Home Blog Page 252

Keselamatan: susah atau gampang?

27

Keselamatan: susah atau gampang?

Pertanyaan:

Hai,
saya ingin bertanya sesulit apakah memperoleh keselamatan itu..
Di 1 sisi, digambarkan kerajaan surga sulit dmasuki karena Yesus pernah mengatakan bahwa lebih sulit orang kaya masuk surga dari pada unta masuk lubang jarum
DI sisi lain, dikatakan bila kita menyesal atas dosa kita saja, Tuhan akan mengampuni (seperti di buku Maria Sima)

Jadi, bagaimana konsep yang sebenarnya?

Terima kasih,
Cleo

Jawaban:

Shalom Cleo,

1. Keselamatan itu “susah- susah gampang”

Jika mau dijawab dengan jujur maka mungkin jawabannya adalah keselamatan itu kita peroleh dalam Kristus, dengan “susah- susah gampang”. Artinya kita memang dapat melihat dari dua sisi. Mudah/ gampang, karena “modal” utamanya adalah kasih karunia Allah (Ef 2: 8-9); sehingga yang bagian harus kita lakukan ‘hanya’ adalah menerima karunia ini dengan iman, dan bertobat; memberikan diri kita dibaptis dalam air dan Roh Kudus (Yoh 5:3). Selanjutnya, yang sulit adalah bertahan untuk hidup di dalam rahmat pengudusan yang sudah kita terima pada saat Pembaptisan ini. Artinya, kita harus tetap bertahan hidup sesuai dengan iman kita (lih. Mat 10:22, 24:13). Iman kita harus dinyatakan dalam perbuatan kasih agar sungguh dapat merupakan iman yang hidup dan menyelamatkan (lih. Yak 2: 17, 24, 26). Dengan perkataan lain agar kita dapat mempertahankan rahmat keselamatan yang telah kita terima pada saat Pembaptisan, kita harus berjuang untuk hidup kudus. Mengenai apa itu kekudusan, silakan klik di sini, dan bahwa semua orang dipanggil untuk hidup kudus, klik di sini.

2. Resepnya: ketaatan iman dan bertahan dalam kekudusan

Rasul Paulus mengajarkan kita untuk selalu taat, dan mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar (Flp 2:12) dan ia sendiri memberikan teladan dalam hal ini. Ia sendiri melatih tubuhnya dan menguasai dirinya, dengan kata lain ia berjuang untuk tetap hidup kudus, supaya setelah ia memberitakan Injil kepada orang lain, ia sendiri tidak ditolak oleh Tuhan (lih. 1 Kor 9:27). Namun dalam usaha untuk hidup kudus ini, kita tidak boleh mudah berputus asa, dan merasa “ah sukar sekali“, sebab itu tandanya kita masih mengandalkan diri sendiri. Kita harus mengandalkan kekuatan yang dari Tuhan sendiri, dengan berakar dalam doa, Sabda Tuhan dan sakramen- sakramen Gereja, terutama sakramen Ekaristi dan sakramen Tobat. Dengan mengandalkan rahmat Tuhan ini, maka apa yang kelihatan sulit menjadi mudah, yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Maka, tulisan Maria Sima yang mendorong manusia untuk bertobat, bukanlah dimaksudkan untuk ‘menggampangkan’ keselamatan; sebab jika anda membaca keseluruhan buku itu (Bebaskan kami dari sini!); justru buku itu menjelaskan adanya Api Penyucian, dan bahwa jiwa- jiwa yang ada di Api Penyucian itu adalah mereka yang sudah bertobat, namun masih perlu untuk dimurnikan oleh Allah agar dapat sempurna bersatu dengan Allah dalam Kerajaan Surga.

3. Kesimpulan

Akhirnya, konsep keselamatan ini harus dilihat dengan seimbang antara dua sisi, yaitu dari sisi kasih karunia Allah dan dari sisi mempertahankan karunia tersebut. Memang dari sisi menerima karunia Allah, kesannya mudah, namun dari mempertahankannya itu membutuhkan perjuangan seumur hidup. Hal ini juga telah diajarkan oleh Kristus, yaitu tentang sulitnya orang kaya masuk dalam kerajaan surga (Mat 19:24; Mrk 10:25; Luk 18:25).  Kita manusia umumnya memang sulit untuk menanggalkan ‘kekayaan’ diri kita yaitu segala bentuk keterikatan kita dengan kenikmatan dunia dan segala ciptaan, untuk memusatkan diri kepada hal- hal surgawi.

Oleh sebab itu Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa keselamatan itu diperoleh dengan mudah, sekali saja, dan setelah itu tidak dapat hilang (once saved always saved), yang sudah dibahas di sini, silakan klik. Kita tidak dapat menekankan berat sebelah hanya kepada kasih karunia saja, atau sebaliknya hanya usaha perbuatan manusia saja. Kedua paham ini tidak sesuai dengan ajaran Kristus. Jika kita ingin setia menjalankan seluruh ajaran dalam Kitab Suci, kita harus menerima bahwa keselamatan itu memang adalah rahmat kasih karunia dari Allah, namun juga membutuhkan kerjasama dari kita untuk terus berjuang hidup sesuai dengan rahmat itu, dengan pertolongan Tuhan Yesus. Kita harus mengingat bahwa Tuhan Yesus telah melakukan bagian “yang tersulit”, yaitu dengan pengorbanan-Nya di kayu salib untuk menyelamatkan kita. Maka bagian yang harus kita lakukan adalah bertobat, menerima rahmat keselamatan itu dan bertahan di dalamnya sampai kesudahannya. Awalnya mudah bagi kita, namun selanjutnya adalah perjuangan. Jadi keselamatan itu “gampang dan susah”, namun tidak ada yang mustahil bagi kita orang yang percaya, sebab tiada yang mustahil bagi Allah (lih. Luk 1: 37)!

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Apakah untuk menjadi murid Yesus, seseorang harus membenci sesama?

2

Pertanyaan:

Bu Inggrid & Pak Stef yang saya hormati,

Saya ada sedikit pertanyaan mengenai Lukas 14:26 “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”

bagaimana penjelasannya menurut katolisitas.org mengenai ayat tersebut ? mengapa terkesan kita disuruh membenci keluarga kita untuk mengikuti Yesus ? mohon maaf bila sebelumnya pernah dibahas, sebenarnya saya sudah mendapatkan jawabannya, namun saya belum puas bila belum dijawab oleh katolisitas.org :)

terima kasih

JMJLU – Caesarandra

Jawaban:

Shalom Caesarandra,

Terima kasih atas pertanyaannya yang bagus tentang mengapa untuk menjadi murid-Nya, Yesus mengatakan untuk membenci saudara-saudara yang lain. Dikatakan:

Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Lk 14:26)

Yesus mengajarkan dan melakukan kasih

Kalau kita membaca dari seluruh pengajaran Kristus, maka kita dapat menyimpulkan bahwa Yesus mengajarkan hukum kasih. Dan bahkan Dia mempertegas bahwa dua hukum terutama adalah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama, seperti yang dikatakan-Nya:

Mt 22:36-39 “36 Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” 37  Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 39  Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Dan kemudian Yesus sendiri telah membuktikan bahwa Dia rela menderita, disiksa, dibunuh di kayu salib demi kasih-Nya kepada Bapa dan kasih-Nya kepada umat manusia. Salib adalah bukti kesempurnaan manifestasi dua perintah kasih ini. Dengan demikian, Yesus yang mengajarkan kasih dan telah menunjukkan kasih ini secara sempurna di kayu salib, tidak mungkin mengajarkan hal yang bertentangan dengan kasih, seperti membenci orang tua dan sesama. (lih. Mt 19:19)

Bagaimana kita mengartikan Lk 14:26?

1. Kasih kepada Allah lebih utama daripada kasih kepada sesama

Pertama kita harus menyadari bahwa Yesus ingin mengajarkan bahwa kita harus mengasihi Yesus – yang adalah Tuhan – lebih utama daripada kita mengasihi sesama. Inilah sebabnya dalam kasih yang bersifat adi-kodrati (supernatural), maka kita harus mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama atas dasar kasih kita kepada Tuhan. Jadi, kita melihat keutamaan kasih kepada Tuhan, yang membantu kita untuk dapat mengasihi sesama dengan lebih baik. Kita juga dapat melihat dalam sepuluh perintah Allah dituliskan dalam dua loh batu, di mana batu pertama adalah perintah untuk mengasihi Tuhan (perintah 1-3) dan batu kedua adalah perintah untuk mengasihi sesama (perintah 4-10).

Kita juga harus menyadari bahwa kasih yang bersifat adi-kodrati, seperti yang dicontohkan dalam kehidupan para kudus, hanya mungkin dilakukan secara terus-menerus karena dorongan rahmat Allah. Tanpa rahmat Allah, maka akan sangat sulit untuk melakukan apa yang dilakukan oleh Bunda Teresa, yaitu membaktikan hidupnya demi orang-orang yang termiskin dan tertindas sepanjang hidupnya.

2. Membenci berarti mengasihi dengan kadar yang berbeda

Membenci [miseí, pres. act. indic. 3d person sing.] dalam hal ini berarti mengasihi dengan kadar yang kurang (to love less). Jadi ayat tersebut dapat dituliskan sebagai berikut: “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia mengasihi bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan lebih besar dari kasihnya kepada-Ku, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Inilah sebabnya, ayat ini dapat menjadi bukti dari ke-Allahan Yesus, karena kalau Yesus hanya manusia biasa, mengapa dia menyuruh semua orang untuk lebih mengasihi Yesus daripada mengasihi orang tua? Ini hanya menjadi masuk akal, kalau Yesus adalah Tuhan. Dengan demikian, benarlah bahwa kasih kita kepada Allah harus lebih besar daripada kasih kita kepada sesama, termasuk kepada orang tua dan saudara-saudari kita sendiri. Ini juga dipertegas di Mt 10:37 yang mengatakan “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.

Ayat-ayat yang saya kutip sebelumnya dapat membantu kita:

Mat 22:37-39: “37 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 39  Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Yesus tidak mengatakan bahwa kita mengasihi Tuhan seperti mengasihi sesama, namun Yesus mengatakan dengan jelas di ayat tersebut bahwa mengasihi Tuhan dengan segenap hati, pikiran, akal budi adalah perintah yang terutama. Sebagai hasil mengasihi Tuhan, maka kita dapat menjalankan perintah ke-dua, yaitu mengasihi sesama. Hanya dengan sikap inilah, maka kita dapat bertumbuh dalam kekudusan, dan mengikuti Yesus dengan setia sepanjang hidup kita.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Tuhan Yesus tidak mendirikan Gereja?

14

[Berikut ini adalah pernyataan Shinta yang mewakili pandangan umum dari umat Protestan, yang mengatakan bahwa Tuhan Yesus tidak mendirikan Gereja (Church) tetapi jemaat (ekklesia). Pandangan ini rancu dan tidak benar, dan Ingrid akan menjawabnya mengapa demikian]

Pertanyaan:

Salam Damai

YESUS tidak pernah mendirikan gereja ataupun church, yang Dia dirikan adalah ekklesia alias jemaat

gereja sudah ada sejak doeloe kala, berikut kutipannya:

Douay-Rheims Bible, Challoner Revision [catholic version]

Num 19:20 If any man be not expiated after this rite, his soul shall perish out of the midst of the church: because he hath profaned the sanctuary of the Lord, and was not sprinkled with the water of purification.
Num 20:4 Why have you brought out the church of the Lord into the wilderness, that both we and our cattle should die?
Deut 23:1 An eunuch, whose testicles are broken or cut away, or yard cut off, shall not enter into the church of the Lord.
Deut 23:2 A mamzer, that is to say, one born of a prostitute, shall not enter into the church of the Lord, until the tenth generation.
Deut 23:3 The Ammonite and the Moabite, even after the tenth generation shall not enter into the church of the Lord for ever:
Deut 23:8 They that are born of them, in the third generation shall enter into the church of the Lord.
Neh 13:1 And on that day they read in the book of Moses in the hearing of the people: and therein was found written, that the Ammonites and the Moabites should not come in to the church of God for ever:
Ps 22:22 I will declare thy name to my brethren: in the midst of the church will I praise thee.
Ps 22:25 With thee is my praise in a great church: I will pay my vows in the sight of them that fear him.
Ps 26:12 My foot hath stood in the direct way: in the churches I will bless thee, O Lord.
Ps 35:18 I will give thanks to thee in a great church; I will praise thee in a strong people.
Ps 40:9 I have declared thy justice in a great church, lo, I will not restrain my lips : O Lord, thou knowest it.
Ps 68:26 In the churches bless ye God the Lord, from the fountains of Israel.
Ps 89:5 The heavens shall confess thy wonders, O Lord: and thy truth in the church of the saints.
Ps 107:32 And let them exalt him in the church of the people: and praise him in the chair of the ancients.
Ps 149:1 Sing ye to the Lord a new canticle: let his praise be in the church of the saints.
Prov 5:14 I have almost been in all evil, in the midst of the church and of the congregation.
Lam 1:10 Jod. The enemy hath put out his hand to all her desirable things: for she hath seen the Gentiles enter into her sanctuary, of whom thou gavest commandment that they should not enter into thy church.
Joel 2:16 Gather together the people, sanctify the church, assemble the ancients, gather together the little ones, and them that suck at the breasts: let the bridegroom go forth from his bed, and the bride out of her bride chamber.

Salam,
Shinta

Jawaban:

Shalom Shinta,

1. Asal kata ‘church’/ ekklesia = ‘qahal’

Kata ‘church‘/ ‘ekklesia’ dalam Perjanjian Lama berasal dari kata aslinya yaitu ‘qahal‘ (Ibrani), yang artinya adalah ‘kumpulan orang- orang’, atau diterjemahkan di Alkitab LAI sebagai ‘jemaah’ (Bil 19:20; 20:4; Ul 23:1-4; Neh 13:1, Mzm 22:22, 26, 26:12, 35:18, 40:10, 68:27, 89:6, 149:1; Ams 5:14; Rat 1:10; Yl 2:16).

2. ‘Church’/ ‘qahal’ sudah ada sejak jaman PL

Nah, ‘qahal‘, atau ‘kumpulan orang- orang’ atau ‘jemaah’ ini, menurut konteks masyarakat Yunani dan Yahudi adalah perkumpulan yang dibentuk atas dasar penyembahan, berdasar atas kesatuan yuridis ataupun politik (menurut L. Rost, H. Schlier, “Ekklesiologie des Neuen Testaments”, in Mysterium Salutis 4, I (1972), 101-214). Dalam konteks Perjanjian Lama, ‘kumpulan orang- orang’ ini mengacu kepada jemaah Allah yang kepadanya Allah telah membuat perjanjian, ditandai dengan perjanjian Sinai di bawah pimpinan Nabi Musa. Perjanjian jemaah ini (bangsa Israel) dengan Allah ditandai dengan darah anak domba Paska yang membebaskan mereka dari perbudakan Mesir, dan selama 40 tahun kemudian menerima roti manna dari surga sebelum memasuki Tanah Perjanjian. Kumpulan orang- orang ini adalah bangsa pilihan Allah yang tetap bertahan, walau abad- abad berikutnya tercerai berai, mengalami pembuangan di Babilon, restorasi pada jaman nabi Ezra, sampai pada jaman Perjanjian Baru.

Kata ‘ekklesia’ yang diterjemahkan sebagai ‘jemaat’ oleh LAI, berasal dari ‘qahal‘ ini, namun maknanya tidak lagi terbatas secara yuridis maupun politis, namun berdasarkan arti spiritual dan eskatologis. Kata ‘ekklesia’ inilah yang umum dikenal sebagai Gereja yang memang adalah kata lain dari jemaat Allah yang hidup (1 Tim 3:15). Gereja ini adalah umat/ jemaat Allah yang hidup karena dihidupkan oleh tanda perjanjiannya dengan Allah, yaitu: Darah Kristus Sang Anak Domba Allah, dan oleh santapan rohani yaitu Kristus Sang Roti Hidup dalam Ekaristi, untuk menuju kehidupan kekal di Tanah Perjanjian yaitu Kerajaan Sorga.

Jadi jika anda katakan bahwa ‘church‘/ jemaah itu sudah ada sejak Perjanjian Lama, itu memang benar. Walaupun demikian, jemaah di Perjanjian Lama hanya merupakan gambaran awal dari Gereja / jemaat pada Perjanjian Baru, yang didirikan oleh Kristus di atas Rasul Petrus (Mat 16:18). Pembahasan mengenai hal ini ada di sini, silakan klik, dan tentang ‘Petros’ dan ‘petra’ di sini, silakan klik. Gereja/ ekklesia di sini memang bukan berarti bangunan gedung gereja, tetapi adalah kumpulan umat Allah yang bersifat universal, tidak terbatas oleh suku, bangsa atau bahasa; dan yang berkumpul dan memperoleh hidup dari Kristus sendiri, melalui Sabda-Nya dan Tubuh dan Darah-Nya dalam Ekaristi.

3. Yesus mendirikan Gereja-Nya

Dengan demikian, adalah suatu ke-salah pahaman, jika mengatakan Yesus tidak mendirikan Gereja. Yesus mendirikan Gereja-Nya di atas Petrus, sebagaimana dikatakan-Nya:

Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:18)

“That thou art Peter; and upon this rock I will build my church, and the gates of hell shall not prevail against it. (Mat 16:18, Douay Rheims- Vulgate)

Jadi Gereja/ ekklesia maksudnya adalah kumpulan umat Allah, yaitu bangsa pilihan Allah yang baru, yang merupakan penggenapan dari bangsa pilihan Allah di jaman Perjanjian Lama, karena jasa Kristus yang menjadi Sang Anak Domba Perjanjian Baru. Gereja Katolik lahir, tumbuh dan dihidupkan oleh Sabda Allah, dan Tubuh dan Darah Kristus. Peran Sabda dan Ekaristi ini dikisahkan dalam penampakan Yesus di Emaus (Luk 24:13-32), dalam kisah para rasul, dan jemaat pertama (lih. Kis 2:42), yang terus dilestarikan sampai sekarang dalam setiap Perayaan Ekaristi. Peran Sabda dan Ekaristi ini menyempurnakan perjanjian dengan bangsa Israel yang ditandai dengan sabda Allah yang tertulis di dua loh batu, darah anak domba, dan oleh roti manna di padang gurun.

Dengan demikian, makna Gereja dalam Perjanjian Baru memang tidak terlepas dengan makna ‘jemaah’ dalam Perjanjian Lama karena PL dan PB memang berhubungan satu dengan yang lainnya; dengan PB sebagai penggenapan PL. Dengan demikian, Gereja mempunyai makna yang jauh lebih mendalam daripada hanya sekedar kumpulan orang- orang yang memuji Tuhan. Sebab Gereja telah dirintis oleh Allah sejak masa PL, namun kemudian disempurnakan dalam PB; dengan dijiwai dan diberi hidup oleh Kristus sendiri, agar dapat sampai kepada kehidupan yang kekal (Yoh 6: 54).

Maka, Gereja merupakan kumpulan orang- orang yang dibentuk oleh Tuhan sendiri, dipersiapkan sedemikian sejak jaman Perjanjian Lama, untuk mencapai penggenapannya dalam Perjanjian Baru oleh Kristus. Pertanyaannya kemudian adalah: apakah kita mau sepenuhnya bergabung dengan Gereja yang didirikan oleh Tuhan Yesus sendiri ini?

4. Gereja yang didirikan oleh Yesus ini adalah Gereja Katolik

Kata “ekklesia” ini dijabarkan maknanya dengan lebih mendalam,  dalam perikop Ef 5:22-33. Di sana dikatakan bahwa hubungan Yesus dengan Gereja (jemaat)-Nya ini digambarkan sebagai hubungan suami istri. Dalam Mat 19, Yesus mengajarkan tentang kesucian perkawinan yang ditandai oleh penyerahan diri yang total antara seorang  suami dan seorang  istri, dan tentu Ia sendiri memberikan contoh teladan dalam hal ini, dengan hanya mendirikan satu Gereja. Gereja yang didirikan-Nya di atas Rasul Petrus ini, sekarang tetap berlanjut dalam Gereja Katolik, yang tetap bertahan dari jaman para rasul sampai sekarang, sekitar 2000 tahun lamanya.

Silakan jika anda belum membaca, untuk membaca artikel seri Gereja dalam situs ini:

Tulisan ini menjabarkan Gereja Katolik sebagai Gereja yang didirikan oleh Kristus sendiri, dan bahwa Gereja telah direncanakan oleh Allah sejak awal penciptaan dunia (Bagian 1). Gereja juga menjadi tujuan akhir manusia sekaligus sarana untuk mencapai tujuan itu (Bagian 2). Untuk itu Gereja menyampaikan keutuhan rencana Allah (Bagian 3), sebagai Tanda Kasih- Nya untuk semua manusia (Bagian 4). Kebenaran ini merupakan karunia, tetapi juga membawa tugas bagi kita sebagai orang Katolik (Bagian 5). Dan Kebenaran akan Gereja Katolik sebagai sakramen keselamatan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Menjadi vegetarian karena peduli lingkungan hidup?

16

Pertanyaan:

Salam Pak Stef dan Bu Ingrid.

Salam dan terima kasih atas jawaban-jawaban yang baik. Mengenai Vegetarian, memang Katekismus dan ajaran Gereja serta Alkitab tidak mewajibkan kita vegetarian. Namun bagi yang mau vegetarian, Gereja selalu memuji sebagai matiraga yang baik asalkan demi ungkapan iman juga kesehatan dan penyelamatan lingkungan bumi. Saya melihat pada KGK, bahwa orang harus hormat terhadap keutuhan ciptaan termasuk kesehatan (KGK nomer 2288, 2415, 2416, 2417, 2418). Kej 1:29 semua tumbuhan itu disediakan Tuhan untuk menjadi makanan manusia, tentu makan daging pun boleh (Kej 9: 3). Namun Kej 9:4 membingungkan: “Daging yang masih ada darahnya tak boleh dimakan”. Mana ada daging yang sama sekali tak ada darahnya? Pasti ada karena meresap di serat-serat pembuluh darah kapiler dalam daging. Mungkin saja ini pertanyaan bodoh, kalau begitu apakah bisa hal ini diterapkan sebagai dasar bagi umat Katolik yang mau hidup vegetarian? Mengenai lingkungan hidup, ditemukan ada data lain, peternakan menyumbang emisi gas rumah kaca (metana dan CO2) lebih besar daripada BBM menurut Dr. Robert Goodland, mantan penasihat bidang lingkungan untuk Bank Dunia dan Jeff Anhang, ahli lingkungan di Perusahaan Keuangan Internasional dari Grup Bank Dunia, menghitung kontribusi peternakan terhadap emisi gas rumah kaca adalah sebesar 51%. Dan perubahan pola makan ke pola nabati (VEGAN) adalah mendesak karena lebih efektif dari upaya2 lainnya bahkan dengan upaya mencari energi alternatif sekalipun. sumber: http://www.nytimes.com/2009/11/17/business/global/17iht-rbofcows.html?_r=2). Hal ini disebabkan pembukaan hutan jutaan hektar untuk peternakan dan kotoran hewan itu panas sekali karena mengeluarkan gas metana. Mohon maaf jika agak melenceng, namun pertanyaan saya, bagaimana tanggapan kita sebagai umat Katolik untuk menanggapi isu pemanasan global yang dihubungkan dengan vegetarian ini? Terima kasih Pak Stef dan Bu Ingrid serta tim Katolisitas. Salam saya: Isa Inigo.

Jawaban:

Shalom Isa Inigo,

Anda benar sewaktu mengatakan bahwa Gereja Katolik tidak mengharuskan umatnya untuk menjadi vegetarian, walaupun tentu jika seseorang memilih untuk menjadi vegetarian itu adalah sesuatu yang baik, karena itu dapat pula melatih pengendalian diri/ mati raga demi pertumbuhan iman.

1. Kitab Suci mengajarkan kepada kita bahwa tumbuh- tumbuhan disediakan oleh Tuhan untuk menjadi makanan manusia (Kej 1:29) dan demikian pula hewan- hewan (Kej 9:3). Kej 9:4 tentang larangan memakan daging yang masih ada darahnya, mengacu kepada ajaran bahwa darah dianggap sebagai sesuatu yang kudus yang memberi hidup, demi mempersiapkan bangsa Israel agar dapat menghayati makna pengorbanan Kristus yang menumpahkan Darah-Nya untuk memberikan hidup kepada umat manusia. Dalam PL, kita mengetahui bahwa Allah bahkan menyuruh bangsa Israel untuk memakan daging anak domba yang dibakar untuk merayakan Paska (lih. Kel 12:21,45; Bil 28:17-25); dan korban anak domba inilah yang menjadi gambaran akan korban Kristus Sang Anak Domba Allah yang kita rayakan dalam setiap Misa Kudus.

2. Saya telah membaca artikel yang anda sampaikan, yang memuat hasil penelitian Dr. Robert Goodland, tentang emisi gas rumah kaca yang konon mencapai 51%, 23 kali lebih panas bagi atmosfir daripada CO2. Tetapi terus terang saja, saya rasa penelitian ini masih harus didukung oleh penelitian lainnya sebelum kita dapat mengatakan bahwa jalan keluar yang terbaik bagi lingkungan hidup adalah agar semua manusia menjadi vegetarian. Di bawah ini adalah beberapa pemikiran saya:

a. Laporan di link tersebut dibuat berdasarkan kondisi peternakan di Amerika yang memang dilakukan dengan besar- besaran secara terkonsentrasi di kandang yang memuat ribuan sapi (dapat mencapai 10.000) atau babi. Limbah metana yang dihasilkan juga berkaitan dengan cara memberi makan (dapat pula merupakan processed food seperti jagung kering, dst) yang umumnya juga dilakukan terkonsentrasi di satu tempat. Mungkin riset juga perlu diadakan untuk meneliti efek peternakan yang tidak dilakukan besar- besaran, tetapi terbatas, dan letaknya tersebar; dengan cara memberi makan secara alamiah, yaitu di padang rumput sehingga limbah merekapun tidak terkonsentrasi tetapi menyebar.

b. Hal penyebaran dalam memberi makan (dan otomatis juga dalam hal kotoran mereka) itu cukup penting untuk diamati, karena hal ini pulalah yang sudah terjadi berabad sebelum adanya pembukaan lahan untuk peternakan. Saat itu walau mungkin jumlah ternaknya sama atau malah lebih banyak, namun toh tidak terjadi apa yang disebut global warming/ efek rumah kaca.

Ada penelitian lain yang mengatakan bahwa jumlah populasi bison di Amerika sekitar tahun 1850 adalah 60 sampai 100 juta ekor, sedangkan jumlah populasi sapi di Amerika pada bulan Juli 2007 adalah sekitar 105 juta. Jika dikatakan bahwa sapi menghasilkan 100 sampai 200 liter gas metana sehari, maka kemungkinan bison (bufallo) juga demikian, apalagi bison umumnya juga berukuran sebesar atau bahkan lebih besar dari sapi.

Kondisi peternakan puluhan ribu ternak mungkin juga tidak terlalu kontekstual di Indonesia (hal ini perlu konfirmasi para ahli di bidangnya), karena sepanjang pengetahuan saya, skala rata- rata peternakan di Indonesia tidak sebesar di Amerika Serikat yang bisa melibatkan puluhan ribu ternak sekaligus, di mana penelitian ini diadakan.

c. Maka menurut hemat saya, hal lingkungan hidup itu tidak hanya semata- mata dipengaruhi oleh peternakan, walaupun mungkin memang benar bahwa limbahnya dapat mempengaruhi, terutama jika peternakan tersebut meletakkan hewan- hewan tersebut berdesak- desakan di dalam bangunan kandang, sehingga limbah gasnya terkonsentrasi, dan dapat sangat berpengaruh pada lingkungan sekitar.

Namun demikian penemuan teknologi sekarang juga sudah cukup maju, di mana beberapa peternakan besar di Amerika tersebut menghasilkan sendiri tenaga listrik dari hasil pengolahan limbah metana. Hal ini yang mungkin perlu distudi lebih lanjut, agar dapat juga diterapkan secara lebih luas, sehingga dapat menghemat sumber daya listrik, atau bahkan peternakan tersebut dapat menyalurkan energi listrik kepada lingkungan sekitarnya.

Adalah kebijaksanaan yang tepat untuk menanami pohon sebanyak mungkin, sebab keberadaan pohon- pohon mengurangi emisi CO2. Mungkin inilah yang perlu ditekankan kepada para peternak besar yang sudah membuka lahan, agar tetap menyediakan lahan untuk ditanami pohon-pohon; setidaknya sejumlah yang sama dengan jumlah pohon yang mereka tebang.

d. Laporan tentang peternakan di Amerika ini juga, menurut saya, berbau politis, sebab mungkin juga ingin dikaitkan agar pemerintah dapat menarik pajak yang lebih tinggi kepada para pemilik peternakan, karena mereka dianggap mencemari lingkungan. Maka laporan yang menunjukkan data tersebut dapat diekspos oleh pemerintah agar opini publik dapat mendukung keputusan pemerintah, misalnya.

e. Mengurangi konsumsi daging memang dapat berakibat positif bagi kesehatan, [dan juga bagi lingkungan] namun menjaga lingkungan hidup menurut saya, tidak terbatas dengan mengurangi konsumsi daging ternak. Hal menjaga lingkungan hidup berkaitan juga dengan memikirkan bagaimana mengolah sampah dan penghematan energi/ mengurangi pemakaian minyak bumi yang mengganggu lingkungan hidup. Jika ini tujuannya, umat di Indonesia pun dapat berbuat sesuatu, misalnya:

1) membuang sampah di tempatnya, menjaga kebersihan lingkungan.
2) tidak membuang sampah ke sungai/ got/ saluran kota.
3) sedapat mungkin menghemat pemakaian listrik, pilih lampu dan alat- alat listrik yang hemat energi.
4) sedapat mungkin membatasi pemakaian/ pembuangan kantong plastik.
5) menanami halaman rumah dengan pohon- pohon.

Atau cara lain jika ingin lebih peduli kepada lingkungan hidup:

1) dapat memberi input kepada pemerintah, untuk mengadakan daur ulang (re-cycle) sampah; seandainya suatu saat dilakukan, taat melakukannya untuk mensortir sampah rumah tangga kita sendiri. [Data science mengatakan bahwa energi yang dapat dihemat dari recycle satu kaleng alumunium coca cola, dibanding harus membuat kaleng itu dari awal adalah tenaga listrik yang mampu menyalakan TV selama 3 jam].
2) dapat mengusahakan mempelajari cara membangkitkan energi misalnya dari pembakaran sampah dan mengusulkannya kepada Pemda.
3) ikuti gerakan menanam pohon- pohon di lingkungan anda.

Maka tidak ada salahnya seseorang memilih untuk menjadi vegetarian, dengan motivasi untuk berpartisipasi mengurangi emisi gas metana; tetapi alangkah baik jika ia melakukan hal- hal sederhana yang jelas- jelas sangat penting di Indonesia, mengingat kotornya sungai- sungai dan belum baiknya sistem pembuangan sampah di negeri kita.

Demikian yang dapat saya tuliskan untuk pertanyaan anda. Mungkin memang tak langsung berhubungan dengan iman, tetapi semoga tetap berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Apakah berdoa berulang, seperti doa Rosario adalah salah?

13

Pertanyaan:

Shalom,
Ada tiga pertanyaan yang ingin saya ajukan:
(1) Saya sering berdoa Yesus dalam sikap berbaring telentang dengan merentangkan kedua belah tangan atau menaruh tangan di dada. Dalam sikap ini saya merasakan kepasrahan dan kedamaian seperti halnya bayi yang berbaring nyaman di pelukan ibunya. Apakah sikap berdoa seperti ini diperbolehkan?
(2) Teman Kristen non-Katolik sering mengatakan bahwa doa berulang seperti mantera yang dilakukan pada meditasi prana sehingga tidak diperbolehkan dalam ajaran Kristiani. Apakah ada rujukan biblis yang dapat melandasi alasan kita untuk melakukan doa berulang seperti doa Yesus atau doa Rosario?
(3) Bagaimana sejarah Rosario? Kapan Rosario digunakan pertama kalinya oleh umat Katolik?

Terima kasih atas jawabannya. Tuhan selalu memberkati Bapak
Andryhart

Jawaban:

Shalom Andryhart,
Terimakasih atas pertanyaannya. Mari kita bahas satu persatu.
Sikap doa:

Pada dasarnya doa adalah “Ayunan hati, suatu pandangan sederhana ke surga, satu seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan.” (KGK, 2558-2559, mengutip St. Teresia kanak-kanak Yesus). Dari definisi ini, maka disposisi hati menjadi suatu yang penting. Namun sikap badan merupakan cerminan dari apa yang ada di dalam hati. Dari hal ini, maka sikap tubuh yang dilakukan Andryhart tidak apa-apa sejauh sikap hati Andryhart dapat terfokus pada Tuhan. Yang menjadi masalah, karena sikap ini terlalu rilex, dapat menyebabkan orang mengantuk. Jadi saya ingin menganjurkan, untuk berdoa dengan sikap berlutut di tempat doa yang khusus. Kemudian setelah doa selesai, Andryhart dapat melakukan doa dengan sikap terlentang dan tetap befokus pada Yesus.
Saya telah menjawab pertanyaan sikap doa di jawaban ini (silakan klik).

Apakah doa berulang salah?

1) Banyak orang Kristen, Non-Katolik salah mengerti akan doa-doa yang dilakukan oleh umat Katolik. Mereka mengatakan bahwa Yesus telah mengajarkan bahwa kita tidak boleh berdoa bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah (Mat 6:7).” Dalam hal ini, kita perlu menjelaskan tentang doa yang bertele-tele atau “vain repetitions (perulangan yang tidak sia-sia)”. Apakah yang dimaksud dengan doa yang bertele-tele ataupun doa pengulangan. Coba simak, apakah doa ini adalah doa yang bersifat pengulangan: “Terima kasih Tuhan atas segala berkat-Mu yang tercurah, ya Tuhan. Benar Tuhan, Engkau adalah Allah yang setia. Ya, benar Tuhan, Engkau adalah Allah yang senantiasa berbelas kasih kepada umat-Mu. Pada waktu aku jatuh, Engkau mengangkatku kembali dari jurang dosa. Ya, benar Tuhan, Engkau Allah yang maha pengampun.” Dalam doa pendek tersebut, saya telah mengulang beberapa kata “benar Tuhan” sebanyak tiga kali. Apakah ini juga termasuk doa pengulangan? Apakah pengulangan maksudnya sesuatu yang sama didoakan beberapa kali dalam satu hari, satu hari 1x, seminggu sekali, sebulan sekali, setahun sekali?

2) Di dalam Mat 6:7, Yesus mengajarkan kepada kita, bahwa kita tidak boleh berdoa yang bersifat pengulangan yang sia-sia (vain repetitions), atau dalam terjemahan Alkitab Bahasa Indonesia adalah “bertele-tele”, seperti orang yang tidak mengenal Allah. Masalahnya bukan pada pengulangan (repetitions), namun pada yang sia-sia (vain), seperti yang dilakukan oleh orang yang tidak mengenal Allah. Sebagai gambaran tentang hal ini adalah yang dilakukan oleh nabi-nabi baal (1 Raja 18:26) dan juga orang yang menyembah dewi Artemis di Efesus (Kis 19:34).

3) Namun, sebagai umat Katolik, kita telah mengenal Allah, bahkan kepenuhan kebenaran ada di Gereja Katolik. Kalau kita berdoa misalkan rosario, doa Bapa Kami, kita memang melakukan pengulangan, namun pengulangan tersebut adalah pengulangan yang tidak sia-sia. Adakah doa yang lebih sempurna dari doa Bapa Kami yang diajarkan sendiri oleh Yesus? Tidak ada. Apakah salah kalau kita senantiasa mengulang doa yang sama? Tentu saja tidak, karena ini adalah ungkapan kasih kita kepada Tuhan. Adakah seorang pacar mengatakan kepada pacarnya “Kamu jangan ngomong “I love you” setiap hari, karena itu adalah bertele-tele.“. Tentu saja seorang pacar tidak akan pernah bosan mendengar pacarnya berkata “I love you”, walaupun mungkin beberapa kali dalam satu hari. Demikian juga dengan Tuhan, Dia tidak akan pernah bosan dengan ungkapan kasih kita kepada-Nya, walaupun dengan diucapkan dengan doa yang sama terus-menerus, yang penting diucapkan dengan sungguh-sungguh.

4) Lagipula jika diperhatikan, pengulangan doa Salam Maria dalam doa Rosario bukanlah merupakan suatu pengulangan yang persis sama. Karena pada saat kita mendoakan Rosario, kita merenungkan peristiwa-peristiwa hidup Yesus, yang terbagi menjadi peristiwa-peristiwa, Gembira, Sedih, Terang dan Mulia. Dalam satu putaran Rosario-pun terdapat 5 peristiwa. Maka misalnya, pada saat kita merenungkan peristiwa Gembira, peristiwa pertama, Bunda Maria menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel, maka kita dapat mulai membayangkan peristiwa itu, dalam permenungan kita di setiap butir rosario. Kita dapat membayangkan perasaan Maria sewaktu menerima kabar gembira itu, atau merenungkan bagaimana seluruh malaikat di surga melihat kepada Maria menantikan jawaban “YA”, atau di butir yang lain kita dapat pula membayangkan bagaimana seluruh surga bersuka sewaktu mendengar ketaatan Bunda Maria saat mengatakan, “YA”, dan misteri kasih Allah yang terbesar terjadi, Yesus Sang Putera menjelma menjadi manusia di dalam rahimnya. Jika doa diartikan sebagai pengangkatan hati ke surga, maka walaupun di mulut kita mengucapkan kata-kata yang sama, namun hati kita yang terangkat tidak menjadikannya sama persis, karena kita merenungkan suatu peristiwa kehidupan Yesus yang berbeda- beda dalam doa Rosario itu.

5) Mari kita melihat dasar Alkitabiah. Pada waktu Yesus berdoa di taman Getsemani (Mat 26:44), Yesus melakukan doa yang sama, yaitu “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!”. Apakah ini doa pengulangan? Tentu saja. Namun Yesus mengajarkan suatu kesempurnaan sikap doa, yang mendahulukan kehendak Bapa dibandingkan kehendak kita sendiri. Bagaimana dengan pemungut pajak yang berdoa “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa” (Luk 18:13). Dan dikatakan bahwa Tuhan berkenan dengan doa pemungut pajak ini karena dilakukan dengan sikap hati yang benar dan penuh dengan pertobatan. Dan doa pengulangan juga dilakukan oleh Kornelius, dan diajarkan oleh Rasul Paulus (Kis 10:2,4; Rom 1:9; Rom 12:12; 1 Tes 5:7). Bahkan para malaikat di surga juga berdoa pengulangan “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Maha kuasa, yang sudah ada dan yang akan datang (Wah 4:8).” Kalau kita berdoa Mazmur, maka begitu banyak doa pengulangan di sana, seperti Maz 136.

6) Dari dasar-dasar di atas, maka doa Yesus, doa rosario, doa Bapa Kami, tidaklah salah, malah sebaliknya, semua doa tersebut berdasarkan alkitab.

Asal-usul doa rosario:

1) Asal usul doa rosario tidak dapat ditentukan secara jelas secara histories, karena terbentuknya setahap semi setahap. Digunakannya ‘butir-butir’ sebagai alat bantu doa juga merupakan tradisi sejak jaman Gereja awal, atau bahkan sebelumnya. Pada abad pertengahan, butir-butir ini dipakai untuk menghitung doa Bapa Kami dan Salam Maria di biara-biara.

2) Struktur doa rosario berkembang antara abad 12 dan 15. Pada waktu itu, 50 doa Salam Maria dihubungkan dengan ayat-ayat Mazmur, untuk memperingati kehidupan Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Pada saat inilah doa ini dikenal sebagai “rosarium”/ rose garden. Pada abad ke 16, terbentuklah doa rosario yang terbagi menjadi 5 dekade dalam 3 misteri gembira, sedih dan mulia.

3) Tradisi mengatakan bahwa St. Dominic (1221) adalah santo yang menyebarkan doa rosario, seperti yang kita kenal sekarang. Ia berkhotbah tentang rosario ini pada pelayanannya di antara para Albigensian yang tidak mempercayai misteri kehidupan Kristus sebagai Allah yang menjelma menjadi manusia. Jadi, walaupun bukan St. Dominic yang pertama kali ‘menciptakan’ doa rosario, namun peran St. Dominic cukup besar dalam menyebarkannya, dan ia sendiri sebagai saksi hidup yang mendoakan doa rosario tersebut. Doa rosario sendiri mulai popular di tahun 1500.

4) “Sebagai doa damai, rosario selalu dan akan selalu menjadi doa keluarga dan doa untuk keluarga. Ada saatnya dulu, bahwa doa ini menjadi doa kesayangan keluarga, dan doa ini yang membawa setiap anggota keluarga menjadi dekat satu sama lain…. Kita perlu kembali kepada kebiasaan doa keluarga bersama berdoa untuk keluarga-keluarga…. Keluarga yang berdoa bersama, akan tetap tinggal bersama. … Para anggota keluarga, dengan mengarahkan pandangan pada Yesus juga akan mempu memandang satu sama lain dengan mata kasih, siap untuk berbagi, untuk saling mendukung, saling mengampuni dan melihat perjanjian kasih mereka diperbaharui oleh Roh Allah sendiri.”
(Rosarium Virginis Mariae, 41, Paus Yohanes Paulus II)

Itulah jawaban dari kami, semoga dapat menjawab pertanyaan Andryhart. Mari kita bersama-sama berjuang untuk setia dalam kehidupan doa kita, sehingga kita dapat semakin mengasihi Tuhan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef & ingrid – katolisitas.org

Mengapa Allah dipanggil Bapa?

2

Pertanyaan:

saya mau bertanya, saya amat bingung!
1. mengapa Allah dipanggil bapa? apakah mungkin Allah telah menikah dengan maria sehingga terbentuk yesus/isa almasih padahal Allah menciptakan yesus/isa almasih dengan hanya satu ucap/firman. dan apakah yesus/isa almasih merupakan anak Allah bila Allah menciptakan nya hanya dengan sekali ucap/firman?

terima kasih, saya tunggu secepatnya! karena teman saya bertanya soal itu

semoga dilindungi Allah, Reza

Jawaban:

Shalom Reza,

1. Kita memanggil Allah sebagai Bapa, pertama- tama karena Tuhan Yesus sendiri yang mengajarkannya.

Ketika para rasul-Nya bertanya bagaimana caranya berdoa, maka Kristus mengajarkan doa Bapa Kami (lih. Mat 6:9-13; Luk 11:2-4), dan dengan demikian memanggil Allah sebagai “Bapa”. Sebelumnya, dalam khotbah di bukit, Yesus mengajarkan agar kita berusaha untuk hidup sempurna, sama seperti Allah Bapa yang di sorga adalah sempurna (lih. Mat 5:48).

Selanjutnya layak kita sadari bahwa kita dapat memanggil Allah sebagai Bapa sebab kita telah diangkat oleh Kristus menjadi saudara dan saudari-Nya melalui Pembaptisan. Oleh sebab itu kita dapat memanggil Bapa sebagai “Abba, Bapa” (Rom 8:15; Gal 4:6).

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK 239 Kalau bahasa iman menamakan Allah itu “Bapa”, maka ia menunjukkan terutama kepada dua aspek: bahwa Allah adalah awal mula segala sesuatu dan otoritas yang mulia dan sekaligus kebaikan dan kepedulian yang penuh kasih akan semua anak-Nya. Kebaikan Allah sebagai orang-tua ini dapat dinyatakan juga dalam gambar keibuan (Bdk. Yes 66:13; Mzm 131:2), yang lebih menekankan imanensi Allah, hubungan mesra antara Allah dan ciptaan-Nya. Dengan demikian bahasa iman menimba dari pengalaman manusia dengan orang-tuanya, yang baginya boleh dikatakan wakil-wakil Allah yang pertama. Tetapi sebagaimana pengalaman menunjukkan, orang-tua manusiawi itu dapat juga membuat kesalahan dan dengan demikian menodai citra kebapaan dan keibuan. Karena itu perlu diperingatkan bahwa Allah melampaui perbedaan jenis kelamin pada manusia. Ia bukan pria, bukan juga wanita; Ia adalah Allah. Ia juga melebihi kebapaan dan keibuan manusiawi (Bdk. Mzm 27:10), walaupun Ia adalah awal dan ukurannya (Bdk. Ef 3:14; Yes 49:15). Tidak ada seorang bapa seperti Allah.

3. Maka Allah disebut Bapa berkaitan dengan hakekat Allah yang menciptakan, mengasihi, memelihara dan mendidik umat-Nya yaitu kita semua; demi keselamatan kita.

Kisah penciptaan Allah dapat kita baca dalam kitab Kejadian 1-2. Kasih ke- Bapaan Allah kita lihat kisah Anak yang hilang (Luk 15: 11-32). Sedangkan Allah memelihara kita (lih. Luk 12:22-24) dan mendidik kita seperti seorang ayah mendidik anaknya (lih. Ibr 12:6). Jadi ke Bapa-an Allah bukanlah untuk diartikan dengan Allah telah menikah dengan Bunda Maria. Ini adalah tanggapan yang sangat- sangat keliru! Allah adalah Sang Pencipta, dan Allah itu Roh (Yoh 4:24), dan karenanya tidak kawin dan dikawinkan, sepertihalnya manusia ciptaan-Nya (lih. Luk 20:34-35). Bahwa karena besar kasih-Ny,a Allah memutuskan untuk mengutus Putera-Nya untuk menjadi manusia (lih. Yoh 3:16), tidak menjadikan-Nya menikah dengan manusia. Yang terjadi adalah Roh Allah itu turun atas Bunda Maria, sehingga Bunda Maria dapat mengandung Kristus, meskipun tanpa melibatkan benih seorang laki- laki. Hal ini dituliskan dalam kabar gembira malaikat Gabriel seperti tertulis dalam Kitab Suci, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” (Luk 1:35)

4. Namun bagi Yesus, istilah ‘Bapa’ memiliki arti yang sangat khusus, dan tidak mungkin disamakan dengan hubungan antara kita (umat ciptaan-Nya) dengan Allah (Sang Pencipta). Katekismus mengajarkan:

KGK 240 Yesus mewahyukan bahwa Allah merupakan “Bapa” dalam arti tak terduga: tidak hanya sebagai Pencipta, tetapi sebagai Bapa yang kekal dalam hubungannya dengan Putera-Nya yang tunggal, yang adalah Putera hanya dalam hubungan-Nya dengan Bapa-Nya: “Tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang-orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.” (Mat 11:27)

KGK 242 Pengakuan para Rasul itu dipelihara oleh tradisi apostolik, dan sebagai akibatnya Gereja dalam tahun 325 pada konsili ekumene pertama di Nisea mengakui bahwa Putera adalah “sehakikat [homoousios, consubstantialis] dengan Bapa”, artinya satu Allah yang Esa bersama dengan-Nya. Konsili ekumene kedua, yang berkumpul di Konstantinopel tahun 381, mempertahankan ungkapan ini dalam rumusannya mengenai iman Nisea dan mengakui “Putera Allah yang tunggal” sebagai yang “dilahirkan dari Bapa sebelum segala abad: Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah benar, dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa” (DS 150).

4. Maka penyataan anda “padahal Allah menciptakan yesus/isa almasih dengan hanya satu ucap/firman. dan apakah yesus/isa almasih merupakan anak Allah bila Allah menciptakan nya hanya dengan sekali ucap/firman?“, ini keliru.

Allah tidak menciptakan Yesus dengan firman-Nya, dan Yesus bukanlah ciptaan Allah. Sebab Yesus sendiri adalah Allah. Ia adalah Allah Putera yang hakekatnya sama dengan Allah Bapa. Yesus (Allah Putera) dikenal sebagai Sang Firman yang sudah ada sejak awal mula, dan “Ia bersama- sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” (Yoh 1:1). Yesus sebagai Sang Firman ini tidak terpisah dari Allah Bapa, bagaikan terang tak terpisahkan dari sumbernya, sehingga dikatakan dalam Credo/ Syahadat Aku Percaya, “Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad”. Artinya, Yesus sebagai Allah Putera, sudah ada sejak awal mula, dan di dalam Dia segala sesuatu dijadikan (Yoh 1:3).

Maka pengertian “Putera/ Anak” ini tidak untuk diartikan bahwa Ia lahir dari hubungan suami istri. Istilah ini digunakan untuk menjelaskan bahwa Yesus dan Allah mempunyai hakekat yang sama, sepertihalnya bapa mempunyai hakekat yang sama dengan anaknya. Silakan agar anda ingin mengetahui lebih lanjut, untuk membaca artikel Trinitas: Satu Allah dalam Tiga Pribadi, silakan klik di sini. Sedangkan untuk lebih mengenal pribadi Yesus yang dalam penjelmaan-Nya di dunia adalah sungguh Allah dan sungguh manusia, silakan klik di sini.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab