Home Blog Page 18

Kesatuan kasih itu bercahaya!

0
Sumber gambar: http://zeorhion.deviantart.com/art/Love-Unite-Schematic-Fistv2-146907930

[Hari Minggu Biasa III: Yes 8:23-9:3; Mzm 27:1-14; 1Kor 1:10-13.17; Mat 4:12-23]

Dunia sekarang ini sedang krisis dalam hal kesatuan. Tak usah repot-repot mencari contoh, hal itu nyata sudah akhir-akhir ini terjadi di sekitar kita. Selain ada banyak perang dan kekerasan di berbagai tempat di dunia, kekerasan dan bentrokan juga terjadi di negara kita, bahkan mungkin di lingkungan kerja, atau keluarga kita sendiri. Fakta ada banyaknya suami istri yang bercerai, termasuk yang telah menikah secara Katolik, menyisipkan tanda tanya besar dan mungkin juga rasa duka di hati kita masing-masing.  Belum lagi kalau kita mendengar, terjadinya perselisihan antara sesama aktivis pelayan kegiatan-kegiatan gerejawi di paroki. Koq semua ini dapat terjadi? Sebab adanya perpecahan dan perselisihan inilah yang membuat dunia nampak suram atau gelap bahkan. Bagaimana cara memperbaikinya, mungkin kita bertanya…

Bacaan Kitab Suci hari ini memberikan seberkas inspirasi. Dimulai dari kisah tanah Zebulon dan Naftali. Untuk lebih memahami konteksnya, kita menilik ke Kitab Perjanjian Lama terlebih dahulu. Dari sana kita  mengetahui bahwa setelah kematian Raja Salomo, kerajaan Israel terpecah menjadi dua, yaitu kerajaan di daerah utara dan selatan. Kerajaan Utara, dengan ibukotanya Samaria, dipimpin oleh raja-raja yang bukan keturunan Daud. Mereka jatuh bangun dalam dosa menyembah berhala dan berbagai kekejian lainnya karena pengaruh bangsa-bangsa lain. Nah, Zebulon dan Naftali itu adalah nama dua suku dari sepuluh suku Israel yang termasuk dalam Kerajaan Utara Israel. Kedua suku itu termasuk dalam suku-suku pertama yang diasingkan ke tanah pembuangan di Babel sekitar abad 7 sebelum Masehi. Sedangkan Kerajaan Selatan dengan ibukotanya Yerusalem, yang dipimpin oleh suku Yehuda, berasal dari keturunan Daud. Walaupun mereka juga mengalami jatuh bangun dalam sejarahnya, namun kaum sisa Israel yang tetap setia kepada Allah, berasal dari keturunan suku ini. St. Yusuf dan Perawan Maria, adalah keturunan Daud, sehingga kemudian Tuhan Yesus yang lahir dari Perawan Maria, disebut sebagai keturunan Daud.

Karena tergabung dalam kesepuluh suku Israel yang dianggap telah menyimpang itulah, maka kerap Zebulon dan Naftali direndahkan dan disebut sebagai ‘bangsa yang berjalan di dalam kegelapan’ (Yes 9:1), sebagaimana kita dengar di Bacaan Pertama. Namun Nabi Yesaya juga menubuatkan bahwa di kemudian hari Tuhan akan memuliakan Zebulon dan Naftali, sebab terang yang benar akan bersinar di atas mereka yang berdiam di negeri kekelaman itu. Betapa nubuat itu terpenuhi, ketika Yesus memulai karya publiknya di Galilea, tepat di daerah Zebulon dan Naftali (Mat 4:13). (Tergenapilah lagi, satu nubuat di antara sekitar 350 nubuat lainnya tentang Mesias, dalam diri Tuhan Yesus.) Di sana pulalah Tuhan Yesus memanggil para rasul-Nya yang kemudian dijadikan-Nya penjala manusia. Keduabelas rasul itu menjadi gambaran akan pemulihan kedua belas suku Israel yang sempat terpecah sejak sekitar tahun 930 sebelum Masehi. Yesus sendiri, sebagai Terang yang dijanjikan Allah, berkeliling di seluruh Galilea untuk mengajar dan memberitakan Injil Kerajaan Allah, serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu, sebagaimana kita dengar di Bacaan Injil (lih. Mat 4:23).

Belajar dari Injil hari ini, kita diingatkan agar mau mengikut Yesus, sebagaimana yang dilakukan oleh para rasul itu. Namun undangan Tuhan Yesus tidak hanya agar kita mengikuti Dia, tetapi juga agar kita mau diutus oleh-Nya. Seperti maksud Tuhan Yesus memanggil para murid itu, tidak hanya untuk mengikuti Dia, tetapi juga untuk melakukan apa yang diperintahkan-Nya dan mewartakannya kepada seluruh bangsa. Dan kita semua tahu, bahwa perintah pertama dan utama yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus adalah perintah untuk mengasihi. Mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Namun kedua hal itu tercermin terutama, jika kita menjaga kesatuan dan menghindari segala macam perpecahan. Sebab di balik semua perpecahan itu, ada unsur kesombongan, menomorsatukan diri sendiri, dan tidak jarang, kegagalan untuk taat pada perintah dan kehendak Tuhan. Bukankah ini nyata dalam perceraian suami istri, perpecahan dalam kelompok, atau bahkan perang antar negara? Maka sangatlah tepat, jika Rasul Paulus berkata dalam suratnya, “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir….” (1Kor 1:10). Sungguh, kesatuan dalam kasih memang membutuhkan perjuangan untuk terus diwujudkan, namun jika itu terjadi, di sanalah terang Tuhan bersinar. Sebab dalam mewujudkannya, semua pihak belajar untuk saling mendengarkan, mencari solusi untuk kebaikan bersama, dan besar kemungkinan, melibatkan pengorbanan. Itulah sebabnya dalam suratnya tentang anjuran menjaga kesatuan dalam jemaat,  Rasul Paulus melanjutkannya dengan pemberitaan tentang Salib Kristus (lih. 1Kor 1:18- 2:5).  Bagaikan dua permukaan dalam satu mata uang, kesatuan kasih dan pengorbanan memang tiada terpisahkan.

Mungkin orang bertanya, bagaimana seandainya, sudah terlanjur terjadi perpecahan itu? Bagaimana kalau pasangan suami istri sudah terlanjur berpisah? Teladan Kristus yang dicatat dalam Injil mengajarkan kepada kita, bahwa tak ada kata terlambat untuk memulihkan perpecahan itu. Mari kita undang Tuhan Yesus untuk memulihkannya. Yesus memang telah memulihkan kehancuran manusia akibat dosa, melalui korban salib-Nya. Namun jangan lupa, pemulihan tersebut juga mensyaratkan pertobatan, ataupun pengorbanan dari pihak kita. Pertobatan dapat digambarkan dengan sikap meninggalkan keakuan dan keegoisan kita. Pengorbanan dapat digambarkan dengan meninggalkan ‘zona nyaman’ kita. Seperti para murid Yesus yang pertama itu, yang rela meninggalkan segala-galanya untuk mengikuti Yesus. Siapkah kita meninggalkan “keakuan” kita, untuk mengikuti Tuhan Yesus? Maukah kita meninggalkan kesombongan kita dan bersedia meminta maaf dan memperbaiki kesalahan—demi menjaga kesatuan dalam keluarga, komunitas dan masyarakat? Atau, bersediakah kita, menjadi alat Tuhan untuk turut membantu sesama kita yang sedang bergumul dalam mengusahakan kesatuan kasih itu?

Menjaga kesatuan kasih adalah bukti nyata bahwa kita sungguh murid Kristus. Sebab dengan demikian, kita menyampaikan Terang Tuhan. Demikianlah kalau mau dirumuskan pesan firman Tuhan hari ini. Fakta bahwa kesatuan itu tidak mudah diwujudkan, tidak menepis fakta lainnya, bahwa kesatuan membuktikan kasih yang sejati, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama. Tak ayal, aku langsung teringat kepada salah satu tanda Gereja sejati yang didirikan Kristus, yaitu satu, kudus, katolik, dan apostolik. Semoga kesatuan Gereja ini, yang tetap kokoh selama hampir 2000 tahun, dapat terus mendorong kita untuk selalu mengusahakan kesatuan kasih dalam keluarga kita, komunitas kita, dan negara kita. Hal ini membutuhkan kerja keras, namun di atas itu, membutuhkan kasih sejati dan kerendahan hati. Semoga Kristus Sang Terang memampukan kita semua untuk memperjuangkan kesatuan kasih itu, agar kitapun dapat menikmati buahnya. Sebab kesatuan kasih itu sungguh bercahaya memantulkan Terang Tuhan! Dan tak ada seorang pun di dunia ini yang tidak membutuhkan Terang itu.

Marilah, di Pekan Doa Sedunia ini, kita berdoa untuk persatuan Umat Kristen:

“Bapa yang maha pengasih dan penyayang, menjelang akhir hidup-Nya, Yesus telah berdoa bagi para murid-Nya, ‘Semoga mereka semua bersatu, seperti Engkau, ya Bapa ada dalam Aku dan Aku dalam Dikau; supaya mereka juga bersatu dalam Kita, agar dunia ini percaya bahwa Engkau telah mengutus Aku.’ Maka kami mohon, ya Bapa: Semoga semua orang kristen bersatu padu dan giat mengusahakan kesatuan. Semoga seluruh pemimpin umat-Mu semakin menyadari perlunya kesatuan. Musnahkanlah sandungan akibat perpecahan umat kristen. Semoga persatuan umat kristen merupakan sumber perdamaian dan tanda kasih Kristus bagi seluruh umat manusia … Buatlah kami menjadi satu kawanan dengan Yesus sendiri sebagai satu-satunya gembala, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala abad. Amin.” (Puji Syukur 177).

 

Rengkuhan Tuhan

0

Sharing pelayanan Pst. Felix Supranto, SS.CC

Pada tanggal 19 Oktober 2016 yang lalu, aku berada di Batam untuk pertemuan tim retret SS.CC. Aku bertemu dengan Bapak dan Ibu Yaya. Mereka menikah pada tahun 2001 tidak lama setelah menerima pembaptisan secara Katolik. Mereka dikaruniai seorang anak yang bernama ABEL CHRISTOPHER PALAR. Abel lahir pada tanggal 30 Agustus 2002. Abel adalah anak berkebutuhan khusus.

Mereka sama sekali tidak pernah bermimpi bisa mempunyai anak berkebutuhan khusus. Mereka sempat kecewa terhadap Tuhan pada saat pertama kali menerima kehadiran Abel: “Tuhan, mengapa Engkau harus menitipkan anak seperti ini kepada kami”. Kekecewaan mereka kepada Tuhan berjalan cukup lama. Akan tetapi, di tengah kekecewaan itu, mereka tidak meninggalkan Tuhan. Mereka tetap pergi ke gereja. Mereka percaya tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan walaupun tidak tahu berapa lama Abel akan sembuh.

Ketika Abel semakin besar, kesulitannya juga semakin meningkat. Ketika Abel berusia dua tahun, ia belum bisa berbicara sehingga mereka membawanya ke dokter. Dokter menyatakan bahwa Abel perlu mendapatkan terapi. Terapi yang dibutuhkan Abel adalah delapan jam sehari. Terapis hanya mempunyai waktu dua jam sehingga sisanya mereka harus mengajarnya sendiri.

Hari berganti, tahun berlalu. Puji Tuhan kemajuan Abel mulai nampak. Mereka pun semakin bersemangat untuk mengupayakan kesembuhan bagi Abel. Sekarang Abel sudah kelas dua SMP di sekolah Homeschooling. Sekolah ini seperti sekolah biasa dengan murid yang cukup banyak dan berada di dalam kelas. Sekolah ini cocok untuk Abel karena tidak menggunakan buku pelajaran. Mereka menggunakan laptop dengan buku elektronik. Abel lebih komunikatif dengan audio visual daripada dengan buku biasa. Bapak dan Ibu Yaya sangat mensyukuri perkembangan Abel. Saya sendiri merasakan hal itu. Ketika saya berjumpa dengan Abel, Abel langsung menopangkan tangannya ke kepala saya dan berkata: “Tuhan, terimakasih atas kehadiran Pastor.”

Mereka mampu mengolah pengalaman ini sebagai pengalaman iman. Mereka mengatakan: “Dari apa yang telah kami rasakan dengan keberadaan Abel, Allah Bapa ternyata telah menyadarkan kami bahwa dahulu kami sangat mengandalkan dan mengagungkan ilmu pengetahuan kami. Ternyata kemampuan kami tidak berarti apa-apa tanpa campur tangan-Nya. Kami tidak perlu kuatir lagi terhadap masa depan anak kami. Kekuatiran hanya menyebabkan hidup kami tidak nyaman sepanjang hari dan sepanjang tahun. Kami percaya bahwa Tuhan akan membantu kami dalam menyelesaikan masalah kami”. Mukjizat yang sungguh mereka alami adalah mereka bisa melewati masa sulit ini bersama Tuhan: “Kami tidak mungkin bisa melewati lubang jarum dengan kekuatan kami sendiri. Akan tetapi, kami mampu melewati berbagai kesulitan bersama Tuhan Yesus”. Mereka mengatakan bahwa sekarang mereka sangat bahagia.​

Kunci kebahagiaan mereka adalah pasrah bongkokan (Berpasrah sepenuhnya kepada Tuhan) karena Tuhan mempunyai rancangan yang indah: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29 : 11).

Pesan yang dapat kita timba dari kesaksian ini: Ketika kita berjalan ke tempat yang kita inginkan, kita mungkin akan sampai pada jalan buntu yang gelap dan suram yang berakhir pada lubang kehancuran. Pegang tangan Tuhan, Ia akan merengkuh kita dan membawa pada jalan yang terang.

Tuhan Memberkati

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Kepastian

0

Sharing pengalaman oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Pada tanggal 27 November 2016 aku bersepeda melalui perkampungan Ciben (China Benteng) di belakang Gereja St. Odilia, Citra Raya-Tangerang. Aku melewati beberapa nisan Tionghoa di sana. Banyak orang di kampung itu memang memakamkan saudara-saudarinya tidak jauh dari rumah mereka.

Perhatianku tertuju kepada seorang anak laki-laki, kira-kira kelas lima Sekolah Dasar. Anak itu sedang menabur bunga dan berdiam diri sambil memegang batu nisan mamanya. Kehadiranku di sampingnya tidak mengganggu doanya. Doanya sangat indah untuk didengar: “Mama, hari ini aku ulang tahun. Aku sebenarnya kangen dengan kue buatan Mama yang telah siap di meja ketika aku bangun tidur pada saat hari ulang tahunku. Mama tidak usah sedih karena kue buatan Mama masih terasa enak kok sampai sekarang. Ma… aku masih rajin belajar dan berdoa seperti nasihat Mama supaya aku dapat menjadi polisi yang baik hati seperti cita-citaku. Dengan menjadi polisi, aku mau menolong orang-orang menyeberang jalan dengan aman. Mama memang sudah tidak bisa dilihat mata, tetapi aku yakin Mama bisa melihat dan mendengarkan aku. Doakan aku ya Ma… biar cepat gede dan meraih impianku”.

Anak itu teryata yatim piatu. Ayahnya telah lama meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. Penyebab kematian ayahnya itu telah membentuk cita-citanya untuk menjadi polisi yang dapat membantu sesamanya. Setelah ayahnya meninggal dunia, ia hidup bersama ibunya. Ibunya sangat mengasihinya. Ibunya senantiasa mengajarinya untuk hidup mengandalkan Tuhan. Ibunya itu meninggal dunia beberapa tahun silam karena penyakit kanker yang tak pernah ia rasakan. Ibunya meninggal dunia dengan mewariskan iman yang mendalam kepadanya. Anak itu sekarang diasuh oleh pamannya. Aku yakin ia pasti bisa melewati tahap kehidupannya yang sulit karena Tuhan senantiasa berjumpa dengannya dalam doanya untuk menolongnya dalam mencapai masa depannya yang indah: “sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan aku! Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku! (Mazmur 31:3).

Aku dapat mengungkapan isi hatinya yang mendalam dalam bait-bait puisi singkat berikut ini:

Cita-citaku yang ingin kugapai

tak mudah kuraih,

bagaikan bahtera di tengah samudera

perlu kekuatan dan kesiapan untuk menghadapi samudera.

Meskipun ada luka yang kurasakan,

senyuman lebar dan mata berbinar menjadi kepastian

karena dermaga telah menambat jiwa.

Kesimpulan dari pengalaman iman ini adalah Tuhan akan memberikan kita kekuatan dalam menghadapi setiap masalah. Karena itu, jangan menjadi cemas karena persoalan kita, tetaplah kuat bersama Tuhan sebab hanya orang yang kuat yang akan mendapatkan pertolongan-Nya. Di dalam Dia ada jalan keluar, pengharapan dan kepastian: “Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikanNya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Petrus 5:6-7).

Puisi Doa Bhinneka Tunggal Ika

0

SANG GARUDA
Oleh Pst Felix Supranto, SS.CC

Bapa di Surga,

Kami bersyukur atas negeri kami tercinta, Bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia, Engkau anugerahkan bagi keragaman.

Semoga keragaman Indonesia, kami sadari

sebagai jati diri kami.

Perbedaan bukan sebagai sesuatu yang harus dipertentangkan,

tetapi justru memberikan warna yang indah bagi bangsa kami.

Berbeda itu indah,

jika kami memaknai dengan jiwa dan cinta.

Kami memang Engkau ciptakan tak pernah sama.

Semoga perbedaan kami hayati sebagai sebuah kekuatan.

Semoga kami mengingat perkasaan Sang Garuda,

yang terbingkai Merah Putih.

Dua matanya memandang ke seluruh penjuru Nusantara.

Hentakan kakinya dan teriakannya yang kuat,

menyulut sumbu patriotisme dan nasionalisme.

Bapa di Surga,

semoga kami, anak-anak Bangsa Indonesia ini,

menepuk kembali dada kami dan berseru :

“Garuda di jiwaku, mari kita bersatu,

berangkulan sebagai saudara,

di bumi Nusantara yang kami banggakan”.

Itulah yang Engkau kehendaki bagi kami semua.

Amin.

Dibaptis untuk menjadi terang

0
Sumber gamber: https://www.crossroadsinitiative.com/media/articles/christs-baptism-fire-immersed-in-water-st-proclus/

[Hari Minggu Biasa II: Yes 49:3,5-6; Mzm 40:2-10; 1Kor 1:1-3; Yoh 1:29-34]

Dalam penanggalan liturgi, perayaan Epifani diikuti dengan perayaan Pembaptisan Tuhan Yesus oleh Yohanes Pembaptis. Kedua perayaan ini terkait dengan misi kedatangan Tuhan Yesus ke dunia, yaitu untuk menjadi Sang Mesias, yang menebus dosa-dosa kita dan akan memberikan kehidupan baru kepada kita. Minggu ini kita diingatkan kembali akan Pembaptisan Tuhan Yesus dan Pembaptisan kita sendiri. Bagi Yesus, Pembaptisan-Nya tidak bermakna penghapusan dosa, sebab Ia sebagai Putra Allah, tidak berdosa. Namun melalui Pembaptisan-Nya, Yesus dinyatakan di hadapan umat Israel, bahwa Ia adalah Anak Allah (lih. Yoh 1:31-34). Selain itu, Pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis, sang pelayan Tuhan, juga menunjukkan kerendahan hati Yesus. Ini mengingatkan kita juga kepada apa yang dilakukan oleh ibu-Nya, yaitu Bunda Maria, yang mengunjungi Elisabet saudaranya, yang adalah ibu dari Yohanes Pembaptis. Teladan Bunda Maria sang ibu Tuhan yang mengunjungi Elisabet, dan Tuhan Yesus yang mengunjungi Yohanes Pembaptis mengajar kita untuk bersikap rendah hati dan mengasihi orang-orang yang,  dari segi kedudukan berada di bawah kita. Misalnya, staf atau anak-anak buah kita di tempat kerja, atau adik-adik kelas kita di sekolah, pembantu rumah tangga, sopir, tukang parkir, dan seterusnya. Apakah sikap kita kepada mereka sudah mencerminkan bahwa kita adalah para murid Kristus yang mengikuti teladan kerendahan hati-Nya?

Selain itu, permenungan akan kisah Injil juga mungkin membuat kita bertanya-tanya, mengapa sesudah Yesus dibaptis oleh Yohanes, esoknya Yesus datang kembali menemui dia? St. Yohanes Krisostomus menjelaskan, “Maka ia [Rasul Yohanes] berkata, di hari berikutnya, Yohanes Pembaptis melihat Yesus datang kepadanya. Tetapi mengapa Ia datang kepadanya di hari setelah Pembaptisan-Nya? Setelah dibaptis bersama-sama dengan orang banyak, Ia [Yesus] ingin mencegah orang berpikir bahwa Ia datang kepada Yohanes Pembaptis dengan alasan yang sama seperti orang-orang lain, yaitu untuk mengakui dosa-dosa dan untuk dibasuh dalam sungai sebagai tanda pertobatan. Karena itu, Yesus datang untuk memberi Yohanes Pembaptis kesempatan untuk mengkoreksi kesalahan anggapan ini, yang memang dikoreksi oleh Yohanes Pembaptis, yaitu dengan perkataannya, ‘Lihatlah, Anak Domba Allah, yang menebus dosa dunia.’ Sebab Ia yang adalah sangat murni, mampu menghapuskan dosa-dosa manusia, jelas tidak mungkin datang demi mengakui dosa-Nya; melainkan hanya untuk memberikan kesempatan kepada Yohanes Pembaptis untuk berbicara tentang-Nya. Ia datang juga keesokan harinya, agar mereka yang telah mendengar kesaksian Yohanes yang terdahulu, dapat mendengarnya kembali dengan lebih jelas… Sebab ia berkata, ‘Lihatlah, Anak Domba Allah’, menunjukkan bahwa Ia adalah Seseorang yang dicari-cari sejak dahulu, dan mengingatkan mereka akan nubuat Yesaya dan tentang gambaran samar-samar hukum Musa, agar melalui gambaran itu, Ia dapat dengan lebih mudah memimpin mereka kepada arti yang sesungguhnya” (St. John Chrysostom, in Catena Aurea, John 1:29-31).

Dengan demikian arti Pembaptisan Yesus berbeda dengan arti Pembaptisan bagi kita. Dalam Baptisan-Nya, masuknya Yesus ke dalam air melambangkan kematian-Nya untuk menebus dosa manusia dan keluarnya Ia dari air dan turunnya Roh Kudus dalam rupa seperti burung merpati, melambangkan kebangkitan-Nya untuk memberikan kehidupan baru kepada umat manusia. Sedangkan Pembaptisan bagi kita menyatakan bahwa kesediaan kita untuk digabungkan dengan Yesus, dalam hal kematian terhadap dosa-dosa kita, untuk memperoleh kehidupan baru di dalam Yesus oleh kuasa Roh Kudus. Dengan menerima Baptisan ini, menurut perkataan Rasul Paulus, kita “dikuduskan dalam Kristus Yesus dan dipanggil menjadi orang-orang kudus” (1Kor 1:2). Dengan digabungkannya kita dengan Kristus, yang adalah “Terang yang menjadi pernyataan bagi bangsa-bangsa” (Luk 2:32), maka kita pun dijadikan “terang bagi bangsa-bangsa” (Yes 49:6, bdk. Kis 13:47), supaya keselamatan yang dari Tuhan dapat sampai ke ujung bumi.

Di tengah kehidupan kita sehari-hari, kesempatan untuk menjadi terang bagi sesama selalu ada. Entah itu menghibur sahabat yang sedang kesusahan, mendoakan sesama yang berbeban berat, menyampaikan ajaran iman yang benar kepada mereka yang bimbang, atau memperhatikan dan menolong sesama yang membutuhkan bantuan. Mari kita memohon kepada Tuhan, agar mencelikkan mata hati kita agar peka terhadap kesempatan-kesempatan tersebut, dan agar kita dimampukan untuk melaksanakan kehendak Tuhan ini.  Mari bersama pemazmur kita menyatakan kesediaan kita, “Ya, Tuhan, aku datang, melakukan kehendak-Mu.

Segala ujung bumi melihat keselamatan yang dari Tuhan

0
Sumber gambar: http://www.onepeterfive.com/gorgeous-splash-oriental-color-epiphany-reflections/

[Hari Raya Penampakan Tuhan: Yes 60:1-6; Mzm 72:1-13; Ef 3:2-6; Mat 2:1-12]

Hari ini kita merayakan Epifani. Artinya: manifestasi, atau penampakan Tuhan Yesus kepada segala bangsa, yang diwakili oleh para majus. Mereka datang membawa persembahan kepada Kanak-kanak Yesus dan mereka menyembah-Nya. Dengan demikian, tergenapilah nubuat dalam kitab Mazmur, “… Kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Kiranya semua raja sujud menyembah kepada-Nya dan segala bangsa menjadi hamba-Nya!” (Mzm 72:10-11, bdk. Mat 2:10). Para majus atau para raja dari negeri yang jauh tersebut mengikuti  bintang besar yang mereka lihat di ufuk Timur, yang memimpin mereka sampai ke sebuah kota kecil, dan berhenti di atas sebuah rumah, atau lebih tepatnya, di atas sebuah kandang hewan. Namun mereka tetap dipenuhi suka cita, sebab pencarian mereka tidak sia-sia. Sampailah mereka kepada Sang Raja Yahudi yang mereka cari. Sungguh, ini menunjukkan kepada kita bahwa setiap orang yang “menemukan Kristus atau menemukan Kristus kembali” akan bersukacita. Setiap orang yang berjumpa dengan Kristus Sang Terang, dipanggil juga untuk bangkit dan menjadi terang bagi sesama.

Berikut ini adalah terjemahan khotbah dari Paus St. Leo Agung, yang menjadi salah satu bacaan renungan dalam doa Liturgi Harian Gereja pada hari ini:

Tuhan telah membuat keselamatan-Nya dimasyhurkan ke seluruh dunia  

Penyelenggaraan kasih Tuhan menentukan bahwa di hari-hari terakhir Ia akan membantu dunia, yang dalam perjalanan menuju kehancurannya. Ia menetapkan bahwa semua bangsa harus diselamatkan di dalam Kristus.

Sebuah janji telah dibuat kepada patriakh yang kudus Abraham, sehubungan dengan bangsa-bangsa ini. Ia akan mempunyai keturunan yang tak terhitung, yang lahir tidak dari tubuhnya tetapi dari benih iman. Karena itu, keturunannya dibandingkan dengan jajaran bintang-bintang. Bapa dari semua bangsa itu [Abraham] adalah untuk berharap bukan pada  keturunan secara duniawi tetapi pada keturunan dari atas.

Biarlah kini semua bangsa mengambil tempatnya dalam keluarga para patriakh. Biarlah anak-anak perjanjian kini menerima berkat dalam benih Abraham, berkat yang ditolak oleh anak-anak Abraham menurut daging. Dalam diri para majus, biarlah semua bangsa menyembah Sang Pencipta alam semesta; biarlah Allah dimasyhurkan, tidak saja di Yudea, tetapi di seluruh dunia, sehingga nama-Nya dapat menjadi besar di seluruh Israel.

Sahabat-sahabatku terkasih, sekarang bahwa kita telah menerima pengajaran dalam wahyu tentang rahmat Allah, biarlah kita merayakan dengan sukacita rohani, hari panen kita yang pertama, dari panggilan pertama kepada bangsa-bangsa. Biarlah kita mengucap syukur kepada Allah yang maha pengasih, yang telah melayakkan kita—menurut perkataan para Rasul—untuk mengambil kedudukan para kudus dalam terang yang telah meluputkan kita dari kuasa kegelapan, dan membawa kita ke dalam kerajaan Putra-Nya yang terkasih. Seperti telah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya: bangsa-bangsa, yang duduk dalam kegelapan, telah melihat terang yang besar, dan bagi mereka yang tinggal dalam bayangan maut, terang telah bersinar. Ia bicara tentang mereka kepada Tuhan: Bangsa-bangsa yang tidak mengenal Engkau, akan memohon kepada-Mu, dan bangsa-bangsa yang tak mengenalMu, akan berlindung kepada-Mu.

Ini adalah hari yang dilihat Abraham, dan ia bersuka cita melihatnya, ketika ia tahu bahwa anak-anak yang lahir dari imannya akan diberkati di dalam keturunannya, yaitu di dalam Kristus. Percaya bahwa ia akan menjadi bapa bangsa-bangsa, ia [Abraham] melihat ke masa depan, dengan memberi kemuliaan kepada Allah, dalam kesadaran penuh bahwa Allah mampu melakukan apa yang telah dijanjikan-Nya.

Ini adalah hari yang telah dinubuatkan oleh Daud dalam Mazmurnya, ketika ia berkata: Semua bangsa yang telah Engkau ciptakan akan datang dan sujud menyembah dalam hadirat-Mu, Tuhan, dan memuliakan nama-Mu. Lagi, Tuhan telah memashyurkan keselamatan-Nya; di hadapan bangsa-bangsa Ia telah menyatakan keadilan-Nya.

Ini menjadi tergenapi, seperti kita ketahui, sejak waktu ketika bintang itu memberi isyarat kepada ketiga orang majus keluar dari negara mereka yang jauh dan memimpin mereka untuk mengenali dan menyembah Sang Raja langit dan bumi. Ketaatan sang bintang memanggil kita untuk meniru pelayanannya yang sederhana: untuk menjadi pelayan, sebaik yang kita bisa, dari rahmat yang mengundang semua orang untuk menemukan Kristus.

Sahabat-sahabatku yang terkasih, kamu harus mempunyai semangat yang sama untuk membantu satu sama lain; maka dalam Kerajaan Allah, dimana iman dan perbuatan baik adalah jalan kepadanya, kamu akan bersinar sebagai anak-anak terang: melalui Tuhan kita Yesus Kristus, yang hidup dan berkuasa dengan Allah Bapa dan Roh Kudus, selama-lamanya. Amin.” (St. Leo the Great, Office of the Reading, Liturgy of the Hour, Sermon on the Feast of Ephiphany)

Jadi perayaan Epifani hari ini, selain merayakan peristiwa penampakan Tuhan di hadapan segala bangsa, juga mengingatkan bahwa kitapun dipanggil untuk mengambil bagian dalam meluaskan karya keselamatan Allah kepada segala bangsa. Terang bintang yang telah memimpin para majus kepada Kristus Sang Terang tidak berakhir hanya sampai di sana. Seperti halnya para majus itu, kita pun telah datang kepada Yesus dan menyembah-Nya. Kini kita pun diutus Allah untuk menjadi “anak-anak terang”, untuk membawa terang Kristus kepada sesama, dan dengan demikian, membawa mereka kepada Kristus. Semoga kita tidak melewatkan kesempatan ini yang kerap datang dalam keseharian kita: mungkin dengan meminjamkan kepada sahabat kita buku-buku tentang iman Katolik. Atau dengan menghibur, menolong dan meneguhkan iman sesama kita yang sedang membutuhkan bantuan. Atau dengan membagikan pengalaman iman kita tentang kasih Tuhan Yesus, dan menyatakan pentingnya kita bertumbuh secara rohani, dengan formasi yang baik. Dan yang terpenting adalah menjadi terang melalui perbuatan kasih kepada sesama kita…. Semoga dengan demikian, kita dapat membawa sesama kita kepada Kristus. Dan kita dapat turut mewujudkan apa yang kita nyanyikan bersama dengan pemazmur hari ini, “Segala ujung bumi melihat keselamatan yang datang dari Allah kita….”

Keep in touch

18,000FansLike
18,659FollowersFollow
32,900SubscribersSubscribe

Artikel

Tanya Jawab