Home Blog Page 245

Responsa ad Questiones de Aliquibus Sententiis Ad Doctrinam de Ecclesia Pertinentibus

0

Dari Katolisitas:

Berikut ini adalah terjemahan dokumen Gereja yang berjudul Responsa ad Questiones de Aliquibus Sententiis Ad Doctrinam de Ecclesia Pertinentibus dari salah seorang pembaca, Anastasius. Terjemahan ini sudah diperiksa dan dikoreksi oleh Ingrid Listiati dari Katolisitas, namun tetap masih merupakan terjemahan tidak resmi (un-official translation) dari dokumen tersebut.

Kepada Anastasius, terima kasih atas kiriman terjemahan ini. Semoga Tuhan memberkati anda sekeluarga.

[Dear Katolisitas, Terima kasih banyak atas dimuatnya terjemahan tak resmi yang telah saya kerjakan, berikut ini saya sertakan lagi terjemahan dokumen doktrinal dari CDF berjudul “Responsa ad Questiones de Aliquibus Sententiis Ad Doctrinam de Ecclesia Pertinentibus”, semoga dapat mendekatkan kita umat Katolik kepada dokumen Gereja yang dengannya mengenalkan kekayaan khasanah iman Katolik. Tuhan Memberkati anda sekalian dan kita semua – Anastasius]

KATA PENGANTAR PENERJEMAH

Pada 29 Juni 2007, Konggregasi untuk Ajaran Iman (CDF) mengeluarkan sebuah dokumen berjudul “Responsa ad Questiones de Aliquibus Sententiis Ad Doctrinam de Ecclesia Pertinentibus” yang secara garis besar terdiri dari latar belakang dalam kata pengantarnya, serta isi utamanya yaitu lima pertanyaan beserta tanggapannya. Dokumen ini dipublikasikan atas kebutuhan untuk menjawab beberapa pertanyaan seputar doktrin mengenai Gereja yang banyak bermunculan pasca Konsili Vatikan II, yang mana dari semua itu tidaklah kebal dari berbagai misinterpretasi yang pada akhirnya memunculkan kebingungan.
Dokumen ini memberikan jawaban secara lugas dan tegas atas beberapa pertanyaan tersebut. Sebuah dokumen lain berkenaan dengan publikasi dokumen ini juga disertakan oleh CDF yang berisikan komentar-komentar penjelasan “Responsa ad Questiones” ini yang tentu saja semakin memperdalam pemahaman isi dokumen tersebut.

Beberapa referensi penting yang berkaitan dengan dokumen ini yaitu; Konstitusi Dogmatik Lumen Gentium, Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, Dekrit tentang Ekumenisme Unitatis Redintegratio, Dekrit tentang Gereja-gereja Timur Katolik Orientalum Ecclesiarum, Ensiklik Paulus VI; Ecclesiam Suam, Notifikasi kepada Rm.Leonardo Boff, OFM atas buku “Church: Charism and Power”, Deklarasi Konggregasi untuk Ajaran Iman Dominus Iesus, Surat Communionis Notio, serta komentar resmi dari CDF atas Responsa ad Questiones, tak lupa pula mengingat pentingnya butir-butir yang tercantum dalam catatan kaki, maka seluruhnya telah diterjemahkan.

Terjemahan tak resmi dari bahasa Inggris ini diakses dari http://www.vatican.va/roman_curia/congregations/cfaith/documents/rc_con_cfaith_doc_20070629_responsa-quaestiones_en.html pada tanggal 1 Mei 2010, pukul 20.00 WIB.
Semoga terjemahan ini dapat bermanfaat serta mendekatkan kita sekalian umat Katolik kepada ajaran-ajaran Magisterium yang banyak tertuang dalam berbagai dokumen Gereja.

Salam dan doa
Anastasius

KONGGREGASI UNTUK AJARAN IMAN
“RESPONSA AD QUESTIONES”
TANGGAPAN-TANGGAPAN ATAS BEBERAPA PERTANYAAN MENGENAI ASPEK-ASPEK TERTENTU PADA DOKTRIN MENGENAI GEREJA

KATA PENGANTAR

Konsili Vatikan Kedua, dengan Konstitusi Dogmatik-nya Lumen Gentium, dan Dekrit tentang Ekumenisme (Unitatis Redintegratio) dan Dekrit tentang Gereja-gereja Timur Katolik (Orientalium Ecclesiarum), telah menyumbangkan secara tegas pada pembaruan eklesiologi Katolik. Para Paus juga telah turut serta menyumbangkan pembaruan ini dengan memberikan pandangan-pandangan pribadi mereka dan orientasi praksis: Paulus VI dalam Surat Ensikliknya Ecclesiam suam (1964) dan Yohannes Paulus II dalam surat Ensikliknya Ut unum sint (1995).

Tugas konsisten para teolog untuk menguraikan dengan lebih jelas akan aspek-aspek yang luas dari eklesiologi telah menghasilkan perkembangan tulisan-tulisan di bidang ini. Kenyataannya, adalah menjadi nyata bahwa tema ini adalah sesuatu yang paling berbuah, yang mana, bagaimanapun, juga telah berkali-kali membutuhkan klarifikasi dengan cara mendefinisikan secara tepat dan melakukan koreksi, sebagai contohnya dalam deklarasi Mysterium Ecclesiae (1973), Surat kepada para Uskup Gereja Katolik Communionis Notio (1992), serta deklarasi Dominus Iesus (2000), semua telah dipublikasikan oleh Konggregasi untuk Ajaran Iman.

Luasnya bidang ini dan hal-hal baru dari beberapa tema yang termasuk di antaranya, berlanjut untuk terus mendorong refleksi teologis. Dari antara banyaknya berbagai kontribusi yang baru atas bidang ini, beberapa diantaranya tidaklah kebal dari interpretasi yang salah di mana akhirnya menimbulkan kebingungan dan keraguan. Beberapa dari interpretasi-interpretasi ini telah menarik perhatian Konggregasi untuk Ajaran Iman. Karena universalitas akan doktrin Katolik mengenai Gereja, Konggregasi bertujuan untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan ini dengan mengklarifikasi arti otentik dari beberapa ekspresi eklesiologis yang digunakan oleh magisterium yang terbuka terhadap kesalahpahaman dalam debat teologis.

TANGGAPAN-TANGGAPAN ATAS BEBERAPA PERTANYAAN

PERTANYAAN PERTAMA

Apakah Konsili Vatikan II mengubah doktrin Katolik mengenai Gereja?

TANGGAPAN

Konsili Vatikan II tidak mengubah atau bahkan bermaksud untuk mengubah doktrin ini, melainkan mengembangkan, memperdalam dan menjelaskan secara lebih mendalam mengenainya.

Hal ini secara persis dikatakan oleh Yohanes XXIII pada saat pembukaan Konsili. (1) Paulus VI menetapkannya (2) dan memberikan komentar dalam penetapan promulgasi Konstitusi Lumen Gentium: “Tidak ada komentar yang lebih baik daripada menyatakan bahwa promulgasi ini sama sekali tidak merubah doktrin tradisi. Apa yang Kristus kehendaki, kami juga kehendaki. Apa yang ada, tetaplah seperti itu. Apa yang Gereja ajarkan selama berabad-abad, itu pula yang kami ajarkan. Dalam istilah yang lebih sederhana yaitu apa yang dahulu diasumsikan, kini menjadi eksplisit; bahwa yang dahulu tidak jelas, kini telah menjadi jelas; apa yang dahulu direnungkan, didiskusikan dan terkadang diperdebatkan, kini telah diletakkan bersama dalam satu rumusan yang jelas”.(3) Para Uskup telah berulangkali menyatakan dan memenuhi tujuan ini. (4)

PERTANYAAN KEDUA

Apa arti dari sebuah penegasan bahwa Gereja Kristus [subsists in = berada dalam] Gereja Katolik?

TANGGAPAN

Kristus “telah menetapkan di bumi ini” hanya satu Gereja dan menginstitusikannya sebagai sebuah “komunitas yang terlihat dan spiritual” (5), yang dari sejak awal mula dan telah berabad-abad lamanya selalu eksis dan akan senantiasa eksis, dan yang mana di dalamnya sendiri terdapat segala elemen yang diinstitusikan oleh Kristus sendiri.(6) “Gereja Kristus yang satu ini, yang kita akui dalam Credo sebagai Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik [….] Gereja ini, dinyatakan dan terorganisir di dunia ini sebagai sebuah masyarakat, yang berada dalam (subsists in) Gereja Katolik, yang diperintah oleh penerus Petrus dan para Uskup yang berada dalam persekutuan dengannya.” (7)

Pada butir 8 dari Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, ’subsistensi’ (berada dalam) berarti penerusan ini, kelanjutan historis dan sifat permanen dari seluruh elemen yang diinstitusikan oleh Kristus dalam Gereja Katolik, (8) yang mana Gereja Kristus secara konkret ditemukan di bumi ini.

Adalah mungkin, menurut doktrin Katolik, untuk menyatakan secara tepat bahwa Gereja Kristus hadir dan bekerja dalam gereja- gereja dan komunitas-komunitas gerejawi yang belum secara penuh bersekutu dengan Gereja Katolik, dengan memperhitungkan elemen-elemen pengudusan dan kebenaran yang terdapat dalam diri mereka. (9) Namun demikian, kata “subsists [berada dalam]” hanya dapat diberikan kepada Gereja Katolik saja secara tepat karena hal ini merujuk pada simbol kesatuan yang kita ikrarkan dalam simbol- simbol iman (Aku percaya…akan “satu” Gereja); dan Gereja yang “satu” ini berada dalam Gereja Katolik” (10)

PERTANYAAN KETIGA

Mengapa dipilih ungkapan “subsists in” [berada dalam] daripada dengan sebuah kata yang sederhana yaitu “is” [adalah]?

TANGGAPAN

Penggunaan ekspresi ini, yang menunjukkan identitas penuh Gereja Kristus dengan Gereja Katolik, tidak mengubah doktrin mengenai Gereja. Melainkan, hal tersebut datang dari, serta dengan lebih menjelaskan fakta bahwa terdapat “banyak elemen pengudusan dan kebenaran” yang ditemukan di luar struktur Gereja, tetapi elemen-elemen pengudusan dan kebenaran tersebut “adalah milik Gereja Kristus, yang mendorong kepada Kesatuan Katolik”. (11)

“Sebagai akibatnya, gereja-gereja yang terpisahkan serta Komunitas-komunitas, meskipun kita percaya mereka menderita atas segala kekurangan, tidak kehilangan baik arti maupun kepentingannya dalam misteri keselamatan. Pada kenyataannya, Roh Kristus tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan mereka sebagai instrumen- instrumen keselamatan, yang mana nilai-nilai tersebut berasal dari kepenuhan rahmat dan kebenaran yang telah dipercayakan kepada Gereja Katolik” (12).

PERTANYAAN KEEMPAT

Mengapa Konsili Vatikan II menggunakan istilah “Gereja” yang merujuk kepada Gereja-gereja oriental yang terpisahkan dari persekutuan penuh dengan Gereja Katolik?

TANGGAPAN

Konsili berkeinginan untuk mengadopsi penggunaan tradisional istilah tersebut. “Karena Gereja-gereja ini, sekalipun terpisahkan, memiliki sakramen-sakramen sejati dan di atas semuanya itu– karena suksesi apostolik – imamat dan Ekaristi, yang melalui semua itu mereka tetap terhubung dengan kita dalam ikatan yang sangat erat” (13), mereka sepantasnya menyandang sebutan “Gereja-gereja partikular atau lokal” (14), dan juga disebut sebagai Gereja-gereja sesaudari dari Gereja-gereja Katolik partikular. (15)

PERTANYAAN KELIMA

Mengapa dalam teks-teks Konsili dan juga oleh Magisterium semenjak Konsili tidak menggunakan sebutan “Gereja” dengan hormat kepada Komunitas-komunitas Kristiani yang lahir dari Reformasi pada abad ke-16?

TANGGAPAN

Menurut doktrin Katolik, Komunitas-komunitas ini tidak menikmati suksesi apostolik dalam Sakramen Imamat, dan oleh karena itu mereka kehilangan sebuah elemen penting dari Gereja. Komunitas-komunitas gerejawi ini yang, secara khusus karena tidak adanya sakramen imamat, tidaklah menjaga keaslian dan substansi integral dari Misteri Ekaristi (19), maka tidak dapat disebut sebagai “Gereja-gereja” dengan arti yang sepantasnya menurut doktrin Katolik. (20)

Paus Benediktus XVI, pada Audiensi yang diberikan kepada yang bertandatangan di bawah ini, Kardinal Prefek Konggregasi untuk Ajaran Iman, mengesahkan dan menetapkan Tanggapan-tanggapan ini, dimasukkan ke dalam Sidang Paripurna Konggregasi, serta memerintahkan untuk publikasinya.
Roma, dari Offisi-offisi Konggregasi untuk Ajaran Iman, 29 Juni 2007, pada Hari Raya  Rasul-rasul Suci Petrus dan Paulus.

William Kardinal Levada
Prefek

Angelo Amato, S.D.B.
Uskup Agung Tituler Sila
Sekretaris

CATATAN KAKI
(1) Yohannes XXIII, wejangan pada 11 Oktober 1992: “…Konsili…bermaksud untuk meneruskan, secara menyeluruh dan utuh tanpa mengubah atau membelokkan…Supaya lebih yakin, pada saat sekarang ini, adalah penting bahwa doktrin Kristen dalam keutuhannya, dan tanpa sesuatu diambil darinya, diterima dengan antusiasme yang baru dan terang serta ketaatan sentosa … adalah penting bahwa doktrin yang tetap sama dipahami secara lebih luas dan lebih mendalam sebagaimana mereka yang senantiasa setia kepada iman Kristen, Katolik dan Apostolik merindukannya dengan sangat … adalah penting bahwa doktrin yang pasti dan tak terubahkan ini, yang kepadanya mensyaratkan ketaatan iman, untuk digali dan diuraikan dalam cara yang dibutuhkan dalam jaman kita. Untuk deposit iman itu sendiri, atau kebenaran-kebenaran yang terkandung dalam doktrin kita yang terberkati, adalah satu hal; hal lainnya adalah cara pengungkapannya, dengan bagaimanapun muga mengungkapkan arti dan signifikasi yang sama.” AAS 54 [1962] 791-792
(2) Bdk. Paulus VI, wejangan pada 29 September 1963: AAS 55 [1963] 847-852.
(3) Paulus VI, wejangan pada 21 November 1964: AAS 56 [1964] 1009-1010.
(4) Konsili bermaksud untuk mengekspresikan identitas Gereja Kristus dengan Gereja Katolik. Hal ini jelas dari diskusi-diskusi mengenai Dekrit Unitatis Redintegratio. Skema dari Dekrit telah diusulkan pada Konsili tanggal 23 September 1964 dengan sebuah Relatio (Act Syn III/II 296-344). Sekretariat untuk Kesatuan Umat Kristen menanggapinya pada 10 September 1964 bersama saran-saran yang diberikan oleh para Uskup pada bulan yang bersamaan (Act Syn III/VII 11-49). Berikut adalah kutipan empat teks dari Expensio modorum ini mengenai tanggapan pertama ini.
A) [Dalam Nr. 1 (Prooemium) Schema Decreti: Act Syn III/II 296, 3-6]
“Pag. 5, lin. 3-6: Videtur etiam Ecclesiam catholicam inter illas Communiones comprehendi, quod falsum esset.
R(espondetur): Hic tantum factum, prout ab omnibus conspicitur, describendum est. Postea clare affirmatur solam Ecclesiam catholicam esse veram Ecclesiam Christi
” (Act Syn III/VII 12).
B) [Dalam Caput I in genere: Act Syn III/II 297-301]
“4 – Expressius dicatur unam solam esse veram Ecclesiam Christi; hanc esse Catholicam Apostolicam Romanam; omnes debere inquirere, ut eam cognoscant et ingrediantur ad salutem obtinendam…
R(espondetur): In toto textu sufficienter effertur, quod postulatur. Ex altera parte non est tacendum etiam in aliis communitatibus christianis inveniri veritates revelatas et elementa ecclesialia
”(Act Syn III/VII 15). Cf. also ibid pt. 5.
C) [Dalam Caput I in genere: Act Syn III/II 296s]
“5 – Clarius dicendum esset veram Ecclesiam esse solam Ecclesiam catholicam romanam…
R(espondetur): Textus supponit doctrinam in constitutione ‘De Ecclesia’ expositam, ut pag. 5, lin. 24-25 affirmatur”
(Act Syn III/VII 15). Maka komisi yang bertugas untuk mengevaluasi tanggapan-tanggapan terhadap Dekrit Unitatis Redintegratio secara jelas mengungkapkan identitas Gereja Kristus dengan Gereja Katolik beserta kesatuannya, dan pengertian akan doktrin ini ditemukan dalam Konstitusi Dogmatik Lumen Gentium.
D) [In Nr. 2 Schema Decreti: Act Syn III/II 297s]
“Pag. 6, lin. 1- 24: Clarius exprimatur unicitas Ecclesiae. Non sufficit inculcare, ut in textu fit, unitatem Ecclesiae.
R(espondetur): a) Ex toto textu clare apparet identificatio Ecclesiae Christi cum Ecclesia catholica, quamvis, ut oportet, efferantur elementa ecclesialia aliarum communitatum”.
“Pag. 7, lin. 5: Ecclesia a successoribus Apostolorum cum Petri successore capite gubernata (cf. novum textum ad pag. 6, lin.33-34) explicite dicitur ‘unicus Dei grex’ et lin. 13 ‘una et unica Dei Ecclesia’
” (Act Syn III/VII).
Kedua ungkapan yang dikutip tersebut adalah dari Unitatis Redintegratio 2.5 e 3.1
(5) Bdk. Konsili Vatikan II, Konstitusi Dogmatik Lumen Gentium, 8.1
(6) Bdk. Konsili Vatikan II, Dekrit Unitatis Redintegratio, 3.2; 3.4; 3.5; 4.6.
(7) Konsili Vatikan II, Konstitusi Dogmatik, Lumen Gentium, 8.2.
(8) Bdk. Konggregasi untuk Ajaran Iman, Deklarasi Mysterium Ecclesiae, 1.1: AAS 65 [1973] 397; Deklarasi Dominus Iesus, 16.3: AAS 92 [2000-II] 757-758; Peringatan kepada Buku karangan Leonardo Boff, OFM, “Church: Charism and Power”: AAS 77 [1985] 758-759.
(9) Bdk. Yohannes Paulus II, Surat Ensiklik Ut unum sint, 11.3: AAS 87 [1995-II] 928.
(10) Bdk. Konsili Vatikan II, Konstitusi Dogmatik Lumen Gentium, 8.2.
(11) Konsili Vatikan II, Konstitusi Dogmatik Lumen Gentium, 8.2.
(12) Konsili Vatikan II, Dekrit Unitatis Redintegratio, 3.4.
(13) Konsili Vatikan II, Dekrit Unitatis Redintegratio 15.3; bdk. Konggregasi untuk Ajaran Iman, Surat Communionis notio, 17.2: AAS, 85 [1993-II] 848.
(14) Konsili Vatikan II, Dekrit Unitatis Redintegratio 14.1.
(15) Bdk. Konsili Vatikan II, Dekrit Unitatis Redintegratio 14.1; Yohannes Paulus II, Surat Ensiklik Ut unum sint, 56 f: AAS 87 [1995-II] 954 ff.
(16) Konsili Vatikan II, Dekrit Unitatis Redintegratio 15.1.
(17) Bdk. Konggregasi untuk Ajaran Iman, Surat Communionis notio, 17.3: AAS 85 [1993-II] 849.
(18)Ibid.
(19) Bdk. Konsili Vatikan II, Dekrit Unitatis Redintegratio 22.3.
(20) Bdk. Konggregasi untuk Ajaran Iman, Deklarasi Dominus Iesus, 17.2: AAS 92 [2000-II] 758.

Kasih setia Tuhan tak pernah terlambat

50

Dari Katolisitas : Kekaguman dan syukur akan kasih dan penyelenggaraan Tuhan yang luar biasa, telah menggerakkan Benedictus Widi Handoyo, untuk membagikan pengalamannya akan kuat kuasa kasih Tuhan di dalam hidupnya. Setelah mengalami sakit hingga koma dan diberikan kesembuhan sempurna, dengan dukungan keteguhan iman ibunya yang sangat setia berdoa dan berharap pada Tuhan dalam saat yang tergelap sekalipun, Widi menyadari bahwa justru Tuhan hadir sangat dekat dengan manusia dan menyapa dengan kasihNya yang luar biasa di dalam penderitaan dan cobaan hidup. Kesadaran indah itu kini telah menjadi milik Widi selamanya baik dalam suka maupun duka hidupnya selanjutnya. Dan dengan rindu ia ingin membagikan kekayaan itu kepada pembaca Katolisitas untuk dapat turut menyemangati kita semua berteguh dalam pengharapan kepada Tuhan. Pengharapan yang pasti tak akan pernah sia-sia sebab dialamatkan kepada Sang Penyelenggara Hidup yang penuh kerahiman, cinta, dan belaskasihan kepada anak-anakNya, sekalipun hidup terkadang memang masih selalu penuh misteri bagi kita. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5 : 7). Terimakasih Widi, atas kasih dan kerinduanmu untuk berbagi kisah hidupmu yang penuh kuat kuasa penyelenggaraan kasih setia Tuhan ini. Semoga kasihNya yang nyata semakin dapat dirasakan dan dialami oleh kita semua. Dan kiranya hidup di dalam Dia menjadi sumber kekuatan kita di dalam suka duka kehidupan ini.


Jakarta, 25 Mei 2010, ditulis dalam keheningan hati di kamar kost.


Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah.  Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu (Lukas 12 : 24)

Saya, panggil saja Widi, putera pertama dari seorang keluarga orang cacat. Bapak saya (almarhum) merupakan penyandang cacat karena sejak SMP tangan kanannya diamputasi akibat kecelakaan ketika kecil. Saya lahir dan besar di kota Jogja. Tepatnya di kampung Bausasran. Lahir di keluarga yang serba pas-pasan, bahkan kalau boleh dibilang kekurangan. Ibu asli Solo, seorang yang tidak pernah berhenti berharap akan kasih Tuhan. Tekun dalam doa dan kuat prihatin.

Saat itu Bapak saya bekerja sebagai karyawan di Yayasan Kanisius Cabang Jogja di bagian administrasi surat menyurat. Itu adalah karena karya ajaib Tuhan, sehingga Bapak diperkenalkan pada Pastur (Wie Cen) yang membantunya mendapat perawatan dan rehabilitasi di Panti Rehabilitasi orang cacat di Solo sampai bisa bekerja di Yayasan Kanisius.

Tuhan menguji keteguhan iman keluarga saya.

Kejadian ini saya alami ketika saya duduk di SMP kelas 2, sekitar tahun 1999. Setelah selesai pengambilan raport catur wulan II, saya (waktu itu masih bersepeda ontel) minta ijin ke Bapak untuk pulang ke rumah di Wates (kebetulan rumah kami ada di Wates, sedangkan Bapak sering tinggal dan menitipkan saya untuk tinggal bersama nenek di Bausasran, Jogja). Itulah hari terakhir saya dalam kondisi sehat…

Esok harinya, saya terkena demam tinggi, dan muntah-muntah.  Langsung saja Bapak dikabari oleh tetangga yang kebetulan bekerja di Jogja (tiap hari pulang balik Wates-Jogja) bahwa saya sakit parah. Entah kenapa saya juga tidak tahu. Yang jelas malam itu saya benar-benar menggigil dan merasakan kehausan yang amat dahsyat.

Segera saya dibawa ke Rumah Sakit Panti Rapih. Masuk di taksi, saya sudah hampir tidak sadarkan diri. Waktu itu saya sempat pamit ke Ibu saya, ” Ibu…Widi njaluk ngapuro nggih…nek kathah lepat… (Ibu, Widi minta maaf kalau banyak salah..) Widi sudah nggak kuat…”

Koma selama 17 hari

Ini menurut penuturan ibu saya setelah saya siuman dari koma… Ternyata saya koma selama 17 hari. Terbaring dengan kondisi labil dan tidak pasti. Bahkan beberapa kali saya di full check up dan EKG, denyut jantung saya tidak stabil. Kondisi cairan tubuh drop, ureum sangat tinggi. HB turun, dan tensi darah berada pada kondisi yang sangat rendah. Menurut Bude, yang mendampingi bapak dan ibu saya, saya sempat diberi Sakramen Minyak Suci dua kali, oleh pastor dari Paroki Kota Baru, Jogja.  Saking tidak kuatnya, Bapak sempat drop kesehatannya dan jatuh pingsan berkali-kali melihat tubuh saya tergolek dengan peralatan medis di sana sini.

Ingatan terakhir saya hanya masuk ke taksi yang mengantar ke RS itu, sehabis itu saya sudah tidak ingat apa-apa… Dari penuturan Bude juga, hanya Ibu yang paling tabah, paling kuat…. dan paling bisa bertahan dalam kondisi seperti itu. Pagi, siang, dan malam, Ibu sering keluar dari kamar ICU untuk berdoa rosario di gua maria di RS Panti Rapih. Mulai-mula Bapak tidak mau, karena toh juga tidak ada hasilnya juga, sudah berdoa lebih dari 9 hari tidak ada kemajuan…

Namun di hari ke 12, akhirnya Bapak mau (ini menurut penuturan Ibu). Berdua berdoa rosario. Memohon kekuatan… Menurut keterangan Bude, hari ke 15 saya malah sangat drop, bahkan EKG sempat hilang di monitornya. Sempat tidak ada denyut selama beberapa detik.  Dan ketika itu pula Sakramen Minyak Suci kedua diberikan kepadaku.

Bahkan saudara Bapak (yang Muslim) sudah menyiapkan peti dan beberapa kali mengadakan “tahlilan” untuk saya. Banyak temen-temen SMP dan SD, juga tetangga yang pesimis setelah pulang dari membesuk saya. Mereka bilang ” Widi hanya menunggu waktu saja…, mbok ya diikhlaskan saja to… ” Bapak yang menangis ketika ada yang mengatakan seperti itu… (ini menurut Ibu).

Namun Ibu tidak pernah berhenti berdoa… tidak pernah berhenti berharap, bahkan dia jalani puasa Rabu dan Jumat serta Misa harian pagi di kapel RS Panti Rapih. Praktis selama 17 hari itu baik Bapak dan Ibu tidak pulang ke rumah. Adik saya dititipkan di rumah Bude. Semua harta benda yang Bapak kumpulkan habis. Mulai dari TV, rumah, tabungan, bahkan cincin pernikahan pun lenyap sudah. (Terakhir saya cek di berkas-berkas pembiayaan, saat itu perhari habis sekitar Rp. 9 juta).

Kesembuhan saya, keteguhan iman Ibu, dan kasih setia Tuhan

Namun Tuhan berkehendak lain.
Doa Ibu dan Bapak saya dikabulkan. Waktu itu tepat pukul 12.00. Saya mendengar sayup-sayup suara nyanyian lagu Bapa Kami di telinga saya, pelan namun pasti. Dan waktu itulah saya pertama kali membuka mata, dan menoleh sebelah kiri…. ada Ibu yang sedang menyanyikan lagu Bapa Kami ke telinga saya…
Sontak, seluruh dokter dan perawat datang semua, Bapak juga datang ke ruangan ICU itu, dan proses check-up pun dilakukan. Saya masih ingat waktu itu pertama kali saya kembali bisa merasakan sakit ketika saya disuntik di tangan saya sebelah kanan. Proses recovery pun berjalan sekitar sebulan, mulai dari belajar berjalan lagi, belajar mengenal uang, belajar minum memakai sedotan. Praktis saya jadi seperti linglung. Bahkan teman-teman SMP pun saya sudah tidak hapal lagi. Hanya Ibu dan Bapak yang saya kenal waktu itu… ketika mereka jauh dari tempat tidur, saya merasa kesepian dan ketakutan…

PUJI TUHAN, DIA tidak pernah melalaikan doa umatnya, dan doa Ibu adalah doa yang paling tulus dari hati untuk anaknya… Saat ini saya merasakan benar-benar hidup itu adalah sebuah anugerah, dan setiap tarikan nafas itu sesungguhnya benar-benar hadiahNya. Kini kami tinggal terpisah, Ibu pulang ke Solo setelah Bapak meninggal tahun 2005 yang lalu. Saya menjadi tulang punggung keluarga, bekerja di Jakarta Selatan, dan adik saya masih kuliah di UGM, Jogja.

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Matius 7 : 7). Ya, ketoklah pintu, maka akan dibukakan, DIA yang memberimu kehidupan tidak pernah akan membiarkan kita jatuh dalam kesengsaraan dan keputusasaan….. asal kita mau datang kepadaNya. Datanglah kepadaNya….bawalah DIA dalam segala hidupmu.

Kekuatan kasih dan penyelenggaraan Tuhan yang terus menopang saya

Kenangan akan pertolongan Tuhan dan kesetiaan kasih Ibu dan Bapak saya dalam mendampingi saya dengan penuh pengharapan kepada Tuhan ketika saya koma itu selalu membekas di dalam hati saya. Menemani perjalanan iman saya selanjutnya dalam mengarungi hidup pemberian Tuhan ini. Ada nilai-nilai keutamaan yang selalu saya ingat dan saya bawa di dalam hati saya.

Yang pertama adalah keuletan ibu saya untuk tetap percaya pada Tuhan Jesus apapun kondisinya. Hal ini sudah terasa jauh sebelum saya sakit. Ibu adalah seorang yang ulet, yang benar-benar menerima dengan sabar segala sesuatu. Ayah saya adalah seorang cacat. Dengan gemblengan di Panti Rehabilitasi, beliau sangat keras dan cenderung diktator, walaupun niatnya baik untuk memberi bekal ke anak-anaknya agar tidak mudah cengeng dan lembek mentalnya, terlebih menjadi anak seorang cacat yang dimana-mana diremehkan.

Saya sendiri merasakan hal itu. Ketika Ayah mendidik saya dengan keras, dengan tegas dan aturan yang ketat, Ibu hadir dengan kata-kata yang saat ini masih teringat benar di benak saya:

“Le, nduk, Bapak kui ndidik koe ngunu kui ben koe tatag athine, tabah lan ora gampang lembek, neng opo ae kui wujude nek ora dikantheni nyenyuwun karo Gusti kui ora bakal tekan”
(“Nak, Bapak itu mendidik kamu supaya kamu tegar hati, tabah dan tidak mudah lembek, tetapi apa saja wujudnya kalau tidak diimbangi dengan memohon berkah dari Tuhan semua itu tidak ada gunanya”)

Sebelum kejadian saya sakit itu, kami tinggal di Bausasran dengan kondisi yang sangat terbatas. Rumah dari dinding kayu reot, tempat tidur hanya satu, itu pun dipakai bertiga: saya, Adek, dan Bapak. Ibu sendirian yang setiap malam tidur di kursi reot di muka pintu. Hal yang saya tidak pernah bisa mengerti, Ibu bisa tabah menjalani itu semua hingga lebih dari lima tahun. Saya masih ingat ketika Ibu sedih luar biasa karena rosario kesayangannya rusak digigit tikus ketika jatuh dilantai. Dengan bergumam beliau berkata…”Duh Gusti, mbok nek mundut saking kulo niku boten rosario… niku rencang kulo kang ngancani kulo nyenyuwun ing sampeyan dalem…(” Duh Gusti, jika Engkau menghendaki janganlah ambil rosario itu… karena itu teman saya yang menemani saya berdoa memohon kepadaMu… )

(Saya benar-benar menangis saat saya menulis bagian ini sembari mengingat saat itu…)

Rosario baru pun coba saya belikan di Puskat Kota baru. Setelah diberkati, saya hadiahkan ke beliau pada saat ulang tahunnya 14 Desember 1998. Beliau senang sekali. Hampir tiap tengah malam beliau berdoa rosario. Hingga saat ini pun masih. Rosario baru itu pun yang saya jumpai ketika saya siuman tahun 1999 di RS Panti Rapih. Beliau melilitkan rosario ditangannya… sambil menyanyikan lagu Bapa Kami ditelinga saya…

Bapak yang berkali-kali ingin meninggalkan Jesus

Karena himpitan ekonomi, Bapak pun berkali-kali sering marah, dan mudah emosi. Beliau berkali-kali tidak mau diajak ke gereja. Bahkan untuk berdoa rosario. Beliau tetap pada keyakinannya, kalau mau usaha pasti dapat. Orang cacat tidak butuh hanya doa, namun usaha dan mental yang kuat, begitu prinsip beliau.

Namun Tuhan merubah semuanya, ketika saya sakit itu. Menurut penuturan Ibu, saat saya sakit itulah, Bapak mau menemani Ibu dan ikut berdoa rosario. Beliau akhirnya kembali ke Jesus sang pemberi kehidupan. Setelah berbagai usaha dokter dan obat tidak kunjung membuat saya siuman. Bahkan beliaupun akhirnya merelakan saya diberi Sakramen Minyak Suci hingga dua kali.  Hingga Tuhan memanggil Bapak tanggal 9 Desember 2005, beliau rajin berdoa, rajin ke gereja dan sangat dekat dengan Tuhan dalam bacaan alkitab hariannya.

Kasih setiaNya terbukti di setiap perjuangan hidup saya

Keutamaan yang kedua yang selalu tertanam di hati saya adalah anugerah dan sapaan Tuhan yang begitu dahsyat dalam hidup saya melalu berbagai cobaan dan ujian hingga saat ini.
Keutamaan ini bertitik tolak setelah ayah saya meninggal. Ketika itu situasi ekonomi keluarga kami down kembali, praktis kami tidak ada pemasukan sama sekali. Pensiun ayah cuma Rp 150 ribu/bulan. Sedangkan saya sudah terlanjur duduk di semester 3 UGM. Adek baru kelas 1 SMA.

Goncangan yang dahsyat mengguncang keluarga kami. Benar-benar habis sudah. Rumah semua dijual, hutang rumah sakit saya masih menumpuk. Adek masih membutuhkan biaya sekolah, sedangkan saya masih bingung mau membayar kuliah dengan apa.

Berbagai cobaan datang di keluarga kami. Bahkan datang dari ketua lingkungan kami di Bausasran yang mengucilkan kami karena saya tidak kuat mengadakan misa arwah 40 hari, 100 hari. Waktu itu saya diinterograsi, kenapa Mas Widi tega dengan Bapak dengan tidak mengadakan misa arwah? Yah saya jawab dengan jujur, “Pak saya tidak punya uang lagi, kebutuhan kami untuk sekolah” (karena pesan terakhir almarhum bapak saya adalah tetap sekolah hingga S1 selesai untuk semua anak-anaknya). Jadi ya saya hanya berdoa bertiga menyalakan lilin dan berkumpul tengah malam. Lalu paginya saya mengajukan permohonan ujud Misa di gereja. Waktu itu benar-benar saya down. Merasa pengen teriak kenapa Tuhan tidak henti-hentinya memberikan cobaan ini. Ibu cuma bilang, Gusti kui ora sare … (Tuhan tidak pernah tidur). Nyuwuno mesti bakalan diparingi.Gusti mesti paring kang awake dewe perlu (mintalah, pasti Tuhan kasih apa yang kita butuhkan). Itulah semangat Ibu yang setia dengan rosarionya. Bahkan sehari sampai dua kali, pagi dan malam setelah ditinggal Bapak menghadapNya.

Cobaan berikutnya adalah rumah kami di Bausasran yang diminta oleh si pemilik rumah. Karena dulunya Bapak hanya numpang di sana. Jadi ketika Bapak sudah tidak ada, rumah itu pun diminta. Sontak saya panik luar biasa….mau kemana ini… Ibu tidak bekerja, Adek masih sekolah, dan saya pun belum bekerja… Hanya Tuhan waktu itu yang saya pegang… Kalau Tuhan kasih saya nafas esok hari, pasti bakal kasih saya makan, dan tempat berteduh juga…kalau tidak, ambilah kehidupan ini Tuhan..begitu doa saya tiap hari… karena saya yakin Dia yang kasih saya kehidupan ketika sakit dahulu, Dia pasti bertanggung jawab ketika saya didera penderitaan kembali…

Akhirnya tahun 2007 kami boyongan pulang ke Solo. Ibu saya pulang ke rumah nenek di Solo, Adek dan saya puji Tuhan ditampung oleh keluarga kakak kelas KMKATH (Keluarga Mahasiswa Katolik FMIPA UGM) di sebuah rumah di Umbulharjo, Jogja. Sebelum pindahan dari rumah di Bausasran, kami sempat berdoa bertiga, dan bersepakat… walaupun jarak memisahkan Solo- Jogja, kami tetap yakin bersekutu dalam doa malam setiap hari.

Saya dan Adek tinggal di rumah Mas Anton (kakak kelas saya) selama tahun 2007-2008. Sungguh pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat. Ada saja orang yang berbaik hati memberikan tumpangan untuk kami tetap tinggal di Jogja. Jadilah kami semi anak kost. Hidup di rumah tumpangan dengan apa-apa sendiri. Waktu itulah saya mulai mencoba bekerja serabutan. Mulai dari penjaga warnet, game center, rental komputer (kebetulan saya kuliah S1 Ilmu Komputer di UGM). Hingga diterima di sebuah ISP (Internet Service Provider) di Jogja.

Saya pun lulus S1 tepat empat tahun, pada bulan Agustus 2008 dengan perjuangan yang benar-benar berat. Tidur tidak pernah cukup, makan kadang hanya bisa sekali sehari, yang penting Adik bisa makan tiga kali dan Ibu bisa ada pegangan uang sedikit di Solo. Sungguh karunia yang berlimpah, berat saat dijalani, namun ketika semuanya dikembalikan ke yang Empunya Kehidupan, semua terasa ringan dan bisa berjalan.

Saat ini Adek saya sudah diterima di S1 Fakultas Peternakan UGM semester empat, dia tinggal di asrama Santikara, Jogja. Ibu tetap di Solo, dan saya pergi merantau ke Jakarta di kantor pusat ISP Jogja tersebut. Hingga saat saya menulis kisah ini. Karena begitu hebatnya kasih Tuhan terutama ketika saya sakit dan ketika ditinggal Bapak meninggal, maka saya sudah bertekad menyelesaikan kuliah Adek hingga tamat S1 tahun 2012 nanti, sebagai silih saya dahulu diberkati lewat kasih keluarga saya. Gaji di Jakarta saya share dengan Ibu dan Adek, hingga saat ini. Untuk kuliah Adek, akomodasi, biaya asrama, uang hidup Adek, buku, juga uang saku untuk Ibu di solo. Saya mengandalkan makan nasi sehari sekali dari makan siang di kantor.

Tuhan pasti akan selalu menyertai

Mohon doanya juga, akhir Juni ini kontrak saya bekerja di perusahaan ISP ini berakhir, dan saya masih bergumul dengan Tuhan akan kemana lagi langkah saya bekerja ….tetapi saya tidak membiarkan diri saya khawatir, sebab Tuhan Yesus telah berjanji  kepada kita untuk selalu mencukupkan kebutuhan kita, dan saya akan memegang teguh janjiNya itu, yang juga telah dibuktikanNya selalu dalam hidup saya.

Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di Sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. (Matius 6 : 31-34)

Sungguh karya Tuhan tidak pernah habis, tidak pernah terburu-buru dan tidak pernah terlambat. Saya percaya itu. Bahkan di Jakarta ini saya tidak khawatir dengan uang yang pas-pasan, karena saya yakin, dulu Tuhan menyembuhkan saya dari koma, saat ini pun Dia hadir menemani saya dalam langkah dan pekerjaan saya. Dia peduli, Dia sayang, dan Dia tidak akan meninggalkan kita.

Semoga sharing ini bisa menguatkan iman pembaca Katolisitas dan memberikan berkah kekuatan untuk tetap bertekun dalam iman akan Jesus. Dia sungguh dahsyat, sungguh hebat. Tidak salah kita memilkiNya, memberi diri dibaptis dalam namaNya.

Semua demi kemuliaanNya, di bumi dan di Surga. Amin.


Bukan kamu yang memilih Aku (Yoh 15:16)

1

Shalom Ben2,

1. Ungkapan bahwa “Tuhan memilih kita” itu bukan untuk diartikan sebagai takdir sampai menghilangkan kehendak bebas kita manusia. Sebenarnya Tuhan menginginkan agar semua orang percaya kepada-Nya dan diselamatkan serta memperoleh pengetahuan akan kebenaran (lih. 1 Tim 2:4). Namun demikian, Allah Maha Tahu sehingga Ia sudah tahu sejak semula bahwa tidak semua orang percaya kepada-Nya dan diselamatkan; karena untuk percaya, diperlukan juga keterlibatan kehendak bebas manusia. Maka kita yang percaya kepada-Nya dan Kristus yang diutus-Nya, disebut bahwa kita “dipilih” oleh Tuhan; bukan karena sejak semula Tuhan sudah menolak orang- orang tertentu, tetapi karena sudah sejak semula Allah sudah mengetahui bahwa kita akan menanggapi panggilan-Nya.

Selanjutnya tentang kehendak Allah ini (untuk dibedakan dengan ‘takdir’) silakan anda klik di sini.

2. Berikut ini adalah penjelasan ayat Yoh 15:16, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” (sumber: the Navarre Bible)

a. Bahwa panggilan yang diterima oleh para rasul dan kita semua sebagai umat Kristiani tidak berasal dari kehendak kita sendiri, tetapi berasal dari Tuhan Yesus yang memilih kita. Bukan para rasul itu yang memilih Yesus sebagai Sang Guru, seperti halnya seseorang memilih bagi dirinya sendiri seorang rabi/ guru; tetapi Yesus Kristuslah yang memilih mereka.

b. Misi para rasul dan misi kita umat beriman adalah untuk mengikuti Kristus, untuk mengejar kekudusan dan untuk bekerja mewartakan Injil.

c. Doa yang efektif adalah doa yang dinyatakan di dalam nama Yesus Kristus; oleh sebab itu, Gereja umumnya mengakhiri doa dalam liturgi dengan permohonan, “dalam nama/ melalui Yesus Kristus Tuhan kita….”

Maka ketiga hal ini berhubungan erat: doa sangat diperlukan dalam kehidupan Kristiani agar berbuah, sebab Tuhanlah yang memberikan pertumbuhan” (1 Kor 3:7) dan kewajiban untuk mengejar kekudusan dan untuk mejalankan tugas kerasulan adalah berhubungan dengan kenyataan bahwa Kristus sendirilah yang mempercayakan misi itu kepada kita.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Sepatu yang tinggal sebelah

18

Suatu hari, saat aku sedang membereskan dan membersihkan rak sepatu di rumah, aku menyadari ada sebuah sepatuku yang tak ada pasangannya. Padahal itu termasuk salah satu sepatu kesayanganku. Aku mencari-cari ke semua sudut lemari, tetapi pasangan dari sepatu yang masih bagus, utuh dan cukup cantik itu tetap tidak kutemukan. Mungkin ia terselip entah ke mana, lalu terbuang secara tak sengaja. Maklum teman-temannya sesama sepatu yang jumlahnya banyak itu berebut tempat dalam lemari. Aku merasa sayang sekali. Betapapun utuh, cantik, mahal, dan bagusnya sebuah sepatu, kalau pasangannya tidak ada, maka ia tidak berguna, hanya bisa dibuang ke tempat sampah karena fungsinya sebagai alas kaki sudah lenyap.

Aku mencari-cari ide apa yang bisa dimanfaatkan dari sepatu yang tinggal sebelah itu ya? Sayang banget karena masih bagus sekali, rasanya dibuat jadi hiasan pun tidak sesuai. Sepatu menurut fungsinya harus selalu sepasang, tidak bisa hanya sebuah.

Lalu sebuah pikiran yang menggelitik menyadarkan aku akan kehidupan kerohanian dan kemasyarakatan yang kulakukan selama ini. Terlibat dengan banyak pihak di Gereja, mengerjakan berbagai voluntary work untuk kegiatan rohani dan sosial secara online, terlibat dalam gerakan pro-life activity,  mengajar Sekolah Minggu, membantu kepengurusan komunitas Indonesia Katolik di kota aku tinggal saat ini, menyumbang secara rutin kepada anak asuh dan kaum miskin papa. Dari luar, semua itu tampaknya mulia dan indah. Tetapi kalau diteliti sampai ke dalam, apakah motivasiku melakukan semua perbuatan mulia itu? Kulakukan semata-mata untuk membalas cinta kasih Tuhan kepadaku ? Atau jangan-jangan hanya sebuah pelarian, sebuah kedok cantik untuk menutupi kekurangan-kekuranganku, atau justru sarana yang kuanggap efektif untuk mencari pujian dan kemuliaan diriku sendiri dari orang-orang di sekitarku? Aku menelan ludah…..glekk….

Aku bangkit berdiri sambil membawa sepatu tanpa pasangan itu dalam genggamanku. Saat itulah aku menyadari, bahwa seindah dan semulia apapun perbuatan yang kulakukan dengan hidupku di dunia ini, bila aku melakukannya tanpa Yesus di hatiku, tanpa hikmat keteladananNya, pengorbananNya, dan kerendahan hatiNya menjiwai latar belakang sepak terjangku, maka semua perbuatan indahku itu hanya akan sama saja dengan sepatu yang tidak ada pasangannya itu. Elok, utuh, mahal, dan masih berfungsi penuh. Tapi tidak ada pasangannya. Yah, mau diapakan lagi kalau tidak terus dilempar ke tempat sampah. Tanpa Yesus sebagai pasanganku, maka hidup dan pelayananku tidak banyak artinya lagi, bahkan mungkin hanya akan menjadi batu sandungan bagi orang lain, dan sumber keluh kesah orang-orang terdekat. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. (1 Korintus 13 : 3). Kasih itu adalah Dia, Tuhan Yesus Sang Putera Allah, yang kulayani, yang telah datang ke dunia untuk menyelamatkan dunia ini dari cengkeraman maut dan menyiraminya dengan kasih yang sejati. Kasih tanpa syarat.

Ingatanku melayang kepada pengalaman penyelenggaraan suatu acara kerohanian di Gereja yang kuketahui atau kudengar dari sesama. Atau  dalam suatu susunan organisasi dan kelompok kategorial di Gereja. Walaupun tidak sering, kegiatan dan aktivitas untuk Tuhan dan GerejaNya kadang tak luput dari sikap-sikap ingin menang sendiri, memaksakan kehendak, kesombongan rohani, gerutu dan gosip kepada sesama umat beriman. Bahkan sampai pada “perebutan” posisi dan jabatan tertentu yang dianggap jabatan kehormatan. Hatiku hanya mampu bertanya dalam keprihatinan, di manakah Yesus yang sedang kita semua layani ? Apakah kita sedang benar benar melayani kebutuhanNya ataukah kita sedang sibuk melayani kebutuhan-kebutuhan kita sendiri untuk tampil dan dihormati? Ke manakah teladan agungNya akan kasih tanpa pamrih dan kerendahan hati menguap dalam hiruk pikuk ego dan kesombongan manusiawi yang tidak dikendalikan?

Aku pun teringat akan anak-anak dan suami seorang teman yang protes karena sang ibu (dan sekaligus istri) sangat aktif di kegiatan Gereja sehingga mereka kadang merasa ditelantarkan. Bagaimanapun juga, melayani keluarga sesungguhnya adalah melayani Tuhan sendiri, sehingga selayaknya tugas dan perhatian untuk keluarga diprioritaskan oleh seorang ibu rumah tangga, sebelum banyak terjun ke pelayanan di Gereja. Memang hal ini sungguh memerlukan sikap batin yang terus menerus terarah kepada suara Tuhan. Supaya aku mampu memutuskan yang terbaik dan memprioritaskan apa yang menjadi tugas panggilanku yang terutama dari Tuhan. Keluarga adalah tugas dan ladang pelayanan yang pertama dan utama.

Demikianlah pilar terpenting pelayanan yang justru amat mudah terlupakan, ketika aku telah terbuai oleh rasa puas diri dan perasaan telah berbuat banyak bagi GerejaNya. Aku perlu sesekali berhenti sejenak dan bertanya, apakah aku telah cukup merenungkan apa yang sebenarnya Dia harapkan dan Dia butuhkan dari dan bagiku? Apakah aku sudah sungguh-sungguh mengenal Yesus dan semua aspirasiNya, melaksanakan kehendakNya dan mengesampingkan pertimbangan-pertimbanganku sendiri demi mengutamakan Dia, sehingga seluruh hidupku sudah menceritakan tentang kasihNya?

Pertimbangan dan keputusan manusiawi sangat rawan terhadap keadaan emosi yang dinamis di dalam peristiwa-peristiwa kehidupan. Misalnya kebiasaan menghakimi dan memberi label pada sesama, iri hati dan kedengkian yang sesungguhnya berakar dari kesombongan, atau penilaian-penilaian sempit dan sepihak lainnya, yang dipengaruhi dinamika relasi dengan sesama dan latar belakang pengalaman kehidupan.Tetapi hidup dan bekerja untuk Tuhan adalah hidup oleh dan karena kasih. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh (Galatia 5 : 25). Dan buah-buah Roh Kudus itu sangat jelas, pemeriksaan diri dan pemeriksaan motivasiku dalam melayani Dia dan sesama harus selalu diletakkan dalam terang buah-buah kekudusanNya itu. Aku akan segera tahu apakah aku masih berada di dalamNya atau sudah di luar dan hanya menuruti pertimbanganku sendiri, berdasarkan ini: Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu (Galatia 5 : 22-23). Dan ketika buah-buah itu ada padaku, aku harus memastikan bahwa semua itu bukan hasil usahaku, dan hanya akan terus mampu untuk menjadi sikap dasarku, bila aku melibatkan Dia, Sang Putera, yang telah diutus Bapa untuk selalu bersama kita, dan memimpin kita dengan seluruh hikmatNya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita (1 Yohanes 4 : 10).

Masih pula segar dalam ingatanku sebuah kisah seorang aktivis Gereja yang menemukan kekosongan dan perasaan jauh dari Tuhan. Karena begitu sibuk dalam pelayanan, kita sering menjadi lupa atau tak punya waktu lagi untuk diluangkan menjadi saat-saat pribadi dan intim buat bersama-sama dengan Tuhan dalam doa dan keheningan yang dipersembahkan khusus untukNya. Justru itulah sumber kekuatan yang sejati yang akan menggerakkan semua sepak terjang kita sesuai dengan kehendakNya. Waktu-waktu khusus, teratur, dan spesial, yang kusediakan bersama Tuhan dan untuk Tuhan, selayaknya menjadi kekuatan utama pelayananku. Bagaikan seorang sahabat yang kita ingin selalu berkontak dan sering-sering berhubungan karena kita sayang dan rindu, demikian juga frekuensi untuk selalu berusaha berjumpa dan berelasi dengan Dia melalui doa dan merenungkan FirmanNya adalah cermin seberapa penting dan berhargaNya Dia bagi seluruh gerak hidupku

Aku meletakkan sepatu kesayanganku yang tinggal sebelah itu di tempat di mana aku masih bisa melihatnya setiap saat. Hmm..untung masih ada gunanya juga ia, yaitu membantuku berefleksi. Aku memandanginya sambil membisikkan doa di dalam hatiku, “Yesus, aku tidak berarti apa-apa tanpa Engkau. Berjalanlah selalu di sisiku, jadi pemandu perjalanan budi pekertiku, penopang semua keputusan-keputusanku. Hanya bersama Engkau dan oleh karena Engkau, hidup dan pelayananku akan punya arti dan dapat berguna bagi kemuliaan KerajaanMu di dunia. Amin”. (uti)

Apakah Yesus pernah menulis?

9

Pertanyaan:

Yth. Katolisitas.
Ini adalah pertanyaan yang tidak penting buat aku tetapi jika memang boleh aku mohon kan saja penjelasannya…, sekali lagi jika berkenan…
—————————————————————
Yoh 8:8
Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.
—————————————————————
Apa yah yang ditulis Tuhan…??? Sebab tak aku temukan dalam Injil perihal apa yang ditulis…

Terima kasih
Syaloom… – Maximillian Reinhart

Jawaban:

Shalom Maximillian Reinhart,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang Yoh 8:8, yang mengatakan “Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.” Memang tidak ada yang tahu apa yang dituliskan Tuhan. Pertanyaan yang mungkin lebih penting adalah, mengapa Yesus tidak menuliskan pengajarannya dan apakah maksud Yesus menulis di tanah ketika orang-orang tersebut menanyakan kepada Yesus akan apa yang harus dilakukan terhadap perempuan yang tertangkap berbuat zinah. Dua hal inilah yang akan saya jawab.

1. Mengapa Kristus tidak menuliskan pengajaran-Nya?

Secara prinsip, St, Thomas Aquinas dalam Summa Theology, III, q.42, a.4 menerangkan bahwa Kristus tidak menuliskan apapun karena:

a. Berdasarkan martabat

Semakin sempurna seorang guru, maka semakin sempurna cara yang dilakukan dalam mengajar. Dan Kristus sebagai pengajar yang paling sempurna memberikan pengajarannya dengan menorehkannya pada hati para pendengarnya. Tulisan pada dasarnya adalah cara untuk mencapai tujuan akhir, yaitu menorehkan pesan tersebut pada hati pendengarnya. Kristus sebagai pengajar yang sempurna tidak memerlukan cara ini, namun langsung mencapai tujuan akhir. Matius menegaskan hal ini dengan mengatakan “sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.” (Mt 7:29).

b. Berdasarkan kesempuranaan pengajaran

Semakin sempurna pengajaran, maka semakin sulit untuk dituangkan dalam tulisan. Tulisan akan membatasi kedalaman pengajaran. Dan rasul Yohanes menegaskan “Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” (Yoh 21:25). Kita melihat, bahwa setelah St. Thomas diberikan suatu vision pada saat dia mempersembahkan misa, maka dia tidak mau melanjutkan tulisannya, karena merasa bahwa apa yang ditulisnya tidaklah berarti apa-apa dibandingkan dengan apa yang dilihat dan dialaminya pada saat mengalami vision. Bandingkan dengan Kristus yang mempunyai vision (beatific vision = melihat Allah muka dengan muka) sepanjang kehidupannya di dunia. Dan kalau Kristus menuliskan sesuatu, maka orang-orang hanya akan mempelajari yang tertulis tanpa menggali lebih dalam lagi pengajaran yang ingin disampaikan-Nya.

c. Berdasarkan keteraturan

Dengan tidak ada tulisan dari Kristus, maka pengajaran Kristus dapat mencapai semua orang dengan keteraturan, yaitu dimulai dari Kristus mengajarkan para muridnya, dan para muridnya mengajarkan orang-orang dengan tulisan dan kotbah. Kalau Kristus menuliskan pengajaran-Nya, maka pengajaran-Nya dapat langsung diterima oleh semua orang tanpa adanya peran para murid. Di sinilah kita melihat adanya prinsip partisipasi.

Namun, di satu sisi, Kristus menuliskan pengajaran-Nya lewat para murid. Para murid dengan inspirasi Roh Kudus menuliskan apa-apa yang dikatakan dan diajarkan oleh Kristus.

2. Mengapa Kristus menulis sesuatu di tanah?

Dan mengapa Kristus menuliskan di tanah pada Yoh 8:8? Kita dapat melihat bahwa dengan Yesus menuliskan di tanah, yang berarti ada suatu jeda atau waktu, maka menjadi suatu kesempatan bahwa masing-masing orang yang berkumpul di tempat tersebut untuk melihat ke dalam hati nurani masing-masing, apakah masing-masing dari mereka tidak pernah berdosa, sehingga mereka layak untuk menghukum wanita yang berdosa tersebut. Mungkin, dapat dikatakan pada saat Kristus menuliskan sesuatu di tanah, maka sebenarnya Dia menuliskan sesuatu di hati nurani masing-masing orang yang berkumpul di situ, sehingga setiap orang mendapatkan pengetahuan akan dirinya – yang juga berdosa. Dan pengetahuan yang benar akan diri sendiri yang berdosa, seharusnya menimbulkan belas kasihan kepada orang lain, yang juga berdosa.

Demikian jawaban yang dapat saya berikan dan semoga dapat berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab