Home Blog Page 251

Apa artinya menjadi seorang Kristen?

8

Kristianitas: sudah 2000 tahun, sudahkah ‘berhasil’?

Pernahkah anda merenung, mengapa sudah 2000 tahun berlalu, namun dunia ini belum semuanya mengenal ataupun percaya kepada Kristus? Apakah dengan demikian maka Tuhan hanya bermaksud menyelamatkan sebagian kecil manusia saja, sedangkan sebagian besar yang lainnya ditentukan Tuhan masuk neraka? Jadi untuk apa kita menjadi seorang Kristen? Mengapa ada banyak orang yang mengaku Kristen tetapi hidupnya tidak sesuai dengan ajaran Kristus? Ada banyak pertanyaan seperti ini di dalam benak kita, yang tentunya dapat menimbulkan aneka jawaban.

Kita hidup dalam penantian akan penggenapan janji keselamatan

Dalam bukunya, What it means to be a Christian, Kardinal Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI) menyatakan bahwa kita harus belajar menerima dan menyadari bahwa hidup kita di dunia ini seperti masa Adven (masa penantian) akan penggenapan janji keselamatan yang Tuhan berikan di dalam Kristus Putera-Nya. Ada banyak realitas yang terjadi di sepanjang sejarah manusia, baik dan buruk silih berganti; perang dan damai, kebaikan dan kejahatan, semua terjalin dalam satu rangkaian kejadian. Ini semua menunjukkan, betapa selama hidup di dunia ini kita manusia memang mengalami pergumulan. Dan sesungguhnya, dalam keadaan ini kita dapat banyak belajar dari sikap Ayub: berani bertanya kepada Tuhan, meskipun akhirnya harus menyerahkan segala sesuatunya ke dalam kebijaksanaan Tuhan, yang tidak dapat kita pahami sepenuhnya. Sejarah manusia ini memang mengisahkan tentang berbagai kelemahan umat manusia di hadapan Allah yang penuh belas kasihan. ((lihat. Joseph Ratzinger, What it means to be a Christian, (San Francisco: Ignatius Press, 1965, 2005), p. 15-20))

Kitab Suci sendiri menjanjikan kepada kita seorang Raja Damai/ Mesias yang akan membawa kita kepada keadaan yang penuh damai sejahtera, yang secara simbolis dijabarkan dalam kitab Yes 11:6-9. Keadaan ini menggambarkan kesejahteraan yang ada pada bangsa yang hidup seturut ajaran Sang Raja Damai, karena setiap orang hidup atas dasar pengenalan mereka akan Tuhan, sehingga mereka bagaikan bumi yang ditutupi oleh air laut.

Namun jika kita melihat dengan jujur, kita mengetahui bahwa keadaan ini belum terwujud sekarang ini, melainkan hal itu menjadi gambaran kesempurnaan pada kehidupan Surgawi yang akan datang. Kenyataan ini membawa akibat berikutnya, yaitu, bahwa kita yang adalah murid- murid Kristus Sang Mesias, dipanggil oleh Tuhan untuk berjuang dalam mewujudkan kehendak Tuhan membentuk kehidupan yang penuh damai tersebut, selama kita masih hidup di dunia ini. Sebab bukannya tidak mungkin, karena ada banyak orang Kristen yang hidupnya tidak sesuai dengan ajaran Kristen, maka orang lain yang belum mengenal Kristus mempunyai gambaran yang keliru tentang Kristus dan Gereja.

Apa yang dikehendaki Allah?

Sabda Tuhan mengajarkan kepada kita bahwa Allah menghendaki agar “semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” (1 Tim 2:4). Oleh karena itu, walaupun Tuhan memandang kepada tiap- tiap orang sebagai ciptaan yang amat dikasihi-Nya, Ia juga memandang keseluruhan umat manusia sebagai satu kesatuan. Allah menghendaki semua orang diselamatkan. Dan Allah melakukan segala sesuatu untuk maksud itu; sampai ke titik yang ekstrim, sehingga bahkan banyak orang sulit untuk mempercayainya. Ia, Sang Allah Pencipta, rela menjelma menjadi manusia. “Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (Luk 2:12). Kristus Sang Allah Putera, meninggalkan segala kekayaan dan kemegahan surgawi, untuk menjadi bayi mungil yang miskin dan papa. Sepanjang hidup-Nya di dunia, Kristus memilih untuk menjadi miskin, menjadi seorang hamba, dan wafat juga dengan cara yang sangat hina (Fil 2:5-10). Semuanya ini menjadi tanda bukti akan kasih Allah yang mau melakukan apa saja untuk menyelamatkan kita manusia yang berdosa.

St. Athanasius dan St. Augustinus mengajarkan, “Allah menjadi manusia supaya manusia dapat menjadi anak- anak Allah.” Maka kita ketahui bahwa Allah menginginkan agar kita dapat menjadi anak- anak -Nya, dan memanggil-Nya Bapa (Rom 8:15). Namun panggilan ini disertai dengan undangan untuk hidup sesuai dengan panggilan kita sebagai anak Allah; yang dapat diringkas menjadi satu kalimat ini: hidup mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Perintah utama inilah yang diajarkan oleh Kristus, dan kita semua melihat betapa Kristus sendiri menggenapinya dengan sempurna melalui pengorbanan-Nya di kayu salib.

Menjadi Kristen= menjadi seperti Kristus?

Maka sebagai murid- murid Kristus, kita dipanggil untuk hidup seturut teladan-Nya, yang sedikitnya dapat kita rinci sebagai berikut:

1. Hidup bagi orang lain

Kita mengetahui bahwa menjadi Kristen bukan sekedar menerima Baptisan dan mengakui dengan mulut bahwa Kristus adalah Tuhan  Penyelamat kita; lalu kita dapat ‘mengantungi’ keselamatan kita untuk diri sendiri, tak usah terlalu peduli dengan orang lain. Tidak demikian! Kita tidak menjadi Kristen demi diri kita sendiri; sebab jika kita mempunyai kehendak dan pikiran seperti Kristus, kitapun harus bertindak seperti Kristus. Artinya, kita harus mau ikut ambil bagian dalam pelayanan Kristus terhadap dunia ini. Kita harus mau keluar dari ke- aku- an diri sendiri, dan berani hidup bagi orang lain. Kita harus mau melayani daripada dilayani. Singkatnya, kita tidak lagi memusatkan perhatian pada kepentingan diri sendiri, tetapi kepada kepentingan orang lain (Flp 2:4).

Prinsip pemikiran ini membantu kita memahami, bahwa kita menjadi Kristen, bukan demi diri kita sendiri, tetapi karena Tuhan menginginkan agar kita turut melakukan pekerjaan- pekerjaan-Nya untuk mendatangkan keselamatan bagi banyak orang. Tuhan bekerja melalui manusia- manusia ciptaan-Nya. Itulah sebabnya Ia memilih bangsa Israel pada masa Pernjanjian Lama. Bukan artinya bahwa setelah memilih bangsa Israel lalu bangsa- bangsa yang lain direncanakan-Nya untuk binasa, melainkan sebaliknya, agar melalui bangsa Israel, bangsa- bangsa lain diselamatkan. Dengan prinsip yang sama kita melihat peran Gereja, yaitu bahwa melalui Gereja, Tuhan menyampaikan Terang-Nya dan Kasih- Nya kepada dunia, agar dunia mengenal jalan keselamatan-Nya.

2. Mengasihi tanpa pilih- pilih dan tanpa perhitungan

Kitab Suci mengajarkan kepada kita, betapa Allah memihak kepada orang- orang yang tersisihkan: janda, fakir miskin, orang sakit, anak- anak, singkatnya, mereka yang lemah dan kecil. Yesus bahkan menyamakan diri-Nya dengan mereka semua; dan kelak akan menghakimi kita sesuai dengan banyaknya perbuatan kasih yang kita lakukan terhadap mereka (lih. Mat 25). Ajaran ini tentu bertentangan dengan pandangan dunia, yang cenderung memberi dengan harapan akan menerima kembali, atau mengasihi dengan harapan akan dibalas kasih. Tuhan Yesus menujukkan sebaliknya, Ia mengasihi kita, bukan karena kita sudah baik, bukan karena kita hebat, bukan karena kita bisa berguna bagi Dia. Ia mengasihi kita karena Ia sungguh baik. Firman Tuhan mengatakan, “… tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Rom 5:8) Dan ajaibnya, kasih yang seperti inilah yang mampu mengubah kita. Pertanyaannya sekarang: sudahkah kita memiliki kasih seperti ini kepada orang lain?

3. Mengasihi dengan prinsip “superabundant“/ lebih dari yang disyaratkan.

Melihat teladan Yesus, kita mengetahui bahwa menjadi seorang Kristen artinya mengasihi dengan kasih yang lebih dari yang disyaratkan. Kasih inilah yang diajarkan oleh Kristus kepada kita; yaitu supaya kita tidak hanya puas dengan ‘asal menghindari dosa berat’, asal melakukan yang benar sesuai hukum, seperti sikap ahli Farisi (lih. Mat 5:20). Yesus mengajarkan kita untuk berbuat ekstra. Itulah yang dicontohkan-Nya sendiri pada banyak mukjizatnya, seperti mukjizat di Kana (Yoh 2), dan mukjizat pergandaan roti (Mat 14:13-21, Mrk 6:32-44, Luk 9:10-17, Yoh 6:1-15). Di atas semua itu, kasih yang melimpah ini ditunjukkan dengan pengorbanan-Nya di kayu salib, sebagai cara yang dipilih-Nya menyelamatkan manusia. Oleh kasih karunia inilah kita diselamatkan (Ef 2:8-9).

Kelimpahan kasih Allah dalam mewujudkan rencana keselamatan-Nya, bahkan sampai ‘meluber’ kepada kita; sehingga kitapun dipanggil untuk turut ambil bagian dalam karya kasih-Nya ini. Bukan karena kasih-Nya yang kurang panjang untuk menjangkau semua orang, tetapi karena Ia ingin melibatkan kita sebagai anggota Tubuh-Nya untuk berkarya bersama-Nya. Sebenarnya, kasih Allah yang ‘superabundant‘ inilah yang mendorong orang- orang yang memberikan hidup sepenuhnya untuk Tuhan, seperti para rohaniwan dan rohaniwati, para misionaris, para sukarelawan, yang mungkin terinspirasi oleh pengajaran Yesus kepada orang muda yang kaya (lih. Mat 19:16-26). Pengorbanan mereka seharusnya menjadi contoh bagi kita, dan harus selalu kita dukung dengan doa- doa. Hal ini mendorong kita bertanya kepada diri kita sendiri: sudahkah kita menyadari akan kasih Allah yang ‘superabundant‘ ini? Sudahkah kita menanggapinya dengan kasih yang melimpah juga? Sudahkah kita mengambil bagian di dalam kasih Allah ini?

4. Kasih mensyaratkan iman, iman mensyaratkan kasih

Walaupun Kitab Suci mengatakan bahwa mereka yang hidup dalam kasih itu berasal dari Allah (1 Yoh 4:8), kita mengetahui bahwa kesempurnaan makna kasih itu diperoleh di dalam Kristus, seperti disebutkan 1 Yoh 4:10-12. Maka jika kita sungguh mengasihi Allah, seharusnya kita mengimani Kristus, Allah Putera yang diutus sebagai pendamaian atas dosa- dosa kita. Kasih karunia Allah dan iman akan Kristus inilah yang memampukan kita untuk mengikuti teladan Kristus, yaitu untuk hidup dalam kasih, kepada Allah dan kepada sesama (1 Yoh 4:16-21). Oleh sebab itu, firman Tuhan tidak memisahkan antara kasih karunia dengan iman (lih. Ef 2:8-9) dan iman dengan perbuatan kasih (Yak 2:24) untuk menghantar kita kepada keselamatan.

5. Iman dan kasih yang ‘superabundant’ mendorong kita untuk menaati segala perintah Allah.

Kita mengetahui bahwa perintah Yesus yang terakhir kepada para murid-Nya sebelum Ia naik ke surga adalah, agar mereka pergi ke seluruh dunia untuk menjadikan segala bangsa murid-Nya, membaptis mereka, dan mengajarkan segala perintah-Nya (lih. Mat 28:19-20). Maka selayaknya, jika kita mengasihi Kristus kita mengikuti kehendak-Nya ini. Jadi Pembaptisan selayaknya tidak kita anggap sebagai formalitas, namun sungguh- sungguh sebagai sarana yang dipilih Allah untuk menyampaikan rahmat-Nya agar kita tergabung dalam keluarga Kerajaan Allah (lih. Yoh 3:5). Selanjutnya, kita juga dengan rendah hati mau belajar menerima dan melaksanakan segala sesuatu yang diperintahkan oleh-Nya. Firman Tuhan sendiri mengajarkan kepada kita bahwa ‘segala sesuatu’ ini maksudnya adalah pengajaran Kristus yang disampaikan oleh para rasul secara lisan dan tulisan (lih. 2 Tes 2:15). Inilah sebabnya mengapa Gereja Katolik memegang tidak hanya Kitab Suci yang merupakan ajaran tertulis, tetapi juga Tradisi Suci yang merupakan ajaran lisan dari Kristus dan para rasul, seperti yang diteruskan oleh para Bapa Gereja.

6. Menaati segala perintah Allah membawa kita kepada Gereja yang didirikan Kristus.

Jika kita mau menerima pengajaran para rasul dan para Bapa Gereja, maka kita akan mengetahui bahwa Kristus yang mendirikan Gereja-Nya di atas Rasul Petrus (Mat 16:18-19), masih terus berkarya di dalam Gereja-Nya yang kini ada di Gereja Katolik. Maka tepatlah jika dikatakan bahwa kita menjadi Katolik karena kita mau menjadi seorang Kristen yang memberi kata “Ya” pada Kristus tanpa syarat. Sebab Kristus telah mendirikan Gereja-Nya, maka keataatan yang penuh kepada-Nya membawa kita juga untuk memasuki dan menjadi anggotanya. ((lihat Douglas Bushman STL, The Catholic Faith Magazine, The Catholic Faith on the Church: To be Catholic is to be Christian, period, Sept/ Oct 1999, vol 5.No.5, p.34-35))  Kristus masih secara aktif memberikan rahmat- rahmat-Nya melalui sakramen- sakramen Gereja. Walaupun benar bahwa di luar sakramen tersebut Ia tetap dapat berkarya, namun tak dapat dipungkiri bahwa sakramen tersebut merupakan cara yang dipilih-Nya untuk hadir di tengah umat-Nya oleh kuasa Roh Kudus. Memang setiap umat Kristen memiliki kehendak bebas tentang bagaimana caranya ia menaati semua ajaran Kristus. Bagi umat Katolik, kita memilih untuk bergabung dalam Gereja yang didirikan-Nya, yang sampai saat ini melaksanakan cara- cara yang dipilih Kristus untuk menyampaikan rahmat-Nya, melalui Sabda-Nya dan Sakramen- sakramen-Nya. Dengan menerima rahmat Tuhan ini, terutama dalam Ekaristi, kita sungguh- sungguh hidup di dalam Kristus, sebab Tuhan Yesus sungguh hadir dan masuk ke dalam diri kita. Kita menaruh pengharapan, bahwa dengan setia mengandalkan rahmat dari Kristus sendiri, maka kita akan dimampukan oleh-Nya untuk bertumbuh di dalam iman, pengharapan dan kasih. Agar akhirnya, kita dapat menerima penggenapan akan janji keselamatan dan bersatu selamanya dengan Dia dalam kerajaan Surga.

7. Mengambil bagian dalam ketiga Misi Kristus sebagai imam, nabi dan raja [15]

Setelah dibaptis, kita menjalani ketiga peran Kristus sebagai imam, nabi dan raja. Peran imam di sini bukan berarti bahwa setelah dibaptis kita semua menjadi pastor/ imam, melainkan bahwa kita mengambil bagian dalam imamat Kristus (Why 1:6) sebagai bangsa pilihan Allah, imamat yang rajani (1 Pet 2:9). Partisipasi dalam imamat Kristus ini diwujudkan dalam dua macam peran yang saling berkaitan, yang pertama adalah imamat bersama/ common priesthood, dan yang kedua adalah imamat jabatan/ hirarchical priesthood.[16] Mereka yang menjabat sebagai imam bertugas melayani umat yang oleh Pembaptisan menerima peran imamat bersama.

Perwujudan peran imamat ini mencapai puncaknya di dalam sakramen-sakramen, terutama perayaan Ekaristi. Para imam mengajar umatNya, dan bertindak atas nama Kristus dalam perayaan Ekaristi, dan mempersembahkan kurban Ekaristi kepada Tuhan atas nama umat. Sedangkan umat menjalankan peran imamat mereka dengan menggabungkan kurban mereka dengan kurban Kristus. Selanjutnya, mereka semua menjalankan peran imamat mereka dengan menerima sakramen-sakramen, dengan doa dan ucapan syukur, dengan hidup kudus melalui mati raga dan berbuat kasih.[17] Jika kita menghayati peran imamat bersama, maka seharusnya kita dapat lebih menghayati keterlibatan kita di dalam sakramen-sakramen, terutama pada perayaan Ekaristi, karena pada saat itulah kita mempersembahkan diri kita sebagai bagian dari persembahan Kristus kepada Allah Bapa. Persembahan kita ini berupa ucapan syukur, segala suka duka dan pergumulan yang sedang kita hadapi, maupun segala pengharapan yang kita miliki. Keterlibatan ini menjadikan kita sebagai bagian dari Sang Pelaku utama yaitu Kristus, dan bukan hanya sebagai ‘penonton’ Misteri Paska.

Selain sebagai imam, kita yang sudah dibaptis mengambil bagian di dalam peran Kristus sebagai nabi, dengan cara, berpegang teguh pada iman, memperdalam iman kita, dan menjadi saksi Kristus di tengah-tengah dunia.[18] Di sinilah kita dipanggil untuk mewujudkan iman di dalam perbuatan, sehingga dapat menjadi kesaksian yang hidup akan pengajaran Kristus.

Akhirnya, Pembaptisan juga mengakibatkan kita mengambil peran Kristus sebagai raja, yang tidak sama dengan pengertian raja menurut dunia. Sebagai Raja, Kristus menarik manusia kepada-Nya melalui kematian dan kebangkitanNya. Sebagai pengikut Kristus, kitapun dipanggil untuk membawa banyak orang kepada Kristus. Selanjutnya, sebagai Raja, Kristus datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani, maka panggilan kita sebagai raja adalah untuk melayani Dia di dalam sesama terutama di dalam mereka yang miskin dan menderita, sebab di dalam merekalah Gereja melihat wajah Sang Kristus, yang menderita. Peran raja inipun kita jalankan dengan mengalahkan segala bentuk kecenderungan berbuat dosa.

Kesimpulan

Maka tujuan kita menjadi Kristen adalah agar kita dapat hidup menjadi seperti Kristus, dan turut mengambil bagian di dalam rencana keselamatan Allah yang diberikan kepada dunia melalui Kristus dan Gereja-Nya. Caranya ialah dengan mengambil bagian dalam misi Kristus, sebagai imam, nabi dan raja. Dengan hidup sesuai dengan panggilan kita sebagai murid Kristus, yaitu hidup di dalam iman, pengharapan dan kasih yang melimpah/ “superabundant” dan mengandalkan rahmat Allah, maka kita akan dapat diubah sedikit demi sedikit oleh Allah untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Kita melaksanakan peran imamat bersama dengan peran serta kita dalam doa dan sakramen Gereja; peran kenabian dengan menjadi saksi Kristus dalam kehidupan sehari- hari; dan peran sebagai raja dengan melayani sesama dan berjuang mengalahkan segala kecenderungan dosa dalam hidup kita. Dalam menjalankan ketiga misi ini, kita mengandalkan rahmat Allah. Rahmat Allah ini secara khusus dapat kita terima melalui Sabda-Nya dan sakramen- sakramen Gereja, terutama Ekaristi. Di sinilah kita melihat pentingnya kita bergabung di dalam Gereja Katolik yang didirikan oleh Kristus sendiri, sebab Gereja Katolik menyampaikan Sabda Allah, baik secara lisan dan tulisan; dan menyampaikan sakramen- sakramen untuk meneruskan rahmat Allah kepada umat-Nya.

Maka marilah kita semua hidup seperti Kristus, yang ditandai dengan hidup dalam kasih yang melimpah kepada Allah dan sesama, atau ringkasnya, hidup dalam kekudusan. Jika kita para murid Kristus telah dapat hidup sesuai dengan ajaran Kristus ini, maka kita dapat menjadi terang dan garam dunia, untuk membawa orang- orang di sekitar kita kepada Kristus yang menyelamatkan. Semoga dengan demikian kita dapat membawa perubahan yang positif kepada dunia, sambil menantikan penggenapan janji Tuhan akan ‘langit dan bumi yang baru’ di kehidupan yang akan datang.

Apakah iman hanya bersifat pribadi atau juga mempunyai dimensi sosial?

6

Pertanyaan:

Fenomena semacam ini sangat sering terjadi di sekeliling kita ya. Hal ini tidak dapat dihilangkan, tetapi masing-masing individu dapat berkontemplasi untuk merenungkan PANGKAL dari semua fenomena yang amat seru dan ramai, serta menjadi emosional dan pasti Kontra-Produktif bagi semua pihak dalam rangka tercapainya kehidupan yang lebih baik.

Mari direnungkan beberapa point saya berikut untuk mengurai PANGKAL ke-hiruk-pikuk-an ini:

A. NAFSU MANUSIAWI (DUNIAWI) yang sering tersamar seolah-olah seperti “KEHENDAK ILAHIAH (SPIRITUAL)”
1. Ketika kita meyakini sesuatu & berusaha mengajak orang lain untuk setuju dengan apa yang kita yakini, sesungguhnya ada persentase yg signifikan bahwa ajakan itu berawal dari hasrat manusiawi kita.
2. Hal ini termasuk ketika yang kita yakini itu sifatnya illahiah. Ajakan itu-pun, sekian persennya adalah hasrat duniawi kita. Kita (sebagai manusia) merasa senang, puas, bangga, gembira, bahagia, dan rasa-rasa yang lainnya timbul ketika orang itu berhasil sepaham & mengikuti yg kita yakini.
3. Keterbatasan kita sbg manusia inilah yg akhirnya membuat RANCU output ajakan itu apakah memang illahiah atau manusiawi belaka.
4. Akhirnya keyakinan & ajakan kita kpd orang lain terkorupsi kemuliaannya menjadi sifatnya personal, psikologis, emosional, primordial, kultural, sosial, bahkan mungkin material.
5. Catatan: terminologi Duniawi maknanya bukan hanya semata material / ekonomik, tetapi segala sesuatu yang sifatnya non-ilahiah, spt: emosi, dengki, iri, bahagia, senang, bangga, sedih, benci, dll.

B. ALIRAN / AJARAN yang BERBEDA PERLU memiliki IDENTITAS & DIFERENSIASI
1. Paham, Keyakinan, atau Filosofi yang muncul dan survive hingga hari ini tentu yang memiliki IDENTITAS PEMBEDA dan POSITIONING yang UNIK terhadap ajaran-ajaran lainnya.
2. Mari berangkat dari Asumsi Positif: semua ajaran, paham, keyakinan, -isme, atau filosofi yang muncul adalah dengan itikad mulia & bermanfaat sebagai Panduan Hidup bagi pengikutnya agar lebih baik.
3. Maka identitas pembeda dan positioning tersebut adalah hal yang positif yang berfungsi sebagai Simbol / Penanda suatu komunitas tertentu.
4. Diferensiasi tsb timbul karena beberapa sebab, antara lain:
a. sebagai akibat perbedaan kultur, letak geografis, waktu munculnya, kondisi sosial setempat, dll.
b. memang di-expose (ditonjolkan) sebagai simbol pemersatu & identitas kelompok
c. di-buat atau di-rumus-kan dengan matang, agar khalayak ramai dapat membedakan satu kelompok dengan lainnya. Hal ini terjadi bila komunitas baru ini masih mengandung kesamaan dengan komunitas sebelumnya. Contohnya: antara ketiga agama Abrahamik, antara Katolik dgn Protestan, Ortodoks, Anglikan, dll.
d. Deferensiasi menjadi tidak perlu di-expose ketika memang sudah berbeda secara natural. Misalnya antara aliran Baha’i dengan Kejawen, Hindu, dll; atau antara Atheisme dengan Shinto, Confusianism, dll.
5. Identitas & Diferensiasi itu dapat berdampak Positif dan berdampak Negatif, tergantung dari MANUSIA-nya (yaitu para pemuka & para pengikut), BUKAN dari esensi ajarannya.

C. ESENSI dari ke-IMAN-an adalah sangat NON-ATRIBUTIF dan PRIVAT
1. Mari kita renungkan lebih dalam bahwa INTI dari ajaran yang kita yakini sesungguhnya lebih dalam & bermakna dari sekedar Atribut Organisasi atau Atribut Komunitas berikut tata cara ritual & struktur organisasinya.
2. Jika kita mau berpegang pada ESENSI dari iman yang kita yakini, maka segala hiruk-pikuk, kebingungan, atau kekhawatiran surga/neraka, sesat/mulia, sifat defensif / ofensif terhadap liyan, akan sangat berkurang.
3. Bila kita benar-benar implementasi ke-Iman-an kita yang secara substansial adalah hubungan privat (intim) antara kita dengan Sang Maha Tinggi, maka segala hal-hal tentang tata cara ritual yang sesat, keliru, berhala, dll, yang tadinya membingungkan kita menjadi jauh lebih ringan & berserah kepada-Nya.
4. Bila kita merasa beriman karena sudah membaca, menghapal, mendiskusi, & mendebatkan semua teks-teks dalam segala literatur yang berjuta-juta halaman, maka sesungguhnya perjalanan keimanan kita BARU SAJA DIMULAI untuk mencari ESENSI dari iman kita.

D. TUJUAN manusia HIDUP dan ber-IMAN adalah KEHIDUPAN FANA & BAKA yang LEBIH BAIK
1. Menurut saya, keyakinan ku adalah guidance saya dalam menjalani kehidupan & merupakan a never-ending effort for a better quality of (earthly & heavenly) life.
2. Mari gunakan akal budi yang telah dikaruniakan Tuhan, untuk mengolah & memproses informasi, serta berkontemplasi dengan rasa, untuk menginterpretasi & mengimplementasi keyakinan yang kita yakini.
3. Bukankah amat berdosa kita, bila akal-budi & rasa kita di-simpan saja, sebab secara membabi buta kita meng-AMIN-i maupun me-NYANGKAL-i segala informasi yang kita terima secara mentah-mentah dan harafiah.
4. Bukankah kita telah melakasanakan sebagian kecil kehendak-NYA, ketika kita ikut berkontribusi terhadap kondisi positif di masyarakat, apalagi bila mampu berbuat sesuatu bagi lingkungan di sekitar kita, walaupun berbeda keyakinan, walaupun TANPA “tujuan mulia” untuk mengkonversi keyakinan mereka (atau kerennya “menyelamatkan” mereka).

E. PILIH ALIRAN / FILOSOFI yang memberi rasa DAMAI dan NYAMAN bagi kita
1. Sejalan dengan runutan logika sederhananya: Kehidupan yang lebih baik perlu prasarana berupa kondisi jiwa & hati yang damai dan nyaman (bukan yang hiruk-pikuk & penuh emosi-ambisi)
2. Maka saya pribadi merasa nyaman dan damai untuk mengikuti ajaran yang sejalan dengan apa yang dilakukannya dalam kehidupan nyata. Misalnya:
a. Cinta Kasih yang termanifestasi dalam gagasan & perbuatan nyata, bukan hanya slogan.
b. Menyelamatkan manusia: termanifestasi dalam tindakan nyata & sederhana sehari-hari, tidak hanya muluk-muluk dalam konsep & semangatnya saja.
c. Menjadi Terang bagi Dunia: termanifestasi dalam kontribusi nyata bagi masyarakat, tetangga, & saudara (walaupun remeh & tidak extravagant), instead of reduksi konsep tsb menjadi sekedar ajakan konversi agama.
d. Dan lainnya..
3. Rasa Damai dan Nyaman itu timbul ketika kita tidak merasa Penasaran atau Gusar atau “Tergugah Semangatnya” ketika melihat orang dengan keyakinan yg berbeda, serta berusaha sekuat tenaga untuk mengajaknya convert.
Sebab keyakinan bukanlah marketing atau salesmanship, kalau itu justru wajib merasa penasaran & tergugah dalam rangka mencapai target yang dibebankan kpdnya.
Bukankah terlalu sederhana, naif & agak2 durhaka kpd Tuhan, bila kita sampai punya target dalam 1 th harus mengconvert sekian ratus orang (jiwa baru? hehe..), yg artinya kita anggap Keyakinan kita sama dengan kegiatan menjual produk / jasa?
4. Rasa Damai dan Nyaman akan kita rasakan bila ketika ada orang yang dengan gigih & pantang menyerah meyakinkan kita bahwa keyakinan kita adalah salah, kita dengan santainya tidak ikutan bingung dengan ikut dalam jalan pikirannya yang mempermasalahkan HAL REMEH-TEMEH, & hampir tidak ada pengaruhnya dengan ESENSI IMAN kita. Biarkan saja, jadi damai toh?
5. Kebetulan saya pribadi lahir di keluarga Katolik, dan kebetulan lingkungan saya membuat saya nyaman & damai, serta memungkinkan perkembangan & pengembaraan iman saya sampai saat ini.
a. Banyak juga teladan & contoh yang kebetulan beriman Katolik telah berkarya nyata bagi lingkungan;
b. Banyak pemikiran para pemuka yang amat mencerahkan (instead of memagari / membodohkan) umatnya;
c. Banyak contoh aplikasi praksis iman Katolik (setidaknya di Indonesia) yang sejalan dengan kondisi nyata kita yang plural;
d. Banyak encouragement kepada umat untuk terus meng-utilisasi karunia Tuhan yg berupa akal-budi-rasa dalam memahami & meresapi filosofi katolikism, serta pengejawantahannya dalam bentuk karya nyata di kehidupan sehari-hari, instead of text-book oriented & forced-interpretation of faith.
e. Damai dan Nyamannya, ketika saya tidak ikutan ambil pusing tentang apakah Yesus ditombak di perut sebelah kanan atau kiri-nya? apakah patung-patung karya seni indah itu termasuk berhala atau bukan? apakah memang Yesus berhidung mancung & berkulit putih serta berjambang? apakah Yesus punya keturunan dari Mary Magdalene atau tidak? apakah agamanya Abraham & Adam-Hawa? dan pertanyaan-pertanyaan sejenis lainnya; sebab hal2 tsb tidak ada dampaknya terhadap keimanan & esensi ajaran Katolik, serta IMPLEMENTASInya dlm kehidupan sehari-hari.

Maka, marilah kita berpulang pada PANGKAL-nya, mari habiskan waktu & energi kita untuk terus berkarya semampu kita bagi sesama & sekitar kita, apapun golongannya. Niscaya, dunia akan tampak jauh lebih indah di mata & hati kita.
Urusan masuk surga / neraka, gak usah dipusingkan, biar saja Tuhan yang menentukan, toh kita tdk bisa berbuat apa-apa & adalah prerogratif-Nya. Repot amat…

Syalom Alaikhem, may peace be upon us all…
Paulus Prana

Jawaban:

Shalom Paulus Prana,

Terima kasih atas tanggapannya. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya sampaikan:

1. Tentang Motif

Sebenarnya ajakan untuk berdiskusi tentang agama dan kebenaran adalah sesuatu yang baik. Kita sering berdiskusi tentang topik-topik yang lain, seperti ekonomi, politik, bola, ilmu pengetahuan, namun jarang berdiskusi tentang agama. Dalam berdiskusi, maka kita tidak perlu mempertanyakan dan meragukan maksud dari orang yang ingin berdiskusi, karena kita tidak tahu persis. Ini berarti kita juga tidak tahu secara persis apakah alasan berdiskusi karena hanya sekedar melayani nafsu manusia belaka atau dengan tujuan yang lebih murni, yaitu untuk mencari kebenaran. Oleh karena itu, kita harus menganggap bahwa yang mau berdiskusi ingin mencari kebenaran, walaupun disampaikan dengan cara yang berbeda-beda, baik dengan lemah-lembut maupun agak kasar.

2. Tentang ajaran yang berbeda-beda

Definisi agama adalah “In its widest sense the union of man with God. Objectively, it consists in doctrines and precepts by which man seeks to bring about this union. Religion is true when its doctrines and precepts are either dictated by right reason or revealed by God; if the former, it is called natural religion, if the latter, supernatural religion. Religion is false if, when claiming to be revealed, it is unable to show a divine guarantee, or when its dogmas and practises sin against right reason and conscience. Subjectively, religion is the attitude of the man who rules his thoughts, words, and actions according to right reason and revelation. In this latter sense religion is a special virtue allied to justice, because it prompts man to render to God what is due Him by strict right from His rational creatures. As such, religion is a strict obligation incumbent on every man. It is also the means by which man is to work out his final destiny.”

a. Dengan demikian kita melihat agama secara obyektif (terdiri dari doktrin dan pengajaran) dan subyektif (yang mengikat pikiran, perkataan, dam perbuatan), baik menurut akal budi yang benar (disebut natural religion) atau menurut wahyu Allah (disebut supernatural religion), dengan tujuan untuk mendapatkan persatuan antara manusia dengan Tuhan. Dengan dasar inilah, maka agama yang berdasarkan wahyu Allah dan tidak bertentangan dengan akal budi yang benar adalah baik, karena akan membuat manusia dapat bersatu dengan Tuhan

b. Maka tugas dari masing-masing pribadi untuk meneliti apakah kepercayaan atau agama yang dianutnya adalah berdasarkan akal budi yang benar dan Wahyu Allah yang otentik. Tentu saja perbedaan kultur, geografis, kondisi sosial juga menjadi faktor penting akan agama yang dianutnya. Namun, kita juga percaya bahwa setiap manusia, yang diciptakan menurut gambaran Allah, mempunyai kemampuan untuk mengetahui kebenaran, mengetahui dan mengasihi Penciptanya.

3. Tentang esensi iman

a. Saya hanya akan membatasi pembahasan dari sisi iman Gereja Katolik. Kalau anda ingin mengetahui pendapat iman dari agama lain, silakan bertanya kepada mereka. Iman dapat didefinisikan sebagai “firm assent of intellect and will to the truth.” Dengan demikian, seseorang yang beriman harus mempunyai suatu keyakinan akal budi yang teguh terhadap kebenaran. Nah, kebenaranlah yang didiskusikan.

b. Seperti yang anda katakan, iman menuntun kita untuk dapat mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan. Namun, di satu sisi lain, kasih kita kepada Tuhan membuat kita mengasihi sesama, yang berarti ingin memberikan yang terbaik bagi orang lain. Kalau keselamatan adalah hal yang terbaik (karena menyangkut keselamatan kekal), maka menjadi tugas umat beriman untuk mewartakan karya keselamatan Kristus kepada semua orang, sehingga semua orang dapat memperoleh keselamatan yang dijanjikan oleh Kristus. Dan ini juga ditegaskan oleh Kristus sendiri yang memberikan amanat agung di Mt 28:19-20 “19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Dengan demikian, iman bukan hanya berdimensi pribadi, namun juga mempunyai dimensi sosial, karena Tuhan menginginkan bahwa semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1 Tim 2:4).

4. Tentang tujuan hidup dan beriman:

Iman dan akal budi tidak bertentangan, bahkan saling mendukung, karena keduanya datang dari sumber yang sama, yaitu Tuhan. Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa iman dan akal budi adalah seperti dua sayap burung yang membawa manusia kepada kontemplasi kebenaran. Jadi, dengan demikian, untuk menuju kepada kebenaran, maka kita harus menggunakan keduanya.

5. Tentang memilih aliran dan agama:

a. Dalam memilih suatu aliran atau agama, maka parameter yang terpenting adalah kebenaran, dan bukan sekedar rasa damai dan nyaman. Hal ini disebabkan karena kebenaran adalah Tuhan sendiri dan Tuhan akan membiarkan diri-Nya ditemukan oleh orang-orang yang tulus mencari-Nya. Dan kebenaran inilah yang akan memerdekakan kita (lih. Yoh 8:32).

b. Namun, tentu saja diperlukan kebijaksanaan dalam menyikapi perbedaan dan juga dalam menerangkan iman kita kepada orang lain. Kita tidak perlu merasa gundah kalau orang lain tidak menerima pemberitaan iman, karena perkara merubah hati bukanlah pekerjaan kita, namun pekerjaan Roh Kudus. Kita harus percaya, bahwa Roh Kudus sendiri akan berkarya dengan cara-Nya. Yang penting, kita harus melakukan bagian kita untuk dapat menjadi alat Tuhan dalam mewartakan kabar gembira. Jadi walaupun kita menginginkan agar semua orang turut mengasihi Kristus dan Gereja-Nya, namun kita tidak perlu membuat target. Biarlah Roh Kudus sendiri yang berkarya.

c. Sering orang hanya mereduksi perbuatan kasih dengan kegiatan sosial. Namun, bukan itu inti dari kekristenan. Kekristenan bukanlah berdasarkan pada liberation theology, namun inti dari Kekristenan adalah membawa Yesus kepada orang lain dan membawa orang lain kepada Yesus. Semua karya sosial, perbuatan kasih, pemberitaan mempunyai sumber yang satu, yaitu Kristus sendiri.

d. Kalau ada yang berusaha meyakinkan bahwa iman kita salah, maka kita tidak boleh marah. Justru ini menjadi kesempatan bagi kita untuk semakin mendalami misteri iman kita sendiri.

e. Kalau kita mengasihi seseorang, maka kita ingin mengetahui hakekat dari orang yang kita kasihi. Kalau kita mengasihi Yesus dan inti iman kita adalah Yesus, maka sudah seharusnya kalau kita juga ambil perduli akan segala sesuatu tentang Yesus. Ini juga termasuk akan hal-hal yang anda sebutkan, yang bersifat substansial. Dalam contoh yang anda ambil, terdapat beberapa yang tidak bersifat substansial, seperti Yesus berjambang atau tidak. Namun, apakah Yesus mempunyai keturunan dari Maria Magdalena, telah menyentuh hal yang substansial. Namun, yang lebih penting lagi adalah kita tidak menentukan sendiri artikel iman yang kita mau percaya, karena jika demikian, iman kita adalah bergantung pada diri kita sendiri, dan bersifat sangat subyektif. Padahal kita tahu bahwa kebenaran adalah bersifat obyektif dan manusia mempunyai kemampuan untuk mengerti dan menangkap kebenaran yang obyektif.

6. Kesimpulan

Dengan demikian, adalah menjadi tugas kita, umat Katolik untuk turut serta dan berpartisipasi dalam misi keselamatan Kristus dan menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia, baik melalui pewartaan maupun kesaksian hidup kudus.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Yesus datang membawa perpecahan?

3

Pertanyaan:

Syalom, pak stef dan bu inggrid. saya
mohon penjelasan injil Lukas 12:51-53. Yesus membawa perpecahan. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

Adi

Jawaban:

Shalom Adi,

Perikop Lukas 12:51-53 berbunyi demikian:

“Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”

Berikut ini adalah penjelasannya dengan sumber utama dari Navarre Bible dan A Catholic Commentary on Holy Scripture ed. Dom Orchard:

Tuhan Yesus datang ke dunia untuk membawa pesan damai sejahtera (lih. Luk 2:14) dan pendamaian/ rekonsiliasi (lih. Rom 5:11). Namun manusia menolaknya, melalui dosa- dosa yang diperbuatnya, maka dengan demikian karya penebusan Tuhan Yesus terhalang oleh pertentangan. Inilah yang juga telah dinubuatkan oleh nabi Simeon (lih. Luk 2:34), bahwa Kristus akan menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan, antara mereka yang menerima Dia dan yang menolak Dia. Dosa yang menyebabkan perbantahan ini, juga mengakibatkan ketidak-adilan, perpecahan bahkan perang.

Sepanjang hidup-Nya di dunia, Kristus memang telah menjadi tanda perbantahan (a sign of contradiction) sebab Ia mengajarkan ajaran kesempurnaan yang tidak mudah untuk diterima oleh masyarakat pada saat itu (dan bahkan juga pada saat ini). Tuhan Yesus sudah memperingatkan para murid tentang perpecahan yang akan menyertai penyebaran Injil (Mat 10:24). Secara khusus adalah pengajaran yang diajarkannya di bukit (delapan Sabda Bahagia) tentang berbahagialah orang yang miskin di hadapan Tuhan, haus dan lapar akan kebenaran, lemah lembut, murah hati, yang sekarang berduka, yang suci hatinya, yang membawa damai, yang dianiaya karena kebenaran, yang dikucilkan karena mengimani Kristus (lih. Luk 6:20-23; Mat 5:3-12) dan bahkan ajaran untuk mengasihi musuh/ orang yang menganiaya kita (Mat 5:44). Ajaran kesempurnaan ini adalah sesuatu yang tidak sama dengan persepsi dunia, yang cenderung memilih untuk menjadi kaya, memberi dengan harapan akan menerima kembali, membalas kejahatan dengan perbuatan setimpal, yang tidak tertarik untuk mencari kebenaran Allah, yang tidak mudah berdamai dan memaafkan, yang tidak mau menderita apalagi dianiaya.

Ajaran Yesus tentang kesempurnaan/ kebahagiaan inilah yang membawa perpecahan bagi manusia, karena memang gambaran “kebahagiaan”  manusia secara duniawi itu bertentangan dengan gambaran “kebahagiaan” manusia secara rohani. Jika di dalam keluarga, ada anggota yang memusatkan hati pada perkara- perkara duniawi, dan yang lain memusatkan pada perkara surgawi, maka terjadilah ‘perpecahan’ di sini. Memang harapannya kemudian adalah, sebagai satu keluarga, maka yang mengenal Kristus dapat menunjukkan kepada yang belum mengenal Kristus tentang kesempurnaan ajaran Kristus, terutama melalui teladan hidupnya, sehingga yang belum mengenal Kristus dapat menemukan kebahagiaan sejati yang hanya dapat diperoleh di dalam Tuhan. Selanjutnya tentang topik ‘Kebahagiaan kita manusia, hanya ada di dalam Tuhan’, silakan klik di sini.

Adalah tantangan bagi kita semua sebagai murid- murid Kristus untuk membawa damai sejahtera kepada dunia sekitar kita, dengan menjalankan hukum cinta kasih. Sebab hanya oleh kasih maka dunia dapat dipulihkan dari segala bentuk perpecahan. Konsili Vatikan II dalam Gaudium et Spes (tentang Gereja dalam Dunia modern) 78, mengajarkan, “Oleh karena itu segenap umat Kristen dipanggil dengan mendesak, supaya “sambil melaksanakan kebenaran dalam cinta kasih” (Ef 4:15), menggabungkan diri dengan mereka yang sungguh cinta damai, untuk memohon dan mewujudkan perdamaian…..”

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org



Anugerah, karunia, rahmat, berkat

4

Pertanyaan:

shalom , seluruh team katolisitas.
mohon penjelasan mengenai anugerah, karunia, rahmat dan berkat.
terima kasih. Tony

Jawaban:

Shalom Tony,

Memang terdapat arti yang mirip- mirip antara anugerah, karunia, rahmat, dan berkat. Saya berpegang kepada Katekismus Gereja Katolik untuk mengartikannya.

1. ‘Anugerah’ mempunyai persamaan arti dengan ‘karunia’ dan ‘rahmat’

Dalam bahasa Inggrisnya adalah ‘gift’, ‘free gift’, ‘gift of grace’ yang umumnya mengacu kepada iman, sebagai pemberian dari Allah yang bersifat adikodrati/ supernatural, tidak berdasarkan kodrat duniawi.

KGK 162 Iman adalah satu anugerah rahmat (free gift) yang Allah berikan kepada manusia.
KGK 179 Iman adalah anugerah adikodrati (supernatural gift) dari Allah. Supaya dapat percaya, manusia membutuhkan pertolongan batin dari Roh Kudus.

KGK 654 ….. Kita adalah saudara-saudari-Nya bukan atas dasar kodrat kita, melainkan oleh anugerah rahmat (the gift of grace), karena hidup sebagai anak angkat ini benar-benar menyertakan kita dalam kehidupan Putera-Nya yang tunggal, hidup yang nyata sepenuhnya dalam kebangkitan-Nya.

KGK 99 Berkat cita rasa iman adikodrati, seluruh umat Allah menerima secara terus-menerus karunia Wahyu ilahi, mempelajarinya lebih dalam serta menghayatinya secara makin lengkap.

KGK 1083 ….Gereja itu di satu pihak berterima kasih kepada Bapa “karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu” (2 Kor 9:15) dalam sembah sujud, pujian dan syukur.

2. Karunia atau kasih karunia adalah ‘grace‘yang sering dihubungkan dengan rencana keselamatan Allah kepada manusia.

KGK 249 …..”Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus dan kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2 Kor 13:13, Bdk. 1 Kor 12:4-6; Ef 4:4-6).

KGK 257 …..”Rencana ini adalah “kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita sebelum permulaan zaman” (2 Tim 1:9) dan yang langsung berasal dari cinta trinitaris. Rencana itu dilaksanakan dalam karya penciptaan, dalam seluruh sejarah keselamatan setelah manusia berdosa, dalam pengutusan-pengutusan Putera dan Roh Kudus yang dilanjutkan dalam pengutusan Gereja (bdk. Ad Gentes 2-9)

KGK 423 Karena “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya, sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran… Dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia” (Yoh 1:14.16).

3. Karunia sering dihubungkan dengan karunia Roh Kudus.

KGK 158 “Supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga senantiasa menyempurnakan iman melalui karunia- karunia-Nya” (Dei Verbum 5).

KGK 768 Untuk melaksanakan perutusan-Nya, Roh “memperlengkapi dan membimbing Gereja dengan aneka karunia hierarkis dan karismatik” (Lumen Gentium 4). Melalui Dia “Gereja, yang diperlengkapi dengan karunia-karunia….

KGK 819 “Sabda Allah dalam Kitab Suci, kehidupan rahmat, harapan, dan cinta kasih, begitu pula karunia- karunia Roh Kudus lainnya yang bersifat batiniah dan unsur-unsur lahiriah” (Unitatis Redintegratio 3)

4. Berkat adalah ‘blessing‘ sebagai lawan kata dari kutuk (curse).

Berkat juga dapat berarti penyembahan kepada Allah dengan ucapan syukur (dari sisi manusia); dan berarti pemberian Allah (dari sisi Tuhan).

KGK 1009 Ketaatan Yesus telah mengubah kutukan kematian menjadi berkat (Bdk. Rm 5:19-21).

KGK 1077 “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga.

KGK 1078 Memberkati adalah satu tindakan ilahi, yang memberi hidup, dan asal mulanya adalah Bapa. Berkat-Nya [bene-dictio, eu-logia] adalah serentak sabda dan anugerah. Kalau dihubungkan dengan manusia, maka perkataan “berkat” itu berarti penyembahan dan penyerahan diri kepada Pencipta dengan ucapan terima kasih.

KGK 1079 Sejak awal mula sampai akhir zaman seluruh karya Allah adalah berkat. Mulai dari kidung liturgi tentang penciptaan pertama sampai kepada lagu pujian di dalam Yerusalem surgawi, para pengarang yang diilhami mewartakan rencana keselamatan sebagai berkat ilahi yang tidak ada batasnya.

KGK 1083 kita dapat mengerti dimensi ganda liturgi Kristen sebagai jawaban iman dan cinta atas berkat- berkat rohani, yang Bapa hadiahkan kepada kita. Disatukan dengan Tuhannya dan “dipenuhi oleh Roh Kudus” (Luk 10:21)

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Tentang kabbalah

15

Pertanyaan:

beberapa waktu yang lalu, saya diajak oleh teman protestan saya untuk menghadiri kebaktiannya. kotbah kali itu adalah tentang (kalau tidak salah) kabbalah.

yang menarik perhatian saya adalah (sekali lagi, kalau tidak salah) kabalah ini dibuat oleh salomo. karena salomo adalah tokoh alkitab. apakah kabalah ini ada didalam Gereja Katolik?

Jawaban:

Shalom Alexander,

1. Kabbalah, apakah itu?

Belakangan ini memang dikabarkan banyak para selebriti di Amerika ramai- ramai mempelajari Kabbalah. Kabbalah berasal dari tradisi agama Yahudi. Memang kata ‘kabbalah’ ini berarti ‘tradisi’/ ‘yang diterima’. Pada abad ke- 13, tradisi ini dituliskan, dalam Sefer ha Zohar (the Book of Enlightenment), dan sejak itu ‘kabbalah’ bagi sebagian orang mengacu kepada rahasia kodrat ilahi, kosmos dan jiwa manusia, secara khusus jiwa seorang Yahudi.

Namun dewasa ini, pengetahuan populer tentang kabbalah tidaklah (sedikit sekali) mengacu kepada makna asli tradisi Yahudi, melainkan hanya mencerminkan kebutuhan para pencari hal- hal spiritual. Dalam salah satu situs Kabbalah, the Bnei Baruch World Center for Kabbalah dikatakan, “Today, many well-known celebrities have popularized a New Age pop-psychology distortion of Kabbalah that has more in common with the writings of Deepak Chopra than with any authentic Jewish source.”Kepopularitasan kabbalah dewasa ini menurut Prof Hava Tirosh- Samuelson ((Prof. Hava Tirosh- Samuelson, seorang ahli tentang hubungan antara filosofi dan kabbalah dari Arizona State University)), merupakan interpretasi ulang dari mistik Yahudi dan kesalahan interpretasi dari tradisi Yahudi. Rabbi David Fine dari kongregasi Beth Israel Abraham & Voliner juga mengatakan bahwa pandangan populer tentang kabbalah tidak ada hubungannya dengan Kabbalah yang asli.

Tak mengherankan, bagi Elliot Wolfson, seorang profesor dalam bidang studi Ibrani dan Yahudi di New York University dan ahli Kabbalah, mengatakan bahwa apa yang diajarkan sekarang, bukanlah tradisi tetapi teori distorsi, “pop version that is far more a form of New Age occult astrology and magic than a genuine expression of Kabbalah.”

2. Tanggapan Gereja Katolik

Melihat prinsip pengajarannya dewasa ini yang mengarah kepada praktek New Age, maka kabbalah ini tidak sesuai ajaran Gereja Katolik. Dari informasi yang saya peroleh, kabbalah yang dikenal sekarang ini umumnya berasal dari tulisan di abad pertengahan, jadi bukan dari jaman Salomo. Jika kita membaca informasi mengenai Kabbalah ini dari beberapa orang ahlinya, maka kita menemukan beberapa jenis interpretasi, sehingga memang tidak diketahui versi mana yang benar. Karena kabbalah ini ditulis berdasarkan tradisi Yahudi yang pada kenyataannya menolak Kristus sebagai Allah Putera, maka sesungguhnya prinsip kabbalah ini tidak sesuai dengan ajaran Kristiani.

Beberapa prinsip pengajarannya tidak sesuai dengan ajaran Kristus dan Gereja Katolik, contohnya seperti reinkarnasi, astrologi, beberapa campuran ajaran gnosticism, dan juga prinsip peningkatan hal spiritual dengan kekayaan jasmani, (serupa prinsip teologi kemakmuran). Pandangan- pandangan ini menggeserkan peran Yesus sebagai satu- satunya jalan kepada Bapa (Yoh 14:6) dengan memperkenalkan tokoh- tokoh penyelamat dan kekuatan alam lainnya. Pandangan ini juga mengesampingkan makna pengorbanan Kristus di kayu salib, yang merupakan inti ajaran Kristiani.

Semoga kita dapat menjadi lebih waspada dengan segala ajaran baru yang bermunculan di sekitar kita, dan tetap teguh berpegang ajaran Magisterium Gereja Katolik.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Menjawab kebingungan akan Trinitas dan kodrat Yesus

16

Pertanyaan:

Shalom semua… Tuhan memberkati…

malam ini saya bingung… seperti memilih dua jalan yang saya tidak tahu akhirnya dimana…
saya memang dibesarkan dalam keluarga katolik tapi tidak terlalu fanatik…
masalah saya ini…
dari dulu saya diajarkan tentang 3 pribadi Allah…
Allah Bapa yang adalah Tuhan
Allah Putra yang adalah Yesus
dan Allah Roh Kudus

beberapa waktu yang lalu saya diyakini dan iman saya semakin diteguhkan bahwa pribadi Allah ada masanya sendiri dalam artian
1) saat penciptaan hingga sebelum kelahiran Yesus di dunia, Tuhan yang berkehendak dan mengatur semua, dan Tuhan langsung berfirman pada nabi-nabinya yang kudus tanpa perantaraan apapun dan siapapun
2) saat kelahiran Yesus hingga kebangkitannya, Yesus datang menebus kita dengan darahNya yang suci mulia, bahkan mengadakan tanda-tanda dan mukjizat yang luar biasa agar bisa mengarahkan hati orang kaku dan keras
3) saat Roh Kudus turun atas para rasul sampai saat ini kita diberi Tuhan kuasa untuk dengan kebijakanNya dalam Roh Kudus yang ada dalam setiap kita menaklukan setan dan iblis serta kembali bersatu dengan kerahimanNya

namun beberapa saat yang lalu di salah satu forum ada artikel bahwa sebenarnya Allah kita hanya satu yaitu Tuhan, lalu bagaimana dengan Yesus Kristus? apakah dia nabi atau pribadi Allah yang lain??
saya bingung karena pendapat itu diperkuat dengan pernyataan bahwa Yesus sendiri dalam Alkitab tidak menunjukkan dirinya sebagai salah satu pribadi Allah… saya berpikir Yesus Kristus adalah pintu bagi kemulian Tuhan bersatu dengan kehinaan manusia, sama seperti air dan minyak yang hanya bisa bersatu oleh karena sabun, saya berpikir bahwa doa saya kepada Yesus Kristus adalah sebagai permohonan agar bisa melalui Dia saya bertemu Bapa Pencipta karena telah mengikuti jalannya juga pernyataan Yesus akan hukum kasih yang pertama “kasihilah Tuhan, Allahmu….” juga dalam Mrk. 12:29 “Dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa”…kan berarti Yesus menyangkal diriNya sebagai Allah… juga pernyataan bahwa dulu sebelum katolik terpisah menjadi katolik roma dan ortodox timur saat diadakan konsili Nicea-Konstaninopel banyak pemimpin gereja yang hadir adalah pemimpin gereja ortodox timur yang faham teologisnya dipengaruhi faham helenistik atau faham Yunani yang menyembah berhala jadi ortodox timur tidak merasa banyak Allah menjadi beban karena sejarah mereka yang sebelumnya merujuk pada penyembahan berhala, bahkan Paus pertama St. Petrus tidak menjadikan Yesus sebagai Tuhan, tetapi Tuan…bukan God tapi Lord…dan memang terjemahan bahasa indonesia yang payah dan saya menyalahkan LAI!! saat gereja perdana nama Yesus adalah sebagai nabi besar yang merupakan satu2nya pintu akses kepada kekekalan Bapa…. namun di posting ini, Arius malah disebut sesat… dan memang secara logika Yesus bukanlah Tuhan tetapi manusia sejati yang sebelum berada di rahim Bunda Perawan telah dipenuhi Roh Kudus dan dari pada itu pula kemungkinan besar Yesus dijauhkan dan tidak pernah menyentuh dosa seumur hidupNya…
semua artikel itu didapat dari (http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?t=2709)
duh bingung…bagaimana ini?? iman saya sedang diuji…. mohon bantuan! sekarang pilihan saya ada dua antara menjadikan Yesus sebagai Allah Putra Penebus atau seorang Perantara Tuhan bagi manusia
saat menjadikan Yesus sebagai Allah Putra saya takut kenyataan Tuhan bahwa Yesus adalah pengantara Tuhan dan manusia, dengan itu saya dihukum karena menduakan Tuhan
saat menjadikan Yesus sebagai Pengantara saya takut kenyataan Tuhan bahwa Yesus adalah Putra TunggalNya dengan itu saya dihukum karena meragukan iman saya
saat ini saya berpikir yang patut saya sembah adalah Tuhan Allah Pencipta dan kepada Yesus Kristus saya mohon ijin memasuki Kerajaan Surga dalam nama Dia yang adalah Kristus…saya takut salah memangil Yesus dengan sebutan Tuhan atau Pengantara…
tolong bantuannya…saya sampai tidak bisa tidur…saya takut pada Tuhan(T_T)
semoga Roh Kudus bisa membimbing kita agar jawaban yang kita sampaikan berkenan dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amin

Gunawan Wijaya

Jawaban:

Shalom Gunawan Wijaya,

Terima kasih atas sharingnya tentang kebingungan anda tentang Trinitas. Mari kita membahasnya bersama-sama dan mohon Roh Kudus membimbing diskusi kita, sehingga kita dapat memperoleh keyakinan akan iman kita.

Menghindari jebakan ajaran sesat modalisme

1) Pengertian anda tentang peran Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus harus dimengerti dengan benar, karena dapat terjebak pada ajaran modalisme (modelism), yang ditentang oleh Gereja Katolik. Pengajaran yang salah ini, menekankan akan peran Allah Bapa pada penciptaan, kemudian diganti dengan peran Allah Putera yang membebaskan manusia, dan kemudian diganti dengan peran Roh Kudus yang menyucikan manusia. Kita harus mengerti bahwa Allah Putera dan Allah Roh Kudus melakukan segala sesuatunya (mencipta, menebus manusia, menguduskan, dll) bersama-sama dengan Allah Bapa.

2) Kalau di forum tersebut dikatakan bahwa Allah kita adalah satu, maka hal tersebut adalah benar, karena memang Gereja Katolik mengajarkan bahwa Trinitas adalah satu Allah dalam tiga Pribadi atau satu hakekat /substansi (substance) dalam tiga pribadi (person). Dengan demikian, kita harus mengerti hakekat substansi dan pribadi. Silakan melihat artikel tentang Trinitas di atas – silakan klik. Dengan mengerti akan perbedaan substansi dan pribadi, maka kita akan dapat mengerti Trinitas dengan baik.

Membuktikan bahwa Yesus Kristus adalah Allah

Beberapa artikel yang membantu

Dengan pengertian point 1, maka kita dapat melihat bahwa Yesus Kristus dan Roh Kudus ada bersama-sama dengan Bapa sepanjang segala abad. Sekarang permasalahannya adalah bagaimana kita tahu bahwa Yesus adalah Allah. Untuk itu, anda dapat membaca artikel tentang ke-Allahan Yesus Kristus dalam beberapa artikel Kristologi berikut ini:

Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia, karena Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia.

Yesus tidak pernah mengatakan “Aku Tuhan dan sembahlah Aku”

Anda mengatakan “saya bingung karena pendapat itu diperkuat dengan pernyataan bahwa Yesus sendiri dalam Alkitab tidak menunjukkan dirinya sebagai salah satu pribadi Allah” Kalau yang dicari kata-kata secara persis “Aku Tuhan dan sembahlah Aku”, maka memang tidak ada kalimat tersebut. Namun, Yesus membuktikan Diri-Nya Tuhan dengan cara yang lebih menyakinkan, yaitu dengan dinubuatkan sebelumnya, mukjijat yang dilakukan-Nya – termasuk mengampuni dosa dan bangkit dari antara orang mati. Silakan membaca lebih lanjut dalam link-link yang saya berikan. Argumentasi bahwa Yesus bukan Tuhan karena Yesus tidak pernah mengatakan “Aku Tuhan dan sembahlah Aku” adalah sama seperti seseorang tidak percaya Bill Gates adalah orang yang kaya, karena dia tidak pernah mengatakan “Akulah orang kaya, akuilah itu”. Silakan melihat jawaban lengkapnya di sini – silakan klik.

Tentang konsili Nicea (325)

Untuk konsili Nicea yang sering dipakai untuk mengatakan bahwa Yesus diberikan gelar Tuhan pada tahun 325, maka anda dapat melihat jawaban ini – silakan klik.

Syahadat ‘Aku Percaya’ menyatakan bahwa rahasia sentral iman Kristen adalah Misteri Allah Tritunggal. Maka Trinitas adalah dasar iman Kristen yang utama[9] yang disingkapkan dalam diri Yesus. Seperti kita ketahui di atas, iman kepada Allah Tritunggal telah ada sejak zaman Gereja abad awal, karena didasari oleh perkataan Yesus sendiri yang disampaikan kembali oleh para murid-Nya. Jadi, tidak benar jika doktrin ini baru ditemukan dan ditetapkan pada Konsili Konstantinopel I pada tahun 359! Yang benar ialah: Konsili Konstantinopel I mencantumkan pengajaran tentang Allah Tritunggal secara tertulis, sebagai kelanjutan dari Konsili Nicea (325)[10], dan untuk menentang heresies (ajaran sesat) yang berkembang pada abad ke-3 dan ke-4, seperti Arianisme (oleh Arius 250-336, yang menentang kesetaraan Yesus dengan Allah Bapa) dan Sabellianisme (oleh Sabellius 215 yang membagi Allah dalam tiga modus, sehingga seolah ada tiga Pribadi yang terpisah).

Dari sejarah Gereja kita melihat bahwa konsili-konsili diadakan untuk menegaskan kembali ajaran Gereja (yang sudah berakar sebelumnya) dan menjaganya terhadap serangan ajaran-ajaran sesat/ menyimpang. Jadi yang ditetapkan dalam konsili merupakan peneguhan ataupun penjabaran ajaran yang sudah ada, dan bukannya menciptakan ajaran baru. Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan semakin menyadari bahwa Tuhan Yesus sendiri menjaga Gereja-Nya: sebab setiap kali Gereja ‘diserang’ oleh ajaran yang sesat, Allah mengangkat Santo/Santa yang dipakai-Nya untuk meneguhkan ajaran yang benar dan Yesus memberkati para penerus rasul dalam konsili-konsili untuk menegaskan kembali kesetiaan ajaran Gereja terhadap pengajaran Yesus kepada para Rasul. Lebih lanjut mengenai hal ini akan dibahas di dalam artikel terpisah, dalam topik Sejarah Gereja.

Pengaruh faham helenistik dalam Kekristenan

Tidak benar kalau dikatakan bahwa Gereja perdana karena dipengaruhi oleh faham helenistik, kemudian tidak berkeberatan dengan penyembahan berhala. Kalau demikian halnya, bagaimana kita menjelaskan begitu banyak martir yang meninggal karena mempertahankan iman mereka akan Yesus Kristus yang adalah Tuhan? Kalau memang tidak menjadi masalah bagi jemaat Kristen perdana untuk menyembah berhala, seharusnya pada waktu kekaisaran Diocletian, mereka mengikuti keinginan kaisar untuk menyembah dewa-dewi Roma. Namun, yang terjadi adalah jemaat Kristen Perdana (sekitar 20,000 martir) lebih suka menyerahkan nyawanya dibandingkan menyembah berhala.

Silakan juga melihat beberapa kutipan Bapa Gereja sebelum konsili Nicea (325), yang berarti membuktikan bahwa sebelum konsili Nicea, para Bapa Gereja mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan.

Ignatius of Antioch [50-117 AD] Epistle to the Ephesians
“Ignatius, also called Theophorus, to the Church at Ephesus in Asia . . . predestined from eternity for a glory that is lasting and unchanging, united and chosen through true suffering by the will of the Father in Jesus Christ our God” (Letter to the Ephesians 1 [A.D. 110]).
“For our God, Jesus Christ, was conceived by Mary in accord with God’s plan: of the seed of David, it is true, but also of the Holy Spirit” (ibid., 18:2).
Ignatius of Antioch [50-117 AD] Epistle to the Romans
“[T]o the Church beloved and enlightened after the love of Jesus Christ, our God, by the will of him that has willed everything which is” (Letter to the Romans 1 [A.D. 110]).
Aristides the Philosopher [90-150 AD] The Apology
“[Christians] are they who, above every people of the earth, have found the truth, for they acknowledge God, the Creator and maker of all things, in the only-begotten Son and in the Holy Spirit” (Apology 16 [A.D. 140]).
Tatian the Syrian [120-180 AD] Address to the Greeks
“We are not playing the fool, you Greeks, nor do we talk nonsense, when we report that God was born in the form of a man” (Address to the Greeks 21 [A.D. 170]).
Irenaeus of Lyons [120-180 AD] Adversus Haereses (Book I, Chapter 10)
“For the Church, although dispersed throughout the whole world even to the ends of the earth, has received from the apostles and from their disciples the faith in one God, Father Almighty, the creator of heaven and earth and sea and all that is in them; and in one Jesus Christ, the Son of God, who became flesh for our salvation; and in the Holy Spirit, who announced through the prophets the dispensations and the comings, and the birth from a Virgin, and the passion, and the resurrection from the dead, and the bodily ascension into heaven of the beloved Christ Jesus our Lord, and his coming from heaven in the glory of the Father to reestablish all things; and the raising up again of all flesh of all humanity, in order that to Jesus Christ our Lord and God and Savior and King, in accord with the approval of the invisible Father, every knee shall bend of those in heaven and on earth and under the earth . . . ” (Against Heresies 1:10:1 [A.D. 189]).
Irenaeus of Lyons [120-180 AD] Adversus Haereses (Book III, Chapter 19)
“Nevertheless, what cannot be said of anyone else who ever lived, that he is himself in his own right God and Lord . . . may be seen by all who have attained to even a small portion of the truth” (ibid., 3:19:1).
Clement of Alexandria [150-215 AD] Exhortation to the Heathen (Chapter 1)
“The Word, then, the Christ, is the cause both of our ancient beginning-for he was in God-and of our well-being. And now this same Word has appeared as man. He alone is both God and man, and the source of all our good things” (Exhortation to the Greeks 1:7:1 [A.D. 190]).
Clement of Alexandria [150-215 AD] Exhortation to the Heathen (Chapter 10)
“Despised as to appearance but in reality adored, [Jesus is] the expiator, the Savior, the soother, the divine Word, he that is quite evidently true God, he that is put on a level with the Lord of the universe because he was his Son” (ibid., 10:110:1).
Hippolytus [170-236 AD] Refutation of All Heresies (Book IX)
“Only [God’s] Word is from himself and is therefore also God, becoming the substance of God” (Refutation of All Heresies 10:33 [A.D. 228]).
Hippolytus [170-236 AD] Refutation of All Heresies (Book X)
“For Christ is the God over all, who has arranged to wash away sin from mankind, rendering the old man new” (ibid., 10:34).
Tertullian [160-240 AD] Against Praxeas
“That there are two gods and two Lords, however, is a statement which we will never allow to issue from our mouth; not as if the Father and the Son were not God, nor the Spirit God, and each of them God; but formerly two were spoken of as gods and two as Lords, so that when Christ would come, he might both be acknowledged as God and be called Lord, because he is the Son of him who is both God and Lord” (Against Praxeas 13:6 [A.D. 216]).
“The origins of both his substances display him as man and as God: from the one, born, and from the other, not born” (The Flesh of Christ 5:6–7 [A.D. 210]).
Origen [185-254 AD] De Principiis (Book IV)
“Although he was God, he took flesh; and having been made man, he remained what he was: God” (The Fundamental Doctrines 1:0:4 [A.D. 225]).
Novatian [220-270 AD] Treatise Concerning the Trinity
“If Christ was only man, why did he lay down for us such a rule of believing as that in which he said, ‘And this is life eternal, that they should know you, the only and true God, and Jesus Christ, whom thou hast sent?’ [John 17:3]. Had he not wished that he also should be understood to be God, why did he add, ‘And Jesus Christ, whom thou hast sent,’ except because he wished to be received as God also? Because if he had not wished to be understood to be God, he would have added, ‘And the man Jesus Christ, whom thou hast sent;’ but, in fact, he neither added this, nor did Christ deliver himself to us as man only, but associated himself with God, as he wished to be understood by this conjunction to be God also, as he is. We must therefore believe, according to the rule prescribed, on the Lord, the one true God, and consequently on him whom he has sent, Jesus Christ, who by no means, as we have said, would have linked himself to the Father had he not wished to be understood to be God also. For he would have separated himself from him had he not wished to be understood to be God” (Treatise on the Trinity 16 [A.D. 235]).
Cyprian of Carthage [200-270 AD] Treatise 3
“One who denies that Christ is God cannot become his temple [of the Holy Spirit] . . . ” (Letters 73:12 [A.D. 253]).
Lactantius [290-350 AD] The Epitome of the Divine Institutes
“He was made both Son of God in the spirit and Son of man in the flesh, that is, both God and man” (Divine Institutes 4:13:5 [A.D. 307]).
Lactantius [290-350 AD] Divine Institutes, Book IV
“We, on the other hand, are [truly] religious, who make our supplications to the one true God. Someone may perhaps ask how, when we say that we worship one God only, we nevertheless assert that there are two, God the Father and God the Son-which assertion has driven many into the greatest error . . . [thinking] that we confess that there is another God, and that he is mortal. . . . [But w]hen we speak of God the Father and God the Son, we do not speak of them as different, nor do we separate each, because the Father cannot exist without the Son, nor can the Son be separated from the Father” (ibid., 4:28–29).

Tentang Rasul Petrus dan pengakuannya akan keAllahan Yesus

Manusia tidak perlu menjadikan Yesus Tuhan, karena Yesus sendiri telah membuktikan bahwa Diri-Nya adalah Tuhan. Kalau rasul Petrus tidak percaya bahwa Yesus Tuhan, maka bagaimana kita menerangkan hal-hal berikut ini:

1. Pengakuan Petrus di Kaisarea Filipi14  Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” 15  Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” 16  Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” 17  Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. 18  Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. 19  Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” 20  Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapapun bahwa Ia Mesias.” (Mt 16:14-20; Mk 16:16)

Dari ayat 14, kita tahu bahwa banyak orang membandingkan Yesus dengan para nabi-nabi besar di dalam Perjanjian Baru. Namun Petrus mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Anak Allah inilah yang memberikan kunci Kerajaan Sorga kepada Petrus. Siapakah yang dapat memberikan kunci Kerajaan Sorga kepada seseorang, kalau Dia tidak mempunyai kunci ini sebelumnya? Dan siapakah yang dapat memberikan kunci Kerajaan Sorga kecuali Allah sendiri?

2) Pada hari Pentakosta, Petrus berkata “Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” (Kis 2:38) Apakah mungkin seseorang dibaptis dalam nama manusia dan bukan Tuhan?

3) Ketika Petrus dan Yohanes disidang oleh kaum Farisi, dia mengatakan “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia [Yesus], sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:12) Kalau Yesus bukan Tuhan, mengapa Petrus mengatakan bahwa keselamatan hanya ada di dalam Yesus?

Kesimpulan

Dari pemaparan di atas dan link-link yang diberikan, maka secara jelas anda akan melihat bahwa iman yang yakini – bahwa Yesus adalah Tuhan – mempunyai dasar yang kuat. Untuk mengerti Trinitas, mulailah dari pribadi Yesus terlebih dahulu, yang memang secara jelas masuk dalam sejarah manusia, yang telah dinubuatkan sebelumnya, yang telah membuat begitu banyak mukjijat – termasuk mengampuni dosa dan bangkit dari antara orang mati -, yang mempunyai kodrat sungguh manusia dan sungguh Allah, dan terus diimani sebagai Allah oleh jemaat perdana. Semoga uraian ini dan link-link yang diberikan dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab