Home Blog Page 250

Surat Barnabas dan tentang Mani

8

Pertanyaan:

YTH. Tay…

ttg injil Barnabas : bukankan justru Barnabaslah murid terdekat Yesus ? sedangkan mathius dll itu bukan murid Yesus dan tdk sejaman dengan Yesus…dan sebenernya ada penganut kristen yg memakai injil barnabas :

Barnabas ini SUDAH digunakan secara luas terutama di GEREJA ALEXANDRIA DI MEZIR, Dan injil Barnabas ini ikut serta dalam injil-injil lain, yang kemudian dinyatakan dilarang untuk dibaca oleh pihak Gereja. Jadi intinya banyak sekali injil yang dianggap Apokripa oleh gereja salah satunya adalah injil Barnabas. Sekarang mari kita lihat sejarah th 242 ada suatu gerakan yang dikenal dengan mistik Manichea yang dipelopori oleh Mani (mane) yang sebelumnya pernah diramalkan Yesus. Dan mani ini adalah penganut injil Barnabas (buku H.G A Short History of the World). yang menyatakan bahwa Yesus itu bukan Tuhan dan tidak mati disalip.

Dan Akhirnya th 276 M atas perintah raja, Mani dikuliti sampai mati, dipenggal lehernya, mungkin agar tidak bangkit kembali, tubuhnya yang sudah dipotong-potong, kemudian dipajang ditempat umum (baca Michael Baigent Dkk…1983 hal 384-385). berdasarkan sejarah ini maka injil barnabas itu sudah ada sejak abad pertama dan dianut oleh oleh gereja. Dan akhirnya sejak Abad III gereja akhirnya menyingkirkan injil barnabas. Kemudian dikutuk oleh dekrit Gereja Barat th 382. Selanjutnya dikutuk oleh dekrit Innocent I th 465. Kemudian dikutuk lagi pada sidang gereja di Galasius Jelas bahwa injil barnabas ini dianut oleh gereja Alexandria Mezir, dan kalo nggak salah mungkin anda pernah dengar Arius, juga menggunakan injil ini.

Aku mendapati pertanyaan ini dari sahabat muslim, mohon tanggapannya? Terima kasih…
Maximillian Reinhart

Jawaban:

Shalom Maximillian,

1. Tentang Surat Barnabas

a. Siapa Barnabas?

Kitab Suci tidak pernah mengatakan bahwa Barnabas adalah murid terdekat Yesus. Kitab Suci mencatat bahwa murid yang dikasihi Yesus adalah Rasul Yohanes, yang pada saat perjamuan terakhir duduk di dekat Yesus dan bersandar dekat kepada-Nya (Yoh 13:23). Barnabas, yang asalnya bernama Yosef, dikatakan dalam Kitab Suci sebagai rasul (lih. Kis 13:43), seperti halnya Paulus, namun tidak termasuk dalam bilangan kedua belas rasul.

b. Garis besar isi surat Barnabas

Surat Barnabas menceritakan adanya gnosis (perfect wisdom) yaitu pengetahuan yang pasti akan rencana keselamatan. Terdiri dari dua bagian: 1) Bab 1-5: 4 adalah pengajaran/ peringatan, bahwa hari- hari yang jahat telah tiba, dan bahwa akhir dunia dan hari Penghakiman akan datang, dan para beriman yang telah dibebaskan dari hukum seremonial Yahudi, harus mempraktekkan kebajikan dan meninggalkan dosa. 2) Bab 5:5- bab 17 adalah bersifat spekulatif, untuk memberikan kebebasan umat Kristen dalam hal peraturan- peraturab Nabi Musa. Penulis menunjukkan bagaimana hukum Taurat harus dimengerti sebagai simbol kebijakan Kristiani dan institusinya, bagaimana Perjanjian Lama merupakan gambaran/ persiapan bagi kedatangan Kristus, sengsara-Nya dan Gereja-Nya. Sebelum mengambil kesimpulan, penulis mengulangi bagian pertama surat dengan mengutip penjabaran dari dokumen lain (the Didache) yaitu tentang kontras dua hal: jalan terang dan jalan kegelapan (bab 18- 20).

Surat Barnabas ini mempunyai karakter allegoris/ simbolis yang kuat, yang menurut para ahli kitab suci bahkan berlebihan sehingga cenderung menganggap PL sebagai semata- mata simbolis dan menolak arti literal PL dengan mengatakan bangsa Yahudi tidak pernah mempunyai perjanjian dengan Tuhan, dan bahwa sunat adalah pekerjaan Iblis, sehingga secara umum menentang tradisi Yahudi (lih. bab 7:3,11; 9:7, 10:10; bab 14).

Meskipun demikian, sebenarnya surat Barnabas ini tidak dituliskan untuk maksud polemik. Sebab cara penyampaiannya tentang Perjanjian Lama juga tidak dapat disamakan dengan interpretasi kaum Basilides dan Marcion yang menyalahgunakan tulisan ini. Surat Barnabas ini hanya merupakan semacam peringatan seorang pengajar agar umat tidak kembali ke ajaran seremonial Yahudi.

c. Sifat umum surat Barnabas

Penulis menjabarkan kesalahan- kesalahan kaum Yahudi, secara khusus adalah kaum Ebionit (lih. bab 4:4,6; 5:5, 12:10, 14:1). Namun demikian ia tidak menyerang mereka, melainkan hanya menuliskan pendapatnya tentang Yudaism dan hukum-hukumnya. Penulis tidak menuliskannya kepada umat Kristen secara umum, tetapi kepada jemaat setempat yang daripadanya ia sendiri merasa terpisah (lih. bab 1:2,4; 21:7,9).

Dalam sudut pandang literatur, Surat Barnabas ini tidak menunjukkan penulisan yang baik, sebab dituliskan dengan gaya yang melelahkan (tedious), kurang menggunakan ekspresi, kurang dalam hal kejelasan, dan terdapat banyak ketidakcocokan. Namun dari segi dogmatik, yang terpenting adalah surat Barnabas ini menyebutkan/ mengutip Injil Matius sebagai Kitab Suci (bab 4:14).

Dalam hal Kristologi, surat ini mengembangkan doktrin soteriologi dan justifikasi yang diajarkan Rasul Paulus. Maka keliru jika disebutkan bahwa ia menganggap Kristus sebagai hanya roh/ jiwa saja di dalam gambaran Tuhan. Walau surat ini tidak menyatakan secara eksplisit bahwa Kristus sehakekat dengan Bapa, namun surat ini mengakui adanya keilahian Kristus yang sudah ada sebelum Penciptaan dunia. [Dan dengan demikian mengakui bahwa Kristus adalah Sang Sabda yang sudah ada bersama- sama dengan Bapa sebelum Penciptaan dunia].

d. Kapan dituliskan

Injil Barnabas (atau lebih tepat disebut sebagai surat/ homili Barnabas) telah dikenal pada sekitar abad ke 2 di Gereja Alexandria, karena diperkirakan memang dituliskan oleh seseorang dari jemaat Alexandria. Tidak ada tulisan lain dari para Bapa Gereja abad- abad awal yang mengkonfirmasi bahwa surat tersebut benar- benar dituliskan oleh Barnabas, sehingga siapa pengarang surat ini dan kepada siapa surat ini dituliskan secara khusus tidak diketahui dengan pasti.

Penggambaran tentang kontroversi ajaran Yahudi di sini dijabarkan sebagai sesuatu yang telah lampau di jemaat. Bab 16:3-5, menyebutkan adanya perintah rekonstruksi bait Allah di Yerusalem. Perintah ini diberikan oleh Kaisar Hadrian tahun 130, untuk menghormati Yupiter, untuk membangun kembali bait Allah yang telah dihancurkan oleh Kaisar Titus. Kaisar Hadrian juga melarang praktek sunat oleh orang Yahudi, seperti yang telah disebutkan secara implisit di surat ini, bab 9:4. Maka surat Barnabas ini diperkirakan dituliskan sekitar tahun 130-131 jadi jauh sesudah Injil sinoptik (Matius (38-45), Markus, Lukas (64-67).

Penulis surat ini kemungkinan adalah seseorang dari jemaat Alexandrian, yang menempatkan dirinya berseberangan dengan tradisi Yahudi, meskipun ia sendiri tidak selalu memahami ritus dari Nabi Musa (lih. Bab 7). Sampai abad ke-empat, surat ini dikenal hanya oleh Gereja di Alexandria. Dari tulisan Bapa Gereja Klemens dari Alexandria dan Origen, diketahui bahwa sekitar tahun 200, bahkan di Alexandria, surat Barnabas ini tidak dianggap sebagai tulisan yang diilhami oleh Roh Kudus.

e. Kesimpulan

Sebagai umat Katolik, kita hanya berpegang dari apa yang telah ditetapkan dari Magisterium tentang kanon Kitab Suci. Magisterium melalui Paus Damasus I (382) dan konsili- konsili berikutnya menentukan hanya ada empat Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) dan inilah yang dipegang oleh Gereja Katolik. Sepanjang pengetahuan saya Surat Barnabas ini tidak dikutuk oleh Paus Damasus/ Sinoda Roma. Surat itu hanya tidak diakui sebagai tulisan yang diinspirasikan oleh Roh Kudus, sehingga tidak dimasukkan dalam kanon Kitab Suci.

2. Tentang Mani

Mani adalah seorang Persia yang mendirikan agama yang dikenal sebagai Manichæism pada abad ke 3, yang merupakan campuran antara dualisme Zoroastrian, cerita rakyat Babilonia dan etika Buddism, dengan penambahan elemen- elemen Kristiani. Prinsip ajarannya adalah adanya dua prinsip utama yaitu kebaikan dan kejahatan, seperti yang kemudian diajarkan kembali oleh ajaran sesat Albigensian di abad ke 12, seperti yang pernah dituliskan di sini, silakan klik.

Mani mensejajarkan dirinya dengan Buddha, Zoroaster dan Yesus dan menyebut diri sebagai “Rasul dari Tuhan yang benar”. Prinsip ajarannya adalah ajaran gnostik, yang mengajarkan keselamatan dengan pengetahuan, yaitu kosmogoni. Manichaeanism mengaku sebagai aliran Kristen, namun ajarannya tidak sesuai dengan ajaran Kristus: Mani mengaku sebagai Roh Kudus, dan ia menolak Kisah Para Rasul. Ia menolak semua kitab Perjanjian Lama, namun menerima sebagian dari ayat- ayat Perjanjian Baru, untuk disesuaikan dengan ajarannya. Baginya Yesus hanya sebuah partikel ilahi (aeon) Terang, dan Mani menolak bahwa Yesus telah benar- benar lahir dalam sejarah manusia. Jadi yang dipercaya oleh Mani, adalah Yesus hanya sepertinya bayangan, yang kelihatannya hidup, menderita dan wafat, tetapi semua itu tidak sungguh- sungguh terjadi dan dialami Yesus. Ini adalah sesuatu ajaran yang sangat bertentangan dengan inti iman Kristiani!

Mani bekerja di bawah Raja Persia Shapur I (242) kemudian Hormizd I, namun penerusnya Bahram I mulai menganiaya Mani dan para pengikutnya. Ia (Raja Bahram I) akhirnya memenjarakan Mani, dan Mani wafat di penjara pada tahun 276 dan 277. Memang kenyataannya, ajaran Manichaeism ini banyak berkembang di Alexandria, kemungkinan karena adanya sekilas kemiripan dengan surat Barnabas tersebut (penolakan ajaran Yahudi, dan pertentangan antara terang dan kegelapan); walaupun kalau sudah diperhatikan detailnya, sesungguhnya tidak berhubungan. Karena pada saat surat Barnabas itu dituliskan, ajaran gnostik campuran ala Mani itu belum anda. Dan secara prinsip, sebenarnya terdapat perbedaan yang besar, terutama karena surat Barnabas tetap mengajarkan ke- Allahan Yesus, sedangkan Manichaeism tidak. Mani-lah yang mengajarkan prinsip Kristologi Docetism tentang Yesus yang tidak sungguh- sungguh disalibkan, seperti yang kemudian diyakini oleh umat Islam.

St. Agustinus pernah mengikuti aliran Manichaeism selama beberapa tahun dan mendalaminya (373-383- sebelum bertobat menjadi Katolik), sampai akhirnya ia menemukan sendiri bahwa aliran ini sungguh- sungguh sesat. Akhirnya, St. Agustinus malah menjadi seorang yang menentang Manichaeism dan menuliskan banyak artikel untuk membuktikan bahwa ajaran Mani (yang mengklaim mengajarkan pengetahuan sempurna untuk keselamatan) adalah ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran Kristus, dan bahkan bertentangan dengan akal sehat.

Demikianlah yang dapat saya tuliskan sekilas tentang Surat Barnabas dan Mani. Semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Kematian Yesus di salib adalah kemenangan

23

Pertanyaan:

Aku betul-betul prustasi kenapa Tuhan Yesus harus mati ditiang salib, Kenapa Tuhanku sampai kalah dengan tentara Romawi ! Kenapa dia tidak tuntas dalam menyampaikan risalahnya ( Yohanes 16 :12-14) “12 Masih banyak hal yang harus aku katakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.
13Tetapi apabila ia datang, yaitu Roh Kebenaran. Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran. Sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarnya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.
14 Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.

Dan siapa Roh Kebenaran itu ?

Manis

Jawaban:

Shalom Manis,

1. Kematian Yesus di salib adalah tanda kemenangan

Kematian Yesus di kayu salib itu bukanlah sesuatu tanda kekalahan, tetapi justru kemenangan. Penderitaan dan wafat-Nya itu memang merupakan suatu ‘kebodohan’ menurut hikmat manusia, tetapi merupakan ‘kemenangan’ menurut hikmat Allah (lih. 1 Kor 1: 18-31).

Sebab dengan pengorbanan Kristus di kayu salib dan kebangkitan-Nya dari mati, maka Kristus mengalahkan kuasa dosa dan maut. Sebab tidak ada seorangpun di dunia ini dapat bangkit dari kematiannya, dan memang hanya Yesus Kristus saja, dan tidak akan pernah ada lagi. Yesus, Allah Putera yang menjelma menjadi manusia, wafat di salib sebagai korban tebusan dosa- dosa umat manusia (lih. Mat 20:28) agar dengan demikian jurang yang memisahkan antara Allah dan manusia akibat dosa, dapat terjembatani; sehingga manusia dapat kembali kepada Allah dan menerima kehidupan kekal. Silakan anda membaca artikel ini: Kesempurnaan rancangan keselamatan Allah, silakan klik.

2. Wafat Kristus dan kebangkitan-Nya memang merupakan puncak dalam rencana Allah menyelamatkan manusia.

Maka wafat Kristus dan kebangkitan-Nya memang merupakan puncak dalam rencana Allah menyelamatkan manusia. Karena melalui wafat, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke surga, tercurahlah rahmat keselamatan bagi kita manusia. Kini, rahmat tersebut terus tercurah kepada kita melalui sakramen- sakramen Gereja oleh kuasa Roh Kudus, yaitu Roh Kebenaran yang disebutkan dalam Yoh 16:12-14. Pada saat Yesus menjelaskan kepada para muridnya di perikop Yoh 16 tersebut, para murid belum dapat memahaminya, karena mereka tidak menyangka bahwa untuk menyelamatkan dunia Kristus harus mengalami sengsara dan wafat di kayu salib sampai sedemikian rupa. Walaupun Yesus sendiri telah sedikitnya tiga kali memberitahukan para rasul-Nya tentang kematian-Nya ini (Mat 16:21; Mat 17:22-23; Mat 20:17:19), para murid-Nya baru memahaminya setelah segala sesuatu yang dikatakan Yesus terjadi.

Maka perasaan anda yang frustasi karena penyaliban Yesus, itu menyerupai pengalaman kedua murid Yesus di perjalanan ke Emaus (lih. Luk 24:13-35). Namun Kristus menampakkan diri kepada kedua murid tersebut, untuk membuktikan bahwa Ia sungguh bangkit dan hidup. Yesus berjalan bersama mereka sambil menjelaskan makna Kitab Suci dan mereka mengenali Kristus yang bangkit pada saat Ia memecahkan roti, namun seketika itu juga Ia lenyap dari pandangan mereka. Pengalaman ini mengobarkan hati mereka dan para murid lainnya, bahwa Kristus sungguh telah bangkit dari mati. Mukjizat kebangkitan ini membuktikan bahwa Kristus sungguh adalah Allah Putera yang menjelma menjadi manusia. Maka kematian Kristus di salib bukanlah kekalahan, namun sebaliknya adalah kemenangan; karena diikuti oleh kebangkitan, yaitu bukti bahwa Kristus telah mengalahkan kuasa dosa dan maut demi menebus dosa- dosa manusia. Wafat dan kebangkitan-Nya untuk membuka jalan keselamatan bagi kita.

3. Yesus menyerahkan nyawa-Nya atas kehendak-Nya sendiri, bukan karena ‘dikalahkan’ oleh orang- orang Yahudi ataupun Romawi.

Maka pada saat Yesus menyerahkan diri-Nya ke tangan orang- orang Yahudi itu adalah karena Ia sendiri menghendaki-Nya, demi memenuhi rencana keselamatan Allah. Tuhan Yesus telah berulang kali mengajarkan betapa Ia akan menyerahkan nyawa-Nya demi menyelamatkan umat-Nya seperti halnya Gembala yang baik menyerahkan-Nya nyawa bagi domba- domba-Nya.

Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;….. Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.” (Yoh 10:11, 18)

Jadi bahwa Yesus menyerahkan nyawa-Nya bukan karena Ia ‘kalah dengan tentara Romawi‘. Yesus memang dengan kehendak bebas-Nya menyerahkan nyawa-Nya kepada orang- orang Yahudi; agar dengan demikian Ia dapat menjadi korban penebusan dosa umat manusia untuk memenangkan dari kuasa dosa dan maut, jiwa orang-orang yang percaya.

4. Dengan menyerahkan Nyawa-Nya di salib, Kristus menggenapi nubuat para nabi tentang Mesias yang diutus Allah.

Dengan kurban salib-Nya, Kristus memenuhi nubuat para nabi beratus- ratus tahun sebelum-Nya, bahwa sebagai Mesias, Ia akan wafat dengan cara demikian.

Sang Mesias digambarkan mengalami penderitaan:

a. Yakub menggambarkan bahwa Mesias akan mencuci pakaiannya dengan anggur dan bajunya dengan darah buah anggur (Kej 49:11).

b. Daniel 9 memberikan gambaran akan Mesias yang menderita, dimana dia akan disingkirkan, walaupun tidak mempunyai kesalahan apapun (Dan 9: 26).

Gambaran akan penderitaan Mesias dan kebangkitan-Nya:

a. Nabi Yesaya memberikan gambaran yang begitu jelas akan penderitaan Sang Mesias (Yes 42; 49; 50; 53).

b. Mesias harus menderita untuk menanggung dosa dunia; oleh bilur-bilur-Nya, kita disembuhkan (Yes 53:5).

c. Mesias juga akan ditolak oleh orang banyak (Mzm 118:22).

Yesus ditolak bukan hanya oleh orang-orang, namun terutama adalah para ahli farisi, imam agung. Namun penolakan ini melahirkan Kerajaan Allah, dengan Yesus sendiri sebagai batu penjuru (Mat 21:42).

d. Daud berbicara tentang penderitaan Kristus di kayu salib, seperti: tangan dan kakinya akan ditusuk, segala tulangnya terlihat, membagi pakaiannya, menderita kehausan yang sangat (Mzm 22).

e. Nabi Yesaya mengatakan bahwa Mesias akan memberikan punggungnya bagi orang-orang yang memukulnya, dan memberikan pipinya bagi yang mencabut janggutnya. Dia dinodai dan diludahi, namun dia tidak menyembunyikan mukanya (Yes 50:6).

f. Kebijaksanaan Salomo menceritakan tentang penganiayaan dan penolakan akan Kristus (Keb 2:12-20).

Drama yang begitu kejam ini terpenuhi dalam diri Kristus yang mengalami penderitaan begitu hebat sesuai dengan yang dinubuatkan nabi Daud dan Yesaya (Mat 27:39-42).

g. Daud berbicara tentang kebangkitan Mesias ketika dia berkata bahwa Tuhan tidak akan memberikan Dia kepada dunia orang mati (Mzm 49:15).

Yesus menggenapi nubuat ini, dengan kebangkitan-Nya dari mati; dengan disaksikan begitu banyak orang yang masih hidup pada waktu Injil dan Surat Rasul Paulus ditulis (Mat 28:7). Yesus juga mengatakan bahwa Dia adalah kebangkitan dan hidup dan barangsiapa percaya kepada-Nya, dia akan hidup walaupun dia sudah mati (Yoh 11:25).

5. Roh Kebenaran (Yoh 16:12-14) adalah Roh Kudus yang turun atas para rasul pada hari Pentakosta.

Setelah Kristus bangkit dan naik ke surga, maka para murid berkumpul dan menantikan pemenuhan janji Kristus yang akan mengutus Roh Kebenaran (Yoh 16: 13). Roh Kebenaran ini adalah Roh Kudus yang turun atas para rasul pada hari Pentakosta (lih. Kis 2:4). Roh Kudus inilah yang mengubah para rasul, dari yang tadinya takut akan orang- orang Yahudi (Yoh 20:19) menjadi berani dalam memberitakan firman Tuhan (lih. Kis 2:14-40; Kis 3, 4, 5, dst). Karunia Roh Kudus menyertai para rasul pada saat mereka mengajar, sehingga mengakibatkan pertobatan banyak orang (lih. Kis 2:41, 47).

Roh Kudus juga mendorong para rasul untuk berbicara dengan hikmat Allah, seperti contohnya kepada Petrus, Yohanes dan Stefanus, sehingga tak seorangpun sanggup melawan hikmat mereka (lih. Kis 4, 6:10, 22:30-dst, Kis 25, 26). Ini merupakan pemenuhan janji Kristus, bahwa akan memberikan Roh Kudus-Nya kepada para rasul-Nya sehingga mereka akan dapat memberikan jawaban atas segala pertanyaan yang ditujukan kepada mereka:

“Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis-majelis atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu kuatir bagaimana dan apa yang harus kamu katakan untuk membela dirimu. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.” (Luk 12:11-12)

Maka Roh Kudus atau Roh Kebenaran (lih. 1 Yoh 5:6) adalah Roh Kristus sendiri yang telah membangkitkan-Nya dari kematian. Roh Kudus ini diberikan kepada semua yang percaya kepada-Nya dan dibaptis (lih. Kis 2:38). Roh Kudus inilah yang menjadikan kita milik Kristus, dan Roh ini akan memimpin kepada kehidupan dan kebenaran (lih. Rom 8:10-11); sebab Kristus adalah kebenaran dan hidup (Yoh 14:6). Roh Kudus ini juga disebut Roh Penghibur, yang diutus oleh Allah Bapa dalam nama Kristus, dan Roh Kudus ini akan mengajarkan segala sesuatu kepada kita dan mengingatkan kita akan semua yang telah dikatakan Kristus kepada kita (lih. Yoh 14:26). Maka Roh Kudus (yang disebut juga sebagai Roh Penghibur dan Roh Kebenaran) ini adalah Pribadi ketiga dari Allah Trinitas: Roh Kudus dalam kesatuan dengan Allah Bapa dan Kristus Sang Allah Putera. Selanjutnya tentang Allah Trinitas, silakan klik di sini.

 

Demikianlah Manis, yang dapat saya tuliskan menanggapi pertanyaan anda. Jangan frustasi karena Kristus telah wafat di salib. Sebab Kristus telah bangkit! Justru kematian Kristus di salib harus menjadi sumber kekuatan dan pengharapan kita, agar dapat bangkit bersama Dia. Sebab jika kita mati terhadap dosa, maka bersama Kristus kita akan memperoleh hidup yang baru. Dan jika kita jalani hidup ini di dalam Kristus dengan iman, pengharapan dan kasih, maka kita akan dihantar-Nya untuk sampai kepada kehidupan yang kekal di Surga.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Belajar dari St. Thomas Aquinas tentang memohon dukungan doa orang kudus

8

Pertanyaan:

Ibu Inggrid
terima kasih untuk tangapannya.
teman saya sendiri pernah mengajarkan saya untuk berdoa kepada salah satu santa/santo kalau ada barang yang hilang…… saya lupa nama santa/santo nya…… kalau tidak salah…… santo …. dari Padua…atau apa gitulah…
apakah doa semacam itu TIDAK termasuk kategori berdoa kepada creature? apakah saya yang salah persepsi? lalu doa seperti itu doa kepada siapa? Creator (Allah) atau Creature (santo/a)?

Lalu bagaimana dengan doa “santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati”
atau misalnya “dampingilah kami ya Bunda, agar hati kami selalu tertuju pada Allah”
doa seperti ini, berkomunikasi dengan siapa? Kepada Allah Bapa (Creator) di Surga atau kepada Bunda Maria (creature)? atau ditujukan kepada Allah Bapa melalui perantara Bunda Maria?
atau lagi lagi saya yang salah persepsi?

Terima kasih.

[Dari Katolisitas: pesan berikut ini disatukan karena masih satu topik]

Ibu Inggrid,
saya sudah buka link yang ibu sarankan saya untuk ‘klik disini’- isinya kok mengenai patung berhala.
Maksud saya dari kata “creature” bukan patung, tetapi creaure = ciptaan dalam pengertian malaikat, santo/a, St. Maria –

saya tidak mengatakan katholik menyembah PATUNG…… Statement yang saya tulis “kita tidak berdoa kepada creature”.

bahkan terhadap orang Buddha/Hindu pun saya tidak mengatakan mereka menyembah patung tetapi mereka beriman pada ideology / konsep dibaliknya.

[dari Katolisitas: pesan berikut ini disatukan karena masih satu topik]

ibu Inggrid
sorry, ketinggalan satu hal lagi….. kelupaan…..

ibu Inggrid menulis : quote Jadi ajakan untuk belajar itu harusnya ditujukan kepada diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum kita menganjurkannya kepada orang lain. unquote

Justru saya sendiri belajar dan akan terus belajar, makanya menyarankan orang lain belajar.
komentar Joseph yang mengatakan “Jadi sistemnya adalah “thuk-gathuk.” – membuat saya tergelitik menyarankan Joseph untuk belajar.

Memang karena keterbatasan waktu (harus kerja pergi pagi pulang malam), kemampuan memory karena usia nggak bisa bohong….. Dan yang utama saya tidak bisa menulis dengan baik, tidak pernah bikin paper apalagi tesis/disertasi seperti ibu Inggrid

Memang, protestan tidaklah sekeren, sehebat system katholik, sedemikian hebatnya sehingga saya merasa seperti ‘diawang-awang’. Orang katholik pasti pinter pinter ya bisa memahami seluruh dokrin yang sedemikian rupa.

Baru tadi pagi, saya bilang gini sama teman saya “kamu katholik kenapa tidak mempelajari katholik dengan baik malahan sekarang ke karismatik? saya yang protestan aja mau mempelajari katholik. coba kamu buka website katolisitas.org, kamu bisa belajar banyak dari situ…..”
dia jawab gini “katholik bilang 2000 tahun…. orthodox juga claimnya begitu…ha..ha..ha..”
lalu lanjutnya ……..”…saya tidak akan kembali ke katholik…..”
saya jawab “sayang banget! Pemimpin gereja saya malah memotivasi kita mempelajari Thomas Aquinas…. Beliau malahan bilang sayang sekali kalau orang Kristen tidak mempelajari Aquinas, orang besar yang pernah Tuhan berikan bagi gereja!”

Esther

Jawaban:

Shalom Esther,

1. Dalam beberapa komentar anda, saya menangkap anda menyangka bahwa umat Katolik seolah menduakan Tuhan, dengan berdoa kepada ‘creature‘. Maaf, saya tadinya menyangka bahwa ‘creature‘ yang anda maksud adalah ‘patung’, karena ada banyak orang Kristen non- Katolik yang menyangka bahwa orang Katolik menyembah patung. Saya bersyukur anda tidak berpandangan demikian; sehingga dialog kita dapat berjalan dengan lebih baik, karena setidaknya berpijak pada prinsip pengertian yang sama.

2. Dari komentar anda di atas, rupanya anda berpandangan bahwa ‘creature‘ itu adalah para orang kudus termasuk Bunda Maria. Ini terlihat dari doa- doa yang sepertinya ditujukan kepada orang- orang kudus. Seperti kepada St. Antonius dari Padua, untuk mendoakan jika kita kehilangan sesuatu, ataupun kepada Bunda Maria, dengan doa Salam Maria, “doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati”.

Sebenarnya, istilah yang lebih tepat adalah berdoa ‘bersama’ orang kudus dan bukannya berdoa ‘kepada’ orang kudus dengan arti yang sama dengan berdoa ‘kepada’ Tuhan. Karena terdapat perbedaan makna di sini. Kita berdoa kepada Tuhan, karena Tuhanlah yang menjadi tujuan dari semua doa, pujian dan penyembahan kita, dan kita meyakini bahwa Tuhanlah yang mengabulkan doa- doa kita. Namun jika kita dikatakan berdoa kepada orang kudus, itu artinya hanya memohon agar mereka mendoakan kita, ataupun berdoa bersama kita. Jadi kita tidak pernah mensejajarkan mereka dengan Allah, ataupun meyakini bahwa mereka dapat mengabulkan doa kita atas kuasa mereka sendiri. Kita meyakini bahwa mereka adalah orang- orang kudus pilihan Allah yang mempunyai kuasa doa yang besar, sebab mereka sendiri telah dibenarkan oleh Allah (lih. Yak 5:16); namun yang mengabulkan doa kita tetaplah Tuhan saja.

Maka jika dalam doa Salam Maria, kita mohon Bunda Maria mendoakan kita, perkataan itu memang ditujukan kepada Bunda Maria yang telah bersatu dengan Allah dalam hadirat- Nya, agar Bunda Maria mendoakan kita dan berdoa bersama- sama dengan kita, saat sekarang dan saat ajal menjemput kita. Hal pengabulan doa tersebut itu sepenuhnya menjadi hak Tuhan. Namun besarlah kuasa doa Bunda Maria, karena ia adalah Bunda Allah yang diberikan Kristus untuk menjadi Bunda kita untuk mendoakan kita anak- anak-Nya, yang adalah saudara/i angkat Yesus oleh rahmat Baptisan kita.

3. Kebanyakan umat Kristen non- Katolik menganggap bahwa hubungan antara umat beriman yang masih hidup di dunia ini sudah putus dengan mereka yang sudah beralih dari dunia ini. Sedangkan menurut Gereja Katolik tidak demikian, sebab mereka umat beriman yang meninggal dunia dalam Kristus itu hanya mati tubuhnya, namun jiwanya tetap hidup (lih. Rom 8:10). Kehidupan di dalam Kristus inilah yang mengikat para umat beriman, baik yang masih hidup di dunia maupun yang sudah beralih dari dunia ini. Selanjutnya tentang topik: Apakah memohon doa orang kudus di surga bertentangan dengan firman Tuhan, silakan klik di sini; Benarkah kita tidak bisa mohon para kudus mendoakan kita?, klik di sini dan apakah jemaat perdana percaya akan persekutuan orang kudus yang tak terputus oleh maut, silakan klik di sini.

4. St. Thomas Aquinas adalah salah seorang Bapa Gereja yang mengajarkan kita untuk memohon para orang kudus untuk mendoakan kita. Dalam bukunya Summa Theology, St. Thomas dengan jelas mengajarkan hal ini, karena dengan memohon doa dari orang kudus, maka kita akan menghantarkan doa kepada Allah dengan kerendahan hati. Mengakui bahwa ada orang- orang lain yang lebih kudus dari kita, yang kuasa doanya lebih besar dari kita. Karena itu kita memohon dukungan doa dari mereka, pada saat kita menghantarkan doa- doa kita kepada Allah. Ini sesungguhnya prinsipnya sama saja dengan pada saat kita memohon pada pastor/ pendeta kita untuk mendoakan kita. Kita mengakui bahwa mereka lebih ‘dekat dengan Tuhan’ atau ‘lebih kudus’ dari kita, dan dengan demikian kita memohon dukungan doa dari mereka.

Nah, demikian juga dengan permohonan kita kepada orang kudus itu. Orang kudus itu (contohnya Bunda Maria) bahkan lebih kudus dari pastor/ pendeta, sebab Bunda Maria telah bersatu dengan Allah di surga. Maka kuasa doanya tentu lebih besar daripada semua yang masih berziarah di bumi. Berikut ini saya terjemahkan perikop yang dimaksud, dari Summa Theology, Supplement, q.72, a.2. [Seperti biasa, St. Thomas menuliskan dahulu keberatan- keberatan umum tentang memohon doa orang kudus bagi kita, dan ia akan menjawab keberatan- keberatan tersebut]:

Pasal 2. Apakah kita harus memohon orang-orang kudus untuk berdoa bagi kita?

Keberatan 1. Tampaknya kita tidak seharusnya memohon para orang kudus untuk mendoakan kita. Karena tidak ada orang meminta teman-temannya untuk berdoa baginya, kecuali sejauh ia yakin bahwa ia akan lebih mudah menerima bantuan dari mereka. Tetapi Allah jauh lebih berbelas kasih daripada para orang kudus, dan karena itu Ia akan lebih mendengarkan kita, daripada seorang Santo/ Santa. Oleh karena itu tampaknya tidak perlu untuk menjadikan para orang kudus sebagai pengantara antara kita dan Allah, bahwa mereka mungkin dapat menjadi pengantara bagi kita.

Keberatan 2. Selanjutnya jika kita harus memohon mereka untuk berdoa bagi kita, ini hanya karena kita tahu bahwa mereka berdoa untuk dapat diterima oleh Allah. Sekarang, di antara para orang kudus, semakin ia lebih kudus, semakin doanya diterima Allah. Oleh karena itu kita selalu harus memohon agar orang- orang kudus yang ‘lebih besar’ untuk menjadi pengantara doa kita, dan bukan orang kudus yang ‘lebih rendah’ tingkatannya.

Keberatan 3. Selanjutnya Kristus, bahkan sebagai manusia, disebut sebagai “Ruang Mahakudus,” dan, sebagai manusia, adalah layak bagi-Nya untuk berdoa. Namun kita tidak pernah berseru kepada Kristus untuk berdoa bagi kita. Oleh karena itu, tidak perlu-lah bagi kita untuk meminta para orang kudus lainnya untuk berdoa bagi kita.

Keberatan 4. Selanjutnya setiap kali seseorang berdoa syafaat bagi orang lain atas permintaan orang tersebut, dia memohon permohonan kepada Seseorang yang kepadanya ia berdoa syafaat. Sekarang tidak perlulah untuk menyajikan apapun bagi Seseorang yang kepada-Nya segala sesuatu hadir/ diketahui. Oleh karena itu tidak perlu untuk menjadikan para orang kudus sebagai pendoa syafaat kepada Allah.

Keberatan 5. Selanjutnya, tidak perlu melakukan apapun jika, tanpa melakukan itu, tujuan hal itu dilakukan akan tercapai dengan cara yang sama, atau sebaliknya, tidak tercapai sama sekali. Sekarang sama saja, apakah para orang kudus akan berdoa bagi kita, atau mereka tidak akan mendoakan kita sama sekali; apakah kita mohon didoakan mereka atau tidak: karena jika kita layak mereka doakan, mereka akan mendoakan kita meskipun kita tidak memohon doa mereka, sedangkan jika kita tidak layak mereka doakan, mereka tidak akan mendoakan kita meskipun kita minta. Oleh karena itu tampaknya sama sekali tidak perlu untuk memohon mereka untuk mendoakan kita.

Sebaliknya, Ada tertulis (Ayub 5:1): “Berserulah–adakah orang yang menjawab engkau? Dan kepada siapa di antara orang-orang yang kudus engkau akan berpaling?Sekarang seperti ajaran St. Gregorius (Moral. v, 30) pada bagian ini, “Kita memanggil Tuhan ketika kita memohon kepada-Nya di dalam doa yang penuh kerendahan hati.” Oleh karena itu, ketika kita ingin berdoa kepada-Nya, kita harus memohon kepada para orang kudus itu supaya mereka berdoa kepada Tuhan bagi kita.

Selanjutnya, para orang kudus yang di surga lebih diterima Allah daripada orang-orang yang masih dalam perjalanan [di dunia ini]. Sekarang kita yang masih dalam perjalanan, harus menjadikan para orang kudus sebagai pendoa syafaat kita kepada Tuhan, sesuai teladan Rasul Paulus yang mengatakan (Rom 15:30): “Tetapi demi Kristus, Tuhan kita, dan demi kasih Roh, aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, untuk bergumul bersama-sama dengan aku dalam doa kepada Allah untuk aku.Oleh karena itu, lebih lagi, kita harus meminta para kudus yang berada di surga untuk membantu kita dengan doa- doa mereka kepada Tuhan.

Selanjutnya, argumen tambahan diberikan oleh tradisi umum Gereja yang memohon doa- doa dari para orang kudus dalam Litani.

Aku menjawab bahwa, Menurut Dionisius (Pkh. hier. v) urutan yang ditetapkan oleh Allah di antara banyak hal adalah bahwa: “mereka yang berada di tempat terakhir harus dipimpin kepada Allah oleh orang-orang yang sudah berada di tengah- tengah”. Oleh karena itu, karena para orang kudus yang di surga adalah yang paling dekat dengan Allah, urutan hukum Ilahi mengharuskan kita, yang sementara hidup di dunia (di dalam tubuh) adalah para peziarah dari Tuhan, harus dibawa kembali kepada Allah oleh para orang kudus yang berada di antara kita dan Dia: dan ini terjadi ketika kebaikan Ilahi mengalirkan efeknya keluar kepada kita melalui mereka. Dan karena kembalinya kita kepada Allah harus sesuai dengan keluarnya anugerah-Nya atas kita, seperti halnya nikmat Ilahi sampai kepada kita dengan cara perantaraan doa syafaat para orang kudus, demikianlah kita, oleh cara mereka, akan dibawa kembali kepada Allah, sehingga kita dapat menerima berkat-Nya lagi. Oleh karena itu, kita membuat mereka sebagai pendoa syafaat bagi kita kepada Allah dan sebagai pengantara kita, ketika kita meminta mereka untuk berdoa bagi kita.

Jawaban atas Keberatan 1. Bukanlah karena adanya cacat dalam kuasa Tuhan, sehingga Dia bekerja dengan cara melibatkan pengantara, tetapi itu adalah demi kesempurnaan pengaturan alam semesta dan bermacam-macam pencurahan kebaikan-Nya secara lebih lagi dari-Nya dalam segala hal, melalui pencurahan-Nya kepada mereka, tidak hanya kebaikan yang layak bagi mereka, tetapi juga kemampuan untuk menyebabkan kebaikan kepada orang lain. Bahkan juga bukan karena adanya cacat pada rahmat-Nya, bahwa kita perlu memohon pengampunan-Nya melalui doa- doa para orang kudus, tetapi sampai akhir nanti pengaturan seperti di atas harusnya ditaati.

Jawaban atas Keberatan 2. Meskipun para orang kudus yang lebih besar lebih diterima oleh Allah daripada yang lebih rendah, kadang-kadang menguntungkan untuk berdoa kepada yang lebih rendah, dan ini untuk lima alasan. Pertama, karena kadang-kadang seseorang mempunyai devosi yang lebih besar kepada orang kudus yang lebih rendah daripada kepada orang kudus yang lebih tinggi dan pengaruh doa sangat tergantung pada devosi seseorang. Kedua, untuk menghindari kejenuhan, sebab perhatian terus-menerus untuk satu hal membuat orang lelah; sedangkan dengan berdoa memohon kepada para orang kudus yang berbeda- beda, semangat devosi kita menyala lagi seperti sebelumnya. Ketiga, karena diberikan kepada beberapa orang kudus untuk memberikan perlindungan di dalam kasus- kasus tertentu, contohnya, Santo Antonius terhadap api neraka. Keempat, agar penghormatan yang layak diberikan kepada kita semua. Kelima, karena doa dari beberapa orang kadang-kadang mendapatkan apa yang tidak akan diperoleh oleh doa dari hanya seorang.

Jawaban atas Keberatan 3. Doa adalah sebuah tindakan dan tindakan adalah menjadi milik seseorang tertentu [supposita]. Oleh karena itu, jika kita mengatakan: “Kristus, berdoalah bagi kami, “kecuali jika kita menambahkan sesuatu, ini akan tampaknya merujuk pada Kristus sebagai manusia, dan akibatnya setuju dengan ajaran sesat dari Nestorius yang membedakan di dalam Kristus: Kristus sebagai manusia dan Kristus sebagai Allah Putera, atau ajaran sesat Arius, yang mengajarkan bahwa Pribadi Allah Putera lebih rendah dari Allah Bapa. Oleh karena itu untuk mencegah kesalahan ini, Gereja mengatakan, bukan: “Kristus, doakanlah kami”, tetapi “Kristus, dengarkanlah kami,” atau “Kristus kasihanilah kami.”

Jawaban atas Keberatan 4. Seperti yang akan kita nyatakan selanjutnya di point (3) para orang kudus dikatakan mempersembahkan doa- doa kita kepada Tuhan, tidak seolah- olah sebagai sesuatu yang tidak diketahui-Nya, tetapi karena mereka memohon kepada Tuhan untuk mendengarkan doa- doa tersebut dengan pendengaran yang penuh kemurahan, atau karena mereka mencari kebenaran Ilahi tentangnya [permohonan tersebut], yaitu apakah yang harus dilakukan sesuai dengan penyelenggaraan-Nya.

Jawaban atas Keberatan 5. Seorang dinyatakan layak menerima doa- doa orang kudus oleh kenyataan bahwa di dalam kebutuhannya ia telah berlindung kepada orang kudus itu dengan kesetiaan/ devosi yang murni. Oleh karena itu bukannya tidak perlu untuk berdoa kepada para orang kudus.

Demikianlah Esther, Gereja Katolik memang menganjurkan agar umat Katolik memohon dukungan doa dari orang- orang kudus, karena dengan demikian kita dapat belajar menghantarkan doa dengan kerendahan hati. Doktrinnya berbunyi demikian:

“Adalah diijinkan dan menguntungkan untuk menghormati para orang kudus di Surga, dan untuk memohon doa syafaat mereka.” (Ludwig Ott, Fundamental Catholic Dogma, p. 318)

Dengan memohon dukungan doa para kudus, kita menjadi terdorong untuk mengikuti teladan hidup mereka, dan menyadari betapa sebagai anggota Tubuh Kristus kita membutuhkan dukungan dari para anggota yang lain, terutama mereka yang sudah terlebih dahulu bersatu dengan Kristus. Inilah yang diajarkan oleh St. Thomas Aquinas dan para Bapa Gereja; dan inilah yang diajarkan oleh Gereja Katolik sampai sekarang. Kalau anda tertarik mempelajari ajaran St. Thomas selanjutnya tentang peran doa syafaat para kudus di surga, silakan klik di link ini

Kami memang pernah merencanakan untuk menuliskan artikel khusus tentang Persekutuan orang kudus, namun karena banyaknya pertanyaan yang masuk, rencana ini belum terpenuhi. Mohon kesabarannya, ya.

5. Terakhir tentang adanya umat Katolik yang pindah ke gereja lain, itu memang suatu realita, seperti yang terjadi pada teman anda. Realita ini justru mendorong umat Katolik yang lain, untuk semakin mempelajari dan memahami imannya. Jika Tuhan berkenan, semoga dalam proses pembelajaran iman ini, umat Katolik dapat juga menghantar orang- orang lain yang secara tulus mencari kebenaran, untuk menemukan kepenuhannya di dalam Gereja Katolik.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Apakah gunanya tulisan dari para Bapa Gereja?

18

Pertanyaan:

Hai Bu Ingrid, Pak Stef, dan Romo Wanta. Saya mau tanya kenapa ajaran St. Ignatius dari Antiokhia (110), St. Yustinus Martir (150-160), St. Irenaeus (140-202), St. Cyril dari Yerusalem (315-386), St. Augustinus (354-430) yang dijadikan dasar pengajaran Katolik? Bukannya itu hanya pengajaran pribadi-pribadi mereka saja? Bukannya mereka hanyalah sebatas seorang Uskup? Bukannya Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa pengajaran infalible hanya keluar dari Paus dan Konsili.

Tolong dijawab yang rinci atas dasar apa kita mempercayai ajaran pribadi Uskup-Uskup tersebut. Karena saya belum pernah menemukan dasar yang tepat untuk mempercayai ajaran pribadi Uskup.

Thanks. – Andreas

Jawaban:

Shalom Andreas,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang apa gunanya tulisan dari para Bapa Gereja. Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa Gereja Katolik senantiasa melihat pentingnya apa yang diajarkan oleh para Bapa Gereja.

1. Tradisi Suci adalah salah satu pilar kebenaran.

Kita tahu, rasul Paulus mengatakan “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2Tes 2:15). Dan Katekismus Gereja Katolik menjelaskan:

KGK, 76: Sesuai dengan kehendak Allah terjadilah pengalihan Injil atas dua cara:
– secara lisan “oleh para Rasul, yang dalam pewartaan lisan, dengan teladan serta penetapan-penetapan meneruskan entah apa yang mereka terima dari mulut, pergaulan, dan karya Kristus sendiri, entah apa yang atas dorongan Roh Kudus telah mereka pelajari”;
– secara tertulis “oleh para Rasul dan tokoh-tokoh rasuli, yang atas ilham Roh Kudus itu juga membukukan amanat keselamatan” (DV 7).

Dengan demikian, Alkitab sendiri mengatakan bahwa kita harus melihat warisan iman, bukan hanya secara tertulis (Kitab Suci), namun juga Tradisi Suci atau Tradisi yang hidup dari generasi ke generasi. Hubungan antara keduanya dikatakan sebagai berikut “Tradisi Suci dan Kitab Suci berhubungan erat sekali dan terpadu. Sebab keduanya mengalir dari sumber ilahi yang sama, dan dengan cara tertentu bergabung menjadi satu dan menjurus ke arah tujuan yang sama” (DV 9). Kedua-duanya menghadirkan dan mendaya-gunakan misteri Kristus di dalam Gereja, yang menjanjikan akan tinggal bersama orang-orang-Nya “sampai akhir zaman” (Mat 28:20).” (KGK, 80)

2. Tulisan dari Bapa Gereja adalah salah satu elemen dalam Tradisi.

Sekarang pertanyaannya, bagaimana kita mengerti Tradisi? Mungkin teks dari Yves Congar dapat membantu kita. Dia menuliskan “In the first place Tradition is something unwritten, the living transmission of a doctrine, not only by word, but also by attitudes, mode of action, and which includes written documents, documents fo the Magisterium, liturgy, patristic writings, catechisms, etc., a whole collection of things form the evidence or monuments of Tradition.” ((Yves, Congar, The Meaning of Tradition, First Edition, First Printing., The Twentieth Century Encyclopedia of Catholicism (Hawthorn Books, 1964), p.10)) atau “Pertama-tama, Tradisi adalah sesuatu yang tidak tertulis, pelimpahan yang berkesinambungan dari sebuah doktrin, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan sikap, pola tingkah laku, dan yang mencakup dokumen tertulis, dokumen Magisterium, liturgi, tulisan-tulisan patristik, katekismus, dll , seluruh koleksi hal-hal bentuk bukti atau karya besar dari Tradisi.” Dengan demikian, kita melihat peran dari tulisan-tulisan dari para Bapa Gereja (patristik), yang membentuk Tradisi.

3. Tulisan-tulisan para Bapa Gereja menjadi sumber yang dapat dipercaya

Kita dapat memakai prinsip “sesuatu yang semakin dekat ke sumber akan semakin mendapatkan efek yang lebih besar.” Sesuatu yang lebih dekat pada sumber panas akan mendapatkan efek yang lebih besar sesuai dengan sumbernya, dalam hal ini panas. Ini berarti kesaksian orang-orang yang lebih dekat ke sumber (baik waktu dan lokasi) dapat lebih dipercaya dibandingkan dengan kesaksian oleh orang yang terpisah jarak dan waktu. Contoh sederhana, kalau kita ingin mendengar cerita kakek buyut kita, maka kita akan lebih percaya cerita atau tulisan dari kakek kita – yang mengalami kehidupan kakek buyut kita -, daripada kesaksian saudara misan kita.

Jadi, kalau misalkan seseorang ahli Alkitab mengatakan bahwa Injil Yohanes tidak ditulis oleh Yohanes karena berdasarkan analisanya, yang mengatakan bahwa tidak mungkin seseorang yang tidak berpendidikan dapat menuliskan suatu buku yang mengandung filsafat yang begitu tinggi, maka salah satu cara untuk membuktikannya adalah:

a. Dengan apa yang tertulis di dalam Alkitab: bahwa Dia adalah murid yang dikasihi oleh Yesus (lih. Yoh 21:20) dan dia adalah satu dari duabelas murid, di mana dia hadir ketika Yesus yang telah bangkit menampakkan diri di danau Tiberias (lih. Yoh 21:1). Dia juga salah satu dari tiga orang (Petrus, Yohanes dan Yakobus) yang senantiasa dekat dengan Yesus, yang melihat Yesus dipermuliakan (lih. Mt 17:1-2) dan yang melihat sengsara Yesus yang dimulai di taman Getsemani (lih. Mt 14:33). Dari gaya penulisan, maka tidak mungkin Petrus yang menuliskan Injil Yohanes, karena terlihat gaya bahasa yang berbeda dengan surat rasul Petrus. Sedangkan Yakobus juga tidak mungkin menuliskan Injil Yohanes, karena Injil Yohanes ditulis menjelang tahun 100 dan rasul Yakobus diberitakan telah meninggal sekitar tahun 40 (lih Kis 12:2). Dan kita tahu juga dari Yoh 19:35 “Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya.” Dan akhirnya kita percaya bahwa Injil Yohanes ditulis oleh Yohanes, karena dia mengatakan “Dialah murid, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar.” (Yoh 21:24). Namun, tidak semua orang dapat menerima argumentasi ini. Dalam kondisi seperti ini, maka kesaksian dari para Bapa Gereja menjadi penting.

b. Dengan tulisan dari Bapa Gereja.

Menurut kesaksian St. Irenaeus (180 AD), yang menjadi murid dari St. Polycarpus, yang adalah murid Rasul Yohanes, dan murid St. Ignatius Martir yang adalah murid langsung dari Rasul Petrus dan Rasul Yohanes. Dengan demikian, kesaksian St. Irenaeus menjadi sangat penting tentang para penulis Injil. Dalam bukunya yang terkenal Against the Heresies, Buku III, bab 1,1 ia menggarisbawahi asal usul apostolik dari kitab Injil,

“Kita telah mengetahui bukan dari siapapun tentang rencana keselamatan kita kecuali dari mereka yang melaluinya Injil telah diturunkan kepada kita, yang pada suatu saat mereka ajarkan di hadapan publik, dan yang kemudian, sesuai dengan kehendak Tuhan, diturunkan kepada kita di dalam Kitab Suci, untuk menjadi dasar dan tonggak dari iman kita…. Sebab setelah Tuhan kita bangkit dari mati [para rasul] diberikan kuasa dari atas, ketika Roh Kudus turun [atas mereka] dan dipenuhi oleh semua karunia-Nya, dan mempunyai pengetahuan yang sempurna: mereka berangkat menuju ujung-ujung bumi, mengajarkan kabar gembira yang diberikan oleh Tuhan kepada kita…. Matius... menuliskan Injil untuk diterbitkan di antara orang Yahudi di dalam bahasa mereka, sementara Petrus dan Paulus berkhotbah dan mendirikan Gereja di Roma…. Markus, murid dan penerjemah Petrus, juga meneruskan kepada kita secara tertulis, apa yang biasanya dikhotbahkan oleh Petrus. Dan Lukas, rekan sekerja Paulus, juga menyusun Injil yang biasanya dikhotbahkan Paulus. Selanjutnya, Yohanes, murid Tuhan Yesus ….juga menyusun Injil ketika tinggal di Efesus, Asia Minor.”

Hal serupa dituliskan juga oleh Origen (185-254) tentang asal usul Injil, dalam In Matthew. I apud Eusebius, His eccl 6.25.3-6:

“[Injil] yang pertama dituliskan oleh Matius, yang adalah seorang publikan tetapi kemudian menjadi rasul Yesus Kristus, yang menerbitkannya untuk umat Yahudi, dituliskan dalam bahasa Ibrani. [Injil] kedua oleh Markus, yang disusun di bawah bimbingan St. Petrus, yang telah mengangkatnya sebagai anak… (1 Pet 5:17). Dan ketiga, menurut Lukas, yang menyusunnya untuk umat non-Yahudi, Injil yang dibawakan oleh Rasul Paulus; dan setelah semuanya itu, [Injil] menurut Yohanes.

Eusebius dalam bukunya Ecclesiastical History (6, 14,5-7) merujuk kepada kesaksian dari St. Clement of Alexandria, yang menuliskan bahwa Yohanes menuliskan Injil [Yohanes] setelah penulis Injil yang lain menuliskan Injil-Injil lain [Matius, Markus, Lukas].

Dari beberapa kesaksian Bapa Gereja ini, maka sangat terlihat bahwa iman kita bukan berdasarkan suatu khayalan, namun berdasarkan suatu fakta yang terjadi dalam sejarah kekristenan. Tulisan-tulisan tersebut dapat memberikan bukti otentik, yang mendukung apa yang telah dituliskan di dalam Alkitab.

4. Tulisan para Bapa Gereja bukanlah ajaran yang tidak mungkin salah, namun begitu penting.

Kita melihat bahwa para Bapa Gereja membentuk sejarah kekristenan. Mereka yang mempertahankan iman Katolik dan melawan ajaran-ajaran yang sesat. Mereka berjuang bukan hanya dengan kata-kata, namun mereka juga menyediakan hidup mereka demi kemuliaan Kristus. Mereka adalah orang-orang pilihan Alah yang dikaruniai rahmat iman yang begitu besar, intelektual yang begitu tinggi, namun mempunyai kerendahan hati. Namun, tidak semua hal yang ditulis oleh mereka adalah tidak mungkin salah. Di sisi lain, adalah suatu kenyataan bahwa mereka memberikan sumbangan tulisan-tulisan yang begitu penting sehingga Gereja Katolik melalui Magisterium Gereja yang dilindungi oleh Roh Kudus, dapat menyatakan suatu ajaran yang tidak mungkin salah dalam hal moral dan iman. Kalau kita melihat dokumen Gereja, maka kita akan melihat begitu banyak kutipan yang diambil dari tulisan para Bapa Gereja. Salah satu ciri dari tulisan para kudus adalah kerendahan hati mereka untuk menyerahkan semua tulisan mereka dalam keputusan Magisterium Gereja. Jadi, pada waktu kita membaca tulisan dari Bapa Gereja, kita juga harus melihat apa yang dikatakan oleh Magisterium Gereja tentang topik tersebut, terutama untuk isu-isu yang cukup kompleks. Dari sini, kita melihat kaitan yang erat antara Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Ketiganya adalah seumpama pilar yang kokoh yang menyangga kehidupan Gereja, sehingga tidak mudah diombang-ambingkan oleh dokrin-dokrin yang bertentangan dengan kebenaran.

Semoga tulisan di atas dapat menjawab pertanyaan anda.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Beragama atau tidak beragama sama saja?

23

[Berikut ini adalah sharing pengalaman seorang pembaca yang tadinya Katolik tetapi sekarang meninggalkan Gereja, karena berpandangan bahwa beragama atau tidak beragama itu sama saja. Benarkah demikian?]

Pertanyaan:

Dulu, saya seorang katolik dan ikut karismatik……
Kl menurut saya, karismatik itu…. ya memang membuat hati tersentuh bahkan kadang2 orang2pun menangis……
Tapi kalau dari pandangan saya sebagai orang awan yang imannya tidak kuat……
Saya juga tersentuh tapi itu semua karena ada musik yang mellow dan bisa menggetarkan hati….. buktinya saya yang awam aja tersentuh…. walaupun disana membahas alkitab tapi pulang dari gereja saya tdk mendapatkan pencerahan apapun………Hati saya tetap kosong…… kadang sih saya merasa karismatik kq spt agama protestan dan bahasa rohnya kq kayak dibuat2 gitu sih…. masa bisa dinyanyikan bahasa rohnya dan dikeluarkan pada saat penyembahan…… spt dibuat2 saja.

Jujur, keluarga saya memang atheis tapi kami bukan atheis dari awal…….
orang tua saya bukan katolik tp kakak2 saya semua katolik karena bersekolah di sekola katoluk bahkan kakak perempuan saya dulu putri altar tapi seiring berjalannya waktu dan berbagai kejadian yang kami alami, kami menemukan banyak kejanggalan dan ketidak masuk akalan dalam kitab suci,………
kami menemukan tanpa Tuhan kami juga bisa hidup seperti org lain dan pekerjaan kami lancar. Keberhasialan bukan hanya dari keberuntungan dan “karunia” saja tapi dari kerja keras kami……

Terkadang di dalam lubuk hati saya, saya ingin memiliki hubungan yang harmonis dengan Tuhan spt org lainnya…. tapi hati saya kosong……
Setelah saya melihat dunia luas….. saya sadar agama bukanlah segalanya…..
banyak orang yang tidak beragama justru lebih bermoral dan sosial daripada orang beragama……
tapi saya percaya orang yg benar2 beriman katolik pasti org baik sih….. krn tante2 saya katolik

saya meyakini, sebenarnya agama itu hanyalah wadah agar orang2 itu ada pada jalan yang benar dan tidak semena2 dalam hidupnya….
namun walaupun tanpa agama, jika mindset kita sudah teratur , kita juga bisa membuat aturan sosial bagi diri kita sendiri……..
Bagi saya….., apa sih yang kita cari dalam kehidupan kita?
KEBAHAGIAAN….. dan orang katolik pasti mencari kebahagiaan itu dalam kristus
tapi bagi saya, saya bisa menemukan kebahagiaan itu dengan cara saya sendiri….
saya memiliki impian dan menikmati kehidupan yang saya jalani…..

Beragama karena apa? coba Anda pikirkan…..
krn percaya akan Tuhan, karena bla bla bla….. tapi ujung2nya karena takut masuk neraka bukan….. kq sptnya gmana gt….
mengikuti Tuhan karena takut nnt di kehidupan yang akan datang tersiksa…. spt beriman krn menginginkan kebahagiaan…..

Berarti beragama atau tidak beragama sama saja……
Hanya untuk kepuasan diri sendiri…. kl udah ke gereja dan taat, hati jadi lega……
kl ada masalah…… berdoa, minta bimbingan dan penguatannya….
Semua hanya untuk ketenangan batin semata…..
Hanya masalah pskilogis saja………

Jawaban:

Shalom WeLl,

Sebenarnya, tidak ada sesuatu yang aneh dengan keinginan kita manusia untuk mencari kebahagiaan. Ini adalah salah satu yang membuktikan bahwa kita adalah manusia, yaitu jika kita ingin hidup bahagia. Nah, karena kita manusia diciptakan Tuhan sebagai mahluk rohani (tidak saja terdiri dari tubuh), maka tidak heran, kebahagiaan kita sebagai manusia tidak saja berkenaan dengan kesenangan jasmani. Sebab telah banyak contohnya, bahwa orang- orang yang secara duniawi sudah mencapai segala- galanya, tetapi masih merasa ‘kosong’ bahkan ada yang memilih bunuh diri. Ini adalah bukti bahwa kebahagiaan manusia tidaklah ditentukan oleh terpenuhinya kebutuhan jasmani.

1. Apakah definisi kebahagiaan?

Nah sekarang, apakah definisi kebahagiaan menurut anda? Jika kebahagiaan yang anda maksud hanya pemenuhan kebutuhan material di dunia; mungkin saja memang dapat diperoleh tanpa melibatkan Tuhan. Tetapi apakah itu benar, bahwa manusia hanya puas dengan pemenuhan kebutuhan di dunia yang sifatnya sementara? Apakah manusia tidak menginginkan sesuatu yang bersifat selamanya dan kekal? Jika kita mau jujur, ya, kita manusia merindukan kebahagiaan yang sifatnya selamanya; dan ini ada di dalam hati semua orang, karena memang manusia diciptakan sedemikian oleh Tuhan. Manusia diciptakan seturut gambar dan rupa Allah, dan karenanya merindukan kekekalan dan kesempurnaan, sebab Allah yang menciptakan kita adalah Allah yang kekal dan sempurna.

Saya tidak mengerti latar belakang anda, bagaimana sewaktu masih tergabung dalam Gereja Katolik, dan pernah mengikuti persekutuan Karismatik. Apakah anda setia mengikuti Misa Kudus ataukah hanya sesekali? Apakah anda pernah mengikuti secara serius persekutuan doa Karismatik, atau hanya mengikuti persekutuan beberapa kali? Sejauh mana usaha yang anda lakukan untuk mempelajari iman anda? Apakah anda rajin berdoa dan merenungkan Kitab Suci? Apakah anda mengalami hubungan yang pribadi dengan Tuhan? Sesungguhnya pertanyaan- pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang tidak hanya layak ditujukan kepada anda, tetapi kepada semua umat Katolik, termasuk saya.

Satu hal yang perlu disadari adalah: karya Allah dalam hidup setiap orang itu berbeda- beda. Namun umumnya, berawal dari suatu kesadaran untuk bertanya kepada diri sendiri: “Jadi untuk apa saya hidup di dunia ini?”, seperti yang tersirat saya lihat dalam tulisan anda. Kerinduan anda agar dapat mengalami hubungan yang harmonis dengan Tuhan, itu sendiri adalah rahmat Tuhan. Sebab kerinduan kita akan Tuhan itu disebabkan oleh dorongan dari Tuhan. Maka, jiwa andapun sesungguhnya merindukan Tuhan, walaupun anda sekarang nampaknya masih berusaha untuk mencari kebahagiaan di tempat lain ataupun mempunyai definisi yang berbeda dengan kebahagiaan yang ditawarkan oleh Tuhan. Bagi umat Kristiani, kebahagiaan diperoleh hanya di dalam Tuhan Yesus, yang membawa kita kita kepada kehidupan kekal di Surga. Silakan membaca lebih lanjut tentang ini di artikel Kebahagiaan Manusia hanya ada di dalam Tuhan, silakan klik. Itulah sebabnya, betapapun kita manusia mencari kebahagiaan di tempat lain ataupun kepada sesuatu yang lain, selalu berakhir dengan ‘kekosongan’. Sebab manusia diciptakan oleh Tuhan untuk mengenal dan mengasihi Pencipta-Nya, maka sebelum kita sampai ke sana, hati kita akan ‘kosong’ dan kita tidak akan dapat memperoleh kebahagiaan dan ketenangan yang sejati. St. Agustinus pernah mengajarkan demikian, “You have made us for yourself, O Lord, and our hearts are restless until they rest in You.” [Engkau telah menciptakan kami bagi diriMu, O Tuhan, dan hati kami gelisah, sampai ia beristirahat di dalam Engkau”].

2.  Umumnya seseorang kembali kepada Tuhan setelah mengalami kesusahan/ ujian dalam hidup.

Silakan anda memeriksa batin anda, apakah pengalaman hidup anda membuat anda (dan kakak) meninggalkan iman anda? Apakah itu yang anda sebut sebagai ‘kejanggalan dan ketidak masuk akalan dalam kitab suci?’ Kalau anda mau, anda dapat mendiskusikannya dengan kami. Firman Tuhan memang mengatakan bahwa segala yang ada pada kita adalah karena karunia Tuhan (2 Kor 9:8), namun Tuhan juga tidak mengecilkan makna kerja keras kita. Bahkan kalau kita membaca Kitab Suci, kita melihat bahwa tokoh- tokoh yang menjadi teladan iman di sana, baik itu para nabi, para rasul, tak terkecuali Yesus Kristus sendiri, bekerja keras di dalam hidup. Jadi tidak benar bahwa kalau orang sudah menerima karunia lalu ‘tidak perlu bekerja’. Namun sebaliknya, tidak benar juga jika dikatakan bahwa tanpa Tuhan pekerjaan dapat berjalan lancar. Sebab pandangan ini ‘melupakan’ bahwa pekerjaan itu dapat berjalan, karena Tuhan memungkinkan hal itu terjadi, dengan memberikan kemampuan kepada orang itu untuk melakukannya. Coba bayangkan jika Tuhan mengijinkan anda mengalami sakit penyakit, kecelakaan, bencana, ditipu orang, atau orang yang paling anda kasihi meninggal dunia secara mendadak. Maka, tak mengherankan, ada banyak orang kembali kepada Tuhan, justru setelah mengalami kesusahan; sebab justru pada saat itu ia dapat dengan rendah hati menerima bahwa segala yang ada padanya sesungguhnya diperoleh karena kemurahan Tuhan, dan dalam sekejap dapat hilang, jika Tuhan mengijinkan hal itu terjadi. Namun ada satu kebahagiaan sejati, meski dalam keadaan tersulit sekalipun, yaitu jika kita bersandar kepada Tuhan. Hal ini bukan masalah psikologis semata, sebab ilmu psikologis sendiri tidak akan dapat menjelaskannya secara tuntas mengapa demikian, ketika itu berkaitan dengan mukjizat- mukjizat dan pertobatan yang mengubah hidup secara total, misalnya dari kasus kecanduan, ataupun dari berbagai perilaku penyimpangan lainnya.

3. Apakah Tuhan sungguh ada?

Jika anda masih bertanya- tanya, apakah benar Tuhan itu ada, silakan anda membaca di sini, Bagaimana membuktikan bahwa Tuhan itu ada? silakan klik. Ataupun kalau anda mau membaca kisah kesaksian seorang Atheis yang kemudian menjadi Katolik, silakan klik di sini. Kesaksian tersebut adalah dari seorang yang bernama Lawrence Feingold, yang sejak kecilnya dididik secara atheis, namun akhirnya mengalami pengalaman kasih Tuhan, dan memutuskan untuk menjadi Katolik. Ia akhirnya mendalami iman Katolik sedemikian rupa, menjadi seorang doktor dalam hal Theologi, dan kini menjadi salah satu pembimbing Theologis situs Katolisitas ini. Tuhan bekerja dengan cara-Nya yang tersendiri, untuk membawa kita masing- masing untuk mengenal dan mengasihi Dia yang terlebih dahulu mengasihi kita. Pengalaman akan kasih Tuhan inilah yang mengubah hidup seseorang, dan sebab hanya Tuhanlah yang dapat ‘mengisi kekosongan’ dalam hati setiap orang secara sempurna.

4. Kebahagiaan kita yang sejati adalah bersatu selamanya dengan Allah yang menciptakan dan menyelamatkan kita

Maka, pencarian kebahagiaan kita sesungguhnya bukan ‘hanya’ demi ‘kepuasan diri sendiri’ atau ‘demi menghindari neraka’ seperti kata anda, namun jauh lebih indah dan mulia daripada itu: yaitu untuk bersatu selamanya dengan Allah yang menciptakan dan menyelamatkan kita. Dan ini tidak dapat dibandingkan dengan kebahagiaan apapun yang ditawarkan oleh dunia ini. Di dunia ini kita dapat saja mengalami bermacam kebahagiaan, tetapi sifatnya  tidak sempurna, dan  sementara. Namun jika kita mempunyai Kristus di dalam hati kita, maka kebahagiaan kita itu bersifat tetap, dan kebahagiaan ini menghantar kita kepada kesempurnaannya di surga kelak.

WeLl, saya percaya Tuhan masih terus mengetuk pintu hati anda dan menantikan jawaban anda. Saya berdoa, semoga akan tiba saatnya, anda membuka pintu bagi-Nya dan membiarkan-Nya masuk untuk mengisi kekosongan hati anda, dan memberikan kebahagiaan yang anda cari selama ini. Gereja Katolik tetaplah rumah anda yang terus menantikan anda kembali pulang.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Tanggung jawab pastor paroki dalam pastoral perkawinan

29

Mengapa Pastoral Perkawinan

Tanggungjawab Pastor Paroki dalam pastoral perkawinan, itulah topik yang mau kita bahas. Mengapa pastoral perkawinan? Pertama, karena pastoral perkawinan merupakan salah satu dari reksa pastoral dalam Gereja (Paroki). Kedua pastoral perkawinan memiliki masalah yang rumit dan kompleks seiring dengan masalah keluarga dewasa ini, karena rumit dan kompleksnya maka perlu mendapat perhatian serius dari Pastor Paroki. Ketiga, karena keluarga adalah bagian penting yang merupakan dasar terbentuknya Gereja dan Masyarakat. Jika keluarga (Gereja kecil – rumah tangga) kristiani sehat dan baik maka Gereja dan Masyarakat besar akan menjadi baik pula. Demikian juga ditegaskan oleh Paus Benediktus XVI dalam pesannya pada hari perdamaian dunia, tgl. 1 Januari 2008: “Kehidupan keluarga yang sehat melahirkan pengalaman-pengalaman fundamental bagi perdamaian: keadilan dan cinta kasih di antara sesama saudara, fungsi otoritas yang tergambar dari orang tua, pelayanan yang penuh cinta kepada anggota yang lebih lemah, yaitu orang-orang yang kecil, sakit dan tua, kesediaan untuk menerima yang lain. Untuk itu keluarga adalah tempat pendidikan yang pertama dan tidak tergantikan”. Keluarga alami, di mana ada kesatuan hidup dan cinta, yang didasarkan atas perkawinan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, membangun tempat pertama dalam “pemanusiaan” manusia dan masyarakat, tempat lahirnya kehidupan dan cinta kasih. Oleh karena itu, keluarga dikualifikasikan sebagai masyarakat alami yang pertama. Sebuah institusi Ilahi yang merupakan dasar dari hidup manusia, sebagai prototipe dari setiap norma sosial” (bdk. L’Osservatore Romano, N. 51/52 (2024)-19/26 December 2007: “The Human family a community of peace, Message of Pope Benedict XVI for the celebration of the World Day of Peace: 1 January 2008,).

Tugas Pastor Paroki dalam Pastoral Perkawinan

Pastor Paroki dalam konteks Gereja lokal adalah Pemimpin (leader) dari umat beriman kristiani yang reksa pastoralnya (tugas kegembalaan/kepemimpinan) diserahkan oleh Uskup Diosesan kepada seorang imam yang layak dan pantas untuk memimpin, mengajar, menguduskan dengan kuasa kewenangan yang diberikan kepadanya atas umat beriman yang berdomisili di wilayah teritorial tertentu di dalam keuskupan (bdk. Kan 515). Dalam Pastoral perkawinan Pastor Paroki wajib mengusahakan agar keluarga kristiani berkembang dalam kesempurnaan. Pendampingan dan pembinaan keluarga kristiani meliputi: (1) menyiapkan calon penganten dengan kotbah, katekese yang disesuaikan bagi anak-anak dan orang muda dan dewasa, (2) memberi kursus persiapan perkawinan bagi calon yang hendak menikah, (3) meneguhkan perkawinan dengan perayaan liturgi yang membawa hasil yang memancarkan kasih suami-isteri dan mengambil bagian dalam misteri kesatuan cinta kasih yang subur antara Kristus dan Gereja-Nya, (4) memberi pendampingan dan pembinaan keluarga kristiani (bina lanjut keluarga kristiani) melalui katekese, khotbah dan rekoleksi-retret keluarga, agar keluarga yang telah diteguhkan setia dan mampu memelihara perjanjian perkawinan itu sampai pada penghayatan hidup keluarga yang semakin suci dan utuh . Inilah tugas pokok pastoral perkawinan dari Pastor Paroki. Tugas ini esensial yang harus dijalankan oleh Pastor Paroki. (bdk. Kan 1063; baca juga FC, GS, 47-52)

Garis besar tindak Pastoral Perkawinan

Kasus-kasus perkawinan biasanya terjadi pada awal atau sebelum perkawinan diteguhkan. Kasus itu akan mencuat ketika pasangan hidup berkeluarga sedang dalam perjalanan hidup berkeluarga. Maka persiapan perkawinan menjadi penting sebelum munculnya kasus di tengah jalan yang bila tidak tertangani secara baik akan menyebabkan kehancuran keluarga itu. Secara garis besar Pastoral Perkawinan yang dilaksanakan oleh Pastor Paroki sebagai berikut:

1. Persiapan Jangka panjang melalui kotbah dan katekese, jangka menengah: kursus persiapan perkawinan dan jangka pendek: yakni persiapan liturgi perkawinan, tobat dan ekaristi (bdk. Kann. 1063, 1065)

2. Pihak Katolik yang belum menerima sakramen krisma hendaknya menerima sakramen tersebut sebelum menikah jika tidak ada halangan yang serius (bdk. kan 1065, §1)

3. Pendampingan pastoral hendaknya terus dilanjutkan setelah perkawinan (bdk. Kan. 1063,§4)

4. Penyelidikan kanonik wajib dilakukan oleh Pastor Paroki tanpa didelegasikan kepada katekis. Karena itu tugas Pastor Paroki Penyelidikan kanonik menggunakan formulir pendaftaran calon perkawinan (bdk. Kann. 1066-1067), hendaknya pastor Paroki melakukan penyelidikan kanonik secara serius dengan menanyakan semua daftar pertanyaan kepada calon.

5. Pemeriksaan status liber calon penganten biasanya dilakukan oleh Pastor dari calon yang beragama Katolik tempat dimana dia berdomisili. Penyelidikan kanonik tetap ada pada pastor Paroki calon penganten yang beragama Katolik, meski peneguhannya bisa dilaksanakan oleh Pastor lain. Bagi calon penganten yang beda agama/gereja hendaknya para Pastor Paroki menaruh perhatian pada pedoman Gereja (formulir penyelidikan kanonik) bila calon yang bukan Katolik menolak untuk diselidiki maka hal itu harus diberitahukan kepada Ordinaris wilayah. Untuk menjamin kebebasan dalam menjawab hendaknya kedua pihak ditanya secara terpisah. Jawaban yang diisi di formulir tersebut dikuatkan dengan sumpah.

6. Pastor melaksanakan pemeriksaan mengenai status liber dari calon hendaknya memperhatikan apakah mereka cukup tahu tentang ajaran Katolik tentang perkawinan (bdk. Kan. 1096). Pastor Paroki wajib memberi instruksi kepada calon untuk mengikuti kursus perkawinan bagi calon beragama Katolik maupun tidak (bdk. Kann. 1063-1064).

7. Bila salah satu atau kedua calon tidak memiliki domisili atau kuasi domisili (bdk Kan. 100), atau datang dari daerah lain setelah mencapai pubertas, dan sementara itu tidak dapat menunjukkan surat baptis sah terbaru, maka untuk mendapat bukti statuts liber Pastor Paroki hendaknya menanyakan dua orang saksi di bawah sumpah untuk masing-masing calon. Bila tidak didapatkan saksi maka Pastor Paroki hendaknya menghubungi Ordinaris wilayah.

8. Surat baptis sah terbaru tidak lebih dari enam bulan terakhir, bila gagal mencari maka dipakai jalan keluar no (7).

9. Pastor Paroki mengumumkan pernikahan calon penganten dalam perayaan Misa Hari Minggu selama tiga kali berutut-turut. Bila tempat tersebut (stasi) tidak ada perayaan Misa Mingguan maka bisa diganti dengan pengumuman tertulis di papan pengumuman depan Gereja. Dalam hal perkawinan campur beda agama atau gereja, pengumuman perkawinan hanya dapat dilakukan di paroki pihak Katolik. Perlu diingat pengumuman itu dilakukan setelah memperoleh dispensasi dari halangan perkawinan beda agama atau beda gereja.

Tugas Pastor Paroki dalam kasus perkawinan

Tugas Pastor Paroki dalam kasus perkawinan permohonan pembatalan perkawinan adalah menjadi pendamping pemohon dalam membuat libellus (surat gugat/surat permohonan). Libellus berarti sebuah buku kecil atau sesuatu yang tertulis berupa surat yang berisikan permohonan resmi oleh seorang kepada pengadilan Gereja (Tribunal perkawinan) agar menyelidiki dan menyatakan bahwa perkawinannya dengan pasangannya tidak sah sejak permulaan. Tentang libellus kanon 1504 menyatakan: “Surat gugat yang membuka pokok sengketa harus:

1. Menyatakan perkara itu diajukan ke hadapan hakim yang mana, apa yang diminta dan kepada siapa permintaan itu diajukan,

2. Menunjukkan atas hukum mana penggugat bersandar dan sekurang-kurangnya secara umum fakta dan pembuktian mana yang membenarkan apa yang dinyatakan,

3. Ditandatangani oleh penggugat atau oleh orang yang dikuasakannya dengan disebutkan hari, bulan serta tahun, dan tempat dimana penggugat atau orang yang dikuasakannya bertempat tinggal atau mengatakan di mana alamat untuk menerima akta,

4. Menunjukkan domisili atau kuasi domisili pihak tergugat”.

Pastor Paroki dapat membantu membuat libellus, membahasakan kisah perkawinan pihak pemohon (penggugat), memberi argumen atas dasar hukum mana permohonan pembatalan perkawinan diajukan ke Tribunal perkawinan.

Prinsip utama Pastoral Perkawinan

Tidak semua kasus perkawinan permohonan pembatalan perkawinan yang diajukan ke Tribunal segera dikabulkan oleh Pastor Paroki. Artinya apa? Pastor Paroki hendaknya hati-hati, bijaksana. Dalam segala perkara, prinsip pertama dan utama yang harus dipegang Pastor Paroki adalah peradilan formal harus dihindari (trials should be avoided). Proses peradilan formal di Tribunal hanya merupakan upaya terakhir (the last resort), setelah segala upaya pastoral ditempuh. Maka segala sengketa, kasus-kasus perkawinan di dalam Paroki, hendaknya Pastor Paroki mengadakan upaya pastoral dengan berusaha untuk berdamai (rujuk, rekonsiliasi) antara kedua pihak yang bersengketa. Jika masih ada kemungkinan untuk berdamai Pastor Paroki tidak perlu mengabulkan permohonan itu ke Tribunal. Usaha pastoral rekonsiliasi antara pihak yang bertikai, dari keluarga kristiani di wilayah Pastor berkarya merupakan bagian penting dan utama dari Pastoral Perkawinan. Upaya itu dituntut oleh hukum sendiri dalam kanon 1446, 1676 dan 1695 (bdk. Kann 1713-1716).

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab