Home Blog Page 242

Tentang kitab 3 dan 4 Makabe

0

Pertanyaan:

Shalom, katolisitas.org

Saya ingin bertanya mengenai satu hal. Tentang a.

Saya sudah pernah membaca jawaban yang pernah ditulis oleh Pak Stef (kalau tidak salah), namun yang masih saya pertanyakan adalah, mengapa kitab tersebut tidak termasuk/ tidak diterima oleh Bapa Gereja?

Benarkah kitab 3 & 4 Makabe ditulis oleh Yudas Makabe?

Apakah ada yang salah/ tidak tepat/ bahkan sesat dengan tulisan pada kitab tersebut?

Bila ada, apakah berarti Yudas Makabe, yang juga penulis kitab 1 & 2 Makabe, bisa diragukan?

Terima Kasih atas semua jawaban yang saudara/i berikan pada saya.
Tuhan memberkati.

Jawaban:

Shalom John,

1. Tentang Kitab- kitab Makabe

Sebenarnya, kitab- kitab Makabe tidak ditulis oleh Yudas Makabe sendiri walaupun kisah yang dituliskan antara lain mengisahkan perjuangan bangsa Israel yang dipimpin oleh Yudas Makabe, untuk mempertahankan hukum Taurat yang mereka terima dari nenek moyang mereka. Tidak ada data pasti yang menyebutkan siapa pengarang buku tersebut, baik jika kita membaca kitabnya langsung, ataupun membaca tulisan- tulisan para ahli Kitab Suci di abad- abad berikutnya. Ada banyak yang memperkirakan bahwa kitab 1 Makabe disusun seorang Yahudi Palestina, pada sekitar antara jaman pemerintahan John Hyrcanus (135-105 BC) sampai pendudukan kota Yerusalem oleh Pompey (63 BC).

Sedangkan kitab 2 Makabe bukan merupakan kelanjutan kitab 1 Makabe, tetapi mengisahkan sebagian dari kisah perjuangan dinasti Makabe melawan dinasti Seleukus (312-64) yang menindas bangsa Yahudi dan iman kepercayaan mereka, dan upaya para penjajah tersebut untuk menanamkan nilai- nilai Hellenisme (Yunani/ pagan) di dalam kehidupan bangsa Yahudi. Kitab 1 dan 2 Makabe sama- sama mengisahkan perbuatan Raja Antiokus Epifanes yang merusak dan menjarah bait Allah. Kitab 2 Makabe mengisahkan sejarah pemberontakan Makabe sampai kepada kematian Nikanor (161 BC), seorang panglima raja Demetrius II, (ini sesuai dengan 1 Mak 1:11-6-16, 6:17-7:50). Maka kitab 2 Makabe mengisahkan kejadian dari tahun 176 sampai 161 BC (rentang 15 tahun).

2. Kitab 3 dan 4 Makabe

Kitab 3 Makabe sesungguhnya tidak berhubungan dengan Kitab 1 dan 2 Makabe, karena yang disampaikan di sana adalah kisah penindasan bangsa Yahudi di Mesir, di bawah pemerintahan Ptolemy IV Philopator (222-205 BC), dengan demikian tidak berhubungan dengan perjuangan dinasti Makabe. Walaupun ada elemen- elemen yang historis yang disampaikan dalam kitab 3 Makabe, namun kisah yang disampaikan dalam kitab tersebut merupakan fiksi (tidak sungguh terjadi). Sedangkan, kitab 4 Makabe adalah tulisan filosofis gabungan antara faham Yahudi dan Stoik (Stoicism adalah aliran filosofi Yunani) tentang keutamaan akal budi yang saleh, yaitu prinsip- prinsip religius, yang berada di atas perasaan- perasaan. Kitab tersebut dihubungkan dengan kitab 1 dan 2 Makabe, karena disebutkannya kisah kemartiran Eleazar dan ketujuh bersaudara, seperti yang dikisahkan dalam 2 Mak 6:18 dan 2 Mak 7.

3. Jawaban atas pertanyaan anda:

a. Kitab 3 dan 4 Makabe tidak termasuk dalam Kitab Suci yang sekarang kita gunakan, karena kitab- kitab tersebut tidak termasuk dalam daftar/ kanon kitab- kitab yang dinyatakan sebagai “diinspirasikan oleh Roh Kudus” oleh Magisterium Gereja Katolik. Daftar kanon kitab- kitab yang ditetapkan sebagai “Kitab Suci” pertama- tama oleh Paus Damasus I (382) yang kemudian ditegaskan kembali dalam Konsili Hippo (393) dan Carthage (397), hanya memasukkan 1 dan 2 Makabe dalam kanon Kitab Suci.

Maka, walaupun berisi pengajaran yang baik, namun kitab 3 dan 4 Makabe tidak dimasukkan dalam kanon Kitab Suci, kemungkinan besar adalah karena yang dikisahkan dalam kitab 3 Makabe adalah fiksi (tidak sungguh terjadi). Lalu kitab 4 Makabe tidak termasuk dalam Kitab Suci, karena mengisahkan ajaran filosofi Yunani (dari manusia) dan bukan atas inspirasi Roh Kudus (dari Allah).

b. Seperti disebutkan di atas, kitab 3 dan 4 Makabe, seperti halnya 1 dan 2 Makabe tidak ditulis oleh Yudas Makabe sendiri.

c. Kitab 3 dan 4 Makabe tidak termasuk dalam kanon Kitab Suci, karena keduanya tidak merupakan kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus. Kitab- kitab yang tidak termasuk dalam Kitab Suci tetap dapat saja mengajarkan hal- hal yang baik, namun tidak untuk disejajarkan dengan kitab- kitab lainnya, yang dituliskan atas dasar inspirasi dari Allah sendiri.

d. Karena kisah yang disampaikan Kitab 3 dan 4 Makabe tidak berhubungan dengan Kitab 1 dan 2 Makabe, dan kitab- kitab tersebut tidak dituliskan oleh Yudas Makabe, maka tidak berarti bahwa karena kitab 3 dan 4 Makabe tidak termasuk kanon Kitab Suci, maka otomatis otentisitas 1 dan 2 Makabe dapat diragukan. Kitab 1 dan 2 Makabe mengisahkan kejadian nyata yang dialami bangsa Yahudi, seperti yang juga dicatat dalam sejarah; dan juga mengandung ajaran/ doktrin Kristiani yang penting, seperti:

a. Pengajaran bahwa segala ciptaan diciptakan Allah dari tidak ada menjadi ada (creation ex nihilo) lih. 2 Mak 7:28

b. Ajaran bahwa jiwa itu diciptakan kekal adanya, lih. 2 Mak 6:30.

c. Kebangkitan orang mati dan kebangkitan badan, lih. 2 Mak 7:9, 29

d. Api penyucian, dan mendoakan jiwa orang- orang yang sudah meninggal, lih. 2 Mak 12:46

e. Doktrin tentang malaikat 2 Mak 10:29-30; 11:8

f. Perjuangan menjadi martir, nilai penderitaan/ pengorbanan, penghakiman setelah kematian, dst, seperti yang ditunjukkan oleh Eleazar (lih. 2 Mak 6:18-31), dan ibu dan ketujuh anak yang semuanya dibunuh sebagai martir demi mempertahankan pengajaran yang mereka terima dari para nabi (lih. 2 Mak 7).

Para Bapa Gereja, terutama St. Cyril dari Yerusalem (315-386)  juga mengutip kitab Makabe sebagai salah satu sumber pengajarannya. Silakan membaca di link ini, silakan klik,  tentang tulisan- tulisan para Bapa Gereja yang mengutip ayat- ayat dari kitab- kitab Deuterokanonika, termasuk di dalamnya kitab Makabe.

Demikian jawaban yang dapat saya sampaikan sehubungan dengan pertanyaan anda.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Copernicus pernah dikutuk Gereja Katolik?

4

Pertanyaan:

Dear Tim Katolisitas dan rekan-rekan lain. artikel berikut mungkin menarik. saya sertakan linknya. :

http://www.mirifica.net/artDetail.php?aid=6247

Copernicus dimakamkan ulang sebagai pahlawan
31 Mei 2010 14:16

(25/5/2010)Jenazah Nicolaus Copernicus, astronom abad ke-16, yang penemuannya dikutuk oleh Gereja Katolik Roma sebagai bidah, dimakamkan ulang oleh imam Polandia. Dalam pemakaman kali keduanya akhir pekan lalu tersebut, Copernicus dinobatkan sebagai pahlawan.

Penyebutannya sebagai pahlawan berbeda dengan kondisi sebelumnya saat ia dimakamkan tanpa batu nisan yang menunjukkan namanya di lantai bawah tanah sebuah katedral di pantai Baltik, Polandia. Diyakini pula hal tersebut juga sebagai tanda telah berdamainya pihak gereja Polandia dengan ilmuwan yang terkenal dengan teori revolusioner pertama kali karena menegaskan Bumi berputar mengelilingi matahari.

Copernicus hidup dari 1473 hingga 1543. Ia wafat sebagai astronom yang tidak populer dan bekerja di pedalaman sebelah utara Polandia. Ia menghabiskan waktu bertahun-tahun di saat senggangnya untuk mengembangkan teorinya yang belakangan dikutuk Gereja Katolik Roma karena dianggap menggeser status Bumi dan kehidupan manusianya sebagai pusat tata surya.

Teorinya tersebut ditemukan melalui model yang didasarkan pada perhitungan matematika yang rumit. Ia pun belum bisa melakukan pengamatan langsung ke langit karena belum ditemukan teleskop di zamannya.

Akhir pekan lalu, Copernicus akhirnya dimakamkan ulang dan diberkati menggunakan air suci oleh beberapa petinggi rohaniawan Polandia. Seorang penjaga kehormatan membawa peti matinya untuk dimakamkan di sebuah katedral yang sama dengan tempat letak makam Copernicus sebelumnya ditemukan pada 2005.

Namun kini di atas makam Copernicus tampak sebuah batu nisan yang terbuat dari granit hitam. Nisan itu mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang kanon gereja, ulama satu tingkat di bawah tingkatan imam. Bahkan, ia juga sebagai pendiri teori heliosentris. (media indonesia.com)

Viewed: 168 ; Printed: 25

Kris

Jawaban:

Shalom Kris,

1. Teori Heliosentris- Copernicus

Ya artikel di atas menarik, tetapi sesungguhnya ada yang nampaknya tidak tepat. Sebab menurut pengamatan saya, berdasarkan data sejarah, sesungguhnya Copernicus itu tidak pernah dikutuk oleh Gereja Katolik, ataupun disebut sebagai bidat, walaupun memang teori yang diajarkannya – yaitu heliosentris- tidak sesuai dengan ajaran yang umumnya diterima pada saat itu. Gereja Katolik memiliki sikap terbuka terhadap ilmu pengetahuan, hanya saja, memang Gereja Katolik selalu menghendaki bukti- bukti yang otentik sebelum dapat menyatakan suatu teori sebagai kebenaran. Penghadiran bukti- bukti inilah yang nampaknya tidak memadai pada saat Copernicus meluncurkan teori heliosentrisnya (matahari sebagai pusat tata surya), yang kemudian diteruskan/ dipopulerkan oleh Galileo Galilei.

Sedangkan pada awal teori heliosentris ini dicetuskan oleh Copernicus, sesungguhnya Gereja Katolik membuka diri untuk mempelajari lebih lanjut. Hal ini terlihat pada fakta bahwa pada tahun 1533 Johann Widmanstetter, yang adalah sekretaris Paus Clement VII menjelaskan teori heliosentris tersebut kepada Paus dan dua orang kardinal, dan Paus memberikan penghargaan kepada Widmanstetter (lihat Repcheck, Jack, Copernicus’ Secret. (New York, NY: Simon & Schuster, 2007). pp. 79, 78, 184, 186). Cardinal Nikolaus von Schonberg, Uskup Agung Capua, malah pernah meminta kepada Copernicus untuk mengirimkan laporan hasil penemuannya kepada beliau. Cardinal Schonberg menulis demikian kepada Copernicus pada tahun 1536:

“Some years ago word reached me concerning your proficiency, of which everybody constantly spoke. At that time I began to have a very high regard for you… For I had learned that you had not merely mastered the discoveries of the ancient astronomers uncommonly well but had also formulated a new cosmology. In it you maintain that the earth moves; that the sun occupies the lowest, and thus the central, place in the universe… Therefore with the utmost earnestness I entreat you, most learned sir, unless I inconvenience you, to communicate this discovery of yours to scholars, and at the earliest possible moment to send me your writings on the sphere of the universe together with the tables and whatever else you have that is relevant to this subject … “(Schonberg, Nicholas, Letter to Copernicus, diterjemahkan oleh Edward Rosen).

Sebenarnya, salah satu orang pertama yang mengecam teori heliocentris dari Copernicus adalah Melanchton, murid Martin Luther, yang mengatakan bahwa teori heliosentris sebagai sesuatu yang ‘absurd‘. Ia berkata demikian:

Some people believe that it is excellent and correct to work out a thing as absurd as did that Sarmatian [i.e., Polish] astronomer who moves the earth and stops the sun. Indeed, wise rulers should have curbed such light-mindedness.” (Czesław Miłosz, The History of Polish Literature, University of California Press, 1983, p. 38)

Namun demikian, pada tahun 1539, Melanchton akhirnya juga mempelajari teori heliosentris bersama seorang ahli matematika dari Jerman yang bernama Georg Rheticus. Atas pengaruh Rheticus, Copernicus akhirnya memberikan buku karyanya, De revolutionibus, kepada Tiedemann Giese, seorang temannya yang adalah uskup Chelmo (Kulm), dan untuk diberikan kepada Rheticus agar dicetak di Jerman. Tahun 1551, delapan tahun setelah kematian Copernicus, De revolutionibus dipulikasikan. Demikian maka teori heliosentris menjadi mulai dikenal orang.

2. Kematian Copernicus

Copernicus dimakamkan di Katedral Frombork, sebuah kota di Polandia Utara; namun selama dua abad para ahli arkeologis tidak berhasil menemukan sisa- sisa jenazahnya. Baru pada tanggal 3 November 2008 (setelah penelitian beberapa tahun), Jerzy Gassowski, kepala arkeologi dan antropologi institute Pultusk mengklaim telah menemukan sisa jasad Copernicus di ruang bawah tanah lantai gereja Katedral tersebut. DNA dari tulang- tulang yang ditemukan, sesuai dengan DNA pada rambut Copernicus yang ditemukan di salah satu buku milik Copernicus yang tersimpan di perpustakaan universitas Uppsala di Swiss.

Nisan asli Copernicus dari abad ke- 16 memang sudah tidak ada/ hancur karena perang, tetapi sebenarnya sudah ada batu nisan hitam bagi Copernicus di katedral Frambork tersebut yang dibuat tahun 1735. Silakan klik di Wikipedia, klik di sini, untuk melihat gambarnya. Lalu berkenaan dengan penemuan arkeologis tahun 2008 tersebut, maka pada tanggal 22 Mei 2010, Jozef Kowalczyk, papal nuncio di Polandia mempersembahkan Misa misa arwah kepadanya untuk menghormatinya sebagai pendiri teori heliosentris dan seorang canon (pejabat Gereja). Sisa- sisa jenazah Copernicus tersebut kemudian dimakamkan kembali di tempat yang sama di Katedral Frombork, yaitu di tempat di mana tulang- tulangnya ditemukan.

Jadi Gereja Katolik sesungguhnya tidak pernah mengutuk Copernicus sebagai bidat. Sebab jika ia bidat, tentu ia tidak dapat dimakamkan di bawah lantai gereja Katedral Frombork. Bahwa terjadi pemakaman ulang, saya pikir terlebih karena telah diadakan pencarian sisa jenazah, dan sebagai tanda penghormatan terhadap tubuh manusia (karena ajaran tentang kebangkitan badan) maka diadakan upacara pemakaman kembali. Ini serupa dengan upacara pemakaman kembali pada pemindahan makam jenazah, siapapun orang yang dimakamkan. Bahwa Copernicus kemudian terbukti berjasa menjadi pelopor penemu teori heliosentris, tentu menjadi kekhususan tersendiri, dan tentu wajar jika pada upacara pemakaman yang kedua kali ini, ia menerima penghargaan khusus, yang tidak diterimanya pada saat wafatnya, karena pada saat itu, teorinya tersebut belum terbukti.

3. Setelah kematian Copernicus

Bahwa sejarah juga mencatat bahwa sesudah kematian Copernicus, ada masa penolakan teori heliosentris, itu sudah pernah dibahas dalam topik “Apakah Galileo Galilei dibunuh Gereja Katolik?”, silakan klik.

Pada dasarnya, Gereja Katolik pada waktu itu, hanya meminta Galileo untuk menyertakan bukti teori heliosentris yang dianutnya menurut standar ilmu pengetahuan pada saat itu, sebelum ia mengajarkan kepada banyak orang. Sayangnya, Galileo tidak mengindahkan permintaan Gereja, dan malah menerbitkan karyanya pada tahun 1632. Untuk alasan inilah Galileo menjalani tananan rumah sampai ia wafat tahun 1642. Cardinal Ratzinger mengutip Paul Feyerabend, seorang filsuf dari Austria yang mengatakan, ”Pada jaman Galileo, Gereja lebih setia terhadap akal budi dibandingkan dengan Galileo sendiri“.

Demikian informasi yang dapat saya sampaikan tentang Copernicus. Semoga kita dapat dengan kritis menyikapi informasi yang kita dengar, sebab adakalanya dapat disalah-artikan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Luk 9:57-62: Mengarahkan hati sepenuhnya kepada Tuhan

1

Luk 9:57-62

Pertanyaan:

Shalom Pak Stef & Bu Inggrid,

Saya mau menanyakan bacaan dari injil Lukas 9:57-62. Saya kurang mengerti apa maksud dari perkataan Yesus yang seakan-akan tidak membolehkan orang pertama menguburkan bapaknya & orang kedua minta ijin untuk pamitan kepada orangtuanya. Dalam khotbah pada misa hari minggu kemaren, romo gereja sudah mencoba menjelaskan arti dr bacaan ini, tapi saya masih belum terlalu memahami. Mohon Pak Stef & Bu Inggrid mau membantu untuk menjelaskan maksud dari bacaan ini. Semoga Tuhan selalu memberkati seluruh kru katolisitas.

Terimakasih,
Ike

Jawaban:

Shalom Ike,

Perikop Luk 9: 57-62 mengatakan:

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu Ia berkata kepada seorang lain: “Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata: “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Dan seorang lain lagi berkata: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”

Berikut ini penjelasannya, berdasarkan apa yang dijelaskan dalam The Navarre Bible:

Dalam perikop ini, Tuhan Yesus mengatakan dengan jelas bahwa untuk menjadi seorang Kristen tidaklah mudah. Seseorang harus mau keluar dari situasi kenyamanan dan ia harus menyangkal dirinya, demi memberikan tempat yang utama kepada Tuhan. Ajaran Yesus ini bermaksud untuk menempatkan Allah di atas segalanya di dalam hidup ini, melebihi siapapun dan apapun. Ungkapan ini dapat dimengerti jika kita melihat kenyataan ini: seorang pasukan yang sedang bertempur di garis depan pada medan pertempuran untuk membela (melayani) negaranya, tidak dapat pulang ke kampung halamannya untuk mengubur ayahnya yang meninggal, dan ia harus menyerahkan tugas ini kepada orang lain. Jika tugas membela negara dapat menuntut sedemikian kepada seorang prajurit, maka terlebih lagi, kita yang melayani Kristus dan Gereja-Nya.

Dalam perikop ini, dikisahkan seseorang yang lain lagi yang mau mengikuti Kristus dengan satu kondisi yaitu bahwa ia diperbolehkan untuk berpamitan dengan keluarganya. Tuhan Yesus yang mengetahui kedalaman hati setiap orang, mengetahui bahwa di balik ungkapan itu sebenarnya hatinya masih belum memutuskan (undecided), akankah ia mau mengikuti Kristus. Menanggapi perkataannya ini, maka Yesus mengajarkan agar kita memusatkan perhatian sepenuhnya kepada Allah, tanpa keraguan dan tanpa alasan cadangan. Kesetiaan kita kepada Tuhan dan kepada misi yang Tuhan percayakan kepada kita harus memampukan kita untuk menghadapi rintangan apapun. Jose Maria Escriva yang terberkati mengatakan, bahwa dengan kita membaca perikop ini, kita diajarkan untuk tidak melihat ke belakang. Tuhan beserta kita. Kita harus setia kepada-Nya; kita mempunyai kewajiban kita masing- masing. Kita akan menemukan di dalam Kristus, kasih dan motivasi yang kita perlukan untuk memahami kesalahan orang lain, untuk mengatasi kesalahan kita sendiri. (lihat Bl. J. Escriva, Christ is passing by, 160).

Mengikuti Kristus artinya adalah menjadikan diri kita sepenuhnya siap sedia bagi-Nya, sehingga apapun pengorbanan yang diminta-Nya, dapat kita lakukan. Mengikuti panggilan Kristus artinya adalah tetap berjaga bersama-Nya, tidak jatuh atau meninggalkan Dia. Dalam khotbah di bukit Mat 5-7 Yesus menjelaskan bahwa seorang Kristen adalah seorang yang percaya kepada Kristus,- iman seperti ini diterimanya pada saat ia dibaptis- dan setelah dibaptis, ia mempunyai tugas untuk melayani Kristus. Melalui doa dan persahabatan dengan Tuhan, setiap umat Kristen harus berusaha menemukan tuntutan kewajiban apa yang harus dipenuhinya untuk secara maksimal memenuhi tugas panggilannya ini.

“Biarlah orang mati menguburkan orang mati…”, walau perkataan ini sekilas terdengar kasar, tetapi ini hanyalah gaya bahasa yang digunakan Yesus pada saat itu untuk menjelaskan bahwa “orang mati” di sini adalah mereka yang mempunyai interest/ minat hanya kepada hal- hal yang fana, dan yang tidak punya penghargaan terhadap apa yang sifatnya ilahi dan kekal. St. Yohanes Krisostomus mengatakan, bahwa ungkapan tersebut bukan untuk mengesampingkan tugas kewajiban kita terhadap orang tua, tetapi untuk menyadarkan kita bahwa tidak ada yang lebih penting daripada hal- hal surgawi, dan hati kita harus melekat pada hal- hal itu, dan tidak menanggalkannya walaupun hanya sekejap saja, walau alasannya terlihat cukup mendesak.” (St. Yohanes Krisostomus, Homily on St. Matthew, 27)

Demikian sekilas penjelasan tentang maksud Luk 9:57-62. Semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Ajakan untuk meninggalkan Gereja Katolik?

32

Pertanyaan:

Salam Katolisitas,
Saya menemukan artikel dari [dari Katolisitas: nama penulis tidak ditampilkan] di bawah ini [dari Katolisitas: link kami hapus]:

Di situ dikatakan bahwa: 1. Kaum Injili mengajak umatnya untuk bekerja sama dengan Katolik untuk menyadarkan Katolik, yang intinya, agar Katolik meninggalkan Gereja Katolik dan memeluk kebenaran versi Injili. 2. Mengajak kaum Injili mengetahui bahwa dasar kesatuan organisasi yang digembar-gemborkan Katolik adalah salah, dan yang benar ialah kesatuan organik.
Pertanyaan saya, apakah benar bahwa Gereja Katolik mendasarkan diri pada kesatuan organisasi dan bukan spiritual seperti dituduhkan kaum Injili? Bagaimana pula menghadapi kaum Injili yang mau berdialog dengan tujuan jelas mempertobatkan kaum Katolik? Di situ juga disebut pengelompokan kaum Katolik menjadi 6 jenis, dan jenis Katolik biasa dan Katolik Injili/Karismatik saya kira akan menjadi sasaran mereka untuk dipertobatkan. Di artikel itu ada data sekelompok umat Katolik Jakarta yang setelah berdialog dengan kaum injili lalu berpamitan kepada pastor paroki untuk membentuk gereja baru Tiberias. Juga perkembangan Katolik Injili di Amerika dan Amerika Latin yang sangat pesat. Mohon tanggapan atas kegelisahan saya atas gerakan Kristen Injili tersebut. Terima kasih atas jawaban tim katolisitas.

Salam saya: Adriana Primawati.

Jawaban:

Shalom Adriana,
Terus terang, artikel yang anda maksud, bukanlah hal yang baru, dan saya pikir umat Katolik-pun sudah mengetahuinya, bahwa banyak dari saudara- saudari kita dari gereja Kristen non- Katolik yang menganggap bahwa Gereja Katolik itu ‘sesat’ dan ‘perlu dipertobatkan’. Namun jika kita umat Katolik memahami apa yang sesungguhnya diajarkan oleh Gereja Katolik, maka sesungguhnya, kita akan mengetahui bahwa ajaran Gereja Katolik tidak ‘sesat’. Sebaliknya, Gereja Katolik mengajarkan ajaran yang murni, karena tetap sama dari sejak jaman jemaat awal sampai sekarang. Bahwa ada orang- orang yang salah paham tentang hal ini, tidak perlu membuat kita menjadi gelisah. Jika seorang Katolik memahami imannya dengan sungguh- sungguh, maka ia tidak akan pernah ingin untuk berpindah ke gereja lain; dan karenanya tidak dapat diajak untuk meninggalkan Gereja Katolik. Oleh karena itu, memang tantangan dari kita umat Katolik adalah untuk semakin memahami iman kita, agar kita dapat memberikan pertanggungan jawab atas iman dan pengharapan kita kepada mereka yang mempertanyakannya.

Tanggapan bahwa Gereja Katolik merupakan kesatuan yang melulu organisasi adalah tanggapan yang sangat keliru. Gereja Katolik merupakan kesatuan yang sifatnya organis, walaupun juga terlihat secara organisasi/ hirarkis, mempunyai elemen ilahi (tak kelihatan) namun juga elemen manusiawi (yang kelihatan). Seandainya Gereja Katolik itu melulu bersifat organisasi manusia, maka sudah lama bubar. Kenyataannya bahwa sampai sekarang Gereja Katolik masih eksis selama lebih dari 2000 tahun, itu karena karya Roh Kudus. Perkembangan organik Gereja dilihat dari perkembangan ajaran Gereja, yang mempunyai dasar dari pengajaran Kristus dan para rasul yang diteruskan oleh para Bapa Gereja. Pengajaran Gereja Katolik selalu mempunyai akar dari pengajaran Kristus dan para rasul, bagaikan pertumbuhan organik dari suatu tanaman dari biji, kemudian menjadi pohon yang kecil, lalu menjadi pohon yang besar dan rindang.

Ada banyak orang menyangka bahwa Gereja tidak perlu kelihatan secara struktural/ organisasi, tetapi hanya organik saja, antara sesama orang yang mengimani Kristus, walaupun doktrin yang diajarkan berbeda atau tidak sama. Hal ini tidak sesuai dengan gambaran Gereja yang didirikan Kristus sendiri di atas Rasul Petrus, yang diberi kuasa oleh Kristus untuk ‘mengikat dan melepaskan’ (lih. Mat 16:18-19) yang artinya mengajar dan menentukan hal-hal yang mengikat atau tidak mengikat sehubungan dengan iman dan moral. Silakan anda membaca artikel seri tentang Gereja, dan juga artikel tentang Keutamaan Petrus yang ada di situs ini, jika anda ingin mengetahui ajaran Gereja Katolik tentang hal ini.

Bahwa ada orang yang menganalisa bahwa ada 6 jenis umat Katolik, silakan saja, tetapi kriteria pengelompokan itu sendiri merupakan pendapat pribadi sang penulis. Kenyataan ada umat yang kemudian berpamitan kepada Pastor dan membentuk gereja baru, itu adalah gambaran fakta yang memprihatinkan. Gereja sejati adalah Gereja yang dibentuk oleh Kristus sendiri atas dasar Rasul Petrus, dan bukannya sesuatu yang didirikan oleh manusia, kemudian mengatakan bahwa itu didirikan oleh Kristus.

Jadi mari kita sama- sama berdoa agar kita diberi rahmat kebijaksanaan untuk menghayati makna/ hakekat Gereja.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Kelinci memamah biak dan haram?

5

Pertanyaan:

Setahu saya dalam dunia biologi, kelinci tidak termasuk hewan pemamah biak. Tapi mengapa Imamat 11:6 mengatakan seperti itu? Pertanyaan ini muncul dr teman saya non Katolik dan dia meminta saya menjawabnya.
Mohon bantuan jawabannya segera.
Terima kasih

[Dari Katolisitas: pertanyaan ini digabungkan karena satu topik]

Saya ingin mengetahui makna dari Imamat 11, terutama ayat 6 dan 7. Jika diharamkan, mengapa masih ada org yg memakannya?

Jawaban:

Shalom Thia,

Apakah kelinci termasuk hewan memamah biak atau tidak, itu tergantung dari definisi yang anda pakai untuk menjelaskan arti kata “memamah biak”. Sebab jika anda memakai definisi bahwa hewan memamah biak itu mempunyai empat bilik dalam perutnya, maka memang kelinci tidak termasuk katagori ini; tetapi jika definisi yang diambil adalah hewan yang “mengunyah kembali apa yang sudah ditelannya” atau “to chew again that which has been swallowed” (Webster’s Dictionary), maka kelinci termasuk di dalamnya. Dari riset baru- baru ini terlihat bahwa kelinci mempunyai dua tipe kotoran, yaitu kotoran yang normal, dan kotoran yang disebut ‘caecotroph‘, yang kemudian dikunyah kembali oleh kelinci tersebut, seperti dikatakan demikian:

“In addition to normal waste, they pass a second type of pellet known as a caecotroph. The very instant the caecotroph is passed, it is grabbed and chewed again…. As soon as the caecotroph is chewed thoroughly and swallowed, it aggregates in the cardiac region of the stomach where it undergoes a second digestion (Morton, Jean Loat, 1978, Science in the Bible, (Chicago, IL: Moody) pp. 179-181).

Kelinci memang termasuk hewan yang terlihat selalu mengunyah, seperti halnya pada hewan pemamah biak lainnya. Arti kata asli “gerah” yang dipergunakan di sini menurut umat Yahudi mengacu kepada kata mengunyah/ menggerakkan rahang. Dalam hal ini Kitab Suci memakai bahasa fenomenologi, yang berdasarkan ciri- ciri yang terlihat dari luar, dan memang tidak harus persis dengan ciri- ciri klasifikasi yang ditetapkan oleh para ahli biologi. Ini seperti halnya bagaimana Kitab Suci menyebutkan kelelawar dalam urutan burung- burung dalam Imamat 11; yang bukan karena keduanya adalah binatang mamalia, tetapi karena keduanya dapat terbang. Atau sewaktu Yesus mengatakan bahwa biji sesawi merupakan biji yang terkecil, maka Yesus berbicara dalam konteks kehidupan orang- orang di tanah Palestina saat itu, dan bukan sebagai seorang ahli botanika.

Silakan anda klik di link ini untuk mengetahui penjelasan selengkapnya tentang hal ini. Dengan melihat penjelasan ini maka tidak dapat dikatakan bahwa Kitab Suci itu keliru pada saat mengatakan bahwa kelinci termasuk hewan memamah biak, karena pijakan definisi yang digunakan untuk kata ‘memamah biak’ tidak sama dengan definisi teknis yang dibuat oleh manusia pakar ilmu biologi.

2. Imamat 11:6-7: memang mengharamkan daging kelinci dan babi. Prinsip penjelasan tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Silakan anda membaca terlebih dahulu di link tersebut, dan jika masih ada yang belum jelas, silakan bertanya kembali.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Roti Hidup dan Perjamuan Kudus

4

Pertanyaan:

Pak Stef & Bu Inggrid,

saya pernah membaca di katolisitas tentang perikop roti hidup di Yohanes yang digunakan sebagai dasar dari ekaristi (benar tidak ya?)

kemudian saya juga membaca perikop roti hidup di injil Yohanes dari buku Tafsir Alkitab Perjanjian Baru terbitan LBI. dimana perikop itu dibagi menjadi 3 bagian. bagian ke 3 adalah tentang ekaristi (Yoh 6:48-59) dimana berubahnya kata kerja operatif dari percaya menjadi makan dan minum.

saya juga menyadari bahwa perikop roti hidup ini hanya ada di injil Yohanes. sedangkan di injil yang lain tidak ada (kurang) penjelasan mengenai perkataan Yesus diperjamuan terakhir tentang roti dan anggur, tubuh dan darah.

Di Lukas :
Lukas 22:19 Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”
Lukas 22:20 Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.

Begitu juga dengan :
Markus 14:22 Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Ambillah, inilah tubuh-Ku.”
Markus 14:23 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu.
Markus 14:24 Dan Ia berkata kepada mereka: “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang.

Maupun :
Matius 26:26 Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.”
Matius 26:27 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini.
Matius 26:28 Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.

apakah perikop roti hidup di Yohanes adalah untuk menjelaskan maksud perjamuan terakhir Yesus di ketiga injil yang lainnya?

sedangkan dari si B (pandangan dari Protestan) mengatakan [dari Katolisitas: diedit]

….. bahwa Yoh 6:48-59 tidak berhubungan dengan Perjamuan Kudus.

————————————————————————————————————————————–
Alasannya:

• Tak mungkin Yesus membicarakan Perjamuan Kudus yang pada saat itu belum ada.

• Kalau ini menunjuk pada Perjamuan Kudus, maka:

* ay 50,51,54,57b,58b menunjukkan bahwa orang harus ikut Perjamuan Kudus untuk mendapatkan hidup yang kekal.

* ay 53 menunjukkan bahwa orang yang tidak ikut Perjamuan Kudus tidak akan mendapatkan hidup yang kekal.

Dengan kata lain, kalau ini menunjuk pada Perjamuan Kudus, maka Perjamuan Kudus adalah satu-satunya jalan untuk mendapatkan hidup yang kekal. Ini menjadi ajaran sesat Salvation by works!

• Yesus menggunakan istilah ‘daging’ (Inggris: flesh; Yunani: SARX) bukan ‘tubuh’ (Inggris: body; Yunani: SOMA). Padahal dalam membicarakan Perja­muan Kudus, selalu digunakan kata ‘tubuh’ (body / SOMA). Bdk. Mat 26:26 Mark 14:22 Luk 22:19 1Kor 11:24,27.

• Kata-kata ‘makan’ dan ‘minum’ dalam ay 50,51,53 dalam bahasa Yunaninya menggunakan aorist tense yang menunjuk pada satu tindakan tertentu di masa lampau. Kalau menunjuk pada Perjamuan Kudus, yang merupakan tindakan makan dan minum secara berulang-ulang, maka seharusnya digunakan bentuk present tense.

Catatan:

Tetapi ay 54,56,57 menggunakan bentuk present participle, sehingga terjemahannya adalah: ‘the one (who is) eating / drinking My flesh / blood’.
————————————————————————————————————————————–

Sekarang pendapat saya adalah mungkin saja dan bisa saja, memang Yesus membicarakan Perjamuan Kudus/Terakhir/Ekaristi meskipun saat itu belum ada. Karena setelah perjamuan itu, Yesus mengalami masa sengsara sehingga tidak bisa mengajar tentang Perjamuan Kudus/Terakhir/Ekaristi jika tidak mengajarkan pada waktu itu (waktu itu ya waktu di Yoh 6:48-59). Juga karena Yesus adalah Tuhan, meskipun saat itu belum ada Perjamuan Kudus/Terakhir/Ekaristi tetapi Yesus sudah merencanakan-Nya sehingga perikop roti hidup itu membicarakan tentang Perjamuan Kudus/Terakhir/Ekaristi.

Sekarang pertanyaan saya adalah :
1. Haruskah mengikuti perjamuan Ekaristi agar bisa hidup kekal?
2. Bagaimana dengan penjahat yang di Lukas 23:43 (Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”)
Apakah ini berarti penjahat itu cukup dengan iman saja tanpa ekaristi dan perbuatan baik (memperjuangkan keselamatan) untuk mendapatkan keselamatan?

Si B membuat kesimpulan :
Kesimpulannya, keselamatan hanya dari iman. Baptisan, perjamuan kudus, pertobatan, perbuatan baik, dll itu ga perlu disuruh, karena semua akan timbul dari iman yang benar. Semuanya itu adalah manifestasi dari iman yang benar. Segala hal itu tidak akan manifestasi dari iman yang salah.

Kemudian untuk istilah ‘daging’ dan ‘tubuh’ serta ‘makan’ dan ‘minum’ menurut Pak Stef & Bu Inggrid, bagaimana pengajaran Gereja Katolik?

Seperti biasa, jika berguna untuk ditampilkan, silakan saja.

Alexander

Jawaban:

Shalom Alexander,

Kita ketahui bahwa di antara ke-empat Injil, kitab Injil Yohanes merupakan kitab yang terakhir ditulis, yaitu sekitar tahun 90- 100 an, sedangkan ketiga kitab lainnya dituliskan sekitar tahun 50-60 an. Maka memang ada beberapa kisah/ perikop yang sudah dijabarkan pada ketiga Injil, tidak lagi diulangi secara persis oleh Rasul Yohanes dalam Injilnya, namun Yohanes menyampaikannya dari sisi yang berbeda, atau melengkapinya. Salah satu kisah yang dilengkapi oleh Rasul Yohanes adalah pengajaran tentang Roti Hidup (Yoh 6), dan kisah Perjamuan Terakhir yang dilengkapi oleh Yohanes dengan peristiwa pembasuhan kaki para murid oleh Yesus (lih. Yoh 13)

Gereja Katolik selalu menginterpretasikan suatu ayat Kitab Suci, dengan memperhatikan arti literal dan spiritual, tanpa dilepaskan dari konteks keseluruhan pesan dalam Kitab Suci. Dengan prinsip inilah, maka kita mengetahui bahwa istilah Roti Hidup yang diajarkan oleh Yesus berkaitan dengan Perjamuan Kudus, di mana dalam kedua ajaran tersebut Ia menyatakan diri-Nya sebagai “roti” untuk dimakan.

1. Tak mungkin dibicarakan jika belum terjadi/ ada?

Alasan yang mengatakan bahwa “tak mungkin Yesus membicarakan Perjamuan Kudus yang pada saat itu belum ada,” itu mengingkari arti literal yang jelas- jelas tertulis di sana. Sebab di ke-empat Injil jelas dijabarkan bahwa Perjamuan Kudus itu benar- benar diadakan oleh Yesus dan murid- murid-Nya, pada malam sebelum sengsara-Nya. Kalau dikatakan bahwa Yesus tidak mungkin membicarakan tentang Perjamuan Kudus sebelum Ia mengadakannya, [karena khotbah tentang Roti hidup terjadi sebelum Perjamuan Kudus], maka itu juga tidak berdasar. Karena justru kalau seorang pemimpin ingin mengadakan sesuatu event yang penting, maka sangat umum, jika ia mempersiapkan para muridnya untuk memahaminya terlebih dahulu. Kita melihat di sini, peristiwa Perjamuan Kudus merupakan salah satu ajaran inti dari Kristus, karena merupakan satu kesatuan dengan pengorbanan-Nya di kayu salib. Ia hadir dalam rupa roti, untuk dimakan oleh kita para murid-Nya, agar kita mengenang kasih-Nya yang terbesar yang rela wafat di salib untuk menebus dosa- dosa kita (lih. Mat 26:26-28; Luk 22:19-20; Mrk 14: 22-24). Oleh sebab itu, ke-empat Injil menuliskan tentang Perjamuan Kudus ini, yang didahului oleh kisah mukjizat perbanyakan roti, yang juga dicatat oleh ke-empat Injil.

Argumen yang mengatakan kalau belum terjadi tidak mungkin dibicarakan, itu bertentangan dengan fakta yang terjadi yang tercatat dalam Kitab Suci. Misalnya, sebelum wafat dan kebangkitan Kristus terjadi, Kristus sudah membicarakannya dengan para murid; misalnya dalam perikop Tanda Yunus (lih. Mat 12: 38-42; Luk 11: 29-32), atau pemberitaan tentang sengsara-Nya (lih. Mat 16: 21-18; 17: 22-23; 18:31-34). Bahkan peristiwa- peristiwa tersebut juga sudah dinubuatkan oleh para nabi, seperti telah dibahas di sini, silakan klik. Justru karena merupakan inti dari rencana keselamatan Allah, maka peristiwa- peristiwa itu diajarkan, sebelum hal-hal tersebut terjadi, agar kita semua dapat memahami maknanya dan menghayatinya.

2. Jika Roti Hidup mengacu pada Perjamuan Kudus maka “Salvation by works”?

Argumen teman anda demikian:

Kalau ini [Roti Hidup Yoh: 6] menunjuk pada Perjamuan Kudus, maka:

– ay 50,51,54,57b,58b menunjukkan bahwa orang harus ikut Perjamuan Kudus untuk mendapatkan hidup yang kekal.

– ay 53 menunjukkan bahwa orang yang tidak ikut Perjamuan Kudus tidak akan mendapatkan hidup yang kekal.

…. maka Perjamuan Kudus adalah satu-satunya jalan untuk mendapatkan hidup yang kekal. Ini menjadi ajaran sesat Salvation by works!

Argumen ini keliru, karena tidak melihat kaitan ayat ini dengan ayat- ayat lainnya dalam Kitab Suci, bahkan dalam perikop Roti hidup itu sendiri. Sebab, orang yang mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus itu juga harus mengimani Kristus. Percaya kepada Kristus yang diutus Allah ini merupakan ‘pekerjaan yang dikehendaki Allah’ (Yoh 6: 29); dan oleh kepercayaannya kepada Kristus inilah maka orang itu diselamatkan (Yoh 6: 40, 47). Sekarang, mari kita lihat ayat 47 dan ayat 50, yang menyebutkan kedua hal yang paralel, yaitu:

ay. 47 menyebutkan bahwa barangsiapa percaya [mempunyai iman akan Kristus] ia mempunyai hidup yang kekal.

ay. 50, 51, 54 menyebutkan bahwa barangsiapa makan roti ini [Roti Hidup] ia mempunyai hidup yang kekal.

Maka kita ketahui bahwa Kristus menghendaki bahwa hal percaya tersebut berhubungan atau bahkan identik dengan makan Roti Hidup tersebut, agar seseorang memperoleh hidup yang kekal. Kedua hal tersebut, yaitu mengimani/ percaya kepada Kristus berkaitan erat juga dengan: 1) mengimani apa yang diajarkan-Nya tentang kehadiran-Nya dalam rupa roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus, dan 2) menyantapnya, sesuai dengan pesan Kristus, sebagai bukti bahwa kita mengimani ajaran Kristus ini.

Jadi tepatlah yang diajarkan oleh Rasul Paulus, bahwa untuk mengambil bagian/ menyantap Perjamuan Kudus, seseorang harus mengimaninya, sebab jika tidak, malah mendatangkan hukuman atas dirinya sendiri (lih 1 Kor 11: 27-30). Dari sini kita ketahui bahwa “perbuatan” menyantap Perjamuan Kudus, tidak terpisah dari iman. Maka ini bukan “salvation by works” seperti yang dituduhkan, sebab memang kalau seseorang hanya makan roti itu tanpa mengimaninya, maka bukan keselamatan yang didapatkannya.

Gereja Katolik mengajarkan pentingnya mengambil bagian dalam Perjamuan Ekaristi, karena tidak memisahkan iman dengan perbuatan, sebab itulah yang diajarkan oleh Kristus baik dalam perikop Roti Hidup, maupun juga ajaran para rasul, seperti yang jelas diajarkan oleh Rasul Yakobus (lih Yak 2:24,26). Perbuatan saja memang tidak menyelamatkan, seperti dikatakan oleh Rasul Paulus, sebab kita diselamatkan oleh kasih karunia/ rahmat Allah (lih. Rom 11:6; Tit 3:5), oleh iman (Flp 2:8). Namun tentu saja, iman ini harus disertai perbuatan, sebab tanpa perbuatan, iman itu mati (Yak 2:26). Maka menyambut Kristus dalam Perayaan Ekaristi bukan merupakan perbuatan semata, namun perbuatan menerima kasih karunia Allah, atas dasar iman, sebab dengan imanlah kita menyambut Kristus yang hadir dalam rupa roti tersebut; dan dengan imanlah kita melakukan apa yang diperintahkan oleh Kristus agar dapat memperoleh kehidupan yang kekal seperti yang diajarkan oleh Kristus (Yoh 6).

3. Mengenai istilah daging dan (Inggris: flesh; Yunani: SARX) ‘tubuh’ (Inggris: body; Yunani: SOMA)

Hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

Justru dengan digunakannya istilah “sarx”/ flesh dalam perikop Roti Hidup ini, maka semakin menguatkan arti literalnya bahwa memang kehendak Yesus adalah agar kita menyantap/ mengunyah makanan rohani tersebut, yaitu Diri-Nya sendiri, sebab Ia adalah Sang Roti Hidup yang memberi hidup kepada dunia. Jadi “tubuh” ini tidak untuk diartikan simbolis, sebab Yesuspun tidak mengatakan “Inilah lambang tubuh-Ku” tetapi, “Inilah tubuh-Ku.” Kata “sarx“/ flesh ini yang juga dipakai pada Yoh 1:14, yang mengatakan, “The Word became flesh and dwelt among us” [diterjemahkan oleh LAI: Firman itu telah menjadi manusia].

4. Mengenai masalah tenses.

Tata bahasa Ibrani dan Yunani memang tidak sama dengan tata bahasa Inggris, sehingga pemahamannya tidak dapat disamakan dengan pengertian tata bahasa Inggris. Dalam tata bahasa Yunani bentuk lampau (past tense) dapat diartikan sebagai sesuatu yang sudah terjadi maupun sesuatu yang pasti terjadi (with certainty). Maka bentuk lampau yang ada pada ay. 50, 51, 53 tersebut adalah untuk menyatakan sesuatu yang pasti terjadi.

Pemikiran anda benar, yang mengatakan bahwa mungkin dan bisa saja Tuhan Yesus membicarakan tentang Perjamuan Kudus/ Ekaristi (dalam Yoh 6) meskipun hal itu belum terjadi karena Yesus adalah Tuhan, dan Ia sudah merencanakan tentang Perjamuan Kudus, dan Ia harus mengajarkan maknanya terlebih dahulu kepada para murid-Nya.

5. Jawaban pertanyaan anda:

a) Haruskah mengikuti perjamuan Ekaristi agar bisa hidup kekal?
Dari perikop Roti Hidup, kita ketahui bahwa Tuhan Yesus menghendaki agar kita makan roti hidup yang turun dari sorga ini, yaitu Kristus sendiri, untuk memperoleh hidup yang kekal. Ini dikatakan dengan jelas dalam Yoh 6: 51, 53, 54. Maka jika kita mengimani Kristus, selayaknya kita mengimani pula apa yang diajarkan-Nya ini. Memang Tuhan Yesus tidak mengatakan secara literal bahwa seseorang “harus” mengikuti perjamuan Ekaristi agar memperoleh hidup kekal, tetapi kita mengetahui bahwa Ia menghendaki demikian; dan Ia sangat menghendaki agar kita memakan roti hidup ini [yaitu Kristus sendiri]; sebab kita melihat Ia mengulangi firman ini sampai tiga kali. Angka “tiga” sendiri menunjukkan kesempurnaan, sehingga kita mengetahui bahwa firman ini merupakan sesuatu yang sangat penting; dan sangat dikehendaki oleh Kristus.

Kata “harus” sendiri tidak muncul dalam perintah Kristus yang terutama, yaitu “Kasihilah Tuhan Allahmu dan sesamamu manusia” (lih. Mat 22:37-39; Mrk 12:30-31; Luk 10:27), maka tidaklah mengherankan kalau kata “harus” juga tidak muncul dalam perikop Roti Hidup ini. Tuhan Yesus tidak pernah memaksa seseorang untuk percaya kepada-Nya ataupun kepada apa yang diajarkan-Nya. Yang dilakukan-Nya adalah mengajarkan dan menyatakan kehendak-Nya, dan memang tiap- tiap manusia mempunyai kebebasan untuk menaatinya atau tidak. Tentu jika kita mengaku percaya dan mengasihi-Nya, selayaknya kita menaati dan memenuhi apa yang menjadi kehendak-Nya. Dan inilah yang dilakukan oleh Gereja Katolik dalam hal perayaan Ekaristi.

b) Bagaimana dengan penjahat yang di Lukas 23:43 (Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”)

Dalam pengajaran Gereja Katolik, penjahat tersebut memang diselamatkan, karena dia telah menerima baptisan rindu (baptism of desire). Selanjutnya tentang baptisan rindu ini silakan klik di sini. Penjahat itu telah bertobat dengan sungguh-sungguh dengan mengatakan “40 Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? 41 Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” (Lk 23:40-41) Dan dia mempunyai iman, dengan mengatakan “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” (Lk 23:42). Dan iman ini memang menyenangkan hati Allah (lih. Ibr 11:6). Dan sampai mati dia menunjukkan pertobatan dan iman, serta menunjukkan kasih kepada Yesus, karena sang penjahat tersebut mengalami semuanya pada waktu yang singkat. Oleh karena itu, keselamatan yang merupakan suatu proses terlihat merupakan satu kejadian, yang melibatkan iman dan kasih. Namun, tetap saja keselamatan adalah suatu proses, hanya dalam kasus ini, prosesnya begitu cepat.

Keselamatan penjahat tersebut tidak terikat oleh Sakramen Baptis, karena pada waktu itu Sakramen Baptis belum sepenuhnya diinstitusikan oleh Yesus, dalam pengertian bahwa rahmat dari Sakramen Baptis adalah bergantung dari misteri Paskah: penderitaan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Tuhan Yesus. Hal ini sama seperti orang-orang yang meninggal di dalam Perjanjian Lama. Mereka tidak mungkin dituntut untuk mempertanggungjawabkan iman mereka berdasarkan iman kepada Yesus, karena mereka tidak tahu. Namun, kalau mereka diberitahu akan Yesus, mereka akan percaya. Demikian juga dengan penjahat tersebut, kalau seandainya dia diterangkan bahwa baptisan adalah mutlak untuk keselamatan, maka dia akan mau menerimanya. Dan inilah prinsip dari baptisan rindu. Jadi, tetap saja penjahat tersebut menerima baptisan – yaitu baptisan rindu -, namun bukan secara sakramental. Tentang apakah seseorang menerima baptisan rindu, hanya Tuhan saja yang tahu, karena Tuhanlah yang menilik hati setiap orang.

Bahwa si penjahat yang bertobat itu tidak “mengikuti Perjamuan Kudus” namun diselamatkan, itu bukan untuk dijadikan patokan bagi setiap orang, karena kasusnya yang khusus. Lagipula, hal keselamatan memang bukan hanya terbatas oleh Perjamuan Kudus; melainkan oleh iman kepada Kristus, perbuatan kasih yang membuktikannya, dan terutama oleh kasih karunia/ rahmat Tuhan yang diterima, dan ini diterima pertama- tama melalui Baptisan, dan sakramen- sakramen lainnya, khususnya Perjamuan Ekaristi.

Dengan demikian, tidak benar kalau dikatakan hanya oleh iman saja seseorang diselamatkan. Kitab Sucipun tidak pernah menyatakan bahwa hanya iman saja yang menyelamatkan seseorang. Hal ini sudah pernah dibahas panjang lebar dalam dialog di sini, silakan klik, dan juga Paus Benediktus XVI dan Sola Fide, silakan klik.

Maka walaupun “makan” dan “minum” dalam Perjamuan Kudus merupakan suatu tindakan/ perbuatan, namun hal itu tidak terpisah dari kasih karunia/ rahmat Allah yang mengalir di dalam-Nya [karena yang disambut adalah Kristus sendiri], dan tak terpisah dari iman akan Kristus, karena dilakukan atas perintah Kristus, “perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” (Luk 22:19). Tentu ini menjadi sangat berbeda konteksnya dengan perbuatan melakukan hukum taurat yang tanpa didasari iman akan Kristus, dan perbuatan inilah yang dimaksud oleh Rasul Paulus, pada saat mengatakan bahwa manusia tidak diselamatkan oleh perbuatan (lih. Rom 3:20).

Demikian jawaban saya untuk pertanyaan anda, semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab