kami” bukan “Bapa saya”.

Maka penyebutan nama para Santo/ Santa di dalam doa tidaklah ‘mengurangi’ hormat kita kepada Tuhan, bahkan sebaliknya, malah semakin memuliakan-Nya. Karena kita tidak datang sendiri, tetapi bersama- sama dengan para kudus itu ke hadirat Tuhan, dengan harapan bahwa Tuhan akan berkenan mengabulkan doa kita yang dipanjatkan dengan dukungan para sahabat-Nya yang sudah bersatu dengan-Nya di surga. Ini hampir sama dengan kita minta agar anggota keluarga, teman atau Romo/ pendeta mendoakan kita. Tentu kita senang jika ada orang yang mau mendoakan kita, bukan? Namun biar bagaimanapun juga, mereka yang masih hidup di dunia ini tidak sempurna, dan sama-sama berdosa seperti kita; sedangkan para kudus yang sudah bersatu dengan Kristus di surga, sudah menjadi sempurna, karena telah bersatu dengan Kristus sendiri. Maka ayat Yak 5:16, “Doa orang benar besar kuasanya” itu sungguh berlaku dalam diri para kudus itu, sebab mereka adalah orang-orang yang sudah dibenarkan oleh Tuhan.

Demikianlah Bernardus, yang dapat saya tuliskan sehubungan dengan pertanyaan anda. Saya berharap bahwa tulisan ini menjawab pertanyaan anda/ pacar anda. Jika masih ada yang kurang jelas, silakan bertanya kembali, dan saya akan berusaha menjawabnya.

Aku berubah

27

Berikut ini adalah kesaksian dari salah seorang pembaca kami, Santi, seorang wanita karier yang sukses. Dengan kejujuran yang terkesan ‘blak-blakan’ ia mengisahkan pengalamannya sebelum ia bertobat dan mengalami hidup yang baru bersama Yesus. Ya, siapapun sebenarnya dapat mengalami pengalaman yang serupa dengan yang dialami oleh Santi. Kita memang bisa salah menilai diri sendiri, namun Tuhan tidak pernah salah menilai diri kita. Oleh karena itu, adakalanya memang Tuhan mengizinkan sesuatu terjadi di dalam hidup kita untuk mengingatkan bahwa kita sungguh-sungguh tergantung kepada-Nya.

Simaklah kesaksian ini, dan temukanlah bersama dengan Santi, bahwa kita semua adalah seumpama bejana di tangan Sang Perupa, yaitu Allah sendiri. Tuhan-lah Sang Pencipta yang membentuk kita, hidup kita ada di tangan-Nya. Segala yang ada pada kita adalah pemberian-Nya, dan suatu saat semua akan kembali kepada-Nya.

Sebab demikianlah firman-Nya, “Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini … Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tanganKu …! (Yer 18:6)

Lahir baru, transformasi, enlightened, atau apapun istilahnya, terserah. Yang penting intinya adalah diubah atau berubah, atau membuat sesuatu menjadi berbeda. Itulah yang aku alami. Aku merasa diubah. Dulu aku suka marah, mudah tersinggung, sombong, pilih kasih, cemberut, khawatir, penakut, tidak mudah memaafkan. Sekarang? Aku tidak menyangka bahwa aku sendiri enggan bergaul dengan diriku yang seperti itu. Aku iba pada teman, kolega dan saudaraku, yang selama ini ‘stuck with me’.

Ternyata, Tuhan memang penuh kasih dan sabar, karena Dia ingin aku menjadi pemenang. Aku diproses sedemikian rupa, sehingga aku mau mengakui semua keburukan itu di hadapan Dia, dan berubah. Meskipun Dia harus menunggu 40 tahun!

Dulu, aku paling frustasi dengan pengendara mobil di jalan tol, yang berada di jalur paling kanan, dengan kecepatan kurang dari 60km/ jam. Pertama, sudah jelas itu melanggar batas minimum kecepatan di jalan tol. Kedua, jalur paling kanan hanya untuk kendaraan yang akan mendahului dan dengan kecepatan rata-rata 100km/jam.

Setiap kali aku bertemu dengan pengendara model begini, aku akan segera menguntit tepat di belakangnya, dan membunyikan klaksonku keras-keras! Jika malam hari, aku akan menyalakan lampu sorot, selama beberapa saat, dengan penuh amarah. Hasilnya……sebagian besar pasti minggir! Horee! Menang aku!Jelas harus menang, karena aku benar. Mereka itu yang tolol! Peraturannya saja jelas. Bahkan sampai ditulis di papan jalan.

Sejak sekolah, aku selalu punya sahabat. Mulai dari sekolah dasar hingga kuliah. Demikian juga di tempat kerja. Sahabat berganti-ganti tentunya. Nah, meskipun punya banyak sahabat, tetapi aku mudah bosan. Jadi, jika punya sahabat baru, yang lama biasanya aku tinggalkan saja, atau kemudian jarang lagi aku hubungi. Biasanya aku merasa bersalah, tapi ketika aku sudah bergaul dengan sahabat baruku, rasa bersalah itu hilang. Begitu terus yang terjadi bertahun-tahun.

Di Indonesia ini, seringkali kita mendapati bahwa hak-hak kita sebagai konsumen, tidak dipenuhi dengan benar oleh para penyedia barang dan jasa, yang sudah kita bayar. Betul ya? Nah, hal ini sangat membuat aku frustasi juga. Sehingga kapanpun ada kesempatan, aku selalu gunakan untuk memastikan bahwa aku mendapatkan hak itu. Apakah itu pada saat melakukan perjalanan udara, makan di rumah makan, berhubungan dengan pelayanan bank, service apartemen, supir taksi, rumah sakit. Semuanya! Aku protes, aku marah-marah, dan aku merasa bangga, karena aku membela hakku dan hak orang lain yang tidak punya nyali sebesar aku! Aku bahkan punya blog yang judulnya ‘go-blog’. Isinya – sudah bisa ditebak – pengalaman kegoblog-an banyak orang yang aku temui.

Selama ini, aku merasa diri tidak cantik, tidak seksi, tidak menarik, sehingga tidak ada pria yang suka dengan aku. Aku merasa bahwa orang tuaku yang sangat keras mendidikku, adalah penyebab sifat rendah diriku ini. Apalagi, banyak sekali teman wanita ku yang lebih disukai pria daripada aku. Akhirnya pelarianku adalah menggunakan kepandaianku. Kepiawaianku berpidato, berargumentasi, menulis, dan luasnya wawasanku, hasil dari buku-buku yang selalu aku lalap.

Di tempat kerja aku dikenal sebagai salah satu karyawan pandai dan cemerlang. Aku sering terbayang ekspresi orang lain ketika mendengarku berbicara atau membaca tulisanku…..kagum! Tentu saja hal ini membuatku sangat sadar bahwa aku pandai, karena aku berasal dari keturunan pandai. Banyak anggota keluarga besarku, menjadi orang penting di pemerintahan, di kampus, di masyarakat. Itu yang menyebabkan aku mudah sekali tersinggung ketika ide-ideku diabaikan, atau aku diberi tanggung jawab kecil. Aku pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk membuatnya menjadi besar, sehingga aku diperhatikan dan statusku sebagai orang pandai, terjaga. Aku ingat betapa busuknya tingkah laku dan ucapanku, ketika aku merasa diabaikan.

Selama bertahun-tahun, reputasi ini aku perjuangkan, pertahankan dan pertontonkan, kapanpun aku punya kesempatan.Reputasi inilah yang aku pakai sebagai senjataku dalam hidup. Supaya ‘eksis’, kata anak jaman sekarang…..

Di bangku sekolah, di tempat kerja, di klub sosial, aku berinteraksi dan bergaul dengan orang-orang yang ‘mengagumi’ aku. Aku merasa di atas angin, setiap kali aku mengajukan pertanyaan cemerlang, argumentasi tajam, termasuk kritik dan sindiran, karena sudah pasti banyak mengundang kekaguman. Dan aku tidak hanya pandai dalam semua itu, tetapi juga kaya dengan cerita dan pengalaman lucu, sehingga aku merasa makin berkibar. Aku percaya bahwa kesuksesanku dalam hidup adalah karena kepandaianku itu.

Karena aku merasa di atas angin itu, semua hal atau orang yang menurutku tidak atau kurang pandai, menjadi hal-hal yang sangat membuat hidupku terganggu. Kok ada manusia tidak pandai dan dibiarkan begitu terus, mengganggu orang yang pandai.

Hingga suatu saat, aku tertumbuk pada sesuatu.Aku tidak merasa kepandaianku membuatku tenang. Tiba-tiba, aku merasa tidak lagi pandai! Karena kalau pandai, tidak mungkin aku tidak bahagia. Logikaku langsung berontak. Ah, tidak mungkin semua kesuksesan yang aku perjuangkan bertahun-tahun membuatku putus asa. Apa yang terjadi???? Aku merasa tidak damai, tidak sukacita, tidak sehat secara mental, aku bingung. Bagaimana bisa? Aku pandai, karirku cemerlang, semua orang hormat padaku. Aku berjuang untuk orang lain. Aku ‘mendidik’ orang lain supaya lebih ‘benar’. Mana upahku? Kenapa aku tidak tenang?

Aku lalu mulai bergumul. Bertanya, berkonsultasi, berdoa, membaca, mencari jawaban atas pertanyaan itu. Bertahun-tahun aku tidak berhasil menemukan jawaban yang memuaskan. Sementara hidup berjalan terus. Perjuangan untuk tetap diakui, senantiasa aku lakukan. Sesekali puas, tenang, tapi seringkali juga frustasi, marah dan kecewa. Aku pikir, ya begitulah hidup, naik-turun, lurus, belok. Biasa.

Tuhan kemudian mempertemukanku kembali dengan teman sekolah, yang ternyata merupakan awal perubahan diriku.Temanku ini mengenalkan aku lebih jauh kepada Tuhan. Lewat kesaksian hidupnya, lewat doa, lewat kitab suci dan ajaran-ajaran orang lain kepada dia. Sejak itu aku memulai sendiri perjalananku dengan Tuhan. Aku mulai mendisiplinkan diri berdoa, membaca kitab suci, mendengarkan lagu-lagu rohani dan rekaman kotbah.

Pelan-pelan, hatiku mulai terbuka. Pikiranku mulai terbuka. Dan semua yang aku lakukan selama ini, terpapar dengan jelas di depanku, dan aku menyesalinya! Bagaimana bisa aku sebodoh itu, selama puluhan tahun! Pantas aku tidak damai dan sukacita. Hati dan pikiranku diisi dengan amarah dan frustasi. Dengan orientasi pada kesalahan orang lain. Membawa misi mementingkan diri sendiri. Aku ternyata tidak berjuang untuk orang lain, melainkan untuk diriku sendiri ! Karena aku tidak nyaman, karena hakku tidak dipenuhi, karena aku geram, karena aku diremehkan, karena aku….aku…..aku…..aku ! Untung saja aku tidak pernah menabrak mobil yang aku intimidasi di jalan tol, padahal jarak bumper depan mobilku pendek sekali dari bumper belakang mobil di depanku. Jika Tuhan mau, bisa saja tiba-tiba mobil di depan berhenti mendadak. Untung saja, blog ku tidak diboikot. Untung saja, sahabat-sahabat yang aku tinggalkan tidak balas dendam padaku. Untung saja makananku di rumah makan tidak diracun oleh pramusajinya. Untung aku tidak dipecat, atau minimal disingkirkan dari posisiku.

Pantas, tidak ada pria yang suka denganku.Takut…..

Untung, Tuhan segera bertindak. Sebelum aku makin hancur, karena aku membiarkan setan mempengaruhi aku dan memenangkan haknya! Aku kan juga anak-Nya, yang dikasihiNya, yang diciptakan-Nya untuk memuliakan namaNya. Dia menunggu dengan sabar dan penuh kasih. Ketika aku terlalu lama tuli, Dia mengirimkan utusan-Nya: teman sekolahku itu. Dia menghindarkan aku dari celaka. Dan pada saat yang tepat Dia menunjukkan diriNya padaku.

Tuhan kemudian memproses aku perlahan. Aku dibuatNya menangis bermalam-malam, karena kesepian. Aku diijinkanNya makin tidak tenang, mimpi buruk, dan makin emotional. Hingga akhirnya aku diajari untuk menyerah. Pasrah. Mengosongkan semua pikiran dan logikaku. Aku dibuat tidak pandai! Aku diingatkan pada ajaran Rasul Petrus tentang kesombongan, “Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (1 Pet 5:5) Atau ajaran Rasul Paulus, “…. Supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri…. Sebab siapakah yang menganggap kamu begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engakau terima?” (1 Kor 4:6-7) Bagaimana bisa aku sombong? Padahal, semuanya yang ada padaku itu kuterima dari Tuhan, itu gratis diberikan kepadaku! Semuanya itu pemberian, dan bukan berasal dari diriku sendiri. Artinya jika semua itu diambil kembali oleh Tuhan, bisa apa aku?

Ketika aku tidak pandai, baru aku bisa menyadari hal lain. Bahwa selama ini aku menghargai diriku terlalu tinggi. Dan akhirnya aku hanya mengandalkan diriku saja. Aku berjuang sendiri, berpikir sendiri, memutuskan semuanya sendiri. Aku sepertinya tidak membutuhkan bantuan Tuhan. Toh, semuanya berjalan baik dan sukses! Pantas aku kesepian. Meskipun pengagumnya banyak. Meskipun karirku bagus. Meskipun aku selalu berkecukupan secara materi.

Pantas aku mudah tersinggung, karena aku selalu mengukur semuanya menggunakan ‘harga’ itu tadi. Ketika ‘harga’ itu ‘ditawar’ oleh situasi, pengalaman, perilaku orang lain, aku berontak. Tentu saja. Perjuangan untuk bisa mematok ‘harga’ setinggi itu kan tidak mudah, penuh pengorbanan puluhan tahun. Tidak sepantasnya ditawar!

Nah, disinilah Tuhan mulai berperkara. Aku kemudian dibuat menderita. Dia terpaksa harus menggunakan cara paksa. Daripada aku makin jauh dari Dia. Oleh karena itu, pelan-pelan aku mulai belajar untuk menurunkan ‘hargaku’ dengan cara meminta campur tangan Dia untuk membantuku mengambil keputusan. Dan aku mulai bisa menerima bahwa kehendak-Nya, keputusan-Nya, dan cara-Nya lah yang seharusnya menempati prioritas utama. Apalagi semua kepandaian, kesuksesan dan kecukupanku itu kan semua anugerah, gratis pula. Aku tidak menyadarinya. Wah!

Yang juga aku lakukan saat itu adalah segera bertobat. Mengakukan semua kesalahanku padaNya. Aku meminta maaf kepada orang-orang yang aku sakiti. Aku memaksa diriku untuk menolak segala pikiran negatif. Aku menahan diri untuk tidak mudah marah, panik dan tersinggung. Aku memaksa diriku untuk sabar dan mengucapkan firman Tuhan, seingatku. Aku tidak lagi terlalu sering menggunakan pikiranku, dan berargumentasi. Aku belajar menahan diri di jalan. Aku belajar untuk ‘melupakan’ aku, dan berorientasi pada orang lain dan Tuhan. Apa yang menjadi perintah-Nya. Apa yang dibutuhkan oleh orang lain. Aku takut mengklaim bahwa diriku pandai, karena semua itu adalah anugerah semata, bukan dari aku.

Apa yang terjadi sekarang? Aku berubah! Aku merasa lebih ringan, lebih damai, lebih sukacita. Tiba-tiba orang-orang berdatangan kepadaku dengan masalah-masalah masing-masing. Aku tidak lagi berontak, ketika peristiwa-peristiwa dalam hidupku tidak sesuai dengan rencanaku. Aku tidak lagi sedih bahwa posisiku yang sekarang diberikan kepada orang lain.

Selama ini aku dibutakan oleh pengkhianatan yang luar biasa kepada Tuhan. Karena aku mempertanyakan Dia, yang seharusnya aku patuhi. Karena aku menghindar untuk dipandu oleh Dia, bahkan mengijinkan setan mengontrol pikiranku, karena aku menyakiti begitu banyak orang yang juga adalah ciptaan Dia, dan Dia kasihi. Karena aku menentukan sendiri keputusan-keputusanku tanpa berkomunikasi dulu dengan Dia. Sebuah pengkhianatan !

Selain itu, aku juga belajar bahwa semua yang aku hasilkan, putuskan, sampaikan, pertontonkan itu sebenarnya hanya alat Tuhan agar aku memuliakan Dia. Masalahnya, aku kemudian terlalu cepat klaim bahwa itu hasil usahaku, sehingga membuatku makin menjauh dari Tuhan.

Untung aku segera sadar, jika tidak, aku pasti akan makin jauh, makin tinggi di awang-awang, dan kemungkinan untuk jatuh, makin besar. Bayangkan sakitnya!

Ternyata Tuhan tidak membutuhkan anak-anakNya, cemerlang dan ‘berharga’ tinggi di mata dunia. Karena toh Dia sudah mengalahkan dunia, buat apa ada pengakuan di situ? Yang lebih penting adalah pengakuan di kerajaan Surga, karena di situ lebih kekal. Nah, untuk bisa mencapai itu, aku harus membiarkan Dia membentuk aku, agar aku pantas ada di sana. Dan itu artinya aku tidak perlu berjuang sendiri – yang ternyata hasilnya adalah kesepian -, tapi berjuang dengan pimpinan Tuhan.

Ketika aku akhirnya memutuskan untuk patuh, untuk pasrah, untuk menggunakan kehendak bebasku dengan seijin Dia, ketika aku mengaku salah, damai dan sukacita itu datang begitu cepatnya! Alleluia!

Sedikit demi sedikit, aku mulai merasakan damai itu, karena aku tidak lagi harus berjuang sendiri. Karena aku tidak lagi harus frustasi jika ada yang ‘menawar’, karena itu artinya aku sudah terlalu tinggi lagi mematok harga ku. Dan yang lebih penting, dengan aku menurunkan hargaku, Tuhan lebih leluasa bekerja membentuk aku menjadi bejana indahNya. Sebab demikianlah firman-Nya, “Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini … Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tanganKu …!” (Yer 18:6)

Tuhan, bentuklah aku di tangan-Mu, menjadi bejana untuk kemuliaan nama-Mu.

Jakarta, 7 & 13 Juni 2009.

Ekumene Gereja Katolik menurut salah satu gereja Protestan

19

[Dari Admin Katolisitas: Berikut ini adalah artikel yang mengambil dasar dari buku yang berjudul  Christ is coming, karangan Norman Gulley, seorang dari penulis dari gereja Protestan- Seventh Day Adventist (gereja Masehi Adven) yang menuliskan pandangannya tentang gerakan Oikumene dari Gereja Katolik, yang diwarnai juga dengan kesalahpahaman mereka dalam hal ajaran tentang Gereja, peran Bunda Maria, dan ajaran tentang Persekutuan orang kudus.]

Pertanyaan:

shalom,, sy prnah baca artikel yg membuat sy sangat risih,, mohon tanggapanx atas artikel tsbut…
Begini isi artikelnya..:

Gerakan ”Oikumene” dari Gereja Katolik
Bagian 27
Oikumene berasal dari bahasa Grika ”oikoumene” artinya seluruh penghuni bumi (lihat Kisah Para Rasul 17:6, Matius 24:14). Jadi gerakan Oikumene adalah gerakan mempersatukan seluruh Kristen yang ada di atas dunia ini. Bahkan dalam nubuatan dikatakan bukan saja Kristen tetapi di luar Kristen akan bersatu (Wahyu 13:3, 4) menerobos ke semua agama dan kepercayaan yang ada di bumi ini. Jadi Oikumene itu adalah berarti kembali kepada satu gereja dunia yang permulaan di mana sudah ada yang memisahkan diri dari gereja pertama yaitu Katolik.

Pada tahun 1054 Gereja Katolik Orthodox di Timur memisahkan diri dari Katolik di Barat. Pada tahun 1517 Gereja Protestan memisahkan diri dari Gereja Katolik. Jadi panggilan kepada Oikumene adalah panggilan untuk bersatu kembali seperti pada abad yang keempat dahulu (Christ is Coming by Norman Gulley, hal. 112).

Pada tanggal 25 Mei 1995 Paus Yohanes Paulus II mengeluarkan Encyclical on Ecumenism (Ut Unum Sint). Gereja Katolik berusaha keras untuk mengembalikan group yang memisahkan diri dari padanya yaitu Gereja Katolik Orthodox di Timur dan juga Gereja Protestan.

Pada 25 Januari 1959 Paus Yohanes XXIII menyerukan Oikumene dan mengadakan rapat Oikumene yang memanggil kembali group yang sudah memisahkan diri dari Gereja Katolik tersebut. Dalam rapat Vatican II (juga disebut Ecumenical Council 25 Januari 1959) telah dicanangkan apa saja yang dapat dilakukan untuk mencapai saudara-saudara yang
sudah memisahkan diri tersebut. Isi dari Vatican II itu dikaji mempersatukan dunia ini dan bukan hanya untuk persatuan dunia Kekristenan saja. Pengertian ini datang dengan alasan bahwa Gereja Katolik saja yang menjadi saluran rahmat dan keselamatan yang sudah ditunjuk oleh Allah. Jadi panggilan untuk bersatu ini adalah bersatu dalam satu gereja dan bukanlah bersatu dalam Kristus (Christ is Coming, Norman Gulley, hal. 114).

Pada tanggal 29 Maret 1994 ada 13 orang pemimpin dari Gereja Katolik dan Gereja Evangelical berkumpul bersama-sama untuk menandatangai surat pernyataan bahwa Katolik dan Evangelical bersama-sama dalam misi Kristen dan melupakan apa yang pernah terjadi pada masa yang lalu
(Ibid 118).

Paus Yohanes Paulus II berkata: ”Apa yang mempersatukan kita itu lebih besar daripada apa yang menceraikan kita” (Ibid 122). Dalam usaha dan gerakan mempersatukan dunia Kekristenan dan agama maka Bunda Maria sesungguhnya memegang peranan penting. Kita dapat melihat munculnya Bunda Maria di berbagai tempat di bumi kepada manusia untuk memberkati dan usaha mempersatukan kembali gereja-gereja Kristen dan dunia agama pada umumnya (Ibid 124).

Paus Yohannes XXIII telah berdoa untuk Hari Pentakosa yang baru dan isi Konsili Vatican II itu adalah mendorong untuk terjadinya gerakan Karismatik serta karunia Roh yang merupakan keinginan besar dari Paus. Selang dua tahun sesudah Konsili Vatican II maka karunia lidah terjadi dalam gereja Katolik dan sudah menjalar hampir di 100 negeri sesudah 10 tahun. Dan sekarang ini karunia lidah sudah muncul pada hampir seluruh gereja-gereja besar di dunia ini kecuali di Gereja Masehi Advent” (Ibid 133).

Dengan sangat cepat sekali maka seluruh dunia ini sudah dilanda oleh karunia lidah tersebut. Di Rusia, China dan Amerika sendiri, lebih dari 3 juta orang sudah menerima karunia lidah dalam satu Gerakan Kharismatik dan dalam satu hari maka satu Gereja Kharismatik berdiri” (Ibid 134). Dalam penekanan ajaran Katolik tentang kerinduan bagi persatuan gereja Kristen sedunia dan juga agama dan kepercayaan yang lain itu maka peranan Bunda Maria sangat diharapkan.

Dalam pengertian Kejadian 3:15. ”Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan itu, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

Mereka mengikuti ayat dalam Alkitab Latin Vulgate di mana kata untuk perempuan (she) dipakai ganti (he) yang diartikan sebagai Kristus. Perkataan ”she” itu untuk Bunda Maria mengganti (he) maka Bunda Maria tampil sebagai kuasa besar yang menghancurkan kuasa Setan dan dialah pemersatu dari semua gereja-gereja pada akhir zaman. Itu jelas kelihatan di mana Bunda Maria semakin sering muncul di berbagai tempat di muka bumi untuk melakukan usaha mempersatukan semua gereja-gereja (Christ is Coming, Norman Gulley, hal. 124).

Tahun 1987 merupakan tahun Bunda Maria di mana Paus Yohannes Paulus II mengumumkan bahwa Bunda adalah pelaku untuk mempersatukan dunia Kekristenan. ”Mengapa kita semua tidak memandang kepada Bunda Maria sebagai Ibu yang terus berdoa demi kesatuan keluarga Allah dan iman kepada Satu Tuhan yaitu Anak Allah yang dilahirkan oleh perawan Maria oleh kuasa Roh Kudus?” (Christ is Coming, hal. 124).

Majalah-majalah Karismatik menduga bahwa ada tiga peristiwa kecurahan Roh Kudus. Pertama dimulai pada tahun 1889 di mana dimulai dengan munculnya karunia lidah di Topeka, pada 1 Januari 1901 di Kansas dan di Azusa Street pada tahun 1906. Kemudian meledak lagi gerakan
Karismatik pada tahun 1950-an.

Kaum Pentakosta meyakini bahwa pergerakan mereka sekarang ini adalah kegenapan dari permulaan Hujan Akhir, satu kebangunan besar yang akan berakhir pada penuaian akhir. Adalah merupakanfakta bahwa kuasa bersaksi kami dan persatuan gereja-gereja serta kuasa penyembuhan dan karunia lidah memberikan kenyataan sesungguhnya bahwa janji turunnya Hujan Akhir itu sedang digenapi (Ibid 149). Akan tetapi E.G. White mengingatkan akan adanya kecurahan Hujan Akhir yang palsu di dalam Kekristenan menjelang akan turunnya Hujan Akhir
yang sejati yang datang dari Tuhan sendiri (GC 464).

”Akan tiba waktunya bilamana Amerika akan mengambil alih pimpinan untuk usaha mempersatukan yang disebut dalam Wahyu 13:1-4 dan mencapai bentuk persatuan dalam Wahyu 13:11-16, di mana dunia pada saat yang terakhir akan bersatu. Inilah persatuan terakhir dari gerakan Oikumene itu” (Ibid 124).
Spiritisme Dalam Gereja Katolik
Bagian 28
Gereja Katolik mempercayai bahwa orang mati arwahnya tidak mati. Bahkan arwahnya langsung pergi ke Purgatory (api penyucian bagi arwah). Sehingga doa untuk orang mati itu sangat perlu, sementara arwahnya mengalami proses penyucian dalam Purgatory dan kemudian masuk ke dalam sorga. Salah satu dasar ajaran Katolik tentang kepercayaan spiritisme ini ialah kepercayaan terhadap Bunda Maria. ”Spiritisme sudah membuat jalan raya masuk ke dalam Gereja Katolik dengan munculnya Bunda Maria dan merupakan penekanan perlunya hubungan dengan arwah orang yang sudah mati” (Sunday is Coming, 126).

Buku ”The Thunder of Justice” (oleh Ted dan Maureen Flynn) adalah merupakan buku yang paling laku sekarang ini di kalangan orang Katolik. Buku ini berisi 416 halaman dan 90% isinya adalah tentang pekabaran dan petunjuk-petunjuk dari Bunda Maria dan yang mempersiapkan bagi kedatangan Yesus yang kedua kali” (Sunday is Coming, 126).

Bunda Maria muncul di gereja Katolik St. Joseph di Emmitsburg Maryland Amerika dan bertemu dengan Gianna Talone Sullivan. Dan Bunda selalu muncul pada setiap tanggal 13 Mei. Sekarang ini dapat diperoleh berita mingguan dari Bunda di gereja tersebut. Bunda juga muncul pada setiap tanggal 13 Mei tiap bulan di Conyers, Georgia di mana Bunda selalu datang dengan memberikan berkat. Berulangkali Bunda Maria telah menasehatkan bahwa kita berada pada masa dekade terakhir dari sejarah dunia (the last decade of earth’s history). Ia mengaku dirinya sebagai JURUKABAR KEDATANGAN YESUS KEDUA KALI. Dia menelusuri dekade yang akan datang menubuatkan ”Masa Damai Jangka Panjang” (Sunday is Coming, 129).

Bunda Maria muncul kepada pastor Gobbi pada tanggal 18 September 1988. Dan mengatakan bahwa kita akan mengalami masa sepuluh tahun yaitu masa yang menentukan. Pada masa itu akan banyak terjadi kesukaran-kesukaran besar mendahului kedatangan Kristus yang kedua kali (Ibid 130).

Pada tanggal 1 Januari 1990 kembali Bunda Maria datang kepada Bapa Gobbi dan berkata bahwa dialah ibu dari kedatangan Yesus yang kedua kali. Masa dekade ini adalah masa yang paling penting yang ditandai kehadiran Tuhan di tengah-tengah kamu. Pada dekade terakhir abad ini, peristiwa-peristiwa yang sudah saya katakan dahulu akan mencapai puncaknya (Sunday is Coming, 130). Pada Markus 13:21 disebut akan muncul mesias-mesias palsu dan Kristus yang palsu.

Paus Yohanes Paulus II sangat berterimakasih kepada Bunda Maria yang sudah menyelamatkannya dari maut (peluru dari Mehmet Ali Agca) yang dahsyat itu. Paus berkata dalam menjawab pertanyaan tuan Hunt. ”Mengapa Sdr. Hunt kita masih membutuhkan Allah, sementara Bunda Maria sudah menjadi Pelindung kita?” (Ibid 132). Setahun setelah peristiwa penembakan itu, Paus Yohanes Paulus II pergi ke Fatima di Portugal di mana ada patung Bunda Maria yang terbesar di seluruh dunia. Ia mengadakan misa dan ucapan syukur di hadapan patung itu (sesuai dengan permintaan Bunda). Di hadapan ribuan orang, Paus menyerahkan dunia ini kepada perlindungan Bunda Maria, tepatnya tanggal 13 Mei 1982. Sejak peristiwa itu, lebih banyak doa-doa yang ditujukan kepada Bunda Maria daripada kepada Kristus dan Allah Bapa. Demikian juga dengan patung-patung dibuat sudah lebih banyak patung-patung Bunda Maria melebihi patung Kristus sendiri. Dan juga pengunjung-pengunjung sudah lebih banyak ke tempat di mana Bunda pernah muncul daripada ke tempat patung Kristus yang terkenal di Beauvoir di Quebec (Ibid 132).

KESEMBUHAN DIBAYAR DENGAN RISIKO TINGGI

Tidak selamanya penyembuhan itu mendatangkan keuntungan walaupun orang sakit yang sekarat itu dapat sembuh dan umurnya diperpanjang. Hal itu belum tentu merupakan satu keuntungan sebab “Kesembuhan itu harus dibayar mahal yaitu dengan tidak mempedulikan kehendak Tuhan. Semua keuntungan yang berbentuk demikian pada akhirnya akan terbukti mendatangkan kerugian yang tak dapat dibayar kembali. Kita tidak akan dibiarkan tanpa hukuman bila, merubuhkan satu saja benteng yang didirikan Allah untuk melindungi umat-Nya dari kuasa Setan” (PK 212).

CONTOH: Seorang anak remaja yang sangat gemar dan setia dalam kegiatan perbaktian di gereja. Satu hari dia jatuh sakit dan penyakitnya itu lama tidak dapat disembuhkan. Orang tuanya sudah pergi berobat ke berbagai dokter yang ahli akan tetapi tidak dapat sembuh. Kemudian dia dibawa berobat kepada ’orang pintar’ yang mempunyai keahlian dari sumber kegelapan. Dan ternyata anak itu sembuh. Memang penyakit yang dideritanya sembuh akan tetapi ia menjadi seorang yang bersikap lain yaitu ia tidak lagi perduli akan soal-soal yang rohani dan kegiatan
gereja.
Dapat kita simpulkan bahwa LEBIH BAIK MATI (tanpa memperoleh kesembuhan) setelah berusaha dengan segala upaya kepada hamba-hamba Tuhan dan para dokter ahli daripada mendapat kesembuhan dari ’agen kegelapan’ yang kadang-kadang amat semu bagi pemandangan kita. Sebab umur yang diperpanjang itu akan memberikan peluang bagi Setan untuk mengendalikan kehidupan selanjutnya di mana Roh Nubuat nyatakan yaitu kuasa yang mengendalikan itu tampaknya tidak mungkin dipatahkan
lagi” (PK 211).

Marilah kita mencari “kesembuhan” itu di dalam jalan-jalan Tuhan. Pergi kepada agen Tuhan saja melalui siapa Allah mencurahkan berkat dan kuasa penyembuhan itu seperti pada zaman dahulu itu sebab doa orang benar itu sangat besar khasiatnya (Yakobus 5:16). Di samping itu perlu pula diperhatikan bahwa Allah bekerja melalui dalam dalam proses penyembuhan tersebut. Maka segala kebiasaan yang salah yang berlawanan dengan hukum alam dan hukum kesehatan harus
disingkirkan. Maka para dokter dan dokter-dokter ahli sebagai agen Tuhan dalam memperoleh kesembuhan itu akan segera terwujud. Mereka yang mempraktekkan penyembuhan sementara mereka itu tidak menghargai hukum alam ataupun hukum moral dan hukum Ilahi sangat perlu diwaspadai. Mereka tidak dapat menjadi agen Tuhan dalam penyembuhan sementara mereka itu hidup dalam pemberontakan terhadap hukum Tuhan dan menghidupkan kehidupan yang berlawanan dengan kehendak Tuhan.

Roh Nubuat menjelaskan: “Bila iman kita goyah, maka kita tidak akan menerima apa pun dari Tuhan. Keyakinan kita harus kokoh kepada-Nya, dan pada saat yang paling kita butuhkan maka berkat pertolongan itu akan jatuh seperti hujan berkat” (1 T 121). Hanya Tuhanlah, satu- satunya sumber penyembuhan yang kita dambakan atau jika Tuhan katakan tidak maka, marilah kita serahkan seluruh kehidupan kita di tangan-Nya di dalam kematian yang hanya bersifat sementara itu.

KESIMPULAN
Alkitab mengajarkan dengan tegas tentang keadaan orang yang sudah mati, di mana mereka tidak mempunyai kegiatan apa-apa lagi. Tidak ada pengetahuan apa-apa, baik bencinya, cemburunya dan kasihnya sudah lenyap. Orang mati tidak mempunyai harapan lagi akan kasih setia Tuhan, dan mereka tidak mengalami perubahan atau pertobatan lagi, sehingga tidak perlu ada doa-doa atau usaha orang hidup untuk mengurangi penderitaan atau perobahan nasib orang yang sudah berada di dalam kubur tersebut.

Akan tetapi Setan, yang bekas malaikat termulia dalam sorga yang setelah diusir dari sorga, bersama sepertiga dari jumlah seluruh malaikat, mereka memberontak kepada Allah dan menjadi setan-setan. Setan-setan itu mempunyai kuasa besar untuk menipu manusia, karena siap untuk meniru rupa orang-orang yang sudah mati, dan mengatakan satu ajaran bahwa orang mati itu ”TIDAK MATI.” Dengan demikian muncullah SPIRITISME yang mengadakan hubungan dengan roh-roh orang mati. Hal ini sangat bertentangan dengan Firman Allah. Itulah sebabnya Tuhan menyuruh Musa dan para hamba-Nya untuk membinasakan orang-orang yang melakukan praktek-praktek yang berhubungan dengan orang mati (Imamat 20:27).

Penipuan Setan melalui praktek spiritisme ini perlahan-lahan semakin hebat dan luar biasa sehingga isi dunia akan teripu oleh tanda-tanda ajaib yang dilakukannya. Dan kemudian mengatakan supaya manusia dipaksa menyucikan hari Minggu dan berbakti pada hari itu kepada Tuhan (ganti hari Sabat yang diajarkan oleh Alkitab, Lukas 4:16, Keluaran 20:8-11). Dia juga akan menghasut para negarawan dan pemimpin- pemimpin dunia untuk membuat satu undang-undang yang keras untuk melarang orang menajiskan hari Minggu dan melarang perbaktian pada
hari lain.

Ada tiga kuasa yang mempelopori undang-undang tersebut, yaitu: Kepausan, spiritisme dan Protestan Amerika. Tetapi kuasa pemersatu adalah spiritisme yang membuat tanda-tanda ajaib yang besar. Dan oleh karena adanya undang-undang tersebut yang dikatakan dibentuk untuk menghentikan bencana-bencana alam (malapetaka yang sudah melanda dunia ini karena dosa-dosa keji dari manusia) kemerosotan moral dan kejahatan politik di mana-mana, maka tidak ada jalan lain, hanya bila hari Minggu disucikan bagi Tuhan, maka bencana, malapetaka serta moral manusia dapat dipulihkan kembali. Hal ini akan menimbulkan kesulitan besar, bahkan aniaya bagi setiap orang yang tidak mau menyucikan hari Minggu, tetapi bukan hari Sabat Tuhan (Keluaran 20:8-11). Semua ini akan menjadi ingatan bagi kita akan adanya nubuatan Alkitab yang sudah memberitahukan kepada kita akan peristiwa-peristiwa yang segera akan terjadi menimpa manusia. Akan tetapi bila umat Tuhan sudah dianiaya, maka Allah akan bertindak untuk memberi kuasa kepada umat-Nya dengan memberikan kecurahan Roh Suci (hujan akhir) untuk menjelaskan kepada seisi dunia akan hukum Allah yang suci yaitu hukum keempat, hari Sabat yang patut disucikan selama-lamanya (Yesaya 58:13-14; 66:22, 23).

Maka akan banyak orang yang percaya dan bertobat serta menyucikan hari Sabat, hari ketujuh sesuai dengan Alkitab. Bila seisi dunia sudah mendengar akan kebenaran Tuhan, Injil dan kesucian hari Sabat, maka genaplah Matius 24:14, maka kesudahan pun datanglah, Yesus Kristus akan turun dari sorga bersama-sama dengan malaikat-malaikat-Nya untuk menjemput orang-orang saleh dibawa masuk ke dalam kerajaan Sorga. Apakah saudara dan saudari sudah siap untuk itu?

Jawaban:

Shalom Lian,

Artikel di atas memuat beberapa kutipan, yang diartikan benar, namun ada juga yang menurut saya keliru. Maka saya akan mencoba menguraikannya, mana yang benar, mana yang keliru, menurut ajaran Gereja Katolik sebagai berikut:

1. Oikumene/ Ekumene memang mempunyai pengertian untuk mempersatukan gereja-gereja kembali menjadi satu (seperti pada saat Gereja belum terpecah) di dalam pangkuan Gereja Katolik. Kenyataannya memang Gereja Timur Orthodox memisahkan diri tahun 1054, dan Protestan memisahkan diri tahun 1517, dan Gereja Katolik berusaha menghimpun mereka kembali.

2. Surat Ensiklik Paus Yohanes Paulus II, Ut Umum Sint, memang mengusahakan persatuan Gereja.

3. Konsili Vatikan II memang mengeluarkan dekrit Ekumene, di mana yang ditekankan adalah persatuan di dalam satu Gereja, sebagai kawanan tunggal Allah. Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus dengan Kristus sebagai Kepala-Nya (lih. Ef 5: 22:33), sehingga Gereja tidak dapat dipisahkan dari Kristus. Maka pemahaman Protestan bahwa “persatuan dalam satu Gereja bukanlah persatuan di dalam Kristus” itu adalah pengertian yang sangat keliru. Gereja tidak didirikan oleh manusia, Gereja Katolik yang dipimpin oleh para penerus Rasul Petrus didirikan oleh Kristus sendiri (lih. Mat 16:18). Yesus sendiri menginginkan agar siapapun yang menerima pengajaran dari para rasul untuk bersatu (lih. Yoh 17:20-21); maka dapat disimpulkan bahwa Yesus menginginkan agar semua orang yang percaya kepada-Nya oleh pemberitaan para rasul itu bersatu di dalam Gereja yang didirikan-Nya, yaitu Gereja Katolik.

4. Maka bagi Gereja Katolik, Gereja adalah suatu “pemberian” Allah, yang didirikan oleh Kristus sendiri, dan bukannya suatu organisasi yang didirikan oleh manusia. Kristus memang mendirikan Gereja-Nya untuk menyampaikan rahmat-Nya kepada manusia, karena Tuhan memang menginginkan semua orang agar dapat diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1 Tim 2:4). Allah tidak hanya mengasihi dan memberkati umat Kristen saja, karena semua manusia diciptakan dan dikasihi oleh Allah; dan Allah berhak untuk memberkati mereka juga. Maka benarlah jika dikatakan bahwa Gereja merupakan saluran rahmat yang membawa terang Kristus, agar seluruh bangsa dapat mengenal Kristus.

Lumen Gentium 1 (Konsili Vatikan II tentang Gereja) mengatakan demikian:

“TERANG PARA BANGSALAH Kristus itu. Maka Konsili suci ini, yang terhimpun dalam Roh Kudus, ingin sekali menerangi semua orang dalam cahaya Kristus, yang bersinar pada wajah Gereja, dengan mewartakan Injil kepada semua makhluk (Lih. Mrk 16:15). Namun Gereja itu dalam Kristus bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia.”

Maka tidak benar bahwa persatuan di dalam Gereja itu tidak sama dengan persatuan di dalam Kristus. Karena Kristus tidak terpisah ataupun memisahkan diri-Nya dengan Gereja-Nya, karena kepada Gereja-Nya Ia telah menyerahkan Diri-Nya untuk menguduskannya…. untuk menjadi satu dengannya seperti suami menjadi satu daging dengan istrinya (Ef 5:25-32). Jika Gereja Katolik menyatakan bahwa Gereja menjadi saluran rahmat, itu bukan pernyataan klaim yang dibuat tanpa dasar, tetapi memang karena Tuhan Yesus telah menetapkan demikian, dengan pesan perutusan-Nya kepada para rasul (lih. Mat 28:19-20), yang diteruskan dengan setia oleh para penerus mereka di dalam Gereja Katolik.

5. Paus Yohanes Paulus II bersama dengan pemimpin gereja Lutheran dalam pertemuan di Augsburg Cathedral 1987 menyimpulkan, “Apa yang mempersatukan kita itu lebih besar daripada apa yang menceraikan kita.” Juga benar bahwa Paus mengajarkan bahwa Bunda Maria merupakan Bunda yang berperan bagi persatuan Gereja. Ini tidak ‘aneh’, sebab jika kita percaya bahwa Bunda Maria telah diberikan oleh Yesus sebagai Bunda para murid-Nya (Yoh 19:27), maka Maria adalah Bunda Gereja. Dan kalau Bunda Maria adalah Bunda Gereja maka, ia pasti berperan dengan doa-doanya untuk membawa anak-anaknya untuk bersatu, sebab bukankah wajar bagi seorang ibu untuk menginginkan persatuan anak-anaknya?

6. Paus Yohanes XXIII memang pernah berdoa memohon Pentakosta yang baru. Dan ini terlihat salah satunya melalui gerakan Karismatik Katolik. Terlepas dari adanya pro- dan kontra, gerakan Karismatik Katolik tetap secara umum memberikan kontribusi yang cukup besar dalam menghidupkan kembali Gereja Katolik.

7. Kitab Kejadian 3:15, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan itu, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya (ia) akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

Dalam bahasa Indonesia memang tidak terlihat masalah, karena hanya dikatakan “nya”, tidak spesifik menyatakan laki-laki/ he atau perempuan/ she. Dalam bahasa Inggris, memang terdapat dua salinan terjemahan. Teks asli Ibrani menyatakan “he“: “he shall bruise your head and you shall bruise his heel.”(RSV, NAB) “He” di sini berarti Kristus. Namun ada juga salinan yang berasal dari terjemahan tulisan Bapa Gereja dan beberapa salinan Vulgate yang menuliskan, “she shall bruise your head and you shall bruise her heel.” (Douay Rheims). Maka para ahli Kitab Suci memperkirakan ada kemungkinan kesalahan penyalinan teks, ketika sang penyalin tidak melihat bahwa subyek kalimatnya telah bergeser, dari “wanita itu” ke “keturunan wanita itu.”  Namun demikian, tidak semua Vulgate menuliskan “she“, sebab pada edisi Vulgate yang disalin oleh St. Jerome, St. Jerome memakai terjemahan asli Ibrani, dan memakai “he“, bukan “she.”

Namun terlepas dari “he” atau “she” ini tidak mengubah fakta bahwa sejak dari awal abad ke 2, yaitu St. Yustinus Martir (100-165) Santo Irenaeus ,Tertullian, St. Agustinus mengajarkan bahwa pada ayat Kej 3:15, ‘perempuan’ yang keturunannya akan mengalahkan Iblis itu mengacu kepada Bunda Maria, karena keturunan yang dimaksud adalah Yesus.  ‘Perempuan’ itu bukannya Hawa dengan keturunannya Abel atau Seth. Maka Bunda Maria adalah “the woman” yang dibicarakan di Kej 3:15. [Sayangnya dalam Alkitab LAI diterjemahkan sebagai “this woman” (wanita ini) yang sepertinya mengacu kepada Hawa. Padahal menurut penjelasan para Bapa Gereja, perempuan itu bukan Hawa, tetapi Bunda Maria: “the woman”. Panggilan “the woman” ini diulangi lagi pada mukjizat di Kana (Yoh 2:4) dan di kaki salib Yesus (Yoh 19:26-27) ].

Maka dengan mengetahui bahwa ‘perempuan’ dan ‘keturunannya’ yang mengalahkan Iblis adalah Bunda Maria dan Yesus, maka Gereja Katolik mengajarkan apapun terjemahan yang dipakai, keduanya benar; sebab pada intinya adalah baik Yesus maupun Bunda Maria keduanya  sama-sama mengalahkan Iblis. Jika dikatakan bahwa Bunda Maria mengalahkan Iblis, maka hal itu hanya dimungkinkan oleh kuasa Kristus. Kristuslah yang telah secara langsung meremukkan kepala Iblis dengan kematian-Nya. Dan “tumit yang diremukkan oleh Iblis”, itu adalah gambaran bahwa kemenangan Kristus diperoleh dengan penderitaan-Nya di kayu salib. Sedangkan, Bunda Maria dapat dikatakan secara tidak langsung meremukkan kepala Iblis  dengan kerjasamanya di dalam misteri Inkarnasi, dan dengan menolak untuk berbuat dosa yang terkecil sekalipun (menurut ajaran St. Bernardus, Sermon, 2, on Missus est). Selanjutnya, St. Gregorius mengajarkan (mor 1.38), bahwa kitapun, seperti halnya Bunda Maria, dapat secara tidak langsung meremukkan kepala Iblis setiap kali kita mengalahkan godaan.

Maka tidak benar pernyataan mereka bahwa interpretasi yang dipegang Gereja Katolik hanya Maria yang dapat mengalahkan kuasa Iblis.

8. Pada tahun 1987, Paus Yohanes Paulus II melalui surat ensikliknya Redemptoris Mater (The Mother of the Redeemer) memang menuliskan tentang peran Bunda Maria sebagai Bunda pemersatu umat Kristen.

9. Gerakan Karismatik di dalam Gereja Katolik dimulai pada tahun 1967, di Du Quesne University, Pittsburgh, Pennyslvania. Di tahun 1990 (23 tahun sesudahnya) gerakan ini telah menyebar di 238 negara, menjangkau 100 juta umat Katolik. Memang di banyak media Kharismatik dikisahkan adanya pencurahan Roh Kudus kepada umat, yang ditandai oleh karunia bahasa Roh; namun menurut pengajaran Magisterium Gereja Katolik, yang terpenting dari gerakan Kharismatik tersebut adalah karunia pertobatan yang sejati, sebab peran Roh Kudus yang utama adalah menginsyafkan manusia dari dosa (Yoh 16:8). Hal ini jelas dikatakan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam surat ensikliknya Dominum et Vivificantem (The Holy Spirit in the life of the Church). Bahasa Roh, bukan karunia yang harus diagung-agungkan dan dibangga-banggakan, karena maksud utamanya adalah menghantar umat kepada hidup yang baru di dalam Roh Kudus dengan pertobatan yang terus menerus sepanjang hidup.

10. Pernyataan bahwa Amerika akan mengambil alih pimpinan gerakan Ekumene itu, sebenarnya tidak tertulis di Alkitab. Ayat- ayat kitab Wahyu yang dikutip tidak menyebutkan secara eksplisit negara Amerika, maka interpretasi yang disampaikan di artikel di atas, adalah interpretasi pribadi pengarang artikel itu.

11. Tuduhan bahwa Gereja Katolik menerapkan Spiritisme karena menghormati Bunda Maria adalah tuduhan yang sangat ‘absurd‘. Dasar pengajaran bahwa kita menghormati Bunda Maria adalah karena ia adalah Bunda Allah. Allah-lah yang terlebih dahulu menghormati Maria dengan memilihnya untuk mengandung Kristus Putera-Nya. Kita umat Katolik hanya mengikuti teladan Allah saja. Hal bahwa Gereja Katolik menghormati Bunda Maria meskipun ia sudah tidak hidup di dunia ini, adalah karena hubungan kita sebagai umat beriman tidak terputus oleh kematian. Sebab Kristus telah mengalahkan maut, maka maut tidak dapat memisahkan kita dengan Dia, dan Tubuh Mistik-Nya, yaitu sesama saudara kita di dalam Kristus. Silakan membaca lebih lanjut diskusi mengenai persekutuan orang kudus ini, silakan klik di sini, dan di sini Pada saat kita memohon para orang kudus itu mendoakan kita, tidak ada pemanggilan arwah ataupun konsultasi dengan arwah, seperti dalam spiritisme. Kita berdoa memohon pada orang kudus untuk mendoakan kita, karena kita percaya mereka telah berada di hadirat Allah di surga, dan mereka bersatu bersama dengan Tuhan Yesus, berdoa syafaat bagi kita yang masih berziarah di dunia ini.

12. Saya belum pernah membaca buku The Thunder of Justice, sehingga saya tidak bisa berkomentar di sini. Namun pada prinsipnya, segala wahyu pribadi tidak sama kedudukannya dengan wahyu publik, yaitu Kitab Suci. Sehingga apapun yang tertulis di sana, tetap harus kita lihat kesesuaiannya dengan pesan Kitab Suci, dan ajaran Magisterium Gereja.

13. Kutipan berikutnya tentang perkataan Paus Yohanes Paulus II kepada tuan Hunt kedengaran sangat janggal. Saya mencari percakapan antara Paus Yohanes II dengan Mr. Hunt di internet dan tidak menemukannya. Perihal bahwa Paus Yohanes Paulus ke II mengkonsekrasikan/ menyerahkan dunia kepada perlindungan Bunda Maria, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Itu memang sesuai pesan Bunda Maria pada penampakannya di Fatima, dan sebagai buahnya adalah kejatuhan Rusia dan komunisme pada tahun 1989.

14. Tuduhan bahwa lebih banyak doa-doa ditujukan kepada Bunda Maria daripada kepada Kristus itu sama sekali tidak benar. Bentuk doa penyembahan yang tertinggi di Gereja Katolik adalah Misa Kudus, dan Misa Kudus itu dilakukan setiap hari di seluruh dunia, sehari bisa lebih dari sekali pada hari biasa dan bisa sekitar 3 sampai 4 kali pada hari Minggu. Dan Misa Kudus itu adalah doa Gereja dalam kesatuannya dengan Kristus Sang Kepala, yang ditujukan kepada Allah Bapa, oleh kuasa Roh Kudus. Doa ibadat harian sepanjang hari (Divine Office/ the Liturgy of the Hour) yang dilakukan oleh kaum klerik maupun kaum awam, juga tertuju kepada Tuhan. Selanjutnya, doa yang ditujukan kepada Bunda Maria adalah bersifat penghormatan dan bukan penyembahan. Doa rosario yang merupakan penghormatan kepada Bunda Maria-pun selalu dilakukan dengan permenungan peristiwa hidup Yesus, sehingga fokusnya tetaplah Kristus.

15. Mengenai pembuatan patung- patung, itu juga tidak menjadikan bukti bahwa Gereja Katolik menyembah patung. Silakan membaca lebih lanjut di artikel Orang Katolik Tidak Menyembah Patung, silakan klik, dan klik di sini, untuk melihat mengapa Gereja Katolik mengizinkan penggunaan patung dalam ibadah.

Saya rasa tidak benar pernyataan bahwa ‘lebih banyak patung Bunda Maria daripada patung Kristus’. Karena di dalam Gereja Katolik, di kayu salib juga terletak patung/ gambaran Kristus. Sehingga di mana ada Gereja Katolik, di sana sudah pasti ada gambaran Kristus, jadi tidak mungkin gambaran Bunda Maria menjadi ‘lebih banyak’ daripada gambaran Kristus.

16. Tuduhan bahwa kunjungan ke tempat peziarahan Bunda Maria lebih banyak daripada ke lokasi patung Yesus itu juga tidak didasari pengertian yang benar. Karena di lokasi ziarah tempat penampakan Bunda Maria, misalnya di Lourdes atau Fatima, itu yang ada bukan saja gua Maria, tetapi yang lebih besar adalah gedung gereja Katolik. Dan doa yang dilakukan di sana juga tetap berpusat pada Misa/ Ekaristi Kudus yang berpusat pada Kristus.

17. Adalah tanggapan yang sangat keliru untuk menyamakan perantaraan doa Bunda Maria dengan kuasa Setan. Buah devosi kepada Bunda Maria adalah pertobatan, yang membawa kepada Kristus. Banyak sekali kesaksian yang menyatakan demikian. Maka contoh yang diajukan di tulisan di atas itu sama sekali tidak relevan dengan kasus kesembuhan dengan perantaraan doa dari Bunda Maria.

Jika anda pergi ke Lourdes, di sana antara lain anda dapat melihat 67 laporan yang membuktikan mukjizat- mukjizat di sana, yang juga dapat anda baca di sini, silakan klik. Kenapa ‘hanya’ 67? Karena untuk dinyatakan sebagai mukjizat otentik itu persyaratannya:1) sebelum ziarah pasien harus diperiksa oleh rumah sakit di sana (di dekat lokasi ziarah) dan dokter harus membuat laporannya, 2) sesudah ziarahpun harus diperiksa lagi oleh para dokter di rumah sakit itu, dan kesembuhannya harus dinyatakan sebagai tidak bisa dijelaskan secara kedokteran; 3) selanjutnya setiap tahun selama 10 tahun si pasien harus kembali ke rumah sakit itu untuk membuktikan bahwa mukjizat kesembuhannya itu tetap (tidak ada kasus relapse). Itulah sebabnya kebanyakan pasien yang terdaftar di list itu adalah pasien dalam negeri, atau di negara Eropa, karena untuk kembali memeriksakan diri selama 10 tahun berikutnya ke Lourdes itu adalah tanggungan pasien. Kenyataannya sudah banyak sekali orang yang mengalami mukjizat kesembuhan di Lourdes, tetapi tidak terdaftar dalam list tersebut, karena tidak melakukan ketiga persyaratan ini.

Terlepas dari kesembuhan jasmani tersebut, yang terpenting adalah kesembuhan rohani. Jika orang berziarah dengan sikap batin yang benar, maka seharusnya sepulang dari ziarah, ia akan mengalami pembaharuan iman, yang akan membawanya semakin dekat kepada Kristus. Jadi Bunda Maria hanyalah perantara saja yang membawa seseorang kepada Kristus.

18. Maka Gereja Katolik juga mempercayai bahwa Tuhan dapat bekerja lewat tangan-tangan dokter dan obat-obatan. Itulah sebabnya Gereja tidak pernah menentang karya para medis dan bahkan dari sejarah diketahui bahwa Gereja Katolik-lah yang mempelopori keberadaan rumah sakit di seluruh dunia, dimulai dari berkembangnya ordo Benediktin di Eropa di abad ke 6.

Namun demikian, Gereja Katolik juga mengakui bahwa mukjizat masih dapat terjadi sekarang ini. Jika sampai mukjizat terjadi, itu semata-mata karena pertolongan Tuhan. Ayat yang dikutip di artikel di atas yaitu Yak 5:16, yang mengatakan bahwa doa orang benar itu besar kuasanya, itu juga di- amin-kan oleh Gereja Katolik. Itulah sebabnya maka kuasa perantaraan doa Bunda Maria sangat besar, karena ia adalah orang yang sudah dibenarkan Tuhan.

19. Pernyataan bahwa orang yang sudah meninggal tidak bisa bertobat, itu adalah pernyataan yang benar. Gereja Katolik juga mengajarkan demikian. Oleh sebab itu selama masih hidup, kita harus bertobat, sebab jika kita wafat dalam keadaan tidak bertobat, kita tidak bisa masuk surga, tidak bisa masuk Api Penyucian juga. Dalam keadaan tidak bertobat, seseorang memasukkan dirinya sendiri ke dalam penghukuman neraka.

Namun walaupun seseorang sudah bertobat, jika ia masih belum sepenuhnya kudus, maka ia harus dimurnikan dahulu sebelum dia dapat bersatu dengan Tuhan di surga karena tanpa kekudusan, tak seorangpun dapat melihat Allah. Silakan membaca artikel mengenai Api Penyucian di sini, silakan klik, untuk melihat dasar pengajaran Gereja Katolik tentang Api Penyucian ini.

20. Yang mengatakan bahwa orang yang mati itu “tidak mati” bukanlah Setan, tetapi Kristus sendiri. Kristus mengajarkan bahwa Allah adalah Allah orang-orang hidup:  “Ia [Allah] bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” (Luk 20:38, Mrk 12:27). Sebab Allah sendiri bersabda, “Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.” (Mat 22:32, Kel 3:6). Jadi meskipun Abraham, Ishak dan Yakub sudah mati/ wafat, mereka sesungguhnya tetap hidup di hadapan Tuhan. Itulah sebabnya ketika Yesus dimuliakan di atas gunung, Musa dan Elia tampil di sisi-Nya sebagai orang-orang yang hidup.

Rasul Yohanes mengajarkan juga tentang hal ini, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”(Yoh 3:16). Jadi meskipun badan kita sudah mati, namun jiwa kita tetap hidup, dan dengan iman kita akan Kristus, kita dapat beroleh hidup yang kekal.

21. Hal penggantian dari Sabat ke hari Minggu itu juga bukan karena Kepausan, Spiritisme ataupun Protestan Amerika, seperti yang dikatakan di artikel di atas. Pengubahan hari Sabat dari Sabtu ke Minggu itu sudah dilakukan oleh para rasul untuk memperingati hari Kebangkitan Kristus, dan itu kita ketahui dari Kitab Suci. Silakan membaca lebih lanjut di artikel ini, silakan klik. Jadi memang benar bahwa sebelum kebangkitan Kristus, yang dikuduskan adalah hari Sabat, tetapi setelah kebangkitan-Nya, maka “hari Tuhan” adalah hari peringatan Kebangkitan Kristus yang merupakan puncak penggenapan seluruh Perjanjian Lama.

22. Bagi saya, artikel di atas semakin membuktikan bahwa “Sola Scriptura / Alkitab saja” tidak cukup untuk memahami seluruh ajaran Kristus. Pemahaman yang diperoleh dengan mengambil sepotong/ beberapa ayat saja dalam Alkitab, jika tidak melihat kesatuannya dengan ayat-ayat yang lain akan dapat menghasilkan interpretasi yang keliru. Bahkan dari sesama gereja- gereja Protestan yang sama-sama berpegang pada Sola Scriptura saja dapat mengajarkan hal- hal yang berbeda seperti ini (tentang “hari Tuhan”). Maka bersyukurlah kita sebagai umat Katolik yang mempunyai Magisterium yang memimpin kita kepada kesatuan ajaran Gereja yang tetap, sejak dari Gereja awal sampai sekarang.

Demikianlah Lian, yang dapat saya sampaikan sebagai tanggapan atas artikel di atas. Semoga uraian ini dapat berguna bagi kita semua.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Kekejaman aborsi

29

Perseteruan Uskup Tobin dan Patrick Kennedy

Baru-baru ini, media Amerika dan mungkin juga media di beberapa negara lain heboh memuat kasus Patrick Kennedy yang mengatakan bahwa dirinya dilarang oleh uskup dari Rhode Island, Uskup Tobin, agar tidak menerima komuni. Hal ini disebabkan karena Patrick Kennedy sebagai figur publik yang beragama Katolik membuat skandal dengan tidak menerapkan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik – dalam hal ini adalah sikap pro-life atau keberpihakan kepada kehidupan. Patrick Kennedy, seorang politikus dari partai demokrat, dalam karirnya secara konsisten menggunakan hak suaranya melawan pro-life. Dalam berita terakhir, dia tidak mendukung perubahan yang diajukan oleh Bart Stupak dan Joe Pitts (Stupak-Pitts amendment), yang melarang penggunaan dana federal untuk aborsi dalam program kesehatan.

Uskup Tobin dari keuskupan Providence, di Rhode Island – USA, memberikan surat pribadi kepada Patrick Kennedy pada tanggal 21 Februari 2007. Uskup Tobin menyatakan kejelasan pengajaran Gereja yang senantiasa berpihak kepada kehidupan (pro-life), dan di lain pihak mengetahui bahwa Patrick Kennedy senantiasa bertentangan dengan Gereja dalam isu ini. Maka Uskup Tobin dengan hormat meminta agar Patrick Kennedy tidak menerima Komuni Kudus, bukan seperti yang dinyatakan oleh Patrick Kennedy “Sang uskup memerintahkan saya untuk tidak menerima komuni dan meminta para prodiakon untuk tak memberikan komuni kepada saya“. Perbedaan dari dua pernyataan tersebut adalah dalam hal penerapan hukum Gereja, yang saya akan bahas di bagian akhir artikel ini. Lebih lanjut, dalam suratnya, Bishop Tobin menuliskan alasannya dengan mengutip pengajaran Gereja dari USCCB (United States Conference of Catholic Bishops / Konferensi para Uskup Katolik Amerika), yang mengatakan “Jika seorang umat Katolik di dalam kehidupan pribadi maupun profesinya dengan sadar dan dengan tegar menolak pengajaran Gereja yang pasti dalam hal moral, maka dia secara serius mengurangi persatuannya dengan Gereja. Penerimaan Komuni Kudus dalam situasi tersebut tidaklah sejalan dengan natur dari perayaan Ekaristi, sehingga dia harus menghindarinya.” (Happy Are Those Who Are Called to His Supper, December, 2006).

Surat yang dikirimkan oleh Uskup Tobin pada tanggal 21 Februari 2007 sebenarnya bersifat pribadi, surat dari seorang gembala kepada umatnya. Dan hal ini juga dimengerti oleh Patrick Kennedy, yang membalasnya seminggu kemudian. Namun demikian, dua setengah tahun kemudian, Patrick Kennedy kemudian memberikan keterangan secara publik tentang hal ini, dimana dia mengatakan bahwa dirinya dilarang oleh Bishop Tobin untuk menerima komuni karena pandangannya dan keputusan politiknya. Uskup Tobin menyatakan kekecewaannya bahwa masalah dan korespondensi pribadi menjadi publik, namun di satu sisi dia juga mempertegas posisinya bahwa dia akan mempertahankan ajaran Gereja Katolik dari penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh siapapun.

Pada tanggal 29 Oktober 2009, Patrick Kennedy membuat pernyataan “Fakta bahwa saya tidak setuju dengan hirarki dalam beberapa isu tidaklah membuat saya menjadi lebih rendah dari umat Katolik yang lain (make me any less of a Catholic).” Oleh karena itu, pernyataan Patrick Kennedy bukanlah seperti yang dituliskan oleh yahoo.co.id (silakan klik) yang menuliskan “Saya sangat menghormati Gereja Katolik berikut kepemimpinannya seperti warga Rhode Island pada umumnya, tapi ketika saya tak sepaham dengan hirarki gereja dalam sejumlah isu, bukan lantas membuat saya menjadi bukan seorang Katolik lagi.”

Pernyataan dari Patrick Kennedy inipun ditanggapi oleh Uskup Tobin dengan mengatakan “Meskipun saya tidak akan menggunakan kata-kata spesifik tersebut (less of a Catholic), ketika seseorang menolak pengajaran Gereja, terutama akan masalah-masalah yang berat, permasalahan hidup dan mati seperti aborsi, akan mengurangi kesatuan mereka dalam kehidupan menggereja, persatuan mereka dengan Gereja.” Lebih lanjut, Uskup Tobin memberikan beberapa hal mendasar sehingga seseorang dapat dikatakan menjadi seorang Katolik, seperti: seorang Katolik percaya dan menerima pengajaran dari Gereja – terutama dalam pengajaran yang bersifat iman dan moral, harus menjadi bagian dari paroki, mengikuti Misa Kudus pada hari Minggu, menerima Sakramen secara teratur, seorang Katolik juga harus memberikan dukungan secara pribadi, publik, spiritual dan materi kepada Gereja. Dan Uskup Tobin mempertanyakan apakah Patrick Kennedy telah melakukan hal-hal tersebut di atas.

Secara spesifik, Uskup Tobin menegaskan bahwa penolakan Patrick Kennedy akan pengajaran Gereja dalam hal aborsi bukan hanya sekedar masalah ketidaksempurnaan manusia belaka. Namun, apa yang dilakukan oleh Patrick Kennedy adalah suatu tindakan yang dilakukan secara sadar dan dengan ketegaran hati, yang dapat dikonfirmasi dari apa yang dilakukan oleh Patrick Kennedy dalam beberapa kejadian di dalam kehidupan politiknya. Dengan demikian, apa yang dilakukannya sebagai figur publik, memberikan skandal dan tidak dapat diterima oleh Gereja, dan bahkan mengurangi persatuannya dengan Gereja. Maka sekarang pertanyaannya adalah: Apakah dengan ini uskup Tobin berhak untuk menghimbau Patrick Kennedy untuk tidak menerima komuni? Apakah dengan demikian Gereja terlalu campur tangan terhadap urusan publik?

Apakah yang sebenarnya yang diperjuangkan oleh Gereja

Kalau saja kita dapat mengerti apa sebenarnya yang diperjuangkan oleh Gereja Katolik, maka kita akan dapat mengerti mengapa Gereja, dan juga beberapa uskup membuat keputusan yang terlihat begitu kuat dan seolah-olah tidak mempunyai toleransi. Dalam kasus di atas, Patrick Kennedy yang adalah seorang Katolik tidak menjalankan apa yang diajarkan oleh Gereja, terutama dalam isu yang begitu mendasar, yaitu keberpihakan kepada kehidupan (pro-life). Dalam beberapa voting, Patrick Kennedy memilih untuk berpihak kepada peraturan yang merekomendasikan aborsi. Dia menolak untuk mendukung Stupak-Pitts amendment, yang ingin melarang menggunakan dana federal untuk aborsi dalam program kesehatan.

Gereja melihat hal ini sebagai suatu serangan terhadap kehidupan dan kemanusiaan itu sendiri, dan juga terhadap pesan Kristus. Keberpihakan kepada aborsi bukan hanya penyerangan kepada ajaran Gereja, namun penyerangan kepada kemanusiaan secara keseluruhan. Kita tahu, bahwa mungkin semua negara mempunyai peraturan untuk menghukum warganya, yang dengan sengaja membunuh manusia. Oleh karena itu, kita mengerti bahwa “janganlah membunuh” adalah perintah Tuhan yang telah dimateraikan di dalam hati manusia, sebagai hukum moral, yang berlaku dimanapun, tidak peduli dari suku mana maupun dari negara manapun.

Sungguh sesuatu yang tidak masuk akal, bahwa seseorang tega untuk membunuh sesamanya dalam keadaan tidak ada ancaman apapun, tidak dalam kondisi perang, dan terlebih lagi, yang melakukan adalah ibu bapanya sendiri. Tidak ada manusia yang mempunyai hati nurani yang baik dan tahu secara persis apa yang terjadi dalam aborsi, dapat membenarkan aborsi yang dilakukan secara sadar, dengan tujuan untuk membunuh bayi yang ada di dalam kandungan. Menurut AGI (Alan Guttmacher Institute (silakan klik), pada tahun 2003, aborsi di seluruh dunia ada sekitar 41,6 juta, di Amerika 1,5 juta, di Indonesia mungkin sekitar 2 juta. Dengan demikian, dalam 1 detik ada sekitar 1,32 bayi yang dibunuh, atau dalam 1 menit ada sekitar 80 bayi yang terbunuh di seluruh dunia. Dan hal ini terus berlangsung sampai saat ini, termasuk pada waktu anda menyelesaikan membaca artikel ini, maka ada sekitar 1,600 anak terbunuh, jika anda membaca artikel ini sekitar 20 menit.

Aborsi adalah sungguh berdosa dan sungguh jahat, dan mungkin dapat dikatakan sebagai dosa yang sungguh berat. Artikel tentang hal ini dapat dibaca di sini (silakan klik). Matius 25 menceritakan bagaimana dalam penghakiman terakhir, Tuhan akan memperhitungkan apa yang kita perbuat, sehingga Dia mengatakan “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.” (Mat 25:44). Dan siapakah orang yang hina, dalam pengertian orang-orang yang tertinggal dan tidak dapat menyuarakan penderitaannya, kecuali bayi-bayi yang dimusnahkan dengan cara aborsi? Begitu banyak orang mengorek sejarah tentang pembunuhan masal di masa lalu, seperti kekejaman tentara Nazi yang membunuh hampir 6 juta orang Yahudi. Namun, ada pembunuhan masal yang terbesar dalam sejarah umat manusia, yang terjadi di depan mata kita, pada saat ini, yaitu melalui aborsi, yang membunuh sekitar 41 juta janin setiap tahunnya.

Meluruskan fakta tentang aborsi

Ada begitu banyak orang yang tidak menyadari akan apa sebenarnya yang terjadi di dalam aborsi. Ada yang mengatakan bahwa aborsi di bulan-bulan pertama adalah tidak apa-apa, karena janin masih belum terbentuk. Ada yang mengatakan bahwa yang digugurkan bukanlah manusia. Berikut ini saya ingin menunjukkan gambar-gambar janin yang mengalami aborsi dalam usia yang berbeda-beda, yang saya ambil dari site CBR (silakan klik). Semoga dengan gambar-gambar ini, maka kita semua menyadari bahwa aborsi adalah suatu pembunuhan, pembunuhan yang begitu keji, karena dilakukan kepada janin, yang tidak dapat mempertahankan diri mereka, yang tidak dapat menjerit walaupun merasakan kesakitan yang luar biasa. Keterangan: Silakan klik pada gambar untuk memperbesar gambar.

Masa 7 minggu (hampir 2 bulan)

07_weeks-01 07_weeks-02 07_weeks-03 07w02

 

Masa 8 minggu (2 bulan)

08_weeks-01 08_weeks-06 08_weeks-07 08_weeks-03 08_weeks-10
08_weeks-11 08_weeks-12 08w01 08_weeks-08

Masa 9 Minggu (setelah 2 bulan)

09_weeks-01 09_weeks-02 09_weeks-03 09w01 09w03
09w05 09w07

Masa 10 Minggu(2 1/2 bulan)

10_weeks-05 10_weeks-04 10_weeks-01 10_weeks-07 10_weeks-06
10_weeks-08 10_weeks-09 10_weeks-10 10w03 10_weeks-12
10_weeks-13 10_weeks-14 10w02 10_weeks-11 10w05
10w06 10w08 10w09 10w11 10w12

Masa 11 Minggu(3 bulan)

11_weeks-02 11w01 11_weeks-03 11_weeks-04

Masa 22-24 Minggu (5-6 bulan)

22_weeks-01 22_weeks-02 22_weeks-03 24_weeks-01

Saya meminta maaf kalau sampai gambar-gambar tersebut menimbulkan kengerian di dalam hati pembaca. Namun, saya tidak mempunyai pilihan untuk menunjukkan secara gamblang, bahwa dosa aborsi memang begitu mengerikan dan jahat, kecuali dengan menunjukkan gambar-gambar bayi-bayi yang tidak berdosa yang dibunuh tanpa dapat melawan dan menjerit. Gambar-gambar tersebut menunjukkan bahwa mereka adalah manusia, sama seperti kita, kecuali anggota tubuhnya masih belum terbentuk secara lengkap di usia dini, atau anggota tubuhnya masih kecil. Mereka sama seperti kita yang dapat mengalami sakit, hanya mereka tidak dapat berteriak untuk mengungkapkan kesakitan atas kesadisan yang mereka terima. Dan kesadisan yang begitu menjijikan dan mengerikan ini berlangsung lebih cepat dari perputaran jarum detik di jam tangan kita, dan masih terus berlangsung pada saat ini.

Apa yang dilakukan oleh Gereja?

Setelah kita mengetahui tentang fakta-fakta kejahatan aborsi, yang sebenarnya adalah pembunuhan masal terbesar di sepanjang sejarah manusia, maka apakah kita dapat membiarkan seorang Katolik, seperti Patrick Kennedy, yang mendukung menggunakan uang rakyat untuk membiayai asuransi kesehatan, termasuk membiayai aborsi? Apakah salah kalau Uskup Tobin menyatakan bahwa sebagai seorang Katolik, maka Patrick Kennedy tidak hidup dengan prinsip-prinsip kristiani? Dan karena Patrick Kennedy mendukung aborsi, bukan hanya sekali, namun berkali-kali, sehingga menjadikannya melakukan dosa berat. Dan kalau orang yang berdosa berat tidak dapat menerima komuni, maka apakah salahnya uskup Tobin mengatakan bahwa dia tidak layak untuk menerima Komuni Kudus? Bukankah hal ini untuk kebaikan Patrick Kennedy sendiri, karena rasul Paulus mengatakan “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.” (1 Kor 11:27) Sebenarnya, kalau kasih adalah menginginkan yang baik untuk orang yang dikasihinya, dan kalau kebaikan yang tertinggi adalah bersatu dengan Tuhan di dalam Kerajaan Sorga, dan dengan perbuatan Patrick Kennedy yang membahayakan kehidupan kekalnya sendiri, maka dengan peringatannya, uskup Tobin telah berbuat kasih kepada Patrick Kennedy.

Sebagai seorang uskup, seorang gembala, maka sudah seharusnya dia memperingatkan umatnya untuk dapat terus bersatu dengan Kristus dan Gereja-Nya. Kalau Uskup Tobin memperingatkan umatnya, yang kebetulan adalah seorang politikus, bukanlah berarti bahwa Gereja ingin mengatur keputusan-keputusan publik. Tidak ada yang memaksa seseorang untuk masuk dalam Gereja Katolik. Kalau orang tersebut masuk dalam Gereja Katolik, maka dia mempunyai hak-hak dan juga kewajiban-kewajiban. Sama seperti seseorang yang dengan bebas memutuskan untuk masuk ke suatu sekolah, maka dia mendapatkan hak-haknya sebagai seorang murid, namun dia harus juga memenuhi kewajibannya sebagai murid, seperti: belajar dengan baik, menghormati guru, membayar uang sekolah, dll. Kalau murid tersebut tidak dapat menjalankan kewajibannya, maka pihak sekolah berhak menegur murid tersebut, entah dengan memberikan skors atau bahkan dikeluarkan dari sekolah tersebut.

Dalam kasus Patrick Kennedy, uskup Tobin kemungkinan hanya memberikan peringatan kepada Patrick Kennedy agar secara sadar tidak menerima Komuni Kudus, seperti yang dinyatakan dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK, 916), yang menyatakan “Yang sadar berdosa berat, tanpa terlebih dahulu menerima sakramen pengakuan, jangan merayakan Misa atau menerima Tubuh Tuhan, kecuali ada alasan berat serta tiada kesempatan mengaku; dalam hal demikian hendaknya ia ingat bahwa ia wajib membuat tobat sempurna, yang mengandung niat untuk mengaku sesegera mungkin.” Dan kemungkinan status ini di kemudian hari dapat berkembang dengan memberikan skors, yaitu dengan menggunakan KHK, 915 yang menyatakan “Jangan diizinkan menerima komuni suci mereka yang terkena ekskomunikasi dan interdik, sesudah hukuman itu dijatuhkan atau dinyatakan, serta orang lain yang berkeras hati membandel dalam dosa berat yang nyata.

Walaupun orang yang terkena KHK, 916 maupun KHK, 915, adalah tetap menjadi umat Katolik, namun orang yang terkena sangsi tersebut seharusnya tahu, bahwa dia sedang berada dalam dosa berat. Dan peraturan ini memberikan peringatan kepada orang tersebut, sehingga orang tersebut dapat kembali ke pangkuan Gereja. Dan pada akhirnya, seorang uskup dapat juga memberikan sangsi berupa ekskomunikasi, jika tindakan-tindakan yang lain tidak dapat mengembalikan seseorang ke pangkuan Gereja. Tindakan ekskomunikasi inipun sebenarnya bernaksud baik, yaitu agar yang terkena sangsi dapat merenungkan perbuatannya, dan agar dapat ia bertobat. Selanjutnya tentang arti ekskomunikasi, silakan klik di sini.

Kesimpulan

Dari beberapa fakta dan penjelasan di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa aborsi bukan hanya dosa melawan Tuhan dan Gereja, namun juga melawan kemanusiaan. Orang yang mempunyai hati nurani yang benar, tidak perduli dari agama manapun, tidak akan membiarkan dirinya melakukan aborsi maupun terlibat dan bekerja sama dalam bentuk apapun untuk mendukung aborsi, karena alasan yang sangat sederhana – bahwa aborsi adalah pembunuhan kepada sesama manusia, bahkan pembunuhan yang paling menjijikan dan mengerikan.

Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh uskup Tobin, yang meminta Patrick Kennedy agar tidak menerima Komuni Kudus adalah perbuatan kasih, sehingga Patrick Kennedy dapat memeriksa batinnya dan menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah berdosa. Dengan demikian, Patrick Kennedy tidak membuat skandal terhadap umat Katolik yang lain, sehingga mereka juga dapat menyadari akan konsekuensi dari dosa berat dan juga pentingnya Sakramen Ekaristi dalam pertumbuhan spiritual umat Katolik.

Semoga saja, akan semakin banyak uskup-uskup lain yang berani dengan tegas menegur para politikus dan figur publik yang tidak bertindak sebagaimana layaknya umat Katolik yang baik. Dan semoga para tokoh politik maupun tokoh masyarakat tersebut dapat menyadari bahwa mereka tidak dapat memisahkan iman dari perbuatannya. Ya, iman memang harus dinyatakan dengan perbuatan, dan baru dengan demikian kita dapat dikatakan mempunyai iman yang hidup (Yak 2: 17, 26).

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab