Link:
Audio shortcode:
Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada Tuhan, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya yang Mahatinggi, untuk memberitakan kasih setia-Mu di waktu pagi, dan kesetiaan-Mu di waktu malam, dengan bunyi-bunyian sepuluh tali dan dengan gambus. Dengan iringan kecapi. Sebab telah Kaubuat aku bersukacita, ya Tuhan, dengan pekerjaan-Mu, karena perbuatan tangan-Mu aku akan bersorak sorai (Mazmur 92 : 2 – 5)
Terlambat memang tidak enak, karena efek negatifnya bisa sambung menyambung. Pagi tadi saya terlambat mengejar bis nomor 26 yang berangkat setiap pukul delapan lebih dua puluh tujuh menit, walau saya sudah berlari-lari dengan tas bergantung di pundak. Bis nomor 26 adalah bis yang akan membawa saya ke tempat kursus saya sehari-hari. Keterlambatan itu sebenarnya akibat berantai dari keterlambatan saya keluar dari rumah, untuk menaiki trem pukul delapan lebih duapuluh yang akan membawa saya sampai di stasiun bis tepat pukul delapan dua puluh lima. Dalam keadaan tidak terlambat, saya masih punya dua menit untuk berjalan ke platform bis nomor 26, dan saya akan sampai di kelas saya sebelum dimulai pukul sembilan tepat. Kelas saya memang selalu dimulai sangat tepat waktu. Bila sejak keluar rumah saya sudah terlambat, saya harus naik trem di jadwal lima menit berikutnya dan saya hanya bisa berdoa bis no 26 berangkat sedikit terlambat, yang sayangnya hal itu jarang terjadi. Terlambat masuk ke dalam kelas menimbulkan rasa jengah bagi diri sendiri dan mengusik konsentrasi teman-teman yang sudah berada di dalam kelas. Saya juga akan kehilangan petunjuk-petunjuk penting dari pembicara berkaitan sistem yang akan dipakainya saat mengajar atau tugas yang nanti akan diberikan. Dan rentetan kerugian ini masih bisa saya lanjutkan. Bekal makan siang yang saya siapkan secara terburu-buru tidak sempat saya tutup dengan baik di dalam kotaknya, sehingga ketika saya mengejar bis yang melaju, sebagian isinya tumpah di dalam tas dan mengotori tas kesayangan saya. Semuanya berawal dari terlambat keluar dari rumah.
Tentu saja waktu yang tersedia bagi saya tidak perlu sesempit itu, bila saya melakukan antisipasi waktu yang cukup sejak berangkat dari rumah, yaitu selalu mengusahakan untuk keluar rumah sejak pukul delapan tepat atau kurang. Ada sesuatu yang membuat antisipasi yang seharusnya saya lakukan itu gagal, yaitu kebiasaan menunda. Menunda untuk melakukan hal yang penting dan kegagalan memprioritaskan hal yang paling penting. Menunda, terutama hal-hal yang bersifat rutinitas dan kewajiban, apalagi bila hal itu sebuah pekerjaan yang memerlukan pengorbanan, memang godaan yang sering saya hadapi. Sebuah kegiatan yang kita sukai seringkali membuat kita menunda melakukan hal lain yang penting yang seharusnya kita prioritaskan untuk dikerjakan. Kecenderungan ini ditangkap di dalam Amsal 6 : 10, “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring”.
Memang bukan mengantuk atau berlambat-lambat bangun dari tempat tidur yang membuat saya terlambat. Menempatkan prioritas kegiatan sangat berperan. Bila saya memilih untuk tidak membuka email atau Facebook, melihat foto teman-teman masa SMA yang baru saja mengadakan reuni, dan memilih segera mematikan komputer untuk segera bersiap berangkat, kemungkinan besar tidak akan ada adegan mengejar bis yang sudah terlanjur bergerak meninggalkan stasiun. Keputusan untuk bangkit dari kursi dan mematikan komputer atau menunda membuka internet di pagi hari adalah sebuah keputusan besar yang harus dibuat kebanyakan manusia di jaman komunikasi maya ini. Bila saya tidak segera mengambil keputusan tentang hal ini, waktu-waktu bersama keluarga dan bahkan waktu-waktu yang seharusnya menjadi milik Tuhan dalam doa pribadi menjadi taruhannya. Kemampuan mengatur waktu dan menempatkan prioritas perlu terus menerus saya pelajari di dalam pergerakan tekonologi komunikasi dan pergaulan dunia maya yang berkembang dengan luar biasa pesat selama sepuluh tahun terakhir. Facebook dan email dengan cepat telah menggantikan waktu-waktu doa pribadi di awal hari, atau merenggut kebersamaan bercengkerama bersama suami dan anak-anak. Sebuah terobosan teknologi komunikasi yang nyaris memutus komunikasi dengan orang terdekat di dalam keluarga. Ia mendekatkan teman yang terpisah waktu dan jarak. Tetapi kalau tidak hati-hati, ia juga sekaligus menjauhkan orang-orang yang berada di samping kita, yang seharusnya menjadi perhatian kita yang paling utama.
Bila hal-hal yang kita sukai atau yang kita anggap penting lebih mendominasi perhatian dan waktu kita daripada hal-hal yang seharusnya kita kerjakan dan itu menyangkut waktu-waktu doa, maka kebiasaan menunda menjadi serius. Mungkin ada kesalahan menempatkan prioritas di sana. Beberapa teman yang saya jumpai dalam sebuah kelompok doa bercerita bahwa mereka seringkali “merasa” tidak punya waktu untuk berdoa dan sejenak merenungkan Firman Tuhan sekalipun mereka ingin. Rasanya sulit sekali memasukkan waktu doa rutin ke dalam jadwal harian yang telah begitu padat dan mereka mengharapkan ada lebih dari 24 jam per hari supaya mereka lebih bisa mempunyai waktu luang untuk berdoa. Itulah masalahnya,mencari waktu luang untuk berdoa. Menunda sampai kita merasa semua pekerjaan sudah selesai untuk mulai berdoa. Tidakkah seharusnya berdoa dan menyediakan waktu khusus untuk Tuhan menjadi prioritas nomor satu yang mendahului kegiatan yang lain ? Kedekatan relasi yang kita bangun bersama Tuhan akan berbeda bila kita berdoa dan membaca FirmanNya di saat seluruh tubuh masih segar dan kondisi prima, dibandingkan kalau kita menempatkannya di waktu yang tersisa dari kegiatan rutin kita saat mata telah berat dan badan telah lunglai siap untuk tidur. Maka waktu untuk berdoa sesungguhnya bukan dicari, tetapi diciptakan. Bentuk lain dari menunda adalah mengatakan pada diri sendiri, besok saya akan berdoa lebih baik dan menyediakan waktu khusus, karena hari ini saya sudah lelah sekali dan saya berjanji besok akan lebih baik. Bandingkan jika saya mengatakan demikian, hari esok belum menjadi milik saya, satu-satunya yang saya miliki adalah hari ini, saat ini. Maka saya akan berdoa sekarang juga, saat ini juga, dan begitulah kita katakan hal itu setiap hari, sehingga kita menjadikannya kebiasaan. Jika kita memilih sikap yang kedua,kita akan mendapati diri kita telah berhasil mempunyai waktu doa yang khusus sambil merenungkan FirmanNya di setiap hari.
Tuhan tidak pernah menunda-nunda berkatNya karena cintaNya kepada kita. Tuhan yang memberi kita hidup, Dia yang mengajarkan arti hidup karena cinta, oleh cinta, dan dalam cinta. Sesungguhnya Dia jugalah Pihak yang pertama kali menangis bersama kita saat kita menghadapi kepedihan dan penderitaan hidup. Dia sudah sepantasnya mendapat waktu yang terbaik dari seluruh hari, karena Dia jugalah yang telah memberikan kita hari dan kesehatan untuk melaluinya. Namun itulah cinta Tuhan. Dia tidak pernah menuntut. Dia menunggu kita memutuskan untuk memberikan waktu kita kepadaNya dengan kesadaran, kebebasan, dan cinta. Bukan dengan terpaksa atau karena sekedar merasakannya sebagai kewajiban dan rutinitas.
Seberapa pentingnya Tuhan dalam hidup saya juga tercermin dalam menghadiri perayaan Ekaristi. Alangkah baiknya berusaha untuk datang beberapa menit sebelum Misa dimulai, supaya bisa berdoa dan menyapaNya terlebih dulu secara cukup. Bahkan meluangkan waktu khusus di rumah sebelum berangkat untuk bersiap-siap secara rohani supaya saya sungguh siap dan layak berjumpa denganNya. Maka tidak menunda dan cermat menempatkan prioritas menjadi sangat penting dalam relasi saya dengan Tuhan. Seperti halnya penundaan saya berangkat ke tempat kursus membuat saya mengalami berbagai kerugian berantai, menunda waktu-waktu doa dan menunda membangun relasi yang intim dengan Tuhan membuahkan kerugian berantai yang mungkin tidak saya duga sebelumnya. Jika tiba-tiba saya mendapati hati dipenuhi iri hati, dendam, kurang belaskasihan, menghakimi, malas, korupsi waktu dan uang, hilangnya damai sejahtera dalam relasi dengan sesama, maka itulah saatnya saya perlu mengenali mungkin ada suatu penundaan serius yang sedang saya lakukan. Itulah saatnya saya datang kepada Tuhan tanpa menunda lagi. Saya jadi teringat kata-kata dari seorang kudus, saya lupa nama beliau, ini pesannya: “Orang-orang yang selalu berdoa sulit untuk jatuh ke dalam dosa. Sebab doa yang tak jemu-jemu menghindarkan kita dari kecenderungan untuk berbuat dosa.” (uti)
Shalom segenap penulis dan pengurus katolisitas.org,
Saya ingin mengajukan pertanyaan seputar suara hati nurani. Saya mengetahui tentang hati nurani sejak kurang lebih 8 tahun yang lalu dan saya sudah merasakan banyak sekali yang berubah dalam diri saya sejak saya mengenal suara hati saya , namun saya memiliki sejumlah perdebatan.
1. Hingga kini, saya selalu dapat berkomunikasi dengan suara hati saya tidak hanya dalam doa tetapi dalam aktifitas sehari – hari. Apakah ini wajar ?
2. Saya ingin mengetahui lebih jelas tentang bagaimana bentuk dari suara hati itu sendiri. Suara hati yang saya dengar menyerupai suara saya, dan dia membicarakan dan memberikan pengetahuan seputar segala sesuatu dalam hidup saya .Apakah benar suara hati dapat membimbing pengembangan kepribadian seseorang atau dia hanya terbatas ke moralitas saja?
3. Apakah suara hati mempunyai tingkatan – tingkatan? Jika ada, bagaimana cara supaya saya dapat meningkatkannya?
4. Saya selalu ragu dan hingga saat ini saya tidak pernah membiarkan suara hati saya memberikan keputusan dan mengikutinya dengan yakin karena takut tersesat. Apa yang mesti saya lakukan?
Sebagai gambaran, saya mendapatkan semua hal ini dari hasil diskusi saya dengan suara hati: kasih (waktu pertama kali saya mengenal suara hati), tentang iman, harapan, rajin, keberanian, kerendahan hati, berdoa, dan membantu saya memahami tentang apa yang biasanya diajarkan dalam kitab suci, hingga membuat saya dapat mengendalikan emosi saya, mengubah pola pikir saya menjadi lebih dewasa, membantu saya menetapkan tujuan dan mandiri serta membantu saya mengenal tahap – tahap rencana yang diberikan Tuhan lewat penggalian pengalaman yang saya dapatkan.
Terima kasih atas tanggapannya.
Yosh
Shalom Yosh,
Sebelum saya menjawab pertanyaan anda, saya menganjurkan anda untuk membaca Katekismus Gereja Katolik, yang menjabarkan tentang suara hati, yaitu KGK nomor 1776 sampai dengan 1802.
Berikut ini saya sertakan beberapa kutipannya:
1. Pengertian suara hati/ hati nurani:
KGK 1778 Hati nurani adalah keputusan akal budi, di mana manusia mengerti apakah satu perbuatan konkret yang ia rencanakan, sedang laksanakan, atau sudah laksanakan, baik atau buruk secara moral. Dalam segala sesuatu yang ia katakan atau lakukan, manusia berkewajiban mengikuti dengan seksama apa yang ia tahu, bahwa itu benar dan tepat. Oleh keputusan hati nurani manusia mendengar dan mengenal penetapan hukum ilahi.
2. Hati nurani merupakan hukum yang diberikan oleh Allah dalam hati manusia.
KGK 1776 “Di lubuk hati nuraninya manusia menemukan hukum, yang tidak diterimanya dari dirinya sendiri, tetapi harus ditaatinya. Suara hati itu selalu menyerukan kepadanya untuk mencintai dan melaksanakan apa yang baik, dan untuk menghindari apa yang jahat. Bilamana perlu, suara itu menggemakan dalam lubuk hatinya: jauhkanlah ini, elakkanlah itu. Sebab dalam hatinya manusia menemukan hukum yang ditulis oleh Allah. Martabatnya ialah mematuhi hukum itu,… Hati nurani ialah inti manusia yang paling rahasia, sanggar sucinya; di situ ia seorang diri bersama Allah, yang sapaan-Nya menggema dalam batinnya” (Gaudium et Spes 16)
3. Gunanya suara hati adalah untuk memimpin manusia untuk berbuat baik dan menghindari berbuat jahat.
KGK 1777 Di dalam lubuk hati seseorang bekerjalah hati nurani (Bdk. Rm 2:14-16). Pada waktu tertentu ia memberi perintah untuk melakukan yang baik dan mengelakkan yang jahat. Ia juga menilai keputusan konkret, di mana ia menyetujui yang baik dan menolak yang jahat (Bdk. Rm 1:32). Ia memberi kesaksian tentang kebenaran dalam hubungan dengan kebaikan tertinggi, yaitu Allah, oleh siapa manusia ditarik, dan hukum-hukum Siapa manusia terima. Kalau ia mendengar hati nuraninya, manusia yang bijaksana dapat mendengar suara Allah, yang berbicara di dalamnya.
4. Hati nurani itu dibentuk oleh pengetahuan yang kita dapat, sehingga pendidikan hati nurani merupakan tugas seumur hidup. Sabda Tuhan merupakan Terang yang membentuk suara hati, yang harus kita terapkan dalam hidup kita dalam iman dan doa, oleh bimbingan Roh Kudus, dibantu oleh kesaksian ataupun nasihat orang lain dan juga oleh pengajaran Gereja.
KGK 1783 Hati nurani harus dibentuk dan keputusan moral harus diterangi. Hati nurani yang dibentuk baik dapat memutuskan secara tepat dan benar. Dalam keputusannya ia mengikuti akal budi dan berorientasi pada kebaikan yang benar, yang dikehendaki oleh kebijaksanaan Pencipta. Bagi kita manusia yang takluk kepada pengaruh-pengaruh yang buruk dan selalu digoda untuk mendahulukan kepentingan sendiri dan menolak ajaran pimpinan Gereja, pembentukan hati nurani itu mutlak perlu.
KGK 1784 Pembentukan hati nurani adalah suatu tugas seumur hidup. Sudah sejak tahun-tahun pertama ia membimbing seorang anak untuk mengerti dan menghayati hukum batin yang ditangkap oleh hati nurani. Satu pendidikan yang bijaksana mendorong menuju sikap yang berorientasi pada kebajikan. Ia memberi perlindungan terhadap dan membebaskan dari perasaan takut, dari cinta diri dan kesombongan, dari perasaan bersalah yang palsu, dan rasa puas dengan diri sendiri, yang semuanya dapat timbul oleh kelemahan dan kesalahan manusia. Pembentukan hati nurani menjamin kebebasan dan mengantar menuju kedamaian hati.
KGK 1785 Dalam pembentukan hati nurani, Sabda Allah adalah terang di jalan kita. Dalam iman dan doa kita harus menjadikannya milik kita dan melaksanakannya. Kita juga harus menguji hati nurani kita dengan memandang ke salib Tuhan. Sementara itu kita dibantu oleh anugerah Roh Kudus dan kesaksian serta nasihat orang lain dan dibimbing oleh ajaran pimpinan Gereja (Bdk. Dignitatis Humanae 14)
5. Prinsip utamanya: Apa yang kamu ingin agar orang lain berbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. (Mat 7:12)
KGK 1789 Dalam segala hal berlaku peraturan-peraturan berikut:
Tidak pernah diperbolehkan melakukan hal yang jahat, supaya hal yang baik dapat timbul darinya.
“Kaidah emas”: “segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, berbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat 7:12).
Cinta kasih Kristen selalu menghargai sesama dan hati nuraninya. “Jika engkau berdosa terhadap saudara-saudaramu… dan melukai hati nurani mereka yang lemah engkau pada hakikatnya berdosa terhadap Kristus” (1 Kor 8:12).“Tidak baik? melakukan sesuatu yang menjadi batu sandungan bagi saudaramu” (Rm 14:21).
6. Hati nurani bisa salah karena ketidaktahuan yang tak terhindari; dalam keadaan ini orang tersebut tidak bersalah. Namun ketidaktahuan juga dapat disebabkan oleh ketidakpedulian orang itu sendiri; dan dalam kondisi ini orang itu bersalah.
KGK 1790 Manusia selalu harus mengikuti keputusan yang pasti dari hati nuraninya. Kalau ia dengan sengaja bertindak melawannya, ia menghukum diri sendiri. Tetapi dapat juga terjadi bahwa karena ketidaktahuan, hati nurani membuat keputusan yang keliru mengenai tindakan yang orang rencanakan atau sudah lakukan.
KGK 1791 Sering kali manusia yang bersangkutan itu sendiri turut menyebabkan ketidaktahuan ini, karena ia “tidak peduli untuk mencari apa yang benar serta baik, dan karena kebiasaan berdosa hati nuraninya lambat laun hampir menjadi buta” (Gaudium et Spes 16). Dalam hal ini ia bertanggungjawab atas yang jahat, yang ia lakukan.
7. Agar dapat mendengarkan suara hati, kita harus mengenal hatinya sendiri dan rajin memeriksa batin.
KGK 1779 Supaya dapat mendengarkan dan mengikuti suara hati nurani, orang harus mengenal hatinya sendiri. Upaya mencari kehidupan batin menjadi lebih penting lagi, karena kehidupan sering kali mengalihkan perhatian kita dari setiap pertimbangan, dari pemeriksaan diri atau dari introspeksi. “Masuklah ke dalam hati nuranimu dan tanyakanlah dia! … Masuklah ke dalam batinmu saudara-saudara! Dan di dalam segala sesuatu yang kamu lakukan, berusahalah agar Allah adalah saksimu” (Agustinus, ep. Jo. 8,9).
Sekarang setelah membaca beberapa prinsip di atas, berikut ini saya menjawab pertanyaan anda:
1. Apakah wajar untuk berkomunikasi dengan suara hati dalam aktivitas sehari- hari, tidak hanya pada saat berdoa?
Jawabnya adalah ya. St. Agustinus mengajarkan bahwa agar dalam bertindak dan memutuskan segala sesuatu, kita dapat bertanya kepada hati nurani. Ini seolah bertanya kepada diri sendiri: jika Tuhan Yesus sekarang ada di hadapan kita, apakah yang akan kita lakukan/ putuskan/ katakan? Dengan demikian kita mempunyai kesadaran bahwa kita melakukan segala sesuatu dengan Allah sebagai saksinya.
Pemeriksaan batin ini memang dapat dilakukan kapan saja, namun minimal dilakukan sekali pada malam hari pada doa malam. Pemeriksaan batin ini adalah untuk melihat kembali apakah hal- hal negatif dan positif yang telah kita lakukan, dan perbaikan apakah yang akan kita lakukan di waktu yang akan datang jika kita telah melakukan kesalahan, atau apakah yang dapat ditingkatkan, jika yang dilakukan sudah baik.
2. Seperti apakah suara hati?
Suara hati/ hati nurani, itu merupakan keputusan akal budi untuk menentukan hal yang baik/ benar dan buruk dari setiap tindakan kita. Sedangkan moralitas, dari bahasa Latin, ‘moralities’ artinya cara, karakter, tingkah laku yang wajar, sehingga berkaitan dengan sistem tingkah laku yang mempunyai nilai kebajikan. Nah, sekarang, kepribadian seseorang terbentuk dari segala sikap dan tindakan yang sejalan dengan nilai- nilai kebajikan atau yang malah bertentangan dengan nilai- nilai kebajikan tersebut. Jadi, sebenarnya tidak bisa kita memisahkan kepribadian dengan moralitas. Karena keduanya berhubungan erat, sebab kita dapat dikatakan mempunyai kepribadian yang baik jika perbuatan- perbuatan kita menunjukkan kualitas moral yang baik. Untuk mencapai hal ini, peran suara hati sangatlah penting, yaitu untuk membantu kita memutuskan segala hal sesuai dengan akal sehat dan sesuai dengan hukum Tuhan.
3. Apakah suara hati memiliki tingkatan? Bagaimana meningkatlannya?
Tidak ada tingkatan dalam suara hati; yang ada adalah tingkatan pada kemampuan dari kita masing- masing untuk memahami suara hati/ hati nurani. Karena jika seseorang tidak pernah meluangkan waktu untuk memeriksa batin, maka akan sulit baginya untuk mengenal suara hatinya. Atau, jika seseorang tidak mempunyai kepedulian untuk membentuk suara hatinya agar sesuai dengan Sabda Tuhan, maka hati nuraninya dapat salah, sehingga walaupun ia mengikuti suara hatinya, namun keputusannya dapat menjadi keputusan yang keliru dan belum tentu baik secara moral.
Maka untuk meningkatkan kemampuan untuk mengenal hati nurani, yang terbaik adalah dengan meningkatkan frekuensi pemeriksaan batin (lebih dari sekali sehari), dan meningkatkan kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari- hari. Ini dapat dicapai melalui: 1) kehidupan rohani yang baik, dalam doa dan merenungkan Sabda Tuhan, 2) pengajaran Magisterium Gereja Katolik; dan 3) bimbingan dari pembimbing rohani yang telah dewasa imannya dan mempunyai pengetahuan yang benar tentang Sabda Tuhan dan ajaran Gereja.
4. Apa yang mesti dilakukan supaya tidak tersesat jika mengikuti suara hati?
Yang pertama- tama harus dilakukan adalah membentuk hati nurani kita agar sesuai dengan Sabda Tuhan, sebagaimana yang diajarkan oleh Kristus dan para Rasul. Untuk ini, kita perlu: 1) membaca Kitab Suci dan merenungkannya; 2) mempelajari ajaran Gereja, sehingga kita dapat yakin bahwa interpretasi akan ajaran tersebut tidak didasari atas pandangan manusia yang dapat salah/ sesat, tetapi atas Kebenaran Allah yang tidak mungkin salah/ sesat.
Kedua, luangkan waktu untuk memeriksa batin dalam suasana doa dengan pimpinan Roh Kudus. Sebab tanpa pemeriksaan batin yang baik, seseorang dapat salah menyangka, bahwa suara hati itu dari Allah, padahal berasal dari keinginan diri sendiri. Peran pembimbing rohani sangat penting; carilah seorang bapa pengakuan, sedapat mungkin, imam yang sama, yang di hadapannya anda mengaku dosa kepada Tuhan secara teratur dalam Sakramen Tobat.
Ketiga, belajarlah dari pengalaman para orang kudus. Silakan membaca kisah riwayat hidup orang kudus, untuk belajar bagaimana caranya mengikuti suara hati/ hati nurani, yang menghantar kepada kesempurnaan iman, pengharapan dan kasih.
Adalah sesuatu yang baik jika semenjak anda rajin memeriksa batin dan mendengarkan hati nurani, kehidupan rohani maupun kepribadian anda menjadi semakin baik. Selanjutnya, tingkatkanlah pengenalan akan kehendak Tuhan dalam hidup anda, dengan semakin mengenal hati nurani anda sendiri yang akan membantu anda untuk melaksanakannya.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
salam kasih
mengikuti misa lebih dari empat tahun saya memperhatikan dan saya pun melakukannya, mengapa tidak ada satu jemaat pun yang bawa alkitab? apakah jemaat sudah mempercayakan perkatan firman Tuhan kepada magisterium? sehingga tidak perlu bawa alkitab?kenapa kotbah misa selalu membicarakan tentang kasih, tolong menolong atau lebih banyak kepada pemberitaan moral? saya masih beruntung bangun pagi atau malamnya masih membaca alkitab sehingga saya lebih puas.
Riswan Adrian
Shalom Riswan,
1. Kalau anda mau membawa Kitab Suci ke gereja pada saat Misa Kudus, itu adalah sesuatu yang baik. Silakan anda melakukannya. Kalau di gereja saya, Kitab Suci disediakan di belakang gereja, jadi umat dapat turut ‘meminjam’ dan membacanya, pada saat liturgi Sabda. Tetapi sebenarnya, yang terbaik adalah anda membaca dan merenungkan bacaan Kitab Suci yang akan dibacakan dalam Misa Kudus, sebelum anda mengikuti Misa Kudus. Misalnya, sebelum anda mengikuti Misa hari Minggu anda sudah membaca dan merenungkan bacaan Misa Kudus pada hari Sabtu malam atau dalam doa pribadi anda di pagi hari Minggu sebelum Misa. Ini adalah salah satu cara mempersiapkan diri untuk mengikuti Misa Kudus, supaya anda dapat lebih menghayatinya. Cara membaca dan merenungkan Kitab Suci yang diajarkan oleh Gereja Katolik di antaranya adalah dengan Lectio Divina, seperti yang pernah dituliskan di sini, silakan klik.
Sungguh, jika anda sudah melakukan hal ini, maka pada hari Minggu, walaupun anda tidak membawa Alkitab ke Misa, namun Sabda Tuhan itu sudah meresap di dalam hati anda. Homili yang akan anda terima akan jadi semacam peneguhan atupun tambahan yang memperkaya pemahaman anda akan teks Kitab Suci yang sudah anda renungkan. Tentang langkah selanjutnya untuk mempersiapkan diri sebelum mengikuti Misa Kudus, silakan klik di sini.
Untuk mengetahui bacaan Misa Kudus untuk setiap hari, silakan klik di kalender liturgi. Atau di situs ini, silakan klik.
2. Jadi jika umat Katolik tidak membawa Alkitab pada Misa Kudus, tentu bukan karena Alkitab itu tidak penting bagi umat, ataupun karena firman Tuhan itu hanya untuk Magisterium. Lha, ini pandangan yang keliru. Sebab Gereja Katolik dalam Katekismus mengajarkan:
KGK 133 Gereja “menasihati seluruh umat Kristen dengan sangat, agar melalui pembacaan Kitab Suci Ilahi yang kerap dilakukan, sampai kepada ‘pengenalan Yesus Kristus secara menonjol’ (Flp 3:8). ‘Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus’ (Hieronimus, Is. prol.)” (Dei Verbum 25).
Mungkin terjemahan bahasa Inggrisnya lebih jelas, demikian:
CCC 133 The Church “forcefully and specifically exhorts all the Christian faithful…. to learn ‘the surpassing knowledge of Jesus Christ,’ by frequent reading of the divine Scriptures. ‘Ignorance of the Scriptures is ignorance of Christ’ ” (Dei Verbum 25).
Maka umat diajarkan untuk membaca dan merenungkan Kitab Suci. Kalau ada orang Katolik yang tidak rajin membaca Kitab Suci, itu adalah kesalahan di pihak orang tersebut; dan bukan karena Gereja Katolik menyetujui demikian. Bahwa kerinduan untuk membaca dan merenungkan Kitab Suci itu harus ‘digalakkan’ di tengah umat, itu benar. Dan untuk ini perlu didorong juga oleh pastur paroki dan seksi Kitab Suci dan Katekese di paroki maupun wilayah, ataupun kegiatan komunitas yang lain seperti Pendalaman Kitab Suci, Kursus Evangelisasi ataupun Persekutuan Doa.
Jika umat tidak membawa Kitab Suci pada saat Misa, namun ia sudah merenungkannya di rumah, itu malah efeknya terhadap kehidupan kerohanian lebih besar daripada membawa Kitab Suci ke gereja, tapi sebelumnya belum membacanya. Silakan anda terapkan anjuran ini, dan alamilah perbedaannya. Selanjutnya, memang Gereja Katolik menganjurkan agar umat Katolik membaca Kitab Suci dengan terang Roh Kudus yang sama dengan terang Roh Kudus pada saat kitab itu dituliskan, sehingga di sini bimbingan dari Magisterium sangatlah penting; karena Magisterium menjelaskan segala ajaran yang berkaitan dengan iman dan moral sesuai dengan pengajaran para Rasul dan para Bapa Gereja dari abad- abad awal. Ini penting, supaya ajaran Gereja tidak didasari oleh pemahaman pribadi, karena pemahaman pribadi bisa salah atau tidak sesuai dengan maksud Yesus dan para rasul.
Jika anda membaca artikel Romo Wanta tentang homili, maka anda ketahui bahwa memang fokus dari homili adalah mengaitkan pesan Kitab Suci dengan kehidupan sehari- hari. Jadi memang fokus utamanya tentang penerapan hukum kasih. Walau kedengarannya klise, tetapi sejujurnya, meskipun sudah diingatkan terus setiap minggu kita masih sering gagal berbuat kasih (dalam setiap perbuatan dan perkataan kita), apalagi kalau tidak diingatkan.
3. Jadi kalau anda sudah membaca dan merenungkan Kitab Suci tiap pagi dan malam hari, itu adalah sesuatu yang sangat baik. Silakan anda mengajak istri (dan anak anda juga) untuk membaca Alkitab bersama anda. Belilah buku Kitab Suci bergambar untuk anak- anak, dan mulailah membacakan kisah Kitab Suci kepada anak anda sebelum tidur. Kecintaan anak terhadap firman Tuhan dimulai saat masih kecil, dan anda sebagai kepala keluarga dipercaya oleh Tuhan untuk melakukan hal ini. Selanjutnya, laksanakanlah peran anda sebagai ‘imam’ dalam keluarga anda, dengan berdoa bersama dengan istri dan anak anda, minimal satu kali sehari (misal pada malam hari sebelum tidur), namun alangkah baik juga di saat pagi, maupun sebelum dan sesudah makan. Biasakanlah untuk berdoa bersama sebagai keluarga, di samping anda berdoa secara pribadi.
Mother Teresa pernah mengajarkan demikian, “A family who prays together will stay together.” Jadikanlah doa sebagi pondasi dalam kehidupan rohani keluarga anda, maka anda dapat yakin, bahwa walau ada ‘badai’ melanda bahtera rumah tangga, namun anda sekeluarga akan kuat menghadapinya, dan selalu bersatu, karena Tuhan ada di pihak anda.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Tema aktual yang sering dibicarakan di komisi seminari dan juga komisi liturgi adalah homili. Bagi komisi seminari menyiapkan para calon imam agar kelak menjadi imam yang memiliki ketrampilan dalam mewartakan sabda Tuhan adalah tugas utama. Terlebih ketika imam bertugas sebagai seorang pemimpin liturgi. Sebagai pemimpin liturgi seorang imam dituntut bukan hanya tahu tentang sikap liturgis, cara membawakan upacara liturgi dengan baik tetapi terlebih juga cara memaklumkan Sabda Tuhan. Bagian ini sering kurang disiapkan secara baik sejak seminari menengah dan tinggi. Mungkinkah dibuat kerjasama lintas komisi, dalam hal ini komisi seminari dan komisi liturgi berkolaborasi-bersinergi menyiapkan calon imam sebagai pengkotbah sejak dini di seminari menengah. Bagaimana bentuknya?
Apa tugas khas dari imam, yang tidak dimiliki oleh umat lain? Kanon 757 menyatakan: “Tugas dari imam-imam yang adalah rekan kerja para Uskup ialah memaklumkan Injil Allah; terutama para Pastor Paroki dan mereka yang diserahi tugas reksa jiwa-jiwa, mempunyai kewajiban ini terhadap umat yang dipercayakan kepada mereka; juga para diakon, dalam persatuan dengan Uskup dan Presbyteriumnya, harus mengabdi umat Allah dalam pelayanan sabda”. Teks ini mau menyatakan bahwa tugas pokok dan bersifat khas bagi seorang imam adalah memaklumkan-mewartakan Injil Allah. Tugas mewartakan Sabda Allah itu merupakan pelaksanaan pewartaan sabda dan secara konkrit melalui kegiatan homili saat perayaan ekaristi. “Diantara bentuk-bentuk kotbah, homililah yang paling unggul yang adalah bagian dari liturgi itu sendiri” (bdk. kan. 767). Jadi homili adalah bagian integral dari perayaan ekaristi (bdk. SC, 35,52; PUMR, 29). Maka kegiatan homili atau kotbah dalam perayaan ekaristi tidak bisa lepas dari tugas pokok seorang imam yakni mengajar umat. Melalui liturgi khususnya Perayaan Ekaristi – kaum beriman dimampukan untuk mengungkapkan dalam kehidupan mereka serta memperlihatkan kepada orang-orang lain misteri Yesus Kristus dan hakekat asli dari Gereja yang sejati (bdk. SC, 2).
Homili adalah sebuah pewartaan yang mengisahkan atau bercerita tentang kisah Yesus dalam perayaan Ekaristi. Untuk dapat bercerita tentang Yesus kita perlu memiliki pengalaman pribadi berjumpa dengan Yesus, mengalami pribadi Yesus. Cerita tentang Yesus akan efektif, kalau cerita itu keluar dari pengalaman hidup pribadi kita; sebab orang lebih percaya kepada kesaksian hidup daripada sekedar berkata-kata (bdk. 1Yoh 1:1-4; EN, 41; EA, 42). Dengan bercerita tentang Yesus, kita mengungkapkan identitas diri kita sebagai umat kristiani (umat Katolik); dan kita tidak boleh menyembunyikan diri kita sebagai murid-murid-Nya. Dengan berada bersama dengan orang-orang sebangsa, yang dirundung kemiskinan dan hidup dalam pluralitas agama dan kebudayaan, kita menjadi sungguh-sungguh katolik dan sungguh-sungguh warga Indonesia. Dengan “berbuat” bagi mereka yang dirundung kemiskinan, dan hidup dalam pluralitas budaya dan agama, kita semakin menjadi Kristiani. Maka dalam homili yang tidak lepas dari kenyataan hidup konkrit umat, perlulah diperhatikan konteksnya (pendengarnya).
Dimensi kontekstualisasi homili dalam perayaan ekaristi sangatlah penting. Umat merasakan kekuatan dari Sabda Tuhan, jika Sabda yang menjadi warta homili menyentuh kehidupan konkrit; jika Sabda Tuhan mengubah perilaku hidup manusia sehingga kehidupan nyata menjadi sejahtera dan damai. Itulah panggilan dasar Gereja yakni menjadi terang bagi bangsa-bangsa (bdk. Lumen Gentium, 1). Gereja menerima perutusan untuk mewartakan Kerajaan Kristus dan Kerajaan Allah dan mendirikannya di tengah bangsa-bangsa (bdk. Lumen Gentium, 5). Sementara Gereja membantu dunia atau menerima banyak dari dunia, yang menjadi tujuan satu-satunya adalah datangnya Kerajaan Allah serta terwujudnya keselamatan bagi seluruh umat manusia (bdk. Gaudium et Spes, 45). Kontekstualisasi homili juga melihat kehidupan masyarakat yang ditandai dengan pluralitas agama dan budaya, serta mayoritas penduduknya hidup dalam kemiskinan. Karena itu hidup menggereja dilakukan lewat dialog antar umat beragama, berinkulturasi dan pembebasan manusia yang seutuhnya dan menyeluruh aspek bidang kehidupan (bdk. FABC I, 1974; V, 1990). Homili hendaknya menjadi suara kenabian ketika masyarakat menawari praksis “yang kuat yang menang, yang bermodal besar (kaum kapitalis) menguasai yang tidak bermodal kaum miskin)”. Kita sebagai Gereja perlu memperlihatkan baik melalui perkataan maupun perbuatan bahwa “yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir harus didahulukan.” (bdk. Nota Pastoral: Keadaban Publik, KWI 2004, art. 18.1). Ketika masyarakat digiring untuk menyembah uang, Gereja perlu bersaksi dengan mewartakan Allah yang solider, penuh kasih dan kerahiman. Melalui homili sebagai bentuk komunikasi iman dalam perayaan, kita dapat mengajak umat beriman untuk melihat kehidupan dalam terang Sabda Tuhan, dan melakukan pertobatan.
Menyiapkan homili tidaklah mudah, perlu ketekunan dan keseriusan. Bagi seorang pewarta Sabda Tuhan, diperlukan satu minggu untuk menyiapkan Homili jika hal itu dilakukan oleh Pastor Paroki yang setiap minggu harus memberi homili pada perayaan ekaristi bersama umat. Calon imam belajar memberikan homili di dalam misa kelompok di rumah bina. Komisi liturgi memberikan panduan sederhana bagaimana berhomili yang baik? Di bawah ini cara menyiapkan homili yang mungkin berguna bagi para pewarta sabda Tuhan. Persiapan menyampaikan homili terbagi dalam 2 tahap: persiapan jarak jauh dan jarak dekat.
Persiapan jarak jauh: meliputi tiga tahap (1) renungan pribadi: melakukan permenungan atas bacaan Sabda Tuhan dengan tertulis yang menjadi inspirasi homili, (2) hidup kerohanian pribadi yang mendalam, yang dimaksudkan adalah sebagai pewarta sabda Tuhan hendaknya memiliki hidup rohani yang matang, memiliki kebiasaan berdoa dan membaca sabda Tuhan dalam Kitab Suci, (3) kepribadian dari si homilist (pembawa homili): sangatlah menentukan. Di sini dibutuhkan integritas kepribadian dari si pewarta sabda Tuhan. Apa yang saya katakan, juga saya lakukan, berhomili berarti juga mengandung tuntutan untuk melakukannya.
Persiapan jarak dekat: (a) membaca dan merenungkan Sabda Tuhan, (b) menentukan satu tema berdasarkan hasil permenungan, (c) mendengarkan konteks penerima (audiens), (d) membaca sumber tambahan (dapat diambil dari ajaran Gereja, nota pastoral, (e) kesesuaian dengan ajaran Kitab Suci dan Gereja, (f) menyusun draft homili, (g) membawakan homili: menentukan metode, sarana, berdoa sebelum kotbah dan mendengarkan gerakan Roh apa yang hendak homilist katakan kepada umat.
Mungkinkah terjalin kerjasama lintas komini seminari dan liturgi dalam menyiapkan calon imam agar menjadi homilist yang unggul? Kerjasama terjalin jika sejak seminari menengah diberikan pelajaran pengajaran tentang liturgi sebagai komunikasi sabda (komunikaturgi). Liturgi adalah perwujudan iman dalam upacara tapi sekaligus sebuah komunikasi iman. Sejak seminari menengah diajarkan tentang menulis renungan singkat dan dibawakan kepada teman-teman sendiri. Komisi Liturgi keuskupan dan para dosen liturgi sudah saatnya memberikan pengajaran tentang homili sejak di seminari menengah. Bagi seminari tinggi agar para frater diajarkan bagaimana: menggali kekayaan sabda Tuhan dengan pelbagai metode tafsir kitab suci yang praktis untuk umat, bagaimana berkomunikasi yang benar dalam ruang publik (public speaking dan public appearance), bagaimana menata integritas kepribadian homilist agar kata menjadi tindakan konkrit? Bagaimana komisi seminari dan komisi liturgi membuat buku-buku panduan tema dan gagasan homili mingguan dengan bahasa sederhana untuk calon imam seminari menengah dan tinggi?
Shalom Romo, Bpk Stefanus Tay & Bu Inggrid Listiati,
dari hati yang paling dalam Surya amat sangat bersyukur adanya website ini yang buanyak menggali pengetahuan, sharing, dan pandangan bijak dari teman-teman seiman, terlebih dipandu oleh pasutri Stefanus Tay & Inggrid Listiati.
Ada beberapa hal yang Surya mau ungkapkan disini, diantaranya adalah sebagai berikut :
Liturgi Sabda
seringkali homili yang disampaikan kurang persiapan bahkan banyak yang saya jumpai isi homili mengambil dari standard baku dari buku homili tahun A,B,C.
sepertinya kurang mendapat perhatian bahwa Sabda Tuhan yang disampaikan bertujuan membangun umat untuk lebih mengenal dan merenungkan serta dapat di implementasikan dalam hidupnya sehari-hari. (baca Roma 10:17).
Bu Inggrid, keseragaman dalam misa ekaristi dalam bagian liturgi sabda ini menurut saya “membatasi Roh Tuhan” bekerja. Saya pernah bertanya dan mendapat jawaban dari seorang Pastur bahwa ada aturan dalam penyampaian homili yaitu :
* 5 menit pertama = Pastur menceritakan ulang isi bacaan pertama,kedua,dan bacaan Injil
* 5 menit kedua = Pastur jelaskan maksud dari bacaan pertama,kedua,dan bacaan Injil
* 5 menit kedua = Pastur menyampaikan pesan-pesan sesuai korelasi dengan isi bacaan 1,2,bacaan Injil
sering didengungkan bahkan menjadi suatu ‘kebanggaan semu’ bahwa gereja katholik di seluruh dunia tema 3 bacaannya sama… oleh karena harus mengikuti aturan seperti ini sehingga kehilangan makna yang hendak disampaikan supaya umat yang mengikuti misa ekaristi mengalami sentuhan iman karena bobot homili yang disampaikan.
Beberapa Pastur tidak menyangkal bahwa tidak mungkin dapat menjelaskan Sabda Tuhan dalam waktu sangat singkat dan harus mencakup kebutuhan bagi umatnya dari segala kelompok umur. Saya pernah usulkan supaya diperpanjang waktu homili tetapi Pastur bersangkutan mengatakan “tidak bisa diubah” karena sudah demikian peraturannya.
mohon maaf para Pastur, saya sangat memaklumi bahwa tidak mudah memberitakan kabar Injil dikaitkan dengan keadaan hidup jaman sekarang. Namun tolonglah dicari solusinya supaya firman Tuhan ini harus disampaikan kepada umat…
di Paroki saya pernah dicoba oleh Pastur mengadakan pertemuan pendalaman alkitab setiap hari rabu namun kenyataannya tidak banyak yang hadir dan pada akhirnya sekarang “MUNTABER= mundur tanpa berita” alias tidak diadakan lagi… sungguh sangat memprihatinkan. bandingkan jika diselenggarakan doa rosario atau doa novena…. buanyaaakkk yang hadir. Setelah saya selidiki ternyata motivasinya adalah berkat. ketika memohon kepada perantaraan Bunda Maria lebih sering dikabulkan daripada
berdoa memohon kepada Tuhan Yesus (atau kepada BAPA).
Persekutuan Doa Kharismatik sering memanggil pewarta dari awam untuk mengisi renungan sebab seringkali Pastur kurang meresponi jika diminta membawakan renungan di PDKK karena sekali lagi mohon maaf … biasanya Pastur sangat tidak siap membawa renungan lebih dari 15 menit karena sudah terbiasa membawa homili hanya 15 menit.
Maksud saya mengangkat topik mengenai liturgi sabda ini supaya ada perbaikan atau bila mungkin ada perubahan baik dari sisi waktu homili maupun dari efektifitas materi yang disampaikan agar supaya umat banyak tergerak hatinya untuk mencintai firman Tuhan. memang sih ada bulan kitab suci yaitu setiap bulan september setiap tahunnya… tapi itu tidak cukup. Harus digalakkan setiap hari membaca dan merenungkan kitab suci.
Intisari perjalanan iman seseorang paling tidak mencakup :
– Doa
– Firman
– Persekutuan
– Pelayanan
harus mau bersaksi bagaimana Yesus hidup dalam dirinya…. dapat menjadi garam dan terang bagi keluarga, lingkungan sekitar dimana kita berada bahkan menjadi saksi Kristus bagi banyak orang.
Sudah terlalu banyak metoda-metoda yang disampaikan seperti misalnya 7 step, kontemplasi, meditasi dan sebagainya. yang dibutuhkan adalah bagaimana membangun kecintaan umat kepada kitab suci. setelah itu dibimbing untuk juga meng-implementasikan firman Tuhan dalam kehidupannya sehari-hari.
metoda dan peraturan, tata terbit dalam misa ekaristi tidak salah sih tetapi ada yang lebih penting yaitu memberikan waktu bagi Roh Tuhan bekerja seluas-luasnya dalam hidup kita.
Tidak terlalu kaku dan ketat dengan segala macam narasi doa-doa yang sudah di standarkan dalam teks-teks yang dibacakan tetapi alangkah indahnya jika doa-doa yang kita sampaikan itu adalah dari kata-kata hati kita sendiri yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam…. jadi tidak hanya berupa aturan bacaan doa BAPA KAMI atau SALAM MARIA semata-mata…
sementara ini dulu kita diskusikan dan saya mohon bapak dan ibu memakai kata-kata sederhana saja supaya mudah dicerna oleh kami ini orang awam.
Terima kasih. Jesus Bless You.
Salam Sejahtera,
Surya Darma
Surya Yth
Keluhan anda sebagai kritik terhadap homilist/ orang yang membawakan homili dalam Misa adalah wajar dan saya pribadi bisa menerimanya. Tidak mudah membawakan homili yang bisa memenuhi kebutuhan rohani semua umat. Komisi Liturgi KWI baru saja selesai rapat para dosen untuk membahas hal yang serupa, bahkan kami di KWI sudah pernah membahas paling tidak lebih dari 3 kali bagaimana menyiapkan calon imam dan imam membawakan homili secara benar dan baik mewartakan sabda Tuhan untuk memenuhi kebutuhan umat beriman. Harus ditinjau dari pelbagai aspek antara lain: imam/awam yang membawakan, pendidikan bagi para homilist, pendengar komunikan yang menerima sabda Tuhan, dengan konteksnya, media/sarana penyampaian (sound system, audio) yang memadai hingga pesan sabda Tuhan terdengar secara baik.
Tentang Liturgi bacaan (Perayaan Sabda Hari Minggu) anda bisa baca di majalah Liturgi Vol 18 2007 dan vol 21 2010. Saya berharap anda mencarinya agar memahami secara utuh. Benar Gereja Katolik menetapkan tahun A B C secara teratur dengan mengambil lingkaran tahun keselamatan dari penginjil agar umat beriman memahami sejarah keselamatannya dengan ciri khasnya masing-masing dari tahun liturgi satu pindah ke yang lain. Itu memang baku dan sesuai dengan ajaran Gereja Sacrosanctum Concilium, Redemptionis Sacramentum, tidak bisa diubah. Kecuali anda memberikan homili/kotbah tematis silakan mencari teks yang kontekstual dan cocok dengan pendengar itu lain hal, tapi Perayaan Ekaristi tidaklah demikian. Semua teratur di situ; sebagai anggota Gereja Katolik saya pribadi patut bersyukur bahwa merayakan iman memiliki kesatuan dan keseragaman, bukan seenaknya sendiri.
Soal pastor yang membawakan homili tidak menarilk dan umat ‘muntaber’ tidak mau datang kalau ada pendalaman Kitab Suci, sudah menjadi keprihatian lama dan memang perlu bersama membenahi, dan tidak menyalahkan pihak tertentu. Mungkin kita kurang mengerakkan umat mencintai Kitab Suci, bahasa kita kurang pas dengan pendengar dll. Coba kita bersama membangun jemaat yang setia dan mencintai Kitab Suci. Doa dalam Misa baku karena harus mendapat approbasi konferensi Uskup dan recognisi dari Takhta Suci sesuai ritusnya kita di Indonesia ritus latin. Sekali lagi ini perayaan iman jadi penting.
Kalau mau berdoa spontan bisa dalam kelompok pendalaman Kitab Suci, PDKK dll tapi tidak di dalam Perayaan Ekaristi, termasuk memilih teks KS semaunya. Soal pastor yang tidak siap, saya mengakui tapi tidaklah semua pastor demikian dan jika anda mengundang saya, saya akan menyiapkannya dengan baik. Homili tidak bisa lebih dari 15 menit dalam perayaan Ekaristi, tapi kalau kotbah tematis bisa 30 menit, kalau sampai 1 jam namanya ceramah. Pendengar memiliki kemampuan terbatas dia bisa menerima dengan konsentrasi penuh pada 6 menit pertama setelah itu dia bisa lupa. Mohon baca dengan baik artikel yang akan saya sampaikan di katolisitas.
salam
Rm Wanta
Shalom Surya,
Keseragaman Liturgi Sabda dalam perayaan Ekaristi di gereja Katolik manapun, hendaknya tidak diartikan sebagai “membatasi Roh Tuhan bekerja” seperti yang anda katakan. Sebab jangan lupa bahwa Roh Kudus adalah Roh Kasih Allah yang mempersatukan, sehingga Roh Kudus itu akan lebih leluasa berkarya di dalam kesatuan. Roh Kudus yang satu itulah yang mempersatukan semua anggota Kristus menjadi satu tubuh, yang dipanggil kepada satu pengharapan (Ef 4:4). Nah bukti yang paling kuat akan adanya persatuan itu adalah kesatuan dalam ibadah dari seluruh Tubuh Kristus di seluruh dunia. Maka yang diperlukan adalah meningkatkan penghayatan akan karya Roh Kudus di dalam kesatuan liturgi tersebut, dan bukannya ingin merombaknya karena kurangnya penghayatan maknanya. Ibaratnya, yang perlu diperbaiki adalah antenanya dan bukan membuang TV-nya.
Soal Homili, Romo Wanta sudah menanggapinya. Memang menjadi tugas para imam untuk juga meningkatkan kualitas homili, dan mungkin ini dapat dicapai jika para imam teratur melakukan Lectio Divina dalam kehidupan rohaninya.
Tidak mudah untuk menyampaikan homili yang singkat, padat namun relevan dan menyentuh hati umat. Oleh karena itu para imam membutuhkan juga dukungan doa dari kita para umat. Pertanyaannya adalah, sudahkah kita mendoakan para imam paroki kita, agar mereka memperoleh bimbingan Roh Kudus supaya dapat menyampaikan homili dengan baik?
Lalu tentang pendalaman Kitab Suci. Adalah sesuatu yang baik jika diadakan pendalaman Kitab Suci. Namun perlu juga ditentukan topik dan pembicaranya yang baik, agar berguna dan membangun iman umat. Jika anda terpanggil untuk berkarya membantu imam di paroki anda, silakan anda mengambil tugas ini, mengkoordinasikannya bersama dengan seksi katekese/ Kitab Suci di paroki. Jadi sebaiknya janganlah terlalu cepat menyampaikan kritik, jika kita sendiri belum melakukan bagian kita, yaitu mendukung para imam dengan doa dan jika perlu membantu dengan mendukung karya- karya kerasulan di paroki.
Doa rosario, jika didoakan dengan benar, itu merupakan permenungan akan peristiwa hidup Yesus sendiri yang tertulis dalam Injil. Jadi doa rosario sebenarnya merupakan pendalaman Kitab Suci juga, namun arahnya lebih kepada penghayatan pribadi, dan bukan kepada pembelajaran bagi kelompok. Demikian pula dengan novena, jika novena ini disertai dengan Perayaan Ekaristi Kudus, maka ini sungguh bermakna sangat dalam, dan sebenarnya bahkan lebih sempurna daripada pendalaman Kitab Suci [tentu jika dibarengi dengan penghayatan akan makna Ekaristi]. Sebab, dalam setiap Perayaan Ekaristi, tidak hanya ada Liturgi Sabda yang merenungkan Sabda Allah (bacaan dari PL/ PB, Mazmur dan Injil) tetapi juga Liturgi Ekaristi di mana umat dapat menyambut Kristus dan bersatu dengan Kristus sendiri dalam Komuni Kudus.
Saya rasa kita perlu melihat hal ini secara lebih obyektif. Pastur paroki mempunyai tugas yang sangat banyak dalam paroki, bukan saja hanya untuk berkhotbah. Ia juga harus menjalankan tugas penggembalaan umat, mempersiapkan umat menerima sakramen- sakramen lainnya, termasuk Ekaristi, Baptis, Pengakuan dosa, Penguatan, Pernikahan (dan persiapan pernikahan), dan Pengurapan Orang sakit; juga tugas pastoral lainnya, kunjungan, manajerial paroki. Maka bukannya Romo tidak bisa khotbah panjang, tetapi karena waktunya yang memang sangat terbatas. Tentu saja Romo bisa menyampaikan khotbah dalam PDKK, dan saya sudah sering mendengarkannya. Jadi masalahnya, saya rasa, lebih cenderung kepada apakah Romo tersebut mempunyai waktunya atau tidak.
Ya, saya juga mengetahui tentang ke-empat hal ini yang sering diajarkan juga dalam SHBDR. Namun sebenarnya ada satu jari- jari “roda” pertumbuhan yang terlupakan di sini, yaitu SAKRAMEN. Pertumbuhan rohani akan menjadi lebih baik dan sempurna, jika mengandalkan rahmat Allah sendiri yang tercurah di dalam sakramen- sakramen, karena sakramen merupakan cara yang dipilih Allah untuk menyampaikan rahmat-Nya. Secara khusus di sini adalah Ekaristi dan Pengakuan Dosa. Dengan rahmat Allah inilah maka kita dapat menjadi saksi Kristus yang lebih baik, dan bertumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih.
Maka sebagai umat Katolik kita tidak dapat meletakkan pertemuan apapun di atas Perayaan Ekaristi, yang menjadi puncak dan sumber kehidupan Kristiani. Persekutuan doa, pendalaman Kitab Suci, Rosario, atau apapun bentuk kegiatan rohani lainnya tidak ada yang nilainya lebih tinggi daripada Ekaristi, dimana Kristus hadir dan bersatu dengan umat-Nya. Umat Katolik yang lebih memilih persekutuan doa daripada Misa Kudus, sesungguhnya menunjukkan bahwa ia tidak sungguh- sungguh menghayati imannya. Silakan memeriksa diri sendiri, sejauh mana kita sudah mempersiapkan diri menyambut Ekaristi, seperti yang pernah dituliskan di sini, silakan klik. Atau jika anda belum membaca artikel Ekaristi, silakan juga membacanya di sini, silakan klik dan di sini, silakan klik
Maka komentar anda bahwa membangun kecintaan umat kepada Kitab Suci, itu memang penting, tetapi juga sebaiknya itu dibarengi juga dengan membangun kecintaan umat kepada Ekaristi dan sakramen- sakramen lainnya. Karena dengan demikian, kita dapat mempunyai pertumbuhan iman yang lebih baik.
Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang keliru. Kalau seandainya doa Bapa Kami dihayati dengan sungguh- sungguh dan menjadi doa yang keluar dari lubuk hati, maka doa Bapa Kami menjadi doa yang sempurna dan berkuasa, sebab itu adalah doa yang diajarkan oleh Kristus sendiri. Lagipula, semua doa spontan yang baik, sesungguhnya menyerupai doa Bapa Kami, hanya penyampaiannya saja yang berbeda. Silakan anda membaca di artikel ini, silakan klik, untuk merenungkan kebenaran ini. Jika Tuhan Yesus lebih memilih doa spontan daripada doa yang dirumuskan, tentu Dia tidak perlu mengajarkan doa Bapa kami. Fakta bahwa Ia mengajarkan doa ini, adalah karena Ia ingin mengajarkan kepada kita bagaimana sebenarnya kita harus berdoa. Jadi marilah kita berusaha meresapkan doa Bapa Kami ini di dalam hati kita dan menjadikannya doa yang keluar dari lubuk hati kita, di samping mengucapkan doa- doa yang spontan.
Demikian juga tentang doa Salam Maria, yang pernah dibahas di sini, silakan klik. Sudah saatnya kita yang telah diperbaharui oleh Roh Kudus, belajar bertumbuh di dalam kerendahan hati; dan ini termasuk juga dengan menghargai pengajaran Gereja tentang doa dan sakramen. Kalau kita yang mendapat pencurahan Roh Kudus hanya sekejap saja menjadi sangat bersemangat dan mempunyai kasih yang berkobar kepada Tuhan; apalagi Bunda Maria yang sejak awal dikandung tanpa noda, dipenuhi oleh Roh Kudus dengan sempurna, mengandung Kristus Sang Allah Putera di dalam rahim-Nya, hidup 30 tahun di bawah satu atap dengan-Nya! Semoga Roh Kudus semakin menjadikan kita rendah hati dan mengakui, bahwa kita masih perlu banyak belajar dari banyak orang yang lebih kudus dari kita; dan terutama di sini adalah Bunda Maria, yang memang telah dikuduskan oleh Allah.
Demikianlah Surya, yang dapat saya tuliskan untuk menjawab pertanyaan/ komentar anda. Semoga saya sudah memakai kata- kata yang sederhana dan mudah dicerna. Jika belum, mohon maaf, dan silakan bertanya kembali.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org