Home Blog Page 275

Makna peralatan di bait Allah

1

[Dari Admin Katolisitas: pertanyaan ini dipindahkan dari komentar artikel Perkenalan dengan Kitab Suci (bagian ke-2) silakan klik, karena menyangkut topik baru yaitu sedikit tentang Gereja, kitab-kitab Deuterokanonika, dan tentang makna peralatan di bait Allah]

Pertanyaan:

sajian ini memukau sayatapi ada pertanyaan penting(prinsip yang saya pegang musuh mencium berlimpah tapi menjerumuskan dan sahabat mengataka yang pahit tapi menyembuhkan terimakasih informasinya saya mau croscek dengan data saya gereja awali mulai ter bentuk dari yang ter catat dalam kisah para rasul dibab 2, semenjak pantekosta(saya tidak berlatar pendidikan alkitab artinya otodidak dan bersandar tun utunan tuhan puji tuhan selalu pimpin pada penilaian yang seimbang dalam rangka kesatuan tubuh kristus dalam hal ini saya menyaksikan ROH KUDUS itu LUAR BIASA ketika kita mau tunduk(yesus,rohkudus dan firman itu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dan dalam pimpin nanya mengarahkan kepada kebenaran demi kebenaran dan kita ber sama akan di sempurnakan lewat proses tuhan data ini saya teima cuma ada satu pertanyaan kri tis dalam upaya mencari kebenaran yaitu begini di dalamALKITAB KITA bersama diantara perjanjian lama dan baru ada se lembar ker tas kosong bisa di cek di alkitab anda ini ber bi ca ra tentang;.. setelah MALEAKHI (kitab terakhir per janjian lama)kertas kosong ini mengabarkan kepada kita bahwa setelah MALAEKI, SELAMA 400 TAHUN TUHAN tidak berbicara kepada manusia artinya tidak ada pewahyuan dari ROH KUDUS jadi masa diam mungkin juga masa per siapan penggenapan janji tuhan yang tertulis di per janjian lama. oke puji tuhan bagaimana pendapat saudaraku tentang tetap dimasukanya kitab deuterokamonika?dan lagi sau dara dalam pelajaran taber nakel . peralatan yangg ada di bait allah itu ada makna roh aninya; mengenai ALKITAB kita juga ada….oke ini point kedua pertanyaan saya2.disitu ada satu peralatan di ruang maha kudus yaitu,yaitu alat penerang (firman adalah pelita) nah saudara sadaraku ini ternyata nubuatan tentang alkitab kita yang mana sisi sebelah dan jumlah cabang sebelah yang lain mengabarkan jumlah kalau tidak salah yang kiri jumlah kitab per janjian lama dan yg kanan jumlah kitab di perjanjian barubisa di cek jumlah nya samaAJAIBmasih menyombong kan kemampuan manusia atau gereja? biar tuhan sendiri yang pimpin cobalah anda mengenal pri badi agung ter sebut secara pribadi. matur nu wunsaya tunggu komentar dan jawabanya matur nuwun, Johanes Yus

Jawaban:

Shalom Johannes Yus,

1. Ya, Yesus yang adalah Firman yang telah menjelma menjadi manusia selalu berada dalam kesatuan dengan Roh Kudus. Sehingga, agar dapat kita pahami, maka firman-Nya itu harus dibaca dalam terang Roh Kudus. Nah, memang menurut Alkitab, Yesus sendiri memberikan Roh Kudus-Nya kepada para rasul, dan kepada merekalah Yesus mempercayakan tugas untuk mengajar kawanan umat-Nya. Tugas mengajar inilah yang secara khusus diteruskan oleh pengganti para rasul itu, yaitu oleh Magisterium Gereja Katolik. Ya, saya juga percaya Gereja lahir dari Kristus sendiri yang terwujud dengan jelas pada hari Pentakosta. Sejak itu para murid beribadah dalam persekutuan dengan para rasul, dengan Rasul Petrus sebagai pemimpin yang pertama. Silakan membaca lebih lanjut tentang Gereja di sini, silakan klik.

2. Sejarah mencatat bahwa kanon Kitab Suci yang kita peroleh berasal dari kanon yang ditetapkan oleh Magisterium Gereja Katolik, yaitu oleh Paus Damaskus I (382), dilanjutkan dengan Konsili Hippo (393) dan Carthage (397). Nah, dalam kanon tersebut ditetapkanlah kitab-kitab yang termasuk dalam Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB), dan kitab-kitab Deuterokanonika termasuk di dalam kitab-kitab PL. Selanjutnya tentang kitab-kitab Deuterokanonika, silakan anda membaca di artikel ini, silakan klik.

Maka jika anda melihat Alkitab anda, dan di sana tidak ada kitab-kitab Deuterokanonika, itu bukan merupakan bukti bahwa antara Nabi Maleakhi sampai ke jaman Kristus, Tuhan tidak berbicara kepada manusia selama 400 tahun atau 600 tahun. Itu hanya menunjukkan bahwa Alkitab anda bukan Alkitab yang sesuai dengan kanon kitab suci yang pertama kalinya ditetapkan oleh Magisterium Gereja Katolik. Sebab Gereja Katolik, melanjutkan kepercayaan para rasul dan para Bapa Gereja, percaya bahwa antara nabi Maleakhi sampai ke jaman Kristus, masih terdapat kitab-kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus, yang tergabung di dalam kitab-kitab Deuterokanonika. Karena sejak pertama kali ditetapkan, kitab-kitab Deuterokanonika itu sudah ada dan tergabung dalam PL, maka bukannya Gereja Katolik yang menambahkan kitab-kitab itu di kemudian hari, melainkan, gereja Protestan yang membuang kitab-kitab Deuterokanonika itu dari kitab- kitab suci mereka. Ini dapat dilihat dari bukti sejarah bahwa bahkan Martin Luther dalam terjemahan Alkitabnya yang pertama masih memasukkan kitab-kitab ini di dalam terjemahannya, demikian pula edisi Alkitab King James yang pertama. Kitab-kitab Deuterokanonika ini baru benar-benar tidak dimasukkan dalam kitab suci Protestan pada tahun 1825, setelah Komite Edinburg dari the British Foreign Bible Society memotongnya.

3. Mengenai peralatan yang ada di dalam bait Allah.

Saya terus terang kurang paham pertanyaan anda dalam hal ini, namun saya setuju, jika maksud anda adalah segala peralatan yang ada di dalam tabernakel dan bait Allah itu melambangkan Kristus.

Jika kita membaca Alkitab, yaitu kitab Ibrani 9:4, sangat jelas tertulis apa yang diletakkan di dalam tempat yang Maha Kudus yaitu dalam tabut perjanjian pada jaman Perjanjian Lama. Dikatakan demikian:

“Di situ terdapat mezbah pembakaran ukupan dari emas, dan tabut perjanjian, yang seluruhnya disalut dengan emas; di dalam tabut perjanjian itu tersimpan buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun yang pernah bertunas dan loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian…”

Dapat disimpulkan bahwa di dalam tabut perjanjian yang Maha Kudus itu tersimpan tiga hal: 1) buli-buli emas berisi roti manna 2) tongkat Harun sang imam kepala 3) loh-loh batu yang bertuliskan kesepuluh perintah Allah. Ketiga hal ini merupakan tanda perjanjian antara Allah dan manusia pada Perjanjian Lama yang digenapi dalam Perjanjian Baru di dalam diri Yesus Kristus: 1) Kristus adalah Roti Surga (Yoh 6:35), Roti Allah yang hidup; 2) Kristus Sang Imam Agung; 3) Kristus yang merupakan Sang Firman yang telah menjelma menjadi manusia. Maka Firman dan perintah Allah itu tidak lagi dalam rupa dua loh batu, tetapi dalam rupa Yesus Kristus, Putera Allah yang menjelma menjadi manusia (lih. Yoh 1:14). Inilah sebabnya, Bunda Maria yang mengandung Yesus disebut sebagai Tabut Perjanjian Baru, sebab ia mengandung Kristus, sebagai penggenapan Perjanjian Lama, di dalam rahimnya. Jika kita membaca dengan cermat Kel 25-28, kita mengetahui bagaimana Allah begitu spesifik dalam menentukan ukuran kemah suci dan tabut perjanjian, bahannya, warnanya, bentuknya, bahkan seniman yang membuatnyapun ditentukan namanya oleh Tuhan. Lalu para imam yang masuk ke tempat maha kudus itupun  harus suci, sebab jika tidak kudus, imam itu pasti mati. Dari sini kita dapat mengetahui bagaimana Allah pasti menguduskan Bunda Maria secara khusus, yang dipilih-Nya untuk mengandung Putera-Nya yang merupakan pemenuhan dari Perjanjian Lama. Sebab yang dikandung Maria bukan “hanya”, benda-benda mati lambang perjanjian, tetapi Putera Tunggal Allah sendiri yang merupakan pemenuhan dari perjanjian antara Allah dan manusia.

Sekarang ini, Kristus yang sama hadir di dalam rupa roti, yang tersimpan di dalam tabernakel gereja-gereja Katolik di seluruh dunia. Dan Kristus ini pulalah yang diterima dalam kepenuhan-Nya (Tubuh, Jiwa dan keAllahan-Nya) setiap kali umat Katolik menyambut-Nya di dalam Komuni kudus.

Terus terang, saya kurang paham akan pernyataan anda bahwa di dalam tabernakel ada pelita yang menubuatkan jumlah kitab Perjanjian Lama dan jumlah Kitab Perjanjian Baru. Silakan anda menyebutkan sumbernya, dari mana anda mendapatkan pemahaman demikian. Nanti saya akan mempelajarinya. Setahu saya, yang ada adalah bahwa kedua loh batu kesepuluh perintah Allah dalam PL dirangkum oleh Kristus dalam PB menjadi dua perintah: yaitu mengasihi Allah dan sesama (Mat 22:34-40; Mrk 12:28-34; Luk 10:25-28). Loh batu yang pertama berisi perintah-perintah untuk mengasihi Tuhan dan loh batu yang kedua adalah berisi perintah-perintah untuk mengasihi sesama, yang dimulai dengan mengasihi/ menghormati orang tua.

Maka Firman/ Sabda Tuhan memang mengambil tempat yang utama dalam ibadah umat Katolik (dalam Misa Kudus) namun itu tidak berdiri sendiri. Di dalam ibadah Misa Kudus, pembacaan dan permenungan Sabda Tuhan selalu dalam kesatuan dengan puncak kehadiran-Nya yaitu di dalam Ekaristi Kudus. Pembagian ibadah dalam dua bentuk liturgi (liturgi Sabda dan Ekaristi) ini mengacu kepada apa yang dicontohkan oleh Kristus sendiri dalam penampakan-Nya kepada kedua murid-Nya dalam perjalanan ke Emaus (Luk 24:13-35), di mana Yesus hadir menyingkapkan makna Kitab Suci yang diikuti kemudian dengan pemecahan roti, di mana mata kedua murid itu terbuka akan kehadiran Kristus yang telah bangkit dari kematian.

Semoga anda melihat, bahwa yang saya tuliskan di sini bukan berdasarkan kemampuan manusia atau Gereja untuk ‘disombongkan’. Tidak ada maksud untuk menyombongkan diri maupun Gereja di sini. Yang kami sampaikan adalah pengajaran yang bersumber pada Alkitab, seperti yang diajarkan oleh para Bapa Gereja, yang dapat anda baca selanjutnya baik dalam artikel- artikel tentang Bunda Maria maupun tentang Sakramen Ekaristi di situs ini. Justru kerendahan hati-lah yang diperlukan untuk menerima ajaran ini, sebab kita mengakui bahwa kita tidak melebihi para rasul dan para Bapa Gereja yang sudah terlebih dahulu dipimpin oleh Roh Kudus untuk mengajarkan kepada para umat beriman, tentang ajaran Tuhan Yesus Kristus.

Akhirnya saya berterima kasih, anda sudah mengingatkan saya untuk mengenal Pribadi Yesus secara pribadi. Ya, itu merupakan perjuangan saya seumur hidup, yaitu untuk semakin mengenal dan mengasihi Kristus, dengan bantuan rahmat Tuhan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Tentang Adven dan “Christmas Caroling”

4

Pertanyaan:

Salam Damai,
tidak lama lagi musim advent akan tiba,sebagai Katolik secara jujurnya saya belum mengerti sangat apa itu advent dan kenapa Katolik mewujudkan advent dalam jadual gereja,adakah saudara protestant kita pun ada advent? dan sejak bilakah advent ini menjadi tradisi kita? Dan minta pertolongan untuk ceritakan secara ringkas tentang tradisi ‘Karoling’.

Terima kasih.
Semang

Jawaban:

Shalom Semang,

1. Adven adalah periode 4 minggu sebelum hari Natal, yaitu masa di mana Gereja memperingati kedatangan Tuhan Yesus yang pertama kali ke dunia dan mempersiapkan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Masa Adven dapat dimulai antara 27 November dan 3 Desember. Tahun 2009 ini Adven dimulai tanggal 29 November.

Kata “Adven” berasal dari kata Latin adventus atau bahasa Yunaninya, parousia, artinya kedatangan. Maka masa Adven adalah masa yang dipusatkan pada kedatangan Kristus sebagai Mesias dan Raja. Oleh karena itu, bacaan-bacaan Alkitab yang dipilih pada masa Adven ini memuat kitab-kitab Perjanjian Lama yang menggambarkan kedatangan Mesias dan pada Perjanjian Baru tentang kedatangan Yesus kembali sebagai Hakim yang mengadili semua bangsa; dan juga pembacaan tentang kisah Yohanes Pembaptis yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus.

KGK 524    Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua (lih. Why 22:17). Dengan merayakan kelahiran dan mati syahid sang perintis, Gereja menyatukan diri dengan kerinduannya: “Ia harus makin besar dan aku harus makin kecil” (Yoh 3:30).

Karena Adven merupakan peringatan persiapan kelahiran Kristus dan penjelmaan-Nya di dunia, maka sangat layaklah masa Adven diletakkan di pembukaan tahun liturgi. Namun demikian, Adven bukannya bagian dari perayaan masa Natal, tetapi persiapannya. Oleh karena itu Gereja Katolik umumnya tidak menyanyikan lagu-lagu Natal atau menggunakan bacaan Natal sebelum perayaan Natal itu sendiri, yaitu Malam Natal 24 Desember dan 25 Desember.

Hari Natal hanya dapat dipahami dengan baik jika telah dipersiapkan di dalam masa Adven. Persiapan ini semestinya bukan persiapan yang bersifat hura-hura sekular, dengan aneka belanja ini itu, tetapi lebih kepada persiapan batin untuk mengarahkan hati kepada kehendak Tuhan, saat kita merenungkan, seperti para patriarkh, nabi dan raja menantikan kedatangan Penyelamat dunia, yaitu Allah Putera yang menjelma menjadi manusia.

Walaupun tidak dapat diketahui secara pasti dan definitif kapan Gereja memperingati masa Adven, namun diketahui bahwa sejak masa Gereja awal, umat beriman telah menantikan dengan rindu kedatangan Kristus kembali, saat Ia mengalahkan kejahatan dan mengadili orang hidup dan mati (lih. KGK 680-682).

Peringatan masa Adven yang paling jelas terlihat pada abad ke 6. Namun sebelumnya telah tercatat perayaan dan masa puasa yang menyerupai masa Adven. St. Hillarius dari Poitiers (367) dan Konsili di Saragossa (380) telah mengajarkan tiga minggu masa puasa sebelum Epifani. Paus Leo Agung (440-461) dalam homilinya telah mengajarkan tentang masa puasa pada bulan Desember sebelum Natal. The Gelasian Sacramentary (750) memuat bahan-bahan liturgi untuk ke-5 hari Minggu sebelum Natal, demikian juga setiap hari Rabu dan Jumat. Tema dalam Adven adalah penantian dan persiapan hati menyambut Kristus, sehingga yang dilakukan serupa dengan masa puasa dan pantang, dan terutama maksudnya adalah sebagai masa pertobatan.

Pada masa Reformasi, banyak gereja Protestan yang tidak lagi menerapkan perayaan dan masa-masa liturgis yang ditetapkan oleh Gereja Katolik. Walaupun demikian, masih ada juga gereja-gereja Protestan yang mempertahankan masa Adven, contohnya, gereja Anglikan. Dewasa ini gereja-gereja non- Katolik ada yang kembali mulai memperingati Adven, seperti Lutheran, Methodist, dan Presbytarian, atau gereja-gereja lainnya yang mulai memasukkan Adven dalam perayaan ibadah mereka dalam kadar yang berbeda- beda. Namun memang secara umum, dapat dilihat bahwa gereja-gereja Protestan kebanyakan menganggap Adven sebagai “perayaan awal” Natal, sedangkan bagi Gereja Katolik Adven adalah masa persiapan menuju hari Natal.

Memang jika diperhatikan, Gereja Katolik mempunyai kalender liturgi setiap tahunnya yang merupakan siklus yang berputar dari masa Adven, Natal, masa biasa, Masa Prapaska, Paska, Pentakosta, masa biasa, dan kemudian ke masa Adven tahun berikutnya. Ini merupakan permenungan yang tak terputus tentang sejarah keselamatan manusia. Dengan adanya kalender liturgi ini, maka Gereja Katolik ingin membantu kita untuk tidak melupakan hal-hal yang terpenting dalam hidup kita yaitu, rencana keselamatan Allah, yang dinyatakan lewat kelahiran/ penjelmaan Kristus menjadi manusia, hidup-Nya, wafat dan kebangkitan-Nya. Kalender liturgi dibuat untuk membantu kita agar tidak terhanyut oleh kesibukan dunia, namun untuk terus mengingat rencana keselamatan Allah yang membentang dari masa Penciptaan (yang kita kenang pada Malam Paska) sampai kedatangan Kristus kembali di akhir jaman (yang kita kenang pada masa Natal). Kalender liturgis juga membantu kita merenungkan misteri Kristus dengan penghayatan yang terus berkembang, setiap tahunnya. Sehingga walau misteri yang direnungkan tetap sama dari tahun ke tahun, namun Allah tetap dapat mengajarkan sesuatu yang baru di dalamnya, sesuai dengan pertumbuhan iman kita. Dan Gereja juga mengingatkan untuk menyambut kedatangan-Nya, persiapan yang utama dan terpenting adalah pertobatan, agar kita dapat semakin menghayati makna rencana keselamatan-Nya. Itulah sebabnya baik sebelum Natal maupun sebelum Paskah, Gereja Katolik selalu mengajak umat-Nya untuk mempersiapkan hati dan batin: yaitu pada masa Adven sebelum Natal, maupun Prapaskah sebelum Paskah. Maka adalah baik jika kita merenungkan pada masa Adven ini, akan apa yang dapat kita lakukan untuk mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan-Nya, yaitu kelahiran-Nya kembali di dalam hati kita?

2. Untuk pengertian “Carol”, saya meringkas dari New Catholic Encyclopedia, yang dikeluarkan oleh the Catholic University of America, Washington DC, 1967, vol III, p. 130. “Carol”: 1) menurut Julian’s Dictionary, adalah lagu-lagu untuk menyertai suatu tarian. 2) menurut Encyclopedia Britanica, adalah lagu-lagu pujian seperti yang dinyanyikan pada waktu Natal, 3) menurut Oxford book of Carols, adalah lagu-lagu dengan dorongan religius, yang sederhana, gembira, populer dan modern, 4) menurut R.L. Greene dalam The Early English Carols, Oxford 1935, carols adalah sebuah sajak yang dinyanyikan, disusun atas beberapa stanza, dimulai pada bagian refrain yang kemudian diulangi setelah setiap stanza dinyanyikan.

Walaupun sebelum abad ke- 13 telah ditemukan tradisi menyenyikan lagu-lagu pujian Natal, namun Christmas Carols yang menyerupai apa yang kita kenal sekarang, baru mulai dikenal di abad- 13. Christmas Carols ini diprakarsai oleh St. Fransiskus Asisi, 1223 yang pertama kali menggunakan tunil/ pertunjukan kelahiran Yesus “Nativity Plays” di Italia. Sejak saat itu pertunjukan tunil Natal dan lagu-lagu Natal mulai dikenal di banyak tempat di dunia, seperti yang disebarkan oleh para Fransiskan tersebut. Yang dinyanyikan dalam Carols itu adalah lagu-lagu baik dalam bahasa Latin maupun dalam bahasa setempat. Pada saat itu, Carols juga disertai dengan litani dan penghormatan kepada Bunda Perawan Maria yang melahirkan Tuhan Yesus dan penghormatan kepada Keluarga Kudus (Bunda Maria, Santo Yosef dan Kanak-kanak Yesus) dan para orang kudus pada minggu Natal.

Pada masa Reformasi Protestan, kebiasaan Caroling ini kurang begitu populer, karena Christmas Carols/ Caroling sering diasosiasikan dengan Paus dan tradisi Gereja Katolik. Namun demikian, tradisi Christmas Carols terus berkembang, dengan semakin banyaknya lagu-lagu yang diciptakan untuk kepentingan Caroling tersebut. Pada abad ke- 19, Christmas Carols kembali populer dengan dinyanyikannya lagu-lagu yang berpusat pada peristiwa Natal, seperti “Hark, the herald angels”, “The First Nowell”, dll. Pada abad ini, J.M Neale (1818-1866), seorang penerjemah dan seorang tokoh pembaharuan liturgi mulai menerjemahkan lagu-lagu pujian Natal dari bahasa latin, seperti Good King Wenceslas dari Tempus adest floridum.

Sejak saat itu sampai sekarang, kita mengenal banyak lagu-lagu Natal yang dinyanyikan, baik itu dalam bahasa asing maupun yang diterjemahkan dalam bahasa setempat, yang temanya adalah tentang kelahiran Tuhan Yesus. Para penyanyi berjalan berkeliling dari rumah- ke rumah, atau di jalan-jalan, kadang sambil membawa lilin. Christmas Caroling ini maksudnya adalah untuk mewartakan kisah kelahiran Tuhan Yesus Kristus ke dunia, sehingga jika ingin dilakukan sesuai dengan maksudnya, harusnya Christmas Caroling ini bukan saja asal menyanyikan lagu- lagu Natal, tetapi juga disertai dengan pembacaan kisah Natal. Kisah Natal ini dapat dinyanyikan ataupun dibacakan dari ayat-ayat Injil yang kemudian yang diselingi dengan lagu-lagu Natal.

Christmas Caroling menurut tradisi Gereja Katolik, tidak dimulai di minggu-minggu sebelum Natal, karena pada saat itu Gereja masih dalam masa Adven. Maka biasanya, Christmas Caroling yang diadakan oleh Gereja Katolik dimulai setelah Malam Natal sampai hari- hari berikutnya dalam Oktaf Natal (dalam 8 hari masa Natal).

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Tentang kitab-kitab Deuterokanonika

20

[Dari Admin Katolisitas: Pertanyaan dari Sary ini kami bagi menjadi dua bagian, bagian pertama (no 1-6) dan bagian kedua (no 7 dan 8). Berikut ini adalah pertanyaan dan jawaban bagian pertama, yaitu tentang kitab-kitab Deuterokanonika. Sedangkan bagian kedua akan kami jawab di artikel terpisah]

Pertanyaan:

Shalom, Ibu Inggrid dan Pak Steve

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan tantangan iman dari seorang pengajar teologi dan filsafat Kristen. Beliau menyatakan bahwa agama yang memakai alkitab Deuterokanonika adalah agama yang sesat. (dan itu juga berarti bahwa beliau menuduh bahwa Gereja Katolik adalah sesat). Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan sehubungan dengan hal ini:
1. Mengapa Deuterokanonika tidak dijadikan satu dalam bagian kitab Perjanjian Lama, namun dipisahkan menjadi kitab Deuterokanonika itu sendiri? Saya mendengar bahwa dalam cetakan Inggris Deuterokanonika tidak dipisahkan dan menjadi satu dalam kitab PL dan urutannya pun berbeda. Apakah benar? Apabila benar, mengapa dalam cetakan Indonesia kitab Deuterokanonika itu dipisahkan?
2. Sebenarnya apakah arti kata Deuterokanonika itu dan apa sajakah syarat dan ketentuan yang ditentukan oleh Bapa dan Gereja awal sehingga diputuskan bahwa Deuterokanonika masuk ke dalam bagian Alkitab?
3. Apakah dasar yang dipakai oleh Marthin Luther sehingga ia membuang kitab-kitab Deuterokanonika dari Perjanjian Lama?
4. Saya membaca beberapa bagian dalam kitab Deuterokanonika. Dalam kitab tersebut pada akhir pasal dituliskan catatan kaki yang menunjukkan hubungan antara ayat dalam Deuterokanonika dengan ayat-ayat dalam Perjanjian Lama dan juga Perjanjian Baru. Pertanyaan saya, apakah catatan kaki ayat-ayat tersebut itu ditulis untuk menjelaskan ayat dalam PL/ PB ataukah adanya catatan kaki di Deuterokanonika itu menunjukkan bahwa penulisan PL atau PB itu juga mengutip ayat-ayat dari Deuterokanonika?
5. Saya juga telah membaca beberapa kutipan mengenai penggunaan ayat Deuterokanonika dalam PL/PB seperti yang tersedia di website Bapak/ Ibu. Pertanyaan saya, apakah pengutipan itu diambil dari kitab Deuterokanonika saja ataukah ada juga yang diambil dari kitab lain?
Contoh : Matt. 2:16 – Herod’s decree of slaying innocent children was prophesied in Wis. 11:7 – slaying the holy innocents.
Matt. 6:19-20 – Jesus’ statement about laying up for yourselves treasure in heaven follows Sirach 29:11 – lay up your treasure.
6. Saya juga membaca mengenai orang-orang protestan yang tidak mengakui Deuterokanonika karena orang-orang Yahudi sendiri menolak kitab tersebut. Mohon penjelasannya secara rinci siapakah yang dimaksud dengan Yahudi itu.

Sary

Jawaban:

Shalom Sary,

Sebenarnya pertanyaan- pertanyaan anda banyak yang terjawab melalui artikel Perkenalan dengan Kitab Suci (bagian ke-2), silakan klik.

1. Kitab Deuterokanonika memang merupakan satu kesatuan dengan Kitab Perjanjian Lama

Kitab Deuterokanonika memang merupakan satu kesatuan dengan Kitab Perjanjian Lama (yang terdiri dari 46 kitab). Dalam edisi Vulgate (kitab Suci terjemahan Latin dari Ibrani dan jumlah kitabnya berdasarkan kitab Septuaginta, yaitu kitab Perjanjian Lama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani pada tahun 250- 125 BC) Kitab Deuterokanonika termasuk di dalamnya, inilah yang dipakai oleh Gereja Katolik sampai sekarang. Maka benar bahwa di dalam Alkitab Katolik versi bahasa Inggris, memang kitab Deuterokanonika ini disatukan di dalam Perjanjian Lama. Jika di versi bahasa Indonesia dipisahkan, saya rasa itu kemungkinan karena pertimbangan kemudahan percetakan, dengan menggunakan dasar versi yang sudah ada dan diterima secara umum oleh semua umat Kristen di Indonesia.

2. Deuterokanonika adalah istilah yang dipakai setelah abad ke 16

Deuterokanonika adalah istilah yang dipakai setelah abad ke 16, yang artinya adalah yang termasuk dalam kanon kedua. Istilah ini dipakai untuk membedakan dengan kitab-kitab Perjanjian Lama lainnya yang diterima oleh gereja Protestan, yang disebut sebagai proto-canon. Namun sebenarnya Kitab Deuterokanonika ini telah termasuk dalam kanon Septuaginta, yaitu Kitab Suci yang dipergunakan oleh Yesus dan para Rasul. Dengan berpegang pada Tradisi Para Rasul,  Magisterium Gereja Katolik memasukkan kitab Deuterokanonika dalam kanon Kitab Suci, seperti yang telah ditetapkan oleh Paus Damasus I (382) dan kemudian oleh Konsili Hippo (393) dan Konsili Carthage (397). Kita percaya mereka diinspirasikan oleh Roh Kudus untuk menentukan keotentikan kitab-kitab ini, berdasarkan ajaran- ajaran yang terkandung di dalamnya. Kitab- kitab Deuterokanonika ini, bersamaan dengan kitab-kitab lainnya dalam PL dan PB, dikutip oleh para Bapa Gereja di abad- abad awal untuk pengajaran iman, dan prinsip- prinsip pengajaran pada kitab Deoterokanonika ini berada dalam kesatuan dengan PL dan PB.

3. Martin Luther tidak membuang Kitab- kitab Deuterokanonika

Sebenarnya, Martin Luther tidak membuang Kitab- kitab Deuterokanonika. Luther memasukkan kitab-kitab Deuterokanonika itu di dalam terjemahan kitab suci-nya yang pertama dalam bahasa Jerman. Kitab Deuterokanonika juga terdapat di dalam edisi pertama dari King James version (1611) dan cetakan Kitab Suci pertama yang disebut sebagai Gutenberg Bible (yang dicetak satu abad sebelum Konsili Trente 1546). Kenyataannya, kitab-kitab Deuterokanonika ini termasuk di dalam hampir semua Kitab Suci sampai Komite Edinburg dari the British Foreign Bible Society memotongnya pada tahun 1825. Sampai sebelum saat itu, setidaknya kitab Deuterokanonika masih termasuk dalam appendix dalam Alkitab Protestan. Maka secara historis dapat dibuktikan, bahwa bukan Gereja Katolik yang menambahkan kitab Deuterokanonika, namun gereja Protestan yang membuangnya.

Namun demikian memang diketahui bahwa Luther cenderung menilai kitab-kitab dalam Kitab suci seturut dengan penilaiannya sendiri. Misalnya, ia melihat kitab Ibrani, Yakobus, Yudas dan Wahyu sebagai kitab-kitab yang lebih rendah dibandingkan dengan kitab-kitab yang lain. Demikian juga dalam debatnya dengan Johannes Eck (1519) tentang Api Penyucian, maka ia merendahkan bukti yang diajukan oleh Eck yaitu kitab 2 Makabe 12, dengan merendahkan kitab-kitab Deuterokanonika secara keseluruhan. Ia juga mengatakan bahwa ketujuh kitab dalam Deuterokanonika tidak dikutip secara langsung di dalam PB. Namun jika ini acuannya, maka ada kitab-kitab yang lain dalam PL yang juga tidak dikutip dalam PB, seperti contohnya kitab Ezra, Nehemia, Ester, Pengkhotbah dan Kidung Agung, tetapi apakah kita akan membuang semua kitab-kitab itu? Tentu tidak bukan. Lagipula meskipun tidak ada kutipan langsung, namun ada banyak kutipan dalam PB yang mengacu pada apa yang tertulis dalam kitab Deuterokanonika. Contohnya, Ibr 11:35 tentang “Ibu-ibu yang menerima kembali orang-orangnya yang telah mati, sebab telah dibangkitkan. Beberapa disiksa dan tidak mau menerima pembebasan supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik….” ini mengacu kepada kisah seorang ibu yang menyerahkan ketujuh anak- anaknya dan akhirnya dirinya sendiri untuk disiksa, demi mempertahankan ketaatan mereka kepada hukum Taurat, seperti dikisahkan dalam kitab 2 Makabe 7. Kisah ini tidak ada di dalam kitab- kitab PL lainnya. Atau ayat 1 Korintus 2:10-11 yang mengajarkan bahwa manusia tidak dapat menyelami hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah yang telah ditulis dalam Yudith 8:14.

4. Catatan kaki yang terdapat pada kitab Deuterokanonika itu mengacu kepada ayat-ayat lain di dalam Alkitab

Catatan kaki yang terdapat pada kitab Deuterokanonika itu mengacu kepada ayat-ayat lain di dalam Alkitab yang mengisahkan hal yang sama/ serupa. Adanya kaitan ayat- ayat ini membuktikan bahwa kitab- kitab Deuterokanonika bukanlah kitab-kitab yang berdiri sendiri, melainkan merupakan kesatuan dengan kitab-kitab lainnya baik yang ada di PL maupun PB. Bahwa ada rujukan ke PL artinya ayat- ayat dalam kitab- kitab Deuterokanonika tersebut tersebut mengajarkan hal yang sama/ serupa dengan kitab- kitab PL lainnya, dan bahwa ada rujukan ke PB artinya pengajaran pada ayat- ayat kitab-kitab Deuterokanonika tersebut juga dikutip oleh para pengarang kitab- kitab PB, meskipun secara tidak langsung; atau prinsip pengajarannya diambil dan diajarkan kembali dalam PB.

Pada Alkitab The Jerusalem Bible, 1966, terbitan Dayton, Longman & Todd, Ltd dan Double Day,  tercantum cukup banyak catatan pada ayat- ayat Kitab Deuterokanonika yang mengacu kepada ayat- ayat kitab-kitab lainnya di PL dan PB. Semua ini sungguh menjadi bukti yang kuat bahwa kitab-kitab Deuterokanonika ini sama-sama diinspirasikan oleh Roh Kudus, sama seperti kitab-kitab lainnya dalam PL dan PB.

5. PB memang mengambil banyak referensi kepada pengajaran di PL, termasuk kitab Deuterokanonika

Jika diperhatikan maka kita ketahui bahwa ayat- ayat di PB memang mengambil banyak referensi kepada pengajaran di PL, termasuk kita Deuterokanonika. Ada yang dikutip sama persis, atau ada juga yang kemudian diperjelas ataupun disempurnakan. Dalam konteks inilah kita melihat nubuat pembunuhan kanak- kanak pada Keb 11:7, yang kemudian diperjelas dalam Mat 2:16 tentang pembunuhan bayi-bayi dan kanak-kanak di bawah umur 2 tahun pada jaman kaisar Herodes. Sedangkan contoh yang lain pada Mat 6:19-20 yang mengajarkan agar kita tidak menaruh perhatian kepada mengumpulkan harta dunia yang bermakna kosong, melainkan kepada harta surgawi, itu secara prinsip telah diajarkan dalam PL, yaitu Sir 29:8-12, Ayb 22:24-26; Mzm 62:10, Tob 4:9, selain juga diajarkan di PB, yaitu Yak 5:2-3, ataupun di ayat paralelnya pada Injil Lukas 12:33-34.

Contoh- contoh semacam ini banyak sekali. Maka, jika anda tertarik mempelajarinya, saya menganjurkan anda membeli buku the Jerusalem Bible, dan anda dapat melihatnya dengan lebih detail.

6. Alasan tidak menerima kitab-kitab Deuterokanonika karena orang-orang Yahudi sendiri menolak kitab-kitab tersebut adalah alasan yang sangat ‘absurd‘/ tidak masuk akal.

Sebenarnya alasan tidak menerima kitab-kitab Deuterokanonika karena orang-orang Yahudi sendiri menolak kitab-kitab tersebut adalah alasan yang sangat ‘absurd‘/ tidak masuk akal. Yang dimaksud di sini mungkin adalah bahwa kanon Ibrani yang ditetapkan oleh para rabi Yahudi dalam konsili Javneh/ Jamnia sekitar tahun 100,  hanya memuat 39 kitab PL, sedangkan Gereja Katolik berpegang pada Septuagint yang memuat 46 kitab (termasuk Deuterokanonika). Para rabi itu adalah orang -orang yang menolak Kristus, mereka tidak percaya kepada Kristus bahkan sampai saat ini. Bagaimanakah mereka dapat menentukan bagi Gereja, mana kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus, dan mana yang tidak? Mereka (para rabi itu) menolak Kristus (kalau tidak menolak, mereka sudah jadi umat Kristiani), lalu bagaimana sekarang kita dapat mengatakan bahwa para rabi itu dipenuhi Roh Kudus untuk menentukan kanon Kitab Suci bagi Gereja?

Lagipula, jika kita mau secara obyektif melihat, selayaknya kita melihat pada penjelasan para pengarang Protestan yang bernama Gleason Archer dan G.C. Chirichigno membuat daftar yang menyatakan bahwa Perjanjian Baru mengutip Septuagint sebanyak 340 kali, dan hanya mengutip kanon Ibrani sebanyak 33 kali. ((Gleason Archer dan G. C. Chirichigno, Old Testament Quotations in the New Testament: A Complete Survey (Chicago, IL: Moody Press, 1983), xxv-xxxii.)) Dengan demikian, kita ketahui bahwa dalam Perjanjian Baru, terjemahan Septuagint dikutip sebanyak lebih dari 90%. Jangan lupa, seluruh kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani. Dan kitab-kitab yang tertulis dalam bahasa Yunani inilah yang ditolak oleh para Rabi Yahudi. Tetapi apakah kitab-kitab PL yang tertulis dalam bahasa Yunani ini berarti tidak diinspirasikan oleh Roh Kudus? Tentu tidak bukan. Meskipun ditulis bukan dalam bahasa Ibrani, kitab-kitab tersebut tetap orisinil dan asli, sebab memang pada saat itu bahasa yang umum digunakan adalah bahasa Yunani.

Demikian yang dapat saya tuliskan untuk pertanyaan anda no 1 sampai 6. Jawaban no.7 dan 8-nya menyusul, karena topiknya juga berbeda dengan yang telah disampaikan di atas.

Kalau ada yang menuduh Gereja Katolik itu sesat, janganlah sampai membuat kita marah atau membalas. Janganlah kita menghakimi mereka ataupun mengatakan hal-hal yang negatif tentang mereka, sebab bisa jadi memang mereka mengatakan demikian karena mereka diajarkan demikian oleh para pengajar mereka (mereka tahu-nya demikian). Maka yang terpenting, menurut hemat saya, adalah kita sebagai orang Katolik mempelajari iman kita agar kita dapat menemukan kebenaran. Jadi, kalau ada orang yang bertanya pada kita, kita tahu bagaimana harus memberikan pertanggungjawaban iman kita. Biar bagaimanapun Kebenaran itu akan kelihatan dengan sendirinya, dan membuktikan bahwa Gereja Katolik, yang setia berpegang kepadanya, tidak sesat seperti yang dituduhkan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Mengapa Tuhan membiarkan penderitaan?

16

Seorang pembaca menuliskan pesan “Ada satu contoh kasus keluarga Fritzl di Austria. Sang ayah menyekap anak gadisnya di gudang bawah tanah selama lebih dari 20 tahun! Di malam hari memperkosanya, selama itu di siang hari dia dan istri hidup bersosial secara wajar. Dari anak gadisnya itu, dia punya beberapa anak lagi, dan mereka semua tinggal di bawah tanah. Ketika polisi membongkar gudang itu, itulah pertama kali cucu-cucunya yang sudah besar (sudah umur belasan tahun!) melihat matahari dan bulan… dalam arti harafiah!!!. Kasus ini terbongkar oleh polisi ketika umat Katolik sedang bersiap menyambut Triduum Paskah. Ironis? Sebenarnya apakah Tuhan sama-sekali tidak mau campur tangan ? Manusia wajar yang mengetahui hal seperti itu, pasti akan segera turun tangan. Di manakah batas kejahatan bagi Tuhan? Saat kejahatan menjadi-jadi dan manusia terdiam, apakah Tuhan akan turun tangan? Berapa lama manusia mesti menunggu? Apakah selama bangsa Israel dijajah bangsa Mesir, lalu Tuhan membimbing Israel exodus? Ketika Yesus melihat kumpulan 5000 leibh orang2 yg mengikutinya dan hari menjadi sore, mereka kelaparan. Yesus pun merasa “kasihan” dan berkeputusan: “kita harus memberi mereka makan”. Padahal urusan bekal mestinya tanggung jawab kumpulan orang itu sendiri, mestinya mereka saling berbagi atau harus berusaha bersama apa gitu…Apakah Tuhan sekarang masih sama?”

Kalau dapat diringkas maka pertanyaan ini mau menyampaikan: mengapa seolah Tuhan ‘diam’ melihat kejahatan dan kesengsaraan yang terjadi di dunia sekarang ini. Atau, mengapa Tuhan membiarkan kejahatan, lalu sampai di mana atau sampai kapan? Pertanyaan serupa ini pernah dibahas , di sini, silakan klik? Pertanyaan semacam ini memang adalah pertanyaan yang sulit dijawab, karena melibatkan misteri Tuhan sendiri. Oleh karena itu, saya ingin mengutip surat apostolik dari Paus Yohanes Paulus II yang berjudul, Salvifici Doloris (SD), atau On the Christian Meaning of Human Suffering.

Bab III, dari dokumen itu berjudul :The Quest for an Answer to the Question of the Meaning of Suffering. Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa dengan adanya penderitaan- penderitaan di dunia maka manusia dapat bertanya, “Why?” (Mengapa?) Mengapa ada kejahatan di dunia? Malah kadang pertanyaan-pertanyaan semacam ini dapat menjadikan orang frustasi dan akhirnya menolak adanya Tuhan. Maka, menurut Paus, kuncinya adalah kita harus memahami apakah arti dari penderitaan itu.

Alkitab menceritakan tentang misteri penderitaan ini secara jelas di dalam kitab Ayub. Teman-teman Ayub menarik kesimpulan bahwa penderitaan yang diderita oleh Ayub disebabkan oleh dosa-dosanya. Namun Tuhan akhirnya menyatakan kepada para sahabat Ayub bahwa Ayub tidak bersalah. “Itu [Penderitaan Ayub] harus diterima sebagai misteri, yang tidak dapat dipahami oleh manusia dengan akal budinya sendiri” (SD 11). Maka dapat saja penderitaan terjadi pada orang-orang yang tak bersalah, kepada Bangsa pilihan Allah, dan bahkan Gereja-Nya sendiri. Jika demikian yang terjadi, maka hal ini merupakan undangan terhadap belas kasihan-Nya, yang mengajar manusia untuk memimpinnya kepada pertobatan. Maka penderitaan itu maksudnya adalah untuk memimpin seseorang kepada pertobatan, yaitu untuk membangun kembali kebaikan di dalam diri orang yang mengalami penderitaan (SD 12).

Misteri penderitaan hanya dapat dipahami dalam terang Kristus. Kristus menyebabkan kita memasuki misteri penderitaan dan untuk menemukan alasannya “mengapa”, sejauh kita mampu menangkap kasih ilahi-Nya. “Kasih adalah sumber yang paling penuh yang menjawab pertanyaan mengenai makna penderitaan ini. Jawaban ini telah diberikan oleh Tuhan kepada manusia di dalam salib Tuhan Yesus Kristus.” (SD 13).

1) Dengan melihat kepada kejamnya dosa dan penderitaan, kita akan semakin menyadari akan besarnya akibat dosa, namun juga besarnya kasih Allah yang datang di dalam diri Kristus untuk membebaskan kita dari penderitaan kekal akibat dosa tersebut. Tuhan Yesus dekat kepada mereka yang menderita berdasarkan kenyataan bahwa Ia mengambil penderitaan itu bagi Diri-Nya sendiri (lih. SD 14).

2) Dengan adanya realitas penderitaan di dunia ini yang sifatnya sementara, dan dorongan kita secara alami untuk menghindarinya, maka seharusnya kitapun mempunyai dorongan yang lebih besar untuk menghindari penderitaan yang sifatnya selamanya, yaitu penderitaan di neraka jika kita tidak diselamatkan karena tidak bertobat. (lih. SD 14)

3) Jika mengalami penderitaan, entah karena kita sendiri mengalami penderitaan itu, ataupun karena kita menderita melihat orang lain yang sungguh menderita, maka kita diundang untuk mengambil bagian di dalam karya keselamatan. Paus Yohanes Paulus mengajarkannya demikian, “Each one is also called to share in that suffering through which the Redemption was accomplished…..Each man, in his suffering, can also become a sharer in the redemptive suffering of Christ.” (SD 19) Ini sesuai dengan ajakan Rasul Paulus untuk melengkapi dalam daging kita, apa yang kurang dalam penderitaan Kristus, untuk Tubuh-Nya, yaitu Gereja-Nya, (Kol 1:24) karena anggota- anggota Gereja-Nya masih ada yang mengalami penderitaan sampai pada saat ini (lih. SD 24)

4) Dengan menderita bersama Kristus, maka dapat dikatakan bahwa bukan kita lagi yang hidup, tetapi Kristus yang hidup di dalam kita (Gal 2:19). Karena jika Ia mengasihi kita dengan cara ini, menderita dan wafat bagi kita, maka dengan penderitaan dan wafat-Nya ini, Ia hidup di dalam diri orang yang mengasihi Dia dengan cara yang sama (SD 20). Maka Kristus dapat dikatakan hidup di dalam diri orang itu.

5) Namun, dengan iman kita percaya bahwa salib dan penderitaan yang ada di dalam kehidupan manusia itu disertai dengan pengharapan pemenuhan janji akan kebangkitan. Rasul Paulus mengajarkan bahwa kita adalah “orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” (Rom 8:17-18). Dan Rasul Petrus juga berkata, “Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.” (1 Pet 4:13).

Dengan melihat uraian di atas, maka malah mungkin bukan ironi, namun memang ada maksudnya bahwa Tuhan mengizinkan pembongkaran kasus kejahatan pada keluarga Fritzl di Austria terjadi pada saat menyambut Triduum Paskah. Karena mungkin seharusnya kenyataan pahit itu membuka pikiran kita akan kejamnya akibat dosa, dan beban dosa yang harus ditanggung oleh Kristus di kayu salib-Nya. Karena baru satu dosa saja sudah demikian menyedihkan akibatnya, apalagi dosa semua umat manusia, di sepanjang sejarah manusia, yang harus dipikul oleh Yesus Kristus! Maka melalui kejadian itu, Tuhan sesungguhnya menyerukan seruan pertobatan kepada semua orang yang mau membuka hati mereka. Kita diundang juga untuk mempersembahkan penderitaan dan kesedihan kita dengan penderitaan Kristus di kayu salib, supaya kitapun dapat mengambil bagian di dalam kemuliaan-Nya kelak. Dalam keadaan ini, kita dapat mendoakan bagi pertobatan keluarga Fritzl, namun juga bagi pertobatan anggota keluarga kita, sanak saudara, teman ataupun anggota Gereja lainnya; dan juga mohon belas kasihan Tuhan Yesus atas dosa-dosa kita sendiri. Sebab penderitaan selalu dimaksudkan Tuhan untuk membawa pertobatan, dan mungkin pertobatan itulah yang dewasa ini relatif jarang ditemukan di dunia ini. Manusia hidup hanya sesuai dengan kehendaknya sendiri. Maka mungkin Tuhan membiarkan kejadian yang menyedihkan ini terjadi, agar setidak-tidaknya ada orang- orang yang tersentuh dan terdorong untuk bertobat, ataupun mendoakan bagi pertobatan orang lain.

Dalam kasus keluarga Fritzl, kita belum sampai pada akhirnya. Bisa saja sang ayah ditangkap dan dipenjara, dan di sel penjara itu dia bertobat. Tanpa terbongkarnya kasus itu mungkin ia tidak pernah bertobat sampai akhir hidupnya. Atau, mungkin terbongkarnya kasus tersebut adalah sebagai jawaban doa dari anak perempuan itu, yang telah bertahun- tahun berdoa mohon keadilan Tuhan. Dan begitu doanya dikabulkan, itu sungguh menguatkan iman perempuan itu beserta anak-anaknya (‘cucu-cucu’ keluarga Fritz). Atau mungkin ada orang yang gemar berselingkuh, dan tidak mempedulikan anak-anak hasil perselingkuhannya, lalu setelah membaca kasus tersebut ia bertobat. Atau orang- orang yang seperti anda, membaca kasus tersebut, merenungkannya dan membawanya ke hadirat Tuhan sehingga akhirnya semakin mendalami misteri salib Kristus…. Kita tidak pernah mengetahui maksud Allah, namun yang pasti Roh Kudus-Nya terus bekerja di dalam hati setiap orang. Walau kelihatannya tidak kelihatan, Allah terus bekerja, dan tidak diam. Hanya saja, caranya yang tidak kita ketahui, karena kita cenderung melihat apa yang kelihatan oleh mata, atau yang diberitakan di media masa. Kita mengharapkan pertolongan Tuhan yang instant/ segera datang, sedangkan Tuhan mempunyai kebijaksanaan waktu-Nya sendiri. Sebab cara pandang kita memang berbeda dengan cara pandang Allah.

Jadi, Tuhan tetaplah adalah Allah yang tetap sama, dahulu dan sekarang, dan selamanya. Ia adalah Allah yang peduli dan penuh belas kasihan kepada umat manusia ciptaan-Nya. Hanya saja, Ia berkarya dengan cara yang berbeda setiap waktu, dan mari kita menghormati kebijaksanaan Tuhan dalam hal ini. Jaman bangsa Israel/ Musa berbeda dengan jaman Kristus, jaman para rasul berbeda dengan jaman abad Pertengahan, dan dengan jaman sekarang. Satu hal yang pasti adalah: Allah yang penuh kasih ini adalah juga Allah yang adil, sehingga pada akhirnya nanti, Allah pasti akan menyatakan keadilan-Nya. Kejadian- kejadian yang menyedihkan terjadi mungkin dapat membuat kita prihatin, namun sebaiknya juga meningkatkan pengharapan kita, agar Tuhan memakai kejadian-kejadian yang buruk sekalipun untuk mendatangkan hal-hal yang baik kepada umat-Nya.

Siapa saja wanita yang boleh dinikahi?

41

Pertanyaan:

Shalom Ibu Ingrid,

sebelumnya saya berterima kasih karena pada akhirnya saya dapatkan situs yang sangat bermanfaat ini,
dan sebagai orang awam hukum tidak ada salahnya jika saya bertanya kepada Ibu Ingrid tentang hukum pernikahan, yang ingin saya ketahui adalah;
siapa saja wanita yang boleh dinikahi dan siapa saja wanita yang tidak boleh dinikahi oleh pria ?

tak lupa saya ucapkan terima kasih sebelum dan sesudahnya. Cahyono.

Jawaban:

Shalom Cahyono,

Terima kasih atas pertanyaan anda yang unik. Ya, ada benarnya anda mengetahuinya, agar tidak ‘salah langkah’, ya. Namun yang tertulis dalam Kitab Hukum Kanonik hanya merupakan persyaratan umum. Selanjutnya, memang sang pria harus menentukan sendiri apakah ada kecocokan pribadi dan sifat- sifat antara dirinya dengan wanita itu.

Ketentuannya umumnya adalah sebagai berikut, menurut KHK 1983:

1. Pada dasarnya wanita yang tidak dilarang oleh hukum, dapat anda nikahi (lih. kan. 1058).

2. Setidak-tidaknya, wanita itu telah menyelesaikan umurnya yang ke 14 tahun (jadi minimal sehari setelah hari ulang tahunnya yang ke 15, lih. kan 1083, 1).

3. Wanita itu adalah wanita yang normal dalam arti  tidak mempunyai impotensi dalam hal persetubuhan (lih. kan 1084, 1).

4. Wanita itu tidak terikat oleh perkawinan sebelumnya (lih. kan 1085, 1). Meskipun perkawinan sebelumnya tidak sah, tetaplah ia tidak dapat dinikahi lagi, tanpa perkawinan sebelumnya dinyatakan batal oleh pihak Tribunal Gereja (lih. kan 1085, 2).

5. Wanita itu bukan anggota dari komunitas ordo religius, ataupun institut religius yang terikat kaul kemurnian (lih. kann. 1087, 1088)

6. Wanita itu bukan merupakan hubungan keturunan langsung (seperti ibu bagi calon suaminya atau anak bagi calon suaminya, lih. kan 1091, 1) ataupun saudara dekat sampai hubungan kolateral ke-4. Artinya, bukan saudara kandung, bukan saudara sepupu, bukan keponakan atau bibi bagi calon suaminya, lih. kan. 1091, 2), ataupun hubungan langsung dan kolateral sampai derajat ke-2 karena hubungan adopsi (lih. kan. 1094).

7. Wanita itu mempunyai cukup akal budi dan dapat menggunakan akal budinya (lih. kan 1095, 1)

8. Wanita itu tidak mempunyai kelainan yang membuatnya tidak mampu menangkap apa kewajiban dan hak-hak-nya dalam ikatan perkawinan (lih. kan 1095, 2)

9. Wanita itu tidak mempunyai kelainan batiniah/jiwa, sehingga ia mampu mengambil tugas esensial sebagai istri (lih. kan. 1095, 3).

10. Wanita itu mengetahui bahwa ikatan perkawinan yang akan dijalaninya adalah ikatan seumur hidup dan dengan kehendak bebasnya setuju, mengikatkan diri dengan suaminya, dan bahwa perkawinan itu terarah kepada kelahiran keturunan dengan cara keterlibatan seksual (lih. kan 1096, 1).

11. Wanita yang akan dinikahi, tidak dalam keadaan terpaksa, atau ketakutan yang sangat (lih. kan 1103).

12. Jika wanita itu bukan Katolik, wanita itu bukan seseorang yang dengan keras menolak iman Katolik (lih. kan 1071, 2) ataupun menolak untuk membaptis anak-anak secara Katolik.

Demikian kira-kira garis besar yang disampaikan dalam Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik. Bagi saya pribadi, meskipun tidak diharuskan dan tidak tertulis di dalam hukum Gereja, namun bagi saya yang terpenting juga adalah sang wanita itu sedapat mungkin seiman dengan anda. Sebab itu akan sangat memudahkan anda berdua dalam membina kehidupan rumah tangga seterusnya. Banyak ketidak-cocokan yang mungkin timbul dari perkawinan campur atau perkawinan beda agama. Jadi lebih baik, jika anda sekarang sedang ‘mencari jodoh’ anda, bergaullah di lingkungan komunitas Katolik. Semoga dengan demikian, anda mendapatkan pasangan hidup anda.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Bolehkah ke dukun atau ke paranormal?

52

Pertanyaan:

Ytk. Bp. Stef & Ibu Ingrid

Saya mau bertanya:
1. Apakah diperbolehkan bila umat Katolik berobat atau minta bantuan dukun atau paranormal? Bila tidak diperbolehkan, apakah ada dasar hukum Gereja yang mengatur hal ini?
2. Bila paranormal itu seorang Katolik yg taat bahkan juga hidupnya baik apakah boleh kita minta bantuan kepadanya? Bahkan di Keuskupan Agung Semarang diadakan juga temu kebatinan yg terdiri dari para pemerhati kebatinan dan juga diikuti para paranormal Katolik dengan bimbingan romo bahkan selalu dipuncaki dengan Ekaristi.
3. Apakah ada perbedaan antara dukun dan paranormal?

Mohon tanggapannya. Terima kasih.
Tuhan memberkati, Barnabas

Jawaban:

Dari Admin Katolisitas: pertanyaan ini dijawab oleh Romo Wanta, dan selanjutnya oleh Ingrid]

Barnabas Yth.

Majalah hidup minggu lalu tgl 15 November menampilkan tema itu ttg kebatinan dan memang benar di Keuskupan Agung Semarang ada perkumpulan hal itu. Persoalannya bukan pada orang boleh mencari paranormal tetapi pada bagaimana Gereja Katolik mendampingi paranormal agar tidak keluar dari ajaran Gereja Katolik. Mereka ini adalah aliran kejawen yang katolik, maka dalam pertemuan itu ada penutupan dengan misa karena mereka katolik dari pada tidak misa dan tanpa pengawasan Gereja. Benar bahwa praktek paranormal kadang dapat bertentangan dengan ajaran Gereja tapi tidak semuanya demikian. Kalau minta penyembuhan dari paranormal dapat saja dilakukan asalkan tidak melanggar prinsip ajaran Gereja, namun tidak pada eksorsisme karena hal itu adalah kewenangan Uskup.

Perbedaan dukun dan paranormal adalah dukun mengobati menggunakan kepercayaan pada kuasa gaib. Paranormal mengobati dengan kuasa alam energi alam. Praktek paranornal menggunakan insting karunia Tuhan yang ada dalam dirinya untuk membaca alam, hidup sehingga dia bisa menyampaikan kebenaran. Misalnya ada seorang yang pandai mencari sumber air dengan menggunakan alat cukup dengan dahan pohon bercabang tiga bahkan dengan bandul dan sungguh ditemukan. Bagi saya ini kemamuan karunia Tuhan yang diberikan kepadanya karena naluri yang melebihi dari normal dan tidak bertentangan dengan agama Katolik.

Tapi kalau sudah dukun memakai hari tertentu ada unsur gaib itu tidak diperkenankan. Kalau sudah melampaui akal budi dan iman Katolik seperti ramalan nasib itu sudah bertentangan dengan iman katolik.

salam
Rm Wanta

Tambahan dari Ingrid:

Shalom Barnabas,

Katekismus Gereja Katolik sangat tegas melarang segala aktivitas yang berkaitan dengan perdukunan dan ilmu gaib, karena hal- hal itu bertentangan dengan ajaran Alkitab, maka dengan sendirinya umat Katolik tidak boleh pergi ke dukun ataupun terlibat dalam aktivitas perdukunan/ sihir/ ilmu gaib:

KGK 2117 Semua praktik magi dan sihir, yang dengannya orang ingin menaklukkan kekuatan gaib, supaya kekuatan itu melayaninya dan supaya mendapatkan suatu kekuatan adikodrati atas orang lain – biarpun hanya untuk memberi kesehatan kepada mereka – sangat melanggar keutamaan penyembahan kepada Allah. Tindakan semacam itu harus dikecam dengan lebih sungguh lagi, kalau dibarengi dengan maksud untuk mencelakakan orang lain, atau kalau mereka coba untuk meminta bantuan roh jahat. Juga penggunaan jimat harus ditolak. Spiritisme sering dihubungkan dengan ramalan atau magi. Karena itu Gereja memperingatkan umat beriman untuk tidak ikut kebiasaan itu. Penerapan apa yang dinamakan daya penyembuhan alami tidak membenarkan seruan kepada kekuatan-kekuatan jahat maupun penghisapan orang-orang lain yang gampang percaya.

KGK 2116 Segala macam ramalan harus ditolak: mempergunakan setan dan roh jahat, pemanggilan arwah atau tindakan-tindakan lain, yang tentangnya orang berpendapat tanpa alasan, seakan-akan mereka dapat “membuka tabir” masa depan (lih. Ul 18:10; Yer 29:8). Di balik horoskop, astrologi, membaca tangan, penafsiran pratanda dan orakel (petunjuk gaib), paranormal dan menanyai medium, terselubung kehendak supaya berkuasa atas waktu, sejarah dan akhirnya atas manusia; demikian pula keinginan menarik perhatian kekuatan-kekuatan gaib. Ini bertentangan dengan penghormatan dalam rasa takwa yang penuh kasih, yang hanya kita berikan kepada Allah.

Sesuai dengan penjelasan Romo Wanta, maka kesimpulannya adalah sebagai berikut:
1. Jika praktek paranormal itu tidak menjurus kepada kuasa gaib, dan sesungguhnya dapat dilihat berkaitan dengan ilmu pengetahuan, maka praktek tersebut masih dapat dikatakan berada dalam ‘koridor’ yang diijinkan oleh Gereja Katolik. Termasuk di sini misalnya seperti mencari sumber air, gaya magnetis bumi, meramu obat dari tumbuh-tumbuhan dst, sebab hal ini setidak-tidaknya dapat berkaitan dengan science dan akal sehat dan dapat dibuktikan.
2. Namun jika itu menggunakan kuasa-kuasa lain di luar jangkauan akal budi, menggunakan kuasa gelap, ramalan, tahayul, penyaluran energi tenaga dalam, medium bola kristal dst itu sudah merupakan praktek-praktek yang menyimpang dan sudah tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Praktek ini sudah menjurus kepada ilmu gaib, dan harus kita hindari.

Bagi saya pribadi, saya lebih cenderung untuk berhati-hati terhadap praktek paranormal ini, justru karena batas- batas-nya yang agak kabur, tentang mana yang masih dapat diterima akal sehat dan dapat dibuktikan dengan science, mana yang tidak. Jadi alangkah baik jika kita lebih waspada dalam hal ini. Lebih baik mengusahakan penyembuhan melalui cara yang diterima oleh Gereja Katolik secara umum, yaitu dengan berdoa, sakramen, dan dengan pengobatan dan terapi medis.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- https://katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab