Home Blog Page 222

Kebenaran, pemakluman dan hidup otentik di zaman digital

1

Saudara dan Saudari Terkasih,

Pada kesempatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia yang ke-45, saya ingin berbagi beberapa refleksi yang dimotivasi oleh sebuah gejala khas  zaman kita ini yakni munculnya internet sebagai jejaring untuk komunikasi. Ada pendapat yang sudah semakin umum bahwa, sebagaimana Revolusi Industri yang pada masanya membawa  perubahan besar dalam masyarakat melalui perubahan- perubahan yang diterapkan ke dalam lingkaran produksi dan kehidupan para pekerja, demikian juga berbagai perubahan mendasar yang terjadi di dalam komunikasi di zaman sekarang ini secara signifikan sedang memandu  perkembangan-perkembangan budaya dan sosial.  Teknologi baru tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi melainkan juga memengaruhi komunikasi itu sendiri sedemikian rupa sehingga dapat dikatakan bahwa  kita sementara hidup dalam sebuah periode transformasi budaya yang besar. Sarana-sarana penyebaran informasi dan pengetahuan ini melahirkan cara baru belajar dan berpikir  demi membangun relasi dan persaudaraan; sebuah peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kini, cakrawala baru telah terbuka yang  belakangan ini tak dapat kita bayangkan. Ia membuat kita merasa kagum terhadap bebagai kemungkinan yang diberikan oleh  media baru itu,  dan pada saat yang sama menuntut suatu permenungan yang serius tentang makna komunikasi di zaman digital. Hal ini sangat jelas ketika kita dihadapkan dengan  daya  internet  yang luar biasa dan  pemanfaatannya yang  kompleks.  Sebagaimana halnya dengan setiap buah kecerdikan manusia, teknologi komunikasi baru harus ditempatkan bagi pelayanan demi kebaikan perorangan dan umat manusia secara utuh. Jika digunakan dengan bijaksana, teknologi komunikasi baru dapat memberikan sumbangsih bagi pemuasan kerinduan akan makna, kebenaran dan kesatuan yang masih menjadi cita-cita terdalam setiap manusia.

Menyampaikan informasi di dalam dunia digital kian dipahami sebagai memperkenalkannya dalam jejaringan sosial dimana  apa yang diketahui menjadi ajang saling berbagi antar pribadi. Perbedaan yang jelas  antara penyedia informasi dan pengenyam informasi dikurangi; sementara itu komunikasi  tidak hanya nampak sebagai pertukaran data tetapi juga sebagai suatu cara berbagi. Dinamika ini melahirkan  pemahaman  baru tentang komunikasi itu sendiri, yang pada tempat pertama dilihat sebagai dialog, upaya berbagi, belarasa dan penciptaan hubungan yang positif. Pada sisi lain,  ia dihadapkan dengan keterbatasan-keterbatasan yang khas dari komunikasi digital yaitu interaksi sepihak, kecendrungan mengkomunikasikan dunia batin seseorang yang tidak utuh, resiko membangun citra  palsu  seseorang sebagai  bentuk pemuasan diri sendiri.

Secara khusus, kaum muda sedang mengalami perubahan di bidang komunikasi  dengan berbagai kecemasan, tantangan dan daya cipta, layaknya orang yang memiliki rasa ingin tahu dan penuh semangat terhadap pengalaman baru dalam hidupnya . Keterlibatan mereka yang semakin besar dalam forum publik digital  yang disebut jejaringan sosial membantu menciptakan cara-cara baru membangun hubungan antar pribadi, memengaruhi kesadaran diri sendiri dan  tak dapat dihindari  mempertanyakan bukan saja bagaimana seharusnya bertindak tetapi juga tentang otentisitas diri seseorang. Masuk ke dalam ruang maya dapat menjadi tanda  pencarian yang otentik seseorang untuk berjumpa dengan orang lain, asalkan tetap tanggap terhadap bahaya seperti menyertakan diri dalam bentuk eksistensi ganda atau menampilkan diri secara berlebihan di dalam dunia maya. Dalam usaha berbagi dan mencari “teman”,  kita ditantang  untuk menjadi otentik dan setia dan tidak menyerah kepada ilusi membangun tampang publik artifisial itu sendiri.

Teknologi baru memberikan kemungkinan untuk saling bertemu di luar batas-batas ruang dan budaya mereka sendiri,  memungkinkan sebuah dunia persahabatan yang sungguh-sungguh baru. Ini merupakan  peluang besar tetapi juga menuntut perhatian yang lebih besar  dan kesadaran akan resiko yang muncul. Siapakah “tetangga” saya di dalam dunia baru ini? Entahkah ada bahaya bahwa  kita kurang hadir  di dalam diri orang-orang  yang kita jumpai dalam hidup harian kita? Apakah ada risiko menjadi lebih terganggu karena  perhatian kita terbagi-bagi  dan diserap di “dunia lain” daripada dimana kita hidup? Apakah kita mempunyai waktu untuk merenungi  pilihan kita secara kritis dan membina hubungan yang sungguh mendalam dan abadi?  Penting untuk selalu diingat bahwa  kontak virtual tidak dapat dan tidak boleh mengganti kontak manusiawi langsung dengan orang-orang  di setiap tingkat kehidupan kita.

Dalam era digital juga, setiap orang dihadapkan dengan kebutuhan  akan otentisitas dan refleksi. Selain itu, dinamika di dalam jejaringan sosial itu sendiri menunjukkan bahwa  seseorang  senantiasa terlibat dalam apa yang ia komunikasikan. Tatkala orang saling menukar informasi, mereka sudah terlebih dahulu mensyeringkan diri mereka,  pandangannya  tentang dunia, harapan dan cita-cita mereka.  Lantas, cara hadir yang khas kristiani di dunia digital adalah bentuk komunikasi yang jujur dan terbuka, bertanggungjawab dan menghormati orang lain. Memaklumkan Injil melalaui media baru berarti tidak sekadar memasukkan konten religius secara eksplisit ke dalam berbagai pentas media, tetapi menjadi saksi setia di dunia digital itu sendiri dan di dalam cara berkomuniakasi, memilih, mengarus-utamakan serta  penilaian yang sungguh selaras dengan Injil bahkan ketika hal itu tidak dibicarakan secara khusus. Selain itu, benar juga bahwa di dalam dunia digital  pesan tak dapat disampaikan tanpa disertai dengan kesaksian yang konsisten dari  pihak yang meyampaikannya. Dalam situasi baru itu dan dengan bentuk pengungkapan baru,  orang Kristen sekali lagi dipanggil untuk memberikan jawaban kepada siapa saja yang meminta pertanggungjawaban terhadap pengharapan yang ada dalam diri mereka (bdk. 1 Petrus, 3:15)

Tugas memberikan kesaksian tentang Injil di era digital menuntut setiap orang untuk secara istimewa menaruh perhatian pada aspek pesan yang dapat menantang  cara berpikir khas internet. Lebih dari itu, kita harus menyadari bahwa  kebenaran  yang layak kita bagikan bukan dilandaskan pada sisi “popularitas”nya atau jumlah perhatian yang diterima. Kita harus berusaha memperkenalkannya secara utuh, bukan sekadar supaya bisa diterima atau sebaliknya  malah melemahkannya. Ia harus menjadi makanan harian dan bukannya daya tarik sesaat. Kebenaran Injil bukanlah sesuatu yang dinikmati atau digunakan secara dangkal, melainkan pemberian yang menuntut jawaban  bebas. Bahkan apabila diwartakan dalam dunia internet, Injil harus terjelma dalam dunia nyata dan berkaitan dengan wajah riil saudara dan saudari kita, mereka  yang dengannya kita berbagi keseharian hidup kita. Hubungan manusiwi yang langsung tetap menjadi fundamental bagi pemakluman iman.

Oleh karena itu, saya ingin mengajak orang-orang kristiani untuk dengan percaya diri, dengan kreatifitas yang terinformasi dan bertanggungjawab bergabung dalam jejaringan hubungan yang dimungkinkan oleh  zaman digital. Hal ini bukan untuk memuaskan keinginan untuk sekadar hadir, tetapi karena jejaringan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari hidup manusia. Internet memberikan sumbangsih bagi perkembangan cakrawala intelektual dan spiritual yang lebih kompleks dan bentuk-bentuk baru kesadaran  untuk berbagi. Di dalam wilayah ini juga kita dipanggil untuk memaklumkan iman kita bahwa Kirstus adalah Allah, penyelamat umat manusia dan penyelamat sejarah,  yang di dalam-Nya segala sesuatu memperoleh kepenuhannya (Bdk. Ef. 1:10).  Pewartaan Injil menuntut sebuah komunikasi  yang  sekaligus menghormati dan peka, yang menggugah hati dan menggerakkan kesadaran;  cerminan suri teladan Yesus yang bangkit tatkala Ia bergabung bersama para murid-Nya dalam perjalanan ke Emaus (bdk. Lk. 24:13-35). Dengan cara pendekatan ini,  lewat dialog-Nya bersama mereka,  melalui cara-Nya yang lembut menggerakkan hati,  mereka perlahan-lahan dituntun  untuk memahami misteri.

Dalam analisis terakhir, kebenaran Kristus merupakan jawaban yang utuh dan otentik bagi kerinduan manusia untuk membangun relasi, persekutuaun dan  makna yang tercermin  dalam popularitas jejaringan sosial yang besar. Orang beriman yang memberikan kesaksian iman yang sungguh-sungguh  tentu akan memberikan  bantuan yang  berharga bagi internet  dari sekadar menjadi sarana yang menjadikan manusia sebagai obyek, yang memanipulasi secara emosianal, dan yang memberikan kemungkinan kepada penguasa untuk memonopoli pendapat orang lain.  Sebaliknya, orang beriman akan mendorong setiap orang  untuk terus memberikan  pertanyaan manusiawi yang abadi  sebagai ungkapan  kerinduan akan yang trasendental dan  dambaan hidup yang otentik, yang patut  untuk dihayati.  Justru hasrat rohani manusia yang unik inilah yang mengilhami upaya kita untuk mencari kebenaran dan  persekutuan dan mendorong kita untuk berkomunikasi dengan utuh dan jujur.

Di atas semuanya itu, Saya mengundang kaum muda untuk sungguh-sungguh hadir secara berdaya guna di dunia digital. Saya mengulangi lagi undanganku bagi mereka untuk Hari Kaum Muda sedunia di Madrid, dimana teknologi baru akan memberikan sumbangannya yang besar bagi persiapannya.  Dengan perantaraan pelindungnya St. Fransiskus de Sales, saya berdoa agar  Allah dapat selalu memberikan para pekerja di bidang komunikasi kemampuan untuk melaksanakan karya mereka  dengan sadar dan profesional. Kepada kalian semua, saya menyampaikan berkat apostolik saya.

Vatikan 24 Januari 2011
Pesta St, Fransiskus de Sales

Benedictus PP XVI

Arah dasar pembinaan iman anak Gereja Katolik Indonesia 2006-2016

8

A. PENDAHULUAN

1. Pada awal milenium ini, Gereja Katolik Indonesia telah menyelenggarakan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI). Hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia disahkan oleh KWI menjadi kebijakan pastoral Gereja Katolik Indonesia. SAGKI 2000 bertema: “Memberdayakan Komunitas Basis Gerejawi dan Insani.” SAGKI 2005 bertema: “Bangkit dan Bergeraklah! Gereja Membentuk Keadaban Publik Baru bangsa.”

2. Seiring dengan kebijakan itu, Komisi, Lembaga, Sekretariat, Departemen (KLSD) KWI sebagai perangkat KWI juga berusaha mengembangkan budaya kerjasama (korporatif) dengan mengedepankan kerjasama lintas-KLSD maupun lembaga-lembaga terkait lainnya. Misalnya pertemuan untuk mencari penegasan Arah Dasar Pembinaan Iman Anak Gereja Katolik Indonesia Masa Kini, yang terselenggara di Wisma Samadi Klender – Jakarta, tanggal 21 – 24 Juni 2006, terjadi  atas kerjasama Komisi Kateketik KWI, Komisi Keluarga KWI, Karya Kepausan Indonesia dan Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Katolik – Departemen Agama Republik Indonesia.

3. Usaha pembentukan habitus baru dan budaya kerjasama  menuntut pertobatan (metanoia). Pertobatan itu mencakup perubahan sikap dan tindakan yang merupakan gerakan pembaruan menuju keadaban publik baru bangsa.

4. Tujuan kebijakan pastoral itu  hanya dapat dicapai bila dimulai dengan pembinaan iman anak sejak dini.

5. Berdasarkan kenyataan diatas dan didukung pula oleh sharing pengalaman peserta Pertemuan Mencari Arah Dasar Pembinaan Iman Anak Gereja Katolik Indonesia Masa Kini, maka diperlukan penegasan bersama arah dasar pembinaan iman anak Gereja Katolik Indonesia masa kini.

 

B. PEMBINAAN IMAN ANAK

 

6. Anak sebagai subyek.

Anak sebagai pribadi yang berharga dan unik adalah subyek pembinaan. Maka anak harus menjadi fokus reksa pastoral. Yang dimaksud dengan anak disini adalah anak usia dini dan usia Sekolah Dasar (0 – 12 tahun).

7.  Anak dalam tahap-tahap pembinaannya.

Dalam usaha pembinaan iman anak,  kita harus memperhatikan tahap-tahap perkembangan anak sesuai dengan karakteristik dan konteks sosial budayanya.  Perlu kiranya diperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh secara dominan dalam perkembangan anak yakni: keluarga, sekolah, teman sebaya dan kemajuan teknologi khususnya media.

8. Keluarga

Keluarga adalah Gereja Rumah Tangga (Ecclesia Domestica), tempat penyemaian dan pengembangan iman anak untuk menjadi manusia seutuhnya. Anak dihantar dan dibimbing ke arah iman dewasa (ada keseimbangan antara pengetahuan dan penghayatan iman). Oleh karena orangtua adalah mitra Allah dalam karya penciptaan manusia baru, maka harus menjadi pembina utama dan pertama serta tak tergantikan, melalui kesaksian dan keteladanan hidup kristiani sejati yang diwujudkan dengan pemberian kasih sayang yang tulus, adil dan arif bijaksana (bdk.LG 11; GE 3; FC 50).

9. Pembina iman anak

Pembina iman anak yang utama dan pertama adalah orangtua. Dalam pelaksanaannya, orangtua bekerja sama secara sinergis dan seimbang dengan para pembina iman anak di sekolah, di paroki dan di masyarakat. Pembina iman anak harus memperhatikan martabat dan hak-hak anak.

 

10. Hirarki

Hirarki sebagai penanggungjawab reksa pastoral Gereja mempunyai kewenangan dan kewajiban untuk membimbing, mengarahkan dan mendukung sepenuhnya reksa pastoral pembinaan iman anak. Tanggungjawab hirarki dalam reksa pastoral pembinaan iman anak terungkap dalam dokumen-dokumen Gereja universal dan partikular, antara lain:

a. Dokumen-dokumen Konsili Vatikan II, Lumen Gentium art.11, Gaudium et Spes art. 50, Gravissimum Educationis  art.3.

b.  Catechesi Tradendae, art. 36

c.  Familiaris Consortio, art.50

d  Kitab Hukum Kanonik 1983, Kan.867.

e.  Pedoman Gereja Katolik Indonesia 1995.

f.  Hasil SAGKI 2000 yang dikukuhkan Sidang KWI 2000.

g.  Hasil SAGKI 2005 yang dikukuhkan Sidang KWI 2005.

C. METANOIA

11.  Demi tercapainya pembinaan iman anak yang seutuhnya dan sepenuhnya, diperlukan perubahan-perubahan (metanoia) dalam diri anak dan pelaku reksa pastoral.

a. Anak: menyadari dirinya sebagai subyek yang bertumbuh dan berkembang secara manusiawi dan kristiani serta inklusif sesuai tahap-tahap perkembangan yang dilaluinya.

b. Keluarga/Orangtua: menyadari bahwa keluarga adalah Gereja Rumah Tangga, yang berperan sebagai pembina utama dan pertama.

c. Wali Baptis: meningkatkan tanggungjawabnya dalam proses perkembangan iman anak baptis.

d. Gereja/Komunitas: lebih inklusif dan peduli pada pembinaan iman anak, terutama yang terlantar dalam pembinaan imannya.

e. Hirarki: lebih mendengarkan, melaksanakan dan meningkatkan mutu reksa pastoral sesuai ajaran Gereja.

f. Fasilitator/Para Pembina Iman Anak: membaharui diri terus menerus sebagai saksi Kristus sejati secara aktif-partisipatif.

g. Lembaga-Lembaga Reksa Pastoral: semakin meningkatkan kerjasama dengan membentuk jejaring yang sinergis.

 

 

D. REKOMENDASI

 

12. Dalam rangka sosialisasi dan realisasi arah dasar pembinaan iman anak, peserta pertemuan ini menyampaikan rekomendasi-rekomendasi kepada:

a. KWI

Mohon dukungan sepenuhnya serta kesediaan KWI dalam menindak-lanjuti hasil pertemuan pembinaan iman anak ini, dalam kerjasama lintas KLSD dan KKI demi masa depan Gereja dan bangsa.

b. Uskup Setempat

Mohon dukungan sepenuhnya dalam menindaklanjuti hasil pertemuan ini, dengan memfasilitasi pembinaan iman anak dan memasukkannya dalam program kerja Keuskupan serta mendorong Komisi-Komisi Keuskupan, Pastor Paroki untuk bekerjasama dan terlibat dalam upaya pembinaan iman anak.

c. KomKat, KomKel, KomDik, KomLit KWI, LBI dan  KKI

Mohon agar membuat program kerja terpadu dalam pembinaan iman anak, dengan memperhatikan aspek-aspek perutusan dan kerjasama yang sinergis.

d. Ditjen Bimas Katolik

Mohon meningkatkan komitmen dalam pembinaan iman anak serta dukungan dana dan sarana, demi kemajuan bangsa dan negara.

Jakarta, 24 Juni 2006

 

PARA PESERTA PERTEMUAN PEMBINAAN IMAN ANAK GEREJA KATOLIK INDONESIA

Komisi Kateketik KWI
Komisi Keluarga KWI
Karya Kepausan Indonesia
Ditjen Bimas Katolik

Tentang 2Pet 1:3-9: Ajaran untuk kemajuan rohani

4

Pertanyaan:

Apakah yang dimaksudkan oleh Petrus dalam KitabSuci 2Petrus 1;3-9? Apakah ada kaitannya dengan membina iman tanpa henti? Mohon penjelasan…tQ

Lacius Dalius

Jawaban:

Shalom Lacius Dalius,

Demikian penjelasan yang saya sarikan dari A Catholic Commentary on Holy Scripture, ed. Dom Orchard, p. 1182, tentang 2 Pet 1:3-11, tentang panggilan dan pilihan Allah:

Ay. 3-11

Perikop 2 Pet 1:3-11 adalah pengajaran untuk kemajuan rohani. Mengingatkan akan begitu besarnya rahmat yang kita terima, Rasul Petrus mengajarkan bahwa kerjasama yang sungguh-sungguh diperlukan untuk menanggapi rahmat tersebut. Kristus dengan kuasa ilahi-Nya memberikan kepada para murid-Nya semua rahmat yang diperlukan untuk hidup kudus yang supernatural.

Ay. 3 Kristus membawa para murid-Nya kepada pengetahuan akan Tuhan yang olehnya mereka mencapai keselamatan, dan dengan menyatakan di dalam Diri-Nya sifat- sifat ilahi dalam hal kemuliaan dan kebajikan, Ia mendorong mereka kepada iman.

Ay.4 Dengan sifat- sifat ini, Ia memberikan janji yang sangat berharga dan yang sangat besar, yaitu bahwa mereka yang tinggal di dalam-Nya, seperti ranting bersatu dengan pokoknya, akan menghasilkan banyak buah bagi kehidupan kekal (lih. Yoh 15:1-8). Dengan tinggal di dalam Kristus, mereka ‘dapat mengambil bagian dalam kodrat ilahi’, sebab seperti getah yang mengalir dari pokok anggur melalui ranting- rantingnya, yang memampukan pohon itu untuk berbuah, demikianlah dari Kristus timbullah sebuah kekuatan yang baru dan supernatural, yang dibagikan kepada semua yang bersatu dengan-Nya oleh iman dan kasih. Kesatuan yang akrab antara Kristus dan para pengikut-Nya, juga mempersatukan mereka dengan Tuhan Allah Bapa (Yoh 14:20-23; Yoh 17:21-23) dan dengan Roh Kudus (Yoh 14:16-) Dengan menikmati persekutuan yang akrab dengan Allah Trinitas (1 Yoh 1:3) seorang Kristen adalah seorang pengambil bagian dalam kodrat ilahi dalam ukuran yang mungkin bagi seorang mahluk ciptaan.

Untuk menikmati keindahan yang luar biasa ini, adalah penting untuk menghindari ‘korupsi/ keadaan yang rusak dari kecenderungan berbuat dosa yang ada di dunia’ (lih. 1 Yoh 2:16) sebab hal- hal itu memimpin manusia sehingga ia hidup terasing dari Allah. Sehingga langkah pertama untuk bersatu dengan Tuhan adalah kemerdekaan dari dosa. Semua orang Kristen harus ‘mati terhadap dosa’ (Rom 6:2), ‘tetapi hidup untuk Tuhan, di dalam Kristus Yesus Tuhan kita’ (Rom 6:11).

Ay.5 Oleh karena itu, biarlah imanmu memimpin engkau kepada kehidupan yang penuh kebajikan. Prinsip iman menunjuk kepada apa yang benar, dan memberikan dorongan kepada tindakan- tindakan yang penuh kebajikan. Mereka yang melaksanakan kebajikan memiliki pengetahuan akan kehendak Allah dan mengikutinya.

Ay.6 Ayat ini mengajarkan pantang, yaitu pengendalian diri dan kesabaran, yaitu ketahanan menanggung pencobaan- pencobaan dan penderitaan dengan sikap pasrah, dan ia yang telah mencapai tingkat kesempurnaan ini dilimpahi dengan ‘sifat- sifat kesalehan’ (godliness), yaitu kesesuaian yang sempurna dengan kehendak Tuhan.

Ay.7 Kehendak Tuhan adalah, bahwa kita mengasihi saudara- saudara kita (1 Yoh 4:7) dan untuk melakukan kasih kepada semua orang.

Ay.8 Ketika kebajikan- kebajikan ini meningkat, pengetahuan akan Kristus akan menjadi sesuatu yang mudah dilakukan dan menghasilkan buah-buah perbuatan baik.

Ay.9. Ketika kebajikan- kebajikan ini kurang dilakukan, kebutaan dan kepicikan telah membawa sifat pelupa bahwa mereka (jemaat) telah dibersihkan dari dosa- dosanya yang dahulu. Dosa- dosa terdahulu maksudnya adalah dosa- dosa yang dilakukan sebelum dibaptis. Padahal sakramen pembaptisan harus membawa perubahan di dalam hidup. Ketika tidak ada perubahan hidup, tidak ada kekudusan yang dihasilkan, maka itu adalah tanda bahwa mereka telah kehilangan arah tujuan yang lebih tinggi.

Ay.10-11 Oleh karena itu, biarlah mereka dengan rajin berusaha memperoleh kebajikan, agar dapat dikatakan hidup layak sesuai dengan panggilan mereka. Usaha untuk memperoleh hal ini akan membantu mereka untuk menghindari dosa, dan akan membawa mereka kepada kesukaan yang dari Tuhan (lih. Mat 25:23).

Jadi benarlah pengertian anda bahwa sebagai orang yang telah dibaptis, kita harus terus membina iman kita agar terus bertumbuh. Caranya pertama- tama adalah dengan terus tinggal bersatu di dalam Kristus. Bagi kita umat Katolik, kita bersatu dengan Kristus dalam sakramen- sakramen, terutama Ekaristi. Persatuan kita dengan Kristus, mensyaratkan bahwa kita meninggalkan dosa- dosa kita, dan pertobatan ini harus diperbaharui terus menerus setiap hari, dan dengan terus menerima rahmat pengampunan Allah dalam sakramen Pengakuan Dosa secara teratur. Dengan rahmat Tuhan yang kita terima dari persatuan kita dengan Kristus, maka kita akan dimampukan untuk melakukan kebajikan- kebajikan, bertumbuh di dalam kasih kepada Tuhan dan sesama serta teguh beriman dalam menghadapi ujian dan pencobaan di dalam kehidupan ini. Tanpa perubahan yang terus menerus ke arah kekudusan seperti ini, maka sebenarnya kita tidak sungguh- sungguh hidup sesuai dengan panggilan kita sebagai murid- murid Kristus.

Itulah sebabnya pesan Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium yang menyerukan panggilan kepada semua orang untuk hidup kudus- merupakan ajakan yang sangat relevan dan sesuai dengan ajaran yang disampaikan oleh Kristus dan para rasul- yang jelas diajarkan di dalam perikop ini. Sebagaimana perjuangan untuk hidup kudus ini tidak pernah berhenti sampai akhir hidup kita di dunia, demikianlah pembinaan iman kita juga harus tidak pernah berhenti.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Tentang Dead Sea Scrolls

7

Pertanyaan:

apa isi buku dead sea scroll tersebut?
Yinengsih

Jawaban:

Shalom Yinengsih,

1. Pengertian

Dead Sea Scrolls adalah sejumlah lembaran kulit, papyrus dan tembaga yang diduga berasal dari tahun 100 BC sampai dengan 135 AD, yang mengandung bagian- bagian dari beberapa kitab dari Perjanjian Lama dan beberapa teks yang tidak termasuk dalam Kitab Suci, dalam bahasa Ibrani dan Aramaic, dan termasuk tulisan- tulisan apokrif, komentar/ penjelasan- penjelasan, lagu-lagu pujian/ hymne, Mazmur dan peraturan- peraturan kelompok sekte Yahudi tertentu; yang ditemukan di gua- gua dekat pantai Utara-Barat Laut mati, sejak tahun 1947.

2. Tentang naskah Dead Sea Scrolls

Informasi tentang naskah yang diketemukan dalam ke-11 gua tersebut dapat anda baca di Wikipedia. Demikian ringkasannya:

Gua #1: Kitab- kitab Yesaya, Ketentuan Komunitas (Yahudi), Habakkuk, Hymne Lagu Syukur, Kejadian Apokrif, Perjanjian kaum Lewi, Kejadian, Keluaran, Imamat, Ulangan, Hakim- hakim, Samuel, Yehezkiel, Mazmur, Mikha, Zefanaya, Yubelium, Kitab Nabi Nuh, Perkataan Nabi Musa, Enokh, Nubuat Apokrif, Instruksi, Peraturan kongregasi, Peraturan penyembahan, Teks Liturgi, Daniel.

Gua #2: Kitab- kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yeremia, Mazmur, Ayub, Ruth, Sirakh, Yubelium, tulisan apokrif tentang Musa, Daud, nubuat, teks Yerusalem baru, Teks Yuridis, Kitab Enokh.

Gua #3: Kitab- kitab Yehezkiel, Mazmur, Ratapan, Yesaya, Yubelium, Perjanjian Yudea.

Gua #4: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Kidung Agung, Daniel, Yosua, Targum, Yesaya, Hosea, Nahum, Midrash, Anthologi Mesianis, Ratapan, Tobit, Imamat, Perjanjian Naftali, Wahyu, Peraturan Komunitas (Yahudi), Dokumen Damaskus, Penulisan kembali kelima Kitab Musa (Pentateuch: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan), Mazmur apokrif, MMT (Miqsat Maase Ha-Torah), Liturgi, Hymne Raja Yonatan, Nyanyian para pemenang, Wahyu Mesianis, Perjanjian Yusuf, teks Yerusalem Baru.

Gua #5: Ulangan, 1 Raja- raja, Apokrif Maleakhi, Peraturan Komunitas, Dokumen Damaskus, Yerusalem Baru.

Gua #6: Kejadian, Imamat, Ulangan, Raja- raja, Kidung Agung, Daniel, Enokh, Samuel, nubuat apokrif, nubuat imamat, Dokumen Damaskus, Penyembahan, Dokumen kalender, Hymne, Kejadian, Ulangan.

Gua #7: Keluaran, Barukh, Enokh, Teks- teks alkitabiah.

Gua #8: Kejadian, Mazmur, Filakteri, Ulangan, Hymne

Gua #9: belum teridentifikasi

Gua #10: Ostrakon

Gua #11: Imamat, Ulangan, Yehezkiel, Mazmur, Ayub, Yubelium, Melkisedek, Kidung Korban Sabat, Yerusalem Baru, Naskah Bait Suci, Filakteri.

3. Pentingnya penemuan tersebut terhadap Kanon Kitab Suci dan Kristianitas

Dari penemuan tersebut dapat diketahui tentang betapa akuratnya penyalinan Kitab Suci yang diteruskan sepanjang sejarah manusia. Penemuan ini dapat memperkaya di bidang penelitian teks Kitab Suci. Sebelum ditemukan Dead Sea Scrolls, manuskrip Kitab Suci dalam bahasa Ibrani adalah dari teks Masoretik di abad ke 10 dan manuskrip Kitab Suci Perjanjian Lama (dalam bahasa Yunani) yang tertua adalah Codex Vaticanus Graecus (1209)- yang ditulis dengan huruf- huruf (uncial letters) abad ke-4 dan Codex Sinaiticus (awal abad ke 19).

Ada banyak teori tentang komunitas Qumran yang menyimpan Dead Sea Scrolls ini. Kebanyakan para ahli memperkirakan bahwa naskah- naskah tersebut adalah milik komunitas Essenes yang ekstrim menganggap bahwa merekalah sisa Israel, yang akan menerima penggenapan janji Allah. Maka, sebenarnya, Dead Sea Scrolls yang ditemukan di Qumran tersebut penting untuk menunjukkan fakta tentang agama Yahudi di Palestina di abad pertama, dan bukan komunitas Kristen di abad pertama.

Menurut Luke Timothy Johnson, seorang pakar Kitab Suci, ada sedikitnya tiga hal yang dapat kita ketahui melalui penemuan Dead Sea Scrolls, (lih. Luke Timothy Johnson, The Writings of the New Testament, (Minneapolis:Augsburg Fortress, 1999), p. 62-65) yaitu:

1. Dari naskah- naskah tersebut, kita ketahui bahwa teks- teks yang dulunya kita pikir tidak cocok atau malah bertentangan, dapat ditemukan berdampingan di komunitas ini.

2. Naskah- naskah di Qumran menunjukkan adanya pengaruh budaya (dalam hal ini pengaruh budaya Yunani) dan adanya perkembangan ajaran, baik di dalam agama Yahudi dan Kristen. Mungkin Josephus [seorang sejarahwan abad awal] mungkin tidak keliru sewaktu menyebutkan bahwa kaum Essenes adalah kaum Yahudi Phytagorean, yang mempraktekkan kemurnian, yang lebih terpengaruh praktek filosofi Yunani, daripada praktek hukum Taurat.

Komunitas Qumran menunjukkan kelompok yang terstruktur dengan otoritas, dengan hukum (legalism) yang kaku/ tegas, dengan peraturan sangsi, dan mempunyai konsep eksplisit tentang akhir dunia/ eskatologi [surga, neraka, kematian, penghakiman] yang akut/ ekstrim. Maka tidak dapat lagi dipegang suatu anggapan bahwa jika komunitas yang terstruktur dengan legalism (hukum yang tegas) maka menjadi tidak peka akan akhir dunia.

3. Qumran memberikan analogi yang jelas antara komunitas sekte Yahudi (Essenes) dengan komunitas Kristen awal. Kemiripan adalah dalam dua hal: 1) kesadaran bahwa mereka ditentang oleh kaum Yahudi secara umum, karena mereka yakin sebagai kelompok yang disebut sebagai ‘sisa Israel’; 2) berdasarkan kesadaran itu mereka meletakkan dasar bagi interpretasi hukum Taurat sesuai dengan karakter kelompok mereka.

Dari kenyatan ini Johnson menyimpulkan bahwa simbolisme dalam Kitab Taurat diinterpretasikan oleh banyak kelompok di mana- mana, dan interpretasi ini dapat saja berbeda- beda. Penyebab perbedaan ini harus ditelusuri dari asal usul dan pembentukan keyakinan mereka. Bagi kita umat Kristen, dasar interpretasi kita adalah pengajaran Kristus yang diteruskan kepada para rasul.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Pesan Bapa Suci untuk Hari Orang Sakit Sedunia 2011

1


PESAN BAPA SUCI
PAUS BENEDICTUS XVI

UNTUK HARI ORANG SAKIT SEDUNIA KE-19
11 Februari 2011

“OLEH BILUR-BILURNYA KAMU TELAH SEMBUH” (1 Pet 2:24)

Saudara saudari terkasih,

Setiap tahun, Gereja memperingati Hari Orang Sakit Sedunia pada Peringatan Santa Perawan Maria dari Lourdes, yang biasanya dirayakan pada setiap tanggal 11 Februari. Hal ini, sebagaimana diharapkan oleh Venerabilis Paus Yohanes Paulus II, merupakan kesempatan yang baik dan tepat untuk merenungkan misteri penderitaan, terutama untuk mengajak komunitas-komunitas gerejani dan masyarakat sipil lainnya lebih peka terhadap saudara-saudari kita yang sakit. Jika setiap orang adalah saudara, terlebih lagi orang yang lemah, yang menderita dan yang membutuhkan perhatian, maka mereka harus menjadi pusat perhatian kita, sehingga tak seorangpun dari mereka merasa dilupakan atau dipinggirkan. Karena sesungguhnya: “Tolok ukur kemanusiaan pada dasamya ditentukan oleh kaitan antara penderitaan dengan si penderita. Hal ini berlaku baik bagi individu maupun masyarakat. Suatu masyarakat yang tak mampu menerima para penderita dan tak mampu berbagi derita dengan mereka dan berbelas-kasih terhadap mereka, adalah masyarakat yang bengis dan tidak manusiawi” (Ensiklik “Spe Salvi”, No. 38). Semoga aneka inisiatif yang dirancang oleh masing-masing keuskupan pada peringatan ini menjadi suatu pendorong dan semakin efektif dalam memberi perhatian kepada mereka yang menderita, termasuk dalam konteks peringatan akbar yang akan dilangsungkan di tempat peziarahan gua Maria di Altotting, Jerman pada tahun 2013 nanti.

1.      Saya masih ingat ketika dalam serangkaian kunjungan pastoral ke Turin, saya dapat berhenti sejenak dalam refleksi dan doa saya di depan kain Kafan Suci, di hadapan Wajah yang menderita, yang mengundang kita untuk merenungkan Diri-Nya, yang mau menerima beban derita manusia dari setiap jaman dan tempat, bahkan penderitaan kita, kesulitan-kesulitan kita, dosa­dosa kita. Betapa banyak orang beriman sepanjang sejarah telah mengunjungi kain kafan, yang digunakan untuk membungkus tubuh seorang yang disalibkan, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Injil yang telah disampaikan kepada kita tentang penderitaan dan wafat Yesus! Merenungkan hal ini adalah suatu undangan untuk merefleksikan apa yang ditulis oleh St. Petrus : “Oleh bilur-bilurNya kamu telah sembuh” (1 Petrus 2:24).

Putera Allah telah menderita, la telah wafat, tetapi la telah bangkit kembali. Memang benarlah demikian karena melalui peristiwa-peristiwa tersebut luka-lukaNya menjadi tanda penebusan, pengampunan dan perdamaian kembali kita dengan Bapa. Namun demikian peristiwa derita, wafat dan kebangkitan tersebut sekaligus juga menjadi ujian iman bagi para Murid dan iman kita. Setiap kali Tuhan berbicara tentang penderitaan dan wafat-Nya, para murid tidak dapat mengerti, mereka menolaknya dan menyangkalnya. Bagi mereka, sama dengan bagi kita, penderitaan itu selalu penuh dengan misteri, sulit untuk kita terima dan kita tanggung. Sebab peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di Yerusalem dalam hari-hari itu, membuat dua orang Murid dari Emaus berjalan dengan hati sedih, dan hanya ketika Dia yang bangkit berjalan bersama dengan mereka, maka terbukalah mereka terhadap pemahaman yang baru (bdk. Lukas 24:13-31). Bahkan Rasul Thomas sendiri menunjukkan kesulitannya untuk meyakini jalan penebusan melalui penderitaan : “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya don sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh.20:25). Namun sebelum Yesus menunjukkan luka­luka-Nya, jawaban-nya (rasul Thomas) telah berubah menjadi sebuah pernyataan iman yang mengharukan: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh. 20:28). Apa yang pada awalnya merupakan halangan besar, sebab hal ini merupakan tanda kegagalan Yesus yang nyata, menjadi bukti cinta yang begitu kuat, berkat perjumpaan dengan Dia yang telah bangkit: “Hanya Allah yang mengasihi kita sampai berani menanggung bagi diri-Nya luka-luka don penderitaan kita, khususnya penderitaan yang bukan karena kesalahan-Nya sendiri, Allah semacam itulah yang pantas diimani” (Pesan Urbi et Orbi, Paskah 2007).

2.      Saudara-saudari yang sedang sakit dan menderita, alangkah baik sekali bahwa melalui penderitaan Kristus kita dapat melihat, dengan mata pengharapan, semua kejahatan yang menimpa umat manusia. Berkat kebangkitan-Nya, Tuhan tidak menyingkirkan penderitaan dan kejahatan dari dunia, melainkan Dia telah menaklukan derita dan kejahatan itu dari akarnya. Keangkuhan kejahatan Dia lawan dengan keagungan kasih-Nya. Oleh karena itu, la menunjukkan kepada kita bahwa jalan menuju kedamaian dan sukacita adalah Kasih: “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh.13:34). Kristus, sang Pemenang atas maut, hidup dan tinggal di tengah-tengah kita. Dan bersama St. Thomas kita berkata : “Ya Tuhanku don Allahku!” Marilah kita mengikuti Tuhan yang selalu siap untuk mempersembahkan hidup kita bagi saudara­-saudara kita (1Yoh.3:16), menjadi pembawa kabar sukacita tanpa takut akan penderitaan. Inilah sukacita Kebangkitan.

St. Bernardus pernah mengatakan: “Allah tidak dapat menderita, tetapi la dapat menderita bersama.” Allah, yang adalah Kebenaran dan Kasih dalam diri manusia, berkenan menderita bagi dan bersama dengan kita. la menjadi manusia supaya dapat menderita bersama dengan manusia dalam arti yang sebenarnya, dalam darah dan daging. Oleh karena itu, Dia telah masuk dalam diri seorang Manusia untuk berbagi dan menanggung derita bagi setiap penderitaan manusia. la menawarkan pengiburan terhadap semua penderitaan, suatu penghiburan karena keterlibatan kasih Allah, yang membuat bintang pengharapan bersinar (bdk. Ensiklik “Spe Salvi” 39).

Saya ulangi sekali lagi pesan ini kepada kamu, Saudara dan Saudari, supaya kamu menjadi saksi akan hal ini melalui derita, hidup dan imanmu.

3.      Sambil menanti pertemuan di Madrid, Agustus 2011, pada perayaan Hari Kaum Muda Sedunia, saya juga akan menyampaikan suatu refleksi khusus bagi kaum muda, terutama mereka yang pernah mengalami penderitaan penyakit. Seringkali, Penderitaan dan Salib Yesus menyebabkan ketakutan, karena seolah-olah menjadi penyangkalan terhadap kehidupan. Kenyataannya justru sangat berlawanan! Salib adalah Jawaban “ya” dari Allah bagi umat manusia, suatu ungkapan tertinggi dan terdalam kasih Allah, sumber yang mengalir untuk kehidupan kekal. Dari hati Yesus yang terluka, hidup ilahi mengalir. la sendiri sanggup membebaskan dunia dari kejahatan dan menjadikan Kerajaan-Nya: kerajaan keadilan, perdamaian dan kasih tumbuh, kerajaan yang kita semua cita-citakan. (bdk. Pesan untuk Hari Kaum Muda Sedunia 2011, no. 3).

Kaum muda yang terkasih, belajarlah “melihat” dan “menjumpai” Yesus di dalam Ekaristi, di mana la hadir bagi kita secara nyata, yang menjadikan diri­Nya makanan untuk perjalanan kita, tetapi ketahuilah bagaimana mengenal dan melayani Dia, yaitu di dalam diri saudara-saudara yang miskin, sakit, menderita dan dalam kesulitan, juga yang membutuhkan bantuanmu (bdk. Ibid, no. 4). Bagi kamu semua hai kaum muda, baik yang sakit maupun yang sehat, saya ulangi lagi undangan untuk membangun jembatan kasih dan solidaritas, supaya tidak seorangpun merasa sendirian, melainkan dekat dengan Allah dan menjadi bagian dari keluarga besar anak-anak-Nya (bdk. Audiensi Umum, 15 November 2006)

4.      Ketika merenungkan bilur-bilur Yesus, kita arahkan pandangan kita kepada Hati-Nya yang Mahakudus di mana kasih Allah dinyatakan dengan cara yang paling agung. Hati Tersuci adalah Kristus yang tersalib, dengan lambung-Nya tertembus oleh tikaman tombak, dari sanalah darah dan air mengalir (bdk. Yoh. 19:34): “simbol Sakramen-sakramen Gereja, sehingga semua orang yang ditarik kepada hati Sang Juru Selarnat, boleh minum dari sumber air keselamatan abadi” (Missa Romawi, Prefasi Hari Raya Hati Kudus Yesus). Khususnya kamu semua yang sedang menderita sakit, hendaknya merasakan betapa dekatnya dengan Hati Kudus Yesus yang penuh kasih dan ambilah air dari mata air ini dengan iman dan sukacita, sambil bercloa : “Air lambung Kristus, bersihkanlah aku. Sengsara Kristus, kuatkanlah aku. 0 Yesus yang baik, dengarkanlah aku. Dalam luka-luka-Mu, sembunyikanlah aku” (doa St. Ignatius Loyola).

5.      Mengakhiri pesan saya untuk Hari Orang Sakit Sedunia ini, saya ingin mengungkapkan kasih saya bagi setiap orang, sambil merasakan keterlibatan saya di dalam penderitaan dan pengharapanmu sehari-hari dalam persekutuan dengan Kristus yang tersalib dan bangkit, hingga la memberimu damai dan kesembuhan batin. Semoga bersama Kristus yang telah wafat dan bangkit, Santa Perawan Maria yang kepadanya kita mohon dengan penuh iman, selalu menjagamu karena gelarnya adalah Pelindung orang sakit dan Penghibur orang yang menderita. Di bawah kaki salib, terpenuhilah di sana nubuat Simeon: hatinya sebagai Ibu tertembus pedang (bdk. Luk. 2:35). Dari jurang penderitaannya, karena partisipasinya dalam penderitaan Puteranya, Maria dimampukan menerima misi barunya: menjadi ibu Kristus di dalam anggota-anggota (Gereja-Nya). Pada saat penyaliban, Yesus menyerahkan kepada Maria setiap murid-Nya: “Inilah anakmu” (bdk. Yoh. 19:26-27). Kasih keibuan Maria bagi Putera-nya menjadi kasih keibuan bagi setiap orang di antara kita dalam penderitaan kita sehari­hari (bdk. Khotbah di Lourdes, 15 September 2008).

Saudara-saudari terkasih, pada Hari Orang Sakit Sedunia ini, saya juga mengundang para penguasa untuk lebih menginventasikan lagi sistem-sistem kesehatan yang dapat menyediakan bantuan dan dukungan bagi yang menderita, terlebih mereka yang paling miskin dan yang paling membutuhkan. Dan bagi semua keuskupan, saya menyampaikan salam kasih kepada para uskup, para imam, kaum religius, para seminaris, para petugas kesehatan, para sukarelawan dan semua orang yang membaktikan dirinya dengan kasih untuk merawat dan meringankan luka-luka setiap saudara-saudari yang sakit, di rumah-rumah sakit atau di panti-panti perawatan, maupun dalam keluarga. Dalam wajah-wajah orang-orang yang sakit itu, ketahuilah bagaimana agar dapat melihat Wajah di antara wajah-wajah itu: Wajah Kristus sendiri.

Saya kenangkan kamu semua dalam doa saya, seraya memberikan berkat khusus apostolik kepada kamu masing-­masing.

Dari Vatikan, 21 November 2010
Pada Pesta Kristus Raja Semesta Alam
Benediktus XVI

Catatan: Terjemahan dan publikasi awal oleh Karya Kepausan Indonesia, Jl. Cut Mutia 10 Jakarta, 17 Januari 2011

Katekis: Pelaksana tugas Gereja mengajar

17

1. Panggilan hidup sebagai Katekis

Siapa itu katekis? Katekis adalah semua umat beriman kristiani, baik klerus maupun awam yang dipanggil dan diutus oleh Allah menjadi seorang pewarta Sabda Allah. Dengan kata lain profesi kehidupan seorang katekis adalah mengajar, mewartakan Sabda Allah. Kita harus menyadari bahwa pewartaan Sabda Allah adalah bagian penting dari tugas pokok Gereja. Pewartaan Sabda Allah adalah juga tugas pokok dari semua umat beriman sebagai murid-murid Kristus. Hal itu diperintahkan oleh Kristus kepada murid-muridNya: “Pergilah jadikanlah  semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu” (Mat. 28,19). Lebih jelas dan terang lagi dalam Markus 16, 15-16: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum”. Dari apa yang telah dijelaskan di atas jelas bahwa seorang katekis tidaklah harus seorang awam, kleruspun adalah katekis. Pastor paroki adalah katekis utama (katekis dari para katekis) dalam parokinya yang bertugas mengajar agama dan moral kristiani kepada umat yang dipercayakankan kepadanya. Sangat disayangkan, tidak banyak Pastor atau katekis yang bekerja di Paroki tekun dalam pengajaran bagi umat (katekese bagi anak-anak, remaja, mudika, orang tua, pembinaan umat tahap mistagogi sesudah komuni pertama, pembinaan keluarga pasca perkawinan tidak terurus). Katekese hanya sebatas pendalaman iman pada masa Prapaskah (APP) dan masa Advent (AAP) saja, bukan menjadi kegiatan rutin bulanan..

Pada hal dalam Hukum Gereja, tugas mengajar adalah bagian penting dan utama dari Gereja di tengah dunia seperti tercantum dalam Buku III, dengan judul “Tugas Gereja Mengajar”.

Kan. 747, # 1: “Kepada Gereja dipercayakan oleh Kristus Tuhan khazanah iman agar Gereja dengan bantuan Roh Kudus menjaga kebenaran yang diwahyukan tanpa cela, menyelidikinya secara lebih mendalam serta memaklumkannya dan menjelaskannya dengan setia. Gereja mempunyai tugas dan hak asasi untuk mewartakan Injil kepada segala bangsa, pun dengan alat-alat komunikasi sosial yang dimiliki Gereja sendiri, tanpa tergantung dari kekuasaan insani manapun juga.

# 2. Berwenang untuk selalu dan di mana-mana memaklumkan asas-asas kesusilaan, pun yang menyangkut tata-kemasyarakatan dan untuk membawa suatu penilaian tentang segala hal-ikhwal insani, sejauh hak-hak asasi manusia atau keselamatan menuntutnya”.

Panggilan menjadi Katekis adalah panggilan luhur yakni mengambilbagian dalam tugas pengajaran Yesus Kristus di dunia sebagai guru/nabi. Katekis di Paroki tidaklah selalu formal yakni mereka yang memiliki ijazah bidang studi keteketik tetapi umat awam yang memiliki semangat belajar dan mampu mengajarkan iman katolik secara baik dan benar juga dapat menjadi katekis Paroki.

2. Tugas pokok seorang Katekis

Berbicara tentang tugas pokok katekis, dapat kita lihat dalam uraian KHK, 1983 kan. 773:  “Menjadi tugas khusus dan berat, terutama bagi para gembala rohani, untuk mengusahakan katekese umat kristiani agar iman kaum beriman melalui pengajaran agama dan melalui pengalaman kehidupan kristiani, menjadi hidup, disadari dan penuh daya”.

1. Mewartakan Sabda Allah

Jelas dalam teks tersebut tercantum tugas pokok katekis adalah mewartakan Sabda Allah melalui pengajaran agama (katekese), membagi pengalaman hidup kristiani, dan penghayatan hidup beriman. Katekis bersama Pastor paroki yang juga katekis bertugas mengajar iman umat Allah yang dipercayakan kepadanya. Bukan saja bagi para orang tua tetapi mulai dari anak-anak sampai dengan kakek-nenek, semua usia, semua golongan. Itulah yang disebut dengan Bina Iman yang berkesinambungan. Sering Pastor sibuk dan kurang memberikan waktu bagi pembinaan, maka katekislah yang mengajar umat beriman. Mengajar umat beriman bukan saja dengan kata-kata melainkan dituntut kesaksian hidup dari seorang katekis.

2. Memberi Kesaksian

Pengajaran adalah proses pengalihan ilmu, ajaran, ide, gagasan, informasi, pokok pikiran, pengalaman kepada seseorang anak didik (pendengar). Proses pentransferan itu adalah agar anak didik (pendengar) setelah menerima pengajaran memahami apa yang diajarkan oleh gurunya dan menerima materi pengajaran itu sebagai miliknya. Katekese adalah sebuah proses pengajaran agama dan moral kristiani kepada umat. Tujuannya adalah agar umat beriman semakin diteguhkan imannya, diperkaya, dibaharui sehingga mampu menjadi saksi dari ajaranNya. Tujuan pengajaran agama itu tercapai bila katekis tidak hanya memberi pengetahuan ajaran, informasi, gagasan melainkan juga kesaksian hidup dari katekisnya. Orang akan lebih mudah menerima pengajaran agama dengan contoh, kesaksian hidup dari pada hanya ajaran, ide, gagasan saja. Hendaknya apa yang diajarkan sesuai dengan apa yang dipraktekkan dalam kehidupan oleh katekis sendiri. Bukan sebaliknya, kesaksian hidup seorang katekis menjadi batu sandungan bagi umat beriman atau bagi calon baptis. Karena itu, seorang katekis memiliki spiritualitas yang utuh dan dewasa berfungsi seperti seorang gembala.

Dengan kata lain, kesaksian hidup katekis/guru agama adalah penting bagi umat beriman. Oleh karena itu dibutuhkan keselarasan antara pengajaran dan praktek hidup. Untuk itu, sikap yang dituntut seorang katekis/guru agama adalah mengamalkan apa yang diajarkan kepada umat beriman. Dia harus memberi contoh hidup apa yang diajarkan kepada umatnya. Bukan sebaliknya justru menjadi batu sandungan dan menghalangi umat beriman untuk mengetahui tentang ajaran kristiani dan mengenal Yesus Kristus sebagai Tuhan dan penyelamat.

3. Spiritualitas seorang Katekis

Spiritualitas seorang katekis bersumber pada katekis ulung dan sejati kita yakni Yesus Kristus. Dialah Guru sejati, sang gembala agung yang mengajar dengan sempurna baik perkataan dan perbuatan kepada umat-Nya.

1. Kesetiaan terhadap Sabda Allah

Kristus menyerahkan diri kepada para rasul (Gereja) misi untuk mewartakan Kabar Baik kepada semua bangsa. Pewartaan kabar baik kepada semua bangsa dengan menyalurkan iman, menyingkapkan, dan mengalami panggilan kristiani. Supaya pelayanan Sabda sungguh kena sasaran, katekis hendaknya menyadari konteks kehidupan umat dan kesaksian hidupnya. Hendaklah katekis memperhatikan pewartaan eksplisit misteri Kristus kepada umat beriman, kepada mereka yang tidak percaya dan bukan Kristiani. Kesadaran mutlak perlunya bertumpu pada Sabda Allah dan tetap setia terhadap Sabda Allah, tradisi Gereja, untuk menjadi murid-murid Kristus yang sejati dan mengenal kebenaran (bdk. Yoh. 8:31-32).

2. Sabda dan kehidupan

Kesadaran akan misinya sendiri untuk mewartakan Injil selalu harus diungkapkan secara konkret dalam hidup berpastoral bagi seorang katekis. Pelbagai situasi kehidupan berparoki sebagai tempat pelayanan dilaksanakan akan hidup dalam terang Sabda Allah. Para katekis/guru agama hendaknya senantiasa hidup dalam Sabda Allah. Semangat hidup itu didorong oleh Rasul Paulus yang berseru: “Celakalah aku, kalau tidak mewartakan Injil” (I Kor. 9:16), para katekis hendaknya tahu bagaimana memanfaatkan seluruh sarana dan media komunikasi untuk mewartakan Sabda Allah. Pewartaan Sabda Allah begitu mendesak karena masih begitu banyak orang belum mengenal Kristus. Hal itu mencerminkan seruan Paulus: “Bagaimana mereka dapat percaya akan Dia (Yesus Kristus Tuhan), jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya?” (Rom. 10:4).

3. Sabda dan Katekese

Katekese memainkan peranan penting sekali dalam misi pewartaaan Injil, upaya yang utama untuk mengajarkan dan mengembangkan iman (bdk. Yohanes Paulus II, Anjuran Apostolik; “Catechesi Tradendae” tgl. 16 Oktober 1979, AAS, 71, 1979). Para katekis termasuk di dalamnya Imam (katekis) rekan kerja Uskup hendaknya mengkoordinasi dan membimbing kegiatan katekese jemaat yang dipercayakan kepadanya. Sebagai guru dan pembina iman, Imam dan  katekis/guru agama hendaknya menjamin agar katekismus, khususnya berkenan dengan sakramen-sakramen, merupakan bagian utama pendidikan Kristiani jekuarga dan pelajaran agama.

4. Penutup

Gereja lokal akan kokoh kuat jika iman umat beriman juga kuat. Iman akan kuat jika ada katekese, pengajaran/pembinaan iman jemaat secara berkesinambungan dan berjenjang (mistagogi). Meskipun demikian tugas ini kadang tidak dijalankan. Pada hal inilah tugas utama Gereja: mewartakan Injil kabar gembira kepada semua bangsa. Oleh karena itu melalui semangat kanon 747 dan 773, para katekis hendaknya melayani tanpa pamrih, berkorban, mengutamakan pelayanan kepada umat, mampu bekerjasama dengan Pastor Paroki, bekerjasama dengan umat agar pelayanan iman dan kehidupan rohani umat dapat terurus dengan baik. Pembinaan bagi para katekis oleh komisi Kateketik di tingkat keuskupan sudah merupakan tuntutan, demi peningkatan mutu/kualitas para katekis dan pembaharuan diri dalam pelayanan dan pewartaannya.

Kepustakaan:

1.      Yohanes Paulus II, Anjuran Apostolik; “Catechesi Tradendae” tgl. 16 Oktober 1979, AAS, 71, 1979.

2.      Codex Iuris Canonici 1983, PP John Paul II.

3.      Exegetical Commentary on the Code of Canon Law, Faculty of Canon Law University Navarre, Chicago 2004.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab