Home Blog Page 249

Ujian kasih

8

Hari ini teman saya bercerita ia sedang mengamati dengan seksama apakah anak lelakinya yang berusia 5 tahun mengalami demam setelah mendapat imunisasi campak seminggu yang lalu. Dokter anaknya mengatakan bahwa respon tubuh anak terhadap vaksin campak biasanya akan berupa suhu badan yang meningkat dan timbul tanda-tanda merah di badan, yang akan hilang setelah tubuhnya berhasil melawan virus yang telah dilemahkan dalam bentuk vaksinasi itu. Namun bila tubuh si anak lebih kuat daripada vaksin virus campak, ia akan baik-baik saja dan tidak akan merasakan apapun. Umumnya campak akan menjangkiti manusia sekali dalam hidup pada saat masih anak-anak.

Saya membayangkan bahwa seorang manusia pada awal-awal hadirnya dalam dunia akan berkenalan dengan banyak sekali hal baru. Termasuk mengalami terjangkit penyakit untuk pertama kalinya, sembari beranjak menuju manusia dewasa yang perlahan namun pasti semakin kuat pula daya tahan tubuhnya. Demikian juga semakin kaya pula pengetahuan dan ketrampilannya.

Seringkali Tuhan membiarkan saya mengenal berbagai perlakuan yang buruk dari sesama, atau mengalami peristiwa yang tidak enak karena sifat sesama manusia yang kurang baik dan tidak mengenakkan bagi saya. Sesama itu juga bisa termasuk anggota keluarga besar saya sendiri.

Kebanyakan yang terjadi mungkin sebenarnya bukan maksudnya untuk menjahati / melukai tetapi karena cara pandang, latar belakang, situasi kehidupan, pengalaman hidup, dan kepribadian yang berbeda. Mengenali adanya kemungkinan itu sangat penting supaya kita tidak terlalu cepat menghakimi seseorang yang kita anggap berbuat kurang baik kepada kita atau bertingkah laku tidak menyenangkan.

Tuhan tidak selalu mempertemukan saya dengan situasi yang enak dan mudah serta dengan orang-orang yang baik atau orang yang sepaham dan sepikiran dengan saya. Tetapi pengalaman-pengalaman yang buruk dan perlakuan sesama yang tidak mengenakkan membentuk ketahanan iman saya kepada Tuhan. Menguji kemurnian kasih saya kepada Tuhan dan sesama. Ujian itu bagaikan vaksin campak yang disuntikkan sebagai imunisasi ke tubuh anak teman saya.

Karena ego dan kesombongan manusiawi, daya tahan iman dan kasih saya seringkali lebih lemah dari ujian itu dan hasilnya hati saya menjadi panas. Saya mengalami demam hati. Apa yang saya lakukan dalam keadaan hati panas adalah membalas perlakuan yang buruk dari sesama dengan keburukan juga atau memutuskan sebuah hubungan yang sebelumnya telah terjalin. Walau tidak selalu jelas berupa putusnya sebuah hubungan, setidaknya saya mungkin mendiamkan sesama itu, atau dalam hati tidak ingin berhubungan dan sering bertemu lagi dengannya. Hasilnya mudah ditebak. Saya dan sesama sama-sama terluka dan sama-sama merasa sakit. Dan pasti itu bukan situasi yang Bapa inginkan terjadi di antara anak-anakNya, apalagi di antara anak-anak yang sama-sama mengakui, mencintai, dan mengikutiNya.

Ceritanya akan lain bila saya selalu berusaha untuk bersikap rendah hati, sabar, introspeksi diri, dan mencoba untuk mengerti. Dengan berpikir sedemikian, sesungguhnya saya melindungi diri saya sendiri dan orang lain terhadap luka-luka yang tidak perlu. Saya menyiapkan diri saya untuk mengampuni. Itulah pertahanan jiwa yang sesungguhnya. Seperti sistem kekebalan tubuh yang terbentuk ketika tubuh sudah tidak lagi mempan terhadap ‘virus’ perbedaan nilai, kekurangan kasih, atau kebencian dari luar diri kita. Mother Teresa menggambarkannya sedemikian, “If I love until it hurts, then there will be no more hurts, only more love.”

Itu juga situasinya kalau kita sudah berusaha konsisten bersikap baik dan tulus namun tetap saja mendapat perlakuan yang tidak enak atau tidak adil. Kita sudah melakukan apa yang kita ingin sesama lakukan kepada kita, tapi yang terjadi tidak timbal balik seperti yang kita harapkan.

Jika saya ingat kepada Kristus yang mendoakan para penyalibNya di saat Dia sedang sangat menderita di atas kayu salib itu, saya menyadari bahwa Tuhan melihat kita dengan kacamata belaskasihan dan penuh pengertian. Demikian juga terbayang oleh saya pandangan mata Bapa yang rindu dalam kisah ‘Anak Yang Hilang’ ketika anaknya itu baru tampak di kejauhan untuk pulang. Jika kita berhasil sampai pada belaskasihan seperti yang Tuhan sendiri ajarkan dan lakukan, maka kita bisa mencintai dan mengampuni dengan bebas, lepas dari apakah orang lain itu membalas kasih dan pengampunan kita atau tidak. Kebahagiaan kita tidak lagi tergantung kepada reaksi sesama. Kita bebas dari ekspektasi apapun, dan itu adalah pengalaman yang memerdekakan. Itulah kasih agape, yang bersumber dari Tuhan. Kasih yang menyembuhkan segala jenis kepahitan dan luka.

Itulah yang sebenarnya Tuhan ingin anak-anakNya mengalaminya dan menjadi sembuh sepenuhnya. Jika kita membaca dalam Yohanes 15 : 9 – 17, Yesus menegaskan supaya kita saling mengasihi. Mengapa Yesus ingin kita saling mengasihi? Walaupun kadang terasa sulit dan tidak adil bagi kita? TujuanNya semata adalah demi kebahagiaan kita sendiri. Tuhan selalu menginginkan kebahagiaan jiwa kita. Hal-hal inilah yang Yesus katakan yang menggambarkan apa yang sebenarnya Dia inginkan dialami oleh anak-anakNya melalui perbuatan saling mengasihi, betapapun sukarnya. Yang pertama yaitu supaya kita bisa terus ada dan tinggal dalam kasihNya (ayat 9). Kedua, supaya sukacita kita menjadi penuh (ayat 11), dan selanjutnya yang ketiga, supaya kita selalu ada bersama-sama Dia dan BapaNya (ayat 15), dan yang terakhir, supaya kita menghasilkan buah dan buah itu tetap (ayat 16) sehingga akhirnya apapun yang kita minta dari Tuhan akan diberikanNya karena apa yang kita minta itu akan sesuai dengan apa yang Dia inginkan juga, sebab kita telah menjadi sangat dekat padaNya .

Seperti halnya vaksin diberikan supaya tubuh anak menjadi kuat, demikianlah ujian kasih melalui perjumpaan dengan sesama yang saya anggap mengganggu dan berseberangan sebenarnya adalah bagian dari rencana Tuhan untuk pertumbuhan saya sendiri. Supaya saya utuh dan mengalami kebahagiaan yang sejati, yang hanya dapat dialami bersama Dia dan di dalam Dia. Sebuah persiapan menuju hidup kekal bersamaNya kelak.

Dalam menilai sesama, saya sering lupa bahwa saya sendiri tidak sempurna dan sering menyakiti hati sesama juga, walau tidak selalu saya sadari. Itulah sebabnya di saat kita berjumpa dengan sesama yang menjengkelkan atau tidak tahu berterimakasih, atau membalas kebaikan kita dengan kejahatan, adalah saat dimana Tuhan ingin kita sendiri belajar melihat balok di mata kita sendiri sebelum melihat selumbar di mata sesama kita dan menjadi marah atau kecewa. Apalagi kita tidak selalu memahami keseluruhan kisah dan latar belakang mengapa seseorang bisa menjadi begitu sulit, kasar, sombong, atau keras kepala. Kesadaran itu membuat saya seringkali justru berterimakasih kepada sesama yang sulit, yang membuat saya menyadari bahwa saya sendiri ini juga masih terus perlu bebenah dan memperbaiki kekurangan saya di hadapan Tuhan. Hanya saja saya perlu terus bergantung kepada Tuhan dan menyerap teladan kasihNya di jalan salibNya sehingga saya mampu memenangkan latihan iman itu dan ‘lulus ujian’.

Di dalam Lukas 6 : 32, Tuhan juga mengingatkan “Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.“ Tuhan ingin saya menjadi manusia yang berbeda, unggul dalam cinta dan kerendahan hati. Memang ini sebuah perjuangan yang tidak ringan dan merupakan suatu seni tersendiri. Betapa menyenangkan mengikuti Yesus, yang penuh dengan citarasa seni dan kreativitas dalam mengasihi…! Ia menghendaki supaya kita menjadi sempurna, seperti Bapa di Surga sempurna adanya. Itulah cita-cita Yesus bagi kita semua, cita-cita yang amat indah bagi setiap kita, mahakarya ciptaanNya.

Tapi semua itu tidak mudah. Ya, tentu saja. Untuk hal-hal yang berharga, tidak ada yang mudah, perlu perjuangan. Tetapi bukan berarti tidak mungkin. Kalau Yesus meminta saya melakukan sesuatu, itu pasti sesuatu yang bisa saya lakukan. Tuhan tidak akan meminta sesuatu yang tidak bisa kita kerjakan, termasuk saat Yesus meminta saya mengampuni tujuh kali tujuh kali dalam sehari (Lukas 17: 4). Saya perlu terus berdialog dengan Tuhan melalui firmanNya dan bertekun dalam doa, supaya saya menemukan kekuatan dan damai untuk terus berjalan bersama Yesus. Berpegang terus pada kasihNya dan belajar dari hatiNya yang lemah lembut, penuh belaskasihan, rendah hati, dan semangat pengampunan. Karena dengan kekuatan kita sendiri, kita memang belum mampu. Bersama Santo Paulus dalam Filipi 4: 13 yang mengatakan: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”, saya dapat berkata, ya, Yesus ada di sini, di hati saya. Selama Yesus di hati saya, saya pasti bisa. (uti)

Tentang penyelidikan mukjizat Ekaristi

26

Pertanyaan:

Dear Pengelola katolisitas

Salam, Berkah Dalem

Saya mohon penjelasan dan tanggapan Gereja Katolik tentang beberapa keajaiban-keajaiban sehubungan dengan ‘Perubahan’ dari roti dan anggur menjadi Tubuh dan darah Kristus, atau istilah ‘transubtansiasi’. Saya melihat beberapa video singkat tentang ‘Eucharistic Miracle’ yang terjadi di Eropa, Korea dll, sekaligus kesaksian2 romo, suster dan penyelidikan2 berikutnya oleh ahli2 biologi dsb. Pertanyaan saya, bagaimana pandangan resmi Gereja Katolik tentang hal2 seperti itu.
Terima kasih

Salam
Paulus Pamungkas

Jawaban:

Shalom Paulus Pamungkas,

Kejadian- kejadian mukjizat sehubungan dengan ‘perubahan’ roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus memang banyak terjadi sepanjang sejarah Gereja. Sepanjang pengetahuan saya, Gereja Katolik terbuka akan diadakannya penelitian atas mukjizat tersebut. Salah satu mukjizat yang terkenal dari Ekaristi tersebut terjadi sekitar abad ke 8 di Lanciano, Italia. Saya pernah menuliskan kisahnya sekilas di artikel ini, silakan klik. Di sana Gereja memberikan izin untuk diadakannya penelitian terhadap potongan ‘hosti’ yang sudah berubah menjadi irisan daging hati manusia; demikian pula pada gumpalan darah manusia yang membeku yang kini tersimpan di piala tembus pandang. Fakta bahwa kedua specimen itu tetap eksis (dari abad ke 8 sampai sekarang- berarti sudah 12 abad) dan tidak busuk padahal tanpa adanya bahan pengawet apapun, sudah menjadi mukjizat tersendiri. Mukjizat- mukjizat serupa ini tidak hanya terjadi satu dua kali, tetapi banyak kali, terjadi di banyak tempat di dunia. Dan jika dicocokkan, misalnya, sample darah yang ada di Lanciano, misalnya, cocok juga dengan tipe darah yang diteliti di kain Kafan Turin. Ini adalah suatu fakta, yang mestinya menjawab sikap skeptis dari para peneliti, maupun juga umat beriman secara umum.

Mukjizat Ekaristi tidak hanya terlihat dari bukti specimen potongan daging dan gumpalan darah beku yang sekarang masih eksis. Mukjizat lain yang cukup menarik perhatian adalah misalnya adanya fakta bahwa ada orang- orang tertentu yang dapat hidup sampai bertahun- tahun hanya dengan memakan Tubuh Kristus dalam Ekaristi, tanpa makanan lainnya. Berikut ini adalah sekilas ringkasan dari apa yang dituliskan oleh Fr. M. Piotrowski, S Chr, dalam majalah Love one Another, 5th issue, 2005, yang berjudul, “Eucharistic Miracle in the Life of Martha Robin“, p. 14-18)

Kisah mukjizat Ekaristi ini terjadi dalam hidup Martha Robin (1902- 1981), seorang Katolik yang sangat taat dan beriman. Ia lahir tanggal 13 Maret 1902 di Chateauneuf-de- Galaure, Perancis, di desa kecil Drome, di lembah Rhone Valley. Pada usia 16 tahun (tahun 1918) ia jatuh sakit yang membuatnya coma selama 20 bulan. Setelah ia sadar, penyakitnya tidaklah membaik, malahan memburuk, yang membuatnya tidak dapat menggerakkan kakinya. Pada tanggal 2 Januari 1929 sampai wafatnya 6 Feb 1981, ia lumpuh, tidak dapat menggerakkan kaki, lengan, bahu dan tenggorokannya, sehingga ia tidak dapat menelan, tidak dapat makan dan minum. Kondisinya ini kemudian diperiksa oleh dokter, seorang profesor dari fakultas kedokteran di Lyons, Dr Jan Dechaume, da Dr. Andre Ricard. Adalah suatu misteri tersendiri bahwa Martha Robin ini dapat hidup tanpa makanan selama 50 tahun, kecuali dari Ekaristi.

Suatu hari seorang filsuf atheis dan dokter bernama Paul Louis Chouchoud mengunjunginya, untuk memeriksanya. Gereja Katolik tidak menghalanginya, dan Dr. Chouchoud mendapat ijin dari uskup setempat untuk menyelidiki keadaan Martha Robin. Dr. Chouchoud mengkonfirmasi bahwa Martha mengalami lumpuh/ paralysis total sehingga ia bahkan tidak dapat menelan air walaupun hanya setetes saja. Yang ajaib adalah, apa yang dituliskan oleh Chouchoud, pada saat Martha menerima Komuni kudus. Dia tidak dapat menelan ‘Hosti’ tersebut, sebab otot tenggorakannya tidak dapat bergerak. Namun Hosti itu lewat secara misterius melalui bibirnya yang tertutup dan menuju saluran kerongkongannya. Martha tidak dapat makan makanan atau minuman duniawi apapun, karena ketidakmampuannya menelan dan membuka mulutnya, namun ia tidak dapat hidup tanpa Ekaristi.

Maka bagi Martha, menerima Ekaristi adalah sesuatu yang terpenting. Ia menerima Komuni sekali seminggu pada hari Selasa (dan pada hari Rabu pada menjelang wafatnya) yang didahului dengan Sakraman Pengakuan Dosa. Setelah itu ia mengucapkan doa penyerahan dirinya kepada Tuhan Yesus yang dikarangnya sendiri pada tahun 1925. Setelah menerima Komuni, ia ‘mengucapkan’ syukur dan sukacita dalam keheningan dan tenggelam dalam keadaan ‘ekstasi’, dan wajahnya bersinar dengan keindahan yang tak terukur.

Mereka dalam komunitas sains, mengungkapkan keheranan mereka bahwa sejak masa kelumpuhan totalnya tahun 1929 sampai wafatnya tahun 1981 selama lebih dari 50 tahun, Martha tidak makan dan minum (dan tidak tidur juga), namun organ dalam tubuhnya masih dapat berfungsi. Ekaristi merupakan satu- satunya makanan yang menguatkan bagi Martha. Dengan mukjizat ini Yesus ingin menunjukkan kekuatan Ekaristi yang luar biasa, jika diterima dengan iman yang dalam dan teguh. Keadaan yang dialami oleh Martha ini menggenapi apa yang dikatakan oleh Yesus dalam Injil Yohanes, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” (Yoh 6:53-54)

Martha Robin juga menerima karunia stigmata, yaitu kelima luka- luka Yesus, pada tahun 1930. Sejak tahun 1931, secara teratur ia menerima karunia untuk turut merasakan penderitaan Kristus setiap hari Jumat, dan mengalami suka cita kebangkitan Kristus pada hari Minggu pagi. Demikianlah ia mempersembahkan hidupnya untuk mendoakan ribuan orang yang mengunjunginya. Kata-kata sederhana yang keluar dari bibirnya yang nyaris tidak dapat bergerak itu dapat mengubah hidup orang yang mengunjunginya. Martha membawa banyak orang kepada Kristus, melalui doa- doanya dan teladan hidupnya bahwa tidak ada suatu penyakit, kesesakan, atau kuasa apapun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus (lih. Rom 8:35-39).

Demikianlah kisah Martha Robin, yang merupakan salah satu dari kisah mukjizat Ekaristi. Gereja Katolik tidak pernah melarang diperiksanya keadaan atau bukti- bukti yang menunjukkan tentang keajaiban Ekaristi. Sebab jika itu rekayasa, akan terlihat dengan sendirinya, namun jika itu fakta, maka juga akan bersinar dengan nyata. Prinsipnya Gereja Katolik tidak menghalang- halangi pemeriksaan apapun, karena percaya bahwa “Truth will speak for itself“. Memang bagi orang yang sudah percaya, mukjizat- mukjizat tidaklah penting; namun bagi orang yang memutuskan untuk tidak percaya, bahkan mukjizat yang terbesar sekalipun tidak akan pernah cukup. Jadi akhirnya terpulang pada kita masing- masing bagaimana kita menyikapinya, sebab Tuhan juga tidak pernah memaksa.

Semoga kita yang sudah percaya akan kehadiran Yesus dalam Ekaristi, dibimbing oleh Roh Kudus sehingga kita dapat semakin menghayatinya. Semoga setiap kali kita menyambut Ekaristi, kita dapat juga menyebutkan doa ini, yang diucapkan oleh Martha Robin,

Tuhan ada di dalamku, betapa dalamnya misteri ini!… O Yesus, semoga suatu saat nanti kasih-Mu menyalakan aku, bukan karena hasil usahaku, tetapi karena rahmat-Mu. Tuhan, jika Engkau memberikan damai sejahtera dan kebahagiaan semacam ini di dunia, bagaimanakah indahnya nanti kebahagiaan di surga?

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Tentang tugas kenabian

9

Pertanyaan:

Salam damai sejahtera

Pengasuh Katolisitas
Mohon tanya :

Pada waktu Tuhan Yesus hidup dibumi (sampai naik ke Sorga) tidak pernah disebutkan adanya NABI kecuali Yohanes Pembaptis.

Tetapi di dalam Kisah Para Rasul 11 : 27 (Pada waktu itu datanglah BEBERAPA NABI dari Yerusalem ke Antiokhia.), disebutkan ada beberapa NABI.

Pertanyaannya :
1. SIAPAKAH yang menyebut mereka NABI ?
2. Apakah zaman sekarang ini masih ada lagi NABI ?

Terima kasih
Salam
Mac

Jawaban:

Shalom Mac,

Berikut ini adalah keterangan yang saya ambil dari sumber utama: The Navarre Bible, Gospel and Acts:

1. Kisah para rasul memang menyebutkan adanya nabi- nabi di dalam jemaat Kristen pertama, seperti yang disebutkan dalam Kis 11:27, dan Kis 13:1.

Para nabi di jaman jemaat perdana menerima penerangan dari Allah, melalui apa yang dikenal sebagai karisma- yaitu untuk berbicara di dalam nama-Nya atas dorongan Roh Kudus. Tugas mereka bukan saja menubuatkan kejadian di waktu yang akan datang )lih. Kis 11:28, 21:11) tetapi juga untuk menunjukkan jalan bagaimana janji- janji ilahi dan rencana Allah yang tertulis dalam Kitab Suci digenapi.

Kisah para rasul menyebut ‘nabi’ beberapa kali. Yudas dan Silas disebut sebagai nabi (Kis 15:32), demikian juga Agabus (Kis 21:10) dan juga para anak perempuan Filipus, yang mempunyai karunia bernubuat (Kis 21:9). Rasul Paulus-pun mempunyai karunia untuk bernubuat (lih. 1 Kor 12-14). Pada jaman para rasul, karunia bernubuat ini tunduk dan berada di bawah pelayanan para rasul dan dilaksanakan di bawah pengawasan para rasul untuk melayani tugas membangun komunitas Kristiani. “Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar.” (1 Kor 12:28).

Maka yang menyebut mereka sebagai nabi adalah para jemaat pertama, seperti yang dituliskan oleh Lukas dalam Kisah para rasul tersebut.

2. Dewasa ini, hirarki Gereja dengan Bapa Paus sebagai kepalanya, juga mempunyai misi kenabian untuk menyatakan ajaran Gereja baik di dalam Gereja mupun di luar Gereja. Demikian pula semua umat beriman, melalui Pembaptisan menerima tugas untuk meneruskan misi Kristus yang mencakup: tugas imamat bersama, tugas kenabian dan tugas kepemimpinan sebagai raja melalui pelayanan. Mengenai tugas kenabian dan karisma- karisma Roh Kudus, Konsili Vatikan II (tentang Gereja, Lumen Gentium 12) mengajarkan:

Umat Allah yang kudus mengambil bagian juga dalam tugas kenabian Kristus, dengan menyebarluaskan kesaksian hidup tentang-Nya terutama melalui hidup iman dan cinta kasih, pun pula dengan mempersembahkan kepada Allah korban pujian, kesaksian ucapan bibir yang mengakui nama-Nya (lih. Ibr 13:15). Keseluruhan kaum beriman, yang telah diurapi oleh Yang Kudus (lih 1 Yoh 2:20 dan 27), tidak dapat sesat dalam beriman; dan mereka menyatakan sifat yang istimewa ini melalui ketajaman iman adikodrati segenap umat, ketika dari Uskup hingga para awam beriman yang terkecil”[22], secara keseluruhan menyatakan kesepakatan mereka tentang perkara-perkara iman dan moral. Ketajaman (discernment) dalam hal iman tersebut dibangkitkan dan dipelihara oleh Roh Kebenaran. Discernment ini dilakukan dalam bimbingan wewenang mengajar yang suci, dalam ketaatan yang setia dan penuh hormat, di mana Umat Allah menerimanya tidak sebagai perkataan manusia, melainkan sungguh sebagai sabda Allah (lih. 1Tes 2:13). Melalui hal ini, Umat Allah tanpa menyimpang berpegang teguh pada iman, yang sekali dan selama- lamanya telah diserahkan kepada para kudus (Yud 3);menyelaminya dengan semakin mendalam dengan pemikiran yang benar, dan menerapkannya dengan semakin penuh dalam kehidupan mereka.

Selain itu, tidak hanya melalui sakramen- sakramen dan pelayanan Gereja saja, bahwa Roh Kudus menyucikan dan membimbing Umat Allah dan menghiasinya dengan kebajikan- kebajikan, melainkan, Ia juga “membagi-bagikan” kurnia-kurnia-Nya “kepada masing-masing menurut kehendak-Nya” (1Kor 12:11). Di kalangan umat dari segala lapisan Ia membagi-bagikan rahmat istimewa pula, yang menjadikan mereka cakap dan bersedia untuk menerima pelbagai karya atau tugas, yang berguna untuk membaharui Gereja serta meneruskan pembangunannya, menurut ayat berikut : “Kepada setiap orang dianugerahkan pernyataan Roh demi kepentingan bersama” (1Kor 12:7). Karisma-karisma itu, entah yang amat istimewa, entah yang lebih sederhana dan tersebar lebih luas, hendaknya diterima dengan rasa syukur dan gembira, sebab karunia- karunia tersebut sangat sesuai dan berguna untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan Gereja. Namun kurnia-kurnia yang luar biasa janganlah dikejar-kejar begitu saja; jangan pula terlalu banyak hasil yang pasti diharapkan daripadanya untuk karya kerasulan. Adapun keputusan tentang tulennya karisma-karisma itu, begitu pula tentang pengalamannya secara teratur, termasuk dalam wewenang mereka yang bertugas memimpin dalam Gereja. Terutama mereka itulah yang berfungsi, bukan untuk memadamkan Roh, melainkan untuk menguji segalanya dan mempertahankan apa yang baik (lih. 1Tes 5:12 dan 19-21).

Jadi Gereja Katolik mengajarkan, bahwa setiap umat beriman yang tergabung dalam Gereja mengambil bagian dalam tugas kenabian Kristus; yaitu untuk memberikan kesaksian hidup berdasarkan iman dan cinta kasih; dan dengan mempersembahkan kurban pujian kepada Tuhan. Tugas memberikan kesaksian hidup berdasarkan iman ini tercermin dalam kesatuan dengan para pemimpin Gereja untuk melaksanakan ajaran- ajaran tentang iman dan moral yang diajarkan oleh wewenang mengajar (Magisterium) Gereja. Dengan melaksanakan ajaran Gereja yang disampaikan oleh Magisterium ini, para beriman memberikan kesaksian iman Kristiani kepada dunia sekitarnya, dan dengan demikian turut mengambil bagian dalam tugas kenabian. Sebab tugas nabi adalah untuk menyampaikan pengajaran yang berasal dari Allah atas dorongan Roh Kudus, kepada masyarakat luas. Sebagai satu kesatuan Umat Allah, Gereja memberi kesaksian akan ajaran Kristus yang dipercayakan kepada para Rasul, seperti yang diteruskan di sepanjang sejarah umat beriman oleh Magisterium Gereja Katolik.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Apakah malaikat diciptakan melihat Tuhan?

13

Pertanyaan serupa pernah dijawab oleh St. Thomas Aquinas, tentang apakah malaikat diciptakan dalam beatitude, yaitu keadaan melihat Tuhan dengan sempurna (beatific vision). St. Thomas menjawab: tidak. Kita sering membayangkan kondisi ‘melihat’ ini, karena menghubungkannya dengan kondisi kita manusia yang perlu untuk melihat dengan mata, sebelum kita dapat mengetahui sesuatu. Namun para malaikat itu adalah ciptaan Tuhan yang berada di atas kita, karena mereka adalah mahluk yang murni rohani, tidak terbatas oleh tubuh dan organ penglihatan untuk mengetahui sesuatu. Para malaikat itu diciptakan dengan pengetahuan tentang Allah, sehingga cukup bagi mereka untuk memutuskan akankah memilih untuk taat kepada Tuhan atau tidak.

Demikian saya terjemahkan dari tulisan St. Thomas Aquinas, Summa Theology, Part II, q.62, a.1: (seperti biasa, St. Thomas menuliskan dahulu keberatan- keberatan tentang topik yang dibicarakan, dan baru kemudian menjelaskan jawabannya)

Artikel 1. Apakah para malaikat diciptakan dalam kondisi melihat Allah dengan sempurna (beatitude)?

Keberatan 1. Kelihatannya para malaikat diciptakan dalam kondisi melihat Allah (beatitude). Sebab dikatakan ((De Eccl. Dogm. xxix) bahwa “para malaikat yang terus berada dalam kondisi beatitude di mana di dalamnya mereka diciptakan, tidak dari kodratnya mempunyai kesempurnaan yang mereka miliki. Karena itu para malaikat diciptakan di dalam beatitude.

Keberatan 2. Selanjutnya kodrat malaikat lebih sempurna daripada ciptaan yang bertubuh (corporeal). Tetapi ciptaan yang bertubuh, sesaat setelah penciptaannya dibuat dengan sempurna dan lengkap… seperti dikatakan oleh St. Agustinus (Gen. ad lit, i, 15). Oleh karena itu, Tuhan tidak menciptakan kodrat malaikat dengan tidak sempurna dan tidak lengkap. Sebab pembentukan dan kesempurnaan diperoleh dari kondisi melihat Tuhan… Karena itu, malaikat diciptakan dalam kondisi beatitude.

Keberatan 3. Selanjutnya menurut St. Agustinus (Gen ad lit. IV, 34; v,5), semua ciptaan diciptakan dalam enam hari, diciptakan bersama- sama pada saat yang sama; sehingga seluruh enam hari pasti terjadi segera sejak saat permulaan penciptaan dunia. Tetapi menurut penjelasannya, di dalam enam hari tersebut, “pagi hari” adalah pengetahuan para malaikat, yang olehnya mereka mengetahui Sang Sabda dan segala sesuatu di dalam Sang Sabda. Oleh karena itu, segera setelah penciptaan mereka, mereka mengetahui Sang Sabda, dan segala sesuatu di dalamNya. Tetapi kebahagiaan para malaikat tercapai melalui melihat Sang Sabda. Karenanya, para malaikat berada dalam kondisi beatitude (melihat Allah) sejak dari awal mula penciptaan mereka.

Sebaliknya, untuk didirikan atau diteguhkan di dalam kebaikan adalah sesuatu yang dihasilkan oleh kodrat beatitude. Tetapi para malaikat tidak diteguhkan di dalam kebaikan sesaat setelah mereka diciptakan; kejatuhan beberapa dari mereka [ke dalam dosa menolak Allah] menunjukkan tentang ini. Oleh karena itu, para malaikat tidak diciptakan dalam kondisi melihat Allah dengan sempurna (beatitude) pada saat mereka diciptakan.

Saya menjawab bahwa, Dengan istilah beatitude maksudnya adalah puncak kesempurnaan dari rasio atau dari kodrat intelektual; dan karenannya, hal itu adalah sesuatu yang diinginkan secara kodrati, sebab setiap ciptaan secara kodrati menginginkan puncak kesempurnaan. Sekarang, terdapat dua sisi dalam sebuah puncak kesempurnaan rasio atau kodrat intelektual. Yang pertama adalah yang dapat diperoleh melalui kekuatan kodrati dari diri sendiri; dan ini disebut sebagai beatitude atau kebahagiaan. Oleh karena itu Aristotle (Ethic. x) mengatakan bahwa puncak kebahagiaan manusia terletak pada kontemplasi yang paling sempurna, di mana di dalam hidup ini seseorang dapat memandang obyek yang dimengerti dengan sempurna; dan obyek itu adalah Allah. Di atas kebahagiaan ini masih ada sesuatu yang lain, yang kita nantikan di masa yang akan datang, di mana “kita melihat Tuhan sebagaimana adanya Dia”. Ini adalah sesuatu yang di atas kodrat setiap mahluk rasional (lih, q.12,a.4).

Oleh karena itu, dapatlah dikatakan bahwa mengenai kebahagiaan yang pertama ini, di mana malaikat dapat memperolehnya dengan kekuatan kodratinya, ia diciptakan dalam keadaan terberkati. Sebab malaikat tidak memperoleh kebahagiaan melalui rangkaian tindakan, seperti yang dilakukan manusia, tetapi seperti yang telah dibahas di atas, (58,3,4) kebahagiaan tersebut telah dimiliki sesaat setelah diciptakan, sesuai dengan kodrat martabatnya. Tetapi sejak dari penciptaannya, para malaikat tidak mempunyai puncak kebahagiaan yang hanya dapat dicapai di luar kekuatan kodratinya; sebab kebahagiaan sedemikian (beatitude/ beatific vision) tidak menjadi bagian dari kodrat mereka tetapi sebagai tujuan akhirnya; dan akibatnya, mereka tidak memilikinya segera dari saat awal mula mereka diciptakan.

Jawaban terhadap keberatan 1. Beatitude/ kebahagiaan di sini diartikan adalah sebagai kesempurnaan kodrat yang dimiliki oleh malaikat di dalam tingkat kemurnian (state of innocence).

Jawaban terhadap keberatan 2. Mahluk yang bertubuh (corporeal) segera pada awal penciptaan tidak dapat mempunyai kesempurnaan yang [baru dapat] dicapainya melalui proses operasi/ perbuatan; akibatnya, menurut St. Agustinus (Gen. ad. lit. v, 4,23; viii, 3), kemampuan tanah untuk menumbuhkan tanaman tidak segera ada di antara karya penciptaan yang pertama, di mana kekuatan bumi [pertama- tama] hanyalah kekuatan untuk menumbuhkan biji. Dengan cara yang sama malaikat pada saat awal mula penciptaannya mempunyai kesempurnaan kodratnya, tetapi tidak mempunyai kesempurnaan yang [baru dapat] dicapainya setelah proses operasi/ tindakan.

Jawaban terhadap keberatan 3. Malaikat mempunyai dua sisi pengetahuan akan Sang Sabda; pertama adalah secara kodrati dan kedua adalah menurut kemuliaan. Malaikat mempunyai sebuah pengetahuan kodrati yang olehnya ia mengetahui Sang Sabda melalui persamaan/ kemiripan cahaya dengan kodratnya; dan ia mempunyai pengetahuan menurut kemuliaan di mana ia mengetahui Sang Sabda melalui hakekat Tuhan sendiri. Dengan kedua pengetahuan ini malaikat mengetahui segala sesuatu di dalam Sang Sabda; yaitu, tidak dengan sempurna oleh pengetahuan kodratinya, dan dengan sempurna oleh pengetahuan menurut kemuliaan. Oleh karena itu, jenis pengetahuan yang pertama telah ada pada saat penciptaannya; namun jenis yang kedua tidak; [jenis yang kedua ini tercapai] hanya ketika para malaikat menjadi terberkati oleh karena memilih yang Baik. Dan inilah yang disebut sebagai pengetahuan pagi (morning knowledge) bagi mereka.

Jadi kesimpulannya, para malaikat itu diciptakan dengan kondisi rahmat, yang membuat mereka dapat mempunyai pengetahuan akan Allah. Pengetahuan ini tidak diperoleh dari langkah- langkah penelitian/ pembelajaran seperti halnya pada manusia, karena pada malaikat, mereka menerima pengetahuan tersebut berbarengan dengan penciptaan mereka. Kemudian sesaat setelah mereka diciptakan, mereka mengalami semacam pengadilan malaikat (seperti halnya manusia diadili setelah wafatnya) untuk memilih antara menaati Allah atau menolak-Nya. Bagi malaikat, pengadilan ini bukan berkaitan dengan hal percaya atau tidak percaya kepada Allah (karena mereka telah memiliki pengetahuan akan Allah), namun apakah mereka mau taat kepada Allah atau tidak. Sebagian dari para malaikat ini, dipimpin oleh Lucifer, memilih untuk menolak Allah, sehingga memisahkan diri dari Allah; sedangkan sisanya dipimpin oleh Mikael, memilih untuk menaati Allah. Para malaikat yang taat ini kemudian diberi karunia oleh Tuhan untuk melihat Allah dalam keadaan-Nya yang sebenarnya (beatitude/ beatific vision). Karunia inipun akan diberikan kepada manusia yang ditentukan Allah untuk bersatu dengan-Nya di surga.

Tentang ‘Popess’ Joan

6

Paus Joan ini sebenarnya adalah legenda, yang tidak dapat dikonfirmasikan kebenarannya dengan fakta sejarah. Berikut ini adalah kisah legenda Paus Joan, yang diringkas dari sumber di link ini, silakan klik.

Dongeng tentang Paus perempuan, yang bernama Joan, pertama kali ditemukan pada pertengahan abad ke -13.

1. Variasi dongeng Paus Joan

a. Versi Jean de Mailly.

Pertama kali yang menuliskan dongeng ini adalah seorang Dominikan bernama Jean de Mailly yang kemudian diambil sebagai patokan oleh seorang Dominikan lainnya yaitu Etienne de Bourbon (1261) yang menuliskan dongeng ini dalam bukunya, “Ketujuh karunia Roh Kudus.” Dikatakan di sini bahwa Paus perempuan itu hidup sekitar tahun 1100, namun dalam versi ini tidak disebutkan namanya. Ia adalah seorang yang sangat berbakat, berpakaian seperti pria, menjadi anggota Kuria, lalu menjadi Kardinal dan kemudian Paus. Suatu hari ia naik kuda, dan kemudian melahirkan seorang anak laki-laki; ia lalu terikat pada ekor kudanya, terseret di sepanjang kota, dihukum mati oleh masyarakat, dikuburkan di tempat ia wafat.

b. Versi Martin (Martinus Polonus) dari Troppau

Menurut Martin, Setelah Paus Leo IV (847-855) seseorang bernama John Mainz (Johannes Anglicus) naik kursi kepausan selama dua tahun, tujuh bulan dan empat hari. Ia ini dilaporkan sebagai seorang wanita. Sewaktu masih kecil ia dibawa ke Athena, dan dipakaikan pakaian pria dan menjadi seorang yang sangat pandai. Ia datang ke Roma, menjadi guru sains dan menarik perhatian banyak para terpelajar. Akhirnya ia menjadi Paus, tetapi kemudian mengandung dari salah seorang kepercayaannya, melahirkan di tengah prosesi dari gereja St. Petrus ke Lateran, di antara Colosseum dan gereja St. Klemens. Ia wafat seketika, dan dikuburkan di tempat yang sama. Konon para Paus selanjutnya selalu menghindari jalur ini; karena tidak ingin mengingat kejadian yang memalukan ini. Di sini disebutkan nama “Paus” tersebut sebagai Johanna (Popess Joan).

c. Versi belakangan

Ada lagi versi yang menyebutkan bahwa nama “Paus” tersebut ketika anak- anak adalah Agnes, atau Gilberta. Atau dalam banyak variasi lainnya seperti yang ditulis dalam Universal Chronicle of Metz (1250), dan “Mirabilia Urbis Romae.”

2. Evaluasi/ Tanggapan

a. Kisah ini diterima tanpa dikritisi

Pada abad ke 14-15 kisah Paus wanita ini dipercaya sebagai sesuatu yang sungguh terjadi. Maka kisah Paus Joan ini dipakai oleh heretik Jan Hus, pada saat ia mempertahankan doktrinnya yang sesat di hadapan Konsili di Konstans, tanpa ada yang menyanggahnya. Padahal kenyataannya Paus Joan ini tidak pernah ada dalam “Liber Pontificalis” (daftar semua Paus) dan dalam foto para Paus yang terpampang di gereja St. Paulus di Roma (St. Paul outside the Walls)

b. Kisah ini diselidiki

Setelah diperiksa, sebenarnya kisah ini benar- benar fiktif. Di abad ke 15, setelah adanya gerakan historical criticism (gerakan penelitian sejarah), para sejarahwan seperti Aenas Sulvius ((Epist., I, 30) dan Platina (Vitae Pontificum, No. 106) melihat bahwa kisah tersebut tidak dapat dipertahankan, karena tidak berdasar. Maka sejarahwan di abad ke- 16, seperti Onofrio Pancinio (Vitae Pontificum, Venice, 1557), Aventinus (Annales Boiorum, lib. IV), Baronius (Annales ad a. 879, n. 5) menolak keberadaan Paus perempuan ini.

c. Beberapa pemeriksaan dari kaum Protestan

Sejumlah ahli sejarah Protestan, seperti Blondel (Joanna Papissa, 1657) dan Leibniz (“Flores sparsae in tumulum papissae” in “Bibliotheca Historica”, Göttingen, 1758, 267 sq.) juga menerima bahwa Paus perempuan ini sebenarnya tidak pernah ada. Namun masih ada banyak umat Protestan yang menggunakan dongeng ini untuk menyerang kepausan. Pada abad ke- 19, hampir semua ahli sejarah yang serius mempelajari fakta- fakta dapat menerima, bahwa kisah Paus perempuan ini hanya dongeng. Namun demikian ada juga orang- orang yang tetap berusaha untuk membuktikan keberadaan Paus wanita ini.

3. Bukti- bukti bahwa kisah Paus Joan adalah hanya dongeng:

a. Tidak adanya cukup bukti yang mendukung

Tidak ada satupun narasumber/ sumber sejarah pada saat itu yang menyebutkan tentang Paus Joan ini. Tidak pernah kisah ini disebutkan sampai pertengahan abad ke- 13. Adalah sesuatu yang sangat aneh, jika benar hal ini adalah kisah nyata, bahwa tidak ada satupun ahli sejarah pada abad 10- 13 yang mencatatnya [mengingat ‘besarnya’ peristiwa itu].

b. Melihat sejarah Paus, maka tidak ada tempat bagi kisah legenda/ dongeng ini bisa dimasukkan.

Antara Paus Leo IV dan Benediktus III, seperti versi Martin Polonus, Joan tidak mungkin dimasukkan. Sebab Paus Leo IV wafat pada tanggal 17 Juli 855, dan segera setelah ia wafat, Benediktus III dipilih menggantikannya oleh para klerus dan warga Roma. Koin uang yang memuat gambar Paus Benediktus III dan Kaisar Lothair yang wafat di tahun 28 September 855 menunjukkan bahwa Paus Benediktus III naik kursi kepausan sebelum tanggal 28 September 855 tersebut. Juga kesaksian dari Hincmar yang adalah Uskup Agung Reims, yang memberitahukan kepada Nicholas I bahwa pembawa pesannya kepada Paus Leo IV mengetahui di tengah jalan, bahwa Paus Leo IV wafat, dan karenanya pesan petisi tersebut diberikan kepada penggantinya Benediktus III, yang kemudian memutuskannya (Hincmar, ep. xl in P.L., CXXXVI, 85). Kalaupun Popess Joan itu ditempatkan sebagai Kardinal Anastasius yang menjadi antipope pada saat itu, tetaplah tidak pas, kerena Kardinal tersebut hanya bertahan sebulan (Agustus 855 sampai September 855). Selanjutnya, pada tanggal 7 Oktober 855, Paus Benediktus III mengeluarkan piagam untuk Biara Corvey, [saat itu sudah tidak ada lagi antipope]. Bukti- bukti ini menunjukkan bahwa tidak ada jeda selama dua setengah tahun antara kematian Paus Leo IV dan kenaikan Paus Benedictus III, yang “diisi” oleh Paus perempuan ‘Joan’, seperti yang dikisahkan dalam versi Martin Polonus.

Selanjutnya, akan menjadi sangat lebih tidak mungkin lagi untuk memasukkan Paus Joan dalam daftar Paus sekitar tahun 1100 antara Paus Victor III (1087) dan Paus Urban (1088-1099) atau Paus Paschal II (1099-1110), menurut catatan Jean de Mailly, karena data yang ada pada masa itu bahkan lebih akurat lagi dan menjadi catatan sejarah secara umum, bukan hanya catatan Gereja Katolik saja.

4. Asal usul dongeng ini

Ada beberapa dugaan, mengapa sampai timbul adanya dongeng ini.

a. Berkaitan dengan isi surat Paus Leo IX.

Ada yang berpendapat, kemungkinan bersangkutan dengan isi surat Paus Leo IX, yang dalam suratnya kepada Michael Caerularius (1053) bahwa ia tidak percaya akan yang didengarnya bahwa di Gereja Konstantinopel terdapat sida- sida, bahkan seorang perempuan yang menduduki kursi kepemimpinan episkopal (Mansi “Consil.”, XIX, 635 sq.). Maka, Belarminus (De Romano Pontifice, III, 24) percaya bahwa dongeng ini dibawa dari Konstantinopel ke Roma.

b. Berkaitan dengan kelemahan Paus John VIII

Ahli sejarah Baronius (Annales ad a., 879, n. 5) menduga bahwa legenda ini dihubungkan dengan kelemahan sikap dari Paus Yohanes VIII (John VIII, 872-882) dalam menangani orang- orang Yunani. Namun sebenarnya, tidak ada hubungan antara Pope John VIII dengan “Joan” ini. Silakan anda membaca sendiri riwayat Pope John VIII di link ini, silakan klik. Paus John VIII adalah seorang berkebangsaan Roma, jadi sama sekali tidak cocok dengan penjabaran ‘Joan of Ingeheim’ yang adalah orang Inggris- Saxon (Jerman).

c. Berkaitan dengan kelemahan sikap para Paus dengan nama John

Banyak para sejarahwan lainnya yang melihat adanya kemunduran kepausan sekitar abad ke- 10, di mana cukup banyak Paus bernama John (Yohanes). Maka Aventinus melihat bahwa kisah “Popess Joan” merupakan kisah sindiran (satire) terhadap pribadi John IX. Menurut Blondel, sindiran terhadap John XI, menurut Panvinio, sindiran terhadap John XII, sedangkan menurut Leander (Kirkengesch., II, 200), mengatakan secara umum kisah tersebut menggambarkan adanya pengaruh perempuan yang ‘mematikan/ berbahaya’ dalam era kepausan di abad ke 10.

d. Beberapa asumsi lainnya

Seorang sejarahwan lainnya, Leo Allatius, (Diss. Fab. de Joanna Papissa) menghubungkan kisah ini dengan nabi palsu Theota, yang dikecam pada Sinoda Mainz (847). Leibniz menghubungkan kisah ini dengan seorang Uskup yang bernama Johannes Anglicus yang datang ke Roma, dan konon kemudian diketahui sebagai seorang wanita. Atau Karl Blascus (“Diatribe de Joanna Papissa“, Naples, 1779) dan Gfrorer (Kirchengesch., iii, 978) menghubungkan kisah ini dengan Decretal pseudo- Isidorian.

Penjelasan Dollinger (“Papstfabeln”, Munich, 1863, 7-45) juga cukup mendapat persetujuan. Ia mengatakan bahwa dongeng Paus Joan ini merupakan salah satu dari cerita rakyat Roma yang berkaitan dengan monumen kuno dan kebiasaan tertentu. Sebuah patung kuno ditemukan pada jaman Paus Sixtus V, di jalan dekat Colosseum, yang menggambarkan ‘seseorang’ dengan seorang bayi. ‘Seseorang’ itu kemudian dihubungkan dengan kisah legenda sebagai Paus perempuan (Popess). Monumen itu konon ditemukan dengan tulisan dibawahnya P.P.P (proprie pecunia posuit) dengan nama Pap. (Papirius) pater patrum (seorang bapa Romawi yang mempunyai anak). Dikatakan juga, bahwa Paus tidak melewati jalan tersebut dalam prosesi, kemungkinan karena sempitnya jalan tersebut [dan bukan karena legenda itu].

5. Kesimpulan

Sebenarnya, cukuplah jelas bahwa kisah Popess Joan (Paus perempuan bernama Joan) adalah kisah dongeng, yang baru timbul di abad Pertengahan, berkaitan dengan ditemukannya monumen kuno di Roma. Kemudian ada orang- orang tertentu yang berimajinasi dan mengembangkan kisah tersebut, dengan dikaitkan dengan data- data sejarah yang sebenarnya tidak berhubungan, untuk membuatnya seolah- olah menjadi kisah nyata. Kita sebagai umat Katolik tidak perlu terpengaruh oleh kisah- kisah seperti ini, karena sifatnya fiktif. Ini menyerupai cerita Da Vinci Code, yang juga mengambil data- data sejarah yang tidak ada hubungannya. Sejarah dan fakta tidak bisa diubah, dan kita melihat sendiri bahwa Popess Joan (entah menurut versi Jean de Mailly ataupun Martinus Polonus) tidak pernah ada dalam urutan Paus yang ada.

Jika kisah Popess Joan itu sungguh benar, hal ini tidak mungkin tidak dicatat dalam sejarah secara resmi oleh para sejarahwan pada jamannya, seperti halnya sejarahwan Eusebius atau Josephus yang merekam peristiwa- peristiwa sejarah pada abad- abad awal. Kenyataan bahwa catatan sejarah pada masanya itu sendiri tidak ada, dan baru kemudian timbul berabad- abad sesudahnya, seharusnya memelekkan mata kita, bahwa kisah itu merupakan kisah dongeng belaka. Sebab kisah sejarah yang otentik seharusnya disampaikan oleh orang yang menyaksikannya pada jamannya, [seperti halnya fakta tentang kebangkitan Kristus di abad pertama]. Selanjutnya, fakta- fakta sejarah lainnya, juga menunjukkan bahwa kisah Popess Joan ini tidak mungkin terjadi, sebab tidak ada kerangka sejarah yang cocok/ sesuai dengan deskripsi kisah ini. Fakta bahwa terjadi bermacam- macam versi, juga menunjukkan bahwa kisah ini semata- mata adalah spekulasi, entah maksudnya sebagai cerita rakyat ataupun sindiran terhadap Paus- paus tertentu.

Kisah tentang Popess Joan ini sesungguhnya harus membuat kita menjadi lebih kritis dalam menyikapi suatu cerita, karena tidak semua cerita dibuat berdasarkan fakta yang sesungguhnya. Mari kita terus belajar untuk menemukan kebenaran, dan tidak lekas percaya terhadap kisah- kisah dongeng semata.

6. Menjawab keberatan tentang Paus Joan:

Ada sebagian orang yang mengacu kepada tulisan di ‘Mirabilia Urbis Romae’, dan kesaksian Jan Hus tentang Paus Joan, untuk mengatakan bahwa Paus Joan itu kemungkinan sungguh ada. Namun sesungguhnya kedua hal itu bukan alasan yang kuat yang menunjukkan obyektivitas kebenaran kisah Paus Joan.

a. Tentang Mirabilia Urbis Romae

Mirabilia Urbis Romae (MUR), bukanlah dokumen Gereja Katolik. MUR adalah sebuah karya tulis dalam bahasa Latin di Abad Pertengahan tentang kota Roma, namun siapa penulisnya tidak dikenal. Sebagaimana ditulis di Catholic Encyclopedia, klik di sini,  dalam MUR itu terdapat banyak miskonsepsi dan kesalahan, dan kemudian direvisi di banyak tulisan yang lain, seperti oleh de Rossi dalam “Roma Sotterranea“, oleh Pathey dalam “Mirabilia Romæ e codicibus Vaticanis emendata“, Jordan, dalam “Topographie der Stadt Rom im Altertum”, dst.

Disayangkan memang kita tidak dapat membaca langsung, keseluruhan teks yang ada dalam Mirabilia Urbis Romae (MUR). Di internet memang ada situs yang menampilkan keseluruhan teks MUR, silakan klik, namun di sana terdapat banyak kesalahan ketik, (kemungkinan hasil scan?) sehingga agak sulit untuk memahami makna keseluruhannya secara persis. Namun jika teks itu kurang lebih benar/ lengkap sekalipun, tidak dikatakan di sana ada pernyataan dari Paus Aleksander VI tentang Paus Joan.

b. Tentang Jan Hus

Sejarah mencatat bahwa Jan Huss diadili, dan akhirnya dihukum mati dengan dibakar tanggal 6 Juli 1415. Hukuman mati saat itu tidak dilakukan oleh Gereja, tetapi oleh pemerintah sipil. Demikian tentang hukuman mati, menurut hukum kanonik, sebagaimana ditulis dalam New Advent Catholic Encyclopedia:

Canon law has always forbidden clerics to shed human blood and therefore capital punishment has always been the work of the officials of the State and not of the Church. Even in the case of heresy, of which so much is made by non-Catholic controversialists, the functions of ecclesiastics were restricted invariably to ascertaining the fact of heresy. The punishment, whether capital or other, was both prescribed and inflicted by civil government. The infliction of capital punishment is not contrary to the teaching of the Catholic Church, and the power of the State to visit upon culprits the penalty of death derives much authority from revelation and from the writings of theologians. The advisability of exercising that power is, of course, an affair to be determined upon other and various considerations…

Untuk kasus Jan (John) Hus, alasan berat yang menghantarnya sampai kepada hukuman tersebut adalah karena ia mengajarkan ajaran sesat, sebagaimana yang diajarkan oleh Wycliff. Kita yang hidup di masa kini mungkin sulit memahami keadaan di awal abad 15 tersebut, di mana seorang bidat dapat sampai dihukum mati. Namun  di zaman itu, memang demikianlah hukuman yang berlaku untuk seseorang yang dianggap sebagai penyesat dan pembuat kekacauan di masyarakat; apalagi jika beberapa kali peringatan telah diberikan oleh pihak otoritas, dan yang bersangkutan tetap berkeras menentangnya.

Dalam Konsili Constance (1415), diumumkan pengecaman terhadap ajaran sesat yang diajarkan oleh Wycliff dan John Hus. John Hus mulai mengajarkan ajaran Wycliff secara terbuka sejak tahun 1408 di Praha, dan telah menerima peringatan dari pihak Vatikan. Tahun 1412 ia dikeluarkan dari Praha, namun ia terus menyebarluaskan tulisannya yang menyesatkan tentang Gereja, tentang kepemimpinan Paus, tentang Kitab Suci, tentang Ekaristi, dst. Hus mendapat dukungan dari Kaisar Sigismund dan raja Bohemia, yang mendorongnya untuk hadir menjelaskan pandangannya di hadapan Konsili Uskup di Constance. Maka Hus berangkat ke Konsili pada tgl 11 Oktober 1414. Huss diterima dengan baik oleh Paus Yohanes XXIII, yang kemudian mencabut hukuman ekskomunikasi dan interdik atasnya, walaupun masih melarang Huss untuk memimpin Misa Kudus, berkhotbah maupun melaksanakan fungsi Gerejawi di hadapan publik, karena ajarannya memang sesat dan telah dinyatakan salah oleh Paus. Hus kembali menghadap Paus dan para Kardinal pada tanggal 28 November dan mengatakan bahwa dirinya bebas dari kesalahan, ia siap menarik semua ajarannya dan menjalani sangsi jika ada. Namun demikian, pada hari yang sama itu, ia melanggar larangan Paus, dengan tetap mempersembahkan Misa Kudus dan berkhotbah di hadapan umum. Oleh karena itu, ia ditangkap, dan oleh perintah Uskup Constance, ditahan di biara Dominikan, dan kemudian dipindahkan ke kastil Gottlieben (biara Fransiskan di Constance).

Pada tanggal 5, 7, 8 Juni 1415 pengadilan kasus Hus dilaksanakan di hadapan umum. Ringkasan dari tulisannya dibacakan, para saksi dihadirkan. Huss menerima sebagian dari tulisannya itu sebagai ajarannya (yang bersumber dari ajaran Wycliff), namun ia tidak menyatakan bahwa dirinya tidak bersalah dan ia menolak apapun untuk menyatakan ketaatannya kepada otoritas Gereja. Pada tgl 6 Juli 1415, sekali lagi tulisannya tentang Gereja (De Ecclesia) dibacakan di hadapan umum. Hus menolak untuk menarik ajarannya yang keliru itu. Maka akhirnya, Hus dinyatakan sebagai bidat, dan diserahkan kepada tentara sekular, yang kemudian dihukum mati dengan dibakar, hukuman yang berlaku pada saat itu untuk para pengajar sesat.

Maka jika sampai Hus menyebutkan tentang Paus Joan sekalipun, itu bukan alasan mengapa ia dihukum mati, namun sebaliknya bukan alasan untuk membenarkan bahwa memang ada Paus yang bernama Joan. Yang menjadi perhatian Magisterium dalam Konsili untuk diluruskan adalah pernyataan ajaran sesat dan bukan pernyataan lain yang tidak langsung berhubungan dengan ajaran Gereja. (Hal catatan suksesi urutan Paus tidak secara langsung berhubungan dengan ajaran iman, lagipula hal urutan tersebut dapat dilihat di Liber Pontificalis, dan di sana tidak ada nama Paus Joan). Namun yang nyata di Konsili tersebut, Hus telah mengajarkan banyak hal yang tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik, dan ia sudah diperingati berkali-kali, namun tetap berkeras pada pendiriannya, dan karena itu sangsi diberlakukan terhadapnya. Bahwa hukuman mati yang diberlakukan pada John Hus masa itu sungguh kejam, ini juga diakui dan disesali oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 18 Desember 1999 di Praha.  Dalam kunjungannya ke Praha sekitar tahun 1990an, Paus Yohanes Paulus II mengatakan, “terlepas dari keyakinan teologis yang dipertahankannya, tak dapat diingkari integritas Hus di dalam kehidupan pribadinya dan komitmennya terhadap pendidikan moral bagi bangsanya.” Dari pernyataan ini Paus Yohanes Paulus II mengakui integritas kehidupan pribadi John Hus, walaupun Paus tidak menyebutkan bahwa ia membenarkan keyakinan teologis yang dipertahankan oleh Hus saat itu. Paus dengan besar hati meminta maaf atas nama Gereja bahwa di masa lalu dapat terjadi pelaksanaan hukuman terhadap Hus yang sedemikian, yang walaupun tidak dilakukan oleh Gereja, namun dilakukan setelah pernyataan Hus diperiksa melalui Konsili Gereja. Dengan pernyataan maaf ini, kita dapat melihat maksud yang tulus dari Paus untuk membangun dialog dengan umat Kristen non-Katolik, terutama di Cekoslowakia.

 

Jadi untuk apa saya hidup di dunia ini?

15

[Dari Katolisitas: Pertanyaan ini merupakan kelanjutan dari topik: “Beragama atau tidak beragama sama saja?”, silakan klik di sini untuk membaca topik tersebut.]

Pertanyaan:

Salam damai sejahtera

Pengasuh Katolisitas

Anda menulis sbb :

Namun umumnya, berawal dari suatu kesadaran untuk bertanya kepada diri sendiri: “JADI UNTUK APA SAYA HIDUP DI DUNIA INI ?”

Bagaimana jawabannya ?

Terima kasih
Salam
Mac

Jawaban:

Shalom Machmud,

Pertanyaan, “Jadi untuk apa saya hidup di dunia ini?” sesungguhnya merupakan suatu refleksi seseorang kepada dirinya sendiri untuk menemukan makna dan tujuan hidup. Cepat atau lambat setiap manusia umumnya akan bertanya seperti ini di dalam hatinya. Ini adalah sesuatu yang umum, karena sebenarnya Tuhan sendiri yang menanamkan dalam diri setiap orang untuk mempertanyakan tujuan akhir hidup yang akan dicapainya. Tuhan yang menciptakan kita, menanamkan di dalam hati kita kerinduan hati untuk kembali kepada-Nya, darimana kita berasal, dan tujuan akhir tempat kita berpulang.

Tuhan menginginkan semua manusia hidup berbahagia. Maka semua manusia umumnya mencari kebahagiaan, dan ini adalah sesuatu yang normal. Namun sayangnya, sering kali definisi kita tentang kebahagiaan, berbeda dengan definisi kebahagiaan menurut Tuhan. Pengertian kebahagiaan menurut Tuhan, diajarkan oleh Kristus di dalam Delapan Sabda Bahagia (lih. Mat 5).

Katekismus Gereja Katolik kemudian mengajarkan:

KGK 1718 Sabda bahagia sesuai dengan kerinduan kodrati akan kebahagiaan. Kerinduan ini berasal dari Allah. Ia telah meletakkannya di dalam hati manusia, supaya menarik mereka kepada diri-Nya, karena hanya Allah dapat memenuhinya:
“Pastilah kita semua hendak hidup bahagia, dan dalam umat manusia tidak ada seorang pun yang tidak setuju dengan rumus ini, malahan sebelum ia selesai diucapkan” (Agustinus, Mor. eccl. 1,3,4).
“Dengan cara mana aku mencari Engkau, ya Tuhan? Karena kalau aku mencari Engkau, Allahku, aku mencari kehidupan bahagia. Aku hendak mencari Engkau, supaya jiwaku hidup. Karena tubuhku hidup dalam jiwaku, dan jiwaku hidup dalam Engkau” (Agustinus, Confession. 10,29).
“Allah sendiri memuaskan” (Tomas Aquinas, Symb. 1).

Dalam pelajaran Katekismus untuk anak- anak, diajarkan demikian (diterjemahkan dari Baltimore Catechism, dijelaskan oleh Father Bennet C.P, New York: Catholic Book Publishing Corp, 1964) p. 12-13):

Mengapa Allah menciptakan kita?
Allah menciptakan kita untuk menujukkan kebaikan-Nya dan untuk membagikan kepada kita kebahagiaan kekal-Nya di surga.

Apa yang harus kita lakukan agar memperoleh kebahagiaan kekal di surga?
Untuk memperoleh kebahagiaan kekal di surga kita harus mengenal, mengasihi dan melayani Allah di dunia.

Dari siapa kita dapat mengenal, mengasihi dan melayani Allah?
Kita dapat belajar untuk mengenal, mengasihi dan melayani Allah, dari Tuhan Yesus Kristus, Allah Putera, yang mengajar kita melalui Gereja Katolik.

Walaupun ini adalah pelajaran tentang iman Katolik untuk anak- anak, namun ada banyak orang dewasa yang tidak mengetahuinya. Bahwa sebenarnya, Tuhan menghendaki agar kita hidup bahagia, dan jalan untuk hidup bahagia itu sebenarnya diajarkan-Nya melalui Sabda-Nya, yang dijelaskan dengan setia oleh Gereja yang didirikan-Nya, yaitu Gereja Katolik. Maka sekarang terserah kepada kita, bagaimana menyikapi tawaran Allah itu: Maukah kita mengikuti ajaran Kristus tentang kebahagiaan itu, ataukah kita mau mengikuti pengertian kita sendiri tentang kebahagiaan.

Kristuslah jalan, kebenaran dan hidup yang akan menghantar kita kepada Allah Bapa (Yoh 14:6) di mana kita akan menemukan kebahagiaan kita yang sempurna. Allah yang menjanjikan pengharapan ini adalah Allah yang setia (Ibr 10:23). Maka, jika kita mencari KerajaanNya dan kebenaran-Nya di dunia ini, maka Tuhan akan setia mencukupkan kebutuhan kita, “maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat 6:33). Dengan kata lain, kebahagiaan di duniapun akan Tuhan berikan.

Sekarang pertanyaannya memang terpulang kepada kita, sudahkah kita mencari Kerajaan Allah dan kebenaran- Nya? Sudahkah kita melaksanakan hukum Tuhan yang terutama, yaitu mengasihi Tuhan dan sesama kita? Sudahkah kita meresapkan Sabda Bahagia ini: miskin dan rendah hati di hadapan Allah, berbesar hati dalam kesusahan, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, hidup kudus, membawa damai, rela dianiaya demi kebenaran? (Mat 5: 3-10). Sudahkah kita sadari bahwa kita semua, baik awam maupun religius, dipanggil untuk hidup kudus? Selanjutnya tentang topik ini, silakan klik di sini. Seruan untuk hidup kudus ini merupakan pesan utama dari Konsili Vatikan II, 1962-1965, yang sangat relevan pada jaman ini.

Mari kita berdoa, agar kita dapat meresapkan makna kebahagiaan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, dengan demikian dapat menemukan makna kehidupan kita yang sesungguhnya di dunia ini; sambil menantikan penggenapannya yang sempurna di surga kelak. Teladan ini secara jelas kita lihat dalam kehidupan para orang kudus, seperti Bunda Teresa dari Kalkuta, Yohanes Don Bosco, Fransiskus dari Asisi, Theresia (Therese) dari Liseux, dst. Mari dengan cara yang kecil dan sederhana kita melayani Tuhan, yaitu dengan setia menjalani panggilan Tuhan dalam hidup kita, demi kasih kita kepada Tuhan yang menciptakan kita; supaya dengan demikian, kita memperoleh kebahagiaan yang sesungguhnya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab