Home Blog Page 232

Kemurnian di luar perkawinan

62

I. Apa pentingnya kemurnian (chastity)?

Mungkin ada banyak dari kita merasa bahwa ‘kemurnian’ itu suatu hal yang aneh untuk dibicarakan, sepertinya ‘muluk- muluk’ dan terlalu idealis. Apa sih perlunya? Mengapa Gereja repot- repot mengajarkannya? Mungkin jawabannya singkat saja: karena kemurnian berhubungan erat dengan kebahagiaan kita. Tuhan menciptakan kita sesuai dengan gambaran-Nya untuk maksud yang mulia: yaitu agar kita berbahagia bersama-Nya, tanpa cacat dan cela (lih. Ef 1:3-6). Caranya adalah dengan mengasihi, dan memberikan diri. “Manusia dapat sepenuhnya menemukan jati dirinya, hanya di dalam pemberian dirinya yang tulus.” ((Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, 24)). Seseorang yang selalu berpusat pada diri sendiri dan tak pernah memberikan dirinya kepada orang lain, tidak akan hidup bahagia. Sedangkan seseorang yang mau memberikan dirinya bagi orang lain akan menemukan arti hidupnya.  Nah, pemberian diri yang tulus  yang dikehendaki Tuhan ini, adalah pemberian kasih yang murni. Itulah sebabnya kita perlu mengetahui dan melaksanakan kebajikan kemurnian, karena hanya dengan menerapkannya, maka kita dapat sungguh berbahagia dan kelak dapat memandang Allah di surga. “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Mat 5:8).

II. Apa itu kemurnian?

Kalau kita mendengar kata emas murni atau air murni, yang terbayang di pikiran kita adalah suatu zat dalam kondisi awal yang semestinya, yang tidak terkontaminasi oleh zat-zat lain yang buruk. Demikian juga,  Tuhan menghendaki kemurnian kita, artinya Tuhan menginginkan agar kita menjadi sempurna, tubuh dan jiwa, seperti pada awalnya saat Ia menciptakan manusia yang sungguh sangat baik adanya (lih. Kej 1:31). Pertanyaannya kemudian adalah: Apakah saat kita memandang tubuh kita sendiri di depan kaca cermin, kita dapat berkata, “Terima kasih Tuhan, Engkau telah menciptakan tubuhku dengan sangat baik?” Atau selanjutnya, sudah cukupkah kita memperhatikan dan menjaga kecantikan rohani kita di samping menjaga kecantikan jasmani?

Manusia diciptakan sebagai mahluk rohani yang mempunyai tubuh; yang berakal budi dan berkehendak bebas. Inilah yang menjadikan manusia dapat mengenal dan mengasihi Allah, dan menemukan arti hidupnya dengan melakukan kasih. Pertanyaannya adalah, kasih seperti apa? Jawaban yang sederhana, namun tak terkira dalam maknanya adalah: kasih yang seperti kasih Yesus; yaitu kasih yang melibatkan tubuh dan jiwa, seperti yang dinyatakan-Nya di kayu salib. Inilah kemurnian kasih yang Tuhan ajarkan kepada kita.

Maka tak mengherankan jika Gereja Katolik mendefinisikan kemurnian, demikian:

1. Kemurnian = keutuhan seksualitas secara jasmani dan rohani

KGK 2337    Kemurnian berarti keutuhan seksualitas yang membahagiakan di dalam pribadi dan selanjutnya kesatuan batin manusia dalam keberadaannya secara jasmani dan rohani. Seksualitas, yang di dalamnya nyata, bahwa manusia termasuk dalam dunia badani dan biologis, menjadi pribadi dan benar-benar manusiawi ketika pribadi ini digabungkan ke dalam hubungan antara satu orang dengan yang lainnya, di dalam penyerahan timbal balik secara sempurna dan tidak terbatas oleh waktu, antara seorang laki- laki dan seorang perempuan.
Dengan demikian kebajikan kemurnian melibatkan keutuhan pribadi dan kesempurnaan penyerahan diri.

Jika kita menghayati makna keutuhan tubuh dan jiwa ini, maka kita dapat melihat bahwa tubuh kita diciptakan Tuhan untuk maksud yang ilahi, dan dengan tubuh ini kita dapat memuliakan Tuhan. Dengan penghayatan ini, kita tidak mudah dibingungkan oleh kedua pandangan ekstrim yang ada di dunia ini: 1) mengagungkan hal- hal rohani sampai menolak segala sesuatu yang bersifat jasmani/ seksual dan menganggapnya dosa; 2) mengagungkan hal- hal jasmani dan seksual sampai ke tingkat yang tidak semestinya, dan menolak segala yang bersifat rohani. Kedua pandangan ekstrim ini keliru karena memisahkan tubuh dan jiwa.

2. Kemurnian = pengendalian diri yang mengacu kepada kelemahlembutan dan kesetiaan Allah

Kemurnian menjadi penting, karena kasih yang sempurna mensyaratkan kemurnian dalam cara menyampaikannya. Nah, seorang yang murni adalah seorang yang dapat mengendalikan dirinya, pada saat menyerahkan dirinya pada orang lain; sehingga dapat menjadi saksi bagi orang lain tentang kesetiaan dan kelemahlembutan kasih Allah.

KGK 2346     Kasih adalah bentuk semua kebajikan. Di bawah pengaruhnya, kemurnian tampak sebagai latihan penyerahan diri. Pengendalian diri diarahkan kepada penyerahan diri. Kemurnian menjadikan orang yang hidup sesuai dengannya, seorang saksi bagi sesamanya tentang kesetiaan dan kasih Allah yang lemah lembut.

3. Kemurnian = peneguhan dan pemberian diri yang tidak diwarnai cinta diri/ mementingkan diri sendiri.

“Kemurnian adalah peneguhan penuh sukacita dari seseorang yang mengetahui bagaimana ia hidup dengan memberikan dirinya, yang tidak dibatasi oleh segala bentuk perbudakan cinta diri.” ((The Pontifical Council of the Family, The Truth and Meaning of Human Sexuality, 17))

Hal pemberian diri yang murni ini memang tidak mudah dilakukan, terutama karena manusia cenderung memiliki rasa cinta diri. Kasih kita kepada sesama secara umum dapat diuji dengan pertanyaan ini: Apakah dalam berelasi dengan sesama, fokus saya adalah menyenangkan diri sendiri atau menyenangkan orang lain? Apakah dalam berelasi dengan orang lain saya membantunya untuk hidup kudus/ murni atau malah menjerumuskannya? Paus Yohanes Paulus II mengajarkan, “Para pria dan wanita yang ber-relasi satu sama lain dengan kemurnian sungguh memuliakan Allah dengan tubuh mereka.” ((lih. Pope John Paul II, Theology of the Body 57:3))

II. Dasar kemurnian

Paus Yohanes Paulus II mengajarkan agar kita dapat memahami makna kemurnian, kita harus melihat keadaan pada saat awal mula manusia diciptakan oleh Tuhan. Dalam khotbahnya, Theology of the Body, Paus mengajarkan adanya tiga pengalaman dasar yang dapat membantu kita membayangkan keadaan tersebut:

1. Kesendirian Asali (Original Solitude)

Pada saat awal mula penciptaan, Adam mengalami kesendirian di tengah dunia ciptaan Tuhan; sebab ia menyadari bahwa ia tidak sama dengan ciptaan lainnya (lih. Kej 2:20). Kesadaran ini timbul dari pengalaman tentang tubuhnya. Kesendirian ini memanggilnya untuk bersekutu dengan Tuhan Sang Pencipta dan dengan mahluk lain yang ‘sejenis’ dengannya (lih. Kej 2:23).

2. Kesatuan Asali (Original Unity)

Ayat Kej 2:24 “…. dan keduanya menjadi satu tubuh”… merupakan dasar akan adanya kesatuan asali. Kesatuan ini mengatasi kesendirian manusia; dan kesatuan antar seorang laki- laki dan perempuan yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah ini, sungguh berbeda dengan persetubuhan binatang. Kesadaran akan kesatuan asali ini memberikan dasar bagi kemampuan seseorang untuk memberikan dirinya kepada orang lain dan menghargai orang lain, sebagai “saudara laki- laki dan saudara perempuan di dalam kesatuan umat manusia” (lih. Pope John Paul II, Theology of the Body 18:5))

3. Ketelanjangan Asali (Original Nakedness)

Ketelanjangan asali merupakan pengalaman telanjang namun tanpa rasa malu (Kej 2:25), namun bukan maksudnya bahwa kemudian orang boleh telanjang dan tidak perlu malu. Maksudnya di sini adalah, kita harus mempunyai kesadaran penuh akan makna tubuh kita seperti pada saat awal diciptakan Tuhan, sebagai pernyataan keseluruhan pribadi kita sebagai manusia. Sebab, “Sesungguhnya tubuh,  hanya tubuh saja, yang mampu memperlihatkan misteri Allah yang tidak kelihatan…” (TOB 96:6, 19:4). Itulah sebabnya Kristus Sang Firman menjadi daging (Yoh 1:14) mengambil tubuh manusia (Ibr 10:5), dan akhirnya mengorbankan Tubuh-Nya itu sebagai tebusan bagi dosa manusia, agar kita semua dapat memahami besarnya kasih Tuhan kepada kita manusia (lih. Yoh 3:16). Itulah sebabnya,  Tuhan Yesus memerintahkan kepada para rasul untuk mengenangkan-Nya dengan melakukan perjamuan kudus, di mana Ia akan hadir dalam rupa roti dan anggur. “Inilah Tubuh-Ku….. inilah Darah-Ku” (lih. Mat 26:20-29; Mrk 14:17-25; Luk 22:14-23).

Maka jika kita memahami makna ketelanjangan asali ini, maka kita akan melihat bagaimana rahmat Allah yang tidak kelihatan itu disampaikan kepada manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Kekudusan yang melibatkan cara memandang seseorang sebagai ciptaan Tuhan yang baik adanya, inilah yang memampukan manusia menyatakan diri mereka melalui pemberian diri yang tulus (the sincere gift of self). Dengan perkataan lain, dengan menyadari kasih yang Tuhan sampaikan kepada kita melalui tubuh kita ini, maka kita dapat mempergunakan tubuh ini untuk mengasihi dan melayani sesama.

Dalam konteks perkawinan, maka penghayatan pengalaman kesatuan asali dan ketelanjangan asali ini diwujudkan dalam hubungan seksual suami istri yang maknanya adalah:

“Aku memberikan diriku sepenuhnya kepadamu, segalanya, tanpa ada yang kusimpan sendiri. Setulusnya. Tanpa paksaan. Selamanya. Dan aku menerima pemberian dirimu yang engkau berikan kepadaku. Aku memberkati engkau. Aku mendukung/ meneguhkan engkau. Segala yang ada padamu, tanpa syarat. Selamanya.” ((Christopher West, Theology of the Body Explained (Boston: Pauline Books anda Media, 2007), p.137)).

Bukankah pernyataan serupa ini dinyatakan oleh Kristus kepada Mempelai-Nya yaitu Gereja, di kayu salib? Kristus memberikan Diri-Nya sehabis- habisnya kepada Gereja, dan pemberian diri serupa ini yang menjadi teladan bagi suami untuk memberikan dirinya kepada istrinya.

Sedangkan hubungan seksual di luar perkawinan yang hanya berfokus untuk memuaskan keinginan tubuh, cenderung tidak total, tidak didasari oleh komitmen kesetiaan selamanya, dan tidak didasari oleh persekutuan rohani di dalam Kristus. Dan karena hubungan ini tidak dilakukan sesuai dengan kehendak Allah, maka hal ini adalah dosa, dan tak heran jika kemudian mengakibatkan hal- hal buruk yang dapat merusak hubungan pasangan itu sendiri.

III. Tujuan kemurnian

Telah disampaikan bahwa kemurnian membawa manusia kepada keselamatan kekal. Mengapa? Karena kemurnian menunjukkan arti penciptaan manusia sebagai pria dan wanita: yaitu bahwa kita dipanggil untuk mengambil bagian dalam kasih persekutuan Allah dalam Trinitas di dalam Kristus. Hubungan kasih suami istri yang dapat melahirkan kehidupan baru, merupakan gambaran samar- samar akan kesatuan kasih Allah Trinitas, yaitu kasih persekutuan Allah Bapa dan Allah Putera yang menghembuskan Roh Kudus.  Tentu saja persekutuan ketiga Pribadi Allah ini bukan karena ada perkawinan di  dalam Pribadi Allah, namun demikian kesatuan mereka merupakan sesuatu yang seharusnya digambarkan dalam setiap perkawinan Kristiani. Ini adalah salah satu makna, bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kej 1:27).

Inilah sebabnya mengapa hubungan jasmani suami istri memiliki makna yang luhur. Karena kasih suami istri tidak saja melibatkan tubuh, tetapi juga jiwa. Dalam hal ini, persekutuan tubuh tidak terlepas dari persatuan jiwa. Persatuan ini terjadi ketika pasangan tersebut telah dipersatukan oleh Kristus, karena hanya di dalam Kristuslah manusia menemukan makna luhur perkawinan. Demikian juga, dengan penghayatan akan makna perkawinan, kita dapat semakin menghargai kehidupan para religius yang memilih untuk mempersembahkan keseluruhan kasih mereka yang total kepada Allah, sehingga kehidupan mereka di dunia ini menjadi tanda yang lebih jelas tentang persekutuan kekal antara Allah dan manusia dalam “perjamuan Anak Domba” yang tidak melibatkan perkawinan secara jasmani.

IV. Bentuk- bentuk kemurnian

Sebagai umat beriman, kita semua dipanggil untuk hidup murni, entah seseorang hidup  sebagai seorang religius, atau mereka yang menikah maupun yang tidak menikah. Kita semua dipanggil untuk hidup kudus (lih. Konsili Vatikan II, Lumen Gentium Bab V), sebab tubuh kita ini adalah bait Allah Roh Kudus (lih. 1 Kor 6:19). Maka mereka yang sudah menikah dipanggil untuk hidup dalam kemurnian pernikahan, sedangkan yang tidak menikah, kemurnian dengan tidak melakukan aktivitas seksual.  Maka ada tiga bentuk kemurnian, yaitu yang menyangkut kemurnian pasangan suami istri, kemurnian para janda/ duda, dan kemurnian para perawan/ selibat. ((lihat. St. Ambrose, De viduis 4, 23: PL 16, 255A)). Mereka yang selibat untuk Kerajaan Allah merupakan tanda yang jelas  di dunia ini tentang makna persekutuan dengan Allah pada akhir jaman nanti, sebab mereka tidak kawin dan dikawinkan namun menjaga kemurnian kasih dalam kesatuan dengan Allah.

Lalu, bagaimana untuk orang-orang yang sedang bertunangan? Katekismus mengajarkan:

KGK 2350,     Mereka yang terikat/bertunangan dan akan menikah dihimbau agar hidup murni dalam suasana berpantang. Mereka harus melihat waktu percobaan ini sebagai waktu, di mana mereka belajar, saling menghormati dan saling menyatakan kesetiaan dengan harapan, bahwa mereka dianugerahkan oleh Allah satu untuk yang lain. Mereka harus menghindari pernyataan cinta kasih yang merupakan cinta kasih suami isteri, sampai pada waktu mereka menikah. Mereka harus saling membantu agar dapat tumbuh dalam kemurnian.

Dengan demikian waktu berpacaran/ bertunangan merupakan waktu yang harus digunakan untuk mengenal pribadi pasangan, terutama secara rohani. Ini penting, karena hal persekutuan rohani sesungguhnya yang mendasari persekutuan jasmani, dan tidak terpisahkan darinya. Jika pasangan mendahulukan keintiman jasmani, misalnya dengan hubungan seksual sebelum menikah, maka sebenarnya keduanya mengambil sesuatu sebelum waktunya, kesatuan yang ingin dilambangkan sebenarnya belum ada, dan kemurnian jiwa dan tubuh mereka menjadi korbannya.

Namun percabulan tidak hanya disebabkan oleh hubungan seksual sebelum perkawinan. Yesus mengajar, “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya…. ” (Mat 5:28). Hal perzinahan di pikiran sudah termasuk dalam dosa melawan kemurnian. Nampaknya, kemurnian menjadi sesuatu yang sulit dijalankan, terlebih dengan adanya banyak propaganda yang seolah mengumbar hal- hal seksual. Mengapa ada kecenderungan manusia jatuh ke dalam dosa seksual ini?

V. Dosa menjadikan manusia berjuang dalam kekudusan dan kemurnian

1. Dosa mengubah persepsi manusia akan kondisi asali

St. Thomas Aquinas mengajarkan bahwa manusia pertama (Adam dan Hawa) diciptakan dengan rahmat pengudusan Allah (sanctifying grace) dan karunia preternatural gifts yaitu 1) keabadian atau tidak dapat mati, 2) tidak dapat menderita, 3) mempunyai pengetahuan akan Tuhan atau ‘infused knowledge’ dan 4) berkat keutuhan atau ‘integrity’ maksudnya, adalah harmoni atau tunduknya nafsu kedagingan pada akal budi. Namun sejak manusia pertama jatuh dalam dosa, mereka kehilangan karunia-karunia tersebut. Adam dan Hawa menurunkan dosa asal dan akibatnya kepada keturunan mereka, termasuk kita, sehingga kita sebagai manusia memang selalu mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa.

Salah satu dokumen Vatikan II, Gaudium Et Spes menuliskan tentang dosa asal dan bagaimana manusia senantiasa berjuang dalam kekudusan di tengah-tengah kecenderungan untuk berbuat dosa.

Akan tetapi manusia, yang diciptakan oleh Allah dalam kebenaran, sejak awal mula sejarah, atas bujukan si Jahat, telah menyalahgunakan kebebasannya. Ia memberontak melawan Allah, dan ingin mencapai tujuannya di luar Allah. Meskipun orang-orang mengenal Allah, mereka tidak memuliakan-Nya sebagai Allah; melainkan hati mereka yang bodoh diliputi kegelapan, dan mereka memilih mengabdi makhluk dari pada Sang Pencipta[10]. Apa yang kita ketahui berkat Perwahyuan itu memang cocok dengan pengalaman sendiri. Sebab bila memeriksa batinnya sendiri manusia memang menemukan juga, bahwa ia cenderung untuk berbuat jahat, dan tenggelam dalam banyak hal-hal buruk, yang tidak mungkin berasal dari Penciptanya yang baik. Sering ia menolak mengakui Allah sebagai dasar hidupnya. Dengan demikian ia merusak keterarahannya yang sejati kepada tujuan yang terakhir, begitu pula seluruh hubungannya yang sesungguhnya dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan segenap ciptaan.

Oleh karena itu dalam batinnya manusia mengalami perpecahan. Itulah sebabnya, mengapa seluruh hidup manusia, ditinjau secara perorangan maupun secara kolektif, nampak sebagai perjuangan, itu pun perjuangan yang dramatis, antara kebaikan dan kejahatan, antara terang dan kegelapan. Bahkan manusia mendapatkan dirinya tidak mampu untuk atas kuasanya sendiri memerangi serangan-serangan kejahatan secara efektif, sehingga setiap orang merasa diri ibarat terbelenggu dengan rantai. Akan tetapi datanglah Tuhan sendiri untuk membebaskan dan meneguhkan manusia, dengan membaharuinya dari dalam, dan dengan melemparkan keluar penguasa dunia ini (lih. Yoh 12:31), yang menahan manusia dalam perbudakan dosa[11]. Adapun dosa yang merongrong manusia sendiri dengan menghalang-halanginya untuk mencapai kepenuhannya.

Dalam terang Perwahyuan itulah baik panggilan luhur maupun kemalangan mendalam, yang dialami oleh manusia, menemukan penjelasannya yang terdalam.” ((Gaudium et Spes, 13))

Rahmat pengudusan dipulihkan oleh rahmat yang mengalir dari misteri Paskah Kristus, sehingga manusia dapat tetap mengambil bagian di dalam kehidupan Tuhan. Sebaliknya, berkat keutuhan (gift of integrity) tidak terpulihkan, namun dipakai oleh Tuhan sebagai cara sehingga manusia dapat membuktikan kasihnya kepada Tuhan. Oleh karena itu, walaupun telah dibaptis – yang berarti telah menerima rahmat pengudusan, tiga kebajikan ilahi (iman, pengharapan dan kasih), karunia Roh Kudus, dan karunia menjadi anak-anak Allah – manusia senantiasa mempunyai kecenderungan berbuat dosa (concupiscence). Katekismus Gereja Katolik mendefinisikan concupiscence / tinder of sin / kecenderungan berbuat dosa sebagai berikut:

KGK, 1264. Tetapi di dalam orang-orang yang dibaptis tetap ada beberapa akibat sementara dari dosa: penderitaan, penyakit, kematian, kelemahan yang berhubungan dengan kehidupan (seperti misalnya kelemahan tabiat), serta kecondongan kepada dosa, yang tradisi namakan concupiscentia [keinginan tak teratur] atau, secara kiasan, “dapur dosa” [fomes peccati]. Karena keinginan tak teratur “tertinggal untuk perjuangan, maka ia tidak akan merugikan mereka, yang tidak menyerah kepadanya dan yang dengan bantuan rahmat Yesus Kristus menantangnya dengan perkasa. Malahan lebih dari itu, siapa yang berjuang dengan benar, akan menerima mahkota (2 Tim 2:5)” (Konsili Trente: DS 1515).

Dari pemaparan di atas, maka kita dapat melihat bahwa sampai akhir hayatnya, manusia akan senantiasa berjuang dalam kekudusan, termasuk dalam menjaga kemurnian.

2. Kebajikan penguasaan diri dan hubungannya dengan kemurnian

Sehubungan dengan kemurnian (chastity), kita akan membahas secara khusus tentang kebajikan penguasaan diri. Katekismus Gereja Katolik mendefinisikan sebagai berikut:

KGK 1809     Penguasaan diri adalah kebajikan moral yang mengekang kecenderungan kepada berbagai macam kenikmatan dan yang membuat kita mempergunakan benda-benda duniawi dengan ukuran yang tepat. Ia menjamin penguasaan kehendak atas kecenderungan dan tidak membiarkan kecenderungan melampaui batas-batas yang patut dihormati. Manusia yang menguasai diri mengarahkan kehendak inderawi-nya kepada yang baik, mempertahankan kemampuan sehat untuk menilai, dan berpegang pada kata-kata: “Jangan mengikuti setiap kecenderungan walaupun engkau mampu, dan jangan engkau mengikuti hawa nafsumu” (Sir 5:2, Bdk. Sir 37:27-31) Kebajikan penguasaan diri sering dipuji dalam Perjanjian Lama: “Jangan dikuasai oleh keinginan-keinginanmu, tetapi kuasailah segala nafsumu” (Sir 18:30). Dalam Perjanjian Baru ia dinamakan “kebijaksanaan” atau “ketenangan”. Kita harus hidup “bijaksana, adil, dan beribadah di dalam dunia sekarang ini” (Tit 2:12).
“Hidup yang baik itu tidak lain dari mencintai Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dan dengan segenap pikiran. (Oleh penguasaan diri) orang mencintai-Nya dengan cinta sempurna, yang tidak dapat digoyahkan oleh kemalangan apa pun (karena keberanian yang hanya mematuhi Dia (karena keadilan) dan yang siaga supaya menilai semua hal, supaya jangan dikalahkan oleh kelicikan atau penipuan (inilah kebijaksanaan)” (Agustinus, mor. Eccl. 1,25,46).

Penguasaan diri dapat diterapkan dalam makanan, minuman dan juga dalam seksualitas. Penguasaan diri bukan berarti meniadakan sama sekali keinginan yang menjadi bagian darinya, namun memakainya dengan ukuran yang tepat dan sesuai dengan akal budi yang benar. ((ST, II-II, q. 154, a. 1.)) Contohnya, bagi pasangan yang belum menikah, adalah wajar untuk ingin saling berdekatan, namun jangan sampai melakukan melakukan hubungan intim yang hanya diperbolehkan untuk suami dan istri. Sedangkan suami istri walaupun diperbolehkan untuk melakukan hubungam intim, namun jangan sampai hubungan tersebut hanya didasari oleh nafsu belaka, sehingga menjadikan pasangan hanya sebagai obyek pelampiasan semata.

3. Berlatih kemurnian adalah seperti berlatih mendidik anak-anak

Pertanyaannya adalah, bagaimana kita dapat mengendalikan kecenderungan-kecenderungan ini, sehingga kita dapat hidup murni? Kata kemurnian (chastity) menurut St. Thomas adalah memurnikan kecenderungan berbuat dosa (concupiscence) dengan akal budi. Aristoteles membandingkan hal ini seperti proses pendidikan anak-anak. ((ST, II-II, q. 151, a. 1. See Aristotle, Nich. Ethics 3.12. 1119a33.)) Seperti anak-anak yang dibiarkan untuk berbuat apa saja, maka akan semakin sulit untuk dikontrol. Namun, semakin anak-anak dilatih dan dididik, maka dia akan semakin menurut, sampai akhirnya pendidikan tersebut menjadi bagian dari dirinya, sehingga pendidikan tersebut bukan menjadi sesuatu yang mengekang namun menjadi sesuatu yang membebaskan.

VI. Pelanggaran terhadap kemurnian

Setelah kita mengetahui kemurnian dan hubungannya dengan kebajikan, serta menyadari perlunya untuk mengarahkan dorongan kodrati (sensitive appetite), maka kita akan melihat beberapa hal yang dipandang sebagai pelanggaran terhadap kemurnian:

1. Nafsu/ ketidakmurnian

KGK 2351     Nafsu adalah hasrat yang menyimpang akan, ataupun kenikmatan yang tidak teratur akan kesenangan seksual. Keinginan seksual itu tidak teratur secara moral, apabila ia dikejar karena dirinya sendiri dan dengan demikian dilepaskan dari tujuan batinnya untuk melanjutkan kehidupan (procreative) dan untuk hubungan cinta kasih (unitive).

2. Masturbasi

KGK 2352    Masturbasi adalah rangsangan alat-alat kelamin yang disengaja dengan tujuan membangkitkan kenikmatan seksual. “Baik Wewenang Mengajar Gereja dalam tradisinya yang tidak berubah maupun perasaan susila umat beriman telah tidak pernah meragukan, untuk mencap masturbasi sebagai satu tindakan yang sangat menyimpang”. “Penggunaan kemampuan seksual dengan sengaja, dengan alasan apa pun, yang dilakukan di luar hubungan suami isteri yang normal, bertentangan dengan hakikat tujuannya”.  Sebab di sini, kenikmatan seksual dicari di luar “hubungan seksual yang diatur oleh hukum moral/ kesusilaan dan yang di dalamnya dicapai arti sepenuhnya dari penyerahan diri secara timbal balik dan juga suatu pembuahan manusiawi di dalam cinta yang sejati” ((CDF, Perny. Persona humana 9)).

Walaupun ada pandangan psikologis yang menyetujui masturbasi sebagai suatu cara ‘penyaluran’ dorongan seksual, namun Gereja tidak pernah membenarkan tindakan tersebut. Masturbasi adalah tindakan didasari motif mengagungkan kenikmatan seksual di atas segalanya, dan ini dapat beresiko menjadikan seseorang kecanduan seksual, di mana seseorang menempatkan kenikmatan badani sebagai tuhannya.

Maka harus dicari jalan yang positif untuk menyalurkan dorongan- dorongan seksual, agar fokusnya bukan menyalurkan dorongan tersebut dengan melakukan aktivitas seksual, tetapi mengarahkannya kepada aktivitas lain yang membangun tubuh dan jiwa.

3. Percabulan

KGK 2353    Percabulan adalah hubungan badan antara seorang pria dan seorang wanita yang tidak menikah satu dengan yang lain. Ini adalah satu pelanggaran besar terhadap martabat orang-orang ini dan terhadap seksualitas manusia itu sendiri, yang dari kodratnya diarahkan kepada kebahagiaan suami isteri serta kepada melahirkan keturunan dan pendidikan anak-anak. Selain itu ia juga merupakan skandal berat, karena dengan demikian moral anak-anak muda dirusakkan.

Termasuk di sini adalah hidup bersama sebelum menikah, karena umumnya mereka yang melakukannya mempunyai kecenderungan untuk melakukan dosa percabulan. Percabulan ini juga tidak terbatas dengan tindakan nyata, sebab seseorang dapat jatuh dalam dosa percabulan dengan pikirannya (lih. Mat 5:28; KGK 2528).
Bagaimana agar tidak jatuh dalam dosa percabulan sebelum menikah? Demikian adalah anjuran dari Johann Christoph Arnold, dalam bukunya A Plea for Purity:

“Pelukan yang lama, saling bercumbu, ciuman bibir dan segala yang lain yang dapat mendorong hasrat seksual harus dihindari. Hasrat untuk berdekatan secara fisik antara sepasang kekasih adalah sesuatu yang wajar, namun daripada membangkitkan hasrat seputar keintiman ini, pasangan tersebut harus memfokuskan diri untuk lebih mengenal pasangan secara lebih akrab secara rohani, dan saling membangun kasih kepada Yesus dan Gereja-Nya.” ((Johann Christoph Arnold, A Plea for Purity, (Farmimgton: The Plough Publishing House of the Bruderhof Foundation, 1998, reprint), 102))

Ketika Tuhan Yesus berbicara tentang percabulan di hati, maksudnya adalah seorang pria tidak boleh memandang seorang wanita dengan nafsu. Paus Yohanes Paulus II mengatakan, “Percabulan di hati dilakukan bukan hanya karena laki-laki melihat dengan cara sedemikian kepada seorang perempuan yang bukan istrinya, tetapi karena ia melihat dengan cara sedemikian kepada seorang perempuan…. Meskipun laki- laki itu melihat dengan cara sedemikian kepada perempuan yang adalah istrinya, ia tetap melakukan percabulan di hatinya.” (TOB 43:2). Maka di sini Paus mengajarkan bahwa hubungan suami istri tidak boleh direduksi artinya hanya sebagai pemuasan kebutuhan seksual, namun sebagai ungkapan kasih yang total antara suami istri sesuai dengan kehendak Tuhan.

4. Pornografi

KGK 2354    Pornografi mengambil persetubuhan yang sebenarnya atau yang dibuat-buat dengan sengaja dan keintiman para pelaku dan menunjukkannya kepada pihak ketiga. Ia menodai kemurnian, karena ia meyimpangkan makna hubungan suami isteri, penyerahan diri yang intim antara suami dan isteri. Ia sangat merusak martabat semua mereka yang ikut berperan (para aktor, pedagang, dan penonton), karena mereka ini menjadi obyek kenikmatan primitif dan sumber keuntungan yang tidak diperbolehkan. Pornografi menenggelamkan semua yang berperan di dalamnya dalam sebuah dunia semu. Ia adalah suatu pelangaran berat. Pemerintah berkewajiban mencegah pengadaan dan penyebarluasan bahan-bahan pornografi.

Sayangnya, dewasa ini pornografi ini marak di mana- mana dan mudah diakses oleh kalangan luas termasuk anak- anak. Diperlukan kehendak yang kuat dan konsistensi untuk menolak pornografi.

5. Prostitusi

KGK 2355    Prostitusi menodai martabat orang yang melakukannya dan orang dengan demikian merendahkan diri sendiri dengan menjadikan diri obyek kenikmatan semata-mata bagi orang lain. Siapa yang melakukannya, berdosa berat terhadap diri sendiri; ia memutuskan hubungan dengan kemurnian yang telah ia janjikan pada waktu Pembaptisan, dan menodai tubuhnya, kenisah Roh Kudus (Bdk. 1 Kor 6:15-20). Prostitusi adalah satu bencana untuk masyarakat. Sebagaimana, biasa ia menyangkut para wanita, tetapi juga para pria, anak-anak, atau orang muda (kedua kelompok terakhir melibatkan dosa tambahan karena penyesatan)…..

6. Perkosaan

KGK 2356    Perkosaan adalah satu pelanggaran dengan kekerasan dalam keintiman seksual seorang manusia. Ia adalah pelanggaran terhadap keadilan dan cinta kasih. Perkosaan adalah pelanggaran hak yang dimiliki setiap manusia atas penghormatan, kebebasan, keutuhan fisik, dan jiwa. Ia menyebabkan kerusakan besar, yang dapat membebani korban seumur hidup. Ia selalu merupakan suatu perbuatan yang pada dasarnya/ dengan sendirinya jahat. Lebih buruk lagi, apabila orang-tua atau para pendidik memperkosa anak-anak yang dipercayakan kepada mereka.

7. Homoseksualitas

KGK 2357     Homoseksualitas adalah hubungan antara para pria atau wanita, yang merasa diri tertarik dalam hubungan seksual, semata-mata atau terutama, kepada orang sejenis kelamin….. Berdasarkan Kitab Suci yang melukiskannya sebagai penyelewengan besar (Bdk.Kej 19:1-29; Rm 1:24-27; 1 Kor 6:10; 1 Tim 1:10) tradisi Gereja selalu menjelaskan, bahwa “perbuatan homoseksual itu sangat menyimpang” ((CDF, Perny. “Persona humana” 8)). Perbuatan itu melawan hukum kodrat, karena kelanjutan kehidupan tidak mungkin terjadi waktu persetubuhan. Perbuatan itu tidak berasal dari satu kebutuhan benar untuk saling melengkapi secara afektif dan seksual. Bagaimanapun perbuatan itu tidak dapat dibenarkan.

VII. Bagaimana jika sudah terlanjur tidak murni?

Jika karena satu dan lain hal, (entah karena ketidaktahuan, ataukah karena kesalahan) seseorang tidak sepenuhnya menjalankan ajaran kemurnian di masa yang lalu, janganlah berputus asa. Tuhan Yesus datang untuk mengampuni dosa- dosa manusia. Asalkan ia dengan tulus menyesali segala dosa dan kesalahannya, maka Tuhan akan mengampuninya. Seperti Yesus mengampuni perempuan yang berdosa (Maria Magdalena), dan pengampunan ini mengubah kehidupan perempuan ini; Yesuspun dapat mengampuni kita dan mengubah kehidupan kita. Alkitab mencatat, bahwa kepada perempuan ini Tuhan Yesus menampakkan diri  pada hari kebangkitan-Nya. Semoga kitapun dapat menjadi saksi- saksi kebangkitan-Nya dan karya penyelamatan-Nya dalam hidup kita.

Maka, kisah pertobatan Maria Magdalena ini harus mendorong kita untuk bertobat; dan selalu tidak ada kata terlambat untuk bertobat. Selanjutnya usahakanlah untuk menjaga kemurnian ini, dan mengajarkannya kepada anak- anak kita; agar mereka dapat mengetahui kabar gembira tentang kemurnian ini, dan melaksanakannya dalam kehidupan mereka.

VIII. Mengusahakan kemurnian tubuh dan jiwa secara praktis.

Berikut ini adalah langkah- langkah praktis untuk mengusahakan kemurnian tubuh dan jiwa:

1. Mengenal diri sendiri

Kita harus mengenal diri sendiri, sehingga kita tahu di area mana kita harus memperbaiki diri. Untuk itu, kita minta agar Roh Kudus menyingkapkan apa yang tersebunyi, yang ada di dalam diri kita.

2. Mohon rahmat Tuhan

Kita memohon kepada Tuhan agar membersihkan hati kita dari pikiran- pikiran dan kecenderungan yang tidak semestinya.

3. Melatih pengendalian diri

Selanjutnya, kita harus melatih pengendalian diri, dan mempraktekkan ajaran kemurnian ini, dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

KGK 2530 Perjuangan melawan keinginan daging terjadi melalui pembersihan hati dan latihan menjaga batas dalam segala hal.

KGK 2532 Untuk pembersihan hati dibutuhkan doa, mempraktekkan kemurnian, mempunyai maksud dan pandangan yang murni.

Pedoman praktis: jauhi segala kesempatan yang mendorong kita untuk berpikir atau melakukan hal- hal yang tidak sopan. Jauhilah pembicaraan yang ‘nyerempet’ ke arah hal yang porno. Carilah kesibukan yang lebih bermanfaat dan membangun.

4. Kemurnian hati mensyaratkan sikap bersahaja (modesty):

KGK 2533 Kemurnian hati menuntut sikap yang bersahaja, yang terdiri dari kesabaran, kerendahan hati, dan kehati-hatian (discretion). Sikap yang bersahaja melindungi jati diri seseorang.

KGK 2522 Sikap bersahaja (modesty) melindungi rahasia pribadi dan cinta kasihnya. Ia mengundang untuk bersabar dan mengekang diri dalam hubungan cinta kasih. Sikap bersahaja mensyaratkan bahwa prasyarat-prasyarat untuk ikatan definitif dan penyerahan timbal balik dari suami dan isteri dipenuhi. Dalam sikap tersebut termasuk pula sikap kepantasan/ kelayakan. Ia mempengaruhi pemilihan busana. Ia diam atau menahan diri jika ada resiko ingin tahu yang tidak sehat. Ia bijaksana dalam menghormati privacy orang lain.

“Sikap yang pantas dan bersahaja (modesty) dalam perkataan, perbuatan dan cara berpakaian adalah sangat penting untuk menciptakan atmosfir yang cocok untuk pertumbuhan kemurnian…. Orang tua perlu waspada sehingga mode- mode pakaian yang tidak sopan dan sikap- sikap yang tidak pantas tidak melanggar keutuhan sebuah rumah tangga, terutama karena salah penggunaan mass media.” ((Pontifical Council for the Family, The truth and meaning of human sexuality, 56))

IX. Kesimpulan: Kemurnian = mengasihi dengan jiwa dan tubuh

Sebagai mahluk yang diciptakan Tuhan sesuai dengan gambaran Allah, yang adalah Kasih, manusia diciptakan untuk mengasihi. Maka setiap manusia diberi kemampuan oleh Tuhan untuk mengasihi dengan memberikan dirinya dengan tulus, yang melibatkan tubuh dan jiwa, dan inilah yang membedakan manusia dengan ciptaan lainnya. Oleh karena itu, seksualitas manusia adalah sesuatu yang baik, sebab manusia ber- relasi satu sama lain dengan tubuhnya. Maka tujuan akhir seksualitas adalah kasih, yaitu kasih yang melibatkan kegiatan memberi dan menerima.

Jadi, bagi pasangan yang menuju jenjang perkawinan harus mempraktekkan kemurnian, sehingga dapat menghormati pasangan dan mengasihi pasangan lebih dari sekedar tubuh pasangan, namun terutama mengasihi pasangan sebagai seseorang / pribadi. Dengan demikian, pasangan ini dapat saling mengenal satu sama lain, dapat saling memberi dan menerima secara lebih mendalam dan spiritual.

Dalam perkawinan, pemberian dan penerimaan kasih terjadi sedemikian rupa, sehingga menggambarkan kasih yang total sebagaimana kasih Kristus kepada Gereja-Nya. Hubungan kasih ini mengatasi hubungan kontrak ataupun perjanjian, sebab yang mengikat adalah Kristus sendiri, yaitu ketika pasangan suami istri dipersatukan oleh Allah untuk mengambil bagian di dalam kehidupan Allah sendiri, dan dalam karya penciptaan-Nya. Oleh sebab itu hubungan suami istri memiliki makna luhur dan suci, dan karena itu tidak dapat diartikan dan dilakukan sekehendak hati manusia. Kebajikan kemurnian adalah segala upaya untuk menggunakan berkat seksualitas sesuai dengan rencana Tuhan. Hanya dengan mempraktekkan kebajikan kemurnian inilah maka kita dapat sungguh berbahagia.

Catatan: Bahan ini diberikan untuk session 4 (tanggal 2 November 2010) dari 9 session, seminar tentang “kabar baik tentang seks dan perkawinan” yang diselenggarakan oleh Seksi Kerasulan Keluarga Paroki Stella Maris.

Teologi kemakmuran: ajaran gampang tapi salah!

81

Berikan sumbangan, maka engkau akan menerima kembali berlipat ganda.

Seruan untuk memberikan sumbangan finansial kepada misi evangelisasi dengan iming-iming untuk mendapatkan kembali apa yang diberikan secara berlipat ganda, seperti yang sering didengungkan oleh para televangelists yaitu para evangelis yang melakukan pewartaan melalui media televisi. Di satu sisi, mendukung misi evangelisasi adalah baik, namun kalau dilakukan dengan motivasi untuk mendapatkan kembali berlipat ganda apa yang akan diberikan, maka motivasi ini keliru. Dalam hal ini, seolah-olah sumbangan dilakukan bukan dengan alasan kasih, namun menjadi suatu urusan bisnis, yang dilihat dari segi untung dan rugi. Pemikiran seperti ini adalah suatu gambaran akan maraknya teologi kemakmuran.

Dalam artikel ini, kita akan melihat latar belakang dari teologi kemakmuran, pengaruh materialisme pada teologi kemakmuran. Lebih lanjut kita akan menelaah bahwa teologi seperti ini justru bertentangan dengan: 1) Alkitab, 2) jemaat perdana, 3) kehidupan para santa-santo, 4) akal sehat, 5) dimensi eskatologi. Dan pada akhirnya, kita akan melihat tentang apakah sebenarnya yang dimaksud dengan “hidup berkelimpahan“, yang sering didengung-dengungkan oleh banyak orang, terutama oleh penganut teologi kemakmuran. Dengan memahami makna  “hidup berkelimpahan” secara benar, maka kita dapat menempatkan nilai-nilai kekristenan dan semangat Injil di tempat yang semestinya. Yaitu,  hidup berkelimpahan ini terutama menyangkut hal spiritual dan mengarah pada tujuan akhir manusia, yaitu persatuan abadi dengan Allah di dalam Kerajaan Sorga, tanpa melihat apakah orang tersebut kaya maupun miskin secara jasmani.

I. Definisi dan sejarah teologi kemakmuran

1. Latar belakang teologi kemakmuran.

Teologi kemakmuran mulai dipopulerkan di Amerika pada waktu belakangan ini, terutama dengan menjamurnya televangelist yang cukup populer, dengan gaya penginjilan yang khas dan berapi-api. Secara prinsip, teologi kemakmuran mengajarkan bahwa Tuhan tidak hanya memberikan berkat spiritual, namun terutama adalah berkat kesehatan dan kekayaan. Dan kerap kali kesehatan dan kekayaan dapat diterima sebagai akibat dari tindakan menabur (seeding), yaitu dengan memberikan perpuluhan. Bahkan dikatakan bahwa kekayaan adalah suatu tanda bahwa akan kasih Tuhan kepada umat-Nya.

Kita dapat melihat akan beberapa pernyataan dari beberapa televangelist maupun pendeta-pendeta terkenal, salah satunya adalah Joel Osteen yang mengatakan di salah satu kotbahnya:

Bagaimana untuk hidup dalam kemenangan total? Yesus yang mati, telah bangkit pada hari ke-tiga. Yesus berkata “karena saya hidup, maka engkau juga akan memperoleh kehidupan.” Diinterpretasikan bahwa Yesus menginginkan kita semua untuk mendapatkan hidup yang berkelimpahan: hidup yang bukan dipenuhi dengan kebiasaan buruk, bukan hidup yang biasa-biasa saja. Bukan kemenangan setengah-setengah, di mana kita mempunyai keluarga yang baik, kesehatan yang baik, namun senantiasa mempunyai masalah dengan masalah keuangan. Ini bukanlah kemenangan yang total. Kalau Tuhan melakukan sesuatu di satu area, Dia akan melakukan juga di area yang lain. Orang yang mengalami masalah kesehatan dan menerimanya sebagai sebuah salib, adalah tidak benar, karena Yesus telah membayar semuanya, sehingga kita dapat bebas secara total – yang berarti bebas dari kebiasaan buruk maupun kecanduan, bebas dari ketakutan dan kekuatiran, bebas dari kemiskinan dan kekurangan, bebas dari kerendahan diri. Karena Yesus telah membayar harga agar kita bebas, maka kita harus bebas secara total. Untuk dapat bebas, maka kita harus tahu siapa diri kita, yang adalah anak-anak Allah, yang bukan orang-orang yang biasa, telah direncanakan oleh Allah sebagai pemenang, yang mempunyai kesehatan yang baik, dan juga banyak uang untuk membayar tagihan-tagihan, …

Kalimat-kalimat di atas adalah merupakan gambaran tentang teologi kemakmuran, yang ingin mengedepankan kesuksesan dan kemakmuran di dunia ini, seperti: relasi sesama yang baik, keluarga yang baik, punya harga diri yang baik, kesehatan yang baik, dan juga mempunyai kekayaan – sebagai manifestasi dari kebebasan yang total, yang seolah-olah ditawarkan oleh Yesus, karena Yesus telah membayar lunas seluruhnya. Dikatakan, dengan pengorbanan Kristus, maka seluruh umat Allah harus hidup dalam kelimpahan, termasuk dalam urusan kesehatan dan kekayaan. Namun, apakah benar bahwa pesan ini adalah sesuai dengan semangat Injil?

2. Pengaruh materialisme terhadap teologi kemakmuran.

Kalau kita melihat secara lebih cermat, maka kita dapat melihat bahwa materialisme yang melanda dunia ini mempengaruhi teologi kemakmuran. Dunia yang dilanda materialisme – paham di mana kesuksesan, kehormatan dan kemampuan seseorang menjadi parameter apakah seseorang menjadi berharga atau tidak, masuk ke dalam teologi kemakmuran. Hal ini dapat dibuktikan dengan perkembangan teologi kemakmuran yang baru marak di abad ke-20 ini, di mana materialisme melanda dunia dalam segala bidang.

Materialisme – paham yang percaya bahwa yang benar-benar ada adalah sesuatu yang bersifat materi – memberikan pengaruh kepada teologi kemakmuran. Rahmat Allah yang terbesar – yaitu janji akan kebahagiaan Sorgawi – direduksi menjadi kebahagiaan yang bersifat duniawi dan bersifat material, seperti rumah, kesehatan, kekayaan. Dengan demikian, efek dari pengorbanan Kristus di kayu salib direduksi menjadi kebahagian semu yang ada di dunia ini. Alasan untuk mendapatkan kebahagiaan material yang dibayar dengan pengorbanan Kristus, rasanya menjadi terlalu murah dan terlihat menjadi kesia-siaan, karena memang Kristus bukan datang ke dunia untuk memberikan kebahagiaan duniawi namun kebahagiaan sorgawi. Mari kita membandingkan teologi kemakmuran dengan prinsip-prinsip Alkitab.

II. Teologi kemakmuran salah dalam menangkap pesan Alkitab dan tidak didukung oleh kesaksian jemaat perdana.

1. Teologi kemakmuran bertentangan dengan Alkitab.

a. Memang ada bagian di Alkitab yang menyatakan bahwa Tuhan akan memberikan kemakmuran bagi orang-orang pilihan-Nya. Dikatakan “Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.” (Ul 8:18). Kita juga melihat bagaimana kitab Amsal mengatakan “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” (Ams 10:22).

b. Namun di satu sisi, Alkitab juga mengatakan bahwa penderitaan – kurangnya kekayaan dan kesehatan – bukan sebagai bukti bahwa Allah tidak mengasihi umat-Nya. Kita melihat di kitab Ayub, di mana diceritakan bahwa Ayub yang saleh dan jujur serta takut akan Tuhan (lih. Ay. 1:1), tertimpa bencana. Dia kehilangan semua yang dimilikinya, termasuk kekayaannya, ternaknya, termasuk keluarganya, dan juga kesehatannya. Dan teman-teman Ayub mempergunakan teologi kemakmuran, dengan mengatakan “7 Camkanlah ini: siapa binasa dengan tidak bersalah dan di manakah orang yang jujur dipunahkan? 8  Yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga.” (Ay. 4:7-8). Teman-teman Ayub melihat bahwa kesengsaraan Ayub adalah sebagai akibat dari dosa-dosanya, karena dalam pemikiran mereka, Allah akan memberikan kelimpahan materi, kesehatan yang baik, serta kehidupan keluarga yang baik, bagi orang-orang yang menjalankan perintah Allah. Namun, pemikiran ini tidak dibenarkan oleh Allah (lih. Ay 42:7). Dari kitab Ayub ini, kita sebetulnya melihat dimensi lain dari penderitaan, yang bukan sebagai hukuman atas dosa, namun sebagai penderitaan yang innocent, yang selayaknya diterima sebagai suatu misteri. ((Paus Yohanes Paulus II, Salvifici Doloris, 11)) Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Salvific Doloris, menyingkapkan penderitaan sebagai kesempatan untuk pertobatan, yang membangun kebaikan dari orang yang mengalaminya. ((ibid, 13)) Dengan demikian, pengajaran teologi kemakmuran, yang melihat bahwa penderitaan fisik (jasmani maupun kemiskinan) sebagai sesuatu yang salah, seolah menutup adanya rahmat Allah yang dapat bekerja secara istimewa kepada orang-orang yang sedang mengalami penderitaan fisik.

Walaupun Kristus mengatakan “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mt 6:33), yang sering menjadi ayat andalan dari teologi kemakmuran, namun di ayat-ayat yang lain, Kristus juga memperingatkan para murid untuk berhati-hati terhadap bujukan mamon. Dikatakan “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Mt 6:24). Bahkan ditegaskan sekali lagi “Sebab lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Lk 18:25). Dengan demikian, penekanan bahwa Tuhan pasti akan memberikan berkat-berkat material sebagai tanda kasih-Nya kepada umat manusia, tidaklah menyampaikan kebenaran penuh akan pesan Kristus. Hal ini  bahkan dapat menyesatkan, terutama jika Kristus kemudian seolah digambarkan sebagai tokoh semacam ‘sinterklas’ yang membagi- bagi hadiah.

2. Teologi kemakmuran bertentangan dengan kehidupan jemaat perdana.

Kalau kita menganalisa sejarah kekristenan, maka kita akan dapat melihat bahwa pada masa awal kekristenan, bukan kekayaan materi dan kesehatan yang baik, yang mereka dapatkan, namun justru dikejar-kejar oleh penguasa. Kita dapat melihat contoh mulai dari Yesus yang akhirnya meninggal di kayu salib, para rasul yang juga menderita dan mati dalam penganiayaan, para jemaat perdana yang juga menderita dan banyak yang meninggal dalam mempertahankan iman mereka. Tubuh mereka bukannya mendapat kesehatan yang baik, namun sering berakhir pada perut singa-singa yang buas. Mereka inilah yang dengan setia memegang dan menjalankan pengajaran Kristus sampai pada titik mengorbankan diri mereka. Mereka mencintai kebenaran yang diwartakan oleh Kristus lebih daripada harta kekayaan mereka, melebihi tubuh mereka dan melebihi nyawa mereka. Bahkan dikatakan bahwa Gereja dibangun di atas darah para martir.

3. Teologi kemakmuran bertentangan dengan kehidupan para santa-santo.

Kalau kita mempelajari kehidupan para santa-santo, maka kita melihat bahwa mereka adalah orang-orang yang dipakai oleh Tuhan dengan begitu luar biasa. Mereka senantiasa bekerjasama dengan rahmat Tuhan, sehingga menghasilkan buah-buah yang limpah, dalam membawa banyak orang kepada Tuhan, melalui doa- doa dan  karya kerasulan mereka. Namun, apakah mereka mempunyai kesehatan yang baik serta kekayaan yang berlimpah? Mayoritas dari kehidupan para santa-santo diwarnai dengan begitu banyak penderitaan. Namun demikian mereka tetap memiliki keberanian untuk mengasihi Kristus dalam kondisi tersulit apapun. Kita melihat Santo Fransiskus dari Asisi, yang meninggalkan kekayaannya demi untuk mengikuti Kristus secara lebih total. Dia menjadi santo yang besar dalam sejarah Gereja, bukan karena kekayaannya, namun karena keberaniannya dalam mengikuti Kristus, termasuk dalam hal kemiskinan, kemurnian dan ketaatan. Lihatlah kehidupan Santo Thomas Moore dari Inggris, yang memilih kehilangan keluarga, kekayaan dan jiwanya untuk tetap setia pada Kristus dengan setia terhadap pengajaran Gereja Katolik.

4. Teologi kemakmuran bertentangan dengan akal sehat.

Kalau kasih Kristus kepada umat-Nya diukur dari seberapa banyak umat-Nya menerima berkat finansial, maka sungguh sangat disayangkan, dan bahkan tidak sesuai dengan akal sehat. Bayangkan nasib dari begitu banyak penduduk miskin di dunia. Menurut data tahun 2001, ada 1,1 milyar orang masuk dalam garis kemiskinan yang ekstrim dan 2,7 milyar masuk dalam garis kemiskinan, yang hidup kurang dari US$ 2 (Rp 18,000) per hari. Ini berarti ada sekitar 40% dari populasi dunia berada di bawah garis kemiskinan. Bahkan dikatakan bahwa 6 juta anak-anak meninggal setiap tahun atau sekitar 17,000 meninggal setiap hari. Kalau kekayaan material adalah identik dengan kasih Tuhan, maka bagaimana mungkin, kita dapat mengatakan bahwa Tuhan tidak mengasihi orang-orang miskin dan anak-anak yang meninggal setiap hari karena kemiskinan? Bagaimana mungkin bahwa Tuhan pilih kasih dan memberikan hukuman kepada mereka yang hidup dalam kemiskinan, dan sebagian bukanlah akibat kesalahan mereka sendiri…

5. Teologi kemakmuran menghilangkan dimensi eskatologi.

Dengan memberikan penekanan pada kemakmuran material di dunia ini, maka teologi kemakmuran secara tidak langsung mengaburkan dimensi eskatologi – yaitu yang berhubungan dengan akhir zaman. Penekanan yang terlalu banyak akan kebahagiaan material dari teologi kemakmuran membuat seseorang berfokus pada apa yang terjadi di dunia ini dan mengaburkan apa yang menjadi tujuan akhir dari seorang Kristen, yaitu berkumpul bersama dengan Allah untuk selamanya di dalam Kerajaan Sorga.

Kita tahu bahwa seorang Kristen hidup di dunia ini, namun bukan dari dunia ini. Seorang Kristen harus mempunyai kesadaran bahwa apa yang dialami di dunia ini hanyalah bersifat sementara, karena pada saatnya nanti ketika kemah kita di dunia ini dibongkar, maka Allah telah menyediakan tempat kediaman abadi di Sorga (lih. 2Kor 5:1). Seorang Kristen harus tahu bahwa kebahagiaan sejati bukanlah kebahagiaan material, namun kebahagiaan spiritual, yang akan diterima dan dialami secara penuh pada saat kita masuk dalam Kerajaan Sorga.

III. Arti yang sesungguhnya dari “hidup berkelimpahan“.

Kalau teologi kemakmuran menekankan kemakmuran material, maka sebenarnya tidak ada yang salah dengan kata “kemakmuran“, namun yang menjadi masalah adalah penekanan kemakmuran pada hal-hal yang bersifat material. Berjuang untuk memperbaiki taraf hidup, tentu merupakan sesuatu yang baik. Namun tentang hasilnya, apakah kita menjadi kelimpahan atau tidak secara duniawi, bukanlah yang menjadi fokus utama dalam kehidupan umat beriman. Sebab bukan itu yang menjadi janji Tuhan yang terutama. Kalau Tuhan memberi rejeki duniawi berkelimpahan, puji Tuhan. Kalau tidak, juga tetap puji Tuhan! Tuhan mengetahui yang terbaik bagi kita. Tuhan memang tidak melarang, bahkan mengajarkan kita untuk memohon rejeki/ makanan secukupnya setiap hari, dan ini kita ucapkan dalam Doa Bapa Kami. Janji inilah yang ditepati-Nya pada orang-orang yang percaya kepada-Nya. Namun Tuhan tidak menjanjikan kelimpahan materi kepada setiap orang. Memang Yesus mengatakan “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yoh 10:10). Rasul Paulus juga menekankan hidup yang berkelimpahan, namun bukan berkelimpahan dari sisi material, namun berkelimpahan dalam kasih karunia (lih. Rm 5:20; Ef 2:7) dan oleh kekuatan Roh Kudus, kita dapat hidup berlimpah-limpah dalam pengharapan (lih. Rm 15:13), serta kelimpahan akan iman, kebajikan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih (lih. 2Pet 1:6-8).

Dengan demikian, kita melihat bahwa kasih karunia Allah dicurahkan secara melimpah kepada umat yang terus bekerjasama dengan rahmat Allah. Namun, Yesus sendiri tidak pernah menjanjikan kelimpahan material, walaupun Dia juga akan memberikan rejeki kepada orang-orang yang mencari Kerajaan Allah dan bertanggung jawab terhadap panggilan hidupnya. Dia mengatakan kepada para murid yang telah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti Yesus “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.” (Mt 19:29). Apakah “seratus kali lipat” adalah merupakan janji untuk mendapatkan sesuatu yang bersifat material (harta, kedudukan, kesehatan, dll) ataukah sesuatu yang bersifat spiritual? Untuk melihat ini, maka kita dapat melihat apa yang terjadi pada para rasul. Apakah para rasul mendapatkan kekayaan? Tidak sama sekali. Bahkan, semua rasul mendapatkan penderitaan dan kematian karena mengikuti dan mengajarkan kebenaran Kristus. Namun, di tengah-tengah penderitaan mereka, mereka tetap menerima rahmat yang berkelimpahan, yaitu rahmat spiritual – kegembiraan dalam menghadapi penderitaan dan rahmat pengharapan yang tak pernah surut, karena percaya akan janji Kristus.

Dengan demikian, makna dari hidup berkelimpahan sebagai rahmat yang mengalir sebagai orang yang percaya dan senantiasa bekerjasama dengan rahmat Allah adalah senantiasa bermakna spiritual, entah orang tersebut kaya maupun miskin. Atau kita harus menyetujui bahwa rahmat spiritual adalah lebih penting daripada rahmat material, karena spiritual adalah lebih utama dan kekal daripada material yang bersifat hanya sementara. Dengan demikian, hidup berkelimpahan terbuka bagi siapa saja, baik bagi yang kaya maupun yang miskin, yang berarti Tuhan memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang. Bahkan orang-orang yang miskin mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan hidup yang berkelimpahan, karena mereka adalah orang-orang yang senantiasa mengandalkan belas kasih Tuhan. Dikatakan “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mt 5:3) Dengan memberikan penekanan bahwa keutamaan hidup berkelimpahan adalah sesuatu yang bersifat spiritual, maka umat Allah akan senantiasa berfokus pada sesuatu yang spiritual dan mengarahkan pandangan pada tujuan akhir, yaitu persatuan abadi dengan Allah di dalam Kerajaan Sorga tanpa juga melupakan kebaikan badan yang harus dipenuhi selama kita berada di dunia ini.

Kesimpulan:

Dari pemaparan di atas, maka terlihat bahwa teologi kemakmuran adalah teologi yang berfokus pada sesuatu yang bersifat material dan sementara, yang bertentangan dengan pesan Kristus sendiri – yang senantiasa mengutamakan rahmat spiritual dan tujuan akhir dari manusia, yaitu persekutuan abadi dengan Allah di dalam Kerajaan Sorga. Dengan demikian, teologi kemakmuran terlalu menyederhanakan – mungkin lebih tepatnya membelokkan – pesan Injil. Teologi kemakmuran menjadi sangat berbahaya di tengah-tengah kehidupan yang didominasi oleh materialisme, karena seolah-olah mereka mendapatkan pembenaran dari orientasi mereka ke hal-hal yang bersifat material.

Para Bapa Gereja dan jemaat Kristen awal, tidak pernah mengajarkan tentang penekanan terhadap kemakmuran jasmani. Sebaliknya, yang diajarkan mereka adalah untuk menunjukkan kasih kita kepada Tuhan sampai ke titik darah penghabisan: menyebarkan Injil meski di dalam keadaan kekurangan dan penganiayaan, dan bahkan berani menyerahkan nyawa demi mempertahankan iman.

Sesuatu yang perlu direnungkan adalah buah- buah dari pengajaran Teologi sukses itu. Apakah umat jadi mau prihatin dan lebih berbelas kasih kepada sesama, atau malah cenderung menjadi sombong, dan menganggap bahwa orang miskin itu ‘layak’ miskin karena dosa mereka, sehingga mereka tidak diberkati? Bukankah ini namanya menghakimi? Hubungannya dengan Tuhan bisa seperti hubungan ‘dagang’, seolah mau memberi sekian persen penghasilan dengan harapan menerima berlipat ganda dari Tuhan, semacam investasi saja. Belum lagi kalau Teologi ini membuat umat menjadi terikat dengan kenikmatan materi, dan ini sudah pasti tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci, sebab malah dikatakan bahwa cinta uang adalah akar dari segala kejahatan (1 Tim 6:10); atau bahkan Tuhan Yesus mengajarkan agar menjadi sempurna seseorang dipanggil untuk memberikan semua harta miliknya kepada orang miskin dan kemudian mengikuti Dia (Mat 19:21).

Selayaknya kita mengingat bahwa Tuhan Yesus sendiri memilih untuk lahir sebagai orang miskin, untuk mengajarkan kepada kita untuk hidup ‘miskin di hadapan Allah’ (Mat 5:3). Semoga kita sebagai murid- murid Kristus dapat diberi kebijaksanaan untuk menilai mana ajaran yang berasal dari Tuhan, dan mana yang bukan. Dan agar jangan sampai kita memilih- milih ajaran, yang mudah dan enak didengar kita terima, tetapi yang sulit kita tolak. Kita harus berdoa agar kita dimampukan oleh Tuhan untuk melaksanakan “segala sesuatu yang diperintahkan oleh-Nya” (lih, Mat 28:20) dan bukan untuk memilih- milih ajaran sesuai dengan kehendak sendiri.

Luk 12:47-48: Yang dipercaya banyak dituntut banyak

1

Pertanyaan:

Shalom,
Bapak Stef dan Ibu Inggrit saya adalah pembaca yang setia dari katolisitas sejak awalnya. Sebagai orang katolik iman sangat dibaharui melalui tulisan-tulisan pada situs ini. Untuk itu saya mengucapkan terima kasih kepada bapak dan ibu. Semoga Roh Kudus tetap berkarya melalui team katolisitas.org.
Adapun hal yang ingin saya tanyakan adalah pengertian dari injil Lukas 12:47-48 yang berbunyi;
Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barang siapa tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, daripadanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak
dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.

Demikian lah pertanyaan saya, atas tanggapannya saya mengucapkan terima kasih.

Jawaban:

Shalom Surya Ikhwan,

Luk 12:47-48 mengatakan:

“Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.”

Berikut ini adalah penjelasan Luk 12:41-48 yang saya kutip dari keterangan the Navarre Bible:

Setelah ajaran Tuhan Yesus agar kita berjaga- jaga, Rasul Paulus bertanya (ay.41) dan jawabannya dapat diperoleh dari pemahaman akan perumpamaan ini. Di satu sisi, Yesus menekankan bahwa kita tidak dapat mengetahui dengan pasti kapankah Tuhan akan meminta pertanggungjawaban akan hidup kita; namun di sisi lain -menjawab pertanyaan Petrus- Tuhan kita menjelaskan bahwa ajaran-Nya ini ditujukan kepada setiap orang secara pribadi. Tuhan akan meminta kepada setiap orang pertanggungjawaban akan segala perbuatannya; setiap orang mempunyai misi/ tugas untuk dipenuhi di dalam hidup ini dan ia harus mempertanggungjawabkannya di hadapan tahta pengadilan Tuhan dan diadili berdasarkan atas apakah yang telah dihasilkannya, baik itu sedikit atau banyak.

“Tetapi karena kita tidak mengetahui hari maupun jamnya, atas anjuran Tuhan kita wajib berjaga terus-menerus, agar setelah mengakhiri perjalanan hidup kita di dunia hanya satu kali saja (lih. Ibr 9:27), kita bersama dengan-Nya memasuki pesta pernikahan, dan pantas digolongkan pada mereka yang diberkati (lih. Mat 25: 31-46), dan supaya janganlah kita seperti hamba yang jahat dan malas (lih. Mat 25:26) diperintahkan untuk enyah ke dalam api yang kekal (lih. Mat 25:41)…” (Lumen Gentium, 48)

Maka jawaban Yesus atas pertanyaan Petrus (ay.41) apakah peringatan Yesus berlaku untuk para murid, ataukah untuk orang- orang lain, adalah: bahwa setiap orang akan diperlakukan sesuai dengan terang yang telah mereka terima. Jika para murid telah menerima banyak hal dari Kristus- dapat mendengar dan melihat Dia secara langsung (lih. Luk 10:23-24) maka akan lebih banyak lagi yang dituntut dari mereka.

Mother Angelica (pendiri stasiun TV Katolik EWTN (Eternal Word Television Network) dalam salah satu pengajarannya mengatakan bahwa ayat Luk 12:47-48 ini juga berhubungan dengan fakta bahwa kepada tiap- tiap orang Tuhan memberikan karunia iman yang berbeda- beda, sesuai dengan kesanggupan orang yang bersangkutan (lih. Mat 25:15). Ada yang dipercaya sedikit, dan jika ia tidak mengembangkannya karena ketidaktahuannya, maka ia tidak menerima pukulan yang sama banyaknya dengan hukuman bagi orang yang menerima banyak, namun tidak mengembangkannya. Maka bagi yang dipercaya banyak, dalam hal ini karunia iman, ia dituntut lebih banyak untuk membagikannya kepada sesama untuk membangun Tubuh Kristus. Sebagai umat Katolik yang telah memperoleh terang kebenaran sesuai dengan ajaran Kitab Suci, Tradisi Suci, dan Magisterium, kita dituntut lebih untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari- hari, dan membagikannya kepada yang belum mengenal Kristus dan Gereja-Nya.

Semoga Tuhan memberi kemampuan kepada kita untuk mengembangkan karunia yang sudah Tuhan percayakan kepada kita untuk membangun Gereja-Nya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Apakah hubungan doktrin keperawanan Maria dengan Keselamatan?

16

Kebenaran artikel iman (article of faith) dalam iman Kristiani itu memang sifatnya berlapis- lapis. Kebenaran utama yang menjadi dasar dari iman Kristiani, adalah ajaran tentang Allah Trinitas, yang menyelamatkan kita manusia melalui Inkarnasi (yaitu penjelmaan Allah Putera menjadi manusia). Pengajaran inilah yang mendasari artikel- artikel iman selanjutnya, yaitu bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, dan pada saat penjelmaan-Nya Allah melibatkan manusia, yaitu Bunda Maria sebagai seorang wanita yang melahirkan-Nya.

Nah, maka memang hal keperawanan Maria tidak pernah berdiri sendiri sebagai artikel iman yang menentukan keselamatan manusia, namun pengajaran tersebut adalah ajaran yang penting dan tak terlepaskan dari kebenaran tentang mukjizat kelahiran Kristus. Sebab sewaktu penjelamaan-Nya di dunia, Kristus selain menjadi sungguh manusia, Ia juga sungguh Allah. Maka tentu ada keistimewaan- keistimewaan yang ada pada Diri Yesus, baik dalam proses konsepsi-Nya maupun kelahiran-Nya, yang berhubungan dengan kodrat-Nya sebagai Allah.

Hal konsepsi Tuhan Yesus, memang mungkin tak perlu diperdebatkan, sebab semua dari kita (baik Katolik maupun Kristen non- Katolik) percaya bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus, tidak melibatkan benih laki- laki. Sedangkan secara manusiawi, Yesus memperoleh kemanusiaan-Nya dari Bunda Maria (perkembangan sel- sel dan gen- gen-Nya secara manusiawi). Ini disebabkan karena Yesus benar- benar menjadi manusia. Namun jangan dilupakan bahwa pada saat penjelmaan-Nya menjadi manusia, Yesus tidak berhenti menjadi Tuhan (Allah Putera). Dan untuk melahirkan Tuhan inilah, maka Maria dikuduskan oelh Allah, sebab seperti telah dinubuatkan dalam Kitab Suci, bahwa seorang perempuan dan keturunannya akan melawan Iblis (lih. Kej 3:15). Perlawanan total antara sang perempuan dan keturunannya melawan Iblis ini mensyaratkan bahwa keduanya tidak berdosa. Hal ini sesuai dengan Sabda Allah yang disampaikan oleh malaikat, bahwa Maria dinyatakan sebagai “penuh rahmat/ full of grace/ kecharitomene” (lih. Luk 1: 28). Artinya, Maria sempurna dipenuhi rahmat Allah sejak awal mula kehidupannya, sehingga ia tidak berdosa; sebab hanya dengan keadaannya yang tanpa dosa inilah, Maria dapat ditempatkan dalam kesatuan dengan Kristus, untuk melawan Iblis.

Nah, keadaan Maria yang tanpa dosa inilah yang mengakibatkan ia melahirkan tanpa rasa sakit, karena rasa sakit melahirkan itu diberikan oleh Allah sebagai konsekuensi dari dosa (Kej 3:16). Maka jika Maria melahirkan tanpa kesakitan, itu disebabkan karena yang dilahirkannya adalah Allah yang tidak berdosa, yang telah membebaskan Maria ibu-Nya dari dosa dan dari pengaruh dosa.

St. Agustinus mengajarkan agar tidak mempertanyakan kesucian Bunda Maria demi hormat kita kepada Tuhan Yesus: “Kita harus menerima bahwa Perawan Maria yang suci, yang tentangnya saya tidak akan mempertanyakan sesuatupun ketika kita membicarakan tentang dosa, demi hormat kita kepada Tuhan; sebab dari Dia kita mengetahui betapa berlimpahnya rahmat untuk mengalahkan dosa di dalam segala hal telah diberikan kepadanya [Maria] yang telah berjasa untuk mengandung dan melahirkan Dia yang sudah pasti tidak berdosa.”[25] Selanjutnya, tentang keperawanan Maria, St. Agustinus mengajarkan:

“Dengan kuasa Roh Kudus yang sama, Yesus lahir tanpa merusak keperawanan Bunda Maria, seperti halnya setelah kebangkitan-Nya, Dia dapat datang ke dalam ruang tempat para murid-Nya berdoa, tanpa merusak semua pintu yang terkunci (Lih. Yoh 20:26).”[36] Roh Kudus yang membangkitkan Yesus dari mati adalah Roh Kudus yang sama yang membentuk Yesus dalam rahim Bunda Maria. Maka kelahiran Yesus dan kebangkitan-Nya merupakan peristiwa yang ajaib: kelahirannya tidak merusak keperawanan Maria, seperti kebangkitan-Nya tidak merusak pintu yang terkunci.

Selanjutnya, St. Agustinus mengajarkan, “It is not right that He who came to heal corruption should by His advent violate integrity.” (Adalah tidak mungkin bahwa Ia yang datang untuk menyembuhkan korupsi/kerusakan, malah merusak keutuhan pada awal kedatangan-Nya.”[37]

Berpegang kepada pengajaran St. Agustinus dan para Bapa Gereja lainnya, maka Gereja Katolik melalui Sinode Lateran (649) di bawah Paus Martin I mengajarkan:

“Ia [Maria] mengandung tanpa benih laki-laki, [melainkan] dari Roh Kudus, melahirkan tanpa merusak keperawanannya, dan keperawanannya tetap tidak terganggu setelah melahirkan.” (D256)

Ajaran sejalan dengan pengajaran Gereja Katolik lainnya tentang Bunda Maria, sebagai Hawa Baru dan Tabut Perjanjian Baru. Sebagai masukan, para pendiri gereja Protestan (Luther, Calvin, Zwingli dan Wesley) juga mengajarkan tentang keperawanan Maria, dan bahwa Maria tetap perawan. Jadi ajaran tentang keperawanan Maria sesungguhnya bukan monopoli ajaran Gereja Katolik. Lihat kutipannya di artikel ini, silakan klik, di bagian Appendix, sub judul B. Menjadi sesuatu pertanyaan yang patut direnungkan, mengapa sekarang para pengikut mereka, menolak ajaran para pendiri gereja mereka sendiri. Apakah itu mau mengatakan bahwa yang diajarkan oleh para pendiri tersebut salah, sedangkan pemahaman mereka sendiri lebih benar?

Agaknya, masalahnya di sini adalah bahwa mereka yang menolak ajaran tentang keperawanan Maria cenderung untuk menempatkan pemahaman pribadinya di atas pengajaran yang disampaikan oleh para Bapa Gereja [dan para pendiri gereja mereka]. Penempatan pemahaman pribadi di atas apa yang diwahyukan Allah kepada Gereja inilah yang berkaitan dengan hal keselamatan. Sebab keselamatan sesungguhnya mensyaratkan ketaatan iman yang total atas apa yang diwahyukan Allah (divine faith), dan bukannya atas iman yang didasari pemahaman pribadi semata (human faith).

Iman yang menyelamatkan adalah iman yang disertai oleh perbuatan kasih (lih. Gal 5:6; Yak 2:14-26), baik kepada Tuhan dan sesama. Kasih kepada Tuhan ini mensyaratkan ketaatan dan penyerahan total akal budi dan pikiran kepada Allah. Konsili Vatikan II mendefinisikan ketaatan iman tersebut demikian:

“Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan “ketaatan iman” (Rom 16:26; lih. Rom 1:5; 2 Kor 10:5-6). Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan”, dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya.” (Dei Verbum 5)

Nah, Wahyu Allah tersebut telah diberikan kepada Gereja, melalui Kitab Suci dan Tradisi Suci, seperti yang diajarkan oleh Magisterium Gereja. Hal keperawanan Maria, termasuk salah satu kebenaran yang telah diajarkan oleh Magisterium. Maka jika kita sungguh mempunyai iman yang penuh kepada apa yang diwahyukan Allah, kita harus menerima pengajaran tentang hal ini dengan ketaatan iman. Iman yang sedemikian adalah iman yang ilahi (divine faith)- bersumber dari Allah yang mewahyukan, dan bukan bersifat manusiawi (human faith)- yang tergantung kepada pengertian pribadi- yang cenderung sulit mempercayai hal ini.

Maka walaupun kita tidak dapat memaksa semua orang untuk menerima ajaran ini (tentang keperawanan Maria), namun selayaknya kita memahami bahwa ajaran ini tidak terlepas dari kebenaran yang diwahyukan Tuhan tentang Diri-Nya dan rencana keselamatan-Nya kepada Gereja. Ajaran tentang keperawanan Maria ini tidak terlepas dari ajaran tentang:

1) kesempurnaan rencana keselamatan Allah: Allah yang menjelma ke dunia untuk memulihkan kerusakan, pada awal kedatangan-Nya tidak merusak keutuhan Ibu-Nya.
2) teladan kesempurnaan/ kekudusan Maria agar menjadi teladan bagi kita: Kekudusan melibatkan komitmen untuk menjaga kemurnian jiwa dan tubuh.
3) teladan Maria menjadi gambaran akan kekudusan Gereja, sebagai Mempelai Kristus, yang hanya memberikan penghormatan dan ketaatannya kepada Kristus Sang Kepala.

Memang sulit untuk dapat mengakui ajaran ini, kalau pertama tidak mengakui Wewenang mengajar (Magisterium) Gereja atau jika ia mengutamakan logika berpikir manusia di atas segalanya. Namun berbahagialah mereka yang dapat menerima ajaran ini, karena sungguh ajaran ini menunjukkan ke-Mahakuasaan Allah dan kesempurnaan rencana keselamatan-Nya, yang melibatkan ketaatan penuh manusia (yaitu Bunda Maria), yang memberikan dirinya secara utuh–baik jiwa maupun raganya–kepada Allah.

Mengapa Yesus tidak menyerahkan Bunda Maria kepada kerabat-Nya?

0

Benar bahwa Yesus mempunyai kerabat, yaitu saudara- saudara sepupu Yesus itu, yang anak dari Maria istri Kleopas, dan Maria ini adalah saudara Bunda Maria (lih Yoh 19:25). Namun, sebelum wafat-Nya, Yesus tidak menitipkan Maria kepada mereka, namun kepada Yohanes. Mengapa?

a. Pada saat Tuhan Yesus disalibkan, semua murid Kristus (termasuk kaum kerabat-Nya) meninggalkan Yesus, kecuali Bunda Maria dan Yohanes. Maka adalah wajar jika sebelum wafat-Nya, saat Tuhan Yesus melihat tidak ada lagi orang lain yang bisa dititipkan ibu-Nya kecuali Yohanes murid yang dikasihi-Nya, maka Ia memberikan ibu-Nya kepada Yohanes.

b. Jika kita membaca Kitab Suci, yang diharuskan adalah anak- anak wajib menghormati orang tua, termasuk mengurus mereka di masa tuanya. Itulah sebabnya Yesus mengecam orang Farisi yang mempersembahkan korban, tetapi menelantarkan orang tua mereka (lih. Mat 15: 1-9). Namun tidak ada ketentuan bahwa seseorang juga harus menjaga paman dan bibinya pada masa tua mereka; walaupun tentu jika ini dilakukan, ini adalah sesuatu yang baik. Maka kalau Tuhan tidak memasrahkan Maria kepada saudara- saudari sepupu-Nya, maka sebenarnya Tuhan Yesus tidak menyalahi hukum.

c. Yesus menyerahkan Maria kepada Yohanes murid yang dikasihi-Nya itu dengan maksud agar kitapun sebagai murid- murid yang dikasihi-Nya menerima Maria sebagai ibu kita juga. Menarik untuk dilihat di sini bahwa sebelum Yesus memberikan Maria kepada Yohanes, Ia terlebih dahulu memberikan Yohanes, yang mewakili semua murid yang dikasihi-Nya, kepada Maria. Dengan demikian, Yesus menempatkan hubungan kasih oleh iman di atas hubungan darah. Ini sesuai dengan ajaran Yesus dalam Luk 8:19-21, di mana Yesus memuji sanak saudara-Nya bukan karena mereka mempunyai hubungan darah dengan Yesus, tetapi karena mereka adalah yang orang- orang yang “mendengarkan firman Allah dan melakukannya.”

Apakah maksud Maria mempelai Allah Roh Kudus

0

Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa karena Maria melahirkan dari Roh Kudus, lalu artinya Maria “menikahi” Roh Kudus ataupun sebaliknya. Maria dipenuhi/ dinaungi oleh Roh Kudus (Luk 1: 35) seperti halnya tabut perjanjian yang ditutupi oleh awan kemuliaan Tuhan (Kel 40:34-38). Jadi konteksnya di sini adalah dipenuhinya Maria oleh Roh Kudus, sehingga Roh Kudus itu memampukan Maria untuk menaati kehendak Tuhan.

Dengan demikian, Allah yang menyuruh Yusuf untuk mengambil Maria sebagai istrinya, tidak untuk diartikan bahwa Allah menyuruh Maria untuk berzinah dengan Yusuf. Ini adalah pandangan yang keliru. Maria tidak ‘menikah’ dengan Roh Kudus seperti pengertian manusia. Fakta bahwa Maria dipenuhi Roh Kudus inilah yang menjadikan Maria ingin mempersembahkan hidupnya seutuhnya (termasuk keperawanannya) kepada Tuhan, sehingga ia bertanya kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi karena aku tidak bersuami?/”I know not man” (Luk 1: 34– Douay Rheims, terjemahan Vulgate). Perkataan Maria ini diartikan oleh para Bapa Gereja sebagai nazarnya untuk hidup tetap perawan. Hal ini tidaklah aneh, karena hal nazar perempuan ini diperbolehkan, seperti dituliskan dalam Bil 30:3-8.

Maka, St. Jerome (410) adalah Bapa Gereja yang tidak hanya mengajarkan keperawanan Maria tetapi juga keperawanan Yusuf. Hal ini dituliskan dalam suratnya kepada Helvidius yang mempertanyakan keperawanan Maria:

“Kamu mengatakan bahwa Maria tidak tetap perawan. Sebaliknya aku akan lebih jauh mengatakan, Yusuf, mengikuti jejak Maria adalah seorang perawan juga, sehingga Anak laki- lakinya dilahirkan dari sebuah perkawinan yang perawan (virginal marriage). Ini berarti bahwa jika pria kudus ini tidak dapat dicurigai mempunyai hubungan lain di luar pernikahannya, dan jika ia dinyatakan tidak mempunyai istri lainnya, jika ia benar- benar suami Maria, yang dianggap oleh orang- orang sebagai istrinya, [ia menjadi] seorang pelindung bagi Maria daripada menjadi pasangan Maria, sehingga seseorang hanya dapat menyimpulkan bahwa pria itu yang dikatakan sebagai bapa Tuhan [Yesus], telah hidup dalam kemurnian dengan Maria.”

“Kita percaya bahwa Tuhan telah lahir dari seorang perawan, karena kita membaca di Kitab Suci demikian; [tetapi] kita tidak percaya bahwa Maria setelah kelahiran Yesus melakukan hubungan suami istri, sebab kita tidak membaca demikian.”

“Dan dapatkah pria yang benar itu [Yusuf] dapat, … berpikir untuk menghampiri [berhubungan badan] dengan Maria, ketika ia mendengar bahwa Putera Allah adalah yang dikandung di dalam rahim Maria? …. Kita harus percaya bahwa orang ini yang menghargai apa yang disampaikan kepadanya lewat mimpi tidak berani menyentuh istrinya…. Setelah itu ketika ia mengetahui dari para gembala bahwa para malaikat telah datang dari surga dan berkata kepada mereka, “Jangan takut: sebab lihatlah, aku membawa kepadamu berita kesukaan besar …. Hari ini telah lahir bagimu Juru selamat, yaitu Kristus Tuhan, dan ketika bala tentara surgawi telah bersama- sama dengannya melambungkan pujian, “Kemuliaan kepada Tuhan di tempat yang Maha Tinggi, dan damai sejahtera di bumi….,” dan ketika ia [Yusuf] telah melihat Simeon memeluk sang bayi dan mengatakan, “…biarkanlah hamba-Mu ini pergi, sebab mataku telah melihat keselamatan yang daripada-Mu”, dan ketika ia melihat nabi Hana, para majus, Raja Herodes, para malaikat; [maka] Helvidius, aku berkata, haruskah kita percaya bahwa Yusuf, meskipun telah melihat begitu banyak keajaiban ini, berani menyentuh tabut Tuhan, tempat kediaman Roh Kudus, ibu dari Tuhannya? Maria “menyimpan segala sesuatu di dalam hatinya”. Kamu tidak dapat tanpa tahu malu mengatakan bahwa Yusuf tidak memahaminya, sebab Lukas mengatakan kepada kita, “Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala yang dikatakan tentang Dia” (Luk 2:33)….”

Selanjutnya St. Jerome mengajarkan bahwa nama saudara- saudara Yesus yang disebutkan dalam Kitab Suci adalah saudara- saudara sepupun Yesus, seperti yang juga pernah dibahas di sini, silakan klik, dan di sini, silakan klik, lihat di bagian Appendix.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab