Home Blog Page 254

Kolekte sebagai kegiatan liturgis: Bawa Pasar ke Altar dan Altar ke Pasar?

41

Belajar memberi

“Mama, mana uang kolektenya, adik yang akan masukkan ke dalam kantong kolekte ya Ma?” Itulah keinginan seorang anak usia lima tahun. Luar biasa. Sudah sejak kecil seorang anak yang biasa mengikuti perayaan Ekaristi Hari Minggu merasakan dorongan untuk memberi sumbangan berupa kolekte. Patut dipuji kalau ada dorongan seperti itu untuk belajar memanfaatkan kesempatan yang tersedia untuk memberi sesuatu bagi orang lain. Apalagi kalau dorongan itu disalurkan dengan ikhlas hati tanpa pamrih.

Dalam Injil, Yesus telah memuji keikhlasan hati seperti itu yang diperlihatkan oleh seorang janda miskin ketika ia memasukkan dua peser ke dalam peti persembahan. Menurut Yesus si janda miskin itu memberi lebih banyak karena ia memberi dari kekurangannya, bukan dari kelebihannya (bdk Luk 21:1-4). Mengapa?

Umumnya manusia cenderung merasa kekurangan ini dan itu. Karena itu ada keinginan kuat juga untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya dengan keyakinan semakin banyak memiliki, semakin terjamin hidup hari ini dan masa depan. Maka dapat timbul rasa haus akan harta yang semakin banyak dari waktu ke waktu dan dapat berkurang rasa rela memberi atau membagi apa yang dimiliki kepada orang lain yang berkekurangan. Selain itu keberhasilan dalam mengumpulkan lebih banyak dapat menimbulkan rasa perasaan bangga atas karya sendiri, semacam rasa mengandalkan kekuatan diri sendiri, rasa sukses karena kerja keras dan bisa saja pada akhirnya mengurangi kepekaan akan anugerah daya kekuatan dari atas, dari Allah sebagai sumber hidup.

Pemberian si janda miskin dalam Injil itu amat bermakna karena sebenarnya mengungkapkan pemberian seluruh diri. Si janda miskin itu tidak menunda kesempatan untuk memberi sesuatu kepada orang lain meskipun ia tidak mengenal orang-orang itu. Ia tidak menanti sampai ia berkecukupan atau berkelebihan. Kesempatan yang tersedia untuk memberi dimanfaatkannya dengan segera. Kebiasaan menunda-nunda dalam memberi karena macam-macam pertimbangan dapat membuat manusia kehilangan kepekaan terhadap kebutuhan orang lain yang sangat mendesak. Setiap pemberian (termasuk derma atau kolekte) selain bermaksud menolong orang yang berkekurangan, sebenarnya pertama-tama menjadi suatu tanda untuk menyampaikan pujian dan syukur kepada Tuhan, sumber hidup yang memberi kepada semua makluk anugerah berlimpah yang menguatkan dan menghidupkan.

Dua persepuluhan dan kolekte

Kolekte dalam liturgi mengingatkan kita akan kebiasaan orang Israel untuk mempersembahkan kepada Tuhan hasil karya yang pertama, baik hewan maupun hasil panen perdana (Kel 27:7; Im 1:3; Im 23:10-13; Ul 26:2). Orang-orang Israel mengenal kebiasaan memberi dua persepuluhan, yang menjadi tanda syukur atas anugerah dari Tuhan berupa hasil ternak dan panen. Secara konkret pemberian itu digunakan untuk memberi makan kepada kaum Lewi yang menjalankan fungsi pelayanan sebagai imam. Sebagian lagi diberikan kepada orang-orang miskin yang sangat membutuhkan pertolongan.

Kebiasaan mempersembahkan persepuluhan ini diteruskan juga oleh para pengikut Kristus. Banyak Gereja mempraktekkan cara persembahan ini. Besarnya persembahan itu bisa  tepat sebagai persepuluhan, tetapi ada juga pemberian yang kurang atau bahkan lebih dari persepuluhan. Ada yang memberikannya di luar perayaan liturgis tetapi ada yang melakukannya sebagai bagian utuh dari perayaan liturgis. Kita mengenal bentuk pemberian sebagian dari hasil karya atau pendapatan kita pada saat perayaan liturgis dengan nama kolekte.

Pada hari Minggu, Hari Raya atau hari-hari perayaan khusus, biasanya dibuat kolekte untuk disatukan dengan bahan persembahan roti dan anggur serta bahan persembahan lain yang diarak ke altar agar diambil oleh pemimpin perayaan yang bertindak selaku Kristus yang menghargai setiap pemberian sekecil apa pun (bdk. Mat. 14:15-19). Kolekte bersama bahan persembahan lainnya seharusnya diterima dengan penuh sukacita dan dihargai dengan meletakkannya di suatu tempat yang pantas, sebaiknya dekat altar (bukan di atas meja altar), karena di atas altar hanya diletakkan bahan korban syukur Yesus Kristus yaitu roti dan anggur ((Pedoman Umum Misale Romawi no. 73 dan 140 (terj. dari Institutio Generalis Missalis Romani, editio typica tertia 200, oleh Komisi Liturgi KWI, Jakarta 2002), hlm. 53 dan 75. Selanjutnya disingkat PUMR.)) yang akan diubah menjadi Tubuh dan Darah Yesus Kristus.

Meremehkan kolekte

Sikap penghargaan atas bahan-bahan persembahan dan kolekte itu tidak selalu diungkapkan oleh imam pemimpin perayaan. Bahkan bisa muncul kekecewaan atau kemarahan kalau imam melihat bahan-bahan persembahan sangat minim dan tak berharga di hadapan matanya. Pernah terjadi dalam suatu perayaan Ekaristi imam pemimpin merasa jengkel sekali melihat kurangnya bahan persembahan yang dihantar oleh umat. Serta merta imam itu mengubah teks nyanyian persiapan persembahan yang sedang dinyanyikan oleh umat untuk mengiringi perarakan. Teks nyanyian sebenarnya adalah:

Trimalah roti anggur persembahan diri kami ((Teks nyanyian liturgi berjudul “Trimalah ya Bapa” dalam Yubilate: Buku Doa dan Nyanyian Katolik, no. 262, Disusun Oleh Komisi Liturgi Keuskupan Senusa Tenggara, Seksi Musik Liturgi (Penerbit Nusa Indah, Ende, 1991), hlm. 426. ))
Trimalah ya Bapa trimalah
Pralambang karya kami suka duka hidup ini
Trimalah ya Bapa trimalah.
(Trimalah syukur kami atas sgala kurnia-Mu
Trimalah ya Bapa trimalah): 2x

Secara spontan teks itu diubah oleh imam yang menyanyikannya dengan suara sangat lantang sehingga didengar oleh seluruh umat (teks yang diubah dicetak dengan huruf tebal):

Tidak ada ya Tuhan persembahan diri kami
Tidak ada persembahan
Pralambang karya kami suka duka hidup ini
Tidak ada persembahan
(Tak ada syukur kami atas sgala kurnia-Mu
Tidak ada persembahan): 2x

Spontanitas yang kreatif ini (semoga tak terulang!) memang menimbulkan kegaduhan dalam gereja. Umat bersungut-sungut karena pemberian mereka sama sekali dipandang hina tak berarti bahkan dipandang “tidak ada” oleh sang pastor. Bagi umat spontanitas sang pastor itu tidak mewakili sikap Kristus yang penuh rasa penghargaan terhadap semua bahan persembahan. Yesus Kristus sendiri memberi contoh yang patut ditiru oleh semua imam, yang sebenarnya bertindak dalam setiap perayaan liturgi “selaku Kristus” (in persona Christi). ((PUMR, no 27; Sacramentum Caritatis (Sakramen Cinta Kasih), Anjuran Apostolic Pasca-Sinode dari Bapa Suci Benedictus XVI kepada Para Uskup, Imam, Biarawan-Biarawati, dan Kaum Beriman Awam, mengenai Ekaristi sebagai Puncak Kehidupan serta Perutusan Gereja (Terj. Komisi Liturgi Konferensi Waligereja, Jakarta, 2008), no. 23.)) Yesus sendiri menerima dengan sukacita lima ketul roti dan dua ekor ikan dari seorang anak kecil, lalu mengucap syukur atas roti dan ikan itu (bukan mengeluh dan menolak karena terlalu sedikit dan justru diberi oleh anak kecil), Ia memecah-mecahkan dan membagi-bagikannya kepada ribuan orang (bukan memakannya sendiri) dan mereka semua yang berjumlah ribuan makan sampai kenyang, bahkan masih ada sisa duabelas bakul penuh (bdk. Yoh 1:1-14).

Menghargai dengan tulus dan gembira setiap pemberian, bersyukur atas setiap bentuk pemberian dan kerelaan memecahkan serta membagi-bagikannya untuk banyak orang lain yang membutuhkan, akan sungguh membuat banyak orang kagum dan bahagia. Itu berarti mengambil bagian dalam melestarikan mujizat Yesus. Setiap kali kita merayakan Ekaristi, peristiwa itu dan maknanya kita kenangkan dan alami kembali.

Menghargai dengan tulus

Dalam sharing pengalaman liturgi di Taipei (Taiwan) pada sidang para pemerhati liturgi Asia Tenggara dan Asia Timur tahun 2004, seorang imam dari wilayah pedalaman Kamboja berceritera sebagai berikut:

Dalam salah satu perayaan Ekaristi di sebuah desa yang terpencil, saya melihat seorang anak kecil aktif menolong sebagai salah satu petugas pengumpul kolekte. Anak itu mengedarkan kotak kolekte kepada teman-temannya yang masih kecil. Ia memperlihatkan dengan wajah gembira kotak kolekte kepada semua anak dengan harapan dapat diisi oleh mereka. Namun ternyata kotaknya kosong tak terisi. Anak itu tidak malu karenanya. Bahkan ia berani berarak bersama para petugas kolekte lain menuju altar dan menyerahkan kotak yang kosong itu kepada sang imam. Saya menerimanya dengan senyum. Lalu secara spontan saya mengangkat kotak kolekte yang kosong itu dan berdoa, “Pandanglah kami umat-Mu ya Tuhan yang mahamurah, berkenanlah menerima apa yang ada pada kami, diri kami seadanya, juga kekosongan dan kekurangan kami, terimalah dan penuhilah sesuai dengan kehendak-Mu”.

Itulah sikap yang terpuji, sikap penghargaan yang tulus seperti Yesus sendiri yang tidak pernah menolak pemberian yang tulus. Cerita contoh ini tidak bermaksud mendorong kita untuk tidak memberi apa-apa dalam kesempatan kolekte, tetapi sebaliknya mau menyemangati kita untuk mempersembahkan sesuatu sebagai bagian utuh dari diri kita dengan semangat “kenosis”, semangat pengosongan diri di hadapan Tuhan sumber pemenuhan hidup manusia baik rohani maupun jasmani.

Makna kolekte

Apa saja yang dikumpulkan untuk dipersembahkan dan apa maknanya? Dalam praktek Gereja abad III, selain roti dan anggur untuk Ekaristi, dipersembahkan juga minyak, lilin, gandum, buah anggur dan barang bernilai lainnya. Pada abad pertengahan muncul kebiasaan mengumpulkan derma dalam bentuk uang sebagai bagian dari persiapan persembahan. ((P.Visentin, “Eucaristia”, dalam Domenico Sartore e Achille M.Tricca (ed.), Nuovo Dizionario di Liturgia (Edizioni Paoline, Roma, 1983), hlm 497;  Bdk. P.Bernard Boli Ujan, SVD, Mendalami Bagian-bagian Perayaan Ekaristi (Yogyakarta, 1992), hlm. 44-48.)) Pengumpulan uang derma dapat dilakukan sebagai awal persiapan persembahan. Inilah yang disebut kolekte. ((Tata Perayaan Ekaristi (Ordo Missae), Buku Imam (Terj. Komisi Liturgi KWI, Jakarta 2008), no. 19, hlm. 37. Selanjutnya disingkat TPE.)) Selain asal usul kata kolekte, juga konteks liturgis persiapan persembahan ini turut memberi makna pada kegiatan kolekte itu.

Kata kolekte berasal dari collecta (bahasa Latin) yang berarti sumbangan untuk makan bersama, pengumpulan, rapat atau sidang. ((P. Th. L Verhoeven, SVD, dan Marcus Carvallo, Kamus Latin-Indonesia (Ende, Penerbit Ledalero, Maumere 1969), hlm. 163.)) Istilah yang sama ini (collecta) dalam tradisi liturgi dipakai untuk persekutuan beriman yang terbentuk sebagai satu kelompok doa di suatu tempat (gereja). Di Roma pada abad-abad pertama biasanya umat berkumpul di salah satu gereja “statio”. Di sana mereka berdoa bersama lalu berarak bersama-sama menuju tempat perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Paus di sebuah gereja lain sambil berdoa dan bernyanyi. ((Mengenai sejarah Ekaristi di gereja statio di Roma, lihat Marcel Metzger, “The History of the Eucharistic Liturgy in Rome” dalam Anscar J.Chupungco, O.S.B. (ed.), Handbook for Liturgical Studies: The Eucharist (A Pueblo Book, The Liturgical Press Collegeville, Minnesota, 1997), hlm. 110-114)) Selanjutnya istilah collecta dipakai juga sebagai nama untuk Doa Pembuka dalam perayaan Ekaristi, karena doa itu yang diucapkan secara lantang oleh imam pemimpin sebenarnya mengumpulkan dalam rumusan yang singkat-padat semua intensi atau maksud hati dari umat beriman yang hadir (yang berdoa dalam hati dalam keheningan sesudah ajakan imam: “Marilah berdoa”). ((PUMR, no. 54; Bdk. Vincenzo Raffa, Liturgia eucaristica, mistagogia della messa: dalla storia e dalla teologia alla pastorale practica (Edizioni Liturgiche, Roma, 1998), hlm. 68-69; P.Bernard Boli Ujan, SVD, Op.Cit. hlm. 23-24.)) Maka collecta dalam arti pengumpulan uang (kolekte) sebagai bagian dari persiapan persembahan mempunyai hubungan erat sekali dengan persatuan-persaudaraan dan dengan doa.

Kolekte tidak hanya sekedar memberikan sesuatu dari diri sendiri kepada orang lain, tetapi kolekte itu mempererat persatuan-persaudaraan antara kita dengan orang lain yang menerima sesuatu dari diri kita. Kolekte adalah bagian dari doa yang mempersatukan kita sebagai saudara saudari dalam Tuhan. Kita bisa berdoa dengan kata-kata, dengan nyanyian, dengan sikap-gerak, tetapi juga dengan pemberian (kolekte). Aspek penting dari doa yang seharusnya mewarnai juga pemberian (kolekte) adalah syukur-pujian atas anugerah yang telah diterima dan atas kesempatan untuk berbuat baik dengan meneruskan anugerah itu kepada orang lain yang membutuhkannya meskipun orang-orang itu tidak kita kenal. Inilah makna liturgis penting dari kolekte: bersama-sama mengumpulkan sesuatu untuk kepentingan banyak orang lain. Maka semakin kita rela memberi (kolekte) semakin kita tahu bersyukur (dalam Doa Syukur Agung), semakin kita bersatu padu dengan saudara-saudari yang lain dan dengan Tuhan sendiri sebagai sumber anugerah (dalam komuni).

Menurut tradisi liturgi memang pernah ada semacam syarat untuk boleh menerima komuni (menyambut Tubuh dan Darah Yesus Kristus), yaitu selain berada dalam keadaan pantas-layak karena penuh rahmat dan tidak berdosa berat, juga kalau penerima komuni itu telah membawa dan memberi sesuatu sebagai bagian dari kolekte pada saat persiapan persembahan. ((“Dalam sinode Elvira (awal abad IV) ditegaskan bahwa umat yang membawa persembahan adalah umat yang ikut komuni. Maka persembahan itu dibawa hanya oleh orang yang telah dipermandikan dan mau berpartisipasi lebih penuh sebagai umat beriman yang sudah dipilih menjadi imam rajawi. Di daerah Gallia terdapat kebiasaan menyebut nama orang yang membawa pesembahan dalam doa persembahan. Tetapi di Roma tidak ada tradisi itu.” P.Bernard Boli Ujan, SVD, Op.Cit. hlm. 45-46.)) Ada hubungan yang erat antara kolekte dan komuni dalam perayaan Ekaristi. Dalam hal ini kolekte tidak “membeli komuni”. Kalau kita memberi dengan penuh rasa syukur, dengan sendirinya kita mengalami persaudaraan-persatuan sejati bersama sesama dan Tuhan yang dirayakan secara sakramental dalam komuni.

Semangat yang benar

Dalam konteks persiapan persembahan, membuat kolekte berarti memberikan bagian dalam mempersiapkan bahan kurban syukur Yesus Kristus. Maka urutan perarakan dan penyerahan bahan-bahan persembahan adalah: pertama-tama roti dan anggur (yang akan menjadi Tubuh dan Darah Yesus Kristus) lalu bahan-bahan lain dan kolekte. ((Bdk. Peter J. Elliott, Ceremonies of the Modern Roman Rite: The Eucharist and the Liturgy of the Hours, A Manula for Clergy and All Involved in Liturgical Ministries (Ignatius Press, San Francisco, 1995), hlm. 100-105.)) Itu berarti kita tidak mengandalkan atau mengutamakan pemberian-kurban kita, tetapi menomorsatukan pemberian-kurban Yesus Kristus. Bila demikian kita terhindar dari sikap “memberi sambil menuntut balasan dari Tuhan” alias do ut des (Latin = saya beri supaya engkau membalas). Yesus sendiri memberi seluruh diri-Nya sebagai kurban syukur pujian kepada Bapa, tanpa menuntut apa-apa dari Bapa sebagai gantinya. Maka ganti memberi sambil menuntut, kita akan memberi dengan penuh rasa syukur kepada Tuhan yang selalu memperhatikan kebutuhan-kebutuhan kita. Kehadiran orang yang berkekurangan bisa menjadi kesempatan bagi kita untuk meneruskan kebaikan dan perhatian Tuhan yang berlimpah-limpah itu seraya mendorong orang-orang lain untuk selalu bersyukur kepada Tuhan, dan bukan terutama kepada kita. Itulah sebabnya Yesus mengingatkan kita untuk memberi dengan tangan kanan sedemikian rupa sehingga tangan kiri tidak mengetahuinya (bdk Mat 6:3).

Bila dirayakan Ibadat Sabda tanpa Ekaristi, ada kemungkinan membuat kolekte pada Ritus Penutup ibadat sebelum pengutusan dan berkat. Itu berarti kolektenya diberikan dalam konteks pengutusan ke tengah dunia. Kolekte lalu menjadi satu bentuk dari kesaksian iman bagi banyak orang lain yang dilayani dalam hidup harian. Selanjutnya dengan kolekte itu orang yang menerimanya dapat semakin percaya dan berharap pada Tuhan sumber kekuatan dan hidup. Maka kita tidak memberi kepada orang lain untuk membuat mereka menjadi malas dan kurang berusaha berdikari. Patut disesali bila kita enggan memberi kolekte hanya karena berprasangka bahwa pemberian cuma-cuma itu akan membuat si penerima kurang bersemangat untuk mencari jalan keluar mengatasi kekurangannya.

Untuk siapa?

Untuk siapa kolekte itu digunakan? Sejak abad-abad pertama umat beriman membuat kolekte dengan tujuan menopang hidup para pelayan altar, mengatasi kemiskinan orang-orang papa, dan memenuhi kebutuhan rumah Allah atau tempat ibadat. Para pelayan altar yang menjalankan tugas-tugas pengabdian bagi banyak orang lain termasuk memimpin perayaan-perayaan liturgis sepantasnya mendapat dukungan materi dan keuangan selain dukungan moril serta rohani agar dapat sehat, kuat dan tekun memberikan pelayanan sebagaimana mestinya. Bagi orang-orang miskin dan berkekurangan kolekte itu dapat membantu menciptakan keadilan untuk lebih banyak orang. Santo Yustinus dalam abad ke-tiga mengingatkan orang Kristen untuk tidak melalaikan kewajiban menolong orang miskin. Ia menulis dalam Apologia I, no. 65: “Orang-orang yang berada dalam kelimpahan kalau ingin menyumbang hendaknya meletakkan itu di dekat si pemimpin yang akan menggunakannya untuk membantu yatim piatu dan para janda, orang miskin yang sakit, para narapidana, orang-orang asing disekitarnya dan semua orang yang sangat membutuhkannya.” ((Lihat terjemahan dalam bahasa Inggris oleh R.C.D. Jasper & G.J.Cuming, Prayers of the Eucharist, 2nd ed. (New York, 1980), hlm. 20. Bdk. Herman Wegman, Christian Worship in East and West: A Study Guide to Liturgical History (terj. Gordon W. Lathrop dari teks asli Geshiedenis van de Christelijke Eredienst in het Westen en in het Oosten, Pueblo Publishing Company, New York, 1985), hlm. 42.)) Kemudian St. Agustinus kembali mencanangkan kewajiban orang Kristiani untuk memberi kolekte buat orang miskin. ((Bdk. Joseph A. Jungmann, The Mass of the Roman Rite: Its Origins and Development Vol. Two (Benzinger Brothers, Inc., New York, 1955) hlm. 1-41.))

Kolekte merupakan tanda solidaritas dengan orang-orang kecil, juga dengan keluarga, lingkungan, wilayah dan paroki bahkan keuskupan atau siapa saja yang menderita kekurangan tanpa batas wilayah maupun agama. Maka di beberapa tempat kolekte itu menjadi sumber untuk membentuk dana solidaritas. Ada banyak tempat yang membutuhkan dana untuk membangun dan memperlengkapi kebutuhan rumah sakit, panti asuhan atau rumah para lansia, selain rumah ibadat dan pastoran atau gedung paroki dan ruang serba guna untuk berbagai kegiatan umum.

Dalam kenyataan ada banyak paroki yang jumlah kolektenya setiap minggu mencapai jutaan bahkan puluhan juta rupiah. Namun tidak dapat disangkal bahwa banyak paroki hanya berhasil mengumpulkan kolekte mingguan sebanyak ratusan ribu atau bahkan hanya puluhan ribu rupiah. Mengapa? Umumnya orang langsung menunjukkan sebab perbedaan itu dalam tingkat kesejahteraan hidup para anggota persekutuan beriman di paroki masing-masing. Kolektenya besar karena umatnya kebanyakan kaya raya, kolektenya sedikit karena umatnya sebagian besar terdiri dari orang miskin. Mungkin ada benarnya, tetapi belum tentu selalu demikian.

Meningkatkan kesadaran

Hal lain yang sebenarnya sangat menentukan besar kecilnya kolekte adalah “kesadaran” para peraya akan pentingnya memberi sebagian dari hasil karya (pendapatan) tiap minggu kepada Tuhan dan sesama yang sangat membutuhkan. Maka perlu ditempuh cara yang tepat dan bijaksana untuk menumbuhkembangkan kesadaran itu. Menanamkan motivasi yang kuat, membuat laporan yang jujur dan transparan, menggunakan hasil kolekte sesuai dengan tujuan sebenarnya, menerima dengan rela dan menghargai dengan tulus berbagai bentuk kolekte (uang dan barang), kesaksian hidup (cara hidup) yang jujur dan sederhana dari para petugas pastoral yang bertanggungjawab mengelola dan menggunakan hasil kolekte, membuat pengawasan yang teliti dan memberikan katekese yang memadai, adalah beberapa cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan “kesadaran” memberi dan sekaligus memperbesar jumlah hasil kolektenya.

Untuk menanamkan kesadaran dan motivasi yang kuat dalam diri umat agar rela membagi apa yang ada padanya untuk kepentingan banyak orang lain yang membutuhkan, ada seorang pastor paroki yang menceriterakan anekdot sbb:

Konon ada pertengkaran antara lembaran uang kertas limapuluh ribu dengan limaratus rupiah. Lembaran limapuluh ribu mengejek yang limaratus rupiah katanya: Wah saya ini paling laku dan bersih karena saya bisa naik ojek, bisa naik taksi, bisa masuk rumah makan dan bisa masuk tempat diskotek, tetapi kau limaratus rupiah tidak laku apa-apa, naik ojek saja tidak bisa, apalagi naik taksi, lebih sulit lagi kau masuk diskotek dan rumah makan. Saya sangat bersih tapi kau kotor dan hitam. Kau sungguh tidak laku.
Maka kata lembaran limaratus rupiah: Iya saya memang tidak bisa naik ojek, juga sulit untuk naik taksi, apalagi masuk rumah makan, bioskop atau diskotek dan hotel mewah. Namun saya paling rajin dan setia masuk gereja. Kau biar bersih tetapi takut tampil bahkan tidak laku di hadapan Allah dalam gereja. Tetapi saya biar hitam, kotor dan lusuh, toh paling laku di tempat kudus. Kalau kau tidak undang saya untuk sama-sama naik ojek dan  taksi atau untuk sama-sama masuk rumah makan, diskotek, bioskop dan hotel berbintang karena saya kotor dan hitam, maka saya dengan sangat senang hati mengundang engkau hai limapuluh ribu rupiah agar rajin-rajinlah bersama saya mengunjungi gereja dan masuk ke dalamnya. Ayo jangan lupa minggu depan datang ke gereja ya. Pasti kau akan senang dan bahagia karena kau membawa kegembiraan besar kepada banyak orang. Kalau saya saja telah menggembirakan banyak orang termasuk pastor dan pembantu di sekretariat dan dapur, apalagi kau yang bersih dan cerah pasti membuat wajah orang lain semakin cerah. Saya yakin kalau kau rajin ke gereja, seratus ribu juga bisa tergerak melihat kegembiraan yang kau bagi-bagikan kepada banyak orang. Ayooo kita rame-rame bagi kegembiraan. Mari kita setia pergi ke gereja.

Ketika sang Pastor menceriterakan anekdot ini kepada umatnya, ada tawa ria di dalam gereja. Umat menganggukkan kepala tanda tergelitik geli dan setuju. Mereka memahami makna ajakan sang Pastor yang jenaka. Pesan yang jelas, dibalut dengan cerita lucu, mampu memberi umat motivasi yang kuat untuk rela memberi. Perlahan-lahan tetapi pasti, kolekte pada kesempatan-kesempatan berikutnya meningkat dan sungguh menggembirakan seluruh umat serta petugas pastoralnya. Pastor menyadari bahwa suatu katekese mengenai makna dan manfaat dari kolekte dalam liturgi serta hidup Gereja perlu dilaksanakan bagi seluruh umat dalam paroki.

Bawa pasar ke Altar dan Altar ke pasar?

Kolekte sungguh menggembirakan tetapi bisa saja disalahpahami dan disalahgunakan. Ada orang yang memandang kolekte sebagai alat yang ampuh di tangan manusia untuk membeli kemurahan Tuhan. Semangat jual beli di pasar dibawa masuk ke dalam tempat perayaan, menyusup masuk sampai di panti imam. Ada yang merasa bahwa tempat panti imam dan suasananya amat tepat untuk menyampaikan macam-macam reklame. Altar jadi tempat tawar menawar barang jualan antara manusia, tempat tawar menawar dengan Allah untuk membeli anugerah-Nya. Terjadilah simonia (bdk. Kis. 8:18-24). Sadar atau tidak ada kecenderungan mencontohi Simon seorang tukang sihir di sebuah kota di Samaria yang berani menawarkan uang kepada Petrus dan Yohanes untuk membeli kuasa menumpangkan tangan supaya Roh Kudus turun atas orang-orang yang mendapat tumpangan tangan itu. Hati Simon tidak lurus karena ia mau membeli karunia Allah dengan uang.

Karunia adalah karunia bukanlah barang jual-beli. Bila karunia dipandang sebagai barang dagangan, dan kolekte dipergunakan sebagai alat untuk membeli karunia dari Tuhan, maka kita telah membuat kekeliruan. Petrus menamakan sikap ini “suatu kejahatan” dan ia berseru kepada Simon tukang sihir itu, “Bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini; sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan.” Akhirnya Simon tukang sihir itu bertobat katanya, “Hendaklah kamu berdoa untuk aku kepada Tuhan, supaya kepadaku jangan kiranya terjadi segala apa yang telah kamu katakan itu” (Kis. 8:22-24). Beranikah kita mendengar dan menanggapi secara serius seruan Petrus itu? Maukah kita melihat kembali praktek-praktek kita dalam liturgi yang mengarah kepada simonia yaitu membeli karunia Allah dengan uang? Bukankah karunia-karunia Allah tidak boleh dibeli oleh manusia tetapi harus disyukuri terus menerus?

Ada petugas pastoral yang menggunakan kesempatan perayaan liturgi sebagai saat yang jitu untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dengan memperbanyak saat kolekte yang dikumpulkan dalam beberapa jenis kotak kolekte. Ada kotak satu, dua dan tiga atau dibedakan dengan warna: kotak abu-abu, kuning, merah dll disertai penjelasan tentang perbedaan peruntukannya. Liturgi dan gereja dapat berubah menjadi kesempatan jual beli, tempat pengumpulan dana sebesar-besarnya. Mengapa tidak diciptakan kesempatan non liturgis untuk mengumpulkan dana seperti bazar, malam dana dengan acara lelang dan jual suara? Ada banyak kalangan-kelompok dan paroki juga keuskupan yang telah melakukannya dan sangat berhasil tanpa mengorbankan perayaan liturgi dan ruang ibadat dalam gereja sebagai kesempatan transaksi.

Yesus pernah sangat marah karena pelataran Bait Suci di Yerusalem dijadikan tempat jual beli barang dagangan (bdk. Yoh. 2:13-16). Apalagi kalau bagian dalam gereja dipakai untuk mempromosikan barang-barang dan menjadi tempat jual-beli atau lelang-lelangan. Sangat disayangkan kalau gereja dan perayaan-perayaan liturgi khususnya Ekaristi menjadi tempat penawaran barang-barang jualan kepada umat dengan cara menggugah rasa religius umat. Kita harus cukup waspada terhadap kecendrungan membawa pasar kedalam gereja dan menggunakan Altar atau Mimbar Sabda sebagai tempat reklame barang-barang dagangan. Kewaspadaan yang sama perlu kita miliki bila mau membawa altar ke tengah pasar.

Di tengah pasar kita sebagai orang beriman mau bertransaksi dengan semangat penuh syukur dan kerelaan untuk saling membagi keuntungan dan kebahagiaan, bukan untuk mengeruk dan mengumpulkan keuntungan sebesar-besarnya seraya merugikan orang-orang lain secara tidak adil dalam bentuk apa saja entah sebagai penjual atau pembeli. Mampukah kita menghayati di tengah pasar semangat kurban-syukur yang kita rayakan di altar dalam gereja? Mampukah kita menghayati semangat yang sama dalam segala kegiatan tukar-menukar lain baik di rumah maupun di tempat kerja dan rekreasi? Sebagai orang beriman kita yakin bahwa dalam dan bersama Tuhan kita dapat menghayati semangat kurban syukur itu. Kalau kita menyadari dan menghayatinya dalam liturgi, kita diberi kekuatan juga untuk menjadi orang utusan yang berani memberi kesaksian tentang semangat ini dalam hidup sehari-hari.

Sacra comercia dan profana comercia

Dalam tradisi doa-doa liturgis digunakan satu ungkapan dari dunia pasar yang bisa menimbulkan salah kaprah. Ungkapan itu adalah sacra comercia (= perdagangan atau pertukaran suci) yang terdapat dalam kumpulan doa-doa Sacramentarium Veronense (abad V-VII) dan dipakai juga dalam Buku Misa Paulus VI edisi ke-tiga hasil revisi Paus Yohanes Paulus II tahun 2002, khususnya dalam doa-doa pada masa Natal dan Paskah. ((MISSALE ROMANUM, Ex Decreto Sacrosncti Oecumenici Concilii Vaticani II Instauratum Auctoritate Pauli PP. VI Promulgatum Ioannis Pauli PP. II Cura Recognitum, Editio Typica Tertia (Typis Vaticanis, A.D. MMII), hlm. 155, 163, 383, 384, 399-400, 406, 425)) Ungkapan “pertukaran suci” dipakai untuk menjelaskan tindakan Tuhan sebagai karya penyelamatan yang agung, anugerah terbesar bagi manusia ketika Yesus Putra Tunggal Allah turun ke dunia dan lahir menjadi manusia supaya kita ditebus dari dosa-dosa dan kematian abadi, dan ketika Yesus naik ke surga, kembali kepada Bapa, kita semakin diberi kemampuan untuk mengambil bagian dalam hidup ilahi Allah. Itulah tindakan penyelamatan Allah: menukar dosa dan kematian kita dengan penebusan dan hidup dalam Yesus Kristus, menukar kemanusiaan kita dan hidup sementara di bumi ini dengan hidup ilahi dan abadi dalam Allah.

Jadi sacra comercia adalah tindakan Allah, adalah anugerah keselamatan dari Allah, bukanlah tindakan kita manusia ala profana comercia (manusia mau menukar barang dan jasanya dengan uang sesama bahkan dengan anugerah Allah). Profana comercia terjadi kalau kita memberi kolekte sesudah homili, dengan maksud untuk membayar jasa pengkhotbah, sehingga semakin hebat pengkhotbahnya semakin besar kolektenya. Kalau kita menghantar kolekte ke kaki altar, dengan tujuan utama untuk membayar jasa imam yang memimpin misa dan mau membeli anugerah kebaikan Tuhan di altar yang sebenarnya diberi kepada kita dengan cuma-cuma, itu juga profana comercia yang tidak lain adalah simonia. Apalagi kalau Mimbar Sabda dan Altar kita pakai untuk menjual produk-produk kegiatan manusia kepada para pembeli yang adalah umat beriman. Seraya menghindarkan profana comercia di dalam liturgi, kita mau mengalami dengan rasa kagum dan penuh syukur-pujian sacra comercia Allah sendiri, karunia penyelamatan cuma-cuma dari Allah. Maka kita akan memberi kolekte dengan rela dan tulus terutama untuk bersyukur kepada Tuhan atas anugerah Sabda-Nya dan mengambil bagian dalam kurban Syukur Yesus Kristus. Kita boleh memberi kolekte sambil menyampaikan permohonan-permohonan tetapi selalu dalam semangat penuh syukur bukan dalam semangat menuntut dan memaksa Tuhan.

Kiat-kiat

Untuk menghindarkan penyalahgunaan kolekte agar tujuan sebenarnya dapat terwujud, maka pemantauan tentang penggunaan kolekte serta laporan pertanggunganjawab yang transparan akan sangat berguna. Pemantauan yang teliti menolong membentuk satu sistim keuangan yang rapih dan teliti sekaligus menjauhkan kecenderungan untuk korupsi. Administrasi keuangan yang amburadul memberi peluang yang besar untuk menggelapkan uang dan barang-barang milik Gereja. Kalau hal itu terjadi, berdasarkan pengalaman di banyak paroki atau komunitas, semangat umat beriman untuk memberi kolekte akan menurun.

Laporan yang transparan dan jujur tidak hanya meliputi besarnya pemasukan dan pengeluaran, tetapi juga pengeluaran untuk pemakaian sesuai dengan tujuan awal pengumpulan kolekte itu. Kalau tujuan kolekte jelas dan pengeluarannya juga sesuai dengan sasaran yang dimaksud, maka kepercayaan umat akan bertumbuh dan kerelaan untuk memberi kolekte dengan sendirinya akan dipacu. Bagi semua orang yang telah dengan rela memberikan kolekte, pertanggunganjawab yang transparan merupakan satu tanda terima kasih yang ikhlas. Transparansi laporan keuangan turut memperlihatkan penghargaan yang tulus kepada semua orang yang telah memberi kolekte dengan rela dan tulus.

Kesaksian lewat cara hidup yang sederhana sangat berpengaruh dalam meningkatkan jumlah kolekte, sebaliknya gaya hidup yang serba mewah dari para petugas pastoral dapat mengurangkan kolekte. Demikian pula cara pemanfaatan uang atau barang-barang milik Gereja yang efektif demi kepentingan umum akan menanamkan kepercayaan dalam diri umat untuk rela memberi. Sebaliknya cara hidup boros dari para petugas pastoral turut memperlemah semangat umat untuk memberi. Bila petugas pastoral memiliki semangat tinggi untuk melayani orang lain dengan rendah hati, maka umat semakin percaya bahwa pemberian mereka tidak disia-siakan tetapi diteruskan oleh para hamba yang setia dalam melaksanakan tugas penggembalaan. Petugas pastoral seperti inilah yang selalu didukung oleh umat yang dilayani, misalnya lewat kerelaan dan kesetiaan memberi kolekte.

Semoga Nama Tuhan semakin dipuji karena kesaksian hidup orang beriman baik yang memberi maupun yang mengelola dan memanfaatkan kolekte yang diperoleh dalam liturgi. Kiranya orang-orang yang berkehendak baik memperoleh rahmat dan damai sejahtera dari Tuhan secara berlimpah-limpah dan berusaha meneruskan anugerah kebaikan Tuhan kepada lebih banyak orang lain yang berkekurangan agar dapat semakin mengalami sacra comercia Allah dan menjauhkan profana comercia yang mengarah kepada simonia baik dalam liturgi maupun dalam hidup harian.

Tentang ‘Petros’ dan ‘Petra’

14

Berikut ini adalah tanggapan atas keberatan-keberatan yang diajukan sehubungan dengan batu karang yang disebutkan di dalam Mat 16:18. Kalau ada pembaca yang mempunyai tambahan keberatan yang belum dibahas di sini, silakan untuk menambahkannya.

1. Yesus berbicara dalam bahasa Aram?

Pandangan Protestan di atas seolah mengatakan bahwa pada Mat 16:18, Yesus tidak berbicara dalam bahasa Aram, atau anggapan bahwa Yesus berbicara dalam bahasa Aram itu hanyalah suatu spekulasi. Namun jika kita membaca ayat- ayat Kitab Suci lainnya, kita mengetahui bahwa memang sesungguhnya nama yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada Simon Petrus adalah Kepha (= Kefas dalam terjemahan Indonesia), yaitu suatu kata bahasa Aram yang berarti batu karang. Ini disebutkan oleh Rasul Yohanes dalam Injilnya (Yoh 1:42), dan juga oleh Rasul Paulus dalam suratnya (Gal 1:18). Maka para rasul yang lain mengingat bahwa nama yang Tuhan Yesus berikan kepada Simon adalah ‘Kefas’, dari bahasa Aram. Maka, sebenarnya ayat  Mat 16:18 itu sesungguhnya mengatakan, “Kamu adalah Kefas, dan di atas Kefas ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku.” Dan Kefas ini adalah Rasul Simon Petrus.

Di Kitab Suci sendiri kita mengetahui perkataan lain, seperti “Eli, Eli, lama sabakhtani” (Mat 27:46; Mrk 15:34) yang juga adalah bahasa Aram. Dan dengan demikian bahwa Yesus berbicara dalam bahasa Aram bukanlah suatu spekulasi. Bahwa Kitab Suci kemudian dituliskan dalam bahasa Yunani, itu berhubungan dengan kondisi saat itu yang memang menggunakan bahasa Yunani sebagai bahasa dalam literatur (dan juga percakapan); namun itu tidak mengubah kenyataan bahwa Yesus sebenarnya memberikan nama “Kefas” dari kata Aram, kepada Simon, yang dalam bahasa Yunani-nya diterjemahkan sebagai “Petros”, sehubungan dengan gender maskulin yang ada dalam tata bahasa Yunani untuk nama seorang pria.

2.“Petros”= batu kecil; “Petra” = batu besar?

Paham Protestan umumnya mengatakan bahwa “Petros” artinya batu kecil dan “Petra” artinya batu besar/ batu karang. Sehingga, paham ini berkesimpulan bahwa perkataan Yesus, “Kamu adalah Petros, dan di atas petra ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku” menunjukkan bahwa ‘Petros’ dan ‘petra’ ini tidak sama. Petros adalah nama lain Simon, sedangkan ‘petra’ / batu karang adalah untuk diartikan sebagai Kristus sendiri ataupun pengakuan iman Simon.

Para apologist Katolik umumnya mengatakan bahwa sebenarnya ‘petros’ dan ‘petra’ mengacu kepada arti yang tidak berbeda, yaitu sama- sama batu besar. Hal ini juga dikatakan oleh ahli bahasa Yunani Protestan yaitu D.A Carson dalam bukunya “Matthew”. in Frank E. Gaebelein, ed. The Expositor’s Bible Commentary (Grand Rapids: Zondervan, 1984), vol.8, 368; dan Joseph Thayer, dalam bukunya Thayer’s Greek- English Lexicon of the New Testament (Peabody: Hendrickson, 1996), 507.

Kata “batu kecil” yang dipakai dalam bahasa Yunani adalah ‘lithos‘, bukan ‘petros‘. Maka kata ‘lithos‘ (bentuk jamaknya adalah ‘lithoi‘ yang dipakai dalam ayat Mat 4:3, pada saat Iblis mencobai Yesus, untuk mengubah batu- batu (lithoi) menjadi roti. Kata ‘lithoi‘ ini juga yang dipakai oleh Rasul Petrus pada saat menasihati jemaat agar hidup sebagai batu (‘lithoi‘) yang hidup yang membentuk sebuah rumah rohani (1 Pet 2:5). Kalau seandainya Yesus (dan Matius) menginginkan ditampilkan perbedaan ini (batu besar dan batu kecil) maka yang digunakan harusnya adalah, “Kamu adalah lithos (batu kecil) dan di atas petra (batu besar) ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku.” Jika demikian malah kalimatnya menjadi tidak logis bukan, karena sepertinya tidak ‘nyambung’.

Kita perlu melihat bahwa kalimat tersebut terdiri dari dua bagian kalimat yang dihubungkan oleh kata “dan”. Matius memilih kata “kai” untuk menghubungkan kedua bagian kalimat itu, di mana kata “kai” itu mengacu kepada “pronoun”/ subyek yang sama yang sudah disebut sebelumnya. Selanjutnya, digunakan kata ‘taute‘ yang kalau dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai “this very“, atau dalam bahasa Indonesianya adalah “dan inilah”. Maka sesungguhnya, yang ingin dikatakan oleh Yesus adalah, “Kamu adalah Petros (batu karang), dan di atas petra (batu karang) inilah, Aku akan mendirikan Gereja-Ku.”

Jika maksud Yesus adalah untuk membedakan keduanya, Matius seharusnya menggunakan kata “alla”  yaitu “tetapi” sehingga tidak mengacu kepada subyek yang sedang dibicarakan sebelumnya, atau dapat diartikan sebagai batu yang lain. Tetapi kita mengetahui tidak demikian halnya.

Maka untuk menjawab pertanyaan di atas: kalau memang Petros dan petra sama artinya, mengapa tidak ditulis “Engkau adalah Petros, dan di atas petros ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku”? Jawabannya adalah: karena dalam tata bahasa Yunani dikenal sistem gender, seperti halnya dalam bahasa Latin, di mana batu karang (secara literal) itu mempunyai gender feminin dengan akhirannya adalah “a”.  Maka Yesus memberi nama baru kepada Simon, untuk dihubungkan dengan karakter yang dilambangkannya yaitu batu karang (petra); yang memang terpampang di hadapan mereka pada saat Yesus mengatakan hal ini kepada mereka, di Kaisaria, Filipi. [Silakan anda klik di wikipedia atau sumber internet lainnya untuk melihat potret lokasi Caesarea, Phillipi, agar anda lebih memahami konteks yang dibicarakan di sini].

3. “Petra” di sini artinya “pengakuan iman Petrus” dan bukan Petrus?

Ada juga pandangan Protestan yang mengatakan bahwa “batu karang”/ petra yang dimaksud di sini adalah “pengakuan Petrus” dan bukannya Petrus sendiri. Pandangan ini sesungguhnya adalah pandangan yang hanya mengambil interpretasi alegoris/ simbolis tetapi tidak mau mengambil arti literalnya. Sebaliknya, Gereja Katolik mengambil keduanya, yaitu “petra”/ batu karang (Mat 16:18) tersebut mengacu kepada Petrus (arti literal) oleh sebab pengakuan imannya akan Kristus sebagai Anak Allah yang hidup (arti alegoris/ simbolis).

Banyak ahli Kitab Suci Protestan mengakui bahwa Petruslah “batu karang” yang dimaksud dalam pernyataan Yesus ini. Silakan klik di sini untuk membaca pengajaran mereka, antara lain Oscar Cullmann (Lutheran), Eduard Schweizer, Francis W. Beare dan Thomas G. Long (Reformed), D.A Carson, Herman Ridderbos, Craig Blomberg, Craig Keener (Evangelis Protestan), R. T France (Anglikan). Cullmann menuliskan, “Tapi apa yang dimaksudkan oleh Yesus ketika mengatakan: “Di atas Batu Karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku?” Ide para Reformer bahwa Ia [Yesus] mengacu kepada iman Petrus adalah sangat tidak terbayangkan (inconceivable)…. Sebab tidak ada referensi yang mengacu kepada iman Petrus. Yang ada, paralel/ perbandingan antara “Kamu adalah Batu Karang” dan “di atas Batu Karang ini Aku akan membangun” menunjukkan bahwa Batu Karang yang kedua adalah sama dengan Batu Karang yang pertama. Oleh karena itu, jelaslah bahwa Yesus mengacu kepada Petrus, yang kepadanya Ia telah memberi nama Batu Karang. Ia telah menunjuk Petrus… Dalam hal ini exegesis Gereja Katolik benar, dan semua usaha gereja Protestan untuk menghapuskan interpretasi ini harus ditolak. (lihat Oscar Cullmann, dalam artikel “Rock̶1; (petros, petra) trans. and ed. by Geoffrey W. Bromiley, Theological Dictionary of the New Testament (Eerdmans Publishing, 1968), volume 6, p. 108).”

4. Hanya Tuhan saja yang dapat disebut “Batu Karang”?

Argumen lainnya dari umat Protestan adalah bahwa hanya Tuhan-lah yang layak disebut sebagai ‘Gunung Batu/ batu karang’, seperti yang ditulis dalam Yes 44:8, “Adakah Allah selain dari pada-Ku? Tidak ada Gunung Batu yang lain, tidak ada Kukenal!” dan 1 Kor 10:4, “sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.”

Memang Tuhan disebut sebagai ‘Gunung Batu’/ ‘the Rock‘ di Yes 44:8, dan bahkan di banyak ayat lainnya. Namun juga di tujuh bab kemudian dalam kitab Yesaya, yaitu Yes 51: 1-2, dikatakan Abraham adalah gunung batu yang daripadanya bangsa Israel terpahat. Serupa dengan hal ini adalah: Yesus disebut sebagai dasar Gereja (1 Kor 3:11) tetapi dalam Why 21:14 dan Ef 2:20, dikatakan bahwa dasar Gereja adalah para rasul. Atau dikatakan bahwa Yesus adalah Terang Dunia (Yoh 9:5) tetapi Kitab Suci juga mengatakan bahwa kita sebagai murid- murid Kristus adalah terang dunia (Mat 5:14). Juga, Yesus adalah Sang Rabi/ guru pengajar, namun ada banyak pengajar di dalam Tubuh Kristus (Ef 4:11; Yak 3:1).

Maka bukanlah suatu kontradiksi untuk mengatakan jika dasar Gereja adalah para rasul, sebab mereka dapat menjadi dasar Gereja karena mereka ada di dalam Kristus, Sang Dasar/ Pondasi. Demikian juga, Gereja dapat menjadi terang dunia karena ia berada di dalam Kristus yang adalah Terang Dunia. Seorang guru pengajar dapat mengajar karena ia ada di dalam Kristus Sang Guru. Dengan pengertian ini kita mengartikan Petrus sebagai ‘batu karang’. Keberadaannya sebagai ‘batu karang’ tidak mengurangi makna Kristus sebagai ‘Batu Karang/ Gunung Batu’ sebab karakternya sebagai batu karang tersebut diperoleh dari Kristus.

5. Mari mengikuti ajaran St. Agustinus

Di komentar di atas, sang penjawab mengatakan agar kita kembali kepada ajaran St. Agustinus:

For on this very account the Lord said, ‘On this rock will I build my Church,’ because Peter had said, “Thou art the Christ, the son of the living God.’ On this rock, therefore, He said, which thou hast confessed, I will build my church. For the Rock (petra) was Christ; and on this foundation was Peter himself also built. For other foundation no man lay that this is laid, which is Christ Jesus.” (Augustine, Homilies on the Gospel of John).

Tentu saja Gereja Katolik juga setuju dengan ajaran ini, bahwa memang Kristus adalah Sang Batu Karang. Namun mengatakan bahwa Petrus adalah “batu karang” juga tidaklah bertentangan dengan ajaran ini, karena ‘batu karang’ yang dimaksudkan di sini juga tidak untuk diartikan terpisah dari Kristus. Maka Petrus sebagai ‘batu karang’ itu bukan untuk dianggap ‘saingan’ Kristus, seolah- olah Petrus adalah batu karang yang lain dengan Kristus. Petrus hanya menerima karakter batu karang dari Kristus Sang Batu Karang; sama seperti kita sebagai murid- murid Kristus menjadi terang dunia karena mengambil sumbernya dari Kristus Sang Terang Dunia.

Selanjutnya, jika mau konsisten, seharusnya sang penjawab surat di atas juga menerima ajaran St. Agustinus berikutnya tentang keutamaan Paus. Tentang ayat Mat 16:18, St. Agustinus menjelaskan kembali dalam bukunya Retractiones, 1, 20,1, demikian:

“…. Tetapi aku mengetahui hal itu sangat sering pada saat- saat berikutnya, sehingga aku menjelaskan apa yang Tuhan katakan: “Kamu adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku’, bahwa itu harus dimengerti sebagai dibangun di atas Dia yang kepada-Nya Petrus mengaku: “Engkau adalah Kristus, Anak Allah yang hidup,” dan oleh karena itu, Petrus, yang dipanggil ‘batu karang’ ini, mewakili Gereja yang didirikan di atas batu karang ini, dan telah menerima ‘kunci-kunci Kerajaan Surga‘….” (lihat St. Augustine: The Retractions, trans. Sister Mary Inez Bogan (Washington, D.C.: Catholic University of America Press, 1968) 60:90-91).

Maka, St. Agustinus mengajarkan bahwa Sang Batu Karang adalah Kristus, di mana Petrus juga membangun di atasnya, namun itu tidak mengubah ajarannya tentang keutamaan Petrus [yang mewakili seluruh Gereja] dan para penerusnya. Ia bahkan menunjukkan pentingnya jalur apostolik ini untuk membuktikan Gereja sejati; untuk menolak ajaran sesat Donatism yang uskup- uskupnya tidak mempunyai jalur apostolik. Sayangnya Luther dan Calvin, yang sama- sama mempelajari St. Agustinus, rupanya ‘menganggap sepi’ ajaran ini, atau hanya memilih sebagian dari ajaran St. Agustinus yang mereka pandang mendukung pandangan mereka.

Berikut ini adalah ajaran St. Agustinus:

“Jika urutan episkopal secara turun temurun adalah sesuatu yang harus dipertimbangkan, adalah lebih lagi dalam hal kepastian, kebenaran dan keamanan, kita mengurutkannya dari Petrus sendiri, yang kepadanya, sebagai seorang yang mewakili seluruh Gereja, Tuhan Yesus berkata, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Petrus digantikan oleh Linus, Linus oleh Klemens, Klemens oleh Anacletus, Anacletus oleh Evaristus, Evaristus oleh Sixtus, Sixtus oleh Telesforus, Telesforus oleh Hyginus, Hyginus oleh Anicetus, Anicetus oleh Pius, Pius oleh Soter. Soter oleh, Alexander, Alexander oleh Victor, Victor oleh Zephyrinus oleh Callistus, Callistus oleh Urban, Urban oleh Pontianus, Pontianus oleh Anterus, Anterus oleh Fabian, Fabian oleh Cornelius, Cornelius oleh Lucius, Lucius oleh Stephen, Stephen oleh Sixtus, Sixtus oleh Dionisius, Dionisius oleh Felix, Felix oleh Eutychian, Eutychian oleh Caius, Caius oleh Marcellus, Marcellus oleh Eusebius, Eusebius oleh Melchiades, Melchiades oleh Sylvester oleh Markus, Markus oleh Julius, Julius oleh Liberius, Liberius oleh Damasus, Damasus oleh Siricius, Siricius oleh Anastasius. Dalam urutan ini tidak ada satupun uskup Donatist ditemukan.”(St. Augustinus, To Generosus, Letter 53, 2 Jurgens, Faith of the Early Fathers, 3:2)

Akhirnya, mari kita melihat argumen masing- masing dan menilai manakah yang lebih masuk akal dan sesuai dengan Kitab Suci dan Tradisi Suci. Walaupun rangkaian artikel Keutamaan Paus yang ada di situs ini belum lengkap (baru sampai bagian ke-4) namun saya percaya, jika kita mau membacanya dengan hati yang terbuka tanpa prasangka, maka sebenarnya kita semua dapat memahami bahwa ajaran Gereja Katolik tentang keutamaan Paus ini sungguh sangat berdasar, dan bukan sekedar ‘argumen yang kosong’, seperti yang dituduhkan di atas. Keutamaan Paus dan kepemimpinannya atas Gereja tidak hanya didasarkan atas Mat 16:18 saja, tetapi juga sudah dibuktikan dengan ayat- ayat lainnya dalam Kitab Suci,  dalam Tradisi Suci para rasul dan ajaran Bapa Gereja.

Perlu diketahui, bahwa banyak dari antara para Apologist Katolik sebelum menjadi Katolik adalah seorang Protestan yang sangat mempelajari Kitab Suci, dan bahkan banyak di antara mereka adalah bekas pendeta. Mereka adalah para ahli Kitab Suci yang selain menguasai bahasa aslinya (Yunani dan Ibrani) juga menguasai sejarah. Beruntunglah kita yang dapat belajar dari para Apologist tersebut yang membangun Gereja Katolik, justru dengan latar belakang mereka sebagai seorang Protestan. Ini justru merupakan bukti yang sangat kuat bahwa jika seseorang sungguh dengan tulus mencari kebenaran, maka ia akan sampai kepada Gereja Katolik. Kepindahan mereka ke Gereja Katolik merupakan bukti bahwa mereka mengasihi Allah, Sang Kebenaran itu, melebihi segala- galanya.

Adorasi Sakramen Maha Kudus

37

1. “Kami datang untuk menyembah Dia” (Mat 2:2)

Penghormatan kepada Sakramen Maha Kudus mempunyai dasar dari Kitab Suci, yaitu bagaimana kita ingin mengikuti teladan para gembala dan para majus yang menghormati Kristus yang telah lahir dan diam di tengah- tengah kita. St. Paus Yohanes Paulus II dalam surat ensikliknya, (Ecclesia de Eucharistia/ The Church and the Eucharist/ Gereja dan Ekaristi) mengajarkan,

“… pandangan Gereja selalu terus terarah kepada Tuhannya, yang hadir dalam Sakramen di Altar, yang di dalamnya Gereja menemukan pernyataan sempurna akan kasih Tuhan yang tak terbatas.” (The Church and the Eucharist, 1)

…Adorasi Sakramen Maha Kudus adalah… praktek sehari- hari yang penting dan menjadi sumber kekudusan yang tidak pernah habis… Adalah menyenangkan untuk menghabiskan waktu dengan Kristus, untuk bersandar pada-Nya seperti yang dilakukan oleh murid yang dikasihi-Nya, dan untuk merasakan kasih yang tak terbatas yang ada di dalam hati-Nya.” (The Church and the Eucharist, 10 & 25)

2. Apakah itu Adorasi Sakramen Maha Kudus?

Adorasi Sakramen Maha Kudus adalah tindakan penyembahan kepada Tuhan yang hadir dalam rupa Hosti yang telah dikonsekrasikan. Berpegang pada janji yang diberikan oleh Yesus dalam Perjamuan Terakhir, yang mengatakan, “Inilah Tubuh-Ku” dan “Inilah Darah-Ku”, dan oleh kuasa Roh Kudus, maka dalam doa konsekrasi yang diucapkan para imam, hosti diubah menjadi Tubuh Kristus, dan anggur menjadi Darah Yesus. Dengan demikian hosti yang telah dikonsekrasikan oleh Sabda Tuhan itu menjadi Tubuh Kristus, Sang Allah Putra. Dengan demikian, berdoa di hadapan Sakramen Ekaristi tersebut, sama dengan berdoa di hadapan Allah sendiri. Penghormatan terhadap Sakramen Maha Kudus ini dilakukan setiap kita berlutut ataupun memberikan hormat di hadapan tabernakel yang di dalamnya diletakkan sakramen Maha Kudus, menghormat sebelum menerima Ekaristi/ Komuni dalam Misa Kudus, ataupun pada saat Sakramen Maha Kudus ditahtakan.

3. Pentahtaan Sakramen Maha Kudus

Devosi ini diawali dengan pentahtaan Sakramen Maha Kudus. Imam atau diakon memindahkan hosti yang telah dikonsekrasikan ke dalam mostrans dan mentahtakannya di atas altar. Ketika hosti diletakkan di dalam mostrans, maka dikatakan sebagai pentahtaan Sakramen Maha Kudus.

4. Cara merayakan Adorasi Ekaristi

St. Alfonsus Liguori mengajarkan, “Dari semua devosi, penyembahan kepada Yesus dalam Sakramen Maha Kudus adalah devosi yang terbesar setelah sakramen- sakramen, dan sesuatu yang paling berkenan kepada Allah dan yang paling berguna bagi kita.”

Berikut ini adalah cara- cara untuk merayakan adorasi Ekaristi:

a) Pada saat Misa Kudus:
Kita berlutut pada saat imam mengangkat Sakramen Mahakudus tersebut sambil berkata, “Inilah Anak Domba Allah….” Sebelum menerima Komuni, tunduklah dan berilah penghormatan kepada Kristus yang hadir dalam rupa roti dan anggur.

b) Pada saat pentahtaan Sakramen Maha Kudus:
Pada paroki tertentu pentahtaan Sakramen Maha Kudus diadakan seminggu sekali, yang seringkali dilanjutkan dengan diperbolehkannya umat untuk datang dan menyembah Kristus dalam Sakramen Maha Kudus.

c) Devosi 40 jam:
Di beberapa paroki juga diadakan 40 jam Adorasi Ekaristi, diadakan setahun sekali.

d) “Perpetual Adoration”/ pentahtaan Sakramen Maha Kudus untuk adorasi tanpa putus selama 24 jam sehari, tujuh hari dalam seminggu.

e) Mengunjungi/ singgah di gereja untuk memberikan penghormatan kepada Kristus yang hadir dalam tabernakel.

f) “Benediction”: Setelah pentahtaan dan adorasi, maka Sakramen Maha Kudus digunakan untuk memberkati umat. Umumnya diiringi oleh lagu O Salutaris Hostia, dan Tatum Ergo.

g) Prosesi: perjalanan parade umat dan imam dalam memberi penghormatan kepada Sakramen Maha Kudus.

5. Sejarah “Perpetual Adoration”

Walaupun hal kehadiran Yesus dalam Sakramen Maha Kudus telah diajarkan sejak jaman para Rasul, namun Adorasi tanpa henti baru dilakukan pada abad ke-6 yang dilakukan di katedral Lugo, Spanyol. Pada abad ke-12, St. Thomas Becket berdoa bagi Raja Henry II di hadapan “Tubuh Kristus yang maha agung” dan pada abad ke- 16 mulai dikenal devosi 40 jam di hadapan Sakramen Maha Kudus. Di abad ke-19 di Prancis, adorasi tanpa henti dilakukan di dalam komunitas para biarawati kontemplatif. Akhirnya devosi ini tersebar ke seluruh paroki di seluruh dunia.

6. Apa yang dapat dilakukan pada saat kita melakukan Adorasi Sakramen Maha Kudus?

Berikut ini adalah beberapa saran yang dapat dilakukan dalam Adorasi Sakramen Maha Kudus:

a) Ucapkanlah doa sebelum Adorasi, seperti yang pernah dituliskan di sini, silakan klik.

b) Berdoa dari kitab Mazmur atau membaca doa Ibadat Harian.
Kita dapat memilih Mazmur yang berisi pujian, ucapan syukur, permohonan ampun ataupun permohonan agar didengarkan Tuhan. Atau kita dapat pula mendoakan Ibadat Harian yang dibacakan oleh Gereja sepanjang tahun.

c) Mengulangi “Doa Yesus”
Mengulangi doa, “Tuhan Yesus, kasihanilah aku, yang berdosa ini.” Ulangilah terus, sampai hati dan pikiran anda tenang dan masuk dalam doa kontemplasi.

d) Merenungkan Kitab Suci (Lectio Divina)
Pilihlah salah satu perikop dalam Kitab Suci. Bacalah dan renungkanlah ayat- ayat tersebut. Pusatkan perhatian pada salah satu ayat yang menyentuh kita saat itu dan mohonlah agar anda dapat memahami apa yang Tuhan inginkan anda pahami akan ayat itu. Selanjutnya tentang Lectio Divina, klik di sini.

e) Bacalah riwayat hidup para Santa/ santo dan berdoalah bersama dengan mereka.
Banyak dari para orang kudus mempunyai devosi kepada Ekaristi, contohnya St. Teresia dari Lisieux ( Teresia Kanak- kanak Yesus), St. Katarina dari Siena, St. Fransiskus Asisi, St. Thomas Aquinas, dan Bunda Teresa dari Kalkuta. Kita dapat membaca riwayat hidup mereka dan berdoa bersama mereka di hadapan Sakramen Maha Kudus, semoga kitapun didorong untuk bertumbuh di dalam iman dan kekudusan seperti mereka.

f) Curahkan isi hati kepada Kristus dan sembahlah Dia.
Kita dapat pula datang dan mencurahkan isi hati kita kepada-Nya, menyadari bahwa kita berada di dalam hadirat-Nya. Kita berdoa seperti St. Fransiskus Asisi, “Aku meyembah-Mu, O Kristus, yang hadir di sini dan di semua Gereja di seluruh dunia, sebab dengan salib suci-Mu Engkau telah menebus dunia.”

g) Mohonlah ampun kepada Tuhan dan berdoalah bagi orang- orang lain
Kita dapat pula berdoa bagi mereka yang pernah menyakiti hati kita dan memohon rahmat Tuhan bagi mereka. Mohonlah agar Tuhan mengampuni kita, yang juga telah menyakiti sesama/ kurang memperhatikan mereka. Atau, seperti yang dianjurkan oleh St. Faustina Kowalska, kita dapat berdoa memohon kerahiman ilahi bagi seluruh dunia dan kita dapat mendoakan doa Kerahiman Ilahi tersebut.

h) Berdoalah rosario.
St. Paus Yohanes Paulus II mengajak kita untuk merenungkan tatapan Bunda Maria yang memandang bayi Kristus di pelukannya, saat kita berada dalam persekutuan dengan Kristus. Kita dapat pula berdoa rosario dan memohon agar bersama Bunda Maria kita dapat memandang Kristus di dalam Ekaristi.

i) Duduk sajalah dengan tenang dan alami hadirat Tuhan
Kita dapat pula duduk tenang dalam hadirat Tuhan seperti halnya kita sedang mengunjungi seorang sahabat. Duduk tenang di hadapan-Nya, dan nikmatilah hadirat-Nya. Daripada bercakap- cakap dengan-Nya, kita dapat pula diam, dan berusaha mendengarkan apa yang hendak disampaikan-Nya.

j) Di akhir Adorasi, dapat diucapkan doa penutup, silakan klik.

7. Adorasi tidak sama dengan devosi

Maka Adorasi yang artinya penyembahan tidak sama persis dengan devosi. Adorasi/ penyembahan hanya diberikan kepada Kristus, sedangkan devosi yang merupakan praktek religius, dapat berupa penyembahan kepada Kristus maupun juga penghormatan kepada para orang kudus.

Melihat penjabaran di atas, maka meditasi/ merenungkan tentang Kristus, sabda-Nya dan peristiwa hidup-Nya dapat merupakan bagian dari Adorasi. Namun Adorasi sendiri dapat dilakukan dengan beberapa cara yang lain, tidak harus meditasi.

Buah- buah yang diperoleh dari Adorasi adalah pertumbuhan rohani bagi mereka yang melaksanakannya, yang diperoleh karena rahmat dari Kristus sendiri. Sudah menjadi rahasia umum bahwa paroki- paroki yang rajin melakukan doa Adorasi, dan menyediakan “perpetual adoration” (Adorasi tanpa henti) akan diberkati Tuhan; panggilan imamat dari paroki tersebut akan meningkat, dan keluarga- keluarga dalam paroki tersebut dapat lebih bersatu dan bersemangat dalam melakukan tugas- tugas kerasulan.

Jadi, bagi pembaca katolisitas yang tinggal di paroki yang mempunyai kapel Adorasi, alangkah baiknya kita meluangkan waktu untuk setidaknya sekali seminggu melakukan 1 jam Adorasi di hadapan Sakramen Maha Kudus. Alamilah kasih Tuhan, dan alamilah juga buah- buah positifnya dalam hidup kita.

Sekali selamat tetap selamat?

67

Apakah kamu yakin sudah selamat?

Ketika saya tinggal di Filipina sekitar tahun 1998, saya pernah ditanya oleh seorang teman saya yang adalah anggota Bible study dari kelompok Protestan, “Apakah kamu yakin sudah selamat?” Dia mengatakan keheranannya mengapa umat Katolik sepertinya tidak yakin akan keselamatannya sedangkan kalau umat Protestan yakin dengan seyakin- yakinnya kalau pasti selamat. Mendengar hal ini mungkin kita bertanya- tanya kepada diri sendiri, sikap manakah yang benar? Mari kita melihat jawabannya  dari Kitab Suci, yang menjadi pegangan kita bersama sebagai murid- murid Kristus.

Beberapa ayat yang digunakan untuk mengatakan ‘sekali selamat tetap selamat’

Seringkali saudara- saudari kita yang Protestan mengutip ayat- ayat berikut ini untuk mendukung pemahaman mereka bahwa sekali selamat mereka tetap selamat (once saved, always saved):

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16)

“Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal (1 Yoh 5:13)”

Lalu umumnya mereka mengatakan, jadi yang perlu dilakukan sederhana saja, tinggal mengaku dengan mulut kita bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat kita, dan kita pasti diselamatkan, seperti yang tertulis dalam surat Rasul Paulus,

Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan (Rom 10:9-10).

Tanggapan kita umat Katolik

1. Terhadap Yoh 3:16
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Menurut Rm Pidyarto, O Carm, yang adalah seorang pakar Kitab Suci yang menguasai bahasa Yunani, kata “beroleh” di sini berasal dari kata ἔχω/ echō, echein, yang memang dapat diterjemahkan sebagai ‘beroleh’ (have), tetapi sebenarnya lebih tepat jika diterjemahkan sebagai ‘dapat beroleh’ (may have’), seperti yang terdapat dalam Kitab Suci edisi Douay Rheims/ Vulgate. Ini disebabkan karena digunakannya kata ‘me‘ (dalam bahasa Inggris terjemahannya adalah “lest)”,  pada kata ‘tidak binasa’ (should not perish) sehingga kata sambung ini menuntut / lebih tepat untuk diikuti oleh kata ‘may have‘. Kita mengetahui bahwa dalam bahasa Inggris sendiri kata ‘have‘ dan ‘may have‘  artinya tidak sama persis.

Namun demikian, jika diterjemahkan sebagai “beroleh”, kalimat ini tidak bermaksud mengatakan bahwa hanya dengan percaya/ beriman kepada Anak Allah saja maka seseorang pasti memperoleh hidup yang kekal. Maka kata kunci yang perlu dilihat adalah bagaimana memaknai kata “percaya” / beriman tersebut, sebab iman ini juga mensyaratkan penghayatan. Jadi kata ‘percaya’ di sini tidak boleh hanya diartikan pengakuan dengan mulut saja atau baptisan saja. Kita tidak dapat mengartikan satu ayat dalam Kitab Suci dan melepaskannya dengan ayat- ayat lainnya dalam Kitab Suci. Hidup yang kekal atau keselamatan ini diberikan oleh Allah karena kasih karunia, oleh iman/ kepercayaan yang bekerja oleh kasih (Ef 2:8; Gal 5:6); dan ini diberikan melalui Pembaptisan (Yoh 3:5, Mat 28:19-20) yang melibatkan pertobatan untuk melaksanakan perintah Tuhan (lih. Mat 7:21-23; Ibr 11;39; Yak 2:14.). Maka Gereja Katolik tidak pernah memisahkan kasih karunia, iman, perbuatan kasih, Pembaptisan dan pertobatan dalam ajaran Keselamatan ini. Silakan membaca diskusi mengenai hal ini, lebih lanjut di sini, silakan klik.

2. Terhadap 1 Yoh 5:13
“Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.”

Kata “tahu” di sini berasal dari kata eidete (dari kata oida); sebenarnya berarti “kamu dapat tahu”/ you may know, yang tidak mengacu kepada sesuatu pengetahuan absolut yang pasti. Ini seperti jika kita mengatakan bahwa kita tahu kalau kita dapat nilai A dalam ujian, atas dasar kita sudah belajar dengan rajin dan saya merasa menguasai topiknya. Tetapi kenyataannya apakah pasti kita dapat nilai A atau tidak itu harus dibuktikan kemudian. Jadi “tahu” di sini tidak bersifat absolut, tetapi memang ada pengharapan besar bagi kita untuk mencapainya.

Untuk memahami arti kata eidete maka kita melihat pada ayat sesudahnya yaitu ayat 1Yoh 5: 14-15, yang berbunyi:

“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu (oidamen- dari kata oida), bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya.”

Di sini kita harus mengakui bahwa kita tidak dapat mempunyai kepastian yang absolut bahwa Tuhan akan menjawab setiap permintaan kita secara persis. Sebab Tuhan adalah Maha Baik dan Maha Kuasa dan Ia akan menjawab doa kita dengan cara yang dipandang-Nya baik bagi kita, yang sering kali tidak sama dengan yang kita minta/ yang kita pikirkan. Maka di sini kita harus menerima bahwa cara kita “mengetahui” dalam hal ini adalah bersifat kondisional dan bukan sesuatu yang pasti secara absolut.

Dengan pengertian yang sama kita mengartikan ayat 1 Yoh 3:21-22 yang mengatakan,

“Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah, dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.”

Maka kita sebagai umat Katolik ‘mempunyai keberanian percaya‘ untuk menerima apa yang kita doakan, namun kita tidak dapat mengatakannya sebagai jaminan yang sudah pasti secara absolut. Sebab hal keselamatan kita ini juga melibatkan partisipasi kita dalam menyatakan iman kita dalam perbuatan, agar iman yang demikian dapat menjadi iman yang ‘hidup’ (Yak 2: 24, 26) dan menyelamatkan. Kenyataannya bahkan Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa pada akhir jaman akan ada orang- orang yang terkejut untuk mendapatkan bahwa sikap mereka yang tidak menujukkan perbuatan kasih dapat menghantar mereka kepada penghukuman (Mat 25:41-46).

3. Maka hal keselamatan tidak semata tergantung dari “pengakuan dengan mulut” untuk menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat pribadi. Sebab yang tak kalah pentingnya adalah kita harus bertobat, seperti yang diajarkan oleh Rasul Yohanes kepada semua murid Kristus yang sudah menerima Yesus (lihat 1 Yoh 2:12-14). Ia mengatakan,

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yoh 1:8-9)

Perhatikanlah bahwa Rasul Yohanes menggunakan kata “kita”, sebab dirinya sendiri juga termasuk di dalamnya. Silakan bertanya kepada orang yang berpandangan “sekali selamat tetap selamat”, apakah mereka masih perlu bertobat atau tidak? Jika mereka menjawab ya, berarti pandangan mereka sebenarnya bukan “sekali selamat tetap selamat”. Tetapi jika mereka mengatakan “tidak perlu bertobat, sebab sudah pasti diampuni dan pasti masuk surga”, maka pandangan mereka ini bertentangan dengan ayat- ayat Kitab Suci lainnya yang mengatakan bahwa dosa/ kejahatan yang tidak disesali tidak akan diampuni dan tidak ada sesuatupun yang berdosa dan najis dapat masuk Kerajaan Surga (lih. Hab 1:13; Why 21:8-9, 27)

Rasul Yohanes kemudian mengklasifikasikan dosa, yaitu dosa yang mematikan (dosa berat) dan dosa yang tidak mematikan (dosa ringan) lih. 1 Yoh 5:16-17. Seseorang yang berdosa berat melepaskan diri dari Tubuh Kristus. Dalam hal ini bukan berarti Yesus kurang kuasa untuk menyelamatkannya, tetapi orang itu sendiri dengan kehendak bebasnya memilih untuk melepaskan diri dari Yesus dengan perbuatan dosanya yang berat. Dan jika ia tidak bertobat, maka ia sendiri menolak rahmat keselamatan yang sudah pernah diterimanya dari Allah.

Selanjutnya, pengakuan dengan mulut juga tidak ada artinya, jika tidak dibarengi dengan ketaatan melaksanakan perintah- perintah Tuhan. Oleh sebab itu Rasul Paulus mengajarkan ketaatan iman (Rom 1:5, 16:26). Yesus berkata,

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 7:21, lih. Mat. 10:33, 18:35).

4. Rasul Paulus mengajarkan kepada kita akan kedua sifat Tuhan yang tidak bisa dipisahkan yaitu kemurahan-Nya namun juga kekerasan-Nya;

“Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga.” (Rom 11:22)

Maka di sini jelas dikatakan bahwa oleh kemurahan Tuhan kita diselamatkan, namun kita harus mengusahakan untuk selalu tinggal di dalam kemurahan-Nya. Kita harus bertahan untuk hidup sesuai dengan ajaran Kristus, sampai dengan kesudahannya, baru kita dapat selamat (lih. Mat 10:22). Kita harus berjaga- jaga dan tetap melaksanakan tugas- tugas dan pekerjaan Tuhan yang dipercayakan kepada kita dengan baik sampai pada akhirnya (lih. Luk 12:41-46, Why 2:25-26). Sebab memang benar oleh Injil kita diselamatkan tetapi kita harus tetap teguh berpegang kepadanya (1 Kor 15:1-2). Kita harus hidup kudus dan tidak bercela, dan tekun dalam iman dan tidak bergoncang (Kol 1:22-23); teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan kita (Ibr 3:6). Kita harus setia sampai mati (Why 2:10).

5. Rasul Petrus malah memperingatkan agar kita yang sudah percaya jangan sampai jatuh ke dalam dosa seperti pada waktu belum percaya, sebab akibatnya malah akan lebih parah:

“Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula. Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka. Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: “Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.” (2 Pet 2:20-22)

Kondisi melepaskan diri dari kecemaran dunia ini adalah makna dari kelahiran kembali dalam Kristus yang kita alami pada waktu Pembaptisan. Maka di sini Rasul Petrus mengingatkan agar setiap umat yang sudah dibaptis tidak kembali lagi kepada kehidupan yang lama yang penuh dosa.

6. Yesus juga mengingatkan Dalam Mat 6:15, bahwa kita harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita, sebab jika tidak, maka Allah Bapa tidak akan mengampuni kesalahan kita. Di sini Yesus tidak memperhitungkan apakah kita sudah ‘lahir baru/ born again‘ atau belum; namun kalau kita tidak mengampuni maka kita akan kehilangan keselamatan kita.

7. Kitab Suci memperingatkan kita bahwa kita dapat ‘lepas dari Kristus, dan hidup di luar kasih karunia‘ jika hidup dalam kuk perhambaan dosa (Gal 5:1-5), agar jangan bermegah supaya tidak dipatahkan (lih. Rom 11:18-22), dicoret namanya dari buku kehidupan (Why 3:5; Mzm 69:28), karena melakukan dosa dan tidak bertobat (lih. Ef 5:3-5; 1 kor 6:9; Gal 5:19; Why 21:6-8).

Tak mengherankan bahwa Rasul Paulus kemudian mengajarkan demikian:

“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (1 Kor 9:27)

Jika Rasul Paulus yang sudah demikian kudus saja semasa hidupnya terus berjuang untuk melatih tubuhnya menghindari dosa, dan mengusahakan agar hidup sesuai dengan Injil agar tidak ditolak oleh Tuhan; apalagi kita- kita ini. Kalau Rasul Paulus sudah yakin “pasti” selamat, tentunya dia tidak perlu menuliskan ayat ini, sebab ia sudah yakin tidak akan ditolak Allah. Ayat ini membuktikan kerendahan hati Rasul Paulus yang selain berpengharapan teguh akan keselamatan yang dijanjikan Allah, namun juga menyadari bahwa ada bagian yang harus dilakukannya yaitu untuk berjuang hidup kudus sesuai dengan Injil yang diberitakannya.

8. Maka ayat Rom 10:9 tentang pengakuan iman akan Kristus yang menghantar kita kepada keselamatan itu tidak hanya untuk dilakukan sekali saja, tetapi harus terus menerus sepanjang hidup kita. Dalam Mat 10:22, 32-33, Tuhan Yesus mengajarkan,

“Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat…. Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.”

Maka konteksnya di sini adalah berpegang pada pengakuan akan Kristus sepanjang hidup kita (lih. Ibr 4:14, 10:23-26 dan 2 Tim 2:12). Kita mengetahui dari Kitab Suci, bahwa pengakuan akan iman kita tidak dilakukan hanya dengan perkataan tetapi terlebih dengan perbuatan. Demikian pula, penyangkalan akan Kristus juga dilakukan dengan perbuatan.

Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman. (1 Tim 5:8)

Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. (1 Kor 6:9-10, lihat juga Ef 5:3-5; Gal 5:19; Why 21:8-9, 27)

Perbedaan kunci antara ajaran Gereja Katolik dan Protestan

Dari uraian di atas, kita dapat memahami bahwa secara garis besar terdapat perbedaan ajaran antara pandangan Protestan dan Gereja Katolik. Bagi umat Protestan keselamatan adalah sesuatu yang sudah pasti, yang diterima pada saat mereka mengakui Yesus sebagai Juru Selamat, berpegang terutama pada Rom 10:9. Sedangkan Gereja Katolik, berpegang kepada keseluruhan ajaran Kitab Suci, percaya bahwa keselamatan adalah sesuatu proses: yang telah, sedang dan akan datang, yang diterima oleh umat beriman karena kasih karunia Allah, oleh iman yang bekerja oleh kasih:

 

  1. Telah diselamatkan (Rom 8:24; Ef 2:5,8; 2 Tim 1:9; Tit 3:5)
  2. Sedang dalam proses (1 Kor 1:18; 2 Kor 2:15; Fil. 2:12; 1 Pet 1:9)
  3. Akan diselamatkan (Mt 10:22, 24:13; Mk 13:13; Mk 16:16; Kis 15:11; Rm 5:9-10; Rm 13:11; 1 Kor 3:15; 2 Tim. 2:11-12; Ibr. 9:28).

Oleh karena itu, Gereja Katolik tidak dapat menerima pandangan Martin Luther yang mengajarkan bahwa manusia diselamatkan oleh iman saja, yang dipisahkan dari perbuatan. Sebab menurut Luther, setelah orang menerima Yesus, maka tak peduli apapun yang dilakukannya, entah ia membunuh atau berzinah beribu-ribu kali sehari, pasti akan tetap masuk surga. Dalam suratnya kepada muridnya, Melancthon, tanggal 1 Agustus, 1521, (translated by Erika Bullmann Flores for Project Wittenberg); online at http://www.iclnet.org/pub/resources/text/wittenberg/luther/letsinsbe.txt , lihat nomor 13, Luther mengatakan, “…Be a sinner, and let your sins be strong, but let your trust in Christ be stronger…. No sin can separate us from Him, even if we were to kill or commit adultery thousands of times each day…

Semoga kita semua dapat melihat bahwa ajaran Luther ini tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci. Maka Gereja Katolik, berpegang pada Kitab Suci, mengajarkan bahwa keselamatan diberikan karena kasih karunia Allah dalam Pembatisan, namun juga mensyaratkan iman dan pertobatan, hidup dalam Kristus, dan melaksanakan perbuatan kasih sebagai bukti dari iman yang hidup. Sebab jika sungguh mengimani Kristus dan mengasihi-Nya, pasti kita akan berusaha menghindari dosa, dan akan rajin berbuat kasih. Iman seperti inilah yang menyelamatkan, seperti yang diajarkan oleh Paus Benedictus tentang Sola Fide menurut ajaran Gereja Katolik, silakan klik di sini.

Ajaran Calvin “sekali selamat tetap selamat” vs. ajaran Bapa Gereja

Ajaran “sekali selamat tetap selamat” ini pertama kali diajarkan oleh John Calvin di pertengahan abad ke 16.  Sebelum Calvin, jemaat Kristiani umumnya mengetahui bahwa seseorang dapat kehilangan keselamatannya, jika melakukan dosa berat, seperti yang diajarkan dalam 1 Yoh 5:16-17.

1. Di abad pertama, Didache, yang dikenal sebagai Pengajaran dari ke- dua belas Rasul mengatakan,

Berjaga- jagalah demi hidupmu. Jangan biarkan terangmu padam, ikat pinggangmu longgar; tetapi selalu siap sedialah; sebab kamu tidak tahu saatnya kapan Tuhan datang. Tetapi seringlah bersekutu, carilah hal- hal yang sesuai dengan jiwamu: sebab imanmu sepanjang waktu tidak akan mendatangkan kebaikan bagimu, jika kamu tidak menjadi sempurna di waktu terakhir.” ((Didache 16 [A.D. 70])).

2. St. Ignatius dari Antiokia (35- 98)

“Jangan salah, saudara-saudaraku: orang- orang yang menyimpang tidak akan masuk dalam Kerajaan Surga. Jika, lalu, mereka yang hidupnya melakukan perbuatan- perbuatan daging akan binasa, maka terlebih lagi mereka yang dengan ajaran- ajaran sesat menyimpangkan iman akan Tuhan yang karenanya Yesus Kristus telah disalibkan… ((St. Ignatius dari Antiokia, Letter to the Ephesians, Ch. 16:1))

3. St. Irenaeus (189) menulis,

“Kepada Kristus Yesus, Tuhan dan Allah kami, sesuai dengan kehendak Bapa yang tidak kelihatan, ‘setiap lutut bertelut dan segala sesuatu di bumi dan di bawah bumi, dan setiap lidah mengaku’ (Flp 2:10-11) kepadanya, dan Ia akan memutuskan penghakiman yang adil kepada semua orang….  Seseorang yang tidak baik dan tidak benar, jahat dan profan akan pergi kepada api abadi, tetapi Ia [Kristus] dapat, memberikan rahmat-Nya, memberikan kekekalan kepada mereka yang benar, kudus, dan mereka yang melakukan perintah- perintah-Nya, dan bertahan dalam kasih karunia-Nya; beberapa dari mereka sejak awal mula [dalam kehidupan Kristianinya], dan yang lain, sejak saat pertobatan mereka, dan Ia dapat mengelilingi mereka dengan kemuliaan kekal.” ((Against Heresies 1:10:1 [A.D. 189])).

Dosa berat memisahkan manusia dari Allah dan keselamatan yang dijanjikan-Nya

Maka pengajaran Gereja Katolik sangatlah konsisten dalam hal ini, bahwa walau janji keselamatan yang diberikan Tuhan Yesus adalah sesuatu yang tetap dan pasti, namun pemenuhannya tergantung dari manusia itu sendiri. Sebab dosa berat memisahkan manusia dari Allah, memerampasnya dari kehidupan kekal.

KGK 1472     Supaya mengerti ajaran dan praktik Gereja ini, kita harus mengetahui bahwa dosa mempunyai akibat ganda. Dosa berat merampas dari kita persekutuan dengan Allah dan karena itu membuat kita tidak layak untuk kehidupan abadi. Perampasan ini dinamakan “siksa dosa abadi”… ((KGK 1472: Supaya mengerti ajaran dan praktik Gereja ini, kita harus mengetahui bahwa dosa mempunyai akibat ganda. Dosa berat merampas dari kita persekutuan dengan Allah dan karena itu membuat kita tidak layak untuk kehidupan abadi. Perampasan ini dinamakan “siksa dosa abadi”. Di lain pihak, setiap dosa, malahan dosa ringan, mengakibatkan satu hubungan berbahaya dengan makhluk, hal mana membutuhkan penyucian atau di dunia ini, atau sesudah kematian di dalam apa yang dinamakan purgatorium [api penyucian). Penyucian ini membebaskan dari apa yang orang namakan “siksa dosa sementara”. Kedua bentuk siksa ini tidak boleh dipandang sebagai semacam dendam yang Allah kenakan dari luar, tetapi sebagai sesuatu yang muncul dari kodrat dosa itu sendiri. Satu pertobatan yang lahir dari cinta yang bernyala-nyala, dapat mengakibatkan penyucian pendosa secara menyeluruh, sehingga tidak ada siksa dosa lagi yang harus dipikul (Bdk. K.Trente: DS 1712-1713; 1820).))

Dengan demikian kita harus berjuang dalam hidup ini agar jangan sampai  jatuh ke dalam dosa berat yang memisahkan kita dari Allah, sehingga kita tetap dapat menerima janji keselamatan Allah. Atau, jika sampai jatuh sekalipun, lekas- lekaslah bertobat, agar dapat kembali dalam persatuan dengan Kristus. Selanjutnya, kita harus berjuang untuk taat melaksanakan perintah- perintah-Nya dan setia sampai akhir.

Kesimpulan

Maka di manapun di dalam Kitab Suci tidak ada yang mengajarkan bahwa umat Kristen yang telah mengakui Kristus dapat melakukan dosa apapun, wafat dalam keadaan tidak bertobat, namun akan tetap dapat masuk surga juga. Prinsip ‘sekali selamat tetap selamat’ ini sesungguhnya tidak diajarkan dalam Kitab Suci. Selayaknya kita mempunyai kerendahan hati seperti Rasul Paulus yang mengajarkan demikian,

“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir… ” (Flp 2:12)

Sebab memang kita harus berusaha untuk tetap taat dan setia mengerjakan keselamatan kita sebagai murid- murid Kristus, bukan karena Kristus kurang berkuasa menyelamatkan kita atau karena Ia tidak menepati janji-Nya; namun justru karena memang ada bagian yang harus kita lakukan jika kita benar- benar mengimani dan mengasihi Dia. Maka sebagai umat Katolik, kita mempunyai keberanian untuk berharap bahwa kita akan diselamatkan, namun mari dengan rendah hati kita serahkan kepada Tuhan yang telah berjanji menyelamatkan kita, sambil juga melatih diri agar tidak jatuh dalam dosa yang memisahkan kita dengan Allah. Dengan kerendahan hati ini kita berpengharapan, dan kita percaya bahwa pengharapan ini tidak mengecewakan oleh karena Roh Kudus telah dicurahkan kepada kita!

Evangelisasi baru bersumber pada dua perintah utama

18

Pendahuluan

Ketika saya tinggal di Amerika, saya beruntung sekali dapat menyaksikan pemilihan umum presiden Amerika. Beberapa kali, saya juga menyaksikan debat calon presiden. Saya tidak terlalu tertarik ketika mengamati perdebatan tentang isu politik, ekonomi, isu dalam negeri dan luar negeri. Namun, saya begitu tertarik mendengar penuturan mereka tentang isu kemanusiaan, seperti isu aborsi. Dari debat kedua calon presiden – Obama dan McCain – kita dapat secara tegas memberikan kesimpulan bahwa Obama adalah pro-choice dan McCain adalah pro-life, karena Obama mendukung aborsi dan McCain menolak aborsi. Walaupun sulit untuk mengerti bahwa seseorang dapat mendukung aborsi – yang adalah pembunuhan (lihat artikel ini dan ini), saya mencoba mengerti bahwa mungkin mereka yang bukan Katolik memilih untuk pro-choice. Namun, yang membuat saya sungguh-sungguh bersedih dan tidak dapat menerima adalah ketika 54% umat Gereja Katolik di Amerika ini memilih seorang calon presiden yang mendukung aborsi. Betapa ironisnya!

Ketika kenyataan seperti ini terjadi, saya teringat akan seruan “Evangelisasi Baru“, yang sering didengung-dengungkan oleh Paus Paulus VI dan juga Paus Yohanes Paulus II. Ketika lebih dari setengah umat Katolik di Amerika tidak tahu bagaimana menempatkan isu moral lebih utama dibandingkan dengan isu-isu yang lain, maka kita harus bersama-sama merenung dan menyadari bahwa kita perlu untuk melakukan evangelisasi di dalam Gereja Katolik sendiri. Ketika dunia ini didominasi oleh nilai-nilai sekular dan materialisme dan mengesampingkan nilai-nilai iman, maka evangelisasi baru sungguh-sungguh penting dan harus dilakukan. Ketika umat beragama hidup seolah-olah Tuhan tidak ada, maka gerakan evangelisasi baru tidak dapat ditawar-tawar lagi. Mari, bersama-sama kita melihat perkembangan dan dasar-dasar evangelisasi baru, sehingga kita juga turut serta dalam gerakan yang menuntun kita kepada keselamatan kekal.

Perkembangan dari evangelisasi baru

Mungkin kita dapat menghubungkan evangelisasi baru dengan Paus Yohanes Paulus ke II, karena memang beliau menggunakan istilah ini dalam berbagai kesempatan. Dia menggunakan istilah “evangelisasi baru” sekitar 75 kali dalam surat-suratnya, dan 175 kali dalam homili-homilinya. Bahkan istilah ini muncul sekitar 890 kali dalam website vatican.va. Dari frekuensi munculnya istilah ini, maka kita dapat menilai bahwa evangelisasi baru begitu penting dalam perkembangan Gereja Katolik.

Istilah evangelisasi baru, muncul ketika Paus Yohanes Paulus II memberikan surat ensiklik “Redemptoris Missio (RM)” atau “Misi dari Sang Penyelamat“, yang diberikan pada tanggal 7 Desember 1990, yang merupakan ulang tahun ke-25 dari dokumen “Ad Gentes” atau “Dekrit tentang kegiatan missioner Gereja“, yang dapat dibaca di sini (silakan klik). Dengan demikian, istilah evangelisasi baru adalah merupakan suatu rangkaian dari dokumen Vatikan II, khususnya “Ad Gentes“, “Lumen Gentium” dan sinode-sinode, yang membahas tentang evangelisasi berdasarkan surat apostolik “Evangelii Nuntiandi” (EN / Evangelisasi di dunia modern), yang dibuat oleh Paus Paulus VI pada 8 Desember 1975. Hal ini diperkuat oleh surat apostolik “Tertio Millennio Adveniente (TMA)“, yaitu surat yang berisi persiapan tahun Yubelium Agung 2000. Dikatakan di paragraf 21:

Bagian dari persiapan untuk menyambut tahun 2000 adalah rangkaian sinode yang telah dimulai setelah Konsili Vatikan II: sinode-sinode umum bersama dengan sinode-sinode tingkat benua, regio, bangsa dan keuskupan. Tema yang mendasarinya adalah evangelisasi, atau lebih tepatnya evangelisasi baru, di mana dasarnya telah diletakkan dalam surat apostolik Evangelii Nuntiandi dari Paus Paulus VI, diterbitkan pada 1975 setelah pertemuan umum ketiga dari sinode para uskup. Sinode-sinode ini adalah bagian dari evangelisasi baru: mereka lahir dari visi Gereja dari konsili Vatikan II. Mereka membuka area yang luas untuk partisipasi dari kaum awam, yang beberapa tanggung-jawab khusus di dalam Gereja telah didefinisikan. Mereka [sinode-sinode] merupakan ekspresi kekuatan, di mana Kristus telah diberikan kepada seluruh umat Allah, membuatnya mengambil bagian dari Misi keselamatan-Nya [Kristus] sebagai Nabi, Imam dan Raja. Hal ini dinyatakan secara jelas di dalam pernyataan dari Konstitusi dogmatik Lumen Gentium. Persiapan untuk tahun Yubelium 2000 dilakukan oleh seluruh Gereja, pada tingkat semesta dan lokal, memberikan kepadanya [Gereja] sebuah kesadaran dari misi keselamatan yang telah dia [Gereja] terima dari Kristus. Kesadaran ini secara khusus terbukti dalam ajakan sesudah sinode (the post-synodal Exhortations) yang diperuntukkan secara khusus untuk misi dari kaum awam, formasi para imam, para katekis, keluarga, nilai dari pertobatan dan rekonsiliasi dalam kehidupan Gereja dan kemanusiaan pada umumnya, juga yang akan datang diperuntukkan untuk hidup bakti (consecrated life).

Dualitas adalah inti dari evangelisasi baru

Kalau kita mengerti akan dualitas (dikotomi) dari perintah Kristus, kodrat Gereja, dan Konsili Vatikan II, maka kita akan dapat mengerti makna evangelisasi baru secara lebih baik. Kita akan membahas dualitas dari konsili Vatikan II, sehingga kita dapat lebih mengerti konsep dari evangelisasi baru. Dualitas dari perintah utama Kristus akan memberikan kepada kita isi dan elemen dari evangelisasi baru. Dualitas dari Gereja sebagai cara (means) dan tujuan akhir (end) akan menyadarkan kita bahwa evangelisasi baru tidak dapat dipisahkan dari Gereja. Masing-masing dari dualitas ini harus mampu untuk memperbaharui manusia ((EN, 19)), dan budaya ((EN, 20)), yang ditunjukkan dengan menjadi saksi Kristus yang baik ((EN, 21)).

Mari sekarang kita melihat beberapa dualitas ini.

Semangat dari Konsili Vatican II: melihat ke belakang untuk maju ke depan

Kalau kita melihat semangat dari Konsili Vatican II, maka kita akan dapat menyimpulkannya dalam dua hal yaitu ressourcement (kembali ke sumber) dan aggiornamento (updating / memperbaharui). Dalam hubungannya dengan evangelisasi, maka Gereja Katolik kembali ke sumber, yaitu Alkitab, Tradisi dan Magisterium Gereja, dan melihat kodrat dari Gereja yang memang harus missioner. Dalam dokumen Lumen Gentium (LG), kita melihat akan hakekat dari Gereja, yang merupakan Tubuh Mistik Kristus, yang kelihatan (means) dan tidak kelihatan (end), yang mengemban tugas mewartakan Kristus kepada segala bangsa. Menyadari bahwa Kristus sendiri yang mengutus para rasul (lih. Yoh 20:21) untuk mengemban amanat agung Kristus ke segala bangsa (lih. Mt 28:19-20; Kis 1:8), maka Gereja dengan penuh ketaatan mengemban misi ini. Inilah sebabnya, secara kodrat, Gereja mempunyai sifat misioner. ((LG, 17; AG, 5)) Dan sifat misioner ini dimungkinkan karena Roh Kudus sendiri yang menjadi Roh dari Gereja. Karena Kristus, sebagai Kepala Gereja menginginkan agar seluruh umat manusia memperoleh keselamatan, maka Gereja Katolik sebagai Tubuh Mistik Kristus harus mengemban misi ini berdasarkan inspirasi dan kekuatan dari Roh Kudus.

Pentingnya untuk memberitakan Kristus pada saat ini tidak dapat ditawar-tawar lagi, melihat kondisi jaman pada saat ini, yang dipenuhi dengan kebohongan materialisme, individualisme, dan sekularisme, relativisme. Bahkan umat beriman yang telah mengenal Kristus banyak yang bertindak dan hidup sebagaimana orang-orang yang belum mengenal Kristus. Inilah sebabnya, melihat tanda-tanda jaman, Paus Yohanes Paulus II menyebut mereka sebagai “practical atheism“. ((lih. Paus Yohanes Paulus II, Post-Synodal Apostolic Exhortation, Ecclesia in Europe, 47)) Seperti contoh di atas, kita melihat bagaimana setengah umat Katolik di Amerika memilih seseorang yang mendukung aborsi sebagai presiden mereka. Ini menunjukkan bagaimana mereka tidak menerapkan prinsip-prinsip kekristenan dalam mengambil keputusan penting di dalam hidup mereka.

Dua realitas inilah yang harus dihadapi oleh Gereja. Di satu sisi, Gereja menyadari mempunyai sifat misionaris, namun di satu sisi, kenyataan di dalam kehidupan, terlihat bagaimana orang-orang yang belum mengenal Kristus dan bahkan umat Allah sendiri banyak yang tidak hidup menurut jalan Tuhan. Untuk itulah, Gereja menyerukan evangelisasi baru, untuk kembali merangkul umat Allah dan menyadarkan mereka akan hakekat mereka sebagai umat kesayangan Allah, yang juga harus bertindak menurut hukum Allah. Gereja juga ingin menjangkau mereka yang belum mengenal Kristus, sehingga mereka juga dapat memperoleh kebenaran penuh dan diselamatkan.

Mengasihi Allah dan mengasihi sesama adalah isi dari evangelisasi baru

Tidak ada perintah yang lebih utama daripada mengasihi Allah dan mengasihi sesama. (lih. Mt 22:37-40; Mk 12:30-31) Oleh karena itu, semua hal yang dilakukan oleh Gereja harus mendukung dua perintah pokok ini. Demikian juga dalam aktifitas evangelisasi baru, Gereja dan seluruh elemen Gereja – termasuk masing-masing dari kita – harus mencerminkan kasih kepada Tuhan dan kasih terhadap sesama yang didasarkan pada kasih kepada Tuhan. Hal ini dilakukan baik dengan sikap hidup yang baik ((EN, 21)), maupun dengan pemberitaan Injil secara terbuka ((EN, 22)).

Mengasihi Allah adalah pondasi dari evangelisasi baru

1. Dimensi Trinitas dan Kristologi

Untuk memberitakan kasih Allah, maka evangelisasi tidak dapat terlepas dari dimensi Trinitas. Kasih inilah yang membuat Allah Bapa telah mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk membebaskan dosa dan memanggil manusia kepada kehidupan yang kekal (lih. Yoh 3:16), yaitu dengan cara hidup kudus – yang hanya mungkin dicapai dengan karunia Roh Kudus. ((EN, 26)). Oleh karena itu, evangelisasi yang tidak memberitakan satu Allah dalam tiga Pribadi, tidak memberitakan kebenaran secara penuh. Inilah sebabnya, Paus Yohanes Paulus II memberikan program 3 tahun dari tahun 1997-1999, setelah melalui persiapan pertama tahun 1994-1996. Tahun 1997 diperuntukkan sebagai tahun Allah Putera ((lih. ensiklik Redemptoris Hominis atau Penyelamat manusia)), 1998 sebagai tahun Allah Roh Kudus ((lih. ensiklik Dominum et Vivificantem atau Roh Kudus di dalam hidup Gereja dan dunia)), dan 1999 sebagai tahun Allah Bapa ((lih. ensiklik Dives in Misericordia atau Belas kasih Allah)). Semua hal ini dijabarkan dalam dokumen Tertio Millennio Adveniente (persiapan untuk Yubelium tahun 2000), par. 35-54.

a) Pusat dari seluruh evangelisasi adalah pada pribadi Kristus. Inilah sebabnya, Paus Yohanes Paulus II, pada tahun pertama dari kepausanannya, memberikan ensiklik Redemptoris Hominis (1979) dan kemudian mulai tanggal 27 Agustus 1986 sampai April 1989, dia memberikan pelajaran tentang hal-hal sehubungan dengan Kristus, serta tambahan 28 pelajaran pada tahun 1997 atau tahun Allah Putera.

Dengan demikian, kita melihat bahwa kalau kita ingin berpartisipasi dalam evangelisasi, maka kita harus memberitakan Kristus – yang lahir, berkarya, menderita, wafat, mati, bangkit, dan naik ke Sorga. Bahkan kita harus turut serta mengikuti jejak Kristus, karena kita yang telah mati terhadap dosa, di dalam Kristus, – oleh Sakramen Baptis, akan bangkit bersama Kristus. (lih. Rm 6:4).

b) Jiwa dan kekuatan evangelisasi adalah Roh Kudus. Hasil dari pertukaran kasih Allah Bapa dan Allah Putera – yang dimanifestasikan secara penuh pada peristiwa penyaliban – maka Roh Kudus dicurahkan kepada Gereja dan setiap anggota Gereja. Paus Yohanes Paulus II kemudian mengeluarkan ensiklik “Dominum et Vivificantem” atau Roh Kudus di dalam hidup Gereja dan dunia pada hari Pentakosta, 18 Mei, 1986. Dia memberikan 7 refleksi tentang Roh Kudus tahun 1989 dan 80 pelajaran katekese dari 26 April 1989 sampai 3 Juli 1991, yang dilanjutkan dengan pengajaran tentang Roh Kudus selama tahun Roh Kudus (1998)

Inilah sebabnya, dalam setiap misi evangelisasi, kita semua harus bergantung pada karya Roh Kudus, karena Roh Kudus adalah jiwa dari Gereja. Roh Kuduslah yang membuat orang dapat bertobat, karena Roh Kuduslah yang menyatakan dosa kepada dunia. ((lih. DV, 27-29)) Roh Kudus-lah yang memberikan kita kekuatan untuk dapat melakukan misi evangelisasi. Dan Roh Kudus yang sama telah dicurahkan untuk Gereja dan menjadi jiwa dari Gereja. ((lih. DV, 3-26))

c) Belas kasih Allah adalah kabar gembira dalam evangelisasi. Dalam evangelisasi baru, kita harus mendengungkan bahwa Allah berbelas kasih dan mengasihi umat-Nya. Dia tidak hanya adil, namun lebih daripada itu, Dia berbelas kasih. Bahkan di dalam ensiklik Dives in Misercordia (Belas kasih Tuhan, 30 November 1980), Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa belas kasih Tuhan adalah atribut terbesar dari Allah Bapa. Hal ini pernah dituliskan di sini, silakan klik. Inilah sebabnya, Paus Yohanes Paulus II memberikan 58 pengajaran tentang Allah Bapa dari 16 Januari 1985 sampai 25 Juni 1986, yang dilanjutkan dengan 28 pengajaran pada tahun 1999, tahun Allah Bapa.

Jadi, dalam evangelisasi, kita harus memberitakan belas kasih Allah sebagai kabar gembira utama. Karena belas kasih Allah inilah, yang membuat Dia memberikan Putera-Nya, yang terkasih untuk menebus dosa manusia (lih. Yoh 3:16). Dialah Bapa yang senantiasa menantikan anak yang hilang untuk kembali ke rumah Bapa. (lih. Lk 15:11-32) Akhirnya, demonstrasi kasih ini dimanifestasikan secara penuh pada peristiwa penyaliban Kristus, di mana Bapa merelakan Anak-Nya yang tunggal mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia.

2. Dimensi ekklesiologi (Gereja)

Bagaimanakah kita menjawab kasih Yesus yang sedemikian sempurna dan tak terhingga, yang telah dibuktikan-Nya dengan mati di kayu salib? Kalau kita ingin mengasihi Yesus secara penuh, maka kita juga harus mengasihi Tubuh-Nya, yaitu Gereja Katolik. (lih. Ef 5) Bahkan dikatakan bahwa Gereja dikandung pada waktu air dan darah mengalir dari sisi Yesus ketika Dia tergantung di kayu salib. Gereja lahir dari proses evangelisasi dari Kristus dan para rasul. Dan kelahiran Gereja dimanifestasikan secara penuh pada hari Pentakosta, di mana ketika para murid telah menerima Roh Kudus, mereka mewartakan kabar gembira, sehingga pada hari yang sama 3000 orang memberikan diri untuk dibaptis. (Kis 2:1-41). Dengan demikian, evangelisasi tidak dapat dipisahkan dari Gereja, karena fokus dari evangelisasi adalah Kristus dan Kristus adalah Kepala dan Mempelai Pria dari Gereja. Tidak membawa dimensi Gereja dalam evangelisasi adalah mewartakan Kristus yang tidak lengkap. Oleh karena itu, dalam evangelisasi, kita tidak dapat memisahkan diri dari Gereja Katolik dan harus senantisa mewartakan dogma dan doktrin yang telah ditetapkan oleh Magisterium Gereja, karena semuanya bersumber pada Kitab Suci dan Tradisi Suci.

3. Dimensi soteriologi (keselamatan)

Kasih Allah bukanlah menawarkan kebahagiaan sementara, namun kebahagiaan kekal di dalam Kerajaan Allah. Inilah sebabnya, Yesus berjalan berkeliling dan memberitakan Kerajaan Allah (lih. Mt 4:17). Untuk inilah Kristus datang, yaitu memberitakan Kerajaan Allah dan membawa umat Allah masuk ke dalam Kerajaan Allah. ((EN, 8-9)) Oleh karena itu, evangelisasi yang menekankan kebahagiaan duniawi, kemakmuran sementara tidaklah menyampaikan pesan Kristus secara murni. Oleh karena itu, Paus Paulus VI dalam Evangelii Nuntiandi menekankan pentingnya seseorang dengan berani memikul salib, mengikuti Yesus, karena menaruh pengharapan pada kebahagiaan kekal di Sorga dan bukan pada kebahagiaan di dunia ini. ((EN, 10, 28,34))

4. Dimensi pertobatan dan kesaksian hidup

Kasih Allah yang ditawarkan oleh manusia yang berdosa, hanya mungkin diterima oleh manusia dengan pertobatan sebagai langkah pertama. Lebih tepatnya, Roh Kuduslah yang bertindak untuk menyadarkan manusia akan segala dosanya. Hanya melalui pertobatan yang sejati, maka rahmat Allah dapat mengalir kepada manusia. Oleh karena itu, semua orang yang terlibat dalam evangelisasi haruslah mengalami pertobatan sejati terlebih dahulu, sehingga dia dapat juga menjadi alat Tuhan untuk membawa pertobatan bagi orang lain. Orang yang telah mengalami pertobatan yang sejati tidak akan menjadi manusia yang sama lagi, karena dia telah mati terhadap dosa bersama dengan Kristus (lih. Rm 6:4). Kematiannya dari dosa, membuatnya terbuka terhadap rahmat Allah. Dan sebagai akibatnya, maka kekudusan akan mewarnai kehidupannya. Dan pada saat seseorang menampakkan buah-buah kekudusan, maka dia telah menampakkan buah-buah evangelisasi, yang akan terus berkembang dan mempengaruhi keluarga dan komunitas di sekitarnya. Inilah buah evangelisasi yang otentik. Paus Paulus VI mengatakan:

Manusia modern, secara sukarela lebih mendengarkan para saksi daripada para pengajar, dan jika dia mendengarkan para pengajar, hal tersebut disebabkan karena mereka [para pengajar] adalah para saksi” ((EN, 41 mengambil Paus Paulus VI dalam Address to the members of the Consilium de Laicis (2 Oktober 1974): AAS 66 (1974), p. 568))

Mengasihi sesama adalah buah dari evangelisasi baru

Orang sering salah melangkah dengan mencoba aktif dalam kegiatan-kegiatan tanpa landasan spiritualitas yang baik. Atau dengan kata lain, orang sering mencoba untuk mengasihi sesama dengan cara aktif dalam kegiatan Gereja tanpa landasan kasih kepada Allah. Tanpa berlandaskan kasih Allah, seseorang yang mencoba aktif dalam evangelisasi tidak akan bertahan lama, karena tinggal menunggu waktu, maka akan terjadi keributan, ketidakcocokan dengan teman, dan akhirnya akan tercerai berai. Hal ini sama seperti membangun rumah di atas pasir (lih.Mt 7:26), yang tidak akan bertahan pada waktu badai menerpa. Jadi, untuk dapat melakukan evangelisasi, maka kita harus mengasihi Tuhan. Dengan demikian, semua kegiatan gereja dan kegiatan evangelisasi adalah merupakan buah dari kasih kita kepada Allah.

1. Evangelisasi menjangkau semua bahasa dan semua agama, termasuk umat Katolik.

Karena sesama kita adalah semua bangsa, tidak memandang suku, bahasa, agama, maka evangelisasi juga harus diwartakan ke semua orang, ((EN, 49)) karena Allah menghendaki keselamatan bagi semua orang. Pewartaan kabar gembira dan kabar keselamatan ini adalah merupakan bentuk kasih kita sesama yang berdasarkan kasih kepada Tuhan. Hal ini diperintahkan oleh Yesus sendiri, ketika Dia mengatakan “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Mt 16:15). Kalau kasih adalah “menginginkan yang baik bagi orang yang dikasihi” dan tidak ada kebaikan yang lebih daripada keselamatan kekal, maka evangelisasi ke semua bangsa adalah merupakan bentuk kasih. Berikut ini adalah golongan yang yang harus dicapai dalam misi evangelisasi baru:

a) Orang-orang yang belum mengenal Kristus berhak untuk mendengarkan kabar gembira. Ini adalah misi yang diberikan Kristus kepada Gereja untuk membuat segala bangsa mendengar kabar gembira. ((EN, 51)) Cara-cara yang dapat digunakan untuk menjangkau semua orang dapat berbentuk pemberitaan secara langsung melalui kotbah, namun juga dapat melalui seni, pendekatan ilmu pengetahuan, filosofi dan cara-cara yang sah untuk menyentuh hati manusia. Kita juga harus mengingat bahwa anak-anak juga termasuk orang-orang yang belum mendengar Kabar Gembira. Oleh karena itu, setiap orang tua harus melakukan evangelisasi di dalam rumah masing-masing, sehingga anak-anak dapat bertumbuh dalam iman.

b) Orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan berhak untuk mengetahui kebenaran yang membebaskan. Dunia saat ini, banyak dipenuhi dengan orang-orang yang tidak percaya akan Tuhan, yang hanya percaya sesuatu yang terlihat, sesuatu yang empiris, pragmatis, materialisme, sekularisme, yang disebut oleh Hendri de Lubac sebagai “the drama of atheistic humanism“. Pada akhirnya semuanya ini hanya akan mendatangkan kekecewaan, kekosongan dan kehampaaan, karena tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Orang-orang yang telah diubah oleh Kristus harus dapat menunjukkan kepada golongan ini, bagaimana kebahagiaan sejati hanya dapat dicapai di dalam Kristus, silakan klik. Oleh karena itu, orang-orang percaya harus dapat menunjukkan kebahagiaan di dalam Kristus walaupun sedang menghadapi percobaan, sakit, dll. Kita harus mengingat apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” (Rm 8:35). Dan hal yang dapat dilakukan adalah berdialog dengan mereka, yaitu dengan menggunakan akal-budi (reason) maupun “argument of the heart“, yang menceritakan bagaimana seseorang telah diubah oleh Kristus dan memperoleh kehidupan yang baru, penuh kebahagiaan, kekuatan untuk menghadapi kehidupan, dan pengharapan yang tak tergoyahkan akan Kerajaan Sorga.

c) Orang-orang beragama non-Kristen berhak untuk mengetahui kepenuhan kebenaran yang ditawarkan Kristus. Mewartakan Kristus kepada umat dari agama non-Kristen adalah sesuatu yang harus kita lakukan, karena Injil atau Kabar Gembira diperuntukkan untuk semua golongan. Gereja Katolik melihat bahwa ada kebenaran dalam setiap agama, termasuk kebenaran dalam agama-agama non-Kristen, walaupun kebenaran ini tidak penuh seperti yang diajarkan Kristus. Percikan kebenaran dalam agama- agama lain dipandang oleh Gereja sebagai persiapan untuk menerima Injil. ((lih. LG, 16)). Maka untuk berdialog dengan mereka, maka kita harus menunjukkan bagaimana Yesus Kristus adalah benar-benar Allah. Kita dapat menggunakan argumentasi filosofis sebagai dasar pijakan yang sama.

d) Orang-orang Kristen non-Katolik berhak untuk mengetahui kepenuhan kebenaran di dalam Gereja Katolik. Di dalam ensiklik Ecclesiam Suam (ES), Paus Paulus VI menegaskan bahwa kita dapat berbicara tentang hal-hal yang mempersatukan kita, namun tidak dapat berkompromi terhadap integritas iman Katolik, baik dogma maupun doktrin yang berakar pada Alkitb, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja, yang dapat ditelusuri dari perkembangan doktrin. ((ES, 109)) Harus ditunjukkan bahwa dogma dan doktrin bukanlah merupakan spekulasi teologi, namun bersumber pada keinginan dan mandat dari Kristus sendiri.

e) Orang-orang Katolik harus menyadari bahwa kepenuhan kebenaran ada di dalam Gereja Katolik. Yang tidak boleh dilupakan dalam evangelisasi baru adalah umat Katolik sendiri. Dalam kasus di atas, di mana setengah dari umat Katolik di Amerika memilih calon presiden yang mendukung aborsi, maka kita melihat kenyataan yang menyedihkan, bahwa banyak umat Katolik yang tidak benar-benar mengetahui akan iman Katolik. Banyak dari antara mereka terjebak dengan pendapat bahwa semua agama adalah sama saja. Banyak dari mereka berfikir bahwa iman dan kehidupan nyata adalah dua hal yang berbeda, seolah-olah iman hanya digunakan pada hari Minggu, pada waktu ke gereja. Ada sebagian yang berpendapat bahwa seseorang dapat memilih-milih dogma maupun doktrin, di mana yang sesuai dengan keinginan pribadi diterima dan yang tidak sesuai ditolak. Dengan demikian iman direduksi menjadi suatu pendapat yang kebenarannya relatif dan dapat berbeda antara yang satu dengan yang lain. Betapa banyak umat Katolik yang perlu membaca deklarasi Dominus Iesus (silakan klik), agar dapat semakin mengenal akan imannya!

Keadaan ini sebenarnya menciptakan toleransi yang semu, yang menempatkan kebenaran sebagai sesuatu yang relatif. Untuk itulah, semua elemen di dalam Gereja Katolik harus menjangkau umat, agar mereka dapat benar-benar meyadari kekayaan Gereja Katolik yang begitu indah dan benar. Menyadari bahwa kepenuhan kebenaran ada di dalam Gereja Katolik. Dan berjalan dengan tegak bahwa dirinya telah menjadi anggota Gereja Katolik, namun dibarengi dengan kerendahan hati, karena menyadari bahwa iman adalah pemberian Tuhan dan menyadari sulitnya berjuang untuk hidup kudus. Dengan demikian, tidak ada yang dapat dibanggakan dari diri kita, kecuali menceritakan kasih dan rahmat Allah yang telah tercurah dalam kehidupan kita masing-masing.

Kita juga perlu menyadari bahwa ada yang perlu diperbaiki dalam proses katekese. Kalau seseorang yang telah belajar iman Katolik selama setahun dan kemudian setelah dibaptis dapat berpindah ke agama lain dengan alasan hangatnya komunitas, indahnya kotbah dari gereja lain, dan alasan pribadi yang lain, maka dapat dikatakan bahwa ada yang salah dalam proses katekese tersebut (silakan memberikan masukan pada proses katekese di sini – silakan klik). Oleh karena itu, semua pihak yang terlibat dalam proses katekese harus benar-benar mengerti dan mengasihi iman Katolik dan mempunyai hati yang mengasihi Yesus dan Gereja-Nya. Dia juga harus mengajarkan apa yang memang diajarkan oleh Magisterium Gereja dan senantiasa berada dalam kesatuan dengan Gereja, baik Gereja Lokal (tingkat paroki maupun tingkat keuskupan) dan juga gereja semesta. ((EN, 60))

2. Cara yang bijaksana perlu diterapkan dalam evangelisasi baru.

Kasih bukanlah kasih kalau memaksa. Oleh karena itu, evangelisasi – sebagai bentuk kasih – tidak boleh dilakukan dengan paksaan. Kita harus mempresentasikan iman Katolik dengan penuh hormat dan kelemahlembutan (lih. 1 Pet 3:15), sehingga orang-orang dapat melihat keindahan akan dogma dan doktrin Gereja Katolik. Dan keindahan ini dapat lebih bersinar, ketika dogma dan doktrin diterapkan dalam kehidupan nyata, yaitu dalam perjuangan untuk hidup kudus. Bahkan kekudusan dapat didefinisikan sebagai hidup menurut dogma dan doktrin.

Kasih bukanlah kasih kalau tidak disertai dengan kebenaran. Kalau kasih adalah menginginkan sesuatu yang baik untuk orang yang dikasihinya, maka kalau kita tidak mewartakan kebenaran, sebenarnya kita tidak memberikan yang baik bagi orang yang kita kasihi. Oleh karena itu, kita tidak perlu takut kalau ada perbedaan pendapat, pandangan dalam hal iman. Justru perbedaan ini, harus menjadi kesempatan bagi kita untuk mewartakan kebenaran.

Namun, untuk mewartakan kasih yang disertai kebenaran diperlukan kebijaksanaan. Tanpa kebijaksanaan, maka maksud baik kita akan dapat disalahartikan dan menjadi tidak efektif. Oleh karena itu, kita harus mengingat apa yang dikatakan oleh Yesus, yaitu “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Mt 10:16) Jadi, kalau kita mengenal latar belakang, permasalah, budaya, dari orang-orang yang mau diberitakan, maka kita akan dapat memberitakan Injil secara efektif. Kita harus tahu apakah yang mendengarkan pewartaan adalah anak-anak muda, orang-orang tua, pendidikan mereka, sehingga pesan yang ingin disampaikan menjadi lebih efektif dan berdaya guna. Evangelii Nuntiandi menekankan akan pentingnya evangelisasi bagi kaum muda, di mana mereka perlu mendengar semangat dan ide dari Injil yang sangat baik sebagai sesuatu yang harus diketahui dan diikuti. ((EN, 72))

Dalam perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur (silakan klik), Yesus mengatakan “Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang” (Lk 16:8). Pada jaman ini, kita melihat informasi tersebar begitu luas dan cepat dengan penggunaan media masa, yang bahkan sering digunakan untuk menyebarkan informasi yang bertentangan dengan semangat Injil. Paul Paulus VI menekankan pentingnya penggunaan media masa untuk menyebarkan kebenaran Injil, sehingga semua orang dari segala bangsa dapat mendengarkan kabar gembira, karena kabar gembira harus diberitakan secara lantang dari atap-atap rumah (lih. Mt 10:27). ((EN, 45)) Dan inilah juga yang diserukan berkali-kali oleh Paus Benediktus XVI, di mana dia mengatakan “Young people in particular, I appeal to you: bear witness to your faith through the digital world!” Sudah saatnya dunia yang dipenuhi dengan informasi yang bertentangan dengan kebenaran dapat juga dibendung dengan informasi tentang Sang Kebenaran, yaitu Yesus Kristus, yang dapat menuntun manusia pada keselamatan kekal, karena Dia adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup! (lih. Yoh 14:6).

Penutup

Mungkin ada yang bertanya-tanya, setelah membaca artikel di atas: Apanya yang baru dari evangelisasi baru? Memang tidak ada yang baru dari sisi kebenaran yang diberitakan, karena “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” (Ibr 13:8) Kalau kita perhatikan tidak ada doktrin yang baru yang diberikan oleh Konsili Vatikan II. Tidak ada yang baru dalam dua perintah utama, yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama atas dasar kasih kepada Tuhan. Tidak ada yang baru pada dimensi Trinitas dan ekklesiologi, dimensi soteriologi, dimensi pertobatan dan kesaksian hidup. Kita harus tetap memberitakan semua kebenaran ini, karena kebenaran-kebenaran tersebut dapat menuntun seseorang kepada keselamatan kekal. Mereduksi kebenaran tidak dapat dibenarkan, karena Yesus sendiri mengatakan “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mt 28:20) dan bukan “sebagian perintah” atau “perintah yang saya suka” atau “perintah yang gampang“.

Dapat dikatakan bahwa yang baru adalah situasi jaman, yang memang semakin bertentangan dengan semangat Injil. Dunia yang dipenuhi dengan keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup (lih. 1 Yoh 2:16). Dunia yang diwarnai dengan kebohongan materialisme, individualisme, dan sekularisme, relativisme, dengan gampangnya menyeret manusia dan bahkan umat Katolik sendiri untuk terlena dalam kenikmatan dunia yang bertentangan dengan kebahagiaan Sorga. Di tengah-tengah sebagian umat Katolik yang suam-suam kuku, tidak mempunyai daya untuk menjadi saksi Kristus yang baik, tidak mempunyai semangat untuk mewartakan kebenaran, maka “evangelisasi baru” menyerukan kembali seruan untuk berdiri tegak sebagai umat Katolik, percaya akan kepenuhan kebenaran yang ada di dalam Gereja Katolik, dan dengan penuh kebijaksanaan menyerukan kebenaran ini ke segala bangsa. Untuk itu, evangelisasi baru harus dimulai dari dalam Gereja Katolik sendiri dan pada saat yang bersamaan mewartakan Yesus yang tersalib dan bangkit ke segala bangsa. Semua komponen dalam Gereja Katolik, baik dalam hirarki, klerus, yang tergabung dalam ordo religius, dan kaum awam, harus bahu-membahu dalam membangun Gereja. Dan semuanya harus dimulai dengan menjadi saksi Kristus yang baik, yaitu dengan hidup kudus dan pewartaan tanpa henti dengan menggunakan cara-cara yang strategis dan bijaksana.

Mari, dalam kapasitas kita masing-masing, kita bertanya:

Apakah yang telah saya lakukan untuk Kristus dan Gereja-Nya, sebagai tanda kasihku kepada Allah?

Kenang-kenangan Cinta Tuhanku

4

Lukas 22 : 19 Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kataNya: “Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”

Selama 38 tahun hidup di dunia, saya beberapa kali mengalami perubahan suasana baru yang cukup signifikan dalam perjalanan hidup. Yang pertama tentu saja saat saya berpindah dari rahim Ibu saya yang hangat, gelap, sunyi dan nyaman menuju ke sebuah tempat maha luas yang bising dan menyilaukan yang bernama dunia.

Kemudian di usia 18 tahun, saya berpindah dari kota kelahiran saya di Malang menuju kota Bandung untuk melanjutkan kuliah, di mana saya berpindah kos sebanyak tiga kali sebelum akhirnya lulus dan menempati rumah idaman di kota Serpong bersama pemuda yang saya kenal di tempat kos yang kemudian menjadi suami saya. Enam tahun di Serpong, ternyata suami saya mendapat tawaran kerja yang lebih baik di negeri jiran, Malaysia. Jadilah saya kembali berpindah ke kota Kuala Lumpur yang semakin memisahkan saya dari tanah kelahiran dan kedua orangtua saya yang sangat saya cintai. Ternyata petualangan saya tak berhenti di sana. Setelah tiga tahun bermukim di Malaysia, pekerjaan yang diterima suami kembali membuat saya berpindah menuju belahan dunia lain yang bahkan lebih jauh dan asing bagi saya, menuju Milan, Italia. Hidup masih terus mengajak saya pindah. Hanya empatbelas bulan saja di Italia, suami saya ditugaskan bekerja di Houston, Amerika. Dan sekarang, berjarak setengah bulatan bumi dari orangtua yang saya cintai dan tempat kelahiran yang saya rindukan, saya tetap tidak tahu apakah akan bisa tinggal agak lama di negeri Paman Sam ini, atau kembali harus packing dan angkat kaki lagi entah kemana, setelah bermukim beberapa waktu.

Setiap kali saya harus berpindah domisili, perasaan yang selalu timbul dalam hati saya adalah sebersit kesedihan karena harus meninggalkan kehidupan dimana saya telah begitu terbiasa dan nyaman menjalaninya, sembari menikmati semua bentuk relasi dan persahabatan dengan sesama yang saya jumpai di negara-negara yang berbeda itu. Selain persahabatan dengan sesama dari Indonesia di tanah perantauan, persahabatan dengan orang dari berbagai suku bangsa merupakan pengalaman yang sangat memperkaya. Persahabatan yang telah sempat terjalin begitu membahagiakan saya hingga bila tiba saatnya saya harus pindah, ada rasa berat di hati karena harus berpisah dengan teman-teman yang semakin lama telah semakin akrab itu. Persahabatan yang telah bersemi namun kemudian harus saya tinggalkan itu kadang-kadang bertahan sampai lama, sekalipun saya sudah berada di tempat baru, dimana saya akan berjumpa dan bersahabat lagi dengan teman-teman baru di tempat baru. Saya tetap berusaha menjaga persahabatan yang telah terjalin dari tempat sebelumnya, berusaha tetap saling berkirim kabar. Tapi tidak jarang hubungan pertemanan itu tidak bertahan dan sirna dengan sendirinya karena telah terpisah jarak yang begitu jauh, kesibukan di tempat baru, dan waktu. Bagaimanapun, saya berharap bahwa perjumpaan yang telah terjadi sungguh telah saling membuat kami menjadi lebih matang. Dan selalu layak untuk dikenang.

Sekalipun perpisahan membuat hati saya sedih karena rasa ketidakpastian di tempat baru, dan kerinduan kepada sahabat yang saya tinggalkan seringkali membayangi keberangkatan saya, ada satu hal yang membuat saya terhibur. Yang membuat saya tetap merasakan kehangatan persahabatan walau perjumpaan dan kebersamaan hidup itu telah berlalu. Yaitu kenang-kenangan dari para sahabat yang saya tinggalkan. Demikian juga biasanya saya akan membuat suatu tanda kenangan untuk mereka. Kami bertukar cenderamata, sebagai tanda kasih dan kenangan akan kebersamaan kami. Sebagai tanda bahwa perjumpaan yang telah terjadi sangat berarti, walau hanya dalam sepenggal babak kehidupan. Bentuk kenangan yang pernah saya terima dari berbagai sahabat di perantauan itu bermacam-macam. Mulai dari sepucuk surat, sebuah kartu yang ditandatangani beramai-ramai, kumpulan foto momen-momen kebersamaan kami, cincin, kalung, lukisan karikatur saya bersama suami, hingga sulaman cantik dengan tulisan nama saya dan suami. Semua benda kenangan itu selalu saya simpan baik-baik sehingga saya bisa selalu mengenang persahabatan yang terjadi dalam hidup saya. Seringkali dalam waktu luang, saya pandangi atau saya baca kembali, untuk mengobati kerinduan kepada sahabat-sahabat yang telah diberikan Tuhan dalam hidup saya. Namun karena seringnya berpindah negara, dan itu juga berarti pindah rumah, dengan segala kesibukan packing dan unpacking (meringkas barang dan membongkarnya lagi di tempat baru), seringkali saya terlupa dimana saya menaruh benda-benda kenangan itu. Saat saya ingin melihatnya lagi, tak jarang saya harus membongkar kardus atau mencari-cari di tumpukan buku dan file saya. Untuk hiasan sulaman dan karikatur, saya membingkainya dalam pigura untuk bisa dipajang di dinding sehingga saya bisa melihatnya setiap saat. Namun setiap kali saya berpindah, tentu saja pigura-pigura itu juga harus kembali diringkas dan dimasukkan ke dalam kardus. Biasanya perlu waktu beberapa bulan sebelum saya bisa membongkarnya dan memasangnya lagi di tempat yang baru.

Di malam saat Tuhan Yesus mengadakan perjamuan terakhir bersama para sahabatNya, saya meyakini bahwa Tuhan Yesus sebagai manusia juga merasakan kesedihan yang sangat dalam menghadapi perpisahan dengan para sahabatNya. Sekalipun pada saat itu murid-muridNya itu belum menyadarinya. Tapi Yesus mengetahui bahwa esok hari Dia akan wafat meninggalkan dunia dan sahabat-sahabatNya, dan dengan penderitaan yang hebat di kayu salib yang hina. Sebagai seorang manusia, saya turut merasakan betapa dalam kesedihan Tuhanku Yesus, walaupun pemahaman saya tak akan pernah sempurna. Namun di saat yang saya bayangkan akan sangat pedih, seperti kalau saya hendak meninggalkan suatu tempat dan berpisah dengan sahabat-sahabat saya, apalagi terpisah oleh sengsara dan kematian, Tuhanku Yesus Kristus justru masih sempat memberikan teladan yang teramat indah. Karena Dia begitu setia akan misi yang diembanNya dari BapaNya. Yaitu teladan untuk saling melayani. Untuk berani dan rela menjadi yang paling rendah demi kasih pelayanan yang tulus bagi sesama. Sehingga teladan kasih sejati yang Dia tinggalkan kepada para sahabatNya, disempurnakan oleh sikap pelayanan yang tulus dan kerendahan hati. Saya berharap, di saat perpisahan dengan sesama, saya juga meninggalkan teladan kerendahan hati, dan bukan kepahitan, kesombongan, atau kepentingan diri sendiri.
Tentu saja Yesus juga memberikan kenang-kenangan kepada para sahabatNya yang sebentar lagi akan ditinggalkanNya. Kenangan itulah yang memukau jiwa saya setiap kali saya merayakan Ekaristi dan menghayati dalamnya misteri cinta Tuhan. Hati dan jiwa saya tergetar, pada saat proses konsekrasi dimana Imam berdoa mohon rahmat Roh Kudus mengubah hosti dan anggur menjadi Tubuh dan DarahNya, seperti saat Yesus memecahkan roti bersama para murid di malam perjamuan terakhir itu. Kenang-kenangan yang Tuhan berikan adalah TubuhNya dan DarahNya sendiri. Bukan sekedar tanda mata hasil karya tangan dan pikiran, tetapi seluruh keberadaanNya. Dan saat itu, Dia sungguh hadir secara nyata. Lebih lagi, begitu dalam kerendahan hatiNya sehingga sudi hadir dalam rupa roti dan anggur yang bersahaja. Bentuk roti dan anggur untuk dimakan dan diminum itu adalah cara yang luar biasa yang dipilih oleh Tuhan Raja Semesta Alam untuk meninggalkan kenangan. DipilihNya berupa makanan dan minuman, supaya kenangan itu menyatu dengan kita, menjadi bagian dari kita. Dengan memakan Tubuh dan DarahNya melalui konsekrasi, TubuhNya menyatu dengan tubuh saya, dan DarahNya mengalir dalam darah saya. Betapa luar biasa caraNya memberikan saya kenang-kenangan. Saya hanya cukup melihat ke dalam diri saya bila saya merindukanNya, karena kenangan itu akan selalu bersama saya, di dalam saya. Saya tak perlu meringkasnya ke dalam kardus dan membongkarnya lagi di tempat baru, tak perlu khawatir kenangan itu terhilang atau terselip, sehingga tak bisa saya pandangi terus. Karena kenangan dariNya itu akan selalu di dalam saya, bersama saya, menyatu dengan saya, kemanapun saya pergi.

Peristiwa Perjamuan Malam Terakhir para murid bersama Yesus bagi saya adalah sebuah bukti hidup betapa besarnya kasihNya yang tanpa pamrih kepada manusia yang fana dan lemah ini. Ia ingin menjadi sama dengan kita dan mengalami derita sebagai manusia. Bahkan itu belum semua. Melalui penderitaan yang hebat yang Dia jalani dengan sadar dan rela hingga wafat, Ia ingin membuat kita memahami sepenuh jiwa dan raga, bahwa Ia begitu mencintai manusia. Tuhan begitu haus untuk mencintai kita. Nyawa kita begitu berharga bagiNya hingga nyawaNya sendiri tidak dihargaiNya dan tidak disayang-sayang olehNya. Dan malam terakhir sebelum Ia meninggalkan dunia ini, disediakanNya bekal teladan dan kenangan yang abadi yang teramat sangat indahnya bagi masing-masing dari kita, sahabat-sahabatNya. Hati saya menjerit oleh perasaan dicintai yang begitu dalam. Hati saya menjerit, mengingat bahwa saya merasa belum cukup berbuat sesuatu yang berarti untuk membalas cintaNya yang tulus dan dahsyat itu, bahkan lebih sering saya mengacuhkanNya dan menyakitiNya. Dalam hidup dan mati, baik di langit ataupun di bumi manapun, saya tahu saya tak akan pernah menemui sahabat yang begitu penuh cinta kepada saya seperti Dia.

Bekal kenangan itu yang juga akan selalu menyertai setiap tahap perubahan dan perpindahan yang masih akan terus terjadi dalam dinamika kehidupan kita, yang tidak selalu mulus dan manis, yang juga penuh tantangan dan kesukaran. Termasuk ketika perpindahan kita yang terakhir tiba yaitu dari kehidupan yang fana ini kepada perhentian akhir yang kekal bersama Bapa di Surga, di mana Yesus Tuhan telah menyediakan tempat bagi sahabat-sahabatNya yaitu kita semua, dan menantikan kita pulang. Yesus telah mengatakan hal itu kepada kita : “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ. ” (Yoh 14 : 2 – 4)

Kisah-kisah menyenangkan dari perjalanan hidup yang telah berlalu tak akan terulang kembali, hanya kenangan manis yang akan selalu tinggal di hati saya. Namun kenangan terindah dari Tuhan kita Yesus Kristus setiap kali saya menyambut tubuhNya, merenungkan teladan dan wafatNya, menghayati pengorbananNya, dan menyambut kebangkitanNya dari alam maut, akan senantiasa bersama saya dan kita semua, tanpa mengenal batas waktu, jarak, tempat, dan keadaan …….melampaui maut dan kehidupan.

Epilog

Yesus, Guru dan Sahabatku, seluruh hidupku tak akan pernah cukup untuk menyatakan cinta dan terimakasihku kepadaMu. Setiap buah pikiran, perbuatan, dan tindakanku seumur hidupku, tak akan pernah memadai untuk membalas semua cinta dan pengorbananMu. Tapi aku tahu bahwa CintaMu cukup untuk mengatasi semua keterbatasanku, aku tahu CintaMu mampu mengatasi ketidakberdayaanku. Terimakasih Yesusku, untuk CintaMu yang tak akan pernah mampu kuselami, biarlah aku hidup oleh karena Cinta itu. Biarlah dengan terus menghidupi dan menghayati CintaMu, hidupku boleh berubah. Berubah dari orientasi untuk diriku sendiri, menuju hidup demi Cinta. Menjadi karenaMu, untukMu, dan hanya untukMu. Bukan karena Engkau menghendaki aku berubah, karena Engkau selalu mencintaiku apa adanya, dan mencintaiku sejak sangat awal, hingga kekal. Aku rindu untuk berubah, karena aku mencintaiMu, dan hanya itu yang dapat aku lakukan untuk membalas CintaMu, walau itu tak akan pernah terasa cukup bagiku. Dan di akhir nafasku, ijinkan aku sekedar berbisik, “ Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” . Karena hanya bersamaMu, aku bahagia, dan hanya didalamMu, aku sungguh-sungguh hidup.

Uti

Houston, 27 Maret 2010

-Kisah ini terinspirasi oleh homili bertahun-tahun yang lalu yang dibawakan seorang Imam dari Surabaya (ordo CM), yang memberi kotbah indah di misa Kamis Putih di Gereja Misericordia, Jalan Jayagiri, Malang, Jawa Timur. Sayang sekali saya lupa nama Imam tersebut karena peristiwanya sudah sangat lama berlalu. Karena indahnya isi homili itu, walau kami semua lupa nama Imam itu, kotbahnya melekat dalam sanubari saya dan keluarga hingga hari ini.-

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab