Home Blog Page 273

Tentang Rasul Petrus dan Paulus

5

Pertanyaan:

salam jumpa, saya mau bertanya lagi menyoal hari raya St. Petrus dan Paulus;
1. Bagaimana sejarah awalnya
2. bagaimana liturginya
3. apa inti/makna teologisnya.

TERIMA KASIH.
TUHAN SAYANG KITA SEMUA,

Frater Yarid K. Munah

Jawaban:

Shalom Fr. Yarid,
1. Mengenai Hari Raya St. Petrus dan Paulus, Frater dapat membaca sekilas di link ini, silakan klik, dan juga di situs ini, silakan klik, untuk mengetahui sekilas kisahnya. Sedangkan untuk riwayat hidup St. Peter, silakan klik di sini, dan St. Paulus, klik di sini.
Perayaan Hari Raya St. Petrus dan Paulus, itu untuk meringati hari kedua rasul itu dibunuh sebagai martir [Rasul Petrus disalibkan terbalik, dan Rasul Paulus dipenggal kepalanya dengan pedang]. Perayaan ini telah ditetapkan menurut tradisi sejak tahun 67, pada tanggal yang sama (29 Juni),  sebagai hari peringatan meninggalnya mereka, atau hari pemindahan relikwi mereka ke gedung gereja/ basilika.

2. Mengenai liturginya, jika ini maksudnya liturgi Ekaristi, secara umum sama, hanya ada perbedaan di doa pembukaan, doa-doa pada liturgi Ekaristi dan doa setelah komuni dan berkat penutup. Sayangnya, saya tidak mempunyai teks dalam bahasa Indonesia, yang saya miliki adalah teks bahasa Inggris yang saya ambil dari buku Sacramentary yang dikeluarkan oleh CDW (the Congregation for Divine Worship. Nov 1,1973) dan demikianlah yang bisa saya sertakan:

Opening Prayer:

God our Father, today you give us the joy of celebrating the feast of the Apostles Peter and Paul. Through them Your Church first recieved the faith. Keep us true through their teaching. Grant this through our Lord Jesus Christ, Your Son, who lives and reign with You and the Holy Spirit, one God, for ever and ever.

Liturgy of the Word:

First Reading: Acts 12:1-11
Second Reading: 2 Tim 4:6-8, 17-18
Gospel: Mat 16:13-19

Liturgy of the Eucharist:

Prayer over the Gifts:

Pray, brethern,…….

Lord, may Your Apostles join their prayers to our offering and help us to celebrate this sacrifice in love and unity. We ask this through Christ our Lord.

Pr: The Lord be with you
Pp: And also with you

Pr: Lift up your heart
Pp: We lift them up to the Lord

Pr: Let us give thanks to the Lord
Pp: It is right to give Him thanks and praise

Pr: Father, all powerful and everliving God, we do well always and everywhere to give You thanks.

You fill our hearts with joy as we honor your great Apostles:
Peter, our leader in the faith, and Paul, its fearless preacher.

Peter raised up the Church from the faithful flock of Israel.
Paul brought your call to the nations, and became the teacher of the world.
Each in his chosen way gathered into unity the one family of Christ.
Both shared a martyr’s death and are praised theoughout the world.

Now, with the Apostles and all the angels and saints we praise You forever:

Holy, holy, holy Lord, God of power and might, heaven and earth are full of Your glory.
Hosanna in the highest.
Blessed is He who comes in the name of the Lord. Hosanna in the highest.

———

Prayer After Communion

Lord, renew the life of Your Church with the power of this sacrament.
May the breaking of the bread and the teaching of the Apostles keep us united in Your love.
We ask this in the name of Jesus the Lord.

Solemn blessing or prayer over the people:

Pr: Bow your head for God’s blessing

The Lord has set you firm within His Church, which He built upon the rock of Peter’s faith.
May He bless you with faith that never falters.
Amen

The Lord has given you knowledge of the faith theough the labors and preaching of St. Paul.
May his example inspire you to lead others to Christ by the manner of your life.
Amen

May the keys of Peter and the words of Paul, their undying witness and their prayers,
lead you to the joy of that eternal home which Peter gained by his cross, and Paul by the sword.
Amen

May almighty God bless you,
The Father, and the Son, and the Holy Spirit.

3. Mengenai inti dan makna teologisnya, saya rasa adalah kita menghormati Rasul Petrus dan Paulus, terutama karena teladan kasih mereka kepada Tuhan sehingga mereka rela menyerahkan nyawa mereka demi mewartakan Kristus. Ini adalah pelajaran yang sangat berharga yang dapat kita pelajari dari para martir, secara khusus Rasul Petrus dan Paulus. Mereka tidak takut untuk mewartakan kebenaran, mewartakan Kristus, meskipun di bawah tekanan dan penganiayaan. Mereka tetap mewartakan Kristus, meskipun mengalami berbagai cobaan, entah dikejar-kejar, dimasukkan penjara, terkena bencana badai dan kapal yang karam, disiksa sampai mati, demi iman mereka kepada Kristus. Sungguh mereka menjadi teladan hidup dari pengajaran Rasul Paulus, Rom 8:35-39, yang mengatakan:

8:35    Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?
8:36    Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.”
8:37    Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.
8:38    Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang,
8:39    atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Maka jika kita sekarang dipanggil untuk hidup kudus, yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama demi kasih kita kepda Tuhan (lihat Konsili Vatikan II, Lumen Gentium Bab V), maka contoh yang sangat nyata yang dapat kita teladani untuk hidup kudus adalah berani untuk hidup sebagai martir, artinya tidak undur untuk hidup sesuai dengan pengajaran iman kita walau di tengah tekanan dan penganiayaan. Sebab hanya dengan hidup sedemikian, kita menunjukkan kasih kita kepada Tuhan, yaitu dengan menaati semua perintah-Nya. Melalui teladan St. Petrus dan Paulus, kita dapat terdorong untuk mewartakan kebenaran dan menjadi saksi kebenaran itu sendiri dengan hidup sesuai dengan iman kita. Kita harus siap sedia mengakui Kristus, bahkan di hadapan mereka yang menolak Dia. Semoga dengan kesaksian hidup kita, banyak orang dapat mengenal Kristus.

Lumen Gentium 42 mengatakan:

“Yesus, Putera Allah, telah menyatakan cinta kasih-Nya dengan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Maka tidak seorang pun mempunyai cinta kasih yang lebih besar dari pada dia yang merelakan nyawanya untuk Dia dan saudara-saudaranya (lih. 1Yoh 3:16; Yoh 15:13). Sudah sejak masa permulaan ada orang-orang kristiani yang telah dipanggil, dan selalu masih ada yang akan dipanggil, untuk memberi kesaksian cinta kasih yang tertinggi itu dihadapan semua orang, khususnya di muka penganiaya. Maka Gereja memandang sebagai kurnia luar biasa dan bukti cinta kasih tertinggi kematian sebagai martir, yang menjadikan murid serupa dengan Guru yang dengan rela menerima wafat-Nya demi keselamatan dunia, serupa dengan Dia dalam menumpahkan darah. Meskipun hanya sedikit yang diberi, namun semua harus siap-sedia mengakui Kritus di muka orang-orang, dan mengikuti-Nya menempuh jalan salib di tengah penganiayaan, yang selalu saja menimpa Gereja.”

Sedangkan dalam homili Bapa Paus Benediktus XVI pada tanggal 29 June 2008, ia menekankan agar kita belajar dari teladanRaul Petrus dan Paulus, untuk mengutamakan kesatuan (unity) dan ke-universal-an (universality) iman Katolik.

Demikian yang dapat saya tuliskan sehubungan dengan pertanyaan Frater. Mari dengan melihat teladan Rasul Petrus dan Paulus, kita semakin terdorong untuk mengasihi Tuhan Yesus yang telah lebih dahulu mengasihi kita.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

1-2-4: Menurutmu, siapakah Aku?

5

Bacaan: Mat 16: 13-21

Renungan:

Yesus sendiri mengajukan pertanyaan tentang identitas diri-Nya, dengan demikian mengajarkan kepada para murid-Nya untuk memberikan pengungkapan yang lain dari, Apakah yang harus kulakukan? Mengapa penting bahwa pertanyaan tersebut diubah? Sebab kalau pencarian dan pertanyaan manusia tidak membuka ke arah Yesus, maka tidak akan ada jawaban yang definitif dan sempurna. Konsili Vatikan II mengajarkan:

“Adapun kepada Gereja dipercayakan untuk menyiarkan misteri Allah, yang merupakan tujuan terakhir manusia. Maka Gereja sekaligus menyingkapkan kepada manusia makna keberadaannya sendiri, dengan kata lain, kebenaran yang paling mendalam tentang manusia. Sesungguhnya Gereja menyadari, bahwa hanya Allah yang diabdinyalah, yang dapat memenuhi keinginan-keinginan hati manusia yang terdalam, dan tidak akan pernah mencapai kepuasan sepenuhnya dengan apa saja yang disajikan oleh dunia. … Sebab manusia selalu akan ingin mengetahui, setidak-tidaknya secara samar-samar, manakah arti hidupnya, kegiatannya dan kematiannya. Kehadiran Gereja sendiri mengingatkan akan masalah-masalah itu. Akan tetapi hanya Allah, yang menciptakan manusia menurut gambar-Nya, dan menebusnya dari dosalah, yang memberi jawaban paripurna kepada soal-soal itu, yakni melalui perwahyuan dalam Kristus Putera-Nya yang telah menjadi manusia. Barang siapa mengikuti Kristus Manusia sempurna, juga akan menjadi manusia yang lebih utuh.” (Gaudium et Spes, Gereja dalam dunia modern, 41)

Yesus Kristus mengetahui bahwa terdapat banyak versi tentang siapa Diri-Nya, dan Petrus juga menyadari adanya beberapa pendapat. Tetapi Yesus ingin mengetahui: Menurutmu, siapakah Aku? Pertanyaannya adalah: Siapakah Aku bagimu? Yesus menarik setiap orang kepada Diri-Nya. Pertanyaan ini tidak dapat dihindari.

Petrus mengakui bahwa Yesus adalah Putera Allah dan Mesias yang dikirimkan untuk menyelamatkan umat Tuhan. Tanggapannya merupakan teladan bagi kita. Kita dapat yakin bahwa kita menanggapi pertanyaan ini dengan tepat kalau kita memberikan jawaban yang sama dengan jawaban Petrus. Apakah ini membuat iman dan hubungan dengan Kristus sebagai sesuatu yang sama bagi semua umat beriman? Ya dan tidak. Ya, sebab Ia adalah Tuhan yang sama yang memberikan misteri yang sama di dalam setiap kita. Tidak, karena setiap individual mengalami iman secara berbeda. Iman bersifat pribadi dalam arti bahwa hanya seorang yang telah secara pribadi mengalami misteri kehidupan yang dapat terarahkan untuk bertanya tentang identitas Kristus. Namun demikian, iman juga merupakan penemuan kembali bahwa jawaban Tuhan terhadap pertanyaan-pertanyaanku adalah juga jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan orang lain, sebab pertanyaan-pertanyaan ini mengalir dari hati manusia yang diciptakan sesuai dengan gambaran Tuhan.

Yesus berkata kepada Petrus bahwa penemuan akan identitas Diri-Nya bukanlah semata-mata usaha manusia. Tuhan Allah Bapa menyatakannya kepadanya. Di bagian lain dalam Injil Yesus mengatakan, “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku” (Yoh 6:44). Adalah rahmat Tuhan yang telah bekerja di dalam hati, yang mendorong seseorang untuk melontarkan pertanyaan ini. Adalah karunia Tuhan bagi seseorang jika ia mencari di dalam Yesus Kristus jawaban bagi permasalahan- permasalahan kehidupan. Dan adalah suatu karunia iman, jika ia dapat melihat di dalam Kristus jawaban Tuhan terhadap misteri-misteri kehidupan. Menanggapi iman Petrus, Yesus memberinya sebuah identitas yang baru, sebuah panggilan. Di dalam iman, Petrus menemukan identitasnya di dalam Kristus. Semua orang tidak dipanggil untuk menjadi seorang rasul seperti Petrus, tetapi setiap dari kita akan menerima sebuah panggilan, ketika kita datang kepada-Nya di dalam iman.

Pertanyaan:

  1. Bayangkanlah anda ditanya oleh Yesus, Menurutmu, siapakah Aku? dan bayangkanlah apa yang menjadi jawaban-jawaban yang populer namun tidak tepat yang mungkin diutarakan pada jaman sekarang. Sebutkanlah beberapa kesalahpahaman/ ‘misconception‘ tentang identitas Yesus.
  2. Di dalam keadaan-keadaan apa di dalam hidupmu, Yesus mengajukan pertanyaan tentang identitas Diri-Nya? Apakah Ia terus menanyakan hal ini?
  3. Apakah ada beberapa orang yang menanyakan, Apakah yang harus kulakukan? tetapi tidak menanyakan kepada Yesus, Siapakah Engkau? Apa yang dapat dilakukan untuk membantu mereka mengubah pertanyaan ini dengan perkataan yang berbeda? Apakah pentingnya mengubah pertanyaan ini?
  4. Bayangkanlah anda menanggapi di posisi Petrus. Apakah yang menjadi tanggapan Yesus kepadamu? Apakah panggilanmu? Apakah anda merasa dipanggil, atau menerima sebuah panggilan, sebuah identitas, dari Tuhan?
  5. Bagaimana Gereja menyatakan kepada manusia arti dari keberadaan dirinya sendiri?
  6. Bagaimana anda dapat menjelaskan bahwa tanggapn Tuhan adalah sama bagi semua orang?

Tentang infalibilitas dan Paus= ‘Holy Father’

13

[Dari Admin Katolisitas: Berikut ini adalah pertanyaan dari Alexander Ponto, yang menyertakan surat menyurat antara dia dengan seorang temannya dari gereja Protestan. Nama temannya kami edit/ sebut saja “B“, agar tidak menyangkut ke pribadi]

Pertanyaan:

ini beberapa bagian paling akhir (saat ini) dari surat menyurat antara saya dan teman protestan saya (B). saya mohon bantuan. apakah saya ada salah pengertian?

Alexander Ponto, December 7 at 9:17am
ini jawaban dari romo : dasar kepercayaan Orang katolik adalah injil dan ajaran gereja yang menjaga pengertian yang benar mengenai Injil. Injil bisa salah dimengerti, oleh karena itu, perlu dipelajari dengan baik, dan mohon roh kudus untuk menerangi.

B, December 8 at 4:42pm
wheiz.. mantap.. tanya Romo :D
sekarang, bagaimana menurut pendapatmu tentang jawaban Romo itu? :)

Alexander Ponto December 8 at 4:47pm
biasa ae. lek mnrtmu lak apa?

B, December 8 at 4:55pm
loh.. wakakak endak endak..:P (PS: aku cegek ngeliat jawabanmu, ga sesuai ekspektasi’ku). sek sek… maksudku gin.. aku perjelasi :)

dasar kepercayaan orang katolik adalah injil dan ajaran gereja. Aku sekarang ga mempermasalahkan injil dulu :)

“ajaran gereja yang menjaga pengertian yang benar mengenai injil” => menurutmu, apakah ajaran gereja yang dah kuno itu 100% bener? apakah ada kemungkinan bahwa ajaran (pengertian) yang mereka dapatkan itu kurang bener?

“Injil bisa salah dimengerti, oleh karena itu perlu dipelajari dengan baik, dan mohon Roh Kudus untuk menerangi” => siapa yang bisa salah mengerti Injil? siapa yang bisa diterangi Roh Kudus untuk mendapatkan pengertian yang benar tentang injil?

Alexander Ponto December 8 at 6:04pm
bagiku biasa ae. soal e aku ket awal wes males mbahas ini. ora penting bagiku. *menguap*

wong ket awal aku wes ngomong lek bagiku katolik = protestan (podo wae)

————————————————————————————————-

kuno atau baru tidak menjamin 100% bener. lek km tanyak kemungkinan, kemungkinan selalu ada, baik di katolik maupun di protestan

lek mnrtku, sapa ae isa salah mengerti. rasa e seh semua orang isa diterangi roh kudus.

opo’o km menanyakan hal2 itu?

B, December 9 at 10:00am
“kuno atau baru tidak menjamin 100% bener. lek km tanyak kemungkinan, kemungkinan selalu ada, baik di katolik maupun di protestan” => that’s it… ini jawaban mantap ;) berarti, dengan jawabanmu ini, kamu mengatakan bahwa kamu ga setuju dengan kepercayaan katolik :) Lihat.. pemikiran romo (injil dan ajaran gereja 100% benar) dan pemikiranmu (injil 100% bener, tapi ajaran gereja tidak 100% benar) 100% bertolak belakang :) Sekarang kamu ngerti bahwa pikiran orang katolik (romo) dan orang kristen (kamu) ada beda’nya? :)

Sekarang, kalo kuno ato baru n katolik ato protestan ga ada yang 100% bener, berarti kita mesti mem’filter semua ajaran yang kita dengarkan, kan? dengan apa kita mem’filter’nya? :) alkitab to? :) Maka dari itu, ujilah semua ajaran2 yang kamu terima dari katolik. Kamu akan menemukan banyaaak yang salah di sono :)

“lek mnrtku, sapa ae isa salah mengerti. rasa e seh semua orang isa diterangi roh kudus.” => ini jawaban yang logis banget… kalo semua orang bisa salah mengerti, knp para orang katolik 100% percaya pada omongan Pope dan enggak di’filter? :) For your info, Pope itu dari bahasa Itali “il Papa”, yang artinya “Holy Father”. Orang katolik menyebutnya sebagai “Holy Father”, karena mereka 100% mempercayai omongan Pope mengenai pemahaman alkitab. Padahal, hanya 1 Holy Father yang ada, yaitu Allah Bapa yang Kudus di Sorga, dan ga boleh sebutan itu disebutkan pada manusia (perintah Allah ke 2 tentang idolatry, dan perintah Allah ke 3 tentang menyebut nama Tuhan dengan sembarangan)

Dikatakan bahwa Pope itu adalah regenerasi dari Petrus. Kalo Petrus ada Pope yang pertama, aku sama sekali ga percaya, karena Petrus enggak akan menyebut dirinya ataupun membiarkan orang lain menyebut dirinya Holy Father. Bahkan, kamu lihat sendiri bahwa Petrus ga mau disamakan dengan Yesus walopun itu hanya hukuman mati (penyaliban), sehingga Petrus request untuk salibnya dibailk untuk membedakan bahwa dia tidak menggantikan posisi Yesus. Lihat betapa radikal’nya Petrus untuk mengidolakan Tuhan. Padahal Yesus dont mind ada 2 orang penjahat yang disalib berdiri persis seperti Dia, krn itu enggak ngefek :)

Jawaban dari Katolisitas:

Shalom Alexander Ponto,

Kelihatannya di surat menyurat di atas, terdapat sedikitnya tiga hal yang dipermasalahkan: 1) Teman anda tidak percaya bahwa Gereja Katolik (yang dipimpin oleh Paus) tidak dapat salah mengajarkan dan menginterpretasi Alkitab/ Injil, 2) Teman anda tidak percaya bahwa Petrus adalah Paus yang pertama, 3) Menurut teman anda seharusnya kita tidak boleh memanggil Paus dengan perkataan “Holy Father” karena harusnya ucapan itu hanya untuk Tuhan.

1. Tentang Infalibilitas

Gereja Katolik (yang dipimpin oleh Paus dan para uskup) tidak dapat salah mengajarkan dan menginterpretasi Alkitab. Kristus memberikan kuasa “infalibilitas/ infallibility” kepada para pemimpin Gereja tersebut yang disebut sebagai Magisterium. Magisterium adalah Wewenang Mengajar Gereja, yang terdiri dari Bapa Paus (sebagai pengganti Rasul Petrus) dan para uskup (sebagai pengganti para rasul) dalam persekutuan dengannya.  Karisma “tidak dapat sesat” (infalibilitas) yang diberikan oleh Yesus, itu terbatas dalam hal pengajaran mengenai iman dan moral. Maka kita ketahui bahwa sifat infalibilitas ini tidak berlaku dalam segala hal, namun hanya pada saat mereka mengajar secara definitif tentang iman dan moral, seperti yang tercantum dalam Dogma dan doktrin resmi Gereja Katolik. Lebih lanjut tentang Magisterium, silakan klik di sini.

Mengapa karisma infalibilitas ini perlu dan penting? Karena justru dengan karisma inilah Tuhan Yesus melindungi Gereja yang didirikanNya dari perpecahan. Tanpa kuasa wewenang mengajar dari Magisterium, maka seseorang dapat mengatakan pemahamannya yang paling benar, dan dengan demikian memisahkan diri dari kesatuan Gereja, seperti yang sudah terjadi berkali-kali dalam sejarah Gereja. Kuasa infalibilitas dari Yesus kepada Petrus dan para penerusnya diberikan  oleh Yesus, pada saat Ia mengatakan kepada Petrus sesaat setelah Ia mengatakan bahwa akan mendirikan Gereja-Nya atas Petrus (Mat 16:18). Yesus berkata, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat 16:19)

Maksudnya di sini adalah Yesus memberikan kuasa kepada Petrus untuk mengajarkan tentang iman dan moral, sebagai ketentuan yang ‘mengikat’ manusia di dunia dan kelak diperhitungkan di sorga. Tanpa kesatuan pemahaman tentang iman dan moral, maka yang terjadi adalah relativisme, dan perpecahan gereja, dan ini sudah terbukti sendiri dengan adanya banyak sekali denominasi Protestan (sekitar 28.000), yang dimulai umumnya dengan ketidaksesuaian pemahaman dalam hal doktrin (baik iman maupun moral) antara para pemimpin gereja Protestan, sehingga yang tidak setuju memisahkan diri.

Maka fakta sendiri menunjukkan interpretasi pribadi tidak bisa berfungsi sebagai “filter” (istilah yang dipakai teman anda) bagi pengajaran Paus dalam hal iman dan moral. Karena pengajaran Paus (Magisterium) dalam hal iman dan moral sudah pasti 100% benar, sehingga tidak perlu difilter. Mereka mengajarkan berdasarkan sumber dari pengajaran para rasul dan Bapa Gereja yang langsung/ lebih dekat terhubung dengan Kristus, sedangkan kita sekarang terpisah sekian abad dari jaman Kristus. Tentu mereka lebih memahami maksud Kristus daripada kita. Menganggap kita harus “mem-filter” ajaran para rasul itu sama saja dengan menganggap diri “lebih tinggi dari para rasul”.  Ini menurut saya adalah kesombongan rohani. Sebab klaim teman anda bahwa ‘filter’nya adalah Kitab Suci, sebenarnya tidak tepat, karena nyatanya yang dijadikan ‘filter’ adalah interpretasi pribadi tentang ayat- ayat Kitab Suci. Kita juga dapat melihat faktanya, kalaupun pengajaran para rasul dan Bapa Gereja ini “difilter” dengan pandangan pribadi, hasilnya malah perpecahan, dan akhirnya kebenaran dianggap sebagai sesuatu yang relatif. Ini akhirnya menghasilkan faham ketidakpedulian akan agama (religious indifferentism) karena orang berpikir semua pendapat toh akhirnya bisa ‘benar’, sehingga orang tidak peduli pada agama, seperti yang sudah terjadi terutama di negara- negara Eropa.

Yesus, dalam kapasitas-Nya sebagai Allah yang Maha tahu, sudah mengetahui akan kemungkinan ini, pada masa Ia hidup di dunia sebagai manusia. Maka, Yesus hanya mendirikan satu Gereja, dan Ia berjanji bahwa Gereja-Nya tidak akan dikuasai oleh maut (lih. Mat 16:18), artinya tidak akan disesatkan oleh Iblis hingga binasa. Yesus yang mengajarkan perkawinan adalah antara satu laki-laki dan satu perempuan, juga pasti akan menerapkan hal itu sendiri, ketika melalui Rasul Paulus, Ia mengatakan bahwa Ia adalah seumpama Mempelai laki-laki, dan Gereja-Nya adalah mempelai perempuan (Ef 5:22-33). Sebelum sengsaraNya, Ia juga berdoa kepada Allah Bapa, agar para rasul-Nya dan pengikut- mereka (yaitu kita semua sebagai anggota Gereja-Nya) bersatu (Yoh 17:20-23). Dan tentu kesatuan ini termasuk dan terutama dalam kesatuan Baptisan dan kesatuan ajaran, sebagai pesan Yesus yang terakhir yang diberikan kepada para rasul-Nya sebelum Ia naik ke surga (lih. Mat 28:19-20).

Maka penting di sini bagi kita untuk memahami Kitab Suci sesuai dengan pengajaran para rasul, agar kita dapat sungguh melaksanakan apa yang menjadi ajaran Kristus. Kita terhubung dengan para Rasul itu melalui para Bapa Gereja, karena para Bapa Gereja merupakan murid dari para rasul ataupun murid dari murid para rasul; dengan perkataan lain, merekalah yang dengan setia meneruskan ajaran dari para rasul. Melalui kesaksian para Bapa Gereja inilah kita memperoleh kitab-kitab Injil, dan merekalah yang menentukan kanon Kitab suci, yang terdiri dari kitab-kitab yang diyakini sebagai yang diilhami oleh Roh Kudus. Silakan membaca tentang kanon Kitab Suci di sini, silakan klik.

Dengan demikian adalah suatu pandangan yang keliru, jika Gereja Katolik yang setia berpegang kepada pengajaran para rasul dan Bapa Gereja tersebut disebut sebagai Gereja yang “kuno”. Kita harus melihat Gereja itu sebagai “pemberian” Kristus yang dibentuk oleh Kristus sendiri, dan bukannya Gereja yang bisa kita bentuk sesuai keinginan hati manusia. Maka dengan pengertian ini Gereja hanya bisa kita terima, dan bukannya sesuatu yang bisa ‘didirikan’ oleh manusia atas dasar pemahaman pribadi manusia tentang suatu ajaran, yang sudah ‘disesuaikan’ atau dimodernisasi sesuai dengan kebutuhan. Ini adalah pandangan yang keliru tentang Gereja.

Nah, dengan keinginan Yesus untuk mempertahankan kesatuan Gereja-Nya, maka sudah menjadi konsekuensi bahwa Ia memberikan kuasa tidak dapat sesat/ infalibilitas kepada pemimpinnya (yaitu Bapa Paus) untuk mengajarkan hal iman dan moral. Maka infalibilitas hanya berlaku pada: 1) Ajaran yang  diajarkan Paus secara “ex-cathedra” (artinya dari kursi Petrus/atas nama Rasul Petrus), maupun dalam pernyataan ajarannya yang lain, yang otentik dalam kapasitasnya sebagai Imam Agung di Roma; 2) Ajaran Paus itu menyangkut pengajaran definitif tentang iman dan moral, 3) Ajaran tersebut berlaku untuk Gereja secara universal; 4) Namun demikian, jika para uskup dalam persekutuan dengan Paus mengajarkan secara definitif tentang iman dan moral, ajaran mereka pun juga infallible/  tidak dapat sesat. Keempat hal ini dijabarkan dalam Konsili Vatikan II, menegaskan kembali apa yang telah ditetapkan dalam Konsili di Konstantinopel (869-70), Lyons (1274) dan Florence (1438-45). Pada saat ketiga syarat di atas terpenuhi, maka pengajaran tersebut dapat dikatakan sebagai pengajaran Magisterium, dan ajarannya termasuk dalam Tradisi Suci.

Tradisi Suci dan Kitab Suci inilah yang harus dilihat sebagai “deposit of faith“, perbendaharaan iman, dan keduanya tidak terpisahkan, karena bersumber pada sumber yang sama yaitu pengajaran Kristus dan para rasul. Namun, jika ketiga syarat ini tidak dipenuhi, misalnya Paus mengajar atas nama pribadi, dan bukan tentang iman dan moral, tidak pula menyangkut Gereja universal, maka pengajarannya tidak dapat dikatakan “infallible/ tidak dapat sesat.” (Contoh:  Paus Benediktus XVI yang adalah seorang pianis handal, pandai juga dalam musik. Namun dalam hal musik, ajarannya tetap bisa salah, karena ia mengajar tidak dalam kapasitas sebagai Rasul Petrus, dan hal yang diajarkannya bukan tentang iman dan moral).

Interpretasi pribadi akan Kitab Suci tanpa pemahaman yang benar, sesuai dengan Tradisi Suci, akan menghasilkan perpecahan, dan ini sudah terbukti di dalam sejarah, dengan adanya 28.000 denominasi gereja protestan yang masing-masing meng-klaim, mendapat inspirasi dari Roh Kudus. Sebenarnya, jujur perlu di renungkan, mengapa jika Roh Kudus adalah Roh Kasih, Roh pemersatu dan Roh Kebenaran, mengapa orang-orang yang mengaku dituntun oleh-Nya tidak dapat lagi mengasihi (tidak lagi sabar menanggung segala sesuatu 1 Kor 13:7) sehingga harus memisahkan diri? Mengapa orang-orang tersebut tidak membuat pembaharuan di dalam Gereja seperti yang dilakukan oleh para orang kudus, tetapi malah meninggalkannya? Mengapa kebenaran yang  mereka yakini bisa berbeda-beda, dan bertentangan? Dalam hal ini, sebagai umat Katolik kita perlu bersyukur, sebab dengan adanya kepemimpinan Magisterium Gereja, Gereja Katolik dapat tetap eksis dalam persatuan selama lebih dari 2000 tahun. Dengan ketaatan, umat Katolik menerima pengajaran dari Magisterium, justru karena kita yakin yang diajarkan oleh mereka mempunyai dasar dari Alkitab, pengajaran para rasul dan Bapa Gereja, dan bukan dari interpretasi pribadi.

2. Petrus adalah Paus Pertama

Petrus adalah Paus yang pertama, dan sungguh, kita tidak bisa mengingkari hal ini tanpa mengingkari fakta sejarah, yang tercatat dalam Injil (Mat 16:18). Bahwa pada saat itu ia belum dipanggil sebagai “Paus” tidak mengubah kenyataan bahwa Rasul Petrus-lah rasul yang telah dipilih oleh Kristus sebagai pemimpin Gereja-Nya. Silakan membaca lebih lanjut tentang Petrus sebagai batu karang tempat Yesus mendirikan Gereja-Nya di sini, silakan klik.

3. Tentang panggilan “bapa/ holy father” kepada Paus

Alasan mengapa kita sebagai umat Katolik memanggil “bapa” kepada Paus dan para imam, juga diambil dari Kitab Suci. Umat Protestan umumnya mengambil ayat Mat 23:9 untuk mengatakan bahwa kita dilarang menyebut siapapun di  bumi dengan sebutan “bapa”. Namun pengertian ini adalah interpretasi yang melepaskan ayat ini dari konteks keseluruhan.

Fr. Ray Suriani pernah menjelaskan dengan begitu baiknya, di link ini, silakan klik, bagaimana seharusnya mengartikan ayat tersebut sesuai dengan konteks dan pesan keseluruhan Kitab Suci. Karena larangan Yesus untuk menyebut siapapun sebagai bapa di bumi ini (lih. Mat 23:9) adalah untuk memperingatkan kepada umat bahwa 1) hanya ada satu saja yang dapat kita anggap sebagai Allah Bapa; 2) janganlah seperti ahli Taurat dan orang Farisi yang senang dihormati dan dipanggil sebagai rabbi dan bapa oleh semua orang. Di sinilah pentingnya untuk mempelajari suatu ayat Kitab Suci dalam kaitannya dengan ayat-ayat yang lain di seluruh Alkitab (seperti prinsip yang dipegang oleh Gereja Katolik), karena perintah-perintah Tuhan tidak mungkin bertentangan satu dengan lainnya.

Sebab di perikop-perikop yang lain, Yesus juga menyebut orang tua sebagai bapa dan ibu (lih. Mat 10:35; 19:29). Jika Ia sungguh melarangnya, maka Ia tidak mungkin menyebutkan sendiri panggilan ini. Abraham disebut sebagai “bapa Abraham” bapa leluhur kita (Luk 16:24, Kis 7:2; Rom 4:1, Yak 2:21), dan Rasul Paulus menyebutkan dirinya sebagai bapa bagi umat di Korintus (1 Kor 4:15) dan bapa rohani bagiTimotius (1 Tim 1:2, 2 Tim 1:2), dan bagi Titus (Tit 1:4). Rasul Yohanes juga berkhotbah kepada para bapa (1 Yoh 2:14). Tentunya rasul Paulus, Yakobus dan Yohanes memiliki maksud pada saat menuliskan ayat-ayat itu. Yaitu bahwa di dalam hidup kita ini memang ada orang-orang tertentu yang diberi tugas sebagai bapa untuk berperan sebagai orang tua bagi anak-anak, mendidik dan membesarkan anak-anak mereka. Dan secara rohani, tugas kebapakan itu diberikan kepada para pemimpin umat, yaitu para pastor, seperti teladan Rasul Paulus.

Para pastor, uskup dan Paus itu berperan dalam kelahiran kita semua umat Katolik secara rohani. Mereka itu adalah yang membaptis kita umat beriman, mengajar kita, membimbing kita dan memberi teladan kepada kita bagaimana mengasihi, seperti Allah Bapa mengasihi kita. Oleh karena itu kita harus berdoa bagi para imam, uskup dan Paus, agar mereka senantiasa dapat melaksanakan tugasnya sebagai “bapa rohani” bagi kita. Kita memanggil mereka sebagai “bapa” untuk menunjukkan hormat kita kepada mereka. Sama seperti banyak pendeta Protestan yang dipanggil Rev./ Reverend oleh jemaatnya, padahal tentu hormat/ reverence juga paling layak diberikan kepada Tuhan.

Maka umat Katolik memanggil Paus sebagai “Holy Father” itu sebagai tanda hormat sebab kita mengakui bahwa ia telah dipanggil oleh Kristus untuk menjadi gambaran kekudusan dan kebapa-an dari Tuhan. Tentu pengertian ini diturunkan, tergantung dari, dan berada di bawah panggilan kita kepada Allah Bapa yang Mahakudus, dan memang tidak untuk menyaingi ataupun mengingkari keunikan kekudusan dan ke Bapa-an dari Allah Bapa.

Demikian yang dapat saya tuliskan untuk pertanyaan anda, semoga bermanfaat.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Membandingkan Trinitas dengan trimurti

20

Pertanyaan:

Mohon tanggapannya :

Apa hubungan Hinduisme dengan Kekristenan ?????

Yesus terlahir dalam lingkungan Yahudi. Bahasa yg digunakannya adalah bahasa Ibrani. Tapi kenapa kitab-kitab perjanjian baru (Injil) hampir seluruhnya ditulis dalam bahasa Yunani ?. Seharusnya, kitab-kitab tsb ditulis dalam bahasa Ibrani, karena bahasa inilah bahasa yg digunakan oleh kaum Yahudi, kaum Yesus sendiri. Ini menunjukkan, bahwa agama Kristen, berkembang dalam kebudayaan Yunani. Sedangkan kebudayaan Yunani sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu.

Dyaus dalam bahasa Sanskerta atau Zeus dalam bahasa Yunani, sampai sekarang tetap tidak berubah. Nama ini dioknumkan menjadi Zeus Pater atau Jupiter dalam kepercayaan Yunani, atau Zupitri dalam bahasa Sanskerta, sebagai Tuhan Bapak. Zeus = Dyaus = Theos = Tuhan, sedangkan Pater=Bapak=Pitar.

Dalam Hinduisme, Tuhan dioknumkan sebagai Bapak (Zupitri), yaitu Brahma. Wisnu, yg merupakan oknum kedua adalah Anak Tuhan., yg dapat menjelma menjadi manusia dalam bentuk Krisna dan Rama. Sedangkan Shiwa, adalah Roh Suci. Dari kenyataan ini dapat kita lihat persamaan yg sangat akurat dengan Trinitas.

Dalam Bhagavad Gita (Nyanyian Tuhan), pada ayat ke-14, dalam Kitab yang sama, Krishna bersabda kepada Arjuna :
Karena aku adalah Tuhan
Dalam tubuh ini
Kehidupan abadi
Tak akan musnah
Aku adalah kebenaran
Dan kebahagiaan selama-lamanya

Adakah Anda melihat persamaan makna dgn salah satu ayat dalam Injil…?

Siapakah Krishna….?. Krishna adalah penjelmaan Dewa Wishnu, melalui manusia biasa, Devanaki. Hal ini persis sama dengan dgn Yesus, yg diyakini oleh umat Kristen, sebagai Tuhan, yg dilahirkan oleh perempuan manusia bernama Maria.

Kelahiran Yesus, diriwayatkan sama dengan kelahiran Krishna. Kelahiran Krishna digambarkan dalam Athar Veda, salah satu Kitab Suci Hindu sebagai berikut :

Pada suatu malam, waktu raja Kansa tak dapat tidur, berdirilah baginda diteras istananya, digerakkan oleh suatu kekuatan gaib. Ia melihat bintang bergerak dan sinarnya jatuh ke Bumi. Ia bertanya kepada istrinya, Nysumba (seorang ahli sihir, pemuja Dewi Kali, yaitu dewi kerinduan dan kematian), tapi Nysumba tidak mengetahuinya. Maka dipanggillah Brahmana-Brahmana (Pendeta-Pendeta Hindu), untuk melihat bintang itu dan menceritakan kebenarannya. Pendeta-pendeta Hindu tsb, lalu menceritakan, bahwa itu adalah pertanda turunnya Tuhan ke dalam tubuh manusia yang dikandung oleh Devanaki, anak saudara perempuan baginda raja sendiri. Anak yg dikandung itulah yg akan menjadi Tuhan di dunia, raja dunia.

Bandingkanlah riwayat ini dengan riwayat kelahiran Yesus, dalam Injil Matius, yg ditandai dengan bintang yg cemerlang yg bergerak, dan berhenti diatas tempat dimana Yesus dilahirkan.

Karena riwayat kelahiran Krishna, jauh lebih tua dari riwayat kelahiran Yesus, sedangkan Injil yg berkembang adalah Injil berbahasa Yunani, dimana kebudayaan Yunani sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, maka apa yg dapat kita simpulkan dari kenyataan ini………?.

Yang dapat kita simpulkan :
Ajaran Trinitas adalah modifikasi dari ajaran Trimurti Hinduisme. Brahma dalam Hinduisme dimodifikasi menjadi Allah Bapa, Wisnu dimodifikasi menjadi Yesus Anak Allah dan Syiwa dimodifikasi menjadi Roh Kudus.
Jadi, ternyata Trinitas = Trimurti

Jawaban:

Shalom Yanto,

Terima kasih atas artikel tentang hubungan antara Hinduisme dan Kekristenan. Artikel ini memang sering beredar di internet. Artikel ini mencoba mengupas dan membandingkan antara paham Tri-Murti (three form) dari agama Hindu dengan Trinitas (Satu Allah dalam tiga pribadi) dari agama Kristen. Argumentasi dari artikel ini dapat disarikan sebagai berikut:

1) Karena Alkitab ditulis dalam bahasa Yunani dan kebudayaan Yunani dipengaruhi oleh agama Hindu, maka Trimurti dari agama Hindu mempengaruhi paham Trinitas dari agama Kristen.

2) Karena agama Hindu lebih tua dari agama Kristen, maka kalau ada kesamaan, agama Kristenlah yang meniru agama Hindu.

3) Kemudian penulis berusaha untuk mengambil beberapa ayat dari Kitab Suci agama Hindu dan mencoba melihat kesamaannya dengan Alkitab, seperti: Brahma sebagai bapa, Wisnu sebagai anak Tuhan, dan Shiwa sebagai Roh Kudus.

Mari sekarang kita membahas argumentasi tersebut satu persatu.

I. Pengaruh Hindu dalam budaya Yunani dan trimurti dalam Trinitas

1) Dikatakan bahwa Alkitab seharusnya ditulis dalam bahasa Ibrani dan bukan Yunani. Mungkin yang dimaksud adalah Alkitab Perjanjian Baru, karena Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani, dan kita tidak perlu mendiskusikan hal ini. Perjanjian Baru (kecuali Matius) memang ditulis dalam bahasa Yunani, karena memang pada waktu itu, bahasa yang dipakai adalah Aramaic dan Koine Greek (Yunani). Dan bahasa Yunani ini adalah bahasa sehari-hari yang dipakai pada abad-abad awal di seluruh provinsi Roma di mediterania Timur. Dengan demikian kalau Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani tidaklah aneh, karena ditulis dalam bahasa yang dipakai pada waktu itu. Kalau Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Sangsekerta barulah aneh.

2) Dikatakan bahwa Yunani dipengaruhi oleh Hinduisme. Mungkin yang menuliskan hal ini perlu membuktikan dengan bukti-bukti yang memadai sebelum memberikan pernyataan ini. Setahu saya kebudayaan ancient greek lebih tua daripada Hinduism. The Samhitas, salah satu naskah tertua Veda ditulis sekitar 1500-1000 SM, the circum-Vedic dan the redaction of the samhitas ditulis sekitar 1000-500 SM (sumber: silakan klik). Bandingkan dengan kebudayaan Yunani kuno, Helladic, dll., yang sebenarnya lebih tua daripada Hinduism. Dan kalau kita melihat kekristenan, yang telah dipersiapkan dari Perjanjian Lama, maka sebenarnya jaman Abraham lebih tua dari Hinduism, karena Abraham adalah 10 generasi setelah nabi Nuh dan 20 generasi setelah Adam, dan diperkirakan sekitar abad 19 SM.

3) Oleh karena itu, argumentasi yang mengatakan bahwa kebudayaan Hindu mempengaruhi kebudayaan Yunani dan kemudian kebudayaan Yunani mempengaruhi kekristenan, saya pikir tidak dapat dibuktikan. Dari jaman yang sama saja, kita tahu bahwa pada masa sebelum kedatangan Kristus, pada masa Yudas Makabee (sekitar abad 2 SM), orang-orang militan Yahudi bersedia mengorbankan nyawanya demi mempertahankan agama Yahudi, walaupun dipaksa untuk menyembah dewa-dewa orang Yunani. Kalau yang satu jaman saja, dimana kebudayaan Yunani tidak berhasil mempengaruhi peradaban agama Yahudi, apalagi Hinduisme yang terpisah oleh jarak dan waktu yang begitu jauh.

4) Dari fakta sejarah tersebut, tidaklah terbukti pengaruh Hinduism terhadap Yunani dan tidak ada pengaruh Yunani terhadap agama Yahudi, dan apalagi mempengaruhi kekristenan. Mungkin yang dapat didiskusikan adalah bagaimana filosofi Yunani membantu untuk menerangkan misteri iman Kristen. Namun, agama Kristen tidaklah mendasarkan kebenarannya pada filosofi Yunani, sebaliknya filosofi melayani teologi. Agama Kristen bukanlah agama berdasarkan akal budi, namun berdasarkan wahyu Allah (yang juga tidak bertentangan dengan akal budi yang benar), yang dilakukan secara terus-menerus melalui para nabi di Perjanjian Lama, dan mendapatkan kepenuhannya dalam diri Yesus, Allah yang menjelma menjadi manusia.

II. Agama Hindu lebih tua dari agama Kristen.

Argumentasi kedua yang digunakan untuk memojokkan konsep Trinitas adalah dengan mengatakan bahwa karena Agama Hindu lebih tua daripada agama Kristen, dan ada persamaan antara trimurti dan Trinitas, maka konsep agama Hindulah yang benar. Alasan ini sebenarnya tidaklah dapat dipertanggungjawabkan, dengan 2 alasan:

1) Agama Kristen harus dilihat satu kesatuan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Oleh karena itu, sebetulnya Agama Kristen lebih tua dari agama Hindu.

2) Dengan menggunakan analogi yang sama, saya dapat juga mengatakan: karena Kitab Suci agama Kristen lebih tua dari Kitab Suci agama Islam, dan keduanya menyebut tentang Yesus, maka dapat disimpulkan bahwa Yesus, seperti yang disebutkan dalam Kitab Suci agama Kristenlah yang benar dan agama Islam telah memodifikasi Yesus seperti yang dijelaskan di dalam Alkitab agama Kristen. Apakah Yanto dapat menerima argumentasi ini? Saya percaya Yanto tidak mau menerima logika berfikir seperti ini. Dan saya juga tidak dapat menerima argumentasi yang diberikan di atas.

III. Perbedaan antara trimurti dan Trinitas

Mari sekarang kita melihat perbedaaan antara Trimurti dengan Trinitas.

1) Secara prinsip Hinduisme sebenarnya lebih mirip dengan ajaran Pantheism, dimana mempercayai bahwa semua ciptaan adalah mempunyai percikan Ilahi. Kita juga melihat bahwa ada begitu banyak dewa-dewi lain yang disembah selain trimurti di dalam Hinduisme. Di satu sisi, agama Kristen tidak menganggap manusia sebagai percikan Ilahi, namun berpartisipasi dalam Allah. Dan tidak ada dewa-dewi yang disembah, kecuali Allah Trinitas. Dan dari prinsip dasar ini sebenarnya telah membuktikan bahwa tidak ada kemiripan antara Hinduisme dan kekristenan.

2) Sebenarnya kapan mulainya trimurti dapat diperdebatkan. Romo J.P. Arendzen mengatakan bahwa trimurti sendiri bukanlah berasal dari ancient Indian atau agama Aryan (silakan klik), namun merupakan perkembangan lebih lanjut. Wisnu dikatakan sebagai tuhan yang baik, dan Shiwa adalah tuhan yang perusak. Kemudian kedua sekte yang menyembah tuhan yang berbeda ini mencoba mengidentifikasikan tuhan masing-masing dengan tuhan yang absolute, yang disebut Brahma. Dan kemudian berkembang menjadi Brahma sebagai sang pencipta, Wisnu sang pemelihara, dan Shiwa sang perusak. Silakan juga melihat site wikipedia, yang bukan site Katolik, dan juga memuat akan perkembangan dari doktrin tentang trimurti (silakan klik).

Namun, anggaplah bahwa konsep ini merupakan pengajaran sedari awal Hinduisme. Maka pertanyaannya adalah apakah kemiripan antara trimurti dan Trinitas? Sebenarnya kalau kita mempelajari konsep dari trimurti dan Trinitas, maka kita akan melihat perbedaan yang menyolok.

a) Dikatakan bahwa Brahma adalah pencipta, Wisnu pemelihara, dan Shiwa perusak. Bandingkan dengan konsep Trinitas, dimana Allah Bapa adalah pencipta, Allah Putera adalah penebus, dan Allah Putera adalah pengudusan. Appropriation (pembedaan) ini dibuat untuk menangkap ketiga pribadi dari Trinitas, namun penciptaan, penebusan dan pengudusan dilakukan bersama-sama oleh ketiga pribadi Trinitas. Lebih lanjut di dalam Trinitas tidak ada elemen Shiwa atau perusak, namun sebaliknya pengudusan, yaitu Roh Kudus.

b) Trinitas atau satu Allah dalam tiga pribadi adalah merupakan wahyu Allah, yang gambarannya dapat dilihat di dalam Perjanjian Lama, dan mencapai puncaknya dengan Inkarnasi, dimana pribadi ke dua (Allah Putera) masuk ke dalam sejarah manusia, yaitu Yesus Kristus. Dan kedatangan-Nya, keberadaan-Nya dapat dilihat dalam sejarah manusia, dan dicatat dalam sejarah manusia, seperti oleh Yosefus, sejarahwan berkebangsaan Yahudi (lihat Antiquities of the Jews). Silakan membandingkannya dengan keberadaan Wisnu.

c) Umat Kristen mengerti akan kesetaraan antara Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus, karena ketiga-Nya adalah satu Allah. Oleh karena itu, penyembahan kepada semua pribadi atau masing-masing pribadi adalah merupakan penyembahan kepada setiap pribadi. Dan hal ini dilakukan secara konsisten sepanjang sejarah kekristenan. Bandingkan dengan pemujaan trimurti. Kita dapat menemukan begitu banyak kuil pemujaan terhadap Wisnu dan Shiwa (mungkin ada sekitar 10,000 kuil pemujaan di India), namun jarang sekali kita menemukan kuil pemujaan terhadap Brahma di India (silakan melihat site ini – silakan klik).

Kesimpulan:

Dengan keterangan di atas, maka membandingkan antara Trinitas dengan trimurti, dengan alasan pengaruh Hinduisme terhadap kebudayaan Yunani adalah tidak terbukti dan bahkan terlalu mengada-ada. Dari sisi sejarah hal ini tidak terbukti dan dari sisi teologis tidak ada kesamaan antara trimurti dan Trinitas. Silakan membaca artikel Trinitas (silakan klik) dan beberapa artikel Kristologi, sehingga Yanto dapat menangkap hakekat Trinitas dan Kristus. Dengan demikian, tidak terjadi kesalahpahaman yang terlalu jauh. Di satu sisi, saya berterima kasih atas kiriman artikel ini, sehingga saya diberi kesempatan untuk memberikan penjelasan lebih lanjut tentang Trinitas.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Di manakah letak Surga?

7

Pertanyaan:

dimanakah letak surga itu … ? saya dari Nias, Analisa Zendrato

Jawaban:

Shalom Analisa,

Menurut pengajaran Gereja Katolik, jiwa- jiwa orang benar, yang pada saat wafatnya bebas dari semua akibat dosa (guilt of sin), dan hukuman dosa (punishment for sin), masuk ke Surga. ((Lihat Dr. Ludwid Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, Illinois: TAN books and Publishers, 1974, p. 476))

Maka surga di sini adalah sebuah tempat dan keadaan dari kesempurnaan kebahagiaan supernatural/ ilahi yang diperoleh dari penglihatan yang langsung kepada Tuhan (lih. 1 Yoh 3:2) dan kasih Allah yang sempurna yang berhubungan dengan penglihatan tersebut. Maka walaupun tidak dikatakan di dalam Alkitab secara definitif, di manakah letak surga itu, namun dapat disimpulkan bahwa surga tidak terletak di dunia namun di luar dunia, tidak dalam batas-batas dunia. Di sanalah para kudus, para malaikat dan seluruh penghuni kerajaan Allah berada.

Kenyataannya, Yesus dikatakan di dalam Alkitab bahwa Ia ‘terangkat’/ ‘naik’ ke surga (Mrk 16:19, Kis 1:9-11) sehingga kita ketahui bahwa surga tidak berada di bumi ini. Selanjutnya juga kita ketahui bahwa Bunda Maria, tubuh dan jiwanya diangkat ke surga oleh jasa Kristus, maka kita mengetahui bahwa surga adalah suatu ‘tempat’ di samping juga sebagai suatu kondisi, walaupun kita manusia tidak dapat mengetahui secara persis di manakah tempat itu. Pada akhir dunia nanti, akan terjadi kebangkitan badan, di mana semua orang yang telah meninggal menerima kembali tubuh mereka dan akan diadili di dalam Penghakiman Terakhir/ Pengadilan Umum. Hasil Pengadilan tersebut menentukan apakah seseorang (tubuh dan jiwanya) masuk ke neraka atau ke surga. Lebih lanjut tentang Pengadilan Terakhir/ Pengadilan Umum ini, silakan klik di sini.

Yang penting, kita mengetahui juga dari Alkitab, inilah salah satu ciri-ciri dari tempat itu, yaitu, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Kor 2:9)

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Apakah umat Katolik harus berdoa melalui Bunda Maria?

20

Pertanyaan:

Shalom bu Ingrid,
Beberapa waktu yg lalu kakak ipar saya melontarkan pertanyaan kepada saya: “kenapa kamu kalo berdoa harus melalui Bunda Maria,bukan langsung ke Yesus saja?Mohon kiranya bu Ingrid dapat membantu saya untuk memberikan jawaban yg dapat diterima oleh kakak ipar saya itu,terima kasih atas bantuannya,(maaf bila pertanyaannya diluar topik), Andi

Jawaban:

Shalom Andi,

Sebenarnya, sepanjang pengetahuan saya, umat Katolik tidak diharuskan untuk berdoa melalui Bunda Maria. Ya, kita dapat berdoa langsung kepada Yesus, atau kepada Allah Bapa, dengan Pengantaraan Yesus. Itu jelas terlihat dalam doa penyembahan yang tertinggi bagi umat Katolik, yaitu di dalam Misa/ Ekaristi Kudus. Atau di dalam doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri, Doa Bapa Kami, juga langsung ditujukan kepada Tuhan. Jadi kelihatannya pertanyaan yang ditanyakan itu kelihatannya sudah agak bias, karena mengandaikan bahwa orang Katolik tidak bisa atau tidak boleh berdoa langsung kepada Tuhan. Dan ini tidak benar.

Namun memang, Magisterium Gereja Katolik menganjurkan umat untuk memohon dukungan doa dari Bunda Maria, dan belajar dari teladan Bunda Maria, untuk dapat bertumbuh secara spiritual. Hal ini memang diajarkan oleh para Bapa Gereja, para orang kudus (Santo/ Santa), Bapa Paus, dan jelas tertulis dalam dokumen Konsili Vatikan II (lihat Lumen Gentium 66- 68). Bunda Maria, Bunda Allah dan Bunda Gereja, yang mendampingi Gereja awal dengan doa-doanya juga akan terus mendampingi Gereja sampai akhir jaman. Ya doa-doa Bunda Maria dan para kudus di surga selalu menyertai kita semua yang masih berziarah di dunia ini, karena kita telah dipersatukan oleh Kristus menjadi anggota Tubuh-Nya yang tak terpisahkan oleh maut. Maka kita sebagai umat beriman dapat menyampaikan doa permohonan kepada Tuhan dengan memohon pertolongan Bunda Maria (dan para kudus lainnya), agar mendoakan ujud doa-doa kita itu di hadapan Yesus. Selanjutnya diskusi tentang doa orang kudus, silakan klik di sini, dan di sini.

Maka jika seseorang tidak mau memohon dukungan doa dari Bunda Maria atau dukungan doa para kudus di surga, ia tidak dapat dikatakan berdosa, namun sebetulnya yang ‘rugi’ adalah orang itu sendiri. Memang kita tidak harus berdoa memohon pengantaraan mereka, namun jika kita melakukannya, itu berguna bagi kita sendiri, karena itu melatih kita untuk bertumbuh dalam kerendahan hati. Karena kita melihat kepada para orang kudus itu sebagai teladan, agar kita terpacu untuk hidup seperti mereka. Ini seperti layaknya adik kelas yang belajar dari kakak kelas/ atau mereka yang sudah lebih dahulu lulus. Kita bisa belajar langsung dari dosen/ profesor kita, tetapi bisa juga disamping belajar dari dosen, kita belajar dari kakak kelas. Tidak ada keharusan kita belajar dari kakak kelas, namun tentu baik bagi yang mau melakukannya, karena akan sangat banyak manfaatnya. Jika di dunia ini kitapun sering meminta dukungan doa dari orang-orang lain yang kita pandang ‘lebih dekat’ dengan Yesus, maka seharusnya kita tidak ragu untuk memohon dukungan doa dari para orang kudus yang sudah jelas lebih kudus daripada kita semua yang masih hidup di dunia. Dan mereka (para kudus itu) adalah orang-orang yang sudah dibenarkan oleh Tuhan -karena mereka telah bersatu dengan-Nya di surga, maka sungguh besarlah kuasa doa mereka! (Yak 5:16).

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab