Home Blog Page 221

Macam- macam istilah Misa

36

Berikut ini adalah sekilas keterangan tentang bermacam istilah Misa:

1. Misa hari Minggu

Seperti namanya, maka Misa Hari Minggu adalah Misa/ perayaan Ekaristi yang diadakan pada hari Minggu. Umat Kristiani merayakan hari Tuhan pada hari Minggu, karena mengikuti teladan para rasul yang mengadakan ibadah Hari Tuhan tersebut pada hari Minggu [hari pertama di dalam minggu] untuk memperingati hari kebangkitan Kristus.

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK 1166 “Berdasarkan tradisi para Rasul yang berasal mula pada hari kebangkitan Kristus sendiri, Gereja merayakan misteri Paska sekali seminggu, pada hari yang tepat sekali disebut Hari Tuhan atau Hari Minggu” (Sacrosanctum Concilium 106). Hari kebangkitan Tuhan adalah serentak “hari pertama dalam minggu”, mengenangkan hari pertama ciptaan, dan “hari kedelapan” di mana Kristus sesudah “istirahat”-Nya pada Sabtu agung menerbitkan hari “yang Tuhan janjikan”, “hari yang tidak mengenal malam” (Liturgi Bisantin). “Perjamuan Tuhan” adalah sentrumnya, karena di sana seluruh persekutuan umat beriman menemui Tuhan yang telah bangkit, yang mengundang mereka ke pesta pedamuan-Nya (Bdk. Yoh 21:12; Luk 24:9b)….

KGK 1167 Benarlah bahwa hari Minggu adalah hari, di mana umat beriman berkumpul untuk perayaan liturgi, “untuk mendengarkan Sabda Allah dan ikut serta dalam perayaan Ekaristi, dan dengan demikian mengenangkan sengsara, kebangkitan dan kemuliaan Tuhan Yesus, serta mengucap syukur kepada Allah, yang melahirkan mereka kembali ke dalam pengharapan yang hidup berkat kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati” (Sacrosanctum Concilium 106).

KGK 1193 Hari Minggu, “hari Tuhan” adalah hari perayaan Ekaristi yang utama, karena ia adalah hari kebangkitan. Ia adalah hari perhimpunan liturgi, hari keluarga Kristen, hari kegembiraan dan hari senggang. Ia adalail “inti dan dasar seluruh tahun liturgi” (SC 106).

KGK 2175 Hari Minggu jelas berbeda dari hari Sabat, sebagai gantinya ia – dalam memenuhi perintah hari Sabat – dirayakan oleh orang Kristen setiap minggu pada hari sesudah hari Sabat. Dalam Paska Kristus, hari Minggu memenuhi arti rohani dari hari Sabat Yahudi dan memberitakan istirahat manusia abadi di dalam Allah. Tatanan hukum mempersiapkan misteri Kristus dan ritus-ritusnya menunjukkan lebih dahulu kehidupan Kristus (Bdk. 1Kor 10:11)….

KGK 2177 Perayaan hari Minggu yakni hari Tuhan dan Ekaristi-Nya merupakan pusat kehidupan Gereja. “Hari Minggu di mana dirayakan misteri Paska dari tradisi apostolik, harus dipertahankan sebagai hari pesta wajib yang paling pertama di seluruh Gereja” (CIC, can. 1246, 1)….

KGK 2042 Perintah pertama (“Engkau harus mengikuti misa kudus dengan khidmat pada hari Minggu dan hari raya“) menuntut umat beriman supaya mengambil bagian dalam Ekaristi, manakala persekutuan Kristen berkumpul pada hari peringatan kebangkitan Tuhan (Bdk. CIC, cann. 1246-1248; CCEO, can. 881, 1.2.4)

Maka mengikuti Misa Kudus dengan khidmat pada hari Minggu merupakan perintah pertama Gereja, yang mengambil dasar dari perintah Allah yang utama, yaitu agar kita menyembah dan mengasihi Tuhan Allah kita dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kita (lih Kel 20:3-5). Sebagai ungkapan kasih ini, kita diberi perintah oleh Allah untuk menguduskan hari Tuhan (lih. Kel 20:8-11); seperti yang telah dicontohkan oleh para rasul dan jemaat Kristen awal merayakan hari Tuhan pada hari Minggu (Kis 20:7; 1 Kor 16:2). Selanjutnya, maka perayaan hari Tuhan bagi umat Kristen adalah hari Minggu yang dikatakan sebagai hari pertama di dalam minggu, dan bukan hari terakhir dalam minggu (bukan Sabat, karena Rasul Paulus mengatakan bahwa hari Sabat tidak mengikat umat Kristen (Kol 2:16; lih. Gal 4:9-10; Rom 14:5). Dengan kebangkitan Kristus, maka hari Tuhan tidak semata dihayati sebagai hari Tuhan beristirahat, namun lebih kepada hari penciptaan baru, di mana manusia yang telah mengimani Kristus diubah oleh Allah menjadi manusia baru. Selanjutnya tentang hal ini sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik.

“Menghadiri Misa Kudus pada hari Minggu dan pada hari- hari perayaan dan beristirahat dari pekerjaan yang berat” adalah perintah pertama dari kelima perintah Gereja. Pada hari Minggu diadakan perjamuan Ekaristi yang utama, karena diadakan bertepatan dengan hari kebangkitan Kristus.

2. Misa Sabtu Sore

Misa Sabtu Sore umum sering diartikan sebagai ‘Anticipated Mass‘, atau Misa Antisipasi perayaan Misa pada hari Minggu. Namun sebenarnya, menurut General Norms of the Liturgical Year and the Calendar, dikatakan demikian:

#3. “The liturgical day runs from midnight to midnight, but the observance of Sunday and solemnities begins with the evening of the preceding day.”

(terjemahannya)

#3. “Hari liturgis dihitung dari tengah malam ke tengah malam, tetapi pemenuhan kewajiban pada Minggu dan Hari Raya dimulai dari sore hari sebelum hari tersebut.”

Paus Benediktus http://www.adoremus.org/SacramentumCaritatis.html mengatakan, “… mengenali Sabtu sore, dimulai dari doa Vespers yang pertama, adalah sudah merupakan bagian dari Minggu, dan waktu di mana kewajiban hari Minggu dapat dilakukan…”

Maka kebijaksanaan Gereja Katolik untuk mengadakan Misa Sabtu Sore untuk pemenuhan kewajiban menguduskan hari Tuhan adalah untuk memberi kesempatan kepada umat yang karena alasan tertentu/ genting tidak dapat memenuhi kewajiban untuk mengikuti Misa pada hari Minggu. Namun jangan sampai kemudahan ini dijadikan alasan, bahwa ‘karena malas bangun pagi pada hari Minggu, maka saya memilih untuk ikut misa Sabtu sore’; padahal pada hari Minggu-nya ia tidak mempunyai halangan yang mendesak. Jika ini motivasinya, maka sesungguhnya orang tersebut memiliki sikap batin yang keliru untuk memenuhi perintah Allah dalam menguduskan hari Tuhan. Sebab dalam menguduskan hari Tuhan, sudah selayaknya kita mempersembahkan dan mengorbankan waktu dan diri kita seutuhnya kepada Tuhan dalam kesatuan dengan Gereja-Nya dalam perayaan Ekaristi.

3. Misa Harian

Misa harian tetap merupakan perayaan Ekaristi yang mempunyai efek yang sama dengan Misa yang dilakukan pada hari Minggu ataupun hari- hari lainnya, karena kurban yang dihadirkan adalah sama, yaitu kurban Kristus. Namun demikian, mengikuti misa harian tidak dapat menggantikan kewajiban mengikuti Misa pada hari Minggu, karena hari Minggu adalah hari Tuhan, di mana semua orang Kristen diajak untuk menguduskan hari itu dengan merenungkan pengorbanan Kristus dan kebangkitan-Nya yang menebus dosa- dosa umat manusia.

Mengikuti Misa Harian dan menerima Ekaristi setiap hari merupakan hal yang sangat indah yang dapat dilakukan oleh setiap umat Katolik. Mengapa? Karena dengan menerima Kristus sendiri setiap hari kita akan dipimpin olehNya untuk bertumbuh di dalam iman, pengharapan dan kasih. Jadi jika seseorang ingin bertumbuh secara rohani, selain ia perlu berdoa dan merenungkan Sabda Tuhan, ia dapat menimba kekuatan dari Kristus sendiri, yang hadir dalam Ekaristi Kudus.

Katekismus mengajarkan:

KGK 1389 Gereja mewajibkan umat beriman, “menghadiri ibadat ilahi pada hari Minggu dan hari raya” (OE 15) dan sesudah mempersiapkan diri melalui Sakramen Pengakuan, sekurang-kurangnya satu kali setahun menerima komuni suci, sedapat mungkin dalam masa Paska (bdk. CIC, can. 920). Tetapi Gereja menganjurkan dengan tegas kepada umat beriman, supaya menerima komuni suci pada hari Minggu dan hari raya atau lebih sering lagi, malahan setiap hari.

4. Misa Salve

Terus terang saya kurang memahami istilah ini. Apakah ini Misa didahului/ dilanjutkan dengan doa Salve Regina, ataukah Misa dilanjutkan dengan Benediction/ Adorasi Sakramen Mahakudus?

Sementara kita menunggu jawaban dari Romo Boli, inilah jawaban yang dapat kami berikan:

Jika maksudnya Misa diikuti doa Salve Regina, silakan anda membaca tanya jawab di link ini, silakan klik. Jika maksudnya Misa yang diikuti oleh Benediction/ Adorasi sakramen Maha Kudus: Sebenarnya setelah menerima Komuni kudus, kita selayaknya meresapkan kehadiran Tuhan Yesus sendiri di dalam tubuh kita, sehingga dalam konteks ini, kita pertama- tama harus menyembah Kristus yang telah kita sambut dan menyatu dalam tubuh kita. Katekismus mengajarkan kehadiran Kristus dalam Ekaristi dimulai pada saat konsekrasi dan bertahan sampai wujud Ekaristi masih ada di dalam tubuh kita (lihat KGK 1377). Maka diperkirakan kehadiran Yesus dalam rupa Ekaristi di dalam tubuh kita bertahan selama sekitar 10 menit. Pada saat itu, sebaiknya kita menyembah Tuhan Yesus yang sungguh hadir dalam diri kita.

Dengan demikian, Benediction/ penyembahan dan berkat sakramen Mahakudus di altar dapat dilakukan setelah Misa Kudus, namun tidak langsung setelah Komuni, karena saat setelah Komuni seharusnya diberikan untuk tiap- tiap orang secara pribadi untuk menyembah Tuhan Yesus yang hadir secara khusus dalam rupa Ekaristi di dalam tubuhnya.

Sebelum aku tidak ada Allah dibentuk (Yes 43:10)

4

Pertanyaan:

Salam Damai Kristus,

Yang terkasih Bpk.Stef dan Ibu Inggrid Tay, saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kpd bapak dan ibu yg sudah memberikan sebuah wadah pencerahan bagi kami semua khususnya kaum awam dalam mendalami ajaran katolik…saya secara pribadi merasa begitu terbantu oleh katolisitas.org.

Bpk dan Ibu Tay, ijinkan saya untuk menanyakan sebuah “problem leksikon” yg saya dapatkan dari sebuah diskusi dgn seorang kritikus theology, sengaja saya menuliskan dlm pesan tertutup sebab saya agak ragu apakah pertanyaan ini nanti layak utk kita diskusikan secara terbuka.

Problem ini terlihat sepele tapi cukup mengganjal, pada Yesaya 43:10:
“…… Sebelum Aku tidak ada Allah [dibentuk], dan sesudah Aku tidak akan ada lagi….”

Mohon penjelasan mengenai leksikon kata yg saya beri tanda kurung : [dibentuk]… apakah memang ini adalah terjemahan yg paling sesuai? Sebab tersirat seakan bahwa Allah dibentuk entah oleh apa atau siapa…

Saya dan beberapa teman sudah mencoba melakukan riset atas leksikon kata tsb…dan memang kata [dibentuk] tsb tdk dapat dihilangkan atau diubah, bahkan jikalau kata [dibentuk] dihilangkan menjadi : Sebelum Aku tidak ada Allah, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi…. dlm kalimat inipun masih tersirat seakan Allah memiliki awal

Mohon pencerahannya. Terima kasih.

Tuhan memberkati.

Sungguh kami tdk mampu menjelaskan dgn tepat permasalahan tsb pd si kritikus itu.

Salam – Paulus

Jawaban:

Shalom Paulus Miki,

Terima kasih atas pertanyaannya dan dukungannya untuk karya kerasulan ini. Mari kita melihat Yes 43:10, yang menuliskan “Kamu inilah saksi-saksi-Ku,” demikianlah firman TUHAN, “dan hamba-Ku yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi.” Dari kalimat ini, kita dapat menyimpulkannya sebagai berikut:

1.Kamu inilah saksi-saksi-Ku

Saksi-saksi-Ku dapat merujuk kepada nabi Yesaya, para nabi maupun orang-orang Israel. Mereka telah menyaksikan bahwa Tuhan telah bekerja dalam kehidupan bangsa Israel, yang membimbing dan menyertai Israel dalam setiap langkah mereka, selama mereka berjalan di jalan Tuhan. Mereka telah dipilih oleh Tuhan dan telah menyaksikan perbuatan Tuhan yang ajaib, yang hanya mampu dilakukan oleh Tuhan. Dengan demikian mereka tahu bahwa yang menyertai mereka adalah Tuhan sendiri.

Ini merupakan kontras dari para penyembah berhala, karena mereka tidak dapat menjadi saksi dari kebesaran tuhan mereka, karena tuhan mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Sebaliknya umat Allah dapat menjadi saksi akan kebesaran Tuhan, karena mereka telah mengalaminya, bahkan sejarah nenek moyang bangsa Israel telah juga menjadi saksi-saksi atas kebesaran Tuhan. Dengan demikian, Allah yang penuh kuat kuasa juga telah membuktikan kesetiaan-Nya untuk mendampingi umat pilihan-Nya, sehingga Dia mengatakan “Aku tetap Dia” karena Dialah Allah yang sama, yang telah menyelamatkan nenek moyang mereka, yang mendampingi mereka saat itu dan yang akan terus mendampingi mereka sampai kesudahannya.

2. Sebelum aku tidak ada allah dibentuk dan sesudah Aku tidak akan ada lagi.

Mungkin kalau kita membaca secara sepintas, ayat ini terlihat jangkal, atau menimbulkan pertanyaan seakan-akan Allah dapat dibentuk. Untuk dapat mengerti ayat ini, maka kita harus mengerti tentang (a) kata “allah” yang dipergunakan, (b) kelogisan kalimat, (c) serta konteks penggunaannya.

a. Dari kata Allah sendiri

Kata Allah yang digunakan di sini adalah menggunakan (ēl = H410) yang dapat berarti Allah (God), allah – dengan “a” kecil (god), atau dewa (deity) dan dapat juga berarti kekuatan, kekuasaan. Bagaimana untuk menentukannya? Kita harus melihat konteks dari kalimatnya.

Kita dapat melihat beberapa ayat ini yang menggunakan kata yang sama (ēl), yang berarti tuhan atau allah lain:

Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu. ” (Kel 34:14) – Kita melihat bahwa kata allah yang pertama dan Allah yang kedua menggunakan kata yang sama.

Ya, Tuhan ALLAH, Engkau telah mulai memperlihatkan kepada hamba-Mu ini kebesaran-Mu dan tangan-Mu yang kuat; sebab allah manakah di langit dan di bumi, yang dapat melakukan perbuatan perkasa seperti Engkau?” (Ul 3:24)

Seandainya kami melupakan nama Allah kami, dan menadahkan tangan kami kepada allah lain,” (Mzm 44:20)

Beberapa ayat ini menggunakan kata yang sama dengan arti Allah yang benar:

Sebab Engkau bukanlah Allah yang berkenan kepada kefasikan; orang jahat takkan menumpang pada-Mu.” (Mzm 5:4)

Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?” (Yes 40:18)

Dengan demikian, dari konteksnya kita dapat menentukan kata Allah yang dipakai di sini. Dalam konteks Yes 43:10 “Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi.” maka kita dapat melihat bahwa Allah di sini dimaksudkan sebagai Allah yang benar – dalam pengertian “Allah” dengan “A” besar.

b. Dari sisi kelogisan kalimat.

Namun, apakah dengan memakai Allah dengan A besar mempunyai implikasi bahwa Allah seolah-olah dapat dibentuk? Justru sebaliknya.

Ayat ini justru ingin menunjukkan bahwa hanya ada Allah yang satu dan tidak ada Allah lain sebelum dan setelah-Nya. Dengan demikian, justru ditunjukkan bahwa Allah bangsa Israel adalah Allah yang tidak mempunyai awal dan tidak mempunyai akhir. Dikatakan di Yes 41:4 “Siapakah yang melakukan dan mengerjakan semuanya itu? Dia yang dari dahulu memanggil bangkit keturunan-keturunan, Aku, TUHAN, yang terdahulu, dan bagi mereka yang terkemudian Aku tetap Dia juga.” Kita dapat melihat koneksi antara ayat Yes 43:10 dengan Yes 41:4, yang menekankan bahwa Tuhan telah mengerjakan hal-hal yang begitu ajaib dari dahulu, sekarang dan untuk selama-lamanya. Dan hal yang sama ditekankan sekali lagi di Yes 45:5 “Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku,” Intinya Yes 43:10 mengatakan hal yang sama, bahwa tidak ada Allah yang lain, karena tidak ada Allah lain sebelum dan setelah Allah umat Israel, Allah yang benar.

Dengan demikian, logika bahwa dengan ayat “Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi.“, kemudian disimpulkan bahwa seolah-olah Allah dibentuk, adalah tidak benar. Bandingkan dengan Mzm 89:6 yang mengatakan “Sebab siapakah di awan-awan yang sejajar dengan TUHAN, yang sama seperti TUHAN di antara penghuni sorgawi?” Ayat ini hanya ingin mengatakan bahwa tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Tuhan dan bukan menyatakan ada yang dapat disejajarkan dengan Allah. Sama seperti yang juga dituliskan di Yes 43:10. “Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk” adalah sama dengan “Allah dibentuk” itu tidak ada, karena memang Allah tidak dibentuk dan Allah adalah Alpha dan Omega. Atau dengan kata lain, “tidak ada Allah benar yang dibentuk”, karena Allah benar tidak berawal dan tidak berakhir. Untuk mengatakan bahwa tidak ada allah (dengan a kecil) dibentuk, justru mempunyai implikasi sebaliknya, karena seolah-olah allah (a kecil) tidak dibentuk, namun Allah (A besar) mungkin dapat dibentuk.

c. Dari konteks penggunaannya.

Kalau kita melihat konteknya, maka Yesaya bab 40-45 ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang dalam pembuangan di Babilonia. Dalam kondisi yang sulit seperti ini, Allah ingin menegaskan bahwa Dia adalah Allah yang telah menolong bangsa Israel di masa lalu, dan Allah yang sama (yang tidak dibentuk) juga akan menolong mereka di masa ini dan juga masa mendatang, karena Allah yang menolong mereka adalah Allah yang sama di masa lalu, sekarang dan di masa depan. Dan tidak ada allah lain yang dapat membantu mereka.

Semoga keterangan di atas dapat menjawab pertanyaan anda.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Apakah aplikasi iphone – Confession – dapat menggantikan Sakramen Tobat?

9

Pertanyaan:

Dear Katolisitas. Saya minta penjelasan dari berita-berita khususnya di
http://www.detikinet.com/read/2011/02/09/121318/1567630/398/vatikan-restui-pengakuan-dosa-virtual/?i991102105
Intinya: “Pertama kalinya dalam sejarah gereja Katolik Roma, iPhone digunakan sebagai alat bantu sebelum pengakuan dosa (Confession). Apakah hal ini bakal menghapus tradisi lama Vatikan? Pengakuan dosa adalah sebuah sakramen dalam gereja Katolik Roma. Sakramen ini dilakukan oleh umat Katolik setidak-tidaknya satu kali dalam satu tahun menjelang Paskah atau Natal. Seiring berkembangnya teknologi, Vatikan pun merestui sebuah aplikasi bernama ‘Confession: A Roman Catholic App’ yang kini telah ada di App Store seharga USD 1,99. Saat menggunakan aplikasi ini, umat Katolik bisa memilih list dosa-dosa yang ada di aplikasi tersebut, atau menambahkannya sendiri. Layaknya Sakramen pengakuan dosa pada umumnya, umat Katolik pun bisa memilih tujuh penetensi (denda dosa dalam bentuk doa) yang berbeda setelahnya. Vatikan Restui Aplikasi Ini
Aplikasi ini bukanlah kontroversi. Pasalnya Vatikan selaku pimpinan tertinggi Gereja Katolik telah merestuinya. Juru bicara gereja Katolik memberi pernyataan kepada BBC, yang dikutip detikINET, Rabu (9/2/2011). “Gereja percaya bahwa teknologi serta aplikasi kreatif bakal membantu umat untuk melakukan Sakramen pengakuan dosa secara lebih baik,” paparnya. Hal ini secara tak langsung menjadi bagian dari langkah Paus Benediktus XVI dalam berkaraya, seiring bertumbuhnya dunia digital bagi perkembangan Gereja Katolik sedunia.” Secara pribadi saya sendiri, tidak setuju. Setahu saya, sakramen tobat itu harus berhadapan muka dengan imam. Bagaimanakah harus dijelaskan? Terima kasih.

Salam: Isa Inigo

Jawaban:

Shalom Isa Inigo,

Setiap kali kita membaca berita dari media sekular tentang Gereja Katolik, kita harus senantiasa mengecek sumbernya, karena sering terjadi media sekular salah mengartikan apa yang menjadi pernyataan Gereja, baik di tingkat Gereja Semesta (universal Church), maupun Gereja Lokal – seperti tingkat keuskupan. Kesalahpahaman tentang applikasi iphone yang digambarkan seolah-olah dapat menggantikan Sakramen Tobat adalah sama seperti kesalahpahaman bahwa Paus seolah-olah menyetujui kondom (lihat klarifikasi dari katolisitas di sini – silakan klik, dan klarifikasi dari Vatikan: silakan klik). Kesalahpahaman seperti ini sebenarnya dapat dihindari kalau wartawan yang bersangkutan benar-benar membaca sumber pertama atau langsung, sebagai contoh: pernyataan Paus tentang kondom dapat dilihat dalam buku “Light of the World“. Dengan demikian berita tidak berdasarkan pada apa yang ditulis oleh media lain, terutama media luar negeri. Kesalahan juga dapat dikurangi kalau wartawan dapat melihat berita yang berhubungan dengan Gereja Katolik dalam konteks yang benar, serta tidak dimotivasi untuk membuat judul-judul yang bombastis demi supaya orang-orang membacanya. Sekarang, mari kita menganalisa tentang berita ini.

Ada beberapa majalah lokal yang mengulas tentang hal ini, seperti:

Detik.com: 09/02/2011 – “Vatikan “restui” pengakuan dosa virtual” – silakan klik, yang kemudian disusul dengan berita tanggal 10/02/2011 dengan judul Vatican tak restui aplikasi pengakuan dosa virtual – silakan klik.

Kompas.com: 09/02/2011 – “Gereja di AS sahkan pengakuan dosa di depan iphone“, yang kemudian besoknya disusul dengan artikel “Vatikan tak restui pengakuan dosa via iphone” – silakan klik, dan juga artikel “Pengakuan dosa tak bisa via iphone” – silakan klik.

Dari judul-judul artikel, terutama artikel awal, seperti “Vatikan “restui” pengakuan dosa virtual” dan “Gereja di AS sahkan pengakuan dosa di depan iphone“, maka terlihat adanya distorsi dari kenyataan yang sebenarnya. Yang satu mengatakan Vatikan yang merestui dan yang satu mengatakan Gereja di AS mensahkan. Apanya yang diakui dan disahkan? Menurut judul, yang diakui dan disahkan adalah pengakuan dosa di depan iphone atau pengakuan dosa virtual. Hal ini benar-benar merupakan penyimpangan yang serius, terutama dapat menimbulkan kesalahan persepsi bagi orang yang membaca secara cepat, kurang teliti, atau yang lebih parah – hanya membaca judulnya saja. Saya tidak tahu motifasi yang mendasari pengambilan judul tersebut di atas kecuali bahwa judul-judul tersebut dibuat seheboh mungkin, sehingga pengunjung ingin membaca artikel tersebut. Sekarang mari kita membahas artikel yang termuat di salah satu situs.

1. Dikatakan di detik.net – silakan klikApakah hal ini bakal menghapus tradisi lama Vatikan?” dibarengi judul yang begitu heboh “Vatican restui pengakuan dosa virtual“. Saya melihat judul ini diberikan untuk menarik minat pembaca untuk membuka artikel ini, karena dalam kesimpulan di artikel yang sama dikatakan sebaliknya, yaitu “Tentunya hal ini takkan menghapus tradisi lama Sakramen pengakuan dosa, karena aplikasi ini hanya berfungsi sebagai alat persiapan sebelum umat melakukan pengakuan dosa sesungguhnya.” Dikatakan bahwa software ini dikembangkan untuk iphone sebagai alat bantu sebelum pengakuan dosa adalah benar. Sama benarnya bahwa buku yang memuat informasi “pemeriksaan batin” membantu pengakuan dosa.

2. Dituliskan “Seiring berkembangnya teknologi, Vatikan pun merestui sebuah aplikasi bernama ‘Confession: A Roman Catholic App’ yang kini telah ada di App Store seharga USD 1,99.” Dalam hal ini Vatikan tidak pernah merestui apapun. Namun applikasi ini menerima imprimatur dari uskup Kevin C. Phodes dari keuskupan Fort Wayne – Amerika. Lihat press release dari pengembangnya di sini – silakan klik. Dari press release tersebut, terlihat jelas bahwa tidak ada klaim bahwa aplikasi ini dapat menggantikan Sakramen Tobat. Yang adalah pernyataan bahwa aplikasi ini dapat membantu seseorang dalam mempersiapkan Sakramen Tobat. Imprimatur (let it be printed) adalah hal yang biasa, seperti yang dilakukan oleh uskup Jakarta yang dapat mengeluarkan imprimatur untuk buku teologi. Lebih lanjut dikatakan “Dalam sebuah konferensi yang dihadiri para Uskup di Inggris, juru bicara gereja Katolik memberi pernyataan kepada BBC, yang dikutip detikINET, Rabu (9/2/2011). Bandingkan dengan sumber BBC di sini – silakan klik, yang mengatakan “A spokesperson from the Catholic Bishops’ Conference of England and Wales told BBC News the app was a “useful tool to help people prepare for the Sacrament of Reconciliation.” Yang mengatakan hal tersebut bukanlah juru bicara Gereja Katolik, namun juru bicara dari konferensi wali Gereja England dan Wales, yang setara dengan KWI (Konferensi Wali Gereja Indonesia). Dan apakah yang dikatakan oleh mereka? Mereka mengatakan “The app was a “useful tool to help people prepare for the Sacrament of Reconciliation.” Jadi, juru bicara dari Catholic Bishop’s Conference mengatakan bahwa applikasi ini berguna untuk membantu orang-orang mempersiapkan Sakramen Tobat, dan bukan mengatakan bahwa mereka merestui applikasi yang dapat menggantikan Sakramen Tobat.

Dengan demikian, tidak ada yang perlu diributkan dari applikasi yang bagus ini. Aplikasi ini pada dasarnya terdiri dari tiga: 1) Step by step untuk melakukan Sakramen Tobat, 2) Pemeriksaan batin, 3) database dosa-dosa yang pernah diakukan, sehingga seseorang dapat melihat dosa-dosa yang dibuatnya, dengan harapan seseorang dapat memperbaikinya. Applikasi ini adalah untuk membantu tahap persiapan Pengakuan Dosa dan tidak akan pernah ada pengakuan dosa lewat applikasi seperti ini. Bahwa Sakramen Pengakuan Dosa senantiasa mensyaratkan kontak dan dialog antara yang mengaku dosa dan yang memberi pengakuan dosa, dan tidak dapat digantikan oleh aplikasi atau program apapun, ditegaskan oleh juru bicara Vatikan Fr. Federico Lombardini, SJ.

Sungguh mengherankan bahwa aplikasi seperti ini dapat diberitakan secara “miring” dan “tidak lugas”, sehingga dapat menimbulkan kesalahpahaman di mana-mana sampai juru bicara Vatikan perlu mengklarifikasi hal ini. Sebagai yang menuliskan berita, alangkah baiknya untuk dapat mengecek sumbernya secara langsung dan melakukan riset lebih dalam, sehingga tidak terjadi kesalahan yang tidak perlu. Dan sebagai pembaca, kita juga seharusnya lebih cermat dalam membaca berita dan pada saat yang bersamaan menelaah dan mencocokannya dengan sumber-sumber yang dapat dipercaya. Mari, kita bersama-sama belajar. Semoga keterangan ini dapat memperjelas.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

http://www.detikinet.com/read/2011/02/10/113348/1568441/398/vatikan-tak-restui-aplikasi-pengakuan-dosa-virtual/?i991101105

Doa mohon kelemahlembutan

7

Doa mohon kelemahlembutan

(untuk menghindari kecenderungan marah)

Tuhan Yesus Penebusku yang maha Pengasih,
betapa besarnya perbedaan antara sikap-Mu menghadapi penghinaan dan kesakitan, dengan sikapku.
Engkau diam saja ketika Engkau dituduh walaupun tak bersalah. Engkau tidak mengeluh ketika mereka memahkotai Engkau dengan mahkota duri dan mendera Engkau di sebuah tiang. Engkau mendoakan dan memohon ampun bagi mereka yang memakukan Engkau di kayu salib.

Dan aku? Betapa cepatnya aku menunjukkan kemarahan, bahkan untuk kesalahan yang tidak disengaja; betapa sering aku merencanakan pembalasan terhadap suatu kesalahan yang bahkan baru merupakan dugaan; betapa lama aku menyimpan sakit hati terhadap mereka yang menyakiti hatiku.

Ampunilah aku sebab aku telah begitu enggan untuk meniru teladan-Mu. Berikanlah kepadaku rahmat agar aku mampu mengendalikan diriku, menjadi tenang dan diam serta mengampuni, ketika aku tergoda untuk marah.

Doa ini kumohon demi nama-Mu yang kudus.

Amin.

Mat 17:14-21: Yesus menyembuhkan anak muda yang sakit ayan

8

Mat 17:14-21: Yesus menyembuhkan anak muda yang sakit ayan

Pertanyaan:

https://katolisitas.org saat ini merupakan web katolik yang paling sering saya kunjungi. Dalam kehausan saya mencari “Kerajaan Allah dan KebenaranNya”, saya memperoleh banyak pencerahan melalui web ini. Banyak hal yang saya belum jelas atau ragu, saya mendapat banyak jawaban di sini. Walaupun demikian masih banyak yang harus saya pelajari dan perdalam lagi. Karena itu http://www.katolisitas akan menjadi salah satu nara sumber saya. Pada kesempatan ini saya ingin mengajukan pertanyaan mengenai apa yang tertulis dalam firman Tuhan “Yesus menyembuhkan seorang anak muda yang sakit ayan (Mat. 17:14-21, Mrk.9:14-29; Luk.9:37-43). Mohon kiranya dapat diberikan penjelasan berkaitan dengan ayat-ayat tersebut di atas (berkaitan dengan sakit ayan, gangguan roh jahat atau setan dan kuasa Yesus menyembuhkanNya.).
Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih.
Marcos Neko

Jawaban:

Shalom Marcos Neko,

Berikut ini adalah interpretasi perikop Mat 17:14-21 yang saya sarikan dari A Catholic Commentary of Holy Scripture, ed. Dom Orchard dan the Navarre Bible:

“… Anak muda itu mempunyai gejala sakit ayan, namun dalam Mrk 9:17-25 dikatakan sebagai kerasukan roh jahat, karena alasan bahwa gejala tersebut dapat datang/ ‘kumat’ sewaktu- waktu. Para murid berusaha mengusir roh jahat tersebut namun tidak berhasil sehingga bapa anak itu menanti- nantikan Yesus untuk dimintai pertolongan. Ay. 17 menunjukkan bahwa selain sakit ayan, anak itu memang kerasukan setan, sebab Yesus selain menyembuhkan anak itu dari sakit ayan, Ia juga melakukan eksorsisme (Mrk 9:34; Luk 9:43). Para murid heran mengapa mereka tidak dapat melakukan eksorsisme pada anak tersebut. Tuhan Yesus memberikan jawaban: kurangnya iman kepercayaan mereka kepada Tuhan. Sebab dengan iman yang kecil sekalipun seseorang dapat melakukan hal yang tidak mungkin dilakukan. Ia [Yesus] mengatakan peribahasa “memindahkan gunung” cocok dengan keadaan mereka di kaki gunung Tabor.

Maka penyembuhan anak yang sakit ayan ini menunjukkan kemahakuasaan Tuhan Yesus dan kuasa doa dengan iman yang penuh. Maka dengan kesatuan dengan Tuhan, seorang murid Kristus dapat juga mengambil bagian, dalam iman, di dalam kemahakuasaan Tuhan, seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu…. ” (Yoh 14:12).

Tuhan Yesus mengatakan bahwa jika para murid-Nya mempunyai iman, maka mereka dapat melakukan mujizat, yaitu untuk ‘memindahkan gunung’. Kemungkinan memindahkan gunung ini merupakan peribahasa Yahudi. Tuhan dapat membiarkan para murid-Nya untuk memindahkan gunung, jika itu diperlukan untuk kemuliaan nama-Nya dan untuk membangun iman manusia; namun janji Kristus ini digenapi setiap hari dalam cara yang lebih mulia. Beberapa Bapa Gereja (St. Hieromimus (St. Jerome) dan St. Agustinus) mengatakan bahwa “sebuah gunung dipindahkan” setiap kali seseorang dibantu secara ilahi untuk melakukan hal- hal di luar kodrat manusia. Ini jelas terjadi di dalam karya pengudusan kita yang diakibatkan oleh Roh Kudus yang bekerja di dalam jiwa kita ketika kita … dengan iman dan kasih menerima rahmat Allah di dalam sakramen- sakramen; kita menerima keuntungan dari sakramen- sakramen tersebut, tergantung dari disposisi hati kita pada saat kita menerimanya. Pengudusan merupakan sesuatu yang lebih hebat dan mulia daripada memindahkan gunung , dan merupakan sesuatu yang dapat terjadi setiap hari di dalam jiwa- jiwa orang yang kudus, meskipun tidak kelihatan kasat mata manusia.

Para rasul dan para orang kudus sepanjang jaman banyak yang melakukan mujizat- mujizat secara lahiriah, tetapi mujizat yang terbesar dam yang paling penting adalah mujizat jiwa- jiwa yang telah mati karena dosa menjadi manusia baru lewat kelahiran baru dan bertumbuh di dalam hidup yang baru sebagai anak- anak Allah.

Untuk mengusir roh jahat Yesus mengajarkan doa dan puasa, maksudnya di sini agar doa tidak hanya dalam bentuk perkataan untuk memohon kemurahan Tuhan, tetapi harus menjadi kesatuan dengan segala yang kita lakukan dalam iman, sebagai penghormatan kepada Tuhan [termasuk dengan cara mati raga/ mati terhadap keinginan daging dan hidup memusatkan hati kepada Tuhan]. Dengan cara demikian, para rasul memberi kesaksian akan firman Allah yang berkata, “Tetaplah berdoa” (1 Tes 5:17) (lih. St. Bede, In Marci Evangelium expositio, in loc).

Demikian yang dapat saya sampaikan tentang perikop Mat 17:14-21, tentang Yesus yang menyembuhkan seorang anak muda yang sakit ayan. Semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Keluarga sebagai pendidik nilai-nilai kemanusiaan dan iman

Pesan Paus Benediktus XVI pada penutupan pertemuan keluarga internasional di Mexico, 18 Januari 2009 yang lalu sangat menarik untuk disimak. Paus Benediktus XVI mengajak keluarga-keluarga merefleksikan dan melakukan introspeksi atas identitas dan tugas perutusannya sebagai pendidik nilai-nilai kemanusiaan dan iman dengan tolok ukur Keluarga Kudus, pelindung keluarga kristiani.

“Keluarga Nazareth menyambut kehadiran-Nya, dan melindungi-Nya dengan cinta kasih, keluarga itu memasukkan Dia ke dalam ketaatan tradisi keagamaan dan hukum masyakarat, mereka mendampingi dan membimbingnya bertumbuh dalam kedewasaan manusiawi dan tugas perutusan yang sudah ditetapkan bagi-Nya”

 

Bapa Suci menunjukkan bagaimana bapa Yosef dan bunda Maria sebagai orangtua mempersiapkan Yesus dalam lingkungan yang diwarnai kasih dan ketaatan pada tradisi keagamaan dan norma-norma hukum, sehingga Ia berkembang dalam kebijaksanaan, dan dikasihi Allah dan manusia (bdk. Luk. 2: 52). Dengan menegaskan hal ini, Paus mengingatkan kita semua bahwa keluarga adalah sekolah kemanusiaan dan kehidupan kristiani bagi semua anggota.

Sebagai manusia, setiap pribadi mempunyai kebutuhan manusiawi, yakni mengasihi dan dikasihi, memperhatikan dan diperhatikan, dan bertumbuh secara holistik: jasmani dan rohani. Maka tidak boleh dilupakan bahwa sebagai manusia yang diciptakan dalam citra wajah-Nya, setiap pribadi juga mempunyai kecenderungan kepada yang transenden: berelasi dengan Bapa, Penciptanya. Inilah kebutuhan paling fundamental dan konstitutif dari setiap pribadi.  Pribadi-pribadi yang terpenuhi kebutuhan dasarnya ini akan menjadi pewarta-pewarta kasih Allah yang sejati dalam membangun kehidupan bersama dalam masyarakat.

Refleksi ini sangat penting bagi keluarga-keluarga yang hidup di zaman modern ini, di mana perkembangan dan kemajuan tekhnologi sangat mempengaruhi perilaku setiap pribadi dalam keluarga. Salah satu tantangan serius yang dihadapi dan dialami oleh keluarga-keluarga zaman ini adalah situasi dan kondisi lingkungan yang diwarnai oleh sarana komunikasi modern. Keluarga-keluarga harus melaksanakan tugas perutusannya memberikan pendidikan nilai kemanusiaan dan iman kepada anak-anak yang mau tidak mau pribadinya sudah dipengaruhi dan bahkan “dibentuk” oleh sarana komunikasi itu, yang seringkali menyampaikan berita dan program acara yang bertentangan atau menyimpang dari nilai-nilai yang ingin kita hayati dalam keluarga. Demikian dikatakan oleh Uskup Agung Claudio Maria Celli dalam pesannya yang disampaikan melalui Catholic.net TV.

Namun demikian bukan berarti bahwa kita harus menolak dan ketakutan terhadap keberadaan sarana komunikasi yang semakin berkembang pesat. Keluarga-keluarga harus memanfaatkan media komunikasi tersebut untuk mewartakan dan mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan dan iman kepada anak-anak. Mereka harus dididik supaya dapat menggunakan sarana komunikasi tersebut untuk mempertajam dan mendewasakan kemanusiaan dan imannya. Misalnya film yang bagus dapat menjadi bahan pembinaan kepribadian anak dalam menyadari tugas perutusannya sebagai citra wajah Allah dalam keluarga dan masyarakat di zaman budaya digital ini.

Jadi, seluruh refleksi teologis dalam pertemuan keluarga sedunia ini sangat penting dan perlu diletakkan dalam kerangka pikir himbauan Gereja kepada keluarga-keluarga untuk kembali pada jatidirinya sendiri dan tugas perutusannya. “Keluarga, jadilah sebagaimana seharusnya!” Demikian himbauan Paus Yohanes Paulus II beberapa puluh tahun yang lalu melalui Himbauan apostoliknya Familiaris Consortio. Sebagai pendidik dan sekolah nilai-nilai kemanusiaan dan iman, keluarga harus membangun kerjasama dengan komunitas sekolah, Negara, dan Gereja. Tiga lembaga itu menurut kodratnya, juga mempunyai tugas dan tanggungjawab memberikan pendidikan kepada anak-anak. Tetapi pelaksanaan tugas dan hak ketiga lembaga itu bersifat kontributif. Karena orangtua adalah pendidik yang utama dan pertama bagi anak-anak.

Penegasan bahwa orangtua adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anak dalam kehidupan iman dan moral bukanlah suatu pengajaran yang tanpa dasar. Dasar-dasar tersebut dapat kita temukan dalam Kitab Suci dan beberapa ajaran Gereja.

A. Pendidikan Anak dalam Keluarga Menurut Kitab Suci

1. Perjanjian Lama

Dalam kitab Amsal kita temukan banyak ayat yang berbicara tentang pendidikan anak dalam keluarga. Di sana termuat banyak nasehat orang tua kepada anak-anak. Pada bab pembukaan ditekankan adanya wewenang  orang tua untuk mendidik anak-anak mereka (lih. Ams. 1: 8-9). Wewenang itu tampaknya diilhami  kitab Ulangan 6 : 6-7, yang menekankan bahwa para bapa keluarga harus mengajar anak-anaknya, terutama dalam hal kepercayaan dan praktek religius.

Anak-anak tidak boleh melawan atau menentang orang tua. Sebaliknya, mereka harus mentaatinya tanpa syarat. Sebab pendidikan dari orang tua bertujuan untuk membantu anak-anak menemukan jalan hidup dan memperoleh kesuksesan dalam hidup mereka. Dengan mentaati ajaran orang tua, anak-anak memiliki kepekaan dan cepat tanggap terhadap hidup dan lingkungannya.

Menurut kitab Amsal, isi ajaran dari orang tua dapat digolongkan menjadi tiga nasehat. Nasehat pertama berupa peringatan untuk melawan teman-teman jahat, nasehat kedua berupa perintah agar menjauhi isteri orang lain, dan nasehat ketiga berupa ajakan untuk hidup dalam kebijaksanaan. Nasehat pertama: peringatan untuk melawan teman-teman jahat (lih. Ams. 1:8-19; 2:12-15; 4:10-19; 6:12-15.16-19). Orang tua memperingatkan agar anak-anak tidak mudah dibujuk untuk terlibat dalam tindak kejahatan. Yang dimaksudkan dengan tindak kejahatan itu antara lain adalah kekerasan, penindasan, dan pembunuhan, yang bertujuan untuk mencari keuntungan pribadi. Dalam menyampaikan peringatan-peringatan itu, orang tua juga harus memperlihatkan akibat dari tindak kejahatan tersebut terhadap diri mereka sendiri. Dengan berbuat jahat, sebetulnya orang mengancam keselamatannya sendiri (bdk. Ams. 1:18). Selain itu perbuatan yang jahat sangat dibenci Tuhan dan “menjadi kekejian bagi hati-Nya” (lih. Ams. 6:16). Kalau anak mendengarkan dan mentaati ajaran ayahnya, ia pasti menempuh “jalan hikmat” dan akan menghindari “jalan orang fasik” (lih. Ams. 11:14).

Nasehat kedua: peringatan untuk menjauhi isteri orang lain (Ams. 2:16-22; 5:1-23; 6:20-35; 7:1-27). Peringatan ini diberikan kepada mereka yang sudah memasuki usia dewasa. Orang tua menasehati anaknya yang sudah memasuki usia nikah, agar tidak mudah terkena bujukan dari wanita yang sudah bersuami. Bila pemuda terkena bujukan dan melakukan perzinahan dengannya, maka ia akan mengalami penderitaan dan kesengsaraan dalam hidupnya. Perbuatan zinah juga menunjukkan bahwa orang yang melakukannya adalah orang yang tidak berakal budi. Akhir dari perzinahan adalah kematian. Oleh karena itu ia harus hidup bijaksana (Ams. 4:6-9) dan setia kepada isterinya sendiri (Ams. 5:15-19), agar tidak mudah jatuh dalam perzinahan.

Nasehat ketiga: ajakan dan saran  supaya hidup dalam kebijaksanaan (Ams. 2:1-22; 3:1-26; 4:1-27; 7:1-5). Kebijaksanaan adalah harta yang tak ternilai harganya. Anak yang hidup dengan bijaksana akan terhindar dari kedua bahaya yang disebut di atas. Sebab kebijaksanaan akan memimpin, menjaga, dan mengarahkan hidup ke jalan hikmat. Hanya kebijaksanaanlah yang menjadi jaminan hidup bahagia. Kebijaksanaan menuntun anak kepada pengenalan akan Allah dan takwa kepada-Nya (Ams. 2:1-8; 3:1-35). Kebijaksanaan itu diperoleh melalui nasehat-nasehat dan pendidikan orang tua.

Menurut kitab Amsal, tujuan pendidikan adalah membantu anak mencapai kebijaksanaan. Sebab mencapai kebijaksanaan berarti hidup; sedangkan kegagalan dalam mencapainya berarti kematian. Kebijaksanaan dan pendidikan ke arah kebijaksanaan membentuk pribadi manusia seutuhnya, yang mahir dan mampu dalam segala bidang, termasuk dalam relasi dengan Tuhan. Agar tujuan itu tercapai, pendidikan harus dilaksanakan dengan disiplin. Oleh karena itu orang tua diperbolehkan menggunakan cara yang tegas dalam mendidik anak, misalnya dengan hukuman (bdk. Ams. 19:18). Maksud dari hukuman itu adalah agar anak-anak tidak masuk ke jalan yang salah. Sebab hidup di  jalan yang salah berarti berjalan menuju kematian. Pendidikan itu didasarkan pada tradisi, termasuk tradisi iman, tetapi  tidak berarti pewarisan rumusan-rumusan tradisi leluhur saja. Lebih dari itu, pendidikan menyampaikan pengalaman hidup dan iman para  leluhur  yang  telah  mencapai  kebijaksanaan.  Oleh karenanya, yang berhak menjadi pendidik adalah orang yang telah menghayati tradisi tersebut dalam hidupnya.

2. Perjanjian Baru

Dalam keempat injil tidak ditemukan ajaran Yesus tentang pendidikan. Tetapi harus diingat bahwa Yesus sendiri dididik dalam keluarga Yusuf dan Maria di Nazareth. Dari kisah masa kanak-kanak dapat disimpulkan bahwa Ia, sebagai seorang anak dari suatu keluarga, memperoleh pendidikan yang baik. Keluarga Kudus hidup di lingkungan adat Yahudi. Dan keluarga itu digambarkan sebagai keluarga yang taat dan patuh terhadap peraturan dan hukum adat Yahudi. Maka dikisahkan bahwa Yusuf dan Maria selalu pergi ke Yerusalem setiap tahun untuk merayakan Paskah.

Yesus hidup dan bertumbuh dalam sebuah keluarga di Nazareth, dalam asuhan Yusuf dan Maria. Yesus dilukiskan sebagai anak yang mengasihi dan patuh kepada orang tua-Nya. Ia tumbuh dan berkembang dalam kasih dan iman yang benar.  Sebelum memulai karya publik-Nya, selama kurang lebih tiga puluh tahun, Ia hidup tersembunyi di dalam keluarga Nazareth. Selama itu Ia hidup dan dididik oleh Yusuf dan Maria, seperti anak-anak Yahudi lainnya. Ia membutuhkan waktu selama tiga puluh tahun untuk bertumbuh menjadi dewasa, sehingga siap mewartakan injil.

Para orang tua Yahudi mendidik anak-anak mereka pertama-tama di rumah. Bapa keluarga  mempunyai kewajiban untuk mendidik iman anak-anaknya. Pertama-tama ia harus mengajarkan semua perintah dan hukum keagamaan. Pada usia lima tahun anak-anak dimasukkan ke sekolah dasar untuk belajar membaca Taurat (bdk. II Tim. 3:15). Sekolah dasar itu biasanya berhubungan dengan sinagoga. Anak-anak yang berusia sepuluh tahun harus belajar Mishnah atau hukum yang diajarkan secara lisan. Pada umur tiga belas tahun mereka harus mengerti seluruh isi hukum Yahwe dan melaksanakannya ((B.J. Boland, dalam Tafsir Lukas jilid I, BPK Gunung Mulia Jakarta, 1977, halaman 66, menjelaskan bahwa anak berumur 13 tahun di lingkungan Yahudi adalah “anak Taurat”. Ia sudah dianggap dewasa, maka wajib melaksanakan seluruh perintah hukum Taurat. Pada usia-usia sebelumnya, peraturan dan hukum agama diajarkan kepada mereka dan membiasakan mereka untuk mentaati hukum itu)). Dan pada usia lima belas tahun mereka harus menyempurnakan pengetahuannya. Inti dari kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah Yahudi itu adalah pelajaran Kitab Taurat.

Kiranya Yesus juga memperoleh pendidikan yang sama seperti anak-anak Yahudi lainnya. Di dalam keluarga-Nya Ia dibimbing dan diajar tentang peraturan dan hukum keagamaan, sebelum menjadi “anak Taurat”. Sebab “anak Taurat” mempunyai kewajiban mendoakan doa shema sehari tiga kali dan selalu pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Pada usia dua belas tahun, Yesus dipersiapkan untuk menjadi “anak Taurat” itu. Karenanya Ia diajak oleh orang tua-Nya pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Hal ini menunjukkan bahwa Ia dididik supaya menjadi anak yang saleh, taat dan patuh kepada hukum agama. Kemungkinan besar Yesus tidak menerima pendidikan formal dari seorang guru yang termasyhur.  Kiranya Ia hanya  memperoleh pendidikan di sekolah sinagoga desa. Tetapi Ia dapat membaca dan memahami isi kitab Perjanjian Lama dengan sangat baik. Melalui pendidikan di dalam keluarga dan sekolah sinagoga desa itulah Yesus bertumbuh dewasa, penuh hikmat dan kasih karunia Allah (bdk. Luk. 2:40). Ia tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan pendidikan moral, intelektual, kultural, dan religius.

B. Menurut Ajaran-ajaran Gereja

1. Paus Pius XI

Pendidikan bagi kaum muda merupakan tanggungjawab tiga lembaga, yakni keluarga, Gereja, dan negara. Sebab dalam ketiga lembaga itulah manusia dilahirkan dan hidup. Tempat yang pertama-tama dimasuki manusia adalah keluarga. Ia diciptakan Allah dalam dan melalui keluarga. Menurut kodratnya keluarga merupakan pendidik pertama bagi anak-anak, sebab keluarga diberi kemampuan oleh Allah untuk melahirkan dan mengasuh mereka.

Mendidik adalah hak dan kewajiban mutlak keluarga, yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun. Negara-negara yang menghormati hukum kodrat, harus mengakui hak dan kewajiban keluarga tersebut. Menurut kodratnya, anak-anak bukanlah ciptaan dan milik negara. Oleh karena itu negara tidak berhak menentukan dan memaksakan bentuk pendidikan tertentu. Orang tualah yang berhak dan berkewajiban menentukan pendidikan anak, sebab merekalah yang melahirkan dan membesarkan.

Gereja terpanggil untuk membela dan mempertahankan hak dan kewajiban orang tua untuk mendidik anak-anak mereka. Tetapi Gereja sekaligus menuntut orang tua untuk mempermandikan dan mendidik anak-anak secara kristiani.

Anak, menurut hukum kodrat, adalah “berasal” dari ayahnya. Oleh karena itu sudah selayaknyalah anak berada dalam perawatan dan pemeliharaan ayahnya, sebelum ia akil baliq. Maka tidak dapat dibenarkan bahwa anak, sebelum akil baliq, diambil dari pengawasan orang tuanya ((Mengutip dari Thomas Aquinas, Summa Theologia II-IIae Q.X,art. 12:The child is naturally something of the father … so by natural right the child, before reaching the use of reason, is under the father’s care. Hence it would be contrary to natural justice if the child, before the use of reason, were removed from the care of its parents, or if any disposition were made concerning him against the will of the parents.”)). Anak adalah sesuatu dari ayahnya dan merupakan perluasan dari ayahnya. Ayah berhak memperanakkan, mendidik dengan disiplin, dan membimbing anak-anaknya kepada hidup yang sempurna ((Mengutip Thomas Aquinas, Summa Theologia II-IIae, Q.CII, art. 1: “The Father according to the flesh has in a particular way a share in that principle which in a manner universal is found in God … The father is the principle of generation, of education and discipline and of everything that bears upon the perfecting of human life.”)). Oleh sebab itu kekuasaan ayah dalam mendidik anaknya adalah mutlak, tidak dapat dihapus atau direbut oleh negara. Kekuasaan itu berdasar atas asas-asas yang sama dengan hidup manusia sendiri. Namun hal itu tidak berarti bahwa orang tua dapat mendidik anak dengan sewenang-wenang. Sebab kesewenang-wenangan seperti itu tidak sesuai dengan hukum kodrat dan hukum ilahi. Orang tua justru diharapkan untuk menjaga agar pendidikan anak-anak itu sesuai dengan kehendak Allah. Orang tua harus mendidik anak secara kristen dan berusaha sekeras mungkin menjauhkan anak-anak dari sekolah-sekolah yang dapat membawa anak menjadi acuh tak acuh terhadap agama.

Adapun inti sari pendidikan adalah penanaman nilai-nilai hidup berdasarkan sabda Tuhan. Dengan demikian anak-anak akan terhindar dari bahaya penyimpangan dari  jalan Tuhan. Pendidikan itu mencakup dua aspek, yaitu jasmani dan rohani. Kedua aspek itu harus dikembangkan secara berimbang, supaya pendidikan itu mengembangkan manusia seutuhnya. Maka pendidikan dalam keluarga kristiani tidak boleh terbatas pada pendidikan agama dan kesusilaan saja, tetapi juga meliputi pendidikan jasmani dan kewarganegaraan.

2. Konsili Vatikan II dan Paus Yohanes Paulus II

Setiap anak mempunyai hak untuk mengembangkan kemampuan fisik, moral, dan intelektualnya, sehingga dia dapat mencapai hidup yang bahagia dan sungguh-sungguh manusiawi. Melalui pendidikanlah pengembangan berbagai kemampuan itu dapat mengarah kepada kesejahteraan masing-masing anak, dan kesejahteraan masyarakat.

Keluarga adalah tempat meletakkan dasar-dasar pendidikan. Maka tugas menyelenggarakan pendidikan merupakan tanggung jawab keluarga yang utama (GE. 3). Keluarga mempunyai hak dan kewajiban untuk membentuk anak-anak menjadi pribadi yang dewasa. Di samping itu, sebagai suatu lembaga, keluarga wajib mempersiapkan anak-anak menjadi pribadi yang peduli terhadap masyarakat. Maka keluarga merupakan jembatan antara setiap  anak dan masyarakat. Keluarga harus menjadi “sekolah keutamaan-keutamaan sosial yang dibutuhkan masyarakat”(FC. 36), tempat anak-anak dapat belajar tentang tata nilai dalam masyarakat. Semua anggota keluarga, masing-masing menurut kemampuan dan kharismanya, mempunyai rahmat dan tanggung jawab untuk membimbing anak-anak. Tetapi pendidik yang paling utama dan pertama bagi anak-anak adalah orang tua. Mereka telah menyalurkan kehidupan baru kepada anak-anak. Maka mereka jugalah yang bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak (GS. 50, GE 3). Mereka mempunyai kewajiban untuk membantu anak-anak agar berkembang sebagai pribadi sepenuh-penuhnya. Suami isteri dipanggil dan diangkat menjadi mitra kerja Allah, Sang Pencipta.

Unsur yang paling mendasar dalam pendidikan anak adalah cinta kasih orang tua. Cinta kasih itu merupakan sumber, semangat, dan norma yang mengilhami dan mengarahkan pendidikan. Di tengah-tengah kehidupan modern ini, orang tua dituntut untuk menanamkan nilai-nilai dasar kepada anak-anak. Melalui pendidikan itu hendaknya anak-anak dibantu untuk merasakan cinta kasih Allah, dan dibimbing untuk menanggapinya. Selain itu mereka perlu dilatih dan dibimbing agar melakukan dan memperjuangkan nilai keadilan dan cinta kasih sejati. Bila diperkaya dengan nilai-nilai tersebut, anak-anak akan mau dan mampu menghormati martabat setiap pribadi dan senang melayani tanpa pamrih.

Keluarga adalah tempat pendidikan yang utama dan pertama bagi anak-anak. Tetapi bukan berarti seluruh tugas mendidik anak hanya dilaksanakan oleh keluarga sendiri. Bagaimanapun juga keluarga mempunyai keterbatasan. Maka negara dan Gereja mempunyai kewajiban untuk membantu tugas keluarga tersebut, walaupun  bantuan negara dan Gereja itu harus dilaksanakan dengan prinsip subsidiaritas.

Konsili Vatikan II melihat adanya perubahan sosial yang menggoncangkan nilai-nilai dasar itu. Maka tugas orang tua yang paling mendesak dan sangat penting adalah membimbing anak-anak melalui pendidikan nilai-nilai dasar. Mendidik itu lebih daripada mengajar. Sebab mendidik adalah usaha memanusiakan manusia. Melalui pendidikan para pendidik membantu anak didik untuk memahami nilai-nilai dasar dan melaksanakannya.

Pada dasarnya hakekat pendidikan dalam keluarga kristiani tidak berbeda dengan hakekat pendidikan semacam itu.  Pendidikan dalam keluarga kristiani pun bertujuan untuk mengembangkan pribadi anak-anak menuju kepada kedewasaan yang seutuhnya. Pendidikan dalam keluarga bersifat formatif dan transformatif. Bersifat formatif, karena dalam pendidikan terjadi usaha untuk mewujudkan kemampuan-kemampuan secara nyata. Pendidikan tersebut menghasilkan kemampuan dan kemahiran lahiriah. Bersifat transformatif, karena yang dikembangkan juga mengubah kepribadian. Dalam proses pendidikan tersebut terjadi perubahan kepribadian secara mendasar. Keluarga kristiani tidak boleh puas diri bila anak-anak mencapai kedewasaan pribadi saja. Lebih dari itu, keluarga kristiani harus membantu anak-anak untuk memahami dan merasakan cinta kasih Allah yang menyelamatkan, serta membimbing mereka agar hidup takwa kepada Allah. Pendidikan dalam keluarga kristiani harus mengarahkan anak-anak pada tujuan akhir, yakni persatuan dengan Allah sendiri.

Dalam pendidikan  kristiani itu harus terjadi pemberian diri timbal balik antara orang tua dan anak-anak, yakni dengan mengkomunikasikan kemanusiaan masing-masing. Pemberian diri terjadi karena cinta kasih. Maka pendidikan merupakan sebagian dari peradaban kasih, dan sekaligus membangun peradaban kasih itu sendiri.

Daftar pusataka

PAUL S. PUDUSSERY, CMI,  Jesus’ Teaching on Family Life, dalam majalah Bible Bhashyam, September 1991, halaman 203 – 241.

Ensiklik Divini Illius Magistri, tahun 1929

MICHAEL J. WRENN (ed.), Pope John Paul II And The Family – A Theological And Catechetical Commentary With Discussion Questions on The Apostolic Exhortation Familiaris Consortio, Franciscan Herald Press, 1983

YOHANES PAULUS II, Surat Kepada Keluarga-Keluarga, 1994

 

 

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab