Home Blog Page 19

Memulai Tahun Baru bersama Sang Ibu

0
Sumber gambar: https://i0.wp.com/i.huffpost.com/gen/891237/images/o-MOTHER-MARY-facebook.jpg

[Hari Raya Santa Maria Bunda Allah: Bil 9:1-6; Mzm 67:2-8; Gal 4:4-7; Luk 2:16-21]

Di hari pertama dalam setiap tahun, yang jatuh tepat seminggu setelah perayaan Natal, Gereja memperingati Hari Raya Santa Maria Bunda Allah. Begitu pas urutan ini, sebab Gereja mengajarkan bahwa setelah Kristus, Bunda Maria menempati urutan yang tertinggi dan terdekat dengan Allah karena perannya sebagai ibu yang mengandung dan melahirkan Tuhan Yesus Kristus. Maka setelah kita bersyukur kepada Allah atas kelahiran Putra-Nya Yesus Kristus ke dunia, kita pun bersyukur kepadaNya atas rencana keselamatan-Nya yang melibatkan Bunda Maria, Ibu-Nya. Bunda Maria telah dikuduskan Allah, karena tugasnya menjadi ibu bagi Putra-Nya Yesus Kristus. Perannya sebagai Bunda Allah itulah yang menjadikan Bunda Maria seorang yang istimewa dalam sejarah umat manusia. Hal ini tersirat dalam perkataan Bunda Maria sendiri dalam Kidung Magnificat, “Segala keturunan akan menyebutku berbahagia….” Dan betapa nubuat ini tergenapi, salah satunya dalam perayaan pada hari ini. Seluruh Gereja merayakan peran Santa Perawan Maria sebagai Bunda Allah.

Gereja menyadari bahwa rencana keselamatan Allah bagi manusia dapat terwujud karena kerjasama Bunda Maria. Kristus tidak langsung datang dari langit, tetapi mengambil rupa manusia, menjadi seorang bayi dalam rahim yang murni, dari Perawan Maria. Memang sebagai Allah, Kristus telah ada sejak kekekalan bersama Allah Bapa; tetapi “setelah genap waktunya” (Gal 4:4), Ia diutus Allah Bapa untuk masuk ke dalam sejarah umat manusia, lahir dari seorang perempuan, dan perempuan ini adalah Maria. Maka sesungguhnya, sebutan “Bunda Allah” ini adalah konsekuensi dari iman kita. Karena kita percaya bahwa Yesus adalah Allah, maka ibu yang melahirkanNya kita sebut sebagai Bunda Allah. Bukankah Elisabet yang dipenuhi Roh Kudus juga mengenali Maria sebagai “Bunda Tuhan” (Luk 1:43)? Semoga Roh Kudus yang sama yang menerangi St. Elisabet dan St. Lukas yang menuliskannya di dalam Injil, juga menerangi pikiran dan hati kita, supaya kitapun tidak ragu memanggil Bunda Maria sebagai Bunda Allah.

Maka, jika kita memanggil Bunda Maria sebagai Bunda Allah, itu bukan semata penghormatan kepadanya, tetapi juga penghormatan dan syukur kepada Allah yang telah menciptakan dan memilihnya. Mari kita jangan sampai lupa, bahwa kedatangan Kristus ke dunia didahului oleh ketaatan Sang Perawan Maria. Jika kita sampai dapat menerima Kristus, bukankah kita pun patut menerima ibu yang melahirkan dan membesarkan-Nya? Jika kita dapat menerima rahmat keselamatan dari Allah, bukankah selain kita bersyukur kepada Allah kita pun perlu berterima kasih kepada Bunda Maria yang membawa Sang Sumber Rahmat itu kepada kita? Sebab dalam karya pengorbanan dan kasih Kristus, terjalin pula pengorbanan dan kasih Bunda Maria yang menghantarkan-Nya. Semoga mata rohani kita dapat melihat bahwa rahmat keselamatan Allah mengalir kepada kita lewat Bunda Maria sebagai salurannya! Maka dalam hal ini patutlah kita pun memanggil Bunda Maria sebagai ibu. Sebagaimana kita memanggil ibu kepada ia yang melahirkan kita secara jasmani; demikianlah, kitapun memanggil ibu kepada Bunda Maria, yang melahirkan kita secara rohani. Bunda Maria adalah ibu rohani bagi kita, sebab ia telah melahirkan Kristus Sang Hidup, yang di dalamNya kita dapat beroleh hidup ilahi: hidup yang kekal. Gereja mengajarkan, “Ditentukan sejak kekekalan—oleh keputusan penyelenggaraan ilahi yang menetapkan inkarnasi Sang Sabda—untuk menjadi Bunda Allah, Perawan yang Terberkati adalah di dunia ini Bunda Perawan dari Sang Penebus, dan di atas segalanya dan dengan cara yang satu-satunya, adalah sang pendamping yang murah hati dan hamba Tuhan yang rendah hati. Ia mengandung, melahirkan dan membesarkan Kristus. Ia mempersembahkan-Nya kepada Bapa di kenisah, dan ikut menderita bersama Puteranya yang wafat di kayu salib. Dengan cara yang satu-satunya ini, ia bekerjasama dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta kasihnya yang berkobar di dalam karya Sang Juru Selamat untuk mengembalikan hidup adikodrati bagi jiwa-jiwa. Oleh karena itu dalam tata rahmat ia menjadi Bunda kita.” (Konsili Vatikan II, Lumen Gentium, 61)

Sebagai ibu yang melahirka n Yesus, Bunda Maria mendampingi Yesus di saat awal kehidupan-Nya. Bunda Maria juga ada bersama Yesus saat Yesus melakukan mukjizat-Nya yang pertama (bahkan mukjizat itu dilakukan atas permohonannya), dan selalu menyertai Yesus sampai wafat-Nya di kayu salib. Setelah diberikan Tuhan Yesus kepada para murid-Nya (lih. Yoh 19:26-27), Bunda Maria senantiasa mendampingi mereka. Ia turut berdoa memohonkan pencurahan Roh Kudus atas para murid itu sebagai Gereja, sampai kepada hari Pentakosta. Bunda Maria hadir di saat-saat penting dalam hidup Tuhan Yesus dan Gereja. Bagaimana dengan kita? Adakah kita mengikutsertakan Bunda Maria—ibu rohani kita—dalam saat-saat penting dalam kehidupan kita? Bagaikan anak yang datang meminta doa restu ibu sebelum memulai suatu perjalanan ataupun menempuh ujian, marilah kita datang memohon doa restu Bunda Maria, sebelum memulai Tahun Baru ini. Bunda Maria yang selalu setia mendampingi Tuhan Yesus sampai akhir hidup-Nya di dunia, juga akan selalu setia mendampingi kita. Mari kita mengikuti teladan Bunda Maria, untuk menyerahkan seluruh hidup kita ke dalam pimpinan tangan Tuhan, dan “menyimpan segala perkara di dalam hati dan merenungkannya” (Luk 2:19), sebab di dalam perkara hidup kita ada rencana Allah yang indah yang dapat mengarahkan kita kepada keselamatan kekal.

“Ya, Bunda Maria yang penuh kasih, di awal tahun yang baru ini, kami serahkan kepadamu diri kami dan segenap keluarga kami. Sudilah engkau menyertai dan melindungi kami sekeluarga dengan doa-doamu. Semoga kami menjadi anak-anak yang taat, berhati tulus dan murni, serta saling mengasihi dengan segenap hati. Semoga kami Kau bawa setiap hari menjadi semakin dekat kepada Yesus Kristus Putramu, Tuhan dan dan Juruselamat kami. Amin.”

Selamat Datang, Tuhan Yesus!

0
Sumber gambar: http://www.therelentlessbuilder.com/2014/12/merry-christmas-and-happy-birthday-jesus.html

[Malam Natal: Yes 9:1-6; Mzm 96:1-13; Ti 2:11-14; Luk 2:1-14]

Di awal Bacaan Injil kita mendengar, bahwa peristiwa kelahiran Tuhan Yesus di Betlehem tak terpisahkan dari perintah sensus yang dikeluarkan oleh Kaisar Agustus pada waktu itu. Maka semua orang pergi mendaftarkan diri di kota asalnya, termasuk St. Yusuf dan Bunda Maria. Mereka pergi ke Betlehem, kota Daud, bapa leluhur mereka. Mungkin tak terbayangkan bagi kita sekarang, bagaimana melakukan perjalanan dari Nazareth di Galilea ke Betlehem, yang mungkin memakan waktu empat atau lima hari, dengan berjalan kaki, atau yang sering kita lihat di gambar-gambar Natal, Bunda Maria menaiki keledai, dengan dituntun oleh St. Yusuf di sampingnya. Tentunya keduanya begitu lelah begitu sampai di Betlehem. Namun seolah kelelahan itu belum cukup, mereka masih mesti menerima kenyataan, bahwa “tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (Luk 2:7). Mungkin St. Yusuf sudah mengetuk banyak pintu, dan bertanya adakah tempat bagi mereka, namun jawab yang mereka terima, “Maaf, tidak ada.” Mungkin St. Yusuf sudah mencoba menjelaskan bahwa mereka datang dari jauh, memohon dengan penuh harap… dan Bunda Maria berdiri beberapa meter darinya, menunggu di dekat keledai itu, dan mendengar penolakan demi penolakan. Mereka tidak mengizinkan Kristus masuk. Betapa dinginnya dunia ini terhadap Tuhannya!

Namun syukurlah akhirnya mereka menemukan tempat untuk beristirahat, di salah satu gua yang terletak di pinggir kota, yang umum digunakan juga sebagai kandang hewan. Bunda Maria mungkin menghibur St. Yusuf dengan senyumnya, “Tak apa, jangan kuatir Yusuf, kita akan baik-baik saja di sini…” Dan Bunda Maria mulai mengeluarkan apa yang dibawanya dari Nazareth: kain lampin dan mungkin juga benda-benda lain yang telah ia siapkan untuk sang Bayi, dengan sukacita seorang ibu yang menantikan kelahiran anaknya. Di sanalah, di kandang itu, terjadilah peristiwa terbesar di sepanjang sejarah manusia, dengan kesederhanaan yang sepenuhnya. Yesus Kristus, Sang Putra Allah, lahir sebagai manusia, melalui Perawan Maria. Mungkin baik Bunda Maria dan St. Yusuf memandang sang Bayi itu dengan rasa takjub dan syukur. Bagaimana Allah telah memilih mereka untuk menjaga, melindungi dan mengasihi Sang Bayi kecil ini, yang adalah Sang Mesias yang telah dinubuatkan berabad-abad lamanya oleh para nabi! Bunda Maria mungkin mencium kaki Bayi Yesus, dan tunduk menyembah-Nya, … “Terimalah salam hormatku, ya Tuhan.” Namun juga berbisik, “O, Anakku, betapa ibu-Mu sayang kepada-Mu!” dan mencium pipi-Nya penuh haru, sebab Bayi yang kudus itu adalah juga Anaknya! Bunda Maria yang menyimpan segala sesuatunya di dalam hatinya, tentu melewati saat-saat istimewa itu dengan memandang Yesus dengan tatapan kasih tanpa henti; memeluk-Nya dalam dekapannya dan menyenandungkan lagu untuk membuat-Nya lelap. Ketika Bunda Maria memberikan Bayi Yesus kepada St. Yusuf, ia pun memandang-Nya, sambil mengingat kembali apa yang dikatakan malaikat itu kepadanya. Bahwa Bayi ini adalah Anak Allah, Sang Imanuel, Yesus, yang berarti Allah yang menyelamatkan umat-Nya. Adalah tugasnya untuk menjaga dan melindungi Bayi ini dan ibu-Nya, dan ini adalah tugas yang dipercayakan Allah kepadanya….

Dibungkus dengan kain lampin,  kemudian Yesus dibaringkan di dalam palungan. Ia dilahirkan sebagai Seorang Bayi yang miskin. Ia yang adalah Empunya seluruh alam semesta, memilih untuk datang ke dunia tanpa membawa apa-apa. Dengan demikian Ia mengajarkan kepada kita bahwa kebahagiaan tidak untuk ditemukan dalam kelimpahan benda-benda duniawi. “Ia merendahkan diri-Nya supaya kita dapat datang mendekat kepada-Nya, supaya kita dapat memberikan cinta kasih kita sebagai balasan bagi cinta kasih-Nya, sehingga kehendak bebas kita dapat tunduk, tidak semata-mata pada pandangan akan kekuatan-Nya tetapi pada kerendahan hati-Nya yang mengagumkan” (St. Jose Maria Escriva, Christ is passing by, 14).

Di hari yang istimewa ini, mari kita meresapkan apa yang dikatakan oleh Paus Fransiskus, “Hari ini, Putra Allah lahir, dan semuanya berubah. Sang Juruselamat dunia datang untuk mengambil bagian dalam kodrat manusiawi kita. Kita tidak lagi sendirian dan ditinggalkan. Sang Perawan Maria mempersembahkan kepada kita Putranya sebagai awal kehidupan baru. Terang yang sejati telah datang untuk menerangi hidup kita, yang kerap ditimpa kegelapan dosa. Hari ini kita sekali lagi menemukan siapakah kita! Hari ini kita telah ditunjukkan jalan untuk mencapai akhir perjalanan. Kini kita harus membuang semua ketakutan dan rasa ngeri, sebab terang itu menunjukkan jalan ke Betlehem… Kita mesti berangkat untuk melihat Juruselamat kita yang terbaring di palungan. Ini adalah alasan bagi sukacita kita: Anak ini telah “lahir untuk kita”, Ia “diberikan kepada kita”, sebagaimana dikatakan oleh Nabi Yesaya (lih. Yes 9:5)… Maka ketika kita mendengar kisah kelahiran Kristus, mari kita hening dan membiarkan Anak itu berbicara. Mari meresapkan perkataan-Nya saat kita tenggelam dalam pandangan akan wajah-Nya. Jika kita menggendong-Nya dalam pelukan kita, biarkan diri kita dipeluk oleh-Nya, Ia akan membawa kita kepada rasa damai di hati, yang takkan berakhir. Ia telah lahir dalam kemiskinan dunia ini; tak ada tempat di rumah penginapan bagi-Nya dan keluarga-Nya. Ia menemukan tempat perlindungan di sebuah kandang dan dibaringkan di sebuah palungan [tempat makan] bagi hewan. Tetapi, dari kepapaan ini, terang kemuliaan Tuhan terpancar ke luar. Sejak saat itu, jalan pembebasan yang otentik dan penebusan yang abadi terbuka kepada setiap manusia, yang sederhana hatinya. Anak ini, yang wajah-Nya memancarkan kebaikan, kerahiman dan kasih Allah Bapa, mendidik kita, para murid-Nya, sebagaimana dikatakan Rasul Paulus, “untuk meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dunia sekarang ini” (Ti 2:12)…. Seperti para gembala di Betlehem, semoga kita pun, dengan mata yang penuh kekaguman, memandang Kanak-kanak Yesus, Sang Putra Allah. Dan di dalam hadirat-Nya semoga hati kita bersorak menyambut-Nya dalam doa, ‘Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya Tuhan, dan  berikanlah kepada kami keselamatan dari pada-Mu’ (Mzm 85:8)!”  (Paus Fransiskus, Homili Malam Natal, 2015)

Merindukan Yesus dengan hati tak terbagi

0
Sumber gambar: https://olmcridgewoodresources.wordpress.com/2013/12/04/making-a-clay-advent-wreath/

[Minggu Adven IV: Yes 7:10-24; Mzm 24:1-6; Rm 1:1-7; Mat 1:18-24]

Tak terasa, kita telah sampai di Minggu terakhir Adven. Bacaan sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk merenungkan penggenapan janji Allah untuk menyelamatkan kita. Itulah sebabnya kita mempunyai pengharapan yang teguh, dan masa Adven ini adalah masa untuk meneguhkan kembali pengharapan kita; masa untuk memupuk rasa rindu akan kedatangan-Nya kembali dalam hati kita. Mungkin pertanyaannya adalah, sejauh mana aku telah mempunyai kerinduan itu, untuk bertemu dengan Yesus Tuhanku?

Bacaan Pertama hari ini mengisahkan tentang nubuat Nabi Yesaya (700 SM), yang disampaikannya untuk menasihati Raja Ahas. Saat itu Raja Ahas, Raja Yehuda, sedang membangun koalisi dengan Raja Assyria (sekarang daerah Irak), karena takut kalah dari Raja Israel yang berkoalisi dengan Raja Suriah. Mungkin Raja Ahas berpikir, dengan demikian ia bisa menyelamatkan bangsanya dan mendatangkan damai sejahtera kepada rakyatnya. Ia mengandalkan pemikiran dan kekuatannya sendiri untuk menyelesaikan masalahnya. Maka sebenarnya, perkataan Raja Ahas bahwa ia tak mau mencobai Tuhan, tidaklah sesuai dengan kenyataan. Sebab sebaliknya, ia sedang mencobai Tuhan dengan berkukuh memegang kehendaknya sendiri, tanpa mengindahkan kehendak Allah yang tidak berkenan dengan persekutuan dengan bangsa Assyria ini, yang membawa pengaruh penyembahan berhala kepada umat-Nya. Sebagai nabi Allah, Yesaya mengetahui isi hati Raja Ahas, dan menegurnya. Sebagai tanggapannya, Nabi Yesaya memberikan nubuatan yang menjadi janji Allah. Bahwa Allah sendiri akan menyelamatkan umat-Nya. Datangnya keselamatan yang dari Allah nampak dari suatu tanda besar yang belum ternah terjadi sebelumnya. Yaitu seorang perawan akan melahirkan seorang Anak laki-laki, dan Anak itu akan disebut Imanuel, yang artinya: “Allah menyertai kita” (lih. Yes 7:10-24).

Pikir punya pikir, mungkin kitapun kadang bersikap seperti Raja Ahaz, yang lebih mengandalkan pemikiran, kekuatan dan kehendak sendiri, daripada mengandalkan Tuhan. Kita terikat dengan berbagai pandangan dan banyak hal di dunia ini, sehingga sulit bagi kita untuk secara total berpasrah  kepada Tuhan. Sikap terlalu terikat pada diri sendiri dan pada dunia ini, membuat kita tidak dapat dengan sepenuhnya mengharapkan Tuhan dan merindukan kedatangan-Nya. Pasalnya, kita seperti punya rencana sendiri dalam hidup kita: plan A, kalo nggak berhasil, plan B, dan kalo kepepet, plan C. Tapi masalahnya, apakah sebelum membuat rencana, kita setulusnya mencari kehendak Tuhan? Dan tetap menyerahkan segala sesuatunya kepada pimpinan-Nya? Mungkin kita punya banyak rencana di tahun depan, atau bahkan saat ini sedang sibuk melaksanakan sebagian dari rencana kita. Namun Minggu ini kita diajak untuk berhenti sejenak dan merenung, apakah semua rencana kita itu sudah kita bawa dalam doa? Sudahkah kita berpikir, apakah rencanaku adalah pilihan yang terbaik, jika ditinjau dari sisi: sejauh mana hal itu dapat membawaku kepada keselamatan kekal? Menjadikanku lebih kudus? Membawa seluruh keluargaku lebih mengasihi Allah dan sesama? Memberitakan Injil Allah dan mewartakan kemuliaan Allah yang lebih besar?

Natal sebentar lagi tiba. Rasul Paulus mengingatkan bahwa kita “telah dipanggil untuk menjadi milik Kristus”, agar kita percaya dan taat kepadaNya, dan dijadikan-Nya orang-orang kudus (Rm 1:6-7). Jika kita  mengingat akan panggilan kita ini, tentu hati kita diliputi rasa syukur tanpa henti, sebab Kristus telah menjadikan kita milik-Nya sendiri. Betapa tidak, kita dijadikan “kekasih”-Nya! Bukankah orang-orang yang saling mengasihi akan saling merindukan satu sama lain? Demikianlah, jika kita sungguh mengasihi Kristus, dan menjadikan-Nya Kekasih jiwa kita, maka Natal merupakan peristiwa yang kita rindukan. Kedatangan-Nya kita nantikan dengan iman, dan ketaatan kepada-Nya. Di hari-hari menjelang Natal ini, mari kita membawa serta dalam pikiran dan hati kita, penantian St. Yusuf dan Bunda Maria. Sebab dari merekalah kita belajar nilai keteguhan iman dan ketaatan. Membiarkan kehendak Tuhan yang terjadi, dan bukan kehendak diri sendiri. Menyediakan diri kita seutuhnya demi terwujudnya rencana Tuhan. Bukankah ini kita lihat dari teladan Perawan Maria, yang memberikan diri sepenuhnya kepada Allah, sehingga nubuat Nabi Yesaya dapat tergenapi? Bukankah ini kita lihat juga dari  St. Yusuf, yang menaati perintah Tuhan, yang disampaikan oleh malaikat-Nya, dengan bersedia menerima Perawan Maria sebagai istrinya? (lih. Mat 1:18-24) Bunda Maria dan Santo Yusuf memberi teladan kepada kita, bagaimana menantikan penggenapan rencana Allah, dengan hati tak terbagi. Mereka taat sepenuhnya, merindukan Mesias dengan hati yang murni. Apa yang menjadi kehendak-Mu ya, Tuhan, terjadilah di hidupku…. Sejak saat itu kehidupan Bunda Maria dan Santo Yusuf hanya terpusat pada Yesus, Sang Putra Allah yang Mahatinggi. Bagaimana dengan aku: apakah atau siapakah pusat hidupku?

Hati yang murni dan tak terbagi. Bagaimana itu mungkin? Gereja selalu mengajarkan bahwa dengan bantuan rahmat Tuhan kita akan dimampukan untuk melakukan kebajikan kemurnian hati. Rahmat itu secara khusus kita terima dalam sakramen Ekaristi dan Sakramen Pengakuan Dosa, yang diterima secara teratur. Teratur maksudnya, bukan setahun sekali, atau setahun dua kali. Tetapi sedapat mungkin sebulan sekali menerima sakramen Pengakuan Dosa, dan Ekaristi setiap hari. Tentu penerimaan sakramen-sakramen tersebut, juga perlu diikuti oleh tindakan nyata sebagai tanda pertobatan dan pertumbuhan iman. Nah, mumpung lagi masa Adven, di awal tahun Liturgi, tak ada salahnya, kita membuat suatu niatan hati, untuk lebih berkomitmen dalam hal ini. Semoga dengan demikian, kita memperoleh rahmat Tuhan yang memampukan kita menyambut kedatangan Tuhan Yesus di hari Natal dengan kasih yang lebih penuh. Supaya masa Adven dan Natal bagi kita bukan hanya sekedar ngumpul-ngumpul dengan teman-teman dan sanak saudara, sibuk belanja ini itu, ngobrol soal politik bahkan lebih seru daripada merenungkan kedatangan Tuhan Yesus. Atau sebaliknya, lebih banyak melamun dan tak tahu harus berbuat apa. Atau sebaliknya lagi, sudah ikut pesta Natal ke sana ke mari padahal masih masa Adven… dan belum ngaku dosa, pula. Kalau demikian halnya, nampaknya harus diakui, sikap batin kita masih jauuhh sekali dari sikap batin Bunda Maria dan Santo Yusuf, saat menantikan kedatangan Tuhan Yesus. Padahal sejujurnya, persiapan kita untuk menyambut Tuhan sangatlah penting, atau bahkan paling penting. Archbishop Fulton Sheen berkata, “Hanya satu hal dalam hidup ini yang berarti. Ditemukan layak bagi Sang Terang Dunia pada saat kunjungan-Nya.” Sebab kunjungan-Nya di hari Natal  merupakan momen untuk mempersiapkan kita pada kedatangan-Nya kelak, yang menentukan, apakah kita dianggap-Nya pantas untuk dibawa-Nya serta ke dalam Kerajaan-Nya.

Saudara dan saudariku, mari memohon rahmat Tuhan, agar kita dapat menyambut Yesus dengan hati terarah kepada-Nya, dengan hati tak terbagi:

Ya Yesus, curahkanlah rahmat-Mu kepada kami, agar kami bertumbuh dalam kasih dan kerinduan akan kedatangan-Mu, yang telah memilih kami menjadi milik-Mu. Supaya di hari-hari ini kami berusaha bertumbuh dalam kasih; supaya Engkau menemukan kami berada dalam hadirat-Mu, bersukacita menyambut kedatangan-Mu dengan sepenuh hati. Amin.”  

Kedekatan dengan Yesus membawa sukacita

0
Sumber gambar: Sumber gambar: https://familyformationblog.net/2014/12/13/advent-week-3-prayer-and-reflection-for-busy-households/

[Minggu Adven III: Yes 35:1-10; Mzm 146:7-10; Yak 5: 7-10; Mat 11:2-11]

Minggu ini disebut sebagai Minggu Gaudete, artinya, Minggu Sukacita. Kita diingatkan bahwa kita telah melewati pertengahan masa Adven, masa penantian kita akan perayaan Kelahiran Kristus. Warna liturgi hari ini, yaitu pink atau merah muda dimaksudkan untuk menunjukkan nuansa sukacita, karena kedatangan Kristus sudah semakin dekat. Ini jelas kita dengar dalam Antifon Pembuka: “Bersukacitalah selalu dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan bersukacitalah! Sebab Tuhan sudah dekat.”

Pertanyaannya: Sudahkah kita sungguh bersukacita karena Tuhan sudah dekat? Atau mungkin, pertanyaannya bisa diubah demikian: apakah kita merindukan sukacita karena Tuhan begitu dekat? Nah, kabar gembiranya adalah, Tuhan Yesus memang datang ke dunia, untuk memberikan sukacita kepada kita. Paus Fransiskus di awal Ekshortasi Apostoliknya, Evangelii Gaudium, mengatakan, “Sukacita Injil memenuhi jiwa-jiwa dan hidup semua orang yang berjumpa dengan Yesus. Mereka yang menerima tawaran keselamatan-Nya, dibebaskan dari dosa, dukacita, kekosongan hati dan kesendirian. Dengan Kristus, sukacita terus menerus lahir secara baru… Saya mengundang semua umat Kristen, di manapun, pada saat ini, untuk memperbaharui perjumpaan pribadinya dengan Yesus Kristus, atau setidak-tidaknya keterbukaan untuk membiarkan Dia menjumpai mereka. Saya meminta agar semua dari kalian melakukan ini setiap hari tanpa henti. Tak seorang pun boleh berpikir bahwa undangan ini tidak ditujukan kepadanya, sebab ‘tak seorangpun yang dikecualikan dari sukacita yang dibawa oleh Tuhan’.” (EG, 1,3).

Mengapa perjumpaan dengan Yesus membawa sukacita? Sebab kedatangan-Nya selalu membawa pemulihan dan kebaikan yang kita rindukan. Nabi Yesaya mengatakan, “mata orang-orang buta akan dicelikkan, telinga orang-orang tuli akan dibuka; orang lumpuh akan melompat seperti rusa dan mulut orang bisu akan bersorak sorai” (Yes 35:5). Tuhan Yesus menggenapi perkataan Nabi Yesaya ini. Dan ketika ditanya oleh para murid Yohanes Pembaptis yang bertanya kepada-Nya, apakah Ia adalah Mesias yang akan datang itu, Yesus berkata, “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, … Berbahagialah orang yang tidak sangsi dan tidak menolak Aku” (Mat 11:4-5). St. Yohanes Krisostomus mengatakan, Yohanes Pembaptis menyuruh para murid-Nya untuk menanyakan hal tersebut kepada Yesus, bukan karena ia meragukannya atau karena ia tidak tahu tentangnya. Sebab Yohanes Pembaptislah yang pertama-tama  telah mengenali Yesus, ketika melihat-Nya dan ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29); dan dengan demikian mengenali Yesus sebagai Mesias yang akan menderita dan menjadi korban tebusan bagi umat manusia. Namun Yohanes Pembaptis menghendaki agar  para muridnya mengenal Yesus sebagai Mesias langsung dari Tuhan Yesus sendiri, dari perjumpaan dengan-Nya. St. Krisostomus menjelaskan tanggapan Yesus: “Maka Ia [Yesus] mengendaki mereka [para murid Yohanes Pembaptis] mengetahui dari mukjizat-mukjizat-Nya dan dengan demikian menyampaikan ajaran-Nya kepada mereka dengan lebih jelas, tanpa kesangsian. Sebab kesaksian dari perbuatan lebih kuat daripada kesaksian dari perkataan. Karena itu, Ia langsung menyembuhkan orang-orang buta, lumpuh, dan banyak yang lain, bukan demi Yohanes yang sudah mengetahui [tentang-Nya sebagai Mesias], tetapi demi mereka yang lain yang meragukan-Nya. Sebab dikatakan, “Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik…” (St. John Chrysostom, Catena Aurea, Mat 11:2-6).

Kita pun pernah mendengar berbagai kesaksian tentang mukjizat Tuhan Yesus, atau bahkan telah mengalaminya sendiri. Namun sejauh mana kita sudah bersukacita dan bersyukur kepada-Nya? Sebab kesaksian tentang perbuatan Yesus yang ajaib dan pertolongan-Nya yang dinyatakan di dalam kehidupan orang-orang yang percaya kepada-Nya—termasuk dalam kehidupan kita—masih terus terjadi sampai saat ini. Hal ini semestinya membangkitkan di dalam diri kita sukacita dan kerinduan untuk semakin  mengenal dan mengasihi Dia, menyambut-Nya sebagai Tuhan dan Raja dalam kehidupan kita. Tuhan begitu mengasihi kita, sampai Ia mau mengambil rupa manusia untuk menjumpai kita. Bukankah ini sungguh adalah Kabar Sukacita?

Maka sungguh benar apa yang dikatakan oleh Paus Fransiskus, “Pesan Kristiani disebut ‘Injil” yaitu Kabar Gembira, sebuah berita sukacita bagi semua orang. Gereja bukanlah sebuah tempat naungan orang-orang murung, tetapi Gereja adalah rumah sukacita! Sukacita Kristiani, seperti halnya pengharapan, memiliki fondasi pada kesetiaan Allah, dalam kepastian bahwa Ia selalu menepati janji-janji-Nya… Dalam liturgi, undangan untuk bersukacita, untuk bangun, bergema berkali-kali, sebab Tuhan itu dekat, Natal pun dekat. Seperti seorang ibu, Gereja mendorong kita untuk mengikuti dengan setia, jalan rohani agar kita merayakan Natal dengan luapan kegembiraan yang selalu baru….” (Paus Fransiskus, Minggu  Advent ketiga, 2013) Mari dengan sukacita yang baru kita menyambut Natal yang sudah di ambang pintu. Tuhan Yesus yang 2000 tahun lalu telah datang dan membawa banyak pemulihan, juga datang dan akan datang membawa pemulihan yang sama di masa kini, demi keselamatan kita. Betapa kita layak bersyukur dan bersukacita!

Tuhan Yesus, Engkaulah sukacita kami. Kasih setia-Mu sungguh tak ada habisnya. Di Minggu Sukacita ini, nyalakanlah di hati kami, kerinduan akan Engkau, yang sebentar lagi kami sambut secara baru dalam perayaan Natal. Biarlah Bunda-Mu dan Bunda kami, Perawan Maria, membantu kami untuk bergegas mempersiapkan diri, untuk menjumpai Engkau yang lahir bagi kami, demi keselamatan dan sukacita bagi semua umat manusia. Amin.”

Dari Yesaya ke Yohanes Pembaptis: dari keadilan ke kedamaian

0
Sumber gambar: http://www.lifeway.com/Article/devotions-christmas-advent-week-two-prepare

[Minggu Adven II: Yes 11:1-10; Mzm 72:1-17; Rm 15: 4-9; Mat 3:1-12]

Minggu ini kita mendengar seruan dua orang nabi:  Yesaya dan Yohanes Pembaptis. Nabi Yesaya memberikan gambaran akan sebuah tunas sampai kepada buahnya, yaitu Seseorang yang akan mengadili dunia dengan keadilan, yang menghasilkan damai sejahtera. Semua yang bermusuhan jadi berteman, berdampingan satu sama lain tanpa saling bertengkar: serigala dan domba; macan tutul dan kambing; anak lembu dan anak singa; lembu dan beruang, anak kecil dan ular tedung. Dan semua itu tenang-tenang saja; yang ada hanya ada damai! Bagaimana kita mengartikan ini? Walaupun yang disebut di sana adalah berbagai binatang yang secara “tradisional” bermusuhan satu sama lain, tapi gambaran itupun dapat mewakili kita, manusia. Bukankah di dunia ini kita mengenal adanya kelompok-kelompok yang secara “tradisional” bermusuhan? Korea Utara dan Korea Selatan. Tiongkok dan Taiwan. India dan Pakistan. Serbia dan Kroasia. Myanmar dan Rohingya. Dan, tak usah jauh-jauh, hiruk pikuk politik di negeri ini, sudah cukup membuat kita melihat adanya kelompok-kelompok yang tidak sejalan, yang dengan susupan segelintir orang, konon berpotensi menyulut perpecahan dan pertikaian. Miris mendengarnya, tetapi inilah realita. Bukankah juga realita, bahwa pertikaian bukan hanya monopoli kelompok masyarakat dan bangsa, tetapi juga bisa terjadi di dalam keluarga. Tetap bisa ada pertentangan, ataupun hubungan yang kurang harmonis. Antara anak dan orangtua. Suami dan istri. Kakak dan adik. Menantu dan mertua… Justru keadaan ini membuka mata hati kita, akan relevannya pesan sabda Tuhan hari ini, bahwa di masa Adven ini, kita diajak menumbuhkan pengharapan akan kedatangan Sang Mesias yang sanggup memberikan kedamaian itu kepada semua umat manusia, termasuk yang tadinya bermusuhan ataupun yang kurang harmonis.

Nah, menurut Yohanes Pembaptis, gambaran ideal tentang damai sejahtera di antara umat manusia itu, secara nyata hanya dapat dicapai melalui  pertobatan. Pertobatan didahului dengan mengenali dosa-dosa kita, dan diikuti oleh membalikkan seluruh hati kita ke jalan Tuhan yang kita nantikan itu. Pertobatan itu dimulai, menurut Rasul Paulus, saat kita “saling menerima satu sama lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita untuk kemuliaan Allah” (Rm 15:7). Demikianlah, untuk mengusahakan damai itu, kita dapat memulai dengan pertobatan diri kita sendiri, dan tidak perlu menunggu pihak lain bertobat lebih dulu. Bagi kita umat Katolik, pertobatan dinyatakan dengan mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa, yang didahului oleh pemeriksaan batin yang memadai. Dengan menerima sakramen Pengakuan dosa, kita menerima rahmat pengampunan dari Tuhan dan kita dipulihkan ke keadaan semula, saat kita menerima ketujuh karunia Roh Kudus, melalui Baptisan dan Penguatan. Kita kembali diteguhkan dalam karunia Roh Tuhan, yaitu: roh hikmat, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengenalan akan Allah, takut akan Tuhan dan kesalehan, yaitu yang kesenangannya adalah takut akan Tuhan (lih. Yes 11:1-3).

Namun pengakuan dosa mensyaratkan kerendahan hati. Tentang kerendahan hati ini, kita dapat belajar dari teladan St. Yohanes Pembaptis itu sendiri. Ia adalah seorang nabi yang terbesar (lih. Mat 11:11), justru karena kerendahan hatinya. Ia tidak memperkenalkan dirinya sebagai nabi, namun hanya sebagai “suara yang berseru-seru di padang gurun…” untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan (lih. Yoh 1:23). Bahkan Yohanes Pembaptis mengatakan dirinya tak layak membuka kasut Yesus (lih. Mat 3:11), sebuah tindakan paling sederhana yang umumnya dilakukan seorang hamba. Ia pun hidup dalam kemiskinan dan mati raga demi melaksanakan misinya sebagai perintis bagi Kristus. Ia membiarkan murid-muridnya pergi menjadi murid-murid Kristus. Semboyannya adalah agar Kristus semakin besar, dan dirinya sendiri menjadi semakin kecil (lih. Yoh 3:30). Sudahkah ini menjadi semboyan kita juga?

Sebab hanya jika kita memiliki kerendahan hati seorang hamba, kita tidak mengandalkan kekuatan kita sendiri, namun mengandalkan Allah, yang telah memberikan perkataan sabda-Nya sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci untuk memberi kekuatan, ketekunan dan penghiburan kepada kita. Sehingga kita dapat berdoa, “Semoga Allah, sumber segala kesabaran, ketekunan dan penghiburan, memampukan kita untuk hidup dalam perdamaian dengan semua orang, menurut semangat Yesus Kristus, supaya dengan satu hati dan satu suara, kita dapat memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus” (lih. Rm 15:5-6). Kita dipanggil untuk dengan tekun membina hidup dalam perdamaian dengan semua orang. Panggilan tersebut mengambil rupa bahkan dalam bentuk-bentuk sederhana, seperti memulai dengan senyuman, lebih dahulu menyapa, tidak mudah terprovokasi ataupun memprovokasi, tidak meneruskan informasi yang menyulut emosi, melainkan menyampaikan informasi yang membangun pengertian dan cinta kasih, tidak enggan berdialog, termasuk dengan pihak yang sedang tidak sepikiran dengan kita, dan sebagainya.

Mari kita berhenti sejenak untuk merenungkan sabda Tuhan Minggu ini, yang mengajak kita berdamai dengan Allah, dengan diri sendiri dan dengan sesama. Kita memperolehnya melalui pertobatan. Mari kita berdoa semoga kita diberi rahmat untuk dapat mengenali dosa-dosa dan kelemahan kita, serta kerendahan hati untuk mengakuinya. Semoga St. Yohanes Pembaptis turut mendoakan kita, saat kita mendaraskan doa damai yang disusun oleh St. Fransiskus Asisi:

Jadikanlah aku saluran damai-Mu
Ketika ada kebencian, biarlah aku membawakan kasih-Mu.
Ketika ada luka, [kubawa] kuasa penyembuhan-Mu.
Dan ketika ada keraguan, iman sejati di dalam Engkau.

Jadikanlah aku saluran damai-Mu.
Ketika ada keputusasaan dalam hidup, biarlah aku membawa pengharapan.
Ketika ada kegelapan, [kubawa] hanya terang.
Dan ketika ada kesedihan, sukacita yang sesungguhnya.

O, Roh Kudus, berilah supaya aku tidak pernah mencari
Sedemikian banyak ingin dihibur daripada menghibur
Dipahami daripada memahami
Dikasihi daripada mengasihi dengan segenap jiwaku.

Jadikanlah aku saluran damai-Mu.
Dalam memaafkan kita dimaafkan
Dalam memberi kepada semua orang, kita menerima
dan dengan kematian, kita akan lahir dalam kehidupan kekal.

Ia datang kepada umat-Nya, tapi mereka tidak menerima-Nya

0
sumber gambar: https://www.stevewiens.com/2013/12/02/advent-when-you-realize-you-are-pregnant-with-god/

[Minggu Adven I: Yes 2:1-5; Mzm 122:1-9; Rm 13: 11-14; Mat 24:37-44]

Tahun-tahun belakangan ini, ada istilah dalam bahasa Jawa yang tiba-tiba menjadi populer: blusukan. Hal ini, yang dapat dikatakan dipelopori oleh Presiden Jokowi sejak beliau menjadi walikota di Surakarta, kini dilakukan oleh banyak pemimpin dan tokoh masyarakat. Laporan tentang blusukan dari berbagai tokoh masyarakat itu dapat kita lihat di televisi, di artikel-artikel maupun rekaman audio visual di media sosial. Namun satu hal yang biasanya terekam dari berita itu adalah antusiasme rakyat menyambut sang tokoh. Komunikasi terjalin, entah sekilas dengan selfie, maupun dengan dialog dan percakapan yang akrab antara si pemimpin dan rakyat yang dikunjunginya.

Sayangnya, tidak demikian yang terjadi, ketika Tuhan Yesus datang ke dunia sekitar 2000 tahun yang lalu. Ibaratnya, Tuhan blusukan ke tengah umat-Nya, namun umat-Nya tak memberi perhatian, bahkan tak menyadarinya. Bahasa gaulnya, kebanyakan umat-Nya cuek saja. Mereka hidup seolah-olah Tuhan tidak datang di tengah-tengah mereka. Mereka tidak menyediakan tempat yang layak bagi Dia. Itulah sebabnya Yesus Sang Mesias lahir di kandang hewan, dan Ia dibaringkan di palungan, “karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (Luk 2:7). Bahkan setelah sekitar 2000 tahun telah berlalu, di Yerusalem dan sekitarnya, atau yang kerap disebut “Holy Land”, konon umat Kristennya hanya sekitar 1.5% sampai 2.1% saja. Hal ini membuat kita pantas merenung, tentang betapa kerasnya hati manusia, yang menolak Allah sendiri, ketika Ia mengambil rupa manusia dan datang di tengah mereka. Betapa masih kerasnya hati banyak orang sampai saat ini, yang walaupun mengetahui bahwa Tuhan Yesus telah menggenapi nubuat para nabi, namun tetap memutuskan untuk tidak percaya kepada-Nya.

Namun janganlah kita menuding kepada orang-orang yang hidup di Timur Tengah nun jauh di sana. Sebab sesungguhnya, bisa jadi kita pun termasuk dalam bilangan orang-orang yang cuek terhadap kedatangan Tuhan Yesus. Atau, kita tidak memberikan perhatian yang selayaknya untuk kedatangan-Nya. Itulah sebabnya, Gereja mengajak kita setiap tahunnya untuk mempersiapkan diri untuk menyambut hari Natal dengan masa Adven. Adven yang artinya kedatangan, mengacu kepada kedatangan Kristus, yang kita rayakan secara khusus pada hari Natal. Setiap tahun di sepanjang kehidupan kita, Gereja mengajak kita menyambut kelahiran Kristus secara baru di dalam hati kita. Hidup kita adalah masa persiapan yang panjang akan kedatangan Kristus yang kedua, yang pasti akan terjadi. Oleh karena itu, bacaan-bacaan Kitab Suci di masa Adven mengingatkan kita untuk berjaga-jaga menantikan kedatangan Yesus yang kedua itu, baik di Akhir Zaman, maupun di saat kematian kita, sebagaimana kita dengar di Bacaan Injil hari ini (lih. Mat 24:44). Sebab kita tak dapat mengetahui kapan saat itu akan datang secara persis. Kita hanya dianjurkan untuk berjaga-jaga secara aktif. Bacaan Pertama mengajak kita untuk berjaga-jaga dengan “berjalan dalam terang Tuhan” (Yes 2:5); Mazmur mengajak kita untuk beribadah di rumah Tuhan bersama-sama dengan sesama saudara seiman, menuju ke altar Allah dengan sukacita (lih. Mzm 122:1-9). Dan Bacaan Kedua mengajak kita untuk bertobat, meninggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan hidup sebagai anak-anak Terang (lih. Rm 13:11-14).  

Bagi kita umat Katolik, ajakan untuk bertobat paling nyata diwujudkan dengan mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa. Dosa adalah penghalang yang membuat pertumbuhan hidup Kristiani kita terhambat. Dosa-dosa inilah yang menyebabkan hati nurani kita menjadi tumpul dan membuat kita menjadi cuek, kurang menghargai kedatangan Tuhan  Yesus sehingga otomatis menjadi kurang siap menyambut kedatangan-Nya. Rasul Yohanes menyebutkan ada tiga akar dosa, yaitu “keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup” (1Yoh 2:16). St. Jose Maria Escriva menjelaskan tentang hal ini: “Keinginan daging tidak terbatas pada kecenderungan panca indera yang tak teratur secara umum atau keinginan seksual secara khusus. Hal ini juga mengacu kepada kesenangan akan kenyamanan, kepada keengganan untuk menggerakkan diri kita sendiri atau bahkan untuk menjadi siap siaga, sehingga membuat kita mencari sekecil-kecilnya hal yang tidak nyaman,  mencari apa yang paling menyenangkan, mencari jalan yang ditawarkan kepada kita yang kelihatannya lebih pendek dan tidak menyusahkan, bahkan jika itu harus dibayar dengan kegagalan kita untuk tetap setia kepada Allah. Musuh yang lain adalah keinginan mata, keserakahan yang mendalam yang menganggap tidak berharga apa yang tak dapat diwariskan. Mata jiwa menjadi rabun; akal budi berpikir dirinya sendiri sudah cukup memadai, menyingkirkan Allah sebagai yang tidak perlu. Ini adalah godaan halus yang didukung oleh martabat kecerdasan yang telah dikaruniakan Allah Bapa kepada kita agar kita dapat mengenal dan mengasihi-Nya tanpa terpaksa. Terbujuk oleh godaan ini, akal budi manusia menganggap dirinya sendiri sebagai pusat alam semesta,  dengan sukacita [mengingat] kembali kepada perkataan ular di Kitab Kejadian, ‘kamu akan menjadi seperti Allah’ (Kej 3:5) dan dipenuhi dengan cinta diri, ia berpaling dari cinta Allah. Dengan cara ini, kita dapat menyerahkan diri secara tak bersyarat ke dalam tangan musuh yang ketiga, yaitu ‘keangkuhan hidup’. Ini bukan hanya semata-mata hal fantasi sesaat, hasil khayalan dari kesia-siaan cinta diri, [tapi] ini adalah segala bentuk dosa kesombongan—menganggap diri pasti selamat. Jangan kita menipu diri sendiri. Ini adalah dosa yang paling parah daripada segala kejahatan, akar dari setiap penyimpangan yang dapat dibayangkan…” (St. Jose Maria Escriva, Christ is passing by, 5-6).

Sebagai umat Katolik yang percaya akan Kristus, tentu kita mempunyai harapan yang besar untuk menerima rahmat keselamatan dari Allah. Namun harapan yang besar ini tidak untuk diartikan sama dengan keyakinan absolut pasti selamat, tanpa mau melakukan apapun yang harus kita lakukan sebagai tanggapan atas rahmat Allah itu. Sebab sikap sedemikian dapat mengarah kepada kesombongan rohani. Seorang teolog besar di abad ke-16, Francisco Suarez (1548-1617), menjelaskan tentang dosa kesombongan rohani yang menganggap diri pasti selamat, yang mengambil 5 bentuk sikap, yaitu: 1) dengan berharap memperoleh kebahagiaan kekal atau pemulihan persahabatan dengan Allah setelah ia jatuh dalam dosa berat—dengan kekuatan kodratinya sendiri tanpa bantuan rahmat Allah; 2) menganggap dirinya pasti diampuni tanpa pertobatan yang memadai; 3) berharap bahwa Allah dapat membantunya melakukan kejahatan; 4) menganggap bahwa dirinya dapat mencapai kemuliaan adikodrati tanpa kesesuaian dengan ketentuan penyelenggaraan Allah; 5) menganggap bahwa dirinya dapat tetap hidup dalam dosa, dan tetap percaya diri seolah ia tak pernah kehilangan kemurnian yang diperolehnya saat Baptisan (Lih. Suarez, “De Spe”, disp. 2a. Sect 3, n.2).

Di awal Masa Adven ini, mari kita memeriksa batin kita. Mari kita bertobat, jika kita telah gagal menolak dosa, entah itu yang berkenaan dengan keinginan daging, keinginan mata ataupun keangkuhan hidup. Tentang keangkuhan hidup ini, kita perlu dengan jujur melihat, apakah pada kita ada salah satu dari kelima sikap yang menunjukkan kesombongan yang dikatakan oleh St. Escriva sebagai ‘dosa yang paling parah’ tersebut. Yaitu, menganggap diri pasti selamat, namun tidak mau melakukan bagian yang harus kita lakukan untuk bekerjasama dengan rahmat Allah yang menyelamatkan itu. Sikap sedemikian dapat mengarah kepada kurangnya penghargaan terhadap kedatangan Kristus ataupun kelahiran-Nya secara baru di hati kita, sebab sudah menjadi terlalu yakin bahwa tanpa memperbaiki diri sekalipun, keselamatan sudah pasti diperoleh. Sejujurnya, mungkin ini yang terjadi di banyak negara-negara maju maupun di masyarakat yang semakin sekuler dan konsumtif. Orang menjadi tak begitu peduli untuk menyiapkan hati menyambut kedatangan Kristus. Hari Natal hanya dianggap sebagai kesempatan berpesta atau berhura-hura, belanja ini itu, namun kehilangan makna rohaninya. Yaitu kedatangan Sang Mesias yang seharusnya disambut dengan hati yang bersih dan penuh kerinduan.

Mari kita belajar dari Bunda Maria, untuk memperbaiki diri di masa Adven ini. Kita meneladani sikap permenungannya dalam keheningan, tentang kelahiran Putra-Nya Yesus Sang Mesias. Semoga dengan demikian, kita semakin merindukan kedatangan-Nya dan hati kita tidak disibukkan dan dipenuhi oleh hal-hal lain yang tidak atau kurang penting jika dilihat dalam terang kedatangan Tuhan. “Tuhan Yesus, bantulah aku agar merindukan kedatangan-Mu dalam hidupku. Dan bantulah aku mempersiapkannya seturut kehendak-Mu. Amin.

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab