Home Blog Page 231

Judi dan saham

13

Pertanyaan:

Syalom Pak stef dan Bu Ingrid .

Saya mau bertanya apakah judi itu dosa? Apakah ada ayat di Kitab suci yang menekankan dan persepsi tentang judi itu dosa? Kalau judi itu dosa, bagaimana dengan orang-orang yang bermain saham dalam pekerjaannya menghidupi keluarga ?]

Terima kasih atas perhatiannya GBU

Jawaban:

Shalom Ericco,

1. Tentang judi/ bermain dengan taruhan (Game of chances)

Sebenarnya jika dari tindakannya itu sendiri, judi (bermain dengan bertaruh seperti misalnya dalam permainan kartu) pada dasarnya tidak melanggar keadilan, dalam arti yang menang memperoleh sesuatu dari kemenangannya. Namun menjadi tidak adil dan tidak dapat dibenarkan secara moral, jika permainan melibatkan jumlah uang yang besar dan merugikan pihak- pihak yang bermain, terutama yang kalah. Dan inilah yang umumnya terjadi pada bisnis perjudian; ada banyak orang yang menarik keuntungan besar dari bisnis ini, sementara yang kalah benar- benar terpuruk oleh karena kekalahan mereka. Dalam kondisi ini, judi tidak dapat dibenarkan baik secara moral ataupun keadilan, karena dapat merugikan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya maupun keperluan hidup orang lain. Lebih jauh, seseorang dapat terjebak pada nafsu berjudi, sehingga sulit lepas dari kebiasaan yang membahayakan ini, yang pada akhirnya dapat merugikan diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, jauhilah judi dan berusahalah untuk mendapatkan uang secara halal.

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan demikian:

KGK 2413 Main judi/ games of chance (umpamanya main kartu) atau taruhan, ditinjau dari tindakannya itu sendiri, sebenarnya tidak melanggar keadilan. Tetapi itu tidak dapat dibenarkan secara moral, kalau merugikan seseorang dalam apa, yang ia butuhkan untuk keperluan hidupnya dan keperluan hidup orang lain. Nafsu bermain dapat memperhamba pemain. Mengadakan taruhan yang tidak adil atau menipu dalam permainan adalah kesalahan besar, kecuali kalau kerugian itu begitu minim, sehingga yang dirugikan tidak terlalu menghiraukan sesuai dengan akal sehat.

Jadi kesimpulannya, silakan menggunakan kebijaksanaan (prudence) untuk menyikapi hal ini. Sesekali bermain kartu dengan taruhan yang minim, misalnya yang menang mentraktir yang kalah, dengan jumlah yang wajar (misal sekedar minum kopi atau makan snack) dan tidak memberatkan semua pihak dan disetujui oleh semua pihak, mungkin masih dapat diterima. Masalahnya adalah dalam hal ini semua pihak harus dapat menahan diri untuk tidak melanjutkan pertaruhan ke tingkat yang tidak wajar, dan agar jangan sampai kecanduan bermain sampai melupakan tanggung jawab yang lain.

2. Syarat agar bermain dengan taruhan (contoh: saham) masih dapat dibenarkan secara moral

Para teolog secara umum mensyaratkan adanya empat kondisi untuk bermain dengan taruhan (seperti saham, dst) masih dapat dibenarkan secara moral, (sumber New Advent Encyclopedia, klik di sini)

1. Apa yang dipertaruhkan haruslah merupakan kepunyaan yang bermain, dan dapat dikeluarkan kapan saja. Jadi tidak benar jika misalnya, seseorang lawyer yang mempertaruhkan uang kliennya (jadi bukan miliknya sendiri, tanpa persetujuan kliennya) atau seseorang yang mempertaruhkan harta milik yang seharusnya digunakan untuk keperluan sehari- hari bagi istri dan anak- anaknya.

2. Yang bermain harus bertindak tanpa paksaan, tanpa tekanan yang tidak wajar.

3. Tidak boleh ada penipuan dalam transaksi.

4. Harus atas dasar persamaan derajat antara pihak- pihak yang ada dalam kontrak/ perjanjian.

3. Kesimpulan

Walaupun dikatakan bahwa jika dilakukan dengan kebijaksanaan/ prudence dengan syarat- syarat tertentu, maka bermain yang melibatkan pertaruhan masih dapat dibenarkan secara moral, namun sesungguhnya, kita perlu berhati- hati dan sedapat mungkin menghindari melakukan permainan- permainan semacam ini, apalagi jika menyangkut jumlah yang tidak wajar, seperti mencapai sampai hampir keseluruhan harta milik. Hal ini disebabkan karena manusia mempunyai kecenderungan untuk memperoleh lebih dan lebih lagi dari sebelumnya. Kecenderungan ini dapat menjerumuskan manusia dalam dosa perjudian, yaitu keterikatan untuk bermain, dan untuk terus mempertaruhkan lebih banyak, karena tidak lagi dapat mengendalikan diri dan memikirkan kebutuhan anggota keluarganya [Padahal ada juga resiko kehilangan uang sejumlah yang ditanamkan/ dipertaruhkan, atau malah lebih]. Jika ini permainan/ taruhan macam ini terus dilakukan, maka seseorang jatuh ke dalam keinginan daging, yaitu hawa nafsu dan kepentingan diri sendiri (lih. Gal 5:19-21), dan ini tidak berkenan di hadapan Allah.

Demikian, semoga dapat dipahami.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Air Lourdes Menjahit Luka Kakiku

20

Pengantar dari Katolisitas

Terima kasih Hany, atas kesaksianmu yang indah ini. Semoga kesaksian ini dapat menguatkan dan mendatangkan berkat bagi para pembaca sekalian. Dewasa ini, banyak orang kerap mempertanyakan apakah Tuhan peduli akan pergumulan hidup kita. Kesaksian sederhana ini dapat menjadi bukti bahwa Tuhan peduli dan Ia mengirimkan pertolongan-Nya pada waktunya. Bagi Allah tiada yang mustahil (Luk 1:37) dan kami di Katolisitas turut bersyukur dan memuji Allah atas kesembuhan yang anda alami. Terima kasih Tuhan Yesus atas pertolongan-Mu, terima kasih Bunda Maria atas dukungan doa- doamu…

Air Lourdes Menjahit Luka Kakiku

Oleh: Hany Widjaya

Kisah air Lourdes ini terjadi dua puluh tiga tahun yang lalu, tetapi tidak pernah dapat kulupakan. Kisah ini pula yang membuat aku sangat mencintai Tuhan Yesus dan Bunda Maria, dan meneguhkan aku untuk terus percaya bila mukjizat itu masih terjadi, bukan hanya dalam Kitab Suci, tetapi juga dalam kehidupan manusia dalam dunia kita sehari-hari, sampai saat ini.

Kejadian ini berawal dari keinginanku untuk menjadi seorang penari balet. Karena kondisi keuangan keluarga dan pengetahuan orang tua yang sangat minim, aku baru ikut kursus balet di Sumber Cipta (sekolah balet yang  terkenal di Jakarta), ketika aku masuk SMA. Padahal sesungguhnya, sejak dari TK, aku sudah bercita-cita untuk menjadi penari balet. Saat aku mulai belajar menari balet, mayoritas teman sekelasku di tingkat pemula 3 adalah anak-anak kecil. Namun tanpa merasa malu dan dengan gigih aku berlatih sendiri di rumah. Melihat kegigihanku (dan mungkin perkembangan kemampuanku), aku diberi kesempatan naik ke kelas 1 dan terpilih untuk pentas ”Cinderella”, meskipun perannya hanya sebagai teman-teman Cinderella. Waduh, senang dan bangganya bukan main! Waktu itu, tingkat 1 berarti sudah diperbolehkan memakai ”sepatu point”, sepatu yang memungkinkan sang penari berdiri di ujung kaki, suatu kebanggaan bagi penari balet. Aku begitu senang, apalagi saat mendapat ”free” kesempatan berlatih di kelas tambahan, sehingga praktis tiga kali seminggu aku berlatih balet, plus setiap hari berlatih di rumah. Tanpa kusadari, ternyata aku telah terlalu ’memaksakan’ kakiku untuk bekerja terlalu keras. Karena di samping berlatih menari balet, aku juga mengikuti yoga dan berenang sebagai ekstra kurikuler di sekolah. Akhirnya, kaki kananku kewalahan dan aku mulai merasakan sakit pada lutut kananku. Jangankan balet, setiap kali bergerak, berdiri, berjalan, dan berjongkok, lututku terasa ngilu.

Setelah kusampaikan keluhanku kepada mamiku, Mami mengajak aku memeriksakan kakiku ke dokter. Dokter menyatakan aku terkena ”chondromalasia patella dextra”. Hal ini disebabkan oleh terlalu banyak kegiatan berolah raga, sehingga ada bantalan tulang rawan di lutut yang sobek di tengah. Bantalan ini berada di antara tulang betis dan tulang paha, yang salah satu fungsinya adalah menjaga supaya tulang lutut dan tulang paha tidak beradu saat bergerak. (Agar lebih jelas untuk para sahabat Katolisitas, tulang rawan adalah tulang muda yang kalau pada ayam goreng, warnanya putih dan biasanya jika digigit / dikunyah rasanya enak dan teksturnya agak renyah). Karena tulang rawan ini sobek, maka setiap gerakan akan menyebabkan tulang betis dan tulang paha beradu, sehingga terasa ngilu. Menurut dokter, kasus ini umumnya diderita oleh olahragawan dan proses operasi yang tercatat berhasil baru terjadi di Jerman. Operasi di Indonesia saat itu mempunyai tingkat keberhasilan yang sangat kecil. Bila tidak berhasil, resikonya kakiku akan lurus terus dan tidak bisa ditekuk. Operasi ke Jerman? Wah, tidak mungkin….uang untuk sekolahpun sudah mepet, sebab pekerjaan kedua orangtuaku adalah guru, sehingga memang kami termasuk keluarga yang sederhana secara finansial.

Karena takut dengan resiko tersebut, akhirnya Mami memutuskan untuk menunda operasi. Saat berjalan aku banyak memakai kaki kiri. Sejak bangun tidur – turun dari ranjang saja aku sudah memakai kaki kiri – melangkah, naik tangga di sekolah, naik bis, naik mikrolet atau bajaj.. apa saja, aku selalu menggunakan kaki kiri. Lambat laun, kaki kananku mulai mengecil, karena tanpa kusadari, aku tidak banyak menggunakan kaki kananku ini. Sedih rasanya. Melihat bahwa aku tidak bisa mengikuti pelajaran olah raga dan lututku selalu dibalut knee-decker (perban berbahan karet untuk membantu berjalan), seorang teman SMA-ku yang mempunyai ayah dan ibu dokter, meminta foto kakiku untuk dikonsultasikan kepada orang tuanya. Selanjutnya, temanku ini menawarkan diri untuk mendampingiku berdoa bersama di gua  Maria di sekolah kami, Santa Ursula. Jadilah kami berdua selalu berdoa bersama sampai nangis-nangis di sana. Aku juga bingung, kenapa aku jadi dekat dengan temanku ini, padahal sesungguhnya aku sudah mempunyai sahabat kental di kelasku. Suatu kali selesai berdoa, temanku itu memberikan kepadaku air Lourdes, dan ia menceritakan kepadaku tentang kisah penampakan Bunda Maria di Lourdes Perancis (1858) dan bagaimana mukjizat- mukjizat masih terjadi melalui perantaraan doa- doa Bunda Maria sampai sekarang. Maria selalu menjadi perantara bagi orang- orang yang memohon kepada Tuhan Yesus. Sejak saat itu, setiap hari saat aku berdoa, aku meminum dan mengoleskan air Lourdes di lututku. Demikianlah, hari demi hari kulalui dengan doa memohon belas kasihan Tuhan melalui Bunda Maria. Sedikit demi sedikit aku terdorong untuk semakin mengenal Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Memang, aku sudah menjadi Katolik sejak lima tahun sebelumnya, tetapi aku sangat jarang ke gereja. Kini dalam keadaan sakit kakiku, aku tidak punya pilihan lain selain menaruh harapanku kepada Tuhan. Berdoa di gereja menjadi kerinduanku. Aku sepertinya menemukan tempat perlindungan di tengah kegalauan hatiku saat itu. Dengan nyaring aku berseru-seru kepada Tuhan, dengan nyaring aku memohon kepada Tuhan. Aku mencurahkan keluhanku kepada-Nya, kesesakanku kuberitahukan ke hadapan-Nya (Mazmur 142 : 2-3)

Namun demikian, bahkan di saat berdoa, aku tak kuasa membendung pikiranku yang berkecamuk. Aku mulai membayangkan bagaimana kehidupan perempuan berkaki cacat, dengan satu kaki yang lurus kaku dan memakai kruk pula. Aku mulai membeli celana jeans baru, karena yang lama sudah tidak muat lagi. Kaki kiriku sudah berotot seperti olahragawan sementara kaki kananku menjadi semakin melemah dan mengecil. Namun demikian, aku masih mempunyai harapan, sebab sahabatku memberikan kepercayaan baru setiap kali  berdoa bersama. ”Hany, percayalah bahwa Bunda Maria senantiasa berkenan untuk menyampaikan kepada Yesus Putranya agar Ia menjamahmu. Ingat Han, peristiwa mukjizat di Kana,” demikian kata sahabatku. ”Begitu banyak orang yang disembuhkan di Lourdes, banyak yang datang ke sana dengan memakai kursi roda namun mereka pulang dengan berjalan normal. Jangan bosan mengoleskan air Lourdes ini ya, Han,” lanjutnya.  Dalam hati aku berbisik, ”Bunda Maria, aku tidak punya apa-apa lagi. Kata dokter, satu-satunya jalan adalah operasi yang kemungkinan kesembuhannya sangat kecil. Tetapi aku masih mempunyai harapan akan pertolonganmu. Mohon sampaikan kepada Putramu Yesus, sebagaimana saat engkau berkenan menolong saat orang kehabisan anggur di pesta perkawinan di Kana.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”(Yohanes 2:5)

Secara ajaib, beberapa hari kemudian, mamiku membaca koran Kompas di bagian olahraga. Seorang pemain sepakbola klub ”Warna Agung” menderita kasus yang sama dengan kasusku. Esoknya, Mami pergi ke klub sepakbola dan mendapatkan informasi bahwa kasus ini dirawat oleh Prof. Chaehab Rukmi Hilmi (alm), ahli ortopedi, di Rumah Sakit Setia Mitra. Kami pergi ke sana dan kakiku difoto kembali dengan memasukkan jarum dari sisi kiri lutut, menembus hingga sisi kanan. Wuaduh sakitnya minta ampun! Dari fotonya memang tampak jelas, bantalan bulat pipih seperti karet bening tebal itu sobek di bagian tengahnya menjadi dua, sehingga tulang paha dan tulang betisku selalu beradu saat aku bergerak. Itulah sebabnya mengapa aku selalu merasakan ngilu di lutut kananku. Sobekan itu semakin parah, karena setiap hari tulang paha dan tulang betisku selalu beradu saat aku bergerak. Berbeda dengan dokter pertama yang galak, dokter ini dengan tenang menyampaikan bahwa memang cara menyembuhkan kasus ini adalah dengan operasi, yang tingkat keberhasilannya sangat kecil. Tetapi aku dipersilakan berpikir-pikir dulu untuk memutuskan apakah aku bersedia dioperasi atau tidak. Masuk akal juga, sebab benang macam apakah yang sanggup menjahit tulang rawan yang  koyak, yang setiap harinya digerus oleh dua tulang yang dibebani dengan berat badanku, sekitar 40 kg itu?  Dokter hanya memberikan aku salep dan aku disinar, sekedar mengurangi rasa sakit dan menguatkan otot di sekitar lututku. Kami pulang, dan hari- hari berikutnya kulalui dengan doa dan doa.

Tiga bulan kemudian, Mami mengajak aku kembali ke dokter untuk membicarakan keputusan dan kemungkinan operasi. Daripada aku menderita terus, betapapun kecilnya kemungkinan keberhasilan operasi, mungkin lebih baik tetap dicoba, demikian kata mamiku. Aku berpikir, mungkin Tuhan Yesus akan menjamahku saat operasi, dan aku bisa tercatat sebagai orang yang operasinya berhasil. Namun, pada saat yang sama akupun berdoa, ”Tetapi bila akhirnya aku harus cacat, O, Tuhan, berikanlah kekuatan kepadaku untuk melalui hari-hari yang sulit itu….” Beberapa hari kemudian, lutut kananku difoto kembali untuk melihat kondisi terakhir. Kakiku ditusuk lagi dengan jarum panjang seperti tusuk sate. Kemudian hasil fotopun dilihat… Dokter membolak-balik foto tersebut, mengganti lagi dengan foto yang lain, dibolak balik, diputar ke kanan dan ke kiri. Dan akhirnya dokter mengatakan, ”….. Wah mana ya, yang sobek? Tulang rawannya sudah menutup kembali…” Kami bingung dan berpandang-pandangan sejenak. Saat itu seolah bumi berhenti berputar. Apakah aku bermimpi? Aku menggigit bibirku, dan kusadari aku tidak sedang bermimpi. Aku merinding dan menangis terharu, ”Terima kasih, Tuhan Yesus! Terima kasih, Bunda Maria!” Mamiku spontan berteriak, ”Terima kasih, ya Tuhan!”  Kemudian, aku diminta naik ke atas meja pemeriksaan, kakiku ditekak-tekuk, diputar-putar, didorong ke kiri dan ke kanan….  namun anehnya, tidak sakit dan tidak ngilu lagi. Ajaib Tuhan! Aku sungguh tidak menyangka, bahwa Tuhan Yesus telah menyembuhkan aku. Betapa baiknya Engkau, Tuhan! Betapa besar kasih-Mu dan kasih Bunda Maria kepadaku….tak mampu rasanya kulukiskan rasa syukurku…. Terpujilah Tuhan, sebab kasih setia-Nya ditunjukkan-Nya kepadaku dengan ajaib pada waktu kesesakan ! Aku menyangka dalam kebingunganku: Aku telah terbuang dari hadapan mata-Mu.” Tetapi sesungguhnya Engkau mendengarkan suara permohonanku, ketika aku berteriak kepada-Mu minta tolong (Mazmur 31 : 22-23)

Sejak saat itu kakiku kembali normal. Aku bisa berjongkok, berlari, dan kakiku tidak lagi kecil sebelah. Meskipun aku tidak dapat menjadi penari balet, tetapi aku merasa sangat bahagia. Aku percaya mukjizat masih terjadi. Bunda Maria sungguh mengasihi aku, dan ia menyertai aku dengan doa-doanya. Ia memberikan kepadaku ketabahan dan memohon kepada Putranya Yesus, untuk menjamahku. Aku percaya air Lourdes telah menjahit luka tulang rawan di lutut kananku perlahan-lahan selama tiga bulan, melawan gerusan tulang paha dan betis yang terjadi setiap kali aku bergerak. Suatu keajaiban yang mustahil rasanya di mata manusia. Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; sabda Tuhan itu murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya. Sebab siapakah Allah selain dari Tuhan, dan siapakah gunung batu selain dari Allah kita? Allah, Dialah yang menjadi tempat pengungsianku yang kuat dan membuat jalanku rata; yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit (2 Samuel 22 : 31-34)

Sobat Katolisitas, masih ada lagi…melalui peristiwa ajaib yang disaksikan sendiri oleh mamiku, beliau langsung memutuskan untuk menjadi Katolik. Rupanya kisah ini telah dipakai Tuhan untuk mengetuk pintu hati mamiku.

Terima kasih Tuhan Yesus untuk segala kebaikanMu. Terima kasih, Bunda Maria. Semoga Tuhan memberikan aku kesempatan untuk mencintaimu sepanjang hidupku. Dan semoga lebih banyak orang yang mengalami jamahan Tuhan Yesus melalui doa- doamu, seperti aku dan mamiku. Amin.

Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada Tuhan! (Mazmur 31 : 25)

Tentang Hesychasm

7

Pertanyaan:

dear katolisitas.org…

saya ingin menanyakan beberapa pertanyaan :
1.a. bagaimana sikap pandangan Gereja Katolik tentang Hesychasm??
b.apakah Hesychasm bertentangan dengan ajaran Katolik atau tidak??
c.kalau bertentangan kenapa Gereja Timur yang Katolik (bersatu dengan bishop of Rome) boleh melaksanakan atau melakukan praktek Hesychasm??
d. kalau tidak bertentangan kenapa St.Thomas Aquinas dalam Summa Theology-nya terlebih dalam Summa contra Gentiles-nya menentang Hesychasm dengan menulis chapternya yang berjudul “That in God Existence and Essence is the same” untuk mengupas hal tersebut??
e.bagimana Gereja Barat yang Katolik yang kebanyakan menganut paham skolastik dalam hal berteology menanggapi Gereja Timur yang Katolik yang menganut paham Theoria/Theosis dalam berteology yang kebanyakan kaum teology Gereja Barat memandang Negatif terhadap cara berteology Gereja Timur ini yang kalau dilihat cara berteology kedua Gereja ini saling bertentangan??

2. kenapa St.Gregory Palamas bisa diperbolehkan masuk dalam kalender liturgi orang kudus Gereja Katolik dan harinya boleh dirayakan oleh beberapa Eastern Catholic Church?? padahal bisa dibilang st.Gregory Palamas bisa dibilang sangat anti-Roma dengan keras menolak Filioque sampai akhir hayatnya dan Eastern Orthodox Church melabelinya sebagai salah satu 3 pilar Ke-Orthodox-an selain Mark of Efesus dan Pothius of Constantinople karena sangat anti Filioque??

St.Gregory Palamas berkata : “We will not receive you Latins in communion with us as long as you say that the Spirit is also from the Son”

harap team katolisitas.org menanggapinya…
terima kasih…

Pax Christi…
Christopher

Jawaban:

Shalom Christopher,

Berikut ini adalah jawaban saya tentang pertanyaan anda yang saya sarikan dari beberapa sumber, terutama dari link ini, silakan klik.

1. Tentang Hesychasm

Hesychasm yang dikenal sekarang, adalah suatu sistem mysticism yang dipegang oleh para rahib di Athos pada abad ke empat belas, yang menjadi bagian dari sejarah Gereja Byzantine. Prinsipnya para rahib tersebut berpegang pada suatu teori bahwa adalah mungkin –dengan sistem asketis dan ketidakterikatan dengan urusan dunia, ketaatan penuh pada seorang pembimbing spiritual, doa yang melibatkan penyerahan sempurna baik tubuh maupun kehendak — seseorang dapat melihat terang mistik, yang adalah terang Tuhan yang tidak diciptakan (the uncreated light of God). Menurut para Hesychast, terang ini adalah terang yang sama seperti yang terlihat pada saat Transfigurasi/ pada saat Yesus dimuliakan di atas gunung Tabor.

Dengan teori ini, para Hesychast membedakan dua hal dalam diri Tuhan, yaitu hakekat Tuhan (essence/ ousia) dan tindakan Tuhan (energi/ actus/ operatio). Nah, pembedaan inilah yang tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik, yang mengajarkan bahwa pada Tuhan tidak ada pembagian- pembagian, karena Tuhan itu Maha sederhana.

Selanjutnya jika anda ingin membaca tentang Hesychasm, dan segala yang terjadi seputar pengajaran tersebut, silakan anda membaca lebih lanjut link yang saya berikan di atas dari New Advent Encyclopedia. Di sana anda kan membaca bahwa dari sejarahnya, teori Hesychasm juga dulu tidak dengan mudah diterima, bahkan di kalangan Gereja Timur. Palamas mendapat perlawanan dari sesama rahib, Barlaam, seorang Uskup Gerace di Calabria, yang datang ke Konstantinopel (1328-1341). Kemudian Logothete Theodorus Matochites, seorang teolog Yunani terkenal di abad ke -14 juga menentang ajaran Hesychasm. Barlaam menentang Hesychasm, sebab ia menolak adanya pembedaan/ pembagian antara Tuhan dan terang Tuhan yang bukan Tuhan.

Sinoda di Konstantinopel digelar tahun 1341, dipimpin oleh Raja Andronicus III, dan diakhiri dengan kemenangan pihak Hesychasm, demikian pula sinoda kedua (tanpa kehadiran patriarkh) yang dipimpin oleh John VI, Cantacuzenus, karena ia adalah teman Palamas. Pada tahun 1345 para patriarkh mengadakan sinoda ketiga dengan kehadiran para patriakh dan mereka mengekskomunikasi Palamas dan muridnya yang bernama Isidore Buchiras Uskup Monembasia. Pada saat John Cantacuzenus jaya dan masuk Konstantinopel, Palamas dan Buchiras mohon perlindungan. Ada faktor politik di sini, yang mendukung seolah Hesychasm identik dengan orthodoxy. Buchiras yang telah diekskomunikasi di sinoda ketiga diangkat menjadi patriakh, mengambil nama Isidore I, (1347-1349). Para pengikut Barlaam kemudian menggelar sinoda kelima, untuk menolak Buchiras, dan mengekskomunikasi Palamas. Sejak saat ini Nichephorus Gregoras menjadi penentang Hesychasm. Ketika Isidore wafat, ia digantikan oleh rahib Callistus I (1350-1354). Sinoda keenam digelar. Dalam sinoda itu, meskipun Gregoras telah menyampaikan pandangannya dengan berani, namun sinoda yang diadakan istana Cantacuzenus, pelindung Hesychasm itu, berakhir dengan diakuinya paham Hesychasm dan ajaran Palamas sebagai ajaran orthodox. Cantacuzens kemudian menjadi rahib dan menuliskan tentang kontemplasi terang, ajaran Hesychasm.

Selanjutnya, para anti Hesychasm itu mengadakan sinoda di Efesus, namun para patriarkh Konstantinopel dan banyak orang telah beranggapan bahwa ajaran Hesychasm adalah ajaran orthodox, dan penolakan akan ajaran itu menjadi seperti seolah membela Gereja Latin. Maka sejak saat itu (1368) paham Hesychasm selalu jaya di Gereja Timur.

2. Hesychasm bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik?

Prinsip yang dijadikan dasar pemahaman Hesychasm berbeda dengan ajaran Gereja Katolik. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Allah adalah Maha Sederhana /God is absolutely simple– (De Fide -lihat Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, p. 31). Hal ini diajarkan pada Konsili Lateran pada abad ke 4, dan masih diajarkan terus demikian oleh konsili Vatikan, bahwa Tuhan merupakan hakekat/ kodrat yang mutlak sederhana (D 428, 1782).

Sejalan dengan prinsip ini, maka Gereja Katolik juga mengajarkan bahwa Sifat- sifat Tuhan (the Divine Attributes) semuanya adalah sama dengan Hakekat Allah (the Divine Essence)(De Fide– lihat Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, p. 28). Ajaran ini ditetapkan oleh Sinoda di Rheims tahun 1148, untuk menolak ajaran dari Gilbert dari Poitiers yang mengajarkan bahwa Tuhan (God) berbeda dengan (Godhead), Hakekat-Nya berbeda dengan Sifat- sifatNya.

Nampaknya Hesychasm juga memegang prinsip pembedaan antara Hakekat Tuhan dan sifat- sifat Tuhan, seperti yang dipelopori oleh Gregorius Palamas (+ 1359). Menurut Palamas, hakekat Tuhan tidak dapat diketahui, sedangkan sifat- sifat-Nya dapat diketahui dengan doa kontemplatif melalui terang Allah yang tidak diciptakan (uncreated Divine light).

Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci mengajarkan bahwa Hakekat Tuhan sama dengan sifat- sifat-Nya, seperti yang dikatakan dalam 1 Yoh 4:8, “Allah adalah kasih.” St. Agustinus juga mengajarkan hal yang sama, “Apa yang dipunyai Tuhan adalah hakekat-Nya” (De civ. Dei XI 10, 1). Dengan demikian Gereja Katolik tidak membedakan antara hakekat dan energi pada Allah. Hakekat Allah ini baru dapat diketahui pada kehidupan yang akan datang, di mana kita akan memandang Allah muka dengan muka (1 Yoh 3:2), sedangkan yang kita terima di dunia ini adalah rahmat Allah (grace).

3. Gereja Timur yang Katolik boleh melaksanakan praktek Hesychasm?

Terus terang saya tidak mengetahui dengan persis tentang hal ini. Yang saya ketahui, bahwa memang ada proses biasa/ regular yang dilaksanakan jika seseorang ingin berdoa menurut ajaran para Hesychast, misalnya tubuh harus dijaga tidak bergerak untuk waktu yang lama, menjaga pernafasan, dagu yang ditekan/ ditempelkan ke dada, mata tertutup dan seterusnya. Sebenarnya, jika maksudnya adalah untuk kontemplasi akan Allah, maka ini tidak jauh berbeda dengan kontemplasi yang diajarkan oleh beberapa orang kudus, seperti St. Ignatius dari Loyola, maupun St. Teresa dari Avila. Maka dapat saja cara meditasi dan kontemplasi-nya dapat tetap dilakukan, namun ajaran tentang pembedaan hakekat dan energi dalam Diri Allah, tidak untuk dipertahankan.

4. St. Thomas Aquinas menentang Hesychasm?

Dalam bukunya Summa Contra Gentiles, bab 102, St. Thomas mengajarkan, “Bahwa di dalam Tuhan, Eksistensi dan Hakekat adalah sama”. Maksudnya, adalah sama bagi Tuhan, untuk menjadi Tuhan dan untuk menjadi apa yang menjadikannya sebagai Tuhan. St. Thomas, melanjutkan ajaran yang disampaikan oleh St. Agustinus, yaitu bahwa tidak ada perbedaan antara hakekat Allah dan sifat- sifat Allah. Dengan demikian, St. Thomas memang tidak sepaham dengan Hesychasm.

5. Bagaimana Gereja Barat (Roma) yang menganut paham skolastik menanggapi Gereja Timur yang menganut Theosis?

Gereja Katolik Roma, memegang Tradisi Suci sesuai dengan ajaran para Bapa Gereja, seperti yang telah ditetapkan oleh Konsili dan Sinoda para Uskup sejak abad ke-4. Sejujurnya, menurut hemat saya, pertentangan antara paham skolastik dan theosis sesungguhnya tidak terlalu tepat, karena perbandingan tersebut tidak “apple to apple“. Sebab pengertian skolastik yang mengacu pada pembelajaran/ studi teologi, dan Theosis yang mengacu kepada “divinization“/ “menjadikan ilahi” itu tidak dapat dipertentangkan, karena keduanya tidak bertentangan.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa kita sebagai Gereja mengambil bagian dalam kehidupan ilahi Allah sendiri di dalam sakramen- sakramen, mulai dari Sakramen Pembaptisan. Sehingga dalam hal ini, Gereja Katolik mengajarkan juga prinsip Theosis itu. Gereja Katolik tidak anti Theosis, namun pengertian Theosis-nya berbeda. Kita menerima rahmat Tuhan dan bersatu dengan Dia, tidak karena usaha asketis seperti yang dilakukan oleh para rahib (walaupun tentu persiapan rohani juga sangat penting), melainkan karena Allah sendiri yang menyampaikan rahmat-Nya melalui sakramen tersebut.

6. Mengapa St. Gregory Palamas dapat masuk dalam kalender liturgi Gereja Katolik?

Perayaan St. Gregorius Palamas tidak ada dalam Kalender Liturgi Roma, namun memang pihak Vatikan memperbolehkan perayaannya pada Gereja- gereja Timur dalam persekutuan dengan Gereja Katolik. Informasi ini dapat diperoleh di link ini, http://www.stamforddio.org/Feb.08.pdf

Memang ada beberapa orang kudus yang juga dihormati oleh Gereja- gereja lokal, namun tidak oleh seluruh Gereja universal. Fakta bahwa ketika beberapa Gereja Timur masuk dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, pihak Vatikan memperbolehkan mereka untuk tetap merayakan perayaan St. Gregorius, selayaknya dilihat sebagai upaya tulus dari Gereja Katolik Roma, untuk merangkul Gereja- gereja Timur. Gereja Katolik tetap mengakui adanya hal- hal yang positif dari pengajaran Palamas; dan dapat saja ajaran- ajarannya dan komentar- komentar keras yang dinyatakannya kepada Gereja Katolik, lebih merupakan material heresy daripada formal heresy. Silakan melihat perbedaannya di sini, silakan klik. lihat point 4a.

Di atas semua itu, mari kita melihat kenyataan yang ada sekarang bahwa Gereja Katolik dan beberapa Gereja Timur juga semakin melihat adanya banyak faktor yang mempersatukan daripada memisahkan antara mereka. Hal Filioque juga sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Silakan membaca di sana, bahwa secara obyektif kitapun dapat menilai bahwa sesungguhnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan karena sesungguhnya pemahaman Gereja Katolik dan Gereja Orthodox tentang hal ini tidak jauh berbeda, hanya penuangannya dalam kata- kata saja yang menjadikannya seolah berbeda.

Mari kita berdoa agar suatu saat nanti dapat tercapai suatu kata kesepakatan, sehingga kedua Gereja dapat bersatu dengan penuh, sehingga doa Kristus dalam Yoh 17:20-21 dapat terwujud.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Tentang INRI

4

Pertanyaan:

Shalom aleichem b’sem Yeshua massiah,

Meneruskan tentang salib yang dikemukakan oleh saudara Adi maka saya ada pertanyaan terhadap Team Katolisitas. Pada Injil Yohanes 8:27-28 disitu tertulis percakapan antara Tuhan dengan Nikodemus dimana disitu Yesus berkata “Apabila kamu sudah meninggikan Anak Manusia, pada saat itulah kamu akan mengetahui bahwa Akulah Dia”. Berarti pada saat di salib tersebut akan terbuka identitas Yesus. Dan pada Yohanes 19:19-20 dikatakan bahwa Pilatus menulis yang artinya “Yesus Orang Nazaret, Raja orang Yahudi” dalam tiga bahasa yaitu Ibrani, Latin dan Yunani. Tetapi yang kita kenal adalah tulisan Latin yang disingkat INRI. Padahal bila dituliskan dengan 3 bahasa tersebut dari sumber tulisan yang saya dapat adalah :

Latin :
Iesos Nazarenus Rex Iudaerom bila disingkat INRI maka kata INRI tidak berarti apa-apa.

Yunani :
Yesus o Nazorayos o Basileus ton Yudaion bila disingkat YNBY dan singkatan YNBY tidak berarti apa-apa.

yang menjadi arti adalah tulisan dalam bahasa Ibrani :
Ibrani :
Yeshua Hanatszri Wamelekh Heyehudim bila disingkat menjadi YHWH tulisan Tetragramanton dari Yahweh….Tuhan yang Esa. Jadi Yesus Kristus adalah YHWH yang menjelma menjadi manusia bila diruntut dari njil Yohanes 8 :27-28.

Pertanyaan saya adalah
1. kenapa Lambang salib yang kita punyai hanya singkatan dari bahasa latin saja (INRI) tidak ada bahasa Yunani dan Ibraninya?
2. Pertanyaan lebih lanjut adalah kenapa disingkat INRI saja tidak tulisan lengkap. Apakah Gereja perdana sudah menyadari bahwa dalam bahasa Ibrani bila disingkat maka mengungkap jati diri Kristus yang adalah Tuhan dan nama Tuhan tersebut sangat disakralkan oleh bangsa Yahudi mengingat Gereja perdana pada awal mula adalah orang2 Yahudi jadi mereka juga sangat merasa sakral menuliskan Nama Tuhan tersebut?
3. Apakah ejaan dalam bahasa Yunani dan Ibrani di atas adalah benar / salah? Karena jika salah berarti 2 pertanyaan di awal tidak perlu dijawab :-D

Terus terang saya tidak tahu bahasa Ibrani dan Yunani juga bahasa latinpun saya dapat dari sekolah minggu jaman dahulu jadi hal ini saya tanyakan.

Terimakasih dan Tuhan memberkati….
Shalom aleichem

Bernardus Aan

Jawaban:

Shalom Bernardus Aan,

1. Tentang arti INRI

Bangsa Romawi telah mulai melaksanakan hukuman salib sejak 70 tahun sebelum penyaliban Yesus. Penyaliban ini umumnya didahului oleh prosesi dari gedung pengadilan di dalam kota sampai tempat penyaliban, di luar gerbang kota. Lalu para serdadu umumnya membuat suatu tanda yang mengumumkan perbuatan kriminal apa yang dilakukan oleh para terhukum. Nah, pada kasus Yesus, karena tidak ada tindakan kriminal yang dapat dituduhkan kepada-Nya, maka yang dituliskan adalah klaim yang membuat Yesus dihukum yaitu klaim bahwa Ia adalah Raja orang Yahudi, meskipun Yesus sendiri tidak pernah membuat klaim itu.

Nah, Injil mengatakan bahwa klaim tersebut ditulis dalam tiga bahasa, yang artinya adalah: “Yesus, orang Nazareth, Raja orang Yahudi”

INRI – Iesvs Nazarenvs Rex Ivdaeorvm (bahasa Latin), diketahui dari teks Kitab Suci Vulgate oleh St. Jerome

INBI – Iesos Nazoraious Basileus Ioudaios (bahasa Yunani), diketahui dari teks asli Kitab Perjanjian Baru yang semuanya ditulis dalam bahasa Yunani, dan teks- teks tersebut menjadi sumber bagi terjemahan ke banyak bahasa lainnya.

Sedangkan untuk teks Ibrani, tidak diketemukan teks/ dokumentasi yang solid sebagai dasarnya. Ada banyak pendapat yang bermacam tentang hal ini. Bahasa Ibrani modern yang ada sekarang tidak sama dengan bahasa Ibrani pada jaman Tuhan Yesus. Saya tidak mendalami bahasa Ibrani, namun jika melihat sekilas dan dalam terjemahan Ibrani yang anda sertakan, nampaknya tidak menyertakan terjemahan kata Nazaret, נָצְרַת yang jika dilihat di kamus Ibrani diterjemahkan menjadi Náẓərat (Standard Hebrew), atau Nāṣəraṯ (Tiberian Hebrew). Mungkin perlu anda periksa kembali, dari sumber yang anda kutip apakah memang di sana kata ‘Nazareth’-nya tidak diterjemahkan, atau Nazaret diterjemahkan dalam kata yang berbeda dari kamus Ibrani yang ada sekarang (menjadi Hanatszri).

Pada waktu jaman penyaliban Yesus, bahasa latin adalah bahasa resmi yang digunakan dalam pemerintahan, sehingga hampir dapat dipastikan teks latin tertulis di paling atas tanda tulisan tersebut. Inilah sebabnya mengapa singkatan INRI menjadi lebih umum dikenal. Teks Latin memang merupakan teks yang secara legal/ hukum resmi digunakan saat itu, sehingga baik teks Yunani maupun Ibrani merupakan tambahan, dengan maksud agar masyarakat setempat dapat memahami alasan mengapa Yesus disalibkan.

2. Mengapa hanya INRI yang dituliskan

Sejak lambang salib (crucifix) mulai umum dibuat dalam lukisan- lukisan maupun dalam bentuk pahatan -terutama pada jaman abad pertengahan-, maka para seniman yang umumnya sudah familiar dengan frasa tersebut dalam bahasa Latin, kebanyakan memilih untuk menyederhanakan lukisan ataupun pahatannya dengan menampilkan singkatan dari teks Latin tersebut, yaitu INRI. Singkatan ini juga sudah digunakan sejak Gereja abad awal.

Maka sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah, jika yang ditampilkan hanya tulisan INRI dan tidak semua teks dalam tiga bahasa tersebut. Sebab yang terpenting adalah maknanya, yang memang sesuai dengan apa yang dikatakan dalam Injil (Yoh 19:19-20).

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Israel kecam hasil Sinode?

3

Pertanyaan:

Israel Kecam Kesimpulan Sinode Katolik di

http://internasional.kompas.com/read/2010/10/25/08571999/Israel.Kecam.Kesimpulan.Sinode.Katolik

Seorang pejabat tinggi Israel, Minggu (24/10), mengecam pernyataan terbaru para uskup Katolik tentang Timur Tengah dan mengatakan, pernyataan seorang Uskup Agung Katolik yang merumuskan pernyataan itu sebagai fitnah.

Pernyataan seorang Uskup Agung Katolik yang mengatakan pada konferensi itu bahwa Israel bukanlah tanah terjanji orang Yahudi. “Kami orang Kristen tidak dapat berbicara tentang ‘tanah yang dijanjikan’ sebagai hak eksklusif-istimewa orang Yahudi,” kata Uskup Agung Cyril Salim Bustros, yang memimpin Gereja Melkit Yunani di AS, pada konferensi pers akhir sinode itu, Sabtu. “Janji itu telah terhapuskan oleh (kedatangan) Kristus. Tidak ada lagi orang pilihan, semua orang, pria dan wanita, dari semua bangsa telah menjadi orang-orang pilihan,” kata Bustros.

Mungkin Katolisitas.org dapat menjelaskan pernyataan Uskup Agung Butros dan tentunya dihubungkan dengan arti yang terselubung “tanah perjanjian” di perjanjian lama dalam terang perjanjian baru.

Terima kasih.
Yulius Santoso.

Jawaban:

Shalom Yulius Santoso,

Sebenarnya yang menjadi perhatian Vatikan adalah adanya konflik yang berkepanjangan antara pihak Israel dan Palestina, sehingga menyebabkan ribuan umat Kristen di Timur Tengah yang meninggalkan tanah kelahiran mereka, yang juga merupakan tanah kelahiran agama Kristen. Belum lagi bahwa pertikaian itu menyebabkan kematian masyarakat sipil dari pihak- pihak yang bertikai. Maka Vatikan mendukung proses rekonsiliasi dengan menyetujui pembentukan negara Palestina, bersamaan dengan mendukung hak bangsa Israel untuk tetap eksis dalam daerah teritori yang diakui secara internasional. Jika ini disetujui maka Yerusalem akan terbagi menjadi daerah teritori bagi tiga komunitas: Yahudi/ Israel, Islam dan Kristen.

Nampaknya ini tidak disetujui oleh bangsa Israel, karena mereka menginginkan seluruh Yerusalem menjadi daerah teritori Israel, dengan mengambil interpretasi literal Kitab Suci, bahwa bangsa Israel adalah bangsa pilihan, sehingga Yerusalem adalah tanah terjanji bagi bangsa Israel. Namun sejak kedatangan Tuhan Yesus, bangsa pilihan yang baru tidak lagi terbatas pada bangsa Yahudi (Rom 4:16-17), dan Yerusalem yang dijanjikan Allah tidak lagi menyangkut pada kota Yerusalem secara fisik, tetapi Yerusalem yang baru (Why 3:12; 21:2).

Dengan demikian, pernyataan Uskup Cyril Bustros dalam sinode para Uskup Timur Tengah di Roma (Oktober 2010) yang baru lalu, “Kami orang Kristen tidak dapat berbicara tentang ‘tanah yang dijanjikan’ sebagai hak eksklusif-istimewa orang Yahudi,” sesungguhnya sesuai dengan apa yang tertulis dalam Kitab Suci, dan yang diajarkan juga oleh Magisterium Gereja Katolik. Sebab Konsili Vatikan II mengajarkan:

Gereja juga digelari “Yerusalem yang turun dari atas” dan “bunda kita” (Gal 4:26; lih Why 12:17), dan dilukiskan sebagai mempelai nirmala bagi Anak Domba yang tak bernoda (lih Why 19:7; 21:2 dan 9:22:17). Kristus “mengasihinya dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya” (Ef 5:29)… (Lumen Gentium 6)

Perjanjian baru itu diadakan oleh Kristus, yakni wasiat baru dalam darah-Nya (lih. 1Kor 11:25). Dari bangsa Yahudi maupun kaum bangsa- bangsa lain Ia memanggil suatu bangsa, yang akan bersatu padu bukan menurut daging, melainkan dalam Roh, dan akan menjadi umat Allah yang baru. Sebab mereka yang beriman akan Kristus, yang dilahirkan kembali bukan dari benih yang punah, melainkan dari yang tak dapat punah karena sabda Allah yang hidup (lih. 1Ptr 1:23), bukan dari daging, melainkan dari air dan Roh kudus (lih. Yoh 3:5-6), akhirnya dihimpun menjadi “keturunan terpilih, imamat rajawi, bangsa suci, umat pusaka – yang dulu bukan umat, tetapi sekarang umat Allah” (1Ptr 2:9-10)….

Adapun seperti Israel menurut daging, yang mengembara di padang gurun, sudah di sebut Gereja (jemaat) Allah (lih. Neh 13:1; Bil 20:4; Ul 23:1 dst), begitu pula Israel baru, yang berjalan dalam masa sekarang dan mencari kota yang tetap dimasa mendatang (lih. Ibr 13:14), juga disebut Gereja Kristus (lih. Mat 16:18) (Lumen Gentium 9)

Maka yang dikatakan oleh Uskup Bustros sesungguhnya benar, dan sesuai dengan ajaran Magisterium Gereja Katolik. Sebab memang setelah kedatangan Kristus, umat pilihan Allah yang baru adalah Gereja, dan dengan demikian tidak terbatas pada umat Israel saja. Dengan demikian “bangsa pilihan Allah/ Israel” dan Yerusalem baru yang dijanjikan Allah memperoleh makna yang baru, yaitu Gereja Kristus. Gereja Kristus ini terbuka bagi orang Yahudi maupun non- Yahudi.

Demikian tanggapan saya, semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Korban bakaran dan Anak Domba

12

Pertanyaan:

kenapa di PL harus ada kurban bakaran? kalau tidak salah di kitab imamat, yg mengatur kurban penghapusan dosa.
kenapa dinyayikan anak domba Allah… yang… menghapus dosa dunia… kasihanilah… ka…mi…?
kenapa Yesus disebut anak domba Allah?
kenapa kok domba? kenapa bukan kambing? kenapa bukan gajah? kenapa bukan ayam?
kenapa di okultisme juga ada ritual kurban? (biasanya kurban darah manusia)
kalo mengikut Tuhan (mnrt PL) harus ada kurban dan mengikut setan juga ada kurbannya. berarti setan maupun Tuhan sama saja dong… sama-sama minta darah.
kenapa Yesus harus dikorbankan? (disalib)

Jawaban:

Shalom Alexander Pontoh,

Terima kasih atas pertanyaannya. Berikut ini adalah jawaban singkat yang dapat saya berikan:

1. Tentang kurban bakaran

Kalau kita melihat semua agama – termasuk agama kodrat (natural religion) – maka kita akan melihat adanya sistem korban. Sistem korban ini secara tidak langsung mengungkapkan akan adanya sesuatu yang lebih besar dari manusia, karena korban itu dipersembahkan kepada sesuatu atau seseorang yang dianggap lebih besar dari manusia. Dan manusia yang menyadari akan kesalahan-kesalahannya, memberikan korban kepada sesuatu yang lebih besar ini, sehingga akibat dari kesalahan-kesalahan tidak lagi ditimpakan kepada manusia yang melakukan kesalahan. Dalam konteks Perjanjian Lama, maka Tuhan sendiri yang memberikan perintah agar Israel memberikan korban bakaran yang berkenan kepada Allah. Dan kemudian korban ini disempurnakan dengan korban Kristus, yang menjadi korban bagi pemulihan dosa manusia, sekali dan untuk selamanya – karena martabat-Nya sebagai Allah dan karena dilakukan atas dasar kasih yang sempurna.

2. Tentang Anak Domba

Dalam kesempurnaan rancangan keselamatan Allah, maka apa yang terjadi di dalam Perjanjian Lama adalah merupakan gambaran yang samar-samar, yang dipenuhi secara penuh dalam diri Kristus Yesus. Jadi, anak domba bukanlah muncul dalam liturgi secara tiba-tiba, ketika pastor menyerukan “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia…“. Namun, kalau kita meneliti, ketika Adam dan Hawa telah berdosa, mereka diusir dari Taman Firdaus dan diberikan pakaian dari kulit binatang (lih. Kej 3:21) – yang merupakan gambaran akan Kristus yang dikorbankan, yang dikenakan kepada manusia. Kita juga melihat korban anak domba yang diberikan oleh Abel (lih. Kej 4:4) dan juga Ishak dan Abraham (lih. Kej 22:7-8), dan ketika Tuhan membebaskan Israel dari Mesir (lih. Kel 12:5). Kemudian persembahan ini diteruskan dari satu generasi ke generasi yang lain. Hal yang sama dari persembahan tersebut adalah mereka menggunakan anak domba jantan yang tidak bercela. Dan anak domba yang dinyatakan dalam Perjanjian Baru adalah Kristus sendiri, sehingga Yohanes mengatakan “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29). Anak Domba yang disantap pada Paskah di dalam Kitab Keluaran menjadi sempurna, karena Kristus sendiri yang menjadi Anak Domba Allah yang dikorbankan dan menyediakan Diri-Nya untuk disantap dalam setiap perjamuan Kudus atau Ekaristi. Dan sampai pada kepenuhannya, di Sorga akan terjadi perjamuan kawin Anak Domba (lih. Why 19:9).

Dari pemaparan di atas, maka kita melihat bahwa Yesus disebut Anak Domba, karena Yesus adalah pemenuhan dari semua korban di dalam Perjanjian Lama, yang sering memakai anak domba (karena mungkin karakter dari domba yang lembut). Dan Yesus disebut Anak Domba, karena memang Dia adalah Putera Allah yang dikorbankan untuk menebus dosa dunia. Dia yang dibawa ke tempat penyiksaan tanpa mengeluh dan mengeluarkan suara. Kisah Para Rasul 8:32 mengutip Yes 53:7 menuliskan “Nas yang dibacanya itu berbunyi seperti berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya.”  Dan kembali rasul Paulus menegaskan bahwa Kristus adalah Anak Domba Paskah (lih. 1Kor 5:7).

3. Tentang okultisme.

Bahwa di dalam ritual okultisme ada persembahan tidak membuat persembahan yang diminta oleh Tuhan adalah salah. Dalam teologi korban, yang terpenting adalah persembahan dari dalam, yang ditegaskan oleh Daud dengan mengatakan “16 Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya. 17 Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah” (Mzm 51:16-17). Jadi, yang perlu dipertanyakan adalah apa intensi dari korban yang dibuat dalam ritual okultisme. Dalam liturgi Ekaristi, maka korban yang dipersembahkan adalah Kristus sendiri dan yang mengorbankan adalah Kristus sendiri lewat pastor (in persona Christi), yang dilakukan atas dasar kasih demi keselamatan umat Allah. Dengan demikian, keduanya sama-sama mempunyai upacara korban, namun didasari oleh intensi yang berbeda. Jadi, kita tidak dapat menyamakan dua hal ini, seolah-olah mempunyai maksud yang sama, karena keduanya mempunyai dasar dan intensi yang berbeda.

4. Tentang Yesus harus dikorbankan.

Silakan membaca artikel: kesempurnaan rancangan keselamatan Allah di sini – silakan klik.

Semoga jawaban-jawaban di atas dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab