Pertanyaan:
dear katolisitas.org…
saya ingin menanyakan beberapa pertanyaan :
1.a. bagaimana sikap pandangan Gereja Katolik tentang Hesychasm??
b.apakah Hesychasm bertentangan dengan ajaran Katolik atau tidak??
c.kalau bertentangan kenapa Gereja Timur yang Katolik (bersatu dengan bishop of Rome) boleh melaksanakan atau melakukan praktek Hesychasm??
d. kalau tidak bertentangan kenapa St.Thomas Aquinas dalam Summa Theology-nya terlebih dalam Summa contra Gentiles-nya menentang Hesychasm dengan menulis chapternya yang berjudul “That in God Existence and Essence is the same” untuk mengupas hal tersebut??
e.bagimana Gereja Barat yang Katolik yang kebanyakan menganut paham skolastik dalam hal berteology menanggapi Gereja Timur yang Katolik yang menganut paham Theoria/Theosis dalam berteology yang kebanyakan kaum teology Gereja Barat memandang Negatif terhadap cara berteology Gereja Timur ini yang kalau dilihat cara berteology kedua Gereja ini saling bertentangan??
2. kenapa St.Gregory Palamas bisa diperbolehkan masuk dalam kalender liturgi orang kudus Gereja Katolik dan harinya boleh dirayakan oleh beberapa Eastern Catholic Church?? padahal bisa dibilang st.Gregory Palamas bisa dibilang sangat anti-Roma dengan keras menolak Filioque sampai akhir hayatnya dan Eastern Orthodox Church melabelinya sebagai salah satu 3 pilar Ke-Orthodox-an selain Mark of Efesus dan Pothius of Constantinople karena sangat anti Filioque??
St.Gregory Palamas berkata : “We will not receive you Latins in communion with us as long as you say that the Spirit is also from the Son”
harap team katolisitas.org menanggapinya…
terima kasih…
Pax Christi…
Christopher
Jawaban:
Shalom Christopher,
Berikut ini adalah jawaban saya tentang pertanyaan anda yang saya sarikan dari beberapa sumber, terutama dari link ini, silakan klik.
1. Tentang Hesychasm
Hesychasm yang dikenal sekarang, adalah suatu sistem mysticism yang dipegang oleh para rahib di Athos pada abad ke empat belas, yang menjadi bagian dari sejarah Gereja Byzantine. Prinsipnya para rahib tersebut berpegang pada suatu teori bahwa adalah mungkin –dengan sistem asketis dan ketidakterikatan dengan urusan dunia, ketaatan penuh pada seorang pembimbing spiritual, doa yang melibatkan penyerahan sempurna baik tubuh maupun kehendak — seseorang dapat melihat terang mistik, yang adalah terang Tuhan yang tidak diciptakan (the uncreated light of God). Menurut para Hesychast, terang ini adalah terang yang sama seperti yang terlihat pada saat Transfigurasi/ pada saat Yesus dimuliakan di atas gunung Tabor.
Dengan teori ini, para Hesychast membedakan dua hal dalam diri Tuhan, yaitu hakekat Tuhan (essence/ ousia) dan tindakan Tuhan (energi/ actus/ operatio). Nah, pembedaan inilah yang tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik, yang mengajarkan bahwa pada Tuhan tidak ada pembagian- pembagian, karena Tuhan itu Maha sederhana.
Selanjutnya jika anda ingin membaca tentang Hesychasm, dan segala yang terjadi seputar pengajaran tersebut, silakan anda membaca lebih lanjut link yang saya berikan di atas dari New Advent Encyclopedia. Di sana anda kan membaca bahwa dari sejarahnya, teori Hesychasm juga dulu tidak dengan mudah diterima, bahkan di kalangan Gereja Timur. Palamas mendapat perlawanan dari sesama rahib, Barlaam, seorang Uskup Gerace di Calabria, yang datang ke Konstantinopel (1328-1341). Kemudian Logothete Theodorus Matochites, seorang teolog Yunani terkenal di abad ke -14 juga menentang ajaran Hesychasm. Barlaam menentang Hesychasm, sebab ia menolak adanya pembedaan/ pembagian antara Tuhan dan terang Tuhan yang bukan Tuhan.
Sinoda di Konstantinopel digelar tahun 1341, dipimpin oleh Raja Andronicus III, dan diakhiri dengan kemenangan pihak Hesychasm, demikian pula sinoda kedua (tanpa kehadiran patriarkh) yang dipimpin oleh John VI, Cantacuzenus, karena ia adalah teman Palamas. Pada tahun 1345 para patriarkh mengadakan sinoda ketiga dengan kehadiran para patriakh dan mereka mengekskomunikasi Palamas dan muridnya yang bernama Isidore Buchiras Uskup Monembasia. Pada saat John Cantacuzenus jaya dan masuk Konstantinopel, Palamas dan Buchiras mohon perlindungan. Ada faktor politik di sini, yang mendukung seolah Hesychasm identik dengan orthodoxy. Buchiras yang telah diekskomunikasi di sinoda ketiga diangkat menjadi patriakh, mengambil nama Isidore I, (1347-1349). Para pengikut Barlaam kemudian menggelar sinoda kelima, untuk menolak Buchiras, dan mengekskomunikasi Palamas. Sejak saat ini Nichephorus Gregoras menjadi penentang Hesychasm. Ketika Isidore wafat, ia digantikan oleh rahib Callistus I (1350-1354). Sinoda keenam digelar. Dalam sinoda itu, meskipun Gregoras telah menyampaikan pandangannya dengan berani, namun sinoda yang diadakan istana Cantacuzenus, pelindung Hesychasm itu, berakhir dengan diakuinya paham Hesychasm dan ajaran Palamas sebagai ajaran orthodox. Cantacuzens kemudian menjadi rahib dan menuliskan tentang kontemplasi terang, ajaran Hesychasm.
Selanjutnya, para anti Hesychasm itu mengadakan sinoda di Efesus, namun para patriarkh Konstantinopel dan banyak orang telah beranggapan bahwa ajaran Hesychasm adalah ajaran orthodox, dan penolakan akan ajaran itu menjadi seperti seolah membela Gereja Latin. Maka sejak saat itu (1368) paham Hesychasm selalu jaya di Gereja Timur.
2. Hesychasm bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik?
Prinsip yang dijadikan dasar pemahaman Hesychasm berbeda dengan ajaran Gereja Katolik. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Allah adalah Maha Sederhana /God is absolutely simple– (De Fide -lihat Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, p. 31). Hal ini diajarkan pada Konsili Lateran pada abad ke 4, dan masih diajarkan terus demikian oleh konsili Vatikan, bahwa Tuhan merupakan hakekat/ kodrat yang mutlak sederhana (D 428, 1782).
Sejalan dengan prinsip ini, maka Gereja Katolik juga mengajarkan bahwa Sifat- sifat Tuhan (the Divine Attributes) semuanya adalah sama dengan Hakekat Allah (the Divine Essence)(De Fide– lihat Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, p. 28). Ajaran ini ditetapkan oleh Sinoda di Rheims tahun 1148, untuk menolak ajaran dari Gilbert dari Poitiers yang mengajarkan bahwa Tuhan (God) berbeda dengan (Godhead), Hakekat-Nya berbeda dengan Sifat- sifatNya.
Nampaknya Hesychasm juga memegang prinsip pembedaan antara Hakekat Tuhan dan sifat- sifat Tuhan, seperti yang dipelopori oleh Gregorius Palamas (+ 1359). Menurut Palamas, hakekat Tuhan tidak dapat diketahui, sedangkan sifat- sifat-Nya dapat diketahui dengan doa kontemplatif melalui terang Allah yang tidak diciptakan (uncreated Divine light).
Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci mengajarkan bahwa Hakekat Tuhan sama dengan sifat- sifat-Nya, seperti yang dikatakan dalam 1 Yoh 4:8, “Allah adalah kasih.” St. Agustinus juga mengajarkan hal yang sama, “Apa yang dipunyai Tuhan adalah hakekat-Nya” (De civ. Dei XI 10, 1). Dengan demikian Gereja Katolik tidak membedakan antara hakekat dan energi pada Allah. Hakekat Allah ini baru dapat diketahui pada kehidupan yang akan datang, di mana kita akan memandang Allah muka dengan muka (1 Yoh 3:2), sedangkan yang kita terima di dunia ini adalah rahmat Allah (grace).
3. Gereja Timur yang Katolik boleh melaksanakan praktek Hesychasm?
Terus terang saya tidak mengetahui dengan persis tentang hal ini. Yang saya ketahui, bahwa memang ada proses biasa/ regular yang dilaksanakan jika seseorang ingin berdoa menurut ajaran para Hesychast, misalnya tubuh harus dijaga tidak bergerak untuk waktu yang lama, menjaga pernafasan, dagu yang ditekan/ ditempelkan ke dada, mata tertutup dan seterusnya. Sebenarnya, jika maksudnya adalah untuk kontemplasi akan Allah, maka ini tidak jauh berbeda dengan kontemplasi yang diajarkan oleh beberapa orang kudus, seperti St. Ignatius dari Loyola, maupun St. Teresa dari Avila. Maka dapat saja cara meditasi dan kontemplasi-nya dapat tetap dilakukan, namun ajaran tentang pembedaan hakekat dan energi dalam Diri Allah, tidak untuk dipertahankan.
4. St. Thomas Aquinas menentang Hesychasm?
Dalam bukunya Summa Contra Gentiles, bab 102, St. Thomas mengajarkan, “Bahwa di dalam Tuhan, Eksistensi dan Hakekat adalah sama”. Maksudnya, adalah sama bagi Tuhan, untuk menjadi Tuhan dan untuk menjadi apa yang menjadikannya sebagai Tuhan. St. Thomas, melanjutkan ajaran yang disampaikan oleh St. Agustinus, yaitu bahwa tidak ada perbedaan antara hakekat Allah dan sifat- sifat Allah. Dengan demikian, St. Thomas memang tidak sepaham dengan Hesychasm.
5. Bagaimana Gereja Barat (Roma) yang menganut paham skolastik menanggapi Gereja Timur yang menganut Theosis?
Gereja Katolik Roma, memegang Tradisi Suci sesuai dengan ajaran para Bapa Gereja, seperti yang telah ditetapkan oleh Konsili dan Sinoda para Uskup sejak abad ke-4. Sejujurnya, menurut hemat saya, pertentangan antara paham skolastik dan theosis sesungguhnya tidak terlalu tepat, karena perbandingan tersebut tidak “apple to apple“. Sebab pengertian skolastik yang mengacu pada pembelajaran/ studi teologi, dan Theosis yang mengacu kepada “divinization“/ “menjadikan ilahi” itu tidak dapat dipertentangkan, karena keduanya tidak bertentangan.
Gereja Katolik mengajarkan bahwa kita sebagai Gereja mengambil bagian dalam kehidupan ilahi Allah sendiri di dalam sakramen- sakramen, mulai dari Sakramen Pembaptisan. Sehingga dalam hal ini, Gereja Katolik mengajarkan juga prinsip Theosis itu. Gereja Katolik tidak anti Theosis, namun pengertian Theosis-nya berbeda. Kita menerima rahmat Tuhan dan bersatu dengan Dia, tidak karena usaha asketis seperti yang dilakukan oleh para rahib (walaupun tentu persiapan rohani juga sangat penting), melainkan karena Allah sendiri yang menyampaikan rahmat-Nya melalui sakramen tersebut.
6. Mengapa St. Gregory Palamas dapat masuk dalam kalender liturgi Gereja Katolik?
Perayaan St. Gregorius Palamas tidak ada dalam Kalender Liturgi Roma, namun memang pihak Vatikan memperbolehkan perayaannya pada Gereja- gereja Timur dalam persekutuan dengan Gereja Katolik. Informasi ini dapat diperoleh di link ini, http://www.stamforddio.org/Feb.08.pdf
Memang ada beberapa orang kudus yang juga dihormati oleh Gereja- gereja lokal, namun tidak oleh seluruh Gereja universal. Fakta bahwa ketika beberapa Gereja Timur masuk dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, pihak Vatikan memperbolehkan mereka untuk tetap merayakan perayaan St. Gregorius, selayaknya dilihat sebagai upaya tulus dari Gereja Katolik Roma, untuk merangkul Gereja- gereja Timur. Gereja Katolik tetap mengakui adanya hal- hal yang positif dari pengajaran Palamas; dan dapat saja ajaran- ajarannya dan komentar- komentar keras yang dinyatakannya kepada Gereja Katolik, lebih merupakan material heresy daripada formal heresy. Silakan melihat perbedaannya di sini, silakan klik. lihat point 4a.
Di atas semua itu, mari kita melihat kenyataan yang ada sekarang bahwa Gereja Katolik dan beberapa Gereja Timur juga semakin melihat adanya banyak faktor yang mempersatukan daripada memisahkan antara mereka. Hal Filioque juga sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Silakan membaca di sana, bahwa secara obyektif kitapun dapat menilai bahwa sesungguhnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan karena sesungguhnya pemahaman Gereja Katolik dan Gereja Orthodox tentang hal ini tidak jauh berbeda, hanya penuangannya dalam kata- kata saja yang menjadikannya seolah berbeda.
Mari kita berdoa agar suatu saat nanti dapat tercapai suatu kata kesepakatan, sehingga kedua Gereja dapat bersatu dengan penuh, sehingga doa Kristus dalam Yoh 17:20-21 dapat terwujud.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org