Home Blog Page 253

Penciptaan Dunia: ‘tohu’ dan ‘bohu’?

18

[Berikut ini adalah pertanyaan/ pernyataan yang mewakili perkiraan sejumlah umat Protestan tentang peristiwa pemberontakan Lucifer dalam kaitannya dengan penciptaan bumi. Pandangan ini tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik, dan tim Katolisitas akan menyampaikannya mengapa demikian].

Pertanyaan:

Jumat, 26 Maret 2010
Salam dalam kasih Yesus Kristus
Hormat saya, Fajar Yehuda
27 Maret 2010

Alkitab dan juga para hamba Tuhan menyatakan bahwa pemberontakan terhadap Allah pertama kali dilakukan oleh seorang penghulu malaikat bernama Lucifer oleh karena motivasinya ingin menjadi Allah, kemudian Allah melempar ia dan para pengikutnya ke bumi (baca; Yehezkiel 28: 11-19). Lucifer inilah yang akhirnya dijuluki Iblis. Pada suatu saat, saya berpikir bahwa Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa pemberontakan oleh karena tipu muslihat Iblis, dan peristiwa ini dicatat dalam Kejadian pasal 3. Lalu yang menjadi pertanyaan saya adalah Iblis telah muncul di Taman Eden (di bumi) pada Kejadian pasal 3, hal ini berarti bahwa peristiwa dilemparnya Iblis ke bumi pasti terjadi sebelum penciptaan Adam dan Hawa. Dimanakah ayat Alkitab yang menyatakan penghakiman atas dosa Lucifer dan para pengikutnya? Dan kemungkinan besar ayat itu ada diantara Kejadian pasal 1 dan 2.
Pemaparan Alkitabiah yang akan saya tulis dibawah ini disadur dari buku WAR IN HEAVEN, hal. 22-36 karya Derek Prince.

DUNIA SEBELUM ADAM

Sesudah melakukan perenungan selama beberapa dasawarsa mengenai beberapa ayat pertama pada Kitab Kejadian, saya (Derek Prince, red) tiba pada kesimpulan bahwa penghakiman Allah atas pemberontakan mungkin saja sudah terjadi sebelum enam hari penciptaan sebagaimana digambarkan dalam Kitab Kejadian.

Dalam Kejadian 1: 2, kita diberitahu bahwa bumi “belum berbentuk dan kosong” (dalam bahasa Ibrani; tohu va bohu). Pemeriksaan pada pasal-pasal lain dimana frasa ini [tohu va bohu] digunakan menegaskan bahwa ini selalu menmggambarkan efek dari tindakan penghakiman oleh Allah. Ini menunjukan bahwa penghakiman Allah yang pertama terjadi antara Kejadian 1: 1 dan Kejadian 1: 2. Barangkali ini adalah penghakiman atas pemberontakan Lucifer (Iblis).

Adalah di luar cakupan buku ini untuk menganalisis semua ini secara rinci. Namun saya percaya bahwa ini adalah bidang yang dapat memberi wawasan ketika kita mengadakan doa syafaat dan peperangan rohani. Suatu hal yang berlawanan dengan apa yang dipikirkan oleh orang banyak , pemberontakan tidak dimulai dibumi, melainkan dimulai di surga. Pemberontakan tidak dimulai dengan seorang manusia, tetapi dengan salah satu penghulu malaikat yang dikenal sebagai Iblis, walaupun nama aslinya Lucifer. Terlebih dahulu Iblis merebut sekumpulan malaikat untuk tunduk dibawah kepemimpinannya sebelum ia mengalihkan perhatiannya pada ras manusia.

Dalam bahasa manapun, Lucifer digambarkan sebagai makhluk yang terang, bercahaya dan mulia. Ia disebut sebagai penghulu malaikat. Kata “penghulu” dalam akar bahasa Yunaninya, berarti “memerintah”. Kata yang sama muncul dalam kata archbishop “uskup kepala”, uskup yang mengepalai uskup-uskup lainnya. Jadi, penghulu malaikat adalah malaikat yang memerintah atas malaikat-malaikat lainnya. Jadi, Lucifer adalah salah satu dari penghulu malaikat utama, bersama-sama dengan Mikhael dan Gabriel. Akan tetapi, sampai pada taraf tertentu, Lucifer membuat kesalahan yang berat. Ia menjadi begitu terpaku dengan kemuliaannya sendiri sehingga ia mencoba membuat dirinya menyamai Allah dan berbalik menjadi pemberontakan menentang Pencipta-nya. (Lucifer exposed, hal.4-5).

ALLAH TIDAK MENCIPTAKAN KEKACAUAN

Kembali ke ayat-ayat awal dalam Kitab Kejadian, saya terpaksa menyimpulkan bahwa ada kontras antara kondisi bumi sebagaimana semula diciptakan oleh Allah dalam ayat 1 dan kondisinya seperti yang diuraikan dalam ayat 2:

Ayat 1: Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
Ayat 2: Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya.

Bumi seperti yang digambarkan dalam ayat 2 telah menjadi tempat tandus yang gelap, belum berbentuk dan berair. Semua yang saya baca di dalam Alkitab dari ayat itu dan seterusnya meyakinkan saya bahwa ini bukanlah gambaran tentang bumi sebagaimana semula diciptakan oleh Allah. Ia bukanlah “pelaku eksperimen”, Ia adalah Pencipta. Semua tindakan kreatif Allah yang digambarkan di dalam bagian Kitab Suci ini menghasilkan sesuatu yang sempurna. Ciptaan-Nya tidak perlu ditingkatkan atau diperbaiki.

Jadi, jelaslah bahwa penggambaran tentang bumi yang diberikan dalam ayat 2 tidak menggambarkan bumi dalam keadaan semula seperti yang diciptakan Allah dalam ayat 1. Sebaliknya, ini adalah gambaran bumi dalam keadaan jatuh sebagai akibat perkara-perkara yang terjadi antara ayat1 dan 2. Hal tersebut dapat mengindikasikan bahwa suatu malapetaka yang dasyat telah terjadi, sesuatu yang mengubah tatanan dan keindahan bumi yang Allah ciptakan pada mulanya dan sebagai akibatnya bumi menjadi tidak berbentuk dan kosong. Kata yang diterjemahkan dalam ayat ini “belum berbentuk” dapat diterjemahkan sama baiknya dengan “menjadi tidak berbentuk.”

Bahasa yang digunakan dalam bahasa Ibrani lebih menarik lagi. “Belum berbentuk dan kosong” adalah terjemahan dari frasa bahasa Ibrani tohu va-bohu. Dua kata yang bersajak ini dirancang untuk digunakan bersama: tohu dan bohu. Berbagai bahasa lain mengandung kata-kata yang berpasangan seperti ini. Dalam bahasa Inggris, misalnya ada frasa yang seperti itu yaitu harem-scarem dan dalam bahasa Indonesia ada frasa serupa yaitu kacau-balau atau porak-poranda.

Frasa bersajak di dalam contoh bahasa Inggris dan Indonesia tersebut serupa dengan frasa Ibrani tohu va-bohu. Ini menggambarkan keadaan yang kacau. Sebenarnya, kata-kata itu sendiri mengandung pengertian atau perasaan dari situasi yang mereka gambarkan. Sekarang marilah kita periksa tempat-tempat lain di dalam Perjanjian Lama dimana kata-kata Ibrani yang sama ini digunakan- tohu dan bohu.

Hanya ada dua perikop lain dimana kedua kata tersebut digunakan bersama-sama. Yang pertama ada di dalam Yesaya 34. Pasal ini menggambarkan penghakiman Allah yang akan datang atas wilayan Edom, yang merupakan nama yang diberikan kepada saudara kembar Yakub, yaitu Esau dan keturunannya. Edom adalah negara di sebelah timur Laut Mati. Kitab Suci mengindikasikan bahwa menjelang penutupan zaman ini akan ada penghakiman Allah yang mengerikan, menyedihkan dan permanen atas wilayah tersebut. Edom akan dihakimi sedemikian rupa sebagai monumen abadi penghakiman Allah untuk semua generasi sesudahnya. Penggambaran sangat jelas;

Sebab TUHAN mendatangkan hari pembalasan dan tahun pengganjaran karena perkara Sion. Sungai-sungai Edom akan berubah menjadi ter, dan tanahnya menjadi belerang; negerinya akan menjadi ter yang menyala-nyala. Siang dan malam negeri itu tidak akan padam-padam, asapnya naik untuk selama-lamanya. Negeri itu akan menjadi reruntukhan turun-temurun, tidak ada orang yang melintasinya untuk seterusnya. (Yesaya 34: 8-10).

Ayat berikut inilah yang mengandung frasa tohu va-bohu :

Burung undan dan landak akan mendudukinya, burung hantu dan burung gagak akan tinggal di dalamnya. TUHAN menjadikannya campur baur [tohu] dan kosong [bohu] tepat menurut rencana-Nya. (ayat 11)

Ini adalah kiasan dari tali pengukur dan bandul pengukur tegak lurus. Dengan tali pengukur ia mengukur secara horizontal, dan dengan bandul ia mengukur secara vertical. Penghakiman Allah diringkas di dalam frasa yang deskriptif ini. Ini akan menjadi tali pengukur “kekacauan” (tohu) dan bandul pengukur tegak lurus “kekosongan” (bohu). Dengan kata lain, akan seperti apakah jadinya? Kehancuran total !!!. Edom akan diserahkan sepenuhnya pada kehancuran yang akan menjadi monumen penghakiman Allah selamanya. Keseluruhan gambarnya adalah gambar kemarahan dan kemurkaan Allah yang dilepaskan dalam penghakiman yang menghancurkan.

Tempat lain dimana kedua kata ini-tohu dan bohu- ditemukan bersama-sama adalah Yeremia 4: 22-23. Di sini kembali kedua kata ini dikaitkan dengan penghakiman. Penghakiman disini digambarkan berhubungan dengan Israel. Dalam Yeremia 4:22. Allah mengungkapkan alasan untuk penghakiman-Nya: “Sungguh, bodohlah umat-Ku itu, mereka tidak mengenal Aku! Mereka adalah anak-anak tolol dan tidak mempunyai pengertian! Mereka pintar untuk berbuat jahat tetapi untuk berbuat baik mereka tidak tahu.”

Ini adalah gambaran pemberontakan dan kejahatan yang menyebar. Kemudian Yeremia diberi sebuah penglihatan mengenai penghakiman yang akan datang: “Aku melihat kepada bumi, ternyata campu baur [tohu] dan kosong [bohu], dan melihat kepada langit, tidak ada terangnya.” (ayat 23). Di sini kita melihat lagi, “campur baur dan kosong”- tohu dan bohu. Ini adalah gambaran ketandusan yang diakibatkan oleh penghakiman Allah atas kejahatan.

Di dalam Alkitab hanya ada tiga tempat dimana dua kata tohu dan bohu muncul bersama-sama: Kejadian 1: 2, Yesaya 34: 11, Yeremia 4: 23. Kedua nas yang belakangan menggambarkan adegan menakutkan dari kehancuran yang ditimbulkan oleh penghakiman Allah atas kejahatan yang mengerikan. Kita membawa Kejadian 1: 2 secara persis sejalan dengan dua perikop lain ini apabila kita menafsirkannya pula untuk menjadi gambaran penghakiman Allah atas tindakan kejahatan yang di dalam ayat ini tidak diuraikan secara rinci.

Sekarang mari kita periksa beberapa dari perikop di mana tohu digunakan tanpa bohu. Ulangan 32: 10, mengatakan TUHAN menemukan Yakub “di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara.” Kata “tandus” adalah tohu. Keseluruhan gambaran adalah gambaran kehancuran.

Dalam Ayub 6: 18 kita membaca tentang sungai di padang gurun yang mengering dan masuk ke pasir tanpa memberikan apapun kepada siapapun: “Berkeluk-keluk jalan arusnya, mengalir ke padang tandus, lalu lenyap.” Kata “lenyap” adalah tohu. Yang tersisa hanya pasir.

Dalam Ayub 12: 24 dan Mazmur 107: 4 kata tohu diterjemahkan ‘padang belantara’: Ayub 12: 24,“Dia menyebabkan para pemimpin dunia kehilangan akal, dan membuat mereka tersesat di padang belantara [tohu] yang tidak ada jalannya.”
Mazmur 107: 4, “Ada orang-orang yang mengembara di padang belantara [tohu], jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan.” Dalam masing-masing kasus ini, penghakiman Allah menghasilkan suatu kondisi yang digambarkan sebagai padang belantara (tohu).

Apabila kita menggabungkan semua perikop yang dikutip di atas ini, kita tiba pada suatu kesimpulan yang berlaku pada semuanya: Perikop-perikop ini menggambarkan hasil dari penghakiman Allah. Ini dapat diterapkan pada Kejadian 1: 2 seperti halnya pada perikop-perikop lain. Kita juga dapat melihat sejumlah kejadian di dalam Kitab Yesaya yang menggambarkan penghakiman Allah atas seluruh bumi: Yesaya 24:1, “Sesungguhnya, TUHAN akan menanduskan bumi dan akan menghancurkannya, akan membalikkan permukaannya dan akan menyerahkan penduduknya.”. Sebagai bagian dari penghakiman total ini, Yesaya melanjutkan dengan mengatakan: “Kota yang kacau riuh [tohu] sudah hancur” (ayat 10). Ini menggambarkan sebuah kota dalam keadaan hancur sebagai akibat dari penghakiman Allah.

Kembali, Yesaya 40: 23 menggambarkan penghakiman Allah atas para penguasa bumi: “Dia yang membuat pembesar-pembesar menjadi tidak ada dan yang menjadikan hakim-hakim dunia sia-sia saja [tohu]!” Dalam Yesaya 41: 29 Allah menggambarkan para penyembah berhala: “Sesungguhnya, sekaliannya mereka seperti tidak ada, perbuatan-perbuatan mereka hampa, patung-patung tuangan mereka angin dan kesia-siaan [tohu].” Dalam setiap kasus, kekacauan adalah hasil dari murka dan penghakiman Allah.

Pernyataan paling tegas dari semua adalah Yesaya 45: 18

“Sebab beginilah firman TUHAN, yang menciptakan langit, — Dialah Allah — yang membentuk bumi dan menjadikannya dan yang menegakkannya, — dan Ia menciptakannya bukan supaya kosong [tohu], tetapi Ia membentuknya untuk didiami —: “Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain.”

Hasil dari penciptaan Allah bukanlah tohu, yaitu dalam keadaan kacau berantakan. Marilah kita sekarang meletakkan perikop Kitab Suci ini berdampingan dengan perikop yang menggambarkan penciptaan Allah.

Kejadian 1: 2 mengatakan bahwa bumi ini tohu. Yesaya 45: 18 mengatakan bahwa Allah tidak menciptakannya supaya tohu. Implikasinya jelas: Bumi sebagaimana digambarkan dalam Kejadian 1: 2 bukanlah keadaan dimana bumi ini semula diciptakan. Allah tidak menciptakan bumi yang tohu dan bohu, tetapi Ia menciptakannya untuk didiami. Tujuan-Nya adalah untuk membuat sebuah tempat yang diberkati, menyenangkan, dan sangat bagus bagi ciptaan-Nya untuk berdiam di sana.

Kenyataannya bahwa bumi menjadi tohu dan bohu menunjukkan bahwa penghakiman Allah sudah terjadi di antara penciptaan-Nya seperti tercatat dalam Kejadian 1: 1 dan adegan yang digambarkan dalam Kejadian 1: 2. Dalam bab berikutnya, kita akan menganalisis catatan alkitabiah mengenai pemberontakan para malaikat yang menimbulkan penghakiman Allah. Ini mungkin saja terjadi dalam periode antara Kejadian 1: 1 dan Kejadian 1: 2.

Dihadapkan dengan gambaran mengenai tohu dan bohu ini, kita mungkin bertanya: Mungkinkah ini entah bagaimana terkait dengan apa yang oleh para ilmuwan ditafsirkan sebagai “Big Bang” atau “Ledakan Besar”? Ini akan dipandang terutama bukan sebagai tindakan penciptaan, melainkan sebagai tindakan penghakiman. Saya tentu saja tidak mengklaim sudah menjawab semua pertanyaan yang muncul mengenai penciptaan. Sebenarnya, tidak ada batasan untuk pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Akan tetapi kita tidak akan pernah boleh mengizinkan hal-hal yang tidak kita mengerti mengaburkan kita terhadap bidang-bidang kebenaran dimana Allah sudah memberikan pengertian yang jelas.

Dalam penutup bab ini, izinkan saya membagikan kepada anda sesuatu yang sudah saya buktikan selama bertahun-tahun. Allah tidak harus berkomitmen untuk menggaruk semua cendikiawan yang gatal, tetapi Ia akan selalu berespon terhadap hati yang tulus dan lapar.

Sumber tulisan: buku WAR IN HEAVEN karya Derek Prince (1915-2003).

Jawaban:

Shalom Fajar Yehuda,

Pertama- tama, harus diakui terlebih dahulu bahwa tulisan di atas masih merupakan dugaan ataupun interpretasi pribadi seseorang yang bernama Derek Prince, yang tidak mewakili pengajaran semua gereja Protestan. Dikatakan sebagai dugaan/ hipotesa, karena ayat acuannya yaitu Kej 1:1-2 tidak secara eksplisit mengatakan hal yang diajarkannya. Prince memang menghubungkan dengan ayat- ayat Kitab Suci yang lain, terutama Yes 45:18; namun ayat- ayat yang dipilihnya itu tidak kontekstual untuk digunakan sebagai acuan argumentasinya.

Para malaikat adalah mahluk rohani yang tidak bertubuh, sehingga penciptaan dan pengadilan mereka tidak dapat dikaitkan dengan dunia material. Tuhan memang menciptakan para malaikat dan manusia, dengan memberikan kehendak bebas kepada masing- masing ciptaan-Nya untuk mengasihi Dia atau untuk menolak-Nya. Mereka yang memilih untuk mengasihi Dia akan bersatu dengan-Nya di surga, sedangkan yang menolak-Nya akan masuk dalam neraka yaitu keterpisahan abadi dengan Allah. Nah, manusia yang terbatas oleh ruang dan waktu (karena memiliki tubuh) diciptakan Allah dan ditempatkan di Taman Eden. Hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Kemudian karena kejatuhan manusia pertama Adam dan Hawa, mereka diusir ke luar dari Taman Eden dan berkembangbiak dan menguasai dunia. Selanjutnya, setiap manusia diadili oleh Tuhan secara pribadi sesaat setelah ia wafat; inilah yang disebut sebagai Pengadilan Khusus. Namun pada akhir jaman setiap orang akan diadili kembali oleh Tuhan di hadapan segala mahluk, dan ini disebut Pengadilan Umum/ Terakhir. Tentang dasar Alkitab mengenai Pengadilan Khusus dan Pengadilan Umum, sudah pernah dituliskan di sini, silakan klik.

Namun para malaikat tidak terbatas oleh ruang dan waktu karena tidak mempunyai tubuh; mereka tidak berkembang biak dan tidak mati, karena sebagai mahluk spiritual keberadaan mereka adalah kekal. Para malaikat diadili sesaat setelah mereka diciptakan, yaitu apakah mereka mau memilih untuk taat kepada Allah atau untuk menolak Allah. Dan kita ketahui ada sebagian dari para malaikat ini memilih untuk menolak Allah. Mereka yang menolak Allah ini dipimpin oleh Lucifer (lih. Yes 14 dan Yeh 28); dan mereka inilah yang kita sebut sebagai iblis/ fallen angels.

Gereja Katolik, mengambil prinsip pengajaran dari St. Thomas Aquinas mengajarkan demikian, seperti yang disampaikan oleh pembimbing Theologi situs Katolisitas, Dr. Lawrence Feingold:

Angels are said to be created in heaven, in opposition to earth. Since the angels are purely spiritual beings, they belong to the spiritual and not the material realm. In this sense they were created in heaven. However, if heaven is understood as the state of seeing God (beatific vision- 1 John 3:2), then the angels were not created in heaven, for they could not see God in the moment of their creation, for they first had to pass through a trial. Now a trial for angels lasts only an instant, because they do not need time to deliberate in which they reason laboriously, as we do. The fallen angels fell in this trial, whereas the good angels were confirmed in good and were given the beatific vision as the result of their trial.

There could be no imperfection in heaven, taken as the state of seeing God, for only the good angels could attain to it. Taking heaven in the broader sense as the good spiritual condition in which the angels were created, there would still be no imperfection in heaven, for the imperfection only came about with the free sin of the angels by which they fell from their natural goodness in which they were created.

The creation of the angels is not directly related in Genesis 1-2, which is concerned with our visible universe. Some of the Fathers see the creation of the angels mysteriously signified in the first words of Genesis: “In the beginning God created heaven and earth.” The creation of the angels is connected with the creation of heaven. The meaning would be that God created both a spiritual and a material order of creation (heaven and earth).
The fall of the fallen angels is not related in Genesis. It is hinted at in a few texts of the prophets, such as in Yeh 28 and Is 14.

Terjemahan dan penjelasannya:

Dikatakan bahwa para malaikat diciptakan di surga, dalam artian bahwa mereka tidak mungkin diciptakan di dunia. Karena para malaikat adalah mahluk spiritual yang murni, mereka ada di dunia spiritual dan bukan berada di dunia material. Maka dari segi pemikiran ini, mereka diciptakan di surga. Namun demikian, jika surga dimengerti sebagai suatu keadaan memandang Allah (beatific vision, 1 Yoh 3:2); maka para malaikat itu tidak diciptakan di surga. Sebab pada saat diciptakan, walaupun semua malaikat diciptakan dengan keadaan baik adanya (Kej 1: 31), mereka tidak mempunyai beatific vision. Mereka harus lebih dahulu diadili/ mengalami penghakiman: apakah mereka mau taat kepada Allah sehingga kemudian dapat melihat Allah dan bersatu dengan-Nya di surga, atau tidak. Pengadilan para malaikat ini hanya terjadi sesaat sekali (instant) sebab mereka tidak membutuhkan waktu untuk berpikir seperti manusia, yang terbatas oleh ruang dan waktu. Para malaikat yang jahat /fallen angels gagal dalam pengadilan ini (lihat St. Thomas Aquinas dalam Summa Theology, part I, q.63, a.5-6) sedangkan para malaikat yang baik dikukuhkan kebaikannya, dan diberikan karunia beatific vision, sebagai hasil dari pengadilan mereka. Beatific vision di sini maksudnya adalah persatuan dengan Allah di Surga, yaitu dengan memandang Allah dalam keadaan yang sebenarnya (1 Yoh 3:2).

Dengan pengertian demikian, tidak mungkin ada ketidaksempurnaan/ kekacauan di Surga. Jika surga diartikan sebagai keadaan melihat atau memandang Allah (beatific vision); tidak mungkin ada ketidaksempurnaan di sini, sebab hanya para malaikat yang baik saja yang dapat mencapai keadaan ini. Jika surga diartikan secara lebih luas sebagai suatu kondisi spiritual di mana para malaikat diciptakan, juga tidak dapat dikatakan bahwa terdapat suatu ketidaksempurnaan/ kekacauan di surga, sebab ketidaksempurnaan hanya terjadi ketika ada dosa ketidaktaatan dari para malaikat yang jatuh dari kondisi kebaikan yang di dalamnya mereka telah diciptakan.

Maka penciptaan para malaikat tidak secara langsung berkaitan dengan kitab Kejadian 1-2. Beberapa Bapa Gereja melihat bahwa penciptaan para malaikat secara misterius telah diungkapkan pada kalimat pertama dalam kitab Kejadian: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi (heaven and earth)” (Kej 1:1). Penciptaan para malaikat berkaitan dengan penciptaan surga (diterjemahkan sebagai langit). Artinya adalah bahwa Tuhan menciptakan baik dunia spiritual maupun material, heaven and earth. Kejatuhan para malaikat yang jahat/ fallen angels tidak berhubungan dengan kitab Kejadian yang mengisahkan perihal penciptaan dunia material. Kejatuhan para malaikat/ fallen angels tersebut dikisahkan dalam kitab para nabi, seperti yang dijabarkan di dalam kitab Yeh 28, dan Yes 14 yang mengisahkan kejatuhan Bintang Timur/ putera Fajar (Lucifer) yang ingin menyamai Tuhan Yang Maha Tinggi, sehingga akibatnya diturunkan oleh Allah ke dunia orang mati. Lucifer ini membawa bersamanya sepertiga dari para malaikat lainnya (lih. Why 12:4).

Dengan pengertian di atas, maka bumi yang “tohu” dan “bohu” (belum berbentuk dan kosong) pada di kitab Kej 1:1-2 tidak untuk diartikan bahwa itu merupakan keadaan akibat pengadilan para malaikat. Karena kejadian pengadilan para malaikat itu tidak berkaitan dengan dunia material dalam hal ini penciptaan bumi yang disampaikan dalam Kej 1:2. Interpretasi seperti yang dituliskan oleh Derek Prince tersebut, dapat mengarah kepada kesimpulan yang keliru bahwa bumi seolah- olah diciptakan dua kali: penciptaan pertama “dirusakkan” oleh Iblis (atau penghakiman para malaikat) dan baru yang kedua adalah bumi yang sekarang ada. Diskusi tentang hal ini, sudah pernah ditulis di sini, silakan klik. Interpretasi ini tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik dan juga ayat- ayat Kitab Suci lainnya, yang mengajarkan secara eksplisit bahwa penciptaan bumi dan segala isinya hanya terjadi satu kali. Tidak mungkin Allah yang Maha Kuasa dan Maha Sempurna menciptakan segala sesuatu hanya untuk dibiarkan untuk ‘dirusakkan’ oleh Iblis, dan kemudian membuat ulang. Kejadian seperti itu mengandaikan Tuhan yang tidak peduli akan ciptaan-Nya, yang seolah ‘salah desain’, dan ini tentu bertentangan dengan karakter Tuhan yang Maha Kuasa yang merencanakan segala sesuatunya dengan baik dan sempurna (lih. Kej 1:31).

Jadi istilah tohu dan bohu (belum berbentuk dan kosong) itu hanya mau menunjukkan bahwa Allah menciptakan bumi dan segala isinya secara bertahap.  Dari keadaan kosong dan tiada berbentuk,  Allah yang dalam kesatuan dengan Roh-Nya dan Firman-Nya, menciptakan langit dan bumi dan segala isinya.

Demikian yang dapat saya tuliskan mengomentari pandangan yang anda sampaikan di atas, yang mengutip tulisan Derek Prince. Jika terdapat hal yang tidak sepenuhnya jelas dijabarkan dalam Kitab Suci, umat Katolik berpegang kepada Tradisi Suci, yaitu pengajaran para Bapa Gereja, dan tidak menggantungkannya kepada interpretasi pribadi. Bagi saya pribadi, pengajaran para Bapa Gereja ini sungguh lebih masuk akal, konsisten dan sesuai dengan ayat- ayat Kitab Suci lainnya dan tidak menimbulkan kontradiksi.

Saya mengajak umat Katolik yang membaca situs ini, untuk merenungkan pengajaran Gereja Katolik tentang hal penciptaan ini, agar tidak mudah terpengaruh oleh pandangan /hipotesa pribadi, apalagi yang kemudian tidak sesuai dengan ayat- ayat Kitab Suci yang lain.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Misi khusus orang tua: membesarkan anak secara Kristiani

22

Anak-anak adalah titipan Tuhan

Sebagai orangtua, kita dititipi anak-anak oleh Tuhan. Ini adalah tanggung jawab besar yang Tuhan percayakan pada kita. Semuanya terserah kepada kita, bagaimana kita menggunakan otoritas yang diberikan oleh Tuhan ini. Apakah kita akan menggunakannya dengan baik, atau kita akan membuang kesempatan emas yang mulia ini?

Kalau kita melihat dan mempelajari, orangtua sangat berperan besar sekali dalam kehidupan seorang anak. Bagaimana anak-anak ini akan tumbuh? Akan menjadi orang seperti apa mereka kalau sudah besar? Apakah mereka akan menjadi orang baik, pandai dan bermoral? Ataukah mereka akan menjadi nakal, bermasalah, dan tidak bertanggung jawab? Dengan kata lain, menjadi orang seperti apa mereka nantinya, sangat tergantung kepada bagaimana cara kita membesarkan mereka.

Anak-anak datang tidak dengan “petunjuk pemakaian”

Seperti yang kita ketahui, setiap anak berbeda satu sama lain. Dari segi karakter, tabiat, watak, bawaan, dan lain- lain; mereka semua unik dan berlainan. Kadangkala saya berharap Tuhan memberikan setiap orangtua buku petunjuk yang jelas dan lengkap mengenai cara membesarkan anak- anak kita masing-masing. Di buku ini saya harapkan Dia membahas secara detail mengenai: tipe karakter setiap anak, apa yang mereka suka/tidak suka, apa kelebihan/kekurangannya, bagaimana cara membesarkannya supaya mereka bisa menjadi orang benar, apa yang harus dilakukan kalau mereka bersalah, berbuat nakal, tidak mau menurut, dan seterusnya Bukankan Bapa kita di surga adalah Pencipta kita semua? Pastilah Dia tahu apa yang terbaik bagi setiap kita.

Sayangnya setiap anak yang dilahirkan tidak datang dengan ‘Buku Petunjuk Pemakaian’. Mereka dilahirkan dengan keadaan yang sangat sederhana, tanpa pakaian atau perlengkapan apapun juga. Saya pikir, mungkin Tuhan menghendaki agar setiap orang tua untuk terus bertumbuh, mempelajari dan mendalami keadaan anaknya setiap saat. Mungkin Tuhan ingin agar setiap orang tua selalu bergantung kepadaNya Sang Pencipta, agar Ia dapat memberikan kita anugerah, arahan, pandangan dan harapan, dalam membesarkan putra dan putri-Nya di dunia ini. Suatu tanggung jawab yang besar sekali, di mana hanya dengan melalui cara Tuhan Sang Pencipta sajalah kita baru dapat melaksanakannya dengan semaksimal mungkin dan sebaik mungkin.

Santa-santo membantu orang tua untuk mendidik anak-anak

Kalau kita melihat kisah para santo dan santa, kita mengetahui bahwa banyak dari mereka dilahirkan di dalam keluarga yang sangat sederhana. Walaupun demikian, orang tua mereka berhasil mendidik anak-anaknya sehingga mereka dapat menjadi santo/santa. Mari kita lihat keluarga Santa Bernadet. Dia dilahirkan di keluarga yang miskin dan sederhana. Bernadet sendiri sakit-sakitan dan kurang berpendidikan. Walaupun demikian, mereka sangat beriman kepada Tuhan. Sejak kecil, Bernadet mengenal imannya dengan benar dan mengerti cara mengaplikasikan imannya di dalam kehidupannya sehari-hari. Karena kedalaman imannya, kerendahan hatinya, dan kesederhanaannya itulah dia dipilih Tuhan untuk melakukan karya khususNya di dunia. Bunda Maria menampakkan diri padanya, dan melaluinya, banyak orang yang bertobat dan disembukan melalui mukjijat di Gua Lordes. Seperti halnya dengan Santa Bernadet, santo dan santa yang lain (walaupun mempunyai karakter yang sangat berbeda, dan latar belakang keluarga yang sangat berlainan), memiliki satu hal yang sama. Hal ini adalah: iman dan kasih mereka pada Tuhan, GerejaNya, dan sesama. Hal ini membuat mereka menjadi rendah hati dan teguh beriman. Hal ini membuat mereka dipakai Tuhan dengan caranya yang khusus. Setiap santo/santa mempunyai panggilan yang spesifik, sesuai dengan karakter dan kehidupan pribadi mereka. Ada kalanya dengan cara yang sederhana, namun juga ada kalanya dengan cara yang besar mulia. Apapun karya mereka, besar atau kecil, semasa hidupnya mereka semakin lama semakin bertumbuh menjadi lebih rendah hati, dalam melayani dan mencintai Tuhan.
Sama halnya dengan kita, santo dan santa ini hidup di dunia yang nyata. Mereka dihadapkan dengan masalah yang serupa seperti kita. Dunia yang penuh dengan cobaan, ketidaksempurnaan, dosa, dan musibah. Orang tua merekapun dihadapkan dengan keadaan yang serupa dengan yang kita alami. Mereka harus juga melengkapi kehidupan jasmani anak-anaknya; dari mulai makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Merekapun dengan caranya sendiri juga melengkapi kehidupan rohani anak-anaknya, sehingga anak-anaknya tumbuh menjadi orang yang mengenal, memuji dan mencintai Tuhan. Jaman dahulu, mereka dapat membesarkan anaknya dengan baik, tanpa bantuan teknologi yang canggih, psikolog yang ternama, ataupun uang yang berlimpah.
Pada akhirnya, pertanyaannya adalah : “Apakah yang kita inginkan bagi anak-anak yang Tuhan percayakan pada kita?” Setiap orangtua pada umumnya menginginkan anak-anaknya untuk hidup bahagia. Pertanyaannya adalah, “Kehidupan bahagia yang seperti apa?” Kehidupan bahagia yang seharusnya kita inginkan, adalah kebahagiaan yang abadi untuk selama-lamanya. Ini adalah kebahagiaan yang hanya bisa diperoleh apabila kita pada akhirnya hidup bersama Bapa kita di Surga. Kehidupan bahagia yang abadi di Surga inilah yang seharusnya kita cari dan usahakan bagi anak-anak kita; bukan semata-mata hanya kehidupan di dunia yang sifatnya semu dan singkat. Apa artinya kalau kita hidup di dunia dan memperoleh uang, kekuasaan, kepopuleran, atau kemuliaan, tetapi perbuatan kita tidak membawa kita ke rumah Bapa di Surga. Sabda Tuhan mengatakan, bahwa pada akhirnya yang membawa seseorang ke Surga adalah iman, pengharapan dan cinta kasih kita pada Tuhan dan sesama. Ketiga hal inilah yang pada akhirnya akan dilihat oleh Tuhan. Ketiga hal inilah yang akan menyelamatkan seseorang untuk kembali ke rumah Bapa.

Petunjuk pemakaian secara umum adalah hukum kasih

Seperti yang Kristus katakan, hukum yang paling utama di antara semua hukum di Alkitab adalah: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” (Markus 12:30-31)
Apabila kita benar-benar melaksanakan kedua hukum cinta kasih ini, dengan sendirinya hukum-hukum yang lain pasti akan kita penuhi. Seseorang yang mencintai Tuhan dan sesama dengan segenap hati, jiwa dan raga; pasti dengan sendirinya adalah seseorang yang mencintai keluarganya, Gerejanya dan negaranya. Dia pasti adalah seorang warga negara yang benar, teman yang sejati, anak yang bertanggung jawab, dan pekerja yang teguh. Mengapa? Karena dengan sendirinya orang tersebut akan melakukan ajaran Tuhan yang tertera di Kitab Suci, dan hukum Gereja; yang membawa orang tersebut kepada keselamatan di Surga.

Memang Tuhan tidak menuliskan secara spesifik ‘Buku Petunjuk Pemakaian’ untuk setiap anak. Tetapi Tuhan sudah menuliskan ajaran kasihNya melalui sabdaNya di dalam Alkitab. Bersyukurlah Tuhan juga sudah memberikan kuasa otoritas khusus kepada Gereja Katolik untuk menginterpretasikan firmanNya ke dalam hidup kita sehari-hari. Bersyukurlah Gereja Katolik sudah menuliskan ‘Katekismus Gereja Katolik’, dan dokumen Gereja yang lainnya sebagai buku panduan kita untuk menjalani hidup kita dengan baik dan kudus. Kita juga harus bersyukur akan banyaknya psikolog dan penulis Katolik yang ternama, yang membantu kita untuk lebih mengaplikasikan ajaran Tuhan ini dengan lebih nyata lagi dalam kehidupan keluarga.
Bapa kita di Surga telah menyampaikan banyak hal yang penting untuk kita pelajari dan mengerti, sebagai bekal dalam upaya kita menjadi orangtua yang lebih baik. Melalui firmanNya di Kitab Suci, dan ajaran Gereja Katolik inilah, Tuhan sudah memberikan kita informasi yang secukupnya untuk membantu kita para orangtua memulai melakukan misi kita yang mulia ini: “Membantu menunjukkan jalan bagi anak-anak Tuhan yang dipercayakan pada kita untuk pada akhirnya kembali ke rumah Bapa di Surga”.

Misi kudus kita sebagai orangtua adalah: mengarahkan jiwa anak-anak kita untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan di surga

Dengan mengupas kedua sumber utama ini secara seksama, marilah bersama-sama kita renungkan dan pelajari: “Bagaima kita menjadi orangtua yang kudus, yang sesuai dengan apa yang direncanakan Tuhan bagi kita secara pribadi?

Kehidupan Setiap Manusia Ada dalam Rencana Allah

Tuhan menghendaki agar setiap orang bersatu denganNya di Surga. Karena besarnya kasih Allah pada manusia, Dia mengirimkan PuteraNya sendiri untuk menebus dosa manusia, sehingga kita dapat kembali bersamaNya di Surga (lih. Yoh 3:16).
Karena begitu indahnya rencana Allah bagi setiap manusia, sudah sepantasnyalah bagi kita anak- anak-Nya untuk mengikuti jalan yang sudah Dia bukakan bagi kita. Jalan ini adalah jalan yang memberikan keselamatan bagi orang yang percaya kepadaNya. Jalan yang dibekali oleh terang Roh Kudus, anugerah yang kita terima melalui sakramen-sakramen yang diberikan oleh Gereja Katolik, firmanNya yang meneguhkan dan menghibur.

Segala yang terjadi dalam hidup kita ada dalam rencana Tuhan. Segala langkah dan keputusan yang kita ambil (baik atau buruk), semuanya telah diketahui oleh Tuhan. Allah yang MahaTahu dan MahaKasih tidak lelah memanggil dan mengingatkan kita untuk mengambil keputusan yang benar, yaitu yang didasari oleh penerangan Roh Kudus, firmanNya dan GerejaNya. Dia mengajak kita untuk mengambil jalan yang benar dan memberi keputusan yang didasari iman, pengharapan dan kasih.

Karena kita adalah bagian dari rencana Allah, Tuhan pun memakai kita, sebagai orangtua, tidak hanya untuk membawa diri kita sendiri ke dalam Surga, tetapi juga membawa anak-anak (dan orang-orang lain) yang dipercayakan pada kita ke Surga. Ini adalah tanggung jawab terbesar bagi orangtua untuk anak-anaknya: menghantar, menuntun dan menunjukkan jalan menuju Surga. Karena misi yang kudus inilah, orang tua harus berupaya untuk:

1) Menanamkan di dalam hati anak-anak kita kebenaran yang sesungguhnya.
2) Menyatukan dan menguatkan kehendak dan pemikiran mereka terhadap kehendak Tuhan.
3) Menanamkan rasa kasih pada Tuhan dan sesama, dan keinginan untuk menjalani kehidupan dengan kekudusan dan pelayanan.
4) Mengorbankan kepentingan pribadi kita dengan suka cita, demi keselamatan dan kepentingan anak.
5) Dengan bantuan rahmat Tuhan, menuntun anak-anak kita untuk menjadi santo dan santa di dunia modern ini.

Tuhan mengetahui dan mengenal kita semua satu persatu, mulai dari kepribadian kita masing-masing, sampai ke jumlah rambut kita. Karenanya Tuhan pula yang mengetahui secara pasti dan benar keberadaan seorang anak di dalam keluarganya masing-masing. Dia yang menciptakan anak tertentu untuk lahir melalui campur tangan orangtua yang tertentu, di dalam keluarga yang tertentu. Sama seperti misteri bagaimana dua orang yang berlainan dapat bertemu, jatuh cinta dan menikah; begitulah adanya misteri bagaimana anak yang tertentu dapat lahir di keluarga tertentu. Ini adalah suatu misteri Allah yang sangat ajaib dan indah. Sepertinya Tuhan mengetahui orang tua mana yang terbaik untuk anak tertentu. Sepertinya Tuhan mempercayakan keberadaan anak ini di dalam tangan kita.
Begitu besarnya rasa percaya Bapa kita di Surga kepada kita dalam membesarkan anak-anak ini, sehingga melalui kitalah mereka bisa dituntun, dibesarkan dan dikembalikan akhirnya ke rumah Bapa. Kita harus yakin bahwa Tuhan mempunyai rencana yang indah bagi kita dan keluarga kita, apabila kita mau mengikuti kehendakNya dan jalan yang sudah Dia berikan bagi kita.
Selama kita menjalani rencana Allah bagi keluarga kita ini, Tuhan menjanjikan kita harapan dan kekuatan melalui rahmatNya dan Roh Kudus. Sama seperti Tuhan yang menyertai bangsa Israel untuk selamat sampai di Tanah Perjanjian, Tuhan pulalah akan menyertai kita dan melimpahkan berkatnya bagi kita, supaya kita bisa terus dengan setia mengarahkan keluarga kita untuk sampai ke Rumah Bapa di Surga. Karenanya, seperti Musa yang terus bertanya dan berusaha menjalankan kehendak Tuhan, kitapun harus selalu bertanya pada Bapa dan meminta petunjukNya untuk menerangkan dan menuntun kita di jalan yang benar.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati. Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu dan akan mengumpulkan kamu dari antara segala bangsa dan dari segala tempat ke mana kamu telah Kuceraiberaikan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan mengembalikan kamu ke tempat yang dari mana Aku telah membuang kamu.” (Yeremia 29:11-14)

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. (Yesaya 55:8-9)

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Roma 8:28)

Post Format: Status

0

WordPress, how do I love thee? Let me count the ways (in 140 characters or less).

1 Kor 14:22, Karunia bahasa roh untuk orang yang tidak beriman?

23

Pertanyaan:

I Korintus 14
14:22 Karena itu karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman; sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak beriman, tetapi untuk orang yang beriman

artinya pak Stev,

Breakdance

Jawaban:

Shalom Breakdance,

Berikut ini adalah penjelasan dengan sumber utama dari penjelasan Rev. George Leo Haydock, Douay Rheims Holy Bible with a Comprehensive Catholic Commentary, (Duarte, California: Catholic Treasures, 1859, reprint 2006), p.1516-1517:

1 Kor 14:22 ini berkaitan dengan ayat sebelumnya, yaitu ayat 21, yang mengatakan demikian:

Dalam hukum Taurat ada tertulis: “Oleh orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku akan berbicara kepada bangsa ini, namun demikian mereka tidak akan mendengarkan Aku, firman Tuhan.”

Ini mengacu kepada yang dikatakan dalam Kitab Yesaya, yaitu Yes 28:11-12. Di sini Rasul Paulus ingin menerangkan kepada jemaat akan apa yang terjadi pada saat Pentakosta, ketika karunia bahasa roh diberikan secara ajaib untuk membuat orang yang tidak percaya agar menjadi percaya, agar mereka dapat sampai kepada iman yang benar.

[Kita mengetahui bahwa pada saat Pentakosta, karunia bahasa roh diberikan kepada para rasul, sehingga mereka dapat berkata- kata dalam bahasa- bahasa lain, dan ini sungguh mencengangkan orang- orang yang pada saat itu belum mengimani Kristus (Kis 2:11-12). Mukjizat inilah yang membawa mereka menyadari akan adanya kuasa Roh Kudus yang turun atas para rasul, sehingga orang- orang yang mendengarkan mereka akhirnya mengimani Kristus, dan memberikan diri untuk dibaptis (lih. Kis 2: 41).]

Ketika Rasul Paulus menambahkan, “sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak beriman, tetapi untuk orang yang beriman,” ia tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa karunia bahasa roh, jika digunakan dengan bijaksana, tidak berguna untuk orang beriman, ataupun karunia nubuat itu tidak berguna untuk orang- orang yang tidak beriman. Sebab, pengertian yang demikian malah bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh rasul Paulus sendiri pada ayat 24, “Tetapi kalau semua bernubuat, lalu masuk orang yang tidak beriman atau orang baru, ia akan diyakinkan oleh semua dan diselidiki oleh semua…” Jadi di sini kita mengetahui bahwa nubuat dapat berguna untuk semua orang.

Maka maksud Rasul Paulus menyampaikan perikop ini adalah untuk mendidik, baik kepada mereka yang sudah percaya ataupun mereka yang belum percaya untuk melakukan segala sesuatunya sesuai dengan prinsip keteraturan. Rasul Paulus mengatakan walaupun ia sendiri dapat berbahasa roh, melebihi para jemaat (lih. 1 Kor 14:18) namun ia lebih suka mengucapkan lima kata yang berarti dan dapat dimengerti oleh semua jemaat daripada beribu- ribu kata dalam bahasa roh (1 Kor 14: 19). Di sini Rasul Paulus ingin menekankan adanya keteraturan dalam pertemuan jemaat, sehingga dapat membangun semua umat yang hadir (lih. 1 Kor 14:26). Pertemuan ibadah dapat diisi dengan pembacaan Mazmur, pengajaran, karunia bahasa roh, dan tafsiran bahasa roh, dengan maksud agar dapat dimengerti oleh semua umat.

Akhirnya dia memberi kesimpulannya di ayat 39, yaitu:

“Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh.”

Maka di sini Rasul Paulus berpesan agar kita tidak melarang bahasa roh, namun mementingkan nubuat/ interpretasinya; agar dalam ibadah terdapat keteraturan yang tidak menimbulkan kesan kekacauan, tetapi damai sejahtera (lih. 1 Kor 14:33).

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Mengapa berpindah dari Gereja Katolik ke gereja lain?

535

Pertanyaan:

Dear,

Salam dari Sydney, Australia.
Saya adalah bekas pengikut agama Katolik yg sekarang pindah ke Kristen.
Penyebabnya adalah dikarenakan krn pengajaran agama Katolik tdk benar2 berdasarkan alkitab, tetapi lebih berdasarkan hukum kanonisasi.
Karena itu saya melihat banyak org2 Katolik yg berperilaku kasar dan berhati jahat. Saya mengerti karena mereka tidak pernah membaca alkitab, sebagaimana di agama Kristen, karena itu mereka tdk tahu bagaimana cara hidup Kristiani yg benar.
Banyak sekali rekan2 Katolik di Sydney Australia yg pindah agama karena alasan yg sama.

Tentang pemujaan patung2, kita tdk perlu bingung. Karena pada saat penghakiman terakhir nanti kita harus mempertanggung jawabkan perbuatan kita di hadapan Tuhan. Semoga kalian bisa menjelaskan kepada Tuhan alasan kalian memuja/menggunakan patung2 sebagai alat untuk bisa percaya.
Sebab kalau kalian belajar sejarah, kaisar Constantinus memerintahkan untuk membuat patung2 tersebut supaya bangsa Romawi tidak lagi memuja dewa2 mereka dan pemujaan dewa2 mereka digantikan dgn pemujaan patung santo-santa.
Bahkan ahli2 skrg mencoba membuktikan muka asli Yesus berdasarkan kain kafannya.
Bagaimana jika muka Yesus yg kita buat patung bukanlah muka aslinya? tetapi hanya muka seseorg yg saat itu dibayar utk dijadikan contoh pembuatan patung? maka kita memuja manusia biasa (spt diketahui Kaisar Constantinus memerintahkan artist2nya utk membuat patung Yesus – dan mereka hidup 1 decade setelah Yesus wafat.)
Mungkin hal ini berat untuk dimengerti bagi kalian di Indonesia yg tidak pernah tahu ttg sejarah agama Katolik. Semoga suatu hari mata kalian terbuka.

Bagi saya pribadi, beruntunglah saya bisa percaya tanpa harus melihat rupa nyata Tuhan.
Beruntunglah saya bisa bercakap2 dengan Tuhan tanpa harus berlutut didepan patung2 siapa yg tidak dikenal.
Beruntunglah saya tidak lagi terperangkap dalam ritual2 agama Katolik yg berdasarkan hukum Kanon – dimana hukum Kanon adalah buatan manusia belaka… bukan datang dari Tuhan.
Tetapi alkitab adalah datang dari Tuhan.

So we fix our eyes not on what is seen, but on what is unseen. For what is seen is temporary, but what is unseen is eternal. (2 Corinthians 4:18)

BERBAHAGIALAH ORANG YANG TIDAK MELIHAT NAMUN PERCAYA
Yohanes 20:24-31

Sherly.

Jawaban:

Shalom Sherly,

Selamat datang di site ini dan terima kasih atas beberapa tanggapan anda. Saya akan mencoba untuk menjawab beberapa pertanyaan dan tanggapan yang anda berikan. Saya juga percaya bahwa anda membuat tanggapan tersebut karena anda mengasihi Yesus Kristus. Dan karena anda menganggap bahwa Gereja Katolik tidak menjalankan perintah Kristus secara murni, maka anda mencoba memperingatkan kami agar kami tidak percaya akan dogma dan doktrin dari Gereja Katolik. Hal ini ditunjang dengan anda sendiri yang sebelumnya adalah anggota Gereja Katolik yang akhirnya “sadar” dan berpindah ke gereja Protestan atau denominasi yang lain. Untuk itu, mari kita berdiskusi dengan hormat dan lemah lembut (lih. 1 Pet 3:15). Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan untuk keberatan-keberatan yang anda ajukan:

1. Berpindah karena pengajaran Gereja Katolik tidak sesuai Alkitab.

Anda mengatakan “Saya adalah bekas pengikut agama Katolik yg sekarang pindah ke Kristen. Penyebabnya adalah dikarenakan krn pengajaran agama Katolik tdk benar2 berdasarkan alkitab, tetapi lebih berdasarkan hukum kanonisasi.

a) Saya tidak tahu apakah alasan sebenarnya mengapa anda berpindah dari Gereja Katolik ke gereja lain. Saya percaya bahwa kepenuhan kebenaran ada di dalam Gereja Katolik. Untuk itu, silakan anda membaca artikel ini – silakan klik.

b) Saya tidak tahu, pada waktu anda mengatakan “Penyebabnya adalah dikarenakan krn pengajaran agama Katolik tdk benar2 berdasarkan alkitab, tetapi lebih berdasarkan hukum kanonisasi.” apakah anda benar-benar telah mencari tahu dan mempelajari apa yang sebenarnya diajarkan oleh Gereja Katolik. Untuk mengatakan pengajaran agama Katolik tidak benar-benar berdasarkan Alkitab, maka anda perlu membuktikan lebih jauh. Bahkan untuk mendasarkan pengajaran HANYA pada Alkitab (sola scriptura) justru tidak Alkibiah, karena Alkitab tidak pernah mengatakan hal ini. Untuk itu, silakan melihat beberapa link berikut ini: silakan klik, silakan klik. Untuk membuktikan klaim anda bahwa Gereja Katolik tidak mendarkan ajarannya pada Alkitab, maka anda harus menunjukkan ajaran yang mana yang tidak sesuai dengan pengajaran Alkitab. Anda dapat melihat semua arsip di katolisitas.org – silakan klik – dan silakan melihat semua artikel dan jawaban dari kami yang mendasarkan pengajaran pada Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja.

c) Untuk mengatakan bahwa ajaran gereja Katolik berdasarkan ajarannya pada hukum kanonik adalah salah besar. Saya tidak tahu darimana anda mendapatkan keterangan seperti ini. Hukum Kanonik adalah merupakan manifestasi dari apa yang dipercayai oleh Gereja. Dengan demikian, Gereja mendasarkan kebenaran dogma dan doktrin berdasarkan tiga pilar kebenaran: 1) Kitab Suci, 2) Tradisi Suci, 3) Magisterium Gereja. Dan Hukum kanonik adalah merupakan refleksi dari kebenaran-kebenaran yang telah dirumuskan – artinya: kalau kita percaya A, maka kita melakukan 1,2,3, contoh: kalau kita percaya bahwa perkawinan adalah tak terceraikan, maka Kitab Hukum Kanonik (KHK) mengatur bagaimana perkawinan yang sah, kondisi yang membuat perkawinan tidak sah, dll. Pembahasan tentang hukum kanonik dapat dilihat di sini – silakan klik. Kalau gereja anda mempunyai pengikut 1,3 milyar dan tersebar di seluruh dunia, maka gereja anda juga akan memerlukan semacam KHK.

2. Berpindah karena umat Katolik berperilaku kasar dan berhati jahat.

Anda memberikan tuduhan “Karena itu saya melihat banyak org2 Katolik yg berperilaku kasar dan berhati jahat. Saya mengerti karena mereka tidak pernah membaca alkitab, sebagaimana di agama Kristen, karena itu mereka tdk tahu bagaimana cara hidup Kristiani yg benar. Banyak sekali rekan2 Katolik di Sydney Australia yg pindah agama karena alasan yg sama.

a) Saya mengerti ada sebagian umat Katolik yang hidup tidak sesuai dengan iman Katolik, dan saya rasa ini berlaku juga bagi seluruh umat Kristen-non Katolik, yang sebagian dari mereka juga hidup tidak sesuai dengan pesan Kristus. Dengan demikian, perjuangan untuk hidup kudus merupakan tantangan bagi semua umat beriman. Jadi, kalau ada umat Katolik yang anda lihat berlaku kasar dan berhati jahat, maka anda tidak dapat mengatakan bahwa semua umat Gereja Katolik adalah kasar dan berhati jahat. Saya mengundang anda untuk membaca riwayat para kudus, santa-santo dari Gereja Katolik, sepanjang sejarah Gereja. Saya pribadi menyadari bahwa kehidupan saya tidaklah berarti apa-apa dibandingkan dengan mereka. Mereka membuktikan kasih mereka kepada Tuhan secara luar biasa. Apakah komentar kita akan orang-orang seperti yang terberkati ibu Teresa dari kalkuta – yang melayani orang-orang miskin, St. Maximilian Kolbe – yang menyerahkan nyawanya untuk menyelamatkan seorang tawanan Yahudi yang mempunyai keluarga? Kalau mau melihat orang-orang yang benar-benar menjalankan ajaran Gereja Katolik, lihatlah figur seperti ibu Teresa dari Kalkuta, St. Maximilian Kolbe, dan santa-santo yang lain. Semakin seseorang berakar pada dogma dan dokrin dari ajaran Gereja Katolik, maka kehidupannya akan semakin mirip dengan para santa-santo yang telah dibuktikan dalam sejarah Gereja Katolik, dan tentu saja yang paling utama adalah semakin mirip dengan Yesus. Janganlah mengukur pengajaran Gereja Katolik dari orang-orang yang tidak menjalankan iman Katolik dengan baik.

b) Apalagi, kalau anda memberikan tuduhan bahwa mereka tidak pernah membaca Alkitab sebagaimana di agama Kristen, maka ini adalah kesimpulan yang perlu dibuktikan kebenarannya. Apakah “mereka” yang anda maksudkan adalah orang-orang Katolik yang jahat atau semua orang Katolik? Kalau anda mempelajari kanon Kitab Suci, maka sudah seharusnya kita semua berterima kasih kepada Gereja Katolik yang menentukan buku-buku mana yang menjadi bagian dari Kitab Suci. Anda dapat membaca diskusi tentang hal ini di sini – silakan klik. Bagaimana anda menerangkan orang-orang Kristen non-Katolik yang tidak baik dan tidak mencerminkan Kristus? apakah penyebabnya?

Anda mengatakan “karena itu mereka tdk tahu bagaimana cara hidup Kristiani yg benar.” Untuk mengerti pengajaran Gereja Katolik tentang kehidupan kristiani, maka silakan anda membaca artikel tentang kekudusan – silakan klik dan klik ini, dan klik ini dan kerendahan hati – silakan klik. Sekali lagi, ukurlah Gereja Katolik dari orang-orang yang menjalankan apa yang diajarkan Gereja Katolik. Kita tidak dapat menyalahkan seorang dokter karena pasiennya tidak sembuh-sembuh, yang disebabkan karena si pasien tidak mengikuti nasehat dan resep dari dokter tersebut.

Kalau anda mengatakan “Banyak sekali rekan2 Katolik di Sydney Australia yg pindah agama karena alasan yg sama.“, maka alasan anda dan rekan-rekan di Sydney Australia berpindah dari Gereja Katolik adalah karena melihat kasus-kasus yang tidak benar dan kemungkinan salah mengerti akan apa yang sebenarnya diajarkan oleh Gereja Katolik. Apakah kalau anda melihat ada orang-orang Kristen non-Katolik yang tidak baik, maka anda akan berpindah ke agama lain? Memeluk suatu agama bukanlah hal yang main-main, yang saya yakin Sherly juga menyadarinya. Oleh karena itu, dasar untuk pindah ke agama lain karena hanya melihat kasus-kasus yang jelek (mungkin hal-hal yang baik tidak dilihat) tidaklah cukup. Perpindahan seseorang dari Gereja Katolik ke gereja lain, tidak boleh hanya berdasarkan kasus, kotbah yang baik, komunitas yang akrab, dll, melainkan harus berdasarkan alasan untuk mencari kebenaran sejati, untuk mengasihi Kristus secara penuh. Saya mengundang anda untuk membaca artikel ini – silakan klik.

3. Tentang pemujaan patung dan hal-hal lain.

Anda mengatakan “Tentang pemujaan patung2, kita tdk perlu bingung. Karena pada saat penghakiman terakhir nanti kita harus mempertanggung jawabkan perbuatan kita di hadapan Tuhan. Semoga kalian bisa menjelaskan kepada Tuhan alasan kalian memuja/menggunakan patung2 sebagai alat untuk bisa percaya.

a) Seperti yang dijelaskan di artikel ini – silakan klik, maka Gereja Katolik tidak menyembah patung. Patung hanyalah sarana yang membantu kita agar dapat berfokus pada Tuhan. Sama seperti kadang kita menggunakan lilin, salib, dll. Silakan melihat contoh di Perjanjian Lama, bagaimana Tuhan sendiri memerintahkan umat-Nya untuk membuat ular tedung (lih. Bil 21:8), dua kerub dari kayu (1 Raj 6:23-35).

b) Tentu saja masing-masing dari kita harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita di hadapan Tuhan pada saat pengadilan terakhir. Dan hal ini bukan hanya masalah patung, namun juga dalam keputusan kita untuk memilih agama, dan seluruh perbuatan kita, atau dengan kata lain seluruh iman, pengharapan dan kasih.

c) Kalau anda memberikan argumentasi “Sebab kalau kalian belajar sejarah, kaisar Constantinus memerintahkan untuk membuat patung2 tersebut supaya bangsa Romawi tidak lagi memuja dewa2 mereka dan pemujaan dewa2 mereka digantikan dgn pemujaan patung santo-santa.“, maka silakan mencari di google dengan kata kunci “christian art in catacombs“, karena itu adalah apa yang dilakukan oleh jemaat perdana sebelum masa kaisar constantine membuat peraturan bahwa agama Kristen boleh diajarkan secara bebas melalui edict of Milan tahun 313. Di dalam katakombe, kita juga melihat adanya gambar-gambar, simbol-simbol agama Kristen. Silakan melihatnya di sini – silakan klik.

d) Anda mengatakan “Bahkan ahli2 skrg mencoba membuktikan muka asli Yesus berdasarkan kain kafannya. Bagaimana jika muka Yesus yg kita buat patung bukanlah muka aslinya? tetapi hanya muka seseorg yg saat itu dibayar utk dijadikan contoh pembuatan patung? maka kita memuja manusia biasa (spt diketahui Kaisar Constantinus memerintahkan artist2nya utk membuat patung Yesus – dan mereka hidup 1 decade setelah Yesus wafat.)” Kami telah membahas hal ini sebelumnya, dimana dituliskan:

1. Maka bukti ilmiah dari wajah Yesus memang kita ketahui dari bukti sejarah. Misalnya, bukti gambar wajah Yesus dalam “the Shroud of Turin”/ kain kafan Turin, yang selengkapnya dapat anda baca di link ini, silakan klik. Dan temuan gambar- gambar Yesus di katakombe (gereja bawah tanah) Domitilla. Uraian lebih lanjut dapat anda baca di link ini, silakan klik. Berikut juga temuan gambar-gambar wajah Yesus di abad-abad pertama.

Mengenai gambar wajah dan tubuh Yesus di kain kafan Turin memang masih menjadi topik perdebatan para ahli sampai saat ini, justru karena memang tidak bisa dijelaskannya mengapa sampai ada gambar tubuh dan wajah Yesus ‘tercetak’ pada kain itu. Para skeptik mengatakan bahwa itu lukisan yang diciptakan oleh seorang genius di abad pertengahan, walaupun kemudian para scientist membuktikan bahwa warna yang tertera di situ bukan pigmen cat, tetapi darah manusia. Lalu teori bahwa itu hasil fotografi juga sebenarnya tidak mungkin, karena teknik reproduksi fotografi untuk menghasilkan gambar sedemikian (kalau misalnya-pun anggapan ini benar) baru ada 400 tahun sesudahnya. Silakan anda membaca di link yang saya sertakan di atas, untuk melihat penjelasan secara ilmiah mengenai Kain kafan Turin tersebut.

Namun terlepas dari kontroversi Kain Kafan Turin ini, kita mengakui bahwa gambar Yesus yang kita kenal sekarang ber-evolusi dari apa yang digambarkan pada gambar ini, dan gambar Yesus yang ditemukan di abad- abad pertama.

2. Menurut perkembangannya, memang ditemukan beberapa versi gambar wajah Yesus. Walaupun umumnya wajah Yesus yang kita kenal menggambarkan-Nya sebagai seorang dari Timur Tengah, namun adapula yang menggambarkannya sesuai dengan budaya setempat. Hal ini sesungguhnya tidak menjadi masalah, karena yang terpenting bukan gambarnya, namun Siapa yang digambarkan oleh gambar itu.

Dalam memahami hakekat Yesus yang digambarkan oleh lukisan/ gambar/ patung itu, kita harus memahami bagaimana pikiran/ imajinasi manusia menangkap essensi dari sesuatu/ seseorang. Setiap orang, dapat menangkap universalitas dari sesuatu yang digambarkan dalam imaginasinya. Sebagai contoh, mendengar kata ‘kucing’ secara otomatis, kita menggambarkan kucing di dalam imaginasi kita. Kemampuan untuk menangkap universalitas, membuat manusia dapat menangkap hakekat kucing, yang tidak ditentukan oleh ukuran, apakah itu kecil, besar, atau oleh warna, ukuran dll. Contoh ini juga dapat diterapkan di semua agama pada saat seseorang berdoa. Mungkin umat dari agama lain dapat mengatakan bahwa yang tergambar dalam pemikirannya pada waktu berdoa adalah cahaya, atau huruf, atau yang lain. Namun bagi umat Kristen, sebagian besar yang tergambar dalam pikiran kita pada saat berdoa adalah wajah Yesus, karena umat Kristen mempercayai bahwa Yesus, adalah Tuhan yang datang menjadi manusia. Itu adalah latar belakang dari seni atau gambar yang mempresentasikan Yesus.

Nah, sekarang permasalahannya adalah bagaimana kita mengetahui apakah wajah Yesus yang sesungguhnya adalah Yesus seperti yang ada pada gambar-gambar yang kita kenal? Maka di sini kita harus melihat prinsip manusia menangkap ‘hakekat’ sesuatu/ seseorang seperti pada contoh di atas. Kita manusia mampu menangkap hal-hal yang bersifat accidental (‘kulit’ luar) dan essensi. Accidental dari manusia adalah berkumis, berjenggot, tinggi/pendek, kulit hitam atau putih, rambut panjang atau pendek, dll. Namun essensi dari manusia adalah manusia yang diciptakan menurut gambaran Allah, mempunyai tubuh danjiwa, dimana jiwanya adalah bersifat kekal dan spiritual. Spiritualnya karena manusia mempunyai akal budi (intellect) dan juga kehendak bebas. Selanjutnya, kesempurnaan manusia ditunjukkan dengan bagaimana manusia dapat bersikap untuk mencapai tujuan akhirnya, yaitu Tuhan. Di sinilah, Yesus sebagai Tuhan datang ke dunia ini untuk memberikan jalan kepada manusia dan menunjukkan bagaimana seharusnya manusia bersikap sebagaimana layaknya manusia menurut gambaran Allah (yaitu dengan kasih kepada Allah dan sesama), sehingga manusia pada akhirnya akan memperoleh persatuan dengan Allah. Jadi dari sini, tidaklah terlalu penting apakah Yesus berjenggot atau tidak, karena jenggot, warna kulit, dll. Itu semua hanyalah accidental, yang tidak menentukan kualitas dari Yesus. Yang menentukan kualitas/esensi dari Yesus, yaitu Tuhan yang menjadi manusia, yang menunjukkan kepada kita manusia untuk hidup sesuai dengan gambaran Allah, agar kita dapat sampai kepada Allah. Jadi dalam seni, yang paling penting adalah mempresentasikan dan mengekspresikan tentang sosok tersebut, misalkan Yesus terlihat sebagai Seseorang yang lemah lembut, penuh kasih, dll.

3. Dengan pengertian di atas, seperti apa detail gambar Yesus, yang mungkin berbeda antara satu gambar dengan yang lainnya, tidak menjadi masalah. Yang terpenting, umat menangkap hakekat Yesus yang digambarkannya. Gambar itu bukannya saingan Allah, karena akhir penghormatan kita bukan kepada gambar itu, tetapi pada Siapa yang digambarkannya. Dan bukannya menjadi sesuatu yang aneh jika gambaran wajah Yesus dalam imajinasi saya berbeda dengan gambaran wajah Yesus dalam imajinasi anda. Ini tidak berarti bahwa Yesus yang kita sembah adalah Yesus yang berbeda atau Yesusnya ada dua dan bersaing satu sama lain. Tidak demikian. Yesusnya tetap sama, hanya imajinasi kita dalam menggambarkannya itu yang bisa berbeda, dan itu tidak apa- apa.

e) Pernyataan “Mungkin hal ini berat untuk dimengerti bagi kalian di Indonesia yg tidak pernah tahu ttg sejarah agama Katolik. Semoga suatu hari mata kalian terbuka.” mungkin terlalu cepat untuk dituliskan, karena kita belum membuktikan kebenaran argumentasi masing-masing pihak. Kalau anda benar-benar mengerti sejarah perkembangan Gereja Katolik, maka saya yakin anda akan tetap berada di dalam Gereja Katolik. Cardinal John Henry Newman, yang berpindah dari Anglikan ke Katolik mengatakan “To be deep in history is to cease to be Protestant

4. Tentang beruntung tidak lagi terperangkap dalam ritual-ritual agama Katolik.

Akhirnya anda mengatakan “Bagi saya pribadi, beruntunglah saya bisa percaya tanpa harus melihat rupa nyata Tuhan. Beruntunglah saya bisa bercakap2 dengan Tuhan tanpa harus berlutut didepan patung2 siapa yg tidak dikenal.
Beruntunglah saya tidak lagi terperangkap dalam ritual2 agama Katolik yg berdasarkan hukum Kanon – dimana hukum Kanon adalah buatan manusia belaka… bukan datang dari Tuhan. Tetapi alkitab adalah datang dari Tuhan.

a) Bagi Gereja Katolik, penyembahan yang tertinggi adalah Sakramen Ekaristi. Mau ada patung atau tidak, Sakramen Ekaristi tetaplah sah. Ini menunjukkan bahwa ibadah Gereja Katolik tidaklah tergantung dari patung-patung. Patung dan simbol-simbol yang lain hanyalah untuk membantu umat Allah untuk dapat berfokus pada Kristus. Lihatlah bagaimana detailnya Tuhan memberikan perintah kepada Raja Salomo untuk membuat bait Allah. (lih. 1 Raj 6).

Apakah Gereja anda mempunyai salib kayu? Apakah pada saat praise and worship anda menggunakan gambar-gambar Yesus di dalam slide? Apakah ada lilin di dalam Gereja anda? Kalau anda melihat gereja-gereja Lutheran (pengikut Martin Luther), maka anda akan kaget, karena ada begitu banyak christian art (gambar, patung) sama seperti di dalam Gereja Katolik. Apakah mereka juga salah? Apakah anda pernah ke gereja Lutheran, yang juga mempunyai ritual dan liturgi yang hampir mirip dengan Gereja Katolik? Apakah anda pernah melihat ritual dari gereja Anglikan? Mereka tidak masuk dalam Gereja Katolik, namun mempunyai ritual, liturgi tersendiri. Apakah mereka salah? dan apakah alasannya? Apakah dengan demikian Martin Luther telah salah karena tidak menghancurkan patung-patung di gereja Lutheran?

b) Setelah anda membaca tentang pengertian Kitab Hukum Kanonik, maka anda tidak akan mengatakan “Beruntunglah saya tidak lagi terperangkap dalam ritual2 agama Katolik yg berdasarkan hukum Kanon – dimana hukum Kanon adalah buatan manusia belaka… bukan datang dari Tuhan“. Silakan membaca pengertian tentang Hukum Kanonik di sini – silakan klik. Dan silakan anda membaca KHK (Kitab Hukum Kanonik) dan silakan menunjukkan bagian mana yang bertentangan dengan Alkitab. KHK memang merupakan disiplin dari Gereja, namun bersumber pada Alkitab, Tradisi Suci, dogma dan doktrin dari Gereja. Untuk mengatakan bahwa semua itu bukan datang dari Tuhan, maka anda harus membuktikan bahwa semuanya itu bertentangan dengan kebenaran Allah, karena tidak mungkin yang datang dari Tuhan saling bertentangan.

5) Dari tulisan anda, maka anda telah memberikan tuduhan yang begitu banyak kepada Gereja Katolik, walaupun anda sebelumnya adalah umat Katolik. Kalau anda memang serius untuk berdiskusi tentang dogma dan doktrin dari Gereja Katolik yang membuat anda berpindah ke gereja lain, maka dengan senang hati saya mau untuk berdialog dengan anda. Pilihlah satu dogma, dan kemudian kita dapat membahasnya secara mendalam. Terlalu banyak topik yang ingin disampaikan tidak memberikan diskusi yang mendalam. Semoga dari pemaparan di atas, minimal Sherly mempunyai pandangan yang lebih baik terhadap Gereja Katolik.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

lisitas.org/2008/06/10/apa-itu-kekudusan/

Tentang Perkembangan diskusi:

1. Sembilan point diskusi dengan Sherly – silakan klik

a. Hidup selibat bagi para imam – silakan klik

b. Maria tetap perawan – silakan klik

c. Maria, ratu Sorga – silakan klik

d. Mengapa menyebut paus sebagai Bapa Suci – silakan klik

e. Tentang Api Penyucian – silakan klik

f. Apakah Gereja Katolik menyembah berhala – silakan klik

g. Tentang Sakramen Ekaristi – silakan klik

h. Tentang Yesus mendirikan Gereja Katolik – silakan klik

i. Tentang Sakramen Pengakuan Dosa – silakan klik

2. Sembilan point diskusi dengan Indah – silakan klik

a. Tentang Sakramen Ekaristi – silakan klik

b. Apakah Gereja Katolik menyembah berhala – silakan klik

c. Tentang doa berulang (rosario) – silakan klik

d. Tentang persekutuan para kudus – silakan klik

e. Tentang konsep Gereja (ekklesiologi) – silakan klik

f. Tentang Gereja yang kudus – silakan klik

g. Tentang mukjizat santa-santo – silakan klik

h. Tentang nubuat – silakan klik

i. Tentang agama – silakan klik

Mrk 1:34, Yesus tidak ingin diketahui sebagai Mesias?

2

Pertanyaan:

Di Mark 1:34 disebutkan bahwa Yesus tidak ingin orang orang mengetahui jati dirinya (sebagai anak Allah). Mengapa? bukankah bila orang orang percaya bahwa dia adalah Mesias mungkin dia tidak disalibkan?

Terima kasih,
Cleo

Jawaban:

Shalom Cleo,

Berikut ini adalah keterangan arti ayat Mat 1:34, menurut The Navarre Bible:

Iblis/ setan- setan mempunyai pengetahuan supernatural sehingga mereka mengenali Yesus sebagai Mesias (Mrk 1:24). Karena itu orang- orang yang kerasukan setan dapat menyatakan hal ini di hadapan umum. Tetapi Tuhan Yesus melarang mereka mengatakan hal ini. Dalam kesempatan lain Yesus juga melarang para murid-Nya untuk menyatakan bahwa Ia adalah Mesias (Mrk 8:30; 9:9). Ia juga memerintahkan orang- orang yang Ia sembuhkan untuk tidak membicarakan kesembuhan mereka (Mrk 1:4; 5:43; 7:36; 8:26). Ia bertindak demikian untuk mendidik umat-Nya agar tidak mempunyai gambaran duniawi dan politis tentang Sang Mesias (lih. Mat 9:30).

Pertama- tama dalam misi penyelamatan-Nya, Yesus memang melakukan mukjizat- mukjizat, namun selanjutnya ia memberikan pengajaran- pengajaran, untuk memberitahukan jatidiri-Nya sebagai Mesias. Ia berkehendak untuk menyatakan diri-Nya secara bertahap sebagai Mesias, Sang Allah Putera. Ia tidak ingin mendahului kejadian- kejadian sebelum saatnya tiba, sebab Ia tidak ingin orang- orang mulai memuji dan meninggikannya sebagai Raja Mesias. Sebab gambaran mereka tentang mesias adalah seseorang yang seperti pahlawan nasional, dan bukan mesias secara rohani. Yesus selalu menghindar dari desakan ini (untuk diangkat sebagai raja duniawi). Hal ini jelas terjadi setelah Yesus mengadakan mukjizat pergandaan roti, dalam Yoh 6:14-15,

“Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: “Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.” Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.”

Yesus, yang memusatkan kehendak-Nya untuk menggenapi rencana keselamatan Allah, telah mengetahui sejak awal mula bahwa Ia menjelma menjadi manusia untuk menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Justru karena Ia ingin menunaikan misi ini, maka Ia tidak ingin diangkat menjadi raja dunia, yang tidak mengarah kepada salib. Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Ibrani bab 10, menjabarkan bahwa sejak awal mula, Yesus sudah mengetahui bahwa penjelmaannya menjadi manusia akan menghantarkan-Nya menjadi korban penghapus dosa manusia.

Silakan anda membaca renungan Salib tanda kasih Kristus, silakan klik. Semoga dalam Pekan Suci ini kita semakin menghayati akan kasih Allah yang tak terbatas, yang dinyatakan dengan kurban Kristus di kayu salib demi menebus dosa- dosa kita.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab