[wpvideo tFnqC9XQ w=680]
VideoPress, especially as a video post format, usually provides some unique styling issues.
You will need to install Jetpack or Slim Jetpack plugin to turn the shortcode into a viewable video.
Learn more about WordPress Embeds.
Shalom Bu Ingrid,
Pertama-tama saya ingin menyampaikan kagum saya buat Bu Ingrid dan Pak Stef atas penjelasan – penjelasan yang disampaikan terhadap begitu banyak pertanyaan yang diajukan teristimewa yang berhubungan dengan iman. Saya sangat bersyukur menemukan website ini sehingga pengetahuan saya tentang iman Katolik saya sungguh diteguhkan. Sehingga sekarang saya sungguh merasakan sangat bangga menjadi seorang Katolik & lebih mencintai iman Katolik saya. Ternyata selama ini pengetahuan saya tentang ajaran Katolik adalah sangat-sangat minim. [Dari Katolisitas: kami edit.] Semoga team katolisitas dapat maju terus dalam mewartakan kasih Allah dan semakin banyak jiwa yang akan kembali kepangkuan gereja Katolik.
Dalam kesempatan ini juga, saya ingin mohon bantuan ibu bagaimana menjelaskan beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh teman dari Islam dimana dikatakannya sebagai “Firman lucu dalam Alkitab”. Ayat – ayat yang disorot adalah sbb :
1. Ul 14:21 Tuhan terkesan meracuni orang asing
2. Kej 3:8-10 Tuhan terkesan tidak tahu karena main petak umpet dengan Adam & Hawa
3. Kej 21:1-2 Tuhan mengauli Sara
4. Kej 6:6-7 Tuhan bisa menyesal & Pilu, bagaimana bisa ? Bukankah Tuhan Maha Kuasa ?
5. Kej 8:21 Bagaimana penulis bisa tahu Tuhan berfirman dalam hati ?
6. Yes 5:26 Tuhan bersuit ( sifat manusia )
7. Yer 25:30 Tuhan mengaum ( sifat binatang )
8. Yes 7:20 Tuhan mencukur
9. Yes 42:13-14 Tuhan memekik, mengerang, megap-megap
10. Hos 3:1 Tuhan menyuruh melacur
Demikian bu, mohon bantuannya yah. Terima kasih. Tuhan memberkati
Melati
Shalom Melati,
Sebelum saya menjawab pertanyaan- pertanyaan anda, ijinkan saya menyampaikan beberapa point ajaran Gereja Katolik tentang inspirasi dan kebenaran Kitab Suci, seperti yang tertulis dalam Katekismus Gereja Katolik:
KGK 105 Allah adalah penyebab [auctor] Kitab Suci. “Yang diwahyukan oleh Allah dan yang termuat serta tersedia dalam Kitab Suci telah ditulis dengan ilham Roh Kudus”…..
KGK 106 Allah memberi inspirasi kepada manusia penulis [auctor] Kitab Suci. “Tetapi dalam mengarang kitab-kitab suci itu Allah memilih orang-orang, yang digunakan-Nya sementara mereka memakai kecakapan dan kemampuan mereka sendiri, supaya – sementara Dia berkarya dalam dan melalui mereka – semua itu dan hanya itu yang dikehendaki-Nya sendiri dituliskan oleh mereka sebagai pengarang yang sungguh-sungguh.” (Dei Verbum 11)
KGK 109 Di dalam Kitab Suci Allah berbicara kepada manusia dengan cara manusia. Penafsir Kitab Suci harus menyelidiki dengan teliti, agar melihat, apa yang sebenarnya hendak dinyatakan para penulis suci, dan apa yang ingin diwahyukan Allah melalui kata-kata mereka (Bdk. Dei Verbum 12,1).
KGK 110 Untuk melacak maksud para penulis suci, hendaknya diperhatikan situasi zaman dan kebudayaan mereka, jenis sastra yang biasa pada waktu itu, serta cara berpikir, berbicara, dan berceritera yang umumnya digunakan pada zaman teks tertentu ditulis. “Sebab dengan cara yang berbeda-beda kebenaran dikemukakan dan diungkapkan dalam nas-nas yang dengan aneka cara bersifat historis, atau profetis, atau poetis, atau dengan jenis sastra lainnya” (Dei Verbum 12,2).
Jadi Kitab Suci memang dituliskan atas inspirasi dari Allah sendiri, namun Allah melibatkan kemampuan orang- orang pilihan-Nya untuk menuliskan Sabda-Nya melalui kata- kata manusia. Oleh karena itu, jenis sastra juga mempengaruhi ungkapan- ungkapan yang tercantum dalam Kitab Suci, entah itu bersifat historis, profetis atau puitis.
Selanjutnya dalam mengartikan suatu ayat yang sekilas terlihat ‘sulit’, kita harus melihat kaitannya dengan ayat- ayat yang lain dalam Kitab Suci. Katekismus mengajarkan agar dalam menginterpretasikan Kitab Suci maka kita harus:
KGK 112 1. Memperhatikan dengan saksama “isi dan kesatuan seluruh Kitab Suci“…
KGK 113 2. Membaca Kitab Suci dalam “Tradisi Suci yang hidup dari Gereja secara keseluruhan.”
KGK 114 3. Memperhatikan analogi iman.
Selanjutnya tentang topik prinsip menginterpretasikan Alkitab, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Secara khusus, lihatlah bagian sub-judul ‘Gaya bahasa’, yang menyebutkan penjelasan tentang gaya bahasa simili, metafor, perkiraan, fenomenologi, anthropormofis, hiperbolisme.
Sekarang mari melihat ayat- ayat yang anda tanyakan:
“Janganlah kamu memakan bangkai apapun, tetapi boleh kauberikan kepada pendatang yang di dalam tempatmu untuk dimakan, atau boleh kaujual kepada orang asing; sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu.”
Orang Israel dilarang untuk memakan hewan yang mati secara natural, bukan karena alasan kesehatan (higienitas), tetapi karena hewan tersebut dianggap ‘najis’ karena jika dimakan tanpa disembelih dahulu dengan ritual tertentu, maka ada resiko darah binatang yang masih ada di dalam daging bangkai tersebut menjadi termakan. Sedangkan bangsa Israel pada jaman PL dilarang untuk mengkonsumsi darah, karena pada darah diyakini ada nyawa (lih. Ul 12:23). Maka larangan untuk memakan hewan yang mati tanpa mereka sembelih ini berkaitan dengan perintah tersebut. Sedangkan secara keseluruhan larangan meminum darah pada PL ini adalah cara Allah mempersiapkan umat-Nya untuk menghargai makna ‘Darah Kristus Sang Anak Domba Paska’ yang justru kita minum, agar kita menerima rahmat ‘nyawa’/ kehidupan yang kekal (lih. Yoh 6:53-56).
Dengan demikian, tidak benar komentar teman anda itu yang mengatakan bahwa Allah sepertinya ingin meracuni orang asing. Allah memperbolehkan agar binatang yang mati secara natural itu diberikan kepada orang asing, karena mereka tidak terikat oleh hukum Musa tentang larangan minum darah tersebut.
“Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?”
Tentang hal ini sudah dibahas secara khusus di jawaban ini, silakan klik.
“TUHAN memperhatikan Sara, seperti yang difirmankan-Nya, dan TUHAN melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikan-Nya. Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya.”
Terus terang saja, saya tidak mengerti mengapa dari ayat tersebut di atas, lalu teman anda berkesimpulan bahwa Allah menggauli Sara. Ayat di atas sesungguhnya berhubungan dengan ayat dalam beberapa perikop sebelumnya, yaitu Kej 18:10-14, di mana Allah berjanji kepada Abraham dan Sara bahwa pada tahun berikutnya Sara akan melahirkan seorang anak laki- laki bagi Abraham. Pada saat mendengar janji ini Sara tertawa, karena menganggap tidak mungkin lagi baginya maupun Abraham untuk berhubungan suami istri karena mereka sudah tua. Namun Tuhan mengatakan, tidak ada yang mustahil bagi-Nya.
“maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. Berfirmanlah TUHAN,” Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu… sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.”
Pada perikop ini, dipergunakan gaya bahasa antropomorfis, yang artinya menggambarkan Allah dari perspektif manusia, atau menggunakan penggambaran yang umum digunakan oleh manusia. Gaya bahasa macam ini memang digunakan di dalam Alkitab, seperti yang nanti akan timbul lagi pada beberapa ayat yang anda tanyakan. (Silakan membaca kembali link di atas tentang prinsip menginterpretasikan Kitab Suci, terutama di bagian gaya bahasa. Karena dalam Kitab Suci, selain gaya bahasa antropomorfis/ personifikasi dipergunakan juga gaya bahasa simili, metafor, perkiraan/ prediksi, fenomenologi, dan hiperbolisme)
Maka jika dikatakan Allah menyesal, itu adalah untuk menggambarkan, bahwa jika manusia yang ada di posisi Allah, maka ia akan menyesal. Namun sebenarnya, Allah sendiri telah mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi, sebab Ia adalah Maha Tahu, sehingga keputusan-Nya tidak berubah. Tentang Allah yang tidak berubah ini disebutkan dalam Bil 23:19. Jadi ungkapan “Allah menyesal” ini adalah untuk menghubungkan akan apa yang kemungkinan dirasakan oleh Allah, jika ditinjau dari sudut pandang manusia.
Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia…. Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan.”
Teman anda mempertanyakan bagaimana penulis kitab Kejadian tersebut dapat mengetahui, jika Tuhan hanya berfirman dalam hati? Tentu bagi kita yang percaya bahwa Tuhan sendiri yang memberi inspirasi terhadap penulisan Kitab Suci ini, ini tidaklah menjadi masalah. Sebab penulis itu tidak menulis kitab dari dirinya sendiri, tetapi atas pewahyuan dari Allah. Jadi kalau Allah berfirman demikian di dalam Diri-Nya, dan Ia ingin agar firman ini diketahui oleh umat-Nya, maka Ia mewahyukan hal ini kepada sang penulis. Bahwa kemudian penulis mengatakan, “berfirmanlah Tuhan di dalam hati-Nya”; di sini kembali digunakan istilah antropomorfis (dihubungkan dengan istilah yang dipakai manusia), untuk menggambarkan bahwa firman itu dikatakan Allah di dalam Diri-Nya sendiri; karena jika ini terjadi pada manusia, manusia mengatakannya sebagai “berkata dalam hati”.
“Ia akan melambaikan panji-panji kepada bangsa yang dari jauh, dan akan bersuit memanggil mereka dari ujung bumi…. “
Teman anda bertanya, mengapa Allah dapat “bersuit”. Namun seperti telah dijabarkan di atas, di sini digunakan istilah antropomorfis untuk menggambarkan bahwa Allah sendirilah yang memanggil para bangsa dari segala ujung bumi. Di sini istilah “bersuit” adalah istilah yang sering dipergunakan oleh manusia, yaitu kepala pasukan pada saat mengumpulkan para prajuritnya; atau gembala, yang bersuit untuk memanggil kawanan ternaknya. Jadi istilah ini hanya untuk menunjukkan bahwa Allah sendirilah yang menjadi kepala, atau gembala, dari kawanan umat-Nya.
“…nubuatkanlah segala firman ini kepada mereka. Katakanlah kepada mereka: TUHAN akan… mengaum hebat terhadap tempat penggembalaan-Nya, suatu pekik, seperti yang dipekikkan pengirik-pengirik buah anggur, terhadap segenap penduduk bumi.”
Istilah “mengaum” di sini berhubungan dengan bagaimana Allah menjaga dan mengembalakan umat-Nya di Yerusalem dan Yehuda, suatu metafor tentang penggembalaan. Ia mengeluarkan “pekik” seperti halnya pekik para pengirik anggur/ para petani para waktu panen. Ini adalah penggambaran metafor tentang akhir dunia nanti, bahwa Pengadilan Terakhir bagi segenap manusia itu serupa dengan masa panen/ masa menuai di mana lalang akan dipisahkan dari gandum (lih. Mat 13:30).
“Pada hari itu dengan pisau cukur yang dipinjam dari seberang sungai Efrat, yakni raja Asyur, Tuhan akan mencukur kepala dan bulu paha, bahkan pisau itu akan melenyapkan janggut juga.”
Kembali di sini digunakan gaya bahasa antropomorfis, untuk menggambarkan bahwa Allah-lah yang memangkas umat-Nya di Yehuda, dengan menggunakan bangsa Babilonia atas pimpinan Raja Asyur. Lalu istilah mencukur kepala, bulu paha dan janggut, itu adalah istilah metafor/ perumpamaan yang menyatakan akan diusirnya bangsa Israel (seperti halnya rambut yang dipangkas). Hal ini diizinkan Allah terjadi, oleh karena mereka telah berdosa di hadapan Allah, seperti yang disebutkan dalam awal kitab Yesaya (lih. Yes 1). Maka ini merupakan nubuat kehancuran bangsa Israel karena invasi bangsa Asyur/ Babilonia 701 BC, di mana sekitar 200.150 orang Israel/ Yehuda dideportasi.
“TUHAN keluar berperang seperti pahlawan, seperti orang perang Ia membangkitkan semangat-Nya untuk bertempur; Ia bertempik sorak, ya, Ia memekik, terhadap musuh-musuh-Nya Ia membuktikan kepahlawanan-Nya. Aku membisu dari sejak dahulu kala, Aku berdiam diri, Aku menahan hati-Ku; sekarang Aku mau mengerang seperti perempuan yang melahirkan, Aku mau mengah-mengah dan megap-megap.”
Pada ayat ini, kembali yang digunakan adalah gaya bahasa antropormofis, untuk menggambarkan sifat Allah dengan istilah manusia. Dalam hal ini, yang ingin digambarkan adalah kesetiaan Allah untuk bertempur membela umat pilihan-Nya yang setia kepada-Nya, yang dipanggil-Nya untuk diselamatkan (lih. Yes 42: 6). Maka penggambaran sebagai seorang perempuan yang melahirkan adalah untuk menggambarkan betapa Allah sangat menantikan saatnya di mana Ia akan memuliakan kembali umat-Nya. Betapa Allah menghendaki kembalinya bangsa Israel, seperti seorang ibu menantikan kelahiran anaknya, dan berjuang untuk melahirkannya.
“Berfirmanlah TUHAN kepadaku: “Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti TUHAN juga mencintai orang Israel, sekalipun mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis.”
Teman anda menanyakan, mengapa Allah menyuruh Nabi Hosea melacur; padahal yang melacur itu adalah istrinya, dan bukan Nabi Hosea. Jadi ayat ini maksudnya adalah demikian: Bangsa Israel telah berpaling dari Allah, dengan menyembah allah- allah lain, seperti seorang istri yang telah berpaling dari suaminya. Supaya umat Israel memahami kesalahan mereka yang besar ini, Allah menyuruh nabi-Nya, Hosea, untuk menikahi seorang perempuan sundal (lih. Hos 1: 2). Setelah perempuan itu melahirkan anak- anak bagi Hosea, kembali perempuan itu menjadi tidak setia dan berpaling kepada para kekasihnya (lih. Hos 2:2-13). Namun, Hosea tidak dapat melupakan istrinya itu, sama seperti Allah mengasihi bangsa Israel, meskipun bangsa itu telah “melacur” dengan menyembah allah- allah lain yang disembah oleh bangsa- bangsa di Kanaan. Istilah “menyukai kue kismis” adalah istilah yang mengacu kepada para bangsa penyembah dewa Baal, seperti orang- orang Moab (lih. Yes 16:7). Terlihat di sini bahwa kisah Hosea bukan semata dongeng yang tidak masuk akal, tetapi justru sangat terkait dengan kehidupan bangsa Israel sendiri, yang memang pada waktu itu tidak setia kepada Allah.
Demikianlah sekilas yang dapat saya tuliskan tentang pertanyaan anda. Sebagai penutup saya ingin mengutip kembali apa yang diajarkan oleh Katekismus, tentang bagaimana kita harus menginterpretasikan Kitab Suci agar dapat kita mengerti maknanya:
KGK 111 Oleh karena Kitab Suci diilhami, maka masih ada satu prinsip lain yang tidak kurang pentingnya guna penafsiran yang tepat karena tanpa itu Kitab Suci akan tinggal huruf mati saja: “Akan tetapi Kitab Suci ditulis dalam Roh Kudus dan harus dibaca dan ditafsirkan dalam Roh Kudus itu juga” (Dei Verbum 12,3).
Artinya kita harus membaca dan menginterpretasikannya sesuai dengan tuntunan Roh Kudus yang sama, yang oleh-Nya kitab itu dituliskan. Jika Kitab Suci dibaca tanpa bimbingan Roh Kudus, maka kata- kata yang tercantum di sana hanya merupakan kata- kata belaka, yang bahkan terdengar ‘janggal’. Namun kalau dipelajari, direnungkan, dilihat kaitannya dengan ayat- ayat yang lain dalam Kitab Suci, maka kita dapat memahami maknanya, dan menemukan di dalamnya pesan yang hidup dari Allah sendiri. Maka penting bahwa sebelum membaca Kitab Suci kita harus berdoa terlebih dahulu. Tanpa doa dan asal membaca saja, dapat mengakibatkan kesalahpahaman, dan inilah yang harus kita hindari.
Semoga kita semua selalu terdorong untuk membaca dan merenungkan Kitab Suci dan senantiasa dibimbing oleh Roh Kudus agar mampu memahami maknanya.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Yth. Tay …
Aku ingin bertanya, hanya bertanya tidak mempertanyakan…
Synopsis, menulis mereka mengamati Yesus saat disalib dari kejauhan sementara hanya Yohanes yang menulis “dari dekat”…
Mari kita lihat bersama:
Matius
27:55 Dan ada di situ banyak perempuan yang MELIHAT DARI JAUH, yaitu perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus dari Galilea untuk melayani Dia.
27:56 Di antara mereka terdapat Maria Magdalena, dan Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus.
Markus
15:40 Ada juga beberapa perempuan yang MELIHAT DARI JAUH, di antaranya Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus Muda dan Yoses, serta Salome.
Lukas
23:49 Semua orang yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea, BERDIRI JAUH-JAUH dan melihat semuanya itu.
Yohanes
19:25 Dan DEKAT salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.
——————————————-
Pertanyaan:
1. Mana yang menjadi sebuah “pegangan kebenaran”?
2. Siapakah Yusuf dari Arimatea…?
Terima kasih yah…
Salam Damai Kristus…
Maximilian Reinhart
Shalom Maximilian Reinhart,
Maka pada ayat- ayat Kitab Suci dapat kita lihat adanya ungkapan penjabaran yang tidak persis sama antara yang dituliskan oleh pengarang Injil yang satu dengan yang lain. Salah satu contoh yang serupa dengan apa yang anda tanyakan adalah perbedaan ungkapan Matius dan Lukas pada saat menjabarkan keadaan tempat Yesus mengajarkan Delapan Sabda Bahagia. Matius mengatakan bahwa Yesus mengajarkannya di bukit (lih. Mat 5:1), sedang Lukas mengatakan, ‘pada suatu tempat yang datar’ (Luk 6:17).
Jika anda pernah ke Yerusalem (Holy Land) maka anda akan dapat menyaksikan perkiraan tempat di mana Yesus mengajarkan kedelapan Sabda Bahagia itu, karena di sana dibangun sebuah gedung gereja. Gereja itu memang terletak di bukit (yang disebut bukit Tabgha). Maka tempat itu dapat dikatakan ‘di bukit’ jika kita melihat dari bawah. Namun begitu kita sampai di atas bukit itu, maka kita akan melihat suatu tempat yang relatif datar di sana. Di tempat itulah Yesus mengajarkan Delapan Sabda Bahagia (Mat 5, Luk 17, 20-26). Dengan demikian kita melihat bahwa kedua ekspresi yang disampaikan oleh Matius dan Lukas tersebut sama- sama ada benarnya, walaupun sepintas terlihat bertentangan.
Yang disebut sebagai ‘perempuan-perempuan yang melihat dari jauh’ menurut Injil Matius dan Markus adalah perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus, di antaranya disebutkan namanya, yaitu Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Yusuf (atau disebut juga Yoses) dan ibu anak-anak Zebedeus. Sedangkan Injil Lukas tidak menyebutkan nama, hanya mengatakan informasi secara umum bahwa semua orang yang mengenal Yesus berdiri jauh-jauh namun melihat semuanya itu. Maka, jika diperhatikan, tidak disebutkan secara khusus di ayat-ayat tersebut (di Injil Matius Markus dan Lukas), nama Maria ibu Yesus dan Yohanes Rasul. Injil Yohanes-lah yang menulis secara lebih jelas, tentang di manakah mereka berdiri, yaitu di dekat salib Yesus. Kesaksian ini benar, sebab yang menulis Injil Yohanes adalah Yohanes sendiri yang saat itu berdiri di dekat salib Yesus. Perihal bahwa nama Yesus dan Maria tidak disebutkan oleh Injil yang lain, dapat dimengerti, sebab kemungkinan semua orang yang lainnya berdiri tidak sedekat Yohanes dan Maria terhadap salib Yesus.
Maka harus diakui bahwa hal “jauh” atau “dekat” ini merupakan sesuatu yang relatif. Sebab yang pasti berada di dekat salib Yesus adalah para prajurit yang pada waktu itu menyalibkan Yesus, mengundi jubah Yesus, dan duduk di situ (di dekat salib) untuk menjaga Dia (lih. Mat 27:35-36; Luk 23:34). Maka, jika dibandingkan dengan prajurit itu, memang mungkin saja Bunda Maria dan Rasul Yohanes berdiri lebih jauh. Harap dicatat bahwa kemungkinan pada saat itu Matius, Petrus dan para rasul lainnya berada dalam bilangan orang banyak yang berdiri menyaksikan kejadian penyaliban Yesus dari jauh. Sehingga Matius menuliskan bahwa Bunda Maria dan Yohanes yang berdiri tidak jauh dari mereka, sebagai “melihat dari jauh” (Mat 27:55). Demikian pula Markus yang merekam pengajaran Rasul Petrus, juga menuliskannya demikian.
Namun kita mengetahui bahwa Injil Yohanes dituliskan oleh Rasul Yohanes, dan Rasul Yohanes dan Bunda Maria berdiri cukup dekat pada salib Yesus. Kita ketahui bahwa jarak antara mereka dan salib Yesus, haruslah relatif dekat, agar mereka dapat mendengarkan apa yang menjadi pesan Yesus yang terakhir kepada Yohanes dan Bunda Maria.
Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. (Yoh 19:25-27)
Jadi dalam hal ini ungkapan dari keempat pengarang Injil tersebut semuanya dapat dikatakan benar; sebab memang penggambaran situasi di sana tergantung dari pengamatan sang penulis. Di Yerusalem sendiri kita melihat bahwa bukit Golgota relatif bukan merupakan bukit yang besar/ luas, sehingga ukuran jauh dan dekat menjadi sangat tergantung dari bagaimana kita melihatnya.
3. Siapakah Yusuf dari Arimathea?
Yusuf dari Arimathea adalah seorang Yahudi yang kaya yang menyumbangkan tanah kuburan miliknya untuk menjadi makam Yesus, setelah Dia wafat disalib. Matius (Mat 27:57) dan Lukas (Luk 23:50) menyebutnya sebagai seorang bouleutes, yang artinya adalah “senator/ penasehat”, sehingga diartikan bahwa ia adalah salah satu anggota dari Majelis Besar/Sanhedrin. Yusuf ini adalah pengikut Yesus, walaupun dilakukannya dengan sembunyi- sembunyi. Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan Majelis/ Sanhedrin (Luk 24:23:51), dan kemungkinan besar ia absen dalam pertemuan yang menjatuhi Yesus dengan hukuman mati (lih. Mrk 14:64).
Markus menyebutkan tentang dia sebagai berikut, “Karena itu Yusuf, orang Arimatea, seorang anggota Majelis Besar yang terkemuka, yang juga menanti-nantikan Kerajaan Allah, memberanikan diri menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus.” (Mat 15:43. Sedangkan menurut Yohanes, “Sesudah itu Yusuf dari Arimatea–ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi–meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu.” (Yoh 19:38)
Begitu mendapat izin dari Pilatus, Yusuf membeli kain lenan (Mrk 15:46) dan ke bukit Golgota untuk menurunkannya dari salib. Di sana ia dibantu oleh Nikodemus. Setelah menurunkan Yesus dari salib, mereka membungkus-Nya dengan kain tersebut dengan wangi- wangian minyak mur dan minyak gaharu (Yoh 19:39). Yesus kemudian dibawa ke sebuah kubur baru milik Yusuf, yang merupakan sebuah gua dari bukit batu, yang terletak di sebuah taman yang terletak di dekat rumahnya. (Mat 27:59-60; Mrk 15:46;Luk 23:53; Yoh 19:38-42).
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Untuk setiap poin yang saya tuliskan dan diambil dari Alkitab alangkah baiknya jika dikatakan bukan atas perkataan saya. Sebab saya hanya menulis apa yang telah terilham oleh para penulis kitab suci.
Dan untuk bahasan mengenai Agama Universal..
inilah penjelasan saya..
Agama Universal…
Anda menuliskan bahwa Agama adalah suatu ikatan antara manusia dengan Tuhan.
Agama adalah sesuatu yang mengikat seseorang dengan apa yang dipercayainya(Tuhan)
Lalu apakah kemanusiaan kita tidak mengikat kita pada Allah yang menciptakan kita segambar denganNya?
Saya tidak mengatakan bahwa Tidak ada Protestan, Tidak ada Katolik, Tidak ada Koptik.
Tapi yang ingin saya tekankan adalah..
Jangan batasi diri kita dengan identitas agama, suku bangsa, dan kelahiran.
Jangan batasi diri kita untuk mengasihi satu sama lain dengan apa yang paling kita sakralkan dan oleh karenanya kita bahkan sanggup saling membunuh, menjatuhkan dan menghina..yaitu AGAMA.
Saya mengatakan Agama Universal..
Karena secara Universal keagamaan kita adalah Kemanusiaan kita..
Karena kita manusialah maka Kristus datang…
Agar kita kembali pada kemanusiaan kita.
Kembali pada citra awal kita..”
Dan kedatangan Kristus ke dunia bukan saja misi kemanusiaan/ penyembuhan belaka..
Tapi juga misi Keselamatan..
Oleh Karena itu saya mengatakan bahwa Agama Universal kita adalah Kemanusiaan dan jalan keselamatan kita adalah Yesus Kristus.
Karena pada dasarnya yang mengikatkan diri saya pada Tuhan adalah kemanusiaan saya bukan?
tidak ada yang akan selamat karena menjalankan Taurat, tapi yang selamat adalah yang menerima Kristus sebagai Juruselamatnya.
Dan karena itulah saya juga menekankan bagi setiap umat kristiani untuk lebih Fokus kepada ajaran Kristus, mengenali siapakah Kristus, dan apakah yang Kristus ingin kita lakukan.
Demikianlah saya kembali menekankan bahwa saya tidak akan menjadi kaum Farisi yang mengklaim Bait Allah di Yerusalem tapi menolak seorang yang dirampok.
Tapi saya akan menjadi seorang Samaria yang mencari keselamatan melalui kehendak Kristus di Dunia, yaitu menolong seseorang yang bahkan menganggap rendah dirinya, bangsanya dan kepercayaannya.
Karena sesungguhnya bagi seorang Samaria, kemanusiaan adalah agamanya..
Agama yang mengikatkan dirinya kepada sang pencipta.
Agama yang menghapuskan batas identitas egoisme dan bukan keimanan.
Karena iman berbeda dengan agama..”
Salam..
^_^ Yunan Nabhan
Shalom Yunan Nabhan,
Izinkan saya mengutip apa itu definisi agama:
“In its widest sense the union of man with God. Objectively, it consists in doctrines and precepts by which man seeks to bring about this union. Religion is true when its doctrines and precepts are either dictated by right reason or revealed by God; if the former, it is called natural religion, if the latter, supernatural religion. Religion is false if, when claiming to be revealed, it is unable to show a divine guarantee, or when its dogmas and practises sin against right reason and conscience. Subjectively, religion is the attitude of the man who rules his thoughts, words, and actions according to right reason and revelation. In this latter sense religion is a special virtue allied to justice, because it prompts man to render to God what is due Him by strict right from His rational creatures. As such, religion is a strict obligation incumbent on every man. It is also the means by which man is to work out his final destiny.” (Sumber: 1909 Catholic Dictionary)
Maka agama memang adalah sesuatu yang mengikat (binding) antara manusia dengan Tuhan yang mempersatukan antara Allah dan manusia. Karena ada dua pihak yang terlibat dalam persatuan ini, maka hakekat ikatan ini (binding/ religat) ini tidak dapat dilihat dari satu arah saja. Dengan demikian, walaupun kemanusiaan memang mengikat kita dengan Allah- karena kita diciptakan oleh Allah sesuai dengan gambaran-Nya; namun kita tidak dapat membatasi agama hanya terbatas kepada kemanusiaan. Sebab, hal kemanusiaan baru menyangkut sisi manusia, namun belum dari sisi Allah. Dari sisi Allah, kita harus juga melihat awal dan tujuan akhir penciptaan manusia, yaitu bahwa manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Manusia diciptakan Allah karena Allah ingin menyampaikan kemuliaan-Nya kepada manusia, dan setelah manusia berdosa, Allah ingin memulihkannya dan membawanya kembali kepada persatuan dengan-Nya dalam kemuliaan-Nya. Untuk ini, Allah telah memberikan jalannya, yaitu melalui Yesus Kristus; dan ini kita ketahui dari Wahyu Ilahi yang dinyatakan oleh Allah sendiri kepada manusia. Untuk segala kebaikan dan kasih-Nya ini, maka Allah layak menerima segala penyembahan dan ucapan syukur kita; dan penyembahan kepada Allah yang sesuai dengan apa yang diwahyukan-Nya inilah yang disebut ‘agama’.
Oleh karena itu, agama (religion) yang mengikat kita dengan Allah tidak dapat hanya diartikan sebagai kemanusiaan. Sebab kemanusiaan itu tidak hanya mengikat kita dengan Allah, tetapi juga dengan sesama manusia. Jika kemanusiaan adalah agama, maka dengan sendirinya kita mensejajarkan Tuhan dengan sesama manusia; dan ini tidaklah benar. Yang benar menurut firman Tuhan sendiri, adalah kita harus menempatkan Tuhan terlebih dahulu di atas segala sesuatu, mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan, dan baru sesudah itu mengasihi sesama, demi kasih kita kepada Tuhan. Inilah sebabnya, dalam hukum kasih yang diajarkan Yesus, kasih kepada Allah ditempatkan lebih dulu daripada kasih kepada sesama (lih. Mat 22: 34- 40; Mrk 12: 28-34, Luk 10:25-28). Ini juga sesuai dengan tingkatan dalam kesepuluh Pertintah Allah; di mana tiga perintah pertama berhubungan dengan kasih kepada Allah dan perintah ke- empat sampai ke sepuluh, berhubungan dengan kasih kepada sesama (lih. Kel 20).
Dalam Summa Theology, Bab II-II, q.81, a.1, ia mengajarkan demikian:
….”agama terdiri dari pelayanan persembahan dan ritus- ritus upacara yang ditujukan kepada sebuah kodrat yang mengatasi segala sesuatu, yang disebut orang sebagai Sang Ilahi.”
….. seperti dikatakan oleh Isidore (Etym X), “menurut Cicero, seseorang dikatakan religius, berdasarkan kata ‘religio‘, sebab ia sering merenungkan dan sepertinya membaca kembali (relegit), segala sesuatu yang berkenaan dengan penyembahan kepada Tuhan, “maka agama (religion) kelihatannya memperoleh namanya dari pembacaan kembali segala sesuatu yang berkenaan dengan penyembahan Ilahi, sebab kita harus kerap kali merenungkan tentang hal- hal itu di dalam hati kita, seperti disebutkan dalam Ams 3:6, “Akuilah Dia dalam segala lakumu.” [“In all thy ways think on Him.”]. Menurut St. Agustinus (De Civ. Dei x, 3), kata agama diperoleh dari fakta bahwa “kita harus mencari Tuhan kembali (reeligere), karena kita telah kehilangan Dia oleh karena kealpa-an (negligere) kita” [St. Agustinus melihat asal kata ‘reeligere‘, yaitu untuk memilih kembali, dan ‘negligere‘, yaitu alpa/ khilaf.] Atau juga, agama dapat berasal dari kata “religare” [untuk mengikat bersama], di mana St. Agustinus mengatakan (De Vera Relig. 55): “Semoga agama mengikat kita dengan Tuhan Maha Besar yang Esa.” Maka, entah agama diartikan sebagai “pembacaan kembali” ataupun “pemilihan kembali” ataupun sebagai sebuah “ikatan”, agama menunjukkan sebuah hubungan dengan Tuhan. Sebab adalah Ia [Tuhan] yang kepada-Nya kita harus terikat sebagai prinsip yang tidak mungkin gagal; yang kepada-Nya pilihan kita harus diarahkan sebagai tujuan akhir kita; dan yang akan Dia kita kehilangan, saat kita menolak Dia oleh karena dosa, dan harus dipulihkan dengan iman kepercayaan di dalam Dia dan pengakuan iman kita.
….Agama mempunyai dua jenis kegiatan. Beberapa kegiatan merupakan kegiatan- kegiatan langsung, yang timbul darinya [agama], yang olehnya manusia diarahkan kepada Tuhan saja, contohnya, kurban, penyembahan dan hal- hal lain serupa dengan itu. Tetapi agama juga mempunyai kegiatan- kegiatan lain, yang dihasilkannya melalui media kebajikan- kebajikan yang diperintahkannya, untuk mengarahkan mereka kepada penghormatan terhadap Tuhan, sebab kebajikan yang berkenaan dengan tujuan akhir memerintah kebajikan- kebajikan yang berkenaan dengan cara/ sarananya. Oleh karena itu, “untuk mengunjungi para yatim piatu dan janda- janda dalam kesukaran mereka” adalah kegiatan agama sebagai perintah, dan kegiatan belas kasihan sebagai kegiatan yang diperoleh darinya [agama]; dan “untuk menjaga diri tanpa cela dari dunia ini” adalah kegiatan agama sebagai perintah, tetapi pengendalian diri dan kebajikan- kebajikan lainnya adalah kebajikan yang diperoleh daripadanya [agama].
….[Maka] agama mengacu kepada hal- hal yang dinyatakan oleh seseorang kepada sesamanya, jika kita mengambil istilah agama dalam arti luas, tetapi tidak demikian jika kita mengartikan agama dalam arti yang sesungguhnya…. “
Dengan uraian di atas, terlihat bahwa kemanusiaan/ kasih kepada sesama merupakan sesuatu yang terjadi sebagai akibat dari kasih kepada Tuhan. Perihal bagaimana ajaran Gereja Katolik tentang agama, dapat dibaca dalam dokumen ajaran Dominus Iesus, silakan klik, dan yang ringkasan dan penjelasannya sudah pernah dituliskan di sini, silakan klik. Kita memang tidak dapat membatasi kasih kita kepada sesama dengan memandang agama, suku bangsa atau budaya. Tetapi sebaliknya, kitapun tidak dapat mengatakan bahwa agama kita adalah kemanusiaan, karena kemanusiaan tidak sama artinya dengan agama. Walaupun demikian, benarlah bahwa agama mempunyai andil yang besar untuk membangun kemanusiaan; sebab semakin seseorang menghayati agamanya, seharusnya ia menjadi semakin mengasihi sesamanya manusia, secara universal/ tanpa pandang bulu.
Mari sekarang kita melihat definisi iman. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr 11:1). dalam iman, akal budi dan kehendak manusia bekerja sama dengan rahmat Ilahi (KGK, 155). Lebih jauh St. Thomas mengatakan bahwa “Iman adalah satu kegiatan akal budi yang menerima kebenaran ilahi atas perintah kehendak yang digerakkan oleh Allah dengan perantaraan rahmat” (ST, II-II, q.2, a.9). Jadi iman adalah merupakan kegiatan akal budi, dimana kita bekerja sama dengan rahmat Allah, sehingga kita dapat menjawab panggilan-Nya dan percaya akan apa yang difirmankan-Nya. Namun kepercayaan ini bukan hanya asal percaya, atau percaya berdasarkan perasaan saja. Iman dapat didefinisikan sebagai suatu persetujuan akal budi yang kokoh kepada kebenaran, yang bukan berdasarkan perasaan, namun berdasarkan kesaksian saksi. Artinya kalau seseorang masih ragu-ragu akan kebenaran tersebut, maka dapat dikatakan ia belum sungguh-sungguh beriman. Dan saksi di dalam kebajikan ilahi iman adalah Tuhan sendiri, yang bersaksi dengan perantaraan para nabi, dan akhirnya Tuhan sendiri menjelma menjadi manusia, yang selanjutnya karya-Nya diteruskan oleh Gereja Katolik. Jadi seseorang beriman dengan benar, kalau seseorang telah melihat imannya berdasarkan motive of credibility, yang keterangannya dapat di baca di artikel berikut, di bagian akhir.
Demikian, Yunan, tanggapan yang dapat saya tuliskan berdasarkan ajaran Gereja Katolik, terhadap pernyataan anda. Semoga dapat juga menjadi masukan bagi anda.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Tuhan Yesus, Penyelamatku,
engkau memilih untuk mati di kayu salib untuk menghapus dosa umat manusia. Aku menerima dengan tenang dari tangan Tuhan, apapun cara kematian yang diizinkan Allah agar terjadi padaku, termasuk segala kesakitannya, kesedihan dan penderitaan yang menghantarku ke sana. Semoga aku, melalui rahmat-Mu, dapat kembali kepada-Mu dengan pertobatan yang sempurna, sekarang ini, dan di saat ajalku.
Bunda Maria yang terberkati,
Aku memohon agar engkau mendoakan aku sekarang dan pada saat aku mati. Semoga oleh doamu, Tuhan berkenan memberikan rahmat-Nya kepadaku agar aku dapat mempersiapkan kematianku setiap hari.
St. Yusuf, Santo pelindung dalam hal kematian yang membahagiakan, Engkau diberkati dengan kematian yang membahagiakan di dalam pelukan Yesus dan Bunda Maria. Doakanlah aku agar akupun dapat memperoleh rahmat Tuhan, supaya akupun dapat mati dalam pelukan Yesus dan Bunda Maria.
Ya Tuhan, kumohon agar Engkau mendukungku dan semua orang beriman, sepanjang hari sampai pada akhirnya, ketika senja datang, dan kesibukan dunia terhenti dan kehidupan yang hiruk pikuk ini berlalu, dan pekerjaan kami telah selesai. Dan dalam belas kasihan-Mu, kumohon Engkau memberikan tempat kediaman yang aman dan istirahat yang kekal dan kudus dan kedamaian abadi pada akhirnya.
O Tuhanku, yang berkuasa atas hidup dan maut, oleh kehendak-Mu dan keadilan-Mu, Engkau menentukan bahwa semua manusia yang berdosa harus wafat dan beralih dari dunia ini. Lihatlah kepadaku yang berlutut di hadapan-Mu, berserah diri atas kehendak dan hukum keadilan-Mu. Dengan segenap hatiku, Aku menolak segala dosa- dosaku di masa yang lalu. Untuk alasan ini, aku menerima kematian sebagai silih atas segala dosaku, dan di dalam ketaatanku akan apa yang menjadi kehendak-Mu.
Sementara menunggu saat ajalku, bantulah aku untuk menggunakan kesempatan yang telah Engkau berikan kepadaku dengan sebaik- baiknya, untuk melepaskan diriku dari keterikatan terhadap dunia ini, untuk memutuskan belenggu apapun yang mengikatku dengan dunia ini, dan untuk mempersiapkan diriku untuk berdiri dengan pengharapan dan keyakinan yang teguh di hadapan tahta pengadilan-Mu. Karena itu, aku menyerahkan diriku tanpa syarat ke dalam tangan-Mu. Terjadilah kehendak-Mu, sekarang dan selama- lamanya.
Amin.